You are on page 1of 11

1

Tumor Parotis pada Laki-laki Berusia 60 tahun dan
Penatalaksanaannya
Bernadina NS Lewowerang
102011303
Kelompok : C8
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Arjuna Utara No. 6 Jakarta Barat 11510
email : bernadinanovindra@ymail.com


Pendahuluan
Tumor parotis adalah tumor yang menyerang kelenjar liur parotis. Dari tiap 5 tumor kelenjar liur, 4
terlokalisasi di glandula parotis, 1 berasal dari kelenjar liur kecil atau submandibularis dan 30 %
adalah maligna. Disebutkan bahwa adanya perbedaan geografik dan suku bangsa: pada orang
Eskimo tumor ini lebih sering ditemukan, penyebabnya tidak diketahui. Sinar yang mengionisasi
diduga sebagai faktor etiologi.
Dalam rongga mulut terdapat 3 kelenjar liur yang besar yaitu kelenjar parotis, kelenjar
submandibularis, dan kelenjar sub lingualis. Kelenjar parotis merupakan kelenjar liur utama yang
terbesar dan menempati ruangan di depan prosesus mastoid dan liang telinga luar. Tumor ganas
parotis pada anak jarang didapat. Tumor paling sering pada anak adalah karsinoma mukoepidermoid,
biasanya jenis derajat rendah. Massa dalam kelenjar liur dapat menjadi ganas seiring dengan
bertambahnya usia. Prevalensi tumor ganas yang biasanya terjadi pada orang dengan usia lebih dari
40 tahun adalah 25 % tumor parotis, 50 % tumor submandibula, dan satu setengah sampai dua
pertiga dari seluruh tumor kelenjar liur minor adalah ganas.
1
Keganasan pada kelenjar liur sebagian besar asimtomatik, tumbuhnya lambat, dan berbentuk massa
soliter. Rasa sakit didapatkan hanya 10-29% pasien dengan keganasan pada kelenjar parotisnya.
Rasa nyeri yang bersifat episodik mengindikasikan adanya peradangan atau obstruksi daripada
akibat dari keganasan itu sendiri. Massa pada kelenjar liur yang tidak nyeri dievaluasi dengan
aspirasi menggunakan jarum halus (Fine Needle Aspiration) atau biopsi. Pencitraan menggunakan
2

CT-Scan dan MRI dapat membantu. Untuk tumor ganas, pengobatan dengan eksisi dan radiasi
menghasilkan tingkat kesembuhan sekitar 50%, bahkan pada keganasan dengan derajat tertinggi.
1,2
Anamnesis
Wawancara yang baik seringkali sudah dapat mengarahkan masalah pasien ke diagnosis penyakit
tertentu. Di dalam Ilmu Kedokteran, wawancara terhadap pasien disebut anamnesis. Anamnesis
dapat langsung dilakukan terhadap pasien (auto-anamnesis) atau terhadap keluarganya atau
pengantarnya (alo-anamnesis) bila keadaan pasien tidak memungkinkan untuk diwawancarai,
misalnya keadaan gawat-darurat, afasia akibat strok dan lain sebagainya.
1
Anamnesis yang baik akan
terdiri dari identitas, keluhan utama, riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu, riwayat
penyakit dalam keluarga, anamnesis susunan sistem dan anamnesis pribadi (meliputi keadaan sosial
ekonomi, budaya, kebiasaan, obat-obatan, lingkungan).
Berdasarkan kasus, anamnesa yang harus dilakukan terhadap pasien ialah:
 Menanyakan identitas pasien seperti umur.
 Menanyakan keluhan utama pasien : apakah ada benjolan pada bagian bawah telinga, apakah
menyebar ?
 Menanyakan riwayat penyakit sekarang, seperti sejak kapan adanta benjolan tersebut, apakah
terasa berdebar-debar, adakah pengihatan yang kurang baik, apakah cepat lelah, mudah
gelisah, dll ?
 Menanyakan riwayat penyakit dahulu seperti sebelumnya pernah sakit seperti ini tidak ?
 Menanyakan riwayat penyakit keluarga seperti pernah menderita penyakit yang sama seperti
pasien.
 Menanyakan riwayat social dan kebiasaan, seperti menanyakan bagaimana lingkungan
tempat tinggalnya, dll.
3

