You are on page 1of 33

0

WRAP UP SKENARIO 4
MENCRET BERKEPANJANGAN








KELOMPOK : A-19

Ketua : Adria Putra Farhandika (1102013010)
Sekretaris : Fathonah Fatimatuzahra Said (1102013108)
Anggota : Aditya Nugraha Artar (1102013008)
Ahmad Rizky (1102013014)
Andhani Putri Kusumaningtyas (1102013024)
Bagus Dian Pranata (1102013052)
Bayu Hernawan Rahmat Muharia (1102013054)
Hana Fadhilah (1102013121)
Khaerunnisa (1102013147)



UNIVERSITAS YARSI
FAKULTAS KEDOKTERAN
TAHUN PELAJARAN 2013-2014
1

Mencret Berkepanjangan
Seorang laki-laki berusia 25 tahun, datang ke dokter dengan keluhan diare yang hilang
timbul sejak 3 bulan yang lalu, disertai sering demam, sariawan, tidak nafsu makan dan berat
badan menurun sebanyak 10 Kg dalam waktu 3 bulan terakhir. Dari anamnesis didapatkan pasien
adalah anggota komunitas gay.
Pada pemeriksaan fisik pasien terlihat kaheksia, mukosa lidah kering dan terdapat bercak-
bercak putih. Pada pemeriksaan laboratorium darah rutin didapatkan LED 50 mm/jam.
Pemeriksaan feses terdapat sel ragi. Pada pemeriksaan screening antibodi HIV didapatkan hasil
(+) kemudian doktermenganjurkan pemeriksaan konfirmasi HIV dan hitung jumlah limfosit T
CD4 dan CD8.
Dari data tersebut dokter menyimpulkan baahwa penderita ini mengalami gangguan
defisiensi imun akibat terinfeksi virus HIV. Dokter menganjurkan pasien untuk datang ke dokter
lain dengan alasan yang tidak jelas.
2

A. IDENTIFIKASI KAT –KATA SULIT
1. Kaheksia : Berasal dari bahasa yunani yaitu hexia,suatu kondisi yang
menggambarkan kondisi progresif perubahan bentuk tubuh dikarenakan sebab –
sebab tertentu seperti kelainan metabolism, kanker dan berbagai penyebab lainnya.
2. Pemeriksaan Screening Antibodi : Pemeriksaan yang digunakan untuk
mengidentifikasi penyakit yang belum tampak dengan metode ELISA.
3. Defisiensi imun : Gangguan yang disebabkan oleh kerusakan herediter yang
mempengaruhi system imun.
4. LED : Pemeriksaan darah dengan mengukur kecepatan pengedapan darah pada
sel darah merah dari plasma yang dikur dalam satu waktu terntentu dan tidak spesifik
untuk penyakit terntentu.
5. Virus HIV : Virus yang mematikan karena menyebabkandepresi imun.
6. Sel ragi pada feses : Menunjukan adanya infeksi jamur pada system pencernaan
7. CD 4 : Limfosit sel T-Helper
8. DC 8: Limfosit sel T-Sitotoksik












3

B. ANALISA MASALAH
1. Apa hubungan diare, demam terhadap penyakit HIV?
2. Bagaimana cara penularan HIV?
3. Termasuk golongan apakah virus HIV?
4. Apa hubungan limfosit dengan virus HIV?
5. Apa yang menyebabkan ditemukannya sel ragi pada saat pemeriksaan feses?
6. Mengapa dilakukan pemeriksaan laboraturium darah rutin LED?
7. Mengapa dilakukan pemeriksaan konfirmasi setelah didapatkan hasil positive pada
pemeriksaan screening antibody?
8. Apakah dokter tersebut melanggar KODEKI?
9. Apakah hanya virus HIV saja yang dapat menyebabkan defisiensi imun?
10. Berapa nilai normal untuk LED?
11. Apa saja gejala HIV?
12. Pemeriksaan apa saja yang dilakukan untuk menguji spesifik HIV?

4

C. BRAIN STROMING
1. Ketika tubuh sudah terinfeksi virus HIV sehingga menyebabkan tubuh mengalami
defisiensi imun, dan menyebabkan flora normal yang ada didalam tubuh (sel ragi)
berkembang biak dengan jumlah yang banyak dan bersifat pathogen sehingga hal
tersebut menyebabkan adanya defisiensi imun.
2. Cara penularannya dapat melalui :
- Seksual : Berhubungan dengan yang bukan suami istri, berhubungan seks dengan
sesame jenis, oralgenital, anogenital, genogenital.
- Aseksual : Paretral (jarum suntik), transparetral(janin)
3. Virus HIV termasuk family retroviridae dengan genus lentivirus.
4. Limfosit merupakan salah satu komponen penting dalam mekanisme petahanan
tubuh. Ketika virus HIV masuk ke dalam tubuh maka virus tersebut akan menyerang
limfosit T khusuhnya sel T helper. Ketika sel T helper diserang maka jumlahnya akan
menurun dan mengakibatkan limfosit B jumlahnya juga menurun. Hal ini disebabkan
karena limfosit sel B kerjanya dipengaruhi oleh limfosit sel T.
5. Sel ragi yang ditemukan pada feses disebkan oleh flora normal dalam system
perncernaan yang jumlahnya bertambah sangat banyak.
6. Tujuan dari dilakukannya pemeriksaan LED :
- Menentuka peradangan
- Memantau perjalanan aktivitas penyakit
- Penafsiran peradangan, contohnya neoplasma yang tersembunyi
7. Karena mendiagnosis penyakit HIV tidak bisa hanya dilakukan dengan satu kali
pemeriksaan, oleh karena itu dilakukannya pemeriksaan konfirmasi (follow up)
contohnya seperti pemeriksaan western blotting.
8. Ya, dokter tersebut melanggar KODEKI pasal 10. Seharusnya dokter tersebut apabila
ingin merujuk ke dokter lain harus diikuti dengan alasan yang jelas dan harus
merujuk ke dokter yang lebih mampu menanganinya.
9. Bukan hanya virus HIV saja yang menyebabkan imunodefisiensi. Banyak penyebab
lainnya seperti kompleks imun(autoimun), genetic.
10. Nilai normal untuk LED :
- Laki – laki : <50 tahun : <15mm/jam
>50 tahun : <20 mm/jam
5

- Perempuan : <50 tahun : <20 mm/jam
>50 tahun : <30 mm/jam
- Anak – anak : <10 mm/jam
- Bayi baru lahir : 0-2 mm/jam
11. Gejala terinfeksi virus HIV terbagi menjadi 2, yaitu :
- Mayor :
1. Berat badan menurun drastic
2, Diare kronik
3. Demam berkepanjangan
- Minor:
1. Ruam pada kulit
2. Mudah sakit dan terinfeksi terus menerus
3. Herpes simpatis
12. Pemeriksaan primer untuk mendiagnosis HIV dan AIDS meliputi:
- ELISA
- Pemeriksaan Air Liur
- Viral Load Test
- Western Blot
- PCR (Polymerase Chain reaction)





6

D. HIPOTESIS












Disebabkan



Menyebabkan















IMUNODEFISIENSI
TRANSMISI
AIDS
GEJALA
HIV
PEMERIKSAAN
- Mayor :
1. Berat badan menurun
drastis
2. Diare kronik
3. Demam berkepanjangan
- Minor:
1. Ruam pada kulit
2. Mudah sakit dan terinfeksi
terus menerus
3. Herpes simpatis


Seksual
Berhubungan dengan yang
bukan suami istri, berhubungan
seks dengan sesame jenis,
oralgenital, anogenital,
genogenital.
1. ELISA
2. Pemeriksaan Air Liur
3. Viral Load Test
4. Western Blot
5. PCR (Polymerase
Chain reaction)

