You are on page 1of 43

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmaanirrahiim,
Assalamu‘alaikum Wr.Wb.
Puji dan syukur marilah kita panjatkan kehadirat illahi rabbi yang mana
berkat rahmat dan hidayahnya penyusun dapat menyelesaikan tugas makalah ini
yang diajukan pada mata kuliah ―Bahasa Indonesia‖ dengan judul ―Alinea dan
Analisis Teks‖. Shalawat beserta salam marilah kita curahkan selalu kepada
baginda alam yakni Nabi Muhammad saw.
Makalah ini adalah sebuah karya yang kami susun berkat kerja sama. Maka dari
itu kami mengucapkan banyak terima kasih pada semua pihak yang ikut berperan
aktif dalam terwujudnya makalah ini.
Makalah yang kami susun ini bukanlah sesuatu yang sempurna, akan
tetapi makalah ini terlahir dari kerja keras kami. Dalam penyusunan makalah ini
tentunya masih banyak kekurangan-kekurangan yang harus di perbaharui. Maka
dari itu, kami mengharapkan kepada dosen pembimbing untuk memberikan kritik
dan saran supaya dalam pembuatan makalah yang selanjutnya bisa menjadi lebih
baik lagi. Terimakasih.
Billahitaufiq wal hidayah
Wassalammu‘alaikum Wr.Wb.














DAFTAR ISI
Kata Pengantar
Daftar Isi
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan Penulisan
D. Sistematika Penulisan
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Alinea
B. Fungsi Alinea
C. Unsur-unsur Alinea
C.1 Transisi
C.1.a Transisi Berupa Kata
C.1.b Transisi Berupa Kalimat
C.2 Kalimat Topik
C.3 Kalimat Pengembang
C.4 Kalimat Penegas
D. Jenis-jenis Alinea
E. Kriteria Alinea
Analisis Teks beserta penjelasannya
BAB III PENUTUP
A.Kesimpulan
B.Saran






BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Kita sering mendengar istilah paragraf atau alinea. Istilah tersebut sering
digunakan, baik dalam percakapan maupun dalam kegiatan-kegiatan pertemuan
dalam rapat, diskusi, atau seminar. Mereka yang sering menulis, baik surat, kertas
kerja, pelaporan, atau skripsi pasti menggunakan alinea dalam tulisannya. Apabila
ditanyakan definisi dari alinea maka akan bervariasi jawabannya.
Bila kita membuat alinea, kita menuliskan sekelompok ide yang terdiri atas
ide pokok dan ide bawahan yang merupakan penjelasan tentang ide pokok. Di
samping ide pokok ini,terdapat ide pokok lainnya yang masih berkaitan dengan
ide pokok pertama. Kedua ide pokok ini merupakan bagian kelompok ide yang
lebih besar. Oleh sebab itu, ide pokok yang kedua ini diungkapkan dalam alinea
berikutnya yang disertai pula dengan ide pokok bawahan yang berupa penjelasan
terhadap ide pokok kedua tadi. Demikianlah seterusnya sehingga kita dapat
membuat sebuah karangan yang terdiri atas beberapa alinea yang mengandung
kelompok-kelompok ide yang saling berkaitan.
Membaca merupakan satu dari keempat keterampilan berbahasa yang dapat
menunjang pelajar dalam memahami teks. Dewasa ini berbagi informasi dapat di
peroleh dengan mudah dan baik melalui media cetak , media elektronik, atau
internet. Informasi yang di peroleh tidak hanya dalam bahasa Indonesia melainkan
juga dalam bahasa asing.
Pemahaman teks merupakan suatu proses yang memiliki tahapan sistematis
dalam dalam rangka mamahami informasi menyeluruh dari suatu sumber bacaan,
informasi dari segi linguistik maupun ekstra linguistiknya. Seringkali pembaca
dalam hal ini pelajar mengalami kesulitan dalam memahami suatu teks
dikarenakan kurangnya pengetahuan dasar tentang bahasa sumber (langue du
depart), pokok pembahasan teks(sujet du texte), latar belakang panulisan teks dan
pemahaman kontek budaya.
Dalam hal memahami teks diharapkan para pelajar mampu menganalisis teks
secara sistematis, memahami tidak hanya konteks bahasanya saja tetapi juga
konteks budaya yang terdapat pada teks dan mengungkapkan kembali isi teks
secara lisan dan tertulis berupa ringkasan (resume).

B. Rumusan Masalah

1. Apakah definisi dari alinea?
2. Apakah fungsi dari alinea?
3. Apakah unsur-unsur alinea?
4. Apakah jenis-jenis alinea?
5. Bagaimana cara menyusun alinea yang baik?
6. Bagaimana cara mengoreksi kesalahan ejaan?
7. Bagaimana cara mengoreksi kesalahan alinea?
8. Bagaimana cara mengoreksi kesalahan kalimat?
9. Bagaimana cara membuat ringkasan teks?

C. Tujuan Penulisan

Tujuan dari penulisan makalah ini yaitu:
1. Dapat memahami definisi dari alinea.
2. Dapat mengapresiasi fungsi dari alinea.
3. Dapat mengetahui unsur-unsur apa saja yang terdapat pada alinea.
4. Dapat menyebutkan serta menjelaskan jenis-jenis alinea.
5. Dapat menyusun alinea dengan baik dan benar.
6. Dapat megoreksi kesalahan dalam ejaan.
7. Dapat mengoreksi kesalahan dalam alinea.
8. Dapat mengoreksi kesalahan dalam kalimat.
9. Dapat membuat ringkasan teks dengan baik dan benar.


D. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan makalah ini adalah :

Cover
Kata Pengantar
Daftar Isi

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan Penulisan
D. Sistematika Penulisan

BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Alinea
B. Fungsi Alinea
C. Unsur-unsur Alinea
C.1 Transisi
C.1.a Transisi Berupa Kata
C.1.b Transisi Berupa Kalimat
C.2 Kalimat Topik
C.3 Kalimat Pengembang
C.4 Kalimat Penegas
D. Jenis-jenis Alinea
E. Kriteria Alinea

BAB III PENUTUP
A.Kesimpulan
B.Saran
DAFTAR PUSTAKA





BAB II
PEMBAHASAN


A. PENGERTIAN PARAGRAF
Paragraf (Alinea ) menurut KBBI adalah suatu bagian dari bab pada sebuah
karangan atau karya ilmiyah yang mana cara penulisaanya harus di mulai dengan
baris baru. Paragraf di kenal juga dengan nama lain yaitu Alinea. Paragraf di buat
dengan membuat kata pertama pada baris pertama masuk kedalam (geser ke
sebelah kanan) beberapa ketukan atau spasi. Demikian pula dengan paragraf
berikutnya mengikuti penyajian seperti paragraf pertama.
B. FUNGSI PARAGRAF (ALINEA)
Dalam rangka keseluruhan karangan, alinea sering juga digunakan sebagi
pengantar, transisi atu peralihan dari satu bab ke bab lainnya. Bahkan, tidak jarang
alinea digunakan sebagai penutup. Di sini, alinea berfungsi sebagai pengantar,
tarnsisi, dan konklusi. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa alinea
berfungsi sebagai berikut :
1.Sebagai penampung dari sebagian kecil jalan pikiran atau ide pokok keseluruhan
karangan
2.Memudahkan pemahaman jalan pikiran atau ide pokok pengarang.
3.Alat bagi pengarang untuk mengembangkan jalan pikirn secara sistematis.
4.Pedoman bagi pembaca untuk mengikuti dan memahami alur pikiran pengarang.
5.Sebagai penyampai pikiran atau ide pokok pengarang kepada pembaca sebagai
penanda bahwa pikiran baru dimulai.
6.Dalam rangka keseluruhan karangan, alinea dapat berfungsi sebagai pengantar,
transisi, dan penutup (konklusi).



