U

N
¡
V
E
R
8
¡
T
A
8
N
EGE
R
¡

8
E
M
A
R
A
N
G



PENDEKATAN KRITIS
DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH KONTROVERSIAL
DI SEKOLAH MENENGAH ATAS SEBAGAI UPAYA MEWUJUDKAN
KESADARAN SEJARAH PESERTA DIDIK




Karya Tulis Ilmiah

Diajukan untuk Mengikuti Kompetisi Karya Tulis Mahasiswa (KKTM)
Bidang Pendidikan Tahun 2008











Disusun Oleh :

TSABIT AZINAR AHMAD 3101404029
SYAIFUL AMIN 3101404005
KHOIRUL ANWAR 3101407005



JURUSAN SEJARAH
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2008
ii
LEMBAR PENGESAHAN

Judul Karya Tulis : Pendekatan Kritis dalam Pembelajaran Sejarah
Kontroversial Di Sekolah Menengah Atas sebagai Upaya
Mewujudkan Kesadaran Kritis Peserta Didik

Bidang Penulisan : Bidang Pendidikan

Ketua /Penulis Utama
1. Nama Lengkap : Tsabit Azinar Ahmad
2. NIM : 3101404029
3. Jurusan/Fakultas : Sejarah/Ilmu Sosial
4. Universitas : Universitas Negeri Semarang

Anggota Pelaksana : 2 (dua) orang
Dosen Pendamping
1. Nama Lengkap : Arif Purnomo, S.Pd., S.S., M.Pd
2. NIP : 132238496

Karya tulis ini diajukan dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa.

Semarang, 16 Juni 2008
Menyetujui
Ketua Jurusan Sejarah Ketua/Penulis Utama




Arif Purnomo, S.Pd., S.S., M.Pd Tsabit Azinar Ahmad
NIP. 132238496 NIM. 3101404029

Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaaan Dosen Pendamping
Universitas Negeri Semarang



Drs. Masrukhi, M.Pd. Arif Purnomo, S.Pd., S.S., M.Pd
NIP.131764049 NIP. 132238496






iii
RINGKASAN

Ahmad, Tsabit Azinar, Syaiful Amin, Khoirul Anwar. 2008. Pendekatan Kritis
dalam Pembelajaran Sejarah Kontroversial Di Sekolah Menengah Atas
sebagai Upaya Mewujudkan Kesadaran Kritis Peserta Didik.

Semenjak bergulirnya reformasi, perubahan-perubahan terjadi dalam berbagai
aspek, khususnya dalam penulisan sejarah yang kemudian memunculkan sejarah
kontroversial. Adanya sejarah kontroversial ini telah membawa perubahan dalam
bidang pendidikan sejarah dan memunculkan beberapa permasalahan dalam
pembelajarannya. Tujuan dari penulisan karya tulis ini adalah untuk merumuskan
upaya untuk mengatasi permasalahan dalam pembelajaran sejarah kontroversial di
Sekolah Menengah Atas, serta merumuskan strategi penerapan pendekatan kritis
dalam pembelajaran sejarah kontroversial di Sekolah Menengah Atas sebagai
upaya mewujudkan kesadaran sejarah peserta didik. Dengan demikian, secara
teoretis tulisan ini diharapkan menjadi satu kajian ilmiah tentang pembelajaran
sejarah kontroversial di sekolah dan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat
luas tentang adanya perubahan dalam sistem pendidikan sejarah. Penulisan
menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode pengumpulan data
menggunakan wawancara dan studi pustaka berbagai surat kabar, buku, dan
internet. Analisis data menggunakan model deskriptif kualitatif untuk memberikan
gambaran tentang pembelajaran sejarah kontroversial dan upaya yang dilakukan
untuk mengatasi permasalahan pembelajaran sejarah kontroversial. Pembahasan
menunjukkan bahwa permasalahan-permasalahan yang ditemui dalam kelas
sejarah secara umum dapat disebabkan oleh dua faktor, yakni faktor intern yakni
adanya perubahan dalam corak historiografi Indonesia postreformasi dan faktor
ekstern yakni faktor-faktor luar yang berasal dari luar sejarah yang mempengaruhi
sejarah dan pendidikan sejarah. Kemudian untuk mengatasi permasalahan
tersebut, diperlukan adanya upaya dari semua komponen penopang pendidikan
sejarah, yakni pemerintah, LPTK/perguruan tinggi, organisasi profesi/keilmuan,
praktisi pendidikan,media massa, dan masyarakat melalui strategi top down dan
bottom up. Oleh karena itu, perlu adanya upaya yang dilakukan oleh semua pihak
secara serempak menuju transformasi pendidikan sejarah menuju pendidikan
sejarah yang memberikan satu pendewasaan masyarakat yang dilandasi kejujuran,
bebas dari kepentingan pribadi, dan semangat membangun kesadaran kritis
masyarakat, tentang informasi kesejarahan terbaru kepada masyarakat dan praktisi
pendidikan. Upaya yang dilakukan oleh guru dalam mengajarkan sejarah
kontroversial sebagai upaya untuk mewujudkan kesadaran kritis peserta didik
tentang sejarah bisa melalui pendekatan kritis dalam pembelajaran sejarah
kontroversial. Pendekatan ini menekankan pada empat aspek, yakni latar
belakang, kronologi, komprehensif, dan kausalitas. Pembelajaran sejarah yang
bersifat kontroversial harus dilakukan dengan menggunakan prinsip
keseimbangan, di mana versi-versi yang muncul harus ditampilkan beserta
argumentasinya, tanpa ada pretensi dan subjektivitas. Melalui pendekatan ini
diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran kritis peserta didik.

Kata kunci: pendekatan kritis, pembelajaran sejarah, sejarah kontroversial

iv
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah, Tuhan yang Maha Kuasa, yang dengan rahmat-Nya
karya tulis dengan judul “Pendekatan Kritis dalam Pembelajaran Sejarah
Kontroversial Di Sekolah Menengah Atas sebagai Upaya Mewujudkan Kesadaran
Kritis Peserta Didik” telah diselesaikan.

Kami menyadari bahwa dalam penyusunan karya tulis ini, keberhasilan bukan
semata-mata diraih oleh penulis, melainkan diraih berkat dorongan dan bantuan
dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini, penulis bermaksud
menyampaikan ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang membantu dalam
penyusunan karya tulis ini. Dengan penuh kerendahan hati, penulis mengucapkan
terima kasih kepada

1. Bapak Arif Purnomo, S.Pd., S.S., M.Pd. selaku pembimbing karya ilmiah atas
segala masukannya
2. Ibu Dra. Ufi Saraswati M.Hum. dan segenap dosen tim pembina karya ilmiah
di Jurusan Sejarah
3. Bapak Drs. Amin Yusuf, M.Si dan Ali Formen Yudha, S.Pd. atas masukan-
masukannya yang berharga
4. Keluarga Besar Jurusan Sejarah FIS Universitas Negeri Semarang
5. Teman-teman Patemon Syndicate atas segala keceriaan dan bantuannya
6. Teman-teman seperjuangan (PMII, HSC, dll) yang memiliki visi perbaikan
yang tidak dapat disebut satu persatu.

Kami menyadari dalam karya tulis ini masih terdapat kekurangan. Oleh karena itu
kritik dan saran sangat dibutuhkan sebagai upaya perbaikan. Semoga karya tulis
ini bermanfaat.
Semarang, 17 maret 2008
Penyusun
v
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .................................................................................. i
HALAMAN PENGESAHAN .................................................................... ii
RINGKASAN ............................................................................................. iii
KATA PENGANTAR ................................................................................ iv
DAFTAR ISI .............................................................................................. v
DAFTAR GAMBAR DAN TABEL ........................................................... vi

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah ........................................................................... 5
C. Tujuan Penulisan ............................................................................ 5
D. Manfaat Penulisan .......................................................................... 6

BAB II TELAAH PUSTAKA
A. Tujuan Pendidikan Sejarah ............................................................ 7
B. Sejarah yang Bersifat Kontroversial ............................................... 10
C. Pendekatan Kritis dalam Pembelajaran .......................................... 11
D. Strategi Belajar Konstruktivisme ................................................... 12

BAB III METODE PENULISAN
A. Pendekatan Penulisan ..................................................................... 14
B. Sumber Kajian dan Teknik Pengumpulan Data .............................. 14
C. Prosedur Penulisan Karya Tulis Ilmiah ........................................... 15

BAB IV ANALISIS DAN SINTESIS
A. Upaya Mengatasi Permasalahan Pembelajaran Sejarah
Kontroversial di Sekolah Menengah Atas ..................................... 16
B. Pendekatan Kritis dalam Pembelajaran Sejarah Kontroversial ..... 22


vi
BAB V SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan ......................................................................................... 29
B. Saran ............................................................................................... 29

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 31
LAMPIRAN
Biodata Penulis ..................................................................................... 33
Silabus .................................................................................................. 36
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ..................................................... 38
Daftar nama Informan .......................................................................... 42
Pedoman Wawancara ........................................................................... 43
































vii
DAFTAR GAMBAR DAN TABEL


Gambar 1. Identifikasi penyebab permasalahan pembelajaran sejarah
Kontroversial ......................................................................... 18
Gambar 2. Pola Hubungan Sinergis Enam Komponen Penopang
Pendidikan Sejarah ................................................................ 22

Tabel 1. Posisi Materi Gerakan 30 September di SMA dalam
Kurikulum 2006 .................................................................... 23
Tabel 2. Perumusan materi pokok dan indikator ................................. 24
Tabel 3. Beberapa media dan sumber belajar tentang peristiwa
Gerakan 30 September tahun 1965 ........................................ 25
Tabel 4. Langkah-langkah pelaksanaan pendekatan kritis dalam
pembelajaran materi G 30 S ................................................... 26
Tabel 5. Evaluasi terhadap pembelajaran tentang peristiwa
Gerakan 30 September tahun 1965 ........................................ 28
























1
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Semenjak bergulirnya reformasi, perubahan-perubahan terjadi dalam berbagai
aspek kehidupan bangsa Indonesia. Salah satu perubahan yang paling menonjol
adalah dengan terwujudnya satu keadaan yang memungkinkan masyarakat untuk
mengemukakan pendapatnya secara bebas. Adanya kebebasan dalam
mengungkapkan pendapat menjadi satu indikator dari pencapaian iklim yang
demokratis dalam sebuah sistem pemerintahan. Reformasi telah mengubah mind
set atau pola pikir sebagian besar masyarakat menjadi lebih terbuka dan memiliki
keluasan pandangan tentang kondisi diri dan lingkungannya.

Perubahan pola pikir masyarakat yang ditunjang dengan adanya serangkaian
perubahan kebijakan pemerintah posreformasi telah membawa seperangkat
perubahan dalam bidang sejarah. Adanya reformasi telah membawa satu tahapan
baru dalam historiografi Indonesia yang oleh Kuntowijoyo disebut dengan
gelombang ketiga historiografi Indonesia (Adam, 2007:8-9). Gelombang pertama
disebut sebagai dekolonisasi sejarah dan gelombang kedua ditandai dengan
adanya pemanfaatan ilmu sosial dalam sejarah. Sementara itu gelombang ketiga
dalam historiografi Indonesia ditandai dengan adanya upaya pelurusan terhadap
hal-hal kontroversial dalam sejarah yang ditulis semasa Orde Baru.

Perspektif penulisan sejarah posreformasi telah mengalami suatu dinamika. Hal
ini dapat dilihat dengan bermunculannya trend yang disebut sebagai “sejarah
korban” (Adam, 2007:9). Sejarah korban merupakan sejarah yang ditulis
berdasarkan perspektif dari pihak yang merasa dirugikan atau yang menjadi
korban dalam suatu peristiwa sejarah dan penulisannya di kemudian hari. Adam
(2007:9-14) memberikan penjelasan tentang ciri dari gelombang ketiga sejarah
Indonesia yakni (1) penulisan sejarah “terlarang”, (2) penerbitan sejarah akademis
yang kritis, serta (3) penerbitan biografi tokoh terbuang. Dengan adanya hal-hal
tersebut, sejak reformasi telah terjadi pergeseran paradigma dan dinamisasi
penulisan sejarah, dari sejarah yang semula bersifat tunggal versi resmi
2
pemerintah menjadi sejarah yang lebih beragam dengan adanya beberapa versi
yang muncul dalam masyarakat.