Aseksual
Paretral (jarum suntik)
Transparetral (janin)

7

E. SASRAN BELAJAR

LO 1. Memahami dan Menjelaskan Gangguan Defisiensi Imun
1.1 Definisi
1.2 Etiologi
1.3 Klasifikasi dan Contoh-contoh Penyakit

LO 2. Memahami dan Menjelaskan Penyakit Akibat Virus HIV
2.1 Definisi Virus HIV
2.2 Struktur Virus HIV
2.3 Patogenesis
2.4 Patofisiologi
2.5 Gambaran Klinis
2.6 Diagnosis dan Diagnosis Banding (Pemeriksaan Lab dan Penatalaksanaan)
2.7 Pencegahan dan Tindakan Promotif serta Pemeriksaan Algoritme Screening pada HIV
2.8 Komplikasi
2.9 Prognosis

LO 3. Memahami dan Menjelaskan Dilema Etik
3.1 Kewajiban Dokter dalam Menangani Kasus HIV sesuai KODEKI
3.2 Etika Dokter dalam Penanganan Kasus HIV

LO 4. Memahami dan Menjelaskan Hukum dan Etika Islam dalam Menangani Kasus HIV













8

LO 1. Memahami dan Menjelaskan Gangguan Defisiensi Imun
1.1 Definisi
Defisiensi imun adalah defisiensi respons imun atau gangguan yang ditandai dengan
respons imun yang berkurang.
Defisiensi imun terjadi akibat kegagalan satu atau lebih komponen sistem imun.
Penyakit defisiensi imun terjadi akibat kegagalan satu atau lebih komponen sistem imun.
Penyakit ini ditimbulkan karena defek kongenital atau didapat dari limfosit, fagosit dan
mediator imunitas nonspesifik dan spesifik.

1.2 Etiologi
Secara umum, penyakit defisiensi imun dapat dibagi menjadi kongenital (primer) dan
didapat (sekunder),
 Defisiensi imun kongenital atau primer
Relatif jarang, Merupakan defek genetic yang meningkatkan kerentanan terhadap infeksi yang
sering sudah bermanifestasi pada abyi dan anak, tetapi kadang secara klinis baru ditemukan
usia lebih lanjut.

 Defisiensi imun didapat atau sekunder
Relative lebih sering terjadi karena disebabkan berbagai factor sesudah lahir.
Timbul akibat:
a. Malnutrisi
b. Kanker yang menyebar
c. Pengobatan dengan imunosupresan
d. Infeksi sel system imun yang Nampak jelas pada infeksi virus HIV, yang merupakan sebab
AIDS
e. Radiasi

Penyakit difesiensi imun tersering mengenai limfosit, komplemen dan fagosit.
1. Penyakit imun dapat ditimbulkan oleh karena tidak adanya fungsi spesifik defisiensi imun
atau aktivitas yang berlebihan (hipersensitivitas).
2. Organ yang sering terkena adalah sal.pernapasan yang diserang bakteri piogenik atau
jamur. IgA yang defisiensi dapat mengakibatkan infeksi kronik salura pernapasan.
3. Infeksi yang berulang atau infeksi yang tidak umum merupakan pertanda penting adanya
defisiensi imun.

1.3 Klasifikasi
1. Defisiensi Imun Non-Spesifik
a. Komplemen
Dapat berakibat meningkatnya insiden infeksi dan penyakit autoimun (SLE), defisiensi ini secara
genetik.
 Kongenital
Menimbulkan infeksi berulang /penyakit kompleks imun (SLE dan glomerulonefritis).
 Fisiologik
9

Ditemukan pada neonatus disebabkan kadar C3, C5, dan faktor B yang masih rendah.
 Didapat
Disebabkan oleh depresi sintesis (sirosis hati dan malnutrisi protein/kalori).

b. Interferon dan lisozim
 Interferon kongenital
Menimbulkan infeksi mononukleosis fatal
 Interferon dan lisozim didapat
Pada malnutrisi protein/kalori

c. Sel NK
 Kongenital
Pada penderita osteopetrosis (defek osteoklas dan monosit), kadar IgG, IgA, dan kekerapan
autoantibodi meningkat.
 Didapat
Akibat imunosupresi atau radiasi.

d. Sistem fagosit
Menyebabkan infeksi berulang, kerentanan terhadap infeksi piogenik berhubungan
langsung dengan jumlah neutrofil yang menurun, resiko meningkat apabila jumlah fagosit
turun < 500/mm
3
. Defek ini juga mengenai sel PMN.
 Kuantitatif
Terjadi neutropenia/granulositopenia yang disebabkan oleh menurunnya produksi atau
meningkatnya destruksi. Penurunan produksi diakibatkan pemberian depresan (kemoterapi
pada kanker, leukimia) dan kondisi genetik (defek perkembangan sel hematopioetik).
Peningkatan destruksi merupakan fenomena autoimun akibat pemberian obat tertentu
(kuinidin, oksasilin).
 Kualitatif
Mengenai fungsi fagosit seperti kemotaksis, fagositosis, dan membunuh mikroba intrasel.
- Chronic Granulomatous Disease (infeksi rekuren mikroba gram – dan +)
- Defisiensi G6PD (menyebabkan anemia hemolitik)
- Defisiensi Mieloperoksidase (menganggu kemampuan membunuh benda asing)
- Chediak-Higashi Syndrome (abnormalitas lisosom sehingga tidak mampu melepas
isinya, penderita meninggal pada usai anak)
- Job Syndrome (pilek berulang, abses staphylococcus, eksim kronis, dan otitis media.
Kadar IgE serum sangat tinggi dan ditemukan eosinofilia).
- Lazy Leucocyte Syndrome (merupakan kerentanan infeksi mikroba berat. Jumlah
neutrofil menurun, respon kemotaksis dan inflamasi terganggu)
- Adhesi Leukosit (defek adhesi endotel, kemotaksis dan fagositsosis buruk, efeks
sitotoksik neutrofil, sel NK, sel T terganggu. Ditandai infeksi bakteri dan jamur
rekuren dan gangguan penyembuhan luka)

10

2. Defisiensi Imun Spesifik
a. Kongential/primer
Sangat jarang terjadi.
 Sel B
Defisiensi sel B ditandai dengan penyakit rekuren (bakteri)
1. X-linked hypogamaglobulinemia
2. Hipogamaglobulinemia sementara
3. Common variable hypogammaglobulinemia
4. Disgamaglobulinemia
 Sel T
Defisensi sel T ditandai dengan infeksi virus, jamur, dan protozoa yang rekuren
1. Sindrom DiGeorge (aplasi timus kongenital)
2. Kandidiasis mukokutan kronik
 Kombinasi sel T dan sel B
1. Severe combined immunodeficiency disease
2. Sindrom nezelof
3. Sindrom wiskott-aldrich
4. Ataksia telangiektasi
5. Defisiensi adenosin deaminase

b. Fisiologik
 Kehamilan
Defisiensi imun seluler dapat diteemukan pada kehamilan. Hal ini karena pningkatan
aktivitas sel Ts atau efek supresif faktor humoral yang dibentuk trofoblast. Wanita hamil
memproduksi Ig yang meningkat atas pengaruh estrogen
 Usia tahun pertama
Sistem imun pada anak usia satu tahun pertama sampai usia 5 tahun masih belum matang.
 Usia lanjut
Golongan usia lanjut sering mendapat infeksi karena terjadi atrofi timus dengan fungsi
yang menurun.

