Aang Khoirul Anam LBM 5

1

Higiene Perusahaan & Kesehatan Kerja
STEP 1
1. Higiene perusahaan
- Upaya pemeliharaan lingkungan kerja baik fisik, kimia, radiasi dan sebagainya
dan lingkungan perusahaan.
- Spesialisasi dalam ilmu hygiene yang menilai faktor kualitatif dan kuantitatif
dalam lingkungan perusahaan yang hasilnya untuk dasar tindakan korektif
agar terhindar dari bahaya akibat kerja dimungkinkan masy derajat kesehatan
setinggi2nya.
2. Ergonomi
- Merupakan ilmu penyesuaian peralatan dan perlengkapan kerja dengan
kondisi dan kemamapuan manusia, sehingga mencapai kesehatan tenaga kerja
dan produktivitas hasil yang optimal.
- Ilmu yang mempelajari tentang perilaku manusia yang terkait dg pekerjaannya
yang manfaatnya diukur dr efisiensi dan kesejahteraan kerja.
- Penerapan ilmu biologis ttg manusia bersama ilmu teknik dan teknologi.
3. Kesehatan kerja
- Upaya perusahaan untuk mempersiapkan , memelihara serta tindakan lainnya
dalam rangka pengadaan dan menggunakan tenaga kerja serta kesehatan baik
fisik mental dan social yang maksimal sehingga dapat berproduksi secara
maksimal pula.
- Merupakan aplikasi kesehatan masyarakat di dalam suatu tempat kerja
misalnya perusahaan, pabrik, kantor, dan sebagainya, dengan ciri pokoknya
yaitu upaya preventif (pencegahan penyakit) dan upaya promotif (peningkatan
kesehatan). Yang menjadi pasien dari kesehatan kerja adalah masyarakat
pekerja dan masyarakat sekitar perusahaan tersebut.
4. Keselamatan kerja
- Ilmu dan pnerapan teknologi untk meningkatkan keselamatan yang berkaitan
dgn alat kerja, bahan kerja, proses, tempat, dan lingk kerja
5. Kecelakaan Kerja
Suatu kecelakaan yang berkaitan dengan hubungan kerja dengan perusahaan.
Hubungan kerja ini berarti bahwa kecelakaan terjadi akibat dari pekerjaan atau pada
waktu melaksanakan pekerjaan.


Aang Khoirul Anam LBM 5

2

STEP 3
HIGIENE PERUSAHAAN
1. Pengertian dan batasan
Hygiene perusahaan merupakan spesialisasi dalam ilmu hygiene beserta
prakteknya yang dengan mengadakan penilaian kepada faktor-faktor penyebab
penyakit kualitatif dan kuantitatif dalarn lingkungan kerja dan perusahaan melalui
pengukuran yang hasilnya dipergunakan untuk dasar tindakan korektif kepada
lingkungan tersebut,serta bila perlu pencegahan, agar pekerja dan masyarakat sekitar
perusahaan terhindar dari bahaya akibat kerja, serta dimungkinkan mengecap
kesehatan setinggi-tingginya.
(Suma’mur. 1986. “Higiene Perusahaan dan Keselamatan Kerja”. Gunung Agung
J akarta)
2. Tujuan hiperkes
 Sebagai alat untuk mencapai derajat kesehatan tenaga kerja yang setinggi2nya,
baik buruh, petani, nelayan, atau pekerja2 bebas, dgn demikian dimaksudkan
untuk kesejahteraan tenaga kerja.
 Sebagai alat untuk meningkatkan produksi, yang berlandaskan kepada
meningginya efisiensi dan daya produktivitas faktor manusia dalam produksi.
(suma’mur, 1986, higiene perusahaan dan keselamatan kerja, jakarta : gunung agung )
 Agar masyarakat pekerja (karyawan perusahaan, pegawai negeri, petani,
nelayan, pekerja-pekerja bebas, dsbg) dapat mencapai derajat keseahtan
yang setinggi-tingginya baik fisik, mental dan sosialnya
 Agar masyarakat sekitar perusahaan terlindung dari bahaya-bahaya
pengotoran oleh bahan-bahan yang berasal dari perusahaan
 Agar hasil produksi perusahaan tidak membahayakan kesehatan masyarakat
konsumennya
 Agar efisiensi kerja dan daya produktifitas para karyawan meningkat dan
dengan demikian akan meningkatkan pula produksi perusahaan.
(I lmu Kesehatan Masyarakat, I ndan Entjang, 2000)
3. Usaha-usaha higiene perusahaan
 Pencegahan dan pemeberantasan penyakit dan kecelakaan-kecelakaan
akibat kerja
 Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan tenaga kerja
 Pemeliharaan dan peningkatan efisiensi dan daya produktifitas tenaga
manusia
 Pemberantasan kelalahan kerja dan peningkatan kegairahan kerja
 Pemeliharaan dan peningkatan hygieni dan sanitasi perusaan pada
umumnya seperti kebersihan ruangan-ruangan cara pembuanagn samaph
pengolaan dsb.
Aang Khoirul Anam LBM 5

