You are on page 1of 18

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Epidural hematom (EDH) adalah suatu akumulasi atau penumpukan darah akibat trauma
yang berada diantara tulang tengkorak bagian dalam dan lapisan membrane duramater,
keadaan tersebut biasanya sering mendorong atau menyebabkan peningkatan tekanan
intrakranial yang akibatnya kepala seperti dipukul palu atau alat pemukul baseball. Pada
85 – 95% pasien, trauma terjadi akibat adanya fraktur yang hebat. Pembuluh – pembuluh
darah otak yang berada didaerah fraktur atau dekat dengan daerah fraktur akan
mengalami perdarahan. Prognosanya biasanya baik apabila diterapi secara agresiv.
Epidural hematom biasanya terjadi akibat tekanan yang keras terhadap pembuluh
darah yang terletak diluar duramater, apakah itu terjadi pada tulang tengkorak atau pada
kolumna spinalis. Pada tulang tengkorak, tekanan yang berlebihan pada arteri meningeal
akan menyebabkan epidural hematom.
Hematoma yang terbentuk secara luas akan menekan otak, menyebabkan
pembengkakan dan akhirnya akan merusak otak, hematoma yang luas juga akan
menyebabkan otak bagian atas dan batang otak akan mengalami herniasi.
Gejala epidural hematom dapat berupa sakit kepala hebat yang biasanya segera
timbul, akan tetapi dapat juga baru muncul beberapa jam kemudian. Kemudian sakit
kepala tersebut akan menghilang dan akan muncul lagi setelah beberapa jam kemudian
dengan nyeri yang lebih hebat dari sebelumnya. Selanjutnya bisa terjadi peningkatan
kebingungan, rasa ngantuk, kelumpuhan, pingsan, sampai koma.

1.2 PERMASALAHAN
1. Menjelaskan tentang definisi epidural hematom.
2. Menjelaskan tentang etiologi epidural hematom.
3. Menjelaskan tentang patofisiologi epidural hematom.
4. Menjelaskan tentang manifestasi klinis epidural hematom.
5. Menjelaskan tentang diagnosa banding dan diagnosa epidural hematom.
6. Menjelaskan tentang komplikasi, penatalaksanaan, prognosis epidural hematom.

1.3 TUJUAN
Diharapkan mahasiswa/mahasiswi Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas
Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar Mataram dapat mengerti tentang epidural
hematomsehingga mahasiswa/mahasiswi tidak mengalami kesulitan dalam mengikuti
perkuliahan selanjutnya.


BAB II
PEMBAHASAN
2.1 ANATOMI
Secara konvensional, dura mater diuraikan sebagai dua lapisan, lapisan endosteal dan
lapisan meningeal. Lapisan endosteal tidak lebih dari suatu periosteum yang menutupi
permukaan dalam tulang – tulang kranium. Pada foramen magnum lapisan endosteal
tidak berlanjut dengan duramater medulla spinalis. Pada sutura, lapisan endosteal
berlanjut dengan ligamentum sutura. Lapisan endosteal paling kuat melekat pada tulang
diatas dasar kranium.
Lapisan meningeal merupakan duramater yang sebenarnya. Lapisan meningeal
merupakan membrane fibrosa kuat, padat menutupi otak, dan melalui foramen magnum
berlanjut dengan duramater medulla spinalis. Lapisan meningeal ini memberikan sarung
tubuler untuk saraf – saraf kranial pada saat melintas melalui lubang – lubang kranium.
Kedalam lapisan meningeal membentuk empat septa, yang membagi rongga kranium
menjadi ruang – ruang yang berhubungan dengan bebas dan merupakan tempat bagian –
bagian otak.
Falx serebri merupakan lipatan duramater yang berbentuk sabit, terletak dalam
garis tengah antara dua hemispherium serebri. Ujung anteriornya melekat ke Krista
frontalis interna dan Krista galli. Bagian posterior yang lebar bercampur di garis tengah
dengan permukaan atas tentorium serebelli. Sinus sagitalis superior berjalan dalam tepi
bagian atas yang terfiksasi; sinus sagitalis inferior berjalan pada tepi bagian bawah yang
konkaf, dan sinus rektus berjalan disepanjang perlekatannya dengan tentorium serebelli.
