INFLUENCE DURATION OF DIABETES MELLITUS TOWARD PERIPHERAL NEUROPATHY DEGREE (BASED ON DNS AND DNE

)

Martini Aulya Syamsurijal1, Tri Wahyuliati2

1. Student of Faculty of Medicine, Muhammadiyah University of Yogyakarta 2. Neurology Department, Faculty of Medicine, Muhammadiyah University of Yogyakarta

Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Jl. Lingkar Barat, Tamantirto, Kasihan, Bantul Yogyakarta ABSTRACT

Diabetes mellitus is becoming one of the most important health problems not only in developed countries but also in developing countries. Because of the high morbidity and mortality associated with complications of diabetes, diabetes mellitus is a burden on both patients and society. Peripheral neuropathy is common, often distressing, and sometimes disabling or even fatal. Objectives of this study is to know influence duration of diabetes mellitus toward peripheral neuropathy degree based on DNS (Diabetic Neuropathy Score) and DNE (Diabetic Neuropathy Examination). In this cross sectional study, 66 diabetic in-patients were selected from PKU Muhammadiyah hospital of Yogyakarta and Wates region public hospital. Studies data were got through observation and variable measuring. The course of the studies were secondary data registration by reading patient document at hospital, direct interview with sample, anamnased and physical examination. After each variable were collected, data were analyzed using Spearmen correlation, Chi Square test, and Odds Ratio (OR). Statistically significant relationship were found between neuropathy degree with duration of disease and cardiovascular history based on DNE. P value both of them were <0,001. Cardiovascular disease, hypertension, hypertension history, and smoking were risk factor for peripheral neuropathy degree with OR >1. No correlation were found between neuropathy degree and hyperglycemia, dyslipidemia, dyslipidemia history, BMI, and type of DM. In conclusion, there are correlation between duration of DM with peripheral neuropathy degree. Keyword : diabetes mellitus duration, peripheral neuropathy degree, DNS, DNE

INTISARI

2

Diabetes melitus (DM) merupakan salah satu masalah kesehatan terpenting tidak hanya di negara maju, tapi juga di negara yang sedang berkembang. Tingginya angka morbiditas dan mortalitas yang dihubungkan dengan komplikasi DM menyebabkan DM menjadi beban bagi pasien dan juga sosial. Neuropati diabetik perifer adalah komplikasi DM yang paling umum dan sering menyusahkan dan kadang-kadang melumpuhkan atau bahkan menimbulkan kematian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh durasi menderita DM terhadap derajat neuropati perifer berdasarkan skor DNS dan DNE. Penelitian ini menggunakan metode penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional study. Sampel penelitian meliputi penderita DM rawat inap di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta dan RSUD Wates Kulon Progo Yogyakarta sebanyak 66 sampel. Data penelitian diperoleh melalui observasi dan pengukuran variabel yang diawali pencatatan data sekunder dengan membaca status pasien di rumah sakit, selanjutnya wawancara langsung dengan sampel, anamnesis dan pemeriksaan fisik. Setelah data masing-masing variabel terkumpul, kemudian dilakukan uji statistik korelasi Pearson, uji Chi Square dan Odds Ratio (OR). Hubungan yang signifikan dari uji statistik ditemukan diantara derajat neuropati perifer dengan variabel durasi menderita DM dan riwayat kardiovaskuler berdasarkan DNE dengan nilai p keduanya adalah <0,001. Variabel penyakit kardiovaskuler, hipertensi, riwayat hipertensi, dan merokok termasuk dalam faktor resiko yang signifikan yang ditunjukkan nilai OR >1. Tidak ditemukan hubungan antara derajat neuropati perifer dengan hiperglikemia, dislipidemia, riwayat dislipidemia, BMI, dan tipe DM. Dari hasil penelitian ini dapat dibuktikan bahwa terdapat hubungan durasi menderita diabetes melitus terhadap derajat neuropati perifer. Kata kunci : durasi menderita DM, derajat neuropati perifer, DNS, DNE PENDAHULUAN

