1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Psoriasis adalah penyakit yang penyebabnya autoimun, bersifat kronik dan residif,
ditandai dengan adanya bercak-bercak eritema berbatas tegas dengan skuama yang kasar,
berlapis-lapis dan transparan

Dewasa ini kasus psoriasis makin sering dijumpai. Meskipun penyakit ini tidak
berbahaya tetapi menyebabkan gangguan kosmetik, mengingat bahwa perjalanannya
menahun dan residif. Insidens pada orang kulit putih lebih tinggi daripada penduduk kulit
berwarna. Di Eropa dilaporkan sebanyak 3-7%, di Amerika Serikat 1-2%, sedangkan di
Jepang 0,6%. Pada bangsa berkulit hitam, misalnya di Afrika, jarang dilaporkan,
demikian pula bangsa Indian di Amerika. Insidens pada pria agak lebih banyak daripada
wanita, psoriasis terdapat pada semua usia tetapi umumnya pada orang dewasa

Penyebab psoriasis masih belum diketahui, namun terdapat beberapa faktor resiko
timbulnya psoriasis seperti faktor genetik dan faktor imunologi. Berbagai faktor pencetus
pada psoriasis diantaranya stress psikis, infeksi fokal, endokrin, gangguan metabolik,
obat, alkohol dan merokok.

1.2 RUMUSAN MASALAH
Menjelaskan tentang definisi, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, diagnosis,
serta penatalaksanaan dari Psoriasis
1.3 TUJUAN
Diharapkan agar mahasiswa/mahasiswi Kedokteran khususnya Kedokteran
Universitas Islam Al-Azhar mengetahui dan memahami Task Reading ini yang berjudul
“Psoriasis”.






2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Anatomi Fisiologi Kulit


Kulit merupakan pelindung tubuh beragam luas dan tebalnya. Luas kulit orang dewasa
adalah satu setengah sampai dua meter persegi. Tebalnya antara 1,5 – 5 mm, bergantung pada
letak kulit, umur, jenis kelamin, suhu, dan keadaan gizi. Kulit paling tipis pada kelopak mata,
penis, labium minor dan bagian medial lengan atas, sedangkan kulit tebal terdapat di telapak
tangan dan kaki, punggung, bahu, dan bokong.
Selain sebagai pelindung terhadap cedera fisik, kekeringan, zat kimia, kuman
penyakit, dan radiasi, kulit juga berfungsi sebagai pengindra, pengatur suhu tubuh, dan ikut
mengatur peredaran darah. Pengaturan suhu dimungkinkan oleh adanya jaringan kapiler yang
luas di dermis (vasodilatasi dan vasokonstriksi), serta adanya lemak subkutan dan kelenjar

3
keringat. Keringat yang menguap di kulit akan melepaskan panas tubuh yang dibawah ke
permukaan oleh kapiler. Berkeringat ini juga menyebabkan tubuh kehilangan air (insesible
water loss), yang dapat mencapai beberapa liter sehari. Faal perasa dan peraba dijalankan
oleh ujung saraf sensoris Vater Paccini, Meissner, Krause, Ruffini yang terdapat di dermis.
2.1.1 Bagian-bagian Kulit
Kulit terbagi atas tiga lapisan pokok, yaitu epidermis, dermis atau korium, dan
jaringan subkutan atau subkutis.
a) Epidermis
Epidermis terbagi atas lima lapisan.
1. Lapisan tanduk atau stratum korneum yaitu lapisan kulit yang paling luar yang terdiri
dari beberapa lapis sel gepeng yang mati, tidak berinti dan protoplasmanya telah
berubah menjadi keratin (zat tanduk).
2. Stratum Lusidum yaitu lapisan sel gepeng tanpa inti dengan protoplasma berubah
menjadi eleidin (protein). Tampak jelas pada telapak tangan dan kaki.
3. Lapisan granular atau stratum granulosum yaitu 2 atau 3 lapisan sel gepeng dengan
sitoplasma berbutir kasar dan terdapat inti di antaranya. Mukosa biasanya tidak
memiliki lapisan ini. Tampak jelas pada telapak tangan dan kaki.
4. Lapisan malpighi atau stratum spinosum. Nama lainnya adalah pickle cell layer
(lapisan akanta). Terdiri dari beberapa lapis sel berbentuk poligonal dengan besar
berbeda-beda karena adanya proses mitosis. Protoplasma jernih karena mengandung
banyak glikogen dan inti terletak ditengah-tengah. Makin dekat letaknya ke
permukaan bentuk sel semakin gepeng. Diantara sel terdapat jembatan antar sel
(intercellular bridges) terdiri dari protoplasma dan tonofibril atau keratin. Penebalan
antar jembatan membentuk penebalan bulat kecil disebut nodus bizzozero. Diantara
sel juga terdapat sel langerhans.
5. Lapisan basal atau stratum germinativium. Terdiri dari sel berbentuk kubus tersusun
vertikal pada perbatasan dermo-epidermal, berbaris seperti pagar
(palisade),mengadakan mitosis dari berbagai fungsi reproduktif dan terdiri dari :
1. Sel berbentuk kolumnar dengan protoplasma basofilik inti lonjong dan besar,
dihubungkan satu dengan yang lain dengan jembatan antar sel.

