1

GANGGUAN AFEKTIF BIPOLAR
PENDAHULUAN
Gangguan bipolar dikenal juga dengan gangguan manik depresi, yaitu
gangguan pada fungsi otak yang menyebabkan perubahan yang tidak biasa pada
suasana perasaan, dan proses berfikir. Disebut bipolar karena penyakit kejiwaan
ini didominasi adanya fluktuasi periodik dua kutub, yakni kondisi manik
(bergairah tinggi yang tidak terkendali) dan depresi.
1
Depresi bipolar sama pada kelompok pria dan wanita dengan angka kejadian
sekitar 5 per 1000 orang. Penderita depresi bipolar dapat mengalami bunuh diri 15
kali lebih banyak dibandingkan dengan orang awam. Bunuh diri pertama-tama
sering terjadi ketika tekanan pada pekerjaan, studi, tekanan emosional dalam
keluarga terjadi pada tingkat yang paling berat. Risiko bunuh diri dapat meningkat
selama menopause.
1
DEFINISI
Gangguan bipolar (GB) merupakan gangguan jiwa yang bersifat episodik
dan ditandai oleh gejala-gejala manik, hipomanik, depresi, dan campuran,
biasanya rekuren serta dapat berlangsung seumur hidup. Setiap episode
dipisahkan sekurangnya dua bulan tanpa gejala penting mania atau hipomania.
Tetapi pada beberapa individu, gejala depresi dan mania dapat bergantian secara
cepat, yang dikenal dengan rapid cycling. Episode mania yang ekstrim dapat
menunjukkan gejala-gejala psikotik seperti waham dan halusinasi.
2
EPIDEMIOLOGI
Gangguan bipolar adalah gangguan yang lebih jarang dibandingkan dengan
gangguan depresif berat. Prevalensi gangguan bipolar di Indonesia hanya sekitar
2% sama dengan prevalensi skizofrenia. Prevalensi antara laki-laki dan wanita
sama besar. Onset gangguan bipolar adalah dari masa anak-anak (usia 5-6 tahun)
sampai 50 tahun atau lebih. Rata-rata usia yang terkena adalah usia 30 tahun.
Gangguan bipolar cenderung mengenai semua ras.
2
2

ETIOLOGI
Faktor biologi
Hingga saat ini neurotransmitter monoamine seperti norepinefrin, dopamine,
serotonin, dan histamine menjadi focus teori dan masih diteliti hingga saat ini.
Sebagai biogenik amin norepinefrin dan serotonin adalah neurotransmitter yang
paling berpengaruh dalam patofisiologi gangguan mood ini.
1,2

- Norepinefrin. Teori ini merujuk pada penurunan regulasi dan penurunan
sensitivitas dari reseptor β adrenergik dan dalam klinik hal ini dibuktikan oleh
respon pada penggunaan anti depresan yang cukup baik sehingga mendukung
adanya peran langsung dari system noradrenergik pada depresi. Bukti lainnya
melibatkan reseptor β
2
presinaps pada depresi karena aktivasi pada reseptor
ini menghasilkan penurunan dari pelepasan norepinefrin. Reseptor β
2
juga
terletak pada neuron serotoninergic dan berperan dalam regulasi pelepasan
serotonin.


- Serotonin. Teori ini didukung oleh respon pengobatan SSRI (selective
serotonin reuptake inhibitor) dalam mengatasi depresi. Rendahnya kadar
serotonin dapat menjadi faktor resipitat depresi, beberapa pasien dengan
dorongan bunuh diri memiliki konsentrasi serotonin yang rendah dalam
cairan cerebropinalnya dan memiliki kadar konsentrasi rendah uptake
serotonin pada platelet.


- Dopamine. Selain dari norepinefrin dan serotonin, dopamine juga diduga
memiliki peran. Data memperkirakan bahwa aktivitas dopamine dapat
mengurangi depresi dan meningkat pada mania. Dua teori mengenai
dopamine dan depresi adalah bahwa jalur mesolimbic dopamine tidak
berfungsi terjadi pada depresi dan dopamine reseptor D
1
hipoaktif pda
keadaan depresi.


- Kelainan di otak juga dianggap dapat menjadi penyebab penyakit ini.
Terdapat perbedaan gambaran otak antara kelompok sehat dengan penderita
bipolar. Melalui pencitraan magnetic resonance imaging (MRI) dan positron-
emission tomography (PET), didapatkan jumlah substansia nigra dan aliran
3

darah yang berkurang pada korteks prefrontal subgenual. Tak hanya itu,
Blumberg dkk dalam Arch Gen Psychiatry 2003 pun menemukan volume
yang kecil pada amygdale dan hippocampus. Korteks prefrontal, amygdale,
dan hippocampus merupakan bagian dari otak yang terlibat dalam respon
emosi (mood dan afek). Penelitian lain menunjukkan ekspresi oligodendrosit-
myelin berkurang pada otak penderita bipolar. Seperti diketahui,
oligodendrosit menghasilkan membran myelin yang membungkus akson
sehingga mampu mempercepat hantaran konduksi antar saraf. Bila jumlah
oligodendrosit berkurang, maka dapat dipastikan komunikasi antar saraf tidak
berjalan lancar.
1,2

Faktor genetik
- Studi pada keluarga. Data dari studi ini mengatakan 1 orang tua dengan
gangguan mood, anaknya akan memiliki risiko antara 10-25% untuk
menderita gangguan mood. Jika kedua orang tuanya menderita gangguan
mood, maka kemungkinannya menjadi 2 kali lipat. Risiko ini meningkat jika
ada anggota keluarga dari 1 generasi sebelumnya daripada kerabat jauh. Satu
riwayat keluarga gangguan bipolar dapat meningkatkan risiko untuk
gangguan mood secara umum, dan lebih spesifik pada kemungkinan
munculnya bipolar.
- Studi pada anak kembar. Studi ini menunjukan bahwa gen hanya menjelaskan
50-70% etiologi dari gangguan mood. Studi ini menunjukan rentang
gangguan mood pada monozigot sekitar 70-90% dibandingkan dengan
kembar dizigot sekitar 16-35%.
1,2

Faktor psikososial
- Stress dari lingkungan dan peristiwa dalam hidup seseorang. Penelitian telah
membuktikan faktor lingkungan memegang peranan penting dalam Gangguan
perkembangan bipolar. Faktor lingkungan yang sangat berperan pada
kehidupan psikososial dari pasien dapat menyebabkan stress yang dipicu oleh
faktor lingkungan. Stres yang menyertai episode pertama dari gangguan
bipolar dapat menyebabkan perubahan biologik otak yang bertahan lama.
4

