PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH

Pasal Bab I KETENTUAN UMUM Bagian Pertama Pengertian Istilah Pasal 1 Dalam Peraturan Presiden ini, yang dimaksud dengan: 1. Pengadaan barang/jasa pemerintah adalah proses pengadaan barang/jasa yang sebagian atau seluruh dananya bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)/Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), baik yang dilaksanakan secara swakelola maupun oleh penyedia barang/jasa. 2. Proses pengadaan barang/jasa adalah kegiatan yang dimulai dari perencanaan kebutuhan barang/jasa sampai dengan penyerahan barang/jasa kepada pengguna barang/jasa. 3. Pengguna barang/jasa adalah pejabat pemegang kewenangan penggunaan barang/jasa milik negara/daerah di masing-masing Kementerian Negara/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat Daerah/Institusi lainnya. 4. Kementerian Negara/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat Daerah/Institusi lainnya, yang selanjutnya disebut K/L/D/I, adalah instansi/institusi yang menggunakan APBN/APBD. 5. Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah yang selanjutnya disebut LKPP, adalah satu-satunya lembaga pemerintah yang bertugas mengembangkan dan merumuskan kebijakan pengadaan barang/jasa pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Presiden Nomor 106 Tahun 2007 tentang Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. 6. Pengguna Anggaran yang selanjutnya disebut dengan PA, adalah pejabat pemegang kewenangan penggunaan anggaran Kementerian Negara/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat Daerah sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, atau pejabat yang disamakan pada institusi lain pengguna APBN/APBD. Ayat 1 Cukup jelas Penjelasan

Ayat 2 Cukup jelas

Ayat 3 Cukup jelas

Ayat 4 Cukup jelas

Ayat 5 Cukup jelas

Ayat 6 Cukup jelas

Draft Perpres - Page 1 of 85

7. Kuasa Pengguna Anggaran yang selanjutnya disebut dengan KPA, adalah pejabat struktural yang ditunjuk oleh PA atau ditetapkan oleh kepala daerah untuk menggunakan anggaran K/L/D/I. 8. Pejabat Pembuat Komitmen yang selanjutnya disebut dengan PPK, adalah pejabat struktural yang diangkat oleh PA/KPA sebagai kuasa pemilik pekerjaan, yang bertanggung jawab atas pelaksanaan pengadaan barang/jasa. 9. Pejabat Penandatangan Surat Perintah Membayar yang selanjutnya disebut dengan PPSPM, adalah pejabat yang ditunjuk oleh PA/KPA yang bertugas melakukan pengujian dan perintah membayar. 10. Panitia/pejabat penerima hasil pekerjaan adalah pejabat/panitia yang ditunjuk oleh PA/KPA yang bertugas memeriksa dan menerima hasil pekerjaan. 11. Panitia/pejabat peneliti pelaksanaan kontrak adalah pejabat/panitia yang ditunjuk oleh PPK yang bertugas melakukan penelitian atas pelaksanaan kontrak dalam rangka perubahan kontrak. 12. Penyedia barang/jasa adalah badan usaha atau orang perseorangan yang kegiatan usahanya menyediakan barang/pekerjaan konstruksi/ layanan jasa. 13. Panitia Pengadaan yang selanjutnya disebut panitia adalah tim yang diangkat oleh PA/KPA untuk melaksanakan pemilihan penyedia barang/jasa pemerintah.

Ayat 7 Cukup jelas

Ayat 8 Cukup jelas

Ayat 9 Cukup jelas

Ayat 10 Cukup jelas

Ayat 11 Cukup jelas

Ayat 12 Cukup jelas

Ayat 13 Cukup jelas.

14. Unit Layanan Pengadaan yang selanjutnya disebut ULP, adalah unit organisasi pemerintah yang bersifat struktural yang bertugas melakukan pemilihan penyedia barang/jasa dan dibentuk berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 15. Pejabat Pengadaan adalah personil yang diangkat oleh PA/KPA untuk melaksanakan penunjukan langsung dengan nilai sampai dengan Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah) dan/atau melaksanakan pembelian langsung dengan nilai sampai dengan Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah). 16. Perencanaan pengadaan adalah proses perumusan kebutuhan barang/jasa suatu K/L/D/I yang sesuai dengan rencana kerja dan anggaran K/L/D/I dimulai dari proses identifikasi kebutuhan sampai dengan penyerahan barang/jasa untuk digunakan.

Ayat 14 Cukup jelas

Ayat 15 Cukup jelas

Ayat 16 Cukup jelas

Draft Perpres - Page 2 of 85

17. Pemilihan penyedia barang/jasa adalah kegiatan untuk menetapkan penyedia barang/jasa yang akan ditunjuk untuk melaksanakan pekerjaan. 18. Barang adalah setiap benda, baik berwujud termasuk makhluk hidup maupun tidak berwujud, baik bergerak maupun tidak bergerak, yang dapat diperdagangkan, dipakai, dipergunakan atau dimanfaatkan oleh pengguna barang, konsumen atau pelaku usaha. 19. Pekerjaan Konstruksi adalah seluruh pekerjaan yang berh dengan pembuatan, pembangunan, pembangunan kembali (rekonstruksi), perekayasaan, pembongkaran, reparasi atau renovasi bangunan, pekerjaan persiapan lokasi, penggalian, pemasangan, pemancangan, instalasi peralatan, perakitan, dekorasi dan penyelesaiannya, pemboran, pemetaan, investigasi gempa, dan pekerjaan semacamnya. 20. Jasa Konsultansi adalah layanan profesional yang membutuhkan keahlian tertentu di berbagai bidang keilmuan yang mengutamakan adanya olah pikir (brainware) dalam rangka mencapai sasaran tertentu yang keluarannya berbentuk piranti lunak yang disusun secara sistematis berdasarkan Kerangka Acuan Kerja (KAK). 21. Jasa Lainnya adalah jasa yang membutuhkan kemampuan tertentu yang mengutamakan keterampilan (skillware) dalam suatu sistem tata kelola yang telah dikenal luas di dunia usaha untuk menyelesaikan suatu pekerjaan di luar jasa konsultansi. 22. Sertifikat keahlian pengadaan barang/jasa pemerintah adalah tanda bukti tertulis yang dikeluarkan oleh LKPP sebagai pengakuan atas kompetensi tertentu di bidang pengadaan barang/jasa pemerintah yang diperoleh melalui ujian sertifikasi nasional. 23. Dokumen pengadaan adalah ketentuan tertulis yang disusun oleh pejabat/panitia pengadaan/ULP dan disetujui oleh PPK untuk proses pembuatan dan penyampaian penawaran oleh calon penyedia barang/jasa, evaluasi penawaran oleh pejabat/panitia pengadaan/ULP, dan penyusunan kontrak oleh PPK. 24. Kontrak adalah perikatan antara pengguna barang/jasa yang diwakili oleh PPK dan penyedia barang/jasa atau penerima hibah.

Ayat 17 Cukup jelas

Ayat 18 Cukup jelas

Ayat 19 Cukup jelas

Ayat 20 Cukup jelas

Ayat 21 Cukup jelas

Ayat 22 Cukup jelas

Ayat 23 Cukup jelas

Ayat 24 Cukup jelas

Draft Perpres - Page 3 of 85

25. Usaha mikro adalah usaha produktif milik orang perseorangan dan/atau badan usaha perseorangan yang memenuhi kriteria Usaha Mikro sebagaimana dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah. 26. Usaha kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri yang dilakukan oleh orang perseorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar yang memenuhi kriteria usaha kecil sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah. 27. Usaha menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perseorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan usaha kecil atau usaha besar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan sebagaimana diatur dalam UndangUndang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah. 28. Usaha besar adalah usaha ekonomi produktif yang dilakukan oleh badan usaha dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan lebih besar dari usaha menengah, yang meliputi usaha nasional milik negara atau swasta, usaha patungan dan usaha asing yang melakukan kegiatan ekonomi di Indonesia dengan kriteria sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah. 29. Surat jaminan adalah jaminan tertulis yang dikeluarkan bank umum yang diberikan oleh penyedia barang/jasa kepada PPK untuk menjamin terpenuhinya persyaratan/kewajiban penyedia barang/jasa. 30. Kemitraan adalah kerjasama usaha antara penyedia barang/jasa dalam negeri dengan penyedia barang/jasa dalam negeri lainnya maupun dengan penyedia barang/jasa luar negeri, yang masing-masing pihak mempunyai hak, kewajiban, dan tanggung jawab yang jelas, berdasarkan kesepakatan bersama yang dituangkan dalam perjanjian tertulis.

Ayat 25 Cukup jelas

Ayat 26 Cukup jelas

Ayat 27 Cukup jelas

Ayat 28 Cukup jelas

Ayat 29 Cukup jelas

Ayat 30 Cukup jelas

Draft Perpres - Page 4 of 85

31. Pakta integritas adalah surat pernyataan yang ditandatangani oleh PPK/panitia/pejabat pengadaan/anggota ULP/penyedia barang/jasa yang berisi ikrar untuk mencegah dan tidak melakukan Kolusi, Korupsi, dan Nepotisme (KKN) dalam pelaksanaan pengadaan barang/jasa. 32. Pekerjaan kompleks adalah pekerjaan yang memerlukan teknologi tinggi dan/atau mempunyai risiko tinggi dan/atau menggunakan peralatan yang didesain khusus dan/atau pekerjaan bernilai di atas Rp50.000.000.000,00 (lima puluh miliyar rupiah) dan telah disetujui oleh PA untuk APBN atau Kepala Daerah untuk APBD. 33. Papan pengumuman resmi adalah papan pengumuman yang ada di kantor instansi yang bersangkutan dan/atau di kantor kelurahan/ kecamatan/ bupati/ walikota/ gubernur. 34. Surat kabar nasional adalah surat kabar yang digunakan sebagai media pengumuman pengadaan barang/jasa pemerintah yang dipilih oleh Kepala LKPP dari daftar surat kabar nasional yang ditetapkan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika. 35. Surat kabar provinsi adalah surat kabar yang digunakan sebagai media pengumuman pengadaan barang/jasa pemerintah daerah, yang dipilih oleh Gubernur dari daftar surat kabar provinsi yang telah ditetapkan oleh Gubernur. 36. Website pengadaan nasional adalah website yang dikoordinasikan oleh LKPP yang digunakan sebagai media pengumuman rencana dan kegiatan pengadaan barang/jasa di K/L/D/I. 37. Masyarakat adalah orang perseorangan atau kelompok komunitas yang memiliki kepedulian terhadap pengadaan barang/jasa. 38. Pengadaan barang/jasa secara swakelola adalah pelaksanaan pekerjaan yang direncanakan, dikerjakan, dan diawasi sendiri oleh institusi pemerintah penanggungjawab anggaran atau institusi pemerintah penerima kuasa dari penanggungjawab anggaran atau kelompok masyarakat penerima hibah. 39. Metode satu sampul adalah metode penyampaian dokumen penawaran yang terdiri dari persyaratan administrasi, teknis dan penawaran harga yang dimasukkan ke dalam 1 (satu) sampul tertutup kepada panitia/pejabat pengadaan.

Ayat 31 Cukup jelas

Ayat 32 Cukup jelas

Ayat 33 Cukup jelas

Ayat 34 Cukup jelas

Ayat 35 Cukup jelas

Ayat 36 Cukup jelas

Ayat 37 Cukup jelas

Ayat 38 Cukup jelas

Ayat 39 Cukup jelas

Draft Perpres - Page 5 of 85

40. Metode dua sampul adalah metode penyampaian dokumen penawaran yang persyaratan administrasi dan teknis dimasukkan dalam sampul tertutup I, sedangkan penawaran harga dimasukkan dalam sampul tertutup II, selanjutnya sampul I dan sampul II dimasukkan ke dalam 1 (satu) sampul (sampul penutup) dan disampaikan kepada panitia pengadaan. 41. Metode dua tahap adalah metode yaitu penyampaian dokumen penawaran yang persyaratan administrasi dan teknis dimasukkan dalam sampul tertutup I, sedangkan penawaran harga dimasukkan dalam sampul tertutup II, yang penyampaiannya kepada panitia pengadaan dilakukan dalam 2 (dua) tahap secara terpisah dan dalam waktu yang berbeda. 42. Kontrak Lumpsum adalah kontrak pengadaan barang/jasa atas penyelesaian seluruh pekerjaan dalam batas waktu tertentu, dengan jumlah harga yang pasti dan tetap, dan semua resiko yang mungkin terjadi dalam proses penyelesaian pekerjaan sepenuhnya ditanggung oleh penyedia barang/jasa. 43. Kontrak Harga Satuan adalah kontrak pengadaan barang/jasa atas penyelesaian seluruh pekerjaan dalam batas waktu yang telah ditentukan, berdasarkan harga satuan yang pasti dan tetap untuk setiap satuan/unsur pekerjaan dengan spesifikasi teknis tertentu, yang volume atau kuantitas pekerjaannya masih bersifat perkiraan pada saat kontrak ditandatangani, sedangkan pembayarannya didasarkan pada hasil pengukuran bersama atas volume pekerjaan yang benar-benar telah dilaksanakan oleh penyedia barang/jasa. 44. Kontrak Gabungan Lumpsum dan Harga Satuan adalah kontrak yang merupakan gabungan lump sum dan harga satuan dalam satu pekerjaan yang diperjanjikan. 45. Kontrak Terima Jadi (turn key contract) adalah kontrak pengadaan pekerjaan konstruksi atas penyelesaian seluruh pekerjaan dalam batas waktu tertentu dengan jumlah harga pasti dan tetap sampai seluruh bangunan/konstruksi, peralatan dan jaringan utama maupun penunjangnya dapat berfungsi dengan baik sesuai dengan kriteria kinerja yang telah ditetapkan. 46. Kontrak Persentase adalah kontrak pengadaan barang/jasa tertentu, dimana penyedia barang/jasa yang bersangkutan menerima imbalan berdasarkan persentase tertentu dari nilai pekerjaan tersebut.

Ayat 40 Cukup jelas

Ayat 41 Cukup jelas

Ayat 42 Cukup jelas

Ayat 43 Cukup jelas

Ayat 44 Cukup jelas

Ayat 45 Cukup jelas

Ayat 46 Cukup jelas

Draft Perpres - Page 6 of 85

47. Kontrak Tahun Tunggal (single year contract) adalah kontrak pelaksanaan pekerjaan yang mengikat dana anggaran untuk masa 1 (satu) tahun anggaran. 48. Kontrak Tahun Jamak (multi years contract), adalah kontrak pelaksanaan pekerjaan yang mengikat dana anggaran untuk masa lebih dari 1 (satu) tahun anggaran yang dilakukan atas persetujuan oleh Menteri /Pimpinan dari K/L/D/I . 49. Kontrak Payung (framework agreement) adalah kontrak harga satuan berjangka panjang yang dapat berlaku selama-lamanya 4 (empat) tahun untuk menjamin ketersediaan barang/jasa tertentu yang sifatnya dibutuhkan secara berulang dengan volume atau kuantitas pekerjaan yang belum dapat ditentukan pada saat kontrak ditandatangani, dan pembayarannya dilakukan pada setiap akhir tahun anggaran yang didasarkan pada hasil penilaian/pengukuran bersama terhadap volume/kuantitas pekerjaan yang telah dilaksanakan oleh penyedia barang/jasa secara nyata pada tahun bersangkutan.

