You are on page 1of 18

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Konteks Penelitian

Saat ini bangsa Indonesia sedang mengalami masalah besar. Disamping

krisis ekonomi yang berkepanjangan, juga dilanda oleh krisis moral dan etika.

Sebagai indikasi adanya krisis tersebut adalah munculnya konflik antar etnis

dan agama di berbagai daerah, rendahnya komitmen dan kesadaran hokum

masyarakat, sehingga prilaku main hakim sendiri telah mewarnai kehidupan

sehari-sehari, tindakan vandalisme masyarakat dan bahkan dilakukan oleh

anak-anak remaja yang berseragam sekolah.

Menghadapi krisis moral dan etika semacam itu, beragam orang

menanggapinya.di antaranya menduga bahwa hal tersebut menunjukkan

pendidikan agama kurang berhasil. Sehingga di pertanyakan urgensinya untuk

di pertahankan. Di pihak lain berpendapat berbeda. Justru karena adanya krisis

tersebut pendidikan agama mutlak perlu di tingkatkan pelaksanaanya.

Pada hakekatnya pesantren tidak dapat dilepaskan dari fungsi

pendidikan secara keseluruhan. Yaitu untuk membentuk watak, karakter dan

kepribadian berlandaskan moral. Sesuai dengan fungsi tersebut pendidikan

agama menduduki posisi penting sebagai media elementer pembentukan wata’

kepribadian. kita semua berharap melalui pendidikan agama di pesantren akan

terbentuk manusia seutuhnya. Sosok insan kamil yang memiliki kepribadian
2

dengan landasan keimanan dan ketaqwaan. Insane berbudi luhur dengan sikap

dan prilaku mulia yang tampak dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan semakin meningkatnya usaha pembangunan, modernisasi dan

industrialisasi di Indonesia ini, permasalahan yang timbul dalam masyarakat

Indonesia juga semakin banyak dan rumit. Hal ini menunjukkan bahwa

kehidupan yang tercipta di Negara ini kurang sehat, kurang selaras dan kurang

adilnya pemerintah dalam membangun moralitas generasi bangsa Indonesia

seutuhnya. Akibatnya yang muncul adalah kesenjangan social yang tidak

seimbang dan status social masyarakat yang satu dengan yang lainnya

cenderung bertolak belakang dan saling brtlawanan yaitu yang kaya semakin

kaya dan yang miskin semakin sengsara.

Karena kesenjangan social yang terjadi di masyarakat begitu jauh,

secara tidak langsung fenomena ini menciptakan suasana masyarakat kurang

kundusif, harmonis dan sejahtera, khususnya terjadi pada generasi penerus

bangsa yaitu pemuda. Hal ini bisa kita lihat di lingkungan sekitar kita dengan

banyaknya perampokan, pencurian dan perampasan harta benda orang lain,

dan gejala ini tidak hanya terjadi di kota-kota besar saja, tetapi sudah meluas

keseluruh daerah-daerah di Negara kita ini bahkan sampai kepelosok-

pelosokpun tidak asing lagi terjadi kasus seperti hal tersebut.

Setelah kita mengetahui bahwa kondisi masyarakat Indonesia telah

mengalami ketimpangan social yang tidak wajar, maka seharusnya yang

menjadi prioritas dalam pembangunan adalah membangun fisik yakni
3

memperbaiki moral dan mental masyarakatnya, dan juga membangun manusia

Indonesia seutuhnya baik rohani maupun jasmani, sebagaimana tujuan

pembangunan Indonesia yang dinyatakan dengan GBHN (ketetapan MPR RI

NO IV/MPR/1999) berkenaan dengan pendidikan adalah sebagai berikut:

Mengembangkan kualitas sumber daya manusia sedini mungkin secara
terarah, terpadu, dan menyeluruh melalui berbagai upaya proaktif dan
reaktif oleh seluruh komponen bangsa agar generasi muda dapat
berkembang secara optimal disertai dengan hak dukungan dan
lindungan sesuai dengan potensinya.1