Perubahan bertahan lama tersebut dapat menyebabkan perubahan keadaan
fungsional berbagai neurotransmitter dan sistem pemberian signal
intraneuronal. Perubahan mungkin termasuk hilangnya neuron dan penurunan
besar dalam kontak sinaptik. Hasil akhir perubahan tersebut adalah
menyebabkan seseorang berada pada resiko yang lebih tinggi untuk menderita
gangguan mood selanjutnya, bahkan tanpa adanya stressor eksternal.
- Faktor kepribadian. Tidak ada bukti yang mengindikasikan bahwa gangguan
kepribadian tertentu berhubungan dengan berkembangnya gangguan bipolar
I, walaupun pasien dengan gangguan distimik dan siklotimik berisiko untuk
dapat berkembang menjadi depresi mayor atau gangguan bipolar I. Kejadian
tiba-tiba yang memicu stress yang kuat adalah prediktor dari onset episode
depresi.
1,2

Perjalanan penyakit
Siklus tipikal bipolar
1,2
Dalam sebagian besar kasus bipolar, fase depresi jauh melebihi fase manik,
dan siklus mania dan depresi tidak menentu dan tidak dapat diprediksi. Banyak
pasien mengalami episode campuran, yang merupakan episode manik dan depresi
muncul bersamaan selama 7 hari.
1,2
Rapid Cycling
Pasien dengan gangguan bipolar 1, perputaran cepat kemungkinan adalah
wanita dan pernah mengalami episode depresif dan hipomanik, cenderung pada
gangguan pada faktor ekternal bukan dari genetik. Pada fase ini episode manik
dan depresi timbul bergantian sedikitnya 4 kali setahun dan pada kasus yang
parah, bisa mencapai sejumlah siklus sehari. Rapid cycling cenderung untuk
timbul lebih sering pada wanita dan pada pasien bipolar II. Umumnya, rapid
cycling bermula pada fase depresi, dan episode depresi yang sering dan parah bisa
menjadi ciri khas dari kejadian ini. Fase ini sulit untuk ditangani, khususnya
karena antidepresan bisa mencetuskan perubahan ke mania dan memunculkan
pola melingkar.
1,2

5

Dengan Pola Musiman
Pasien dengan gangguan pola musiman dalam gangguan moodnya
cenderung mengalami episode depresi selama waktu tertentu dalam satu tahun,
biasanya pada musim dingin dan hanya terjadi satu kali dalam satu tahun. Bisa
juga terjadi remisi penuh dimana adanya perubahan dari depresi menjadi mania
atau hipomania.
1,2
Onset pasca persalinan
Memungkinkan untuk menentukan gangguan mood pasca persalinan jika
onset gejalanya empat minggu pasca persalinan. Gangguan mental pasca
persalinan biasanya adalah gangguan psikotik.
1,2
Perbedaan antara anak-anak dan dewasa
Peneliatan menunjukkan gejala bipolar pada anak-anak dan remaja
berbeda dari dewasa. Dewasa dengan bipolar biasanya periode mania dan depresi
yang berbeda dan persisten, Anak-anak dengan bipolar berfluktuasi secara cepat
dalam mood dan kelakuan mereka. Manik pada anak-anak dikarakteristikan
dengan iritabel dan agresif sedangkan dewasa cenderung mengalami euphoria.
Anak-anak dengan bipolar episode depresi sering marah-marah dan tidak bisa
diam dan dapat memiliki gangguan tambahan mood dan perilaku seperti anxietas,
ADHD dan penyalahgunaan zat.
1,2

Masih belum jelas seberapa sering bipolar pada anak-anak bertahan
sampai dewasa atau bila menangani bipolar pada masa kanak-kanak bisa
membantu mencegah gangguan di masa depan.
1,2


GAMBARAN KLINIK
Terdapat dua pola gejala dasar pada gangguan bipolar yaitu, episode depresi
dan episode mania.
1,3

Episode manic:
Paling sedikit satu minggu (bisa kurang, bila dirawat) pasien mengalami
mood yang elasi, ekspansif, atau iritabel. Pasien memiliki, secara menetap, tiga
atau lebih gejala berikut (empat atau lebih bila hanya mood iritabel) yaitu:
3

6

a. Grandiositas atau percaya diri berlebihan
b. Berkurangnya kebutuhan tidur
c. Cepat dan banyaknya pembicaraan
d. Lompatan gagasan atau pikiran berlomba
e. Perhatian mudah teralih
f. Peningkatan energy dan hiperaktivitas psikomotor
g. Meningkatnya aktivitas bertujuan (social, seksual, pekerjaan dan sekolah)
h. Tindakan-tindakan sembrono (ngebut, boros, investasi tanpa perhitungan yang
matang).
3

Gejala yang derajatnya berat dikaitkan dengam penderitaan, gambaran
psikotik, hospitalisasi untuk melindungi pasien dan orang lain, serta adanya
gangguan fungsi sosial dan pekerjaan. Pasien hipomania kadang sulit didiagnosa
sebab beberapa pasien hipomania justru memiliki tingkat kreativitas dan
produktivitas yang tinggi. Pasien hipomania tidak memiliki gambaran psikotik
(halusinasi, waham atau perilaku atau pembicaraan aneh) dan tidak memerlukan
hospitalisasi.
4

Episode Depresi Mayor
Paling sedikit dua minggu pasien mengalami lebih dari empat symptom atau
tanda yaitu
3,4
a. Mood depresif atau hilangnya minat atau rasa senang
b. Menurun atau meningkatnya berat badan atau nafsu makan
c. Sulit atau banyak tidur
d. Agitasi atau retardasi psikomotor
e. Kelelahan atau berkurangnya tenaga
f. Menurunnya harga diri
g. Ide-ide tentang rasa bersalah, ragu-ragu dan menurunnya konsentrasi
h. Pesimis
i. Pikiran berulang tentang kematian, bunuh diri (dengan atau tanpa rencana) atau
tindakan bunuh diri.
3,4


7

Gejala-gejala diatas menyebabkan penderitaan atau mengganggunya fungsi
personal, sosial, pekerjaan.
3,4
Episode Campuran

Paling sedikit satu minggu pasien mengalami episode mania dan depresi
yang terjadi secara bersamaan. Misalnya, mood tereksitasi (lebih sering mood
disforik), iritabel, marah, serangan panic, pembicaraan cepat, agitasi, menangis,
ide bunuh diri, insomnia derajat berat, grandiositas, hiperseksualitas, waham kejar
dan kadang-kadang bingung. Kadang-kadang gejala cukup berat sehingga
memerlukan perawatan untuk melindungi pasien atau orang lain, dapat disertai
gambaran psikotik, dan mengganggu fungsi personal, sosial dan pekerjaan.
3

Episode Hipomanik
Paling sedikit empat hari, secara menetap, pasien mengalami peningkatan
mood, ekspansif atau irritable yang ringan, paling sedikit terjadi gejala (empat
gejala bila mood irritable) yaitu:
3

a. Grandiositas atau meningkatnya kepercayaan diri
b. Berkurangnya kebutuhan tidur
c. Meningkatnya pembicaraan
d. Lompat gagasan atau pemikiran berlomba
e. Perhatian mudah teralih
f. Meningkatnya aktifitas atau agitasi psikomotor
g. Pikiran menjadi lebih tajam
h. Daya nilai berkurang
3,4