4
2. Sel pembentuk melanin (melanosit) atau clear cell merupakan sel berwarna
muda dengan sitoplasma basofilik dan inti gelap dan mengandung butiran
pigmen (melanosomes).
Epidermis mengandung juga : Kelenjar ekrin, kelenjar apokrin, kelenjar
sebaseus, rambut dan kuku. Kelenjar keringat ada dua jenis, ekrin dan apokrin.
Fungsinya mengatur suhu, menyebabkan panas dilepaskan dengan cara penguapan.
Kelanjar ekrin terdapat disemua daerah kulit, tetapi tidak terdapat diselaput lendir.
Seluruhnya berjumlah antara 2 sampai 5 juta yang terbanyak ditelapak tangan. Sekretnya
cairan jernih kira-kira 99 persen mengandung klorida,asam laktat,nitrogen dan zat lain.
Kelenjar apokrin adalah kelenjar keringat besar yang bermuara ke folikel rambut,
terdapat di ketiak, daerah anogenital, papilla mamma dan areola. Kelenjar sebaseus
terdapat di seluruh tubuh, kecuali di manus, plantar pedis, dan dorsum pedis. Terdapat
banyak di kulit kepala, muka, kening, dan dagu. Sekretnya berupa sebum dan
mengandung asam lemak, kolesterol dan zat lain.
b) Dermis
Dermis atau korium merupakan lapisan bawah epidermis dan diatas jaringan
subkutan. Dermis terdiri dari jaringan ikat yang dilapisan atas terjalin rapat (pars
papillaris), sedangkan dibagian bawah terjalin lebih lebih longgar (pars reticularis).
Lapisan pars retucularis mengandung pembuluh darah, saraf, rambut, kelenjar keringat
dan kelenjar sebaseus.
c) Jaringan Subkutan (Subkutis atau Hipodermis)
Jaringan subkutan merupakan lapisan yang langsung dibawah dermis. Batas antara
jaringan subkutan dan dermis tidak tegas. Sel-sel yang tyerbanyak adalah liposit yang
menghasilkan banyak lemak. Jaringan subkutan mengandung saraf, pembuluh darah dan
limfe, kandungan rambut dan di lapisan atas jaringan subkutan terdapat kelenjar
keringan. Fungsi dari jaringan subkutan adalah penyekat panas, bantalan terhadap
trauma dan tempat penumpukan energi.



5
2.1.2 Kelenjar-kelenjar kulit
a) Kelenjar Sebasae
Berfungsi mengontrol sekresi minyak ke dalam ruang folikel rambut dan batang
rambut yang akan melumasi rambut sehingga menjadi haluslentur dan lunak.
b) Kelenjar Keringat
Diklasifikasikan menjadi 2 kategori :
 Kelenjar Ekrin terdapat disemua kulit
Melepaskan keringan sebagai peningkatan suhu lingkungan dan suhu tubuh.
Kecepatan sekresi dikndalikan oleh saraf simpatik. Pengeluaran keringat pada tangan,
kaki, aksila, dahi, sebagai reaksi tubuh terhadap stress, nyeri, dll.
 Kelenjar Apokrin
Tedapat di aksila, anus, skrotum, labia mayora dan uara pada folikel rambut. Kelenjar
ininaktif pada masa pubertas, pada wanita akan memberpesar dan berkurang pada
siklus haid. Kelenjar apokrin memproduksi keringat yang akan keruh seperti susu
yang akan diuraikan oleh bakteri menghasilkan bau khas pada aksila. Pada telinga
bagian luar terdapat kelenjar apokrin khusus yang disebut kelenjar seruminosa yang
menghasilkan serumen
2.1.3 Pembuluh darah dan saraf
Pembuluh darah kulit terdiri 2 anyaman pembuluh darah nadi yaitu ;
 Anyaman pembuluh nadi kulit atas atau luar.
Anyaman ini terdapat antara stratum papilaris dan stratum retikularis, dari anyaman
ini berjalan arteriole pada tiap – tiap papilla kori.
 Anyaman pembuluh darah nadi kulit bawah atau dalam.
Anyaman ini terdapat antara korium dan subkutis, anyaman ini memberikan cabang –
cabang pembuluh nadi ke alat – alat tambahan yang terdapat di korium.
Dalam hal ini percabangan juga juga membentuk anyaman pembuluh nadi yang terdapat
pada lapisan subkutis. Cabang – cabang ini kemudian akan menjadi pembuluh darah baik
balik/vena yang juga akan membentuk anyaman, yaitu anyaman pembuluh darah balik yang
ke dalam. Peredaran darah dalam kulit adalah penting sekali oleh karena di perkirakan 1/5
dari darah yang beredar melalui kulit.
Disamping itu pembuluh darah pada kulit sangat cepat menyempit/melebar oleh
pengaruh atau rangsangan panas, dingin, tekanan sakit, nyeri, dan emosi, penyempitan dan
pelebaran ini terjadi secra refleks.

