LARUTAN

LAPORAN PRAKTIKUM
PERCOBAAN V
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah farmasi fisika



Disusun oleh
Ujang Samsudin
31112052
Farmasi 2A
Kelompok 4
PRODI S1 FARMASI
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BAKTI TUNAS HUSADA
TASIKMALAYA
2014

A. TUJUAN PERCOBAAN
1. Mengetahui pengaruh pelarut campur terhadap kelarutan zat
2. Mengetahui pengaruh penamabhan surfaktan terhadap kelarutan zat
3. Menentukan konsentrasi misel kritik dari surfaktan dengan metode kelarutan

B. ALAT DAN BAHAN
1. Alat : a. Timbangan
b. Pipet volume
c. Agiatator
d. Saringan
e. Buret
f. Erlenmeyer
2. Bahan : a. Aquadest
b. Alkohol
c. Propilenglikol
d. NaOH
e. Theophyllin
f. Indikator






C. PROSEDUR

Buat 50 ml larutan tween 80 dengan konsentrasi 0;0,1;0,5;1;5;10;20;50;100 mg/ml


Tambah theophylin sedikit demi sedikit sampai larutan jenuh


kocok larutan selama satu jam,jika ada endapan tambahkan theophylin sampai
didapat larutan jenuh kembali


Saring,tentukan kadar theophylin dengan konsentrasi tween 80 yang digunakan


Tentukan konsentrasi misel kritik tween 80


D. DATA, HASIL PENGAMATAN, DAN PERHITUNGAN
1. Data penimbangan bahan
Kelompok IV
Air = 50 ml
tween = 1,5 gram





2. Data pembakuan NaOH
Mg asam oksalat Volume NaOH
50 8,5
50 8,5
50 9,5
Rata-rata 8,83

Perhitungan
50
63,04 x 8,5 = 0,09 N
50
63,04 X 8,5 = 0,09 N
50
63,04 x 9,5 = 0,08 N
=0,26 N
3 = 0,087 N
3. Data perhitungan sampel (theophilin)
v.sampel (ml) v. NaOH (ml)
10 ml 5
10 ml 5
10 ml 5,1
Rata-rata 5,03
Kadara theophilin = 5,03 x 18,02
= 90,6406 mg

Kurva kelarutan theophylin Vs prosentase pelarut
kelompok Tween Volume titran (mL) Kadar theophylline (mg)
1 0 1,49 26,31
2 10 5 90,1
3 20 4,37 78,75
4 30 5,03 90,64
5 40 5,16 92,98
6 50 5,5 99,11
7 60 5,37 96,77
8 70 5,63 101,45
9 80 5,83 105,06
10 90 4,33 78,08


E. PEMBAHASAN
Pada percobaan kali ini, yaitu untuk mengetahui pengaruh pelarut campur
terhadap kelarutan zat, pengaruh penambahan surpaktan terhadap kelaurytan zat, dan
mengetahui pengaruh konsentrasi misel kritik. Sebelum kita membahas mengenai hasil
praktikum maka terlebih dahulu kita harus mengetahui apa yang dimaksud dengan
0
20
40
60
80
100
120
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
K
a
d
a
r