C.UNSUR-UNSUR PARAGRAF (ALINEA)

Paragraf (alinea) adalah satu kesatuan ekspresi yang terdiri atas seperangkat
kalimat yang dipergunakan oleh pengarang sebagai alat untuk menyatakan dan
menyampaikan jalan pikirannya kepada para pembaca. Supaya pikiran tersebut
dapat diterima oleh pembaca, alinea harus tersusun secara logis-sistematis. Alat
bantu untuk menciptakan susunan logis-sistematis itu adalah unsur-unsur
penyusun alinea, seperti transisi (transition), kalimat topik (topic sentence),
kalimat pengembang (development sentence), dan kalimat penegas(punch-line).
Keempat unsur penyusun alinea tersebut, terkadang muncul secara bersamaan,
terkadang pula hanya sebagian yang muncul dalam sebuah alinea.
.
C.1 TRANSISI
Transisi adalah mata rantai penghubung antar alinea. Transisi berfungsi
sebagai penghubung jalan pikiran dua alinea yang berdekatan. Transisi
tidak hanya terdapat pada alinea,tetapi terdapat juga dalam kalimat, antar
alinea, antarsubbab, antarbab.
Transisi :
 Berupa kata
Alat penanda transisi berupa kata dan kelompok kata sangat banyak
jenisnya. Secara garis besar, alat penanda transisi dapat
diklasifikasikan sebagai berikut.
a. Penanda Hubungan Kelanjutan

contoh :
dan
lagi
serta
lagi pula
tambahan lagi
contoh penanda transisi yang berupa kata lagi pula adalah sebagai
berikut.
Lagi pula, munculnya para pemipin muda sangat diharapkan oleh
masyarakat.
b. Penanda hubungan Urutan Waktu
Contoh:
dahulu
kini
sekarang
sebelum
setelah
sesudah
kemudian
Contoh: penanda transisi yang berupa kata sementara itu adalah
sebagai berikut.
Sementara itu,persiapan pelantikan anggota DPRD sudah mulai
dilakukan oleh panitia pelaksana.
c. Penanda Klimaks
contoh:
paling…
se..nya
ter…
contoh penada transisi yang berupa kata terakhir adalah sebagai
berikut.
Terakhir,dia berdagang buah-buahan pada usia 18 tahun.
d. Penanda Perbandingan
Contoh:
sama
seperti
ibarat
bak
bagaikan
contoh penanda transisi yang berupa kata bagaikan adalah sebagai
berikut.
Bagaikan seorang ahli,ia mulai melukis di atas kanvas.
e. Penanda Kontras
Contoh:
tetapi
biarpun
walupun
sebaliknya
contoh: penanda transisi yang berupa kata sebaliknya adalah
sebagai berikut. Sebaliknya, mereka terlihat kurang antusias untuk
berpartisipasi sebagi pemilih pada pemilu tahun ini.
f. Penanda Urutan Jarak
Contoh :
di sini
di situ
di sana
dekat
jauh
sebelah…
contoh penanda transisi yang berupa kata di sana adalah sebagai
berikut.
Di sana,telah berdiri tegak sebuah monumen yang mengenang
kepahlawanansebuah bangsa.
g. Penanda Illustrasi
Contoh :
umpama
contoh
misalnya
Contoh penanda transisi yang berupa kata misalnya sebagai
berikut.
Misalnya,pembangunan tidak akan berjalan tanpa adanya kerja
sama semua pihak.

h. Penanda Sebab Akibat
Contoh :
karena
sebab
oleh karena itu
akibatnya
Contoh penanda transisi yang berupa kata akibatnya adalah sebagai
berikut. Akibatnya, semua anggota terkena hukuman.
i. Penanda Kondisi Pengandaian
Contoh :
jika
kalau
jikalau
andai kata
seandainya
contoh penanda kata transisi yang berupa kata seandainya adalah
sebagi berikut.
Seandainya,waktu dapat diulang,aku ingin keluargaku kembali
berkumpul.
j. Penanda Simpulan
Contoh:
simpulan
ringkasnya
garis besarnya
rangkumannya
Contoh penanda transisi yang berupa kata ringkasnya adalah
sebagai berikut.
Ringkasnya,semua kegiatan tersebut dapat dilakukan dengan
penuh tanggung jawab.
Contoh penanda transisi yang berupa kata lagi pula adalah sebagai
berikut.
Lagi pula,munculnya para pemipin muda sangat diharapkan oleh
masyarakat.



 Berupa Kalimat
Transisi jenis kedua yang berupa kalimat yang lebih terkenal dengan
istilah “LEADIN-SENTENCES”(KALIMAT PENUNTUN). Kalimat
ini berfungsi ganda, yaitu sebagi tranisi dan sebagai pengantar topik
utama yang akan diperbincangkan.
Kalimat penuntun tidak berfungsi sebagai pengganti kalimat topik.
Letaknya selalu mendahului kalimat topik. Bila dalam suatu alinea
terdapat kalimat penuntun sebagai transisi, kalimat topik terdapat
setelah kalimat penuntun tersebut.
Contoh :
(1)Ringkasnya, tata bahasa meliputi 3 hal ,yaitu fonologi, morfologi,
dan sintaksis. (2)Fonologi berhubungan dengan studi tata bunyi,
morfologi mengenai tata kata, dan sintaksis membicarakan tata
kalimat.
Keterangan:
Kalimat penutun (1)
Kalimat topik (2)

C.2 KALIMAT TOPIK
Kalimat topik adalah perwujudan pernyataan ide pokok alinea
dalam bentuk umum atau abstrak.
Contoh:
(1) Sial benar saya hari ini.
(2) Harga barang-barang bergerak naik.
Contoh ke-(1) menyatakan kesialan seseorang. Kesialan tersebut baru
berupa pernyataan abstrak yang harus diuraikan kedalam contoh-contoh
yang konkret. Demikian pula contoh ke-(2), harga barang naik masih
bersifat umum. Yang perlu diperjelas adalah berapa naiknya untuk setiap
barang. Dengan begitu, akan jelas pengertian yang terdapat pada kalimat
topik.

C.3 KALIMAT PENGEMBANG
Kalimat Pengembang adalah kalimat yang terdapat dalam suatu
alinea yang mana susunan kalimatnya tidak sembarangan. Urutan kalimat
pengembang sebagai perluasan pemaparan ide pokok.
Contoh :
Pada pagi hari, suasana lingkungan rumah andi begitu indah. Di sekitar
rumah, berjejer pohon-pohon yang menambah keteduhan. Sementara itu,
kicau burung menambah semraknya pagi itu. Di kejauhan, terlihat gunung
tangkuban perahu yang penuh misteri. Sungguh, pagi yang indah dan
hangat.

C.4 KALIMAT PENEGAS
Kalimat penegas adalah pengulang atau penegas kembali kalimat
topik. Fungsinya sebagai daya penarik bagi para pembaca atau sebagai
selingan untuk menghilangkan kejemuan.










D.JENIS-JENIS PARAGRAF(ALINEA)

a. Jenis paragraf menurut Posisi kaimat topiknya :
A. Paragraf Deduktif
Adalah paragraf yang letak kalimat pokoknya di tempat kan
pada bagian awal paragraf, yaitu paragraf yang menyajikan
pokok permasalahan terlebih dahulu, yang dimulai dengan
pernyataan umum yang disusun dengan uraian atau penjelasan
khusus(umum-khusus).


B. Paragraf Induktif
Paragraf induktif ditandai dengan terdapatnya kalimat
utama di akhir paragraf dan diawali dengan uraian atau
penjelasan bersifat khusus dan diakhiri dengan pernyataan
umum(khusus-umum).

C. Paragraf Campuran
Paragraf campuran ditandai dengan terdapatnya kalimat
utama di awal dan akhir paragraph (deduktif-induktif). Kalimat
pada akhir paragraf umumnya menjelaskan atau menegaskan
kembali gagasan utama yang terdapat pada awal paragraf

b. Jenis paragraf berdasarkan paragraf penuh kalimat topik
Seluruh kalimat yang membangun paragraf, sama
pentingnya sehingga tidak satupun kalimat yang khusus
menjadi kalimat topik. Kondisi seperti itu dapat atau biasa
terjadi akibat sulitnya menentukan kalimat topik karena
kalimat yang satu dan lainnya sama-sama penting. Paragraf
semacam ini sering dijumpai dalam uraian-uraian bersifat
deskriptif dan naratif terutama dalam karangan fiksi.
c. Jenis paragraf menurut isinya
 Eksposisi
Berisi uraian atau penjelasan tentang suatu topik dengan
tujuan memberi informasi.
 Argumentasi
Bertujuan membuktikan kebenaran suatu pendapat/
kesimpulan dengan data/ fakta konsep sebagai alasan/
bukti.
 Deskripsi
Berisi gambaran mengenai suatu hal atau keadaan
sehingga pembaca seolah-olah melihat, merasa atau
mendengar hal tersebut.
 Persuasi
Karangan ini bertujuan mempengaruhi emosi pembaca
agar berbuat sesuatu. Isi paragraf ini mempromosikan
sesuatu dengan cara mempengaruhi atau mengajak
pembaca. Paragraf persuasif banyak dipakai dalam
penulisan iklan, terutama majalah dan koran.
 Narasi
Karangan ini berisi rangkaian peristiwa yang susul-
menyusul, sehingga membentuk alur cerita. Karangan
jenis ini sebagian besar berdasarkan imajinasi.

E. KRITERIA ALINEA

Bila kita berbicara tentang kualitas suatu alinea,mau tidak mau kita
dihadapkan pada seperangkat syarat-syarat alinea yang baik.Beberapa
syarat yang harus dipenuhi agar alinea termasuk kategori baik,di
antaranya:
(1) Satu alinea terdiri atas beberapa kalimat.
(2) Alinea tersebut mengandung satu ide pokok.
(3) Ide yang diungkapkan dalam kalimat-kalimat yang membangun alinea
tersebut saling berkaitan sehingga terlihat koherensi secara
berkesinambungan,sereta urutan yang logis dan runtun.
(4) Pengungkapan kelompok ide dalam alinea tersebut merupakan satu
kesatuan yang padu.
(5) Alinea tertulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar.
(6) Struktur alinea harus bervariasi disesuaikan dengan latar belakang
pembaca,sifat media tempat alinea (karangan) diterbitkan serta sifat dan
tuntutan kalimat topik.