Tentorium serebelli merupakan lipatan duramater berbentuk sabit yang
membentuk atap diatas fossa kranialis posterior, menutupi permukaan atas serebellum
dan menokong lobus occipitalis hemisperium serebri. Berdekatan dengan apex pars
petrosus os temporale, lapisan bagian bawah tentorium membentuk kantong kearah
depan dibawah sinus petrosus superior, membentuk suatu resessus untuk n. trigeminus
dan ganglion trigeminal.
Falx serebri dan falx serebelli masing – masing melekat ke permukaan atas dan
bawah tentorium. Sinus rektus berjalan di sepanjang perlekatan ke falx serebri; sinus
petrosus superior, bersama perlekatannya ke os petrosa; dan sinus transverses,
disepanjang perlekatannya ke os occipitalis. Falx serebelli merupakan suatu lipatan
duramater berbentuk sabit, kecil melekat ke krista occipitalis interna, berproyeksi
kedepan diantara diantara dua hemispherium serebelli. Diaphragma Sella merupakan
suatu lipatan duramater sirkuler, membentuk atap untuk sella tursika.
2.1.1 Persarafan Duramater
Persarafan ini terutama berasal dari cabang n.trigeminus, tiga saraf
servikalis bagian atas, bagian servikal trunkus simpatikus dan n.vagus. resptor –
reseptor nyeri dalam dura mater diatas tentorium mengirimkan impuls melalui
n.trigeminus, dan suatu nyeri kepala dirujuk ke kulit dahi dan muka. Impuls nyeri
yang timbul dari bawah tentorium dalam fossa kranialis posterior berjalan melalui
tiga saraf servikalis bagian atas, dan nyeri kepala dirujuk kebelakang kepala dan
leher.
2.1.2 Pendarahan Duramater

Banyak arteri mensuplai duramater, yaitu; arteri karotis interna, arteri maxillaries,
arteri paringeal asenden, arteri occipitalis dan arteri vertebralis. Dari segi klinis,
yang paling penting adalah arteri meningea media, yang umumnya mengalami
kerusakan pada cedera kepala.
Arteri meningea media berasal dari arteri maxillaries dalam fossa
temporalis, memasuki rongga kranialis melalui foramen spinosum dan kemudian
terletak antara lapisan meningeal dan endosteal duramater. Arteri ini kemudian
terletak antara lapisan meningeal dan endosteal duramater. Arteri ini kemudian
berjalan ke depan dank e lateral dalam suatu sulkus pada permukaan atas
squamosa bagian os temporale. Cabang anterior (frontal) secara mendalam berada
dalam sulkus atau saluran angulus antero – inferior os parietale, perjalanannya
secara kasar berhubungan dengan garis gyrus presentralis otak di bawahnya.
Cabang posterior melengkung kearah belakang dan mensuplai bagian posterior
duramater.
Vena –vena meningea terletak dalam lapisan endosteal duramater. Vena
meningea media mengikuti cabang – cabang arteri meningea media dan mengalir
kedalam pleksus venosus pterygoideus atau sinus sphenoparietalis. Vena terletak
di lateral arteri.
2.1.3 Sinus Venosus Duramater
Sinus – sinus venosus dalam rongga kranialis terletak diantara lapisan – lapisan
duramater. Fungsi utamanya adalah menerima darah dari otak melalui vena –
vena serebralis dan cairan serebrospinal dari ruang – ruang subarachnoidea
melalui villi arachnoidalis. Darah dalam sinus – sinus duramatr akhirnya mengalir
kedalam vena – vena jugularis interna dileher. Vena emissaria menghubungkan
sinus venosus duramater dengan vena – vena diploika kranium dan vena – vena
kulit kepala.
Sinus Sagitalis Superior menduduki batas atas falx serebri yang terfiksasi,
mulai di anterior pada foramen caecum, berjalan ke posterior dalam sulkus di
bawah lengkungan kranium, dan pada protuberantia occipitalis interna berbelok
dan berlanjut dengan sinus transverses. Dalam perjalanannya sinus sagitallis
superior menerima vena serebralis superior. Pada protuberantia occipitalis
interna, sinus sagitallis berdilatasi membentuk sinus konfluens. Dari sini biasanya
berlanjut dengan sinus transverses kanan, berhubungan dengan sinus transverses
yang berlawanan dan menerima sinus occipitalis.