Tidak ada gambaran psikotik (halusinasi, waham, atau prilaku atau
pembicaraan aneh) tidak membutuhkan hospitalisasi dan tidak mengganggu
fungsi personal, sosial, dan pekerjaan. Sering kali dilupakan oleh pasien tetapi
dapat dikenali oleh keluarga.
3,4

Sindrom Psikotik
Pada kasus berat, pasien mengalami gejala psikotik. Gejala psikotik yang
paling sering yaitu:
3,4
a. Halusinasi (auditorik, visual, atau bentuk sensasi lainnya)
8

b. Waham
3,4

Misalnya, waham kebesaran sering terjadi pada episode mania sedangkan
waham nihilistic terjadi pada episode depresi. Ada kalanya simtom psikotik tidak
serasi dengan mood. Pasien dengan gangguan bipolar sering didiagnosis sebagai
skizofrenia. Ciri psikotik biasanya merupakan tanda prognosis yang buruk bagi
pasien dengan gangguan bipolar. Faktor berikut ini telah dihubungkan dengan
prognosis yang buruk seperti: durasi episode yang lama, disosiasi temporal antara
gangguan mood dan gejala psikotik, dan riwayat penyesuaian sosial premorbid
yang buruk. Adanya ciri-ciri psikotik yang memiiki penerapan terapi yang
penting, pasien dengan symptom psikotik hampir selalu memerlukan obat anti
psikotik di samping anti depresan atau anti mania atau mungkin memerlukan
terapi antikonvulsif untuk mendapatkan perbaikan klinis.
3,4

KRITERIA DIAGNOSIS
Keterampilan wawancara dibutuhkan untuk menegakkan diagnosis.
Informasi dari keluarga sangat diperlukan. Diagnosis ditegakkan berdasarkan
criteria yang terdapat dalam DSM-IV atau ICD-10. Salah satu instrumen yang
dapat digunakan untuk mengidentifikasi symptom gangguan bipolar adalah The
Structured clinical Interview for DSM-IV (SCID). The Present State Examination
(PSE) dapat pula digunakan untuk mengidentifikasi symptom sesuai dengan ICD-
10.
5
Pembagian menurut DSM-IV:
5

Gangguan mood bipolar I
a) Gangguan mood bipolar I, episode manic tunggal
b) Gangguan mood bipolar I, episode manic sekarang ini
c) Gangguan mood bipolar I, episode campuran saat ini
d) Gangguan mood bipolar I, episode hipomanik saat ini
e) Gangguan mood bipolar I, episode depresi saat ini
f) Gangguan mood bipolar I, Episode Yang tidak dapat diklasifikasikan saat
ini
9

Ganggguan Mood Bipolar II
Satu atau lebih episode depresi mayor yang disertai dengan paling sedikit
satu episode hipomanik.
5
Gangguan Siklotimia
A. PEMERIKSAAN FISIK
a. Penampilan
Orang yang menunjukkan suatu periode depresi mungkin menunjukkan
sedikit sampai tidak ada kontak mata. Pakaian mereka mungkin tidak terawat,
kotor, berlubang, kumal, serta tidak cocok dengan ukuran badan. Bila seseorang
kehilangan berat badan secara signifikan, ukuran pakaiannya tidak akan cocok.
Kebersihan diri tercermin dari mood mereka yang rendah, yang ditunjukkan
dengan badan yang kurus, tidak bercukur, dan tidak membersihkan diri. Pada
wanita, kuku jari tangannya mungkin terdapat lapisan warna yang berbeda atau
sebagian warna yang rusak pada kuku mereka, bahkan cenderung kotor juga pada
tangannya. Rambut mereka juga tidak terurus. Bila orang ini bergerak, afek
depresi jelas terlihat. Mereka bergerak dengan lambat dan sangat sedikit yang
menunjukkan retardasi psikomotor. Mereka juga berbicara dengan suara yang
pelan atau suara yang monoton.
5,7
b. Afek/Suasana Perasaan
Afek depresi. Kesedihan mendominasi suasana hati seseorang dalam
episode depresi. Penderita merasa sedih, tertekan, kehilangan, kosong dan
terisolasi.
7
c. Pikiran
Penderita mempunyai pemikiran yang mencerminkan kesedihan mereka.
Gagasan yang negatif, perhatian nihilistik dan mereka mempunyai suatu istilah
bahwa “ mereka bagaikan gelas yang separuh kosong”. Pemikiran mereka lebih
berfokus tentang kematian dan tentang bunuh diri.
5,7
d. Persepsi
10

Terdapat 2 format dari tipe depresi yang dijelaskan. Dengan psikotik dan
tanpa psikotik. Dengan psikotik, penderita mempunyai khayalan dan halusinasi
yang sesuai atau tidak dengan suasana hati. Penderita merasa telah berdosa,
bersalah dan merasakan penyesalan yang sangat dalam.
5,7
e. Bunuh diri
Angka kejadian bunuh diri banyak terjadi pada penderita depresi. Mereka
adalah individu yang mencoba dan berhasil dalam usaha bunuh diri.
7
f. Pembunuhan/kekerasan
Pembunuhan yang dilakukan oleh penderita biasanya diikuti dengan bunuh
diri. Pada beberapa penderita depresi biasanya merasa dunia sudah tidak berguna
lagi untuknya dan untuk orang terdekatnya/orang lain.
7
g. Tilikan/Insight
Depresi dapat mempengaruhi penilaian seseorang mengenai dirinya sendiri.
Penderita biasanya gagal dalam melakukan tindakan yang penting sebab mereka
sangat jatuh dan menurun dalam mengenali diri mereka sendiri. Meraka memiliki
sedikit pengertian terhadap diri mereka sendiri.
7
h. Kognitif
Pada depresi dan manik yang berat, penderita dapat mengalami kesulitan
dalam berkonsentrasi dan memusatkan perhatiannya.
7
PENATALAKSANAAN :
Terapi psikososial

- Terapi kognitif (Aaron Beck)
Tujuannya :
a. Menghilangkan episode depresi dan mencegah rekurennya dengan membantu
pasien mengidentifikasi dan uji kognitif negatif.
11

b. Mengembangkan cara berpikir alternatif, fleksibel dan positif, serta melatih
kembali respon kognitif dan perilaku yang baru.
3,4,7

- Terapi interpersonal (Gerrad Kleman)
Memusatkan pada masalah interpersonal yang sekarang dialami oleh pasien
dengan anggapan bahwa masalah interpersonal sekarang mungkin terlibat dalam
mencetuskan atau memperberat gejala depresi sekarang.