ANALISIS TEKS


A. Koreksi Kesalahan Ejaan
Di dalam kenyataan penggunaan bahasa, masih banyak kesalahan yang
disebabkan oleh kesalahan penerapan ejaan, terutama tanda baca. Penyebabnya,
antara lain ialah adanya perbedaan konsepsi pengertian tanda baca di dalam ejaan
sebelumnya yaitu tanda baca diartikan sebagai tanda bagaimana seharusnya
membaca tulisan. Misalnya, tanda koma merupakan tempat perhentian sebentar
(jeda) dan tanda tanya menandakan intonasi naik.

Dalam ejaan sekarang tanda baca berhubungan dengan bagaimana
memahami tulisan (bagi pembaca) atau bagaimana memperjelas isi pikiran (bagi
penulis) dalam ragam bahasa tulis. Jadi, bagi pembaca, tanda baca berfungsi untuk
membantu pembaca dalam memahami jalan pemikiran penulis, sedangkan bagi
penulis, tanda baca berfungsi untuk membantu menjelaskan jalan bagi penulis
supaya tulisannya (karangannya) dapat dipahami dengan mudah oleh pembaca.
Beberapa kesalahan bahasa yang disebabkan oleh kesalahan penggunaan tanda
baca, khususnya tanda koma.

1. Tanda Koma di antara Subjek dan Predikat

Penulisan bentuk seperti ini tidak benar karena subjek tidak dipisahkan oleh
tanda koma dari predikat, kecuali pasangan tanda koma yang mengapit keterangan
tambahan atau keterangan aposisi. Kedua kalimat itu dapat diperbaiki dengan
menghilangkan tanda koma itu.
Contoh:
a. Mahasiswa yang akan mengikuti ujian negara, diharapkan
mendaftarkan diri di sekretariat.
b. Kesediaan negara itu untuk membeli gas alam cair (LNG) Indonesia
sebesar dua juta ton setiap tahun, tentu merupakan suatu
penambahan baru yang tidak sedikit artinya dalam penerimaan devisa
negara.

2. Tanda Koma di antara Keterangan dan Subyek

Keterangan kalimat yang panjang dan yang menempati posisi awal juga
sering dipisahkan oleh tanda koma dari subyek kalimat. Padahal, meskipun
panjang, keterangan itu bukan anak kalimat. Oleh karena itu, pemakaian tanda
koma seperti itu juga tidak benar. Contoh:
a. Dalam rangka peringatan Proklamasi Kemerdekaan RI, kita akan
mengadakan sayembara mengarang tingkat SMA.
b. Dengan kemenangan yang gemilang itu, pemain andalan kita dapat
memboyong piala kembali ke Tanah Air.

Untuk memperbaikinya dengan tanda koma tersebut dihilangkan, kecuali
jika penghilangan tanda koma itu akan menimbulkan ketidakjelasan batas antara
keterangan dan subyek. Contoh:
Dalam pemecahan masalah kenakalan anak kita memerlukan data dari berbagai
pihak, antara lain dari pihak orangtua, sekolah, dan masyarakat tempat
tinggalnya.

3. Tanda Koma di antara Predikat dan Objek

Pemakaian tanda koma seperti itu tidak benar karena obyek tidak dipisahkan
dengan tanda koma dari predikat. Contoh:
a. Ibu tidak menceritakan, bagaimana si Kancil keluar dari sumur
jebakan itu
b. Kami belum mengetahui, kapan penelitian itu akan membuahkan hasil.

Tetapi tanda koma yang mengapit keterangan yang berupa anak kalimat atau
tanda koma yang memisahkan kutipan dari predikat induk kalimat dipisahkan
dengan koma. Contoh:
a. Pejabat itu menegaskan, ketika menjawab pertanyaan wartawan, bahwa
kenaikan harga sembilan bahan pokok akan ditekan serendah-
rendahnya.
b. Seorang pedagang mengatakan, sambil melayani pelanggannya, bahwa
naiknya harga barang-barang sudah dari agennya.

B. Analisis Ketidaksatuan Ejaan
No Bentuk Salah Bentuk Benar Alasan
1 Oleh karena itu oleh karena itu, Kata penghubung kalimat diakhiri
dengan koma.
2 Non bank Nonbank Penulisan non dirangkai dengan
kata yang merangkainya
( Bab III pasal B ayat 4 )
3 Nopember November Penalaran fomer V tetap V ( Bab
IV )

1. Huruf ― f, ― v ―, dan ― p ―

Sering kita melihat penulisan kata yang hurufnya bertukar-tukar.
Maksudnya, kata yang seharusnya ditulis dengan huruf F dan V ditulis dengan p
atau kata yang seharusnya ditulis V ditulis dengan F yang disebabkan karena
orang tak tahu pasti dengan huruf mana seharusnya digunakan. Ada juga orang
menggunakan huruf P ditulis dengan P bukan dengan F atau V yang bisa
digunakan untuk menuliskan kata asing saja, dan itu sudah masuk sistem ejaan
kita, misalnya :
Coordinasi menjadi koordinasi
Standardization menjadi standardisasi
2. Bentuk ―Efektivitas― yang dipermasalahkan

4 Rp. Rp Tanda titik digunakan diakhir
mata uang
5 Perlakuan. Pelakuan Judul tidak diakhiri dengan tanda
titik
( Bab V pasal A ayat 7 )
Akutansi. Akutansi
Selisih kurs. selisih kurs
Terhadap. Terhadap
Penerimaan. penerimaan
6 "PT.
Telesindo Lestari".
"PT. Telesindo
Lestari"
Penulisan PT tidak diakhiri
dengan tanda titik
7 Diatas di atas Kata depan terputus dengan kata
tempat yang mengikutinya
Pada awal masa kemerdekaan Republik Indonesia orang
mempermasalahkan bentuk-bentuk seperti fakultet, fakulteit, fakulti yang
dipertanyakan ialah mana bentuk yang betul diantara bentuk itu.

Dalam bahasa belanda, ada kata fakulteit. Dalam bahasa belanda semuanya
berakhir dengan teit misalnya : faculteit, univerteit, ativiteit. Dalam bahasa
inggris, kata-kata yang sama berakhiran ty : university, faculty, activity.

Seorang guru besar ketika itu berpengaruh mengusulkan agar bentuk itu
sebaiknya mengacu kepada asal kata-kata itu dalam bahasa lain, bunyi akhiran tas,
fakultas dan universitas, usulan itu diterima lalu jadilah usulan itu dengan akhiran
tas, Fakultas, universitas, realitas, aktivitas. Bentuk-bentuk lain yang berakhiran
teit harus dijadikan akhiran tas, bukan teit, tet, tit atau ta.

3. Mana yang betul ?
“ Istri “ atau “ Isteri “ ?

Yang akan kita bicarakan disini ialah ada yang menulis Istri, namun ada
yang menulis Isteri Dalam suku kata bahasa melayu tidak ada suku kata tra, sla,
kla, sta, kra, pra. Dalam bahasa sangsakerta kita pungut kata stri kata ini diberikan
tambahan i didepannya sehingga menjadi istri. Kemudian diantaranya t dan r di
sisipkan e sehingga menjadi isteri. Kalau dipenggal atas sukunya menjadi is – te
– ri. Menurut EYD ditetapkan bahwa kata asing tak usah disisipi huruf e.



C. KOREKSI KESALAHAN ALINEA

Ada satu kecenderungan jelek di dunia pendidikan, yaitu menganggap
kesalahan sebagi sesuatu yang buruk dan harus dihindari, setiap orang diajarkan
bahwa kesalahan adalah hal yang memalukan dan harus dihindari. Padahal,
kesalahan sebenarnya merupakan pedoman untuk tidak mengulangi kesalahan
yang sama. Winston Churchil, mantan Perdana Mentri Inggris, pernah berkata:
―All men make mistakes, but only wise men learn from their mistakes.‖
Pernyataan ini mengungkapkan bahwa kesalahan merupakan kesempatan untuk
membuat sesuatu yang lebih baik (termasuk kesalahan orang lain), semakin
banyak dia belajar dan semakin besar pula kesempatan baginya membuat sesuatu
yang lebih berkualitas pada kesempatan berikutnya.
Paradigma bahwa kesalahan adalah pedoman untuk melakukan sesuatu lebih
baik ini sangat bermanfaat untuk diterapkan dalam penulisan karya ilmiah.
Berdasarkan pengalaman penulis dalam membimbing penulisan makalah, artikel,
dan skripsi oleh mahasiswa dan dalam mengedit tulisan ilmiah, terdapat empat
kelompok kesalahan yang sering dilakukan para penulis (pemula): bagaimana
membuat alinea yang efektif, bagaimana membuat tulisan mudah dipahami,
bagaimana cara mengutip dengan benar, dan bagaimana cara menuliskan
referensi.

A. Alinea Yang Efektif

Alinea pada hakikatnya merupakan perpaduan sekelompok kalimat yang
membahas satu ide pokok, logis dan tidak ada pengulangan. Pada dasarnya setiap
karya tulis merupakan sekumpulan alinea yang membahas suatu permasalahan.
Dengan syarat alinea tidak boleh terlalu pendek sehingga ide pokoknya tidak
dikembangkan secara memadai, atau terlalu panjang sehingga ide pokoknya
berkembang sangat luas hingga perlu dikembangkan dalam beberapa alinea
terpisah.
Oleh karena itu, kemampuan menulis alinea yang baik adalah persyaratan
yang sangat penting dalam menulis karya ilmiah. Berikut ini merupakan konsep-
konsep mendasar yang perlu dikuasai dalam rangka mengembangkan kemampuan
menulis alinea yang efektif.
Dilihat dari fungsinya, kalimat-kalimat pembangun sebuah alinea dapat
dibedakan ke dalam tiga jenis: kalimat topik, kalimat pendukung, dan kalimat
kesimpulan. Kalimat topik berfungsi menyatakan ide pokok atau mengungkapkan
apa yang akan dibahas dalam alinea tersebut. Kalimat pendukung berfungsi
menghadirkan bukti, fakta, argumen, atau penjelasan lain untuk memperjelas ide
pokok. Sedangkan kalimat kesimpulan digunakan untuk merangkum isi alinea
atau menunjukkan transisi ke alinea berikutnya. Tidak semua alinea
membutuhkan kalimat kesimpulan. Oleh karena itu, jenis kalimat yang harus ada
dalam sebuah alinea adalah kalimat topik dan pendukung.
1. Kalimat Topik

Dalam tulisan ilmiah, kalimat topik dapat ditempatkan di awal atau di akhir
alinea, tergantung pola berpikir yang digunakan. Jika penulis menggunakan pola
berpikir deduktif, kalimat topik diposisikan di awal alinea, jika induktif, di akhir.
Untuk penulis pemula, menempatkan kalimat topik di awal alinea lebih
disarankan, karena mendukung suatu ide yang lebih umum dengan menghadirkan
detil-detil yang spesifik (deduktif) biasanya lebih mudah dilakukan daripada
menyimpulkan beberapa detil spesifik menjadi sebuah ide yang lebih umum.
Selain itu, perlu diingat bahwa setiap kalimat topik harus mengandung tiga
unsur: subjek, verba, dan ide pengendali (controlling idea). Subjek dalam kalimat
topik berperan sebagai topik alinea, sedangkan ide pengendali merupakan sebuah
kata atau frasa yang mengendalikan informasi-informasi dalam kalimat-kalimat
lain dalam alinea tersebut. Subjek bisa diletakkan di awal kalimat topik (sebelum
verba) atau di akhir (sesudah verba). Lihat contoh 1 berikut.

Contoh 1

1. Karya ilmiah memiliki empat ciri khas.
S V IP

2. Terdapat empat ciri khas yang dimiliki oleh karya ilmiah.
IP V S


Berdasarkan penjelasan dia atas, terungkap bahwa bahwa sebuah kalimat
topik harus memenuhi tiga persyaratan. Pertama, kalimat topik harus berbentuk
kalimat lengkap (complete). Dalam kalimat itu harus terdapat unsur subjek,
predikat, dan objek (ide pengendali). Kedua, cakupan ide pengendali harus
terbatas (limited), dalam arti tidak lebih dari satu ide karena sebuah alinea hanya
dapat membahas sebuah ide secara tuntas. Ketiga, ide pengendali harus spesifik
(specific). Hal ini berarti ide tersebut harus relevan dan secara langsung
berhubungan dengan topik.
Untuk memahami ketiga persyaratan kalimat topik ini secara lebih jelas, lihat
contoh-contoh dan penjelasan dalam contoh 2 berikut.

Contoh 2

1.a. Kemampuan menulis yang baik
1.b. Kemampuan menulis yang baik memberikan banyak keuntungan.
2.a. Pulau Bali terkenal dengan berbagai pemandangan yang indah.
2.b. Pulau Bali terkenal dengan berbagai pemandangan yang indah dan
penduduknya yang ramah.
3.a. Kenaikan harga kebutuhan pokok menimbulkan masalah yang serius.
3.b. Kenaikan harga kebutuhan pokok menimbulkan masalah yang serius
bagi kalangan berpenghasilan rendah.


Kalimat (1.a.) di atas bukan kalimat topik yang baik karena tidak memiliki
unsur subyek, verba, dan ide pengendali. Sedangkan kalimat (1.b.) adalah kalimat
topik yang baik karena adanya unsur subyek, verba, dan ide pengendali. Kalimat
(2.a.) merupakan kalimat topik yang baik karena ide pengendalinya hanya satu,
yakni ―berbagai pemandangan yang indah‖. Kalimat (2.a.) bukan kalimat topik
yang baik karena ide pengendalinya lebih dari satu. Kalimat (3.a.) bukan
merupakan kalimat topik yang baik karena ide pengendalinya tidak spesifik—bagi
siapa masalah yang serius tersebut timbul? Kalimat (3.b.) merupakan kalimat
topik yang baik karena ide pengendalinya secara spesifik menyatakan masalah
yang serius tersebut dialami kalangan berpenghasilan rendah.

2. Kalimat Pendukung

Kalimat pendukung dibedakan ke dalam dua jenis. Pertama, kalimat
pendukung mayor, yaitu kalimat-kalimat yang secara langsung digunakan untuk
menjelaskan ide pokok dalam yang dinyatakan dalam kalimat topik. Penjelasan
tersebut bisa dilakukan dengan cara menghadirkan bukti, fakta, argumen, kutipan
atau penjelasan lain. Kedua, kalimat pendukung minor, yaitu kalimat-kalimat
yang fungsinya memberikan keterangan yang lebih terperinci terhadap penjelasan
dalam suatu kalimat pendukung mayor. Keberadaan satu atau lebih kalimat
pendukung mayor dalam sebuah alinea adalah keharusan. Sedangkan keberadaan
kalimat pendukung minor sangat tergantung pada apakah penjelasan dalam suatu
kalimat pendukung mayor masih perlu diberikan penjelasan yang lebih terperinci
atau tidak. Dengan kata lain, tidak semua alinea memiliki kalimat pendukung
minor. Lihat contoh 3 berikut.


Contoh 3

(1) Penggunaan bahasa sebagai media komunikasi telah menjalani empat
tahapan evolusi yang sesuai dengan perkembangan kebutuhan manusia. (2)
Penelitian antropologis mengungkapkan bahasa mulai dikembangkan masyarakat
manusia sebagai sarana komunikasi antar individu dalam kelompok kecil sekitar
200.000 tahun lalu (Gianella dan Hopkins, 2006: 12). (3) Pada waktu itu, bahasa
digunakan hanya untuk berbagi informasi dan perasaan mengenai kehidupan
sehari-hari. (4) Sekitar tahun 30.000 sebelum masehi, kebutuhan untuk
berkomunikasi dengan individu lain dari kelompok dan generasi berbeda
mendorong manusia menciptakan bahasa tertulis. (5) Petroglif, piktogram, dan
ideogram di dinding gua, seperti Chauvet Cave di Prancis Selatan, adalah contoh
upaya menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dengan kelompok dan generasi
berbeda (Moore, 2005: 20). (6) Perkembangan ini kemudian diikuti oleh
penemuan sistem tulisan sekitar 4000 tahun SM, yang memungkinkan
pendokumentasian peristiwa dan data dalam bentuk yang lebih permanen. (7)
Perkembangan teknologi informasi, yang dimulai dengan penemuan telegraf pada
tahun 1837, telefon (1871), dan internet pada abad ke-20 membuat komunikasi
dengan bahasa dapat dilakukan tanpa batasan ruang dan waktu.