c. Defisiensi imun didapat/sekunder
 Malnutrisi
 Infeksi
 Obat, trauma, tindakan, kateterisasi, dan bedah
Obat sitotoksik, gentamisin, amikain, tobramisin dapat mengganggu kemotaksis neutrofil.
Kloramfenikol, tetrasiklin dapat menekan antibodi sedangkan rifampisin dapat menekan
baik imunitas humoral ataupun selular.
 Penyinaran
Dosis tinggi menekan seluruh jaringan limfoid, dosis rendah menekan aktivitas sel Ts
secara selektif.
 Penyakit berat
Penyakit yang menyerang jaringan limfoid seperti Hodgkin, mieloma multipel, leukemia
dan limfosarkoma. Uremia dapat menekan sistem imun dan menimbulkan defisiensi
imun. Gagal ginjal dan diabetes menimbulkan defek fagosit sekunder yang
11

mekanismenya belum jelas. Imunoglobulin juga dapat menghilang melalui usus pada
diare.
 Kehilangan Ig/leukosit
Sindrom nefrotik penurunan IgG dan IgA, IgM norml. Diare (linfangiektasi intestinal,
protein losing enteropaty) dan luka bakar akibat kehilangan protein.
 Stres
 Agammaglobulinmia dengan timoma
Dengan timoma disertai dengan menghilangnya sel B total dari sirkulasi. Eosinopenia
atau aplasia sel darah merah juga dapat menyertai
 AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome)

LO 2. Memahami dan Menjelaskan Virus HIV
2.1 Definisi
HIV adalah termasuk retrovirus dari family retroviridae dan genus lentivirus yang
menginfeksi system imun terutama sel CD4+ sel T yang memiliki reseptor dengan afinitas
yang tinggi untuk HIV.
Acquired immune deficiency syndrome (AIDS) dapat diartikan sebagai kumpulan gejala
atau penyakit yang disebabkan oleh menurunnya kekebalan tubuh akibat infeksi.

2.2 Struktur Virus HIV
HIV terdiri atas sebuah daerah pusat berbentuk silindris yang dikelilingi oleh amplop lipid
bilayer yang berbentuk bola (sphere-shaped). Ada dua glikoprotein utama pada membran
lipid bilayer virus ini yaitu gp120 dan gp41. Fungsi utama dari glikoprotein tersebut adalah
sebagai mediator utama untuk pengenalan sel CD4+ dan reseptor chemokin sehingga
memungkinkan virus untuk berikatan dan menyerang sel CD4+. Bagian lingkaran dalam
virus ini memiliki dua untai ssRNA, juga beberapa protein dan enzim yang berguna untuk
replikasi dan maturasi HIV seperti p14, p17, enzim reverse transcriptase, protease, dan
integrase. Gmbaran struktur virus HIV adalah seperti gambar di bawah ini.

12

HIV memiliki diameter 1000 angstrom dan berbentuk sferis. Dilapisan kedua terdapat
protein p17, terdapat inti HIV yang dibentuk oleh protein p24, antigen p24 sebagai core
antigen yaitu petanda terdini adanya infeksi HIV-1. Didalam inti terdapat 2 buah rantai
RNA dan enzim reverse transcriptase.
Etiologi HIV/AIDS adalah virus HIV. HIV adalah retrovirus yang biasanya menyerang
organ vital sistem kekebalan manusia seperti sel T CD4+ (sejenis sel T), makrofag, dan sel
dendritik. Struktur virus HIV-1 terdiri dari 2 untaian RNA yang identik dan merupakan
genom virus yang berhubungan dengan P17 dan P24 berupa intipolipeptida. Semua
komponen tersebut diselubungi envelop membrane fosfolipid yang berasal dari sel pejamu.
Protein gp120 dan gp41 yang disandi virus ditemukan dalam envelop.
 RNA-directed DNA polymerase (reverse transcriptase) : polimerase DNA dalam retrovirus
seperti H V. Transverse transcriptase diperlukan dalam teknik rekombinan DNA yang
diperlukan dalam sintesis first stand cDNA.
 Antigen p24 : core antigen virus HIV, yang merupakan pertanda dini adanya infeksi HIV-
1, ditemukan beberapa hari minggu sebelum terjadi serokonversi sintesis antibody terhadap
HIV-1.
 Antigen gp120 : gilkoprotein permukaan HIV-1 yang mengikat reseptor CD4+ ini telah
digunakan untuk mencegah antigen gp120 menginfeksisel CD4+.
 Protein envelop : produk yang menyandi gp120, digunakan dalam usaha memproduksi
antibodi yang efektif dan produktif oleh pejamu.


Menurut spesies terdapat dua jenis virus penyebab AIDS, yaitu HIV-1 dan HIV-2 . HIV-1
paling banyak ditemukan di daerah barat, Eropa, Asia, dan Afrika Tengah, Selatan, dan
Timur. HIV-2 terutama ditemukan di Afrika Barat. HIV-1 maupun HIV-2 mempunyai
struktur hampir sama, HIV-1 mempunyai gen VPU, tetapi tidak mempunyai gen VPX,
sedangkan HIV-2 mempunyai gen VPX tapi tidak memiliki gen VPU.
a. HIV-1
Merupakan penyebab utama AIDS diseluruh dunia. Genom HIV mengkode sembilan
protein esensial untuk setiap aspek siklus hidup virus. Pada HIV-1 terdapat protein Vpu
yang membantu pelepasan virus. Terdapat 3 tipe dari HIV-1 berdasarkan alterasi pada gen
amplopnya yaitu tipe M, N, dan O.

b. HIV-2
Protein Vpu pada HIV-1 digantikan dengan protein Vpx yang dapat meningkatkan
infektivitas (daya tular) dan mungkin merupakan hasil duplikasi dari protein lain (Vpr).
Walaupun sama-sama menyebabkan penyakit klinis dengan HIV-2 tetapi kurang patogenik
dibandingkan dengan HIV-1.

2.3 Patogenesis
Sel inang yang terinfeksi virus HIV akan mengalami pemendekan waktu hidup. Hal ini
disebabkan karena virus HIV menggunakan sel inang sebagai "pabrik" untuk
memperbanyak diri mereka. 24 jam setalah pemaparan pertama, virus HIV akan diserang
oleh sel dendritik mukosa dan kulit. setelah 5 hari, sel yang terinfeksi ini akan bergerak ke
13

nodus limfe dan selanjutnya ke peredaran darah perifer dimana replikasi virus meningkat
pesat. Limfosit CD4+ yang digunakan untuk merespon antigen dari virus akan selanjutnya
bermigrasi ke nodus limfa yang selanjutnya akan teraktivasi dan berproliferasi. Keadaan
ini akan membuat sel CD4+ menjadi lebih rentan akan infeksi HIV.
Siklus hidup dari HIV meliputi 6 tahap yaitu: binding and entry, reverse transcription,
integration, replication, budding, dan maturation
1. Binding and Entry
Pada tahap ini, protein amplop gp120 dan gp41 akan berikatan pada reseptor sel CD4+ dan
koreseptor di permukaan luar sel CD4+ dan makrofag. Reseptor chemokin CCR5 dan
CXCR4 akan memfasilitasi masuknya virus kedalam sel inang.
Penggabungan protein, reseptor dan koreseptor virus ke sel inang akan menggabungkan
membran HIV dengan membran sel CD4+. Membran HIV dan protein amplop akan
tertinggal di luar sel inang, sedangkan bagian inti dari HIV akan masuk ke dalam sel
CD4+. enzim dari sel CD4+ akan berinteraksi dengan inti dari virus HIV yang akan
memicu pelepasan RNA, dan enzim reverse transcriptase, integrase, dan protease dari
virus.
2. Reverse Transcription
Pada tahap ini, ssRNA dari HIV akan di transkripsi menjadi ssDNA menggunakan enzim
reverse transcriptase. ssDNA kemudian akan mengalami replikasi menjadi dsDNA.
3. Integration
Setelah RNA virus ditranskripsi menjadi DNA, enzim integrase akan memasukan DNA
virus HIV ke dalam inti sel CD4+ untuk selanjutnya disisipkan di DNA sel CD4+.
4. Replication
DNA baru yang terbentuk dari penyisipan DNA virus ke DNA sel CD4+ akan memicu
terbentuknya messenger DNA yang akan menginisiasi sintesis protein HIV.
5. Budding
Protein HIV, RNA virus dan komponen lainnya yang diperlukan untuk membuat virus baru
akan berkumpul pada membran sel CD4+ untuk membentuk virus baru dengan mendorong
membran sel CD4+ dengan cara budding lalu meninggalkan sel inang.
6. Maturation
Virus yang baru saja keluar dari sel CD4+ sudah memiliki semua komponen yang
dibutuhkan untuk menginfeksi sel CD4+ yang baru, tetapi virus ini tidak bisa menginfeksi
sebelum mengalami pematangan (maturasi). Enzim yang berperan dalam proses
pematangan virus ini adalah protease.