Terapi ini difokuskan
pada problem interpersonal yang ada. Diasumsikan bahwa, pertama, problem in-
terpersonal yang ada saat ini merupakan akar terjadinya disfungsi hubungan in-
terpersonal. Problem interpersonal saat ini berperan dalam terjadinya gejala
depresi. Biasanya sesi berlangsung antara 12 sampai 16 minggu dan ditandai
dengan pendekatan terapeutik yang aktif. Tidak ditujukan pada fenomena
intrapsikik seperti mekanisme defensi dan konflik internal. Keterbatasan asertif,
gangguan kemampuan sosial, serta penyimpangan pola berpikir hanya ditujukan
bila memang mempunyai efek pada hubungan interpersonal tersebut.
4,7
- Terapi perilaku
Terapi didasarkan pada hipotesis bahwa pola perilaku maladaptif
menyebabkan seseorang mendapatkan sedikit umpan balik positif dari masyarakat
dan kemungkinan penolakan yang palsu. Dengan demikian pasien belajar untuk
berfungsi di dunia dengan cara tertentu dimana mereka mendapatkan dorongan
positif.
4,,7

- Terapi berorientasi-psikoanalitik
Mencapai kepercayaan dalam hubungan interpersonal, keintiman,
mekanisme penyesuaian, kapasitas dalam merasakan kesedihan serta kemampuan
dalam merasakan perubahan emosional secara luas.
4,7

- Terapi keluarga
Diindikasikan untuk gangguan yang membahayakan perkawinan pasien atau
fungsi keluarga atau jika gangguan mood dapat ditangani oleh situasi keluarga.
Terapi keluarga meneliti peran suasana hati teratur dalam keseluruhan
kesejahteraan psikologis dari seluruh keluarga, tetapi juga mengkaji peran seluruh
keluarga dalam pemeliharaan gejala pasien. Pasien dengan gangguan mood
memiliki tingkat tinggi perceraian, dan sekitar 50 persen dari semua pasangan
12

melaporkan bahwa mereka tidak akan menikah atau memiliki anak jika mereka
tahu bahwa pasien akan mengembangkan gangguan mood.
4,7
- Rawat Inap
Yang pertama dan paling penting keputusan dokter harus dibuat adalah
apakah untuk memutuskan pasien rawat inap atau pasien rawat jalan. Jelas
indikasi untuk rawat inap adalah risiko bunuh diri atau pembunuhan, pasien yang
sangat berkurang kemampuannya untuk makan dan kebutuhan untuk prosedur
diagnostik. Suatu onset yang berkembang cepat gejala juga dapat menjadi
indikasi untuk rawat inap. Seorang dokter dapat dengan aman mengobati depresi
ringan atau hypomania dengan rawat jalan jika evaluasi pasien terus rutin
dilakukan. Tanda-tanda klinis dari gangguan penilaian, penurunan berat badan,
atau insomnia harus minimal. Sistem pendukung pasien harus kuat, tidak ada
menarik diri dari pasien. Setiap perubahan negatif dalam gejala-gejala pasien atau
perilaku mungkin cukup untuk menjadi indikasi rawat inap rawat inap. Pasien
dengan gangguan mood sering tidak mau masuk rumah sakit secara sukarela, dan
mungkin harus sengaja dimasukan. Pasien-pasien ini sering tidak dapat membuat
keputusan karena pemikiran mereka melambat, Weltanschauung negatif
(pandangan dunia), dan keputusasaan. Pasien yang manik sering memiliki seperti
kurangnya wawasan gangguan mereka yang rawat inap tampaknya benar-benar
tidak masuk akal bagi mereka.
4,7
Terapi Fisik : Electro Convulsive Therapy (ECT)
Terapi dengan melewatkan arus listrik ke otak melalui 2 elektrode yang
ditempatkan pada bagian temporal kepala. Sering digunakan pada kasus depresif
berat atau mempunyai risiko bunuh diri yang besar dan respon terapi dengan obat
antidepresan kurang baik (dengan dosis yang sudah adekuat).
4,8
Farmakoterapi
Pendekatan farmakoterapeutik terhadap gangguan bipolar telah
menimbulkan perubahan besar dalam pengobatannya dan secara dramatis telah
mempengaruhi perjalanan gangguan bipolar dan menurunkan biaya bagi
penderita.
4,8
13

Episode mania atau hipomania :
1. Mood Stabilizer
2. Antipsikotik atipikal
3. Mood stabilizer + antipsikotik
atipikal.
4,8

Episode depresi :
1. Antidepresan
2. Mood stabilizer
3. Antipsikotik atipikal
4. Mood stabilizer + antidepresan
5. Antipsikotik atipikal +
antidepresan
4,7
14

Rekomendasi terapi akut depresi, GB II
7
Tabel 5 Terapi akut depresi, GB II.

Lini I Quetiapin
Lini II Litium, lamotrigin, divalproat, litium atau divalproat + antidepresan,
litium + divalproat, antipsikotika atipik + antidepresan
Lini III Antidepresan monoterapi (terutama untuk pasien yang jarang
mengalami hipomania)

Rekomendasi terapi rumatan GB II
7
Tabel 6 Terapi Rumatan GB II.

Lini I Litium, lamotrigin
Lini II Divalproat, litium atau divalproat atau antipsikotika atipik +
antidepresan, kombinasi dua dari: litium, lamotrigin, divalproat, atau
antipsikotika atipik
Lini III Karbamazepin, antipsikotika atipik, ECT
Tidak direkomendasikan Gabapentin

Berikut adalah obat-obatan yang dapat digunakan pada gangguan bipolar:
2,3,7
Mood stabilizer
Litium
Litium sudah digunakan sebagai terapi mania akut sejak 50 tahun yang lalu.
Memiliki efek akut dan kronis dalam pelepasan serotonin dan norepineprin di
neuron terminal sistem saraf pusat.
,2,3,7

Farmakologi
Sejumlah kecil litium terikat dengan protein. Litium diekskresikan dalam
bentuk utuh hanya melalui ginjal.
2,3,7

Indikasi
Episode mania akut, depresi, mencegah bunuh diri, dan bermanfaat sebagai
terapi rumatan GB.
2,3,7

Dosis
15

Respons litium terhadap mania akut dapat dimaksimalkan dengan menitrasi
dosis hingga mencapai dosis terapeutik yang berkisar antara 1,0-1,4 mEq/L.
Perbaikan terjadi dalam 7-14 hari. Dosis awal yaitu 20 mg/kg/hari. Dosis untuk
mengatasi keadaan akut lebih tinggi bila dibandingkan dengan terapi rumatan.
Untuk terapi rumatan, dosis berkisar antara 0,4-0,8 mEq/L. Dosis kecil dari 0,4
mEq/L, tidak efektif sebagai terapi rumatan. Sebaliknya, gejala toksisitas litium
dapat terjadi bila dosis 1,5 mEq/L.
2,3,7