Adanya perbedaan pandangan dengan bermunculannya beragam versi ini telah
menjadikan peristiwa sejarah menjadi bersifat kontroversial. Kemunculan sejarah
kontroversial tersebut telah membawa perubahan dalam pendidikan sejarah.
Perubahan tersebut paling tidak nampak pada aspek materi ajar dari Sejarah itu.
Adanya perubahan dalam dunia pendidikan sejarah berkaitan dengan munculnya
sejarah kontroversial, pada dasarnya justru membawa pendidikan sejarah ke arah
pendidikan ideal, yaitu satu tahapan yang mampu membawa peserta didik menuju
ke arah kedewasaan. Hal ini dikarenakan pembelajaran sejarah kontroversial
secara proporsional akan memberikan kemampuan peserta didik untuk berpikir
secara kritis.

Berkaitan dengan pembelajaran sejarah kontroversial, beberapa peristiwa sejarah
yang dapat diklasifikasikan masih bersifat kontroversial antara lain Gerakan 30
September, peristiwa seputar Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar),
Serangan Umum 1 Maret 1949, lahirnya Pancasila, lahirnya Orde Baru, peristiwa
seputar reformasi, sampai permasalahan integrasi Timor-Timur. Akan tetapi,
sejarah kontroversial yang paling banyak diperdebatkan di masyarakat adalah
Gerakan 30 September, Supersemar, dan Serangan Umum 1 Maret 1949 (Adam,
2007:14).

Pembelajaran sejarah kontroversial sebagai satuan dari pendidikan sejarah ini
memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat. Hal ini dikarenakan
pendidikan sejarah pada intinya memberikan pengertian kepada masyarakat
tentang pelajaran-pelajaran dan makna dari peristiwa pada masa lampau. Dengan
demikian, pendidikan sejarah yang dilaksanakan berdasarkan kebenaran dan
kearifan maka dapat terwujud masyarakat yang sadar sejarah dan arif dalam
menanggapi masa lampau, dan dapat menata masa depannya secara lebih baik.
Namun demikian, ada beberapa permasalahan yang terjadi dalam pembelajaran
sejarah kontroversial di sekolah.

3
Dalam pelaksanaannya di dalam kelas, terjadi hal yang berlawanan dengan
semangat reformasi pada pembelajaran sejarah kontroversial. Dalam pembelajaran
sejarah kontroversial, terjadi ketidaksesuaian antara semangat reformasi yang
menunjung tinggi semangat keterbukaan dan kebebasan mengemukakan pendapat
dengan kenyataan pendidikan sejarah pada saat ini, yakni adanya seperangkat
kebijakan pemerintah yang masih belum membuka peluang yang maksimal untuk
pengembangan proses berpikir kritis. Hal ini nampak dikeluarkannya Surat
Keputusan Jaksa Agung Nomor 019/A/JA/03/2007 pada tanggal 5 Maret 2007
yang melarang buku-buku pelajaran sejarah yang tidak membahas pemberontakan
(PKI) tahun 1948 dan 1965. Akibatnya, terjadi penarikan buku ajar besar-besaran
disertai dengan pemusnaham buku tersebut secara massal. Adanya kenyataan
yang seperti ini merupakan salah satu hal yang menghilangkan kaidah sejarah
sebagai ilmu, sekaligus menjadikan sejarah sebagai alat indoktrinasi untuk
menghasilkan pengikut yang penurut (Purwanto, 2006:270). Hal ini justru akan
menimbulkan permasalahan baru dalam masyarakat dengan adanya “dosa sejarah”
berupa vonis bersalah terhadap suatu kelompok masyarakat dan “dendam sejarah”
berupa kebencian terhadap dari suatu kelompok masyarakat kepada kelompok lain
akibat suatu peristiwa sejarah.

Beberapa permasalahan lain yang ditemui dalam pembelajaran sejarah
kontroversial adalah masih terus berkembangnya permasalahan-permasalahan
klasik dalam pembelajaran sejarah. Asvi Warman Adam (2006:ix-xix)
mengidentifikasi beberapa kelemahan dalam pendidikan sejarah di Indonesia,
yaitu (1) adanya paradigma berpikir bahwa belajar sejarah sebatas pada hapalan
(2) ada kecenderungan bahwa kemampuan guru adalah lemah, terutama dalam
bidang evaluasi, serta (3) adanya seperangkat kebijakan yang disusun pemerintah
masih belum membuka peluang yang maksimal untuk pengembangan proses
berpikir kritis. Hal ini nampak dari adanya intervensi yang berlebih dari
pemerintah yang menarik buku ajar sejarah pada tahun 2007 lalu.

Ditinjau dari segi historiografi, permasalahan yang ditemui dalam pendidikan
sejarah adalah tidak adanya bahan ajar atau referensi yang bermutu dan
kemampuan penulis buku ajar dan guru yang kurang meng-up date informasi
4
terbaru (Purwanto, 2006:268). Adanya hal yang demikian dimungkinkan karena
sejarawan itu sendiri, seperti disebut oleh Purwanto (2005), “berdiri di menara
gading”. Akibatnya adalah akses masyarakat, khususnya pihak praktisi pendidikan
sejarah untuk mengetahui informasi kesejarahan menjadi terbatas.

Permasalahan lain berkaitan dengan masalah pendidikan sejarah yang sampai saat
ini masih sering terjadi adalah seperti yang diungkapkan oleh Suharso (1992)
dalam penelitiannya tentang persepsi siswa terhadap guru sejarah. Dalam
penelitiannya dijelaskan bahwa tampaknya faktor cara mengajar guru sejarah
merupakan faktor terpenting dari semakin memburuknya pembelajaran sejarah
tersebut. Kebanyakan guru sejarah ketika mengajar hanya memberikan cerita yang
diulang-ulang, membosankan, menyebalkan, dan guru sejarah dianggap siswa
sebagai guru yang memberikan pelajaran yang tidak berguna (Suharso, 1992:23).
Adanya hal tersebut telah memperkuat persepsi siswa tentang pendidikan sejarah
menjadi satu pelajaran yang membosankan, monton, kurang menyenangkan,
terlalu banyak hapalan, kurang variatif dan sebagainya.

Selain alasan-alasan di atas, ditinjau dari perspektif seorang guru, menurut Ig.
Kingkin Teja Angkasa, guru SMA Kolase De Britto Yogyakarta, permasalahan
dalam pendidikan sejarah yang menjadikan sejarah menjadi kurang menarik
adalah (1) adaya kejenuhan siswa tentang pelajaran sejarah, (2) materi
pembelajaran sejarah yang terkesan usang, serta (3) kurangnya perhatian
pemerintah dalam menempatkan sejarah secara proprsional bila dibandingkan
dengan pelajaran lain, seperti pemberian waktu yang sedikit
(http://www.kompas.com/kompas-cetak/0310/20/Didaktika/633991.htm). Dari
wawancara dengan Drs. Sigit Mardjono dan Sri Utari, S.Pd., guru sejarah di SMA
Negeri 1 Banjarnegara, permasalahan yang melingkupi pembelajaran sejarah yang
kontroversial masih berkutat pada permasalahan minimnya sumber ajar standar
untuk pembelajaran materi, serta minimnya jam ajar sejarah.

Dari uraian di atas, secara keseluruhan permasalahan utama yang ditemui adalah
pola pengembangan pembelajaran kontroversi sejarah masih belum diterapkan
secara maksimal dan permasalahan seputar campur tangan pemerintah yang
5
terlalu jauh dalam pembelajaran Sejarah, serta faktor kepentingan dari pihak-
pihak tertentu juga selalu melingkupi proses pendidikan sejarah. Hal ini terlihat
dari kecederungan guru untuk melakukan pembelajaran berdasarkan buku teks
yang digunakan, tanpa ada upaya perbandingan dengan sumber-sumber lain.
Pendekatan dalam pembelajaran juga masih relatif lama, yakni masih pada
penggunaan model konvensional seperti ceramah. Sistem evaluasinya lebih
cenderung pada pertanyaan-pertanyaan yang bersifat hapalan. Oleh karena itu,
masih perlu diadakan satu perbaikan dan penyempuranaan dalam pembelajaran
Sejarah.

Adanya permasalahan tersebut menjadikan satu pekerjaan yang harus segera
mungkin diselesaikan guna mewujudkan kesadaran sejarah dalam diri peserta
didik. Atas dasar permasalahan dan pemikiran di atas, karya tulis ini berupaya
untuk melakukan identifikasi terhadap permasalahan dalam pembelajaran sejarah,
khususnya materi tentang sejarah kontroversial, sekaligus menawarkan
pendekatan baru dalam pembelajaran sejarah kontroversial. Dengan adanya
identifikasi terhadap masalah pembelajaran sejarah kontroversial diharapkan dapat
dirumuskan adanya solusi yang bertujuan untuk mewujudkan suatu proses
pendidikan sejarah yang ideal.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, rumusan masalah yang diulas
dalam karya tulis ini adalah
1. Bagaimana upaya yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan
pembelajaran sejarah kontroversial di Sekolah Menengah Atas?
2. Bagaimana penerapan pendekatan kritis dalam pembelajaran sejarah
kontroversial di Sekolah Menengah Atas sebagai upaya mewujudkan
kesadaran sejarah peserta didik?

C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah yang telah disusun di atas, tujuan dari karya tulis
ini adalah
6
1. Merumuskan upaya untuk mengatasi permasalahan dalam pembelajaran
sejarah kontroversial di Sekolah Menengah Atas.
2. Merumuskan strategi penerapan pendekatan kritis dalam pembelajaran sejarah
kontroversial di Sekolah Menengah Atas sebagai upaya mewujudkan
kesadaran sejarah peserta didik.

D. Manfaat Penulisan
1. Manfaat Teoretis
Secara teoretis, karya tulis ini dapat dijadikan suatu kajian ilmiah tentang
permasalahan yang ditemui dalam pembelajaran sejarah, khususnya sejarah
kontroversial serta pemecahan masalahnya.

2. Manfaat Praktis
Secara praktis, karya tulis ini diharapkan mampu memberikan manfaat berupa
a. Bagi praktisi pendidikan, dapat memberikan gambaran tentang
permasalahan pembelajaran sejarah dan identifikasi penyebab
permasalahan, serta menawarkan alternatif pemecahannya.
b. Bagi pemerintah dapat menjadi satu masukan tentang penentuan kebijakan
pendidikan yang menekankan aspek berpikir kritis pada peserta didik.














7
BAB II
TELAAH PUSTAKA

A. Tujuan Pendidikan Sejarah
Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan
potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan
dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Pendidikan bertujuan mengembangkan kemampuan yang dimiliki manusia secara
optimal. Agus Salim (2004) menyatakan bahwa pendidikan berusaha membuat
anak didik menemukan jati diri, kemampuan, keterampilan, kecerdasan, dan
kepribadiannnya. Paulo Freire menyatakan bahwa pendidikan yang baik adalah
pendidikan yang membebaskan, yakni pendidikan yang menumbuhkan kesadaran
kritis transitif dari peserta didik, berupa kemampuan dalam menafsirkan masalah-
masalah, percaya diri dalam berdiskusi, mampu menerima dan menolak satu
pendapat, di mana seseorang mampu merefleksi dan melihat hubungan sebab
akibat (Manggeng, 2005:43). Sesuai dengan UU No. 20 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya
potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri,
dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Secara spesifik, tujuan dari pelaksanaan pendidikan sejarah dalam kurikulum
2006 seperti tercantum dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22
Tahun 2006 adalah agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut
“(1) membangun kesadaran peserta didik tentang pentingnya waktu dan
tempat yang merupakan sebuah proses dari masa lampau, masa kini, dan
masa depan, (2) melatih daya kritis peserta didik untuk memahami fakta
sejarah secara benar dengan didasarkan pada pendekatan ilmiah dan
metodologi keilmuan, (3) menumbuhkan apresiasi dan penghargaan
peserta didik terhadap peninggalan sejarah sebagai bukti peradaban bangsa
Indonesia di masa lampau, (4) menumbuhkan pemahaman peserta didik
8
terhadap proses terbentuknya bangsa Indonesia melalui sejarah yang
panjang dan masih berproses hingga masa kini dan masa yang akan
datang, (5) menumbuhkan kesadaran dalam diri peserta didik sebagai
bagian dari bangsa Indonesia yang memiliki rasa bangga dan cinta tanah
air yang dapat diimplementasikan dalam berbagai bidang kehidupan baik
nasional maupun internasional.”