Sinus sagitalis inferior menduduki tepi bawah yang bebas dari falx
serebri, berjalan kebelakang dan bersatu dengan vena serebri magna pada tepi
bebas tentorium cerebelli membentuk sinus rektus. Sinus rekrus menempati garis
persambungan falx serebri dengan tentorium serebelli, terbentuk dari persatuan
sinus sagitalis inferior dengan vena serebri magna, berakhir membelok kekiri
membentuk sinus transfersus.
Sinus transverses merupakan struktur berpasangan dan mereka mulai pada
protuberantia occipitalis interna. Sinus kanan biasanya berlanjut dengan sinus
sagitalis superior, dan bagian kiri berlanjut dengan sinus rektus. Setiap sinus
menempati tepi yang melekat pada tentorium serebelli, membentuk sulkus pada
os occipitalis dan angulus posterior os parietale. Mereka menerima sinus petrosus
superior, vena – vena serebralis inferior, vena – vena serebellaris dan vena – vena
diploika. Mereka berakhir dengan membelok ke bawah sebagai sinus sigmoideus.
Sinus sigmoideus merupakan lanjutan langsung dari sinus tranversus yang akan
melanjutkan diri ke bulbus superior vena jugularis interna. Sinus occipitalis
merupakan suatu sinus kecil yang menempati tepi falx serebelli yang melekat, ia
berhubungan dengan vena – vena vertebralis dan bermuara kedalam sinus
konfluens. Sinus kavernosus terletak dalam fossa kranialis media pada setiap sisi
corpus os sphenoidalis.
Arteri karotis interna, dikelilingi oleh pleksus saraf simpatis, berjalan
kedepan melalui sinus. Nervus abdusen juga melintasi sinus dan dipisahkan dari
darah oleh suatu pembungkus endothelial. Sinus petrosus superior dan inferior
merupakan sinus –sinus kecil pada batas – batas superior dan inferior pars
petrosus os temporale pada setiap sisi kranium. Setiap sinus kavernosus kedalam
sinus transverses dan setiap sinus inferior mendrainase sinus cavernosus kedalam
vena jugularis interna.
2.1.4 Arachnoidea Mater
Arachnoidea mater merupakan membran tidak permeable, halus, menutupi otak
dan terletak diantara pia mater di interna dan duramater di eksterna. Arachnoidea
mater dipisahkan dari duramater oleh suatu ruang potensial, ruang subdural, terisi
dengan suatu lapisan tipis cairan, dipisahkan dari piamater oleh ruang
subarachnoidea, yang terisi dengan cairan serebrospinal. Permukaan luar dan
dalam arachnoidea ditutupi oleh sel –sel mesothelial yang gepeng.
Pada daerah – daerah tertentu, arachnoidea terbenam kedalam sinus
venosus untuk membentuk villi arachnoidalis. Villi arachnoidalis bertindak
sebagai tempat cairan serebrospinal berdifusi kedalam aliran darah. Arachnoidea
dihubungkan ke piamater oleh untaian jaringan fibrosa halus yang menyilang
ruang subarachnoidea yang berisi cairan.
Cairan serebrospinal dihasilkan oleh pleksus choroideus dalam
ventrikulus lateralis, ketiga dan keempat otak. Cairan ini keluar dari ventrikulus
memasuki subarachnoid, kemudian bersirkulasi baik kearah atas diatas
permukaan hemispherium serebri dan kebawah disekeliling medulla spinalis.
2.1.5 Piamater otak
Piamater merupakan suatu membrane vaskuler yang ditutupi oleh sel – sel
mesothelial gepeng. Secara erat menyokong otak, menutupi gyri dan turun
kedalam sulki yang terdalam. Piamater meluas keluar pada saraf – saraf cranial
dan berfusi dengan epineurium. Arteri serebralis yang memasuki substansi otak
membawa sarung pia mater bersamanya. Piamater membentuk tela choroidea dari
atap ventrikulus otak ketiga dan keempat, dan berfusi dengan ependyma untuk
membentuk pleksus choroideus dalam ventrikulus lateralis, ketiga, dan keempat
otak.

