You are on page 1of 8

2.

1 DEFINISI IDENTIFIKASI FORENSIK
Identifikasi adalah penentuan atau pemastian identitas orang yang hidup maupun mati,
berdasarkan ciri khas yang terdapat pada orang tersebut. Identifikasi forensik merupakan usaha
untuk mengetahui identitas seseorang yang ditujukan untuk kepentingan forensik, yaitu
kepentingan proses peradilan.

2.3. ASPEK MEDIKOLEGAL
Dasar hukum dan undang-undang bidang kesehatan yang mengatur identifikasi jenasah
adalah :
a. Berkaitan dengan kewajiban dokter dalam membantu peradilan diatur dalam
KUHAP pasal 133:
(1). Dalam hal penyidik untuk membantu kepentingan peradilan menanganiseorang korban baik
luka, keracunan ataupun mati yang di duga karenaperistiwa yang merupakan tindak pidana, ia
berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau
dokter dan atau ahli lainnya.
(2). Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)dilakukan secara tertulis,
yang dalam surat itu disebutkan dengan tegasuntuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat
dan atau pemeriksaan bedah mayat
(3). Mayat yang dikirimkan kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada rumah sakit
harus diperlakukan secara baik dengan penuhpenghormatan terhadap mayat tersebut dan diberi
label yang memuatkan identitas mayat, dilak dengan diberi cap jabatan yang diilekatkan pada
ibu jari kaki atau bagian lain badan mayat.

b. Undang-Undang Kesehatan Pasal 79:
(1). Selain penyidik pejabat polisi Negara Republik Indonesia juga kepada pejabat pegawai
negeri sipil tertentu di Departemen Kesehatan diberi wewenang khusus sebagai penyidik
sebagaimana dimaksud dalam UU No8 tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana, untuk
melakukan penyidikantindak pidana sebagaimana diatur dalam undang-undang ini.
(2). Penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berwenang :
 Melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan serta keterangan.
 Melakukan pemeriksaan terhadap orang yang diduga melakukan.
 Meminta keteragan dan bahan bukti dari orang atau badan usaha.
 Melakukan pemeriksaan atas surat atau dokumen lain.
 Melakukan pemeriksaan atau penyitaan bahan atau barang bukti.
 Meminta bantuan ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan.
 Menghentikan penyidikan aypabila tidak terdapat cukup buktisehubungan dengan tindak
pidana di bidang kesehatan.
(3). Kewenangan penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dilaksanakan menurut UU No
8 tahun 1981 tentang HAP.


2.5. METODE IDENTIFIKASI FORENSIK
2.5.1. Metode Visual
Dengan memperhatikan dengan cermat atas korban, terutama wajahnya oleh pihak
keluarga atau rekan dekatnya, maka jati diri korban dapat diketahui. Walaupun metode ini
sederhana, untuk mendapatkan hasil yang diharapkan perlu diketahui bahwa metode ini baru
dapat dilakukan bila keadaan tubuh dan terutama wajah korban dalam keadaan baik dan belum
terjadi pembusukan yang lanjut.

2.5.2. Pakaian
Pencatatan yang teliti atas pakaian, hal yang dipakai, mode serta adanya tulisan-tulisan
seperti merek, penjahit, laundry atau initial nama, dapat memberikan informasi yang berharga,
milik siapakah pakaian tersebut. Bagi korban yang tidak dikenal, menyimpan pakaian secara
keseluruhan atau potongan-potongan dengan ukuran 10cmx10cm, adalah merupakan tindakan
yang tepat agar korban masih dapat dikenali walaupun tubuhnya telah dikubur.

2.5.3. Perhiasan
Anting-anting, kalung, gelang serta cincin yang ada pada tubuh korban, khususnya bila
pada perhiasan terdapat initial nama seseorang yang biasanya terdapat pada bagian dalam dari
gelang atau cincin. Mengingat kepentingan tersebut, maka penyimpanan dari perhiasan haruslah
dilakukan dengan baik.
2.5.4. Dokumen
Kartu tanda penduduk, surat izin mengemudi, paspor, kartu golongan darah, tanda
pembayaran dan lainnya yang ditemukan dalam dompet atau tas korban dapat menunjukka jati
diri korban.