Perbaikan klinis
7-14 hari
Efek samping
Efek samping yang dilaporkan adalah mual, muntah, tremor, somnolen,
penambahan berat badan, dan penumpulan kognitif. Neurotoksisitas, delirium, dan
ensefalopati dapat pula terjadi akibat litium. Neurotoksisitas bersifat irreversible.
Akibat intoksikasi litium, deficit neurologi permanen dapat terjadi misalnya,
ataksia, deficit memori, dan gangguan pergerakan. Untuk mengatasi intoksikasi
litium, hemodialisis harus segera dilakukan. Litium dapat merusak tubulus ginjal.
Faktor resiko kerusakan ginjal adalah intoksikasi litium, polifarmasi dan adanya
penyakit fisik yang lainnya. Pasien yang mengkonsumsi litium dapat mengalami
poliuri. Oleh karena itu, pasien dianjurkan untuk banyak meminum air.
2,3,7

Pemeriksaan laboratorium
Sebelum memberikan litium, fungsi ginjal (ureum dan kreatinin) dan fungsi
tiroid, harus diperiksa terlebih dahulu. Untuk pasien yang berumur di atas 40
tahun, pemeriksaan EKG harus dilakukan. Fungsi ginjal harus diperiksa Setiap
Setiap 2-3 bulan dan fungsi tiroid dalam enam bulan pertama. Setelah enam bulan,
fungsi ginjal dan tiroid diperiksa sekali dalam 6-12 bulan atau bila ada
indikasi.
2,3,7
Wanita hamil
Penggunaan litium pada wanita hamil dapat menimbulkan malformasi janin.
Kejadiannya meningkat bila janin terpapar pada kehamilan yang lebih dini.
Wanita dengan GB yang derajatnya berat, yang mendapat rumatan litium, dapat
melanjutkan litium selama kehamilan bila ada indikasi klinis. Kadar litium
16

darahnya harus dipantau dengan seksama. Pemeriksaan USG untuk memantau
janin, harus dilakukan. Selama kehamilannya, wanita tersebut harus disupervisi
oleh ahli kebidanan dan psikiater. Sebelum kehamilan terjadi, risiko litium
terhadap janin dan efek putus litium terhadap ibu harus didiskusikan.
2,3,7


Valproat
Valproat merupakan obat antiepilepsi yang disetujui oleh FDA sebagai antimania.
Valproat tersedia dalam bentuk:
3,7

1. Preparat oral;
a. Sodium divalproat, tablet salut, proporsi antara asam valproat dan sodium
valproat adalah sama (1:1)
b. Asam valproat
c. Sodium valproat
d. Sodium divalproat, kapsul yang mengandung partikel-partikel salut yang dapat
dimakan secara utuh atau dibuka dan ditaburkan ke dalam makanan.
e. Divalproat dalam bentuk lepas lambat, dosis sekali sehari.

2. Preparat intravena
3. Preparat supositoria
2,3,7

Farmakologi
Terikat dengan protein. Diserap dengan cepat setelah pemberian oral.
Konsentrasi puncak plasma valproat sodium dan asam valproat dicapai dalam dua
jam sedangkan sodium divalproat dalam 3-8 jam. Awitan absorbsi divalproat
lepas lambat lebih cepat bila dibandingkan dengan tablet biasa. Absorbsi menjadi
lambat bila obat diminum bersamaan dengan makanan. Ikatan valproat dengan
protein meningkat bila diet mengandung rendah lemak dan menurun bila diet
mengandung tinggi lemak.
3,7
Dosis
Dosis terapeutik untuk mania dicapai bila konsentrasi valproat dalam serum
berkisar antara 45 -125 mg/mL. Untuk GB II dan siklotimia diperlukan divalproat
dengan konsentrasi plasma < 50 mg/mL. Dosis awal untuk mania dimulai dengan
17

15-20 mg/kg/hari atau 250 – 500 mg/hari dan dinaikkan setiap 3 hari hingga
mencapai konsentrasi serum 45- 125 mg/mL. Efek samping, misalnya sedasi,
peningkatan nafsu makan, dan penurunan leukosit serta trombosit dapat terjadi
bila konsentrasi serum > 100 mg/mL. Untuk terapi rumatan, konsentrasi valproat
dalam plasma yang dianjurkan adalah antara 75-100 mg/mL.
3,7
Indikasi
Valproat efektif untuk mania akut, campuran akut, depresi mayor akut,
terapi rumatan GB, mania sekunder, GB yang tidak berespons dengan litium,
siklus cepat, GB pada anak dan remaja, serta GB pada lanjut usia.
3,7
Efek Samping
Valproat ditoleransi dengan baik. Efek samping yang dapat terjadi, misalnya
anoreksia, mual, muntah, diare, dispepsia, peningkatan (derajat ringan) enzim
transaminase, sedasi, dan tremor. Efek samping ini sering terjadi pada awal
pengobatan dan bekurang dengan penurunan dosis atau dengan berjalannya
waktu. Efek samping gastrointestinal lebih sering terjadi pada penggunaan asam
valproat dan valproat sodium bila dibandingkan dengan tablet salut sodium
divalproat.
3,7

Lamotrigin
Lamotrigin efektif untuk mengatasi episode bipolar depresi. Ia menghambat
kanal Na+. Selain itu, ia juga menghambat pelepasan glutamat.
3,7

Farmakokinetik
Lamotrigin oral diabsorbsi dengan cepat. Ia dengan cepat melewati sawar
otak dan mencapai konsentrasi puncak dalam 2-3 jam. Sebanyak 10% lamotrigin
dieksresikan dalam bentuk utuh.
3,7

Indikasi
Efektif untuk mengobati episode depresi, GB I dan GB II, baik akut maupun
rumatan. Lamotrigin juga efektif untuk GB, siklus cepat.
3,7

Dosis
Berkisar antara 50-200 mg/hari.
3,7

Efek Samping
18

Sakit kepala, mual, muntah, pusing, mengantuk, tremor, dan berbagai
bentuk kemerahan di kulit.
3,7

Antipsikotika Atipik
Antipsikotika atipik, baik monoterapi maupun kombinasi terapi, efektif
sebagai terapi lini pertama untuk GB. Beberapa antipsikotika atipik tersebut
adalah olanzapin, risperidon, quetiapin, dan aripiprazol.
3,7

Risperidon
Risperidon adalah derivat benzisoksazol. Ia merupakan antipsikotika atipik
pertama yang mendapat persetujuan FDA setelah klozapin.
3,7

Absorbsi
Risperidon diabsorbsi dengan cepat setelah pemberian oral. Ia
dimetabolisme oleh enzim hepar yaitu CYP 2D6.
3,7

Dosis
Untuk preparat oral, risperidon tersedia dalam dua bentuk sediaan yaitu
tablet dan cairan. Dosis awal yang dianjurkan adalah 2 mg/hari dan besoknya
dapat dinaikkan hingga mencapai dosis 4 mg/hari. Sebagian besar pasien
membutuhkan 4-6 mg/hari. Risperidon injeksi jangka panjang (RIJP) dapat pula
digunakan untuk terapi rumatan GB. Dosis yang dianjurkan untuk orang dewasa
atau orang tua adalah 25 mg setiap dua minggu. Bila tidak berespons dengan 25
mg, dosis dapat dinaikkan menjadi 37,5 mg - 50 mg per dua minggu.
3,7