Ayat 47 Cukup jelas

Ayat 48 Cukup jelas

Ayat 49 Kontrak Payung (framework agreement) dapat dievaluasi setiap akhir tahun dan jika ketentuan dalam kontrak tidak lagi disetujui oleh kedua belah pihak, maka dilakukan pemutusan kontrak. Sebagai contoh, Kontrak Payung (framework agreement) dapat dilakukan untuk pengadaan alat tulis kantor (ATK), pekerjaan perawatan kendaraan dinas, perawatan ruas jalan tertentu, jasa layanan kebersihan (cleaning service), jasa layanan perjalanan (travel agent), dan pekerjaan/jasa lain yang sejenis. Ayat 50 Cukup jelas

50. Kontrak Pengadaan Tunggal adalah kontrak antara satu PPK dengan satu penyedia barang/jasa tertentu untuk menyelesaikan pekerjaan tertentu dalam waktu tertentu. 51. Kontrak Pengadaan Bersama adalah kontrak antara beberapa PPK dengan satu penyedia barang/jasa tertentu untuk menyelesaikan pekerjaan tertentu dalam waktu tertentu sesuai dengan kegiatan bersama yang jelas dari masingmasing unit kerja dan pendanaan bersama yang dituangkan dalam kesepakatan bersama. 52. Pelelangan umum adalah metode pemilihan penyedia barang/pekerjaan konstruksi/jasa lainnya untuk semua pekerjaan yang dapat diikuti oleh semua penyedia barang/pekerjaan konstruksi/jasa lainnya yang memenuhi syarat.

Ayat 51 Cukup jelas

Ayat 52 Cukup jelas

53. Seleksi umum adalah metode pemilihan penyedia jasa konsultansi untuk semua pekerjaan yang daftar pendek pesertanya dipilih melalui proses prakualifikasi. 54. Pelelangan terbatas adalah metode pemilihan penyedia barang/pekerjaan konstruksi/jasa lainnya untuk pekerjaan kompleks dimana jumlah penyedianya diyakini terbatas.

Ayat 53 Cukup jelas

Ayat 54 Cukup jelas

Draft Perpres - Page 7 of 85

55. Seleksi terbatas adalah metode pemilihan penyedia jasa konsultansi untuk pekerjaan kompleks, dimana jumlah penyedia jasanya diyakini terbatas. 56. Pemilihan langsung adalah metode pemilihan penyedia barang/jasa untuk pekerjaan bernilai sampai dengan Rp200.000.000,00 ( dua ratus juta rupiah) dengan membandingkan sekurangkurangnya 3 (tiga) penawaran dari penyedia barang/jasa yang telah lulus prakualifikasi dan melakukan negosiasi teknis dan biaya. 57. Seleksi langsung adalah metode pemilihan penyedia jasa konsultansi untuk pekerjaan dengan bernilai sampai dengan Rp200.000.000,00 ( dua ratus juta rupiah) dengan membandingkan sekurang-kurangnya 3 (tiga) penawaran dari penyedia jasa konsultansi yang telah lulus prakualifikasi dan melakukan negosiasi teknis dan biaya. 58. Penunjukan Langsung adalah metode pemilihan penyedia barang/jasa untuk pengadaan barang/jasa khusus dan/atau untuk pengadaan pada keadaan tertentu, dengan cara menunjuk langsung kepada 1 (satu) penyedia barang/ jasa yang diyakini mampu setelah melakukan penilaian teknis dan negosiasi biaya sehingga diperoleh barang/jasa dengan kualitas yang tinggi dengan harga yang dapat dipertanggungjawabkan (best value for money). 59. Pembelian Langsung adalah pembelian terhadap barang/jasa yang terdapat di pasar berdasarkan harga pasar.

Ayat 55 Cukup jelas

Ayat 56 Cukup jelas

Ayat 57 Cukup jelas

Ayat 58 Cukup jelas

Ayat 59 Pembelian langsung adalah salah satu metode pengadaan barang/jasa yang digunakan hanya untuk pengadaan kebutuhan operasional sehari-hari.

60. Sistem gugur adalah penilaian penawaran dengan cara memeriksa dan membandingkan dokumen penawaran terhadap pemenuhan persyaratan yang telah ditetapkan dalam dokumen pemilihan penyedia barang/jasa. 61. Sistem nilai adalah penilaian penawaran dengan cara memberikan nilai angka tertentu pada setiap unsur yang dinilai berdasarkan kriteria dan nilai yang telah ditetapkan dalam dokumen pemilihan penyedia barang/jasa.

Ayat 60 Cukup jelas

Ayat 61 Cukup jelas

Draft Perpres - Page 8 of 85

62. Sistem penilaian biaya selama umur ekonomis (economic life cycle) adalah penilaian penawaran dengan cara memberikan nilai pada unsur-unsur teknis dan harga yang dinilai menurut umur ekonomis barang yang ditawarkan berdasarkan kriteria dan nilai yang ditetapkan dalam dokumen pemilihan penyedia barang/jasa. 63. Metode evaluasi kualitas (Quality-Based Selection/QBS) adalah penilaian penawaran jasa konsultansi berdasarkan kualitas penawaran teknis terbaik. 64. Metode evaluasi kualitas dan biaya (Quality and Cost Based Selection/QCBS) adalah penilaian penawaran jasa konsultansi berdasarkan nilai kombinasi terbaik antara penawaran teknis dan biaya terkoreksi. 65. Metode evaluasi pagu anggaran adalah i penilaian penawaran jasa konsultansi berdasarkan kualitas penawaran teknis terbaik yang penawaran biaya terkoreksinya lebih kecil atau sama dengan pagu anggaran. 66. Metode evaluasi biaya terendah adalah penilaian penawaran jasa konsultansi berdasarkan penawaran biaya terkoreksinya terendah berdasarkan persyaratan teknis yang telah ditentukan. 67. Pinjaman Luar Negeri adalah setiap penerimaan Negara baik dalam bentuk devisa dan/atau devisa yang dirupiahkan, rupiah, maupun dalam bentuk barang dan/atau jasa yang diperoleh dari pemberi pinjaman luar negeri yang harus dibayar kembali dengan persyaratan tertentu sebagaimana diatur dalam ketentuan mengenai Tata cara Pengadaan Pinjaman dan/atau Penerimaan Hibah serta Penerusan Pinjaman dan/atau Hibah Luar Negeri. 68. Hibah Luar Negeri adalah setiap penerimaan negara baik dalam bentuk devisa dan/atau devisa yang dirupiahkan, rupiah, maupun dalam bentuk barang dan/atau jasa yang diperoleh dari pemberi hibah luar negeri yang tidak perlu dibayar kembali. 69. Fasilitas Kredit Ekspor, yang selanjutnya disebut FKE, adalah pinjaman yang diberikan oleh lembaga keuangan atau lembaga non keuangan di negara pengekspor yang dijamin oleh lembaga penjamin kredit . 70. Daftar Hitam adalah daftar yang memuat identitas penyedia barang/jasa yang dikenakan sanksi oleh suatu K/L/D/I berupa pelarangan mengikuti pengadaan barang/jasa pemerintah di seluruh wilayah Indonesia dalam jangka waktu tertentu sejak ditetapkan.

Ayat 62 Cukup jelas

Ayat 63 Cukup jelas

Ayat 64 Cukup jelas

Ayat 65 Cukup jelas

Ayat 66 Cukup jelas

Ayat 67 Cukup jelas

Ayat 68 Cukup jelas

Ayat 69 Cukup jelas

Ayat 70 Ketentuan lebih lanjut tentang Daftar Hitam akan ditetapkan dalam Keputusan Kepala LKPP. (masuk dalam pengaturan)

Draft Perpres - Page 9 of 85

Bagian Kedua Maksud dan Tujuan Pasal 2 1. Maksud diberlakukannya Peraturan Presiden ini adalah untuk mengatur pelaksanaan pengadaan barang/jasa yang sebagian atau seluruh dananya bersumber dari APBN/APBD. Ayat 1 Cukup jelas

2. Tujuan diberlakukannya Peraturan Presiden ini adalah untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas penggunaan keuangan negara yang dibelanjakan melalui proses pengadaan barang/jasa dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan publik guna menciptakan daya saing nasional. Bagian Ketiga Ruang Lingkup Pasal 3 1. Ruang lingkup berlakunya Peraturan Presiden ini adalah untuk : a. pengadaan barang/jasa yang sumber pembiayaannya sebagian atau seluruhnya menggunakan APBN/APBD; b. pengadaan barang/jasa yang sebagian atau seluruh dananya bersumber dari pinjaman yang diterima oleh pemerintah atau pemerintah daerah; c. pengadaan barang/jasa yang sebagian atau seluruh dananya bersumber dari hibah yang diterima oleh pemerintah atau pemerintah daerah. 2. Pengaturan pengadaan barang/jasa pemerintah yang dibiayai APBN, apabila ditindaklanjuti dengan Keputusan Menteri / Pemimpin Lembaga/ institusi lainnya pengguna APBN harus tetap berpedoman serta tidak boleh bertentangan dengan ketentuan dalam Peraturan Presiden ini.

Ayat 2 Cukup jelas

Ayat 1 Pinjaman dan Hibah yang dimaksud adalah pinjaman/hibah luar negeri atau pinjaman/Hibah dalam negeri. Proses penyusunan Naskah Pinjaman/hibah Luar Negeri (NPHLN) atau Naskah Pinjaman/Hibah Dalam Negeri harus berpedoman pada Peraturan Presiden ini.

Ayat 2 Sebagai contoh, tata cara pengadaan Alat Utama Sistem Senjata (alutsista) dapat diatur lebih lanjut oleh Menteri Pertahanan, pengadaan Alat Material Khusus (almatsus) dapat diatur lebih lanjut oleh Kepala Kepolisian RI, kebutuhan barang/jasa di luar negeri untuk keperluan kantor perwakilan tetap RI di luar negeri dapat diatur oleh Menteri Luar Negeri. Ayat 3 Cukup jelas

3. Pengaturan pengadaan barang/jasa pemerintah yang dibiayai APBD, apabila ditindaklanjuti dengan Peraturan Daerah / Keputusan Kepala Daerah / Pemimpin institusi lainnya pengguna APBD harus tetap berpedoman serta tidak boleh bertentangan dengan ketentuan dalam Peraturan Presiden ini.

Draft Perpres - Page 10 of 85

Pasal 4 Pelaksanaan pengadaan barang/jasa pemerintah dilakukan dengan cara : a) menggunakan penyedia barang/jasa; b) swakelola Cukup jelas

Bab II TATA NILAI PENGADAAN Bagian Pertama Prinsip-Prinsip Pengadaan Pasal 5 Pengadaan barang/jasa wajib menerapkan prinsipprinsip di bawah ini secara komprehensif: 1. Efisien, berarti pengadaan barang/jasa harus diusahakan dengan menggunakan dana dan daya yang minimum untuk mencapai sasaran dan waktu yang ditetapkan; 2. Efektif, berarti pengadaan barang/jasa harus sesuai dengan kebutuhan dan sasaran yang telah ditetapkan dan dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya; 3. Transparan, berarti semua ketentuan dan informasi mengenai pengadaan barang/jasa dapat diketahui secara luas oleh penyedia barang/jasa yang berminat serta oleh masyarakat pada umumnya; 4. Keterbukaan, berarti pengadaan barang/jasa harus terbuka bagi penyedia barang/jasa yang memenuhi persyaratan/kriteria tertentu berdasarkan ketentuan dan prosedur yang jelas; 5. Bersaing, berarti pengadaan barang/jasa harus dilakukan melalui persaingan yang sehat dimana penyedia barang/jasa mempunyai akses informasi yang sama tentang barang/jasa yang diminta/dibutuhkan pengguna barang/jasa, sehingga dapat diperoleh barang/jasa yang ditawarkan secara kompetitif dan tidak ada intervensi yang mengganggu terciptanya mekanisme pasar dalam pengadaan barang/jasa. 6. Adil/tidak diskriminatif, berarti memberikan perlakuan yang sama bagi semua calon penyedia barang/jasa dan tidak mengarah untuk memberi keuntungan kepada pihak tertentu, dengan cara dan atau alasan apapun; Panitia pengadaan dan/atau pejabat yang berwenang dalam mengeluarkan keputusan, ketentuan, prosedur, dan tindakan lainnya, harus didasarkan pada prinsip-prinsip dasar tersebut. Dengan demikian akan dapat tercipta suasana yang kondusif bagi tercapainya efisiensi, partisipasi, dan persaingan usaha yang sehat dan terbuka antara penyedia jasa yang setara dan memenuhi syarat, menjamin rasa keadilan dan kepastian hukum bagi semua pihak, sehingga dapat meningkatkan kepercayaan masyara kat terhadap proses pengadaan barang/jasa, karena hasilnya dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat, baik dari segi fisik, keuangan, dan manfaatnya bagi kelancaran pelaksanaan tugas institusi pemerintah.

Draft Perpres - Page 11 of 85

7. Akuntabel, berarti harus sesuai dengan aturan dan ketentuan yang berlaku dalam pengadaan barang/jasa sehingga dapat dipertanggungjawabkan dan dikenakan sanksi jika tidak sesuai dengan aturan dan ketentuan. Bagian Kedua Etika Pengadaan Pasal 6 Para pihak yang terkait dalam pelaksanaan pengadaan barang/jasa harus mematuhi etika sebagai berikut: 1. melaksanakan tugas secara tertib, disertai rasa tanggungjawab untuk mencapai sasaran kelancaran dan ketepatan tercapainya tujuan pengadaan barang/jasa; 2. bekerja secara profesional dan mandiri, serta menjaga kerahasiaan dokumen pengadaan barang dan jasa yang seharusnya dirahasiakan untuk mencegah terjadinya penyimpangan dalam pengadaan barang/jasa; 3. tidak saling mempengaruhi baik langsung maupun tidak langsung untuk mencegah dan menghindari terjadinya persaingan tidak sehat; 4. menerima dan bertanggung jawab atas segala keputusan yang ditetapkan sesuai dengan kesepakatan tertulis para pihak; 5. menghindari dan mencegah terjadinya pertentangan kepentingan (conflict of interest) para pihak yang terkait, baik secara langsung maupun tidak langsung dalam proses pengadaan barang/jasa; 6. menghindari dan mencegah terjadinya pemborosan dan kebocoran keuangan negara dalam pengadaan barang/jasa; 7. menghindari dan mencegah penyalahgunaan wewenang dan/atau kolusi dengan tujuan untuk keuntungan pribadi, golongan atau pihak lain yang secara langsung atau tidak langsung merugikan negara; 8. tidak menerima, tidak menawarkan atau tidak menjanjikan untuk memberi atau menerima hadiah, imbalan, komisi, rabat dan berupa apa saja kepada siapapun yang diketahui atau patut dapat diduga berkaitan dengan pengadaan barang/jasa. Yang dimaksud dengan “menghindari dan mencegah terjadinya pertentangan kepentingan para pihak yang terkait, langsung maupun tidak langsung dalam proses pengadaan”, adalah dimaksudkan untuk menjamin perilaku konsisten ATAU mencegah perilaku tidak konsisten dari para pihak dalam melaksanakan tugas, fungsi dan perannya. Oleh karena itu, yang bersangkutan tidak boleh memiliki/melakukan peran ganda atau terafiliasi, misalnya : a. Dalam suatu perusahaan Perseroan Terbatas, seorang anggota Direksi tidak boleh merangkap sebagai Dewan Komisaris; b. Dalam pelaksanaan pekerjaan konstruksi/pemborongan, konsultan perencana tidak boleh bertindak sebagai pelaksana/ pemborong pekerjaan yang direncanakannya, kecuali dalam pelaksanaan kontrak terima jadi (turn key contract); c. Pengurus koperasi pegawai atau anak perusahaan dalam suatu K/L/D/I yang mengikuti pengadaan barang/jasa dan bersaing dengan perusahaan lainnya, tidak boleh merangkap sebagai anggota panitia pengadaan atau sebagai pejabat yang berwenang menentukan pemenang lelang/ Pemilihan Langsung/Penunjukan Langsung. Yang dimaksud dengan Afiliasi adalah keterkaitan hubungan baik antar penyedia barang jasa, maupun antara penyedia barang jasa dengan PPK dan/atau panitia/pejabat pengadaan, yang meliputi: a. hubungan keluarga karena perkawinan dan keturunan sampai dengan derajat kedua, baik secara horizontal maupun vertikal;

Draft Perpres - Page 12 of 85

b. PPK/Panitia/pejabat pengadaan baik langsung maupun tidak langsung mengendalikan atau menjalankan perusahaan penyedia barang/jasa; atau c. hubungan antara dua perusahaan yang dikendalikan, baik langsung maupun tidak langsung oleh Pihak yang sama; Bagian Ketiga Kebijakan Umum Pasal 7 Kebijakan umum pemerintah barang/jasa adalah: 1. dalam pengadaan Ayat 1 Perluasan kesempatan kerja ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dan ketahanan ekonomi ditujukan agar basis ekonomi nasional semakin kokoh yaitu tidak rentan terhadap gejolak perubahan serta mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan

meningkatkan penggunaan produksi/jasa dalam negeri yang sasarannya adalah memperluas kesempatan kerja dan memperluas basis industri dalam negeri dalam rangka meningkatkan ketahanan ekonomi nasional;

2.

meningkatkan kemandirian industri strategis, industri alutsista dan industri almatsus dalam negeri. Dalam hal alutsista dan/atau almatsus dimaksud belum dapat dibuat oleh industri dalam negeri maka pengadaannya langsung ke pabrikan yang terpercaya; meningkatkan peran usaha mikro, usaha kecil, termasuk koperasi kecil dan kelompok masyarakat dalam pengadaan barang/jasa; memperhatikan aspek pemanfaatan sumber daya alam dan pelestarian fungsi lingkungan hidup secara arif untuk menjamin terlaksananya pembangunan berkelanjutan;

Ayat 2 Cukup jelas

3.