14




2.4 Patofisiologi
Siklus hidup HIV berwala dari infeksi sel, produksi DNA virus dan integrasi ke dalam
genom, ekpresi gen virus dan produksi partikel virus.
Virus menginfeksi sel dengan menggunakan glikoprotein envelop yang disebut gp120 yang
terutama mengikat sel CD4 dan reseptor kemokin dari sel manusia. Oleh karena itu virus
hanya dapat menginfeksi dengan defisiensi sel CD4. Makrofag dan sel dendritik juga dapat
infeksinya.
Setelah virus berikatan dengan reseptor sel, membran virus bersatu dengan membran sel
pejamu dan virus masuk ke sitoplasma. Disini envelop virus dilepas oleh protease virus
dan RNA menjadi bebas. Kopi DNA dari RNA virus disintesis oleh enzom transkriptase
dan kopi DNA bersatu dengan DNA pejamu. DNA yang terintegrasi disebut provirus.
Provirus dapat diaktifkan, sehingga diproduksi RNA dan protein virus. Sekarang virus
mampu membentuk struktur inti, bermigrasi ke membran sel , memperoleh envelop lipid
dari sel pejamu, dilepas berupa partikel virus yang dapat menular dan siap menginfeksi sel
lain. Integrasi provirus dapat tetap laten dalam sel terinfeksi ntuk berbulan-bulan atau
tahun, sehingga tersembunyi dari sistem imun pejamu, bahkan dari terapi antivirus.

15

2.5 Gambaran Klinis
WHO menetapkan 4 stadium klinik pada pasien HIV :

16


Menurut KPA (2007) gejala klinis terdiri dari 2 gejala yaitu gejala mayor (umum terjadi)
dan gejala minor (tidak umum terjadi).
Gejala mayor:
a. Berat badan menurun lebih dari 10% dalam 1 bulan
b. Diare kronis yang berlangsung lebih dari 1 bulan
c. Demam berkepanjangan lebih dari 1 bulan
d. Penurunan kesadaran dan gangguan neurologis
e. Demensia/ HIV ensefalopati
Gejala minor:
a. Batuk menetap lebih dari 1 bulan
b. Dermatitis generalisata
c. Adanya herpes zoster multisegmental dan herpes zoster berulang
d. Kandidias orofaringeal
e. Herpes simpleks kronis progresif
f. Limfadenopati generalisata
17

g. Retinitis virus Sitomegalo
HIV berada terutama dalam cairan tubuh manusia. Cairan yang berpotensial mengandung
HIV adalah darah, cairan sperma, cairan vagina dan air susu ibu. Penularan HIV dapat
terjadi melalui berbagai cara, yaitu : kontak seksual, kontak dengan darah atau sekret yang
infeksius, ibu ke anak selama masa kehamilan, persalinan dan pemberian ASI.

Transmisi,
- Seksual : Berhubungan dengan yang bukan suami istri, berhubungan seks
dengan sesame jenis, oralgenital, anogenital, genogenital.
- Aseksual : Paretral (jarum suntik), transparetral(janin)

2.6 Diagnosis dan Diagnosis Banding (Pemeriksaan Lab dan Penatalaksanaan)

Pemeriksaan primer untuk mendiagnosis HIV dan AIDS meliputi:

- ELISA
ELISA (Enzyme-Linked Immunosorbent Assay) digunakan untuk mendeteksi infeksi HIV.
Jika tes ELISA positif, tes Western blot biasanya dilakukan untuk mengkonfirmasikan
diagnosis. Jika tes ELISA negatif, tetapi ada kemungkinan pasien tersebut memiliki HIV,
pemeriksaan harus diulang lagi dalam satu sampai tiga bulan. ELISA cukup sensitif pada
infeksi HIV kronis, tetapi karena antibodi tidak diproduksi segera setelah infeksi, hasil tes
mungkin negatif selama beberapa minggu untuk beberapa bulan setelah terinfeksi.
Meskipun hasil tes mungkin negatif selama periode ini, pasien mungkin memiliki tingkat
penularan tinggi.

- Pemeriksaan Air Liur
Pad kapas digunakan untuk memperoleh air liur dari bagian dalam pipi. Pad ditempatkan
dalam botol dan diserahkan ke laboratorium untuk pengujian. Hasil dapat diperoleh dalam
tiga hari. Hasil positif harus dikonfirmasi dengan tes darah.


- Viral Load Test
Tes ini bertujuan untuk mengukur jumlah virus HIV dalam darah. Umumnya, tes ini
digunakan untuk memantau kemajuan pengobatan atau mendeteksi dini infeksi HIV. Tiga
teknologi yang digunakan untuk mengukur viral load HIV dalam darah: Reverse
Transcription Polymerase Chain Reaction (RT-PCR), Branched DNA (bDNA) and Nucleic
Acid Sequence-Based Amplification Assay (NASBA). Prinsip-prinsip dasar dari tes ini
sama. HIV dideteksi menggunakan urutan DNA yang terikat secara khusus pada virus.
Penting untuk dicatat bahwa hasil dapat bervariasi antara tes.
- Western Blot
Ini adalah pemeriksaan darah yang sangat sensitif yang digunakan untuk mengkonfirmasi
hasil tes ELISA positif.
- PCR (Polymerase Chain reaction)
18

Untuk DNA dan RNA virus HIV sangat sensitive dan spesifik untuk infeksi HIV. Tes ini
sering digunakan bila tes yang lain tidak jelas.

