You are on page 1of 11

LAPORAN PRAKTIKUM EMBRIOLOGI

Sediaan Spermatozoa

Disusun Oleh:
Kelompok 3 Gelombang 5
Anka Rahmi Ade Utami (1302101010100)
Balqis Thahara (1302101010127)
Gressha Vionalle Ademi (1302101010154)
Hadia Firda Hasnita Lubis (1302101010125)
Hariska Andriani (1302101010040)
Hidayati (1302101010157)
Nevi Frilly Ulfah (1302101010057)
Nurul Asila (13020101010213)
Rahma Erlis (1302101010066)
Suryani Harahap (1302101010225)
Asisten: Baidillah Zulkifli

JURUSAN PENDIDIKAN DOKTER HEWAN
FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
BANDA ACEH
2014

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa, yang kiranya patut
diucapkan, karena atas berkat rahmat dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan laporan
ini. Dalam laporan ini kami menjelaskan mengenai spermatozoa pada sapi, tikus dan ayam.
Kami menyadari, dalam laporan ini masih banyak kesalahan dan kekurangan. Hal ini
disebabkan terbatasnya kemampuan, pengetahuan dan pengalaman yang kami miliki, namun
demikian banyak pula pihak yang telah membantu kami dengan menyediakan dokumen atau
sumber informasi, dan memberikan masukan pemikiran. Oleh karena itu pada kesempatan ini
penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar- besarnya kepada:
1. Drh. Dian Masyitha, M.Sc selaku koordinator dan dosen pembimbing mata kuliah
Embriologi.
2. Baidillah Zulkifli selaku asisten pembimbing gelombang 5 kelompok 3 pada
Laboratorium Embriologi.
Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Kami mengharapkan saran dan
kritikan yang sifatnya membangun guna penyempurnaan laporan ini.




Banda Aceh, 15 Mei 2014


Penulis











DAFTAR ISI
Kata Pengantar
Daftar Isi
Bab I Pendahuluan
Latar Belakang
Tujuan
Manfaat
Bab II Tinjauan Pustaka
Bab III Hasil dan Pembahasan
Hasil
Pembahasan
Bab IV Penutup
Kesimpulan
Saran
Daftar Pustaka















BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Membuat sediaan oles spermatozoa ditujukan untuk mengenal bentuk spermatozoa pada sapi,
dan tikus. Spermatozoa mempunyai beberapa macam bentuk. Dengan pemeriksaan ini
diketahui beberapa banyak bentuk spermatozoa normal dan abnormal. Bentuk yang normal
adalah spermatozoa yang kepalanya berbentuk oval dan mempunyai ekor yang panjang.

1.2 Tujuan
Untuk mengenal bentuk dan struktur spermatozoa sapi dan tikus, sperma yang hidup dan
yang mati, serta untuk dapat membedakan sperma yang normal dengan sperma yang
abnormal.

1.3 Manfaat
Agar mahasiswa/i dapat paham dan mengerti struktur dan bentuk dari spermatozoa sapi dan
tikus, sperma yang hidup dan yang mati, serta untuk dapat membedakan sperma yang normal
dengan sperma yang abnormal


















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Spermatozoa adalah sel yang sangat kecil dengan ujung seperti ekor yang menyatu
dengan bagian sel yang menyempit yang disebut leher. Ekor ini mempunyai gerakan seperti
cambukan yang memungkinkan sel bergerak setelah sel meninggalkan saluran reproduksi
jantan. Akibatnya, ketika spermatozoa berada di dalam vagina, mereka dapat berjalan ke
uterus dan tuba uterina untuk menemui ovum (Anonymous, 2002)
Proses pembentuakan spermatozoa disebut spermatogenesis. Proses ini mencakup
pembelahan mitosis sel spermatogenik, yang menghasilkan sel induk pengganti dan sel
spermatogenik lain yang akhirnya menghasilkan spermatosit primer dan spermatosit
sekunder. Baik spermatosit primer maupun sekunder mengalami pembelahan meiosis yang
mengurangi jumlah kromosom dan DNA. Pembelahan spermatosit sekunder menghasilkan
sel yaitu spermatid yang mengandung 23 kromosom tunggal(22+X dan 22+Y). Spermatid
tidak mengalami pembelahan lebih lanjut, tetapi berubah menjadi sperma melalui suatu
proses yang disebut spermiogenesis(Victor P.Eroschenko, 2010)
Pada mamalia, spermatozoa berukuran 50-60. Ekor spermatozoa yang menjelma dari
sentriol spermatid berukuran panjang 40-50. Ujung anterior pangkal ekor(midpiece)
berhubungan dengan bagian kepala, tempat ini desebut daerah implantasi. Pangkal ekor kaya
dengan plasmogen, suatu bahan yang mengandung asam lemak. Bagian tengah ekor
spermatozoa bertindak sebagai mesin pendorong. Bagian ujung ekor pendek dan tidak
mempunyai selubung maupun fibril pusat. Panjang ketiga bagian berturut: pangkal 10-15,
tengah 30, dan bagian ujung ekor 3 (Tim fisiologi veteriner I FKH Unsyiah, 2014)
Spermatozoid/sel sperma/ spermatozoa berarti benih dan makhluk hidup atau sel dari
sistem reproduksi jantan. Sperma lazimnya berwarna putih keabuan agak keruh, atu sedikit
kekuningan. Ph nya 7,2 sampai 7,7 karena sperma bersifat basa (Sularto, 2009)
Spermatozoa merupakan sel-sel sangat kecil di bandingkan dengan ovosit. Sel-sel ini
mempunyai dua fungsi utama, yaitu:
 Membawa cadangan haploid dari gene gene spermatozoa ke ovosit
 Mengaktifkan program perkembangan sel telur yang telah di buahi
Sebagian besar spermatozoa tanpa organel sel seperti ribosom, retikulum endoplasma,
badan golgi, tetapi mengandung sejumlah mitokondria. ADN terkandung dalam inti
spermatozoa membentuk suatu massa sangat kompak dan sama sekali tidak tidak ada
aktivitas sebelum terjadi pembuahan. Vesikula akrosomial mengandung enzim- enzim
hidrolitik(pada invertebrata tertentu, spermatozoa mengandung juga protein spesifik yang
dapat melekatkan spermatozoa ke membran ovum) yang mudah dilepaskan oleh eksositos.
Gerakan flagela bergantung pada produksi ATP oleh mitokondria pada bagian intermedia.
Pada mamalia sumber utama energi metabolisme adalah fruktosa yang di hasilkan oleh
vesikula seminalis(Herry Sonjaya, 2013)

Semen terdiri atas sel spermatozoa dan cairan seminal. Spermatozoa dibentuk dalam
testis dan disimpan dalam epididimis, sedangkan cairan seminal dikontribusikan oleh organ
kelamin tambahan. Konsentrasi spermatozoa bervariasi menurut spesies.
Ternak Volume(ml) Jumlah spermatozoa mm
3
Sapi 4-8 1.000.000
Domba 0,5-2 3.000.000
Kuda 30-200 100.000
Babi 150-400 100.000
Anjing 2-15 60.000-300.000
Kelinci 0,4-6 50.000-350.000
Tikus 0,003 593.000

Cairan seminal dibedakan oleh kandungan prostaglandin, cholin, asam sitrat, fruktosa,
dan substansi lainnya yang tidak diketemukan dalam kuantitas besar dalam tubuh hewan
(Herry Sonjaya, 2013)
Perbedaan rataan volume semen segar dapat disebabkan ukuran testis antar individu yang
berbeda, bobot badan juga memiliki pengaruh terhadap aktivitas reproduksi. Bobot badan
sapi jantan berhubungan erat dengan ukuran testis dan lingkaran skrotum yang lebih besar
akan menghasilkan spermatozoa yang lebih banyak pula (Fikri, Al dkk, 2013)
Spermatozoa tikus dan kelinci memerlukan beberapa waktu berada di alat genitalia
betinanya sebelum mampu melakukan fertilisasi. Keadaan ini telah menimbulkan pernyataan
dan perhatian sehingga dijumpai bahwa keadaan ini merupakan “konsep
kapasitasi”(Manuaba, 2007)
Pemberian MSG peroral selama satu siklus spermatogenesis pada tikus jantan dapat
mengecilkan diameter inti dan menurunkan jumlah sel Leydig. Makin besar dosis MSG yang
diberikan makin besar tingkat gangguan pada sel Leydig baik kualitas maupun kuantitasnya.
Perlu dilakukan penelitian dosis aman pemakaian MSG bagi manusia(Suryadi E,dkk, 2007)











BAB III
ISI
3.1 Hasil

Spermatozoa Sapi

Spermatozoa tikus


























3.2 Pembahasan
Spermatozoa terbagi atas bagian kepala yang di lindungi akrosome, leher, dan
ekor yang berdaya gerak tetapi tidak mampu membelah diri. Bagian ekor spermatozoa
sangat menunjang pergerakan spermatozoa. Pada bagian ini di jumpai banyak
mitokondria yang berperan sebagai sumber energi untuk pergerakan. Energi yang
dibutuhkan dalam bentuk ATP. Energi yang dikeluarkan menyebabkan terjadinya 2
macam gerakan. Pertama gerakan bergelombang ke ujung ekor( makin ke ekor
semakin lemah). Kedua gerakan yang bersifat sirkuler tetapi arahnya melingkari
batang tubuh bagian tengah terus ke ujung ekor. Kedua gerakan ini menyebabkan
spermatozoa dapat bergerak ke depan (Tim fisiologi veteriner I FKH Unsyiah, 2014)









Gambar: Struktur dan morfologi sperma

Setelah di amati dibawah mikroskop dapat di jelaskan bahwa pada sperma sapi,
koleksi spermatozoanya dari tubulus seminiferus. Sperma sapi berukuran besar
dengan ekor yang tidak begitu panjang.
Sperma tikus didapatkan langsung dengan memotong bagian caudal dari
epididimis nya. Pada sperma tikus ini mempunyai ukuran ekor yang panjang dan pada
kepalanya dapat dilihat seperti menyerupai kail. Spermatozoa normal berwarna putih
atau kekuning- kuningan dan terlihat keruh
Kualitas sperma yang baik juga ditentukan oleh tingkat keasamannya. Untuk
sperma yang normal memiliki derajat asam basa yang berbeda tergantung dengan
spesiesnya, seperti pada sapi 6,4-7,8 Ph nya.
Produksi spermatozoa hanya dimulai pada waktu puber, tetapi prosesnya berjalan
secara kontinu di dalam tubuh tubuli seminiferi. Produksi sel spermatozoa bergantung
pada sekresi yang cukup dari hormon gonadotropin hipofisa (LH dan FSH). Sel-sel
spermatozoa yang di lepas dalam saluran tubuli seminiferi masih belum matang dan
tidak bergerak. Pematangannya berlangsung selama transit pada berbagai saluran
reproduksi jantan: rete testis, epididimis, saluran vas deferent, dan saluran ejakulator.
Pada waktu di epididimis, spermatozoa menerima kemampuan motilitas, gerakan
secara linier, di mana sebelumnya gerakan spermatozoa sirkulair tanpa arah. Pada
berbagai spesies, spermatozoa harus menerima lagi suatu kapasitasi, diterima pada
waktu tinggal di saluran reproduksi betina pada fase folikulair. Gametogenesis jantan
sangat peka terhadap temperatur intratestis pada hampir semua mamalia. Posisi testis
dalam skrotum menjamin temperatur beberapa derajat lebih rendah dari pada
abdomen yang merupakan kondisi cocok untuk spermatogenesis (Herry Sonjaya,
2013)
Spermatozoa yang diproduksi di dalam tubuli seminiferi akan dialirkan ke dalam
epididimis untuk menjalani proses pematangan akhir sebelum memiliki kemampuan
bergerak (motil) dan membuahi oosit. Proses pematangan yang terjadi adalah
berpindahnya lokasi butiransitoplasma dari daerah proksimal ke arah distal ekor atau
hilang sama sekali dari ekor spermatozoa yang berlangsung di caput dan corpus
epididimis (Muhammad, Dannasrullah, 2004)
Penurunan motilitas spermatozoa akibat paparan asap rokok sejalan dengan
peningkatan abnormalitas spermatozoa mencit perlakuan. Abnormalitas spermatozoa
dapat mempengaruhi motilitas spermatozoa. Spermatozoa dengan morfologi abnormal
akan menghambat pergerakan spermatozoa. Morfologi spermatozoa yang abnormal
menyebabkan kelemahan pergerakan (motilitas) spermatozoa dan merupakan salah
satu faktor infertilitas. Rendahnya motilitas spermatozoa yang abnormal
menyebabkan spermatozoa kurang mampu melakukan penetrasi ke dalam getah
serviks dan menembus saluran reproduksi secara normal serta tidak dapat menembus
sel telur.
Spermatozoa mati berwarna merah keunguan, sedangkan spermatozoa yang hidup
akan terlihat berwarna putih pada bagian kepala. Spermatozoa yang abnormal ditandai
dengan kepala ganda, kepala terlalu kecil/besar, ekor bengkok, ekor putus, ekor
hilang, ekor amat pendek, tidak ada ekor, ada dua ekor, dan rusaknya membran
plasma. Jika di temukan 20 % bentuk abnormal maka kemungkinan tingkat fertilisasi
berkurang. Tudung akrosom yang utuh ditandai dengan ujung kepala spermatozoa
yang bewarna hitam tebal.








Gambar: Spermatozoa normal dan spermatozoa abnormal

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
 Spermatozoa adalah sel yang sangat kecil dengan ujung seperti ekor yang
menyatu dengan bagian sel yang menyempit yang disebut leher. Ekor ini
mempunyai gerakan seperti cambukan yang memungkinkan sel bergerak
setelah sel meninggalkan saluran reproduksi jantan.
 Pada sperma sapi, koleksi spermatozoanya dari tubulus seminiferus. Sperma
sapi berukuran besar dengan ekor yang tidak begitu panjang.
 Sperma tikus didapatkan langsung dengan memotong bagian caudal dari
epididymis nya. Pada sperma tikus ini mempunyai ukuran ekor yang panjang
dan pada kepalanya dapat dilihat seperti menyerupai kail.
 Spermatozoa yang abnormal ditandai dengan kepala ganda, kepala terlalu
kecil/besar, ekor bengkok, ekor putus, ekor hilang, ekor amat pendek, tidak
ada ekor, ada dua ekor, dan rusaknya membran plasma.
 Spermatozoa mati berwarna merah keunguan, sedangkan spermatozoa yang
hidup akan terlihat berwarna putih pada bagian kepala.

4.2 Saran
Dari praktikum yang telah dilaksanakan hendaknya sediaan spermatozoa nya
lebih banyak agar praktikan lebih memahami morfologi dan struktur nya secara
baik. Selain itu sebelum melakukan praktikum para praktikan sebaiknya sudah
menguasai bahan- bahan materi yang akan dipraktikumkan sehingga
memudahkan untuk pemahamannya.











DAFTAR PUSTAKA
Sonjaya, Herry. 2013. Dasar Fisiologi Ternak. Makassar: IPB Press
Eroschenko, Victor P. 2010. Atlas Histologi Edisi 11. Jakarta: EGC
Tim Fisiologi Veteriner FKH Unsyiah. 2014. Pedoman Kerja Laboratorium Fisiologi
Veteriner 2014. Banda Aceh
Watson,roger. 2002.Anatomy physiology for nurses.Jakarta:EGC
http://www.scribd.com/.2009
Ida bagus gde mauaba,dkk.2007.Pengantar kuliah obsteri.Jakarta:EGC
Fikri, Al dkk.2013. Korelasi Frekuensi Koleksi Semen Terhadap Kualitas Semen Segar Sapi
Limousin di Balai Inseminasi Buatan Lembang. Diakses pada Rabu 14 Mei 2014 pukul 22.00
WIB.
Suryadi E, dkk. 2007. Perubahan sel-sel Leydig tikus putih (Rattus norvegicus) jantan
dewasa setelah pemberian monosodium glutamat peroral. Diakses pada Rabu 14 Mei 2014
pukul 23.00 WIB.
Fitriani dkk. 2010. The Effect Of Cigarettes Smoke Exposured Causes Fertility Of Male Mice.
Diakses pada Rabu 14 Mei 2014 pukul 20.00 WIB.
Muhammad. dkk. 2004. Pemanfaatan Spermatozoa Epididimis Dalamteknologi Reproduksi.
Diakses pada Rabu 14 Mei 2014 pukul 20.00 WIB.
http://ndiel2.wordpress.com/2012/01/30/analisa-sperma/. Diakses pada Kamis 15 Mei 2014
pukul 23.00 WIB.
http://ramuanboyke.com/blog/ciri-ciri-kualitas-sperma-yang-baik/. Diakses pada Kamis 15
Mei 2014 pukul 24.00 WIB.