6
Kulit juga seperti organ lain terdapat cabang – cabang saraf apinal dan permukaan
yang terdiri dari saraf – saraf motorik dan saraf sensorik. Ujung saraf motorik berguna untuk
menggerakkan sel – sel otot yang terdapat pada kulit, sedangkan saraf sensorik berguna untuk
menerima rangsangan yang terdapat dari luar atau kulit.
Pada kulit ujung – ujung saraf sensorik ini membentuk bermacam – macam kegiatan
untuk menerima rangsangan. Ujung – ujung saraf yang bebas untuk menerima rangsangan
sakit/nyeri banyak terdapat di epidermis, disini ujung – ujung sarafnya mempunyai bentuk
yang khas yang sudah merupakan suatu organ.

2.1.4 Fisiologi kulit
Kulit mempunyai berbagai fungsi yaitu sebagai berikut :
1. Pelindung atau proteksi
Epidermis terutama lapisan tanduk berguna untuk menutupi jaringan- jaringan
tubuh di sebelah dalam dan melindungi tubuh dari pengaruh- pengaruh luar seperti
luka dan serangan kuman. Lapisan paling luar dari kulit ari diselubungi dengan
lapisan tipis lemak, yang menjadikan kulit tahan air. Kulit dapat menahan suhu tubuh,
menahan luka-luka kecil, mencegah zat kimia dan bakteri masuk ke dalam tubuh
serta menghalau rangsang-rangsang fisik seperti sinar ultraviolet dari matahari
2. Penerima rangsang
Kulit sangat peka terhadap berbagai rangsang sensorik yang
berhubungan dengan sakit, suhu panas atau dingin, tekanan, rabaan, dan getaran.
Kulit sebagai alat perasa dirasakan melalui ujung-ujung saraf sensasi.
3. Pengatur panas atau thermoregulasi
Kulit mengatur suhu tubuh melalui dilatasi dan konstruksi pembuluh
kapiler serta melalui respirasi yang keduanya dipengaruhi saraf otonom.
Tubuh yang sehat memiliki suhu tetap kira-kira 98,6 derajat Farenheit atau sekitar
36,5
0
C. Ketika terjadi perubahan pada suhu luar, darah dan kelenjar keringat
kulit mengadakan penyesuaian seperlunya dalam fungsinya masing-masing.
Pengatur panas adalah salah satu fungsi kulit sebagai organ antara tubuh dan
lingkungan. Panas akan hilang dengan penguapan keringat.
4. Pengeluaran (ekskresi)
Kulit mengeluarkan zat-zat tertentu yaitu keringat dari kelenjar-kelenjar
keringat yang dikeluarkan melalui pori-pori keringat dengan membawa garam,
yodium dan zat kimia lainnya. Air yang dikeluarkan melalui kulit tidak saja disalurkan

7
melalui keringat tetapi juga melalui penguapan air transepidermis sebagai
pembentukan keringat yang tidak disadari.
5. Penyimpanan.
Kulit dapat menyimpan lemak di dalam kelenjar lemak.
6. Penyerapan terbatas
Kulit dapat menyerap zat-zat tertentu, terutama zat-zat yang larut dalam
lemak dapat diserap ke dalam kulit. Hormon yang terdapat pada krim muka
dapat masuk melalui kulit dan mempengaruhi lapisan kulit pada tingkatan yang
sangat tipis. Penyerapan terjadi melalui muara kandung rambut dan masuk ke
dalam saluran kelenjar palit, merembes melalui dinding pembuluh darah ke dalam
peredaran darah kemudian ke berbagai organ tubuh lainnya.
7. Penunjang penampilan
Fungsi yang terkait dengan kecantikan yaitu keadaan kulit yang
tampak halus, putih dan bersih akan dapat menunjang penampilan Fungsi lain dari
kulit yaitu kulit dapat mengekspresikan emosi seseorang seperti kulit memerah, pucat
maupun konstraksi otot penegak rambut.

