SP2KP ( Sistem Pemberian Pelayanan Keperawatan Professional

)
1 Pengertian
SP2KP adalah sistem pemberian pelayanan keperawatan profesional yang merupakan
pengembangan dari MPKP ( Model Praktek Keperawatan Profesional ) dimana dalam
SP2KP ini terjadi kerjasama profesional antara perawat primer (PP) dan perawat asosiet
(PA) serta tenaga kesehatan lainnya. Pada aspek proses ditetapkan penggunaan metode
modifikasi keperawatan primer (kombinasi metode tim dan metode keperawatan primer).
Penetapan metode ini didasarkan pada beberapa alasan sebagai berikut :
Pada metode keperawatan primer, pemberian asuhan keperawatan dilakukan secara
berkesinambungan sehingga memungkinkan adanya tanggung jawab dan tanggung gugat
yang merupakan esensi dari suatu layanan profesional. Terdapat satu orang perawat
professional yang disebut PP, yang bertanggung jawab dan bertanggung gugat atas asuhan
keperawatan yang diberikan. Pada MPKP , perawat primer adalah perawat lulusan sarjana
keperawatan/Ners. Pada metode keperawataan primer , hubungan profesional dapat
ditingkatkan terutama dengan profesi lain.
Metode keperawatan primer tidak digunakan secara murni karena membutuhkan jumlah
tenaga Skp/Ners yang lebih banyak, karena setiap PP hanya merawat 4-5 klien dan pada
metode modifikasi keperawatan primer , setiap PP merawat 9-10 klien. Saat ini terdapat
beberapa jenis tenaga keperawatan dengan kemampuan yang berbeda-beda. Kombinasi
metode tim dan perawat primer menjadi penting sehingga perawat dengan kemampuan yang
lebih tinggi mampu mengarahkan dan membimbing perawat lain di bawah tanggung
jawabnya. Metode tim tidak digunakan secara murni karena pada metode ini tanggung jawab
terhadap asuhan keperawatan terbagi kepada semua anggota tim, sehingga sukar
menetapkan siapa yang bertanggung jawab dan bertanggung gugat atas semua asuhan yang
diberikan.


