You are on page 1of 33

1

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Trauma termal menimbulkan morbiditas dan mortalitas yang cukup tinggi. Menguasai
prinsip-prinsip dasar resusitasi awal pada penderita trauma daan menerapkan tindakan
sederhana pada saat yang tepat dapat mengurangi morbiditas dan mortalitas. Prinsip yang
dimaksud adalah kewaspadaan yang tinggi akan terjadinya gangguan jalan napas pada trauma
inhalasi, serta mempertahankan hemodinamik dalam batas normal melalui resusitasi cairan.
1
Luka bakar adalah luka yang disebabkan karena pengalihan energi dari suatu sumber
panas kepada tubuh. Luka bakar karena api atau akibat tidak langsung dari api, misalnya
tersiram air panas, banyak terjadi pada kecelakaan rumah tangga. Panas dapat dipindahkan
lewat hantaran atau radiasi elektromagnetik. Luka bakar juga bisa timbul akibat kulit terpajan
ke suhu tinggi, syok listrik atau bahan kimia.
2
Luka bakar dapat dikelompokkan menjadi luka bakar termal, radiasi atau kimia.
Berdasarkan luas daerah yang terbakar, Wallace membagi bagian tubuh dengan kelipatan
dari 9 yang terkenal dengan nama Rule of Nine atau Rule of Wallace. Bagian tubuh tersebut
termasuklah kepala dan leher 9%, lengan 18%, badan depan 18%, badan belakang 18%,
tungkai 36% dan genitalia/perineum 1%.
2,3
Di Amerika di laporkan sekitar 2 sampai 3 juta penderita setiap tahunnya dengan
jumlah kematian 5-6 ribu kematian pertahun, sedangkan di Indonesia belum ada laporan
tertulis. Rumah Sakit Cipto Mangun Kusumo Jakarta pada tahun 1998 dilaporkan 107 kasus
luka bakar yang dirawat, dengan angka kematian 37,38 sedangkan di Rumah Sakit Dr.
Sutomo Surabaya pada tahun 2000 dirawat 106 kasus luka bakar dengan 26,41% pasien
meninggal dalam rawatan.
4










2

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi
Luka bakar adalah luka yang timbul akibat kulit terpajan ke suhu tinggi, syok listrik,
atau bahan kimia. Menurut R. Sjamsuhidajat dan Win de Jong, luka bakar adalah luka yang
terjadi karena terbakar api langsung maupun tidak langsung, juga pajanan suhu tinggi dan
matahari, listrik, maupun bahan kimia.
1
Luka bakar adalah luka yang terjadi karena terbakar api baik langsung maupun tidak
langsung, juga pajanan suhu tinggi dari matahari, listrik, maupun bahan kimia. Luka bakar
karena api atau akibat tidak langsung dari api, misalnya tersiram air panas, banyak terjadi
pada kecelakaan rumah tangga.
5



2.2. Epidemiologi
Di Amerika di laporkan sekitar 2 sampai 3 juta penderita setiap tahunnya dengan
jumlah kematian 5-6 ribu kematian pertahun, sedangkan di Indonesia belum ada laporan
tertulis. Rumah Sakit Cipto Mangun Kusumo Jakarta pada tahun 1998 dilaporkan 107 kasus
luka bakar yang dirawat, dengan angka kematian 37,38 sedangkan di Rumah Sakit Dr.
Sutomo Surabaya pada tahun 2000 dirawat 106 kasus luka bakar, kematian 26,41%.
3


2.3. Etiologi
Luka bakar disebabkan oleh pengalihan energi dari suatu sumber panas kepada tubuh.
Panas dapat dipindahkan lewat hantaran atau radiasi elektromagnetik. Kulit dan mukosa
saluran nafas atas merupakan lokasi destruksi jaringan. Jaringan yang dalam, termasuk organ
visera, dapat mengalami kerusakan karena luka bakar elektrik atau kontak yang lama dengan
agen penyebab (burning agent).
6
Berdasarkan penyebab luka bakar, luka bakar dibedakan atas beberapa jenis
penyebab ;

1. Luka bakar karena api
2. Luka bakar karena bahan kimia
3. Luka bakar karena listrik, petir dan radiasi
4. Luka bakar karena sengatan sinar matahari.
3

5. Luka bakar karena air panas, tungku panas, udara panas
6. Luka bakar karena ledakan bom.


2.4. Patofisiologi
Pengertian akan patofisiologi luka bakar sangat penting untuk penanganan yang
efektif. Sebagai tambahan, penyebab yang berbeda menyebabkan pola luka yang berbeda,
yang akan membutuhkan penanganan yang berbeda pula. Demikian, sangatlah penting untuk
mengerti bagaimana sebuah luka bakar diakibatkan dan respon fisiologis apa yang akan
diakibatkannya.
Reaksi tubuh terhadap luka bakar menghasilkan respon lokal dan sistemik.
1. Respon Lokal
Jackson (1947) mendeskripsikan tiga zona luka bakar.
7

Zona koagulasi – zona ini muncul pada daerah kerusakan maksimum. Pada zona ini
terdapat kerusakan jaringan yang irreversibel yang diakibatkan oleh koagulasi dari protein
konstituen.
Zona stasis – zona stasis ditandai oleh penurunan perfusi jaringan. Jaringan pada zona
ini masih potensial untuk diselamatkan. Tujuan utama resusitasi luka bakar adalah untuk
meningkatkan perfusi jaringan ke jaringan ini dan mencegah kerusakan lain menjadi
ireversibel. Faktor pemberat lainnya, seperti hipotensi berkepanjangan, infeksi, atau edema,
dapat mengubah zona ini menjadi area kerusakan jaringan yang ireversibel.
Zona hyperameia, pada zona paling luar ini, perfusi jaringan meningkat. Jaringan di
sini akan sembuh secara sendirinya kecuali ada sepsis berat atau hipoperfusi berkepanjangan.
Ketiga zona luka bakar ini berbentuk tiga dimensi, dan kerusakan jaringan pada zona
stasis akan mengakibatkan luka semakin dalam dan semakin luas.
4


Gambar . Zona luka bakar Jackson dan efek dari resusitasi yang adekuat dan
inadekuat.

2. Respon sistemik
Pelepasan sitokin dan mediator inflamasi lainnya pada lokasi luka akan memiliki efek
sistemik apabila luka bakar mencapai 30% dari total luas permukaan tubuh.
7

Perubahan kardiovaskular. Permeabilitas kapiler meningkat, mengakibatkan
hilangnya protein dan cairan intravaskular ke dalam kompartemen interstisial. Vasokonstriksi
perifer dan sphlanchnic akan timbul. Kontraktilitas miokardium akan menurun, kemungkinan
diakibatkan oleh tumor necrosis faktor alfa. Perubahan ini , bersama dengan kehilangan
cairan dari luka bakar, akan mengakibatkan hipotensi sistemik dan mengakibatkan
hipoperfusi organ.
8

Perubahan respiratorik. Mediator inflamasi mengakibatkan bronkokonstriksi, dan
pada luka bakar berat, sindrom distress pernafasan akut dapat timbul.
Perubahan metabolik. Basal Metabolic Rate meningkat hingga tiga kali angka normal.
Hal ini, bersama dengan hipoperfusi splanchnic, memerlukan pemberian nutrisi awal secara
enteral untuk menurunkan katabolisme dan mempertahankan integritas usus.
Perubahan imunologis. Tidak ada penurunan regulasi dari respon imun spesifik yang
terjadi, yang berefek pada kedua sistem yang dimediasi oleh sel, maupun humoral pathway.