2.2 PSORIASIS





8
2.2.1 Definisi
Psoriasis ialah sejenis penyakit kulit yang penderita nya mengalami proses pergantian
kulit yang terlalu cepat. Kemunculan penyakit ini terkadang untuk jangka waktu lama atau
timbul/hilang, penyakit ini secara klinis sifatnya tidak mengancam jiwa, tidak menular tetapi
karena timbulnya dapat terjadi pada bagian tubuh mana saja sehingga dapat menurunkan
kualitas hidup serta menggangu kekuatkan mental seseorang bila tidak dirawat dengan baik.
Psoriasi adalah suatu penyakit peradangan kronis pada kulit dimana penderitanya
mengalami proses pergantian kulit yang terlalu cepat. Penyakit ini secara klinis sifatnya tidak
mengancam jiwa dan tidak menular tetapi karena timbulnya dapat terjadi pada bagian tubuh
mana saja sehingga dapat menurunkan kualitas hidup seseorang bila tidak dirawat dengan
baik. (Effendy, 2005)
Psoriasis penyakit kulit kronik residif dengan lesi yang khas berupa bercak-bercak
eritema berbatas tegas di tutupi oleh skuama tebal berlapis-lapis berwarna putih mengkilat.
(Siregar, 2005).
Berbeda dengan pergantian kulit pada manusia normal yang biasanya berlangsung
selama tiga sampai empat minggu, proses pergantian kulit pada penderita psoriasis
berlangsung secara cepat yaitu sekitar 2–4 hari, (bahkan bisa terjadi lebih cepat) pergantian
sel kulit yang banyak dan menebal.
2.2.2 Penyebab
Penyebab psoriasis sampai saat ini belum diketahui. Diduga penyakit ini
diwariskan secara poligenik. Walaupun sebagian besar penderita psoriasis timbul
secara spontan, namun pada beberapa penderita dijumpai adanya faktor pencetus
antara lain:
 Trauma
Psoriasis pertama kali timbul pada tempat-tempat yang terkena trauma, garukan, luka
bekas operasi, bekas vaksinasi, dan sebagainya. Kemungkinan hal ini merupakan
mekanisme fenomena Koebner. Khas pada psoriasis timbul setelah 7-14 hari
terjadinya trauma.
 Infeksi

9
Pada anak-anak terutama infeksi Streptokokus hemolitikus sering menyebabkan
psoriasis gutata. Psoriasis juga timbul setelah infeksi kuman lain dan infeksi virus
tertentu, namun menghilang setelah infeksinya sembuh.
 Iklim
Beberapa kasus cenderung menyembuh pada musim panas, sedangkan pada musim
penghujan akan kambuh.
 Faktor endokrin
Insiden tertinggi pada masa pubertas dan menopause. Psoriasis cenderung membaik
selama kehamilan dan kambuh serta resisten terhadap pengobatan setelah melahirkan.
Kadang-kadang psoriasis pustulosa generalisata timbul pada waktu hamil dan setelah
pengobatan progesteron dosis tinggi.
 Sinar matahari
Walaupun umumnya sinar matahari bermanfaat bagi penderita psoriasis namun pada
beberapa penderita sinar matahari yang kuat dapat merangsang timbulnya psoriasis.
Pengobatan fotokimia mempunyai efek yang serupa pada beberapa penderita
 Metabolik
Hipokalsemia dapat menimbulkan psoriasis.
 Obat-obatan
 Antimalaria seperti mepakrin dan klorokuin kadang-kadang dapat memperberat
psoriasis, bahkan dapat menyebabkan eritrodermia.
 Pengobatan dengan kortikosteroid topikal atau sistemik dosis tinggi dapat
menimbulkan efek “withdrawal”.
 Lithium yang dipakai pada pengobatan penderita mania dan depresi telah diakui
sebagai pencetus psoriasis.
 Alkohol dalam jumlah besar diduga dapat memperburuk psoriasis.
 Hipersensitivitas terhadap nistatin, yodium, salisilat dan progesteron dapat
menimbulkan psoriasis pustulosa generalisata.
 Berdasarkan penelitian para dokter, ada beberapa hal yang diperkirakan dapat memicu
timbulnya Psoriasis, antara lain adalah :
 Garukan/gesekan dan tekanan yang berulang-ulang , misalnya pada saat gatal
digaruk terlalu kuat atau penekanan anggota tubuh terlalu sering pada saat
beraktivitas. Bila Psoriasis sudah muncul dan kemudian digaruk/dikorek, maka
akan mengakibatkan kulit bertambah tebal.

10
 Obat telan tertentu antara lain obat anti hipertensi dan antibiotik.
 Mengoleskan obat terlalu keras bagi kulit.
 Emosi tak terkendali.
 Makanan berkalori sangat tinggi sehingga badan terasa panas dan kulit menjadi
merah , misalnya mengandung alcohol.

2.2.3 Patofisiologi
Psoriasis merupakan penyakit kronik yang dapat terjadi pada setiap usia.
Perjalanan alamiah penyakit ini sangat berfluktuasi. Pada psoriasis ditunjukan adanya
penebalan epidermis dan stratum korneum dan pelebaran pembuluh-pembuluh darah
dermis bagian atas. Jumlah sel-sel basal yang bermitosis jelas meningkat. Sel-sel yang
membelah dengan cepat itu bergerak dengan cepat ke bagian permukaan epidermis
yang menebal. Proliferasi dan migrasi sel-sel epidermis yang cepat ini menyebabkan
epidermis menjadi tebal dan diliputi keratin yang tebal (sisik yang berwarna seperti
perak).
Peningkatan kecepatan mitosis sel-sel epidermis ini agaknya antara lain
disebabkan oleh kadar nukleotida siklik yang abnormal, terutama adenosin
monofosfat (AMP) siklik dan guanosin monofosfat (GMP) siklik. Prostaglandin dan
poliamin juga abnormal pada penyakit ini. Peranan setiap kelainan tersebut dalam
mempengaruhi plak psoriatik belum dapat dimengerti secara jelas.

