1

BAB I
PENDAHULUAN

Paru mempunyai fungsi utama untuk melakukan pertukaran gas, yaitu
mengambil O
2
dari udara luar dan mengeluarkan CO
2
dari badan ke udara luar.
Bilamana paru berfungsi secara normal, tekanan parsial O
2
dan CO
2
di dalam
darah akan dipertahankan seimbang, sesuai dengan kebutuhan tubuh. Pemeriksaan
analisis gas darah merupakan pemeriksaan laboratorium yang penting sekali di
dalam penatalaksanaan penderita akut maupun kronis, terutama penderita penyakit
paru. Pemeriksaan analisis gas darah penting baik untuk menegakkan diagnosis,
menentukan terapi, maupun untuk mengikuti perjalanan penyakit setelah
mendapat terapi. Sama halnya dengan pemeriksaan EKG pada penderita jantung
dan pemeriksaan gula darah penderita diabetes millitus. Dengan majunya ilmu
pengetahuan, terutama setelah ditemukan alat astrup, tekanan parsial O
2
dan CO
2

serta pH darah dapat diukur dengan mudah.
Pemeriksaan gas darah dan pH digunakan sebagai pegangan dalam
penanganan pasien-pasian penyakit berat dan menahun. Pemeriksaan analisa gas
darah dikenal juga pemeriksaan ASTRUP yaitu suatu pemeriksaan gas darah yang
dilakukan melalui darah arteri. Gas darah arteri memungkinkan untuk pengukuran
pH (dan juga keseimbagan asam basa), oksigenasi, kadar karbondioksida, kadar
biokarbonat, saturasi oksigen, dan kelebihan atau kekurangan basa. Pemeriksaan
gas darah arteri dan pH sudah secara luas digunakan sebagai pegangan dalam
penatalaksanaan pasien-pasien penyakit berat yang akut dan menahun.
Pemeriksaan gas darah juga dapat menggambarkan hasil berbagai tindakan
penunjang yang dilakukan, tetapi kita tidak dapat menegakkan suatu diagnosa
hanya dari penelitian analisa gas darah dan keseimbangan asam-basa saja, kita
harus menghubungkan dengan riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, dan data-data
laboratorium lainnya.


2

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Analisis Gas Darah
Pemeriksaan analisis gas darah merupakan pemeriksaan laboratorium yang
penting sekali di dalam penatalaksanaan penderita akut maupun kronis, terutama
penderita penyakit paru. Pemeriksaan analisis gas darah penting baik untuk
menegakkan diagnosis, menentukan terapi, maupun untuk mengikuti perjalanan
penyakit setelah mendapat terapi. Sama halnya dengan pemeriksaan EKG pada
penderita jantung dan pemeriksaan gula darah penderita diabetes millitus. Dengan
majunya ilmu pengetahuan, terutama setelah ditemukan alat astrup, tekanan
parsial O
2
dan CO
2
serta pH darah dapat diukur dengan mudah.
Analisa Gas Darah (AGD) atau sering disebut Blood Gas Analisa (BGA)
merupakan pemeriksaan penting untuk penderita sakit kritis yang bertujuan untuk
mengetahui atau mengevaluasi pertukaran Oksigen (O2),Karbondiosida (CO2)
dan status asam-basa dalam darah arteri.
Analisa gas darah (AGD) atau BGA (Blood Gas Analysis) biasanya
dilakukan untuk mengkaji gangguan keseimbangan asam-basa yang disebabkan
oleh gangguan pernafasan dan/atau gangguan metabolik. Komponen dasar AGD
mencakup pH, PaCO2, PaO2, SO2, HCO3 dan BE (base excesses/kelebihan
basa).
Pemeriksaan gas darah dipakai untuk menilai : ―Keseimbangan asam basa
dalam tubuh, Kadar oksigenasi dalam darah, Kadar karbondioksida dalam
darah”. Analisa gas darah adalah salah tindakan pemeriksaan laboratorium yang
ditujukan ketika dibutuhkan informasi yang berhubungan dengan keseimbangan
asam basa pasien (Wilson, 1999).
Hal ini berhubungan untuk mengetahui keseimbangan asam basa tubuh
yang dikontrol melalui tiga mekanisme, yaitu sistem buffer, sistem respiratori,
dan sistem renal (Wilson, 1999). Pemeriksaan analisa gas darah dikenal juga
dengan nama pemeriksaan “ASTRUP”, yaitu suatu pemeriksaan gas darah yang
dilakukan melalui darah arteri.
3

B. Tujuan dan Manfaat Pemeriksaan AGD
Sebuah analisis ABG mengevaluasi seberapa efektif paru-paru yang
memberikan oksigen ke darah . Tes ini juga menunjukkan seberapa baik paru-paru
dan ginjal yang berinteraksi untuk menjaga pH darah normal (keseimbangan
asam-basa). Peneliatian ini biasanya dilakukan untuk menilai penyakit khususnya
pernapasan dan kondisi lain yang dapat mempengaruhi paru-paru, dan sebagai
pengelolaan pasien untuk terapi oksigen (terapi pernapasan). Selain itu, komponen
asam-basa dari uji tes dapat memberikan informasi tentang fungsi ginjal.Adapun
tujuan lain dari dilakukannya pemeriksaan analisa gas darah,yaitu :
1. Menilai fungsi respirasi (ventilasi)
2. Menilai kapasitas oksigenasi
3. Menilai keseimbangan asam-basa
4. Mengetahui keadaan O2 dan metabolisme sel
5. Efisiensi pertukaran O2 dan CO2.
6. Untuk mengetahui kadar CO
2
dalam tubuh
7. Memperoleh darah arterial untuk analisa gas darah atau test diagnostik
yang lain.
Adapun manfaat pada pemeriksaan analisa gas darah yaitu untuk
menegakkan diagnosis, menentukan terapi, maupun untuk mengikuti perjalanan
penyakit setelah mendapat terapi,serta mengkaji gangguan keseimbangan asam-
basa yang disebabkan oleh gangguan pernafasan dan/atau gangguan metabolic
dalam tubuh.
1. Analisis gas darah digunakan untuk diagnosa dan pengelolaan :
 Penyakit pernafasan
 Pemberian oksigen
 Kadar oksigenasi dalam darah
 Kadar CO2
 Keseimbangan asam-basa
 Ventilasi

4

2. Pemilihan bagian analisa gas darah :
a. Kriteria tergantung pada :
 Ada tidaknya sirkulasi koleteral
 Seberapa besar arteri
 Jenis jaringan yang mengelilingnya
b. Bagian-bagian yang tidak boleh dipilih :
 Adanya peradangan
 Adanya iritasi
 Adanya edema
 Dekat dengan luka
 Percabangan arteri dengan fistula
AGD tidak perlu dilakukan apabila:
1. Hasil tidak akan memberikan pengaruh pada tindakan medis selanjutnya
2. Mengikuti prosedurpemeriksaan yang ada, bukan karena adanya indikasi
3. Masih terdapat cara lain yang lebih mudah untuk mendapatkan hasil yang
diinginkan
4. Komplikasi yang timbul >>daripada hasil AGD yang diharapkan

Analisa gas darah memiliki tujuan sebagai berikut (McCann, 2004):
1. Mengetahui keseimbangan asam dan basa dalam tubuh.
2. Mengevaluasi ventilasi melalui pengukuran pH, tekanan parsial oksigen
arteri (PaO
2
), dan tekanan parsial karbon dioksida (PaCO
2
).
3. Mengetahui jumlah oksigen yang diedarkan oleh paru-paru melalui darah
yang ditunjukkan melalui PaO2.
4. Mengetahui kapasitas paru-paru dalam mengeliminasikan karbon dioksida
yang ditunjukkan oleh PaCO
2
.
5. Menganalisa isi oksigen dan pemenuhannya, serta untuk mengetahui jumlah
bikarbonat.