Namun demikian peran penting pendidikan sejarah tidak hanya sebagaimana
terangkum dalam tujuan pendidikan sejarah dalam Permendiknas Nomor 22
Tahun 2006 tersebut, tetapi juga mencakup beberapa alasan filosofis tentang
pentinganya generasi sekarang untuk memahami masa lalu agar dapat menata
masa depan secara lebih baik.

Beberapa pakar seperti Soedjatmoko (1976), Hasan (2007), dan Wineburg (2006)
telah menekankan tujuan dari pendidikan sejarah bagi generasi muda. Wineburg
(2006) menyatakan bahwa “sejarah memiliki potensi untuk menjadikan kita
manusia yang berprikemanusiaan, hal yang tidak dapat dilakukan oleh mata
pelajaran lain dalam kurikulum sekolah.”

Kaitannya dengan upaya untuk mengenali dirinya sendiri, pendidikan sejarah
berarti mengajarkan kepada manusia satu langkah menuju kesadaran. Kesadaran
sejarah merupakan satu kondisi kejiwaan yang menunjukkan tingkat penghayatan
pada makna dan hakikat sejarah bagi masa kini dan masa yang akan datang, serta
menjadi dasar bagi berfungsinya makna sejarah dalam proses pendidikan (Widja,
1989:103). Lebih lanjut lagi Soedjatmoko menyatakan tentang kesadaran sejarah
sebagai berikut
“Suatu orientasi intelektual, suatu sikap jiwa yang perlu untuk memahami
secara tepat paham kepribadian nasional. Kesadaran sejarah ini
membimbing manusia kepada pengertian mengenai diri sendiri sebagai
bangsa, kepada self understanding of nation, kepada sangkan paran suatu
bangsa, kepada persoalan what we are, why we are what we are.”
(Soedjatmoko, 1973:12-13)

Selain pandangan di atas, tujuan dari pendidikan sejarah seperti dikemukakan oleh
Hasan (2007) adalah ditinjau dari mana pendidikan sejarah itu dimaknai. Menurut
Hasan (2007), ada beberapa pemaknaan terhadap pendidikan sejarah itu. Secara
tradisional pendidikan sejarah dimaknai sebagai upaya untuk menransfer
kemegahan bangsa di masa lampau kepada generasi muda. Dengan posisi yang
9
demikian maka pendidikan sejarah adalah wahana bagi pewarisan nilai-nilai
keunggulan bangsa. Melalui posisi ini pendidikan sejarah ditujukan untuk
membangun kebanggaan bangsa dan pelestarian keunggulan tersebut.

Makna kedua pendidikan sejarah terkait dengan upaya memperkenalkan peserta
didik terhadap disiplin ilmu sejarah. Oleh karena itu kualitas seperti berpikir
kronologis, pemahaman sejarah, kemampuan analisis dan penafsiran sejarah,
kemampuan penelitian sejarah, kemampuan analisis isu dan pengambilan
keputusan (historical issues-analysis and decision making) menjadi tujuan penting
dalam pendidikan sejarah (Hasan, 2007). Historical issues-analysis and decision
making menurut National Center for History in The School (NCHS) dalam
Curriculum Standards for Social Studies: Expectations of Excellence seperti
dikutip oleh Hasan (2007) adalah kemampuan menganalisis dan menentukan
apakah tindakan sejarah yang dilakukan oleh para pelaku sejarah tersebut
merupakan keputusan yang baik dan mengapa dianggap sebagai keputusan yang
baik.

Posisi lain dalam pendidikan sejarah seperti diungkapkan Hasan (2007) adalah
bahwa pendidikan sejarah dalam kurikulum pendidikan dasar haruslah
mempersiapkan peserta didik untuk hidup di masyarakat. Oleh karena itu posisi
disiplin ilmu sejarah sebagai sumber materi untuk mengembangkan berbagai
kemampuan yang diperlukan peserta didik.

Dari berbagai tujuan yang yang telah dipaparkan oleh para ahli kaitannya dengan
tujuan dari pendidikan sejarah, maka dapat disimpulkan bahwa pada dasanya
pendidikan sejarah bertujuan untuk mengembangkan kemampuan dan potensi
yang dimiliki oleh peserta didik dengan mengacu pada pemahaman terhadap
peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa lampau sehingga dalam diri peserta
didik terwujud satu kesadaran sejarah. Adanya kesadaran kritis peserta didik
tentang sejarah inilah yang menjadi tujuan utama dalam pendidikan sejarah yang
ideal.



10
B. Sejarah yang Bersifat Kontroversial
Sejarah didefinisikan sebagai rekonstruksi masa lalu (Kuntowijoyo, 1995:17).
Sejarah yang dimaksudkan dalam tulisan ini mencakup pengertian sejarah sebagai
kisah, yakni catatan dari kejadian yang dilakukan oleh manusia pada masa lampau
(Garraghan, 1957). Sementara itu yang dimaksud dengan kontroversial adalah
“perbedaan pendapat; pertentangan karena berbeda pendapat atau penilaian”
(Badudu dan Zein, 2001:715). Dengan demikian, sejarah kontroversial dapat
diartikan sebagai sejarah yang dalam penulisannya terdapat beberapa pendapat
yang berbeda, yang pada akhirnya memunculkan beberapa versi. Dikatakan
kontroversial karena antara pendapat satu dengan pendapat lainnya masing-
masing memiliki landasan yang menurut penulisnya adalah kuat.

Ada dua jenis sejarah kontroversial. Kategori pertama sejarah yang bersifat
kontroversial adalah kontroversi terhadap sejarah yang terjadinya pada kurun
waktu yang lama dari sekarang. Kategori kedua adalah sejarah kontroversial yang
terjadinya pada masa kontemporer. Namun demikian sejarah kontroversial
kontemporerlah yang sampai saat ini masih memunculkan berbagai masalah. Hal
ini dikarenakan kadar subjektivitas yang terkandung dalam sejarah kontemporer
lebih besar daripada masa-masa sebelumnya. Selain itu, pelaku atau saksi
sejarahnya masih ada dan masih memiliki satu implikasi yang dirasakan oleh
sebagian masyarakat pada masa ini (Ahmad, 2007:3).

Beberapa peristiwa sejarah kontemporer yang termasuk dalam sejarah yang
bersifat kontroversial antara lain kontroversi tentang penetapan tanggal 20 Mei
sebagai hari kebangkitan nasional, peristiwa Madiun 1948, peristiwa Serangan
Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta, peristiwa 17 Oktober 1952, Gerakan 30
September, perdebatan seputar Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar),
peristiwa Malari 1974, permasalahan Timor-Timur, sampai dengan peristiwa
seputar reformasi dan jatuhnya Soeharto pada 1998. Akan tetapi yang paling
banyak diperdebatkan di masyarakat adalah Gerakan 30 September, Supersemar,
dan Serangan Umum 1 Maret 1949 (Adam, 2007:14).

11
Dalam pelaksanaanya di kelas sejarah, Abu Su’ud (1993:20-21) menyatakan
bahwa pengembangan pola isu kontroversial dalam kelas Sejarah bertujuan untuk
mencapai (1) peningkatan daya penalaran, (2) peningkatan daya kritik sosial, (3)
peningkatan kepekaan sosial, (4) peningkatan toleransi dalam perbedaan
pendapat, (5) peningkatan keberanian pengungkapan pendapat secara demokratis,
serta (6) peningkatan kemampuan menjadi warga negara yang bertanggung jawab.
Dengan demikian maka pembelajaran kontroversi sejarah di dalam kelas Sejarah
pada dasarnya mampu memberikan seperangkat bekal dan pengembangan potensi
peserta didik sesuai dengan tujuan pendidikan.

Salah satu materi sejarah kontroversial yang diulas dalam karya tulis ini adalah
tentang Gerakan 30 September 1965. Sifat kontroversial ini nampak dari
beragamnya teori tentang peristiwa ini. Beise (2004) menjelaskan ada enam teori
tentang G 30 S, yakni, (1) teori keterlibatan PKI, (2) teori perwira-perwira
progresif, (3) teori keterlibatan Angkatan Darat dan Suharto, (4) teori keterlibatan
CIA, (5) teori keterlibatan Sukarno, serta (6) teori chaos.

C. Pendekatan Kritis dalam Pembelajaran
Pendekatan kritis dalam pembelajaran sejarah kontroversial dilandasi oleh
paradigma pendidikan kritis. Paradigma kritis di sini mengacu pada konsep yang
diutarakan oleh Henry Giroux dan Aronowitz seperti dikutip oleh Fakih
(2001:xiii) yang membagi ideologi pendidikan menjadi tiga aliran, yakni
konservatif, liberal, dan kritis. Jika dalam pandangan konservatif pendidikan
bertujuan untuk menjaga status quo, sementara bagi kaum liberal untuk perubahan
moderat dan cenderung bersifat mekanis, maka paradigma kritis menghendaki
perubahan struktur secara fundamental dalam politik ekonomi masyarakat di mana
pendidikan berada (Fakih, 2001:xvi).

Dalam perspektif kritis, urusan pendidikan adalah melakukan refleksi kritis
terhadap the dominant ideology ke arah transformasi sosial. Tugas utama
pendidikan adalah menciptakan ruang agar sikap kritis terhadap sistem dan
struktur ketidakadilan, serta melakukan dekonstruksi dan advokasi menuju sistem
sosial yang lebih adil. Lebih lanjut lagi Fakih (2001) menjelaskan bahwa tugas
12
utama pendidikan adalah “memanusiakan” kembali manusia yang mengalami
dehumanisasi karena sistem dan struktur yang tidak adil. Pendekatan kritis
berorientasi pada terwujudnya kesadaran kritis dari peserta didik agar mampu
mengidentifikasi ketidakadilan dalam sistem dan struktur yang ada, kemampuan
manganalisis bagaimana struktur dan sistem itu bekerja, serta bagaimana
mentranformasikannya (Fakih, 2001:xvii).

Senada dengan pemikiran di atas, dalam bidang pendidikan sejarah, secara lebih
operasional Kuntowijoyo (1995) menyatakan bahwa pendekatan kritis pada
dasarnya menyangkut tiga hal, yakni aspek (1) mengapa sesuatu terjadi, (2) apa
yang sebenarnya terjadi, serta (3) ke mana arah kejadian-kejadian itu. Dari
pemikiran tersebut, kandungan yang harus terdapat dalam pendekatan tersebut
adalah aspek (1) latar belakang, (2) kronologis, (3) komprehensif, serta (4)
kausalitas.

Dari uraian tersebut, batasan dari pendekatan kritis dalam pembelajaran sejarah
kontroversial adalah suatu pendekatan yang bersifat menyeluruh dalam mengulas
suatu peristiwa sejarah. Keberpihakan dalam pendekatan ini diwujudkan dalam
bentuk pengakomodasian berbagai pendapat yang ada tentang suatu peristiwa
sejarah, sehingga dapat dihindari adanya satu realitas yang dianggap paling benar
yang menafikkan gagasan-gagasan alternatif. Dengan pendekatan ini diharapkan
“dosa sejarah” berupa vonis bersalah terhadap suatu kelompok masyarakat dan
“dendam sejarah” berupa kebencian terhadap dari suatu kelompok masyarakat
kepada kelompok lain akibat peristiwa sejarah tidak akan terulang kembali.