Dalam mencitakan manusia yang berkualitas dan bermoral maka di

butuhkan suatu lembaga pelatihan dan pendidikan khususnya pendidikan

agama islam yang bisa mengembangkan potensi-potensi yang terdapat dalam

diri anak didik dan juga memberikan dan menambah wawasan serta

pengetahuan anak didik. Dan yang tidak kala pentingnya adalah membekali

anak didik dengan etika dan moral yang baik, sehingga ketika pelajar-pelajar

itu lulus dari jenjang pendidikannya, maka mereka akan bisa memberikan

manfaat pada tetangga, masyarakat dan Negara. Yang lebih penting lagi

adalah bisa memberikan manfaat pada diri mereka sendiri.

Pendidikan dalam kehidupan suatu bangsa mempunyai peraturan yang

sangat penting untuk menjamin perkembangan dan kelangsungan hidup

bangsa khususnya pendidikan agama islam. Karena pendidikan merupakan

salah satu kemajuan bangsa dan Negara.

1
GBHN. 1999.Tap MPR. Surakarta : PT. Pabelan, 79.
4

Pendidikan agama islam adalah bimbingan jasmni dan rohani

berdasarkan hokum-hukum islam menuju terbentuknya kepribadian menurut

ukuran-ukuran islam.2 dengan pendidikan diharapkan kelak mereka menjadi

manusia yang dapat memahami dan mengamalkan ajaran agama islam serta

menjadikan sebagai way of life (pandanga hidup) yang di ridhoi Allah swt,

sehingga terjalin kebahagiaan dunia dan akhirat. Hal ini sesuai dengan tujuan

pendidikan nasional yang terdapat dalam UU RI No. 20 tahun 2003 tentang

sistem pendidikan nasional (SISDIKNAS) pasal 3, yaitu:

Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta

didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada tuhan yang

maha esa, berakhlaq mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan

menjadi warga negera yang demokratis serta bertanggung jawab.3

Tujuan pendidikan yang dimaksud di atas, sejalan dengan rumusan

tujuan akhir pendidikan islam yaitu, merealisasikan manusia muslim yang

beriman dan bertaqwa serta berilmu pengetahuan yang mampu mengabdikan

dirinya kepada khaliknya dengan sikap kepribadian bulat yang merujuk pada

penyeraha diri kepada-Nya dalam segala aspek hidupnya, baik duniawi

maupun ukhrowi. Rumusan di atas masih dapat diringkas lagi menjadi :

“mewujudkan manusia yang berkpribadian muslim yang bulat lahiriyah dan

2
GBHN. 1999.Tap MPR. Surakarta : PT. Pabelan, 79.
3
GBHN. 1999.Tap MPR. Surakarta : PT. Pabelan, 79.
5

batiniyah yang mampu mengabdikan segala amal perbuatannya untuk mencari

keridhoan Allah SWT”.

Pendidikan agama adalah bagian integral dari keseluruhan proses

pendidikan di sekolah. Kurang efektifnya pendidikan agama di sekolah

menghambat tercapainya tujuan pendidikan. Maka mempertahankan

pendidikan agama tetap menjadi mata pelajaran wajib pada semua jenis dan

jenjang pendidikan merupakan upaya penyelamatan bangsa dari kehancuran.

Menyelenggarakan pendidikan agama secara efektif menjadi kewajiban bagi

semua pihak yang berkompeten dan terkait.