5

C. Alat dan Bahan Pemeriksaan AGD
Alat dan bahan yang digunakan dalam melakukan analisa gas darah meliputi
(McCann, 2004):
1. 3 ml sampai 5 ml gelas syringe,
2. 1 ml ampul heparin aqueous,
3. 20 G 11/4‖ jarum,
4. 22 G 1‖ jarum,
5. Sarung tangan,
6. Alkohol atau povidone-iondine pad,
7. Gauze pads,
8. Topi karet untuk syringe hub atau penutup karet untuk jarum,
9. Label,
10. Ice-filled plastic bag,
11. Laporan permintaan laboratorium,
12. Perekat balutan, dan
13. Opsional: 1% licoaine solution, atau
14. Peralatan siap AGD.


Prosedur Alat dan Bahan Analisa Gas Darah
a. Persiapan Alat
Persiapan Alat Pengambilan Darah Vena
Pengambilan Darah Vena dengan Syring
 Syring
 Kapas Alkohol 70%
 Torniquet
 Plester
 Tabung
Gambar 1
Gambar 2
6

Pengambilan Darah Vena Dengan Tabung Vakum
 Jarum
 Kapas alkohol 70%
 Tali pembendung (turniket)
 Plester
 Tabung vakum
Persiapan Alat Pengambilan Darah Kapiler
 Lanset
 Kapas Alkohol 70%
 Povidone iodium 10%
 Tabung
Persiapan Alat Pengambilan Darah Arteri
 Torniquet
 Kapas Alkohol 70%
 Spuit
 Tabung
 Handscoon

b. Persiapan Pasien :
 Memberikan penjelasan pada klien (bila mungkin) dan keluarga mengenai
tujuan pengambilan darah dan prosedur yang akan dilakukan.
 Jelaskan bahwa dalam prosedur pengambilan akan menimbulkan rasa sakit
 Jelaskan komplikasi yang mungkin timbul
 Jelaskan tentang allen’s test
 Mengatur posisi pasien


7

D. Pengambilan Sample AGD
Anatomi daerah yang menjadi target sampel tindakan analisa gas darah adalah
sebagai berikut:
1. Arteri radial
Arteri radial merupakan kelanjutan dari brakhial, tetapi lebih kecil
dibandingkan dengan ulnar. Arteri radial dimulai di percabangan brakhial,
dibawah lekukan dari siku dan melewati sisi radial dari bagian depan lengan ke
pergelangan tangan. Lalu ke daerah belakang, sekitar sisi lateral carpus, dibawah
tendon abductor pollicis longus, extensors pollicis, dan brevis ke ruang bagian
atas diantara tulang metakarpal ibu jari dan jari telunjuk.

Terakhir, arteri radial melewati diantara dua kepala pertama interosseous
dorsalis, ke dalam telapak tangan, dimana arteri radial menyeberangi tulang
metakarpal dan sisi ulnar tangan dengan deep volar branch dari arteri ulnar ke
deep volar arch. Hal inilah yang menyebabkan arteri radial terdiri dari tiga porsi,
yaitu forearm, belakang pergelangan tangan, dan tangan.







Pengambilan darah arteri umumnya menggunakan arteri radialis di daerah
pergelangan tangan. Jika tidak memungkinkan dapat dipilih arteri brachialis di
daerah lengan atau arteri femoralis di lipat paha. Pengambilan darah harus
dilakukan dengan hati-hati dan oleh tenaga terlatih.Sampel darah arteri umumnya
Gambar 3 Arteri Radialis
8

digunakan untuk pemeriksaan analisa gas darah. Arteri radialis Yaitu arteri yang
berada di pergelangan tangan pada posisi ibu jari.
a. Terdapat sirkulasi kolateral (suplai darah dari beberapa arteri).
b. Bila terjadi kerusakan RA pada saat pengambilan, ulnar arteri akan
mensuplai darah ke tangan. Padahal ulnar arteri tidak boleh digunakan
untuk ABG.
c. Bila tidak ditemukan sirkulasi korateral, RA tidak boleh digunakan.
d. Hematoma pada RA jarang terjadi karena adanya tekanan diatas ligamen
dan tulang pada pergelangan.
e. Kesulitan :
 Ukuran arteri kecil
 Sulit diperoleh kondisi pasien dengan curah jantung yang rendah.

2. Arteri brachial
Arteri brankhial dimulai dari batas bawah tendon pada teres major dan
menurun kebawah lengan, dan berakhir sekitar 1 cm dibawah lekukan siku
dimana dibagi menjadi arteri radial dan arteri ulnar. Pertama, arteri brakhial
terletak dari medial ke humerus, tetapi ketika arteri brachial menuju lengan secara
perlahan menuju atau terletak di depan tulang dan lekukan siku yang terletak
diantara dua epicondyles








Gambar 4 Arteri Brachialis
9


3. Arteri femoral
Arteri femoral merupakan arteri yang melewati cukup dekat dengan
permukaan atas, dibagi ke dalam cabang yang kecil untuk menyediakan darah ke
otot dan jaringan superficial di daerah paha. Arteri femoral juga menyuplai kulit
dan dinding abdominal bawah. Cabang arteri femoral yang penting meliputi:
a. arteri superficial circumflex iliac, arteri ke lymph nodes dan kulit;
b. arteri superficial epigastric ke dinding kulit abdominal;
c. arteri superficial dan arteri eksternal pudenal ke kulit abdomen bawah
dan eksternal genital;
d. arteri profunda, yang merupakan cabang paling besar pada arteri femoral
dan menyuplai sendi paha dan berbagai otot di paha;
e. arteri deep genicular ke bagian paling jauh pada otot paha dan
menghubungkan jaringan impuls sekitar sendi lutut








Arteri yang paling besar untuk ABG. Berada pada permukaan paha bagian dalam,
disebelah lateral tulang pubis.
a. Dapat dilakukan ABG sekalipun pasien dengan curah jantung yang
rendah.
Gambar 5 Arteri Femoralis
10

b. FA hanya digunakan dalam kondisi gawat darurat atau sulit mendapat
arteri lain.
c. Kesulitan :
 Sirkulasi koleteral sedikit sehingga mudah terjadi infeksi pada tempat
pengambilan
 Sulit untuk aseptis
 Pada orang tua, gangguan dinding arteri sebelah dalam
 Letaknya dekat dengan vena paha.
4. Arteri tibialis posterior dan arteri doralis pedis
5. Bagian arteri lainnya
 Pada bayi : arteri kulit kepala, arteri tali pusat
 Pada orang dewasa : arteri dorsal pedis