Indikasi
Risperidon bermanfaat pada mania akut dan efektif pula untuk terapi
rumatan.
3,7

Efek Samping
Sedasi, fatig, pusing ortostatik, palpitasi, peningkatan berat badan,
berkurangnya gairah seksual, disfungsi ereksi lebih sering terjadi pada risperidon
bila dibandingkan dengan pada plasebo. Meskipun risperidon tidak terikat secara
bermakna dengan reseptor kolinergik muskarinik, mulut kering, mata kabur, dan
retensi urin, dapat terlihat pada beberapa pasien dan sifatnya hanya sementara.
19

Peningkatan berat badan dan prolaktin dapat pula terjadi pada pemberian
risperidon.
3,4,7


Olanzapin
Olanzapin merupakan derivat tienobenzodiazepin yang memiliki afinitas
terhadap dopamin (DA), D2, D3, D4, dan D5, serotonin 2 (5-HT2); muskarinik,
histamin 1(H1), dan a1- adrenergik.
3,7

Indikasi
Olanzapin mendapat persetujuan dari FDA untuk bipolar episode akut
mania dan campuran. Selain itu, olanzapin juga efektif untuk terapi rumatan GB.

3,4,7

Dosis
Kisaran dosis olanzapin adalah antara 5-30 mg/hari.
3,7

Efek Samping
Sedasi dapat terjadi pada awal pengobatan tetapi berkurang setelah beberapa
lama. Efek antikolinergik dapat pula terjadi tetapi kejadiannya sangat rendah dan
tidak menyebabkan penghentian pengobatan. Risiko terjadinya diabetes tipe-2
relatif tinggi bila dibandingkan dengan antipsikotika atipik lainnya. Keadaan ini
dapat diatasi dengan melakukan psikoedukasi, misalnya merubah gaya hidup, diet
dan latihan fisik.
3,7


Quetiapin
Quetiapin merupakan suatu derivat dibenzotiazepin yang bekerja sebagai
antagonis 5-HT1A dan 5 -HT2A, dopamin D1, D2, histamin H1 serta reseptor
adrenergik a1 dan a2. Afinitasnya rendah terhadap reseptor D2 dan relatif lebih
tinggi terhadap serotonin 5-HT2A.
2,3,7
Dosis
Kisaran dosis pada gangguan bipolar dewasa yaitu 200-800 mg/hari.
Tersedia dalam bentuk tablet IR (immediate release) dengan dosis 25 mg, 100 mg,
200 mg, dan 300 mg, dengan pemberian dua kali per hari. Selain itu, juga tersedia
quetiapin-XR dengan dosis 300 mg, satu kali per hari.
2,3,7

20

Indikasi
Quetiapin efektif untuk GB I dan II, episdoe manik, depresi, campuran,
siklus cepat, baik dalam keadaan akut maupun rumatan.
3,7

Efek Samping
Quetiapin secara umum ditoleransi dengan baik. Sedasi merupakan efek
samping yang sering dilaporkan. Efek samping ini berkurang dengan berjalannya
waktu. Perubahan dalam berat badan dengan quetiapin adalah sedang dan tidak
menyebabkan penghentian pengobatan. Peningkatan berat badan lebih kecil bila
dibandingkan dengan antipsikotika tipikal.
2,3,7


Aripiprazol
Aripiprazol adalah stabilisator sistem dopamin-serotonin.
3,7

Farmakologi
Aripiprazol merupakan agonis parsial kuat pada D2, D3, dan 5-HT1A serta
antagonis 5- HT2A. Ia juga mempunyai afinitas yang tinggi pada reseptor D3,
afinitas sedang pada D4, 5-HT2c, 5-HT7, a1-adrenergik, histaminergik (H1), dan
serotonin reuptake site (SERT), dan tidak terikat dengan reseptor muskarinik
kolinergik.
3,7

Dosis
Aripiprazol tersedia dalam bentuk tablet 5,10,15,20, dan 30 mg. Kisaran
dosis efektifnya per hari yaitu antara 10-30 mg. Dosis awal yang
direkomendasikan yaitu antara 10 - 15 mg dan diberikan sekali sehari. Apabila
ada rasa mual, insomnia, dan akatisia, dianjurkan untuk menurunkan dosis.
Beberapa klinikus mengatakan bahwa dosis awal 5 mg dapat meningkatkan
tolerabilitas.
3,7

Indikasi
Aripiprazol efektif pada GB, episode mania dan episode campuran akut. Ia
juga efektif untuk terapi rumatan GB. Aripiprazol juga efektif sebagai terapi
tambahan pada GB I, episode depresi.
3,7

Efek Samping
21

Sakit kepala, mengantuk, agitasi, dispepsia, anksietas, dan mual merupakan
kejadian yang tidak diinginkan yang dilaporkan secara spontan oleh kelompok
yang mendapat aripiprazol. Efek samping ekstrapiramidalnya tidak berbeda secara
bermakna dengan plasebo. Akatisia dapat terjadi dan kadang-kadang dapat sangat
mengganggu pasien sehingga sering mengakibatkan penghentian pengobatan.
Insomnia dapat pula ditemui. Tidak ada peningkatan berat badan dan diabetes
melitus pada penggunaan aripiprazol. Selain itu, peningkatan kadar prolaktin juga
tidak dijumpai. Aripiprazol tidak menyebabkan perubahan interval QT.
2,3,7

Antidepresan
1) Derivat trisiklik
• Imipramin (dosis lazim : 25-50 mg 3x sehari bila perlu dinaikkan sampai
maksimum 250-300 mg sehari)
• Amitriptilin ( dosis lazim : 25 mg dapat dinaikkan secara bertahap sampai
dosis maksimum 150-300 mg sehari).
3,4,7

2) Derivat tetrasiklik
• Maproptilin, Mianserin ( dosis lazim : 30-40 mg malam hari, dosis
maksimum 90 mg/ hari).
3,4,7

3) Derivat MAOI (MonoAmine Oksidase-Inhibitor)
• Moclobemide (dosis lazim : 300 mg/ hari terbagi dalam 2-3 dosis dapat
dinaikkan sampai dengan 600 mg/ hari).
3,4,7

4) Derivat SSRI (Selective Serotonin Reuptake Inhibitor)
• Sertralin (dosis lazim : 50 mg/hari bila perlu dinaikkan maksimum 200
mg/hr)
• Fluoxetine ( dosis lazim : 20 mg sehari pada pagi hari, maksimum 80
mg/hari dalam dosis tunggal atau terbagi)
• Fluvoxamine (dosis lazim : 50mg dapat diberikan 1x/hari sebaiknya pada
malam hari, maksimum dosis 300 mg)
• Paroxetine, Citalopram (dosis lazim : 20 mg/hari, maksimum 60 mg
/hari).
3,4,7