5




2.5. Klasifikasi
2.5.1. Derajat Luka Bakar
Angka survival pasien berkaitan dengan faktor-faktor berikut ini : ukuran/kedalaman
luka, usia, ada tidaknya luka inhalasi, dan faktor komorbid pasien. Kedalaman luka bakar
umumnya dibagi dalam derajat.
Klasifikasi dari derajat luka bakar yang banyak digunakan di dunia medis adalah jenis
"Superficial Thickness", "Partial Thickness" dan "Full Thickness" dimana pembagian
tersebut didasarkan pada kedalaman luka bakar. Pengklasifikasian luka ini digunakan untuk
panduan pengobatan dan memprediksi prognosis. Kedalaman kerusakan jaringan akibat
luka bakar tergantung pada derajat panas sumber, penyebab dan lamanya kontak
dengan tubuh penderita.
9

6


Karakteristik Klinis derajat luka bakar







7

Derajat Karakteristik
Derajat 1 - kerusakan epitel kecil dari epidermis ada.
- Kemerahan, nyeri, dan rasa sakit.
- Blistering tidak terjadi.
- Penyembuhan terjadi setelah beberapa hari tanpa bekas luka.
- Karena penghalang epidermal tetap utuh, respon metabolik dan risiko
infeksi yang minimal.
- Penyebab paling umum dari luka bakar tingkat pertama adalah sunburns.



8

Derajat 2 Terbagi 2, yaitu ketebalan superfisial parsial dan ketebalan mendalam parsial.
a. Ketebalan superficial parsial (superficial partial-thickness):
- melibatkan epidermis dan dangkal (papillary) dermis, sering
mengakibatkan berdinding tipis, berisi cairan lepuh.
- Luka-luka bakar tampak merah muda, lembab, dan lembut ketika
disentuh oleh tangan bersarung.
- Mereka sembuh dalam sekitar 2-3 minggu, biasanya tanpa bekas luka,
dengan hasil dari tunas epitel dari unit pilosebasea dan kelenjar keringat
yang berada di dermis papiler dan retikuler.
b. Ketebalan mendalam parsial (Deep partial-thickness):
- meluas ke dermis reticular.
- Warna kulit biasanya campuran merah putih dan pucat, dan pengisian
kapiler lambat.
- Melepuh yang berdinding tebal dan sering pecah.


Derajat 3 - Luka bakar tingkat tiga penuh-ketebalan luka bakar yang merusak baik
epidermis dan dermis. Jaringan kapiler dermis benar-benar hancur.
- Warna kulit menjadi putih atau kasar dengan underlying kapal
bergumpal dan anestesi. Kecuali luka bakar tingkat tiga cukup kecil
untuk sembuh dengan kontraksi (<1 cm), pencangkokan kulit selalu
diperlukan untuk melapisi daerah luka.
- Contoh penyebab luka bakar tingkat 3 adalah Immersion luka bakar, luka
bakar api, dan kimia dan tegangan tinggi cedera listrik.
9


Derajat 4 - menyebabkan penghancuran kulit dan jaringan subkutan, dengan
keterlibatan fasia yang mendasarinya, otot, tulang, atau struktur lainnya.
Cedera ini memerlukan debridement yang luas dan rekonstruksi
kompleks jaringan khusus dan selalu mengakibatkan cacat
berkepanjangan.


2.5.2. Luas Luka Bakar
Dikarenakan formula resusitasi berdasarkan berat badan dan persentasi luas
permukaan tubuh total, pasien harus ditimbang dan diperkirakan derajat luka bakarnya.
Untuk mengukur luas permukaan tubuh yang terbakar menggunakan “rule of nine”, dimana
setiap regio anatomi yang spesifik menggambarkan 9-18% dari luas permukaan tubuh. Area
dari telapak tangan dan jari-jari tangan digambarkan 1% dari luas permukaan tubuh
seseorang.
10
Bayi dan anak-anak memiliki distribusi luas permukaan tubuh yang berbeda dengan
dewasa, dimana kepala yang lebih besar dan ekstermitas yang lebih pendek. Ketika
memperkirakan luas permukaan tubuh untuk anak usia dibawah 10 tahun menggunakan
diagram Lund and Browder.
10


10







11



2.6. Diagnosis dan Pemeriksaan Penunjang
Semua luka bakar didiagnosa berdasarkan temuan pemeriksaan fisik dan juga
pemeriksaan laboratorium.
11
Gejala Klinis yang didapatkan pada pasien luka bakar antara lain :
12

1. Keracunan Karbon Monoksida (CO) : Ditandai dengan kekurangan oksigen dalam
darah, lemas binggung, mual, muntah, koma bahkan meninggal
2. Distress pernafasan : Ditandai dengan sesak, dan ketidakmampuan menangani sekresi
3. Cedera Pulmonal : Ditandai dengan pernafasan cepat atau sulit, krakles, stridor, dan
batuk
4. Gangguan hematologik : Tanda yang ditemukan adalah kenaikan hematokrit,
penurunan SDP, leukosit meningkat, penurunan trombosit
5. Gangguan elektrolit : Tanda yang ditemukan adalah penurunan kalium, kenaikan
natrium dan klorida, serta kenaikan BUN
6. Gangguan ginjal : Tanda yang ditemukan adalah peningkatan keluaran urine dan
mioglobinuria
7. Gangguan metabolik : Tanda yang ditemukan adalah hipermetabolisme dan kehilangan
berat badan

Khusus untuk luka bakar dengan trauma inhalasi adalah terdapat gejala seperti
sesaknapas, takipnea, stridor, suara serak, dan dahak berwarna gelap (jelaga). Kecurigaan
adanya trauma inhalasi bila pada penderita luka bakar terdapat 3 atau lebih dari keadaan
berikut :
11
1. Riwayat terjebak dalam rumah/ ruangan terbakar
2. Sputum tercampur arang
3. Luka bakar perioral, hidung, bibir, mulut atau tenggorokan.
4. Penurunan kesadaran.
5. Tanda distress napas, rasa tercekik, tersedak, malas bernapas dan adanya
6. Wheezing atau rasa tidak nyaman pada mata atau tenggorokan (iritasi mukosa)
7. Gejala distress napas/takipnea
8. Sesak atau tidak ada suara.

Pada pasien luka bakar juga dilakukan pemeriksaan penunjang:
4
1. Pemeriksaan darah rutin dan kimia darah
2. Urinalisis
3. Pemeriksaan keseimbangan elektrolit
4. Analisis gas darah
5. Radiologi – jika ada indikasi ARDS
6. Pemeriksaan lain yang dibutuhkan untuk menegakkan diagnosis SIRS dan MODS
13

Pemeriksaan tambahan khusus untuk luka bakar inhalasi merupakan:
4
1. Kadar karboksihemoglobin (COHb)
Pada trauma inhalasi, kadar COHb 35-45% (berat), bahkan setelah 3 jam dari kejadian,
kadar COHb pada batas 20-25%. Bila kadar COHb lebih dari 15% setelah 3 jam
kejadian menunjukkan adanya bukti kuat terjadi trauma inhalasi.
2. Gas Darah
PaO2 yang rendah (kurang dari 10 kPa pada konsentrasi oksigen 50%, FiO2 = 0,5)
mencurigakan adanya trauma inhalasi. PaO2 biasanya normal pada fase awal, tetapi
dapat meningkat pada fase lanjut.
3. Foto Toraks
biasanya normal pada fase awal
4. Bronkoskopi Fiberoptik
Bila terdapat sputum beraran, edema mukosa, adanya bintik – bintik pendarahan dan
ulserasi
5. Tes Fungsi paru


2.7. Penatalaksanaan
2.7.1. Penanganan Prehospital
Perhatian utama di lokasi kecelakaan adalah menghentikan proses pembakaran.
Pembakaran dan pakaian yang membara harus dipadamkan. Kemudian seperti dengan semua
pasien trauma, perhatian utama selama penilaian awal adalah pemeliharaan fungsi
kardiopulmonari.Patensi jalan nafas dan kecukupan ventilasi harus dijaga dan pemberian
oksigen tambahan yang diperlukan. Jika tidak adanya trauma mekanik yang terkait atau
kebutuhan untuk resusitasi kardiopulmonari, penempatan kanula intravena tidak diperlukan
jika transportasi ke fasilitas pengobatan dapat dicapai dalam waktu kurang dari 45 menit.
12
Penerapan es atau air dingin membasahi akan menghilangkan rasa sakit pada daerah
luka bakar derajat dua. Jika terapi dingin dimulai dalam waktu 10 menit dari pembakaran,
kandungan jaringan panas juga berkurang, dan kedalaman kecederaan termal dapat
berkurang. Jika terapi dingin digunakan, perawatan harus diambil perhatian untuk
menghindari hipotermia. Air dingin atau es hanya boleh digunakan pada pasien dengan luka
bakar kurang dari 10% dari permukaan tubuh dan pada waktu hanya untuk memproduksi
analgesia. Setelah es atau air dingin rendam dialihkan, pasien harus ditutup dengan kain
14

lembaran bersih dan selimut untuk melestarikan panas tubuh dan meminimalkan kontaminasi
luka bakar selama transportasi ke rumah sakit.
12
Pada pemeriksaan yang akan dilakukan penderita diwajibkan memakai sarung tangan
yang steril, bebaskan penderita dari baju yang terbakar, penderita luka bakar dapat pula
mengalami trauma lain, misalnya bersamaan dengan trauma abdomen dengan adanya internal
bleeding atau mengalami patah tulang punggung / spine. Mekanisme trauma perlu diketahui
karena ini penting, apakah penderita terjebak dalam ruang tertutup sehingga kecurigaan
adanya trauma inhalasi yang dapat menimbulkan obstruksi jalan napas. Kapan kejadiannya
terjadi, serta ditanyakan penyakit – penyakit yang pernah di alami sebelumnya.
12
Luka bakar diperiksa apakah terjadi luka bakar berat, luka bakar sedang atau ringan.
Luka bakar ditentukan luas luka bakar dengan menggunakan Rule of Nine. Kemudian
kedalaman luka bakar ditentukan dengan derajat kedalaman luka bakar.
6

2.7.2. Penanangan Intrahospital
Penanganan awal pada pasien luka bakar
Perawatan ada luka bakar dimulai dari tempat kejadian. Pasien harus dipisahkan dari
sumber kebakaran.Pemeriksaan awal fisik pada pasien yang terbakar harus focus pada
penilaian jalan nafas, evaluasi status hemodinamik, menentukan luas bagian yang terbakar
dan menilai dalamnya luka. Penilaian langsung dari jalan nafas selalu menjadi prioritas
utama. Terdapat penilaian dan penilaian sekunder pada pasien luka bakar, yaitu
8
:
Penilaian Primer
9

A. Penanganan Airway dengan kontrol cervical
 Menstabilisasi leher untuk kecurigaan fraktur cervical
 Penting untuk mempertahankan jalan nafas yang paten. Menginspeksi jalan nafas
apakah ada benda asing ataupun edema. Jika pasien tidak dapat merespon kepada
perintah verbal, buka jalan nafasnya dengan chin lift dan jaw thrust.
 Menjaga pergerakan cervical agar kepala tidak hiperfleksi dan hiperekstensi
 Memberi Guedel jika terdapat hambatah jalan nafas. Pertimbangkan mengenai
intubasi segera.
B.Breathing dan ventilasi
 Memberikan oksigen 100%
 Melihat pergerakan dada dan memastikan ekspansi dada adekuat.
 Mempalpasi apakah adasnya krepitasi ataupun fraktur rusuk
15

 Mengauskultasi suara pernafasan
 Memberikan ventilasi dari nasal ataupun sungkup ataupun intubasi bila perlu
 Monitor laju pernafasan, perhatikan apabila laju <10 atau >20 per menit.
 Memasangkan pulse oximeter
 Mempertimbangkan adanya keracunan karbon monoksida.
C.Sirkulasi (Circulation)dengan kontrol perdarahan
 Menginspeksi apakah ada perdarahan dan hentikan dengan tekanan langsung
 Monitor dan mencatat denyut nadi perifer, kuat/lemah dan iramanya
 Melakukan capillary blanching test ,normalnya kembali dalam 2 detik.
 Monitor sirkulasi perifer apakah ada luka bakar sirkumferensial. Pertama-tama
mengangkat tungkai untuk mengurangi edema dan membantu aliran darah.
D.Disability : Status Neurologis
Memeriksa derajat kesadaran:
A - Alert
V – Response to vocal stimuli
P – Responds to Painful stimuli
U – Unresponsive
 Memeriksa respon pupil terhadap cahaya untuk reaksi dan ukuran
 Memperhatikan apakah ada penurunan kesadaran – hypoxaemia, intoksikasi CO,
syok, alkohol, obat-obatan dan pengaruh analgesik.
E.Exposure dengan kontrol lingkungan
 Melepas semua pakaian dan perhiasan
 Menjaga agar pasien tetap hangat
 Hipotermia dapat memberikan efek yang buruk terhadap pasien. Penting untuk
menjaga agar pasien tetap hangan , terutama ketika penanganan pertama pada periode
pendinginan.
 Log roll pasien, melepas lapisan yang basah dan menilai bagian posterior tubuh
apakah terdapat luka bakar ataupun cedera lainnya.
F. Resusitasi Cairan (Fluid Resuscitation)
 Resusitasi cairan diperlukan oleh pasien yang mempunyai luka bakar >10% untuk
anak anak dan >15% untuk dewasa
 Estimasi daerah yang terkena luka bakar mengunakan rumus Rule of Nines.
 Menginsersi 2 buah IV line pada daerah yang tidak terkena luka bakar
16

 Menentukan berat badan pasien
 Memberikan resusitasi cairan dengan rumus Modified Parkland Formula dan
menyesuaikannya dengan urine output.

 Jika urine output 0,5 mL/kg/jam naikkan cairan IV 1/3 dari total cairan . Jika urine
output > 1mL/kg/jam pada orang dewasa atau >2ml/kg/jam pada anak-anak, kurangi
cairan IV 1/3 dari total cairan .

Penilaian Sekunder
8

1. Telah menyelesaikan penilaian primer dan penilaian awal trauma
2. Melakukan evaluasi head to toe
3. Memeriksa apakah ada trauma lain selain luka bakar yang terlihat
4. Memakai papan ataupun penyangga sebelum memindahkan pasien
5. Memeriksa sejarah medis terdahulu, obat-obatan, alergi dan mekanisme
cedera
6. Menetapkan akses intravena melalui kateter kateter perifer sebanyak 2 dan
memberikan cairan intravena
7. Melindungi luka dari lingkungan dengan aplikasi dressing bersih (clean
dressing)
8. Menentukan perlunya transportasi. Menghubungi fasilitas penerima untuk
instruksi selanjutnya.

Resusitasi Cairan
Pemberian cairan intravena yang adekuat harus dilakukan, akses intravena yang adekuat
harus ada, terutama pada bagian ekstremitas yang tidak terkena luka bakar. Tujuan utama dari
17

resusitasi cairan adalah untuk menjaga dan mengembalikan perfusi jaringan tanpa
menimbulkan edema. Kehilangan cairan terbesar adalah pada 4 jam pertama terjadinya luka
dan akumulasi maksimum edema adalah pada 24 jam pertama setelah luka bakar. Prinsip dari
pemberian cairan pertama kali adalah pemberian garam ekstraseluler dan air yang hilang pada
jaringan yang terbakar dan sel-sel tubuh. Pemberian cairan paling sering dilakukan adalah
dengan Ringer Laktat untuk 48 jam setelah terkena luka bakar. Urin output yang adekuat
adalah 0.5 sampai 1.5mL/kgBB/jam.
13

Formula Parkland
Dalam 24 jam pertama diberikan cairan Ringer Laktat 4ml/kgBB/% luka bakar.
Contohnya pria dengan berat 80 kg dengan luas luka bakar 25 % membutuhkan cairan : (25)
X (80 kg) X (4 ml) = 8000 ml dalam 24 jam pertama
§ ½ jumlah cairan 4000 ml diberikan dalam 8 jam
§ ½ jumlah cairan sisanya  4000 ml diberikan dalam 16 jam berikutnya.

Formula Evans :
NaCl 0,9 % : 1 X BB X % Luka bakar
Koloid : 1 X BB X % Luka bakar
Dextrosa 5%: 2000 ml (untuk penggantian Insensible Water Loss)
Dalam 8 jam pertama, jumlah cairan yang diberikan sebesar setengah dari kebutuhan total.
Dalam 16 jam kedua, diberikan sisa kebutuhan total. Dalam 24 jam kedua diberikan :
NaCl 0,9 % : 1 X BB X % Luka bakar
Koloid : 1 X BB X % Luka bakar
Dextrosa 5%: 2000 ml (untuk penggantian Insensible Water Loss)

Cara menghitung tetesan cairan dengan rumus :
G : P : (Q X 3)
G : Jumlah tetes per menit
P : Jumlah cairan dalam cc
Q : Jam yang diperkirakan

IWL = (Insensible water loss) adalah kehilangan setiap hari yang tidak kita sadari.
Kehilangan air dengan cara ini berlangsung lewat keringat dan pernapasan. Rata-rataIWL
pada orang dewasa 2000 cc/hari. Pada pemberian cairan yang tepat, akan dicapai produksi
18

urin 50 cc/jam. Pada anak-anak, pemberian Dekstrosa 5% sebagai pengganti IWL
berdasarkan berat badannya. Untuk berat badan <10 kg penggantian IWL sebesar 100
ml/kgBB, berat badan 10-20 kg: 50 ml/kgBB, dan berat badan >20 kg: 25 ml/kgBB.
1

Formula Brooke
Dalam 24 jam petama diberikan :
Koloid : 0,5 X BB X % Luka bakar
RL : 1,5 X BB X % Luka bakar
Dextrosa 5 % : 2000 ml

Dalam 24 jam kedua diberikan :
Koloid : 0,25 X BB X% Luka bakar
RL : 0,75 X BB X Luka bakar
Dextrosa 5% : 2000 ml

Formula Baxter
Dalam 24 jam pertama berikan :
RL : 4 X BB X % Luka bakar
Setengah dari jumlah kebutuhan cairan total diberikan dalam 8 jam pertama, sisanya
diberikan dalam 16 jam berikutnya.

Dalam 24 jam kedua diberikan :
RL : 4 X BB X % Luka bakar
Kebutuhan total cairan pada hari kedua sama dengan hari pertama, hanya cara pemberiannya
berbeda. Pada hari kedua cairan diberikan sedemikian rupa, sehingga produksi urin sekitar
50-100 ml/jam.Jumlah cairan dan elektrolit yang diberikan dalam 48 jam pertama (24 jam I +
24 jam II) tidak banyak berbeda antara formula satu dengan lainnya. Miliekivalen
Natriumrata-rata normal sekitar 0,5-0,6 mEq/kgBB/%luka bakar.

Nutrisi
Kebutuhan kalori pasien dewasa dengan menggunakan Formula Curreri, adalah 25
kkal x BB + 40 kkal x % luka bakar/hari.

Formula Harris Benedict
7
:
19

Untuk pasien dengan multipel faktor stress, kebutuhan kalori adalah sebesar BEE dikalikan
dengan faktor stress:
- Laki-laki : BEE (kkal) = 66.5 + 13.7 (Berat badan dalam kg) + 5 (tinggi
badan dalam cm) – 6.8 (Usia dalam tahun)
- Perempuan : BEE (kkal) = 655 + 9.6 (Berat badan dalam kg) + 1.75 (tinggi
badan dalam cm) – 4.7 (Usia dalam tahun)
Stressor:
- Aktivitas : terbaring di tempat tidur = 1.2
dapat bergerak dari tempat tidur = 1.3
- Faktor luka : operasi minor = 1.2 trauma skeletal = 1.3
operasi besar = 1.4 sepsis = 1.6
- faktor luka bakar: < 20% TBSA = 1.2 20-25% TBSA = 1.6
25-30% TBSA = 1.7 30-35% TBSA = 1.8
35-40% TBSA = 1.9 40-100% TBSA = 1.9 - 2
Trauma inhalasi = 1.5
*BEE : basal energy expenditure
Pemenuhan nutrisi tinggi kalori tinggi protein sangat penting untuk mencegah
pemecahan protein tubuh, lambatnya penyembuhan luka, penekanan imunitas maupun
peningkatan komplikasi infeksi.
bishop.
Pemberian dominasi karbohidrat dan protein
(karbohidrat 82%, protein 15%, lemak 3%) lebih baik dalam meningkatkan keseimbangan
protein otot terutama pada kasus luka bakar berat anak daripada formula fat-based. Sintesis
protein otot akan terangsang dan degradasi protein otot akan turun dengan diet tinggi
karbohidrat
7
.


Komposisi Makronutrien
Karbohidrat
Anjuran pemberian karbohidrat adalah 60-65% kalori total atau tidak melebihi 4-
5mg/kgBB/menit.

Protein
Kebutuhan protein meningkat pada pasien luka bakar, yaitu sekitar 1.5 gr/kgBB /hari,
dapat mendekati 2.5g/kgBB/hari. Pada anak-anak dengan TBSA > 10%, 20-23% kebutuhan
kalori direkomendasikan berasal dari protein, atau sekitar 2.5 – 4 gr protein per hari.
Pemberian diet tinggi protein tidak akan mencegah terjadinya katabolisme protein tubuh dan
20

kehilangan protein akibat luka bakar itu sendiri, namun akan berperan pada anabolisme dan
proses penyembuhan luka.
8

Lemak
Pemberian lemak berkontribusi untuk meminimalkan katabolisme protein endogen
dengan jalan memenuhi kebutuhan energi. Asam lemak omega-3 khususnya asam
ekosapentanoat (EPA) yang dapat diperoleh dari minyak ikan merupakan precursor dari
ekosanoid prostaglandin seri 3 (PGE-3) dan leukotrien seri 5. Keduannya berefek
antiinflamasi dan meningkatkan sistem imunitas tubuh, demikian pula PGE-3 berperan
sebagai vasodilator. Omega-3 akan berkompetisi dan menginhibisi pembentukan PGE-1 dan
PGE-2 dari asam linoleat, sehingga omega-3 ini sangat dianjurkan pada pasien luka bakar.
Penelitian menunjukan dalam usaha untuk meningkatkan sistem imunitas tubuh, maka
pemberian asam lemak omega-6 dan omega-3 dalam perbandingan yang ideal adalah 2-3 : 1
dan akan berefek mengurangi kondisi imunosupresan pasca luka bakar. Pemberian lemak
pasca trauma sebesar 15-20% dari total kalori.
13


Suplemen Mikronutrien
Mikronutrien diperlukan sebagai koenzim dan kofaktor untuk reaksi fisiologis dalam
sel, metabolisme makronutrien dan energi. Dengan meningkatnya kebutuhan energi dan
protein, kehilangan melalui luka, perubahan metabolisme, absorpsi, eskresi, dan utilisasi
maka kebutuhan mikronutrien ini perlu ditingkatkan.
13

Vitamin berpotensi untuk sintesis protein, penyembuhan luka, meningkatkan fungsi
imunitas dan anti oksidan. Pada penderita luka bakar dalam kondisi sakit berat dan
hipermetabolisme, maka kebutuhan vitamin ini meningkat.

Tabel. Suplementasi mikronutrien pada luka bakar
8
Nutrisi Hanya
selang
makan
Kombinasi selang
makan dengan diet
Hanya diet,
luka bakar
luas
Hanya diet,
luka bakar
kecil
Vitamin C 500 mg/hari 1000 mg/hari 1000 mg/hari Tidak ada
Zink 220 mg/hari 220 mg/hari
selama 14 hari
220 mg/hari
selama 14 hari
Tidak ada
Multivitamin 1 tablet 1 tablet 1 tablet 1 tablet
21

dan mineral kunyah/hari kunyah/hari kunyah/hari kunyah/ hari
Vitamin A Tidak ada Tidak ada jika
selang makan >1
liter / hari
10,00 IU PO
setiap 2 hari
Tidak ada
Vitamin D Tidak ada 400 IU/hari 400 IU bid 400 IU/hari
Arginin Tidak ada Tidak ada 2 paket/hari Tidak ada
Glutamin 10 gr, 3
kali/hari
10 gr, 3 kali/hari 10 gr, 3
kali/hari,
sesuai
toleransi
Tidak ada

Pada keadaan yang optimal dalam hal pemberian terapi nutrisi yang paling bagus bila
dicapai dalam 24 jam awal setelah luka bakar. Penelitian pada manusia, nutrisi enteral
menunjukkan deliver caloric requirements (REE) yang cukup, serta mengurangi kebutuhan
respon hipermetabolik, dan mengurangi sirkulasi dari level katekolamin, kortisol, dan
glucagon. Nutrisi enteral juga menjaga integritas mukosa, motilitas, dan perfusi darah pada
usus, yang mana mencegah hipoperfusi atau ileus karena keterlambatan dari resusitasi atau
reperfusi. Pasien dengan luka bakar berat dapat diberi nutrisi dengan enteral tuben secepatnya
6 jam setelah luka bakar yang tidak tergantung dengan fungsi dari gastroduodenum.
8

Perawatan Luka Bakar
Setelah keadaan umum membaik dan telah dilakukan resusitasi cairan dilakukan
perawatan luka. Perawatan tergantung pada karakteristik dan ukuran dari luka. Tujuan dari
semua perawatan luka bakar agar luka segera sembuh rasa sakit yang minimal.
Setelah luka dibersihkan dan dilakukan debridement, luka ditutup. Penutupan luka ini
memiliki beberapa fungsi yaitu dengan penutupan luka akan melindungi luka dari kerusakan
epitel dan meminimalkan timbulnya koloni bakteri atau jamur. Kedua, luka harus benar-benar
tertutup untuk mencegah evaporasi agar pasien tidak hipotermi. Ketiga, penutupan luka
diusahakan semaksimal mungkin agar pasien merasa nyaman dan meminimalkan timbulnya
rasa sakit
Pilihan penutupan luka sesuai dengan derajat luka bakar.
 Luka bakar derajat I, merupakan luka ringan dengan sedikit hilangnya barier
pertahanan kulit. Luka seperti ini tidak perlu di balut, cukup dengan pemberian salep
22

antibiotik untuk mengurangi rasa sakit dan melembabkan kulit. Bila perlu dapat diberi
NSAID (Ibuprofen, Acetaminophen) untuk mengatasi rasa sakit dan pembengkakan.
 Luka bakar derajat II (superfisial), perlu perawatan luka setiap harinya, pertama-tama
luka diolesi dengan salep antibiotik, kemudian dibalut dengan perban katun dan
dibalut lagi dengan perban elastik. Pilihan lain luka dapat ditutup dengan penutup
luka sementara yang terbuat dari bahan alami (Xenograft (pig skin)) atau Allograft
(homograft, cadaver skin) atau bahan sintetis (opsite, biobrane, transcyte, integra).
 Luka derajat II (dalam) dan luka derajat III, perlu dilakukan eksisi awal dan cangkok
kulit (early exicision and grafting )
4,5


Antimikroba
Dengan terjadinya luka mengakibatkan hilangnya barier pertahanan kulit sehingga
memudahkan timbulnya koloni bakteri atau jamur pada luka. Bila jumlah kuman sudah
mencapai 10
5
organisme jaringan, kuman tersebut dapat menembus ke dalam jaringan yang
lebih dalam kemudian menginvasi ke pembuluh darah dan mengakibatkan infeksi sistemik
yang dapat menyebabkan kematian. Pemberian antimikroba ini dapat secara topikal atau
sistemik. Pemberian secara topikal dapat dalam bentuk salep atau cairan untuk merendam.
Contoh antibiotik yang sering dipakai :
Salep : Silver sulfadiazine, Mafenide acetate, Silver nitrate, Povidone-iodine, Bacitracin
(biasanya untuk luka bakar grade I), Neomycin, Polymiyxin B, Nystatin, Mupirocin, Mebo.
12


Analgetik
Pasien akan mengalami nyeri terutama saat ganti balut, prosedur operasi, atau saat
terapi rehabilitasi. Dalam kontrol rasa sakit digunakan terapi farmakologi dan non
farmakologi. Terapi farmakologi yang digunakan biasanya dari golongan opioid dan NSAID.
Preparat anestesi seperti ketamin, N2O (nitrous oxide) digunakan pada prosedur yang
dirasakan sangat sakit seperti saat ganti balut. Dapat juga digunakan obat psikotropik sepeti
anxiolitik, tranquilizer, dan anti depresan. Penggunaan benzodiazepin dbersama opioid dapat
menyebabkan ketergantungan dan mengurangi efek dari opioid.
5






23

2.8. Penatalaksanaan Pembedahan
Setiap luka bakar dengan kedalaman sampai dengan dermis memerlukan tindakan
pembedahan. Setiap luka bakar dengan kedalaman yg tidak dapat ditentukan harus di nilai kembali
setelah 48 jam. Hal ini karenan luka bakar yang awalnya tampak superfisial dapat menjadi lebih
dalam seiring dengan waktu.
Esensi dalam pembedahan luka bakar adalah kontrol. Yang pertama dan terpenting adalah
anestesis harus mengkontrol pasien dengan baik. IV line dengan bor besar harus terpasang dan
tekanan darah pasien harus di monitor secara adekuat. Jika eksisi besar akan dilakukan, maka arterial
line (untuk monitor tekanan darah) dan tekanan vena sentral harus dimonitor dengan baik. Seorang
anestesis juga harus mengkontrol kesimbangan asam basa, waktu pembekuan darah, dan level Hb
pasien. Suhu tubuh pasien yang tidak boleh jatuh dibawah 36
0
C.
Untuk kebanyakan eksisi luka bakar, injeksi subkutan dari adrenaline yang di encerkan 1:1
000 000 atau 1:500 000 penting untuk mengkontrol kehilangan darah.
14
Jaringan eskar adalah jaringan mati akibat luka bakar pada dermis yang mengering dan
menciut.
15
Luka bakar dengan kedalaman kulit seluruhnya terbakar dapat dengan eskar yang rigid
yang dapat menjadi efek torniket dengan pembentukan edema, yang menyebabkan aliran balik dari
vena dan aliran arterial terganggu. Hasil akhirnya adalah sindrom kompartemen yang paling sering
pada ekstremitas, tetapi sindrom kompartemen di abdominal dan toraks juga dapat terjadi. Tanda-
tanda dari sindrom kompartemen adalah parestesia, nyeri, penurunan capillary refill, hilangnya denyut
nadi di distal, dan lain-lain. Pada sindrom kompartemen abdominal gejalanya dapat berupa;
penurunan urine output, peningkatan tekanan ventilasi, dan hipotensi. Pada sindrom kompartemen
toraks dapat ditandai dengan hipoventilasi, peningkatan tekanan pada jalan nafas, dan
hipotensi.Eskarotomi jarang dilakukan dalam 8 jam pertama setalah luka bakar terjadi dan tidak
dilakukan kecuali diindikasikan karean sekuel estetik yang jelek. Jika diindikasikan biasanya
eskarotomi dilakukan di samping tempat tidur dengan electorcautery. Perfusi yang inadekuat setelah
dilakukan eskarotomi yang baik mengindikasikan untuk dilakukan fasiotomi; tetapi prosedur ini
bukan untuk dilakukan secara rutin untuk membebaskan jaringan eskar.
16
Strategi eksisi awal dan skin graft pada pasien luka bakar meningkatkan angka keselamatan
pada perawatan luka bakar. Tidak hanya menurunkan angka mortalitas, tetapi eksisi awal juga
mengurangi pembedahan rekonstruksi, menurunkan lamanya dirawat dirumah sakit, dan mengurangi
biaya pelayanan. Setelah dilakukan resusitasi dan pasien dengan hemodinamik stabil, pasien harus
dipikirkan untuk dilakukan eksisi dari luka bakar. Eksisi dari luka bakar dan penutupan luka harus
dimulai dalam beberapa hari setelah kejadian, dan pada luka bakar yang luas, eksisi secara serial dapat
dilakukan seiring dengan kondisi pasien jika memungkinkan. Eksisi dilakukan dengan pemotongan
tangensial secara berulang menggunakan pisau Watson atau Goulian sampai jaringan yang tidak
terbakar yang tersisa. Kerugian dari eksisi tangensial adalah kehilangan darah yang banyak, walaupun
hal ini dapat diatasi dengan teknik seperti instilasi solusi epinefrin dibawah luka bakar. Torniket
24

pneumatik berguna untuk luka bakar di ekstremitas. Eksisi sampai ke jaringan lemak dan fasia
diperlukan jika luka bakar tersebut dalam.
16
Eksisi dan graft dapat dilakukan setelah hemodinamik stabil biasanya pada hari ke 2-4. Eksisi
dilakukan lapis demi lapis hingga tercapai kulit yang viable. Sebelum dilakukan graft harus dilakukan
debridement luka yang baik, infeksi diatasi, dan keadaan nutrisi yang baik.
15
Managemen post operasi pada pasien dengan luka bakar adalah evaluasi keseimbangan cairan
dan level dari hemoglobin. Perawatan luka tertutup harus sering diganti balutan untuk mencegah
infeksi. Fisioterapi dan bidai penting untuk menjaga jangkauan pergerakkan pasien untuk mengurangi
terjadinya kontraktur. Gerakan pasien harus dipantau oleh fisioterapis, biasanya pada sendi yang
terkena luka bakar, dan biasanya dimulai setelah kurang lebih 5 hari.
14
1. Escharotomy
Tindakan ini dilakukan pada pasien dengan luka bakar yang melingkar, berupa
penyayatan atau insisi pada eschar luka bakar. Luka bakar yang melingkar pada
tungkai akan timbul eschar yang melingkar. Secara signifikan akan ditemukan
sianosis pada daerah yang tidak terbakar distal dari luka bakar, adanya nyeri yang
terus menerus serta terjadi penurunan atau tidak teraba denyut nadi secara progresif.
Dilakukan insisi eschar untuk limb saving pada daerah mid medial atau mid lateral
atau insisi kedua sisi bila perlu.
17

Indikasi :
- Distribusi luka bakar (eschar yang melingkar)
- Inelastic burn skin
18


2. Escharectomy
Tindakan escharectomy berupa eksisi lapis demi lapis jaringan nekrotik
(eschar) sampai didapatkan permukaan yang berdarah biasanya dilakukan dengan
menggunakan scalpel. Prosedur tindakan ini mirip dengan teknik pengambilan donor
skin grafting. Eksisi lapis demi lapis sampai didapatkan bintik-bintik perdarahan
merupakan tanda telah mencapai jaringan yang vital.
Indikasi escharectomy adalah luka bakar dalam yang diperkirakan tidak
sembuh dalam 3 minggu. Permukaan luka bakar berwarna putih, merah, coklat atau
hitam dan tidak ada capillary refill maupun sensibilitas. Pada pasien yang sadar
dilakukan tindakan anestesi umum agar memungkinkan prosedur diselesaikan secara
memadai.
17
25

3. Skin Grafting
Secara umum skin grafting termasuk salah satu tindakan transplantasi yaitu
pemindahan suatu organ ke tempat lain yang membutuhkannya. Skin grafting adalah
tindakan memindahkan sebagian atau seluruh tebalnya kulit dari satu tempat ke
tempat lain supaya hidup di tempat yang baru tersebut, yang dibutuhkan suplai darah
baru untuk menjamin kehidupan kulit yang dipindahkan tersebut. Bagian kulit yang
diangkat pada tindakan ini adalah epidermis beserta sebagian atau seluruh lapisan
dermis tergantung pada ketebalan kulit yang dibutuhkan. Skin grafting bertujuan
untuk menutup luka.
Skin grafting terbagi dua :
1. Split thickness skin grafting, graft ini mengandung epidermis dan sebagian
dermis. Daerah donor diharapkan dapat sembuh sendiri / epitelialisasi.
2. Full thickness skin grafting, graft meliputi epidermis dan seluruh ketebalan
dermis. Daerah donor perlu dilakukan penutupan.
17


Pada kasus luka bakar jenis skin grafting yang digunakan adalah split
thickness karena umumnya area yang perlu ditutup relatif luas dan kondisi
vaskularisasi bed luka tidak begitu baik akibat trauma panas. Split thickness skin
grafting dapat merupakan tindakan yang definitif sebagai penutup defek yang
permanen atau hanya sebagai tindakan yang sementara sambil menunggu tindakan
definitif. Pada luka bakar Split thickness skin grafting merupakan tindakan definitif
sebagai penutup luka yang luas. Luka bakar yang luas ada batasan dalam melakukan
eksisi tangensial membuang eschar yaitu kurang lebih sekitar 20%, untuk itu
diperlukan skin grafting untuk menutup defek sekitar 20%.
19


2.9. Komplikasi
Komplikasi yang bisa terjadi pada pasien dengan luka bakar antara lain adalah:
6
1. Sindroma Kebocoran Kapiler
Respon sistemik luka bakar yang luas ditandai dengan adanya inisiasi kebocoran
kapiler yang membutuhkan resusitasi cairan untuk stabilisasi hemodinamik. Kerusakan
kapiler yang luas yang disebabkan oleh luka bakar mengakibatkan ekstravasasi plasma ke
jaringan yang mengalami luka bakar, dengan akibat hipovolemia, hipertensi abdominal, dan
sindroma kompartemen ekstremitas. Sindroma kebocoran kapiler yang dapat diakibatkan oleh
26

luka bakar yang berat, mengakibatkan syok hipovolemik, terkait dengan perubahan kadar
plasma dari intravascular ke ruang ekstravaskular. Hal ini ditandai dengan trias hipotensi,
hemokonsentrasi, dan hipoalbuminemia. Penyebab hal ini adalah kebocoran cairan dan
makromolekul (hingga ukuran 900 kDa) ke jaringan akibat dari respon inflamasi yang
mengakibatkan peningkatan permeabilitas kapiler dan peningkatan tekanan osmotik pada
jaringan yang mengalami luka bakar. Hal ini ditambah dengan koagulasi protein akibat luka
bakar dapat mengakibatkan hipoalbuminemia yang berat dan hiponatremia.
2. Sepsis
Definisi terbaru untuk sepsis dan infeksi memiliki kriteria yang rutin ditemukan pada
pasien dengan luka bakar yang luas bahkan tanpa infeksi maupun sepsis (demam, takikardi,
takipnea, leukositosis). Para ahli baru-baru ini mengembangkan definisi standard untuk sepsis
dan diagnosa terkait infeksi pada pasien dengan luka bakar. Pasien dengan luka bakar yang
luas, memiliki temperatur baseline yang di reset ke 38,5
o
C, dan takikardi serta takipnea dapat
menetap selama berbulan-bulan. Pajanan berulang terhadap mediator inflamasi, dapat
berakibat pada perubahan signifikan pada jumlah leukosit, yang mengakibatkan angka
leukositosis merupakan indikator yang lemah bagi diagnosa sepsis. Gunakan petunjuk lain
sebagai tanda-tanda infeksi atau sepsis seperti peningkatan kebutuhan cairan, penurunan
platelet counts lebih dari 3 hari setelah luka bakar, perubahan status neurologis, perburukan
status pulmoner, dan terganggunya fungsi renal. Istilah systemic inflammatory response
syndrome tidak dapat diaplikasikan pada pasien karena pasien dengan luka bakar masif ada
dalam kondisi stimulasi sistem inflamasi kronis. Infeksi apapun pada pasien harus
dipertimbangkan apakah berasal dari kateter vena sentral sampai dibuktikan kemungkinan
lainya. Kateter sentral harus diubah ke lokasi yang baru setiap tiga hari untuk meminimisasi
infeksi saluran darah. Meskipun antibiotik sistemik sebagai profilaksis tidak disarankan pada
luka akibat pajanan suhu, terapi antimikroba topikal terbukti efektif. Terapi antibiotik
sistemik harus sesuai dengan kultur dan diberikan untuk jangka waktu sependek mungkin.


2.10. Indikasi Rawat Inap
1. Luka bakar grade II:
a. Dewasa > 20%
b. Anak > 15%
2. Luka bakar grade III
3. Luka bakar pada pasien yang menghidap sakit jantung, otak dll.
27

4. Luka bakar mengenai daerah yang penting seperti muka, leher, genitalia,
ekstremitas
5. Luka bakar listrik
6. Luka bakar kimia
7. luka bakar yang disertai luka inhalasi
8. Luka bakar yang “circumferential” pada dada dan juga ekstremitas.
20






























28

BAB 3
LAPORAN KASUS

3.1. Identitas Pasien
Nama Pasien : Winda Fatiah Darman
Umur : 26 Tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Jl. Kemenyan 4 No. 1 Perumnas
Status : Menikah
Pekerjaan : IRT
Tanggal Masuk : 10 Mei 2014

3.2. Anamnesis
Keluhan Utama : luka bakar
Telaah : Hal ini dialami oleh pasien 1 jam yang lalu sebelum
pasien masuk Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan. Luka bakar terjadi
karena pasien yang mencoba melakukan tindakan bunuh diri dengan membakar sprei
tempat tidurnya setelah terjadi pertengkaran dengan suaminya. Daerah yang terkena
adalah beberapa bagian badan, perut, kedua tangan, kedua kaki, dan punggung. Pasien
dalam keadaan hamil dengan usia kehamilan 8 minggu. Riwayat mules-mules tidak
dijumpai. Riwayat keluar air dari kemaluan tidak dijumpai. Riwayat keluar darah dari
kemaluan juga tidak dijumpai.

HPHT : 16/2/2014
Riwayat Penyakit Terdahulu : -
Riwayat Pemakaian Obat : -

3.3. Pemeriksaan Fisik
Sensorium : Compos Mentis
Tekanan Darah : 130/80 mmHg
Pols : 90 x/i
Pernafasan : 20 x/i
Suhu : 37.0°C

29

Kepala
Mata : Conjungtiva Palpebra Inferior Pucat (-/-),
Ikterik (-/-)
Telinga/ Hidung/ Mulut : dalam batas normal
Leher : Pembesaran KGB (–)

Thoraks
Inspeksi : Simetris
Palpasi : SF kanan = kiri
Perkusi : Sonor pada kedua lapangan paru
Auskultasi : Sp: Vesikuler ; St: (-)

Abdomen
Inspeksi : Simetris
Palpasi : Soepel
Perkusi : Timpani
Auskultasi : Peristaltik Normal

Genital: perempuan, dalam batas normal

Ekstremitas
Superior : flame burn 8% grade IIA-III
Inferior : flame burn 36% grade IIA-III

Diagnosis : Flame Burn grade IIB-III 50% + G1P0A0 8 minggu

Penatalaksanaan : - IVFD RL 20 gtt/i
- Inj. Ceftriaxone 1gr/12jam
- Inj. Ketorolac 30 mg/8jam
- Inj. Ranitidine 50 mg/12jam



30

3.4. Follow Up
Tgl 10-13 Mei 2014
S: Nyeri luka bakar (+)
O:
A: Flame burn grade IIb-III 54%
P: - Det MB
- IVFD RL 20 gtt/i
- Inj. Ceftriaxone 1 gr/12 jam
- Inj. Ketorolac 30 mg/ 8 jam
- Inj. Ranitidine 50 mg/12 jam
- Rencana Debridement

Laboratorium (10 Mei 2014)
Hemoglobin : 15,5 g%
Eritrosit : 5,17 x 10
6
/mm3
Hematokrit : 43,6 %
Leukosit : 36,42/mm3
Trombosit : 324/mm3
KGD Ad Random : 169,5 mg/dl
Ureum/ kreatinin : 14,1 / 0,79
Na/ K/ Cl : 132/ 4,0/ 105
Albumin : 2,9
PT : 19,9 (14)
APTT : 29,6 (32)
Trombin time : 13,5 (13,5)









31

BAB 4
KESIMPULAN


Luka bakar merupakan kondisi kegawatdaruratan yang dapat mengancam jiwa segera
dan membutuhkan penanganan kegawatdaruratan dengan prinsip manajemen airway,
breathing, circulation, disability, dan exposure sama seperti kegawatdaruratan lainnya.
Penanganan luka bakar tergantung pada luas dan derajat luka bakar yang diderita oleh
pasien dan penanganannya membutuhkan pemahaman dari berbagai disiplin ilmu medis
untuk mencapai hasil yang optimal.
























32

DAFTAR PUSTAKA

1. Sjamsuhidajat R, de Jong W., editor. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2005; hal. 73-5
2. Sukasah C.L. Luka Bakar, Departemen Bedah. Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. 2009. pg 21 – 24
3. Kartohatmodjo S., dalam Luka Bakar (Combustio); pg 16 – 18
4. Bongard. F.S, Sue. D.Y, Vintch. J.R.E. in Current Diagnosis & Treatment: Critical
Care 3rd Edition. 2008. McGraw-Hill:Lange.
5. Hettiaratchy.S, Dziewulski. ABC OF BURNS. BMJ 2004; 329: 504-6.
6. Edlich.R.F, in Thermal Burns. 2010. Accessed from :www.emedicine.medscape.com/
article/1278244.
7. David S. Perdanakusuma. 2006. Penanganan Luka Bakar. Airlangga University
Press.
8. Barret, PJ. Initial Management and Resucitation. Principle and Practice of Burn
Surgery. New York : Marcel Dekker; 2005
9. Connolly,S. Emergency Assessment and Management of Severe Burn. Clinical
Practice Guidelines : Burn Patient Management. New South Wales : Agency for
Clinical Innovation; 2011
10. Hall J.B., Schmidt G.A., Wood L.D.H., in Principles of Critical Care. In : Burns:
Resucitation Phase (0 to 36 hours). 3
rd
edition. pg 1457-1466.
11. American College of Surgeon Committee of Trauma,2004.Advanced Trauma Life
Support Seventh Edition.Indonesia: IkabiBarret-Nerin, JP & Herndon, DN. Principles
and Practise of Burn Surgery. New York: Marcel Dekker, 2005.
12. Igneri, P & Gratton, J. FAHC Burn Care Manual. Fletcher Allen Halth Care &The
University of Vermont. 2008
13. Prelack, K., Dylewski, M., & Sheridan, RL. Review: Practical Guidelines for
Nutritional Management of Burn Injury and Recovery. Burns 33 (2007)
14. Tyler, M., Ghosh, S. Burns. Dalam: Bailey & Love’s Short Practice of Surgery 26
th
Ed. Taylor &
Francis Group, LLC.2013. Hal: 385.
15. Sudjatmiko, G., Luka Bakar. Dalam: Petunjuk Praktis Ilmu Bedah Plastik Rekonstruksi Edisi Kedua.
Yayasan Khazanah Kebajikan.2010. Hal: 107.
16. Brunicardi, F. C., Andersen, D. K., Et al. Burns. Dalam: Schwartz’s Principles of Surgery Ninth
Edition. The McGraw-Hill Companies, Inc.2010. Bab 8.
33

17. Pal, N., 2013. Emergency Escharotomy. Available from :
http://emedicine.medscape.com/article/80583-overview#a03 [Accessed : 14 Mei
2014]
18. New Zealand National Burn Service. 2013. Available from :
http://www.nationalburnservice.co.nz/pdf/escharotomy-guidelines.pdf [Accessed : 14
Mei 2014]
19. Grande, Donald, J., 2013. Skin Grafting. Available from :
http://emedicine.medscape.com/article/1129479-overview#a03 [Accessed 14 Mei
2014]
20. Management of Burns and Scalds in Primary care, June 2007 Edition, ACC, New
Zealand