Apabila ditinjau dari 5 sub sistem yang diidentifikasi oleh Hoffart & Woods (1996), secara
sederhana dapat diartikan sebagai berikut :
a Nilai-nilai profesional sebagai inti model
Pada model ini, PP dan PA membangun kontrak dengan klien/keluarga sejak
klien/keluarga masuk ke suatu ruang rawat yang merupakan awal dari penghargaan
atas harkat dan martabat manusia. Hubungan tersebut akan terus dibina selama klien
dirawat di ruang rawat, sehingga klien/keluarga menjadi partner dalam memberikan
asuhan keperawatan. Pelaksanaan dan evaluasi renpra, PP mempunyai otonomi dan
akuntabilitas untuk mempertanggungjawabkan asuhan yang diberikan termasuk
tindakan yang dilakukan PA di bawah tanggung jawab untuk membina performa PA
agar melakukan tindakan berdasarkan nilai-nilai professional.
b Pendekatan Manajemen
Model ini memberlakukan manajemen SDM, artinya ada garis komunikasi yang
jelas antara PP dan PA. performa PA dalam satu tim menjadi tanggung jawab PP. PP
adalah seorang manajer asuhan keperawatan yang harus dibekali dengan kemampuan
manajemen dan kepemimpinan sehingga PP dapat menjadi manajer yang efektif dan
pemimpin yang efektif.
c Metode pemberian asuhan keperawatan
Metode pemberian asuhan keperawatan yang digunakan adalah modifikasi
keperawatan primer sehingga keputusan tentang renpra ditetapkan oleh PP. PP akan
mengevaluasi perkembangan klien setiap hari dan membuat modifikasi pada renpra
sesuai kebutuhan klien.
d Hubungan professional
Hubungan professional dilakukan oleh PP dimana PP lebih mengetahui tentang
perkembangan klien sejak awal masuk ke suatu ruang rawat sehingga mampu member
informasi tentang kondisi klien kepada profesi lain khususnya dokter. Pemberian
informasi yang akurat tentang perkembangan klien akan membantu dalam penetapan
rencana tindakan medic.
e Sistem kompensasi dan penghargaan
PP dan timnya berhak atas kompensasi serta penghargaan untuk asuhan
keperawatan yang professional. Kompensasi dan penghargaan yang diberikan kepada
perawat bukan bagian dari asuhan medis atau kompensasi dan penghargaan
berdasarkan prosedur. Kompensasi berupa jasa dapat diberikan kepada PP dan PA
dalam satu tim yang dapat ditentukan berdasarkan derajat ketergantungan klien. PP
dapat mempelajari secara detail asuhan keperawatan klien tertentu sesuai dengan
gangguan/masalah yang dialami sehingga mengarah pada pendidikan ners spesialis.
Metode modifikasi Perawat Primer-Tim yaitu seorang PP bertanggung jawab dan
bertanggung gugat terhadap asuhan keperawatan yang diberikan pada sekelompok
pasien mulai dari pasien masuk sampai dengan bantuan beberapa orang PA. PP dan
PA selama kurun waktu tertentu bekerjasama sebagai suatu tim yang relative tetap
baik dari segi kelompok pasien yang dikelola, maupun orang-orang yang berada dalam
satu tim tersebut . Tim dapat berperan efektif jika didalam tim itu sendiri terjalin
kerjasama yang professional antara PP dan PA. selain itu tentu saja tim tersebut juga
harus mampu membangun kerjasama professional dengan tim kesehatan lainnya.
2 Peran Managerial dan Leadership
Ketua dalam tim betugas untuk membuat rencana asuhan keperawatan, mengkoordinir
kegiatan semua staf (PA) yang berada dalam tim, mendelegasikan sebagian tindakan-
tindakan keperawatan yang telah direncanakan pada renpra dan bersama-sama dengan PA
mengevaluasi asuhan keperawatan yang diberikan.
Seorang PP harus memiliki kemampuan yang baik dalam membuat renpra untuk
klien yang menjadi tanggungjawabnya. Adanya renpra merupakan tanggung jawab
profesional seorang PP sebagai landasan dalam memberikan asuhan keperawatan yang
sesuai dengan standar. Renpra tersebut harus dibuat sesegera mungkin pada saat klien masuk
dan dievaluasi setiap hari. PP dituntut untuk memiliki kemampuan mendelegasikan sebagian
tindakan keperawatan yang telah direncanakan pada PA. pembagian tanggung jawab
terhadap klien yang menjadi tanggung jawab tim, didasarkan pada tingkat ketergantungan
pasien dan kemampuan PA dalam menerima pendelegasian.
Metode tim PP-PA dituntut untuk memiliki keterampilan kepemimpinan. PP
bertugas mengarahkan dan mengkoordinasikan PA dalam memberikan asuhan keperawatan
pada kelompok klien. PP berkewajiban untuk membimbing PA agar mampu memberikan
asuhan keperawatan seuai dengan standar yang ada. Bimbingan tersebut dapat dilaksanakan
secara langsung, misalnya mendampingi PA saat melaksanakan tindakan tertentu pada klien
atau secara tidak langsung pada saat melakukan konferens. PP juga harus senantiasa
memotivasi PA agar terus meningkatkan keterampilannya,misalnya memberikan referensi
atau bahan bacaan yang diperlukan. Selain terkait dengan bimbingan keterampilan pada PA,
sebagai bagian dari peran kepemimpinan seorang PP, PP seharusnya juga memiliki
kemampuan untuk mengatasi konflik yang mungkin terjadi antar PA. PP harus menjadi
penengah yang bijaksana sehingga konflik bisa teratasi dan tidak mengganggu produktifitas
PA dalam membantu memberikan asuhan keperawatan.
3 Komunikasi tim melalui renpra, konferensi, dan ronde keperawatan
Komunikasi yang efektif merupakan kunci keberhasilan dalam melakukan kerjasama
profesional tim antara PP-PA. Komunikasi tersebut dapat melalui ;renpra, konferensi, dan
ronde keperawatan yang terstruktur dan terjadwal.
Rencana asuhan keperawatan ( renpra ) selain berfungsi sebagai ,
a Pedoman bagi PP-PA
b Landasan profesional bahwa asuhan keperawatan diberikan berdasarkan ilmu
pengetahuan




