You are on page 1of 34

BAB I

TEORI DASAR
A. Pengertian Diabetes Mellitus Tipe 2
Dalam DM Tipe 2, pankreas dapat menghasilkan cukup jumlah insulin untuk
metabolisme glukosa (gula), tetapi tubuh tidak mampu untuk memanfaatkan
secara efisien. Seiring waktu, penurunan produksi insulin dan kadar glukosa
darah meningkat (dhi, 2!""). Diabetes mellitus sebelumn#a dikatakan diabetes
tidak tergantung insulin atau diabetes pada orang dewasa. $ni adalah istilah #ang
digunakan untuk indi%idu #ang relatif terkena diabetes (bukan #ang absoult)
defisiensi insulin. &rang dengan jenis diabetes ini biasan#a resisten terhadap
insulin. $ni adalah diabetes sering tidak terdiagnosis dalam jangka waktu #ang
lama karena hiperglikemia ini sering tidak berat cukup untuk mempro%okasi
gejala n#ata dari diabetes. 'amun demikian, pasien tersebut adalah risiko
peningkatan pengembangan komplikasi macro%ascular dan mikro%askuler
(()&,"***). +aktor #ang diduga men#ebabkan terjadin#a resistensi insulin dan
hiperinsulinemia ini adalah adan#a kombinasi antara kelainan genetik, obesitas,
inaktifitas, faktor lingkungan dan faktor makanan (Tjek#an, 2!!,).
B. Patofisiologi Diabetes Mellitus Tipe 2
-ada DM tipe 2, sekresi insulin di fase " atau early peak #ang terjadi dalam
./"! menit pertama setelah makan #aitu insulin #ang disekresi pada fase ini
adalah insulin #ang disimpan dalam sel beta (siap pakai) tidak dapat menurunkan
glukosa darah sehingga merangsang fase 2 adalah sekresi insulin dimulai 2!
menit setelah stimulasi glukosa untuk menghasilkan insulin lebih ban#ak, tetapi
sudah tidak mampu meningkatkan sekresi insulin sebagaimana pada orang
normal. 0angguan sekresi sel beta men#ebabkan sekresi insulin pada fase "
tertekan, kadar insulin dalam darah turun men#ebabkan produksi glukosa oleh
hati meningkat, sehingga kadar glukosa darah puasa meningkat. Secara
"
berangsur/angsur kemampuan fase 2 untuk menghasilkan insulin akan menurun.
Dengan demikian perjalanan DM tipe 2, dimulai dengan gangguan fase " #ang
men#ebabkan hiperglikemi dan selanjutn#a gangguan fase 2 di mana tidak terjadi
hiperinsulinemi akan tetapi gangguan sel beta. -enelitian menunjukkan adan#a
hubungan antara kadar glukosa darah puasa dengan kadar insulin puasa. -ada
kadar glukosa darah puasa 1!/"2! mg3dl kadar insulin puasa meningkat tajam,
akan tetapi jika kadar glukosa darah puasa melebihi "2! mg3dl maka kadar
insulin tidak mampu meningkat lebih tinggi lagi4 pada tahap ini mulai terjadi
kelelahan sel beta men#ebabkan fungsin#a menurun. -ada saat kadar insulin
puasa dalam darah mulai menurun maka efek penekanan insulin terhadap
produksi glukosa hati khususn#a glukoneogenesis mulai berkurang sehingga
produksi glukosa hati makin meningkat dan mengakibatkan hiperglikemi pada
puasa. +aktor/faktor #ang dapat menurunkan fungsi sel beta diduga merupakan
faktor #ang didapat (acquired) antara lain menurunn#a massa sel beta, malnutrisi
masa kandungan dan ba#i, adan#a deposit amil#n dalam sel beta dan efek toksik
glukosa (glucose toXicity) (Schteingart, 2!!5 dikutip oleh $ndraswari, 2!"!).
-ada sebagian orang kepekaan jaringan terhadap kerja insulin tetap dapat
dipertahankan sedangkan pada sebagian orang lain sudah terjadi resistensi insulin
dalam beberapa tingkatan. -ada seorang penderita dapat terjadi respons
metabolik terhadap kerja insulin tertentu tetap normal, sementara terhadap satu
atau lebih kerja insulin #ang lain sudah terjadi gangguan. 6esistensi insulin
merupakan sindrom #ang heterogen, dengan faktor genetik dan lingkungan
berperan penting pada perkembangann#a. Selain resistensi insulin berkaitan
dengan kegemukan, terutama gemuk di perut, sindrom ini juga tern#ata dapat
terjadi pada orang #ang tidak gemuk. +aktor lain seperti kurangn#a aktifitas fisik,
makanan mengandung lemak, juga din#atakan berkaitan dengan perkembangan
terjadin#a kegemukan dan resistensi insulin ($ndraswari, 2!"!).
C. Etiologi Diabetes Mellitus Tipe 2
2
7aitu diabetes #ang dikarenakan oleh adan#a kelainan sekresi insulin #ang
progresif dan adan#a resistensi insulin. -ada pasien/pasien dengan Diabetes
Mellitus tak tergantung insulin ('$DDM), pen#akitn#a mempun#ai pola familial
#ang kuat. '$DDM ditandai dengan adan#a kelainan dalam sekresi insulin
maupun dalam kerja insulin. -ada awaln#a kelihatan terdapat resistensi dari sel/
sel sasaran terhadap kerja insulin. $nsulin mula/mula mengikat dirin#a kepada
reseptor/reseptor permukaan sel tertentu, kemudian terjadi reaksi intraselular
#ang meningkatkan transport glukosa menembus membrane sel. -ada pasien/
pasien dengan '$DDM terdapat kelainan dalam pengikatan insulin dengan
reseptor. $ni dapat disebabkan oleh berkurangn#a jumlah tempat reseptor #ang
responsi%e insulin pada membrane sel. kibatn#a, terjadi penggabungan
abnormal antara kompleks reseptor insulin dengan sistem transport glukosa.
8adar glukosa normal dapat dipertahankan dalam waktu #ang cukup lama
dengan meningkatkan sekresi insulin, tetapi pada akhirn#a sekresi insulin
menurun, dan jumlah insulin #ang beredar tidak lagi memadai untuk
mempertahankan euglikemia. Sekitar 1!9 pasien '$DDM mengalami obesitas.
8arena obesitas berkaitan dengan resistensi insulin, maka kemungkinan besar
gangguan toleransi glukosa dan diabetes mellitus #ang pada akhirn#a terjadi pada
pasien/pasien '$DDM merupakan akibat dari obesitasn#a. -engurangan berat
badan seringkali dikaitkan dengan perbaikan dalam sensiti%itas insulin dan
pemilihan toleransi glukosa (6akhmadan#,2!"!).
D. Gambaran linis
:eberapa keluhan dan gejala #ang perlu mendapat perhatian ialah (gustina,
2!!*);
a. -enurunan berat badan
-enurunan berat badan #ang berlangsung dalam waktu relatif singkat
harus menimbulkan kecurigaan. )al ini disebabkan glukosa dalam darah
tidak dapat masuk ke dalam sel, sehingga sel kekurangan bahan bakar
.
untuk menghasilkan tenaga. <ntuk kelangsungan hidup, sumber tenaga
terpaksa diambil dari cadangan lain #aitu sel lemak dan otot. kibatn#a
penderita kehilangan jaringan lemak dan otot sehingga menjadi kurus.
b. :an#ak kencing
8arena sifatn#a, kadar glukosa darah #ang tinggi akan men#ebabkan
ban#ak kencing. 8encing #ang sering dan dalam jumlah ban#ak akan
sangat mengganggu penderita, terutama pada waktu malam hari.
c. :an#ak minum
6asa haus sering dialami oleh penderita karena ban#akn#a cairan #ang
keluar melalui kencing. 8eadaan ini justru sering disalah tafsirkan. Dikira
sebab rasa haus ialah udara #ang panas atau beban kerja #ang berat. <ntuk
menghilangkan rasa haus itu penderita minum ban#ak.
d. :an#ak makan
8alori dari makanan #ang dimakan, setelah dimetabolisme menjadi
glukosa dalam darah tidak seluruhn#a dapat dimanfaatkan, penderita selalu
merasa lapar.
8eluhan lain;
a. 0angguan saraf tepi 3 8esemutan
-enderita mengeluh rasa sakit atau kesemutan terutama pada kaki di
waktu malam, sehingga mengganggu tidur. 0angguan penglihatan -ada
fase awal pen#akit Diabetes sering dijumpai gangguan penglihatan #ang
mendorong penderita untuk mengganti kacamatan#a berulang kali agar ia
tetap dapat melihat dengan baik.
b. 0atal 3 :isul
8elainan kulit berupa gatal, biasan#a terjadi di daerah kemaluan atau
daerah lipatan kulit seperti ketiak dan di bawah pa#udara. Sering pula
dikeluhkan timbuln#a bisul dan luka #ang lama sembuhn#a. =uka ini dapat
timbul akibat hal #ang sepele seperti luka lecet karena sepatu atau tertusuk
peniti.
c. 0angguan >reksi
2
0angguan ereksi ini menjadi masalah tersembun#i karena sering tidak
secara terus terang dikemukakan penderitan#a. )al ini terkait dengan
buda#a mas#arakat #ang masih merasa tabu membicarakan masalah seks,
apalagi men#angkut kemampuan atau kejantanan seseorang.
d. 8eputihan
-ada wanita, keputihan dan gatal merupakan keluhan #ang sering
ditemukan dan kadang/kadang merupakan satu/satun#a gejala #ang
dirasakan.
E. Diagnosa Diabetes Melitus Tipe 2
Dalam menegakkan diagnosis DM harus diperhatikan asal bahan darah #ang
diambil dan cara pemeriksaan #ang dipakai (Shahab,2!!?).
a. -emeriksaan -en#aring
-emeriksaan pen#aring perlu dilakukan pada kelompok dengan salah
satu faktor risiko untuk DM, #aitu;
") 8elompok usia dewasa tua ( @ 25 tahun )
2) 8egemukan A:: (kg) @ "2!9 :: idaman atau $MT @ 2, (kg3m
2
)B
.) Tekanan darah tinggi (@ "2!3*! mmhg)
2) 6iwa#at keluarga DM
5) 6iwa#at kehamilan dengan bb lahir ba#i @ 2!!! gram
?) 6iwa#at dm pada kehamilan
,) Dislipidemia ()D= C .5 mg3dl dan atau trigliserida @ 25! mg3dl
1) -ernah T0T (toleransi glukosa terganggu) atau 0D-T (glukosa darah
puasa terganggu)
Tabel ".
8adar glukosa darah sewaktuD dan puasaD sebagai patokan pen#aring dan
diagnosis DM (mg3dl)
a!ar glu"osa !ara# se$a"tu
Bu"an DM Belum pasti DM DM
Plasma %ena C ""! ""! E "** F2!!
Dara# apiler C *! *! / "** F2!!
5
a!ar glu"osa !ara# puasa
Bu"an DM Belum pasti DM DM
Plasma %ena C ""! ""! E "25 F"2?
Dara# apiler

C *! *! / "!* F""!
Sumber ; -erkeni, 2!!?
8eterangan;
Dmetode enGimatik
b. =angkah/langkah untuk menegakkan diagnosis Diabetes Melitus
Diagnosis klinis DM umumn#a akan dipikirkan bila ada keluhan khas
DM berupa poliuria, polidipsia, polifagia, lemah, dan penurunan berat
badan #ang tidak dapat dijelaskan sebabn#a. 8eluhan lain #ang mungkin
dikemukakan pasien adalah kesemutan, gatal, mata kabur dan impotensia
pada pasien pria, serta pruritus %ul%ae pada pasien wanita. Hika keluhan
khas, pemeriksaan glukosa darah sewaktu 2!! mg3dl sudah cukup untuk
menegakkan diagnosis DM. )asil pemeriksaan kadar glukosa darah puasa
"2? mg3dl juga digunakan untuk patokan diagnosis DM. <ntuk kelompok
tanpa keluhan khas DM, hasil pemeriksaan glukosa darah #ang baru satu
kali saja abnormal , belum cukup kuat untuk menegakkan diagnosis klinis
DM. Diperlukan pemastian lebih lanjut dengan mendapatkan sekali lagi
angka abnormal, baik kadar glukosa darah puasa "2? mg3dl, kadar glukosa
darah sewaktu 2!! mg3dl pada hari #ang lain, atau dari hasil tes toleransi
glukosa oral (TT0&) #ang abnormal.
Iara pelaksanaan TT0& menurut ()& "*15
") . (tiga) hari sebelumn#a makan seperti biasa
2) 8egiatan jasmani secukupn#a, seperti #ang biasa dilakukan
.) -uasa semalam, selama "!/"2 jam
2) 8adar glukosa darah puasa diperiksa
5) Diberikan glukosa ,5 gram atau ",,5 gram3kgbb, dilarutkan dalam air
25! ml dan diminum selama3dalam waktu 5 menit
?) Diperiksa kadar glukosa darah 2 (dua) jam sesudah beban glukosa4
selama pemeriksaan sub#ek #ang diperiksa tetap istirahat dan tidak
merokok.
?
8riteria diagnostik Diabetes MelitusD
") 8adar glukosa darah sewaktu (plasma %ena) 2!! mg3dl , atau
2) 8adar glukosa darah puasa (plasma %ena) "2? mg3dl (-uasa berarti
tidak ada masukan kalori sejak "! jam terakhir ) atau
.) 8adar glukosa plasma 2!! mg3dl pada 2 jam sesudah beban glukosa ,5
gram pada TT0&DD
D 8riteria diagnostik tsb harus dikonfirmasi ulang pada hari #ang lain,
kecuali untuk keadaan khas hiperglikemia dengan dekompensasi metabolik
akut, seperti ketoasidosis atau berat badan #ang menurun cepat.
DDIara diagnosis dengan kriteria ini tidak dipakai rutin diklinik
&. &a"tor Resi"o Diabetes Mellitus Tipe 2
dapun +aktor resikon#a #aitu (6akhmadan#, 2!"!);
 <nchangeable 6isk +actor
". 8elainan 0enetik
Diabetes dapat menurun menurut silsilah keluarga #ang
mengidap diabetes mellitus, karena kelainan gen #ang
mengakibatkan tubuhn#a tak dapat menghasilkan insulin dengan
baik.
2. <sia
<mumn#a manusia mengalami perubahan fisiologis #ang
secara drastis menurun dengan cepat setelah usia 2! tahun.
Diabetes sering muncul setelah seseorang memasuki usia rawan
tersebut, terutama setelah usia 25 tahun pada mereka #ang berat
badann#a berlebih, sehingga tubuhn#a tidak peka lagi terhadap
insulin.
 Ihangeable risk factor
". Stress
Stress kronis cenderung membuat seseorang mencari
makanan #ang manis/manis dan berlemak tinggi untuk
meningkatkan kadar serotonin otak. Serotonin ini memiliki efek
penenang sementara untuk meredakan stress, tetapi gula dan lemak
,
itulah #ang berbaha#a bagi mereka #ang beresiko terkena diabetes
mellitus.
2. -ola Makan #ang Salah
8urang giGi atau kelebihan berat badan keduan#a
meningkatkan resiko terkena diabetes mellitus. 8urang giGi
(malnutrisi) dapat merusak pankreas, sedangkan berat badan lebih
(obesitas) mengakibatkan gangguan kerja insulin ( resistensi
insulin).
.. Minimn#a kti%itas +isik
Setiap gerakan tubuh dengan tujuan meningkatkan dan
mengeluarkan tenaga dan energi, #ang biasa dilakukan atau
akti%itas sehari/hari sesuai profesi atau pekerjaan. Sedangkan
faktor resiko penderita DM adalah mereka #ang memiliki akti%itas
minim, sehingga pengeluaran tenaga dan energi han#a sedikit.
2. &besitas
1!9 dari penderita '$DDM adalah &besitas3gemuk.
5. Merokok
Sebuah uni%ersitas di Swiss membuat suatu analisis 25 kajian
#ang men#elidiki hubungan antara merokok dan diabetes #ang
disiarkan antara "**2 dan 2!!?, dengan seban#ak ",2 juta peserta
#ang ditelusuri selama .! tahun. Mereka mendapati resiko bahkan
lebih tinggi bagi perokok berat. Mereka #ang menghabiskan
sedikitn#a 2! batang rokok sehari memiliki resiko terserang
diabetes ?29 lebih tinggi dibandingkan dengan orang #ang tidak
merokok. Merokok dapat mengakibatkan kondisi #ang tahan
terhadap insulin, kata para peneliti tersebut. $tu berarti merokok
dapat mencampuri cara tubuh memanfaatkan insulin. 8ekebalan
tubuh terhadap insulin biasan#a mengawali terbentukn#a Diabetes
tipe 2.
?. )ipertensi
1
-ada orang dengan diabetes mellitus, hipertensi berhubungan
dengan resistensi insulin dan abnormalitas pada sistem renin/
angiotensin dan konsekuensi metabolik #ang meningkatkan
morbiditas. bnormalitas metabolik berhubungan dengan
peningkatan diabetes mellitus pada kelainan fungsi tubuh3
disfungsi endotelial. Sel endotelial mensintesis beberapa substansi
bioaktif kuat #ang mengatur struktur fungsi pembuluh darah.
G. Strategi Penanggulangan Diabetes Mellitus Tipe 2
dapun stategi penanggulangannn#a sebagai berikut (Moh Hoeharno,2!!*);
". -rimordial pre%ention
-rimordial pre%ention merupakan upa#a untuk mencegah terjadin#a
risiko atau mempertahankan keadaan risiko rendah dalam mas#arakat
terhadap pen#akit secara umum. -ada upa#a penanggulangan DM, upa#a
pencegahan #ang sifatn#a primordial adalah ;
a. $nter%ensi terhadap pola makan dengan tetap mempertahankan pola
makan mas#arakat #ang masih tradisional dengan tidak
membuda#akan pola makan cepat saji #ang tinggi lemak,
b. Membuda#akan kebiasaan puasa senin dan kamis
c. $nter%ensi terhadap aktifitas fisik dengan mempertahankan kegiatan/
kegiatan mas#arakat sehubungan dengan akti%itas fisik berupa
olahraga teratur (lebih mengarahkan kepada mas#arakat kerja) dimana
kegiatan/kegiatan mas#arakat #ang biasan#a aktif secara fisik seperti
kebiasaan berkebun sekalipun dalam lingkup kecil namun dapat
bermanfaat sebagai sarana olahraga fisik.
d. Menanamkan kebiasaan berjalan kaki kepada mas#arakat
2. )ealth promotion
)ealth promotion sehubungan dengan pemberian muatan informasi
kepada mas#arakat sehubungan dengan masalah kesehatan. Dan pada
upa#a pencegahan DM, tindakan #ang dapat dilakukan adalah ;
*
a. -emberian informasi tentang manfaat pemberian S$ eksklsif kepada
mas#arakat khususn#a kaum perempuan untuk mencegah terjadin#a
pemberian susu formula #ang terlalu dini
b. -emberian informasi akan pentingn#a akti%itas olahraga rutin minimal
"5 menit sehari
.. Spesific protection
Spesific protection dilakukan dalam upa#a pemberian perlindungan
secara dini kepada mas#arakat sehubungan dengan masalah kesehatan.
-ada beberapa pen#akit biasan#a dilakukan dalam bentuk pemberian
imunisasi namun untuk perkembangan sekarang, diabetes mellitus dapat
dilakukan melalui ;
a. -emberian penetral radikal bebas seperti nikotinamid
b. Mengistirahatkan sel/beta melalui pengobatan insulin secara dini
c. -enghentian pemberian susu formula pada masa neonatus dan ba#i
sejak dini
d. -emberian imunosupresi atau imunomodulasi
2. >arl# diagnosis and promp treatment
>arl# diagnosis and prompt treatmen dilakukan sehubungan dengan
upa#a pendeteksian secara dini terhadap indi%idu #ang nantin#a
mengalami DM dimasa mendatang sehingga dapat dilakukan upa#a
penanggulangan sedini mungkin untuk mencegah semakin
berkembangn#a risiko terhadap timbuln#a pen#akit tersebut. <pa#a
sehubungan dengan earl# diagnosis pada DM adalah dengan melakukan ;
a. Melakukan skrining DM di mas#arakat
b. Melakukan sur%ei tentang pola konsumsi makanan di tingkat keluarga
pada kelompok mas#arakat
5. Disabilit# limitation
Disabilit# limitation adalah upa#a/upa#a #ang dilakukan untuk
mencegah dampak lebih besar #ang diakibatkan oleh DM #ang ditujukan
kepada seorang #ang telah diangap sebagai penderita DM karena risiko
keterpaparan sangat tinggi. <pa#a #ang dapat dilakukan adalah ;
a. -emberian insulin #ang tepat waktu
"!
b. -enanganan secara komprehensif oleh tenaga ahli medis di rumah sakit
c. -erbaikan fasilitas/fasilitas pela#anan #ang lebih baik
?. 6ehabilitation
6ehabilitation ditujukan untuk mengadakan perbaikan/perbaikan
kembali pada indi%idu #ang telah mengalami sakit. -ada penderita DM,
upa#a rehabilitasi #ang dapat dilakukan adalah ;
a. -engaturan diet makanan sehari/hari #ang rendah lemak dan
pengkonsumsian makanan karbohidrat tinggi #ang alami
b. -emeriksaan kadar glukosa darah secara teratur dengan melaksanakan
pemeriksaan laboratorium komplit minimal sekali sebulan
c. -enghindaran atau penggunaan secara bijaksana terhadap obat/obat
#ang diabetagonik.
'. Pen(ega#an Diabetes Mellitus Tipe 2
dapun Tahap pencegahann#a #aitu (8onsensus,2!!?);
". -encegahan -rimer
-encegahan primer adalah upa#a #ang ditujukan pada orang/orang
#ang termasuk kelompok risiko tinggi, #akni mereka #ang belum
menderita, tetapi berpotensi untuk menderita DM. -en#uluhan sangat
penting perann#a dalam upa#a pencegahan primer. Mas#arakat luas
melalui lembaga swada#a mas#arakat dan lembaga sosial lainn#a harus
diikutsertakan. Demikian pula pemerintah melalui semua jajaran terkait
seperti Departemen 8esehatan dan Departemen -endidikan perlu
memasukkan upa#a pencegahan primer DM dalam program pen#uluhan
dan pendidikan kesehatan. Sejak masa prasekolah hendakn#a telah
ditanamkan pengertian mengenai pentingn#a kegiatan jasmani teratur,
pola dan jenis makanan #ang sehat, menjaga badan agar tidak terlalu
gemuk, dan risiko merokok bagi kesehatan.
2. -encegahan Sekunder
-encegahan sekunder adalah upa#a mencegah atau menghambat
timbuln#a pen#ulit pada pasien #ang telah menderita DM. Dilakukan
dengan pemberian pengobatan #ang cukup dan tindakan deteksi dini
""
pen#ulit sejak awal pengelolaan pen#akit DM. Salah satu pen#ulit DM
#ang sering terjadi adalah pen#akit kardio%askular #ang merupakan
pen#ebab utama kematian pada pen#andang diabetes.
-encegahan sekunder dapat dilakukan dengan ;
a. Skrinning
Skrinning dilakukan dengan menggunakan tes urin, kadar gula darah
puasa, dan 0$T. Skrinning direkomendasikan untuk ;
− &rang/orang #ang mempun#ai keluarga diabetes
− &rang/orang dengan kadar glukosa abnormal pada saat hamil
− &rang/orang #ang mempun#ai gangguan %askuler
− &rang/orang #ang gemuk
b. -engobatan
-engobatan diabetes mellitus bergantung kepada pengobatan diet
dan pengobatan bila diperlukan. 8alau masih bisa tanpa obat, cukup
dengan menurunkan berat badan sampai mencapai berat badan ideal.
<ntuk itu perlu dibantu dengan diet dan bergerak badan.
-engobatan dengan perencanaan makanan (diet) atau terapi nutrisi
medik masih merupakan pengobatan utama, tetapi bilamana hal ini
bersama latihan jasmani3kegiatan fisik tern#ata gagal maka diperlukan
penambahan obat oral. &bat hipoglikemik oral han#a digunakan untuk
mengobati beberapa indi%idu dengan DM tipe $$. &bat ini
menstimulasi pelapisan insulin dari sel beta pancreas atau pengambilan
glukosa oleh jaringan perifer.
Tabel 2
kti%itas &bat )ipoglisemik &ral
&bat =aman#a jam Dosis
laGim3hari
8lorpropamid (diabinise) ?! "
0liGipid (glucotrol) "2/22 "/2
"2
0liburid (diabeta, micronase) "?/22 "/2
TolaGamid (tolinase) "2/"? "/2
Tolbutamid (orinase) ?/"2 "/.
c. D$>T
Diet adalah penatalaksanaan #ang penting dari kedua tipe DM.
makanan #ang masuk harus dibagi merata sepanjang hari. $ni harus
konsisten dari hari kehari. dalah sangat penting bagi pasien #ang
menerima insulin dikordinasikan antara makanan #ang masuk dengan
akti%itas insulin lebih jauh orang dengan DM tipe $$, cenderung
kegemukan dimana ini berhubungan dengan resistensi insulin dan
hiperglikemia. Toleransi glukosa sering membaik dengan penurunan
berat badan. ()endrawan,2!!2).
") Modifikasi dari faktor/faktor resiko
− Menjaga berat badan
− Tekanan darah
− 8adar kolesterol
− :erhenti merokok
− Membiasakan diri untuk hidup sehat
− :iasakan diri berolahraga secara teratur. &lahraga adalah
akti%itas fisik #ang terencana dan terstruktur #ang
memanfaatkan gerakan tubuh #ang berulang untuk mencapai
kebugaran.
− )indari menonton tele%isi atau menggunakan komputer terlalu
lama, karena hali ini #ang men#ebabkan akti%itas fisik
berkurang atau minim.
− Hangan mengonsumsi permen, coklat, atau snack dengan
kandungan. garam #ang tinggi. )indari makanan siap saji
dengan kandungan kadar karbohidrat dan lemak tinggi.
− 8onsumsi sa#uran dan buah/buahan.
.. -encegahan Tersier
".
-encegahan tersier ditujukan pada kelompok pen#andang diabetes
#ang telah mengalami pen#ulit dalam upa#a mencegah terjadin#a
kecacatan lebih lanjut. <pa#a rehabilitasi pada pasien dilakukan sedini
mungkin, sebelum kecacatan menetap. Sebagai contoh aspirin dosis
rendah (1!/.25 mg3hari) dapat diberikan secara rutin bagi pen#andang
diabetes #ang sudah mempun#ai pen#ulit makroangiopati. -ada upa#a
pencegahan tersier tetap dilakukan pen#uluhan pada pasien dan keluarga.
Materi pen#uluhan termasuk upa#a rehabilitasi #ang dapat dilakukan
untuk mencapai kualitas hidup #ang optimal . -encegahan tersier
memerlukan pela#anan kesehatan holistik dan terintegrasi antar disiplin
#ang terkait, terutama di rumah sakit rujukan. 8olaborasi #ang baik antar
para ahli di berbagai disiplin (jantung dan ginjal, mata, bedah ortopedi,
bedah %askular, radiologi, rehabilitasi medis, giGi, podiatrist, dll.) sangat
diperlukan dalam menunjang keberhasilan pencegahan tersier
(8onsensus,2!!?).
0ambar "
-encegahan Diabetes Mellitus Tipe 2
"2
I. Penggolongan Obat untu" Diabetes Melitus Tipe 2
Terdapat 2 kategori agen diabetes oral #aitu (8atGung,2!!,);
". $nsulin sekretagogues #ang terdiri daripada . jenis #aitu;
a. Sulfonilurea
Mekanisme kerja utaman#a adalah untuk meningkatkan pengeluaran
insulin daripada pankreas. &bat ini akan berikatan dengan reseptor
sulfonilurea #ang akan menginhibisi efluks ion kalium melalui
kanaln#a sehingga men#ebabkan depolarisasi. Depolarisasi akan
membuka kanal kalsium #ang men#ebabkan influJ kalsium dan
pelepasan insulin.
)al/hal #ang harus diperhatikan dalam penggunaan obat
golongan ini ;
"5
 0olongan sulfonil urea cenderung meningkatkan berat badan.
 -enggunaann#a harus hati/hati pada pasien usia lanjut,
gangguan fungsi hati dan ginjal. 8lorpropamid dan
glibenklamid tidak dianjurkan untuk pasien usia lanjut dan
pasien insufisiensi ginjal. -ada pasien insufisiensi ginjal
dapat digunakan glikuidon, gliklaGid atau tolbutamid #ang
kerjan#a singkat.
 (anita men#usui, porfiria dan ketoasidosis merupakan
kontraindikasi bagi pemberian sulfonilurea.
 $nsulin kadang/kadang diperlukan bila timbul keadaan
patologis tertentu seperti infark miokard, infeksi, koma dan
trauma. $nsulin juga diperlukan pada keadaan kehamilan.
 >fek samping, umumn#a ringan dan frekuensin#a rendah
diantaran#a gejala saluran cerna dan sakit kepala. 0ejala
hematologik termasuk trombositopenia, agrunolositosis dan
anemia aplastik dapat terjadi tetapi jarang sekali.
)ipoglikemi dapat terjadi bila dosis tidak tepat atau diet
terlalu ketat, juga pada gangguan fungsi hati3ginjal atau pada
orang usia lanjut. )ipoglikemia sering ditimbulkan oleh
D& kerja lama.
 $nteraksi, ban#ak obat #ang berinteraksi dengan sulfonilurea
sehingga risiko terjadin#a hipoglikemia dapat meningkat.
 Dosis, sebaikn#a dimulai dengan dosis lebih rendah dengan "
kali pemberian, dosis dinaikkan sesuai dengan respons
terhadap obat.
b. Meglitinid
"?
&bat ini memodulasi pelepasan insulin oleh sel beta pankreas dengan
meregulasi efluks kalium melalui kanal kalium seperti #ang
dibincangkan di atas. Hadi, ada tumpang tindih dengan sulfonilurea
dalam menempati tempat kerja dari obat/ obat tersebut karena
megtilinid mempun#ai dua tempat berikatan #aitu sama seperti
sulfonilurea dan tempat berikatan #ang unik.
c. Deri%at D/+enilalanin
'ateglinid #ang merupakan deri%at D/+enilalanin memstimulasi sel
beta melalui penutupan kanal kalium #ang sensiti%e terhadap T-
dengan cepat dan transien. $a juga men#ebabkan pelepasan insulin
sebagai respons inisial terhadap tes glukosa toleransi intra%ena. $ni
merupakan kelebihan utaman#a karena diabetes tipe 2 ini tiada respons
insulin inisial. -elepasan insulin #ang melebihi normal ini akan
mensuppresi pelepasan glukagon pada awal waktu saat makan dan
men#ebabkan berkurangn#a produksi glukosa dari hepar. 'ateglinid
sangat efektif apabila diberikan sebagai monoterapi atau
dikominasikan dengan agen lain seperti metformin. &bat ini
meningkatkan pelepasan insulin han#a apabila tinggin#a kadar insulin
namun tidak pada normoglikemi. Hadi insidensi hipoglikemi sangat
rendah berbanding dengan insulin sekretagogue lain.
2. :iguanida
:iguanida #aitu metformin #ang cara kerjan#a tidak bergantung
kepada sel beta namun bekerja dengan;
• Menurunkan glukoneogenesis renal dan hepar
• Memperlahankan absorpsi glukosa dari gastrointestinal dengan
meningkatkan kon%ersi glukosa pada laktat oleh enterosit
• Stimulasi glikolisis secara direk dengan meningkatkan pembuangan
glukosa dari darah
",
• Menurunkan kadar glukagon dalam plasma.
.. ThiaGolidinedion
ThiaGolidinedion bekerja dengan menurunkan resistensi insulin.
8erja primer obat ini adalah meregulasi gen #ang terlibat dalam
metabolism glukosa dan lipid serta diferensiasi adiposa. $a merupakan
ligan pada KperoJisome proliferator/acti%ated receptor/gamma (--6/L)M.
--6/L dijumpai pada otot, lemak dan hepar dan bertindak metabolisme
glukosa dan lemak, transduksi signal insulin dan diferensiasi adiposa.
&bat ini meningkatkan pengambilan dan utilisasi glukosa serta
memodulasi sintesa hormone lipid atau sitokin.
2. $nhibitor alpha/glukosidase
8anji kompleks, oligosakarida dan disakarida harus di pecahkan
menjadi monosakarida untuk diabsorpsi di duodenum dan jejunum.
-roses ini difasilitasi oleh enGim enterik termasuklah N/amilase dan N/
glukosidase #ang berlengketan dengan sel intestinal. karbose dan
miglitol merupakan kompetitif inhibitor pada N/glukosidase dan
menurunkan absorpsi post prandial. $ni akan menurunkan kadar glukosa
darah post prandial.
Tabel ).Penggolongan obat #ipogli"emi" oral
Golongan Conto# Sen*a$a Me"anisme er+a
Sulfonilurea 8lorpropamid
0libenklamida
0lipiGida
0likaGida
0limepirida
0likuidon
TolaGalim
Tolbutamid
Merangsang sekresi insulin di
kelenjar pankreas, sehingga
han#a efektif pada penderita
diabetes #ang sel/sel O
pankreasn#a masih berfungsi
dengan baik
"1
:iguanida Metformin
+enformin
:uformin
:ekerja langsung pada hati
(hepar),menghambat
glukoneogenesis di hati dan
meningkatkan penggunaan
glukosa di jaringan.
Meglitinid 6epaglinid :ekerja dengan cara mengikat
reseptor sulfonilurea dan
menutup T--sensitive
potassium chanel.
TiaGolidindion 6osiglitaGone
-ioglitaGone
Meningkatkan kepekaan
tubuh3sensiti%itas terhadap
insulin di jaringan perifer.
:erikatan dengan --6L
(peroJisome proliferators
acti%ated receptor/gamma) di
otot, jaringan lemak, dan hati
untuk menurunkan resistensi
insulin
-enghambat
enGim
alfaglukosidase
karbosa
Miglitol
Menghambat kerja enGim
alfaglukosidase #ang
mengubah di3polisakarida
menjadi monosakarida,
sehingga memperlambat
absorpsi glukosa kedalam
darah
"*
,. Anemia pa!a -ansia
nemia adalah gejala dari kondisi #ang mendasari, seperti kehilangan
komponen darah, elemen tak adekuat atau kurangn#a nutrisi #ang dibutuhkan
untuk pembentukan sel darah merah, #ang mengakibatkan penurunan kapasitas
pengangkut oksigen darah (Doenges, "***). nemia adalah istilah #ang
menunjukan rendahn#a hitungan sel darah merah dan kadar hemoglobin dan
hematokrit di bawah normal (SmeltGer, 2!!2 ; *.5).
$nsidensi anemia ber%ariasi tetapi diperkirakan sekitar .!9 penduduk dunia
menderita anemia, dimana pre%alensi tertinggi berada di negaraEnegara sedang
berkembang.
.. Definisi anemia
Seseorang dikatakan menderita anemia apabila konsentrasi hemoglobin
pada orang tersebut lebih rendah dari nilai normal hemoglobin #ang sesuai
dengan jenis kelamin dan umur dari orang tersebut. &leh :adan 8esehatan
Dunia (()&; (orld )ealth &rganiGation) telah ditetapkan batasan anemia
#aitu untuk wanita apabilah konsentrasi hemoglobinn#a di bawah "2 gr3d=
(,,5 mmol3=) dan untuk pria apabila konsentrasi hemoglobinn#a di bawah ".
gr 3 d= (1," mmol 3 =).
2. 8lasifikasi anemia
a. 8lasifikasi anemia berdasarkan morfologi eritrosit.
nemia berdasarkan morfologi eritrosit dibagi atas; mikrositikEhipokromik
(MIP C 1! fl, MI)I C .! g3l), normositikEnormokromik (MIP 1!E"!!
fl, MI)I .! E .5 g3l) dan makrositikEnormokromik (MIP @ "!! fl,
MI)I @ .5 g3l).
b. 8lasifikasi anemia berdasarkan beratEringan.
nemia berdasarkan berat ringann#a dibagi atas . tingkatan #aitu ringan,
sedang, dan berat.
.. Mekanisme terjadin#a anemia
da beberapa mekanisme untuk terjadin#a anemia, #aitu;
2!
•8ehilangan darah, misaln#a perdarahan.
•Menurunn#a umur hidup sel darah merah (eritrosit), misaln#a anemia
hemolitik,
•8elainan pada pembentukan sel darah merah (eritrosit), misaln#a
kelainan sintesis hemoglobin,
•:erkumpul dan dihancurkann#a eritrosit di dalam limpa #ang
membesar,
•Meningkatn#a %olume plasma, misaln#a kehamilan, splenomegali.
2. Tanda dan gejala anemia berdasarkan beratEringann#a anemia
Manifestasi gejala dan keluhan anemia tergantung dari beberapa faktor
antara lain;
•-enurunan kapasitas da#a angkut oksigen dari darah serta kecepatan dari
penurunann#a,
•Derajat serta kecepatan perubahan dari %olume darah,
•-en#akit dasar pen#ebab anemian#a,
•8apasitas kompensasi sistem kardiopulmonal.
5. )ubungan anemia dengan lansia
nemia merupakan salah satu gejala sekunder dari sesuatu pen#akit pada
lansia. nemia sering dijumpai pada lansia dan meningkatn#a insidensi
anemia dihubungkan dengan bertambahn#a usia telah menimbulkan spekulasi
bahwa penurunan hemoglobin kemungkinan merupakan konsekuensi dari
pertambahan usia. Tetapi ada 2 alasan untuk mempertimbangkan bahwa
anemia pada lansia merupakan tanda dari adan#a pen#akit. 8eban#akan
orangEorang lansia mempun#ai jumlah sel darah merah normal, demikian juga
dengan hemoglobin dan hematokritn#a. 8eban#akan pasien E pasien lansia
#ang menderita anemia dengan hemoglobin C "2 gr 3 d=, pen#akit dasarn#a
telah diketahui.
2"
-re%alensi anemia pada lansia adalah sekitar 1E229, dengan pre%alensi
tertinggi pada lakiElaki usia 15 tahun atau lebih. Dari beberapa hasil studi
lainn#a dilaporkan bahwa pre%alensi anemia pada lakiElaki lansia adalah 2,E
2!9 dan wanita lansia sekitar "?E2"9.
Sebagai pen#ebab tersering anemia pada orangEorang lansia adalah
anemia pen#akit kronik dengan pre%alensin#a sekitar .59, diikuti oleh
anemia defisiensi besi sekitar "59. -en#ebab lainn#a #aitu defisiensi %itamin
:"2, defisiensi asam folat, perdarahan saluran cerna dan sindroma
mielodisplastik.
Meningkatn#a perasaan lemah, lelah dan adan#a anemia ringan janganlah
dianggap han#a sebagai manifestasi dari pertambahan usia. &leh karena
keluhan/keluhan tersebut di atas merupakan gejala telah terjadin#a anemia
pada lansia. Selain gejalaEgejala tersebut di atas, palpitasi, angina dan
klaudikasio intermiten juga akan muncul oleh karena biasan#a pada lansia
telah terjadi kelainan arterial degeneratif. Muka pucat dan konjungti%a pucat
merupakan tanda #ang dapat diperca#ai bahwa seorang lansia itu sebenarn#a
telah menderita anemia.
-ada lansia penderita anemia berbagai pen#akit lebih mudah timbul dan
pen#embuhan pen#akit akan semakin lama. 7ang mana ini nantin#a akan
membawa dampak #ang buruk kepada orangEorang lansia. Dari suatu hasil
studi dilaporkan bahwa lakiElaki lansia #ang menderita anemia, resiko
kematiann#a lebih besar dibandingkan wanita lansia #ang menderita anemia.
Huga dilaporkan bahwa lansia #ang menderita anemia oleh karena pen#akit
infeksi mempun#ai resiko kematian lebih tinggi.
-enelusuran diagnosis anemia pada lansia memerlukan pertimbangan
klinis tersendiri. Dari e%aluasi epidemiologis menunjukkan walaupun telah
dilakukan pemeriksaan #ang mendalam, tern#ata masih tetap ada sekitar "5E
259 pasien anemia pada lansia #ang tidak terdeteksi pen#ebab anemia.
22
BAB II
AS/S
0ama Tn.Ds
,enis elamin -a"i 1 la"i
Tanggal !an Ta#un -a#ir 22 O"tober .23.
/sia 4. Ta#un
Alamat ,l. Mangga Besar
Status Pasien /mum
Ruang Ra$at %IP De$i Sarti"a
0o Re"am Me!i" 5.6777
Tanggal Masu" RS ). ,anuari 28.)
Tanggal eluar RS 6 &ebruari 28.)
Status Pulang Dipulang"an !an menerus"an !engan obat +alan
Do"ter Penanggung ,a$ab Dr.PR
0o Tanggal Pemeri"saan ,enis Pemeri"saan 'asil 0ilai Ru+u"an
.. ).98.928.) 'ematologi:
2.
)emoglobin ".,2 -ria; "2,! E ",,5 gr3dl
)ematokrit 2! -ria; 22 E 5"9
=eukosit ?.*!! 2.!!! E "!.!!! sel3mmQ
Trombosit ".*.!!! "5! E 2!!.!!! sel3mmQ
Diabetes:
0ula Darah Sewaktu 2?, Sampai "?!mg3dl
&aal Gin+al:
<reum 22,2 "5,! E 2.,2 mg3dl
8reatinin !,1? -ria; !,,2 E ",.? mg3dl
s.<rat 5,2 -ria; .,2 E ,,! mg3dl
&aal 'ati:
S0&T "! -ria; sampai ., <3$
S0-T "1 -ria; sampai 2" <3$
-ema":
8olesterol "." R 2!" mg3dl
Trigliserida 2!* -ria; ?! /"?5 mg3dl
)D= 25 -ria; .! E ,! mg3dl
=D= ,1 C ".! mg3dl
22
BAB III
PEMBA'ASA0
A. Diagnosis
Dilihat dari hasil pemeriksaan =aboratorium atas nama Tn. Ds,
kemungkinan beliau menderita diabetes mellitus tipe 2 disetai kadar trigliserida
tinggi ()ipertrigliserida) dan mengalami anemia ringan.
Dalam menegakkan diagnosis untuk mendukung hasil diagnosis, jika
seorang pasien menderita DM, maka bisa ditelusuri dengan beberapa pertan#aan
seperti berikut ini ;
• pakah pasien pernah mengalami gejala diabetes S
• pakah ada riwa#at keluarga #ang menderita DM S
• pakah sudah pernah di %onis Diabetes sebelumn#a S
• pakah pernah meminum obat antidiabetik S
Hika dari pertan#aan diatas benar memiliki riwa#at pen#akit DM maka ;
• pakah pasien meminum obat antidiabetikn#a teratur atau tidak S
• :agaimana akti%itas sehari/hari, jumlah kalori dan kandungan glukosa
makanan #ang dikonsumsin#a sehari/hari S
25
B. Dasar Pertimbangan
Dari hasil pemeriksaan =aboratorium atas nama Tn. Ds #ang menjadi dasar
pertimbangann#a, :eliau di diagnosis diabetes mellitus tipe 2 sebab jika dilihat
dari nilai rujukan kadar gula sewaktu tinggi (2?, mg3dl), dimana seharusn#a
kadar gula sewaktu nilai rujukan normaln#a "?! mg3dl. 8adar trigliserida tinggi
(2!* mg3dl) sedangkan )D= rendah (25 mg3dl). 'ilai hemoglobin rendah serta
nilai hematokrit dan trombosit kurang dari nilai rujukan normal.
Tn. Ds di diagnosis menderita diabetes mellitus tipe 2 disertai kadar
trigliserida tinggi ()ipertrigliserida), hal ini dapat terjadi dimana kadar glukosa
#ang tinggi akan merangsang pembentukan glikogen dari glukosa, sintesis asam
lemak dan kolesterol dari glukosa. 8adar glukosa darah #ang tinggi dapat
mempercepat pembentukan trigliserida dalam hati. Trigliserida merupakan salah
satu bagian komposisi lemak #ang ada dalam tubuh. Dimana jika kadar
trigliserida dalam batas normal mempun#ai fungsi #ang normal dalam tubuh dan
dijadikan sebagai sumber energi.
pabila kadar trigliserida tinggi, dalam jangka panjang akan men#ebabkan
artheosklorosis sehingga perlu pengawasan dalam pola makan (pengaturan diet).
8emungkinan Tn. Ds ada keluhan anemia ringan disebabkan Tn. Ds merasa
lemas, letih, lesu (5=) #ang diakibatkan kadar trigliserida tinggi, sehingga tidak
ada energi akibatn#a suplai hemoglobin dan trombosit dalam sel darah akan
mengalami penurunan dan menjadi anemia ringan.
-ada pasien #ang mempun#ai gejala klasik DM, bila hasil pemeriksaan
glukosa darah sewaktu @2!! mg3d= atau glukosa darah puasa @"2? mg3d=, maka
diagnosis DM bisa langsung ditegakkan (han#a memerlukan " kali pemeriksaan),
tetapi bila tidak ada gejala klasik, glukosa darah sewaktu @2!! mg3d= atau
glukosa darah puasa @"2? mg3d=, maka pemeriksaan ini harus diulang sekali
lagi. :ila hasil pemeriksaan glukosa darah sewaktu tetap menunjukkan @2!!
mg3d= atau glukosa darah puasa @"2? mg3d=, barulah diagnosis DM dapat
ditegakkan.
2?
Hadi, pasien #ang tidak mempun#ai gejala klasik memerlukan minimal 2 kali
pemeriksaan untuk didiagnosis DM (-owers, 2!!"). )b"c merupakan
pengukuran kadar glukosa darah #ang terikat pada )b secara kuat dan beredar
bersama eritrosit selama masa hidup eritrosit ("2! hari). 8euntungan dari
pengukuran )b"c adalah didapatkann#a perkiraan kadar glukosa darah rata/
rata selama . bulan, karena disimpulkan terdapat korelasi langsung antara kadar
)b"c dan kadar glukosa darah rata/rata selama . bulan. 0lukosa darah tidak
terkontrol bila )b"c mencapai 19 atau lebih, sedangkan glukosa darah
terkontrol bila )b"c kurang dari ,9 menurut American Diabetes Association
(D) atau kurang dari ?,59 menurut American Association of Clinical
ndocrinologist (I>) (Mathur, 2!!2).
C. Terapi *ang Diberi"an
.. 0on &arma"ologi
-erubahan ga#a hidup, meliputi;
− Menjaga berat badan
− Tekanan darah
− 8adar kolesterol
− :erhenti merokok
− Membiasakan diri untuk hidup sehat
− :iasakan diri berolahraga secara teratur. &lahraga adalah akti%itas fisik
#ang terencana dan terstruktur #ang memanfaatkan gerakan tubuh #ang
berulang untuk mencapai kebugaran.
− )indari menonton tele%isi atau menggunakan komputer terlalu lama,
karena hali ini #ang men#ebabkan akti%itas fisik berkurang atau minim.
− Hangan mengonsumsi permen, coklat, atau snack dengan kandungan.
garam #ang tinggi. )indari makanan siap saji dengan kandungan kadar
karbohidrat dan lemak tinggi.
− 8onsumsi sa#uran dan buah/buahan.
2,
-erubahan ga#a hidup ini bukan han#a untuk mengatasi DM #ang
dialami, tapi dapat juga membantu menanggulangi anemia #ang diderita
Tn.Ds
2. &arma"ologi
a. Menormal"an "a!ar glu"osa
• &bat golongan sulfonilurea dengan waktu kerja pendek seperti
tolbutamid atau glikuidon 2/. kali sehari.
Mekanisme kerja utaman#a adalah untuk meningkatkan
pengeluaran insulin daripada pankreas. &bat ini akan berikatan dengan
reseptor sulfonilurea #ang akan menginhibisi efluks ion kalium
melalui kanaln#a sehingga men#ebabkan depolarisasi. Depolarisasi
akan membuka kanal kalsium #ang men#ebabkan influJ kalsium dan
pelepasan insulin.
-edoman pemberian sulfonilurea pada DM usia lanjut; )arus
waspada akan timbuln#a hipoglikemia. $ni disebabkan karena
metabolisme sulfonilurea lebih lambat pada usia lanjut, dan seringkali
pasien kurang nafsu makan, sering adan#a gangguan fungsi ginjal dan
hati serta pengaruh interaksi sulfonilurea dengan obat/obatan lain.
• &bat dengan efek hipoglikemi #ang rendah, golongan biguanida
seperti Metformin (jika obesitas).
Mekanisme kerja obat golongan :iguanida #aitu metformin #ang
cara kerjan#a tidak bergantung kepada sel beta namun bekerja dengan;
 Menurunkan glukoneogenesis renal dan hepar
 Memperlahankan absorpsi glukosa dari gastrointestinal dengan
meningkatkan kon%ersi glukosa pada laktat oleh enterosit
 Stimulasi glikolisis secara direk dengan meningkatkan
pembuangan glukosa dari darah
 Menurunkan kadar glukagon dalam plasma.
Sehingga obat golongan ini dapat menurunkan kadar Trigliserida.
21
b. Mening"at"an 'D- !an menurun"an trigliseri!a
• &bat golongan fibrat atau niasin
Mekanisme kerja ; niasin merendahkan kadar plasma kolesterol dan
triasilgliserol. -roses penurunan trigliserol plasma bekerja dengan
memacu aktifitas lipase lipoprotein, sehingga menghidrolisis
triasilgliserol pada kilomikron dan P=D=, sehingga dapat
mempercepat pengeluaran partikel/partikel ini dari plasma.
(. 'emoglobin .);3 masi# !alam batas normal ma"a pasien
"emung"inan ter"ena anemia ringan
• &bat anemia defisiensi besi (+e). Iontohn#a ; +erro gradumet (:esi
($$) sulfat, dosis sehari " tablet)
Mekainsme kerja ; Gat besi membentuk inti dari cincin heme +e/
porfirin #ang bersama/sama dengan rantai globin membentuk
hemoglobin.
D. E<aluasi
-en#ebab terjadin#a diabetes mellitus diantaran#a, #aitu terjadin#a
penurunan produksi dan pengeluaran hormon #ang diatur oleh enGim/enGim #ang
juga mengalami penurunan pada usia lanjut. Salah satu hormon #ang menurun
sekresin#a pada usia lanjut adalah insulin. Terjadin#a resistensi insulin akibat
kurangn#a massa otot dan terjadin#a perubahan %askular serta asupan makanan
#ang tidak seimbang dengan akti%itas fisik #ang dilakukan.
E. Monitoring
• Mengatur kadar glukosa darah jangan sampai lebih dari "?! mg3d=, maka
perlu dilakukan pengecekan dengan melakukan kontrol ke dokter dan menjaga
agar )b"c selalu mendekati normal jangan sampai terjadi hipoglikemia.
• 8onsultasi dengan dokter dan apoteker apabila dalam minum obat dirasakan
terjadin#a interaksi obat, untuk menghindari efek samping #ang tidak
diinginkan dan agar efek terapi obat #ang dihasilkan bisa efektif.
2*
BAB I%
PE0/T/P
A. esimpulan
Diabetes Mellitus Tipe 2 adalah pankreas dapat menghasilkan cukup
jumlah insulin untuk metabolisme glukosa (gula), tetapi tubuh tidak mampu untuk
memanfaatkan secara efisien. Seiring waktu, penurunan produksi insulin dan
kadar glukosa darah meningkat. Dalam patofisiologi diabetes melitus tipe 2,
dimulai dengan gangguan fase earl#peak #ang men#ebabkan hiperglikemi dan
selanjutn#a gangguan fase sekresi insulin dimulai 2! menit setelah stimulasi
glukosa untuk menghasilkan insulin lebih ban#ak, tetapi sudah tidak mampu
meningkatkan sekresi insulin sebagaimana pada orang normal di mana tidak
terjadi hiperinsulinemi akan tetapi gangguan sel beta. '$DDM ditandai dengan
adan#a kelainan dalam sekresi insulin maupun dalam kerja insulin.
0ambaran klini terjadin#a DM tipe 2 ini #aitu melalui keluhan klasik
seperti penurunan berat badan, ban#ak kencing, ban#ak minum, ban#ak makan.
adapun keluhan lain #ang terjadi #aitu gangguan saraf tepi 3 kesemutan, gatal 3
bisul, gangguan ereksi dan keputihan. dalam menegakkan diagosis dm dapat
dilakukan berdasarkan cara pelaksanaan TT0& menurut ()& "*15.
+aktor risiko DM tipe 2 seperti genetik, usia, stres, minim gerak, pola
makan #ang salah, dan obesitas. -encegahann#a dilakukan pada tiga le%el, #aitu
primer berupa pen#uluhan pada faktor risiko4 sekunder berupa diagnosis dini
(skirning), pengobatan, dan diet4 tersier berupa tindakan rehabilitatif untuk
mencapai kualitas hidup #ang optimal. dapun strategi penanggulangan DM
#aitu primordial pre%ention, health promotion, spesific protection, earl#
diagnosis and prompt treatmen, disabilit# limitation dan rehabilitation. Tindakan
penanggulangan iaalah pengendalian DM #ang lebih diprioritaskan pada
.!
pencegahan dini melalui upa#a pencegahan faktor risiko DM seperti upa#a
promotif dan pre%entif dengan tidak mengabaikan upa#a kuratif dan rehabilitatif.
Dan adapun faktor penanggulangan Diabetes Melitus Tipe 2 #aitu melalui
>dukasi, -erencanaan Makan, kti%itas fisik dan -engobatan.
."
DA&TAR P/STAA
dhi , :a#u.T", 6odi#atul +. S. dan )ermans#ah,2!"". An arly Detection !ethod
of "ype-# Diabetes !ellitus in $ublic %ospital. Telkomnika, Pol.*, 'o.2, ugust
2!"", pp. 21,T2*2.
gustina, Tri ,2!!*.&ambaran Sikap $asien Diabetes !elitus Di $oli $enyakit
Dalam 'sud Dr(!oe)ardi Surakarta "erhadap *un+ungan ,lang *onsultasi
&i-i. 8T$ D.. +akultas $lmu 8esehatan <ni%ersitas Muhammadi#ah Surakarta,
Surakarta.
nonim., .nfo$/! Antidiabetik /ral, Polume ; $P >disi 5; Mei 2!!., :adan
-engawasan Makanan dan &bat.
$ndraswari, (iwi.2!"!. %ubungan .ndeks &likemik Asupan !akanan Dengan *adar
&lukosa Darah $ada $asien 'a)at 0alan Diabetes !ellitus "ipe-# Di 'sup Dr(
1ahidin Sudirohusodo. Skripsi Sarjana. -rogram Studi $lmu 0iGi , +akultas
8esehatan Mas#arakat, <ni%ersitas )asanuddin, Makassar.
$nfo -&M :D' ->'0(S' &:T D' M8'' 6>-<:=$8
$'D&'>S$.Polume ; $P >disi 5; Mei 2!!.
$sniati, 2!!., %ubungan "ingkat $engetahuan $enderita Diabetes !ilitus Dengan
*eterkendalian &ula Darah Di $oliklinik 's $er+an Dr( !( D+amil $adang
"ahun( Hurnal 8esehatan Mas#arakat, September 2!!,, $ (2).
8onsensus -engelolaan dan -encegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di $ndonesia 2!!? .
2!!?. http;33pen#akitdalam.files.wordpress.com32!!*3""3konsensus pengelolaaln/
dan/pencegahan/diabets/melitus/tipe/2/di/indonesia/2!!?.pdf
.2
Mohjuarno.2!!*. Makalah 8ontenporer 8onsentrasi >pidemiologi -asca Sarjana;
-enanggulangan Diabetes Melitus. Makassar ;<ni%ersitas )asanuddin.
Murwani, rita dan fifin Sholeha, 2!!,. $engaruh *onseling *eluarga "erhadap
$erbaikan $eran *eluarga Dalam $engelolaan Anggota *eluarga Dengan Dm
Di 1ilayah *er+a $uskesmas *okap . *ulon $rogo #223. Hurnal 8esehatan
Sur#a Medika 7og#akarta. $lmu 8eperawatan Stikes Sur#a 0lobal 7og#akarta.
'adesul, )endrawan. 2!!2. 4#5 0a)aban untuk #6 $enyakit !ana+er dan *eluhan-
keluhan /rang !apan( 8ompas.
&ral ntidiabetic gents UDe%eloped / pril "**24 September "**5 re%ised4
Hune "**?4 Hune "**,4 Hune "**14 Hul# "***4 Hune 2!!!4 Hune 2!!"4
September 2!!"4 Hul# 2!!24 Hune 2!!.4 &ctober 2!!,re%ised4 'o%ember
2!!,, +ebruar# 2!!1V M>D$I$D D6<0 <S> 6>P$>( I6$T>6$
+&6 &<T-T$>'T <S>
-harmaceutical care untuk pen#akit Diabetes Mellitus Direktorat :ina +armasi
8omunitas dan 8linik D$6H>' :ina 8efarmasian dan lat 8esehatan
D>-8>S 6$ 2!!5
-erkeni.2!"". mpat $ilar $engelolaan Diabetes.UonlineV. (diupdate "" 'o%ember
2!""). http;33www.smallcrab.com3 .Udiakses 2! 'o%ember 2!""V.
6akhmadan#, dkk. 2!"!. Makalah Diabetes Melitus. Hakarta ; <ni%ersitas $slam
'egeri
Shahab, lwi,2!!?.Diagnosis Dan $enatalaksanaan Diabetes !elitus (Disarikan
Dari *onsensus $engelolaan Diabetes !elitus Di .ndonesia 7 $erkeni
#228)(Subbagian >ndokrinologi Metabolik, :agian $lmu -en#akit Dalam, +k
<nsri3 6smh -alembang, -alembang.
..
Stockle#. $.)., Stockley9s Drug .nteractions, 2!!5, <ni%ersit# of 'ottingham
Medical School, 'ottingham, <8, -harmaceutical -ress.
Tje#an, Sur#adi 6.M, 2!!,.'isiko $enyakit Diabetes !ellitus "ipe # Di *alangan
$eminum *opi Di *otamadya $alembang "ahun #228-#223. Department &f
-ublic )ealth nd Iommunit# Medicine, Medical +acult#, Sriwija#a <ni%ersit#,
-alembang .!"2?, $ndonesia. !akara: *esehatan: ;ol( <<: =o( #: Desember
#2237 64-82 %al 64(
(aspadji, Sarwono dkk., 2!!*. $edoman Diet Diabetes !elitus. Hakarta; +8<$.
()&, "***. Defenition: Diagnosis and Classification of Diabetes !elitus and .ts
Complication.
.2