3

 Perlindunga bagi masyarakat sekitar suatu perusaan agar tehindar dari
pengotoran oleh bahan-bahan dari perusaahn yang bersangkuatan
 Perlindungan masyarakat luas dari bahay-bahay yg mungkin ditimbulkan
oleh hasil-hasil produksi perusaan
(I lmu Kesehatan Masyarakat, I ndan Entjang, 2000)
4. Sifat-sifat higiene perusahaan
a. Sasaran adalah lingkungan kerja yaitu sebagai upaya pencegahan timbulnya
penyakit akibat kerja dan pencemaran lingkungan akibat produksi perusahaan.
b. Bersifat teknik
(Notoatmodjo, S, Prof. 2003. “I lmu Kesehatan Masyarakat Prinsip-Prinsip
Dasar”.Jakarta : Rineka Cipta)
5. Penerapan hygiene perusahaan :
i. Pengenalan lingkungan kerja : mengetahui secara kulitatif bahaya
potensial di tempat kerja, menentukan lokasi, jenis dan metoda pengujian
yang perlu dilakukan.
ii. Penilaian lingkungan kerja : dilakukan pengukuran, pengambilan
sample dan analisis laboratorium, melalui penilaian lingkungan dapat
ditentukan kondisi lingkungan kerja secara kuantitatif dan terinci, serta
membandingkan hasil pengukuran dan standar yang berlaku, sehingga
dapat ditentukan perlu atau tidaknya teknologi pengendalian, ada atau
tidak korelasi kasus kecelakaan dan penyakit akibat kerja dengan
lingkungannya, serta sekaligus merupakan dokumen data di tempat
kerja.
iii. Pengendalian lingkungan kerja : metoda teknik untuk menurunkan
tingkat factor bahaya lingkungan sampai batas yang masih dapat ditolerir
dan sekaligus melindungi pekerja.
(Sumber : A. M. Sugeng Budioro, dkk. Bunga Rampai Hiperkes dan KK.
Ed. 2 (revisi). Undip. Semarang. 2005.)












Aang Khoirul Anam LBM 5

4

KESEHATAN KERJA
1. Ruang lingkup kesehtan kerja
o Memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan kerja masyarakat pekerja di semua
lapangan kerja setinggi2nya baik fisik, mental maupun kesejahteraan sosialnya
o Mencegah timbulnya gangguan kesehatan pada masyarakat pekerja yang diakibatkan
oleh keadaan/kondisi lingkungan kerja
o Memberikan pekerjaan dan perlindungan bagi pekerjaannya dari kemungkinan bahaya
yang disebabkan oleh faktor2 yang membahayakan kesehatan
( I lmu Kesehatan Masyarakat, Prof. Dr. Soekidjo Notoatmodjo, Rineka Cipta )
2. Tujuan kesehatan kerja
Sebagai bagian spesifik keilmuan dalam ilmu kesehatan, kesehatan kerja lebih
menfokuskan lingkup kegiatannya pada peningkatan kualitas hidup tenaga kerja melalui
penerapan upaya kesehatan yang bertujuan untuk :
o Memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan pekerja
o Melindungi dan mencegah pekerja dari semua gangguan kesehatan akibat lingkungan
kerja atau pekerjaannya
o Meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja
o Menempatkan pekerja sesuai dengan kemampuan fisik, mental, dan pendidikan atau
ketrampilannya
(Budiono, A.M.S., 2005. “Bunga Rampai Hiperkes dan KK”. Semarang : UNDIP)
Tujuan Utama :
o Pencegahan dan pemberantasan penyakit-penyakit dan kecelakaan kecelakaan akibat
kerja
o Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan dan gizi tenaga kerja
o Perawatan dan mcmpetinggi efisiensi dan produktivitas tenaga kerja
o Pemberantasan kelelahan kerja dan meningkatkan kegairahan serta kenikmatan kerja
o Perlindungan bagi masyarakat sekitar suatu perusahaan agar terhindar dari bahaya-
bahaya pencemaran yang ditimbulkan oleh perusahaan tersebut
o Perlindungan masyarakat luas dari bahaya-bahaya yang mungkin ditimbulkan oleh
produk-produk perusahaan
(Notoatmodjo, S, Prof. 2003. “I lmu Kesehatan Masyarakat Prinsip-Prinsip Dasar”.
J akarta : Rineka Cipta)
Tujuan akhir :
Menciptakan tenaga kerja yang sehat dan produktif, tujuan ini dapat tercapai
apabila didukung oleh lingkungan kerja yang memenuhi syarat-syarat kesehatan (suhu,
penerangan, bebas debu, sikap badan yang baik, alat kerja yang sesuai dengan ukuran
tubuh,dsb).
(Sumber : Prof. Dr. Soekidjo Notoatmodjo. I lmu Kesehatan Masyarakat Prinsip-
prinsip Dasar. Rineka Cipta. J akarta. 2003.)
3. Factor yang mempengaruhi
Status kesehatan seseorang, menurut HL Blum(1981) ditentukan oleh 4 faktor :
Aang Khoirul Anam LBM 5