Kerjasama profesional PP-PA, renpra selain berfungsi sebagai penunjuk perencanaan
asuhan yang diberikan juga berfungsi sebagai media komunikasi PP pada PA. Berdasarkan
renpra ini, PP mendelegasikan PA untuk melakukan sebagian tindakan keperawatan yang
telah direncanakan oleh PP. Oleh sebab itu, sangat sulit untuk tim PP-PA dapat bekerjasama
secara efektif jika PP tidak membuat perencanaan asuhan keperawatan ( renpra ). Hal ini
menunjukan bahwa renpra sesungguhnya dibuat bukan sekedar memenuhi ketentuan (
biasanya ketentuan dalam menentukan akreditasi rumah sakit ). Renpra seharusnya dibuat
sesegera mungkin, paling lambat 1 kali 24 jam setelah pasien masuk karena fungsinya
sebagai pedoman dan media komunikasi. Berdasarkan ketentuan tugas dan tanggung jawab
PP tidak sedang bertugas ( misalnya pada malam hari atau hari libur ), PA yang sebelumnya
telah didelegasikan dapat melakukan pengkajian dasar dan menentukan satu diagnosa
keperawatan yang terkait dengan kebutuhan dasar pasien. Selanjutnya segera setelah PP
bertugas kembali maka pengkajian dan renpra yang telah ada harus divalidasi dan
dilengkapi.
Penting juga diperhatikan bahwa renpra yang dibuat PP harus dimengerti oleh semua
PA. Semua anggota tim harus memiliki pemahaman yang sama tentang istilah-istilah
keperawatan yang digunakan dalam renpra tersebut. Misalnya dalam renpra, PP menuliskan
rencana tindakan keperawatan ; " monitor I/O ( Intake/Output = pemasukan / pengeluaran )
tiap 24 jam". Maka harus dipahami oleh semua anggota tim yang dimaksud dengan monitor
I/O, contoh lain dalam perencanaan PP menuliskan "berikan dukungan pada pasien dan
keluarganya" , maka baik PP dan PA dalam timnya harus memiliki persepsi yang sama
tentang tindakan yang akan dilakukan tersebut. Oleh sebab itu PP harus menjelaskan
kembali pada PA tentang apa yang disusunnya tersebut. Pendelegasian tindakan
keperawatan yang berdasarkan pada renpra, PP terlebih dahulu harus memiliki kemampuan
masing-masing PA. Hal yang tidak dapat didelegasikan pada PA adalah tanggung jawab dan
tanggung gugat seorang PP (Dunville dan McCuock, 2004). Tindakan yang telah
didelegasikan pada PA, PP tetap berkewajiban untuk tetap memonitor dan mengevaluasi
tindakan yang dilakukan oleh PA.




4 Komunikasi tim oleh konferensi
Konferensi adalah pertemuan yang direncanakan antara PP dan PA untuk membahas
kondisi pasien dan rencana asuhan yang dilakukan setiap hari. Konferensi biasanya
merupakan kelanjutan dari serah terima shift. Hal-hal yang ingin dibicarakan lebih rinci dan
sensitif dibicarakan didekat pasien dapat dibahas lebih jauh didalam konferensi. Konferensi
akan efektif jika PP telah membuat renpra, dan membuat rencana apa yang akan dibicarakan
dalam konferensi. Konferensi ini lebih bersifat 2 arah dalam diskusi antara PP–PA tentang
rencana asuhan keperawatan dari dan klarifikasi pada PA dan hal lain yang terkait.
5 Komunikasi tim melalui Ronde Keperawatan
Ronde keperawatan yang dilakukan dalam tim ini harus dibedakan dengan ronde
keperawatan yang dilakuan dengan clinical manager (ccm). Tujuan ronde keperawatan
dalam tim adalah agar PP dan PA bersama-sama melihat proses yang diberikan.
6 Kerjasama dengan tim lain
Tim kesehatan lain adalah dokter, ahli gizi, ahli farmasi, fisioterapi, staf laboratorium dll.
Peran PP dalam melakukan kerjasama dengan tim lain tersebut adalah :
a Mengkolaborasikan.
b Mengkomunikasikan.
c Mengkoordinasikan semua aspek perawatan pasien yang menjadi tanggung jawabnya.
d PP dituntut untuk memiliki pengetahuan yang memadai baik segi tingkat pendidikan
dalam pengalamannya.




PP bertanggung jawab untuk memberikan informasi kondisi pasien yang terkait dengan
perawatannya. PP dapat memberikan informasi yang akurat bagi tenaga kesehatan lain,
sehingga keputusan medis atau gizi misalnya akan membantu perkembangan pasien selama
dalam perawatan, agar PP melakukan komunikasi yang efektif dengan tim kesehatan lain
tersebut, maka haruslah disepakati waktu yang tepat untuk mengkomunikasikan pada tim
kesehatan yang lain, misalnya melalui ronde antar profesional.
Kondisi dimana dokter tidak berada di ruang perawatan dapat menyebabkan komunikasi
langsung sangat sulit dilakukan oleh karena itu komunikasi antar tim kesehatan dapat juga
terbina melalui dokumentasi keperawatan. Dokumentasi tersebut dibuat oleh PP tetapi
sebelumnya harus telah disepakati oleh semua tim kesehatan bahwa dokumentasi yang ada
juga dimanfaatkan secara efektif sebagai alat komunikasi.
Terciptanya komunikasi yang efektif dengan tim kesehatan dari profesi lain, seorang
PP harus memenuhi kepribadian yang baik serta keterampilan berkomunikasi, misalnya
memiliki sikap mampu menghargai orang lain, tidak terkesan memerintah atau menggurui
atau bahkan menyalahkan orang lain dalam hal ini tim kesehatan dari profesi lain,
merupakan kemampuan yang harus dimiliki PP. Melakukan komunikasi antar profesi ini PP
dituntut untuk selalu berpegang pada etika keperawatan.
Seorang PP harus melakukan tugas mengkordinasikan semua kegiatan yang terkait
dengan pengobatan dan perawatan pasien, misalnya dokter menjadwalkan pasien untuk di
rontgen dada dan di USG abdoment sekaligus pemeriksaan mata pada hari yang sama, maka
seorang PP harus mampu mengkoordinasikan semua kegiatan tersebut agar tidak melelahkan
dan membingungkan bagi pasien dan keluarganya. Misalnya dalam hal ini perawat dapat
menjadwal ulang semua kegiatan tadi.



7 Tantangan yang dihadapi dalam dinamika tim PP-PA dan tenaga kesehatan lainnya.
Tim PP-PA dapat dipandang sebagai suatu kelompok. Masalah atau tantangan yang dapat
dialami dalam membina kerjasama profesional dalam kelompok dan antar profesi. Tersebut
diantaranya adalah :
a PP tidak mampu ( tidak kompeten ) melakukan perannya, misalnya tidak mampu
membuat renpra, atau memberikan pendelegasian kepada PA yang tidak sesuai dengan
kemampuan PA tersebut.
b PA tidak mampu menjalankan perannya, misalnya PA tidak mampu melakukan
tindakan yang sesuai dengan tugas yang telah didelegasikan oleh PP.
c Sikap tenaga kesehatan lain yang kurang menghargai keberadaan profesi keperawatan.
d Adanya friksi diantara sesama PA.
Tantangan seperti disebutkan diatas dapat di pandang sebagai dinamika yang terjadi
dalam kelompok. Menghadapi tantangan tersebut seluruh pihak yang terkait dalam
komunikasi perawat pasien baik secara tidak langsung seperti CCM (Clinical Care Manajer)
, kepala ruangan, dan secara langsung PP dan PA sendiri harus melakukan evaluasi dan
mencari alternatif penyelesaiannya.
8 Peran dan Tangguna Jawab Perawat sesuai dengan Jabatannya
a Peran Kepala Ruangan ( KARU)
1) Sebelum melakukan sharing dan operan pagi KARU.melakukan ronde keperawatan
kepada pasien yang dirawat.
2) Memimpin sharing pagi.
3) Memimpin operan.
4) Memastikan pembagian tugas perawat yang telah di buat olek Katim dalam
pemberian asuhan keperawatan pada pagi hari.
5) Memastikan seluruh pelayanan pasien terpenuhi dengan baik, meliputi : pengisian
Askep, Visite Dokter (Advise), pemeriksaan penunjang (Hasil Lab), dll.
6) Memastikan ketersediaan fasilitas dan sarana sesuai dengan kebutuhan.
7) Mengelola dan menjelaskan komplain dan konflik yang terjadi di area tanggung
jawabnya.
8) Melaporkan kejadian luar biasa kepada manajer.
b Peran Ketua Tim ( KATIM )
Tugas Utama : Mengkoordinir pelaksanaan Askep sekelompok pasien oleh Tim
keperawatan di bawah koordinasinya.
1) Mengidentifikasi kebutuhan perawatan seluruh pasien oleh Tim keperawatan di
bawah koordinasinya pada saat Pre Croference
2) Mengidentifikasi seluruh PP membuat rencana asuhan keperawatan yang tepat untuk
pasiennya.
3) Memastikan setiap PA melaksanakan asuhan keperawatan sesuai dengan rencana
yang telah dibuat PP
4) Melaksanakan validasi tindakan keperawatan seluruh pasien di bawah koordinasinya
pada saat Post Conference.
c Penanggung Jawab Shift (PJ Shift)
Tugas Utama : menggantikan fungsi pengatur pada saat shift sore/malam dan hari libur.
1) Memimpin kegiatan operan shift sore-malam
2) Memastikan PP melaksanakna follow up pasien tanggung jawabnya
3) Memastikan seluruh PA Melaksanakan Asuhan Keperawatan sesuai dengan rencana
yang telah dibuat PP
4) Mengatasi permasalahan yang terjadi di ruang perawatan
5) Membuat laporan kejadian kepada pengatur ruangan.
d Perawat Pelaksana (PP) dan Perawat Asosiet (PA) :
Tugas Utama : Mengidentifikasi seluruh kebutuhan perawatan pasien yang menjadi
tanggung jawabnya, merencakan asuhan keperawatan, melaksanakan tindakan
keperawatan dan melakukan evaluasi (follow Up) perkembangan pasien.
1) Mengevaluasi tindakan keperawatan yang sudah dilaksanakan oleh Pa
2) Memastikan seluruh tindakan keperawatan sesuai dengan rencana.

Related Interests