5) Derivat SNRI (Serotonin Norepineprin Reuptake Inhibitor)
22

• Venlafaxine (dosis lazim : 75 mg/hari bila perlu dapat ditingkatkan menjadi
150-250 mg 1x/hari), Duloxetine.
3,7


PROGNOSIS
Pasien dengan gangguan bipolar I memiliki prognosis yang kurang baik
dibandingkan depresi mayor. Sekitar 40-50% pasien dengan bipolar 1 memiliki
kemungkinan mengalami episode manik kedua dalam 2 tahun episode pertama.
Walaupun dnegan penggunaan litium sebagai profilaksis meningkatkan prognosis
bipolar I, kemungninan hanya 50-60% pasien mencapai control signifikan akan
gejala mereka dengan litium. Pasien bipolar I dengan premorbid status pekerjaan
yang tidak mendukung, ketergantungan alkohol, gejala psikotik, gejala depresi
dan jenis kelamin laki-laki juga mempengaruhi prognosis yang kurang baik.
Durasi pendek dari manik, usia yang tidak terlalu muda saat onset menghasilkan
prognosis yang lebih baik. Sekitar 7% pasien dengan gangguan bipolar tidak
memiliki gejala rekuren; 45% memilii lebih dari 1 episode, dan 40% memiliki
gangguan kronik. Pasien mungkin memiliki 2 hingga 30 episode, walaupun angka
rata-ratanya adalah 9 episode. Sekitar 40% dari keseluruhan pasien mengalami
lebih dari 10 episode. Pada follow up jangka panjang 15% dari seluruh pasien
dengan bipolar I dapat hidup dengan baik, 45% hidup dengan baik namun
memiliki multirelaps, 30% pasien dengan remisi parsial, dan 10% pasien dengan
sakit kronis.
3,8

Untuk prognosis bipolar II, sampai saat ini masih dilakukan penelitian.
Bipolar II adalah penyakit kronik dimana memerlukan strategi penatalaksanaan
jangka panjang.
3,8
KOMPLIKASI
Gangguan emosi atau gangguan neurologik
Pasien dengan bipolar, terutama tipe II atau siklotimik, memiliki episode
depresi berat yang sering. Gangguan anxietas, seperti panik, juga sering timbul
pada pasien ini. Pasien dengan bipolar, terutama tipe II, juga sering menderita
fobia.
8

23

Suicide
Risiko untuk suicide sangat tinggi pada pasien dengan bipolar dan yang
tidak menerima tindakan medis. 10-15% pasien dengan Bipolar I melakukan
percobaan bunuh diri, dengan risiko tertinggi saat episode depresi atau campuran.
Beberapa studi memperlihatkan risiko suicide pada pasien dengan bipolar II lebih
tinggi dibanding bipolar I atau depresi berat. Pasien yang menderita gangguan
anxietas juga memiliki resiko tinggi untuk suicide.
4,8

Masalah memori dan berpikir
Studi menunjukkan bahwa pasien dengan bipolar bisa memiliki masalah
yang bervariasi pada ingatan jangka pendek dan panjang, kecepatan memproses
informasi, dan fleksibilitas mental. Masalah seperti ini bahkan dapat muncul
diantara episode. Masalah ini cenderung lebih parah ketika seseorang memiliki
episode manik lebih sering.
4,8
Efek perilaku dan emosional saat fase manik pada pasien
Dalam persentase kecil dari pasien bipolar mendemonstrasikan kenaikan
produktivitas dan kreativitas saat episode manik. Kelainan cara berpikir dan
penilaian yang merupakan karakterisik dari episode manik dapat berujung pada
perilaku berbahaya seperti:
4,8

- Mengeluarkan uang dengan ceroboh, yang dapat menghancurkan finansial
- Mengamuk, paranoid dan bahkan kekerasan
- Perilaku keinginan untuk sex terhadap banyak orang
Perilaku seperti di atas sering diikuti dengan rasa bersalah dan penurunan
harga diri, yang diderita saat fase depresi.
4,8

Penyalahgunaan zat
Merokok merupakan salah satu hal tersering yang digunakan pada pasien
bipolar, dibandingkan mereka yang memiliki gejala psikotik. Beberapa dokter
berspekulasi, dalam skizofren, nikotin digunakan sebagai self-medication karena
efek spesifik pada otak.
8

Sampai 60% pasien dengan gangguan bipolar menyalahgunakan zat lain
(paling sering merupakan alkohol, diikuti marijuana atau kokain) pada suatu titik
dalam perjalanan penyakitnya.
8

24

Beberapa faktor resiko untuk alkoholisme dan penyalahgunaan zat pada
pasien dengan bipolar:
8

- Memiliki episode campuran dibandingkan pasien dengan mania murni
- Laki-laki dengan bipolar.
8

Efek pada orang yang disayangi
Pasien tidak mengembangkan perilaku negatif dalam sekejap. Mereka
memiliki efek langsung pada orang sekitar mereka. Sangat sulit bahkan bagi
keluarga atau pengasuh untuk objektif dan secara konsisten simpatis dengan
individu yang secara periodik dan tidak terduga membuat kekacauan disekitar
mereka.
3,8

Banyak pasien dan keluarga mereka merasa sulit untuk menerima episode
ini sebagai bagian dari penyakit dan bukan hal ekstrim, tapi normal, karakteristik.
Penyangkalan seperti itu sering dibesar-besarkan oleh pasien yang pintar, yang
dapat menjustifikasi kelakuan destruktif mereka, tidak hanya kepada orang lain,
namun juga kepada diri mereka sendiri.
3,8

Anggota keluarga juga dapat merasakan dikucilkan secara sosial dengan
fakta bahwa memiliki kerabat dengan gangguan jiwa, dan merasa dipaksa untuk
menyembunyikan informasi ini dari kenalan mereka.
3,8
Asosiasi dengan gangguan fisik
Orang dengan gangguan mental memiliki insiden lebih tinggi pada banyak
kondisi medis, termasuk penyakit jantung, asma dan masalah paru lainnya,
kelainan gastrointestinal, infeksi kulit, diabetes, hipertensi, migraine, sakit kepala,
hipotiroid dan kanker. Pasien dengan bipolar lebih jarang mendapatkan
penanganan medis dibanding orang dengan gangguan mental. Penyalahgunaan
zat, termasuk merokok, alkohol, dan penyalahgunaan obat, juga berkontribusi
untuk masalah penyakit ini, termasuk mengurangi akses kepada penanganan
medis. Pengobatan untuk bipolar bisa meningkatkan resiko untuk masalah medis.
8
Diabetes didiagnosa hampir 3x lebih sering pada orang dengan bipolar dibanding
pada populasi umum. Banyak pasien dengan biporal mengalami overweight,
dengan 25%-nya berkriteria obesitas. Mengalami overweight merupakan faktor
resiko besar untuk diabetes. Obat yang digunakan untuk menangani bipolar bisa
25

juga menyebabkan kenaikan berat badan dan diabetes. Factor genetik dalam
diabetes dan bipolar dapat menyebabkan gangguan yang jarang seperti wolfram
syndrome dan masalah lainnya yang terkait metabolisme karbohidrat.
3,8
Hipertensi. Pasien dengan bipolar dapat beresiko tinggi untuk hipertensi
dibanding pasien tanpa bipolar. Tingginya prevalensi dari hipertensi diantara
pasien dengan bipolar juga memperbesar resiko untuk penyakit dan kematian
akibat kondisi yang berkaitan dengan jantung.
3,8

