You are on page 1of 3

KLASIFIKASI DISRITMIA

1. DISRITMIA NODUS SINUS
a. Bradikardi Sinus
Bradikardi sinus didefenisikan sebagai irama dengan impuls yang berasal dari nodus
SA dengan frekuensi kurang dari 60 denyut/menit. Irama ( interval RR ) dapat
menjadi kurang teratur sebagai berlakunya frekuensi jantung lebih lambat,
sebaliknya parameter yang lain normal.
Karakteristik :
 Frekuensi : 40 sampai 60 denyut per menit
 Gelombang P : mendahului setiap kompleks QRS; interval PR normal
 Kompleks QRS : biasanya normal
 Hantaran : biasanya normsl
 Irama : regular

b. Takikardi Sinus
Takikardi sinus, nodus sinus mempercepat dan menimbulkan impuls pada frekuensi
100 kali/menit atau lebih. Batas tertinggi dari sinus takikardi 160 sampai 180
denyut/menit.
Karakteristik :
 Frekuensi : 100 sampai 160-180 denyut / menit
 Gelombang P : mendahului setiap kompleks QRS, dapat tenggelam dalam
 gelombang T yang mendahuluinya; interval PR normal
 Kompleks QRS : biasanya mempunyai durasi normal
 Hantaran : biasanya normal
 Irama : regular
2. DISRITMIA ATRIUM
a. Kontraksi Prematur Atrium
Kontraksi Prematur Atrium (PAC = premature atrium contraction) terjadi ketika
impuls atrial ektopik keluar secara prematur dan pada kebanyakan kasus, impuls ini
dikonduksi dalam gaya normal melalui sistem konduksi AV ke ventrikel.
Karakteristik :
 Frekuensi : 60 sampai 100 denyut per menit
 Gelombang P : biasanya mempunyai konfigurasi yang berbeda dengan
gelombang P yang berasal dari nodus SA. Tempat lain pada atrium telah menjadi
iritabel (peningkatan otomatisasi) dan melepaskan impuls sebelum nodus SA
melepaskan impuls secara normal
 Kompleks QRS : bisa normal, menyimpang atau tidak ada. Bila ventrikel Sudah
menyelesaikan fase repolarisasi, mereka dapat merespons stimulus atrium ini dari
awal.
 Hantaran : biasanya normsl
 Irama : regular, kecuali bila terjadi PAC. Gelombang P akan terjadi lebih
awal dalam siklus dan biasanya tidak akan mempunyai jeda kompensasi yang lengkap.
b. Takikardi Atrium Paroksismal
Takikardi Atrium Paoksismal (PAT = paroxysmal atrium tachychardia) adalah
takikardi atrium yang ditandai dengan awitan mendadak dan penghentian
mendadak. Dapat dicetuskan oleh emosi, tembakau, kafein, kelelahan, alcohol. PAT
biasanya tidak berhubungan dengan penyakit jantung organic. Frekuensi yang
sangat tinggi dapat menyebabkan angina akibat penurunan pengisian artei koroner.
Curah jantung akan menurun dan dapat terjadi gagal jantung.
Karakteristik :
 Frekuensi : 150 sampai 250 denyut per menit
 Gelombang P : ektopik dan mengalami distorsi disbanding gelombang P normal;
dapat ditemukan pada awal gelombang T; interval PR memendek (kurang dari 0,12
detik)
 Kompleks QR : biasanya normal, tetapi dapat mengalami distorsi apabila terjadi
penyimpangan hantaran
 Hantaran : biasanya normal
 Irama : regular
c. Fluter Atrium
Fluter atrium terjadi bila ada titik focus di atrium yang menangkap irama jantung
dan membuat impuls antara 250 sampai 350 kali per menit. Karakter penting pada
disritmia ini adalah terjadinya penyekat terapi pada nodus AV, yang mencegah
penghantaran beberapa impuls. Penghantaran impuls melalui jantung sebenartnya
masih normal, sehingga komp;leks QRS tak terpengaruh. Inilah tanda penting dari
disritmia tipe ini, karena hantran 1 :1 impuls atrium yang dilepaskan 250 sampai
350 kali per menit akan mengakibatkan fibrilasi ventrikel, suatu disritmia yang
mengancam jiwa.
Karakteristik :
 Frekuensi : frekuensi atrium antara 250 sampai 350 denyut per menit
 Gelombang P : tidak ada, melainkan diganti oleh pola gigi gergaji yang dihasilkan
oleh focus di atrium yang melepaskan impuls dengan cepat. Gelombang ini disebut
sebagai gelombang F
 Kompleks QRS : konfigurasinya normal dan waktu hantarannya juga normal.
 Gelkombang T : ada namun bisa tertutup oleh gelombang fluter
 Irama : regular atau ireguler, tergantung jenis penyekatnya (mis., 2:1 , 3:1, atau
kombinasinya)
d. Fibrilasi Atrium
Fibrilasi atrium (kontraksi otot atrium yang tidak terorganisasi dan tidak
terkoordinasi) biasanya berhubungan dengan penyakit jantung aterosklerotik,
penyakit katup jantung, gagal jantung kongestif, tirotoksikosis, cor pulmonale, atau
penyakit jantung congenital.

3. DISRITMIA VENTRIKEL
a. Kontraksi Prematur Ventrikel
Denyut Ventrikel Prematur (DVP) adalah denyut ektopik yang timbul secara
prematur pada tingkatan ventrikel. Impuls ini juga menunjukkan KPV (kontraksi
prematur ventrikel) atau KVP (kontraksi ventrikel prematur). Karena denyut berasal
dari ventrikel, ini tidak berjalan melalui sistem konduksi normal. QRS tidak hanya
prematur, tetapi akan melebar dan aneh dengan gelombang T yang berlawanan
defleksinya dengan kompleks QRS. Denyut ini jarang, kadang-kadang atau sering,
meskipun ini optimal untuk menggambarkannya dalam jumlah DVP/menit. Jika DVP
terjadi setelah tiap-tiap denyut sinus, berarti ada ventrikular bigemini. Ventrikuler
trigemini adalah DVP yang terjadi setelah dua buah denyut sinus berurutan.
Kontraksi premature ventrikel (PVC = premature ventricular contraction) terjadi
akibat peningkatan otomatisasi sel otot ventrikel. PVC biasa disebabkan oleh
toksisitas digitalis, hipoksia, hipokalemia, demam, asidosis, latihan, atau
peningkatan sirkulasi katekolamin.
b. Takikardi Ventrikel
TV didefenisikan sebagai tiga atau lebih DVP dalam satu baris. Ini dikenali dengan
kompleks QRS yang lebar dan dalam satu baris. Ini dikenali dengan kompleks QRS
yang lebar dan aneh terjadi pada irama yang hampir teratur pada frekwensi lebih
dari 100 denyut/menit. Gelombang P biasanya tidak terlihat dan jika terlihat tidak
berhubungan dengan QRS. TV dapat terjadi sebagai irama yang pendek, tidak terus
menerus atau lebih panjang . Frekwensi 100-170 denyut/menit, irama ini
mengganggu irama dasar, irama mungkin teratur, kompleks QRS . 0,12 detik
lebarnya. Takikardi ventrikel sangat berbahaya dan harus dianggap sebagai
keadaan gawat darurat. Pasien biasanya sadar akan adanya irama cepat ini dan
sangat cemas.
c. Fibrilasi Ventrikel
Didefenisikan sebagai depolarisasi ventrikel tidak efektif, cepat dan tidak teratur.
Tidak ada jarak kompleks yang terlihat. Pada disritmia ini denyut jantung tidak
terdengar dan tidak teraba, dan tidak ada respirasi. Polanya sangat ireguler dan
dapat dibedakan dengan disritmia tipe lainnya. Karena tidak ada koordinasi
aktivitas jantung, maka dapat terjadi henti jantung dan kematian bila fibrilasi
ventrikel tidak segera dikoreksi.

4. ABNORMALITAS HANTARAN
a. Penyekat AV Derajat-Satu
Biasanya berhubungan dengan penyakit jantung organic atau mungkin disebabkan
pleh efek digitalis. Hal ini biasanya terlihat pada pasien dengan infark miokard
dinding inferior jantung.
b. Penyekat AV Derajat-Dua
Juga disebabkan oleh penyakit jantung organic, IM, atau intoksikasi digitalis. Bentuk
penyekat ini menghasilkan penurunan frekuensi jantung dan biasanya penurunan
curah jantung(curah jantung = volume sekuncup x frekuensi jantung).
c. Penyekat AV Derajat-Tiga
Juga berhubungan dengan penyakit jantung organik, intoksikasi digitalis, dan MI.
frekuensi jantung berkurang drastis, mengakibatkan penurunan perfusi ke organ
vital. Seperti otak, jantung, paru, dan kulit.
d. Asistole Ventrikel
Tidak akan terjadi kompleks QRS. Tidak ada denyut jantung, denyut nadi dan
pernafasan. Tanpa penatalaksanaan segera, asistole ventrikel sangat fatal.