T
h
e
o
p
h
y
l
l
i
n



Volume Titran
Kadar theophylline
Kadar theophylline
larutan? Larutan adalah seiaan cair dimana zat yang dilarutkan akan terlarut sempurna
pada pelarut. Sedangkan kelarutan adalah Kelarutan adalah suatu kemampuan suatu zat
yang dapat larut dalam pelarut tertentu. Hasil dari zat yang tidak dapat larut lagi tersebut
ini disebut larutan jenuh. Pada keadaan ini, suhu dan ukuran permukaan sangat
berpengaruh, semakin tinggi suhu semakin cepat suatu zat akan larut. Semakin kecil luas
permukaan, semakin cepat pula suatu zat itu larut.
Kelarutan suatu zat sangat dipengaruhi oleh banyak factor di antaranya:
 Pengaruh pH
Kelarutan asam-asam organik lemah seperti barbiturat dan sulfonamide dalam air
akan bertambah dengan naiknya pH karena terbentuk garam yang mudah larut
dalam air
 Pengaruh temperatur (suhu)
Kelarutan zat padat dalam larutan ideal tergantung kepada temperatur, titik leleh zat
padat dan panas peleburan molar zat tersebut. Kelarutan suatu zat padat dalam air
akan semakin tinggi bila suhunya dinaikan. Adanya panas (kalor) mengakibatkan
semakin renggangnya jarak antar molekul zat padat tersebut.
 Pengaruh jenis pelarut
Kelarutan suatu zat sangat dipengaruhi oleh polaritas pelarut. Pelarut polar akan
melarutkan lebih baik zat-zat polar dan ionik, begitu pula sebaliknya.
 Pengaruh bentuk dan ukuran partikel
Semakin kecil ukuran partikelnya maka kacepatan larutnya kan semakin tinggi
karena semakin kecil ukurannya maka luas permukaannya akan semakin besar
 Pengaruh konstanta dielektrik
Kelarutan suatu zat sangat dipengaruhi oleh polaritas pelarut. Pelarut polar
mempunyai konstanta dielektrik yang tinggi dapat melarutkan zat-zat non polar
sukar larut di dalamnya, begitu pula sebaliknya
Pada praktikum kali ini prinsipnya sama dengan percobaan minggu sebelumnya
dimana kita akan melarutkan theophilin dengna menggunakan pelarut aquades, perbedaan
dengan miggu sebelumnnya yaitu ketika minggu sebelumnya kita menggunakan
campuran pelarut untuk melarutkan theophilin tetapi pada praktikum kali ini kita hanya
menggunakan satu pelarut yaitu aquades dengan panambahan tween 80 dengan berbagai
konsentrasi, yaitu 0, 10, 20 30, 40, 50, 60, 70, 80, 90. Kadar twen yang digunakan ini
sengaja di bedakan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi tween terhadap kelarutan zat.
Tween sendiri merupakan suatu zat yang biasa digunakan dalam emulsi dimana tween
merupakan emulgator yang dapat menstabilkan antara fase air dengan fase minyak.
Mekanismenya yaitu dengan menurunkan tegangan antar muka antara fase air dengan
fase minyak. Karena prinsip dari kelarutan sendiri yaitu like dissolve like yang artinya
pelarut yang polar akan larut dengan pelarut polar sedangkan pelarut yang non polar akan
bercampur dengan pelarut yang non polar. Jadi tween ini merupakan zat yang dapat
menstabilkan antara pelarut polar dan non polar.
Langkan pertama yang dilakukan yaitu mencampurkan air dengan tween sebanyak
30 gram dalam Erlenmeyer kemudian kocok sampai bercapur lalu di tutup dengan plastic
krep. Tujuan dari penutupan ini adalah untuk meminimalkan campuran pelarut tersebut
keluar ketika dilakukan pengocokan karena tween akan menghasilkan busa jika
pengocokannya terlalu kuat. Setelah di tutup dengan plastic krep kemudian campuran
dari pelarut tersebut di kocok selama 1 jam. Sambil dikocok tersebut di tambahakan
theophilin kedalam campuran pelarut tersebut sedikit demi sedikit selama satu jam.
Penambahan theophilin tidak di timbang tetapi digunakan sebanyak pelarut tersebut
mampu melarutkan zat aktif tersebut. Theophilin itu sendiri merupakan suatu zat aktif
yang digunakan untuk obat asma dimana pemerian dari theophilin itu sendiri adalah
srbuk hablur putih tidak berbau rasa pahit dan stabil di udara. Sedangkan kelarutannya
sukar larut dalam air tetapi larut dalam air panas, agak sukar larut dalam etanol,
kloroform, dan dalam eter.
Pada percobaan kemarin penambahan theophilin dilakukan sambil dilakukan
pengocokan hal ini dikarenakan theophilin itu sendiri sukar larut dalam air, jadi dengan
dilakukan pengocokan maka theophilin tersebut dapat larut meskipun itu hanya sedikit.
Tujuan dari pengocokan itu sendiri yaitu untuk membuat partikel-partikel yang sukar
larut tersebut saling bertubrukan sehingga mengakibatkan daya kelarutanya akan
meningkat, dan juga theophilin yang digunakan ukuran partikelnya harus sangat halus
karena ukuran partikel akan mempengaruhi terhadap kelarutan dumana ukuran
partikelnya makin kecil maka kelarutannya akan semakint tinggi.
Setelah pengocokan dilakukan selama satu jam maka campuran pelarut dan zat
aktif tadi di mana di dalamnya terdapat teophilin yang sudah dilarutkan maka
selanjutnyanya kita saring hasil dari pengocokan tersebut dengan menggunakan kertas
saring sebanyak 2 lapis tujuan dari penyaringan yaiitu untuk memisahkan antara partikel
padat dengan partikel cair setelah kita mendapatkan larutan yang terbebas dari partikel
padat maka selanjutnya kita akan menghitung berapa kadar theophilin yang dapat larut
tadi dengan cara titrasi dimana titran yang digunakan yaitu NaOH dan indikatornya yaitu
penoptalin. Sebelum kita menentukan kadar theophilin maka terlebih dahulu kita harus
mnghitung berapa Normalitas dari NaOH yang akan digunakan sebagai titran yaitu
dengan cara pembakuan NaOH dengan mengguakan titer asam oksalat, yaitu dengan cara
menimbang asam oksalat sebanyak 50 mg kemudian masukan dalam erlenmeyar lalu
tambhakan aquades secukupnya untuk melarutkan asam oksalat dan tambahkan indicator
PP sebanyak 3 tetes kemudian titrasi dengan NaOH samapai terbentuk warna merah
muda yang menandakan bahwa titik akhir titirasi sudah tercapai, reaksi yang terjadi
yaitu NaOH yang digunakan sebagai titran ketika menetes kedalam Erlenmeyer maka
akan bereaksi dengan indikator, tetapi ketika indicator sudah habis bereaksi dengan titran
maka kelebihan titran sedikit saja akan bereaksi dengan sampel dan manghasilkn warna
merah muda yang menandakan titik akhir dari titrasi sudah tercapai. lalu catat berapa
voluma NaOH yang digunkan nuntuk titrasi dan lakukan sebanyak 3 kali. Kemudian
hitung Normalitas NaOH dengn menggunakan rumus:


V.NaOH

x N.NaOH
Jadi Normalitas NaOH yang digunakan sebagai titran yaitu sebesar 0,087 N
Setelah kita mengetahui konsentrasi NaOH yang akan digunakan sebagai titran
maka selanjutnya kita lakukan titrasi terhadap sampel kita yaitu dengan cara memipet
sebanyak 10 ml sampel kemudian masukan dalam Erlenmeyer lalu tambahkan indicator
PP sebanyak 3 tetes lalu kocok sampai homogen lalu titrasi dengan NaOH yang sudah
dibakukan. Reaksi yang terjadi ketika melakukan pembakuan dan juga menitrasi sampel
dengan NaOH adalah sebagai berikut: NaOH yang digunakan sebagai titran ketika
menetes pada Erlenmeyer maka akan bereaksi dengan indicator PP tetapi ketika indicator
PP semuanya sudah habis bereaksi dengan NaOH maka titran akan bereaksi dengan
sampel yaitu menghasilkan warna merah muda yang menandakan bahwa titik akhir dari
titrasi sudah tercapai dan artinya titirasi harus dihentikan. Lakukan titrasi sebanyak 3 kali
kemudian catat volume NaOH yang digunakan untuk mentitrasi theophilin. Dari
hasilpercobaan di dapatkan volume NaOH yang digunakan untuk mentitrasi theophilin
adala 5 ml; 5 ml; dan 5,5 ml. setelah itu kemudian kita rata-rata kan hasil tersebut
kemudian kita hitung berapa normalitas dari theophilin dengan menggunakan persamaan.
Dimana 1 ml NaOH = 18,02 mg theophilin. Jadi konsentrasi theophilin dapat dihitung
yaitu:
Kadar NaOH =
Kadar theophilin = 5,03X 18,02 = 90,6406 mg
Jadi kadar theophilin yang larut selama 1 jam dan di sertai dengan pengocokan
adalah 90,6406 mg dengan menggunakan campuran pelarut air yang ditambahkan tween
80 sebanyak 3 gram.
Kemudian kita buat grafik perbandingan antara kelarutan theophilin dengan
konsentrasi tween 80 dan hasilnya kurva nya naik dan turun. Seharusnya kurva naik
dengan konstan karena semakin besar konsentrasi tween 80 maka konsentrasi theophilin
yang laut pun akan semakin besar. Hal ini dikarenakan orang yang melakukan titrasi
berbeda-beda antara titrasi yang satu denagn yang lainnya sehingga kurva yang didaptkan
tidak naik dengan konstan.


F. SIMPULAN
Dari hasil praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa :
 Larutan adalah sediaan cair yang mengandung bahan kimia terlarut. Keculai
dinyatakan lain sebagai pelarut digunakan air suling. Larutan dapat digolongkan
mnejadi dua yaitu larutan langsung dan larutan tidak langsung.
 Pada percobaan yang telah dilakukan dan dilihat dari table hasil pengamatan maka
pengaruh pnambahan tween dengan pengaruh penambahan kombinasi pelarut maka
lebih baik menggunakan kombinasi pelarut karena zat yang dilarutkannya semakin
banyak.
 Pada percobaan ini bobot tween yang semakin besar tidak berpengaruh pada daya
kelarutan karena pada hasil pengamatan kadar yang di dapatkan tidak berurutan. Hal
ini dikarenakan orang yang melakukan pengocokan berbeda-beda sehingga tenaga
yang diberikan pun juga berbeda.
 Kelarutan suatu zat di pengaruhi oleh beberapa factor yaitu
 Pengaruh pH
 Pengaruh temperature
 Pengaruh jenis pelarut
 Pengaruh konstanta dielektrik
 Pengaruh bentuk dan ukurn partikel

G. DAFTAR PUSTAKA
Ansel, Howard. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi , edisi keempat. Jakarta:
Universitas Indonesia Press.
Kusumaningrum, Ika. (2009). “SYARAT-SYARAT EMULSI YANG BAIK”. [online].
Tersedia:http://ikakusumaningarum.blogspot.com/2010/01/kerapatan-dan-berat-
jenis.html.
Martin, Alferd. (1993). “DASAR-DASAR KIMIA FISIKA DALAM ILMU
FARMASETIK”. Jakarta: Universitas Indonesia.


Related Interests