Pendidikan islam dikalangan umat islam merupakan salah satu bentuk

manifestasi cita-cita islam untuk melestarikan mengalihkan, menanamkan dan

mentransformasikan nilai-nilai islam kepada generasi penerusnya, segala nilai-

nilai cultural-religius yang di cita-citakan dapat tetap berfungsi dan

berkembang dalam masyarakat dari waktu kewaktu.4

Akan tetapi, pendidikan yang berkembang di Indonesia banyak yang

melupakan dan meninggalkan aspek etika dan moral dalam kegiatan belajar

mengajar, sehingga lebih mengedepankan pengembangan kognitif dan

psikomotorik saja. Hal ini mengakibatkan perkembangan anak didik tidak

seimbang dan tidak selaras, sehingga banyak para pelajar ketika berperilaku,

perilakunya tidak mencerminkan bahwa mereka adalah anak-anak yang

terdidik dan terpelajar, seperti berkelahi, kebut-kebutan di jalan raya, mabuk-

4
UU RI SISDIKNAS.Ibid., hal. 20.
6

mabukan dan menggunakan narkotika, bahkan diantara merekapun ada yang

berani berhubungan dengan lawan jenis.

Gejala seperti itu tidak boleh di anggap remeh oleh dunia pendidikan,

seharunya pihak-pihak yang terkait secepatnya mencari solusi dalam

memperbaiki moral para pelajar di zaman sekarang maupun yang akan datang

begitu beranika ragam, terutama pengaruh budaya asing yang semakin meraja

lela. Walaupun pemerintah sudah membangun manusia Indonesia seutuhnya

baik fisik maupun non fisik, namun kenyataannya yang melaju keatas adalah

pembangunan secara fisik, bahkan terjadi dekadensi moral yang disebabkan

kultur moral barat yang diterima tanpa di filter terlebih dahulu oleh

masyarakat Indonesia.

Generasi muda sebagai penerus cita-cita perjuangan bangsa dan

sumber insani bagi pembangunan nasional, perlu di tingkatkan pembinaan dan

pengembangannya serta diarahka menjadi kader penerus perjuangan bangsa

manusia pembangunan yang berjiwa pancasila. Pembinaan dan pengembangan

generasi muda dilakukan secara nasional, menyeluruh dan terpadu serta di

mulai sedini mungkin dan mencakup tahap-tahap pertumbuhan sebagai anak,

remaja dan pemuda, sehingga pembinaan dan pngembangan moral generasi

muda merupakan tanggung jawab bersama antara orang tua, keluarga,

masyarakat, lingkungan pemuda dan pemerintah serta ditujukan untuk

meningkatkan kualitas generasi muda.5

5
Mahfudh Shalahuddin. 1991. Ilmu Sosial Dasar. Surabaya: PT. Bina Ilmu. Hal. 86.
7

Generasi muda dalam arti luas mencakup umur anak dan remaja mulai

dari lahir sampai kematangan dari segala segi (jasmani,rohani,sosial, budaya

dan ekonomi).6 Membahas tentang arti pentingnya peranan pemuda, maka

islam sejak 15 abad yang lalu melalui sabda navi Muhammad menegaskan,

yang artinya : “ditangan pemudalah urusan umat ini, dan ditelapak

kakinyalah kehidupan umat”. Kita mengetahui bahwa rasulullah SAW

menyadari betul tentang arti generasi, sebab pemuda adalah generasi penerus

yang kelak akan mengganti generasi tua.7

Adapun yang menjadi permasalahan dalam dunia pendidikan di

Indonesia yaitu begitu mahalnya biaya pendidikan, yang dampaknya banyak

dari anak-anak negeri ini tidak bisa bersekolah atau mendapat pendidikan

dengan layak lagi menyenangkan.