Bagian-bagian ini tidak boleh diambil oleh phlebotomis. Arteri femoralis
atau brakialis sebaiknya tidak digunakan jika masih ada alternatif lain, karena
tidak mempunyai sirkulasi kolateral yang cukup untuk mengatasi bila terjadi
spasme atau trombosis. Sedangkan arteri temporalis atau axillaris sebaiknya tidak
digunakan karena adanya risiko emboli otak.
Sampel darah untuk pemeriksaan Analisa Gas Darah dapat dilakukan
pada arteri radialis, arteri tibialis posterior, arteri dorsalis pedis, dan lain-lain.
Arteri femoralis atau brakialis sebaiknya tidak digunakan jika masih ada alternatif
lain, karena tidak mempunyai sirkulasi kolateral yang cukup untuk mengatasi bila
terjadi spasme atau trombosis. Sedangkan arteri temporalis atau axillaris
sebaiknya tidak digunakan karena adanya risiko emboli. Korelasi nilai sampel
darah arteri dan kapiler bervariasi, baik untuk pH dan PCO2, tapi jelek untuk
PaO2. Beberapa faktor yang mempengaruhi hasil pemeriksaan analisa gas darah:
 Gelembung udara
 Tekanan
11

Oksigen udara adalah 158 mmHg. Jika terdapat udara dalam sampel darah
maka ia cenderung menyamakan tekanan sehingga bila tekanan oksigen sampel
darah kurang dari 158 mmHg, maka hasilnya akan meningkat.
Dalam kegiatan pengumpulan sampel darah dikenal istilah
phlebotomy yang berarti proses mengeluarkan darah. Dalam praktek laboratorium
klinik, ada 3 macam cara memperoleh darah, yaitu : melalui tusukan vena
(venipuncture), tusukan kulit (skinpuncture) dan tusukan arteri atau nadi.
Venipuncture adalah cara yang paling umum dilakukan, oleh karena itu istilah
phlebotomy sering dikaitkan dengan venipuncture.

Pengumpulan Sampel Darah
Dalam kegiatan pengumpulan sampel darah dikenal istilah
phlebotomy yang berarti proses mengeluarkan darah. Dalam praktek laboratorium
klinik, ada 3 macam cara memperoleh darah, yaitu : melalui tusukan vena
(venipuncture), tusukan kulit (skinpuncture) dan tusukan arteri atau nadi.
Venipuncture adalah cara yang paling umum dilakukan, oleh karena itu istilah
phlebotomy sering dikaitkan dengan venipuncture.

Pengambilan Darah Vena
Pada pengambilan darah vena (venipuncture), contoh darah umumnya
diambil dari vena median cubital, pada anterior lengan (sisi dalam lipatan siku).
Vena ini terletak dekat dengan permukaan kulit, cukup besar, dan tidak ada
pasokan saraf besar. Apabila tidak memungkinkan, vena chepalica atau
vena basilica bisa menjadi pilihan berikutnya. Venipuncture pada vena basilica
harus dilakukan dengan hati-hati karena letaknya berdekatan dengan
arteri brachialis dan syaraf median.
Jika vena cephalica dan basilica ternyata tidak bisa digunakan, maka
pengambilan darah dapat dilakukan di vena di daerah pergelangan tangan.
12

Lakukan pengambilan dengan dengan sangat hati-hati dan menggunakan jarum
yang ukurannya lebih kecil.
Lokasi yang tidak diperbolehkan diambil darah adalah :
 Lengan pada sisi mastectomy
 Daerah edema
 Hematoma
 Daerah dimana darah sedang ditransfusikan
 Daerah bekas luka
 Daerah dengan cannula, fistula atau cangkokan vascular
 Daerah intra-vena lines Pengambilan darah di daerah ini dapat
menyebabkan darah menjadi lebih encer dan dapat meningkatkan atau
menurunkan kadar zat tertentu.
Ada dua cara dalam pengambilan darah vena, yaitu cara manual dan cara
vakum. Cara manual dilakukan dengan menggunakan alat suntik (syring),
sedangkan cara vakum dengan menggunakan tabung vakum (vacutainer).
Beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam pengambilan darah vena
adalah :
a. Pemasangan turniket (tali pembendung)
 Pemasangan dalam waktu lama dan terlalu keras dapat menyebabkan
hemokonsentrasi (peningkatan nilai hematokrit/PCV dan elemen sel),
peningkatan kadar substrat (protein total, AST, besi, kolesterol, lipid
total)
 Melepas turniket sesudah jarum dilepas dapat menyebabkan hematoma
 Jarum dilepaskan sebelum tabung vakum terisi penuh sehingga
mengakibatkan masukknya udara ke dalam tabung dan merusak sel
darah merah.


13

b. Penusukan
 Penusukan yang tidak sekali kena menyebabkan masuknya cairan
jaringan sehingga dapat mengaktifkan pembekuan. Di samping itu,
penusukan yang berkali-kali juga berpotensi menyebabkan hematoma.
 Tutukan jarum yang tidak tepat benar masuk ke dalam vena
menyebabkan darah bocor dengan akibat hematoma
 Kulit yang ditusuk masih basah oleh alkohol menyebabkan hemolisis
sampel akibat kontaminasi oleh alcohol, rasa terbakar dan rasa nyeri
yang berlebihan pada pasien ketika dilakukan penusukan

E. Indikasi dan Kontraindikasi AGD
1. Indikasi AGD
Indikasi tindakan analisa gas darah adalah sebagai berikut (McCann,
2004):
a. Tindakan analisa gas darah ditujukan pada pasien dengan sebagai
berikut:
 Obstruktif kronik pulmonari,
 Edema pulmonari,
 Sindrom distres respiratori akut,
 Infark myocardial,
 Pneumonia.
b. Tindakan ini juga diberikan pada pasien yang sedang mengalami syok
dan setelah menjalani pembedahan bypass arteri koronaria.
c. Pasien yang mengalami resusitasi dari penyumbatan atau penghambatan
kardiak.
d. Pasien yang mengalami perubahan dalam status pernapasan dan terapi
pernapasan, serta anesthesia.


14

2. Kontraindikasi AGD
Kontra indikasi pada tindakan analisa gas darah, yaitu (Potter & Perry,
2006): Pada pasien yang daerah arterialnya mengalami:
a. Amputasi,
b. Contractures,
c. Infeksi,
d. Dibalut dan cast,
e. Mastektomi, serta
f. Arteriovenous shunts.

F. Prosedur Kerja AGD
Protocol atau Prosedur Tindakan
Prosedur pada tindakan analisa gas darah ini adalah sebagai berikut (McCann,
2004):
1. Siapkan peralatan dan bahan yang dibutuhkan sebelum memasuki ruangan
pasien.
2. Cuci tangan dengan menggunakan tujuh langkah benar.
3. Bila menggunakan peralatan AGD yang sudah siap, buka peralatan tersebut
serta pindahkan label contoh dan tas plastik (plastic bag).
4. Catat label nama pasien, nomor ruangan, temperatur suhu pasien, tanggal
dan waktu pengambilan, metode pemberian oksigen, dan nama perawat
yang bertugas pada tindakan tersebut.
5. Beritahu pasien alasan dalam melakukan tindakan tersebut dan jelaskan
prosedur ke pasien untuk membantu mengurangi kecemasan dan
meningkatkan kooperatif pasien dalam melancarkan tindakan tersebut.
6. Cuci tangan dan setelah itu gunakan sarung tangan.