Pemeriksaan Fisik
Pada pasien dengan tumor kelenjar saliva, diindikasikan pemeriksaan kepala dan leher secara
cermat. Perhatian harus langsung pada ukuran, lokasi dan mobilitas dari tumor. Ada atau tidak ada
penekanan dari tumor sebaiknya dicatat. Adanya paralisis nervus facialis seharusnya meningkatkan
kecurigaan adanya suatu keganasan pada pasien, walaupun jarang, tumor jinak dapat juga
menyebabkan paralisis nervus facialis.
3
3




Pemeriksaan Penunjang
Terdapat beberapa macam pemeriksaan penunjang yang dilakukan untuk penegakan diagnosis tumor
parotis meliputi pemeriksaan histopatologik dan pemeriksaan radiologik ( foto polos, sialografi, CT-
Scan, dan MRI)
Pemeriksaan Histopatologik
1. Biopsi Aspirasi Jarum Halus (Fine – Needle Aspiration Biopsy)
Biopsi Aspirasi Jarum halus merupakan alat yang sederhan untuk diagnostic.
Biopsi aspirasi jarum halus memiliki kelebihan yaitu tingkat keakuratan yang cukup
tinggi dengan sensitifitas 88-98% dan spesifitas 94% pada tumor jinakBiopsi aspirasi
jarum halus juga sensitive dalam mendeteksi keganasan sebesar 58-98 % dengan
spesifitas 71-88%. Tekhnik ini sederhana, dapat ditoleransi dengan komplikasi yang
minimal. Selain untuk menegakan diagnosis defenitif, pemeriksaan ini juga bermanfaat
untuk menentukan tindakan tepat selanjutnya dan untuk evaluasi preoperative.
Keakuratan FNAb bergantung pada ketrampilan citopatologist.
2. Bedah Diagnostik
Biopsi pembedahan sebaiknya dihindari. Biopsi eksisional dan enukleasi
massa parotis berhubungan dengan peningkatan rekurensi tumor, terutama pada
adenoma pleiomorfik. Penanganan bedah yang baik untuk tumor parotis adalah reseksi
bedah komplit melalui parotidektomi dengan identifikasi dan preservasi nervus fasialis.
Identifikasi nervus fasialis ditujukan agar dapat dilakukan eksisi tumor yang adekuat dan
mencegah cedera nervus fasialis. Cara ini memeastikan batas jaringan sehat yang
adekuat disekeliling tumor, sehingga pada kebanyakan kasus tidak hanya bersifat
diagnostic, tetapi juga kuatif. cara ini jarang dilakukan dan biasanya dilakukan hanya
pada pasien dengan keganasan yang tidak dapat dioperasi. Pada kasus seperti ini, biopsy
dengan insis terbuka berguna dalam diagnostic histopatologi dan terapi radiasi paliatif
atau kemoterapi.
2,3
Pemeriksaan Radiologi
1. Sialograi
Tekhnik ini memerlukan suntikan bahan kontras yang larut dalam air atau
minyak langsung keduktus submandibula atau parotis. Setelah pemakaian anastesi topical
pada daerah duktus, tekanan yang lembut dilakukan pada kelenjar, dan muara duktus yang
4