Apabila terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV), maka pengendaliannya yaitu :
1. Pengendalian Infeksi Opurtunistik
Bertujuan menghilangkan, mengendalikan, dan pemulihan infeksi opurtunistik, nasokomial, atau
sepsis. Tidakan pengendalian infeksi yang aman untuk mencegah kontaminasi bakteri dan
komplikasi penyebab sepsis harus dipertahankan bagi pasien dilingkungan perawatan
kritis.
2. Terapi AZT (Azidotimidin)
Disetujui FDA (1987) untuk penggunaan obat antiviral AZT yang efektif terhadap AIDS, obat
ini menghambat replikasi antiviral Human Immunodeficiency Virus (HIV) dengan
menghambat enzim pembalik traskriptase. AZT tersedia untuk pasien AIDS yang jumlah
sel T4 nya <>3 . Sekarang, AZT tersedia untuk pasien dengan Human Immunodeficiency
Virus (HIV) positif asimptomatik dan sel T4 > 500 mm
3

3. Terapi Antiviral Baru
Beberapa antiviral baru yang meningkatkan aktivitas system imun dengan menghambat replikasi
virus / memutuskan rantai reproduksi virus pada prosesnya. Obat-obat ini adalah :
a. Didanosine
b. Ribavirin
c. Diedoxycytidine
d. Recombinant CD 4 dapat larut
 Strategi I
Hanya dilakukan satu kali pemeriksaan. Bila hasil pemeriksaan reaktif, maka dianggap sebagai
kasus terinfeksi HIV dan bila hasil pemeriksaan nonreaktif dianggap tidak terinfeksi HIV. Reagensia yang
dipakai untuk pemeriksaan pada strategi ini harus memiliki sensitivitas yang tinggi (>99%).
 Strategi II
Menggunakan dua kali pemeriksaan jika serum pada pemeriksaan pertama memberikan hasil
reaktif. Jika pada pemeriksaan pertama hasilnya nonreaktif, maka dilaporkan hasilnya negatif.
Pemeriksaan pertama menggunakan reagensia dengan sensitivitas tertinggi dan pada pemeriksaan kedua
dipakai reagensia yang lebih spesifik serta berbeda jenis antigen atau tekniknya dari yang dipakai pada
pemeriksaan pertama. Bila hasil pemeriksaan kedua juga reaktif, maka disimpulkan sebagai terinfeksi
HIV. Namun jika hasil pemeriksaan yang kedua adalah nonreaktif, maka pemeriksaan harus diulang
dengan kedua metode. Bila hasil tetap tidak sama, maka dilaporkan sebagai indeterminate.
 Strategi III
Menggunakan tiga kali pemeriksaan. Bila hasil pemeriksaan pertama, kedua, dan ketiga reaktif,
maka dapat disimpulkan bahwa pasien tersebut memang terinfeksi HIV. Bila hasil pemeriksaan tidak
sama, misalnya hasil tes pertama reaktif, tes kedua reaktif, dan tes ketiga nonreaktif, atau tes pertama
reaktif, sementara tes kedua dan ketiga nonreaktif, maka keadaan ini disebut sebagai equivokal atau
indeterminate bila pasien yang diperiksa memiliki riwayat pemaparan terhadap HIV atau berisiko tinggi
tertular HIV. Sedangkan bila hasil seperti yang disebut sebelumnya terjadi pada orang tanpa riwayat
pemaparan terhadap HIV atau tidak berisiko tertular HIV, maka hasil pemeriksaan dilaporkan sebagai
19

nonreaktif. Perlu diperhatikan juga bahwa pada pemeriksaan ketiga dipakai reagensia yang berbeda asal
antigen atau tekniknya, serta memiliki spesifisitas yang lebih tinggi.
Jika pemeriksaan penyaring menyatakan hasil yang reaktif, pemeriksaan dapat dilanjutkan dengan
pemeriksaan konfirmasi untuk memastikan adanya infeksi oleh HIV, yang paling sering dipakai saat ini
adalah teknik Western Blot (WB).


2.7 Pencegahan dan Tindakan Promotif serta Pemeriksaan Algoritme Screening pada HIV

1. Pencegahan(prefentif)
Pencegahan tentu saja harus dikaitkan dengan cara-cara penularan HIV seperti yang sudah
dikemukakan. Ada beberapa cara pencegahan HIV/AIDS, yaitu :

a. Pencegahan penularan melalui hubungan seksual, infeksi HIV terutama terjadi melalui
hubungan seksual, sehingga pencegahan AIDS perlu difokuskan pada hubungan seksual.
Untuk ini perlu dilakukan penyuluhan agar orang berperilaku seksual yang aman dan
bertanggung jawab, yakni : hanya mengadakan hubungan seksual dengan pasangan sendiri
(suami/isteri sendiri), kalau salah seorang pasangan anda sudah terinfeksi HIV, maka
dalam melakukan hubungan seksual perlu dipergunakan kondom secara benar,
mempertebal iman agar tidak terjerumus ke dalam hubungan-hubungan seksual di luar
nikah.
b. Pencegahan Penularan Melalui Darah dapat berupa : pencegahan dengan cara memastikan
bahwa darah dan produk-produknya yang dipakai untuk transfusi tidak tercemar virus HIV,
jangan menerima donor darah dari orang yang berisiko tinggi tertular AIDS, gunakan alat-
alat kesehatan seperti jarum suntik, alat cukur, alat tusuk untuk tindik yang bersih dan suci
hama.
c. Pencegahan penularan dari Ibu-Anak (Perinatal).
Ibu-ibu yang ternyata mengidap virus HIV/AIDS disarankan untuk tidak hamil. Selain dari
berbagai cara pencegahan yang telah diuraikan diatas, ada beberapa cara pencegahan lain
yang secara langsung maupun tidak langsung ikut mencegah penularan atau penyebaran
HIV/AIDS.

Kegiatan tersebut berupa kegiatan komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) yang dalam
implementasinya berupa : konseling AIDS dan upaya mempromosikan kondomisasi, yang
ditujukan kepada keluarga dan seluruh masyarakat yang potensial tertular HIV/AIDS
melalui hubungan seksual yang dilakukannya.

Anjuran dari badan kesehatan dan WHO:
 Pendidikan kesehatan reproduksi untuk remaja dan dewasa muda
 Program penyuluhan sebaya (per group education) untuk berbagai kelompok sasaran
 Program kerjasama dengan media cetak dan elektronik
 Paket pencegahan komperhensif untuk pengguna narkotika, termasuk program pengadaan
jarum suntik steril
20

 Program pendidikan agama
 Program layanan pengobatan infeksi menular seksual (IMS)
 Program promosi kondom di lokalisasi pelacuran dan panti pijat
 Pelatihan keterampilan hidup
 Program pengadaan tempat-tempat untuk tes HIV dan konseling
 Dukungan untuk anak jalanan dan pengentasanprotitusi anak
 Integrasi program pencegahan dengan program pengobatan, perawatan, dan dukungan
untuk ODHA
 Program pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak dengan pemeberian obat ARV

Menurut The National Women‟s Health Information Center (2009), ada tiga cara untuk
pecegahan HIV/ AIDS secara seksual:
1. Abstinence : Tidak melakukan hubungan seksual
2. Be Faithful : Tidak berganti pasangan saat melakukan hubungan seks
3. Condom : Menggunakan kondom saat melakukan hubungan seksual

 Memotivasi masyarakat dalam mengamalkan hubungan seks yang aman:
1. Pemasaran social
2. Pendidikan
3. Konselingkelompokkecil
(UNAIDS, 2000)
 Bagi pengguna narkoba:
1. Beralihdari NAPZA yang disuntikanke NAPZA oral
2. Jangan bergantian menggunakan semprit, air atau alat untuk menyiapkan NAPZA
3. Ketika mempersiapkan NAPZA gunakan air yang steril/bersih dan gunakan kapas
pembersih beralkohol untuk membersihkan tempat suntik sebelum disuntik
(Watters and Guydish, 1994)
 Bagi ibu yang terinfeksi HIV, agar tidak tertular ke bayi:
1. Mengambil pengobatan antiviral ketika trimester I, karena dapat menghambat transmis
virus dari ibu ke bayi
2. Ketika melahirkan, obat antiviral diberikan keibu dan anak untuk mengurangi resiko
transmisi HIV saat partus
3. Seorang ibu akan direkomendasikan untuk memberikan susu formula, karena virus HIV
dapat di transmisikan melalui ASI
(The Nermours Foundation, 1995)
 Para pekerja kesehatan hendaknya mengikuti Universal Precaution:
1. Penanganan dan pembuangan barang-barang tajam
2. Mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum dan sesudah dilakukannya semua prosedur
21

