You are on page 1of 3

Nama: Zairina Rahmi (12 644 016

)
Resume UU No. 32 tahun 2009
Semakin menurunnya kualitas lingkungan hidup yang dikarenakan oleh pemanasan global
berakibat mengancam kelangsungan kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya sehingga
perlu dilakukan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup yang sungguh-sungguh dan
konsisten oleh semua pemangku kepentingan, maka dibuat peraturan yang mengatur tentang
pengolahan lingkungan hidup dalam UU no. 32 tahun 2009 untuk lebih menjamin
kepastian hukum dan memberikan perlindungan terhadap hak setiap orang untuk
mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat sebagai bagian dari per lindungan
terhadap keseluruhan ekosistem.
UU no. 32 tahun 2009 yang memuat tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup
sebagai upaya sistematis dan terpadu yang dilakukan untuk melestarikan fungsi lingkungan
hidup dan mencegah terjadinya pencemaran serta kerusakan lingkungan hidup yang meliputi
perencanaan, pemanfaatan, pengendalian, pemeliharaan, pengawasan, dan penegakan hukum.
Sehingga dibutuhkannya cara untuk mencegah pencemaran atau kerusakan lingkungan hidup
yang berupa:
 Adanya Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) untuk memastikan bahwa prinsip
pembangunan berkelanjutan telah menjadi dasar dan terintegrasi dalam pembangunan
suatu wilayah dan/atau kebijakan, rencana, dan/atau program. (pasal 15-18)
 Upaya pengelolaan lingkungan hidup dan upaya pemantauan lingkungan hidup (UKL-
UPL) yang merupakan pengelolaan dan pemantauan terhadap usaha dan/atau kegiatan
yang tidak berdampak penting terhadap lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses
pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan. Ketentuan
tentang UKL-UKP pasal 34
 Analisis mengenai dampak lingkungan hidup (Amdal). Pada pasal 1 (11) Amdal
merupakan kajian mengenai dampak penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang
direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan
tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan. Ketentuan tentang Amdal dimuat
dalam pasal 22-33.
 Adanya ketentuan baku mutu lingkungan hidup sebagai ukuran batas atau kadar makhluk
hidup, zat, energi, atau komponen yang ada atau harus ada dan/atau unsur pencemar yang
ditenggang keberadaannya dalam suatu sumber daya tertentu sebagai unsur lingkungan
hidup. (pasal 20)
 Izin lingkungan yang diberikan kepada setiap orang yang melakukan usaha dan/atau
kegiatan yang wajib amdal atau UKL-UPL dalam rangka perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup sebagai prasyarat untuk memperoleh izin usaha atau kegiatan. Pasal 36-
41 memuat tentang perizinan tersebut.
 Pasal 42-43 mengenai instrumen ekonomi lingkungan hidup yang meliputi:
1. perencanaan pembangunan dan kegiatan ekonomi;
2. pendanaan lingkungan hidup; dan
3. insentif dan/atau disinsentif.
 Dalam rangka meningkatkan kinerja lingkungan hidup, pemerintah mendorong
penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan untuk melakukan audit lingkungan hidup
(pasal 48-52). Menteri mewajibkan audit lingkungan hidup kepada:
a. usaha dan/atau kegiatan tertentu yang berisiko tinggi terhadap lingkungan hidup;
b. dan/atau penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang menunjukkan
ketidaktaatan terhadap peraturan perundang-undangan.
Diatur pula penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH)
yang terdiri dari RPPLH nasional, RPPLH provinsi dan RPPLH kabupaten/kota. Dalam RPPLH
tentang pemanfaatan sumber daya alam dilaksanakan berdasarkan daya dukung dan daya
tampung lingkungan hidup dengan memperhatikan:
 keberlanjutan proses dan fungsi lingkungan hidup;
 keberlanjutan produktivitas lingkungan hidup; dan
 keselamatan, mutu hidup, dan kesejahteraan masyarakat.
Pengolahan limbah berbahaya dan beracun serta limbah bahan berbahaya dan beracun diatur
dalam pasal 58-59 bahwa setiap orang yang memasukkan ke dalam wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia, menghasilkan, mengangkut, mengedarkan, menyimpan, memanfaatkan,
membuang, mengolah, dan/atau menimbun B3 wajib melakukan pengelolaan B3.
Pelarangan tentang hal-hal yang dapat menyebabkan kerusakan lingkungan hidup (pasal 69),
Setiap orang dilarang:
1. melakukan perbuatan yang mengakibatkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan
hidup;
2. memasukkan B3 yang dilarang menurut peraturan perundang-undangan ke dalam
wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia;
3. memasukkan limbah yang berasal dari luar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia
ke media lingkungan hidup Negara Kesatuan Republik Indonesia;
4. memasukkan limbah B3 ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia;
5. membuang limbah ke media lingkungan hidup;
6. membuang B3 dan limbah B3 ke media lingkungan hidup;
7. melepaskan produk rekayasa genetik ke media lingkungan hidup yang bertentangan
dengan peraturan perundang-undangan atau izin lingkungan;
8. melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar;
9. menyusun amdal tanpa memiliki sertifikat kompetensi penyusun amdal; dan/atau
10. memberikan informasi palsu, menyesatkan, menghilangkan informasi, merusak
informasi, atau memberikan keterangan yang tidak benar.

Penegakan hukum terhadap pelaku tindak pidana lingkungan hidup berupa denda dan pidana
penjara, seperti yang tercantum pada BAB XV: Ketentuan Pidana, misalnya:
 pada pasal 103: Setiap orang yang menghasilkan limbah B3 dan tidak melakukan
pengelolaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59, dipidana dengan pidana penjara
paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling sedikit
Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) dan paling banyak Rp3.000.000.000,00 (tiga
miliar rupiah).
 Pasal 110: Setiap orang yang menyusun amdal tanpa memiliki sertifikat kompetensi
penyusun amdal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 69 ayat (1) huruf i, dipidana dengan
pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp3.000.000.000,00
(tiga miliar rupiah).