Gambar; Lapisan Otak (Meninges)
2.1.6 Fisiologi Meningen
Otak dan medulla spinalis terbungkus dalam tiga sarung membranosa yang
konsentrik. Membran yang paling luar tebal, kuat dan fibrosa disebut duramater,
membrane tengah tipis dan halus serta diketahui sebagai arachnoidea mater, dan
membrane paling dalam halus dan bersifat vaskuler serta berhubungan erat
dengan permukaan otak dan medulla spinalis serta dikenal sebagai piamater.
Duramater mempunyai lapisan endosteal luar, yang bertindak sebagai
periosteum tulang – tulang kranium dan lapisan bagian dalam yaitu lapisan
meningeal yang berfungsi untuk melindungi jaringan saraf dibawahnya serta saraf
– saraf cranial dengan membentuk sarung yang menutupi setiap saraf kranial.
Sinus venosus terletak dalam duramater yang mengalirkan darah venosa dari otak
dan meningen ke vena jugularis interna dileher.
Pemisah duramater berbentuk sabit yang disebut falx serebri, yang terletak
vertical antara hemispherium serebri dan lembaran horizontal, yaitu tentorium
serebelli, yang berproyeksi kedepan diantara serebrum dan serebellum, yang
berfungsi untuk membatasi gerakan berlebihan otak dalam kranium.
Arachnoidea mater merupakan membrane yang lebih tipis dari duramater dan
membentuk penutup yang longgar bagi otak. Arachnoidea mater menjembatani
sulkus – sulkus dan masuk kedalam yang dalam antara hemispherium serebri.
Ruang antara arachnoidea dengan pia mater diketahui sebagai ruang
subarachnoidea dan terisi dengan cairan serebrospinal. Cairan serebrospinal
merupakan bahan pengapung otak serta melindungi jaringan saraf dari benturan
mekanis yang mengenai kepala.
Piamater merupakan suatu membrane vaskuler yang menyokong otak
dengan erat. Suatu sarung pia mater menyertai cabang – cabang arteri arteri
serebralis pada saat mereka memasuki substansia otak. Secara klinis, duramater
disebut pachymeninx dan arachnoidea serta pia mater disebut sebagai
leptomeninges.
2.2 DEFINISI EPIDURAL HEMATOM
Epidural hematom adalah suatu akumulasi darah yang terletak diantara meningen
(membran duramter) dan tulang tengkorak yang terjadi akibat trauma. Duramater
merupakan suatu jaringan fibrosa atau membran yang melapisi otak dan medulla spinalis.
Epidural dimaksudkan untuk organ yang berada disisi luar duramater dan hematoma
dimaksudkan sebagai masa dari darah.
Hematoma epidural adalah suatu hematoma yang terjadi diantara duramater dan
tulang. Hematoma ini timbul karena terjadi sobekan pada A. Meningea media atau pada
salah satu cabangnya. (A. Meningea media berasal dari A. Carotis eksterna dan masuk ke
dalam rongga tengkorak melalui foramen spinosum).
Di Amerika Serikat, 2 % dari kasus trauma kepala mengakibatkan hematoma
epidural dan sekitar 10 % mengakibatkan koma. Secara internasional frekuensi kejadian
epidural hematom hampir sama dengan angka kejadian di Amerika Serikat.
Orang yang berisiko mengalami EDH adalah orang tua yang sering mengalami
masalah berjalan dan sering jatuh. 60% dari penderita hematoma epidural adalah berusia
di bawah 20 tahun, dan jarang terjadi pada umur kurang dari 2 tahun dan di atas 60
tahun. Angka kematian meningkat pada pasien yang berusia kurang dari 5 tahun dan
lebih dari 55 tahun. Lebih banyak pada lelaki di banding perempuan dengan
perbandingan 4 : 1.

2.3 ETIOLOGI
Epidural hematom terjadi akibat suatu trauma kepala, biasanya disertai dengan fraktur
pada tulang tengkorak dan adanya laserasi arteri. Epidural hematom juga bisa disebabkan
akibat pemakaian obat – obatan antikoagulan, hemophilia, penyakit liver, penggunaan
aspirin, sistemik lupus erimatosus, fungsi lumbal. Spinal epidural hematom disebabkan
akibat adanya kompresi pada medulla spinalis. Gejala klinisnya tergantung pada dimana
letak terjadinya penekanan.