3. Menggunakan alat pelindung seperti jubbah, sarung tangan, celemek, masker, dan
kacamata pelindung saat harus bersentuhan langsung dengan darah dan cairan tubuh
lainnya
4. Melakukan desinfeksi instrument kerja dan peralatan yang terkontaminasi
5. Penanganan sprei kotor/ bernoda secara tepat
(Komisi Penanggulangan AIDS, 2010-2011)
2.8 Komplikasi
a. Oral Lesi
Karena kandidia, herpes simplek, sarcoma Kaposi, HPV oral, gingivitis, peridonitis Human
Immunodeficiency Virus (HIV), leukoplakia oral, nutrisi, dehidrasi, penurunan berat
badan, keletihan dan cacat.
b. Neurologik
 kompleks dimensia AIDS karena serangan langsung Human Immunodeficiency Virus
(HIV) pada sel saraf, berefek perubahan kepribadian, kerusakan kemampuan motorik,
kelemahan, disfasia, dan isolasi social.
 Enselophaty akut, karena reaksi terapeutik, hipoksia, hipoglikemia, ketidakseimbangan
elektrolit, meningitis / ensefalitis. Dengan efek : sakit kepala, malaise, demam, paralise,
total / parsial.
 Infark serebral kornea sifilis meningovaskuler,hipotensi sistemik, dan maranik
endokarditis.
 Neuropati karena imflamasi demielinasi oleh serangan Human Immunodeficienci Virus
(HIV)
c. Gastrointestinal
 Diare karena bakteri dan virus, pertumbuhan cepat flora normal, limpoma, dan sarcoma
Kaposi. Dengan efek, penurunan berat badan,anoreksia,demam,malabsorbsi, dan dehidrasi.
 Hepatitis karena bakteri dan virus, limpoma,sarcoma Kaposi, obat illegal, alkoholik.
Dengan anoreksia, mual muntah, nyeri abdomen, ikterik,demam atritis.
 Penyakit Anorektal karena abses dan fistula, ulkus dan inflamasi perianal yang sebagai
akibat infeksi, dengan efek inflamasi sulit dan sakit, nyeri rectal, gatal-gatal dan siare.
d. Respirasi
Infeksi karena Pneumocystic Carinii, cytomegalovirus, virus influenza, pneumococcus, dan
strongyloides dengan efek nafas pendek ,batuk, nyeri, hipoksia, keletihan, dan gagal nafas.
e. Dermatologik
Lesi kulit stafilokokus : virus herpes simpleks dan zoster, dermatitis karena xerosis, reaksi
otot, lesi scabies/tuma, dan dekobitus dengan efek nyeri,gatal,rasa terbakar,infeksi skunder
dan sepsis.
f. Sensorik
 Pandangan : Sarkoma Kaposi pada konjungtiva berefek kebutaan
22

 Pendengaran : otitis eksternal akut dan otitis media, kehilangan pendengaran dengan efek
nyeri
Komplikasi-komplikasi umum pada pasien HIV/AIDS akibat infeksi oportunistik:

a. Tuberkulosis (TB)
Di negara-negara miskin, TB merupakan infeksi oportunistik yang paling umum yang
terkait dengan HIV dan menjadi penyebab utama kematian di antara orang yang hidup
dengan AIDS. Jutaan orang saat ini terinfeksi HIV dan TBC dan banyak ahli menganggap
bahwa ini merupakan wabah dua penyakit kembar.

b. Salmonelosis
Kontak dengan infeksi bakteri ini terjadi dari makanan atau air yang telah terkontaminasi.
Gejalanya termasuk diare berat, demam, menggigil, sakit perut dan, kadang-kadang,
muntah. Meskipun orang terkena bakteri salmonella dapat menjadi sakit, salmonellosis
jauh lebih umum ditemukan pada orang yang HIV-positif.

c. Cytomegalovirus (CMV)
Virus ini adalah virus herpes yang umum ditularkan melalui cairan tubuh seperti air liur,
darah, urine, semen, dan air susu ibu. Sistem kekebalan tubuh yang sehat dapat
menonaktifkan virus sehingga virus tetap berada dalam fase dorman (tertidur) di dalam
tubuh. Jika sistem kekebalan tubuh melemah, virus menjadi aktif kembali dan dapat
menyebabkan kerusakan pada mata, saluran pencernaan, paru-paru atau organ tubuh
lainnya.

d. Kandidiasis
Kandidiasis adalah infeksi umum yang terkait HIV. Hal ini menyebabkan peradangan dan
timbulnya lapisan putih tebal pada selaput lendir, lidah, mulut, kerongkongan atau vagina.
Anak-anak mungkin memiliki gejala parah terutama di mulut atau kerongkongan sehingga
pasien merasa sakit saat makan.

e. Cryptococcal Meningitis
Meningitis adalah peradangan pada selaput dan cairan yang mengelilingi otak dan sumsum
tulang belakang (meninges). Cryptococcal meningitis infeksi sistem saraf pusat yang
umum terkait dengan HIV. Disebabkan oleh jamur yang ada dalam tanah dan mungkin
berkaitan dengan kotoran burung atau kelelawar.

f. Toxoplasmolisis
Infeksi yang berpotensi mematikan ini disebabkan oleh Toxoplasma gondii. Penularan
parasit ini disebabkan terutama oleh kucing. Parasit berada dalam tinja kucing yang
terinfeksi kemudian parasit dapat menyebar ke hewan lain.

g. Kriptosporidiosis
Infeksi ini disebabkan oleh parasit usus yang umum ditemukan pada hewan. Penularan
kriptosporidiosis terjadi ketika menelan makanan atau air yang terkontaminasi. Parasit
23

tumbuh dalam usus dan saluran empedu yang menyebabkan diare kronis pada orang
dengan AIDS.

Kanker yang biasa terjadi pada pasien HIV/AIDS:

h. Sarkoma Kaposi
Sarkoma Kaposi adalah suatu tumor pada dinding pembuluh darah. Meskipun jarang
terjadi pada orang yang tidak terinfeksi HIV, hal ini menjadi biasa pada orang dengan
HIV-positif. Sarkoma Kaposi biasanya muncul sebagai lesi merah muda, merah atau ungu
pada kulit dan mulut. Pada orang dengan kulit lebih gelap, lesi mungkin terlihat hitam atau
coklat gelap. Sarkoma Kaposi juga dapat mempengaruhi organ-organ internal, termasuk
saluran pencernaan dan paru-paru.

i. Limfoma
Kanker jenis ini berasal dari sel-sel darah putih. Limfoma biasanya berasal dari kelenjar
getah bening. Tanda awal yang paling umum adalah rasa sakit dan pembengkakan kelenjar
getah bening ketiak, leher atau selangkangan.

Komplikasi lainnya:

j. Wasting Syndrome
Pengobatan agresif telah mengurangi jumlah kasus wasting syndrome, namun masih tetap
mempengaruhi banyak orang dengan AIDS. Hal ini didefinisikan sebagai penurunan paling
sedikit 10 persen dari berat badan dan sering disertai dengan diare, kelemahan kronis dan
demam.

k. Komplikasi Neurologis
Walaupun AIDS tidak muncul untuk menginfeksi sel-sel saraf, tetapi AIDS bisa
menyebabkan gejala neurologis seperti kebingungan, lupa, depresi, kecemasan dan
kesulitan berjalan. Salah satu komplikasi neurologis yang paling umum adalah demensia
AIDS yang kompleks, yang menyebabkan perubahan perilaku dan fungsi mental
berkurang.

