EKSTRAKSI PELARUT

I. TUJUAN
1. Memahami prinsip kerja dari ekstraksi pelarut
2. Menentukan konsentrasi Ni
2+
yang terekstrak secara spektrofotometri

II. TEORI
Ekstraksi adalah suatu proses pemisahan dari bahan padat maupun cair
dengan bantuan pelarut. Pelarut yang digunakan harus dapat mengekstrak
substansi yang diinginkan tanpa melarutkan material lainnya. Ekstraksi
merupakan proses pemisahan suatu bahan dari campurannya, ekstraksi dapat
dilakukan dengan berbagai cara. Ekstraksi menggunakan pelarut didasarkan pada
kelarutan komponen terhadap komponen lain dalam campuran (Suyitno, 1989).
Batasnya adalah dimana zat terlarut dapat ditransfer dalam jumlah yang
berbeda dalam kedua fasa pelarut. Prinsip metoda ekstraksi ini didasarkan pasa
distribusi zat terlarut dengan perbandingan tertentu antara dua pelarut yang saling
tidak bercampur. Teknik ini dapat digunakan untuk kegunaan preparatif,
pemurnian, memperkaya, pemisahan serta analisa pada semua skala kerja. Mula -
mula metoda ini dikenal dalam kimia analisis, kemudian berkembang menjadi
suatau metoda yang cukup baik, sederhana, cepat dan dapat digunakan untuk ion -
ion logam dalam jumlah makrogram.
Diantara berbagai jenis metoda pemisahan, ekstraksi pelarut atau ekstraksi
air merupakan metoda pemisahan yang paling baik dan populer. Alasan utamanya
adalah pemisahan ini dapat dilakukan baik dalam tingkat mikro maupun makro.
Ekstraksi pelarut merupakan proses pemisahan suatu komponen dari suatu
campuran berdasarkan proses distribusi terhadap dua macam pelarut yang tidak
saling bercampur. Ekstraksi pelarut umumnya digunakan untuk memisahkan
sejumlah gugus yang diinginkan dan mungkin merupakan gugus pengganggu
dalam analisis secara keseluruhan. Kadang-kadang gugus-gugus pengganggu ini
diekstraksi secara selektif.
Teknik pengerjaan meliputi penambahan pelarut organik pada larutan air
yang mengandung gugus yang bersangkutan. Dalam pemilihan pelarut organik
agar kedua jenis pelarut (dalam hal ini pelarut organik dan air) tidak saling
tercampur satu sama lain. Selanjutnya proses pemisahan dilakukan dalam corong
pisah dengan jalan pengocokan beberapa kali.
Kelebihan ekstraksi pelarut yaitu :
- Pemisahan bersifat sederhana (hanya berupa pengocokan berulang-ulang).
- Bersih, cepat dan mudah
Prinsip dasar metoda ini adalah :
1. Hukum Fasa Gibbs : P + V = C + 2
2. Hukum Distribusi Nernst : K
D
= X
2
/ X
1

Proses ekstraksi pelarut berlangsung dalam tiga tahap :
- Tahap pembentukan kompleks yang tidak bermuatan
- Tahap distribusi zat yang terekstrak ke fasa organik
- Tahap interaksi pada fasa organik
Untuk memilih jenis pelarut yang sesai harus diperhatikan faktor-faktor
sebagai berikut:
1. Harga konstanta distribusi tinggi untuk gugus yang bersangkutan dan
konstanta distribusi rendah untuk gugus pengotor lainnya.
2. Kelarutan pelarut organik rendah dalam air
3. Viskositas kecil dan tidak membentuk emulsi dengan air
4. Tidak mudah terbakar dan tidak bersifat racun
5. Mudah melepas kembali gugus yang terlarut didalamnya untuk keperluan
analisa lebih lanjut.