3

Menurut American Diabetes Association (ADA) 2003, diabetes melitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya. Hiperglikemia kronik pada DM berhubungan dengan kerusakan jangka panjang, disfungsi dan kegagalan beberapa organ tubuh, terutama mata, ginjal, syaraf, jantung dan pembuluh darah1. DM menjadi salah satu masalah kesehatan terpenting tidak hanya di negara maju, tapi juga di negara yang sedang berkembang. Di dunia, lebih dari 140 juta orang diperkirakan menderita DM, dan diperkirakan akan mengenai lebih dari 230 juta orang pada tahun 2010. Lebih dari setengah populasi ini akan berada di Asia karena populasi secara keseluruhan dan prevalensi peningkatan tajam DM ada di benua ini2. Di Indonesia angka prevalensinya rata-rata 1,5 %, dan laporan yang terakhir mencapai 5,9 % di Jakarta dan 6 % di Manado3. Tingginya angka morbiditas dan mortalitas yang dihubungkan dengan komplikasi DM menyebabkan DM menjadi beban bagi pasien dan juga sosial2. Neuropati diabetik adalah salah satu komplikasi DM yang paling umum dan mempunyai banyak petunjuk klinis4. Neuropati diabetik perifer adalah yang paling biasa terjadi dan sering menyusahkan dan kadang-kadang melumpuhkan atau bahkan menimbulkan kematian. Prevalensinya dipopulasi sebesar 2,4 % dan bertambah tinggi sesuai dengan tingkat usia hingga 8 %5. Intensitas dan tingkat kelainan anatomis dan fungsional neuropati diabetik sejajar dengan tingkat dan durasi hiperglikemia. Mekanisme patofisiologi yang telah diajukan yaitu pembentukan sorbitol oleh aldosa reduktase dan pembentukan produk akhir glikosilasi lanjut. Jaringan yang dipengaruhi oleh DM yaitu retina, ginjal, dan saraf. Semua jaringan ini dapat ditembus glukosa dengan bebas sehingga peningkatan konsentrasi glukosa darah meningkatkan akumulasi intraselular glukosa dan produk metabolik glukosa yang berikutnya. Mekanisme hiperglikemia yang telah dikemukakan mungkin menuju pada komplikasi mikrovaskular dan neurologi termasuk peningkatan akumulasi polyols melalui jalur aldosa reduktase. Aldosa

4

reduktase mengkatalisis penurunan glukosa tehadap sorbitol yang pada gilirannya secara kompetitif menghambat sintesis myo-inositol glomerural dan neural. Penurunan sintesis myo-inositol menekan metabolisme phospoinositida dan kemudian menurunkan aktivitas Na+K+-ATPase. Hiperglikemia akut menurunkan fungsi saraf, sedangkan hiperglikemia kronik berhubungan dengan hilangnya serabut saraf myelin dan serabut saraf yang tidak bermyelin, degenerasi wallerian, dan penumpulan reproduksi serabut saraf 4. Penderita neuropati perifer memperlihatkan sensasi yang berubah, nyeri, kelemahan, atau gejala autonomik. Tanda klinis berubah dengan luas dan mungkin menyerupai myelopati, radikulopati, penyakit otot, atau pun juga hiperventilasi sehingga identifikasi penderita neuropati dapat menjadi sulit. Gejala biasanya dimulai diujung jari kaki sebelum ke bagian jari kaki dan menyebar ke daerah didekatnya5. DNS dan DNE termasuk pengukuran neuropati yang valid. Skor ini bertujuan mengevaluasi semua tipe neuropati dengan dasar berbagai gejala motorik, sensori, dan autonomik. DNS dan DNE mempunyai kelebihan utama pada kemudahan untuk melakukan pengukuran6. Dari latar belakang yang telah diuraikan di atas dapat disimpulkan beberapa permasalahan yang harus dipecahkan yaitu : 1. Apakah terdapat pengaruh durasi menderita DM terhadap derajat neuropati perifer? 2. Apakah intensitas dan tingkat fungsional neuropati diabetik sejajar dengan tingkat durasi hiperglikemia? 3. Bagaimanakah hubungan antara berbagai faktor risiko neuropati diabetik dengan derajat neuropati diabetik? Berdasarkan berbagai masalah di atas, penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh durasi menderita DM terhadap derajat neuropati perifer berdasarkan skor DNS dan DNE sehingga dapat dilakukan pencegahan lebih awal terhadap faktor resiko neuropati DM.