2.9 Prognosis
Tanpa pengbatan, waktu hidup bersih rata-rata setelah terinfeksi HIV diperkirakan 9-11
tahun, tergantung pada subtipe HIV, didaerah-daerah dimana banyak tersedia,
pengembangan ARV sebagai terapi efektif untuk infeksi HIV dan AIDS mengurangi
kematian tingkat dari penyakit dengan 80%. Dan meningkatkan harapan hidup untuk orang
yang terinfeksi HIV baru didiagnosis sekitar 20 tahun.
Tanpa terapi antiretroviral, kematian biasanya terjadi dalam waktu satu tahun. Laju
perkembangan penyakit klinis sangat bervariasi antara lain individu dan telah terbukti
dipengaruhi oleh banyak faktor seperti kerentanan host dan fungsi kekebalan tubuh.

LO 3. Memahami dan Menjelaskan Dilema Etik
3.1 Kewajiban Dokter dalam Menangani Kasus HIV sesuai KODEKI
24


KEWAJIBAN DOKTER TERHADAP PASIEN
Pasal 12
Setiap dokter wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang seorang pasien,
bahkan juga setelah pasien itu meninggal dunia.
Pasal 13
Setiap dokter wajib melakukan pertolongan darurat sebagai suatu tugas perikemanusiaan, kecuali
bila ia yakin ada orang lain bersedia dan mampu memberikannya.

Kaidah Dasar Bioetik
 Prinsip Autonomy, menghormati hak-hak pasien, hak otonomi pasien. Melahirkan
informed consent
 Prinsip Beneficence, Tindakan untuk kebaikan pasien. Memilih lebih banyak manfaatnya
daripada buruknya.
 Prinsip Non-maleficence, Melarang tindakan yang memperburuk kedaan pasien. Primum
non nocere atau above all do no harm.
 Prinsip Justice, mementingkan fairness dan keadilan dalam bersikap maupun dalam
mendistribusikan sumber daya (distributiv justice)

3.2 Etika Dokter dalam Penanganan Kasus HIV
Stigma adalah stempel yang menimbulkan kesan jijik, kotor, antipati dan berbagai perasaan
negatif lainnya. Stigma pada ODHA :
 Lingkungan masyarakat (71,4%),
 Ditempat pelayanan kesehatan (35,5%)
 Dilingkungan keluarga (18,5%).

Di Indonesia kebijaksanaan ini dapat terlihat dari strategi Nasional Penanggulangan HIV/AIDS
sebagai berikut :
 Setiap orang berhak untuk mendapatkan informasi yang baru mengenai HIV/aids, baik
untk melindungi diri sendiri maupun mencegah penularan kepada orang lain
 Tetap menghormati harkat dan martabat para pasien HIV/pasien aids dan keluarganya
 Mencegah perlakuan diskriminatif kepada pengidap HIV/pasien AIDS dan keluarganya
 Setiap upaya diarahkan untuk mempertahankan dan memperkuat ketahanan keluarga yang
menjadi salah satu pilar dari kesejahteraan keluarga
 Dalam jangka panjang membentuk perilaku bertanggung jawab khususnya dalam
kesehatan reproduksi yang mampu menangkal penyebaran virus HIV

LO. 4 Memahami dan Menjelaskan Hukum dan Etika Islam dalam Menangani Kasus HIV

Solusi Preventif
Transmisi utama (media penularan yang utama) penyakit HIV/AIDS adalah seks bebas.
Oleh karena itu pencegahannya harus dengan menghilangkan praktik seks bebas tersebut.
25

Hal ini meliputi media-media yang merangsang (pornografi-pornoaksi), tempat-tempat
prostitusi, club-club malam, tempat maksiat dan pelaku maksiat.

1. Islam telah mengharamkan laki-laki dan perempuan yang bukanmuhrim berkholwat
(berduaan/pacaran). Sabda Rasulullah Saw:„Laa yakhluwanna rojulun bi imroatin Fa
inna tsalisuha syaithan‟artinya: “Jangan sekali-kali seorang lelaki dengan perempuan
menyepi (bukan muhrim) karena sesungguhnya syaithan ada sebagai pihak ketiga”. (HR.
Baihaqy)

2. Islam mengharamkan perzinahan dan segala yang terkait dengannya.
Allah Swt berfirman:“Janganlah kalian mendekati zina karenasesungguhnya zina itu
perbuatan yang keji dan seburuk-buruknya jalan”(QS al Isra‟[17]:32)

3. Islam mengharamkan perilaku seks menyimpang, antara lain homoseks (laki-laki
dengan laki-laki) dan lesbian (perempuan dengan perempuan ). Firman Allah Swt
dalam surat al A‟raf ayat 80-81 : “ Dan (kami juga telah mengutus) Luth ( kepada
kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka : Mengapa kamu mengerjakan
perbuatan kotor itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun manusia (didunia ini)
sebelummu? Sesungghnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu ( kepada
mereka ), bukan kepada wanita, Bahkan kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.(
TQS. Al A‟raf : 80-81)

4. Islam melarang pria-wanita melakukan perbuatan-perbuatan yang membahayakan
akhlak dan merusak masyarakat, termasuk pornografi dan pornoaksi. Islam melarang
seorang pria dan wanita melakukan kegiatan dan pekerjaan yang menonjolkan
sensualitasnya. Rafi‟ ibnu Rifa‟a pernah bertutur demikian: ‟ Nahaana Shallallaahu ‟alaihi
wassalim‟an kasbi; ammato illa maa ‟amilat biyadaiha. Wa qaala: Haa kadza bi‟ashobi‟ihi
nakhwal khabzi wal ghazli wan naqsyi.‟artinya: “Nabi Saw telah melarang kami dari
pekerjaan seorang pelayan wanita kecuali yang dikerjakan oleh kedua tangannya. Beliau
bersabda “Seperti inilah jari-jemarinya yang kasar sebagaimana halnya tukang roti,
pemintal, atau pengukir.”

5. Islam mengharamkan khamr dan seluruh benda yang memabukkan serta
mengharamkan narkoba. Sabda Rasulullah Saw :“Kullu muskirinharaamun” artinya :
“Setiap yang menghilangkan akal itu adalah haram(HR. Bukhori Muslim)“Laa dharaara wa
la dhiraara” artinya : ”Tidak boleh menimpakanbahaya pada diri sendiri dan kepada orang
lain.” (HR. Ibnu Majah). Narkoba termasuk sesuatu yang dapat menghilangkan akal dan
menjadi pintu gerbang dari segala kemaksiatan termasuk seks bebas. Sementara seks bebas
inilah media utama penyebab virus HIV/AIDS .

6. Amar ma’ruf nahi munkar yang wajib dilakukan oleh individu danmasyarakat.

7. Tugas Negara memberi sangsi tegas bagi pelaku mendekati zina. Pelaku zina muhshan
(sudah menikah) dirajam, sedangkan pezina ghoiru muhshan dicambuk 100 kali. Adapun
pelaku homoseksual dihukum mati; dan penyalahgunaan narkoba dihukum cambuk. Para
26

pegedar dan pabrik narkoba diberi sangsi tegas sampai dengan mati. Semua fasilitator seks
bebas yaitu pemilik media porno, pelaku porno, distributor, pemilik tempat-tempat
maksiat, germo, mucikari, backing baik oknum aparat atau bukan, semuanya diberi sangsi
yang tegas dan dibubarkan.

Solusi Kuratif
Orang yang terkena virus HIV/AIDS, maka tugas negara untuk melakukanbeberapa hal
sebagai berikut:

1. Orang yang tertular HIV/AIDS karena berzina maka jika dia sudahmenikah
dihukumrajam. Sedangkan yang belum menikah dicambuk100 kali dan selanjutnya
dikarantina.
2. Orang yang tertular HIV/AIDS karena Homoseks maka dihukum mati.
3. Orang yang tertular HIV/AIDS karena memakai Narkoba makadicambuk selanjutnya
dikarantina.
4. Orang yang tertular HIV/AIDS karena efek spiral (tertular secara tidak langsung)
misalnya karena transfusi darah, tertular dari suaminya dan sebagainya, maka orang
tersebut dikarantina.