2.4 PATOFISIOLOGI
Cedera kepala yang berat dapat merobek, meremukkan atau menghancurkan saraf,
pembuluh darah dan jaringan di dalam atau di sekeliling otak. Bisa terjadi kerusakan
pada jalur saraf, perdarahan atau pembengkakan hebat. Perdarahan, pembengkakan dan
penimbunan cairan (edema) memiliki efek yang sama yang ditimbulkan oleh
pertumbuhan massa di dalam tengkorak. Karena tengkorak tidak dapat bertambah luas,
maka peningkatan tekanan bisa merusak atau menghancurkan jaringan otak.
Karena posisinya di dalam tengkorak, maka tekanan cenderung mendorong otak ke
bawah, otak sebelah atas bisa terdorong ke dalam lubang yang menghubungkan otak
dengan batang otak, keadaan ini disebut dengan herniasi. Sejenis herniasi serupa bisa
mendorong otak kecil dan batang otak melalui lubang di dasar tengkorak (foramen
magnum) kedalam medulla spinalis. Herniasi ini bisa berakibat fatal karena batang otak
mengendalikan fungsi fital (denyut jantung dan pernafasan).
Cedera kepala yang tampaknya ringan kadang bisa menyebabkan kerusakan otak
yang hebat. Usia lanjut dan orang yang mengkonsumsi antikoagulan, sangat peka
terhadap terjadinya perdarahan di sekeliling otak.
Perdarahan epidural timbul akibat cedera terhadap arteri atau vena meningeal.
Arteri yang paling sering mengalami kerusakan adalah cabang anterior arteri meningea
media. Suatu pukulan yang menimbulkan fraktur kranium pada daerah anterior inferior
os parietal, dapat merusak arteri. Cidera arteri dan venosa terutama mudah terjadi jika
pembuluh memasuki saluran tulang pada daerah ini. Perdarahan yang terjadi melepaskan
lapisan meningeal duramater dari permukaan dalam kranium. Tekanan ntracranial
meningkat, dan bekuan darah yang membesar menimbulkan tekanan ntra pada daerah
motorik gyrus presentralis dibawahnya. Darah juga melintas kelateral melalui garis
fraktur, membentuk suatu pembengkakan di bawah m.temporalis.
Apabila tidak terjadi fraktur, pembuluh darah bisa pecah juga, akibat daya
kompresinya. Perdarahan epidural akan cepat menimbulkan gejala – gejala, sesuai
dengan sifat dari tengkorak yang merupakan kotak tertutup, maka perdarahan epidural
tanpa fraktur, menyebabkan tekanan intrakranial yang akan cepat meningkat. Jika ada
fraktur, maka darah bisa keluar dan membentuk hematom subperiostal (sefalhematom),
juga tergantung pada arteri atau vena yang pecah maka penimbunan darah ekstravasal
bisa terjadi secara cepat atau perlahan – lahan. Pada perdarahan epidural akibat pecahnya
arteri dengan atau tanpa fraktur linear ataupun stelata, manifestasi neurologik akan
terjadi beberapa jam setelah trauma kapitis.
2.5 MANIFESTASI KLINIS
1. Saat awal kejadian, pada sekitar 20% pasien, tidak timbul gejala apa – apa.
2. Tapi kemudian pasien tersebut dapat berlanjut menjadi pingsan dan bangun bangun
dalam kondisi kebingungan.
3. Beberapa penderita epidural hematom mengeluh sakit kepala.
4. Muntah – muntah
5. Kejang – kejang
6. Pasien dengan epidural hematom yang mengenai fossa posterior akan menyebabkan
keterlambatan atau kemunduran aktivitas yang drastis. Penderita akan merasa
kebingungan dan berbicara kacau, lalu beberapa saat kemudian menjadi apneu,
koma, kemudian meninggal.
7. Respon chusing yang menetap dapat timbul sejalan dengan adanya peningkatan
tekanan intara kranial, dimana gejalanya dapat berupa : Hipertensi, Bradikardi,
bradipneu.
8. Kontusio, laserasi atau tulang yang retak, dapat diobservasi di area trauma.
9. Dilatasi pupil, lebam, pupil yang terfixasi, bilateral atau ipsilateral kearah lesi,
adanya gejala – gejala peningkatan tekanan intrakranial, atau herniasi.