D. Strategi Belajar Konstruktivisme
Konsep belajar konstruktivisme menyatakan bahwa pengetahuan dibangun oleh
manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang
terbatas dan tidak sekonyong-konyong (Baharudin dan Wahyuni, 2007:116).
Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap
untuk diambil dan diingat. Siswa harus mengonstruksikan pengetahuan itu dan
memberi makna melalui pengalaman nyata (Trianto, 2007). Dengan menggunakan
pendekatan konstuktivistik, pembelajaran dilakukan bersama-sama oleh guru
13
dengan peserta didik dengan produk kegiatan adalah membangun persepsi dan
cara pandang siswa mengenai materi yang dipelajari, mengembangkan masalah
baru, dan membangun konsep-konsep baru dengan menggunakan evaluasi yang
dilakukan pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung. Dalam pembelajaran
akan terjadi suatu proses dialog antara guru dan peserta didik dengan
mengembangkan pengalaman yang telah dimiliki oleh siswa dalam pembelajaran
(Anggara, 2007).

Strategi belajar konstruktivisme yang digunakan dalam pembelajaran sejarah
kontroversial menggunakan strategi yang diungkapkan Slavin seperti dikutip
Baharuddin dan Wahyuni, 2007 (127-129) yakni (1) top down processing, di
mana pembelajaran dimulai dari permasalahan yang kompleks untuk dipecahkan,
kemudian menghasilkan keterampilan yang dibutuhkan, (2) cooperative learning,
yang menekankan pada lingkungan sosial belajar dan menjadikan kelompok
belajar sebagai tempat untuk mendapatkan pengetahuan, mengeksplorasi
pengetahuan, dan menantang pengetahuan yang dimiliki oleh individu
(Baharuddin dan Wahyuni, 2007:128), (3) generative learning, yang menekankan
pada kemampuan untuk generalisasi dari apa yang diajarkan dengan skemata, baik
melalui pembuatan pertanyaan, kesimpulan, atau analogi-analogi terhadap apa
yang sedang dipelajari.













14
BAB III
METODE PENULISAN

A. Pendekatan Penulisan
Penulisan karya tulis ini menggunakan pendekatan kualitatif sehingga dihasilkan
data deskriptif berupa kata-kata tentang pembelajaran sejarah kontroversial yang
diamati. Artinya data yang dianalisis di dalamnya berbentuk deskriptif dan tidak
berupa angka-angka seperti halnya pada penelitian kuantitatif (Moleong, 2002:3).

Data diperoleh kajian pustaka. Data yang diperoleh diolah sehingga diperoleh
keterangan-keterangan yang berguna, selanjutnya dianalisis. Analisis data
menggunakan model deskriptif kualitatif yaitu upaya yang berlanjut, berulang dan
terus menerus untuk menjelaskan tentang pembelajaran kontroversi sejarah di
sekolah. Pendekatan yang digunakan dalam melakukan analisis adalah analisis
deduktif, di mana terlebih dahulu dijelaskan tentang upaya secara umum tentang
upaya penyelesaian permasalahan dalam pendidikan sejarah, baru kemudian
upaya yang dilakukan secaca khusus oleh salah satu komponen penopang
pendidikan sejarah sebagai upaya mewujudkan kesadaran sejarah peserta didik.

B. Sumber Kajian dan Teknik Pengumpulan Data
Wawancara dilakukan dengan guru di SMA Negeri 1 Banjarnegara tentang
pelaksanaan pembelajaran sejarah kontroversial pada bulan Mei 2008. Wawancara
tersebut menghasilkan data primer berupa gambaran tentang pelaksanaan
pembelajaran sejarah kontroversial di SMA. Data ini kemudian dijadikan data
awal yang digunakan untuk menganalisis sebab-sebab terjadinya permasalahan
dalam pembelajaran sejarah. dengan menggunakan data ini dilakukan pula suatu
upaya untuk menyelesaikan permasalahan dalam pembelajaran sejarah
kontroversial. Sumber kepustakaan yang digunakan dalam karya tulis ini antara
lain terdiri buku-buku yang relevan dengan tema penulisan, makalah, hasil
penelitian, jurnal, dan data-data relevan lain. Dengan demikian pengumpulan data
menggunakan metode dokumentasi, yakni untuk menyelidiki benda-benda
tertulis.
15
Buku dan tulisan yang digunakan dalam karya tulis ini sebelum dikumpulkan
terlebih dahulu dipilih berdasarkan isinya, kemudian dikelompokkan sesuai
dengan tema tulisan, yakni yang berhubungan dengan sejarah, kontroversi sejarah,
pembelajaran sejarah, serta model dan metode pembelajaran. Sumber-sumber
pustaka yang telah dikumpulkan digunakan sebagai acuan penulis dalam
melakukan analisis terhadap upaya untuk mengatasi permasalahan pembelajaran
sejarah kontroversial kaitannya dengan upaya mewujudkan kesadaran sejarah
peserta didik.

C. Prosedur Penulisan Karya Tulis lmiah
Pedoman penyusunan karya ilmiah ini melalui tahapan-tahapan penulisan yang
sistematis sehingga diharapkan akan dihasilkan karya tulis yang komprehensif dan
terstruktur. Adapun tahapan penulisan karya tulis ini adalah (1) menentukan tema
dan topik penulisan, (2) merumuskan masalah dan tujuan, (3) mengumpulkan
sumber-sumber dan verifikasi. (4) interpretasi data, meliputi analisis dan sintesis,
(5) merumuskan alternatif pemecahan masalah, (6) menarik simpulan dan
merumuskan saran, (7) menyusun karya tulis.
















16
BAB IV
ANALISIS DAN SINTESIS

A. Upaya Mengatasi Permasalahan Pembelajaran Sejarah Kontroversial di
Sekolah Menengah Atas
Adanya permasalahan-permasalahan dalam pembelajaran sejarah telah
menyebabkan tidak tercapainya tujuan pendidikan sejarah secara optimal, yakni
kesadaran kritis peserta didik tentang suatu peristiwa sejarah. Namun sebelum
memasuki pembahasan tentang upaya yang dilakukan untuk mewjudkan suatu
proses pendidikan yang dalam pembelajaran sejarah kontroversial, tulisan ini akan
memaparkan faktor-faktor yang menyebabkan munculnya permasalahan. Dengan
adanya identifikasi terhadap faktor-faktor yang menyebabkan munculnya
permasalahan, maka upaya pemecahan masalah akan lebih efektif karena telah
diketahuinya akar dari permasalahan.

Permasalahan-permasalahan yang ditemui dalam kelas sejarah secara umum dapat
disebabkan oleh dua faktor, yakni (1) faktor intern dan (2) faktor ekstern. Faktor
intern yang memunculkan permasalahan dalam pembelajaran sejarah
kontroversial adalah faktor yang berasal dari dalam ilmu sejarah, yakni adanya
perubahan dalam corak historiografi Indonesia posreformasi. Faktor kedua adalah
faktor ekstern yakni faktor-faktor luar yang berasal dari luar sejarah yang
memengaruhi sejarah dan pendidikan sejarah. Antara faktor intern dan ekstern
tersebut tidak berdiri sendiri (independent), tetapi menjadi satu rangkaian yang
memunculkan hubungan kausalitas dan hubungan kebergantungan
(interdependent), di mana faktor intern sangat mempengaruhi faktor ekstern.

Faktor intern yang menyebabkan permasalahan dalam pendidikan sejarah adalah
terjadinya perubahan corak historiografi Indonesia yang memunculkan pendapat-
pendapat yang beraneka ragam tentang satu peristiwa sejarah, seperti
berkembangnya beberapa versi dari Gerakan 30 September tahun 1965. Akan
tetapi, ketika di satu sisi terjadi perubahan corak historiografi Indonesia setelah
jatuhnya Soeharto, hal ini tidak diimbangi dengan kesiapan untuk menerima
perubahan tersebut. Hal ini karena pengaruh tradisi historiografi Indonesia dalam
17
memahami, merekonstruksi, dan memaknai masa lalu masih sangat kuat, sehingga
bagi masyarakat awam, hal ini justru memberikan kebingungan.

Berkaitan dengan perubahan corak historiografi Indonesia, adanya perbedaan
versi dalam penulisan sejarah ini diakibatkan banyak hal, yakni subjektivitas,
pemahaman masyarakat yang keliru, dan faktor kepentingan. Faktor subjektivitas
bisa berasal dari pelaku sejarah atau sejarawan. Selain itu ada pula kemungkinan
terbentuknya satu konstruk pemikiran yang kuat dalam masyarakat tentang satu
pemahaman sejarah, walaupun belum tentu pemahaman yang selama ini diyakini
adalah benar adanya. Hal ini karena masyarakat terpengaruh oleh wacana tertetu
selama terus-menerus, seperti ketika pada pemerintahan Orde Baru masyarakat
selalu diberikan wacana bahwa dalam G 30 S, PKI-lah yang menjadi dalang.
Teori-teori yang berkembang tentang peristiwa 1965 juga tidak diberitakan secara
seimbang pada masa itu. Padahal permasalahan tentang pelaku G 30 S sampai
sekarang masih simpang siur, dan ada beberapa teori lain selain PKI sebagai
dalang yang muncul. Namun demikian, aspek yang paling berpengaruh dalam
faktor intern dari penyebab munculnya permasalahan dalam pembelajaran sejarah
adalah adanya kepentingan-kepentingan yang ada di dalam sejarah. Kepentingan
itu bisa datang dari pihak-pihak yang terlibat dalam satu peristiwa sejarah ataupun
dari pihak-pihak yang ingin memanfaatkan satu peristiwa sejarah untuk tujuan-
tujuan tertentu. Kepentingan yang datang dari pihak pelaku sejarah ataupun
keturunannya dikarenakan pelaku sejarah merasa dirugikan dengan adanya
penulisan sejarah dari pihak tertentu.

Faktor ekstern yang menyebabkan munculnya permasalahan dalam pembelajaran
sejarah yang kontroversial masih berada di seputar (1) lemahnya desain
pembelajaran sejarah, (2) kebijakan tentang pendidikan sejarah yang kurang
mendukung pelaksanaan pendidikan sejarah secara ideal, (3) minimnya informasi
kesejarahan yang up to date bagi praktisi pendidikan, serta (4) faktor kepentingan
terhadap pendidikan sejarah. Faktor kepentingan yang dimaksud adalah adanya
campur tangan yang terlalu banyak dari pemerintah terhadap pendidikan sejarah,
seperti ketika dikeluarkannya Surat Keputusan Jaksa Agung Nomor
019/A/JA/03/2007 pada tanggal 5 Maret 2007 yang melarang buku-buku pelajaran
18
sejarah yang tidak membahas pemberontakan (PKI) tahun 1948 dan 1965.
Walaupun pada dasarnya pendidikan sejarah merupakan alat dari pemerintah
untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air dan nasionalisme, akan tetapi ketika
pemerintah terlalu banyak campur tangan, hal ini dapat menimbulkan satu
anggapan bahwa pendidikan sejarah justru menjadi satu alat legitimasi.