Penderita HIV/AIDS yang tidak karena melakukan maksiat dengan sangsi hukuman mati,
maka tugas negara adalah mengkarantina mereka. Karantina dalam arti memastikan tidak
terbuka peluang untuk terjadinya penularan harus dilakukan, terutama kepada pasien
terinfeksi fase AIDS. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Saw yang artinya: “Sekali-kali
janganlah orang yang berpenyakit menularkan kepada yang sehat” (HR Bukhori ).
“Apabila kamu mendengar ada wabah di suatu negeri, maka janganlah kamu memasukinya
dan apabila wabah itu berjangkit sedangkan kamu berada dalam negeri itu , janganlah
kamu keluar melarikan diri” (HR. Ahmad, Bukhori, Muslim dan Nasa‟i dari Abdurrahman
bin „Auf).

Mengkarantina agar penyakit tersebut tidak menyebar luas, perlu memperhatikan hal-hal
berikut:

a. Selama karantina seluruh hak dan kebutuhan manusiawinya tidak diabaikan.
b. Diberi pengobatan gratis.
c. Berinteraksi dengan orang – orang tertentu di bawah pengawasan dan jauh
dari media serta aktifitas yang mampu menularkan.
d. dilakukan upaya pendidikan yang benar tentang HIV-AIDS kepada semua kalangan
disertai sosialisasi sikap yang diharapkan dari masing-masing pihak/kalangan
(komunitas ODHA/OHIDA, komunitas resiko tinggi, komunitas rentan)
e. dilakukan pendidikan disertai aktivitas penegakan hukum kepada ODHA yang
melakukan tindakan yang ‟membahayakan‟ (beresiko menularkan pada) orang lain
f. Pembinaan rohani, merehabilitasi mental (keyakinan, ketawakalan,kesabaran) sehingga
mempecepat kesembuhan dan memperkuat ketaqwaan. Telah diakui bahwa
kesehatanm mental mengantarkan pada 50% kesembuhan.
g. Dilakukan pemberdayaan sesuai kapasitas
27


Di sisi lain, jika selama ini penyakit seperti HIV/AIDS belum ditemukan obatnya maka
negara wajib menggerakkan dan memberikan fasilitas kepada para ilmuwan dan ahli
kesehatan agar secepatnya bisa menemukan obatnya.

Jalan Menuju Terwujudnya Strategi Penanggulangan HIV-AIDS
Perspektif Islam

a. Upaya Jangka Pendek

 Melakukan telaah kritis, membongkar bahaya dan konspirasi strategi penanggulangan
HIV-AIDS perspektif sekuler-liberal produk Barat (versi UNAIDS) di satu sisi, dan mulai
memperkenalkan solusi Islam sebagai strategi alternatif penanggulangan HIV-AIDS yang
seharusnya mulai diambil pada sisi yang lain
 Memulai diskusi, sosialisasi dan advokasi kepada individu stakesholderyang muslim
(KPA, MPA, Medis, paramedis, dll) level daerah/lokal
 Memulai diskusi, sosialisasi dan advokasi kepada tokoh-tokoh muslimyang menjadi
simpul-simpul umat
 Penguatan aqidah, keimanan dan konsekuensi untuk berhukum dengansistem Islam
 Pembinaan ummat secara ideologis (aqidah, syari‟ah dan dakwah)untuk memperjuangkan
tegaknya Islam kaffah

b. Upaya Jangka Menengah

 Mulai memblow-up hasil telaah kritis, membongkar bahaya dan konspirasi strategi
penanggulangan HIV AIDS perspektif sekuler-liberal produk Barat (versi UNAIDS) ke
masyarakat dan media
 Mulai memblow-up solusi Islam sebagai strategi alternatif penanggulangan HIV-AIDS
yang seharusnya diambil ke masyarakat dan media
 Memulai diskusi, sosialisasi dan advokasi kepada instansi stakesholder(KPA, MPA, Medis,
paramedis, dll) level daerah/lokal hingga pusat
 Memulai aktivitas mengoreksi penguasa tentang kebijakan dekstruktif
 Memulai aktivitas mengoreksi pihak legislatif akan perundang-undangan yang menjadi
bagian kebijakan dekstruktif
 Mengingatkan masyarakat luas dan pemerintah akan bahaya NGO-NGO komprador
 Mengingatkan NGO-NGO „Komprador‟

Upaya Jangka Panjang
 Secara terus menerus mengungkap kebobrokan yang ditimbulkan oleh sistem kapitalisme-
sekulerisme dalam semua bidang dan konspirasi global di belakangnya
 Secara terus menerus mengupayakan lahirnya pemahaman dan kesadaran umat
(masyarakat) akan Islam sebagai solusi problematika kehidupan mereka dalam seluruh
aspek kehidupan menggantikan sistem kapitalisme-sekulerisme yang nyata-nyata telah
membawa kerusakan kehidupan

28

Mengupayakan terwujudnya sebuah kekuatan politik –pada saatnyananti- yang bisa
menghadapi konspirasi global negara-negara neoimperialisme dan multi national corp di
negeri-negeri Islam yaitu kekuatan Daulah khilafah Islamiyyah (negara yang akan
menyatukan seluruh potensi umat dan menerapkan sistem Islam sebagai sistem kehidupan
secara kaaffah) dengan dukungan umat


29

Daftar Pustaka
Baratawidjaja KG, Rengganis I. (2010). Imunologi Dasar. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.
Departemen farmakologi dan terapeutik fakultas kedokteran universitas Indonesia.
Farmakologi dan terapi edisi 5. 2007. Jakarta : Badan penerbit FKUI
Djoerban, Zubairi. Djauzi, Samsuridjal (2006). Ilmu Penyakit Dalam. Edisi IV, vol III
Jakarta : Departemen Penyakit Dalam FKUI.
Djuanda A, Hamzah M, Aisah S. (2005). Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta : Balai
Penerbit FKUI.
Hanafiyah MJ, Amir A. (2008). Etika kedokteran dan hokum kesehatan. Edisi 4.
Kamus Kedokteran Dorland, Edisi 28
M.Jusuf, Amri Amir. ETIKA Kedokteran & Hukum Kesehatan edisi 4. 2008. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Merati,Tutii Parwati. Djauzi, Samsuridjal (2006). Ilmu Penyakit Dalam. Edisi IV, vol I
Jakarta : Departemen Penyakit Dalam FKUI.
Nancy R. Calles, MSN, RN, PNP, ACRN, MPH., Desiree Evans, MD, MPH., DeLouis
Terlonge, MD. Pathophysiology of the human immunodeficiency virus.
http://www.bipai.org/Curriculums/HIV-Curriculum/Pathophysiology-of-HIV.aspx

Price, Sylvia Anderson. (2006). Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Edisi
VI, vol. 1. Huriawati Hartanto. Jakarta : EGC.
Rosyidah, F. (2011). Kritik Islam Terhadap Strategi Penangulangan HIV-AIDS Berbasis
Paradigma Sekuler-Liberal dan Solusi Islam dalam Menangani Kompleksitas
Problematika HIV-AIDS.
Sudoyo aru. W. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi V. 2009. Interna Publishing :
Jakarta.
http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/immunesystemanddisorders.html
http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/000818.htm
http://emedicine.medscape.com/article/1051103-overview#aw2aab6b2b2aa
http://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMc053417
(http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3684/1/fkm-fazidah4.pdf)


30










31



32