You are on page 1of 7

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Konsep Dasar Konstitusi
Istilah Konstitusi negara berasal dari bahasa Prancis constituer, yang
berarti membentuk, yang pemakaiannya berkaitan dengan pembentukan suatu
Negara atau menyusun dan menyatakan suatu Negara. Dalam bahasa Belanda,
istilah konstitusi dikenal dengan istilah Grondwet, yang berarti undang-undang
dasar (grond=dasar, wet=undang-undang) (Al Hakim, 2014).
Konstitusi adalah sebuah aturan-aturan dasar dan ketentuan-ketentuan
hukum yang di bentuk untuk mengatur fungsi dan struktur lembaga pemerintah
termasuk dasar hubungan kerja sama antara Negara dan masyarakat dalam
konteks kehidupan berbangsa dan bernegara. Herman Heller membagi pengertian
konstitusi dalam tiga cakupan, yaitu:
1. Konstitusi yang mencerminkan kehidupan politik didalam masyarakat
sebagai suatu kenyataan (mengandung arti politis dan sosiologis).
2. Konstitusi adalah suatu kaidah yang hidup dimasyarakat (mengandung arti
hukum atau yuridis).
3. Konstitusi adalah kaidah yang ditulis dalam suatu naskah Undang-Undang
tertinggi yang berlaku dalam suatu Negara.
Fungsi pokok konstitusi adalah membatasi kekuasaan pemerintah, sehingga
penyelenggaraan kekuaaan tidak bertindak sewenang-wenang. Dengan demikian
hak-hak warga Negara akan dilindungi. Fungsi dan kedudukan konstitusi antara
lain: Membatasi kekuasaan penguasa dan menjamin hak warga Negara, memberi
petunjuk dan arahan kemana Negara akan di bawa, dasar dan sumber hukum bagi
peraturan perundangan di bawahnya, produk politik yang tertinggi bagi suatu
bangsa dalam membentuk dan menjalankan Negara.
Konstitusi hukum dasar ada dua, yakni hukum dasar tertulis dan yang tidak
tertulis. Hukum dasar tertulis berupa Undang-Undang Dasar yaitu suatu naskah
yang memaparkan kerangka dan tugas-tugas pokok dari badan pemerintah
suatu Negara dan menentukan pokok-pokok cara kerja badan tersebut. ruang
lingkup undang-undang dasar sebagai konstitusi tertulis memuat tentang : Hasil
perjuangan politik bangsa diwaktu lampau, Tingkat-tingkat tinggi pembangunan
ketatanegaraan bangsa, Pandangan tokoh bangsa yang hendak di wujudkan, baik
sekarang maupun masa yang akan datang, dan Suatu keinginan yang mana
perkembangan kehidupan ketatanegaraan bangsa hendak dipimpin.
Hukum Dasar yang tidak tertulis disebut Convesional. Convesional adalah
hukum dasar yang tidak tertulis, yaitu aturan-aturan dasar yang timbul dan
terpelihara dalam praktek penyelenggaraan Negara meskipun sifatnya tidak
tertulis. Salah satu contoh konvensi yang berlaku di Indonesia adalah pelaksanaan
pidato kenegaraan presiden menjelang peringatan Proklamasi 17 Agustus.
Konvensi atau hukum kebiasaan ketatanegaraan adalah hukum yang tumbuh
dalam praktik penyelenggaraan Negara untuk melengkapi, menyempurnakan, dan
menghidupkan kaidah kaidah hukum perundang-undangan atau hukum adat
ketatanegaraan.
Keberadaan dan Tujuan Konstitusi Menurut Mahfud MD (2002), secara
umum konstitusi diartikan sebagai aturan dasar ketatanegaran yang setelah
disarikan dari ajaran kedaulatan rakyat Rousseau, dipandang sebagai perjanjian
masyarakat yang berisikan pemberian arah oleh masyarakat dalam
penyelenggaraaan kekuasaan pemerintah negara. Dengan kata lain
konstitusi sebenarnya tidak lain dari realisasi demokrasi dengan kesepakatan
bahwa kebebasan penguasa ditentukan oleh pengusaha. Oleh sebab itu, setiap
pelanggaran atas konstitusi harus dipandang sebagai pelanggaran atas kontrak
social.