5

o Lingkungan, berupa lingkungan fisik (alami, buatan), kimia s(organik/anorganik, logam
berat, debu), biologik (virus, bakteri, mikroorganisme) dan sosial budaya(ekonomi,
pendidikan, pekerjaan)
o Perilaku yang meliputi sikap, kebiasaan, tingkah laku
o Pelayanan kesehatan : promotif, preventif, perawatan, pengobatan, pencegahan
kecacatan, rehabilitasi
o Genetik yang merupakan faktor bawaan setiap manusia.
(Bunga rampai HI PERKES DAN KK, AM. Sugeng Budiono, dkk)
 Faktor fisik : penerangan dan pencahayaan, suhu udara di lingkungan kerja,
kelembaban, suara
 Faktor kimia : bahan-bahan kimia,misalnya bau, gas, uap, asap, debu, dll
 Faktor biologi : binatang atau hewan dan tumbuh-tumbuhan di lingkungan
kerja, misalnya nyamuk, lalat, lumut, rumput, dll
 Faktor sosio-psikologis : suasana kerja
 Faktor mekanik dan ergonomi
(I KM, Soekidjo Notoadmodjo)
4. Program unit kesehatan kerja
 Program pemeriksaan kesehatan pendahuluan pada calon tenaga kerja. Bertujuan
memeriksa kesehatan fisik dan mental, terutama untuk seleksi tenaga kerja yang sesuai
dengan bidang pekerjaan yang tersedia, mengumpulkan data sebagai data dasar bagi
pemeliharaan kesehatan berikutnya, setelah menjadi tenaga kerja tetap di perusahaan
tsb
 Program pemeriksaan kesehatan berkala yang langsung dilakukan saat tenaga kerja
melakukan kegiatan pada bidang pekerjaannya. Bertujuan mengamati/ supervisi
berdasarkan data dasar tentang kesehatan tenaga kerja yang bersangkutan.
 Program pengobatan jalan, perawatan, pertolongan gawat darurat di RS dan sub unit
lainnya.
 Program pengembangan ketrampilan serta pengetahuan tenaga unit kasehatan kerja,
dan juga program pengembangan perangkat teknis kedokteran dll
 Program penyuluhan kesehatan
(Materi2 pokok I KM dr. Dainur)