Psoriasis merupakan proses inflamasi yang terjadi akibat kelainan sistem
imun, hal ini dipengaruhi oleh faktor genetic dan faktor lingkungan. Diketahui bahwa
terjadi akumulasi sel CD4+ TH1 dan CD8+ T di lapisan epidermis. Sel T yang ada
dilapisan kulit mensekresi sitokin dan growth factor yang menginduksi
hiperproliferasi keratinosit yang menyebabkan timbulnya lesi. Lesi yang timbul akibat
trauma, prosesnya dikenal sebagai Koebner phenomenon.

2.2.4 Gejala klinis
Lesi muncul sebagai bercak-bercak merah menonjol pada kulit yang ditutupi
oleh sisik berwarna perak. Bercak-bercak bersisik tersebut terbentuk karena
penumpukan kulit yang hidup dan mati akibat peningkatan kecepatan pertumbuhan
serta pergantian sel-sel kulit yang sangat besar. Jika sisik tersebut dikerok, maka

11
terlihat dasar lesi yang berwarna merah gelap dengan titik-titik perdarahan. Bercak-
bercak ini tidak basah dan bisa terasa gatal atau tidak gatal.
Psoriasis ditandai dengan hiperkeratosis dan penebalan epidermis kulit serta
proses radang, sehingga timbul skuamasi (pengelupasan) dan indurasi eritematosa
(kulit meradang dan kemerahan). Menyerang kulit, kuku, mukosa dan sendi, tetapi
tidak pada rambut. Pada umumnya tidak membehayakan jiwa, kecuali yang
mengalami komplikasi, namun penyakit ini sangat mengganggu kualitas hidup.
Kulit penderita psoriasis awalnya tampak seperti bintik merah yang makin
melebar dan ditumbuhi sisik lebar putih berlapis-lapis. Tumbuhnya tidak selalu
diseluruh bagian kulit tubuh kadang-kadang hanya timbul pada tempat-tempat tertentu
saja, karena pergiliran sel-sel kulit bagian lainnya berjalan normal. Psoriasis pada kulit
kepala dapat menyerupai ketombe, sedangkan pada lempeng kuku tampak lubang-
lubang kecil rapuh atau keruh.
Penyakit psoriasis dapat disertai dengan / tanpa rasa gatal. Kulit dapat
membaik seperti kulit normal lainnya setelah warna kemerahan, putih atau kehitaman
bekas psoriasis. Pada beberapa jenis psoriasis, komplikasi yang diakibatkan dapat
menjadi serius, seperti pada psoriasis artropi yaitu psoriasis yang menyerang sendi,
psoriasis bernanah (psoriasis postulosa) dan terakhir seluruh kulit akan menjadi merah
disertai badan menggigil (eritoderma).
 Gejala dari psoriasis antara lain:
 Mengeluh gatal ringan
 Bercak-bercak eritema yang meninggi, skuama diatasnya.
 Terdapat fenomena tetesan lilin
 Menyebabkan kelainan kuku










12
2.2.5 Klasifikasi

1. Eritrodermis Psoriasis
Tipe psoriasis ini sangat berbahaya, seluruh kulit penderita
menjadi merah matang dan bersisik, fungsi perlindungan kulit hilang, sehingga penderita
mudah terkena infeksi.



2. Psoriatik Arthritis
Timbul dengan peradangan sendi, sehingga sendi terasa
nyeri, membengkak dan kaku, sama persis seperti gejala rematik. Pada tahap ini,
penderita harus segera ditolong agar sendi-sendinya tidak sampai terjadi kropos






13
3. Psoriasis Guttate
Psoriasis Guttate (GUH-tate) adalah salah satu bentuk dari
psoriasis yang mulai timbul sejak waktu anak-anak atau remaja. kata guttate berasal dari
bahasa Latin yang berarti “jatuh”.(drop). Bentuk psoriasis ini menyerupai bintik-bintik
merah kecil di kulit. bercak (lesions) guttate biasanya timbul pada badan dan kaki.
Bintik-bintik ini biasanya tidak setebal atau bersisik seperti bercak-bercak (lesions) pada
psoriasis plak

4. Psoriasis Inverse
Inverse psoriasis ditemukan pada ketiak,
pangkal paha, dibawah payudara, dan di lipatan-lipatan kulit di sekitar kemaluan dan
panggul Tipe psoriasis ini pertama kali tampak sebagai bercak (lesions) yang sangat
merah dan biasanya lack the scale associated dengan psoriasis plak. Bercak itu bisa
tampak licin dan bersinar. Psoriasis Inverse sangat (particularly irritating) menganggu
karena iritasi yang disebabkan gosokan/garukan dan keringat karena lokasinya di
lipatan-lipatan kulit dan daerah sensitif tender). terutama sangat mengganggu bagi
penderita yang gemuk dan yang mempunyai lipatan kulit yang dalam.




