Penyemenan pada sumur pemboran adalah suatu proses pencampuran (mixing) dan

pendesakan (displacement) bubur semen (slurry) melalui casing sehingga mengalir ke atas
melewati annulus di belakang casing sehingga casing terikat ke formasi . Pada umumnya
penyemenan bertujuan untuk melekatkan casing pada dinding lubang bor, melindungi casing
dari masalah-masalah mekanis sewaktu pemboran berlangsung (seperti torsi yang tinggi dan
lain-lain), melindungi casing dari fluida formasi yang bersifat korosif dan untuk memisahkan
zona yang lain di belakang casing. Penyemenan merupakan faktor yang paling penting dalam
operasi pemboran sehingga dapat mereduksi kemungkinan-kemungkinan permasalahan secara
mekanis sewaktu melakukan pemboran pada trayek selanjutnya.
Menurut alasan dan tujuannya,penyemenan dapat dibagi menjadi dua yaitu: Primary
cementing (penyemenan utama) dan secondary cementing (penyemenan yang kedua atau
perbaikan). Primary cementing adalah adalah proses penyemanan yang dilakukan pertama kali
setelah casing di turunkan ke dalam lubang bor. Sedangkan secondary cementing adalah
penyemenan yang dilakukan dikarenakan tidak sempurnanya penyemenan pertama (gagal).

Macam-Macam Sistem Primary Cementing
Terdapat beberapa sistem dalam penyemenan utama, dan itu semua tegantung dari
kondisi dan jenis casing yang akan disemen.
3.2.1 Penyemenan Poor Boy
Yaitu penyemenan dengan menggunakan Tubing sebagai
pengantar Cement Slurrykedalam lubang sumur, biasanya dipakai untuk penyemenan Stove
Pipe dan Conductor Casing.Pada Stove Pipe dengan memasang Pipa Tubing pada annulus
lubang yang pertama dibor dengan Stove Pipe, sedangkan untuk Conductor Casing dengan
memasukkan Pipa Tubing kedalam Casing dan digantung dengan Cementing Head.
3.2.2. Penyemenan Dengan Stinger
Yaitu penyemenan dengan menggunakan Stinger dan Drill Pipe (DP),
sedangkan Shoe yang dipakai adalah Duplex Shoe. Biasanya dipakai untuk
penyemananConductor Casing karena Casing ini memiliki ukuran diameter besar sehingga
dengan systemini diperlukan volume displace sedikit ( sepanjang DP) dan waktunya lebih cepat
3.2.3 Penyemenan Perkins
Yaitu penyemenan dengan menggunakan Bottom dan Top Plug,pada ujung Casing
dipasangFloat Shoe dan Float Collar, sedangkan pada puncak Casing dipasang Plug
Container/Cementing Head. Biasanya untuk penyemanan Surface,Intermediate dan Production
Casing.
3.2.4 Penyemenan Multi Stage
Yaitu penyemenan Casing dalam satu trayek dilakukan lebih dari satu kali dengan cara
bertahap/bertingkat, menggunakan peralatan khusus yaitu DSCC, Plugs khusus, danFloat
Collar khusus. Pertimbangan dilakukan penyemenan Multi Stage adalah Casing yang disemen
panjang dan atau adanya zona loss pada lubang sumur tersebut. Biasanya untuk
penyemenan Intermediate dan Production Casing.




3.3 Fungsi Semen
Penyemenan adalah proses pendorongan bubur semen ke dalam casing dan naik ke
annulus yang kemudian didiamkan sampai semen tersebut mengeras hingga mempunyai sifat
melekat baik terhadap casing maupiun formasi.
Secara lebih spesifik, fungsi penyemenan dalam suatu pemboran adalah :
 Melindungi casing / liner dari tekanan yang dating dari bagian luar casing yang dapat
menimbulkan collapse (mengkerut)
 Mencegah adanya migrasi fluida yang tidak diinginkan dari satu formasi ke formasi yang lain.
 Melindungi casing dari fluida yang bersifat korosif


Untuk memenuhi Fungsi-fungsi tersebut di atas, maka semen pemboran harus memenuhi
beberapa syarat :
 Semen setelah ditempatkan harus mempunyai kekuatan atau strength yang cukup besar
dalam waktu tertentu
 Semen harus memberikan daya ikat casing dengan formasi yang cukup baik.
 Semen tidak boleh terkontaminasi dengan fluida formasi ataupun dengan fluida pendorong
 Semen harus impermeable (permeabilitas harus nol)