Seiring dengan perkembangan zaman, maka ilmu pengetahuan dan

tegnologi makin berkembang, sehingga komonikasih antar daerah, nasional

dan internasional menjadi sangat mudah. Dampaknya antara budaya satu

dengan budaya yang lain semakin mudah dan cepat terkontaminasi. Sehingga

bersatunya bermacam-macam budaya itu dapat berlangsung secara lancer dan

akrap, akan tetapi tidak jarang berproses melalui konflik personal dan social

yang hebat sehingga banyak pribadi yang mengalami gangguan jiwa dan

muncullah konflik budaya pada masyarakat yang di tandai dengan keresahan

social serta ketidak rukunan kelompok-kelompok social, sehingga timbul
6
Zakiah daradjat.1970. Ilmu Jiwa Agama. Jakarta : Bulan Bintang, hal.131.
7
Taufiqur rohman.2000. khutbah aktua. Surabaya : bursa ilmu. Hal. 40.
8

ketidaksinambungan, disharmonis, ketegangan, kecemasan, ketakutan, dan

prilaku yang melanggar norma-norma hokum formal dan adat istiadat.

Sehingga mereka cendrung bertingkahlaku seenaknya sendiri tanpa

mengindahkan keperluan orang lain, dan apabila tingkah laku menyimpang itu

meluas ditengah masyarakat dan tidak diantisipasi dan diatasi, maka akan

berlangsunglah deviasi situasional kumolatif, misalnya dalam bentuk

“kebudayaan” korupsi, meluasnya ”budaya” criminal, dan seterusnya.

Disadari maupun tidak disadari, bahwa prilaku-prilaku social yang

menyimpang itu akan masuk pada lapisan masyarakat dan pada lembaga-

lembaga pendidikan, tidak terkecuali pada Pondok Pesantren Al-Usymuni

tarate pandian sumenep yang letaknya dikomplek pesantren kurang lebih 300

meter dari taman bunga kota sumenep No. 11 di Jl. Pesantren disamping itu

juga, Pondok Pesantren Al-Usymuni berada didesa pinggiran kota dengan

kondisi lingkungan seperti ini pengaruh budaya maupun prilaku social yang

menyimpang tadi akan sangat mudah sekali mempengaruhi dan merusak

akhlaq atau moral para santri Pondok Pesatren Al-Usymuni, apabila mereka

tidak dibentengi dengan pendidikan-pendidikan yang benar dan pengawasan

yang ketat oleh pihak-pihak terkait. Hal ini di kerenakan selain faktor

lingkungan sekitar mereka yang rawan akan tindakan amoral dan kurang

kondusif untuk perkembangan akhlaq atau moral faktor usia mereka yang

masih mudah dan jiwanya juga yang masih labil dan belum stabil sehingga

mudah berpengaruh dan mengalami penyimpangan moral.
9

Dari fenomena dan pemikiran inilah penulis tertarik untuk melakukan

penelitian dan mengkaji masalah-masalah tersebut di Pondok Pesantren Al-

Usymuni Tarate Pandian Sumenep dengan judul STRATEGI PONDOK

PESANTREN DALAM MENGATASI PENYIMPANGAN MORAL

SANTRI di Pondok Pesantren Al-Usymuni Tarate Pandian Sumenep

B. Fokus Penelitian

Setelah mempelajari konteks penelitian diatas nampaknya

permasalahan yang di hadapi sangat komplek dan umum, supaya

permasalahan yang di bahas dapat mencapai sasaran yang konkrit analisanya,

maka penulis merumuskan beberapa masalah dalam penelitian ini, sebagai

berikut :

1. Bagaimana pelaksanaan pendidikan agama islam di Pondok Pesantren

Al-Usymuni ?

2. Faktor apakah yang bisa menyebabkan penyimpangan moral santri di

Pondok Pesantren Al-Usymuni Terate Pandian Sumenep?

3. Strategi apakah yang dilakukan pondok pesantren dalam mengatasi

penyimpanga moral santri di Pondok Pesantren Al-Usymuni Tarate

Pandian Sumenep?

C. Tujuan Penelitian

Setiap usaha yang dilakukan oleh seseorang pasti mempunyai tujuan

tertentu, demikian juga dengan penelitian ini, peneletian ini bertujuan untuk
10

mengungkapkan jawaban terhadap permasalahan yang telah di rumuskan.