14
5. Psoriasis Kuku
menyerang dan merusak kuku dibagian bawah kuku tumbuh
banyak sisik seperti serbuk, jenis ini termasuk yang sulit/bandel untuk disembuhkan bagi
penderita.

6. Psoriasis Plak
Hampir 80% dari penderita psoriasis adalah tipe
Psoriasis plak yang secara ilmiah sisebut juga psoriasis vulgaris (yang berarti umum).
Tipe plak ini bersifat meradang pada kulit menimbulkan bercah merah yang dilapisi
dengan kulit yang tumbuh berwarna keperakan yang umum nya akan terlihat pada
sekitar alis,lutut, kepala (seperti ketombe), siku juga bagian belakang tubuh sekitar
panggul serta akan meluas kebagian-bagian kulit lainnya.

7. Psoriasis Pustular
Kasus Psoriasis Pustular (PUHS-choo-ler) terutama
banyak ditemui pada orang dewasa. Karakteristik dari penderita PUHS-choo-ler ini

15
adalah timbulnya Pustules putih (blisters of noninfectious pus) yang dikelilingi oleh kulit
merah. Pus ini meliputi kumpulan dari sel darah putih yang bukan merupakan suatu
infeksi dan juga tidak menular. Bentuk psioriasis yang pada umumnya tidak biasa ini
mempengaruhi lebih sedikit dari 5 % dari seluruh penderita psoriasis. Psoriasis ini, bisa
terkumpul dalam daerah tertentu pada tubuh, contohnya, pada tangan dan kaki. Psoriasis
Pustular juga dapat ditemukan menutupi hampir seluruh tubuh, dengan kecenderungan
membentuk suatu siklus - reddening (membuat kulit merah??) yang diikuti oleh
pembentukan pustules dan scaling.

8. Psoriasis Scalp
Psoriasis tipe ini tampak pada batas rambut, kepala
(seperti ketombe), kening, sekitar leher juga dibelakang telinga, berupa seperti sisik kulit
atau serbuk

2.2.6 Diagnosis
Diagnosis dilakukan dengan :
 Melakukan anamnesa dan pemeriksaan fisik : pemeriksaan yang dilakukan meliputi
seluruh daerah kulit terutama kepala serta kuku. Dilakukan juga pemeriksaan auspitz
sign dengan melihat timbulnya bercak darah yang ada dibawah lesi, yang merupakan
khas dari psoriasis.
 Biopsi, walaupun jarang dilakukan.
Dahulu penyakit psoriasis hanya dianggap sebagai kelainan kulit yang tidak dapat
disembuhkan, tetapi sekarang ini psoriasis merupakan penyakit inflamasi kulit yang
bersifat kronis dan residif sekaligus dapat merusak organ dalam, bahkan penyakit ini
memiliki resiko tinggi terjadinya komplikasi terhadap penyakit koroner dan penyakit
metabolik lain yang dapat berakibat kematian.


16
2.2.7 Penatalaksanaan
Tujuan penatalaksanaan adalah untuk memperlambat pergantian epidermis,
meningkatkan resolusi lesi psoriatik dan mengendalikan penyakit tersebut. Pendekatan
terapeutik harus berupa pendekatan yang dapat dipahami oleh pasien, pendekatan ini
harus bisa diterima secara kosmetik dan tidak mempengaruhi cara hidup pasien.
Terapi psoriasis akan melibatkan komitmen waktu dan upaya oleh pasien dan
mungkin pula keluarganya.

 Ada tiga terapi yang standar: topikal, intralesi dan sistemik.
1) Terapi topikal
Preparat yang dioleskan secara topikal digunakan untuk melambatkan aktivitas
epidermis yang berlebihan tanpa mempengaruhi jaringan lainnya. Obat-obatannya
mencakup preparat ter, anthralin, asam salisilat dan kortikosteroid. Terapi dengan
preparat ini cenderung mensupresi epidermopoisis (pembentukan sel-sel epidermis).
 Formulasi ter
mencakup losion, salep, pasta, krim dan sampo. Rendaman ter dapat
menimbulkan retardasi dan inhibisi terhadap pertumbuhan jaringan psoriatik yang
cepat. Terapi ter dapat dikombinasikan dengan sinar ultraviolet-B yang dosisnya
ditentukan secara cermat sehingga menghasilkan radiasi dengan panjang gelombang
antara 280 dan 320 nanometer (nm). Selama fase terapi ini pasien dianjurkan untuk
menggunakan kacamata pelindung dan melindungi matanya. Pemakaian sampo ter
setiap hari yang diikuti dengan pengolesan losion steroid dapat digunakan untuk lesi
kulit kepala. Pasien juga diajarkan untuk menghilangkan sisik yang berlebihan dengan
menggosoknya memakai sikat lunak pada waktu amndi.
 Anthralin
adalah preparat (Anthra-Derm, Dritho-Crème, Lasan) yang berguna untuk
mengatasi plak psoriatik yang tebal yang resisten terhadap preparat kortikosteroid atau
preparat ter lainnya.
 Kortikosteroid
topikal dapat dioleskan untuk memberikan efek antiinflamasi. Setelah obat ini
dioleskan, bagian kulit yang diobati ditutup dengan kasa lembaran plastik oklusif
untuk menggalakkan penetrasi obat dan melunakkan plak yang bersisik.