kecil diidentifikasi oleh adanya aliran air liur. Muara duktus dilebarkan dengan
menggunakan sonde lakrimal. Kateter ukuran 18, mirip dengan jenis yang digunakan untuk
pemberian cairan intravena, atau pipa polietilen secara lembut dimasukkan sekitar 2 cm
kedalam duktus.. Kateter dipastikan pada sudut mulut. Tekhnik ini sama untuk kelenjar
parotis dan submandibula. Bagaimanapun kanulasi duktus kelenjar submandibula,
memebutuhkan kesabaran dari pada pelebaran duktus parotis. Film biasa sinar X diperoleh
untuk meyakinkan bahwa tidak terdapat substansi radioopak, seperti batu dalam kelenjar.
Antara 1,5 dan 2 ml media kontras disuntikan secara lembut melalui kateter kedalam
kelenjar sampai penderita merasakan adanya tekanan tetapi tidak melewati tititk ketika
penderita mengeluh nyeri. Dilakukan foto lateral, lateral oblik, oblik, dan anteriposterior.
Ketika kateter diangkat penderita dapat diberikan sedikit sari buah lemon. Dalam 5 sampai
10 menit pengambilan foto ulang. Normal jika seluruh media kontras dikeluarkan dalam
waktu itu. Persistensi media kontras dalam kelenjar 24 jam setelah test ini pasti abnormal
Terdapat keuntungan dan kerugian dari bahan kontras yang dapat larut dalam air dan lemak.
Sekarang ini Pantopaque dan Lipidol merupakan bahan kontras yang paling popular.
Sialografi lebih berguna pada gangguan – gangguan kronis kelenjar parotis
seperti sialadenitis rekuren, sindrom sjorgen, atau obstruksi duktus seperti striktur. sialografi
tidak berguna untuk membedakan massa jinak dari massa keganasan. Sialografi merupakan
kontra indikasi terdapatnya peradangan aKut kelenjar yang bAru terjadi.
2,4
2. CT-Scan

Tumor Parotis Ganas. Gambar menunjukkan massa berbatas tegas dalam kelenjar parotis kiri, yang
telah terbukti sebagai adenoma pleomorfik.
5

5


Adenoma pleomorfik pada kelenjar parotis kiri potongan axial leher.
5
3. MRI

Adenoma pleomorfik pada kelenjar parotis kanan potongan axial leher.
5
CT-Scan dan MRI digunakan untuk menemukan tumor dan menggambarkan luasnya.
Sedangkan biopsi untuk menegaskan jenis sel.
2,4
Diagnosis kerja
 Tumor parotis
Kelenjar liur atau sering juga disebut sebagai kelenjar saliva merupakan kelenjar eksokrin yaitu
kelenjar yang memiliki saluran (duktus) untuk mengalirkan produknya. Kelenjar liur
menghasilkan air liur atau saliva yang merupakan cairan yang membasahi mulut dan
kerongkongan. Saliva mengandung enzim yang berperan dalam proses pencernaan makanan dan
juga antibody yang berperan dalam pencegahan terhadap infeksi.
Terdapat 2 tipe kelenjar liur yaitu kelenjar liur mayor dan kelenjar liur minor.
Kelenjar liur mayor terdiri atas:
 Kelenjar parotis merupakan kelenjar liur yang terbesar, terletak dalam jaringan subkutis
di daerah ramus mandibula dan anterior inferior terhadap telinga tengah. Normalnya
kelenjar ini menghasilkan secret yang serous dan dialirkan ke rongga mulut melalui
duktus stensen. Meskipun merupakan kelenjar yang terbesar, kira-kira 20% cairan saliva
yang dihasilkan oleh kelenjar ini.
6

 Kelenjar submandibula, terletak didasar mulut, superior terhadap muskulus digastrik.
Sekretnya berupa campuran cairan yang serous dan mucous. Sekretnya dialirkan
kedalam rongga mulut melalui duktus warthon. Kira-kira 70% volume saliva dihasilkan
oleh kelenjar ini.
 Kelenjar sublingual, terletak didasar mulut anterior dari kelenjar submandibula.
Secretnya berupa cairan mucous. Tidak seperti kelenjar mayor yang lainnya. Kelenjar ini
memiliki 8-20 duktus ekskretorius dan kira-kira menghasilkan 5% dari total volume
saliva.
Kelenjar liur minor:
kelnjar liur minor tidak dilapisis oleh jaringan ikat melainkan dikelilingi oleh jaringan
ikat. Sebuah kelenjar liur minor kadang-kadang memiliki duktus ekskretori yang sama
dengan kelenjar liur minor yang lain. Kelenjar ini menghasilkan secret yang mucous.
Kebanyakan tumor kelenjar liur berasal dari kelenjar parotis (70%), selanjutnya berasal dari
kelenjar submandibula (8%) dan kelenjar liur minor (20 %). Meskipun demikian tumor kelenjar
parotis adalah jinak. Sedangkan 50 % tumor kelenjar submandibula dan 80% tumor kelenjar
minor merupakan tumor ganas.
6,7
Diagnosis Banding
 Parotitis epidemika
Penyakit ini paling sering terjadi pada anak-anak dan orang muda berusia lima sampai 15
tahun. Gejalanya, nyeri sewaktu mengunyah dan menelan. Lebih terasa lagi bila menelan
cairan asam seperti cuka dan air jeruk.
Pembengkakan yang nyeri terjadi pada sisi muka dan di bawah telinga. Kelenjar kelenjar di
bawah dagu juga akan lebih besar dan membengkak. Penderita juga merasa demam. Suhu
tubuh dapat meningkat hingga 39,5
0C
. Komplikasi mungkin terjadi pada anak laki-laki pada
umur belasan tahun, nyeri pada perut dan alat kelamin. Pada penderita remaja perempuan,
nyeri akan terasa juga di bagian payudara. Komplikasi serius terjadi jika virus gondong
menyerang otak dan susunan syarat. Ini menyebabkan radang selaput otak dan jaringan
selaput otak.
Penularan penyakit ini melalui kontak langsung dengan penderita, seperti persentuhan
dengan cairan muntah dan air seni penderita atau melalui udara ketika penderita bersin atau
batuk.
6,7


7

 Adenoma submandibularis
Kelenjar submandibular terlibat dalam hanya 5 % sampai 10 % dari tumor kelenjar ludah dan
adenoma pleomorfik ( PA ) adalah tumor yang paling umum yang mempengaruhi nya. Studi
ini menjelaskan fitur clinicopathological dan ekspresi imunohistokimia Ki - 67 dan p53
dalam 60 kasus kelenjar ludah submandibular . Sebagian besar pasien adalah pada dekade
ketiga dan kelima dari kehidupan dan 37 ( 62 % ) dari mereka adalah perempuan . Ukuran
tumor bervariasi dari 1 sampai 10 cm dan waktu rata-rata antara onset gejala dan pengobatan
adalah 52 bulan . Hanya 1 pasien mengalami kekambuhan lokal , 3 tahun setelah pengobatan
kebanyakan tumor terdiri terutama dalam stroma chondromyxoid . Stroma kaya lindung yang
lebih besar daripada yang stroma miskin ( P < .02 ) . Semua PAS ditemukan negatif untuk Ki
- 67 dan p53 . Hasil ini menunjukkan bahwa HK dari kelenjar submandibular yang histologis
mirip dengan HK dari kelenjar ludah lainnya , dan bahwa mereka memiliki tingkat proliferasi
rendah dan prognosis yang baik.
6,7
Patofisiologi
 Teori multiseluler
Teori ini menyatakan bahwa tumor kelenjar liur berasal dari diferensiasi sel-sel matur dari
unit-unit kelenjar liur. Seperti tumor asinus berasal dari sel-sel asinar, mukoepidemoid
karsinoma berasal dari sel-sel duktus ekskretori.
 Teori biseluler
Teori ini menerangkan bahwa sel basal dari glandula ekskretorius dan duktus interkalated
bertindak sebgai stem sel. Stem sel dari duktus interkalated dapat terjadinya karsinoma
asinous dan wathin’s tumor. Sedangkan stem sel dari duktus ekskretorius menimbulkan
terbentuknya skuamous dan mukoepidermoid karsinoma.
7,8