2.5.5. Medis
Pemeriksaan fisik secara keseluruhan, yang meliputi bentuk tubuh, tinggi tubuh dan berat
badan, warna tirai mata, adanya cacat tubuh serta kelainan bawaan, jaringan parut bekas operasi
serta tato, dapat memastikan siapa jati diri korban.
Pada beberapa keadaan khusus, tidak jarang harus dilakukan pemeriksaan radiologis,
yaitu untuk mengetahui keadaan sutura, bekas patah tulang atau pen serta pasak yang dipakai
pada perawatan penderita patah tulang.

2.5.6. Gigi
Bentuk gigi dan bentuk rahang merupakan ciri khusus dari seseorang, sehingga dapat
dikatakan tidak ada gigi atau rahang yang identik pada dua orang yang berbeda. Menjadikan
pemeriksaan gigi ini mempunyai nilai yang tinggi dalam hal penentuan jati diri seseorang.
Pemeriksaan atas gigi ini menjadi lebih penting bila keadaan korban sudah rusak atau
membusuk, dimana dalam keadaan tersebut pemeriksaan sidik jari tidak dapat dilakukan,
sehingga dapat dikatakan gigi merupakan pengganti dari sidik jari.
5

Sebagai suatu metode identifikasi pemeriksaan gigi memiliki keunggulan sebagai berikut :
1. Gigi merupakan jaringan keras yang resisten terhadap pembusukan dan pengaruh
lingkungan yang ekstrim.
2. Karakteristik individual yang unik dalam hal susunan gigi geligi dan restorasi gigi
menyebabkan identifikasi dengan ketepatan yang tinggi.
3. Kemungkinan tersedianya data antemortem gigi dalam bentuk catatan medis gigi (dental
record) dan data radiologis.
4. Gigi geligi merupakan lengkungan anatomis, antropologis, dan morfologis,yang
mempunyai letak yang terlindung dari otot-otot bibir dan pipi, sehingga apabila terjadi
trauma akan mengenai otot-otot tersebut terlebih dahulu.
5. Bentuk gigi geligi di dunia ini tidak sama, karena berdasarkan penelitian bahwa gigi
manusia kemungkinan sama satu banding dua miliar.
6. Gigi geligi tahan panas sampai suhu kira-kira 400ºC.
7. Gigi geligi tahan terhadap asam keras, terbukti pada peristiwa Haigh yang terbunuh dan
direndam dalam asam pekat, jaringan ikatnya hancur, sedangkan giginya masih utuh.
1


Batasan dari forensik odontologi terdiri dari identifikasi dari mayat yang tidak dikenal melalui
gigi, rahang dan kraniofasial.
1. Penentuan umur dari gigi.
2. Pemeriksaan jejas gigit (bite-mark ).
3. Penentuan ras dari gigi.
4. Analisis dari trauma oro-fasial yang berhubungan dengan tindakan kekerasan.
5. Dental jurisprudence berupa keterangan saksi ahli.
6. Peranan pemeriksaan DNA dari bahan gigi dalam identifikasi personal.

2.5.7. Sidik jari
Sampai sekarang, pemeriksaan sidik jari merupakan pemeriksaan yang diakui paling
tinggi ketepatannya untuk menetukan identitas seseorang. Dengan demikian harus dilakukan
penanganan yang sebaik-baiknya terhadap jari tangan jenazah untuk pemeriksaan sidik hari,
misalnya dengan melakukan pembungkusan kedua tangan jenazah dengan kantong plastik.
Daktiloskopi adalah suatu sarana dan upaya pengenalan identitas diri seseorang melalui
suatu proses pengamatan dan penelitian sidik jari, yang dipergunakan untuk berbagai keperluan,
kebutuhan, tanda bukti, tanda pengenal, ataupun sebagai pengganti tanda tangan

2.5.8. Serologi
Penentuan golongan darah yang diambil baik dari dalam tubuh korban, maupun darah
yang berasal dari bercak-bercak yang terdapat pada pakaian, akan dapat mengetahui golongan
darah pada korban. Untuk penentuan identitas seseorang berdasarkan DNA inti, dibutuhkan
sampel dari keluarga terdekatnya. DNA inti anak pasti berasal setengah dari ayah dan setengah
dari ibunya. Namun demikian, pada kasus-kasus tertentu, bila tidak dijumpai anak-istri korban,
maka dicari sampel dari orang tua korban. Bila tidak ada juga, dicari saudara kandung seibu, dan
diperiksakan DNA mitokondrialnya karena DNA mitokondrial diturunkan secara maternalistik
(garis ibu).
1


2.5.9. Eksklusi
Walaupun ada sembilan metode identifikasi yang kita kenal, namun di dalam prakteknya
untuk menentukan jati diri tidak semua metode dikerjakan, melainkan cukup minimal dua
metode saja: identifikasi primer dari pakaian dan identifikasi konfirmatif dari gigi.
Dari sembilan metode identifikasi yang dikenal, hanya penentuan jati diri dengan sidik
jari (daktiloskopi) yang tidak lazim dikerjakan oleh dokter, melainkan oleh pihak kepolisian.
Delapan metode yang lainnya, yaitu: metode visual, pakaian, perhiasan, dokumen, medis, gigi,
serologi dan metode ekslusi dilakukan oleh dokter.
Secara garis besar ada dua metode pemeriksaan untuk identifikasi forensik, yaitu:
a. Identifikasi primer
Merupakan identifikasi yang dapat berdiri sendiri tanpa perlu dibantu oleh kriteria
identifikasi lain. Teknik identifikasi primer yaitu :
 Pemeriksaan DNA
 Pemeriksaan sidik jari
 Pemeriksaan gigi
Pada jenazah yang rusak/busuk untuk menjamin keakuratan dilakukan dua sampai tiga
metode pemeriksaan dengan hasil positif.
b. Identifikasi sekunder
Pemeriksaan dengan menggunakan data identifikasi sekunder tidak dapat berdiri sendiri
dan perlu didukung kriteria identifikasi yang lain. Identifikasi sekunder terdiri atas cara
sederhana dan cara ilmiah. Cara sederhana yaitu melihat langsung ciri seseorang dengan
memperhatikan perhiasan, pakaian dan kartu identitas yang ditemukan. Cara ilmiah yaitu melalui
teknik keilmuan tertentu seperti pemeriksaan medis.
Identifikasi forensik dinyatakan berhasil bila di didapatkan minimal 1 kecocokan pada
identifikasi primer dan 2 identifikasi sekunder.

2.6. CARA-CARA IDENTIFIKASI FORENSIK
2.6.1. Identifikasi Komparatif
Identifikasi membandingkan data adalah identifikasi yang dilakukan dengan cara
membandingkan antara data ciri hasil pemeriksaan hasil orang tak dikenal dengan data ciri orang
yang hilang yang diperkirakan yang pernah dibuat sebelumnya. Pada penerapan penanganan
identifikasi kasus korban jenazah tidak dikenal, maka kedua data ciri yang dibandingkan tersebut
adalah data post mortem dan data ante mortem. Data ante mortem yang baik adalah berupa
medical record dan dental record.
Identifikasi dengan cara membandingkan data ini berpeluang menentukan identitas
sampai pada tingkat individual, yaitu dapat menunjuka siapa jenasah yang tidak dikenal tersebut.
Hal ini karena pada identifikasi dengan cara membandingkan data, hasilnya hanya ada dua
alternatif: identifikasi positif atau negatif.
Identifikasi positif, yaitu apabila kedua data yang dibandingkan adalah sama, sehingga
dapat disimpulkan bahwa jenazah yang tidak dikenali itu adalah sama dengan orang yang hilang
yang diperkirakan. Identifikasi negatif yaitu apabila data yang dibandingkan tidak sama,
sehingga dengan demikian belum dapat ditentukan siapa jenazah tak dikenal tersebut. Untuk itu
masih harus dicarikan data pembanding ante mortem dari orang hilang lain yang diperkirakan
lagi.
Untuk dapat melakukan identifikasi dengan cara membandingkan data, diperlukan syarat
yang tidak mudah, yaitu harus tersedianya data ante mortem berupa medical atau dental record
yang lengkap dan akurat serta up-to-date, memenuhi kriteria untuk dapat dibandingkan dengan
data post mortemnya. Apabila tidak dapat dipenuhi syarat tersebut, maka identifikasi dengan cara
membandingkan tidak dapat diterapkan.

2.6.2. Rekonstruksi
Apabila identifikasi dengan cara membandingkan data tidak dapat diterapkan, bukan
berarti kita tidak dapat mengidentifikasi. Apabila demikian halnya, kita masih dapat mencoba
mengidentifikasi dengan cara merekonstruksi data hasil pemeriksaan post-mortem ke dalam
perkiraan-perkiraan mengenai jenis kelamin, umur, ras, tinggi dan bentuk serta ciri-ciri spesifik
badan.
Meskipun identifikasi cara rekonstruksi ini tidak sampai menghasilkan dapat menentukan
identitas sampai pada tingkat individual, namun demikian perkiraan-perkiraan identitas yang
dihasilkan dapat mempersempit dan memberikan arah penyidikan.

2.7 MACAM-MACAM IDENTIFIKASI FORENSIK
Terhadap pola permasalahan kasusnya, dikenal ada tiga macam sistem identifikasi, yaitu :
1. Identifikasi sistem terbuka adalah identifikasi pada kasus yang terbuka kepada siapapun
dimaksudkan sebagai si korban tidak dikenal. Pola permasalahan kasusnya biasanya :
kriminal, korban tunggal, sulit diperoleh data ante-mortem, identifikasinya biasanya
dilakukan dengan cara rekonstruksi.
2. Identifikasi sistem tertutup adalah identifikasi pada kasus yang jumlah dan daftar korban
tak dikenalnya sudah diketahui. Pola permasalahan kasus biasanya: non-kriminal, korban
massal, dimungkinkan diperoleh data antemortem, identifikasi dapat dilakukan dengan
cara membandingkan data.
3. Identifikasi sistem semi terbuka atau semi tertutup adalah identifikasi pada suatu kasus
yang sebagian korban tidak dikenalnya sudah diketahui dan sebagian lainnya belum
diketahui sama sekali atau belum diketahui tetapi sudah tertentu,

2.8. IDENTIFIKASI PADA KORBAN YANG TIDAK UTUH
Tidak jarang identifikasi terpaksa dilakukan pada korban yang sudah tidak utuh lagi atau
hanya berupa tulang belulang saja. Untuk melakukan identifikaasi terhadap bagian tubuh yang
tidak lengkap, perlu diperhatikan beberapa hal yaitu:
a. Pastikan apakah sisa jaringan berasal dari manusia atau tidak
b. Jika dijumpai beberapa bagian tubuh, tentukan apakah berasal dari satu individu apa tidak
c. Perhatikan warna dari kulit
d. Perhatikan otot secara umum
e. Rambut dan bulu
f. Kepala dapat menolong untuk menentukan banyak hal
g. Badan dapat menentukan jenis kelamin dari pelvis, uterus, dan dari prostat kalau ada
h. Umur dapat ditentukan dari perubahan warna rambut, pertumbuhan umum tubuh, jumlah
gigi dan pusat penulanganserta penutupan garis epifisis tulang panjang
i. Perhatikan tiap bagian yang ada, apakah terputus, terbakar dan lain-lain. Perhatikan
apakah ada tatu, jaringan parut, kelainan bentuk dan lain-lain
j. Keadaan dari dekomposisi (pembusukan) dapat menentukan berapa lama ia mati.
6
















DAFTAR PUSTAKA

1. www.scribd.com . identifikasi. Diunduh pada tanggal 5-5-2013 pukul 20.00.
2. Hamdani, Njowito. Identifikasi pada Ilmu Kedokteran Kehakiman, edisi kedua, Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama, 1992. Hal 83-88.
3. www.id.wikipedia.org . identifikasi_forensik. Diunduh pada tanggal 5-5-2013 pukul 21.00.
4. www.scribd.com . identifikasi-forensik. Diunduh pada tanggal 5-5-2013 pukul 20.20.
5. Idris A.M. Identifikasi pada Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik, edisi pertama, Jakarta:
Binarupa Aksara, 1997. Hal 31-52.
6. Amir, Amri. Identifikasi pada Rangkaian Ilmu Kedokteran Forensik, edisi kedua, Medan:
Ramadhan, 2008. Hal 178-203.