17
2) Terapi intralesi
 Penyuntikan triamsinolon asetonida intralesi
(Aristocort, Kenalog-10, Trymex) dapat dilakukan langsung kedalam berck-
bercak psoriasis yang terlihat nyata atau yang terisolasi dan resisten terhadap bentuk
terapi lainnya. Kita harus hati-hati agar kulit yang normal tidak disuntuik dengan obat
ini.

3) Terapi sistemik
 Metotreksat
bekerja dengan cara menghambat sintesis DNA dalam sel epidermis sehingga
mengurangi waktu pergantian epidermis yang psoriatik. Walaupun begitu, obat ini
bisa sangat toksik, khususnya bagi hepar yang dapat mengalamim kerusakan yang
irreversible. Jadi, pemantauan melalui pemeriksaan laboratorium harus dilakukan
untuk memastikan bahwa sistem hepatik, hematopoitik dan renal pasien masih
berfungsi secara adekuat. Pasien tidak boleh minum minuman alkohol selama
menjalani pengobatan dengan metotreksat karena preparat ini akan memperbesar
kemungkinan kerusakn hepar. Metotreksat bersifat teratogenik (menimbulkan cacat
fisik janin) pada wanita hamil.
 Hidroksiurea
menghambat replikasi sel dengan mempengaruhi sintesis DNA. Monitoring
pasien dilakukan untuk memantau tanda-tanda dan gejal depresi sumsum tulang.
 Siklosporin A
suatu peptida siklik yang dipakai untuk mencegah rejeksi organ yang
dicangkokkan, menunjukkan beberapa keberhasilan dalam pengobatan kasus-kasus
psoriasis yang berat dan resisten terhadap terapi. Kendati demikian, penggunaannya
amat terbatas mengingat efek samping hipertensi dan nefroktoksisitas yang
ditimbulkan

 Retinoid oral
(derivat sintetik vitamin A dan metabolitnya, asam vitamin A) akan
memodulasi pertumbuhan serta diferensiasi jaringan epiterial, dan dengan demikian
pemakaian preparat ini memberikan harapan yang besar dalam pengobatan pasien
psoriasis yang berat.


18
 Fotokemoterapi.
Terapi psoriasis yang sangat mempengaruhi keadaan umum pasien adalah
psoralen dan sinar ultraviolet A (PUVA). Terapi PUVA meliputi pemberian preparat
fotosensitisasi (biasanya 8-metoksipsoralen) dalam dosis standar yang kemudian
diikuti dengan pajanan sinar ultraviolet gelombang panjang setelah kadar obat dalam
plasma mencapai puncaknya. Meskipun mekanisme kerjanya tidak dimengerti
sepenuhnya, namun diperkirakan ketika kulit yang sudah diobati dengan psoralen itu
terpajan sinar ultraviolet A, maka psoralen akan berkaitan dengan DNA dan
menurunkan proliferasi sel. PUVA bukan terapi tanpa bahaya; terapi ini disertai
dengan resiko jangka panjang terjadinya kanker kulit, katarak dan penuaan prematur
kulit.
 Terapi PUVA
mensyaratkan agar psoralen diberikan peroral dan setelah 2 jam kemudian
diikuti oleh irradiasi sinar ultraviolet gelombang panjang denagn intensitas tinggi.
(sinar ultraviolet merupakan bagian dari spektrum elektromagnetik yang mengandung
panjang gelombang yang berkisar dari 180 hingga 400 nm).
 Terapi sinar ultraviolet B (UVB)
Juga digunakan untuk mengatasi plak yang menyeluruh. Terapi ini
dikombinasikan dengan terapi topikal ter batubara (terapi goeckerman). Efek
sampingnya serupa dengan efek samping pada terapi PUVA.
 Etretinate (Tergison)
adalah Obat yang relatif baru (1986). Ia adalah derivat dari Vitamin A. Bisa
diminum sendiri atau dikombinasi dengan sinar ultraviolet. Hal ini dilakukan pada
penderita yang sudah bandel dengan obat obat lainnya yang terdahulu.