Dengan demikian tujuan yang ingin dicapai adalah :

1. Untuk mengetahui pelaksanaan pendidikan agama islam di Pondok

Pesantren Al-Usymuni Tarate Pandian Sumenep.

2. Untuk mengetahui faktor-faktor yang bisa menyebabkan

penyimpangan moral santri di Pondok Pesantren Al-Usymuni Tarate

Pandian Sumenep.

3. Untuk mengetahui strategi yang dilakukan oleh pondok pesantren

dalam mengatasi penyimpangan moral santri di Pondok Pesantren Al-

Usymuni Tarate Pandian Sumenep.

D. Manfaat/Kegunaan Penelitian

Adapun manfaat penelitian ini, sekaligus harapan kepada peneliti,

pihak STIK Annuqoyah, pondok pesantren, bagi santri, bagi masyarakat pada

umumnya setelah selasainya penelitian ini, adapun manfaat penelitian ini

sebagai berikut:

1. Bagi Peneliti

a. Dapat mengembangkan dan melihat secara nyata dari

teori-teori yang ada dengan melihat bukti di lapangan yakni aplikasi

yang nyata tentang strategi yang dilakukan oleh pondok pesantren

dalam mengatasi penyimpangan moral santri,

b. Sebagai modal dasar untuk melakukan penelitian di

bidang pesantren pada tataran lebih lanjut.
11

c. Untuk memenuhi tridarma perguruan tinggi dalam rangka

menumbuhkembangkan ilmu pengetahuan, malakukan penelitian serta

sebagai suatu pengabdian di masyarakat dengan type dan pola pikir

yang ilmiyah dan alamiyah.

2. Bagi Lembaga STIKA Guluk-Guluk Sumenep

a. Untuk menambah perpustakaan pendidikan agama islam

b. Sebagai tolak ukur interdisipliner keilmuan dan kualitas

mahasiswa dalam bidang pendidikan

3. Bagi Pondok Pesantren.

a. Sebagai sumbangan pemikiran dan bahan pertimbangan

bagi pondok pesantren agar lebih meningkatkan strateginya dalam

mengatasi penyimpangan moral santri Pondok Pesantren Al-Usymuni

Tarate Pandian Sumenep.

b. Menjadi bahan pijakan dan landasan dalam merumuskan

format yang peka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan

teknologi, namun tetap tidak meninggalkan prinsip-prinsip

salafiyahnya.

c. Menjadi bahan untuk melakukan perbandingan antara

strategi pondok pesantren saat ini dengan zaman dulu.

4. Bagi Santri
12

Dengan adanya penelitian ini, diharapkan santri dapat terhindar dari

penyimpangan-penyimpangan moral. Sehingga santri bisa membedakan baik

buruknya suatu perbuatan. Baik yang konkrit maupun yang abstrk.

5. Bagi Masyarakat

a. untuk memberikan kontribusi

pemikiran bagi masyarakat tentang pentingnya menjaga penyimpangan

moral santri.

b. Membangun kesadaran mayarakat

tentang pentingnya mengatasi penyimpangan moral santri.

c. Untuk memberikan pemahaman

kepada masyarakat tentang urgensi pesantren dalam melakukan

transformasi social

d. Untuk memberikan pemahaman

kepada masyarakat tentang strategi dalam penyimpangan moral.

E. Alasan Memilih Judul

1. Alasan Objektif

a. Pondok pesantren adalah merupakan

lembaga pendidikan agam yang sangat penting untuk mencetak

insane kamil sebagai penerus bangsa yang bisa diharapkan

membawa moral yang lebih baik.

b. Setiap lembaga pendidkan khususnya

pondok pesantren masing-masing mempunyai strategi unytuk
13

mengatasi penyimpangan moral yang dianggapnya baik oleh

masyarakat atau bangsa lebih-lebih bagi lembaga itu sendiri.

c. Sumber utama panilaian masyarakat

terhadap seseorang apalagi seorang santri adalah dari segi moralnya

baik yang abstrak maupun yang konkrit.

d. Pesantren sebagai model lembaga

pendidikan islam pertama yang mendukung kelangsungan sistem

pendidikan nasional.

e. Pentingnya gagasan tentang strategi

pondok pesantren untuk menjembatani arus transformasi gerfakan

pendidikan pesantren di era modern.