Aang Khoirul Anam LBM 5

6

ERGONOMI
1. Pengertian
Ergonomi berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani yaitu Ergon = kerja dan Nomos =
peraturan/hukum
Ergonomi merupakan suatu ilmu terapan yang mempelajari dan mencari pemecahan
persoalan yang menyangkut faktor manusia dalam proses produksi.
(Ramandhani, A.S., 2005. “Bunga Rampai Hiperkes dan KK”. Semarang : UNDIP)
2. Tujuan
 Menciptakan suatu kombinasi yang serasi antara sub sistem peralatan kerja
dengan manusia sebagai tenaga kerja.
 Mencegah kecelakaan kerja dan mencegah ketidakefisienan kerja (meningkatkan
produktivitas kerja.)
 Untuk mengurangi beban kerja, karena apabila peralatan kerja tidak sesuai dengan
kondisi dan ukuran tubuh pekerja akan menjadi beban tambahan kerja
 Untuk Menganalisis dan mengkaji faktor manusia dan peralatan kerja atau mesin
dalam kaitannya dengan sistem produksi.
(I lmu Kesehatan Masyarakat, Prof. Dr. Soekidjo Notoatmodjo)
3. Manfaat
 Meningkatkan unjuk kerja, seperti : manambah kecepatan kerja, ketepatan, keselamatan
kerja, mengurangi energi serta kelelahan yang berlebihan
 Mengurangi waktu, biaya pelatihan dan pendidikan
 Mengoptimalkan pendayagunaan sumber daya menusia melalui peningkatan
ketrampilan yang diperlukan
 Mengurangi waktu yang terbuang sia2 dan meminimalkan kerusakan peralatan yang
disebabkan kesalahan manusia
 Meningkatkan kenyamanan karyawan dalam bekerja
(suma’mur, 1986, higiene perusahaan dan keselamatan kerja, jakarta : gunung agung )
a. Memaksimalkan efisiensi karyawan
b. Memperbaiki kesehatan dan keselamatan kerja
c. Menganjurkan agar bekerja aman, nyaman, dan bersemangat
d. Memaksimalkan bentuk kerja yang meyakinkan
(Ergonomi manusia peralatan dan lingkungan, dr.gempur santoso,2004)
 Mencegah kecelakaan kerja dan ketidakefisienan kerja (meningkatkan
produksi kerja)
 Mengurangi beban kerja, karena apabila peralatan kerja tidak sesuai
dengan kondisi dan ukuran tubuh pekerja akan menjadi beban tambahan
kerja
Aang Khoirul Anam LBM 5

7

 Mengkaji dan menganalisis faktor manusia dan peralatan kerja atau mesin
dalam kaitannya dengan sistem produksi. Dari kajian tersebut akan dapat
ditentukan tugas yang diberikan kepada manusia, dan tugas yang diberkan
kepada mesin. (I KM, Soekidjo Notoadmodjo)
4. Misi pokok ergonomi
- Penyesuaian antara peralatan kerja dengan kondisi tenaga kerja yang
menggunakan. Dalam hal ini, yang ingin dicapai oleh ergonomi adalah
mencegah kelelahan tenaga kerja yang menggunakan alat-alat tersebut.
- Apabila peralatan kerja dan manusia atau tenaga kerja tersebut sudah cocok,
maka kelelahan dapat dicegah dan hasilnya lebih efisien. Hasil suati proses
kerja yang efisien berarti memperoleh produktivitas kerja yang tinggi.
(I KM, Soekidjo Notoadmodjo)
5. Batasan dan ruang lingkup
Secara harfiah ergonomi diartikan sebagai peraturan. tentang bagaimana melakukan kerja,
termasuk menggunakan peralatan kerja. Dewasa ini batasan ergonomi adalah ilmu
penyesuaian peralatan dan perlengkapan kerja dengan kondisi dan kemampuan manusia,
sehingga mencapai kesehatan tenaga kerja dan produktivitas kerja yang optimal. Dari
batasan ini terlihat bahwa ergonomi tersebut terdiri dari dua sub sistem, yakni: sub sistem
peralatan kerja, dan sub sistem manusia. Sub sistem manusia terdiri: psikolog, latar
belakang sosial, dan sebagainya. Oleh sebab itu, tujuan dan ergonomi ini adalah untuk
menciptakan suatu kombinasi yang paling serasi antara sub sistem peralatan kerja dengan
manusia sebagai tenaga kerja.
(Notoatmodjo, S, Prof. 2003. “I lmu Kesehatan Masyarakat Prinsip-Prinsip Dasar”.
J akarta : Rineka Cipta)
6. Metode
o Diagnosis, dapat dilakukan melalui wawancara dengan pekerja, inspeksi tempat kerja
penilaian fisik pekerja, uji pencahayaan, ergonomik checklist dan pengukuran
lingkungan kerja lainnya. Variasinya akan sangat luas mulai dari yang sederhana
sampai kompleks.
o Treatment, pcmecahan masalah ergonomi akan tergantung data dasar pada. saat
diagnosis. Kadang sangat sederhana seperti merubah posisi meubel, letak
pencahayaan atau jendela yang sesuai, membeli furniture sesuai dengan dimensi fisik
pekerja
o Follow up, dengan evaluasi yang subyektif atau obyektif, subyektif misalnya dengan
menanyakan kenyamanan bagian badan yang sakit, nyeri bahu dan siku, keletihan ,
sakit kepala dan lain-lain. Secara obyektif misalnya dengan parameter produk yang
ditolak, absensi sakit, angka kecelakaan dan lain-lain
(www.digilib.go.id)
7. Prinsip
o Sikap tubuh dalam melakukan pekerjaan sangat dipengaruhi oleh bentuk, susunan,
ukuran dan penempatan mesin-mesin, penempatan alat-alat petunjuk, cara-cara harus
melayani mesin (macam gerak, arah, kekuataan dsb)
Aang Khoirul Anam LBM 5