Ayat 3 Cukup jelas

4.

Ayat 4 Pembangunan berkelanjutan adalah sinergi pencapaian keseimbangan tujuan ekonomi, sosial, dan lingkungan hidup.

5. 6.

meningkatkan penggunaan teknologi informasi dan transaksi elektronik; menyederhanakan ketentuan dan tata cara untuk mempercepat proses pengambilan keputusan dalam pengadaan barang/jasa; meningkatkan profesionalisme, kemandirian, dan tanggung jawab para pihak yang terlibat dalam perencanaan dan proses pengadaan barang/jasa; meningkatkan penerimaan sektor perpajakan; negara melalui

Ayat 5 Cukup jelas Ayat 6 Cukup jelas Ayat 7 Cukup jelas

7.

8.

Ayat 8 Cukup jelas

Draft Perpres - Page 13 of 85

9.

menumbuhkembangkan peran usaha nasional;

Ayat 9 Cukup jelas Ayat 10 Cukup jelas

10. melaksanakan pengadaan barang/jasa di dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, termasuk di Kantor Perwakilan Republik Indonesia; 11. mengumumkan secara terbuka rencana pengadaan barang/jasa di masing-masing K/L/D/I, pada setiap awal pelaksanaan anggaran kepada masyarakat luas; 12. mengumumkan pelaksanaan kegiatan pengadaan barang/jasa pemerintah secara terbuka melalui surat kabar nasional dan/atau surat kabar provinsi dan website masing-masing K/L/D/I serta website pengadaan nasional.

Ayat 11 Cukup jelas

Ayat 12 Pengumuman secara terbuka artinya rencana pengadaan K/L/D/I di website pengadaan nasional yang dikelola oleh LKPP dengan alamat www.lkpp.go.id.

Pasal 8 Ketentuan tentang pemilihan surat kabar nasional dan surat kabar provinsi sebagaimana dimaksud pasal 7 ayat 12 adalah sebagai berikut: 1. Pemilihan harus dilakukan sesuai tata cara pemilihan penyedia barang/jasa sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden ini. 2. Pemilihan dilaksanakan oleh Kepala LKPP untuk surat kabar nasional dan Gubernur untuk surat kabar provinsi. 3. Kepala LKPP dan/atau Gubernur melaksanakan pemilihan surat kabar berdasarkan daftar surat kabar yang beroplah besar dan memiliki peredaran luas yang dikeluarkan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika dan /atau Gubernur. 4. Segala biaya yang timbul dalam rangka pemilihan surat kabar, dibebankan APBN/APBD. Pemilihan surat kabar sebagaimana dimaksud dalam pasal ini dimaksudkan agar calon penyedia barang/jasa dan masyarakat dapat dengan mudah mendapatkan informasi mengenai rencana kegiatan pengadaan barang/jasa pemerintah. Di lain pihak, dengan telah ditetapkannya surat kabar untuk pengumuman kegiatan pengadaan barang/jasa, PPK akan mengeluarkan biaya pengumuman lelang yang lebih murah sehingga pada akhirnya menghemat APBN/APBD. Sebelum Kepala LKPP dan Gubernur menetapkan surat kabar nasional dan surat kabar provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3, pengumuman kegiatan pengadaan barang/jasa pemerintah dilakukan melalui surat kabar yang terpilih pada periode sebelumnya.

Bab III PERENCANAAN PENGADAAN Pasal 9 1. Perencanaan pengadaan dilakukan untuk mewujudkan proses pengadaan yang sesuai dengan kebutuhan serta dapat memberikan informasi awal mengenai kesempatan usaha bagi para penyedia barang/jasa. Cukup jelas

Draft Perpres - Page 14 of 85

2. Untuk menunjang pelaksanaan kegiatan pembangunan sesuai dengan rencana kerja dan anggaran, perencanaan pengadaan dibedakan menjadi: a. Perencanaan Kegiatan dan Anggaran Pengadaan – yang dilaksanakan oleh PA/KPA, antara lain meliputi: 1) Mengidentifikasikan kebutuhan barang/jasa yang diperlukan sesuai dengan rencana kerja dan anggaran. 2) Menyusun dan menetapkan rencana pendanaan untuk pengadaan barang/jasa sebagaimana dimaksud angka 1) diatas. 3) Menetapkan cara pengadaan barang/jasa. 4) Menetapkan kebijakan umum tentang pemaketan pekerjaan. 5) Menetapkan pengorganisasian pengadaan. 6) Mengumumkan rencana kerja dan anggaran pengadaan kepada masyarakat secara terbuka ‘ 7) Memantau pelaksanaan pengadaan barang/jasa. 8) Merencanakan audit atas pelaksanaan pengadaan barang/jasa.

b. Penyusunan Rencana Pengadaan – yang dilaksanakan oleh PPK, antara lain meliputi: 1) melalui penyedia barang/jasa a). menyusun rencana pengadaan, termasuk di antaranya pengorganisasian pelaksanaan pengadaan, dan pengumpulan dokumen-dokumen yang menjadi dasar pelaksanaan pengadaan; b). mengusulkan perubahan paket pekerjaan kepada PA/KPA jika diperlukan; c). menyusun dan menetapkan Harga Perkiraan Sendiri (HPS); d). menyusun dan menandatangani kontrak; 2) swakelola a). perencanaan kegiatan; b). penyusunan KAK swakelola; c). penyusunan jadwal pelaksanaan pekerjaan/kegiatan; d). penyusunan rencana biaya pekerjaan/kegiatan; e). pelaksanaan kegiatan oleh masyarakat/lembaga; f). penyusunan rencana monitoring dan evaluasi atas kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat/lembaga.

Draft Perpres - Page 15 of 85

c.

Penyusunan Rencana Pengadaan – yang dilaksanakan oleh Panitia Pengadaan/ULP, antara lain meliputi: 1) Menetapkan sistem pengadaan 2) Menyusun jadwal pelaksanaan pengadaan 3) Menyusun petunjuk pelaksanaan pengadaan 4) Menyusun dokumen pengadaan 5) Mengusulkan perubahan HPS kepada PPK, jika perlu Pasal 10

Organisasi pengadaan barang/jasa terdiri dari : 1. Pengguna Anggaran (PA) 2. Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) 3. Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 4. Pejabat Penandatangan Surat Perintah Membayar (PPSPM) 5. Panitia/ Pejabat Pengadaan/ Unit Layanan Pengadaan (ULP) 6. Panitia / Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan 7. Panitia /Pejabat Peneliti Pelaksanaan Kontrak Pasal 11 Panitia pengadaan/ULP wajib mengalokasikan waktu yang cukup untuk penayangan pengumuman, kesempatan untuk pengambilan dokumen, kesempatan untuk mempelajari dokumen, dan penyiapan dokumen penawaran. Pasal 12 K/L/D/I wajib menyediakan biaya untuk mendukung pelaksanaan pengadaan barang/jasa sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku, meliputi : 1. honorarium para pihak dalam organisasi pengadaan (PA/KPA, PPK, Panitia/Pejabat pengadaan/Pejabat Pembelian/Pengelola Keuangan, Panitia/Pejabat pemeriksa/penerima barang/jasa, Panitia/Pejabat peneliti pelaksanaan kontrak termasuk staf pengadaan); 2. biaya pengumuman pengadaan barang/jasa; 3. biaya pembuatan dan penggandaan dokumen pengadaan barang/jasa dan/atau dokumen kualifikasi khusus untuk kebutuhan panitia/pejabat pengadaan; 4. biaya administrasi dan operasional lainnya serta perjalanan dinas yang diperlukan untuk mendukung pelaksanaan pengadaan barang/jasa.

Cukup jelas

Cukup jelas

Biaya untuk mendukung pelaksanaan pengadaan barang/jasa, jika diperlukan, juga meliputi biaya untuk pelaksanaan pemilihan penyedia barang/jasa yang kontraknya akan dilakukan pada tahun anggaran berikutnya.

Draft Perpres - Page 16 of 85

Bab IV JENIS PENGADAAN Pasal 13 Jenis Pengadaan meliputi: 1. Pengadaan barang; 2. Pengadaan pekerjaan konstruksi; 3. Pengadaan jasa konsultansi; 4. Pengadaan jasa lainnya. Pasal 14 Pengadaan Barang Pengadaan barang meliputi pengadaan setiap benda baik berwujud termasuk makhluk hidup maupun tidak berwujud, baik bergerak maupun tidak bergerak, yang dapat diperdagangkan, dipakai, dipergunakan atau dimanfaatkan oleh pengguna barang, konsumen atau pelaku usaha, yang meliputi tapi tidak terbatas pada: 1. Bahan baku 2. Barang setengah jadi 3. Barang jadi/peralatan Pasal 15 Pengadaan Pekerjaan Konstruksi Pengadaan pekerjaan konstruksi; meliputi pengadaan seluruh pekerjaan yang berhubungan dengan pembuatan, pembangunan, pembangunan kembali (rekonstruksi), perekayasaan, pembongkaran, reparasi atau renovasi bangunan, pekerjaan persiapan lokasi, penggalian, pemasangan, pemancangan, instalasi peralatan, perakitan, dekorasi dan penyelesaiannya, pemboran, pemetaan, foto satelit, investigasi gempa, dan pekerjaan semacamnya, yang meliputi namun tidak terbatas pada: 1. pelaksanaan pekerjaan untuk membangun, memodifikasi, merenovasi, memperbaiki dan/atau mewujudkan suatu bangunan atau bentuk fisik lainnya; 2. pekerjaan yang berhubungan dengan persiapan lahan, penggalian dan/atau penataan lahan (landscaping); 3. perakitan atau instalasi komponen pabrikasi; 4. Penghancuran (demolition) dan pembersihan (removal); 5. Layanan pekerjaan yang perencanaan teknis dan spesifikasinya ditetapkan oleh PPK sesuai dengan penugasan PA/KPA dan proses serta pelaksanaannya diawasi oleh PPK. Cukup jelas Cukup jelas

Draft Perpres - Page 17 of 85

Pasal 16 Pengadaan Jasa Konsultansi Pengadaan jasa konsultansi; meliputi pengadaan layanan profesional yang membutuhkan keahlian tertentu di berbagai bidang keilmuan yang mengutamakan adanya olah pikir (brainware) dalam rangka mencapai sasaran tertentu yang keluarannya berbentuk piranti lunak yang disusun secara sistematis berdasarkan KAK, yang meliputi tapi tidak terbatas pada: 1. Jasa rekayasa (engineering); 2. Jasa rancang bangun (perencanaan dan pengawasan di bidang pekerjaan konstruksi); 3. Jasa perencanaan dan/atau pengawasan transportasi, pariwisata, pos & telekomunikasi, pertanian, perindustrian, pertambangan, energi; 4. Jasa keahlian profesi Cukup jelas

Pasal 17 Pengadaan Jasa Lainnya Pengadaan jasa lainnya; meliputi pengadaan layanan jasa yang membutuhkan kemampuan tertentu yang mengutamakan keterampilan (skillware) dalam suatu sistem tata kelola yang telah dikenal luas di dunia usaha untuk menyelesaikan suatu pekerjaan diluar jasa konsultansi, yang meliputi tetapi tidak terbatas pada: 1. 2. 3. 4. 5. Jasa boga (catering service) Jasa layanan kebersihan (cleaning service) Jasa penyedia tenaga kerja Jasa asuransi, perbankan dan keuangan Layanan kesehatan, pendidikan, pengembangan sumber daya manusia, kependudukan 6. Penerangan, iklan/ reklame, film, pemotretan 7. Percetakan dan penjilidan 8. Pemeliharaan/perbaikan 9. Jasa pembersihan, pest control, termite control dan fumigasi 10. Pengepakan, pengakutan, pengurusan dan penyampaian barang 11. Penjahit/konveksi 12. Jasa impor-ekspor 13. Perawatan peralatan listrik/ elektronik/ telekomunikasi 14. Jasa penulisan dan penerjemahan 15. Jasa penyewaan 16. Jasa penyelaman 17. Pengadaan/pembebasan lahan 18. Akomodasi dan angkutan penumpang 19. Jasa pelaksanaan transaksi instrumen keuangan 20. Jasa penyelenggaraan acara (event ornganiser) 21. Jasa pengamanan. Cukup jelas

Draft Perpres - Page 18 of 85

Bab V PARA PIHAK Pasal 18 Pengguna Anggaran PA; antara lain berwenang: a. menetapkan dokumen perencanaan pengadaan; b. menyusun dokumen pelaksanaan anggaran; c. mengumumkan secara luas rencana pengadaan; d. menunjuk seorang atau beberapa orang KPA, apabila diperlukan, atas dasar pertimbangan besaran beban pekerjaan atau rentang kendali organisasi ;

Huruf d Pertimbangan beban pekerjaan dan rentang kendali dititikberatkan kepada kemampuan PA melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan pengadaan barang/jasa.

e. membentuk ULP; f. mengangkat PPK, panitia/pejabat pengadaan barang/jasa, PPSPM, Pengelola Keuangan, Tim Pemeriksa dan Penerima Hasil Pekerjaan, Tim Kelaikan, Panitia / Pejabat Peneliti Pelaksanaan Kontrak, pejabat yang bertugas melakukan perintah pembayaran. g. mengawasi pelaksanaan anggaran; h. menyusun dan menyampaikan laporan keuangan; i. menyimpan dan memelihara seluruh dokumen pengadaan barang/jasa. Pasal 19 Kuasa Pengguna Anggaran KPA; yaitu pejabat struktural yang ditunjuk oleh PA untuk K/L/I atau ditetapkan oleh Kepala Daerah atas usulan PA untuk Pemerintah Daerah, dengan tugas pokok antara lain: a. melaksanakan tugas dan kewenangan PA yang dikuasakan; b. menyusun Rencana Kerja dan Anggaran Pengadaan (RKAP); c. mengangkat PPK, panitia/pejabat pengadaan barang/jasa,Pengelola Keuangan, Tim Pemeriksa dan Penerima Hasil Pekerjaan, Tim Kelaikan, Panitia/Pejabat Peneliti Pelaksanaan Kontrak, pejabat yang bertugas melakukan perintah pembayaran; d. mengumumkan secara luas rencana pengadaan; e. mengawasi pelaksanaan anggaran; f. menyusun dan menyampaikan laporan keuangan; g. menyimpan dan memelihara seluruh dokumen pengadaan barang/jasa. Cukup jelas