NIKEL (Ni)
Nikel merupakan unsur golongan transisi dengan nomor atom 28. Nikel
adalah komponen yang ditemukan banyak dalam meteorit dan menjadi ciri
komponen yang membedakan meteorit dari mineral lainnya. Nikel berwarna putih
keperak-perakan dengan pemolesan tingkat tinggi. Bersifat keras, mudah ditempa,
sedikit ferromagnetis, dan merupakan konduktor yang agak baik terhadap panas
dan listrik. Nikel tergolong dalam grup logam besi-kobal, yang dapat
menghasilkan alloy yang sangat berharga.
Adanya logam nikel dapat diidentifikasikan dengan pereaksi organik yaitu
dimetilglioksim (DMG) yang merupakan pereaksi analisis untuk pengenalan
nikel, bismut, kobalt, tembaga, dan paladium. Dimetilglioksim merupakan salah
satu pereaksi organik yang mempunyai beberapa keuntungan diantaranya adalah:
Selektif : DMG dapat bereaksi hanya dengan ion logam saja
Sensitif : DMG dapat mengendapkan ion logam meskipun dalam
konsentrasi yang sangat kecil.

Faktor - faktor yang mempengaruhi pengekstraksian :
1. Interaksi dispersi
Daya dispersi tidak spesifik dalam sifat dan terjadi antara pasangan molekul
organik yang bedekatan letaknya. Daya dispersi ini disebabkan oleh gerakan
elektron dalam molekul yang menghasilkan desimetri atau dwikutub yang terjadi
seketika akan mempolarisasikan awan elektron molekul tetanggga.
2. Interaksi orientasi dipol daya induksi
Interaksi ini spesifik dalam sifat dan aturan penting dalam distribusi pada sistem
pengekstraksian. Bila dua molekul saling berdekatan, maka momen dwikutub
permanen saling tarik - menarik secara elektrostatik dan orientasi dwikutub terjadi
apabila kepala positif dari suatu dwi kutub terletak didekat kepala negatif
dwikutub lainnya.
3. Ikatan Hidrogen
Ikatan hidrogen merupakan ikatan spesifik paling umum dalam sistem
pengekstraksian. Hal ini timbul dari interaksi gugus pemberi proton, seperti :
OH
-
, NH, SH, CHCl
3
dan gugus penerima proton seperti alkohol, kloroforom,
fenol, asam kuat, sulfida, nitritdan amina.
4. Ikatan ion
Ikatan ion disini adalah antara ion positif dengan ion negatif.

Kegunaan dari ekstraksi pelarut :
- Memisahkan logam-logam di dalam suatu campuran
- Membuat senyawa-senyawa laboratorium (anorganik, biokimia, dan
anorganik.
Klasifikasi dari sistem pelarut atau ekstraksi pelarut, didasrkan proses
ekstraksinya dibagi atas :
1. Ekstraksi kelat
Jika ekstraksi berlangsung memlalui pembentukan kelat atau struktur
cincin. Contoh : ekstraksi suaranium dengan 8 hidroksi kuionon pada
kloroform.
2. Ektraks.i solfasi
Karena spesies ekstraksi disolvasi ke fasa organik. Contoh : ekstraksi
besi (III) dari asam hidroklorida dengan dietil eter.
3. Ekstraksi pembentukan pasangan ion
Ekstraksi berlangsung melalui spesies netral yang tidak bermuatan
diekstraksi ke fasa organik. Contoh : ekstraksi scandium dengan
trioktilamin atau uranium dengsn trioktilamin
4. Ekstraksi sinergis
Disebabkan karena adnya efek memperkuat yang berakibat penamban
han ekstraksi dengan memanfaatkan pelarut pengekstraksi.

Metode ekstraksi dibagi menjadi dua tahap :
1. Ekstraksi tunggal
Dengan mencampurkan bahan yang akan diekstrak dihubungkan satu kali
dengan pelarut. Disini sebagian dari zat yang akan diolah akan larut
dalam bahan pelarut sampai tercapai kesetimbangan. Kekurangan dari
ekstraksi ini adalah rendemennya rendah.
2. Ekstraksi multitahap
Bahan yang akan diekstrak dihubungkan beberapa kali dengan bahan
pelarut yanng baru dalam jumlah yang sama besar. Setelah melalui
beberapa kali pencampuran dan pemisahan maka didapatkan ekstrak
dengan rendeman yang lebih tinggi daripada ekstraksi tunggal.