3.4 Komposisi Kimia Pembuatan Semen
Semen yang digunakan dalam industry perminyakan adalah semen Portland, kemudian
dikembangkan oleh joseph aspdin tahun 1824. Disebut Portland karena asal mula bahannya
berasal dari pulau Portland Inggris. Semen ini termasuk semen hidrolis dalam arti akan
mengeras apabila bertemu atau bercampur dengan air. Semen Portland mempunyai 4
komponen mineral utama, yaitu :
 Tricalcium silicate (3CaO SiO
2
)
Dinotasikan sebagai C
3
S yang dihasilkan dari kombinasi CaO dan SiO
2
da merupakan
komponen terbanyak dalam Portland semen, sekitar 40-45% untuk semen yang lambat proses
pengerasannya, dan 60-65% untuk semen yang cepat proses pengerasannya. Komposisi ini
memberikan strength yang terbesar pada awal pengerasan.

 Dicalcium Silicate (2CaO SiO
2
)
Dinotasikan sebagai C
2
S yang juga dihasilkan dari kombinasi CaO dan SiO
2
, memberi
pengaruh terhadap strength semen akhir. C
2
S menghidrasi sangat lambat sehingga tidak
berpengaruh dengan setting time semen, tetapi sangat berpengaruh dalam kekuatan semen
lanjut dan kadarnya tidak lebih dari 20%.
 Tricalcium Aluminate (3CaO Al
2
O
3
)
Dinotasikan sebagai C
3
A yang terbentuk dari reaksi CaO dan AL
2
O
3
kadarnya 15% untuk high
early Strength dan 3% untuk terhadap kandungan sulfate, namun berpengaruh
terhadaprheologi suspense dan membantu proses pengerasan awal semen.
 Tetracalcium Aluminoferrite (4CaO AL
2
O
3
Fe
2
o
3
)
Dinotasikan sebagai C
3
AF yang terbentuk dari reaksi CaO
2
Al
2
O
3
dan Fe
2
O
3
. Kadarnya tidak
boleh lebih dari 24% untuk semen yang tahan terhadap kandungan sulfate tinggi. Penambahan
oksida besi yang berlebihan akan menaikan kadar C
4
AF dan menurunkan kadar C
3
A dan
menurunkan panas hasil reaksi /hidrasi C
2
S dan C
3
S.

3.5 Klasifikasi Semen
API telah melakukan pengklasifikasian semen kedalam beberapa kelas guna
mempermudah pemilihan dan penggolongan semen yang akan digunakan, pengklasifikasian ini
berdasarkan pada kondisi sumur, temperature, tekanan dan kandungan yang terdapat pada
fluida formasi.
Klasifikasi semen yang dilakukan API terdiri dari:
 Kelas A
Semen kelas A ini digunakan dari kedalaman 0 (permukaan) sampai 6.000 ft. semen ini
terdapat dalam tipe biasa (ordinary type) saja, dan mirip dengan semen ASTM C-150 tipe I.
 Kelas B
Semen kelas B digunakan dari kedalaman 0 sampai 6.000 ft, dan tersedia dalam jenis yang
tahan terhadap kandungan sulfat menengah dan tinggi (moderate dan high sulfate resistant)
 Kelas C
Semen kelas C digunakan dari kedalaman 0 sampai 6.000 ft, dan mempunyai sifat high-early
strength (proses pengerasannya cepat) semen ini tersedia dalam jenis moderatedan
high sulfate resistant.
 Kelas D
Semen kelas D digunakan untuk kedalaman dari 6.000 ft sampai 12.000 ft, dan untuk kondisi
sumur yang mempunyai tekanan dan temperature tinggi. Semen ini tersedia juga dalam
jenis moderate dan high sulfate resistant

 Kelas E
Semen kelas E digunakan untuk kedalaman dari 6.000 ft sampai 14.000 ft, dan untuk kondisi
sumur yang mempunyai tekanan dan temperature tinggi. Semen ini tersedia juga dalam
jenis moderate dan high sulfate resistant
 Kelas F
Semen kelas E digunakan untuk kedalaman dari 10.000 ft sampai 16.000 ft, dan untuk kondisi
sumur yang mempunyai tekanan dan temperature tinggi. Semen ini tersedia dalam jenis
highsulfate resistant.
 Kelas G
Semen kelas G digunakan dari kedalaman 0 sampai 8.000 ft, dan merupakan semen dasar.
Bila ditambahkan retarder semen ini dapat dipakai untuk sumur

Related Interests