10. Adanya tiga gejala klasik sebagai indikasi dari adanya herniasi yang menetap, yaitu:
Coma, Fixasi dan dilatasi pupil, Deserebrasi.
11. Adanya hemiplegi kontralateral lesi dengan gejala herniasi harus dicurigai adanya
epidural hematom.

2.6 DIAGNOSIS
Adanya gejala neurologist merupakan langkah pertama untuk mengetahui tingkat
keparahan dari trauma kapitis. Kemampuan pasien dalam berbicara, membuka mata dan
respon otot harus dievaluasi disertai dengan ada tidaknya disorientasi (apabila pasien
sadar) tempat, waktu dan kemampuan pasien untuk membuka mata yang biasanya sering
ditanyakan. Apabila pasiennya dalam keadaan tidak sadar, pemeriksaan reflek cahaya
pupil sangat penting dilakukan.
Pada epidural hematom dan jenis lainnya dapat mengakibatkan peningkatan
tekanan intra kranial yang akan segera mempengarungi nervus kranialis ketiga yang
mengandung beberapa serabut saraf yang mengendalikan konstriksi pupil. Tekanan yang
menghambat nervus ini menyebabkan dilatasi dari pupil yang permanen pada satu atau
kedua mata. Hal tersebut merupakan indikasi yang kuat untuk mengetahui apakah pasien
telah mengalami hematoma intrakranial atau tidak.
Untuk membedakan antara epidural, subdural dan intracranial hematom dapat
dilakukan dengan CT – Scan atau MRI. Dari hasil tersebut, maka seorang dokter ahli
bedah dapat menentukan apakah pembengkakannya terjadi pada satu sisi otak yang akan
mengakibatkan terjadinya pergeseran garis tengah atau mid line shif dari otak. Apabila
pergeserannya lebih dari 5 mm, maka tindakan kraniotomi darurat mesti dilakukan.
Gambaran Radiologi
Dengan CT-scan dan MRI, perdarahan intrakranial akibat trauma kepala lebih
mudah dikenali. Foto Polos Kepala pada foto polos kepala, kita tidak dapat mendiagnosa
pasti sebagai epidural hematoma. Dengan proyeksi Antero-Posterior (A-P), lateral
dengan sisi yang mengalami trauma pada film untuk mencari adanya fraktur tulang yang
memotong sulcus arteria meningea media.
a. Computed Tomography (CT Scan)

Pemeriksaan CT-Scan dapat menunjukkan lokasi, volume, efek, dan potensi
cedara intracranial lainnya. Pada epidural biasanya pada satu bagian saja (single)
tetapi dapat pula terjadi pada kedua sisi (bilateral), berbentuk bikonfeks, paling
sering di daerah temporoparietal. Densitas darah yang homogen (hiperdens),
berbatas tegas, midline terdorong ke sisi kontralateral. Terdapat pula garis fraktur
pada area epidural hematoma, Densitas yang tinggi pada stage yang akut ( 60 – 90
HU), ditandai dengan adanya peregangan dari pembuluh darah.
b. Magnetic Resonance Imaging (MRI)

MRI akan menggambarkan massa hiperintens bikonveks yang menggeser
posisi duramater, berada diantara tulang tengkorak dan duramater. MRI juga dapat
menggambarkan batas fraktur yang terjadi. MRI merupakan salah satu jenis
pemeriksaan yang dipilih untuk menegakkan diagnosis.
Pada pasien dengan epidural spinal hematom, onset gejalanya dapat timbul
dengan segera, yaitu berupa nyeri punggung atau leher sesuai dengan lokasi perdarahan
yang terjadi. Batuk atau gerakan -gerakan lainnya yang dapat meningkatkan tekanan
pada batang tubuh atau vertebra dapat memperberat rasa nyeri. Pada anak, perdarahan
lebih sering terjadi pada daerah servikal (leher) dari pada daerah toraks.
Pada saat membuat diagnosa pada spinal epidural hematom, seorang dokter harus
memutuskan apakah gejala kompresi spinal tersebut disebabkan oleh hematom atau
tumor. CT- Scan atau MRI sangat baik untuk membedakan antara kompresi pada
medulla spinalis yang disebabkan oleh tumor atau suatu hematom.
2.7 DIAGNOSIS BANDING
1. Perdarahan subarachnoid
2. Subdural hematom
2.8 PENATALAKSANAAN
2.8.1 Perawatan sebelum ke Rumah Sakit
1. Stabilisasi terhadap kondisi yang mengancam jiwa dan lakukan terapi
suportiv dengan mengontrol jalan nafas dan tekanan darah.
2. Berikan O
2
dan monitor.
3. Berikan cairan kristaloid untuk menjaga tekanan darah sistolik tidak kurang
dari 90 mmHg.
4. Pakai intubasi, berikan sedasi dan blok neuromuskuler
2.8.2 Perawatan di bagian Emergensi
1. Pasang oksigen (O
2
), monitor dan berikan cairan kristaloid untuk
mempertahankan tekanan sistolik diatas 90 mmHg.
2. Pakai intubasi, dengan menggunakan premedikasi lidokain dan obat –
obatan sedative misalnya etomidate serta blok neuromuskuler. Intubasi
digunakan sebagai fasilitas untuk oksigenasi, proteksi jalan nafas dan
hiperventilasi bila diperlukan.
3. Elevasikan kepala sekitar 30
O
setelah spinal dinyatakan aman atau gunakan
posis trendelenburg untuk mengurangi tekanan intra kranial dan untuk
menambah drainase vena.
4. Berikan manitol 0,25 – 1 gr/ kg iv. Bila tekanan darah sistolik turun sampai
90 mmHg dengan gejala klinis yang berkelanjutan akibat adanya
peningkatan tekanan intra kranial.
5. Hiperventilasi untuk tekanan parsial CO
2
(PCO
2
) sekitar 30 mmHg apabila
sudah ada herniasi atau adanya tanda – tanda peningkatan tekanan
intrakranial (ICP).
6. Berikan phenitoin untuk kejang – kejang pada awal post trauma, karena
phenitoin tidak akan bermanfaat lagi apabila diberikan pada kejang dengan
onset lama atau keadaan kejang yang berkembang dari kelainan kejang
sebelumnya.
2.8.3 Terapi obat – obatan
1. Gunakan Etonamid sebagai sedasi untuk induksi cepat, untuk
mempertahankan tekanan darah sistolik, dan menurunkan tekanan
intrakranial dan metabolisme otak. Pemakaian tiophental tidak dianjurkan,
karena dapat menurunkan tekanan darah sistolik. Manitol dapat digunakan
untuk mengurangi tekanan intrakranial dan memperbaiki sirkulasi darah.
Phenitoin digunakan sebagai obat propilaksis untuk kejang – kejang pada
awal post trauma. Pada beberapa pasien diperlukan terapi cairan yang
cukup adekuat yaitu pada keadaan tekanan vena sentral (CVP) > 6 cmH
2
O,
dapat digunakan norephinephrin untuk mempertahankan tekanan darah
sistoliknya diatas 90 mmHg.
2. Berikut adalah obat – obatan yang digunakan untuk terapi pada epidural
hematom:
 Diuretik Osmotik
Misalnya Manitol : Dosis 0,25 – 1 gr/ kg BB iv.
Kontraindikasi pada penderita yang hipersensitiv, anuria,
kongesti paru, dehidrasi, perdarahan intrakranial yang progreasiv dan
gagal jantung yang progresiv.
Fungsi : Untuk mengurangi edema pada otak, peningkatan tekanan
intrakranial, dan mengurangi viskositas darah, memperbaiki
sirkulasi darah otak dan kebutuhan oksigen.
 Antiepilepsi
Misalnya Phenitoin : Dosis 17 mg/ kgBB iv, tetesan tidak boleh lebihn
dari 50 (Dilantin) mg/menit.
Kontraindikasi; pada penderita hipersensitiv, pada penyakit
dengan blok sinoatrial, sinus bradikardi, dan sindrom Adam-Stokes.
Fungsi : Untuk mencegah terjadinya kejang pada awal post trauma.

2.9 KOMPLIKASI
1. Kelainan neurologik (deficit neurologis), berupa sindrom gegar otak dapat terjadi
dalam beberapa jam sampai bebrapa bulan.
2. Kondisi yang kacau, baik fisik maupun mental.
3. Kematian.
2.10 PROGNOSA
Prognosa biasanya baik, kematian tidak akan terjadi untuk pasien –pasien yang belum
koma sebelum operasi. Kematian terjadi sekitar 9% pada pasien epidural hematom
dengan kesadaran yang menurun. 20% terjadi kematian terhadap pasien – pasien yang
mengalami koma yang dalam sebelum dilakukan pembedahan.


BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Otak dan medulla spinalis terbungkus dalam tiga sarung membranosa yang konsentrik.
Membran yang paling luar tebal, kuat dan fibrosa disebut duramater, membrane tengah
tipis dan halus serta diketahui sebagai arachnoidea mater, dan membrane paling dalam
halus dan bersifat vaskuler serta berhubungan erat dengan permukaan otak dan medulla
spinalis serta dikenal sebagai piamater.
Epidural hematom adalah suatu akumulasi darah yang terletak diantara meningen
(membran duramter) dan tulang tengkorak yang terjadi akibat trauma. Duramater
merupakan suatu jaringan fibrosa atau membran yang melapisi otak dan medulla spinalis.
Epidural dimaksudkan untuk organ yang berada disisi luar duramater dan hematoma
dimaksudkan sebagai masa dari darah.
Epidural hematom terjadi akibat suatu trauma kepala, biasanya disertai dengan
fraktur pada tulang tengkorak dan adanya laserasi arteri. Epidural hematom juga bisa
disebabkan akibat pemakaian obat – obatan antikoagulan, hemophilia, penyakit liver,
penggunaan aspirin, sistemik lupus erimatosus, fungsi lumbal. Spinal epidural hematom
disebabkan akibat adanya kompresi pada medulla spinalis.
Manifestasi Klinis dari epidural hematom dapat berupa; sakit kepala, muntah –
muntah, kejang – kejang. Pasien dengan epidural hematom yang mengenai fossa
posterior akan menyebabkan keterlambatan atau kemunduran aktivitas yang drastis.
Penderita akan merasa kebingungan dan berbicara kacau, lalu beberapa saat kemudian
menjadi apneu, koma, kemudian meninggal.Respon chusing yang menetap dapat timbul
sejalan dengan adanya peningkatan tekanan intara kranial, dimana gejalanya dapat
berupa : hipertensi, bradikardi, bradipneu.
Kontusio, laserasi atau tulang yang retak dapat diobservasi di area trauma,
dilatasi pupil, lebam, pupil yang terfixasi, bilateral atau ipsilateral kearah lesi, adanya
gejala – gejala peningkatan tekanan intrakranial, atau herniasi. Adanya tiga gejala klasik
sebagai indikasi dari adanya herniasi yang menetap, yaitu: coma, fixasi dan dilatasi
pupil, deserebrasi.
Adanya hemiplegi kontralateral lesi dengan gejala herniasi harus dicurigai adanya
epidural hematom.
Penatalaksanaan dapat berupa perawatan sebelum di bawa kerumah sakit,
perawatan di bagian emergensi dan terapi obat – obatan.
Komplikasi dapat berupa; Kelainan neurologik (deficit neurologis), berupa
sindrom gegar otak dapat terjadi dalam beberapa jam sampai bebrapa bulan. Kondisi
yang kacau, baik fisik maupun mental serta kematian.
Prognosa biasanya baik, kematian tidak akan terjadi untuk pasien –pasien yang
belum koma sebelum operasi. Kematian terjadi sekitar 9% pada pasien epidural hematom
dengan kesadaran yang menurun. 20% terjadi kematian terhadap pasien – pasien yang
mengalami koma yang dalam sebelum dilakukan pembedahan.


DAFTAR PUSTAKA
Anonymous. 2009. Epidural Hematom. Diakses tanggal 20 April 2013 dari
http://dokmud.wordpress.com/2009/10/23/epidural-hematom/.
Astaqauliyah. 2007. Referat : Epidural Hematom. Diakses tanggal 20 April 2013 dari
http://astaqauliyah.com/2007/02/referat-epidural-hematoma/#_.
Gunawan. 2008. Ilustrasi Otak. Diakses tanggal 20 April dari
http://www.ahliwasir.com/page.php?Ilustrasi_otak.
Ngoerah, I Gst. Ng. Gd. 1991. Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Saraf. Surabaya: Airlangga
University press.