5

METODE PENELITIAN Desain Penelitian Penelitian ini termasuk kelompok metode penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional study Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di bangsal rawat inap RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta dan Bagian Ilmu Penyakit Dalam RSUD Wates Kulon Progo Yogyakarta pada bulan mei sampai September 2007. Subyek Penelitian Subyek yang diteliti mencakup semua penderita DM di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta dan RSUD Wates Kulon Progo Yogyakarta yang menjalani rawat inap dan memenuhi kriteria inklusi. Variabel Penelitian Variabel bebas dalam penelitian ini terdiri atas durasi menderita DM, hiperglikemia, penyakit kardiovaskuler, riwayat penyakit kardiovaskuler, dislipidemia, riwayat dislipidemia, hipertensi, riwayat hipertensi, BMI, merokok, dan tipe DM. Sedangkan variabel tergantung adalah derajat neuropati perifer berdasarkan skor DNS dan DNE. Instrumen Penelitian Penelitian ini menggunakan alat-alat yang terdiri atas kuesioner, Hammer reflex, garpu tala, alat pemeriksaan sensibilitas terhadap nyeri/jarum, alat pemeriksaan sensibilitas terhadap sentuhan/bulu, spygnomanometer, stetoskop, timbangan badan, dan pengukur badan.

6

Cara Kerja Data penelitian ini diperoleh melalui observasi dan pengukuran variabel yang hanya dilakukan satu kali observasi dan pengukuran untuk tiap-tiap sampel. Langkahlangkah pengambilan data tiap sampel tersebut adalah: 1. Pencatatan Data Sekunder Peneliti mencatat identitas sampel, hasil pemeriksaan laboratorium berupa GDS dan kadar lipid darah, dan hasil pemeriksaan EKG yang terdapat pada status pasien di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta dan Bagian Penyakit Dalam RSUD Wates Kulon Progo. 2. Wawancara/Interview Wawancara dilakukan pada sampel di bangsal rawat inap RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta dan Bagian Penyakit Dalam RSUD Wates Kulon Progo Yogyakarta untuk mengetahui lamanya menderita DM, riwayat dislipidemia, riwayat kardiovaskuler, riwayat hipertensi, merokok, dan ketergantungan pemakaian insulin. 3. Anamnesis dan Pemeriksaan Peneliti melakukan anamnesis pada sampel sesuai dengan poin gejala pada DNS dan pemeriksaan sesuai dengan poin pemeriksaan pada DNE. 4. Pemeriksaan Fisik Peneliti mengukur berat badan, tinggi badan, dan tekanan darah sampel. Pengambilan data dilakukan pada 66 sampel sesuai dengan besar sampel yang telah ditentukan.

Analisis Data Data yang telah terkumpul kemudian dianalisis menggunakan perangkat lunak

7

SPSS versi 14.0 for Windows tahun 2005. Hubungan berbagai faktor resiko DM terhadap derajat neuropati perifer berdasarkan skor DNS dan DNE ditunjukkan melalui metode statistik deskriptif dan statistik korelasi Pearson, uji Chi Square, dan Odds Ratio (OR). HASIL PENELITIAN Deskriptif Hasil Penelitian Karakteristik subyek dalam penelitian ini disajikan pada tabel di bawah ini. Tabel. 1. Karakteristik Subyek Penelitian Variabel Jumlah subyek Laki-laki : perempuan Usia [rata-rata±SD (tahun)] Durasi DM [rata-rata±SD (hari)] GDS [rata-rata±SD (kg/dL)] BMI [rata-rata±SD (kg/ m2)] Dislipidemia (n) Riwayat dislipidemia (n) Penyakit kardiovaskuler (n) Riwayat kardiovaskuler (n) Hipertensi (n) Riwayat hipertensi (n) Merokok (n) Tipe 1 : tipe 2 Nilai 66 33 : 33 53,94 ± 10,91 1453,17 ± 1785,08 258,20 ± 132,88 21,42 ± 3,54 24 8 18 6 26 31 13 10 : 56

Dari tabel di atas terlihat subyek laki-laki dan perempuan pada penelitian ini berjumlah sama. Sedangkan jumlah subyek dengan faktor resiko tertentu bervariasi. Riwayat hipertensi dimiliki hampir setengah dari subyek yang ada, namun hanya

8

sedikit dari subyek yang mempunyai riwayat kardiovaskuler. Pada penelitian ini, derajat neuropati DM semakin tinggi sesuai dengan peningkatan rata-rata durasi menderita DM berdasarkan DNE seperti tersaji pada gambar 3. Namun, berdasarkan DNS pada gambar 4, grafik tidak menunjukkan peningkatan derajat neuropati seiring peningkatan durasi menderita DM.