Di antara pengobatan tersebut diatas, yang paling efektif untuk mengobati
psoriasis adalah dengan ultraviolet (fototerapi), karena dengan fototerapi penyakit
psoriasis dapat lebih cepat mengalami “clearing” atau “almost clearing” (keadaan
dimana kelainan / gejala psoriasis hilang atau hampir hilang). Keadaan ini disebut
“remisi”. Masa remisi fototerapi tersebut bisa bertahan lebih lama dibandingkan
dengan pengobatan lainnya.
Pengobatan fotokemoterapi, yaitu dengan menggunakan kombinasi radiasi
ultraviolet dan oral psoralen (PUVA), namun kelemahannya adalah untuk jangka
panjang dapat menimbulkan kanker kulit.

19
Fototerapi UVB konvensional dengan menggunakan sinar UVB broadband
dengan panjang gelombang 290-320 nm. Terapi kurang praktis karana pasien harus
masuk ke dalam light box.
Fototerapi dengan alat Monochromatic Excimer Light 308 nm (MEL 308 nm)
merupakan bentuk fototerapi UVB yang paling mutakhir dengan menggunakan sinar
laser narrowband UVB dengan panjang gelombang 308 nm. Dibandingkan dengan
narrowband UVB, MEL 308 nm lebih cepat dan lebih efektif dalam mengobati
psoriasis yang resisten.
Beberapa tips untuk penderita psoriasis :
 Jaga kulit agar tetap berminyak. Minyak, cream, dan petroleum jelly adalah
moisturizer yang baik. Gunakan pelembab bila udara terasa panas.
 Penyinaran dengan sinar matahari akan menghilangkan psoriasis pada beberapa
orang, namun kulit terlebih dulu diolesi dengan minyak dan dilakukan lubrikasi.
 Mandi dengan air panas akan mengurangi sisik yang timbul. Penggunaan moisturizer
segera setelah mandi akan berguna. Meminimalisasi kontak dengan sabun dan bahan
kimia. Gunakan sabun yang sangat lembut, sabun moisturizing, atau sabun yang bebas
pembersih.
 Lindungi kulit dari cidera, sebab cidera dapat memperparah plaque yang timbul.


2.2.8 Komplikasi

2.2.9 Prognosis
Psoriasis adalah kondisi seumur hidup. Saat ini tidak ada obatnya tetapi
berbagai perawatan, dapat membantu untuk mengontrol gejala. Banyak agen yang
paling efektif digunakan untuk mengobati psoriasis berat membawa peningkatan
risiko morbiditas yang signifikan termasuk kanker kulit, limfoma dan penyakit hati.
Namun, sebagian dari pengalaman orang tentang psoriasis adalah bahwa dari patch
lokal kecil, terutama di siku dan lutut, yang dapat diobati dengan obat topikal.
Psoriasis bisa menjadi lebih buruk dari waktu ke waktu tetapi tidak mungkin
untuk memprediksi siapa yang akan terus mengembangkan psoriasis yang luas atau
mereka penyakit yang mungkin muncul menghilang. Individu akan sering mengalami
flare dan remisi sepanjang hidup mereka. Mengontrol tanda dan gejala biasanya

20
membutuhkan terapi seumur hidup. Menurut satu penelitian, psoriasis dikaitkan
dengan 2,5 kali lipat peningkatan risiko untuk kulit melanoma kanker non pada pria
dan wanita, dengan tidak dominan dari setiap subtipe histologis kanker tertentu.
Risiko ini meningkat juga bisa dihubungkan dengan pengobatan antipsoriatic.


























BAB III
KESIMPULAN


21
Jadi psoriasis penyakit yang penyebabnya autoimun, bersifat kronik dan residif,
ditandai dengan adanya bercak-bercak eritema berbatas tegas dengan skuama yang kasar,
berlapis-lapis dan transparan. Penyebab psoriasis masih belum diketahui, namun terdapat
beberapa faktor resiko timbulnya psoriasis seperti faktor genetik dan faktor imunologi.
Berbagai faktor pencetus pada psoriasis diantaranya stress psikis, infeksi fokal, endokrin,
gangguan metabolik, obat
























DAFTAR PUSTAKA


22
Djuanda, Adhi. Psoriasis. Dalam : Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, edisi 5. Jakarta : Balai
Penerbit FKUI. 2007 : 189-195.
Effendy, B. 2005. Kualitas dan harapan hidup penderita psoriasis dapat ditingkatkan dengan
terapi dini dan tepat.
http://brazosportinfo.com/psoriasis/about-psoriasis.html
http://www.psoriasisindonesia.org
Kapita Selekta Kedokteran, edisi III, jilid 2. Jakarta : Media Aesculapius FKUI. 2000 : 116-
120.
Siregar, R. 2005. Saripati penyakit kulit edisi 2. Jakarta : Buku Kedokteran EGC