8

o Untuk normalisasi ukuran mesin atau peralatan kerja harus diambil ukuran terbesar
sebagai dasar, serta diatur dengan suatu cara, sehingga ukuran tersebut dapat
dikecilkan dan dapat dilayani oleh tenaga kerja yang lebih kecil misalnya tempat
duduk yang dapat dinaik-turunkan, dan dimajukan atau dimundurkan.
o Ukuran-ukuran antropometri yang dapat dijadikan dasar untuk penempatan alat-alat
kerja adalah sebagai berikut:
o Berdiri :
 Tinggi badan
 Tinggi bahu
 Tinggi siku
 Tinggi pinggul
 Panjang lengan
o Duduk :
 Tinggi duduk
 Panjang lengan atas
 Panjang lengan bawah dan tangan
 Jarak lekuk lutut
o Pada pekerjaan tangan yang dilakukan berdiri, tinggi kerja sebaiknya 5-l0 cm di
bawah tinggi siku.
o Dari segi otot, sikap duduk yang paling baik adalah sedikit membungkuk, sedang dari
sudut tulang, dianjurkan duduk tegak, agar punggung tidak bungkuk dan otot perut
tidak lemas.
o Tempat duduk yang baik adalah:
o tinggi dataran duduk dapat diatur dengan papan kaki yang sesuai dengan
tinggi lutut,sedangkan paha dalam keadaan datar.
o Lebar papan duduk tidak kurang dan 35 cm.
o Papan tolak punggung tingginya dapat diatur dan menekan pada punggung
o Arah penglihatan untuk pekerjaan berdiri adalah 23-37 derajat ke bawah, sedangkan
untuk pekerjaan duduk arah penglihatan antara 32-44 derajat ke bawah. Arah
penglihatan ini sesuai dengan sikap kepala yang istirahat.
o Kemampuan beban fisik maksimal oleh ILO ditentukan sebesar 40 kg.
o Kemampuan seseorang bekerja adalah 8-10 jam per hari. Lebih dari itu efisiensi dan
kualitas kerja menurun.
(Notoatmodjo, S, Prof. 2003. “I lmu Kesehatan Masyarakat Prinsip-Prinsip Dasar”)








Aang Khoirul Anam LBM 5

9

KESELAMATAN KERJA

1. Definisi
Keselamatan yang berkaitan dengan hubungan tenaga kerja dengan mesin, pesawat, alat
kerja, bahan dan proses pengolahannya, landasan tempat kerja, lingkungan kerja dan cara-
cara melakukan pekerjaan tersebut.
(dr. Dainur. 1995. Materi-Materi Pokok I lmu Kesehatan Masyarakat. J akarta :
Widya Medika.)
2. Tujuan keselamatan kerja :
 Melindungi hak keselamatan kerja tenaga kerja dalam/selama melakukan pekerjaan
untuk kesejahteraan hidup serta peningkatan produksi danproduktivitas nasional.
 Menjamin keselamatan setiap orang lain yang berada di tempat kerja.
 Memelihara sumber produksi serta menggunakannya dengan amat dan berdayaguna
(efisien).
(Sumber : dr. Dainur. Materi-materi Pokok I lmu Kesehatan Masyarakat. Widya
Medika. J akarta. 1992.)
3. Sasaran :
 Dibuat, dicoba, dipakai atau dipergunakan mesin, pesawat, alat, perkakas, perlatan
atau instansi yg berbahaya atau dapat menimbulkan kecelakaan, kebakaran atau
peledakan.
 Dibuat, dicoba, dipakai, dipergunakan, diperdagangkan, diangkut atau disimpan
bahan atau barang yg dapat meledak, mudah terbakar, menggigit , beracun,
menimbulkan infeksi, bersuhu tinggi.
 Dikerjakan pembangunan, pernbaikan, perawatan, pembersihan, atau pembongkaran
rumah, gedung atau bangunanlainnya termasuk bangunan pengairan, saluran atau
terowongan dibawah tanah dan sebagainya atau dilakukan pekerjaan persiapan.
 Dilakukan usaha pertanian, perkebunan, pembukaan hutan, pengerjaan hutan,
pengolahan kayu atau hasil hutan lainnya, peternakan, perikana dan lapangan
kesehatan.
 Dilakukan pembuangan atau pemusnahan sampah atau limbah.