Draft Perpres - Page 19 of 85

Pasal 20 Pejabat Pembuat Komitmen 1. PPK; yaitu pejabat struktural yang diangkat dengan surat Keputusan PA/KPA dan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. memiliki integritas moral; b. memiliki disiplin tinggi; c. memiliki tanggung jawab dan kualifikasi teknis serta manajerial untuk melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya; d. memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan, bertindak tegas dan keteladanan dalam sikap dan perilaku serta tidak pernah terlibat KKN; e. menandatangani pakta integritas sebelum pelaksanaan pengadaan barang/jasa dimulai. 2. PPK dilarang mengadakan ikatan perjanjian dengan menandatangani Surat Perintah Kerja (SPK) / kontrak untuk penyedia barang/jasa apabila belum tersedia anggaran atau tidak cukup tersedia anggaran yang akan mengakibatkan dilampauinya batas anggaran yang tersedia untuk kegiatan yang dibiayai dari APBN/APBD. 3. PPK memiliki tugas pokok: a. menyusun rencana pengadaan barang/jasa; b. mengusulkan perubahan paket pekerjaan kepada PA/KPA jika diperlukan; c. menyusun dan menetapkan KAK; d. menyusun dan menetapkan HPS; a. menetapkan besaran uang muka yang menjadi hak penyedia barang/jasa sesuai ketentuan yang berlaku; b. menetapkan besaran jaminan pelaksanaan; e. menyusun dan menndatangani kontrak; f. mengangkat tim pendukung untuk membantu tugas pelaksanaan pekerjaan apabila dipandang perlu; g. melaksanakan perjanjian/kontrak dengan penyedia barang/jasa; h. melaporkan pelaksanaan/penyelesaian pengadaan barang/jasa kepada PA/KPA; i. mengendalikan pelaksanaan perjanjian/ kontrak; j. menyerahkan aset hasil pengadaan barang/jasa dan aset lainnya kepada PA/KPA dengan berita acara penyerahan; k. melakukan pencatatan dan pelaporan keuangan dan hasil kerja pada setiap kegiatan, baik kemajuan maupun hambatan dalam pelaksanaan tugasnya dan disampaikan kepada PA/KPA dan Inspektorat instansi yang bersangkutan; l. menyimpan dan menjaga keutuhan seluruh dokumen pelaksanaan pengadaan barang/jasa; Ayat 1 Cukup jelas

Ayat 2 Cukup jelas

Ayat 3

Huruf l Informasi yang wajib diberikan kepada masyarakat adalah:

Draft Perpres - Page 20 of 85

1. Perencanaan paket-paket pekerjaan; 2. Pengumuman pengadaan barang/jasa; 3. Hasil evaluasi prakualifikasi; 4. Hasil evaluasi pemilihan penyedia; 5. Dokumen kontrak; 6. Pelaksanaan kontrak. m. memberikan tanggapan/informasi mengenai pengadaan barang/jasa yang berada di dalam batas kewenangannya kepada peserta pengadaan/masyarakat yang mengajukan pengaduan atau yang memerlukan penjelasan. Pasal 21 Panitia Pengadaan/ ULP 1. Panitia pengadaan wajib dibentuk untuk semua pengadaan dengan nilai di atas Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah). 2. Untuk pengadaan sampai dengan nilai Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah) dapat dilaksanakan oleh Panitia/ULP atau pejabat pengadaan. 3. Pengadaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dapat dilaksanakan oleh ULP. 4. Anggota panitia pengadaan/ anggota ULP berasal dari pegawai negeri, baik dari instansi sendiri maupun instansi teknis lainnya. Ayat 1 Cukup jelas Ayat 2 Cukup jelas

Ayat 3 Cukup jelas Ayat 4 Anggota panitia yang berasal dari instansi teknis lain adalah anggota panitia yang diangkat dari unit kerja/instansi/departemen/lembaga lain karena di instansi yang sedang melakukan pengadaan barang/jasa tidak mempunyai pegawai yang memahami masalah teknis yang ada dalam ketentuan pengadaan barang/jasa, jenis pekerjaan, dan isi dokumen pengadaan dari pekerjaan yang akan dilakukan pengadaannya Ayat 5 Huruf a Cukup jelas Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas Huruf d Cukup jelas

5. Anggota panitia pengadaan/ULP harus memenuhi persyaratan sebagai berikut : a. memiliki integritas moral, disiplin dan tanggung jawab dalam melaksanakan tugas; b. memahami keseluruhan pekerjaan yang akan diadakan; c. memahami jenis pekerjaan tertentu yang menjadi tugas panitia pengadaan/ULP yang bersangkutan; d. memahami isi dokumen pengadaan/metode dan prosedur pengadaan berdasarkan Peraturan Presiden ini;

Draft Perpres - Page 21 of 85

e. tidak mempunyai hubungan keluarga dengan pejabat yang mengangkat dan menetapkannya sebagai panitia pengadaan/anggota ULP; f. memiliki sertifikat keahlian pengadaan barang/jasa pemerintah.

Huruf e Hubungan keluarga yang dimaksud adalah hubungan keluarga sedarah dan semenda. Huruf f. Cukup jelas

6. Tugas, wewenang dan tanggung jawab Panitia Pengadaan/ULP meliputi sebagai berikut: c. menandatangani pakta integritas setelah menerima surat pengangkatan; d. menyusun dan menetapkan dokumen pengadaan, jadwal, tata cara pelaksanaan dan lokasi pengadaan yang telah disetujui PPK; e. menetapkan hasil pengadaan yang dilaksanakan; f. mengumumkan pengadaan barang/jasa melalui website K/L/D/I masing-masing, dan/atau melalui website pengadaan nasional atau dengan pengumuman sekurangkurangnya di satu surat kabar nasional dan/atau satu surat kabar provinsi; g. menilai kualifikasi penyedia melalui pascakualifikasi atau prakualifikasi; h. melakukan evaluasi terhadap penawaran yang masuk; i. menunjuk dan menetapkan pemenang lelang; j. menyerahkan seluruh dokumen pemilihan penyedia barang/jasa kepada PPK dan PA/KPA; k. membuat laporan mengenai proses dan hasil pengadaan kepada pejabat yang mengangkatnya.

Ayat 6 Cukup jelas

7. Keanggotaan a. Panitia berjumlah gasal beranggotakan sekurang – kurangnya 3 (tiga) orang. b. Dilarang duduk sebagai panitia pengadaan/anggota ULP : 1) PPK dan pengelola keuangan; 2) Pegawai pada Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP)/ Inspektorat Jenderal Departemen/ Inspektorat Utama Lembaga Pemerintah Non-Departemen/Badan Pengawas Daerah Propinsi/Kabupaten/Kota, Pengawasan Internal institusi lainnya pengguna APBN/APBD kecuali menjadi panitia/pejabat pengadaan/anggota ULP untuk pengadaan barang/jasa yang dibutuhkan instansinya; 3) Pejabat yang bertugas melakukan verifikasi surat permintaan pembayaran dan/atau pejabat yang bertugas menandatangani surat perintah membayar.

Ayat 7 Cukup jelas

Draft Perpres - Page 22 of 85

8. Panitia dapat melaksanakan proses pengadaan barang/jasa sebelum dokumen anggaran disahkan sepanjang anggaran untuk kegiatan yang bersangkutan telah dialokasikan, dengan ketentuan penerbitan Surat Penunjukan Penyedia Barang/jasa (SPPBJ) dan penandatanganan kontrak pengadaan barang/jasa dilakukan setelah dokumen anggaran untuk kegiatan sebagaimana dimaksud pada Pasal 19 ayat 2 disahkan.

Ayat 8 Cukup jelas

Pasal 22 Pejabat Pengadaan 1. Pemilihan penyedia barang/jasa pengadaan sampai dengan Rp100.000.000,00 (seratus juta dilaksanakan oleh panitia atau pengadaan. untuk nilai rupiah) pejabat Ayat 1 Cukup jelas

2. Pembelian langsung barang/jasa sampai dengan nilai Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dilaksanakan oleh pejabat pengadaan. 3. Pejabat pengadaan berasal dari pegawai negeri, baik dari instansi sendiri maupun instansi teknis lainnya. 4. Pejabat pengadaan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut : a. memiliki integritas moral, disiplin dan tanggung jawab dalam melaksanakan tugas; b. memahami keseluruhan pekerjaan yang akan diadakan; c. memahami jenis pekerjaan tertentu yang menjadi tugas pejabat pengadaan yang bersangkutan; d. memahami isi dokumen pengadaan/metode dan prosedur pengadaan berdasarkan Peraturan Presiden ini; e. tidak mempunyai hubungan keluarga dengan pejabat yang mengangkat dan menetapkannya sebagai pejabat pengadaan ; f. memiliki sertifikat keahlian pengadaan barang/jasa pemerintah. 5. Tugas, wewenang dan tanggung jawab pejabat pengadaan dalam memilih penyedia batang/jasa meliputi sebagai berikut: a. menandatangani pakta integritas setelah menerima surat pengangkatan; b. menyusun dan menetapkan jadwal dan cara pelaksanaan, lokasi pengadaan, dokumen pengadaan, dan HPS. c. melakukan prakualifikasi penyedia; d. melakukan evaluasi terhadap penawaran yang masuk; e. menetapkan penyedia barang/jasa;

Ayat 2 Cukup jelas Ayat 3 Cukup jelas

Ayat 4 Cukup jelas

Ayat 5 Cukup jelas

Draft Perpres - Page 23 of 85

f. membuat laporan mengenai proses dan hasil pengadaan kepada pejabat yang mengangkatnya. 6. Tugas dan wewenang pejabat pengadaan dalam melaksanakan pembelian langsung adalah sebagai berikut: a. Memilih penyedia barang/jasa yang dapat memenuhi kebutuhan barang/jasa yang akan diadakan; b. Melaksanakan pembelian barang/jasa langsung kepada penyedia barang/jasa. 7. Keanggotaan a. Pejabat pengadaan hanya 1 (satu) orang. b. Dilarang duduk sebagai pejabat pengadaan : 1) PPK dan pengelola keuangan; 2) Pegawai pada BPKP/Inspektorat Jenderal Departemen/Inspektorat Utama Lembaga Pemerintah Non-Departemen/ Badan Pengawas Daerah Propinsi/ Kabupaten/Kota, Pengawasan Internal institusi lainnya pengguna APBN/APBD kecuali menjadi panitia/pejabat pengadaan/anggota unit layanan pengadaan untuk pengadaan barang/jasa yang dibutuhkan instansinya; 3) Pejabat yang bertugas melakukan verifikasi surat permintaan pembayaran dan/atau pejabat yang bertugas menandatangani surat perintah membayar. Ayat 6 Cukup jelas

Ayat 7 Cukup jelas

Pasal 23 Penyedia Barang/Jasa 1. Persyaratan umum bagi penyedia barang/jasa dalam pelaksanaan pengadaan adalah sebagai berikut: a. memenuhi ketentuan peraturan perundangundangan untuk menjalankan usaha/ kegiatan;

Huruf a Yang dimaksud dengan memenuhi ketentuan peraturan perundangundangan untuk menjalankan usaha/kegiatan sebagai penyedia barang/jasa antara lain peraturan perundang-undangan di bidang jasa konstruksi, kesehatan, perhubungan, perindustrian.

b. memiliki keahlian, pengalaman, kemampuan teknis dan manajerial untuk menyediakan barang/jasa;

Huruf b Cukup jelas

Draft Perpres - Page 24 of 85

c. dalam kurun waktu 4 (empat) tahun terakhir pernah memperoleh pekerjaan menyediakan barang/jasa baik di lingkungan pemerintah maupun swasta termasuk pengalaman subkontrak, kecuali penyedia barang/jasa yang baru berdiri kurang dari 3 (tiga) tahun; d. memiliki sumber daya manusia, modal, peralatan, dan fasilitas lain yang diperlukan dalam pengadaan barang/jasa; e. tidak dalam pengawasan pengadilan, tidak pailit, kegiatan usahanya tidak sedang dihentikan, dan/atau direksi yang bertindak untuk dan atas nama perusahaan tidak sedang dalam menjalani sanksi pidana; f. secara hukum mempunyai menandatangani kontrak; kapasitas

Huruf c Cukup jelas

Huruf d Cukup jelas Huruf e Cukup jelas

Huruf f Cukup jelas Huruf g Cukup jelas

g. sebagai wajib pajak sudah memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan telah memenuhi seluruh kewajiban perpajakan, dibuktikan dengan melampirkan Surat Keterangan Fiskal (SKF), kecuali perusahaan yang baru berdiri kurang dari 1 tahun belum wajib lapor, hanya menyampaikan fotokopi Surat Pemberitahuan Masa PPh atau PPN. h. tidak masuk dalam daftar hitam;

Huruf h Panitia/Pejabat Pengadaan/ULP wajib mencari informasi dalam rangka meyakini atau memastikan suatu badan usaha tidak masuk dalam daftar hitam instansi pemerintah manapun dengan cara antara lain menghubungi PPK sebelumnya. Untuk mempercepat kerja panitia/pejabat pengadaan/ULP, penyedia barang/jasa cukup membuat pernyataan bahwa penyedia barang/jasa tidak sedang masuk dalam daftar hitam. Kepada seluruh penyedia jasa juga tidak diwajibkan mempunyai surat keterangan tidak masuk dalam daftar hitam dari instansi/lembaga baik pemerintah maupun swasta. Huruf i Cukup jelas

i. memiliki alamat tetap dan jelas serta dapat dijangkau dengan pos dan/atau melalui komunikasi secara elektronik; j. khusus untuk penyedia barang/jasa orang perseorangan persyaratannya sama dengan di atas kecuali huruf c;

Huruf j Cukup jelas

Draft Perpres - Page 25 of 85

2. Pegawai K/L/D/I dilarang menjadi penyedia barang/jasa, kecuali yang bersangkutan mengambil cuti di luar tanggungan K/L/D/I . 3. Penyedia barang/jasa yang keikutsertaannya menimbulkan pertentangan kepentingan dilarang menjadi penyedia barang/jasa.

Ayat 2 Cukup jelas Ayat 3 Yang dimaksud dengan pertentangan kepentingan antara lain : a. Penyedia barang/jasa yang telah ditunjuk sebagai konsultan perencana tidak boleh menjadi penyedia barang/pekerjaan konstruksi untuk pekerjaan fisik yang direncanakan; b. Penyedia barang/jasa yang telah ditunjuk sebagai konsultan pengawas tidak boleh menjadi penyedia barang/ pekerjaan konstruksi untuk pekerjaan fisik yang diawasi.

Pasal 24 Pelaksana Swakelola Swakelola dapat dilaksanakan oleh: a. PPK; b. instansi pemerintah lain; c. kelompok masyarakat/lembaga masyarakat penerima hibah. Institusi pemerintah penerima kuasa dari penanggungjawab anggaran harus mempunyai tugas pokok dan fungsi sesuai dengan jenis kegiatan pengadaan yang akan diswakelolakan.

swadaya

BAB VI CARA PENGADAAN Pasal 25 1. Swakelola Pengadaan barang/jasa swakelola adalah pelaksanaan pekerjaan yang direncanakan, dikerjakan, dan diawasi sendiri oleh institusi pemerintah penanggungjawab anggaran atau institusi pemerintah penerima kuasa dari penanggungjawab anggaran atau kelompok masyarakat penerima hibah. 2. Melalui penyedia barang/jasa: a. Orang perseorangan b. Badan Usaha. Ayat 1 Cukup jelas

Ayat 2 Yang dimaksud sebagai Badan Usaha antara lain dapat berbentuk PT, CV, firma, koperasi, perusahaan perseorangan, atau bentuk badan usaha lainnya. Ayat 3 Ketentuan mengenai tata cara pelaksanaan E-Procurement diatur lebih lanjut dalam Keputusan Kepala LKPP.