15

7. Lakukan pengkajian melalui metode tes Allen.
Cara allen’s test
Minta klien untuk mengepalkan tangan dengan kuat, berikan tekanan
langsung pada arteri radialis dan ulnaris, minta klien untuk membuka
tangannya, lepaskan tekanan pada arteri, observasi warna jari-jari, ibu jari
dan tangan. Jari-jari dan tangan harus memerah dalam 15 detik, warna
merah menunjukkan test allen’s positif. Apabila tekanan dilepas, tangan
tetap pucat, menunjukkan test allen’s negatif. Jika pemeriksaan negatif,
hindarkan tangan tersebut dan periksa tangan yang lain.
8. Bersihkan daerah yang akan di injeksi dengan alkohol atau povidoneiodine
pad.
9. Gunakan gerakan memutar (circular) dalam membersihkan area injeksi,
dimulai dengan bagian tengah lalu ke bagian luar.
10. Palpasi arterti dengan jari telunjuk dan tengah satu tangan ketika tangan
satunya lagi memegang syringe.
11. Pegang alat pengukur sudut jarum hingga menunjukkan 30-45 derajat.
Ketika area injeksi arteri brankhial, posisikan jarum 60 derajat.
12. Injeksi kulit dan dinding arterial dalam satu kali langkah.
13. Perhatikan untuk blood backflow di syringe.
14. Setelah mengambil contoh, tekan gauze pad pada area injeksi hingga
pedarahan berhenti yaitu sekitar 5 menit.
15. Periksa syringe dari gelembung udara. Jika muncul gelembung udara,
pindahkan gelembung tersebut dengan memegang syringe ke atas dan secara
perlahan mengeluarkan beberapa darah ke gauze pad.
16. Masukan jarum ke dalam penutup jarum atau pindahkan jarum dan
tempatkan tutup jarum pada jarum yang telah digunakan tersebut.
17. Letakkan label pada sampel yang diambil yang sudah diletakkan pada ice-
filled plastic bag.
18. Ketika pedarahan berhenti, area yang di injeksi diberikan balutan kecil dan
direkatkan.
16

19. Pantau tanda vital pasien, dan observasi tanda dari sirkulasi. Pantau atau
perhatikan risiko adanya pedarahan di area injeksi
Analisa gas darah dilakukan pada darah dari arteri. Ini meruapakan
pengukuran tekanan parsial oksigen dan karbon dioksida dalam darah, serta
kandungan oksigen, saturasi oksigen, konten bikarbonat, dan pH darah.Oksigen di
paru-paru dilakukan pada jaringan melalui aliran darah, tetapi hanya sejumlah
kecil oksigen ini benar-benar dapat larut dalam darah arteri. Berapa banyak
melarutkan tergantung pada tekanan parsial oksigen (tekanan bahwa gas
diberikannya pada dinding arteri). Oleh karena itu, pengujian tekanan parsial
oksigen sebenarnya adalah mengukur berapa banyak oksigen yang memberikan
paru-paru ke dalam darah. Karbon dioksida dilepaskan ke dalam darah sebagai
produk sampingan dari metabolisme sel. Tekanan parsial karbon dioksida
menunjukkan seberapa baik paru-paru menghilangkan karbon dioksida.
Sisa oksigen yang tidak terlarut dalam darah tergabung dengan
hemoglobin, suatu senyawa protein-besi yang ditemukan dalam sel-sel darah
merah. Pengukuran dalam kandungan oksigen dalam analisis ABG menunjukkan
berapa banyak oksigen dikombinasikan dengan hemoglobin.
Karbon dioksida lebih mudah larut dalam darah dibanding oksigen ,
terutama membentuk jumlah bikarbonat dan lebih kecil dari asam karbonat.
Ketika hadir dalam jumlah normal, rasio asam karbonat untuk bikarbonat
menciptakan keseimbangan asam-basa dalam darah, membantu menjaga pH pada
tingkat di mana fungsi sel tubuh yang paling efisien. Paru-paru dan ginjal baik
berpartisipasi dalam mempertahankan keseimbangan asam-karbonat bikarbonat.
Paru-paru mengontrol tingkat asam karbonat dan bikarbonat di atur oleh ginjal





17

1) Prosedur Pengambilan Darah Vena

Pengambilan Darah Vena dengan Syring
Pengambilan darah vena secara manual dengan alat suntik (syring)
merupakan cara yang masih lazim dilakukan di berbagai laboratorium klinik dan
tempat-tempat pelayanan kesehatan. Alat suntik ini adalah sebuah pompa piston
sederhana yang terdiri dari sebuah sebuah tabung silinder, pendorong, dan jarum.
Berbagai ukuran jarum yang sering dipergunakan mulai dari ukuran terbesar
sampai dengan terkecil adalah : 21G, 22G, 23G, 24G dan 25G.
Pengambilan darah dengan suntikan ini baik dilakukan pada pasien usia
lanjut dan pasien dengan vena yang tidak dapat diandalkan (rapuh atau kecil).
Prosedur :
 Persiapkan alat-alat yang diperlukan : Untuk pemilihan syring, pilihlah
ukuran/volume sesuai dengan jumlah sampel yang akan diambil, pilih
ukuran jarum yang sesuai, dan pastikan jarum terpasang dengan erat.
 Lakukan pendekatan pasien dengan tenang dan ramah; usahakan pasien
senyaman mungkin.
 Identifikasi pasien dengan benar sesuai dengan data di lembar permintaan.
 Verifikasi keadaan pasien, misalnya puasa atau konsumsi obat. Catat bila
pasien minum obat tertentu, tidak puasa dsb.
 Minta pasien meluruskan lengannya, pilih lengan yang banyak melakukan
aktifitas.
 Minta pasien mengepalkan tangan.
 Pasang tali pembendung (turniket) kira-kira 10 cm di atas lipat siku.
 Pilih bagian vena median cubital atau cephalic. Lakukan perabaan (palpasi)
untuk memastikan posisi vena; vena teraba seperti sebuah pipa kecil, elastis
dan memiliki dinding tebal. Jika vena tidak teraba, lakukan pengurutan dari
arah pergelangan ke siku, atau kompres hangat selama 5 menit daerah
lengan.
18

 Bersihkan kulit pada bagian yang akan diambil dengan kapas alcohol 70%
dan biarkan kering. Kulit yang sudah dibersihkan jangan dipegang lagi.
 Tusuk bagian vena dengan posisi lubang jarum menghadap ke atas. Jika
jarum telah masuk ke dalam vena, akan terlihat darah masuk ke dalam
semprit (dinamakan flash). Usahakan sekali tusuk kena.
 Setelah volume darah dianggap cukup, lepas turniket dan minta pasien
membuka kepalan tangannya. Volume darah yang diambil kira-kira 3 kali
jumlah serum atau plasma yang diperlukan untuk pemeriksaan.
 Letakkan kapas di tempat suntikan lalu segera lepaskan/tarik jarum. Tekan
kapas beberapa sat lalu plester selama kira-kira 15 menit. Jangan menarik
jarum sebelum turniket dibuka.