III. PROSEDUR PERCOBAAN
3.1 Alat Dan Bahan
b. Alat
Corong pisah Wadah pendistribusian
Spektrofotometer Alat mengukur serapan
Pipet gondok Mengambil larutan dalam jumlah tertentu
Labu ukur Wadah larutan standar
Buret Wadah larutan standar

c. Bahan
Larutan Ni
2+
Larutan sampel
Dimetilglioksim pengompleks
Kloroform (CHCl
3
) Pelarut
Air brom Mempercepat pemisahan
Aquadest Pelarut


















3.2 Cara Kerja
1. Disiapkan larutan standar Ni
2+
50 mg/L
2. Dibuat dengan larutan standar Ni
2+
dengan variasi 0, 2, 4, 6 ppm,
dalam labu ukur 50 ml.
3. Dipipet 25 ml larutan standar tersebut dan dimasukkan ke dalam
corong pisah.
4. Ditambahkan 2 ml dimetilglioksim, dikocok sampai warnanya
kemerahan.
5. Ditambahkan 8 tetes air brom, dikocok, dan ditambahkan CHCl
3

sebanyak 5 ml, lalu dikocok sampai tercapai kesetimbangan.
6. Diamkan beberapa saat, dan akan terbentuk dua lapisan.
7. Diambil lapisan bawah yang terbentuk, dimasukkan ke dalam kuvet.
8. Ditambahkan 2,5 ml CHCl
3
ke dalam campuran, dan dikocok.
9. Diambil lapisan bawah yang terbentuk, dan dimasukkan ke dalam
kuvet yang sama.
10. Larutan tugas diminta ke asistan dan lakukan hal yang sama dengan
standar
11. Diukur absorban larutan menggunakan spektrofotometer pada
panjang gelombang maksimum.
12. Dihitung konsentrasi Ni dalam larutan tugas dengan menggunakan
kurva kalibrasi standar.









3.3 Skema Kerja
Larutan standar Ni
2+
50 ppm
dibuat deret standar (0; 2; 4; 6 mL)

Larutan Ni
++
0; 2; 4; 6 mL
dipipet masing-masing 25 ml
dimasukkan dalam corong pisah
+ 2 ml DMG, dikocok

Larutan berwarna kemerahan
+ 8 tetes air brom, dikocok
+ 5 ml CHCl
3
, dikocok
didiamkan beberapa saat

Terbentuk 2 lapisan
diambil lapisan bawah
dimasukkan dalam kuvet

Lapisan atas
+ 2,5 mL CHCl
3,
dimasukkan dalam
kuvet yang sama

Diukur absorban larutan menggunakan spektrofotometer











3.4 Skema Alat
a. Corong pisah

Keterangan :
1. Corong pisah
2. Campuran

b. Spektrofotometer


Keterangan :
3. Detektor
4. Pengesetan panjang gelombang
5. Pemilhan A/T/C
6. Tombol Blank
7. Tempat sampel

1
2
3
4
5
1
2
DAFTAR PUSTAKA

Brink O.C. et. Al. DASAR-DASAR ILMU INSTRUMEN. Bandung: Bina
Cipta.1993

Day, R.A. dan A. L. Underwood. 1999. ANALISIS KIMIA KUANTITATIF.
Edisi ke V. Penerbit Erlangga ; Jakarta .Hal. 461 -465.

Khopkar, S.M. 2010. KONSEP DASAR KIMIA ANALITIK. Jakarta :
Universitas Indonesia

Vogel. 1994. KIMIA ANALISIS KUANTITATIF ANORGANIK. Edisi ke-IV.
Penerbit EGC. Hal . 165 - 170.





































LAPORAN AWAL
PRAKTIKUM CARA PEMISAHAN DAN ELEKTRO ANALITIK
EKSTRAKSI PELARUT


Nama : Lailatul Anna
No. Bp : 1210411013
Jurusan : Kimia
Hari/Tanggal Praktikum :Rabu / 10 September 2014
Kelompok : I (satu)
Rekan kerja : 1. Mitra Yuningsih
2. Sucy Severli
3. Kartika M.Z






JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2014