Konstitusi sebagaimana disebutkan di atas merupakan aturan-aturan dasar
yang dibentuk dalam mengatur hubungan antar negara dan warga negara.
Konstitusi juga dapat dipahami sebagai bagian dari social contract (kontrak
sosial) yang memuat aturan main dalam berbangsa dan bernegara. Lebih jelas,
Sovernin Lohman menjelaskan bahwa dalam konstitusi harus memuat unsur-unsur
sebagai berikut:
1. Konstitusi dipandang sebagai perwujudan perjanjian masyarakat (kontrak
sosial), artinya bahwa konstitusi merupakan konklusi dari kesepakatan
masyarakat untuk membina negara dan pemerintahan yang akan mengatur
mereka;
2. Konstitusi sebagai piagam yang menjamin hak-hak asasi manusia dan warga
negara sekaligus penentuan batas-batas hak dan kewajiban warga negara dan
alat-alat pemerintahannya;
3. Konstitusi sebagai forma regimenis yaitu kerangka bangunan pemerintahan
(Solly Lubis, 1982: 48)
Prinsipnya, adanya konstitusi memiliki tujuan untuk membatasi
kewenangan pemerintah dalam menjamin hak-hak yang diperintah dan
merumuskan pelaksanaan kekuasaan yang berdaulat. Secara spesifik C.F Strong
memberikan batasan tentang tujuan konstitusi sebagai berikut:
“Constitution are to limit the arbitrary action of the government, to quarantee the
right of the governed, and to define the operation of the sovereign power”.
Pendapat yang hampir sama dikemukakan oleh Loewenstein. Ia mengatakan
bahwa konstitusi merupakan sarana dasar untuk mengawasi proses-proses
kekuasaan.
Tujuan-tujuan adanya konstitusi tersebut, secara ringkas dapat
diklasifikasikan menjadi tiga tujuan, yaitu:
1. Konstitusi bertujuan untuk memberikan pembatasan sekaligus
pengawasan terhadap kekuasaan politik;
2. . Konstitusi bertujuan untuk melepaskan kontrol kekuasaan dari
penguasa itu sendiri;
3. 3.Konstitusi bertujuan memberikan batasan-batasan ketetapan bagi
para penguasa dalam menjalankan kekuasaannya.
2.2 Sumber Hukum Ketatanegaraan
Sumber-sumber hukum tata negara tidak terlepas dari pengertian sumber
hukum menurut pandangan ilmu hukum pada umumnya. Sumber hukum yang
termasuk kedalam sumber hukum dalam arti materiil di antaranya :
1. Dasar dan pandangan hidup bernegara
2. Kekuatan politik yang berpengaruh pada saat merumuskan kaidah hukum
tata Negara
3. Sumber hukum dalam formal yang terdiri dari hukum perundangan
ketatanegaraan, hukum adat ketatanegaraan, hukum kebiasaan
ketatanegaraan, atau konvensi ketatanegaraan, yurisprudensi ketatanegaraan,
hukum perjanjian internasional ketatanegaraan, doktrin ketatanegaraan.
Yurisprudensi yaitu kumpulan keputusan-keputusan pengadilan mengenai
persoalan ketatanegaraan yang setelah disusun secara teratur memberikan
kesimpulan tentang adanya ketentuan hukum tertentu yang di temukan atau di
kembangkan oleh badan pengadilan. Traktat atau perjanjian internasional ialah
persetujuan yang di adakan oleh Indonesia dengan Negara-negara lain. Traktat
merupakan sumber hukum yang penting, untuk itu tidak cukup traktat atau
perjanjian ditandatangani oleh Indonesia, namun harus pula di ratifikasi
(mendapatkan pengesahan) sebalum perjanjian itu mengikat.
Doktrin ketatanegaraan adalah ajaran-ajaran tentang hukum tata Negara
yang ditemukan dan dikembangkan di dalam dunia ilmu pengetahuan sebagai
hasil penyelidikan dan pemikiran seksama berdasarkan logika formal yang
berlaku.

2.3 Kedudukan Pancasila Dalam Ketatanegaraan Republik Indonesia
Sebagai sumber dari segala hukum atau sebagai sumber tertib hukum
Indonesia maka setiap produk hukum harus bersumber dan tidak boleh
bertentangan dengan Pancasila. Pancasila tercantum dalam ketentuan tertinggi
yaitu Pembukaan UUD 1945, kemudian dijelmakan atau dijabarkan lebih lanjut
dalam pokok-pokok pikiran, yang meliputi suasana kebatinan dari UUD 1945,
yang pada akhirnya dikongkritisasikan atau dijabarkan dari UUD 1945, serta
hukum positif lainnya. Pancasila sebagai dasar filsafat negara, pandangan hidup
bangsa serta idiologi bangsa dan negara, bukanlah hanya untuk sebuah rangkaian
kata- kata yang indah namun semua itu harus kita wujudkan dan di aktualisasikan
di dalam berbagai bidang dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara.
Pancasila sebagai dasar negara menunjukkan bahwa Pancasila itu sebagai
sumber dari segala sumber hukum atau sumber dari seluruh tertib hukum yang ada
di Negara RI. Semua produk hukum harus sesuai dengan Pancasila dan tidak
boleh bertentangan dengannya. Oleh sebab itu, bila Pancasila diubah, maka
seluruh produk hukum yang ada di Negara RI sejak tahun 1945 sampai sekarang,
secara otomatis produk hukum itu tidak berlaku lagi. Karena sumber dari segala
sumber hukum yaitu Pancasila. Nilai-nilai Pancasila sebagai ideologi atau falsafah
terlahir dan telah membudaya di dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia.
Nilai-nilai itu tertanam dalam hati, tercermin dalam sikap dan perilaku serta
kegiatan lembaga-lembaga masyarakat. Dengan perkataan lain, Pancasila telah
menjadi cita-cita moral bangsa Indonesia (Poespowardojo, 2010).
Namun demikian nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara harus
diimplementasikan sebagai sumber dari semua sumber hukum dalam negara dan
menjadi landasan bagi penyelenggaraan negara. Nilai-nilai Pancasila sebagai
dasar negara ditunjukkan pada alinea keempat Pembukaan UUD 1945, yang
secara nyata merupakan lima sila Pancasila. Hal itu merupakan dasar negara yang
ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan
Indonesia (PPKI) yang dapat dianggap sebagai penjelmaan kehendak seluruh
rakyat Indonesia yang merdeka. Lebih spesifik lagi Pancasila sebagai sumber
hukum dinyatakan dalam Ketetapan No.XX/MPRS/1966, Ketetapan MPR
No.V/MPR/1973 dan Ketetapan MPR No.IX/MPR/1978 yang menegaskan
kedudukan Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum atau sumber dari
tertib hukum di Indonesia.
Lebih lanjut, Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum negara
dinyatakan dalam pasal 2 Undang-Undang (UU) No. 10 Tahun 2004 Tentang
Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Pengertian pembentukan peraturan
perundang- undangan adalah proses pembuatan peraturan perundangundangan
yang pada dasarnya dimulai dari perencanaan, persiapan, teknik penyusunan,
perumusan, pembahasan, pengesahan, pengundangan, penyebarluasan. Rumusan
UU tersebut selain memenuhi pertimbangan dan salah satu syarat dalam rangka
pembangunan hukum nasional, juga sekaligus menunjukkan bahwa implementasi
nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara telah memiliki landasan aturan formal.
Upaya mengurai nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara memiliki cakupan yang
luas sekaligus dinamis. Luas dalam arti mencakup seluruh aspek kehidupan sosial,
ekonomi dan lingkungan. Dinamik mengandung arti memberi ruang reaksi
terhadap perubahan lingkungan strategis.

2.4 Konstitusi Demokratis
Sebagaimana dijelaskan di awal, bahwa konstitusi merupakan aturan-aturan
dasar yang dibentuk untuk mengatur dasar hubungan kerjasama antara negara dan
masyarakat (rakyat) dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebagai
sebuah aturan dasar yang mengatur kehidupan dalam berbangsa dan bernegara,
maka sepatutnya konstitusi dibuat atas dasar kesepakatan bersama antara negara
dan warga negara, agar satu sama lain merasa bertanggung jawab serta tidak
terjadi penindasan dari yang kuat terhadap yang lemah.
Jika konstitusi dipahami sebagai pedoman dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara, maka konstitusi memiliki kaitan yang cukup erat dengan
penyelenggaraan pemerintahan dalam sebuah negara. Konstitusi merupakan
media bagi terciptanya kehidupan yang demokratis bagi seluruh warga
negara.Dengan kata lain, negara yang memilih demokrasi sebagai pilihannya,
maka konstitusi demokratis merupakan aturan yang dapat menjamin terwujudnya
demokrasi di negara tersebut sehingga melahirkan kekuasaan atau pemerintahan
yang demokratis pula.
Meskipun tidak dijumpai pemerintahan yang demokratis murni di dunia ini,
namun pada dasarnya, setiap konstitusi yang digolongkan sebagai konstitusi
demokratis haruslah memiliki prinsip-prinsip dasar demokrasi itu sendiri. Secara
umum, konstitusi yang dapat dikatakan demokratis mengandung prinsip-prinsip
dasar demokrasi dalam kehidupan bernegara, yaitu:
1. Menempatkan warga negara sebagai sumber utama kedaulatan;
2. Mayoritas berkuasa dan terjaminnya hak minoritas;
3. Pembatasan pemerintahan;
4. Pembatasan dan pemisahan kekuasaan negara yang meliputi:
a. Pemisahan wewenang kekuasaan berdasarkan trias politika;
b. Kontrol dan keseimbangan lembaga-lembaga pemerintahan;
c. Proses hukum; dan
d. Adanya pemilihan umum sebagai mekanisme peralihan kekuasaan.
Prinsip-prinsip konstitusi demokratis ini merupakan refleksi dari nilai-nilai
dasar yang terkandung dalam hak asasi manusia yang meliputi:
1. Hak-hak dasar (basic rights);
2. Kebebasan mengeluarkan pendapat;
3. Hak-hak individu;
4. Keadilan;
5. Persamaan;
6. Keterbukaan









DAFTAR PUSTAKA
Kaelan, Achmad Zubaidi. 2010. Pendidikan Kewarganegaraan. Yogyakarta:
Paradigma.
Bedjo, Zainul Akhyar. 2009. Pendidikan Kewarganegaraan (Civic Education.
Banjarmasin: Laboratorium Pendidikan Kewarganegaraan Fakultas Keguruan dan
Ilmu PendidikanUniversitas
Lambung, Mangkurat.WP Harsoyo, dkk. 1982. Pendidikan Moral Pancasila.
Solo: Tiga Serangkai.
Sukonto Bambang Priyo. 2009. Panduan Belajar Pendidikan Keawarganegaraan.
Yogyakarta: Primagama.
Budiyanto.2007.Pendidikan Kewarganegaraan Kelas XII SMA.Jakarta :Erlangga
Kaelan.2010 .Pendidikan Pancasila.Yogyakarta : PARADIGMA
Soegito, dkk. 2005. Pendidikan Pancasila. Semarang: Pusat Pengembangan
MKU/MKDK-LP3 Universitas Negeri Semarang.