Pengambilan Darah Vena Dengan Tabung Vakum
Tabung vakum pertama kali dipasarkan oleh perusahaan AS BD (Becton-
Dickinson) di bawah nama dagang Vacutainer. Jenis tabung ini berupa tabung
reaksi yang hampa udara, terbuat dari kaca atau plastik. Ketika tabung dilekatkan
pada jarum, darah akan mengalir masuk ke dalam tabung dan berhenti mengalir
ketika sejumlah volume tertentu telah tercapai.
Jarum yang digunakan terdiri dari dua buah jarum yang dihubungkan oleh
sambungan berulir. Jarum pada sisi anterior digunakan untuk menusuk vena dan
jarum pada sisi posterior ditancapkan pada tabung. Jarum posterior diselubungi
oleh bahan dari karet sehingga dapat mencegah darah dari pasien mengalir keluar.
Sambungan berulir berfungsi untuk melekatkan jarum pada sebuah holder dan
memudahkan pada saat mendorong tabung menancap pada jarum posterior.
Keuntungan menggunakan metode pengambilan ini adalah, tak perlu
membagi-bagi sampel darah ke dalam beberapa tabung. Cukup sekali penusukan,
dapat digunakan untuk beberapa tabung secara bergantian sesuai dengan jenis tes
yang diperlukan. Untuk keperluan tes biakan kuman, cara ini juga lebih bagus
karena darah pasien langsung dapat mengalir masuk ke dalam tabung yang berisi
19

media biakan kuman. Jadi, kemungkinan kontaminasi selama pemindahan sampel
pada pengambilan dengan cara manual dapat dihindari.
Kekurangannya sulitnya pengambilan pada orang tua, anak kecil, bayi,
atau jika vena tidak bisa diandalkan (kecil, rapuh), atau jika pasien gemuk. Untuk
mengatasi hal ini mungkin bisa digunakan jarum bersayap (winged needle).
Jarum bersayap atau sering juga dinamakan jarum ―kupu-kupu‖ hampir
sama dengan jarum vakutainer seperti yang disebutkan di atas. Perbedaannya
adalah, antara jarum anterior dan posterior terdapat dua buah sayap plastik pada
pangkal jarum anterior dan selang yang menghubungkan jarum anterior dan
posterior. Jika penusukan tepat mengenai vena, darah akan kelihatan masuk pada
selang (flash).

Prosedur :
 Persiapkan alat-alat yang diperlukan
 Pasang jarum pada holder, pastikan terpasang erat.
 Lakukan pendekatan pasien dengan tenang dan ramah; usahakan pasien
senyaman mungkin.
 Identifikasi pasien dengan benar sesuai dengan data di lembar permintaan.
 Verifikasi keadaan pasien, misalnya puasa atau konsumsi obat. Catat bila
pasien minum obat tertentu, tidak puasa dsb.
 Minta pasien meluruskan lengannya, pilih lengan yang banyak melakukan
aktifitas.
 Minta pasien mengepalkan tangan.
 Pasang tali pembendung (turniket) kira-kira 10 cm di atas lipat siku.
 Pilih bagian vena median cubital atau cephalic. Lakukan perabaan (palpasi)
untuk memastikan posisi vena; vena teraba seperti sebuah pipa kecil, elastis
dan memiliki dinding tebal. Jika vena tidak teraba, lakukan pengurutan dari
arah pergelangan ke siku, atau kompres hangat selama 5 menit daerah
lengan.
20

 Bersihkan kulit pada bagian yang akan diambil dengan kapas alcohol 70%
dan biarkan kering. Kulit yang sudah dibersihkan jangan dipegang lagi.
 Tusuk bagian vena dengan posisi lubang jarum menghadap ke atas.
Masukkan tabung ke dalam holder dan dorong sehingga jarum bagian
posterior tertancap pada tabung, maka darah akan mengalir masuk ke dalam
tabung. Tunggu sampai darah berhenti mengalir. Jika memerlukan beberapa
tabung, setelah tabung pertama terisi, cabut dan ganti dengan tabung kedua,
begitu seterusnya.
 Lepas turniket dan minta pasien membuka kepalan tangannya. Volume
darah yang diambil kira-kira 3 kali jumlah serum atau plasma yang
diperlukan untuk pemeriksaan.
 Letakkan kapas di tempat suntikan lalu segera lepaskan/tarik jarum. Tekan
kapas beberapa sat lalu plester selama kira-kira 15 menit. Jangan menarik
jarum sebelum turniket dibuka.
Menampung Darah Dalam Tabung
Beberapa jenis tabung sampel darah yang digunakan dalam praktek
laboratorium klinik adalah sebagai berikut :
 Tabung tutup merah : Tabung ini tanpa penambahan zat additive, darah
akan menjadi beku dan serum dipisahkan dengsan pemusingan. Umumnya
digunakan untuk pemeriksaan kimia darah, imunologi, serologi dan bank
darah (crossmatching test)
 Tabung tutup kuning : Tabung ini berisi gel separator (serum separator
tube/SST) yang fungsinya memisahkan serum dan sel darah. Setelah
pemusingan, serum akan berada di bagian atas gel dan sel darah berada di
bawah gel. Umumnya digunakan untuk pemeriksaan kimia darah,
imunologi dan serologi
 Tabung tutup hijau terang : Tabung ini berisi gel separator (plasma
separator tube/PST) dengan antikoagulan lithium heparin. Setelah
pemusingan, plasma akan berada di bagian atas gel dan sel darah berada di
bawah gel. Umumnya digunakan untuk pemeriksaan kimia darah.
21

 Tabung tutup ungu atau lavender : Tabung ini berisi EDTA. Umumnya
digunakan untuk pemeriksaan darah lengkap dan bank darah (crossmatch)
 Tabung tutup biru : Tabung ini berisi natrium sitrat. Umumnya
digunakan untuk pemeriksaan koagulasi (mis. PPT, APTT)
 Tabung tutup hijau : Tabung ini berisi natrium atau lithium heparin,
umumnya digunakan untuk pemeriksaan fragilitas osmotik eritrosit, kimia
darah.
 Tabung tutup biru gelap : Tabung ini berisi EDTA yang bebas logam,
umumnya digunakan untuk pemeriksaan trace element (zink, copper,
mercury) dan toksikologi.
 Tabung tutup abu-abu terang : Tabung ini berisi natrium fluoride dan
kalium oksalat, digunakan untuk pemeriksaan glukosa.
 Tabung tutup hitam : berisi bufer sodium sitrat, digunakan untuk
pemeriksaan LED (ESR).
 Tabung tutup pink : berisi potassium EDTA, digunakan untuk
pemeriksaan imunohematologi.
 Tabung tutup putih : potassium EDTA, digunakan untuk pemeriksaan
molekuler/PCR dan bDNA.
 Tabung tutup kuning dengan warna hitam di bagian atas ; berisi media
biakan, digunakan untuk pemeriksaan mikrobiologi - aerob, anaerob dan
jamur
Beberapa hal penting dalam menampung sampel darah adalah :
 Darah dari syring atau suntikan harus dimasukkan ke dalam tabung dengan
cara melepas jarum lalu mengalirkan darah perlahan-lahan melalui dinding
tabung. Memasukkan darah dengan cara disemprotkan, apalagi tanpa
melepas jarum, berpotensi menyebabkan hemolisis. Memasukkan darah ke
dalam tabung vakum dengan cara menusukkan jarum pada tutup tabung,
biarkan darah mengalir sampai berhenti sendiri ketika volume telah
terpenuhi.
22

 Homogenisasi sampel jika menggunakan antikoagulan dengan cara
memutar-mutar tabung 4-5 kali atau membolak-balikkan tabung 5-10 kali
dengan lembut. Mengocok sampel berpotensi menyebabkan hemolisis.
 Urutan memasukkan sampel darah ke dalam tabung vakum adalah :
pertama - botol biakan (culture) darah atau tabung tutup kuning-hitam
kedua - tes koagulasi (tabung tutup biru), ketiga - tabung non additive
(tutup merah), keempat - tabung tutup merah atau kuning dengan gel
separator atau clot activator, tabung tutup ungu/lavendet (EDTA), tabung
tutup hijau (heparin), tabung tutup abu-abu (NaF dan Na oksalat).

2) Prosedur Pengambilan Darah Kapiler
 Siapkan peralatan sampling : lancet steril, kapas alcohol 70%.
 Pilih lokasi pengambilan lalu desinfeksi dengan kapas alkohol 70%,
biarkan kering.
 Peganglah bagian tersebut supaya tidak bergerak dan tekan sedikit supaya
rasa nyeri berkurang.
 Lakukan tindakan aseptik dengan povidone iodium 10%, biarkan sampai
mengering, lalu ulangi dengan alkohol 70%.

 Sterilkan lanset dalam alkohol 95%
 Tusuk dengan lancet steril. Tusukan harus dalam sehingga darah tidak
harus diperas-peras keluar. Jangan menusukkan lancet jika ujung jari
masih basah oleh alkohol. Hal ini bukan saja karena darah akan diencerkan
oleh alkohol, tetapi darah juga melebar di atas kulit sehingga susah
ditampung dalam wadah.
 Setelah darah keluar, buang tetes darah pertama dengan memakai kapas
kering, tetes berikutnya boleh dipakai untuk pemeriksaan.
 Pengambilan darah diusahakan tidak terlalu lama dan jangan diperas-peras
untuk mencegah terbentuknya jendalan.

23

3) Prosedur Pengambilan Darah Arteri
 Siapkan peralatan sampling di tempat/ruangan dimana akan dilakukan
sampling.
 Pilih bagian arteri radialis.
 Pasang tali pembendung (tourniquet) jika diperlukan.
 Lakukan palpasi (perabaan) dengan jari tangan untuk memastikan letak
arteri.
 Desinfeksi kulit yang akan ditusuk dengan kapas alkohol 70%, biarkan
kering. Kulit yang telah dibersihkan jangan dipegang lagi.
 Tekan bagian arteri yang akan ditusuk dengan dua jari tangan lalu
tusukkan jarum di samping bawah jari telunjuk dengan posisi jarum tegak
atau agak miring. Jika tusukan berhasil darah terlihat memasuki spuit dan
mendorong thorak ke atas.
 Setelah tercapai volume darah yang dikehendaki, lepaskan/tarik jarum dan
segera letakkan kapas pada tempat tusukan lalu tekan kapas kuat-kuat
selama ±2 menit. Pasang plester pada bagian ini selama ±15 menit.

Langkah-langkah untuk menilai gas darah:
 Pertama-tama perhatikan pH (jika menurun klien mengalami asidemia,
dengan dua sebab asidosis metabolik atau asidosis respiratorik; jika
meningkat klien mengalami alkalemia dengan dua sebab alkalosis metabolik
atau alkalosis respiratorik; ingatlah bahwa kompensasi ginjal dan pernafasan
jarang memulihkan pH kembali normal, sehingga jika ditemukan pH yang
normal meskipun ada perubahan dalam PaCO2 dan HCO3 mungkin ada
gangguan campuran).
 Perhatikan variable pernafasan (PaCO2 ) dan metabolik (HCO3) yang
berhubungan dengan pH untuk mencoba mengetahui apakah gangguan
primer bersifat respiratorik, metabolik atau campuran (PaCO2 normal,
meningkat atau menurun; HCO3 normal, meningkat atau menurun; pada
gangguan asam basa sederhana, PaCO2 dan HCO3 selalu berubah dalam
24

arah yang sama; penyimpangan dari HCO3 dan PaCO2 dalam arah yang
berlawanan menunjukkan adanya gangguan asam basa campuran).
 Langkah berikutnya mencakup menentukan apakah kompensasi telah terjadi
(hal ini dilakukan dengan melihat nilai selain gangguan primer, jika nilai
bergerak yang sama dengan nilai primer, kompensasi sedang berjalan).
 Buat penafsiran tahap akhir (gangguan asam basa sederhana, gangguan
asam basa campuran).
Beberapa hal penting yang perlu di perhatikan dalam pengambilan darah ini
meliputi :
 Gunakan tehnik steril
 Hindari penusukan yang sering pada tempat yang sama untuk mencegah
aneurism
 Jangan menusukkan jarum lebih dari 0,5 cm
 Harus mengetahui anatomi untuk mencegah terjadinya penusukan pada
saraf
 Lakukan palpasi sebelum di lakukan penusukan
 Bila perlu pengulangan pemeriksaan analisa gas darah dokter akan
memasang ―arteri line‖

G. Interprestasi Hasil AGD
Interpretasi
1. Hipoksia
 Ringan PaO2 50 – 80 mmHg
 Sedang PaO2 30 – 50 mmHg
 Berat PaO2 20 – 30 mmHg

2. Hiperkapnia
 Ringan PaCO2 45 – 60 mmHg
 Sedang PaCO2 60 – 70 mmHg
25

 Berat PaCO2 70 – 80 mmHg

Harga normal
 pH darah arteri 7,35 – 7,45
 PaO2 80 – 100 mmHg
 PaCO2 35 – 45 mmHg
 HCO3- 22 – 26 mEq/l
 Base Excess (B.E) -2,5 – (+2,5) mEq/l
 O2 Saturasi 90 – 100 %

Ukuran-ukuran dalam analisa gas darah:
 PH normal 7,35-7,45
 Pa CO2 normal 35-45 mmHg
 Pa O2 normal 80-100 mmHg
 HCO3 normal 21-30 mEq/l
 Base Ekses normal -2,4 s.d +2,3
 Saturasi O2 lebih dari 90%.

Komponen yang diperiksa dalam analisa gas darah meliputi :
- PH (normal : 7,35 – 7,45)
PH akan menggambarkan konsentrasi ion H+ dalam tubuh. Ada peningkatan
atau penuruna ion H+ akan mempengaruhi stabilitas dari PH cairan tubuh.
Bila ion H+ meningkat PH akan rendah dan bila ion H+ menurun PH akan
meningkat.
- PaCO2 (normal : 35 – 45 mmhg)
PaCO2 adalah tekanan partial yang ditimbulkan oleh CO2 yang terlarut.
PaCO2 ini merupakan parameter untuk mengetahui fungsi respirasi dan
menentukan cukup tidaknya ventilasi alveolar. Bila PaCO2 rendah
menunjukkan adanya hyperventilasi karena rangsangan pernafasan dan bila
26