Dalam alinea di atas, kalimat (1) adalah kalimat topik (KT). Kalimat (2)
merupakan kalimat pendukung mayor pertama (KPM1) yang secara langsung
menjelaskan tahapan evolusi bahasa sebagai media komunikasi dengan
menghadirkan tahapan awal perkembangan bahasa. Kalimat (3) adalah kalimat
pendukung minor (KPm) yang menyajikan penjelasan lebih detil kepada informasi
dalam KPM1. Kalimat (4) merupakan kalimat pendukung mayor kedua (KPM2)
yang secara langsung menjelaskan tahapan kedua evolusi bahasa. Kalimat (5)
adalah kalimat pendukung minor (KPm) yang menyajikan penjelasan lebih detil
kepada informasi dalam KPM2. Kalimat (6) merupakan kalimat pendukung
mayor ketiga (KPM3) yang secara langsung menjelaskan tahapan ketiga evolusi
bahasa. Kalimat (6) merupakan kalimat pendukung mayor keempat (KPM4) yang
secara langsung menjelaskan tahapan keempat evolusi bahasa.
Hubungan antara kalimat topik (KT) dan kalimat-kalimat pendukung mayor
(KPM) serta kalimat-kalimat pendukung minor dalam alinea contoh di atas dapat
digambarkan dalam grafik di sebelah kanan ini.
3. Kalimat Simpulan

Pada bagian akhir berbagai alinea penulis juga bisa meletakkan kalimat
kesimpulan, yakni kalimat yang merangkum informasi pada kalimat-kalimat
sebelumnya atau menarik kesimpulan berdasarkan informasi tersebut. Secara
umum, dapat dikatakan bahwa kalimat kesimpulan merupakan penegasan ide
pokok yang dinyatakan dalam kalimat topik. Lihat contoh 4 berikut.





Contoh 4

(1) Masyarakat Indonesia menjadikan Universitas Kristen Indonesia (UKI)
sebagai pilihan pertama untuk menimba ilmu karena beberapa alasan. (2) Pertama,
UKI merupakan salah satu universitas tertua di Indonesia yang berpengalaman
mengelola pendidikan tinggi dalam rangka menghasilkan lulusan berkualitas. (3)
Survai terhadap 5678 alumni yang dilaksanakan baru-baru ini mengungkapkan
95% responden tidak mengalami kesulitan memperoleh kerja atau menerapkan
ilmu yang diperolehnya selama kuliah di UKI untuk berwiraswasta. (4) Selain itu,
kampus UKI terletak di salah satu lokasi paling strategis di Indonesia. (5) Hal ini
membuat mahasiswa tidak mengalami kesulitan mencapai kampus. (6) Ketiga,
dosen-dosen di UKI berkualitas tinggi dan memiliki jiwa kepelayanan yang
tinggi. (7) Ketiga faktor diatas mendorong masyarakat menjadikan UKI pilihan
utama untuk kuliah.

Dalam alinea di atas, kalimat (7) adalah kalimat kesimpulan (KK). Kalimat
ini merangkum informasi yang tersaji pada kalimat (2) hingga kalimat (6). KK ini
juga mengungkapkan ide pokok yang telah dinyatakan di kalimat topik, meskipun
dengan cara yang tidak sama persis.
Selain penggunaan kalimat topik, pendukung dan kesimpulan yang tepat,
sebuah alinea juga harus memenuhi unsur koherensi (coherence) dan kohesi.
Yang dimaksud dengan koherensi adalah kesatuan isi atau kepaduan maksud.
Koherensi tercipta bila seluruh kalimat pendukung membahas hanya satu hal,
yakni topik, dan jika peristiwa, waktu, ruang, dan proses diurutkan secara logis.
Kohesi mengandung arti hubungan yang erat; perpaduan yang kokoh dan kohesif
berarti padu. Kohesi alinea tercipta bila seluruh kalimat yang membangunnya
dipadu dengan erat dan kokoh dengan menggunakan konjungsi, pronominal,
repetisi, sinonim, hiponim, paralelisme, dan elipsasi dengan tepat.
B. Membuat Tulisan yang Mudah Dipahami

Tujuan utama pembuatan setiap karya tulis, termasuk karya ilmiah, adalah
mengkomunikasikan informasi, ide, atau konsep kepada pembaca agar dapat
dipahami, dimanfaatkan, dan dikembangkan. Akan tetapi, ada ―sekelompok‖
tertentu yang cenderung menganggap bahwa tolok ukur keilmiahan sebuah tulisan
adalah kerumitan tulisan itu: semakin sulit, semakin ilmiah. Bagi mereka, moto
‖Kalau bisa ditulis secara rumit mengapa harus dibuat sederhana?‖ terkesan lebih
pas daripada antitesisnya, ―Kalau bisa ditulis sederhana, jangan dibuat rumit.‖
Padahal, keilmiahan sebuah karya tulis pada hakikatnya berhubungan dengan
faktor kesistematisan, kelogisan, kebahasaan, dan keteraturan dalam berpikir. Jika
semua faktor itu dipenuhi dengan baik, karya tulis itu akan mudah dipahami.
Kelompok yang menganggap keilmiahan identik dengan kerumitan
cenderung menulis karya ilmiah dengan empat karakteristik berikut. Pertama,
menggunakan kalimat-kalimat yang panjang. Kelompok ini kelihatannya
menganggap bahwa kalimat kalimat pendek yang mudah dipahami hanya cocok
untuk tulisan anak-anak atau orang awam. Oleh karena itu mereka menyusun
kalimat-kalimat yang mengandung banyak frasa dan klausa dengan ‗alasan‘
semakin panjang kalimat, semakin mendalam pembahasan. Padahal kalimat yang
sangat panjang akan menimbulkan masalah pemahaman karena tidak jelas mana
subjek, mana predikat, dan mana objek kalimat itu. Kecenderungan seperti ini
sebaiknya dicegah. Jika tidak terpaksa, jangan gunakan kalimat-kalimat panjang
dan kompleks. Kalimat pendek dan efektif akan membuat pemahaman lebih
mudah. Bandingkan kedua kalimat contoh berikut. Mana yang lebih mudah
dipahami?


Contoh 5

a. Analisis kesalahan merupakan suatu teknik kajian dalam pengajaran bahasa yang
dilakukan oleh guru dalam lima langkah terhadap siswanya untuk mengetahui
penguasaannya akan kompetensi bahasa tertentu dengan cara mengidentifikasi
kesalahan apa yang dilakukan secara sistematis, seperti slip, keseleo, salah
omong, alias lapses dalam pembelajaran speaking, melihat seberapa sering dia
melakukan kesalahan, diikuti dengan penentuan dan pengklasifikasian jenis
kesalahan, kemudian menginterpretasikan apa penyebab kesalahan tersebut, dan,
berdasarkan teori-teori dan prosedur-prosedur linguistik, diakhiri dengan
mengadakan perbaikan terhadap kesalahan itu.

b. Analisis kesalahan merupakan suatu teknik kajian dalam pengajaran bahasa yang
dilakukan oleh guru untuk mengetahui penguasaan siswanya akan kompetensi
bahasa tertentu. Analisis ini dilakukan dalam lima langkah: satu, mengidentifikasi
kesalahan yang dilakukan secara sistematis, seperti salah omong dalam
pembelajaran berbicara; dua, melihat seberapa sering kesalahan dilakukan; tiga,
menentukan dan mengklasifikasikan jenis kesalahan; empat, menginterpretasikan
penyebab kesalahan; dan terakhir, mengadakan perbaikan terhadap kesalahan itu
berdasarkan teori-teori dan prosedur-prosedur linguistik.


Kecenderungan kedua yang sering dilakukan kelompok yang menganggap
keilmiahan identik dengan kerumitan adalah memuat sebanyak mungkin istilah
asing. Contoh 6 di bawah ini memperlihatkan fenomena ini dengan cukup baik.
Anda dapat memahaminya?


Contoh 6

Sekarang, aplikasikan sebuah sistem kalkulus proposional. Akumulasikan
pada sistem itu sebuah logika modal yang lemah yang di dalamnya kondisional
yang eksisting dan anteseden yang dibutuhkan mengakibatkan konsekuensi yang
dibutuhkan (aksioma Godel) dan kebutuhan akan teorema juga merupakan
teorema. Jika dikatakan bahwa semua kebenaran dapat diketahui maka hal ini
dapat dirumuskan ‗Jika p maka mungkin (‗à‘) diketahui p‘ dapat diketahui.
Harus diakui bahwa sebagai bahasa yang sedang berkembang bahasa
Indonesia tidak memiliki padanan yang pas untuk semua istilah teknis yang lazim
terdapat dalam karya tulis ilmiah. Permasalahan ini sebenarnya terjadi juga dalam
bahasa lain. Tidak ada satu bahasa pun yang memiliki kosa kata lengkap hingga
tidak lagi memerlukan ungkapan untuk gagasan, temuan, atau konsep baru. Solusi
terhadap permasalahan apakah istilah-istilah asing tersebut harus diterjemahkan,
dibiarkan, atau dikombinasikan dengan istilah Indonesia sebenarnya sudah
dirumuskan oleh Pusat Bahasa (2007). Jadi, untuk menghasilkan tulisan ilmiah
yang baik, menerapkan pedoman pembentukan istilah tersebut merupakan
keharusan.
Sebagai pedoman praktis, terdapat empat kiat untuk menghasilkan tulisan
yang efektif. Pertama, gunakan kata yang pendek dan lazim. Sebagai contoh,
kalimat ―Tiga ahli di bidang migrasi hadir di seminar itu.‖ jauh lebih efektif
daripada ―Tiga tokoh berpengetahuan spesifik dalam bidang perpindahan
penduduk hadir di seminar itu‖, meskipun keduanya mengungkapkan ide yang
sama. Kedua, cegah kata-kata yang berlebihan (redundant). Kalimat ―Tono
berteriak dengan suara keras‖ menggunakan kata yang berlebihan, karena suara
orang yang berteriak pasti keras. Sebaiknya kalimat itu diganti menjadi ――Tono
berteriak‖ saja. Ketiga, kunakan kalimat yang efektif (pendek dan sederhana).
Keempat, urutkan ide secara logis. Tono berteriak.


C. Pengutipan

1. Hakikat Kutipan

Dalam penulisan karya ilmiah seringkali digunakan berbagai kutipan—
pinjaman pendapat atau ucapan seseorang—untuk mendukung, menjelaskan,
membuktikan, atau menegaskan ide-ide tertentu. merupakan suatu hal yang wajar
dan bahkan sangat efektif untuk menghemat waktu. Adalah suatu pemborosan
waktu bila seorang penulis harus menyelediki kembali suatu kebenaran yang telah
diteliti, dibuktikan dan dimuat secara luas dalam sebuah buku, majalah, dan lain-
lain, untuk tiba pada kesimpulan yang sama. Jadi, untuk mendukung tulisannya,
penulis bisa mengutip pendapat yang sudah teruji dengan menyebutkan
sumbernya agar pembaca dapat mencocokkan kutipan itu dengan sumber aslinya.
Meskipun penggunaan kutipan pendapat ahli merupakan suatu hal yang
wajar, hal itu tidak berarti bawa sebuah tulisan dapat terdiri dari kutipan-kutipan
saja. Membuat tulisan dengan menggunakan terlalu banyak kutipan dapat
menimbulkan kesan bahwa karya itu hanya suatu koleksi kutipan belaka. Sebagai
patokan, panjang kutipan tidak boleh melebihi sepertiga panjang tulisan. Secara
ilmiah, ide-ide pokok dan kesimpulan-kesimpulan harus merupakan pendapat
penulis. Kutipan-kutipan hanya berfungsi sebagai bukti-bukti pendukung
pendapat penulis tersebut.
Menuliskan sumber kutipan dalam tulisan dapat dilakukan dengan bermacam
cara sesuai dengan standar yang digunakan oleh lembaga atau media tempat
tulisan diterbitkan. Karena rumpun ilmu-ilmu sosial biasanya menganut sistem
American Psychological Association (APA), sangat disarankan untuk menguasai
sistem ini dan menggunakannya secara konsisten. Berikut ini adalah pedoman
pokok yang diadaptasi dari Suryana dkk. (2007)
Pada dasarnya, kutipan dalam karya ilmiah dibagi atas dua jenis, yaitu
kutipan langsung dan kutipan tidak langsung. Kutipan langsung merupakan
pendapat para ahli yang dipinjam secara utuh atau lengkap, baik berupa frase atau
kalimat. Kutipan langsung dapat dibedakan pula atas kutipan langsung yang
kurang atau sama dengan empat baris dan kutipan langsung yang lebih dari empat
baris. Kutipan tidak langsung adalah pendapat para ahli yang dikutip dengan
menggunakan parafrase, yaitu menuliskan kembali apa yang dinyatakan oleh
sumber rujukan dalam bahasa sendiri. Diantara kedua jenis kutipan itu, yang
paling disarankan untuk digunakan adalah kutipan tidak langsung. Teknik kutipan
langsung digunakan hanya jika (1) ungkapan yang dikutip memang sudah selaras
dengan bagian lain tulisan; (2) ungkapan yang dikutip sudah sangat populer, atau
(3) ungkapan yang dikutip sangat sulit diparafrase.



2. Teknik Pengutipan




a. Kutipan Langsung

Kutipan langsung yang kurang atau sama dengan empat baris dapat
dilakukan dengan cara-cara berikut: (i) kutipan ditulis inklusif dengan
teks; (ii) memakai tanda petik dua di awal dan di akhir kutipan; (iii) awal
kutipan memakai huruf kapital; (iv) diikuti nama akhir pengarang (marga),
tahun terbit buku, halaman buku; penulisan ini dapat disajikan di awal
atau di akhir kutipan.

Kutipan langsung yang lebih dari empat baris dapat dilakukan
dengan cara-cara berikut: (i) ditulis eksklusif (terpisah) dari teks 2,5 spasi;
(ii) ditulis dalam satu spasi; (iii) memakai tanda petik dua atau pun tidak
(opsional); (iv) semua kutipan dimulai dari 7-10 ketukan dari sebelah kiri
teks; (v) Awal kutipan memakai hurup kapital; (vi) diikuti nama akhir
pengarang (marga), tahun terbit buku, halaman buku; penulisan ini dapat
disajikan di awal atau di akhir kutipan.

b. Kutipan Tidak Langsung
Pengutipan ini dilakukan dengan cara-cara berikut: (i) kutipan
disatukan (inklusif) dengan teks; (ii) tidak memakai tanda petik dua; (iii)
Menggunakan ungkapan mengatakan bahwa, menyatakan bahwa,
mengemukakan bahwa, berpendapat bahwa dll; (iv) Mencantumkan
nama akhir pengarang (marga), tahun, dan halaman.


3. Prinsip-Prinsip Dasar

Prinsip-prinsip dasar dalam pengutipan adalah sebagai berikut.
a. Dalam kutipan tidak dibenarkan mencantumkan judul buku.
b. Nama orang dan identitas tahun terbit dan halaman buku selalu berdekatan
Contoh:
Norman (2004: 56) menyatakan bahwa ……………………
c. Kutipan tidak dibenarkan dicetak tebal atau dihitamkan.
d. Penulis tidak diperkenankan untuk mengadakan perubahan (katakata) dalam
kutipan. Apabila ingin mengadakan perubahan, harus disertai dengan enjelasan.
e. Apabila ada kesalahan dalam penulisan baik EYD atau pun ketatabahasaan, tidak
diperkenankan mengadakan perubahan. Namun penulis boleh memberikan
pendapat atau komentarnya mengenai kesalahan atau ketidaksetujuannya dalam
tanda kurung segi empat [...]. Jika penulis menemukan kesalahan ejaan pada kata-
kata tertentu, dia hanya diperkenankan memberikan catatan terhadap kesalahan
tersebut dengan menambahkan kata [sic!] dibelakang kata itu. Kata ini
menunjukkan bahwa penulis tidak bertanggungjawab atas kesalahan itu. Dia
hanya sekedar mengutip sesuai dengan apa yang ada dalam naskah aslinya.
Kemudian, jika penulis memandang perlu untuk memberikan penekanan dengan
cara merubah teknik penulisan, seperti menggarisbawahi, mencetak miring, atau
mencetak tebal, hal itu harus dijelaskan dalam tanda kurung segi empat [...].