Gambar 1. Identifikasi Penyebab Permasalahan Pembelajaran Sejarah
Kontroversial

Dari penjelasan di atas terlihat bahwa permasalahan dalam pendidikan sejarah
tidak hanya disebabkan oleh satu faktor saja, tetapi juga oleh berbagai faktor.
Kemudian apabila dilihat lebih dalam, penyebab permasalahan itu terletak pada
tidak optimalnya peran dari komponen-komponen penopang dalam pendidikan
sejarah, yakni (1) pemerintah sebagai penentu kebijakan, (2) Lembaga Pendidikan
Tenaga Kependidikan (LPTK)/Perguruan tinggi sebagai pusat informasi
pendidikan dan kesejarahan, (3) organisasi profesi sebagai sarana bertukar pikiran,
interdependensi
Faktor penyebab permasalahan
pembelajaran sejarah
Faktor Intern Faktor Ekstern
Perubahan corak historiografi
Indonesia
Lemahnya desain
pembelajaran sejarah
Kebijakan tentang
pendidikan sejarah yang
kurang mendukung
pelaksanaan pendidikan
sejarah secara ideal
Minimnya informasi
kesejarahan yang up to date
bagi praktisi pendidikan
Faktor kepentingan terhadap
pendidikan sejarah

Perbedaan versi dalam
sejarah
Ketidaksiapan masyarakat
menerima perubahan corak
tersebut
Banyaknya kepentingan
dalam penulisan sejarah

19
bertukar informasi, pengembangan profesi (dalam hal ini adalah MGMP
[Musyawarah Guru Mata Pelajaran] untuk guru, serta MSI [Masyarakat
Sejarawan Indonesia] atau organisasi profesi kesejarahan lainnya), (4) praktisi
pendidikan atau guru sebagai pelaksana proses pendidikan, (5) media massa
sebagai media informasi, sekaligus memiliki fungsi kritik bagi pemerintah, serta
(6) masyarakat, yang memiliki fungsi kontrol terhadap kebijakan pemerintah,
menjadi subjek dan objek pengembangan dan transformasi pendidikan sejarah.

Oleh karena itu, untuk mewujudkan pendidikan sejarah yang mewujudkan
kesadaran sejarah peserta didik harus ada peran optimal dari segenap komponen
yang ada. Upaya yang dilakukan oleh keenam komponen di atas harus berjalan
secara serempak dan sinambung, di mana terjadi upaya sadar dari semua
komponen, baik oleh pemerintah melalui strategi top down, ataupun strategi
bottom up oleh komponen lain nonpemerintah. Strategi top down yang dilakukan
pemerintah dengan cara mengeluarkan kebijakan yang mendukung pelaksanaan
pembelajaran sejarah kontroversial, seperti tidak melakukan intervensi yang
terlalu jauh dalam pendidikan sejarah. Selain itu pemerintah harus mengeluarkan
satu bahan ajar standar yang digunakan oleh guru dalam mengajarkan sejarah
kontroversial. Hal ini dikarenakan selama ini belum ada bahan ajar standar yang
dijadikan pegangan oleh guru dalam mengajarkan materi sejarah kontroversial.
Pemerintah perlu melakukan kategorisasi materi-materi sejarah yang dianggap
kontroversial, kemudian melakukan suatu ulasan yang menyeluruh tentang
peristiwa tersebut.

Strategi top down yang juga dilakukan oleh pemerintah adalah dengan menjaring
aspirasi dari masyarakat serta komponen lainnya secara aktif. Dalam pendidikan
sejarah, intervensi pemerintah hendaknya tidak terlalu dalam dan memberikan
peluang bagi peserta didik untuk berpikir secara kritis. Dalam materi tentang G
30 S misalnya, kebijakan yang ditetapkan pemerintah pada dasarnya justru
menutup kesepatan bagi siswa untuk berpikir secara kritis. Hal ini dikarenakan
sejarah yang diajarkan di sekolah adalah sejarah versi pemerintah, di mana di sana
ditetapkan bahwa PKI menjadi tersangka utama. Hal ini tentu saja belawanan
dengan kaidah keilmuan yang dalam perkembangannya muncul beberapa versi
20
tentang siapa yang ada di belakang peristiwa kelam tahun 1965 tersebut. Alasan
yang dikemukakan oleh pemerintah tentang dituliskannya PKI di belakang G 30 S
menjadi G 30 S/PKI pada kurikulum 2006 ini, dilandasi adanya upaya dari
pemerintah untuk menjaga stabilitas. Akan tetapi yang menjadi permasalahan
adalah bahwa dalam pengajarannya, peserta didik tidak diberikan teori lain selain
teori bahwa yang menjadi dalang adalah PKI. Hal ini mengakibatkan pendidikan
sejarah berkaitan dengan peristiwa tahun 1965 ---dan mungkin beberapa peristiwa
sejarah yang kontroversial lainnya--- menjadi tidak berimbang.

Strategi bottom up yang dilakukan oleh komponen nonpemerintah adalah dari
pihak LPTK/Perguruan tinggi dengan melakukan upaya pemberian informasi
tentang pendidikan dan kesejarahan mutakhir kepada semua pihak, baik secara
langsung ataupun melalui media massa. Pihak organisasi profesi juga memiliki
peran sebagai pengembang profesi, sarana pertukaran informasi dan gagasan.
Melalui organisasi profesi dapat dilakukan pengembangan desain pembelajaran
sejarah, memberikan masukan kepada pemerintah, serta menyebarluaskan
informasi kepada masyarakat melalui media massa. Komponen nonpemerintah
lain yang memiliki peran alam mewujudkan transformasi pendidikan sejarah
menuju pendidikan sejarah yang mewujudkan kesadaran kritis peserta didik
adalah media massa. Media massa merupakan satu sarana yang digunakan oleh
semua komponen untuk menyebarluaskan informasi agar diterima khalayak.
Media massa menjadi jembatan dari semua komponen, baik berupa aspirasi dari
masyarakat kepada pemerintah, sarana komunikasi antarmasyarakat atau
antarkomponen, serta sosialisasi kebijakan dari pemerintah kepada masyarakat.

Komponen lain dari keenam komponen yang memiliki peran penting adalah
masyarakat. Hal ini dikarenakan masyarakat inilah yang menjadi sasaran dalam
proses transformasi pendidikan sejarah. Masyarakat juga menjadi objek yang
melakukan transformasi, di mana masyarakat menjadi bagian dari komponen yang
lain, baik itu LPTK, praktisi, organisasi profesi ataupun pihak media massa.
Masyarakat memiliki peran strategis bagi terwujudnya transformasi pendidikan
sejarah. Hal ini dikarenakan tanpa adanya dukungan dari masyarakat yang
memiliki fungsi kontrol terhadap pemerintah, upaya mewujudkan transformasi
21
tersebut tidak akan berhasil. Oleh karena itu, tugas yang utama dan pertama yang
dilakukan oleh semua komponen terhadap masyarakat agar terwujud transformasi
pendidikan sejarah adalah dengan menumbuhkan kesadaran kritis masyarakat
tentang realitas yang terjadi.

Komponen yang terakhir yang melaksanakan strategi bottom up dalam rangka
transformasi pendidikan sejarah menuju pendidikan sejarah yang mewujudkan
kesadaran sejarah peserta didik adalah praktisi pendidikan atau guru. Praktisi
pendidikan merupakan ujung tombak dalam pelakasnaan proses pendidikan
sejarah. Hal ini dikarenakan praktisi pendidikan atau guru sejarah adalah pihak
yang berhubungan langsung dengan masyarakat/peserta didik. Dikaitkan dengan
upaya pengajaran sejarah yang bersifat kontroversial dalam kelas sejarah, peran
guru menjadi sangat penting. Hal ini dikarenakan gurulah yang memberikan
informasi kepada peserta didik tentang sejarah yang kontroversial. Peran guru
menjadi sangat penting dalam proses pendidikan sejarah dikarenakan dalam
kurikulum 2006, guru memiliki wewenang yang luas untuk mengembangkan
materi ajarnya. Oleh karena itu, hal yang dilakukan adalah dengan melakukan
perbaikan desain pembelajaran, mulai dari merumuskan tujuan pembelajaran,
menyusun alat evaluasi, menentukan kegiatan belajar mengajar, mengembangkan
program kegiatan belajar mengajar, dan melaksanakan program belajar mengajar.
Upaya dari aspek guru dalam pembelajaran sejarah akan diulas dalam
pembahasan selanjutnya.

Upaya yang dilakukan dari dua arah ini (top down and bottom up) akan
mempercepat terwujudnya transformasi pendidikan sejarah. Namun demikian,
prasayarat utama yang harus dipenuhi adalah setiap komponen harus terhindar
dari segala bentuk kepentingan pribadi. Antarkomponen penopang memiliki
keterkaitan, kerja sama, dan hubungan yang timbal balik. Apabila hubungan
timbal balik dari tiap komponen itu tidak terjadi maka proses pendidikan sejarah
tidak akan berjalan seperti yang diharapkan. Semua komponen harus menjalankan
tugasnya sesuai dengan tujuan dan fungsinya. Hal ini bertujuan agar proses
transformasi pendidikan sejarah menuju ke arah yang ideal bisa secara mudah
22
diwujudkan. Berikut adalah pola hubungan yang sinergis dari keenam komponen
penopang pendidikan sejarah.

Gambar 2. Pola Hubungan Sinergis Enam Komponen Penopang Pendidikan
Sejarah

B. Pendekatan Kritis dalam Pembelajaran Sejarah Kontroversial
Salah satu upaya yang dilakukan guru untuk mewujudkan kesadaran kritis peserta
didik tentang suatu peristiwa sejarah adalah dengan melakukan perubahan dalam
pendekatan dari pendekatan konvensional menjadi pendekatan kritis. Pendekatan
kritis dalam pembelajaran sejarah adalah suatu pendekatan yang bersifat
menyeluruh dalam mengulas suatu peristiwa sejarah. Dengan adanya pendekatan
tersebut, diharapkan siswa akan mampu memahami suatu peristiwa sejarah secara
menyeluruh serta mampu berpikir secara kritis tentang peristiwa sejarah tersebut.

Berkaitan dengan pelaksanaan pendekatan kritis dalam pembelajaran sejarah
kontroversial, praktisi pendidikan atau guru memiliki peran penting dalam
pelakasnaan proses pendidikan sejarah. Hal ini dikarenakan praktisi pendidikan
atau guru sejarah adalah pihak yang berhubungan langsung dengan
masyarakat/peserta didik. Pada pembelajaran sejarah kontroversial, guru berperan
dalam memberikan informasi kepada peserta didik tentang sejarah yang
kontroversial. Peran guru menjadi sangat penting dalam proses pendidikan sejarah
0R0ANlIAIl
ÞR0F£Il/k£lLM0AN
LÞIk/Þ£R00R0AN
IlN00l
ÞRAkIlIl
Þ£N0l0lkAN

M£0lA MAIIA

MAIVARAkAI

Þ£M£RlNIAH
23
karena dalam kurikulum 2006, guru memiliki wewenang yang luas untuk
mengembangkan materi ajarnya.

Karya tulis ini mengambil satu sampel peristiwa sejarah kontroversial yang
dijadikan kajian tentang bagaimana cara penyampaiannya di dalam kelas sejarah.
Peristiwa yang akan dijadikan permodelan adalah tentang Gerakan 30 September
yang terjadi pada tahun 1965. Ditinjau dari karakteristiknya, materi Gerakan 30
September termasuk pada sejarah kontroversial kontemporer yang masih
memunculkan perdebatan dalam masyarakat. Posisi materi tersebut dalam
kurikulum 2006 di Sekolah Menengah Atas telah tercantum dalam Standar
Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) sebagai berikut

Tabel 1. Posisi Materi Gerakan 30 September di SMA dalam Kurikulum 2006
SK/
KD
IPS IPA BAHASA
SK Menganalisis perjuangan
bangsa Indonesia sejak
proklamasi hingga lahirnya
Orde Baru
Merekonstruksi
perjuangan bangsa
Indonesia sejak
masa Proklamasi
sampai masa
Reformasi
Merekonstruksi
perjuangan bangsa
Indonesia sejak
masa Proklamasi
sampai masa
Reformasi
KD Menganalisis perjuangan
bangsa Indonesia dalam
mempertahankan
kemerdekaan dari ancaman
disintegrasi bangsa terutama
dalam bentuk pergolakan dan
pemberontakan (antara lain:
PKI Madiun 1948, DI/TII,
Andi Aziz, RMS, PRRI,
Permesta, G-30-S/PKI)
Menganalisis
pergantian
pemerintahan dari
Demokrasi
Terpimpin sampai
lahirnya Orde Baru
Menganalisis
pemerintahan dari
Demokrasi
Terpimpin sampai
lahirnya Orde Baru

Pada Kelas XII semester 1 Kelas XI semester 2 Kelas XII smt. 1

24
Langkah awal yang dilakukan dalam penerapan pendekatan kritis pada
pembelajaran sejarah adalah perumusan tujuan pembelajaran dalam rangka
pengembangan silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran. Tujuan
pembelajaran berorientasi pada analisis kebutuhan dari peserta didik. Dalam
konteks pendekatan kritis, peserta didik diharapkan mampu untuk memahami
suatu peristiwa sejarah secara menyeluruh serta mampu mengidentifikasi
ketidakadilan yang terjadi.