 Syarat
Pencegahan:
Aang Khoirul Anam LBM 5

10

 perlu dibina keakhlian higiene perusahaan dan kesehtan kerja dengan Lembaga
Nasional Higienen Perusahaan dan Kesehatan Kerja sebagai nukleus keakhlian
 perlu dibina keakhlian tenaga kesehatan pada tingkat perusahaan dan perlu
ditingkatkan pengerahan tenaga-tenaga kesehatan ke dalam sektor produksi. Serta
perlu dibina pula para tekhnisi yang bersangkutan dengan proses produksi dengan
diberikan skill tambahan tentang human engineering
 perlu diusahakan pendidikan dan training kepada pengusaha dan buruh tentang
pentingnya kesehatan produksi dalam meningkatkan produktivitas tenaga kerja
sebagai sarana kearah kenikmatan dan kesejahtaraan bangsa.
 Perlu dikembangkannya ”applied research” yang dapat memenukan
karakteristika-karakteristika manusia Indonesia, misal saja tentang waktu kerjadan
istirahat, gizi, dan produktivitas, daerah-daerah nikmat kerja dan produktivitas
kerja optimal, dll.
 Keakhlian –keakhlian dalam hiperkes harus selalu dapat dimanfaatkan oleh setiap
sektor produksi manakala sewaktu-waktu diperlukan nasehat-nasehat sesuai
kebutuhan
 Pembinaan lapangan kesehatan dalam produksi nin memerlukan kerja sama yang
sebaik-baiknya diantara Depertemen Kesehatan, Departemen Tenaga Kerja,
Departeman Perindustrian, Departemen Pertaian, Departemen Pertambangan agar
diperoleh manfaat yang sebesar-besarnya.
(Sumber ; Higiene Perusahaan Dan Kesehatan Kerja, Dr. Suma’mur P.K., M.
Sc. Gunung Agung – J akarta)














Aang Khoirul Anam LBM 5

11

KECELAKAAN KERJA
1. Definisi
Menurut Sumakmur (1989), kecelakaan kerja adalah suatu kecelakaan yang berkaitan
dengan hubungan kerja dengan perusahaan. Hubungan kerja ini berarti bahwa kecelakaan
terjadi akibat dari pekerjaan atau pada waktu melaksanakan pekerjaan.

Kecelakaan kerja mencakup 2 permasalahan pokok, yaitu :
 Kecelakaan adalah akibat langsung pekerjaan
 Kecelakaan terjadi pada saat pekerjaan sedang dilakukan.
(I KM, Soekidjo Notoadmodjo)
2. Batasan
Terjadinya kecelakaan kerja disebabkan oleh kedua faktor utama yakni faktor fisik dan
faktor manusia. Oleh sebab itu, kecelakaan kerja juga merupakan bagian dari kesehatan
kerja. Kecelakaan kerja adalah kejadian yang tidak terduga dan tidak diharapkan akibat
dari kerja. Sumakmur (1989) membuat batasan bahwa kecelakaan kerja adalah
kecelakaan yang berkaitan dengan hubungan kerja dengan perusahaan. Oleh sebab itu,
kecelakaan akibat kerja ini mencakup dua permasalahan pokok, yakni:
o Kecelakaan adalah akibat langsung pekerjaan,
o Kecelakaan terjadi pada saat pekerjaan sedang dilakukan.
(Notoatmodjo, S, Prof. 2003. “I lmu Kesehatan Masyarakat Prinsip-Prinsip Dasar”.
J akarta : Rineka Cipta)
3. Faktor-faktor penyebab kecelakaan dan penyakit yang ditimbulkan akibat kerja
Penyebab kecelakaan kerja pada umumnya di golongkan menjadi dua, yakni:
 perilaku pekerja itu sendiri (faktor manusia), yang tidak memenuhi keselamatan,
misalnya: karena kelengahan, kecerobohan, ngantuk, kelelahan, dan sebagainya.
 Kondisi-kondisi lingkungan pekerjaan yang tidak aman atau “unsafety condition”,
misalnya lantai licin, pencahayaan kurang, silau, dan sebagainya
(Notoatmodjo, S, Prof. 2003. “I lmu Kesehatan Masyarakat Prinsip-Prinsip Dasar”.
J akarta : Rineka Cipta)
Ada 4 faktor :
 Alat dan bahan yang tidak aman
Penggunaan alat yg kurang aman atau rusak dan penggunaan bahan kimia berbahaya.
 Keadaan tidak aman
Ruang kerja terkontaminasi, suhu terlalu tinggi, gudang penyimpanan tidak teratur dsb.
 Tingkah laku pekerja, apabila :
 Lalai atau ceroboh dalam bekerja
 Meremehkan kemungkinan setiap bahaya
 Tidak melaksanakan prosedur kerja sesuai dengan standar kerja yang diberikan.
 Tidak disiplin dalam menaati peraturan keselamatan kerja, termasuk pemakaian alat
pelindung diri.
 Pengawasan, apabila :
 Memberikan prosedur yang tidak benar atau bahaya
Aang Khoirul Anam LBM 5