2. Alasan Subjektif

a. Penulis sebagai salah satu dari santri Pondok Pesantren

Al-Usymuni sehinggalmemudahkan bagi penulis untuk

mengumpulkan data-data yang dibutuhkan, karena tersedianya

literatur-literatur pendukung sebagai referensi.

b. Dengan meneliti judul skripsi ini dapat memperluas

wawasan dan pengetahuan penulis, khususnya dalam hal strategi

pondok pesantren dalam mengatasi penyimpangan moral santri.

F. Asumsi Penelitian

Asumsi atau fustulat sering kali disebut juga dengan anggapan dasar.

Menurut Winarto Surakhmat yang dikutip oleh Suhartini, mendefinisikan
14

asumsi sebagai sebuah titik tolak pemikiran yang kebenarannya diterima oleh

penyelidik atau peneliti8. Kamus ilmiah popular mngartikan bahwa asumsi

ialah praduga ; anggapan sementara yang kebenarannya masih harus

dibuktikan9 berdasarkan dari realita dilembaga pendidikan Pondok Pesantren

Al-Usymuni Taraten Pandian Sumenep, penulis memiliki beberapa asumsi

terkait dengan strategi pondok pesantren.

1. Pola-pola manajemen pondok pesantren dalam mengatasi

penyimpangan moral santri.

2. Dengan adanya strategi pondok pesantren maka ada kesesuaian

dengan tujuan dan harapan dalam pondok pesantren tersebut.

3. Strategi pondok pesantren yang tidak baik atau kurang lancar

dapat menyebabkan santrinya kurang memiliki tujuan yang sempurna

dan kurang aktif dalam proses belajar mengajar.

G. Ruang Lingkup Penelitian

Berdasarkan dari judul yag penulis angkat yaitu “STRATEGI

PONDOK PESANTREN DALAM MENGATASI PENYIMPANGAN

MORAL SANTRI” (di Pondok Pesantren Al-Usymuni Tarate Pandian

Sumenep). Maka pada penelitian ini, vareabel pertama [X] adalah strategi

pondok pesantren dan vareabel ke-dua [Y] adalah penyimpangan moral santri.

Untuk memperoleh gambaran yang jelas, agar tidak terjadi pelebaran dalam

8
Suharsimi Arikunto, Prosedur Pemnelitian Suatu Pendekatan Praktek (Jakatra :
PT. Rinika Cipta 2002.Cet 2)58
9
Piusa Pratanto.dkk, Kamus Ilmiah Populer (Surabaya : Arkola, 1994),53
15

pembahasan atau terdapat macam-macam anggapan dan kekaburan maupun

kesimpang siuran dalam pembahasan yang ingin dicapai, maka diperlukan

pembatasan masalah.

Adapun ruang lingkup penelitian ini berkisar pada pelaksanaan :

a. Materi

1. Tinjauan pendidikan agama islam di Pondok

Pesantren Al-Usymuni Tarate Pandian Sumenep, khususnya

pembinaan moral santri, yang meliputi : tingkah laku, tutur kata,

ketaatan pada orang tua atau guru dan pengamalan ajaran agama.

2. Faktor-faktor yang bisa menyebabkan

penyimpangan moral santri adalah hal-hal yang bisa menyebabkan

kenakalansantri baik dari faktor internal santri maupun dari faktor

eksternalnya.

3. Strategi yang dilakukan pondok pesantren dalam

mengatasi penyimpangan moral santri

b. Lokasi

Penelitian ini dilakukan di Pondok Pesantren Al-Usymuni Tarate

Pandian Sumenep, pada semua pihak yang memungkinkan bagi peneliti.

H. Batasan Definisi Istilah Dalam Judul

Ada beberapa istilah yang perlu dijelaskan atau di definisikan lebih

lanjut secara operasional agar pembaca dalam memahami istilah yang

digunakan dalam penelitian ini memiliki persepsi dan pemahaman yang
16

sejalan dengan peneliti. Sehingga nantinya tidak akan terjadi kesalah pahaman

terhadap judul penelitian ini. Adapun beberapa istilah yang dipandang peneliti

perlu untuk di definisikan dengan gambling sebagai berikut :

1. Strategi adalah kemampuan memanfaatkan segala potensi yang ada

dengan metode yang paling cocok untuk berinteraksi mewujudkan target-

target diharapkan.10

2. Pondok pesantren adalah sebuah asrama pendidikan islam tradisional

dimana para santri tinggal bersama dan belajar bersama di bawah asuhan

kiai. Asrama tersebut berada dalam lingkungan kompleks pesantren.11

3. Penyimpangan moral adalah kelainan dalam tingkah laku serta perbuatan

ataupun tindakan seseorang yang besifat a-moral, a-sosial, dalam hal mana

terdapat pelanggaran-pelanggaran terhadap norma-norma social atau

agama yang berlaku dalam masyarakat dan tindakan-tindakan pelanggaran

hokum.

I. Sistematika Pembahasan

Sistematika pembahasan dalam skripsi nanti dibagi menjadi beberapa

bagian, sebagai berikut

Bab satu Merupakan pendahuluan yang memberikan penjelasan secara

umum dan gambaran tentang isi penelitian. Di dalamnya berisi tentang

konteks penelitian, fokus penelitian, tujuan penelitian, kegunaan atau manfaat

10
Ahmad Abdul Adhim Muhammad 2004. Strategi Hijrah Prinsip-Prinsip Ilmiah
dan Ilham Tuhan. Solo : PT. Tiga Serangkai, hal.53
11
Awi’Hs. Pembelajaran Moral. 01 Aprl 2009. 20.17
17

penelitian, alasan memilih judul, asumsi penelitian, ruang lingkup penelitian,

batasan definisi istilah, dan sistematika penelitian.

Bab dua Merupakan pembahasan yang berisi tentang kajian pustaka

yang meliputi pengertian strategi, pengertian pondok pesantren tujuan pondok

pesantren, kurikulum pendidikan di pondok pesantren sistem pendidikan di

pondok pesantren, pengertian moral, dan usaha-usaha menaggulangi

penyimpangan moral

Bab tiga merupakan metode penelitian berisi tentang pendekatan

penelitian dan jenis penelitian, penentuan populasi dan sample, kehadiran

peneliti, lokasi peneliti, sumber data, prosedur pengumpulan data, teknik

analisis data, pemeriksaan keabsahan data, tahap-tahap penelitian.

Bab empat merupakan laporan penelitian yang berisi paparan dan

temuan, tahap pelaksanaan, dan penelitian yang meliputi, letak beografis

pondok pesantren Al-Usymuni, sejarah singkat berdirinya pondok pesantren

Al-Usymuni dan keadaan pondok pesantren Al-Usymuni tarate pandian

sumenep dan berisi pembahasan yang meliputi, pelaksanaan agama islam di

pondok pesantren Al-Usymuni, faktor-faktor yang menyebabkan

penyimpangan moral santri pondok pesantren Al-Usymuni dan strategi dan

upaya yang dilakukan pondok pesantren dalam mengatasi penyimpangan

moral santri di pondok pesantren Al-Usymuni tarate pandian sumenep.
18

Bab lima Merupakan bab terakhir yang di dalamnya berisi tentang.

Kesimpulan, Saran-saran, dilengkapi dengan daftar pustaka, dan lampiran-

lampiran.