Di bawah ini telah dirumuskan tujuan pembelajaran atau indikator dari
pembelajaran sejarah untuk program Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) kelas XII
semester 1 tentang materi G 30 S yang disusun berdasarkan aspek pendekatan
kritis yakni aspek latar belakang, kronologis, komprehensif, dan kausalitas

Tabel 2. Perumusan Materi Pokok dan Indikator
Aspek Indikator
Latar
Belakang
Kronologis

Komprehensif

Sebab Akibat
o Menganalisis situasi politik, ekonomi, sosial masyarakat
Indonesia menjelang peristiwa Gerakan 30 September 1965
o Mendeskripsikan kronologi peristiwa Gerakan 30 September
1965
o Membandingkan beberapa pendapat tentang peristiwa Gerakan
30 September 1965
o Menganalisis dampak-dampak peristiwa Gerakan 30
September

Untuk menunjang pencapaian tujuan pembelajaran, diperlukan analisis terhadap
kebutuhan yang digunakan dalam pembelajaran sejarah kontroversial. Analisis
kebutuhan tersebut mencakup persiapan-persiapan dalam pelaksanaan
pembelajaran, meliputi (1) analisis ketersediaan dan kebutuhan media, (2) analisis
kemampuan guru, (3) analisis kemampuan peserta didik, (4) analisis lingkungan.

Pada pelaksanaan pendekatan kritis dalam pembelajaran sejarah kontroversial,
konstruktivisme dapat dijadikan salah satu landasan dalam pelaksanaan
pembelajaran. Agar pembelajaran menjadi bemakna, maka pembelajaran harus
berpusat pada peserta didik (student centered) artinya adalah guru memberikan
25
peluang dari siswa untuk berapresiasi, bisa dalam bentuk kegiatan diskusi, debat,
tugas mandiri, dan sebagainya. Kemudian, penggunaan variasi model dan media
juga menjadi hal yang diperhatikan dalam pembelajaran agar peserta didik mudah
dalam melakukan visualisasi, interpretasi, dan generalisasi. Dengan demikian,
kesan bahwa kesan bahwa pelajaran Sejarah adalah membosankan bisa teratasi.
Media dan sumber yang dapat dijadikan acuan antara lain

Tabel 3. Beberapa media dan sumber belajar tentang peristiwa Gerakan 30
September tahun 1965
Jenis Contoh
Film Pemberontakan G 30 S/PKI (produksi Perusahaan Film Negara)
dan Gie (produksi Miles Production)
Novel/Cerpen Para Priyayi I & II (karya Umar Kayam), Sri Sumarah
(kumpulan novelet dan cerpen Umar kayam)
Media Massa Surat kabar, majalah, internet
Buku Adam, Asvi Warman. 2007. Seabad Kontroversi Sejarah.
Yogyakarta: Ombak.

Sekretariat Negara RI. 1994. G30S/PKI: Latar Belakang, Aksi
dan Penumpasannya. Jakarta: Setneg RI.

Sulistyo Hermawan. 2001. Palu Arit Di Ladang Tebu. 2001.
Jakarta: KPG

Syamdani (ed). 2001. Kontroversi Sejarah di Indonesia. Jakarta:
Gramedia

Ditinjau dari segi materi, guru harus meng-up date informasi kesejarahan terbaru.
Dikaitkan dengan pembelajaran tentang peristiwa kelam pada 1965, guru harus
bersikap arif dengan memberikan porsi yang berimbang tentang siapa yang ada di
balik G 30 S. Upaya yang berimbang itu bisa dalam bentuk guru memberikan
informasi pada peserta didik tentang adanya beberapa versi, serta menjelaskan
argumen yang melandasi versi-versi tersebut.

Dalam pelaksanaannya, kegiatan pembelajaran terbagi menjadi dua pertemuan,
dengan alokasi waktu tiap pertemuan adalah 2 X 45 menit atau dua jam pelajaran.
Pertemuan pertama mengulas indikator pertama dan indikator kedua atau aspek
26
latar belakang dan aspek kronologi dari peristiwa Gerakan 30 September tahun
1965. Pada pertemuan kedua, guru mengulas indikator ketiga dan keempat atau
aspek komprehensif dan sebab akibat. Secara lebih rinci, langkah-langkah yang
dilakukan guru dalam tiap aspek adalah sebagai berikut

Tabel 4. Langkah-langkah pelaksanaan pendekatan kritis dalam pembelajaran
materi G 30 S
Aspek Langkah-Langkah
Latar
belakang
o Guru memutarkan awal film Gie tentang kondisi sosial ekonomi
masyarakat menjelang peristiwa G 30 S
o Guru mendiskusikan tentang cuplikan film dengan siswa
o Guru menceritakan kondisi ekonomi dan politik menjelang
peristiwa G 30 S
o Guru menerangkan peta kekuatan politik Indonesia pada awal
tahun 1960-an, yakni Sukarno-TNI-Komunis
o Guru mempersilakan siswa memberikan tanggapan mereka
tentang kondisi tersebut kaitannya dengan peristiwa G 30 S
Kronologis o Guru memutarkan salah satu adegan dalam film Pemberontakan
G 30 S/PKI
o Guru menceritakan kronologi peristiwa tanggal 30 September dan
1 Oktober 1965
Kompre-
hensif
o Guru memberikan berbagai teori yang berkembang, yakni PKI,
Soeharto, Sukarno, Klik Angkatan Darat, CIA, dan teori Chaos
o Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok dan
memersilakan siswa mendiskusikan teori-teori yang ada
o Guru mempersilakan siswa mempresentasikan hasil diskusinya
Sebab
akibat
o Guru menerangkan pengaruh tejadinya peristiwa Gerakan 30
September tahun 1965 dalam hal politik (perubahan
kepemimpinan), sosial (adanya gerakan sosial masyarakat),
ekonomi (upaya stabilitasi ekonomi), pembantaian massal

27
Berkaitan dengan pelaksanaan pembelajarannya, guru memberikan berbagai teori
yang berkembang secara berimbang, tanpa ada subjektivitas dan pretensi. Hal
yang patut diperhatikan adalah kearifan guru dalam mengajarkan sejarah
kontroversial. Dengan demikian, proses indoktrinasi tidak terjadi dalam
pendidikan sejarah. Dalam pembelajarannya, guru tidak hanya berfungsi sebagai
sumber informasi, tetapi juga sebagai mediator dan motivator bagi peserta didik
agar peserta didik secara aktif melakukan proses pembelajaran secara mandiri.
Akan tetapi dari sekian hal yang telah dijelaskan, satu hal yang harus diperhatikan
adalah bahwa menjadi guru sejarah merupakan suatu panggilan nurani yang
senantiasa bertujuan agar peserta didik memperoleh satu kesadaran kritis.

Untuk mengetahui keberhasilan pembelajaran, diperlukan adanya upaya untuk
mengetahui tingkat keberhasilan dalam proses pembelajaran melalui evaluasi.
Alat evaluasi yang diusun ini bertujuan untuk mengendalikan, menjamin, dan
menetapkan mutu pendidikan terhadap berbagai komponen pendidikan pada
setiap jalur, jenjang, dan jenis pendidikan sebagai bentuk pertanggungjawaban
penyelenggaraan pendidikan. Dalam pelaksanaannya, evaluasi tidak hanya
diberikan pada akhir pembelajaran, tetapi juga pada saat pembelajaran (evaluasi
proses), berupa menilai keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran seperti
keaktifan dalam bertanya, menanggapi pertanyaan, menanggapi pernyataan,
mengerjakan tugas, keaktifan dalam diskusi, dan sebagainya.

Penyusunan alat evaluasi tidak hanya sebatas soal ujian, tetapi juga bisa berupa
penugasan-penugasan yang bertujuan untuk mengembangkan kreasi dari peserta
didik melalui pendekatan inquiry, seperti siswa ditugaskan untuk mencari berita
tentang peristiwa Gerakan 30 September kemudian siswa ditugaskan untuk
mengulas isi dan memberikan pendapatnya tentang berita tersebut. Artinya peserta
didik diberikan peluang untuk melakukan suatu proses penemuan terhadap
berbagai data dan fakta tentang peristiwa Gerakan 30 September 1965. Penugasan
diberikan bisa dalam bentuk karya tulis sederhana tentang berbagai pendapat
tentang peristiwa Gerakan 30 September 1965. Berikut adalah rancangan evaluasi
terhadap pembelajarah sejarah kontroversial tentang peristiwa Gerakan 30
September tahun 1965.
28
Tabel 5. Evaluasi terhadap pembelajaran tentang peristiwa Gerakan 30 September
tahun 1965
Aspek
Penilaian
Teknik Bentuk
Latar
Belakang
Penugasan

Peserta didik membuat tulisan sebanyak dua halaman
folio tentang kondisi sosial, ekonomi, dan politik
Indonesia menjelang peristiwa G 30 S
Tes tertulis Guru memberikan soal singkat
Kronologis Penugasan

Peserta didik memberikan tanggapan tentang film
Pemberontakan G 30 S/PKI dalam satu halaman folio
Tes tertulis Guru memberikan soal singkat
Kompre-
hensif
Penugasan Peserta didik mencari tulisan di surat kabar atau
internet berkaitan dengan peristiwa G 30 S dan
memberikan tanggapan tentang tulisan tersebut
Sebab
Akibat
Penugasan Peserta didik memberikan resume dan tanggapan
tentang film Gie atau novel-novel atau cerita lainnya
kaitannya dengan peristiwa setelah G 30 S
Tes tertulis Peserta didik mengerjakan soal-soal uraian yang
diberikan guru

Penekanan pembelajaran dengan pendekatan kritis yang membedakan dengan
pembelajaran konvensional terutama terletak pada materi yang disampaikan,
pembelajaran, dan sistem evaluasi. Dalam pendekatan kritis materi baru yang
diajarkan adalah materi teori-teori tentang peristiwa Gerakan 30 September tahun
1965. Selain itu, pembelajaran dilakukan dengan melibatkan siswa secara aktif
untuk berpendapat. Kemudian dalam evaluasi, guru memberikan penilaian tidak
hanya dengan pemberian soal, tetapi juga dengan pemberian tugas mandiri.
Dengan demikian melalui pendekatan kritis, diharapkan kesadaran sejarah peserta
didik akan terwujud, sehingga tidak ada lagi kekhawatiran adanya “dosa sejarah”
berupa vonis bersalah terhadap suatu kelompok masyarakat dan “dendam sejarah”
berupa kebencian terhadap dari suatu kelompok masyarakat kepada kelompok lain
akibat suatu peristiwa sejarah.
29
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan
1. Upaya untuk menyelesaikan permasalahan pembelajaran sejarah harus
dilakukan oleh segenap komponen penopang pendidikan sejarah yakni
pemerintah, LPTK/perguruang tinggi, organisasi profesi.keilmuan, praktisi
pendidikan, media massa, dan masyarakat secara serempak agar terwujud
pembelajaran yang memerikan kesadaran sejarah bagi peserta didik.
2. Pendekatan kritis dalam pembelajaran sejarah adalah suatu pendekatan yang
bersifat menyeluruh dalam mengulas suatu peristiwa sejarah. Dengan adanya
pendekatan tersebut, diharapkan siswa akan mampu memahami suatu
peristiwa sejarah secara menyeluruh serta mampu berpikir secara kritis tentang
peristiwa sejarah tersebut. Upaya yang dilakukan dari pihak guru untuk
mewujudkan proses transformasi pendidikan sejarah yang ideal melalui
pelaksanaan pendekatan kritis dalam pembelajaran sejarah kontroversial
adalah dengan melakukan perbaikan desain pembelajaran, peng-up-date-an
informasi kesejarahan terbaru, dan penggunaan variasi pembelajaran dan
media. Dalam pembelajaran sejarah kontroversial, konstruktivisme dijadikan
salah satu landasan dalam pelaksanaan pembelajaran.