Gejala klinis
Gejala pada neoplasma parotis yaitu biasanya terdapat pembengkakan di depan telinga dan kesulitan untuk
menggerakkan salah satu sisi wajah. Paralisis nervus facialis sering didapatkan pada pasien dengan neoplasma parotis
maligna. Adanya bengkak biasanya mengurangi kepekaan wilayah tersebut terhadap rangsang (painless) dan
menyebabkan pasien kesulitan dalam menelan.

Keluhan yang dirasakan pasien berupa benjolan yang soliter, tidak nyeri, dipre/infra/retro aurikuler, jika
terdapat rasa nyeri sedang sampai berat biasanya terdapat pada keganasan. Terjadinya paralisis nervus facialis pada 2-
3% kasus keganasan parotis. Terdapatnya disfagia, sakit tenggorokan, serta gangguan pendengaran. Dan dapat pula
8

terjadi pembesaran kelenjar getah bening jika terjadi metastasis. Anamnesis yang lengkap harus dibuat untuk
menyingkirkan penyebab benjolan pada kelenjar parotis. Selain itu dalam anamnesis juga perlu ditanyakan bagaimana
progresivitas penyakitnya, adakah faktor-faktor resiko yang dimiliki oleh pasien, dan bagaimana pengobatan yang
telah diberikan selama ini.


Nilai keadaan umum pasien secara keseluruhan, adakah anemis, ikterus, periksalah kepala, thorax serta abdomen.
Selain itu adakah tanda-tanda kearah metastasis jauh (paru, tulang dan lain-lain). Inspeksi dari warna kulit, struktur,
perkiraan ukuran, dan sampai intaoral, melihat adakah pendesakan tonsil/uvula. Palpasi dilakukan untuk menilai letak,
ukuran, konsistensi, permukaan, mobilitas terhadap jaringan sekitar.
4,7
Etiologi
Penyebab pasti tumor kelenjar liur belum diketahui sera pasti. Dicurigai adanya keterlibatan faktor
lingkungan dan factor genetic. Paparan radiasi dikaitkan dengan tumor jinak warthin dan tumor
ganas karsinoma mukoepidermoid. Epstein-barr virus mungkin merupakan salah satu faktor pemicu
timbulnya tumor limfoepitelia kelenjar liur.
4
Epidemiologi
Tumor pada kelenjar liur relative jarang terjadi, presentasinya kurang 2-5 % dari seluruh keganasan
pada kepala dan leher. Dari tumor kelenjar saliva, insiden tumor parotis paling tinggi yaitu 80%,
tumor submandibular 10%, tumor sublingual 1%, tumor kelenjar saliva kecil dalam mulut 1% . sejak
periode 2000-2008 angka kejadian lebih sering pada laki-laki dengan insiden sekitar 1,41 kasus per
100.000 laki-laki, dibandingkan dengan perempuan yang hanya 1,0. Bisa mengenai semua umur,
namun kebanyakan pasien didiagnosa pada usia > 64 tahun. Sebagian besar tumor parotis adalah
jinak. Tumor jinak yang paling sering adalah mixed tumor/ pleomorfik adenoma, dan wartin’s
tumor. Hanya sekitar 20% tumor parotis yang ganas.
7
Penatalaksanaan
1. Operasi
Pilihan pengobatan untuk neoplasma kelenjar parotis adalah melalui pembedahan.
Sebagian besar tumor parotis jinak dan ganas dapat diatasi dengan parotidektomi
superfisial atau total sesuai dengan lokasi tumor dengan preservasi nervus fasilais.
Parotidektomi superfisial adalah tindakan pengangkatan massa tumor dengan kelenjar
parotis lobus superfisial. Parotidektomi total adalah pengangkatan massa tumor dengan
seluruh bagian kelenjar parotis. pada keadaan yang sudah lanjut dimana tumor sudah
meluas ke jaringan sekitar dilakukan parotidektomi radikal, yaitu pengangkatan massa
tumor dengan mandibulektomi, pemotongan kulit atau otot dan pemutusan nervus fasilais.
9