3. Pengadaan melalui penyedia barang/jasa sebagaimana dimaksud dalam angka 2 di atas dapat dilaksanakan secara elektronik melalui EProcurement sesuai dengan asas dan tujuan yang tercantum dalam Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Draft Perpres - Page 26 of 85

BAB VII TATA CARA PENGADAAN SECARA SWAKELOLA Pasal 26 1. Swakelola adalah pekerjaan yang direncanakan, dikerjakan, dan diawasi sendiri oleh pelaksana swakelola dengan menggunakan tenaga sendiri dan/atau tenaga dari luar baik tenaga ahli maupun tenaga upah borongan. Tenaga ahli dari luar tidak boleh melebihi 50% (lima puluh persen) dari tenaga sendiri. 2. Swakelola dilihat dari pelaksana pekerjaan dibedakan menjadi: a. Swakelola oleh PPK adalah pekerjaan yang direncanakan, dikerjakan, dan diawasi sendiri oleh PPK dengan menggunakan tenaga sendiri, dan/atau tenaga dari luar baik tenaga ahli maupun tenaga upah borongan; b. Swakelola oleh instansi pemerintah lain nonswadana (universitas negeri, lembaga penelitian/ilmiah pemerintah, lembaga pelatihan) adalah pekerjaan yang perencanaan dan pengawasannya dilakukan oleh PPK, sedangkan pelaksanaan pekerjaan dilakukan oleh instansi pemerintah yang bukan penanggung jawab anggaran; c. Swakelola oleh penerima hibah adalah pekerjaan yang perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasannya dilakukan oleh penerima hibah (kelompok masyarakat, LSM, komite sekolah/pendidikan, lembaga pendidikan swasta/lembaga penelitian/ilmiah non badan usaha dan lembaga lain yang ditetapkan oleh pemerintah) dengan sasaran ditentukan oleh instansi pemberi hibah. Cukup jelas

3. Pekerjaan swakelola:

yang

dapat

dilakukan

dengan

a. pekerjaan yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan teknis sumber daya manusia instansi pemerintah yang bersangkutan dan sesuai dengan fungsi dan tugas pokok PPK; dan/atau b. pekerjaan yang operasi dan pemeliharaannya memerlukan partisipasi masyarakat setempat; dan/atau c. pekerjaan tersebut dilihat dari segi besaran, sifat, lokasi atau pembiayaannya tidak diminati oleh penyedia barang/jasa; dan/atau

Draft Perpres - Page 27 of 85

d. pekerjaan yang secara rinci/detail tidak dapat dihitung/ditentukan terlebih dahulu, sehingga apabila dilaksanakan oleh penyedia barang/jasa akan menanggung resiko yang besar; dan/atau e. penyelenggaraan diklat, kursus, penataran, seminar, lokakarya, atau penyuluhan; dan/atau f. pekerjaan untuk proyek percontohan (pilot project) yang bersifat khusus untuk pengembangan teknologi/metode kerja yang belum dapat dilaksanakan oleh penyedia barang/jasa; dan/atau g. pekerjaan khusus yang bersifat pemrosesan data, perumusan kebijakan pemerintah, pengujian di laboratorium, pengembangan sistem tertentu dan penelitian oleh perguruan tinggi/lembaga ilmiah pemerintah; h. pekerjaan yang bersifat rahasia bagi K/L/D/I yang bersangkutan. 4. Prosedur swakelola meliputi kegiatan perencanaan, pelaksanaan, pengawasan di lapangan dan pelaporan. 5. Dalam penyusunan jadwal pelaksanaan swakelola harus mengalokasikan waktu untuk proses perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan pelaporan; 6. Pengalokasian waktu dalam proses pemilihan langsung diserahkan sepenuhnya kepada PPK. Pasal 27 Perencanaan Pengadaan secara Swakelola 1. Perencanaan Kegiatan a. Menetapkan sasaran, rencana kegiatan, dan jadwal pelaksanaan; b. melakukan perencanaan teknis dan menyiapkan metode pelaksanaan yang tepat agar diperoleh rencana keperluan tenaga, bahan, dan peralatan yang sesuai; c. menyusun rencana keperluan tenaga, bahan, dan peralatan secara rinci serta dijabarkan ke dalam rencana kerja bulanan, rencana kerja mingguan, dan rencana kerja harian; d. menyusun rencana total biaya secara rinci dalam rencana biaya bulanan, dan biaya mingguan; e. butir a. sampai dengan butir d. dituangkan dalam bentuk KAK. Cukup jelas

Draft Perpres - Page 28 of 85

2. Penyusunan KAK Swakelola KAK memuat hal-hal sebagai berikut: a. Uraian kegiatan yang akan dilaksanakan meliputi latar belakang, maksud dan tujuan, sumber pendanaan, serta jumlah tenaga yang diperlukan; b. waktu pelaksanaan yang diperlukan; c. produk yang dihasilkan; d. besarnya pembiayaan. 3. Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan/Kegiatan a. PPK untuk membantu pelaksanaan kegiatan membuat jadwal pelaksanaan pekerjaan/kegiatan; b. jadwal pelaksanaan kegiatan adalah waktu pelaksanaan pekerjaan/kegiatan yang meliputi waktu mulai hingga berakhirnya pelaksanaan pekerjaan/ kegiatan; c. pembuatan jadwal pelaksanaan pekerjaaan/kegiatan disusun dengan mempertimbangkan waktu yang cukup bagi pelaksanaan pekerjaan/kegiatan. 4. Penyusunan Rencana Biaya Pekerjaan/Kegiatan a. PPK membuat rincian biaya pekerjaan/kegiatan dengan tidak melampaui pagu anggaran yang telah ditetapkan dalam dokumen anggaran; b. rincian biaya pekerjaan/kegiatan tersebut mengikuti ketentuan peraturan perundangan yang berlaku; c. dalam hal diperlukan tenaga ahli/peralatan/ bahan tertentu maka dapat dilakukan kontrak/sewa tersendiri. 5. Pelaksanaan Kegiatan oleh Masyarakat/LSM a. Untuk pekerjaan/kegiatan yang sebagian atau seluruhnya dilaksanakan oleh masyarakat/LSM, perlu dibuat surat penunjukan/surat kuasa dari PPK; b. pertanggungjawaban untuk pekerjaan/kegiatan ini dilaksanakan sesuai ketentuan yang berlaku dan disampaikan kepada pengguna. Pasal 28 Pelaksanaan Swakelola oleh PPK Pelaksanaan swakelola perlu mengikuti ketentuan sebagai berikut: 1. Pengadaan bahan, jasa lainnya, peralatan/suku cadang, dan tenaga ahli yang diperlukan dilakukan oleh panitia yang ditetapkan oleh PPK dan menggunakan metode pengadaan sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan di dalam Peraturan Presiden ini, yaitu lelang/seleksi umum, lelang/seleksi terbatas, pemilihan/seleksi langsung atau penunjukan langsung; Cukup jelas

Draft Perpres - Page 29 of 85

2. pembayaran upah tenaga kerja yang diperlukan dilakukan secara harian berdasarkan daftar hadir pekerja atau dengan cara upah borong; 3. pembayaran gaji tenaga ahli tertentu yang diperlukan dilakukan berdasarkan kontrak konsultan perorangan; 4. penggunaan tenaga kerja, bahan, dan peralatan dicatat setiap hari dalam laporan harian; 5. pengiriman bahan dapat dilakukan secara bertahap sesuai dengan kebutuhan dan kapasitas penyimpanan; 6. panjar kerja dipertanggungjawabkan secara berkala maksimal secara bulanan; 7. pencapaian target fisik dicatat setiap hari dan dievaluasi setiap minggu agar dapat diketahui apakah dana yang dikeluarkan sesuai dengan target fisik yang dicapai, sedangkan pencapaian target non fisik/perangkat lunak dicatat dan dievaluasi setiap bulan; 8. pengawasan pekerjaan fisik di lapangan dilakukan oleh pelaksana yang ditunjuk oleh PPK, berdasarkan rencana yang telah ditetapkan. Pasal 29 Pelaksanaan Swakelola oleh Instansi Pemerintah Lain Non Swadana 1. Pengadaan bahan, jasa lainnya, peralatan/suku cadang, dan tenaga ahli yang diperlukan dilakukan oleh panitia dari unsur instansi pemerintah pelaksana swakelola yang ditetapkan oleh PPK dan menggunakan metode pengadaan sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan di dalam Peraturan Presiden ini, yaitu lelang/seleksi umum, lelang/seleksi terbatas, pemilihan/seleksi langsung atau penunjukan langsung; 2. pembayaran upah tenaga kerja yang diperlukan dilakukan secara harian berdasarkan daftar hadir pekerja atau dengan cara upah borong; 3. pelaksanaan pengadaan yang menggunakan beban sementara seperti Uang Persediaan (UP), Uang Yang Harus Dipertanggungjawabkan (UYHD) atau istilah lain yang sejenis dilakukan oleh instansi pemerintah pelaksana swakelola; 4. pembayaran gaji tenaga ahli tertentu yang diperlukan dilakukan berdasarkan kontrak konsultan perorangan; 5. penggunaan tenaga kerja, bahan, dan peralatan dicatat setiap hari dalam laporan harian; Cukup jelas

Draft Perpres - Page 30 of 85

6. pengiriman bahan dapat dilakukan secara bertahap sesuai dengan kebutuhan dan kapasitas penyimpanan; 7. panjar kerja dipertanggungjawabkan secara berkala maksimal secara bulanan; 8. pencapaian target fisik dicatat setiap hari dan dievaluasi setiap minggu agar dapat diketahui apakah dana yang dikeluarkan sesuai dengan target fisik yang dicapai, sedangkan pencapaian target non fisik/perangkat lunak dicatat dan dievaluasi setiap bulan; 9. pengawasan pekerjaan fisik di lapangan dilakukan oleh pelaksana yang ditunjuk oleh instansi penerima kuasa, berdasarkan rencana yang telah ditetapkan. Pasal 30 Pelaksanaan Swakelola oleh Kelompok Masyarakat/Lembaga Swadaya Masyarakat Penerima Hibah 1. Pengadaan barang, jasa lainnya, peralatan/suku cadang, dan tenaga ahli yang diperlukan dilakukan oleh penerima hibah; 2. penyaluran dana hibah khusus untuk pekerjaan konstruksi dilakukan secara bertahap sebagai berikut: a. b. 50% (lima puluh persen) apabila organisasi pelaksanaan penerima hibah telah siap; 50% (lima puluh persen) sisanya apabila pekerjaan telah mencapai 30% (tiga puluh persen). Cukup jelas

3. pencapaian kemajuan pekerjaan dan dana yang dikeluarkan dilaporkan secara berkala kepada PPK;

4. pengawasan pelaksanaan pekerjaan dilakukan oleh penerima hibah. Pasal 31 Pelaporan Pelaksanaan Swakelola 1. Laporan kemajuan pelaksanaan pekerjaan dan penggunaan keuangan dilaporkan oleh pelaksana lapangan/pelaksana swakelola kepada PPK setiap bulan; 2. Laporan kemajuan realisasi fisik dan keuangan dilaporkan setiap bulan oleh PPK kepada PA/KPA. Cukup jelas

Draft Perpres - Page 31 of 85

BAB VIII TATA CARA PENGADAAN MELALUI PENYEDIA BARANG/JASA Bagian Pertama Persiapan Pengadaan Paragraf Pertama Pembentukan Organisasi Pengadaan Pasal 32 1. PA dapat menunjuk KPA, jika diperlukan; 2. PA / KPA mengangkat : a. PPK; b. Panita/Pejabat Pengadaan /Anggota ULP; c. Panitia Pemeriksa dan Penerima Hasil Pekerjaan; d. Panitia / Pejabat Peneliti Pelaksanaan Kontrak; 3. PPK dapat dibantu oleh tim pendukung yang diperlukan untuk membantu pelaksanaan pengadaan barang/jasa; 4. Panitia Pengadaan berjumlah gasal beranggotakan sekurang-kurangnya 3 (tiga) orang dan dapat ditambah sesuai dengan kompleksitas pekerjaan; 5. Anggota panitia pengadaan / anggota ULP masingmasing terdiri dari unsur-unsur yang memahami : a. tata cara pengadaan; b. substansi pekerjaan/kegiatan yang bersangkutan; c. hukum-hukum perjanjian/kontrak. 6. Pejabat pengadaan yang ditunjuk adalah 1 (satu) orang yang memahami: a. tata cara pengadaan; b. substansi pekerjaan/kegiatan yang bersangkutan; c. ketentuan/ketentuan perjanjian / SPK. Ayat 1 Cukup jelas Ayat 2 Cukup jelas

Ayat 3 Cukup jelas Ayat 4 Cukup jelas

Ayat 5 Cukup jelas

Ayat 6 Cukup jelas

Paragraf Kedua Penyusunan Rencana Pengadaan Pasal 33 Pemaketan 1. Untuk paket pengadaan dengan nilai di atas Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah) pemilihan penyedia barang/jasanya dilaksanakan dengan membentuk panitia pengadaan /ULP. 2. Untuk paket pengadaan dengan nilai sampai dengan nilai Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah) pemilihan penyedia barang/jasanya dilaksanakan dengan membentuk panitia pengadaan atau menunjuk pejabat pengadaan. Ayat 1 Cukup jelas

Ayat 2 Cukup jelas

Draft Perpres - Page 32 of 85

3. Dalam menetapkan/menyetujui sistem pengadaan PPK, Pejabat/Panitia Pengadaan/ULP : a. dilarang menyatukan atau memusatkan beberapa kegiatan yang tersebar di beberapa daerah yang menurut sifat pekerjaan dan tingkat efisiensinya seharusnya dilakukan di beberapa lokasi masing-masing; b. dilarang menyatukan beberapa paket pengadaan yang menurut sifat dan jenis pekerjaannya bisa dipisahkan dan/atau besaran nilainya seharusnya dilakukan oleh usaha kecil termasuk koperasi kecil; c. dilarang memecah paket untuk pengadaan yang merupakan satu kesatuan pekerjaan konstruksi/sistem.

Ayat 3 Huruf a Cukup jelas

Huruf b Cukup jelas

Huruf c contoh pekerjaan yang satu kesatuan adalah struktur bangunan, jembatan atau struktur kapal.

Pasal 34 Persiapan Pemilihan Penyedia Barang/Jasa 1. PPK menyusun dan menetapkan spesifikasi untuk pengadaan barang/pekerjaan pekerjaan konstruksi/jasa lainnya dan KAK untuk pengadaan jasa konsultansi. 2. PPK menyusun dan menetapkan HPS Ayat 1 Cukup jelas

Ayat 2 Cukup jelas Ayat 3 Cukup jelas Ayat 4 Huruf a Cukup jelas

3. PPK menyusun dan menandatangani kontrak 4. Pejabat/Panitia Pengadaan/ULP menentukan: a. Metode pemilihan penyedia barang/jasa 1. Pengadaan barang/pekerjaan konstruksi/ jasa lainnya: a). Pelelangan Umum; b). Pelelangan Terbatas; c). Pemilihan Langsung; d). Penunjukan Langsung. 2. Pengadaan jasa konsultansi: a). Seleksi Umum; b). Seleksi Terbatas; c). Seleksi Langsung; d). Penunjukan Langsung. b. Metode pemasukan penawaran: 1) Satu sampul; 2) Dua sampul; 3) Dua Tahap. c. Metode evaluasi administrasi, teknis dan harga: 1. Pengadaan barang/pekerjaan konstruksi/ jasa lainnya: a). Sistem Gugur; b). Sistem Nilai ; c). Sistem penilaian biaya selama umur ekonomi.

Huruf b Cukup jelas

Huruf c Cukup jelas

Draft Perpres - Page 33 of 85

2. Pengadaan Jasa Konsultansi:

a). Metode evaluasi kualitas; b). Metode evaluasi kualitas dan biaya; c). Metode evaluasi pagu anggaran; d). Metode evaluasi biaya terendah; d. Jenis kontrak; 1) berdasarkan bentuk pembayaran : a). lumpsum; b). harga satuan; c). gabungan lump sum dan harga satuan; d). terima jadi (turnkey); e). persentase. 2) berdasarkan jangka waktu pelaksanaan : a). tahun tunggal; b). tahun jamak.

Huruf d Kontrak Payung (framework agreement) adalah salah satu bentuk dari kontrak harga satuan berjangka panjang yang dapat berlaku selama-lamanya 4 (empat) tahun.

` 3) berdasarkan jumlah PPK: a). kontrak pengadaan tunggal; b). kontrak pengadaan bersama. e. Besaran uang muka, jika ada f. Besaran nilai jaminan, jika ada Paragraf Ketiga Jadwal Pelaksanaan Pengadaan Pasal 35 1. Panitia wajib membuat jadwal pelaksanaan pengadaan barang/jasa yang meliputi pelaksanaan pemilihan penyedia barang/jasa, waktu mulai dan berakhirnya pelaksanaan pekerjaan, dan waktu serah terima akhir hasil pekerjaan. 2. Pembuatan jadwal pelaksanaan pengadaan barang/jasa disusun sesuai dengan waktu yang diperlukan serta dengan memperhatikan batas akhir efektifnya tahun anggaran. Cukup jelas

Paragraf Keempat Biaya Pengadaan Pasal 36 1. K/L/D/I wajib menyediakan biaya administrasi untuk mendukung pelaksanaan pengadaan barang/jasa yang dibiayai dari APBN/APBD, yaitu: Ayat 1 Komponen biaya pelaksanaan pemilihan penyedia barang/jasa harus disediakan dalam anggaran, dan jika diperlukan termasuk biaya untuk pelaksanaan pemilihan penyedia barang/jasa yang kontraknya akan dilakukan pada tahun anggaran berikutnya.

Draft Perpres - Page 34 of 85

a. Honorarium PA/KPA, PPK, panitia/pejabat pengadaan, Pengelola Keuangan, Panitia Pemeriksa dan Penerima Hasil Pekerjaan, Panitia/Pejabat Peneliti Pelaksanaan Kontrak dan staf proyek; b. Biaya pengumuman pengadaan barang/jasa meliputi : 1) Biaya pengumuman rencana pengadaan barang/jasa pada awal pelaksanaan anggaran; 2) Biaya pengumuman pemilihan penyedia barang/jasa termasuk biaya pemilihan ulang. c. Biaya penggandaan dokumen pengadaan barang/jasa dan/atau dokumen prakualifikasi; d. Biaya administrasi lainnya yang diperlukan untuk mendukung pelaksanaan pengadaan barang/jasa. 2. Pada setiap tahapan proses pemilihan penyedia barang/jasa, PPK/ Pejabat Pengadaan/ Panitia Pengadaan/ULP dilarang membebani atau memungut biaya apapun kepada penyedia barang/jasa.

Huruf a Besaran honorarium ditetapkan secara proporsional berdasarkan pengalaman dan profesionalisme;

Huruf b Cukup jelas

Huruf c Cukup jelas Huruf d Cukup jelas Ayat 2 Cukup jelas

Paragraf Kelima Prinsip Prakualifikasi dan Pascakualifikasi Pasal 37 1. Panitia Pengadaan / ULP wajib melakukan kualifikasi dengan cara prakualifikasi atau pascakualifikasi. 2. Prakualifikasi dilaksanakan untuk pengadaan: a. jasa konsultansi; b. barang/pekerjaan pekerjaan konstruksi/jasa lainnya yang menggunakan metode pelelangan terbatas, pemilihan langsung dan penunjukan langsung; c. barang/pekerjaan pekerjaan konstruksi / jasa lainnya yang bersifat kompleks melalui pelelangan umum. 3. Pascakualifikasi dilaksanakan untuk pengadaan barang/pekerjaan konstruksi/jasa lainnya melalui pelelangan umum. 4. Persyaratan prakualifikasi/pascakualifikasi yang ditetapkan harus merupakan persyaratan minimal yang dibutuhkan untuk pelaksanaan kegiatan agar terwujud persaingan yang sehat secara luas. 5. Dalam proses prakualifikasi/pascakualifikasi pejabat / panitia pengadaan/ULP dilarang menambah persyaratan prakualifikasi/ pascakualifikasi di luar yang telah ditetapkan Ayat 1 Cukup jelas Ayat 2 Cukup jelas

Ayat 3 Cukup jelas Ayat 4 Cukup jelas

Ayat 5 Cukup jelas

Draft Perpres - Page 35 of 85

dalam ketentuan Peraturan Presiden ini atau ketentuan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. 6. Pejabat/panitia pengadaan/ULP wajib menyederhanakan proses prakualifikasi dengan tidak meminta seluruh dokumen yang disyaratkan melainkan cukup dengan mengisi formulir kualifikasi penyedia barang/jasa. 7. Penyedia barang/jasa wajib menandatangani surat pernyataan di atas meterai bahwa semua informasi yang disampaikan dalam formulir isian kualifikasi adalah benar, dan apabila diketemukan penipuan/pemalsuan atas informasi yang disampaikan, terhadap yang bersangkutan dikenakan sanksi pembatalan sebagai calon pemenang, dimasukkan dalam daftar hitam selama 2 (dua) tahun, serta dapat diancam tuntutan secara perdata dan/atau pidana. 8. Dalam proses prakualifikasi/pascakualifikasi pejabat/panitia pengadaan/ULP tidak boleh melarang, menghambat, dan membatasi keikutsertaan calon peserta pengadaan barang/jasa dari luar propinsi/kabupaten/kota lokasi pengadaan barang/jasa. 9. K/L/D/I dilarang melakukan prakualifikasi massal yang berlaku untuk pengadaan dalam kurun waktu tertentu dengan menerbitkan tanda daftar lulus prakualifikasi/sejenisnya. Ayat 6 Cukup jelas

Ayat 7 Cukup jelas

Ayat 8 Cukup jelas

Ayat 9 Yang dimaksud dengan prakualifikasi massal untuk pengadaan barang/jasa kurun waktu tertentu adalah pelaksanaan prakualifikasi yang dilakukan secara sekaligus kepada seluruh calon penyedia barang/jasa yang mendaftar dengan menerbitkan tanda daftar lulus prakualifikasi/ sejenis yang berlaku pada kurun waktu tertentu, misalnya 1 (satu) tahun anggaran dan hanya berlaku untuk K/L/D/I yang menerbitkan. Ayat 10 Cukup jelas.

10. Pada setiap tahapan proses pemilihan penyedia barang/jasa, PPK/ pejabat/panitia pengadaan/ ULP dilarang membebani atau memungut biaya apapun kepada penyedia barang/jasa.

Paragraf Keenam Proses Prakualifikasi dan Pascakualifikasi Pasal 38 1. Proses prakualifikasi secara umum meliputi pengumuman prakualifikasi, pengambilan dokumen prakualifikasi, pemasukan dokumen prakualifikasi, evaluasi dokumen prakualifikasi, penetapan calon peserta pengadaan yang lulus prakualifikasi, pengumuman hasil prakualifikasi, masa sanggah prakualifikasi, dan penetapan hasil prakualifikasi. Ayat 1 Cukup jelas

Draft Perpres - Page 36 of 85

2. Proses prakualifikasi secara khusus untuk penunjukan langsung meliputi undangan, pengambilan dokumen prakualifikasi, pemasukan dokumen prakualifikasi, evaluasi dokumen prakualifikasi, pengumuman hasil prakualifikasi dan penetapan hasil prakualifikasi. 3. Proses pascakualifikasi meliputi pemasukan dokumen kualifikasi bersamaan dengan dokumen penawaran. Terhadap peserta yang diusulkan untuk menjadi pemenang serta cadangan pemenang dilakukan evaluasi dan verifikasi terhadap dokumen kualifikasinya.

Ayat 2 Cukup jelas

Ayat 3 Cukup jelas

Paragraf Ketujuh Prinsip Penentuan Sistem Pengadaan Pasal 39 1. Untuk menentukan sistem pengadaan yang meliputi metode pemilihan penyedia barang/jasa, metode penyampaian dokumen penawaran, metode evaluasi penawaran, dan jenis kontrak, perlu mempertimbangkan jenis, sifat, dan nilai barang/jasa serta kondisi lokasi, kepentingan masyarakat, dan jumlah penyedia barang/jasa yang ada. 2. PPK, Pejabat/Panitia Pengadaan/ULP dilarang menetapkan kriteria dan persyaratan pengadaan yang diskriminatif dan tidak obyektif. Ayat 1 Cukup jelas

Ayat 2 Yang dimaksud dengan kriteria dan persyaratan yang diskriminatif dan tidak obyektif, antara lain : 1. Persyaratan-persyaratan yang menghalangi terwujudnya persaingan sehat, misalnya : persyaratan menjadi anggota asosiasi tertentu, penggunaan metode pemilihan penyedia dengan cara undian, mengharuskan pelaksanaan pengadaan barang/jasa kepada BUMD; 2. Persyaratan-persyaratan yang menghalangi keikutsertaaan penyedia barang/jasa dari daerah lain, misalnya: kewajiban mempunyai rekening di bank daerah setempat, kewajiban membuka kantor perwakilan/cabang sebelum ditunjuk sebagai penyedia barang/jasa, kewajiban mempunyai Surat Ijin Tempat Usaha (SITU) daerah setempat.

Draft Perpres - Page 37 of 85

Bagian Kedua Metode Pemilihan Penyedia Barang/Jasa Paragraf Pertama Pemilihan Penyedia Barang / Pekerjaan Konstruksi / Jasa Lainnya Pasal 40 1. Pelelangan Umum : Pemilihan penyedia barang/pekerjaan pekerjaan konstruksi /jasa lainnya pada prinsipnya dilakukan melalui metode Pelelangan Umum dengan pasca kualifikasi. 2. Pelelangan Terbatas Dalam hal jumlah penyedia barang/jasa yang mampu melaksanakan diyakini terbatas, maka pemilihan penyedia barang/jasa dilakukan melalui Pelelangan Terbatas. 3. Pemilihan Langsung Dalam hal metode Pelelangan Umum atau Pelelangan Terbatas dinilai tidak efisien dari segi biaya pelelangan, maka pemilihan penyedia barang/jasa dapat dilakukan dengan metode Pemilihan Langsung. 4. Penunjukan Langsung Dalam keadaan tertentu dan/atau pengadaan barang/jasa khusus, pemilihan penyedia barang/jasa dapat dilakukan dengan Penunjukan Langsung terhadap 1 (satu) penyedia barang/jasa dengan melakukan negosiasi baik teknis maupun biaya sehingga diperoleh harga yang wajar dan secara teknis dapat dipertanggungjawabkan. Ayat 1 Cukup jelas

Ayat 2 Cukup jelas

Ayat 3 Penilaian untuk Pemilihan Langsung dilakukan oleh Panitia Pengadaan/ULP, dan dalam hal Panitia Pelelangan/ULP merasa raguragu maka penilaian diserahkan kepada PA/KPA. Ayat 4 Yang dimaksud dalam keadaan tertentu adalah : 1. Penanganan darurat yang tidak dapat direncanakan sebelumnya dan waktu penyelesaian pekerjaannya harus segera, untuk: a. pertahanan negara, dan/atau b. keamanan masyarakat, dan/atau c. keselamatan/perlindungan masyarakat : 1) akibat adanya bencana alam dan/atau, bencana non-alam dan/atau bencana sosial; dan/atau 2) dalam rangka pencegahan bencana; dan/atau 3) akibat kerusakan infrastruktur yang dapat menghentikan kegiatan pelayanan publik. Pengadaan diluar penanganan darurat dilakukan sesuai dengan prosedur pengadaan barang/jasa sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden ini, dan/atau

Draft Perpres - Page 38 of 85

2. Kegiatan menyangkut pertahanan negara yang ditetapkan oleh Menteri Pertahanan dan keamanan masyarakat yang ditetapkan oleh Kepala Kepolisian Republik Indonesia ; dan/atau 3. Pekerjaan dengan nilai sampai dengan Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah), dengan ketentuan : a. Untuk keperluan sendiri; dan/atau b. resiko kecil; dan/atau 4. pekerjaan yang hanya dapat dilakukan oleh pemegang hak paten atau pihak yang telah mendapat ijin pemegang hak paten dan pekerjaan tersebut menurut sifat dan persyaratannya hanya dapat ditangani oleh 1 (satu) penyedia barang/jasa; dan/atau Yang dimaksud dengan barang/pekerjaan khusus adalah : a. barang/pekerjaan berdasarkan tarif resmi yang ditetapkan pemerintah; atau b. pekerjaan/barang spesifik yang hanya dapat dilaksanakan oleh satu penyedia barang/jasa, satu pabrikan, satu pemegang hak paten; atau c. merupakan hasil produksi usaha kecil atau koperasi kecil atau pengrajin industri kecil yang telah mempunyai pasar dan harga yang relatif stabil; atau d. pekerjaan yang kompleks yang hanya dapat dilaksanakan dengan penggunaan teknologi khusus dan/atau hanya ada satu penyedia barang/jasa yang mampu mengaplikasikannya; atau e. pekerjaan pengadaan dan distribusi bahan obat, obat dan alat kesehatan dalam rangka menjamin ketersediaan obat untuk pelaksanaan peningkatan pelayanan kesehatan masyarakat yang jenis, jumlah dan harganya telah ditetapkan oleh Menteri yang bertanggung jawab di bidang kesehatan; atau f. pekerjaan pengadaan mobil, sepeda motor dan/atau kendaraan bermotor lainnya dengan harga khusus untuk pemerintah (Government Sales Operation/ GSO);

Draft Perpres - Page 39 of 85

g. sewa penginapan/ hotel; atau h. lanjutan sewa gedung/kantor, dan lanjutan sewa ruang terbuka atau tertutup lainnya. 5. Pembelian Langsung Untuk pengadaan barang/jasa yang menjadi kebutuhan operasional K/L/D/I dengan membeli langsung ke penyedia barang/jasa. Ayat 5 Cukup jelas

Paragraf Kedua Pemilihan Penyedia Jasa Konsultansi Pasal 41 1. Seleksi Umum Pemilihan penyedia jasa konsultansi pada prinsipnya dilakukan melalui metode Seleksi Umum. 2. Seleksi Terbatas Dalam hal jumlah penyedia jasa konsultansi yang mampu melaksanakan diyakini terbatas, maka pemilihan penyedia jasa konsultansi dilakukan melalui Seleksi Terbatas. 3. Seleksi Langsung Dalam hal metode Seleksi Umum atau Seleksi Terbatas dinilai tidak efisien dari segi biaya seleksi, maka pemilihan penyedia jasa konsultansi dapat dilakukan dengan metode Seleksi Langsung. 4. Penunjukan Langsung Dalam keadaan tertentu pemilihan penyedia jasa konsultansi dapat dilakukan dengan Penunjukan Langsung terhadap 1 (satu) penyedia jasa konsultansi dengan melakukan negosiasi baik teknis maupun biaya sehingga diperoleh harga yang wajar dan secara teknis dapat dipertanggungjawabkan. Ayat 1 Cukup jelas

Ayat 2 Cukup jelas

Ayat 3 Penilaian untuk Seleksi Langsung dilakukan oleh Panitia /ULP, dan dalam hal Panitia /ULP merasa raguragu maka penilaian diserahkan kepada PA/KPA. Ayat 4 Yang dimaksud dalam keadaan tertentu adalah : 1. penanganan darurat yang tidak bisa direncanakan sebelumnya dan waktu penyelesaian pekerjaannya harus segera, untuk: a. pertahanan negara; dan/atau b. keamanan masyarakat; dan/atau c. keselamatan/perlindungan masyarakat yang pelaksanaan pekerjaannya tidak dapat ditunda/harus dilakukan segera, termasuk: 1) akibat adanya bencana alam dan/atau, bencana non-alam dan/atau bencana sosial; dan/atau
2)

3)

dalam rangka pencegahan bencana dan/atau akibat kerusakan infrastruktur yang dapat

Draft Perpres - Page 40 of 85

2. 3.