B. Saran
1. Perlu digunakan pendekatan kritis sebagai alternatif pembelajaran sejarah
kontroversial guna mewujudkan kesadaran kritis peserta didik.
2. Perlu adanya upaya yang dilakukan oleh semua pihak secara serempak menuju
transformasi pendidikan sejarah menuju pendidikan sejarah yang memberikan
satu pendewasaan masyarakat yang dilandasi kejujuran, bebas dari
kepentingan pribadi, dan semangat membangun kesadaran kritis masyarakat.
3. Perlu adanya sosialisasi tentang informasi kesejarahan terbaru kepada
masyarakat dan praktisi pendidikan.
4. Guru perlu meng-up date informasi kesejarahan terbaru untuk menunjang
penguasaan materi guru tentang peristiwa sejarah.
30
5. Pembelajaran sejarah kontroversial harus dilakukan dengan menggunakan
prinsip keseimbangan, di mana versi-versi yang muncul harus ditampilkan
beserta argumentasinya, tanpa ada pretensi dan subjektivitas.
6. Perlu adanya peningkatan partisipasi MGMP sejarah dalam upaya
penyelesaian permasalahan pembelajaran sejarah kontroversial




























31
DAFTAR PUSTAKA


Abu Su’ud. 1993. ’Bila Isu Kontroversial Masuk Kelas Sejarah (Sebuah Alternatif
dalam Pembelajaran Sejarah)’. Pidato Pengukuhan. Diucapkan pada
penerimaan jabatan Guru Besar pada Fakultas Ilmu Pengetahuan Sosial
IKIP Semarang pada 23 Januari 1993.

Adam, Asvi Warman. 2006. ‘Pengantar Berpikir Historis Membenahi Sejarah’.
Kata pengantar dalam Sam Wineburg. 2006. Berpikir Historis:
Memetakan Masa Depan Mengajarkan Masa Lalu. Penerjemah Masri
Maris. Jakarta: Yayasa Obor Indonesia.

--------. 2007 . Seabad Kontroversi Sejarah. Yogyakarta: Penerbit Ombak.

Ahmad, Tsabit Azinar. 2007. ‘Yang Kontemporer Yang Kontroversial’. Dalam
Majalah Sapiens Edisi Khusus bulan September-Oktober tahun 2007. hlm.
2-8

Anggara, Boyi. 2007. ‘Pembelajaran Sejarah yang Berorientasi pada Masalah-
Masalah Sosial Kontemporer’. Makalah pada Seminar Nasional Ikatan
Himpunan Mahasiswa Sejarah (Ikahimsi) XII di Universitas Negeri
Semarang. Semarang, 16 April 2007.

Angkasa, Ig Kingkin Teja. 2007. Membenahi Pembelajaran Sejarah. Dalam
website http:// www.kompas.com/ kompas-cetak/ 0310/20/ Didaktika/
633991.htm (diunduh pada 3 Januari 2008).

Badudu, J.S. dan Sutan Muhammad Zein. 2001. Kamus Umum Bahasa Indonesia.
Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Baharuddin dan Esa Nur Wahyudi. 2007. Teori Belajar dan Pembelajaran.
Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Beise, Kerstin. 2004. Apakah Soekarno Terlibat Peristiwa G 30 S. Yogyakarta:
Penerbit Ombak.

Fakih, Mansour. 2001. ‘Ideologi dalam Pendidikan, Sebuah Pengantar’. Kata
pengantar dalam William F. O’neil. 2001. Ideologi-Ideologi Pendidikan.
Penerjemah Omi Intan Naomi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Garraghan, Gilbert J. 1957. A Guide to Historical Method. New York: Fordham
University Press.

Hasan, Said Hamid. 2007. ‘Kurikulum Pendidikan Sejarah Berbasis Kompetensi’.
Makalah pada Seminar Nasional Ikatan Himpunan Mahasiswa Sejarah
(Ikahimsi) XII di Universitas Negeri Semarang. Semarang, 16 April 2007.

32
Kuntowijoyo. 1995. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Penerbit Bentang
Budaya.

Manggeng, Marthen. 2005. ‘Pendidikan yang Membebaskan Menurut Paulo
Freire dan Relevansinya dalam konteks Indonesia. Dalam INTIM, Jurnal
Teologi Kontekstual. Edisi No. 8 Semester Genap 2005. hlm 41-44.

Moleong, Lexy J. 2000. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi
untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.

Purwanto, Bambang. 2006. Gagalnya Historiografi Indonesiasentris?!.
Yogyakarta: Penerbit Ombak.

Purwanto, Bambang dan Asvi Warman Adam. 2005. Menggugat historiografi
Indonesia. Yogyakarta: Penerbit Ombak.

Sekretariat Negara RI. 1994. G30S/PKI: Latar Belakang, Aksi dan
Penumpasannya. Jakarta: Sekretariat Negara Republik Indonesia.

Salim, Agus (Ed.). 2004. Indonesia Belajarlah; Membangun Pendidikan
Indonesia. Semarang: Gerbang Madani.

Soedjatmoko. 1976. ‘Kesadaran Sejarah dan Pembangunan’ dalam majalah
Prisma (Penerbitan Khusus). No. 7, tahun V. Jakarta: LP3ES.

Suharso, R. 1992. 1992. ‘Persepsi Siswa terhadap Pembelajaran Sejarah’. Jurnal
Paramita . Nomor 3 Tahun 1992.

Trianto. 2007. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik:
Konsep, Landasan Teoritis-Praktis dan Implementasinya. Jakarta: Prestasi
Pustaka Publisher.

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

Widja, I Gde. 1989. Sejarah Lokal Suatu Perspektif dalam Pembelajaran Sejarah.
Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan










33
BIODATA
Ketua
Nama
TTL
Jenis Kelamin
Alamat Rumah

Alamat Semarang


Telefon
E mail
Pendidikan
SD
SMP
SMA
PT
:
:
:
:

:


:
:

:
:
:
:
Tsabit Azinar Ahmad
Banjarnegara, 24 juli 1986
Laki-laki
Sokanandi, RT 02 RW II No 21 Banjarnegara, Jawa
Tengah 53413
Gedung C2 lantai 1, Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial
Universitas Negeri Semarang, Kampus Sekaran Gunung
Pati Semarang 50229
081327694456
azinar_ahmad@yahoo.com

SDN 2 Sokanandi
SLTP Negeri 2 Banjarnegara
SMU Negeri 1 Banjarnegara
Jurusan Sejarah, Universitas Negeri Semarang
Karya yang telah dibuat
Kartun di Surat Kabar sebagai Upaya Peningkatan Kecerdasan Politik
Masyarakat
Pemanfaatan Museum sebagai Media Pembelajaran untuk Meningkatkan
Pemahaman Pelajar terhadap Materi Zaman Prasejarah
Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah pada Pelajaran Sejarah
sebagai Upaya Memaksimalakan Pemahaman Siswa
Peran Puri Klungkung sebagai Media Pelestarian Kebudayaan Bali
Keistimewaan Puri Klungkung sebagai Daya Tarik Wisata Keagamaan Di
Bali
Pendidikan Politik dalam Wacana Kartun Editorial di Surat Kabar
Pendekatan Kritis dalam Pembelajaran Sejarah Kontroversial di Sekolah
Menengah Atas

Prestasi
Juara 1 Lomba Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa bidang Seni tingkat Nasional
tahun 2006
Finalis Lomba Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa bidang Seni tingkat Nasional
tahun 2007
Finalis Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) XX Bandar Lampung
tahun 2007
Lolos seleksi naskah Program Kreativitas Mahasiswa Penulisan Ilmiah
(PKMI) Dinas Pendidikan Tinggi (Dikti) tahun 2006
Juara 3 Lomba Karya Inovatif Produktif Provinsi (LKIP) bidang Sosial
Budaya Provinsi Jawa Tengah tahun 2006
Juara 2 Lomba Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa bidang Pendidikan tingkat
Fakultas FIS Unnes tahun 2007
Juara 2 Lomba Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa bidang Pendidikan tingkat
Fakultas FIS Unnes tahun 2006
Juara 1 Lomba Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa tingkat Jurusan, Jurusan
Sejarah FIS Unnes tahun 2006
34
Anggota Pelaksana I

Nama
TTL
Jenis Kelamin
Alamat Rumah
Alamat Semarang


Telfon
E mail
Pendidikan
SD
SMP
SMA
PT
:
:
:
:
:


:
:

:
:
:
:
Syaiful Amin
Jepara, 09 Mei 1985
Laki-laki
Desa Muryolobo 03/01 Kec. Nalumsari Kab. Jepara
Gedung C2 lantai 1, Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial
Universitas Negeri Semarang, Kampus Sekaran Gunung
Pati Semarang 50229
081326296634
ipoel_jpr@yahoo.co.id

SDN 1 Muryolobo
SLTP Negeri II Mayong
SMU Negeri I Gebog, Kudus
Jurusan Sejarah, Universitas Negeri Semarang

Karya yang telah dibuat
Kartun di Surat Kabar sebagai Upaya Peningkatan Kecerdasan Politik
Masyarakat
Pemanfaatan Museum sebagai Media Pembelajaran untuk Meningkatkan
Pemahaman Pelajar terhadap Materi Zaman Prasejarah
Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah pada Pelajaran Sejarah
sebagai Upaya Memaksimalakan Pemahaman Siswa
Peran Puri Klungkung sebagai Media Pelestarian Kebudayaan Bali
Keistimewaan Puri Klungkung sebagai Daya Tarik Wisata Keagamaan Di
Bali
Pendidikan Politik dalam Wacana Kartun Editorial di Surat Kabar
Pendekatan Kritis dalam Pembelajaran Sejarah Kontroversial di Sekolah
Menengah Atas

Prestasi
Juara 1 Lomba Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa bidang Seni tingkat Nasional
tahun 2006
Finalis Lomba Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa bidang Seni tingkat Nasional
tahun 2007
Finalis Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) XX Bandar Lampung
tahun 2007
Lolos seleksi naskah Program Kreativitas Mahasiswa Penulisan Ilmiah
(PKMI) Dinas Pendidikan Tinggi (Dikti) tahun 2006
Juara 2 Lomba Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa bidang Pendidikan tingkat
Fakultas FIS Unnes tahun 2007
Juara 2 Lomba Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa bidang Pendidikan tingkat
Fakultas FIS Unnes tahun 2006
Juara 1 Lomba Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa tingkat Jurusan, Jurusan
Sejarah FIS Unnes tahun 2006


35
Anggota Pelaksana I

Nama
TTL
Jenis Kelamin
Alamat Rumah

Alamat Semarang


Telfon
E mail

Pendidikan
SD
SMP
SMA
PT
:
:
:
:

:


:
:


:
:
:
:
Khoirul Anwar
Demak, 31 Agustus 1989
Laki-laki
Jl. Raya Buyaran RT 02 RW 02, Kalikondang, Demak
59551
Gedung C2 lantai 1, Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial
Universitas Negeri Semarang, Kampus Sekaran Gunung
Pati Semarang 50229
085290208031
irul@yaho.com


SDN 3 Kalikondang
SLTP Negeri 3 Demak
SMU Negeri Demak
Jurusan Sejarah, Universitas Negeri Semarang

Prestasi
Siswa Terbaik 2 Kelompok Prov Jawa Tengah
Lawatan Sejara Regional Prof IY tahun 2006




























36
Lampiran 1
SILABUS

Sekolah : Sekolah Menengah Atas
Kelas : XI
Program : Ilmu Pengetahuan Sosial
Mata Pelajaran : Sejarah
Semester : 1 (satu)
Standar Kompetensi : Menganalisis perjuangan bangsa Indonesia sejak proklamasi hingga lahirnya Orde Baru

Kompetensi Dasar
Materi/Pokok
Pembelajaran
Kegiatan
Pembelajaran
Indikator
Penilaian
Alokasi
Waktu
Sumber Belajar
Teknik
Bentuk
Penilaian
Contoh Instrumen
Menganalisis
perjuangan bangsa
Indonesia dalam
mempertahankan
kemerdekaan dari
ancaman disintegrasi
bangsa terutama
dalam bentuk
pergolakan dan
pemberontakan
(antara lain: PKI
Madiun 1948,
DI/TII, Andi Aziz,
RMS, PRRI,
Permesta, G-30-
S/PKI)
Peristiwa
Gerakan 30
September 1965
Guru
menggambarkan
situasi politik
(kekuatan antara
Sukarno, Tentara,
PKI- kondisi
ekonomi), dan
sosial menjelang
peristiwa Gerakan
30 September `65
yang
melatarbelakangi
terjadinya peristiwa
Gerakan 30
September

Menelaah kronologi
peristiwa Gerakan
30 September 1965



Berdiskusi tentang
Menganalisis situasi
politik, ekonomi,
sosial masyarakat
Indonesia menjelang
peristiwa Gerakan 30
September 1965










Mendeskripsikan
kronologi peristiwa
Gerakan 30
September 1965


Membandingkan
Penu-
gasan














Tes
tertulis




Penu-
Pembu
atan
artikel













Isian
singkat




Kliping
Buatlah tuisan pada
satu halaman folio
tentang kondisi
ekonomi Indoesia
pada awal tahun
1960-an










Cornell Paper
ditulis oleh....