PaCO2 tinggi (hypoventilasi) menunjukkan adanya kegagalan ventilasi
alveolis. Pada PaCO2 rendah konsentrasi ion H+ akan rendah dan PH
meningkat, sedangkan bila terjadi peningkatan PaCO2 konsentrasi ion H+
akan mengingat dan PH menjadi rendah
- PaO2 (normal : 80 – 100 mmhg)
PaO2 adalah tekanan yang ditimbulkan oleh oksigen yang terlarut dalam
darah. PaO2 akan memberikan petunjuk cukup tidaknya oksigenisasi darah
arteri
- Base Ekses (E . E) (normal ± 2 / 2,5 mEQ / 1)
Menggambarkan secara langsung kelebihan basa kuat / kekurangan asam tetap
atau kekurangan basa / kelebihan asam.Bila nilai positif menunjukkan
kelebihan basa dan bila nilai negatif menunjukkan kelebihan asam
- TCO2 (normal : 24 -31 mmhg)
Total CO2 yang terdapat dalam plasma, yang meliputi asam karbonat,
bikarbonat dan senyawa karbamino. TCO2 dapat digunakan sebagai petunjuk
klinik gangguan keseimbangan asam untuk memperkirakan kelebihan atau
kekurangan basa karena perbandingan bikarbonat dan asm bikarbonat 20 : 1
- Sat. O2 (normal : 96 -100 %)
Derajat kejenuhan Hb dengan oksigen. Sat O2 sangat membantu untuk
menghitung kandungan oksigen dalam darah
Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi hasil analisa gas darah meliputi :
a. Suhu, pada suhu 370 c selama 10 menit PH akan berubah, 0,10 ; PaCO21
mmhg dan PO2 0,7 mmhg, sedangkan pada suhu 40 dalam 10 menit PH
berubah 0,01 ; PaCO2 0,01 mmhg dan PaO2,07 mmhg. Sebaiknya darah
dimasukkan kedalam es untuk menghindari / mengurangi metabolisme dan
mencegah konsumsi oksigen dan karbondioksida yang dapat
mempengaruhi nilai
b. Darah yang diambil, darah arteri merupakan contoh baku untuk
pemeriksaaan analisa gas darah.
27

c. Pemakaian heparin, jangan lebih dari 0,05 cc untuk 1 cc darah (cukup
membilas spuit dengan heparin).
d. Gelembung udara dalam spuit, yang akan mempengaruhi CO2 dan O2.


Faktor yang mempengaruhi pemeriksaan AGD :
1. Gelembung udara
Tekanan oksigen udara adalah 158 mmHg. Jika terdapat udara dalam
sampel darah maka ia cenderung menyamakan tekanan sehingga bila
tekanan oksigen sampel darah kurang dari 158 mmHg, maka hasilnya akan
meningkat.
2. Antikoagulan
Antikoagulan dapat mendilusi konsentrasi gas darah dalam tabung.
Pemberian heparin yang berlebihan akan menurunkan tekanan CO
2
,
sedangkan pH tidak terpengaruh karena efek penurunan CO
2
terhadap pH
dihambat oleh keasaman heparin.
3. Metabolisme
Sampel darah masih merupakan jaringan yang hidup. Sebagai jaringan
hidup, ia membutuhkan oksigen dan menghasilkan CO
2
. Oleh karena itu,
sebaiknya sampel diperiksa dalam 20 menit setelah pengambilan. Jika
sampel tidak langsung diperiksa, dapat disimpan dalam kamar pendingin
beberapa jam.
4. Suhu
Ada hubungan langsung antara suhu dan tekanan yang menyebabkan
tingginya PO
2
dan PCO
2
. Nilai pH akan mengikuti perubahan PCO
2
.
5. Nilai
Nilai pH darah yang abnormal disebut asidosis atau alkalosis sedangkan
nilai PCO
2
yang abnormal terjadi pada keadaan hipo atau hiperventilasi.
Hubungan antara tekanan dan saturasi oksigen merupakan faktor yang
penting pada nilai oksigenasi darah.

28

H. Komplikasi dari AGD
Komplikasi yang dapat terjadi pada tindakan ini, yaitu (McCann, 2004):
1. Adanya risiko jarum mengenai periosteum tulang yang kemudian
menyebabkan pasien mengalami kesakitan. Hal ini akibat dari terlalu
menekan dalam memberikan injeksi.
2. Adanya risiko jarum melewati dinding arteri yang berlainan.
Adanya kemungkinan arterial spasme sehingga darah tidak mau mengalir masuk
ke syringe
Komplikasi pada analisa gas darah :
a. Rasa takut
b. Infeksi dan pembentukan thrombus
c. Hematoma
d. Arteriospasme (respon refleks kontriksi dari otot arteri)

I. Analisa Gangguan Sistem Asam-Basa
Ada 4 jenis gangguan utama yang selama ini telah kita kenal, yaitu
asidosis metabolic, alkalosis metabolic, asidosis respiratorik dan alkalosis
respiratorik. Tentu saja dapat saja terjadi 1 atau 2 gangguan asam basa sekaligus
pada seseorang penderita. Seperti diketahui, asidosis adalah suatu keadaan di
mana kadar ion H+ dalam darah lebih tinggi dari normal (pH rendah), sedangkan
alkalosis adalah suatu keadaan di mana kadar H+ di dalam darah lebih rendah dari
normal (pH tinggi).







Gambar 6
Keeimbangan
asam basa
29

Tabel Ketidakseimbangan Asam dan Basa
pH

PCO
2

Komponen
Respiratori
HCO
3
-
Komponen
Metabolik
Ketidakseimbangan
Asam dan Basa
Asidosis Asidosis Respiratori asidosis
Alkalosis Alkalosis Respiratori alkalosis
Asidosis Asidosis Metabolik asidosis
Alkalosis Alkalosis Metabolik alkalosis

Asidosis metabolic
Dapat terjadi karena:
a. Penambahan asam:
1) Oksidasi lemak tak sempurna, misalnya pada asidosis diabetika atau
kelaparan.
2) Oksidasi karbohidrat tak sempurna, misalnya pada asidosis laktat.
b. Pengurangan bikarbonat:
1) Renal tubular acidosis.
2) Diare.
Dengan penambahan H
+
, metabo penyangga bikarbonat-asam karbonat
akan bekerja dengan mengeluarkan HCO
3
guna mengikat penambahan H
+
itu
sehingga perubahan pH yang terjadi tidak begitu besar. Karena mekanisme ini,
akan terjadi:
1. pH ↓
2. HCO
3


3. B.E. < 2,5.


30

Alkalosis metabolic
Dapat terjadi karena:
a. Pengurangan asam :
1) Muntah-muntah, HCl lambung dikeluarkan.
2) Penggunaan antasida berlebihan.
b. Penambahan basa :
1) Infus bikarbonat berlebihan.
2) Efek aldosteron/steroid.
Dengan adanya pengeluaran ion H
+
, metabo penyangga akan bekerja dengan
mengeluarkan H
+
guna mengurangi perubahan pH. Karena mekanisme ini akan
terjadi:
1. pH ↑
2. HCO
3

3. B.E. > 2,5.
Asidosis respiratorik
Terjadi karena adanya hipoventilasi, sehingga P CO
2
akan meningkat. Hal ini
dapat terjadi pada:
 Kelainan paru, misalnya Penyakit Paru Obstruksi Menahun (PPOM).
 Kelainan susunan saraf pusat, misalnya depresi pernapasan.
 Kelainan dinding dada.
Karena P CO
2
darah meningkat, di dalam gas darah akan ditemukan:
1. pH ↓
2. P CO
2

3. HCO
3
normal.
Alkalosis respiratorik
Terjadi karena adanya hiperventilasi sehingga P CO
2
darah akan turun. Hal ini
dapat terjadi karena:
31

 Perangsangan S.S.P. : emosi, salisilat dan lain-lain.
 Stimulasi kemoreseptor perifer: hipoksemia.
 Stimulasi reseptor intratorakal: berbagai penyakit pam.
 Keadaan hipermetabolisme: sepsis, hipertiroid.
Karena P CO
2
darah menurun, di dalam analisa gas darah akan ditemukan:
1. pH ↑
2. P CO
2

3. HCO
3
normal.

Woc analisa gas darah














32

J. Mekanisme Kompensasi
Kompensasi tubuh terhadap perubahan pH akan dilakukan melalui metabo
pernapasan dan ginjal, tergantung dari bentuk gangguan asam basa yang terjadi
Bentuk –bentuk kompensasi adalah sebagai berikut:
1) Asidosis metabolic, akan menimbulkan perangsangan untuk stimulasi
pernapasan. Akibatnya P CO
2
darah akan menurun, dan ini tentu berakibat
kenaikan pH (lihat persamaan Henderson). Jadi, penurunan pH pada
asidosis metabolic akan dikompensasi oleh suatu reaksi alkalosis
respiratorik (pH ↑, P CO
2
↓).
2) Alkalosis metabolic, akan menimbulkan depresi pernapasan sehingga P
CO
2
darah akan meningkat, yang ini tentunya akan mengakibatkan
penurunan pH. Jadi kenaikan pH pada alkalosis metabolic akan
dikompensasi oleh suatu reaksi asidosis respiratorik.
3) Asidosis respiratorik, akan menimbulkan peningkatan reabsorbsi HCO
3
di
ginjal, akibatnya kadar HCO
3

di darah akan meningkat dan pH juga akan
naik. Jadi, asidosis respiratorik akan dikompensasi oleh suatu alkalosis
metabolic (pH ↑ , HCO
3
- ↓ ).
4) Alkalosis respiratorik, akan menurunkan reabsorbsi HCO
3

di ginjal.
Akibatnya kadar HCO
3

darah akan menurun dan dengan sendirinya nilai
pH akan turun pula. Artinya, alkalosis respiratorik di tubuh akan
dikompensasi oleh suatu asidosis metabolic.

Faktor-faktor yang mempertahankan nilai Ph
Sistem penyangga
Sistem penyangga kimia (buffer system) adalah suatu bahan kimia yang
dapat menetralkan asam atau basa yang dihasilkan, atau masuk ke dalam tubuh.
Artinya, metabo ini dapat mengurangi perubahan pH pada suatu larutan yang
padanya di tambahkan asam ataupun basa. Ini dapat terjadi karena pada metabo
penyangga ini terdapat metabo asam dan metabo basa. Bila di dalam tubuh
33

terdapat penambahan asam, sehingga pH akan turun, asam ini akan ditangkap oleh
unsure basa dari metabo penyangga, sehingga perubahan pH akan dapat
dinetralkan. Demikian juga sebaliknya, bila di dalam tubuh terdapat penambahan
basa, di mana pH seharusnya akan naik, basa itu akan diikat oleh metabo asam
dari system penyangga sehingga kenaikan nilai pH dapat dikurangi Tentu harus
disadari, metabo penyangga ini juga punya keterbatasan kerja. Tidak semua asam
atau basa yang masuk dapat diikatnya dengan baik. Bila penambahan asam/basa
itu cukup banyak, tentu akan terjadi juga perubahan nilai pH. Hanya saja nilai
perubahan itu dapat dikurangi. Ada 4 sistem penyangga kimia yang penting di
dalam tubuh, yaitu:
I. Sistem bikarbonat-asam karbonat, yang merupakan metabo terbanyak
dan terpenting.
II. Sistem penyangga hemoglobin.
III. Sistem penyangga fosfat.
IV. Sistem penyangga protein.

Sistem pernapasan
Melalui metabo pernafasan ini, CO
2
darah dapat dikeluarkan. Seperti telah
dibahas terdahulu, perubahan kadar CO
2
akan mempengaruhi kadar H
2
CO
3
, yang
pada akhirnya akan mempengaruhi perubahan nilai pH. Pada keadaan asidosis
metabolic misalnya, akan terjadi hiperventilasi pam yang mengakibatkan
pengeluaran CO
2
, sehingga nilai pH yang rendah dapat diperbaiki

Ginjal
Di ginjal dapat terjadi sekresi dan reabsorbsi ion HCO
3
-
. Kalau kita
kembali ke persamaan Henderson, jelas kerja ginjal ini akan berperan besar dalam
penentuan nilai pH. Artinya, ginjal berperan untuk mempertahankan
keseimbangan komponen metabolic, yaitu ion HCO
3
, agar proses metabolisme
sdapat berjalan dengan baik.

34

BAB III
KESIMPULAN

Pemeriksaan analisis gas darah merupakan pemeriksaan laboratorium yang
penting sekali di dalam penatalaksanaan penderita akut maupun kronis, terutama
penderita penyakit paru. Pemeriksaan analisis gas darah penting baik untuk
menegakkan diagnosis, menentukan terapi, maupun untuk mengikuti perjalanan
penyakit setelah mendapat terapi. Sama halnya dengan pemeriksaan EKG pada
penderita jantung dan pemeriksaan gula darah penderita diabetes millitus.
Dengan majunya ilmu pengetahuan, terutama setelah ditemukan alat astrup,
tekanan parsial O
2
dan CO
2
serta pH darah dapat diukur dengan mudah.
Analisa gas darah (AGD) atau BGA (Blood Gas Analysis) biasanya
dilakukan untuk mengkaji gangguan keseimbangan asam-basa yang disebabkan
oleh gangguan pernafasan dan/atau gangguan metabolik. Komponen dasar AGD
mencakup PH normal 7,35-7,45
PaCO2 normal 35-45 mmHg , PaO2 normal 80-100 mmHg ,Saturasi O2
lebih dari 90%.,, HCO3 normal 21-30 mEq/l dan BE (base excesses/kelebihan
basa) normal -2,4 s.d +2,3.
“Pemeriksaan analisa gas darah dikenal juga dengan nama pemeriksaan
“ASTRUP”, yaitu suatu pemeriksaan gas darah yang dilakukan melalui darah
arteri. Lokasi pengambilan darah yaitu: Arteri radialis, A. brachialis, A.
Femoralis”.

Hal-hal yang harus dicatat setelah tindakan analisa gas darah meliputi:
1. Catat hasil tes Allen.
2. Catat waktu pengambilan contoh.
3. Catat suhu tubuh pasien.
4. Catat area yang akan di injeksi untuk mengambil contoh darah arteri.
5. Catat waktu total yang dibutuhkan untuk menghentikan pedarahan setelah
melakukan tindakan.
6. Catat tipe dan jumlah terapi oksigen yang pasien terima.
35

DAFTAR PUSTAKA

1. McCann, J. A. S. (2004).Nursing Procedures.4
th
Ed. Philadelphia:
Lippincott Williams & Wilkins.
2. Pedoman interpretasi Data klinik. Kementerian kesehatan republik
indonesia 2011. Tentang Analisa Gas Darah.
3. Potter,P.A. & Perry, A.G.(1997).fundamental of nursing:Concept,Process
and Practice.4
th
Ed. St. Louise, MI: Elsevier Mosby,Inc
4. Wilson.D.D.(1997).Understanding Laboratory and Diagnostik Tests.
Philadelphia: Lippincolt.
5. Analisa Gas Darah. Diakses pada tanggal 4 Juli 2014.
http://www.scribd.com/doc/176576590/Analisa-Gas-Darah
6. Analisa Gas Darah. Di akses pada tanggal 4 Juli 2014.
http://www.scribd.com/doc/75288842/Analisa-Gas-Darah-Agd











Related Interests