Rata-rata durasi mender ita DM (hari)

5000 4000

100.00%

3000

2000 1000

0

4

8 DNE

12

Gambar. 1. Hubungan Rata-rata Durasi Menderita DM Terhadap Derajat Neuropati Perifer Berdasarkan DNE

9

Rata-rat a durasimenderita DM (hari)

2000

1750

100.00%

1500

1250

1000

0

1

2 DNS

3

4

Gambar. 2. Hubungan Rata-rata Durasi Menderita DM Terhadap Derajat Neuropati Perifer Berdasarkan DNS

Statistik Hasil Penelitian Penelitian ini menggunakan uji korelasi Pearson untuk menganalisis variabel durasi menderita DM dan BMI terhadap derajat neuropati perifer berdasarkan DNS dan DNE. Uji ini dipilih karena bentuk data variabel berupa rasio atau angka dan untuk mengetahui hubungan dua variabel. Sedangkan uji Chi Square digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel hiperglikemia, dislipidemia, riwayat dislipidemia, penyakit kardiovaskuler, riwayat kardiovaskuler, hipertensi, riwayat hipertensi, merokok, dan tipe DM terhadap derajat neuropati perifer berdasarkan DNS dan DNE. Data variabel-variabel tersebut adalah nominal sehingga uji Chi Square dapat memberikan hasil yang diharapkan untuk mengetahui hubungan dua variabel. Selain itu, faktor resiko hiperglikemia, dislipidemia, riwayat dislipidemia, penyakit kardiovaskuler, riwayat kardiovaskuler, hipertensi, riwayat hipertensi, dan

10

merokok dianalisis menggunakan odds ratio (OR) untuk mengetahui kemungkinan sebab akibat antara faktor resiko dan efek. Hubungan faktor resiko neuropati DM terhadap DNS dan DNE disajikan pada tabel di bawah ini. Tabel. 2. Hubungan Faktor Resiko Neuropati DM Terhadap DNS dan DNE Nilai p No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Faktor Resiko Durasi menderita DM BMI Hiperglikemia Dislipidemia Riwayat dislipidemia Penyakit kardiovaskuler Riwayat kardiovaskuler Hipertensi Riwayat hipertensi Merokok Tipe DM DNS 0,232 0,788 0,501 2,632 0,198 0,272 1,019 0,226 1,095 1,197 2,619 DNE <0,001 0,869 2,182 2,632 0,284 3,094 <0,001 2,031 5,140 0,766 1,473 DNS 1,6 0,3 1,6 0,7 0,4 1,4 2,0 3,1 DNE 1,8 1,3 1,6 3,3 1,0 2,2 3,5 1,9 OR

Dari tabel diatas terlihat nilai p <0,05 ditunjukkan oleh faktor resiko durasi menderita DM dan riwayat kardiovaskuler, maka terdapat hubungan signifikan antara durasi menderita DM dan riwayat kardiovaskuler terhadap derajat neuropati perifer berdasarkan DNE. Sedangkan pada OR, hubungan yang signifikan sebagai faktor resiko ditemukan pada penyakit kardiovaskuler, hipertensi, riwayat hipertensi, dan merokok yang dibuktikan dengan OR >1. Nilai OR = 1 atau mencakup angka 1 berarti bukan merupakan faktor resiko.

11

PEMBAHASAN Neuropati DM merupakan komplikasi DM yang sering terjadi dengan morbiditas tinggi dan merusak kualitas hidup. Penelitian Tesfaye et al melaporkan prevalensi keseluruhan neuropati perifer sebesar 23,5 % dari 1.172 penderita DM yang diteliti. Faktor resiko signifikan untuk perkembangan neuropati DM tersebut berhubungan dengan durasi menderita DM, BMI, merokok, LDL dan trigliserida tinggi, hipertensi, dan HbA1c7. Sedangkan pada penelitian Booya, et al di Iran mengenai faktor resiko potensial pada neuropati diabetik menyimpulkan korelasi signifikan ditemui pada usia, jenis kelamin, kualitas kontrol diabetes, dan durasi menderita diabetes. Tidak ditemukan korelasi antara neuropati diabetik dengan faktor resiko aterosklerosis yaitu hipertensi, hiperlipidemia dan merokok8. Pada penelitian ini, hubungan yang signifikan ditunjukkan oleh variabel durasi menderita DM dan riwayat kardiovaskuler dengan derajat neuropati perifer berdasarkan DNE. Variabel penyakit kardiovaskuler, hipertensi, riwayat hipertensi, dan merokok termasuk dalam faktor resiko yang signifikan terhadap derajat neuropati perifer. Hal ini menunjukkan kesesuaian dengan penelitian sebelumnya. Sesuai dengan teori, akumulasi AGE stabil secara kimia pada protein yang berumur panjang menggambarkan efek kumulatif stres oksidatif dan hiperglikemia. Kedua efek tersebut mempunyai hubungan erat dengan perkembangan neuropati DM. Akumulasi superoksida yang tidak terkendali pada DM dan akibat peningkatan aktivitas jalur polyol, akumulasi AGE, aktivitas PKC, dan flux heksosamin merupakan kesatuan sistem yang memacu disfungsi seluler progresif. Pada saraf, pertemuan gangguan metabolik dan vaskuler ini mengakibatkan terhalangnya fungsi saraf, hilangnya penyokong neurotropik, dan dalam jangka waktu lama dapat memperantarai apoptosis neuron, sel Schwann dan sel glia sistem saraf perifer9. Hubungan yang tidak signifikan pada penelitian ini terhadap derajat neuropati perifer berdasarkan DNS dan DNE terdapat pada variabel GDS saat diperiksa,

12

merokok, hipertensi, riwayat hipertensi, dislipidemia, riwayat dislipidemia, penyakit kardiovaskuler, BMI, dan tipe DM. Kelemahan penelitian ini antara lain pengukuran berat badan subyek penelitian tidak dilakukan secara langsung tetapi dengan mengambil data berat badan dari status pasien di rumah sakit sehingga nilai BMI menjadi tidak akurat. Penilaian terhadap variabel hiperglikemia menggunakan Glukosa Darah Sewaktu (GDS) sehingga tidak mencerminkan kadar glukosa darah sesungguhnya dari subyek penelitian. Selain itu skor DNS kurang akurat karena penilaian diberikan berdasarkan ingatan subyek. KESIMPULAN 1. Terdapat hubungan signifikan antara durasi menderita DM dan riwayat kardiovaskuler terhadap derajat neuropati perifer berdasarkan DNE. 2. Variabel penyakit kardiovaskuler, hipertensi, riwayat hipertensi, dan merokok merupakan faktor resiko derajat neuropati perifer. 3. Hubungan yang signifikan tidak ditemukan pada variabel GDS saat diperiksa, dislipidemia, riwayat dislipidemia, BMI, dan tipe DM terhadap derajat neuropati perifer berdasarkan DNS dan DNE. SARAN 1. Saran untuk subyek penelitian a. Hendaknya mematuhi penatalaksanaan dan pemeriksaan rutin sesuai anjuran klinisi sehingga tidak terjadi komplikasi lebih lanjut. 2. Saran untuk peneliti selanjutnya a. Sebaiknya penelitian dilakukan dengan metode cohort dengan pertimbangan data lebih akurat. b. Pengukuran berat badan dilakukan secara langsung dengan alat yang sama agar diperoleh hasil sesuai dengan yang diharapkan. c. Sebaiknya menggunakan jumlah sampel yang lebih besar.

13

DAFTAR PUSTAKA 1. Soegondo, S. (2004). Diagnosis dan Klasifikasi Diabetes Melitus Terkini. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 2. Betteridge, D.J. (2000). Diabetes: Current Perspectives. The New England Journal of Medicine, 342, 1533. 3 Isselbacher, K.J., Braunwald, E., Martin, J.B., Fauci, A.S., Kasper, D.L., Asdie, A.H. (Eds.). (2000). Harrison Prinsip-prinsip Ilmu Penyakit Dalam (Harrison’s Principles of Internal Medicine) (pp.2197). Jakarta: EGC.

4. Clark, C.M., Lee, D.A. (1995). Prevention and Treatment of the Complication of Diabetes Mellitus. The New England Journal of Medicine, 332, 1210-1217. 5. Hughes, R.A. (2002). Peipheral Neuropathy. British Medical Journal, 324, 466469. 6. Creange, A., Lefaucher, J.P. (2004). Neurophysiological Testing Correlates with Clinical Examination According to Fibre Type Involvement and Severity in Sensory Neuropathy. Journal of Neurology, Neurosurgery, and Psychiatry, 75, 417-422. 7. Chaturvedi, N., Eaton, S., Manes, C., Tesfaye, S., Tirgoviste, C.I., Ward, J.D., et al. (2005). Vascular Risk Factors and Diabetic Neuropathy. The New England Journal of Medicine, 352, 341-350. 8. Booya, F., Bandarian, F., Larijani, B., Pajouhi, M., Nooraei, M., Lotfi, J. (2005). Potential Risk Factor for Diabetic Neuropathy: A Case Control Study. BioMed Central Neurology, 5, 24. 9. Feldman, E.L. (2003). Oxidative Stress and Diabetic Neuropathy: A New Understanding of An Old Problem. The Journal of Clinical Investigation, 111, 431-433.

14

15

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful