You are on page 1of 15

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Untuk mengubah energi cahaya matahari menjadi energi listrik sering
dikenal dengan sel surya. Sel surya itu sebenarnya memanfaatkan konsep efek
fotolistrik. Efek ini akan muncul ketika cahaya tampak atau radiasi UV jatuh ke
permukaan benda tertentu. Cahaya tersebut mendorong elektron keluar dari benda
tersebut yang jumlahnya dapat diukur dengan meteran listrik. Konsep yang
sederhana ini tidak ditemukan kemudian dimanfaatkan begitu saja, namun
terdapat serangkaian proses yang diwarnai dengan perdebatan para ilmuan hingga
ditemukanlah definisi cahaya yang mewakili pemikiran para ilmuan tersebut,
yakni cahaya dapat berprilaku sebagai gelombang dapat pula sebagai partikel.
Sifat mendua dari cahaya ini disebut dualisme gelombang cahaya.
Meskipun sifat gelombang cahaya telah berhasil diaplikasikan sekitar
akhir abad ke-19, ada beberapa percobaan dengan cahaya dan listrik yang sulit
diterangkan dengan sifat gelombang cahaya itu. Pada tahun 1888 Hallwachs
mengamati bahwa suatu keping itu mula-mula positif, maka tidak terjadi
kehilangan muatan. Diamatinya pula bahwa suatu keping yang netral akan
memperoleh muatan positif apabila disinari. Kesimpulan yang dapat ditarik dari
pengamatan-pengamatan di atas adalah bahwa cahaya ultraviolet mendesak keluar
muatan litrik negatif dari permukaan keping logam yang netral. Gejala ini dikenal
sebagai efek fotolistrik.
Uraian diatas merupakan pengantar untuk memasuki sebuah penjelasan
yang lebih detail dan mendalam tentang efek fotolistrik. Ada beberapa hal yang
akan dibahas oleh penulis disini seperti sejarah penemuan efek fotolistrik,
pengertian dan pengkajian mendalam tentang efek fotolistrik, aplikasi efek
fotolistrik dalam kehidupan sehari-hari.
Pada bab ii akan dijelaskan lebih lanjut mengenai efek fotolistrik dan
beberapa aplikasi yang berhungan dengan efek fotolistrik.



2

1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam penulisan makalah ini adalah sebagai
berikut:
1. Apakah yang dimaksud dengan efek fotolistrik?
2. Bagaimana sejarah penemuan efek fotolistrik?
3. Bagaimana pengkajian mendalam tentang efek fotolistrik?
4. Bagaimana aplikasi efek fotolistrik dalam kehidupan sehari-hari?

1.3 Tujuan
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan makalah ini adalah sebagai
berikut:
1. Menjelaskan dan memformulasikan efek fotolistrik.
2. Menjelaskan dan memformulasikan sejarah penemuan efek fotolistrik.
3. Menjelaskan dan mendeskripsikan secara mendalam efek fotolistrik.
4. Mengaplikasikan efek fotolistrik dalam kehidupan sehari-hari.

1.4 Manfaat
Adapun manfaat yang ingin dicapai dalam penulisan makalah ini, adalah
sebagai berikut:
1. Memberikan pengetahuan mengenai efek fotolistrik bagi mahasiswa 4/B
Jurusan Pendidikan Fisika Universitas Pendidikan Ganesha.
2. Menambah modul pembelajaran mengenai efek fotolistrik.
3. Memberikan tambahan wawasan mengenai efek fotolistrik.









3

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Efek Fotolistrik
Efek fotolistrik adalah peristiwa terlepasnya elektron-elektron dari
permukaan logam (disebut elektron foto) ketika logam tersebut disinari dengan
cahaya. Istilah lama untuk efek fotolistrik adalah efek Hertz. Hertz mengamati dan
kemudian menunjukkan bahwa elektrode diterangi dengan sinar ultraviolet lebih
mudah menciptakan bunga api listrik. Dalam eksperimennya Hertz menemukan
bahwa laju pada celah transmiter terjadi bila cahaya ultraungu diarahkan pada
salah satu bola logamnya. Mereka menemukan bahwa penyebab terjadinya laju
adalah terpancarnya elektron pada frekuensi yang cukup tinggi. Studi efek
fotolistrik menyebabkan langkah-langkah penting dalam memahami sifat kuantum
cahaya, sifat elektron dan mempengaruhi pembentukan konsep Dualitas
gelombang-partikel. Fenomena dimana cahaya mempengaruhi gerakan muatan
listrik termasuk efek fotokonduktif (juga dikenal sebagai fotokonduktivitas atau
photoresistivity), efek fotovoltaik, dan efek fotoelektrokimia.
2.2 Sejarah Efek Fotolistrik
Sekitar seabad yang lalu, Albert Einstein muda membuat karya besarnya.
Dia melahirkan tiga buah makalah ilmiah yang menjadikan dirinya ilmuwan
paling berpengaruh di abad ke-20. Tahun itu dianggap annus mirabilis atau tahun
keajaiban Einstein. Beliau dianugerahi hadiah Nobel Fisika pada tahun 1921
dengan salah satu makalahnya adalah tentang efek fotolistrik. Einstein terkenal
dengan teori relativitasnya. Hampir semua orang kenal formula E=mc
2
, namun
hanya sedikit yang mengetahui apa itu efek fotolistrik. Formula ini mengantarkan
Einstein sebagai ilmuwan penerima hadiah Nobel. Pada tahun 1921 panitia hadiah
Nobel menuliskan bahwa Einstein dianugrahi penghargaan tertinggi di bidang
sains tersebut atas jasanya di bidang fisika teori terutama untuk penemuan hukum
efek fotolistrik.
Sebuah pertanyaan menarik muncul yang mempertanyakan hubungan Max
Planck dengan Albert Einstein. Max Karl Ernst Ludwig Planck (1858-1947)
merupakan tokoh besar di dalam fisika kuantum. Pada tahun 1990 ilmuwan dari
4

Universitas Berlin, Jerman tersebut mengemukakan hipotesisnya bahwa cahaya
dipancarkan oleh materi dalam bentuk paket-paket energi yang beliau sebut
quanta. Beliau memformulasikan sebagai E  h . Penemuan Planck itu
mengantarkanya untuk memperoleh Hadiah Nobel Bidang Fisika pada 1918.
Gagasan ini diperluas oleh Einstein lima tahun setelah itu. Dalam makalah
ilmiah tentang efek fotolistrik, menurut Einstein, cahaya terdiri dari partikel-
partikel yang kemudian disebut sebagai foton. Ketika cahaya ditembakkan ke
suatu permukaan logam, foton-fotonnya akan menumbuk elektron-elektron pada
permukaan logam tersebut sehingga elektron itu dapat lepas. Peristiwa lepasnya
elektron dari permukaan logam itu dalam fisika disebut sebagai efek fotolistrik.
Einstein menyelesaikan paper yang menjelaskan efek fotolistrik pada
tanggal 17 Maret 1905 dan mengirimkannya ke jurnal Annalen der Physik, persis
tiga hari setelah ulang tahunnya yang ke 26. Di dalam paper tersebut Einstein
untuk pertama kalinya memperkenalkan istilah kuantum (paket) cahaya. Pada
pendahuluan pepernya, beliau berargumentasi bahwa proses-proses seperti radiasi
benda hitam, fotoluminesens dan produksi sinar katode hanya dapat dijelaskan
jika energi cahaya tersebut tidak terdistribusi secara kontinyu melainkan secara
diskrit.
Hal ini merupakan cikal bakal lahirnya fisika modern yang menampik
asumsi teori-teori kokoh saat itu. Salah satunya adalah teori Maxwell yang
berhasil memadukan fenomena kelistrikan dan kemagnetan dalam satu formula
serta menyimpulkan bahwa cahaya merupakan salah satu wujud gelombang
elektromagnetik. Jelas dibutuhkan waktu cukup lama untuk meyakinkan
komunitas fisika jika cahaya memiliki sifat granular atau diskrit. Dalam
kenyataannya dibutuhkan hampir 11 tahun hingga seorang Robert Millikan
berhasil membuktikan hipotesis Einstein.
2.3 Pengkajian Mendalam tentang Efek Fotolistrik
2.3.1 Efek Fotolistrik
Pada efek fotolistrik, permukaan sebuah logam disinari dengan seberkas
cahaya dan sejumlah elektron terpancar dari permuaannya. Dalam studi
eksperimental terhadap efek fotolistrik, yang diukur adalah laju dan energi kinetik
elektron yang terpancar bergantung pada intensitas dan panjang gelombang
5

sumber cahaya. Percobaan ini harus dilakukan dalam ruang hampa, agar elektron
tidak kehilangan energinya karena bertumbukan dengan molekul-molekul udara.
Susunan percobaan ini diperlihatkan pada gambar berikut ini.








Gambar 2.1 Proses Efek Foto Listrik
(sumber : www.fhannum.wardpress.com)


Laju pancaran elektron diukur sebagai arus listrik pada rangkaian luar
dengan menggunakan sebuah ammeter, sedangkan energi kinetiknya ditentukan
dengan mengenakan suatu potensial perlambat (retarding potential) pada anode
sehingga elektron tidak mempunyai energi yang cukup untuk “memanjati” bukit
potensial yang terpasang. Secara eksperimen, tegangan perlambat terus diperbesar
hingga pembacaan arus pada ammeter menurun ke nol. Tegangan yang
bersangkutan ini disebut dengan potensial henti (stopping potential) V
s
. Karena
elektron yang berenergi tertinggi tidak dapat melewati potensial henti ini, maka
pengukuran V
s
merupakan suatu cara untuk menentukan energi kinetik maksimum
elektron K
maks
:
K
maks
= e V
s


e adalah muatan elektron. Nilai khas V
s
adalah dalam orde beberapa volt.
Dari berbagai percobaan seperti ini, kita pelajari fakta-fakta terinci efek
fotolistrik sebagai berikut.
1. Laju pemancaran elektron bergantung pada intensitas cahaya.
2. Laju pemancaran elektron tidak bergantung pada panjang gelombang cahaya
di bawah suatu panjang gelombang tertentu. Akan tetapi, jika di atas nilai
tersebut arus secara berangsur-angsur menurun hingga menjadi nol pada suatu
panjang gelombang pancung (cutoff wafelength)
c
. Panjang gelombang
c
ini
biasanya terdapat pada spektrum daerah biru dan ultraviolet.
6

3. Nilai
c
tidak bergantung pada intensitas sumber cahaya, tetapi hanya
bergantung pada jenis logam yang digunakan sebagai permukaan fotosensitif.
Di bawah
c
, sebarang sumber cahaya, selemah apapun, akan menyebabkan
terjadinya pemancaran fotoelektron. Sedangkan di atas
c
, tidak satupun
cahaya, sekuat apa pun, dapat menyebabkan terjadinya pemancaran
fotoelektron.
4. Energi kinetik maksimum elektron yang dipancarkan tidak bergantung pada
intensitas cahaya, tetapi hanyalah bergantung pada panjang gelombangnya.
Energi kinetik ini didapati bertambah secara linier terhadap frekuensi sumber
cahaya.
5. Apabila sumber cahaya dinyalakan, arus segera akan mengalir (dalam selang
waktu 10
-9
s).
Menuut teori gelombang cahaya, sebuah atom akan menyerap energi dari
gelombang elektromagnet datang yang sebanding dengan luasnya yang
menghadap ke gelombang datang. Dan sebagai tanggapan terhadap medan
elektrik gelombang, elektron atom akan bergetar, hingga tercapai cukup energi
untuk melepaskan sebuah elektron dari ikatan dengan atomnya. Penambahan
kecemerlangan sumber cahaya memperbesar laju penyerapan energi, karena
medan elektriknya bertambah, sehingga laju pemancaran elektron juga akan
bertambah, yang sesuai dengan hasil pengamatan percobaan. Tetapi, penyerapan
ini terjadi pada semua panjang gelombang, sehingga keberadaan panjang
gelombang pancung sama sekali bertentangan dengan gambaran gelombang
cahaya. Pada panjang gelombang yang lebih besar daripada
c
pun, teori
gelombang mengatakan bahwa seharusnya masih mungkin suatu gelombang
elektromagnet memberikan energi yang cukup guna melepaskan elektron.
Kita dapat menaksirkan secara kasar waktu yang diperlukan sebuah atom
untuk menyerap energi secukupnya guna melepaskan sebuah elektron. Sebagai
sumber cahaya kita pilih sebuah laser berintensitas sedang, seperti laser helium-
neon. Keluaran daya yang dihasilkan oleh laser helium-neon paling tinggi 10
-3
W,
yang penampang berkasnya terbatasi pada luas sekitar beberapa millimeter persegi
(10
-5
m
2
). Diameter kas atom adalah dalam orde 10
-10
m, jadi luasnya dalam orde
10
-20
m
2
. Karena itu, fraksi intensitas sinar laser yang jatuh pada atom adalah
7

sekitar 10
-20
m
2
/10
-5
m
2
10
-15
. Jadi, hanya 10
-18
W = 10
-18
J/s 6 eV/s daya
yang dapat diserap oleh atom, dan untuk menyerap energi sebanyak beberapa eV
diperlukan waktu sekitar satu detik. Dengan demikian, menurut teori gelombang
cahaya, kita memperkirakan tidak akan melihat fotoelektron terpancarkan hingga
beberapa detik setelah sumber cahaya dinyalakan. Dalam peraktek yang dilakukan
diperoleh hasil bahwa berkas fotoelektron pertama dipancarkan dalam selang
waktu 10
-9
s. dengan demikian, teori gelombang cahaya gagal meramalkan
keberadaan panjang gelombang pancung dan waktu tunda (delay time) yang
teramayi dalam percobaan.
Teori efek fotolistrik yang benar dikemukakan oleh Einstein pada tahun
1905. Teorinya ini didasarkan pada gagasan Planck tentang kuantum energi,
tetapi ia masih mengembangkan satu langkah lebih ke depan. Einstein
menganggap bahwa kuantum energi bukanlah sifat istimewa dari atom-atom
dinding rongga radiator, tetapi merupakan sifat radiasi itu sendiri. Energi radiasi
elektromagnet bukannya diserap dalam bentuk aliran kontinu gelombang,
melainkan dalam buntelan diskret kecil atau kuanta, yang kita sebut dengan foton.
Sebuah foton adalah suatu kuantum energi elektromagnet yang diserap atau
dipancarkan, dan sejalan dengan usulan Planck, tiap-tiap foton dari radiasi
berfrekuensi v memiliki energi
E = hv
h adalah tatapan Planck. Dengan demikian, foton-foton yang berfrekuensi
tinggi memiliki energi yang lebih besar (energi foton cahaya biru lebih besar
daripada energi foton cahaya merah). Karena suatu gelombang elektromagnet
klasik berenergi U memiliki momentum p = U/c, maka foton haruslah pula
memiliki momentum. Dan sejalan dengan rumusan klasik, momentum sebuah
atom berenergi E adalah
p =

Dengan menggabungkan persamaan E = hv dan p =

diperoleh hubungan
langsung antara panjang gelombang dan momentum foton:
p =

8

teori Einstein secara terbukti dapat menjelaskan semua fakta efek
fotolistrik yang diamati. Jika sebuah elektron terikat dalam logam dengan energi
W, yang dikenal sebagai fungsi kerja (work function). Logam yang berbeda
memilki fungsi kerja yang berbeda pula, seperti contoh pada tabel berikut.
Tabel 2.1 Beberapa fungsi kerja fotolistrik
No. Bahan W (eV) Bahan W (eV)
1 Na 2,28
2 Al 4,08
3 Co 3,90
4 Cu 4,70
5 Zn 4,31
6 Ag 4,73
7 Pt 6,35
8 Pb 4,14

Untuk mengeluarkan sebuah elektron dari permukaan suati laogam, kita
menyediakan energi minimal sebesar W. Jika hv W, maka tidak terjadi efek
fotolistrik. Sedangkan, jika hv W, maka elektron akan terpental keluar dan
kelebihan energi yang dipasok berubah menjadi energi kinetiknya. Energi kinetik
maksimum K
maks
yang dimiliki elektron yang terpental keluar dari permukaan
logam adalah
K
maks
= hv - W
Untuk elektron yang jauh dibawah permukan logam, dibutuhkan energi yang lebih
besar daripada W dan beberapa diantaranya keluar dengan energi kinetik yang
lebih rendah.
Sebuah foton yang meamsok energi sebesar W, yang adalah tepat sama
dengan energi yang dibutuhkan untuk melepaskan sebuah elektron, berkaitan
dengan cahaya yang panjang gelombangnya sama dengan panjang gelombang
pancung λ
c
. Pada panjang gelombang ini, tidak ada kelebihan energi yang tersisa
bagi energi kinetik fotolistrik, sehingga persamaan K
maks
= hv – W disederhanakan
menjadi:
W = hv =

9

dan dengan demikian:

=

Karena kita memperoleh satu fotoelektron untuk setiap foton yang terserap, maka
penaikan intensitas sumber cahaya akan berakibat semakin banyak fotoelektron
yang dipancarkan, namun demikian semua fotoelektron ini akan memiliki energi
kinetik yang sama, karena semua foton memiliki energi yang sama.
Terakhir, waktu tunda sebelum terjadinya pemancaran fotoelektron
diperkirakan singkat, begitu foton pertama diserap, arus fotolistrik akan mulai
mengalir.
Jadi, semua fakta eksperimen efek fotolistrik sesuai dengan perilaku
kuantum dari radiasi elektromagnet. Robert Millikan memberikan bukti yang lebih
meyakinkan tentang kesesuaian ini dalam serangkaian percobaan yang dilakukan
pada tahun 1915. Salah satu cuplikan dari hasil percobaannya adalah pada gambar
berikut ini.








Gambar 2.2 Hasil percobaan Milikan untuk efek fotolistrik pada natrium.
Kemiringan garisnya adalah h/e; penentuan eksperimental dari kemiringan ini
memberikan suatu cara untuk menentukan tetapan Planck. Perpotongannya
dengan sumbu datar memberikan frekuensi pancung; tetapi, pada saat Milikan
melakukan percobaannya, potensial kontak elektroda-elektroda tidak diketahui
secara tepat sehingga skala vertikal tergeser beberapa persepuluh volt.
Kemiringan kurva tak terpengaruh oleh koreksi ini.
Dari kemiringan garisnya, yang tidak lain adalah rajahan persamaan
K
maks
= hv – W , diperoleh tetapan Planck sebagai berikut.
h = 6,57 ×

J.s
10

Nilai ini sangat sesuai dengan nilai yang diturunkan dari pengukuran tetapan
Stefan-Boltzmann, seperti pada persamaan =

. Kesesuaian yang baik ini,
yang diturunkan dari dua percobaan yang berbeda, yang satu melibatkan
penyerapan dan yang lainnya pemancaran radiasi elektromagnet, memperlihatkan
bahwa tetapan Planck mempunyai arti penting lebih dari sekedar untuk
menerangkan satu percobaan. Dewasa ini, tetapan Planck dipandang sebagai salah
satu tetapan alam, dan diukur dengan ketelitian yang sangat tinggi dalam berbagai
percobaan. Nilai yang sekarang diterima adalah sebagai berikut.
h = 6,62618 ×

J.s
2.3.2 Hasil-hasil Eksperimen efek fotolistrik adalah sebagai berikut.
1. Arus terjadi hampir secara spontan, bahkan untuk cahaya yang rendah
intensitasnya. Waktu tunda antara cahaya yang datang menerpa permukaan
dengan elektron-elektron yang dihasilkan adalah berkisar 10
-9
s dan tidak
bergantung pada intensitasnya.
2. Ketika frekuensi dan tegangan perlambatan ditahan agar bernilai tetap,
maka arus akan berbanding lurus dengan intensitas cahaya datang.
3. Ketika frekuensi dan intensitas cahaya ditahan agar bernilai tetap, maka
arus akan berbanding berkurang seiring dengan naiknya tegangan
perlambatan dan akan mendekati nol untuk tegangan penahan (stopping
voltage) tertentu, V
s
. Tegangan penahan ini tidak bergantung pada
intensitas.
4. Untuk material emitor tertentu, tegangan penahannya akan bervariasi
secara linier dengan frekuensi mengikuti hubungan:
eV
s
 h  eW
0

5. Material tertentu akan memuat frekuensi ambang (threshold frequency),
v
th
, yang di bawah nilai tersebut tidak ada elektron-elektron pengemisi,
tidak peduli berapapun besarnya intensitas cahaya.
2.4 Aplikasi efek fotolistrik dalam kehidupan sehari-hari
2.4.1 Suara Dubbing
Aplikasi pertama efek fotolistrik berada dalam dunia hiburan. Dengan
bantuan peralatan elektronika saat itu suara dubbing film direkam dalam bentuk
sinyal optik di sepanjang pinggiran keping film. Pada saat film diputar, sinyal ini
11

dibaca kembali melalui proses efek fotolistrik dan sinyal listriknya diperkuat
dengan menggunakan amplifier tabung sehingga menghasilkan film bersuara.
2.4.2 Photomultiplier Tube
Aplikasi paling populer di kalangan akademis adalah tabung foto-
pengganda (photomultiplier tube). Dengan menggunakan tabung ini hampir
semua spektrum radiasi elektromagnetik dapat diamati. Tabung ini memiliki
efisiensi yang sangat tinggi, bahkan ia sanggup mendeteksi foton tunggal
sekalipun. Dengan menggunakan tabung ini, kelompok peneliti Superkamiokande
di Jepang berhasil menyelidiki massa neutrino. Di samping itu efek fotolistrik
eksternal juga dapat dimanfaatkan untuk tujuan spektroskopi melalui peralatan
yang bernama photoelectron spectroscopy atau PES.

Gambar 2.3 Photomultiplier Tube
(sumber : http://www.google.com/imgres?q=Photomultiplier+Tube.com)

2.4.3 Foto-Dioda atau Foto-Transistor
Efek fotolistrik internal memiliki aplikasi yang lebih menyentuh
masyarakat. Ambil contoh foto-diode atau foto-transistor yang bermanfaat sebagai
sensor cahaya berkecepatan tinggi. Bahkan, dalam komunikasi serat optik
transmisi sebesar 40 Gigabit perdetik yang setara dengan pulsa cahaya sepanjang
10 pikodetik (10-11 detik) masih dapat dibaca oleh sebuah foto-diode.

Gambar 2.4 FotoDioda
(sumber : www.cnmv.ro.com)

12

Foto-Transistor yang sangat kita kenal manfaatnya dapat mengubah energi
matahari menjadi energi listrik melalui efek fotolistrik internal. Sebuah
semikonduktor yang disinari dengan cahaya tampak akan memisahkan elektron
dan hole. Kelebihan elektron di satu sisi yang disertai dengan kelebihan hole di
sisi lain akan menimbulkan beda potensial yang jika dialirkan menuju beban akan
menghasilkan arus listrik.

Gambar 2.5 Foto Transistor
(sumber : www.rogercom.com)

2.4.4 CCD (Charge Coupled Device)
Dewasa ini kita dibanjiri oleh produk-produk elektronik yang dilengkapi
dengan kamera CCD (charge coupled device). Sebut saja kamera pada ponsel,
kamera digital dengan resolusi hingga 12 Megapiksel, atau pemindai kode-batang
(barcode) yang dipakai diseluruh supermarket, kesemuanya memanfaatkan efek
fotolistrik internal dalam mengubah citra yang dikehendaki menjadi data-data
elektronik yang selanjutnya dapat diproses oleh komputer.

Gambar 2.6 CCD (Charge Coupled Device)
(sumber : www.leam.hamamatsu.com)






13

2.4.5. Sel Surya (Solar Cell)
Sel surya yang sangat kita kenal manfaatnya dapat mengubah energi
matahari menjadi energi listrik melalui efek fotolistrik internal. Sebuah
semikonduktor yang disinari dengan cahaya tampak akan memisahkan elektron
dan hole. Kelebihan elektron di satu sisi yang disertai dengan kelebihan hole di
sisi lain akan menimbulkan beda potensial yang jika dialirkan menuju beban akan
menghasilkan arus listrik.
Sebuah sel surya adalah sebuah alat yang mengubah energi sinar matahari
langsung menjadi listrik oleh efek fotovoltaik. Prinsip kerja sel surya adalah
sebagai berikut, cahaya yang jatuh pada sel surya menghasilkan elektron yang
bermuatan positif dan “hole” yang bermuatan negatif. Elektron dan “hole”
mengalir membentuk arus listrik.
Sel surya memiliki banyak aplikasi. Mereka terutama cocok untuk
digunakan bila tenaga listrik dari grid tidak tersedia, seperti di wilayah terpencil,
satelit pengorbit bumi, kalkulator genggam, pompa air, dll. Sel surya (dalam
bentuk modul atau panel surya) dapat dipasang di atap gedung di mana mereka
berhubungan dengan inverter ke grid listrik dalam sebuah pengaturan net
metering.

Gambar 2.7 Sel Surya (Solar Cell)
(sumber : www.rizknareeedh,wordpress.com)

Jadi, tanpa sadari kita telah memanfaatkan efek fotolistrik baik internal
mau pun eksternal dalam kehidupan sehari-hari.




14

BAB II
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. Efek fotolistrik adalah peristiwa terlepasnya elektron-elektron dari
permukaan logam (disebut elektron foto) ketika logam tersebut disinari
dengan cahaya.
2. Einstein dalam paper berargumentasi bahwa proses-proses seperti radiasi
benda hitam, fotoluminesens dan produksi sinar katode hanya dapat
dijelaskan jika energi cahaya tersebut tidak terdistribusi secara kontinyu.
Kemudian ilmuwan Max Karl Ernst Ludwig Planck (1858-1947),
mengemukakan hipotesisnya bahwa cahaya dipancarkan oleh materi
dalam bentuk paket-paket energi yang ia sebut quanta ( E  h )
3. Studi eksperimental terhadap efek fotolistrik, yang diukur adalah laju dan
energi kinetik elektron yang terpancar bergantung pada intensitas dan
panjang gelombang sumber cahaya. pengukuran V
s
merupakan suatu cara
untuk menentukan energi kinetik maksimum elektron K
maks
:
K
maks
= e V
s
W = hv =

maka

=

4. Aplikasi efek fotolistrik dalam kehidupan sehari-hari
Suara Dubbing, Photomultiplier Tube, Foto-Dioda atau Foto-Transistor,
CCD (Charge Coupled Device), Sel Surya (Solar Cell)
3.2 Saran
Berdasarkan pembahasan dalam makalah penulis, maka yang dapat
dijadikan saran adalah sebagai berikut:
1. Mahasiswa hendaknya menguasai dan memahami kajian materi sejarah
penemuan Efek Foto Listrik, pengertian dan pengkajian mendalam tentang
Efek Foto Listrik, aplikasi Efek Foto Listrik dalam kehidupan sehari-hari.
2. Mahasiswa hendaknya mampu memahami tentang pengkajian materi tentang
Foto Listrik agar nantinya ketika dilakukan praktikum di laboratorium sudah
dapat menguasai dan praktikum berjalan baik dan lancar.


15

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2011. Efek Fotolistrik [online]. Tersedia pada
http://penoflive.wordpress.com/2011/05/26/makalah-efek-fotolistrik/. Diakses
pada tanggal 23 Februari 2013.

Gautreau, Ronald & Savin, William. 2006. Fisika Modern Edisi Kedua.
Jakarta: Penerbit Erlangga.

.Efek Fotolistrik [online]. Tersedia pada
http://penoflive.wordpress.com/2011/05/26/makalah-efek-fotolistrik/. Diakses
pada tanggal 23 Februari 2013.