12

 Kurang mengetahui atau tidak dapat mengantisipasi akan kemungkinan adanya
bahaya
 Terlalu lemah dalam menegakkan disiplin kerja bagi para pekerja untuk menaati
peraturan keselamatan kerja
(A.M.Sugeng Budioro.2005.Bunga Rampai, Hiperkes & KK, Edisi Kedua
(Revisi).Semarang : Undip)

 Faktor-faktor penyebab penyakit akibat kerja dan penyakit yang
ditimbulkannya
 Golongan fisik
o Suara yang keras dapat menyebabkan tuli
o Suhu tinggi yang dapat menyebabkan heat stroke, heat cramps, atau
hyperpirexi& suhu rendah menyebabkan chilblain, trench foot, atau frosbite
o Penerangan yang kurang atau yang terlalu terang (menyilaukan) menyebabkan
kelainan penglihatan dan memudahkan terjadinya kecelakaan
o Penurunan tekanan udara (dekompresi) yang mendadak dapat menyebabkan
caisson disease
o Radiasi dari sinar rontgen atau radio aktif menyebabkan penyakit-penyakit
darah. kemandulan, kanker kulit dan sebagainya
 Golongan kimiawi
o Gas yang menyebabkan keracunan, misalnya: CO, HCN.H
2
S, SO
2

o Debu-debu misalnya debu silica, kapas, asbest ataupun debu logam berat
 Golongan penyakit infeksi
Misalnya penyakit antrax yang disebabkan bakteri Bacillus antracis pada penyamak
kulit atau pengumpul wool. Penyakit-penyakit infeksi pada karyawan yang bekerja
dalam bidang mikrobiologi ataupun dalam perawatan penderita penyakit menular.
 Golongan fisiologi
Penyakit yang disebabkan karena sikap badan yang kurang baik; karena konstruksi
mesin yang tidak cocok, ataupun karena tempat duduk yang tidak sesuai.
 Golongan mentalpsikologi
Penyakit yang timbul karena hubungan yang kurang baik antara sesama karyawan,
antara karyawan dengan pimpinan karena pekerjaan yang tidak cocok dengan psikis
karyawan, karena pekerjaan yang membosankan ataupun karena upah imbalan yang
terlalu sedikit upah sehingga tenaga pikirannya tidak dicurahkan kepada pekerjaannya
melainkan kepada usaha-usaha pribadi untuk menambah penghasilannya.
(Suma’mur. 1986. “Higiene Perusahaan dan Keselamatan Kerja”. Gunung Agung
J akarta)

4. Klasifikasi
Menurut Organisasi Perburuhan Internasional (ILO), kecelakaan akibat kerja
diklasifikasikan menjadi 4 macam, yakni:
Aang Khoirul Anam LBM 5

13

a. Klasifikasi menurut jenis kecelakaan
o terjatuh
o tertimpa benda jatuh
o terjepit oleh benda
o pengaruh suhu tinggi
o terkena arus listrik
b. Klasifikasi menurut penyebab
 Mesin
o mesin penyalur(transmisi)
o mesin-mesin untuk menggerakan logam
o mesin-mesin pengolah kayu
o mesin-mesin pertanian
o mesin-mesin pertambangan
 Alat angkut dan alat angkat
o mesin angkat dan peralatannya
o alat angkutan di atas roda
o alat angkutan udara
o alat angkutan air
 Peralatan lain
o Bejana bertekanan
o Dapur pehakar dan pemanas
o Instalasi pendingin
o Alat-alat listrik (tangan)
o Tangga
 Bahan-bahan, zat-zat dan radiasi
o bahan peledak
o debu, gas ciran dan zat-zat kimia terkecuali bahan peledak
o radiasi
 Lingkungan kerja
o di luar bangunan
o di dalam bangunan
o di bawah tanah
c. Klasifikasi menurut sifat luka atau kelainan
o Patah tulang
o Dislokasi / keseleo
o Regang otot / urat
o Memar dan luka dalam yang lain
o Amputasi
d. Klasifikasi menurut letak kelainan atau luka di tubuh
o Kepala
o Leher
o Badan
o Anggota atas
o Anggota bawah
(Notoatmodjo, S, Prof. 2003. “I lmu Kesehatan Masyarakat Prinsip-Prinsip Dasar”.
J akarta : Rineka Cipta)
5. Upaya dan pencegahan
Aang Khoirul Anam LBM 5

14

o Substitusi
Yaitu dengan mengganti bahan-bahan yang berbahaya dengan bahan-bahan yang
kurang atau tidak berbahaya, tanpa mengurangi hasil pekerjaan maupun mutunya
o Isolasi
Yaitu dengan mengisolir (menyendirikan) proses-proses yang berbahaya dalam
perusahaan.Misalnya menyendirikan mesin-mesin yang sangat gemuruh, atau proses-
proses yang menghasilkan gas atau uap yang berbahaya.
o Ventilasi umum
Yaitu dengan mengalirkan udara sebanyak perhitungan ruangan kerja, agar kadar
bahan-bahan yang berbahaya oleh pemasukan udara ini akan lebih rendah dari nilai
ambang batasnya
o Ventilasi keluar setempat
Yaitu dengan menghisap udara dari suatu ruang kerja agar bahan-bahan yang
berbahaya dihisap dan dialirkan keluar. Sebelum dibuang ke udara bebas agar tidak
membahayakan masyarakat, udara yang akan dibuang ini harus diolah terlebih dahulu.
o Mempergunakan alat pelindung perseorangan
Para karyawan dilengkapi dengan alat pelindung sesuai dengan jenis pekerjaannya.
Misalnya: masker, kacamata, sarung tangan, sepatu, topi, dll
o Pemeriksaan kesehatan sebelum kerja
Para karyawan atau calon karyawan diperiksa kesehatannya (fisik dan psikis) agar
penempatannya sesuai dengan jenis pekerjaan yang dipegangnya secara optimal
o Penerangan atau penjelasan sebelum kerja
Kepada para karyawan diberikan penerangan/penjelasan sebelum kerja agar mereka
mengetahui, mengerti dan mematuhi peraturan-peraturan serta agar lebih berhati-hati
o Pemeriksaan kesehatan ulangan pada para karyawan secara berkala
Pada waktu-waktu tertentu secara berkala dilakukan pemeriksaan ulangan untuk
mengetahui adanya penyakit-penyakit akibat kerja pada tingkat awal agar pengobatan
dapat segera
o Pendidikan tentang kesehatan dan keselamatan kerja
Para karyawan diberikan pendidikan kesehatan dan keselamatan kerja secara kontinyu
dan teratur agar tetap waspada dalam menjalankan pekerjaannya
(Suma’mur. 1986. “Higiene Perusahaan dan Keselamatan Kerja”. Gunung Agung
J akarta)
 Pencegahan
a. Untuk mencegah gangguan daya kerja, ada beberapa usaha yang dapat
dilakukan agar para buruh tetap produktif dan mendapatkan jaminan
perlindungan keselamatan kerja, yaitu:
Aang Khoirul Anam LBM 5

15

Pemeriksaan kesehatan sebelum bekerja (calon pekerja) untuk mengetahui
apakah calon pekerja tersebut serasi dengan pekerjaan barunya, baik secara
fisik maupun mental.
b. Pemeriksaan kesehatan berkala/ulangan, yaitu untuk mengevaluasi apakah
faktor-faktor penyebab itu telah menimbulkan gangguan pada pekerja.
c. Pendidikan tentang kesehatan dan keselamatan kerja diberikan kepada para
buruh secara kontinu agar mereka tetap waspada dalam menjalankan
pekerjaannya.
d. Pemberian informasi tentang peraturan-peraturan yang berlaku di tempat
kerja sebelum mereka memulai tugasnya, tujuannya agar mereka mentaatinya.
e. Penggunaan pakaian pelindung.
f. Isolasi terhadap operasi atau proses yang membahayakan, misalnya proses
pencampuran bahan kimia berbahaya, dan pengoperasian mesin yang sangat
bising.
g. Pengaturan ventilasi setempat/lokal, agar bahan-bahan/gas sisa dapat dihisap
dan dialirkan keluar.
h. Substitusi bahan yang lebih berbahaya dengan bahan yang kurang berbahaya
atau tidak berbahaya sama sekali.
i. Pengadaan ventilasi umum untuk mengalirkan udara ke dalam ruang kerja
sesuai dengan kebutuhan.
http://id.shvoong.com/business-management/human-resources/1822345-
usaha-usaha-pencegahan-terjadinya-kecelakaan/

Related Interests