Carilah tulisan
4 X 45
menit
- Surat kabar
- Peta
- Gambar-
gambar
- Film
- Lembar kerja
siswa
- Buku teks
- Buku
referensi
lainya, seperti
- Sekretariat
Negara RI.
1994.
G30S/PKI:
Latar
Belakang,
Aksi dan
Penumpasann
ya. Jakarta:
Sekretariat
Negara
Republik


37
Kompetensi Dasar
Materi/Pokok
Pembelajaran
Kegiatan
Pembelajaran
Indikator
Penilaian
Alokasi
Waktu
Sumber Belajar
Teknik
Bentuk
Penilaian
Contoh Instrumen
bebagai pendapat
mengenai peristiwa
Gerakan 30
September 1965
(teori dalang PKI,
Sukarno, Suharto
dan TNI, Klik
Angkatan Darat,
CIA, teori chaos)

Guru menjelaskan
tentang bebagai
akibat dari
peristiwa Gerakan
30 September
(pembantaian
massal,
penangkapan
naggota PKI, dll.)
beberapa pendapat
tentang peristiwa
Gerakan 30
September 1965






Menganalisis
dampak-dampak
peristiwa Gerakan 30
September
gasan









Tes
tertulis




surat
kabar








Soal
uraian
tentang peristiwa G
30 S di surat kabar
atau internet. Beri
tanggapan tulisan
tersebut dalam satu
halaman folio




Jelaskan salah satu
teori tentng
peristiwa G 30 S!
Indonesia
- Syamdani
(ed). 2001.
Kontroversi
Sejarah di
Indonesia.
Jakarta:
Gramedia
- Adam, Asvi
Warman.
2007. Seabad
Kontroversi
Sejarah.
Yogyakarta:
Penerbit
Ombak.
- Sulistyo,
Hermawan.
2001. Palu
Arit Di
Ladang Tebu.
Jakarta: KPG.








38
Lampiran 2
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Sekolah : Sekolah Menengah Atas
Mata Pelajaran : Sejarah
Kelas/Semester : XI/gasal
Alokasi Waktu : 4 jam pelajaran
Program : Ilmu Pengetahuan Sosial
Standar Kompetensi : Menganalisis perjuangan bangsa Indonesia sejak
proklamasi hingga lahirnya Orde Baru
Kompeteni Dasar : Menganalisis perjuangan bangsa Indonesia dalam
mempertahankan kemerdekaan dari ancaman disintegrasi
bangsa terutama dalam bentuk pergolakan dan
pemberontakan (antara lain: PKI Madiun 1948, DI/TII,
Andi Aziz, RMS, PRRI, Permesta, G-30-S/PKI)
Indikator : - Menganalisis situasi politik, ekonomi, sosial masyarakat
Indonesia menjelang peristiwa Gerakan 30 September
1965
- Mendeskripsikan kronologi peristiwa Gerakan 30
September 1965
- Membandingkan beberapa pendapat tentang peristiwa
Gerakan 30 September 1965
- Menganalisis dampak-dampak peristiwa Gerakan 30
September

A. Tujuan Pembelajaran
1. Siswa mampu menganalisis situasi politik, ekonomi, sosial masyarakat
Indonesia menjelang peristiwa Gerakan 30 September 1965 yang menjadi
latar belakang terjadinya peristiwa Gerakan 30 September 1965
2. Siswa mampu mendeskripsikan kronologi peristiwa Gerakan 30
September 1965
3. Siswa dapat memahami dan membandingkan beberapa pendapat tentang
peristiwa Gerakan 30 September 1965
4. Siswa mampu menganalisis dampak-dampak peristiwa Gerakan 30
September dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat Indonesia

B. Materi Pembelajran
1. Latar Belakang dan Kronologi Peristiwa G 30 S
2. Beberapa pendapat tentag G 30 S dan dampak peristiwa G 30 S

C. Pendekatan dan Metode
1. Ceramah Bervariasi
2. Diskusi
3. Tugas mandiri






39
D. Langkah-Langkah Kegiatan
1. Pertemuan ke-1
Materi Kegiatan Pembelajaran Waktu
Latar
Belakang
dan
Kronologi
Peristiwa
G 30 S

A. Pendahuluan
Apersepsi
o Guru menyampaikan bahan yang
digunakan dalam materi

Motivasi
Guru memutarkan salah satu adegan dalam
Film Gie tentang kondisi menjelang
peristiwa G 30 S.

B. Kegiatan Inti
o Guru mendiskusikan cuplikan film
tentang gambaran kondisi Indonesia
pasca pemilu 1955.
o Guru menerangkan peta kekuatan
politik di Indonesia antara Sukarno-
PKI-Tentara
o Guru menceritakan tentang kondisi
ekonomi Indonesia pada tahun 1960-an
o Guru menceritakan tentang kronlogi
peristiwa G 30 S
o Guru memutarkan salah satu adegan
dalam film “Pemberontakan G 30S
PKI”
o Guru mempersilakan siswa untuk
berpendapat dan mengajukan
pertanyaan

C. Penutup
o Guru memberi penguatan terhadap
materi yang sudah dijelaskan
o Guru menyimpulkan materi
o Guru menyarankan siswa membaca
buku yang mendukung materi
o Guru memberikan penugasan pada
siswa
10 menit










10 menit


10 menit


10 menit

10 menit

20 menit


10 menit



10 menit

2. Pertemuan ke-2
Materi Kegiatan Pembelajaran Waktu
Beberapa
pendapat
tentag G
30 S dan
A. Pendahuluan
Apersepsi
o Guru mengulas secara ringkas materi
pertemuan minggu lalu
10 menit





40
dampak
peristiwa
G 30 S
o Guru menyampaikan bahan yang
digunakan dalam materi
Motivasi
Guru memutarkan salah satu adegan dalam
film “Gie” tentang kondisi Indonesia pasca
G 30 S.

B. Kegiatan Inti
o Guru menerangkan beberapa teori dan
dampak peristiwa G 30 S
o Guru membagi siswa dalam beberapa
kelompok untuk mendiskusikan
masing-masing teori (lima kelompok)
o Tiap kelompok mempresentasikan hasil
diskusi dilanjutkan dengan diskusi
kelas
o Guru mengulas masing-masing teori
ditambah ulasan teori chaos
o Guru menceritakan tentang dampak
peristiwa G 30 S

C. Penutup
o Guru memberi penguatan terhadap
materi yang sudah dijelaskan
o Guru menyimpulkan materi
o Guru menyarankan siswa membaca
buku yang mendukung materi untuk
menambah pengetahuan siswa
o Guru memberikan penugasan untuk
mengulas film “Gie” dan menugaskan
siswa untuk membuat klipig dan
mengulasnya









15 menit

25 menit


25 menit


10 menit

10 menit



5 menit

E. Sumber dan Media Pembelajaran
1. Surat kabar
2. Film (Film G 30 S [produksi Perfini], Gie [prouksi Miles Production])
3. novel Para Priyayi I & II, kumpulan cerita Sri Sumarah (karya Umar
Kayam)
4. Lembar kerja siswa
5. Buku teks
6. Sekretariat Negara RI. 1994. G30S/PKI: Latar Belakang, Aksi dan
Penumpasannya. Jakarta: Sekretariat Negara Republik Indonesia
7. Syamdani (ed). 2001. Kontroversi Sejarah di Indonesia. Jakarta: Gramedia
8. Adam, Asvi Warman. 2007. Seabad Kontroversi Sejarah. Yogyakarta:
Penerbit Ombak.
9. Sulistyo, Hermawan. 2001. Palu Arit Di Ladang Tebu. Jakarta: KPG.



41
F. Penilaian Hasil Belajar
1. Teknik Penilaian
a. Tes tertulis
b. Tes unjuk kerja

2. Bentuk Penilaian
a. Tes formatif atau uraian
b. Makalah


Semarang, .....
Mengetahui,
Kepala Sekolah Guru Mapel



............................ ............................

































42
Lampiran 3
DAFTAR NAMA INFORMAN


Informan I
Nama : Drs. Sigit Mardjono
Usia : 45 tahun
Pekerjaan : Guru Sejarah di SMA Negeri 1 Banjarnegara
Posisi : Guru Kelas XII IPA dan IPS
Alamat : Kelurahan Kutabanjar, Kec. Banjarnegara, Kab. Banjarnegara

Informan II
Nama : Sri Utari, S.Pd.
Usia : 40 tahun
Pekerjaan : Guru Sejarah di SMA Negeri 1 Banjarnegara
Posisi : Guru Kelas XI IPA dan IPS
Alamat : Perumahan Gemuruh, Banjarnegara



















43
Lampiran 4
PEDOMAN WAWANCARA

Tempat : SMA Negeri 1 Banjarnegara
Waktu : Mei 2008
Informan : 1. Drs. Sigit Mardjono
2. Sri Utari, S.Pd.

1. Bagaimana pengembangan kurikulum sejarah di SMA N 1 Banjarnegara?
2. Bagaimana gambaran pembelajaran sejarah di SMA N 1 Banjarnegara?
3. Apa pendapat anda tentang pembelajaran materi Gerakan 30 September 1965
yang berkembang pada saat ini?
4. Bagaimana pengembangan silabus Gerakan 30 September 1965 di SMA N 1
Banjarnegara?
5. Bagaimana model-model yang diterapkan dalam mengajarkan materi Gerakan
30 September 1965 di SMA N 1 Banjarnegara?
6. Apa kendala-kendala dalam mengajarkan materi Gerakan 30 September 1965
di SMA N 1 Banjarnegara (aspek siswa, guru, ketersediaan media)?
7. Apa upaya yang telah dilakukan dalam mengajarkan materi Gerakan 30
September 1965 di SMA N 1 Banjarnegara?
8. Bagaimana keterlibatan dan peran lembaga keilmuan (MSI) dan MGMP
dalam proses pembelajaran materi Gerakan 30 September 1965 di SMA N 1
Banjarnegara?
9. Bagaimana keterlibatan dan peran LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga
Kependidikan) dalam proses pembelajaran materi Gerakan 30 September 1965
di SMA N 1 Banjarnegara?
10. Bagaimana keterlibatan peran pemerintah dalam proses pembelajaran materi
Gerakan 30 September 1965 di SMA N 1 Banjarnegara?

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful