You are on page 1of 14

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Balita merupakan kelompok umur yang rawan gizi dan rawan penyakit, utamanya penyakit
infeksi . Salah satu penyakit infeksi pada balita adalah diare dan ISPA. Diare lebih dominan
menyerang balita karena daya tahan tubuh balita yang masih lemah sehingga balita sangat rentan
terhadap penyebaran virus penyebab diare. Diare merupakan salah satu penyebab angka
kematian dan kesakitan tertinggi pada anak, terutama pada balita. Menurut Parashar tahun 2007,
di dunia terdapat 6 juta balita yang meninggal tiap tahunnya karena penyakit diare. Dimana
sebagian kematian tersebut terjadi di negara berkembang termasuk Indonesia.
1
Hal yang bisa menyebabkan balita mudah terserang penyakit diare adalah perilaku hidup
masyarakat yang kurang baik dan keadaan lingkungan yang buruk. Diare dapat berakibat fatal
apabila tidak ditangani secara serius karena tubuh balita sebagian besar terdiri dari air, sehingga
bila terjadi diare sangat mudah terkena dehidrasi. Penyakit diare adalah penyakit yang sangat
berbahaya dan terjadi hampir di seluruh daerah geografis di dunia dan bisa menyerang seluruh
kelompok usia baik laki– laki maupun perempuan, tetapi penyakit diare dengan tingkat dehidrasi
berat dengan angka kematian paling tinggi banyak terjadi pada bayi dan balita. Di negara
berkembang termasuk Indonesia anak-anak menderita diare lebih dari 12 kali per tahun dan hal
ini yang menjadi penyebab kematian sebesar 15-34% dari semua penyebab kematian.
2
Penyakit diare di Indonesia merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang
utama, hal ini disebabkan karena masih tingginya angka kesakitan diare yang menimbulkan
banyak kematian terutama pada balita. Angka kesakitan diare di Indonesia dari tahun ke tahun
cenderung meningkat, pada tahun 2006 jumlah kasus diare sebanyak 10.980 penderita dengan
jumlah kematian 277 (CFR 2,52%). Secara keseluruhan diperkirakan angka kejadian diare pada
balita berkisar antara 40 juta setahun dengan kematian sebanyak 200.000 sampai dengan 400.000
balita. Pada survei tahun 2000 yang dilakukan oleh Depkes RI melalui Ditjen P2MPL di 10
provinsi didapatkan hasil bahwa dari 18.000 rumah tangga yang disurvei diambil sample
sebanyak 13.440 balita, dan kejadian diare pada balita yaitu 1,3 episode kejadian diare
pertahun.
3
2

Faktor-faktor yang meningkatkan resiko terjadinya diare adalah lingkungan, praktik
penyapihan yang buruk dan malnutrisi. Diare dapat menyebar melalui praktik-praktik yang tidak
higienis seperti menyiapkan makanan dengan tangan yang belum dicuci, setelah buang air besar
atau membersihkan tinja seorang anak serta membiarkan seorang anak bermain di daerah dimana
ada tinja yang terkontaminasi bakteri penyebab diare,
2
Perilaku ibu dalam menjaga kebersihan dan mengolah makanan sangat dipengaruhi oleh
pengetahuan tentang cara pengolahan dan penyiapan makanan yang sehat dan bersih.
Pengetahuan dan kesadaran orang tua terhadap masalah kesehatan balitanya tentu sangat penting
agar anak selalu dalam keadaan sehat dan terhindar dari berbagai penyakit, sedangkan yang
mengalami diare tidak jatuh pada kondisi yang lebih buruk. Sebagian besar angka kematian diare
ini diduga karena kurangnya pengetahauan masyarakat terutama ibu, mengenai upaya
pencegahan dan penanggulangan diare .
4
MTBS merupakan suatu manajemen melalui pendekatan terintegrasi/terpadu dalam
tatalaksana balita sakit yang datang di pelayanan kesehatan, baik mengenai beberapa klasifikasi
penyakit, status gizi, status imunisasi maupun penanganan balita sakit tersebut dan konseling
yang diberikan.
4
MTBS mengintegrasikan perbaikan sistem kesehatan, manajemen kasus, praktek
kesehatan oleh keluarga dan masyarakat, dan hak anak.
5
Penilaian balita sakit dengan MTBS
terdiri atas klasifikasi penyakit, identifikasi tindakan, pengobatan, perawatan di rumah dan kapan
kembali. Kegiatan MTBS memiliki tiga komponen khas yang menguntungkan, yaitu:
meningkatkan ketrampilan petugas kesehatan dalam tatalaksana kasus balita sakit, memperbaiki
sistem kesehatan, dan memperbaiki praktek keluarga dan masyarakat dalam perawatan di rumah
dan upaya pertolongan kasus balita sakit.
4,5


1.2. Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah penyuluhan ini adalah untuk mensosialisasikan dan
meningkatkan kesadaran penduduk Medan Amplas tentang pentingnya mengetahui diare,
mempererat hubungan dengan penduduk Medan Amplas dalam hal memberikan penyuluhan, dan
untuk memenuhi persyaratan dalam mengikuti kegiatan Kepaniteraan Klinik Senior (KKS) di
Puskesmas Amplas, Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat, Ilmu Kedokteran Pencegahan,
Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran, Universitas Sumatera Utara.

3

1.3. Manfaat
Makalah penyuluhan ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada penulis dan
pembaca khususnya yang terlibat dalam bidang medis dan masyarakat secara umumnya agar
dapat lebih mengetahui dan memahami lebih dalam mengenai diare.

4

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Diare
Diare adalah buang air besar atau defekasi dengan tinja berbentuk cair atau setengah cair
(setengah padat), kandungan air tinja lebih banyak dari biasanya lebih dari 200 gram atau 200
ml/24 jam. Definisi lain memakai kriteria frekuensi, yaitu buang air besar encer lebih dari 3 kali
per hari. Buang air besar encer tersebut dapat/tanpa disertai lendir dan darah. Diare akut yaitu
diare yang berlangsung kurang dari 15 hari. Sedangkan menurut world gastroenterology
organisation global guidelines 2005, diare akut didefinisikan sebagai pasase tinja yang
cair/lembek dengan jumlah lebih banyak dari normal, berlangsung kurang dari 14 hari.
2
2.2 Etiologi Diare Akut
Diare akut disebabkan oleh banyak penyebab antara lain infeksi (bakteri, parasit, virus),
keracunan makanan, efek obat-obatan, dan lain-lain.
4
2.3 Patofisiologi
Diare dapat disebabkan oleh satu atau lebih patofiologi, antara lain : 1) Osmolaritas intraluminal
yang meninggi, disebut diare osmotik ; 2) Sekresi cairan dan elektrolit meninggi, disebut diare
sekretorik ; 3) Infeksi dinding usus, disebut diare infeksi ; 4) Malabsorbsi asam empedu ; 5)
Defek sistem pertukaran anion/transport elektrolit aktif di enterosit ; 6) Motilitas dan waktu
transit usus abnormal ; 7) Gangguan permeabilitas usus ; 8) Inflamasi dinding usus, disebut diare
inflamatorik.

Diare osmotik : diare tipe ini disebabkan oleh peningkatan tekanan osmotik intralumen
usus halus yang disebabkan oleh obat-obatan atau zat kimia yang hiperosmotik (MgSO4,
Mg(OH)2, malabsorbsi umum, dan defek dalam absorbsi mukosa usus misal pada defisiensi
disararidase, malabsorbsi glukosa/galaktosa.

Diare sekretorik : diare tipe ini disebabkan oleh meningkatnya sekresi air maupun
elektrolit dari usus, menurunnya absorbsi. Yang khas pada diare ini yaitu secara klinis ditemukan
diare dengan volume tinja yang banyak sekali. Diare tipe ini akan tetap berlangsung walaupun
dilakukan puasa makan/minum. Penyebab dari diare tipe ini antara lain karena efek enterotoksin
pada infeksi Vibrio cholerae, atau Escherichia coli,

penyakit yang menghasilkan hormon
5

(VIPoma), reseksi ileum (gangguan absorbsi garam

empedu), dan efek obat laksatif (dioctyl
sodium sulfosuksinat, dll).

Diare infeksi : infeksi oleh bakteri merupakan penyebab tersering dari diare. Dari sudut
kelainan usus, diare oleh bakteri dibagi atas noninvasif (tidak merusak mukosa) dan invasif
(merusak mukosa). Bakteri noninvasif menyebabkan diare karena toksin yang disekresi oleh
bakteri tersebut, yang disebut diare toksigenik. Misalnya enterotoksin yang dihasilkan oleh
bakteri Vibrio cholerae/eltor, yang mana enterotoksin yang dihasilkan merupakan protein yang
dapat menempel pada epitel usus, yang kemudian membentuk adenosin monofosfat siklik (AMF
siklik) di dinding usus dan menyebabkan sekresi aktif anion klorida yang diikuti air, ion
bikarbonat, dan kation natrium serta kalium. Mekanisme absorbsi ion natrium melalui
mekanisme pompa natrium tidak terganggu karena itu keluarnya ion klorida (diikuti ion
bikarbonat, air, natrium, ion kalium) dapat dikompensasi oleh meningginya absorbsi ion natrium
(diiringi oleh air, ion kalium dan ion bikarbonat, klorida). Kompensasi ini dapat dicapai dengan
pemberian larutan glukosa yang diabsorbsi secara aktif oleh dinding sel usus.
2
2.4 Patogenesis
Yang berperan pada terjadinya diare terutama karena infeksi yaitu faktor pejamu (host) dan
faktor kausal (agent). Faktor pejamu adalah kemampuan tubuh untuk mempertahankan diri
terhadap organisme yang dapat menimbulkan diare akut, terdiri dari faktor-faktor daya tangkis
atau lingkungan internal saluran cerna (keasaman lambung, motilitas usus, imunitas, dan juga
lingkungan mikroflora usus). Faktor kausal yaitu daya penetrasi yang dapat merusak sel mukosa,
kemampuan memproduksi toksin yang dapat mempengaruhi sekresi cairan usus halus, serta daya
lekat kuman. Patogenesis diare karena infeksi bakteri atau parasit terdiri atas:
6

● Diare karena bakteri non-invasif (enterotoksigenik).
● Diare karena bakteri/parasit invasif (enteroinvasif), antara lain enteroinvasif E.Coli
(EIEC), shigella, dll. Diare disebabkan karena kerusakan dinding usus berupa nekrosis dan
ulserasi. Sifat diarenya sekretorik eksudatif, cairan diarenya dapat tercamput lendir atau darah.
Penyebab parasit yang sering yaitu E.Histolitika dan G. Lamblia.



6

2.5. Tanda dan Gejala Klinis Diare
Telah disebutkan sebelumnya bahwa pada diare terjadi perubahan konsistensi tinja menjadi lebih
cair dan terjadi peningkatan frekuensi buang air. Pada bayi dan neonatus, diare didefinisikan
sebagai keluarnya massa tinja lebih dari 10 ml/kgBB/24 jam dan pada anak dan dewasa berarti
keluarnya massa tinja lebih dari 200 g. Karakteristik dari diare, meliputi konsistensi, warna,
volume dan frekuensi buang air, dapat menjadi petunjuk berharga dalam menentukan sumber
diare. Secara ringkas, karakteristik ini diperlihatkan pada Tabel 1 :
7

Tabel 2.1 : Hubungan Karakteristik Tinja dengan Sumber Diare

(WHO, 2005)
Karakter Feses Usus Halus Usus Besar
Keadaan umum Cair Berdarah/ mukoid
Volume Besar Kecil
Darah Biasanya positif tapi
tak kasat mata
Biasanya terlihat secara kasat
mata
Keasaman <5,5 >5,5
Tes reduksi Dapat positif Negatif
Sel darah putih <5/lapang pandang
besar
>10/ lapang pandang besar
Sel darah putih
Serum
Normal Dapat leukositosis
Organisme Virus:
Rotavirus
Adenovirus
Calicivirus
Astrovirus
Norwalk virus
Bakteri Invasif:
E.Coli(enteroinvasif,enterohemor
rhagic)
Shigella species
Salmonella species
Campylobacter species
7


Bakteri Enterotoksik:
E.coli
Clostridium
perfringens
Cholera
Vibrio

Parasit:
Giardia
Cryptosporidium

Yersinia species
Aeromonas species
Bakteri Toksik:
Clostridium difficile


Parasit:
Entamoeba organisms


2.6. Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
8

● Anamnesis
Pasien dengan diare akut datang dengan berbagai gejala klinik tergantung pada penyebab
penyakit dasarnya. Keluhan yang terpenting adalah buang air besar dengan bentuk tinja cair atau
encer 3 kali atau lebih dalam 24 jam. Keluhan diarenya berlangsung kurang dari 15 hari.
Dehidrasi dapat timbul jika diare berat dan asupan oral terbatas karena nausea dan muntah,
terutama pada anak kecil. Dehidrasi dapat bermanifestasi sebagai rasa haus yang meningkat,
berkurangnya jumlah buang air kecil dengan warna urin gelap, tidak mampu berkeringat, dan
perubahan ortostatik. Pada keadaan berat dapat mengarah ke gagal ginjal akut dan perubahan
status jiwa seperti kebingungan dan pusing kepala.

Dehidrasi menurut keadaan klinisnya dapat dibagi atas tiga tingkatan:
8

- Dehidrasi ringan (hilang cairan 2 – 3% BB): gambaran klinisnya turgor kurang, suara
serak, pasien belum jatuh dalam presyok.
- Dehidrasi sedang (hilang cairan 5 – 8% BB): turgor buruk, suara serak, pasien jatuh
dalam presyok atau syok, nadi cepat, napas cepat dan dalam.
- Dehidrasi berat (hilang cairan 8 – 10% BB): tanda dehidrasi sedang ditambah kesadaran
menurun (apatis sampai koma), otot-otot kaku, sianosis.
● Pemeriksaan fisik
Kelainan-kelainan yang ditemukan pada pemeriksaan fisik sangat berguna dalam menentukan
beratnya diare dari pada menentukan penyebab diare. Status volume dinilai dengan
memperhatikan perubahan ortostatik pada tekanan darah dan nadi, temperature tubuh, dan tanda
toksisitas. Pemeriksaan abdomen yang seksama merupakan hal yang penting. Adanya dan
kualitas bunyi usus dan adanya atau tidak adanya distensi abdomen dan nyeri tekan merupakan
”clue” bagi penentuan etiologi.
Pemeriksaan fisik harus memperhatikan : keadaan umum dan aktivitas pasien, tanda -
tanda vital (nadi, pernapasan, suhu, tekanan darah), berat badan aktual, tanda-tanda dehidrasi,
terutama pada anak: rewel (restlessness or irritability), letargi/penurunan kesadaran, Sunken eyes
(mata cekung secara mendadak), ubun-ubun besar cekung (sunken fontanel), mukosa bibir dan
orofaring kering, penurunan turgor kulit , terlihat kehausan atau sulit minum atau tidak bisa
minum, anoreksia, takikardia (fast weak pulse), oliguria, darah dalam tinja, tanda-tanda
malnutrisi berat, massa abdominal, distensi abdomen.
• Pemeriksaan Penunjang

Untuk diare yang berlangsung lebih dari beberapa hari atau diare dengan dehidrasi perlu
dilakukan pemeriksaan penunjang seperti dibawah ini.
1. Pemeriksaan darah tepi: kadar hemoglobin, hematokrit, hitung leukosit, hitung diferensial
leukosit. Penting untuk mengetahui berat ringannya hemokonsentrasi darah, dan respon
leukosit. Contohnya pada diare karena Salmonella dapat terjadi neutropenia. Pada diare
karena kuman yang bersifat invasif dapat terjadi shift to the left leukosit.
2. Elektrolit darah. Diperlukan untuk mengobservasi dampak diare terhadap kadar elektrolit
darah.
9

3. Ureum dan kreatinin. Diperlukan untuk memonitor adanya gagal ginjal akut.
4. Pemeriksaan tinja untuk mencari penyebab diare. Pada infeksi bakteri, ditemukan
leukosit pada tinja. Dapat pula ditemukan telur cacing maupun parasit dewasa. Dapat
pula dilakukan pengukuran toksin Closstridium difficile pada pasien yang telah
mendapatkan terapi antibiotik dalam jangka waktu tiga bulan terakhir.

Tinja dengan pH
≤5,5 menunjukkan adanya intoleransi karbohidrat yang umumnya terjadi sekunder akibat
infeksi virus. Pada infeksi oleh organisme enteroinvasif, leukosit feses yang ditemukan
umumnya berupa neutrofil. Tidak ditemukannya netrofil tidak mengeliminasi
kemungkinan infeksi enteroinvasif, tetapi ditemukannya neutrofil feses mengeliminasi
kemungkinan infeksi organisme enterotoksin dan virus.
5. Apabila ditemukan leukosit pada feses, lakukan kultur feses untuk menentukan apakah
penyebab diare adalah Salmonella, Shigella, Campylobacter, atau Yersenia.
6. Pemeriksaan serologis untuk mencari amoeba.
7. Foto roentgen abdomen. Untuk melihat morfologi usus yang dapat membantu diagnosis.
8. Rektoskopi, sigmoideoskopi, dapat dipertimbangkan pada pasien dengan diare berdarah,
pasien diare akut persisten. Pada pasien AIDS, kolonoskopi dipertimbangkan karena ada
kemungkinan diare disebabkan oleh infeksi atau limfoma di area kolon kanan. Biopsy
mukosa sebaiknya dilakukan bila dalam pemeriksaan tampak inflamasi berat pada
mukosa.
9. Biopsi usus. Dilakukan pada diare kronik, atau untuk mencari etiologi diare pada AIDS.
2.7 Penanggulangan Diare di Indonesia
1. Kebijakan Pemerintah Tentang Pengendalian Penyakit Diare di Indonesia
Kematian balita karena penyakit diare juga masih sangat tinggi di Indonesia, bahkan sejak tahun
2001 terlihat terjadi peningkatan angka kematian balita karena penyakit diare, dari data SKRT
2001 (13%), studi mortalitas 2005 (15,3%) dan Riskesdas 2007 (25,2%). Sama halnya dengan
kematian bayi karena diare juga meningkat, SKRT 2001 (9%), Studi mortalitas 2005 (9,1%) dan
Riskesdas 2007 (42%). Hal ini tentunya sangat disayangkan mengingat bahwa pengobatan diare
sebenarnya tidak terlalu sulit.
10

Sejak tahun 2007, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dalam KEPMENKES RI
No: 1216/MENKES/SK/XI/2001 Edisi ke-5 tahun 2007 memperbaharui tatalaksana diare sesuai
rekomendasi Joint Statement WHO/UNICEF tahun 2004 dan meluncurkan LINTAS DIARE
(Lima Langkah Tuntaskan Diare) sebagai salah satu strategi pengendalian penyakit diare di
Indonesia dengan mencantumkan penggunaan/pemberian ZINC dan ORALIT sebagai paduan
obat diare. Studi WHO membuktikan bahwa pemberian ZINC kepada penderita diare dapat
mengurangi prevalensi diare sebesar 34%, mengurangi jangka waktu diare akut sebesar 20%,
mengurangi jangka waktu diare persisten sebesar 24% dan dapat mencegah kegagalan terapi atau
kematian akibat terapi diare persisten sebesar 42%.
Kebijakan yang ditetapkan pemerintah untuk menurunkan angka kesakitan (morbiditas)
dan angkakematian (mortalitas) karena diare adalah:
• Melaksanakan tatalaksana penderita diare yang standar, baik di sarana kesehatan maupun
masyarakat/rumah tangga
• Melaksanakan Surveilens epidemiologi & Penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB)
• Mengembangkan pedoman pengendalian penyakit diare
• Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petugas dalam pengelolaan program yang
meliputi aspek managerial dan teknis medis
• Mengembangkan jejaring lintas program dan sektor
• Pembinaan teknis dan monitoring pelaksanaan pengendalian penyakit diare
• Melaksanakan evaluasi sebagai dasar perencanaan selanjutnya.
Strategi pengendalian penyakit diare yang dilaksanakan pemerintah adalah:
1. Melaksanakan tatalaksana penderita diare yang standar di sarana kesehatan melalui Lima
Langkah Tuntaskan Diare (LINTAS DIARE)
2. Meningkatkan tatalaksana diare di tingkat rumah tangga yang tepat dan benar
3. Meningkatkan Sistem Kewaspadaan Dini (SKD) dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa
(KLB)
4. Melaksanakan upaya kegiatan pencegahan yang efektif
5. Melaksanakan Monitoring dan Evaluasi.



11

Tabel 1 : LINTAS DIARE dan Manfaatnya
LINTAS DIARE MANFAAT
Oralit Untuk mencegah dehidrasi
Zinc Mengurangi parahnya diare,
mengurangi durasi dan mencegah
berulangnya diare 2 sampai 3 bulan
ke depan.
Makan Teruskan pemberian ASI pada bayi
0 - 6 bulan. Balita > 6 bulan
berikan ASI dan MP-ASI.
Antibiotik selektif Antibiotik diberi hanya pada
penyakit kolera, diare berdarah.
Nasihat Segera kembali ke petugas
kesehatan jika menemukan tanda
bahaya.

2. 8 Prinsip Tatalaksana Diare
Berdasarkan hasil beberapa penelitian yang telah dilakukan selama sepuluh tahun terakhir bahwa
angka kematian balita karena diare masih sangat tinggi dibandingkan dengan kematian balita
karena penyebab penyakit lain. Juga terjadi kecenderungan peningkatan angka kematian balita
karena diare dari tahun ke tahun. Berdasarkan Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT), Studi
Mortalitas dan Riset Kesehatan Dasar dari tahun ke tahun diketahui bahwa DIARE masih
menjadi penyebab utama kematian balita di Indonesia.
5
Kematian karena diare dapat dihindari jika diberikan: cairan rumah tangga, ORALIT,
ZINC, Makanan sesuai umur (saat diare dan selama masa penyembuhan) dan mengobati
penyakit penyerta. Prinsip tatalaksana diare adalah
5
:
a) Mencegah terjadinya dehidrasi
b) Mengobati dehidrasi (ORALIT)
c) Mempercepat kesembuhan (OBAT ZINC)
d) Memberi Makanan
e) Mengobati masalah lain
12


2.9 Komplikasi
Beberapa komplikasi yang dapat terjadi pada diare akut adalah dehidrasi (dengan berbagai
derajat dari ringan hingga berat / syok), asidosis metabolik, hipokalemia, hiponatermia, dan
hipoglikemia.

2.10 Pencegahan

Diare mudah dicegah antara lain dengan cara
5
:
1. Mencuci tangan pakai sabun dengan benar pada lima waktu penting:
a) sebelum makan,
b) setelah buang air besar,
c) sebelum memegang bayi,
d) setelah menceboki anak
e) sebelum menyiapkan makanan

2. Meminum air minum sehat, atau air yang telah diolah, antara lain dengan cara merebus,
pemanasan dengan sinar matahari atau proses klorinasi

3. Pengelolaan sampah yang baik supaya makanan tidak tercemar serangga (lalat, kecoa, kutu,
lipas, dan lain-lain)

4. Membuang air besar dan air kecil pada tempatnya, sebaiknya menggunakan jamban dengan
tangki septik.







13

BAB 3
KESIMPULAN

Diare termasuk penyakit yang merugikan karena menurunkan daya kerja dan daya
produksi masyarakat sehingga perlu dilanjutkan pemberantasannya.
Untuk pemberantasan yang baik, masih banyak yang perlu diselidiki dan pemberantasan,
meskipun dalam banyak hal ada persamaan, perlu diadakan modifikasi menurut keperluan di
daerah masing-masing, sehingga tidak selalu dapat dilakukan secara seragam.
Upaya penanggulangan diare akan mencapai hasil seperti yang diharapkan bila disertai
peran serta masyarakat. Ini berarti perlu adanya perubahan yang menyangkut sikap dan perilaku
masyarakat terhadap diare. Perubahan tersebut bisa terjadi bila setiap orang menaruh nilai yang
tinggi bahwa diare betul-betul merupakan suatu penyakit yang dapat mengganggu kesehatan
sehingga merugikan diri. Bila setiap penduduk di dalam dirinya terdapat kepercayaan yang
berdasarkan nilai tersebut, maka sikap dan atau perilakunya akan positip. Masyarakat akan
bersikap dan berperilaku mendukung upaya penanggulangan diare dengan perilaku bersih dan
sehat.
Untuk meningkatkan temuan kasus klinis diare diperlukan peningkatan kinerja surveilans
kasus antara lain dengan cara meningkatkan upaya penemuan dan konfirmasi kasus.Perlu
dilakukan peningkatan tatalaksana kasus klinis, menyediakan peralatan dan obat medis serta
anggaran operasional yang cukup.








14


DAFTAR PUSTAKA

1.Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2007. Manajemen Terpadu Balita Sakit.
2. Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2010. Profil Data Kesehatan Indonesia
tahun 2010.
3. Surjono, Achmad. Endang DL, Alan R. Tumbelaka, et al. 1998. Studi pengembangan
Puskesmas Model Dalam Implementasi Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS). Dalam:
http://www.chnrl.net/publikasi/pdf/MTBS.pdf (Diakses 25 September 2014)
4. Soenarto, Yati. MTBS: Strategi Untuk Meningkatkan Derajat Kesehatan Anak.
Disampaikan pada Simposium Pediatri TEMILNAS 2009 Surakarta 01 Agustus 2009.
5. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan
Penyehatan Lingkungan, Panduan Sosialisasi Tatalaksana Diare Balita, 2011
6. Simadibrata, Marcellus & Daldiyono, 2006. Diare Akut. In:Sudoyo, Aru W. Et al,
ed. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi IV. Jakarta: Pusat Penerbitan
7. World Health Organization. Pocket book of hospital care for children, guidelines for
the management of common illnesses with limited resources. Geneva: World Health
Organization; 2005.
8. Mansjoer, A. 2006. Diare akut. Dalam : Sudoyo AW, dkk (ed). Buku ajar ilmu
penyakit dalam. Jakarta: Pusat Penerbitan FKUI; 2006.