Contoh:
Setiawan (2001: 30) menegaskan bahwa: ―Semakin dini [huruf miring dari
saya, Penulis] seseorang mulai belajar bahasa Inggeris [sic!] akan semakin baik
hasilnya dan semakin banyak waktu belajar bahasa Inggeris [sic!] maka taraf
penguasaan pembelajar terhadap bahasa itu akan semakin baik.‖
f. Kutipan dalam bahasa asing atau bahasa daerah harus dicetak miring.
g. Kutipan langsung selalu memakai tanda petik dua dan diawali dengan huruf
kapital.
Contoh:
Suazo (2001: 30) berpendapat bahwa ―Emotional intelligence is …‖
h. Kutipan dapat ditempatkan sesuai dengan kebutuhan baik di awal, tengah, atau
akhir teks.
i. Jika pengarang ada dua, nama akhir (marga) kedua pengarang itu ditulis.
Contoh:
Pardede dan Simanjuntak (2007: 34) berpendapat ……
j. Jika pengarang ada tiga atau lebih, nama akhir pengarang pertama yang ditulis dan
diikuti dkk.
Contoh:
Pardede dkk. (2007: 34) menyatakan ……
k. Jika dalam dalam tulisan yang sama digunakan beberapa kutipan dari sumber
berbeda yang ditulis orang atau lembaga yang sama dan diterbitkan dalam tahun
yang sama juga, data tahun penerbitan diikuti lambang huruf a, b, c, dst.
berdasarkan abjad judul buku-buku tersebut.
Contoh:
Garcia (2009a: 34) menjelaskan ……
l. Jika kutipan diperoleh dari majalah atau koran tanpa identitas penulis, nama
majalah atau koran tersebut dituliskan sebagai sumber.
Contoh:
Kompas (2009: 34) menyatakan ……
m. Jika kutipan diperoleh dari dokumen yang diterbitkan oleh suatu lembaga, nama
lembaga tersebut dituliskan sebagai sumber.
Contoh:
Pusat Bahasa (2007: 25) menjelaskan ……
n. Jika kutipan diperoleh dari dokumen resmi pemerintah yang diterbitkan tanpa
identitas penulis, judul atau nama majalah atau koran tersebut dituliskan sebagai
sumber
Contoh:
Undang-Undang Republik Indonesia No 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional (2004) menyatakan ……
o. Kutipan dalam bentuk catatan kaki sudah tidak dipakai lagi dalam penulisan karya
ilmiah karena dirasakan tidak efektif.
p. Kutipan yang berasal dari ragam bahasa lisan seperti pidato pejabat jarang dipakai
sebagai sumber acuan dalam penulisan karya ilmiah karena kebenarannya sulit
dipercaya karena harus diketahui oleh orang yang bersangkutan (rawan kesalahan
kutipan). Jika terpaksa menggunakannya, kutipan seperti itu harus dibuatkan dulu
ke dalam transkrip dan diminta pengesahannya oleh pembicara.
q. Pengutipan pendapat orang lain sebaiknya dilakukan secara variatif (jangan
monoton). Padukanlah kutipan langsung dan kutipan tidak langsung.
r. Apabila kutipan itu dirasakan terlalu panjang, penulis boleh mengambil bagian
intinya saja dengan teknik memakai tiga tanda titik […], tetapi tidak boleh
mengubah atau menggeserkan makna atau pesannya.
Contoh:
Tylor (1991: 62) menegaskan: ―It is, ..., not possible to have action without
character and character is also defined by plot.‖
s. Jika mengutip pendapat ahli yang berasal dari kutipan karya ilmiah orang lain,
bentuk penyajiannya adalah.
Contoh:
Menurut Chomsky (dalam Purba, 2009: 56), makna ujaran adalah …
t. Penulisan kutipan dari artikel dari internet mengikuti aturan yang sama dengan
sumber bahan tertulis, bila data tentang nama penulis, judul artikel, dan nomor
halaman tersedia. Jika nomor halaman tidak tersedia, sebutkan dari alinea berapa
kutipan tersebut diambil.
Contoh:
Menurut Nazara (2009: alinea 5), sumber kekuatan utama seorang pria adalah
...


KOREKSI KESALAHAN KALIMAT
1. Kesalahan kalimat
a. Kesalahan intrernal
Kesalahan internal adalah kesalahan kalimat yang diukur dari unsur-unsur
dalam kalimat. Kesalahan dari segi internal dapat dipilah menjadi beberapa tipe.
Tipe pertama adalah kesalahan kandungan isi yang menyebabkan kalimat menjadi
tidak logis sebagaimana tampak pada contoh berikut:

1. Dengan pemakaian pupuk urera pil dapat menyuburkan tanaman dan
meningkatkan produksi pertanian.
2.Kepada semua informan mendapatkan dua macam instrumen yaitu angket
dan catatan kegiatan.

Kedua kalimat di atas merupakan kalimat yang tidak logis. Untuk
membuktikan itu dapat digunakan pertanyaan-pertanyaan mengenai isi setiap
kalimat itu.Pada kalimat (1) jika dipertanyakan dengan kalimat Apa yang
menyuburkan tanaman?, jawaban tidak dapat dicari dalam kalimat itu. Barulah
jawaban dapat ditemukan jika frasa dengan pemakaian dihilangkan sehingga
kalimatnya menjadi Pupuk Urea Pil dapat menyuburkan tanaman dan
meningkatkan produksi pertanian.Pada kalimat (2) jika dipertanyakan dengan
kalimat siapa yang mendapatkan dua macam instrumen? Maka jawaban tidak
dapat dicari, jawaban terhadap kalimat itu baru dapat diarahkan ke semua
informan jika kalimat di ubah menjadi Semua informan mendapatkan dua macam
instumen, yaitu angket dan catatan kegiatan.

b.Kesalahan Eksternal

Kesalahan eksternal adalah kesalahan yang diukur dari unsur luar kalimat
yang bersangkutan. Di sini kesalahan eksternal di ukur dari kalimat-kalimat lain
yang menjadi konteks atau lingkungannya.Contoh :

Proyek lembah Dieng terletak di dukuh Sumberejo, desa Kalisungo yang
termasuk dalam daerah Kabupaten Malang. Daerah Malang yang sejuk terdiri
dari pegunungan-pegunungan kecil.

Dua buah kalimat paragraf tersebut benar secara internal, tetapi salah secara
eksternal, karena tidak membentuk satu gagasan yang utuh dan padu dalam
paragraf.

2. Membetulkan kesalahan kalimat

Ada beberapa jenis kesalahan dalam menyusun kalimat :


a. Kalimat tanpa subjek

Dalam menyusun sebuah kalimat, sering kali dengan kata depan atau
preposisi, lalu verbanya menggunakan bentuk aktif atau berawalan me- baik
dengan atau tanpa akhiran –kan. Dengan demikian dihasilkan kalimat-kalimat
salah seperti di bawah ini.

1.Bagi yang merasa kehilangan buku tersebut harap mengambilnya di kantor.
2.Dengan beredarnya koran masuk desa bermanfaat sekali bagi masyarakat
pedesaan.

Untuk membetulkan kalimat di atas dapat dilakukan dengan
1.menghilangkan kata depan pada masing-masing kalimat tersebut, atau
2.mengubah verba pada kalimat tersebut, misalnya dari aktif menjadi pasif.
Jadi kemugkinan pembetulan kalimat di atas adalah :

1. Yang merasa kehilangan buku tersebut harap mengambilnya di kantor.
2. Beredarnya koran masuk desa bermanfaat sekali bagi masyarakat pedesaan.

Dalam pembetulan kalimat di atas, maka subjeknya menjadi lebih jelas, yaitu
berturut-turut adalah yang merasa kehilangan buku tersebut dan beredarnya koran
masuk desa.

b.Kalimat dengan objek berkata depan

Kesalahan pemakaian kata depan juga sering ditemui pada objek. Sebagai
contoh:

1.Hari ini kita tidak akan membicarakan lagi mengenai soal harga, tetapi soal
ada tidaknya barang itu.
2.Dalam setiap kesempatan mereka tidak bosan-bosannya mendiskusikan tentang
dampak positif pembuatan waduk itu.

Dua kalimat di atas dapat dibetulkan dengan menghilangkan kata depan mengenai
pada kalimat (1) dan tentang pada kalimat (2).Perlu dicatat bahwa dalam bahasa
Indonesia terdapat beberapa verba dan kata depan yang sudah merupakan paduan,
misalnya: Bertentangan dengan, bergantung pada, berbicara tentang, menyesal
atas, keluar dari, sesuai dengan serupa dengan.

c.Konstruksi pemilik kata depan

Kesalahan pemakaian kata depan lain yang ditemui pada konstruksi frasa :
termilik + pemilik. Secara berlebihan sering ditemui adanya kecenderungan
mengeksplisitkan hubungan antara termilik dengan pemilik dengan memakai kata
depan dari atau daripada, misalnya :

Kebersihan lingungkungan adalah kebutuhan dari warga.
Buku-buku daripada perpustakaan perlu ditambah.


Kontruksi frasa yang sejenis dengan kebutuhan dari warga dan buku-buku
daripada perpustakaan, ini sering kita dengar perlahan dalam pidato-pidato
(umumnya tanpa teks), misalnya :

Biaya dari pembangunan jembatan ini; kenaikan daripada harga-harga barang
elektronik.

Dalam karangan keilmuan konstruksi frasa yang tidak baku sepeti di atas
hendaknya dihindari karena dalam bahasa Indonesia hubungan ―termilik‖ +
pemilik bersifat implisit.




d.. Kalimat yang ‗pelaku‘ dan verbanya tidak bersesuaian

Dalam kalimat dasar, verba dapat dibedakan menjadi verba yang menuntut
hadirnya satu ‗pelaku‘ dan verba yang menuntut hadirnya lebih dari satu ‗pelaku‘.
Dalam pembentukan kalimat, kesalahan yang mungkin terjadi ialah yang
penggunaan verba dua ‗pelaku‘, namun salah satu ‗pelakunya‘ tidak
tercantumkan.Contoh :
1.Dalam perkelahian itu dia berpukul-pukulan dengan gencarnya.
2.Dalam seminar itu dia mendiskusikan perubahan social masyarakat pedesaan
sampai berjam-jam

Dalam kalimat (1) verba berpukul-pukulan menuntut hadirnya dua pelaku, yaitu
dia dan orang lain, misalnya Joni. Dalam perkelahian itu dia berpukul-pukulan
dengan Joni.Demikian pula kalimat (2), di samping pelaku dia diperlukan
hadirnya pelaku lain sebagai mitra diskusi, misalnya para pakar, sehingga kalimat
(2) menjadi :Dalam seminar itu, dia mendiskusikan perubahan social masyarakat
pedesaan dengan para pakar.

e. Penempatan yang salah kata aspek pada kalimat pasif berpronomina
Menurut kaidah, konstruksi pasif berpronomina berpola aspek +
pronomian + verba dasar. Jadi tempat kata aspek adalah di depan pronominal.
Kesalahan yang sering terjadi adalah penempatan aspek diantara pronominal
dengan verba atau dalam pola : ―pronominal + aspek + verba dasar‖. Contoh :
Saya sudah katakan bahwa…

Bentuk seperti contoh di atas dapat dibentulkan dengan memindahkan kata aspek
ke depan pronominal menjadi :

sudah saya katakan bahwa…

f. Kesalahan pemakaian kata sarana

Dalam menyusun kalimat sering dipakai kata sarana, kata sarana itu dapat
berupa kata depan dan kata penghubung. Kata depan lazimnya terdapat dalam satu
frasa depan, dan kata penghubung pada umumnya terdapat pada kalimat mejemuk
baik yang setara maupun yang bertingkat. Kesalahan pemakaian kata depan
umumnya terjadi pada pemakaian kata depan di, pada dan dalam, ketiga kata
depan tersebut sering dikacaukan, misalnya:

Di saat istirahat penyuluh mendatangi para petani (pada saat)
Benih itu ditaburkan pada kolam yang baru (ke dalam)
Dalam tahun 1965 terjadi pemberontakan G 30 S/PKI (di)

Adapun kesalahan pemakaian kata penghubung umumnya terjadi karena
ketidaksesuaian antara pemakaian kata penghubung dan makna hubungan antar
klausanya,
Rapat hari ini ditunda karena peserta tidak memenuhi kuorum
Rapat hari ini ditunda sebab perserta tidak memnuhi kuorum














MEMBUAT RINGKASAN TEKS

a. Cara membuat ringkasan teks

Bagi orang yang sudah terbiasa membuat ringkasan, mungkin kaidah
dalam yang berlaku dalam menyusun ringkasan telah tertanam dalam benaknya.
Meski demikian, tentulah perlu diberikan beberapa patokan sebagai pegangan
dalam membuat ringkasan teks terutama bagi mereka yang baru mulai atau belum
pernah membuatan ringkasan. Berikut ini bebrapa pegangan yang dipergunakan
untuk membuat ringkasan yang baik dan teratur :

1. Membaca naskah asli. Bacalah naskah asli agar dapat mengetahui kesan
umum tentang karangan tersebut secara menyeluruh.
2. Mencatat gagasan utama
3. Mengadakan reproduksi yaitu urutan isi disesuaikan dengan naskah asli,
tapi kalimat-kalimat dalam ringkasan yang dibuat adalah kalimat-kalimat
baru yang sekaligus menggambarkan kembali isi dari karangan aslinya.

Selain melakukan tiga hal diatas, juga terdapat beberapa hal yang perlu
diperhatikan juga agar ringkasan itu diterima sebagai suatu tulisan yang baik.
a) Menyusun kalimat tunggal daripada kalimat majemuk.
b) Meringkas kalimat menjadi frasa, frasa menjadi kata. Dan mengganti rangkaian
gagasan yang panjang menjadi gagasan yang sentral.
c) Jika memungkinkan, buanglah semua keterangan atau kata sifat yang ada.
d) Mempertahankan susunan gagasan dan urutan naskah.




b.Menentukan panjang ringkasan

Yaitu dengan cara menghitung jumlah seluruh kata dalam karangan itu dan
bagilah dengan seratus. Hasil pembagian itulah merupakan panjang karangan
yangn harus ditulisnya. Contoh ringkasan teks.

Sarana angkutan dari jauh-jauh hari sudah dipersiapkan. Angkutan bus
betul-betul menjadi tulang punggung di saat-saat seperti ini karena lebih dari
separuh calon pemudik diperkirakan akan terangkut oleh bus.Sementara hanya
1/3 dari seluruh pemudik dari Jakarta dan sekitarnya diperkirakan menggunakan
jasa KA.

teks diatas dapat dirigkas menjadi.

Sarana angkutan dari jauh-jauh hari sudah dipersiapkan. Angkutan bus
betul-betul menjadi tulang punggung di saat-saat seperti ini karena lebih dari
separuh calon pemudik diperkirakan akan terangkut oleh bus. Sementara hanya
1/3 dari seluruh pemudik dari Jakarta.



















BAB III
PENUTUP

A.KESIMPULAN

Ditinjau dari segi kalimat dan ide yang terkandung di dalamnya,alinea dapat
didefinisikan sebagai berikut. Alinea adalah seperangkat kalimat yang
mengandung sekelompok ide yang saling berkaitan dan bernaung di bawah satu
ide pokok. Ditinjau dari segi penampilannya dalam suatu wacana, alinea adalah
bagian wacana yang ditandai oleh baris pertama yang menjorok ke dalam atau
oleh jarak spasiyang lebih dari jarak spasi baris kalimat-kalimat lainnya.
Berdasarkan penempatan ide pokok pada alinea,alinea dibagi menjadi 4 jenis
yaitu alinea deduktif, alinea induktif, alinea campuran, alinea deskriptif dan
berdasarkan sifat di bagi atas 5 jenis yaitu : Eksposisis, Argumentatif, Deskriftif,
Persuasif dan Naratif.
Untuk menyusun alinea secara logis-sistematis diperlukan alat bantu berupa
unsur-unsur penyusun alinea, seperti transisi (transition), kalimat topik (topic
sentence), kalimat pengembang (development sentence), dan kalimat penegas
(punch-line) keempat unsur penyusun alinea tersebut, terkadang muncul secara
bersamaan, terkadang pula hanya sebagian yang muncul dalam sebuah alinea.
Berdasarkan hasil analisis teks, baik dari bentuk analisis ejaan, koreksi
kesalahan alinea koreksi kesalahan kalimat, dan cara tepat membuat ringkasan
teks, maka dapat disimpulkan bahwa bentuk-bentuk karangan atau karya tulis
sangat mudah untuk diteliti kesalahannya.
Kesalahan yang terdapat pada karya tulis sangat berpengaruh bagi pembaca,
karena kesalahan tersebut akan membuatkan keracuan dalam memahami maksud
dari karya tulis tersebut. Salah satu contoh pembuatan kalimat atau kata yang
tidak sesuai dengan aturan EYD, akan berdampak penyalahgunaan pemahaman.
Contoh lain seperti kesalahan dalam pembuatan alinea, yang memiliki arti ide
kecil dari seluruh isi pernyataan yang utuh (BAHASA INDONESIA
JURNALISTIK. 131 . RAS SIREGAR). Kesalahan-kesalahan tersebut memang
terbilang kecil tapi dampaknya besar.
Dengan penulisan yang baik, kita bisa lebih mudah menyampaikan ide-ide,
gagasan, tujuan dari apa yang kita maksud dengan benar dan tepat, yang pasti
pembaca akan lebih mudah menyerap, memahami, memaknai karya tulis kita.
Membuat karya tulis yang benar dan tepat sama dengan berbicara yang benar
dan tepat, bila lawan / teman bicara kita dengan mudah memahami pembicaraan
kita, berarti kita sudah baik dan benar dalam berkomunikasi, begitu juga degan
karya tulis, bila pembaca dengan mudah memahami, memaknai karya tulis kita,
berarti kita sudah baik dan benar dalam tulisan kita, yang pasti hal diatas dapat
diperoleh dengan penggunaan ejaan dengan benar, pembuatan alinea dengan
benar, pembuatan kalimat dan ringkasan teksyang benar pula.
Salah satu sarana untuk membantu kita dalam penulisan yang baik dan benar
adalah menganalisis teks yang meliputi koreksi kesalahan ejaan, koreksi
kesalahan alinea, koreksi kesalahan kalmat dan cara benar membuat ringkasan
teks, seperti yang sudah kami paparkan dilampiran depan.


B. SARAN

Sebagai mahasiswa kita dituntut untuk berkarya tulis yang baik dan benar,
karea karya tulis kita memiliki peran yang sangat penting dalam penyajian ide dan
gagasan kita.
Sebuah gagasan dan ide adalah simbol kualitas mahasiswa, namun bila
gagasan tersebut dituangkan melalui karya tulis yang kurang tepat justru
mahasiswa akan dinilai kurang berkualitas.
Oleh karena itu, penelitian terhadap hasil karya tulis sangat dibutuhkan karena
dengan meneliti atau menganalisis karya tulis, kita bisa lebih cermat dan teliti
dalam penyajian ide dan gagasan.
Karya yang kami susun ini bukanlah karya yang sempurna tapi sesuatu yang
lahir dari kerja keras. Kami mengharapkan masukan dan kritikan para pendengar.
Mudah-mudahan dengan adanya makalah ini khususnya bagi penyusun umumnya
untuk para pembaca bisa mengembangkan atau membuat sebuah alinea yang baik
berdasarkan kriteria yang ada.