Insisi awal dibuat di preaurikularis. Insisi kemudian diperlebar kearah posterior, kemudian
secara bertahap ke inferior dan medial pada lekukan leher.
Untuk tumor ganas kelenjar parotis, parotidektomi total atau extended parotidectomy
biasanya dianjurkan. Invasi langsung pada saraf menghalangi perlindungan bagian saraf
tersebut dari keganasan. Harus dilakukan potongan beku untuk menyingkirkan adanya
invasi saraf, dan invasi ini selalu terjadi pada bagian kranial. jika mungkin, dilakukan
cangkok saraf pada waktu reseksi bedah.
6,7
2. Radiasi
Meskipun terapi primer tumor ganas kelenjar liur adalah dengan pembedahan, terapi
radiasi juga dianjurkan karena memiliki efek menguntungkan jika digabungkan dengan
pembedahan yaitu meningkatkan hasil terapi. Selain itu berperan sebagai terapi primer
untuk tumor yang sudah tidak dapat direseksi. Ada tiga keadaan di mana terapi radiasi
merupakan indikasi, yaitu untuk tumor-tumor yang sudah tidak dapat direseksi; untuk
tumor-tumor yang kambuh pasca bedah; dan tumor derajat tinggi yang dikhawatirkan
kambuh pada tepi daerah operasi. Terapi radiasi juga merupakan indiksasi untuk
keganasan derajat rendah tetapi tepi daerah operasi masih menjadi tanda tanya atau kurang
adekuat. Radiasi telah terbukti dapat memberantas secara permanen tumor-tumor yang
tidak dapat lagi dilakukan pembedahan dan tumor yang kambuh setelah pembedahan.
6,7
3. Kemoterapi
Secara umum, tumor kelenjar liur berespon buruk terhadap kemoterapi, dan kemoterapi
adjuvan saat ini diindikasikan hanya untuk paliatif. Doxorubicin dan agen berbasis
platinum yang paling sering digunakan untuk menginduksi apoptosis dibandingkan
dengan obat doxorubicin yang berbasis menangkap sel tumor. Agen berbasis platinum,
dalam kombinasi dengan mitoxantrone atau vinorelbine, juga efektif dalam
mengendalikan keganasan kelenjar liur yang berulang. Suatu bentuk baru dari
fluoropyrimidine 5-fluorouracil disebut meningkatkan aktivitas melawan sel-sel ganas dan
memiliki lebih sedikit efek samping gastrointestinal yang telah terbukti ampuh melawan
kanker ganas kelenjar saliva, selain itu mempotensiasi efek radioterapi dengan aktivitas
apoptosis yang meningkat.
6,7

Penatalaksanaan non medis
Tumor parotis juga dapat diobati dengan obat tradisional atau disembuhkan dengan meminum
rebusan daun sirsak. Kanker merupakan penyakit yang mematikan dan pengobatan nya melewati
kemoterapi. Pengobatan-pengobatan kimia walaupun berhasil membunuh kanker, tetapi tidak
menutup kemungkinan, sel-sel akan tumbuh kembali dan menyebar. Daun sirsak baru diketahui
10

memiliki khasiat sebagai pembunuh kanker, walaupun sebenarnya khasiat ini sudah ditemukan
dari beberapa tahun silam. Menurut hasil riset Dr. Jerry McLaughlin dari Universitas Purdue,
Amerika Seikat, daun sirsak mengandung senyawa acetoginis yang terdiri dari annomuricin F
yang bersifat sitotoksik atau membunuh kanker. Untuk pengobatan, daun sirsak selain di
konsumsi tunggal, akan lebih baik bila di konsumsi berbarengan dengan herbal jenis lainnya
seperti sambiloto, temu putih atau temu mangga. Perpaduan beberapa jenis herbal akan bersifat
sinergis dan saling mendukung untuk mempercepat proses penyembuhan penyakit.
Komplikasi

1. Operasi : lesi nervus fasialis, fistel pada luka operasi yang cukup lama, sayatkan operasi yang
masih berbekas
2. Komplikasi radioterapi/ khemoterapi : depresi sumsum tulang, rasa kering di tenggorokan.
4

Prognosis
Sesudah terapi adekuat pada tumor benigna terjadi residif lokal kurang dari 1% kasus. Namun,
jika tumor benigna tidak diangkat secara luas, sering timbul residif lokal. Hal ini terutama dapat
terjadi jika hanya dikerjakan enukleasi sederhana. Pada operasi ulang terdapat kemungkinan
yang lebih besar kerusakan saraf penting seperti nervus fasialis dan dalam beberapa kasus residif
demikian adalah maligna.
Prognosis pada tumor maligna sangat tergantung pada histology, perluasan lokal dan besarnya
tumor dan jumlah metastasis kelenjar leher. Jika sebelum penanganan tumor maligna telah ada
kehilangan fungsi saraf, maka prognosisnya lebih buruk. Ketahanan hidup 5 tahun kira-kira 5%,
namun hal ini masih tetap tergantung kepada histologinya.
4
Kesimpulan
Kelenjar parotis adalah kelenjar liur yang berpasangan, berjumlah 2. Kelenjar parotis merupakan
kelenjar liur yang terbesar. Tumor pada kelenjar liur relatif jarang terjadi, persentasenya kurang
dari 3% dari seluruh keganasan pada kepala dan leher. Keganasan pada tumor kelenajar liur
berkaitan dengan paparan radiasi, faktor genetik, dan karsinoma pada dada. Sebagian besar
tumor pada kelenjar liur terjadi pada kelenjar parotis, dimana 75% - 85% dari seluruh tumor
berasal dari parotis dan 80% dari tumor ini adalah adenoma pleomorphic jinak (benign
pleomorphic adenomas).
Untuk terapi dilakukan reseksi tergantung dari stadiumnya. Terapi tambahan berupa radiasi
pasca operasi atau kemoterapi dapat diberikan dengan mempertimbangkan resiko-resiko yang
harus dihadapi nantinya. Untuk prognosis sesudah terapi adekuat pada tumor benigna terjadi
11

residif lokal kurang dari 1% kasus. Namun, jika tumor benigna tidak diangkat secara luas, sering
timbul residif local.
Daftar Pustaka
1) Schwartz . Intisari prinsip-prinsip Ilmu bedah. Ed.6. Jakarta: EGC, 2000. h 257- 65.
2) Mitchell, Kumar, Abbas, Fausto. Dasar patologis penyakit. Jakarta: EGC, 2009. h
465- 73.
3) Gleadle, Jonathan. At a Glance Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik. Jakarta:Erlangga;
2003. h. 150-1.
4) Sjamsuhidajat R, Karnadihardja W, prasetyono T O H, Rudiman R. Buku ajar ilmu
bedah. Jakarta: EGC, 2001. h 469-70.
5) www.google.com. Gambar pemeriksaan penunjang pada tumor parotis, diunduh pada
5 november 2013.
6) Beers MH, Porter RS. Dalam: Merck Manual of Diagnosis and Theraphy. USA:
Merck Research Laboratories. 2007.h 145-50.
7) Gregory M, Bruce B. Dalam: Head and Neck cancer. USA: Kluwer Academic
Publisher, 2003. h 158-61.
8) Faiz O, Moffat D. at a glance anatomi. Jakarta: EGC, 2004. h 145-50.