Migraine. Migraine merupakan masalah umum pada pasien dengan gangguan
mental, tapi lebih sering terjadi pada gangguan bipolar II. Pasien dengan bipolar II
menderita dari migraine lebih sering dibanding pasien bipolar I, diperkirakan
bahwa berbagai faktor biologis dapat terlibat dengan berbagai bentuk bipolar.
3,8

Hipotiroid. Hipotiroid merupakan efek samping yang sering terjadi pada lithium,
penanganan standar untuk bipolar. Namun, bukti juga menyatakan bahwa pasien,
terutama wanita, memiliki resiko lebih besar untuk memiliki kadar tiroid rendah
terlepas dari obat apa yang digunakan. Hipotiroidism dapat menjadi faktor resiko
untuk bipolar pada beberapa pasien.
3,8
Beban ekonomi. Beban ekonomi pada bipolar sangat signifikan. Diperkirakan
bahwa gangguan tersebut menimbulkan kerugian pada sector industry di US
sebesar 14,1 miliar dollar per tahun akibat hilangnya produktivitas, sebagian besar
akibat rendahnya fungsi kerja. Berdasarkan studi pada tahun 2006 yang disponsori
US National Institute of Mental Health, bipolar 2x lebih besar menimbulkan
hilangnya produktivitas sebagai Major Depressive Disorder (MDD). Walau
nyatanya MDD lebih sering terjadi. Setiap pekerja dengan bipolar kehilangan 66
hari kerja setahun dibandingkan 27 hari kerja setahun orang dengan MDD.
Penelitian memperlihatkan episode depresi pada bipolar lebih merusak
produktivitas dibanding episode manik.
3,8

Peran dokter umum dalam penanganan gangguan bipolar
Dokter umum saat ini dituntun untuk melihat pasien sebagai mahluk
biopsikososial sehingga dalam memberi penanganan dan pelayanan kesehatan
dokter tidak hanya mengobati gangguan fisik pasien saja melainan juga melihat
26

masalah atau gangguan pada psikologis dan masalah sosial yang mungkin
mempengaruhi pasien. Sesuai dengan Standar Kompetensi Dokter Indonesia
(SKDI) tugas dokter umum dalam peran menangani gangguan afektif bipolar
adalah mendeteksi gangguan afektif tersebut. Sebagai lini pertama dalam
pemberian pelayanan kesehatan dokter umum dan puskesmas akan menjadi yang
pertama dalam menangani gangguan afektif karena pada umumnya tidak semua
orang peka terhadap adanya gangguan afektif. Gangguan afektif bipolar dengan
episode manik apalagi disertai dengan gejala psikotik sering disalahartikan
dengan gejala skizofrenia. Pada lini inilah seorang dokter umum bertugas
mendeteksi apakah sesorang menderita gejala bipolar. Tugas dokter umum sesuai
dengan SKDI termasuk dalam mampu membuat diagnosis klinik berdasarkan
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan- pemeriksaan tambahan yang diminta oleh
dokter (misalnya : pemeriksaan laboratorium sederhana atau X-ray). Dokter dapat
memutuskan dan memberi terapi pendahuluan, serta merujuk ke spesialis yang
relevan baik dalam keadaan darurat pada episode manik gangguan bipolar dan
dalam keadaan tidak darurat pada episode depresi gangguan bipolar. Dokter
umum dan puskesmas dapat menjadi yang pertama mendeteksi gangguan afektif,
selain itu dokter umum dan puskesmas dapat memberikan pengobatan
pendahuluan seperti pemberian obat antipsikotik atau mood stabilizer yang
tersedia, dokter umum diharusnya dapat memahami gejala dan membuat diagnosis
gangguan bipolar dan dapat membuat rujukan pada psikiatri untuk penanganan
lebih lanjut.
8,9
Selain pada pemberian obat dokter umum dan puskesmas sebagai lini
pertama dapat memberikan informasi mengenai gangguan ini, hingga saat ini di
Indonesia paradigma masyarakat terhadap pasien gangguan jiwa masih buruk,
tidak jarang pandangan dan paradigma masyarakat terhadap pasien gangguan jiwa
menjadikan sering terjadinya pemasungan terhadap pasien. Dokter puskesmas dan
dokter umum dapat berperan sebagai pemberi informasi dan mediator dengan
tokoh masyarakat lainnya untuk menyebarluarkan informasi yang benar mengenai
gangguan jiwa terutama dalam hal ini gangguan afektif bipolar sehingga
masyarakat dapat lebih meyadari dan mengetahui keadaan serta mengenali gejala
27

sehingga pasien-pasien gangguan jiwa dapat ditolong dan mendapatkan
penanganan yang tepat sedini mungkin dan mengurangi sikap yang memusuhi
apalagi memasung pasien dengan gangguan jiwa.
8,9


28

DAFTAR PUSTAKA
1. http://www.scribd.com/doc/89685983/Psikoneurologi-Dan-Terapi-Pada-Gangguan-
Afektif-Bipolar#download di akses tanggal 23 Agustus 2014.
2. Bipolar Disorder. www.medicine.net. Di akses tanggal 18 Maret 2014.
3. Mengenali Gangguan Bipolar. www.medicastore.com. Diakses tanggal 18
Maret 2014
4. https://www.academia.edu/4837823/Refrat_bipolar di akses tanggal 23 Agustus
2014
5. Kaplan HI, Sadock BJ, Grebb JA. Kaplan-sadock sinopsis psikiatri: ilmu pengetahuan
perilaku psikiatri klinis. Jilid satu. Jakarta: Binarupa Aksara; 2010.hlm.791-853.
6. PDSKJI. Panduan Tatalaksana Gangguan Bipolar. 2010. (Di akses tanggal 18
Maret 2014). Available from URL : http://www.pdskji.org/wp-
content/uploads/file%20tatalaksana%20GBPDSKJI.pdf
7. http://emedicine.medscape.com/article/913464-clinical di unduh tanggal 18 Maret
2013
8. Soreff S, Ahmed I. Bipolar affective disorder. 22 April 2013. Diunduh dari
emedicine.medscape.com, 24 April 2013.