4.

5.

menghentikan kegiatan pelayanan publik. Pengadaan diluar penanganan darurat dilakukan sesuai dengan prosedur pengadaan barang/jasa sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden ini; dan/atau penyedia jasa tunggal kegiatan menyangkut pertahanan negara yang ditetapkan oleh Menteri Pertahanan dan Keamanan Masyarakat yang ditetapkan oleh Kepala Kepolisian Republik Indonesia ; dan/atau pekerjaan dengan nilai sampai dengan Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah), dengan ketentuan : a. untuk keperluan sendiri; dan/atau b. resiko kecil; dan/atau pekerjaan yang hanya dapat dilakukan oleh pemegang hak paten atau pihak yang telah mendapat ijin pemegang hak paten.

Paragraf Ketiga Pengumuman Pelaksanaan Pemilihan Penyedia Barang/Jasa Pasal 42 Pengumuman pengadaan barang / jasa dengan metode Pelelangan Umum/Terbatas dan/atau Seleksi Umum/Terbatas wajib dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut: a. untuk semua pengadaan dengan metode Pelelangan Umum dan Terbatas wajib diumumkan pada website masing-masing K/L/D/I dan website pengadaan nasional; b. untuk pengadaan dengan metode Pelelangan Umum yang bernilai sampai dengan Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) , selain ketentuan sebagaimana tercantum dalam huruf a diatas juga diumumkan sekurang kurangnya di: 1) satu surat kabar provinsi di lokasi kegiatan bersangkutan; atau 2) satu surat kabar nasional, dalam hal jumlah penyedia barang/jasa yang mampu melaksanakan kegiatan tersebut yang berdomisili di provinsi setempat kurang dari 3 (tiga) penyedia barang/jasa. c. untuk pengadaan dengan metode Pelelangan Umum/Terbatas yang bernilai di atas Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) selain ketentuan sebagaimana tercantum dalam huruf Cukup jelas

Draft Perpres - Page 41 of 85

a di atas, diumumkan sekurang-kurangnya di satu surat kabar nasional dan satu surat kabar provinsi di lokasi kegiatan bersangkutan; d. website pengadaan nasional sebagaimana dimaksud dalam huruf a di atas dikoordinasikan oleh LKPP. Pasal 43 Untuk memperjelas pengumuman sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 di atas Panitia Pengadaan/ULP memberikan penjelasan pekerjaan (aanwijzing) dengan ketentuan sebagai berikut: a. Pemberian penjelasan (aanwijzing) dilakukan di tempat dan waktu yang ditentukan, dihadiri oleh para penyedia barang/jasa yang terdaftar dalam daftar peserta lelang; b. Ketidakhadiran penyedia barang/jasa pada saat penjelasan tidak dapat dijadikan dasar untuk menolak/menggugurkan penawaran; c. Dalam acara penjelasan (aanwijzing) Panitia Pengadaan/ULP harus memberikan penjelasan kepada peserta lelang mengenai: 1) Metode pelaksanaan pemilihan penyedia barang/jasa; 2) Cara penyampaian penawaran oleh penyedia barang/jasa (satu sampul atau dua sampul atau dua tahap); 3) Dokumen yang harus dilampirkan dalam dokumen penawaran; 4) Acara pembukaan dokumen penawaran; 5) Metode evaluasi; 6) Hal-hal yang menggugurkan penawaran; 7) Jenis kontrak yang akan digunakan; 8) Ketentuan dan cara evaluasi berkenaan dengan preferensi harga atas penggunaan produksi dalam negeri; 9) Ketentuan dan cara subkontrak sebagian pekerjaan kepada usaha kecil termasuk koperasi kecil; 10) Besaran, masa berlaku, dan penjamin yang dapat mengeluarkan jaminan penawaran. Cukup jelas

d. Panitia Pengadaan/ULP apabila memandang perlu dapat memberikan penjelasan lanjutan dengan cara melakukan peninjauan lapangan;

Draft Perpres - Page 42 of 85

e. Pemberian penjelasan mengenai pasal-pasal dokumen pemilihan penyedia barang/jasa yang berupa pertanyaan dari peserta dan jawaban dari Panitia Pengadaan/ULP serta keterangan lain termasuk perubahannya dan hasil peninjauan lapangan harus dituangkan ke dalam berita acara penjelasan yang ditandatangani oleh Panitia Pengadaan/ULP dan minimal 1 (satu) wakil dari peserta yang hadir, dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari dokumen pemilihan penyedia barang/jasa; f. Apabila dalam berita acara penjelasan sebagaimana dimaksud dalam huruf e tersebut terdapat hal-hal/ketentuan baru atau perubahan penting yang perlu ditampung, maka Pejabat Pengadaan/ULP harus menuangkannya ke dalam adendum dokumen pemilihan penyedia barang/jasa yang menjadi bagian tak terpisahkan dari dokumen pemilihan penyedia barang/jasa dan harus disampaikan dalam waktu bersamaan kepada seluruh peserta secara tertulis setelah disetujui oleh PPK. Bila ketentuan baru atau perubahan penting tersebut tidak dituangkan ke dalam adendum dokumen pemilihan penyedia barang/jasa maka bukan merupakan bagian dari dokumen pemilihan penyedia barang/jasa dan yang berlaku adalah dokumen pemilihan penyedia barang/jasa awal (asli). Bagian Ketiga Metode Penyampaian Dokumen Penawaran Pasal 44 Dalam pemilihan penyedia barang/jasa lainnya dapat dipilih salah satu dari 3 (tiga) metode penyampaian dokumen penawaran yaitu: 1. Metode satu sampul Digunakan untuk pengadaan barang/jasa yang bersifat: a. sederhana, dan b. spesifikasi teknisnya jelas, atau c. pengadaan dengan standar harga yang telah ditetapkan pemerintah, atau d. pengadaan barang/jasa yang spesifikasi teknis atau volumenya dapat dinyatakan secara jelas dalam dokumen pengadaan. 2. Metode dua sampul Digunakan dalam hal: a. diperlukan evaluasi teknis yang lebih mendalam terhadap penawaran yang disampaikan oleh para penyedia barang/jasa, dan b. untuk menjaga agar evaluasi teknis jangan sampai terpengaruh oleh besarnya penawaran harga.

Ayat 1 : Dapat digunakan untuk pemilihan penyedia barang/jasa pekerjaan konstruksi/jasa lainnya. Sebagai contoh: pengadaan Pekerjaan pekerjaan konstruksi, mobil, dan sepeda motor Pada pengadaan jasa konsultansi, hanya digunakan untuk penunjukkan langsung. Ayat 2 Cukup Jelas

Draft Perpres - Page 43 of 85

Metode ini digunakan untuk pengadaan peralatan dan mesin yang tidak sederhana.

3. Metode dua tahap Digunakan untuk pengadaan barang/jasa yang: a. Kompleks; dan/atau b. memenuhi kriteria kinerja tertentu dari keseluruhan sistem termasuk pertimbangan kemudahan atau efisiensi pengoperasian dan pemeliharan peralatannya; dan/atau c. mempunyai beberapa alternatif penggunaan sistem dan disain penerapan teknologi yang berbeda; serta d. memerlukan penyesuaian kriteria teknis untuk menyetarakan spesifikasi teknis diantara penawar sesuai yang disyaratkan pada dokumen pengadaan.

Ayat 3 Contoh untuk penggunaan metode dua tahap : kontrak terima jadi (turn key contract), rancang bangun rekayasa, dan pembangkit tenaga listrik. Evaluasi teknis untuk pekerjaan di atas memerlukan waktu yang lama.

Bagian Keempat Metode Evaluasi Penawaran Pasal 45 1. Kriteria dan tata cara evaluasi harus dicantumkan dalam dokumen pengadaan dan dijelaskan pada waktu pemberian penjelasan (aanwijzing). 2. Pengertian/batasan tentang substansi penawaran harus dicantumkan dengan jelas dalam dokumen pengadaan dan dijelaskan kepada calon penyedia barang/jasa pada waktu pemberian penjelasan (aanwijzing). Paragraf Pertama Metode Evaluasi Penawaran untuk Pengadaan Barang / Pekerjaan konstruksi / Jasa Lainnya Pasal 46 1. Dalam pemilihan penyedia barang/pekerjaan konstruksi/jasa lainnya dapat dipilih salah 1 (satu) dari 3 (tiga) metode evaluasi penawaran, yang meliputi: a. sistem gugur; Evaluasi penawaran dengan sistem gugur dapat dilakukan untuk hampir seluruh pengadaan barang/pekerjaan pekerjaan konstruksi/ jasa lainnya. b. sistem nilai; Evaluasi penawaran dengan sistem nilai digunakan untuk pengadaan barang/pekerjaan konstruksi/jasa lainnya yang memperhitungkan keunggulan teknis sepadan dengan harganya, mengingat penawaran harga sangat dipengaruhi oleh kualitas teknis. c. sistem penilaian biaya selama umur ekonomis. Evaluasi penawaran dengan sistem penilaian biaya selama umur ekonomis khususnya Cukup jelas Cukup jelas

Draft Perpres - Page 44 of 85

dilakukan untuk pengadaan barang/peralatan yang memperhitungkan faktor-faktor umur ekonomis, harga, biaya operasi dan pemeliharaan, dalam jangka waktu operasi tertentu. 2. Kriteria dan tata cara evaluasi harus dicantumkan dalam dokumen pengadaan dan dijelaskan pada waktu pemberian penjelasan (aanwijzing). 3. Pengertian/batasan tentang substansi penawaran harus dicantumkan dengan jelas dalam dokumen pengadaan dan dijelaskan kepada calon penyedia barang/jasa pada waktu pemberian penjelasan. 4. Dalam mengevaluasi dokumen penawaran, panitia/pejabat pemilihan penyedia barang/jasa tidak diperkenankan mengubah, menambah dan mengurangi kriteria dan tatacara evaluasi tersebut, dengan alasan apapun dan atau melakukan tindakan lain setelah pemasukan penawaran (post bidding). Paragraf Kedua Metode Evaluasi Penawaran untuk Pengadaan Penyedia Jasa Konsultansi Pasal 47 Dalam pemilihan penyedia jasa konsultansi dapat dipilih salah 1 (satu) dari 4 (empat) metode evaluasi penawaran, yaitu : 1. Metode evaluasi berdasarkan kualitas; Metode ini digunakan untuk pengadaan jasa konsultansi yang kompleks dan menggunakan teknologi tinggi. Kualitas usulan merupakan faktor yang menentukan terhadap hasil/manfaat (outcome) secara keseluruhan, dan lingkup pekerjaan sulit ditetapkan dalam KAK. 2. Metode evaluasi berdasarkan kualitas dan biaya; Metode ini digunakan untuk pekerjaan yang lingkup, keluaran (output), waktu penugasan, dan hal-hal lain dapat diperkirakan dengan baik dalam KAK, serta besarnya biaya dapat ditentukan dengan tepat. 3. Metode evaluasi berdasarkan pagu anggaran; Metode ini digunakan untuk pekerjaan yang sudah ada aturan yang mengatur (standar), yang dapat dirinci dengan tepat, meliputi : waktu penugasan, kebutuhan tenaga ahli dan input lainnya serta anggarannya tidak melampaui pagu tertentu. 4. Metode evaluasi berdasarkan biaya terendah; Metode ini digunakan untuk pekerjaan sederhana dan standar.

Ayat 1 Sebagai contoh : desain pembuatan pembangkit tenaga nuklir, perencanaan terowongan di bawah laut, dan desain pembangunan bandara internasional.

Ayat 2 Sebagai contoh: desain jaringan irigasi primer, desain jalan, studi kelayakan, konsultansi manajemen, dan supervisi bangunan non-gedung.

Ayat 3 Sebagai contoh: pekerjaan disain dan supervisi bangunan gedung serta pekerjaan survei dan pemetaan skala kecil Ayat 4 Sebagai contoh: desain dan/atau supervisi bangunan sederhana dan pengukuran skala kecil.

Draft Perpres - Page 45 of 85

Bagian Kelima Penyusunan Jadwal Pelaksanaan Pengadaan Pasal 48 Penyusunan jadwal pelaksanaan pengadaan harus memberikan alokasi waktu yang cukup untuk semua tahapan proses pengadaan, termasuk waktu untuk : 1. Pengumuman lelang/Seleksi 2. Pendaftaran dan pengambilan dokumen penawaran 3. Rapat penjelasan pekerjaan (aanwijzing) 4. Pemasukan dokumen penawaran 5. Evaluasi penawaran 6. Penetapan pemenang 7. Sanggah dan sanggah banding Pasal 49 Jadwal untuk Pelelangan Prakualifikasi, Seleksi Umum, Terbatas: Umum dengan Pelelangan/Seleksi Cukup jelas Cukup jelas

1. Alokasi waktu penyusunan jadwal adalah sebagai berikut: a. Penayangan pengumuman prakualifikasi selama 7 (tujuh) hari kerja di papan pengumuman resmi untuk masyarakat, website K/L/D/I, dan website pengadaan nasional. Dalam hal pengumuman dilaksanakan melalui surat kabar nasional/ provinsi sekurang-kurangnya dilakukan 1 (satu) kali tayang pada awal masa pengumuman; b. Pendaftaran dan pengambilan dokumen kualifikasi dimulai sejak tanggal pengumuman sampai dengan 1 (satu) hari kerja sebelum batas akhir pemasukan dokumen kualifikasi; c. Batas akhir pemasukan dokumen kualifikasi sekurang-kurangnya 3 (tiga) hari kerja setelah berakhirnya penayangan pengumuman prakualifikasi di papan pengumuman resmi untuk masyarakat, website K/L/D/I, dan website pengadaan nasional; d. Evaluasi dokumen kualifikasi dapat dilakukan dalam waktu 1 (satu) hari kerja sejak batas akhir pemasukan dokumen kualifikasi atau sesuai dengan waktu yang diperlukan; e. Penetapan hasil prakualifikasi selambatlambatnya 5 (lima) hari kerja setelah evaluasi dokumen kualifikasi; f. Pengumuman hasil prakualifikasi selambatlambatnya 1 (satu) hari kerja setelah penetapan hasil prakualifikasi. Pengumuman dimuat di papan pengumuman resmi untuk masyarakat, website K/L/D/I, website pengadaan nasional, serta disampaikan/diberitahukan kepada seluruh peserta prakualifikasi;

Draft Perpres - Page 46 of 85

g. Masa sanggah terhadap hasil prakualifikasi selama 5 (lima) hari kerja setelah pengumuman hasil prakualifikasi, dan tidak ada sanggah banding; h. Undangan lelang kepada peserta yang lulus prakualifikasi disampaikan 1 (satu) hari kerja setelah selesainya masalah sanggah; i. Pengambilan dokumen pemilihan dilakukan sejak dikeluarkannya undangan lelang sampai dengan 1 (satu) hari kerja sebelum batas akhir pemasukan dokumen penawaran; j. Penjelasan (aanwijzing) dilaksanakan paling cepat 4 (empat) hari kerja sejak tanggal undangan lelang; k. Pemasukan dokumen penawaran dimulai 1 (satu) hari kerja setelah penjelasan (aanwijzing) sampai dengan sekurangkurangnya 7 (tujuh) hari kerja setelah penjelasan (aanwijzing). l. Masa sanggah terhadap hasil lelang selama 5 (lima) hari kerja setelah pengumuman hasil lelang dan masa sanggah banding selama 5 (lima) hari kerja setelah menerima jawaban sanggah; m. Surat Penetapan Penyedia Barang/Jasa (SPPBJ) diterbitkan selambat-lambatnya 5 (lima) hari kerja setelah pengumuman penetapan pemenang lelang atau setelah masalah sanggah selesai. n. Kontrak ditandatangani selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kerja setelah diterbitkannya SPPBJ. 2. Pengaturan jadwal/waktu di luar proses butir a) sampai dengan butir m) di atas, diserahkan sepenuhnya kepada Panitia Pengadaan/ULP .

Pasal 50 Jadwal untuk Pascakualifikasi: Pelelangan Umum dengan Contoh: waktu pemasukan dokumen penawaran untuk pengadaan Alat Tulis Kantor (ATK) cukup 2 (dua) hari kerja, waktu pemasukan dokumen penawaran untuk pengadaan untuk peningkatan jalan kabupaten/kota 14 (empat belas) hari kerja, waktu pemasukan dokumen penawaran untuk pengadaan pekerjaan kompleks dapat lebih dari 30 (tiga puluh) hari kerja. Contoh: evaluasi penawaran pengadaan sederhana, misal ATK dapat diselesaikan dalam waktu 1 (satu) hari, waktu evaluasi penawaran pekerjaan peningkatan jalan provinsi diperlukan selama kurang lebih 5

1. Alokasi waktu penyusunan jadwal adalah sebagai berikut: a. Penayangan pengumuman lelang selama 7 (tujuh) hari kerja di papan pengumuman resmi untuk masyarakat, website K/L/D/I, dan website pengadaan nasional. Dalam hal pengumuman dilaksanakan melalui surat kabar nasional/ provinsi sekurang-kurangnya dilakukan 1 (satu) kali tayang pada awal masa pengumuman; b. Pendaftaran dan pengambilan dokumen pengadaan (dokumen kualifikasi dan dokumen pemilihan) dimulai sejak tanggal pengumuman sampai dengan 1 (satu) hari kerja sebelum batas akhir pemasukan dokumen pengadaan ;

Draft Perpres - Page 47 of 85

(lima) hari, waktu evaluasi penawaran pekerjaan pembangunan bendungan serbaguna (multi purpose dam) diperlukan selama dapat lebih 15 (lima belas) hari. c. Penjelasan (aanwijzing) dilaksanakan paling cepat 4 (empat) hari kerja sejak tanggal pengumuman lelang;

d. Pemasukan dokumen penawaran dimulai 1 (satu) hari kerja setelah penjelasan (aanwijzing) sampai dengan sekurangkurangnya 7 (tujuh) hari kerja setelah penjelasan; e. Evaluasi dokumen prakualifikasi dapat dilakukan dalam waktu 1 (satu) hari kerja sejak batas akhir pemasukan dokumen prakualifikasi atau sesuai dengan waktu yang diperlukan; f. Penetapan hasil lelang selambat-lambatnya 5 (lima) hari kerja setelah evaluasi dokumen penawaran ; g. Pengumuman hasil lelang selambatlambatnya 1 (satu) hari kerja setelah penetapan hasil lelang. Pengumuman dimuat di papan pengumuman resmi untuk masyarakat, website K/L/D/I, website pengadaan nasional, serta disampaikan/ diberitahukan kepada seluruh peserta lelang; h. Masa sanggah terhadap hasil lelang selama 5 (lima) hari kerja setelah pengumuman hasil lelang dan masa sanggah banding selama 5 (lima) hari kerja setelah menerima jawaban sanggah; i. SPPBJ diterbitkan selambat-lambatnya 5 (lima) hari kerja setelah pengumuman penetapan pemenang lelang atau setelah masalah sanggah selesai; j. Kontrak ditandatangani selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kerja setelah SPPBJ. 2. Pengaturan jadwal/waktu di luar proses butir a) sampai dengan butir h) di atas, diserahkan sepenuhnya kepada Panitia Pengadaan/ULP. Pasal 51 Jadwal untuk Pemilihan/Seleksi Langsung : 1. Ketentuan alokasi waktu dalam penyusunan jadwal adalah sebagai berikut: a. Penayangan pengumuman pemilihan langsung selama 3 (tiga) hari kerja di papan pengumuman resmi untuk masyarakat, website K/L/D/I, dan website pengadaan nasional;

j.

kontrak ditandatangani setelah penyedia barang/jasa menyampaikan jaminan pelaksanaan.

Cukup jelas

Draft Perpres - Page 48 of 85

b. Pendaftaran dan pengambilan dokumen kualifikasi dimulai sejak tanggal pengumuman sampai dengan 1 (satu) hari kerja sebelum batas akhir pemasukan dokumen kualifikasi; c. Batas akhir pemasukan dokumen kualifikasi sekurang-kurangnya 3 (tiga) hari kerja setelah berakhirnya penayangan pengumuman prakualifikasi di papan pengumuman resmi untuk masyarakat, website K/L/D/I, dan website pengadaan nasional; d. Evaluasi dokumen kualifikasi dapat dilakukan dalam waktu 1 (satu) hari kerja sejak batas akhir pemasukan dokumen kualifikasi atau sesuai dengan waktu yang diperlukan; e. Penetapan hasil prakualifikasi selambatlambatnya 5 (lima) hari kerja setelah evaluasi dokumen kualifikasi; f. Pengumuman hasil prakualifikasi selambatlambatnya 1 (satu) hari kerja setelah penetapan hasil prakualifikasi. Pengumuman dimuat di papan pengumuman resmi untuk masyarakat, website K/L/D/I, website pengadaan nasional, serta disampaikan/diberitahukan kepada seluruh peserta prakualifikasi; g. Masa sanggah terhadap hasil prakualifikasi selama 5 (lima) hari kerja setelah pengumuman hasil prakualifikasi, dan tidak ada sanggah banding; h. Undangan lelang kepada peserta yang lulus prakualifikasi disampaikan 1 (satu) hari kerja setelah selesainya masalah sanggah; i. Pengambilan dokumen pemilihan dilakukan sejak dikeluarkannya undangan lelang sampai dengan 1 (satu) hari kerja sebelum batas akhir pemasukan dokumen penawaran; j. Penjelasan (aanwijzing) dilaksanakan paling cepat 4 (empat) hari kerja sejak tanggal undangan lelang; k. Pemasukan dokumen penawaran dimulai 1 (satu) hari kerja setelah penjelasan (aanwijzing) sampai dengan sekurangkurangnya 7 (tujuh) hari kerja setelah penjelasan; l. Masa sanggah terhadap hasil lelang selama 5 (lima) hari kerja setelah pengumuman hasil lelang dan masa sanggah banding selama 5 (lima) hari kerja setelah menerima jawaban sanggah; m. Surat Penetapan Penyedia Barang/Jasa (SPPBJ) diterbitkan selambat-lambatnya 5 (lima) hari kerja setelah pengumuman penetapan pemenang lelang atau setelah masalah sanggah selesai; n. Kontrak ditandatangani selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kerja setelah SPPBJ. 2. Pengaturan jadwal/waktu di luar proses butir a) sampai dengan butir k) di atas, diserahkan sepenuhnya kepada Panitia Pengadaan/ULP.

Draft Perpres - Page 49 of 85

Pasal 52 Pengaturan jadwal/waktu untuk Penunjukan Langsung diserahkan sepenuhnya kepada Pejabat/Panitia Pengadaan/ULP yang antara lain meliputi proses : a. undangan kepada peserta yang dipilih dilampiri dokumen kualifikasi dan dokumen pengadaan, b. pemasukan dokumen kualifikasi, c. penilaian kualifikasi, d. penjelasan (aanwijzing), e. pemasukan penawaran, f. evaluasi penawaran, g. negosiasi teknis dan harga, h. penetapan/penunjukan penyedia barang/jasa, i. penandatanganan kontrak. Pasal 53 Pelaksanaan pengadaan barang/jasa lainnya dengan Pembelian/Pembayaran Langsung hanya untuk : 1. Untuk kebutuhan operasional 2. Pembelian yang bernilai maksimal Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) 3. Sifat pembelanjaannya merupakan belanja barang/jasa lainnya Cukup jelas Cukup jelas

Bagian Keenam Penyusunan Harga Perkiraan Sendiri (HPS) Pasal 54 1. Pejabat/Panitia pengadaan/ULP wajib memiliki HPS yang dikalkulasikan secara keahlian dan berdasarkan data yang dapat dipertangungjawabkan. 2. HPS disusun dan ditetapkan oleh pejabat/panitia pengadaan /ULP dan disetujui oleh PPK. 3. Nilai total HPS terbuka dan tidak bersifat rahasia. 4. HPS digunakan sebagai alat untuk menilai kewajaran harga penawaran termasuk rinciannya dan untuk menetapkan besaran tambahan nilai jaminan pelaksanaan bagi penawaran yang dinilai terlalu rendah. 5. HPS bukan sebagai dasar untuk menentukan besaran kerugian negara. Data yang digunakan sebagai dasar penyusunan HPS adalah harga pasar setempat hasil survey menjelang dilaksanakannya pengadaan dengan mempertimbangkan informasi yang meliputi antara lain : a. Informasi biaya satuan yang dipublikasikan secara resmi oleh Badan Pusat Statistik (BPS); b. Informasi biaya satuan yang dipublikasikan secara resmi oleh asosiasi terkait dan sumber data lain yang dapat dipertanggungjawabkan; c. Daftar biaya/tarif barang/jasa yang dikeluarkan oleh agen tunggal/ pabrikan; d. Biaya kontrak sebelumnya atau yang sedang berjalan dengan mempertimbangkan faktor perubahan biaya; e. Inflasi tahun sebelumnya, suku bunga berjalan dan / atau kurs tengah Bank Indonesia; perbandingan dengan f. Hasil kontrak sejenis, baik yang dilakukan oleh instansi lain maupun pihak lain; g. Perkiraan perhitungan biaya oleh konsultan (engineer’s estimate);

Draft Perpres - Page 50 of 85

h. Informasi lain yang dipertanggungjawabkan. Bagian Ketujuh Penyusunan Dokumen Pengadaan Barang/Jasa Pasal 55 1. Dokumen pengadaan terdiri dari : a. Dokumen kualifikasi; b. Dokumen pemilihan.

dapat

Ayat 1 Panitia Pengadaan/ULP juga menyiapkan dokumen pasca/prakualifikasi untuk calon penyedia barang/jasa berupa formulir isian yang memuat data administrasi, keuangan, personil, peralatan, dan pengalaman kerja; Ayat 2 Cukup jelas

2. Dalam dokumen pemilihan penyedia barang/jasa, panitia harus mencantumkan secara jelas dan terinci serta dapat dimengerti oleh calon penyedia barang/jasa hal-hal sebagai berikut : a. semua persyaratan minimal yang diperlukan baik administrasi maupun teknis, b. penggunaan barang/jasa produksi dalam negeri dan preferensi harga, c. unsur-unsur yang dinilai, d. kriteria dan formula evaluasi yang akan digunakan, e. jenis kontrak yang dipilih, f. contoh-contoh formulir yang perlu diisi 3. Dalam hal pengadaan barang/jasa, dokumen kualifikasi sekurang-kurangnya memuat formulir isian kualifikasi dan tata cara penilaian. 4. Dalam hal pengadaan barang/jasa dilakukan dengan pascakualifikasi, dokumen kualifikasi disampaikan bersamaan dengan dokumen penawaran. 5. Dokumen pemilihan penyedia barang/jasa sekurang-kurangnya memuat: a. Undangan kepada penyedia barang/jasa yang mendaftar dalam hal dilakukan pascakualifikasi atau yang lulus prakualifikasi

Ayat 3 Cukup jelas

Ayat 4 Cukup jelas

Ayat 5 Huruf a Undangan memuat : a. tempat, tanggal, hari, dan waktu untuk memperoleh dokumen pemilihan penyedia barang/jasa dan keterangan lainnya; b. tempat, tanggal, hari, dan waktu pemberian penjelasan (aanwijzing) mengenai dokumen pemilihan penyedia barang/jasa dan keterangan lainnya; c. tempat, tanggal, hari, dan waktu penyampaian dokumen penawaran; d. alamat tujuan pengiriman dokumen penawaran;

Draft Perpres - Page 51 of 85

e. jadwal pelaksanaan pengadaan barang/jasa sampai dengan penetapan penyedia barang/jasa. b. Instruksi kepada barang/jasa peserta pengadaan Huruf b Instruksi kepada peserta pengadaan barang/jasa sekurang-kurangnya memuat: a. umum: lingkup pekerjaan, sumber dana, persyaratan dan kualifikasi peserta pengadaan barang/jasa, jumlah dokumen penawaran yang disampaikan, dan peninjauan lokasi kerja; b. isi dokumen pemilihan penyedia barang/jasa, penjelasan isi dokumen pemilihan penyedia barang/jasa, dan perubahan isi dokumen pemilihan penyedia barang/jasa; c. persyaratan bahasa yang digunakan dalam penawaran, penulisan harga penawaran, mata uang penawaran dan cara pembayaran, masa berlaku penawaran, surat jaminan penawaran, usulan penawaran alternatif oleh peserta pengadaan barang/jasa, bentuk penawaran, dan penandatanganan surat penawaran; d. cara penyampulan dan penandaan sampul penawaran, batas akhir waktu penyampaian penawaran, perlakuan terhadap penawaran yang terlambat, serta larangan untuk perubahan dan penarikan penawaran yang telah masuk; e. prosedur pembukaan penawaran, kerahasiaan dan larangan, klarifikasi dokumen penawaran, pemeriksaan kelengkapan dokumen penawaran, koreksi aritmatik, konversi ke dalam mata uang tunggal, sistem evaluasi penawaran meliputi kriteria, formulasi dan tata cara evaluasi, serta penilaian preferensi harga; f. penilaian kualifikasi dalam hal dilakukan pascakualifikasi, kriteria penetapan pemenang pengadaan barang/jasa, hak dan kewajiban PPK untuk menerima dan menolak salah satu atau semua penawaran, syarat penandatanganan kontrak, dan surat jaminan pelaksanaan.

Draft Perpres - Page 52 of 85

c.

Syarat-syarat umum kontrak

Huruf c Syarat-syarat umum kontrak memuat batasan pengertian istilah yang digunakan, hak, kewajiban, tanggung jawab termasuk tanggung jawab pada pekerjaan yang disub-kontrakkan, sanksi, penyelesaian perselisihan, dan peraturan perundang-undangan yang berlaku, dalam pelaksanaan kontrak bagi para pihak. Huruf d Syarat-syarat khusus kontrak merupakan bagian dokumen pemilihan penyedia barang/jasa yang memuat ketentuan-ketentuan yang lebih spesifik sebagaimana dirujuk dalam pasal-pasal syarat-syarat umum kontrak, dan memuat perubahan, penambahan, atau penghapusan ketentuan dalam syaratsyarat umum kontrak, yang sifatnya lebih mengikat dari syarat-syarat umum kontrak. Huruf e Daftar kuantitas dan jenis memuat jenis dan uraian singkat pekerjaan yang akan dilaksanakan atau barang yang akan dipasok, negara asal barang/jasa, volume pekerjaan, harga satuan barang/jasa yang akan ditawarkan, komponen produksi dalam negeri, harga total pekerjaan/barang, biaya satuan angkutan (khusus untuk pengadaan barang/jasa), Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan pajak lainnya. Huruf f Jika barang dalam negeri, harus dijelaskan apakah harga tersebut merupakan harga eks pabrik, eks gudang, atau di lapangan (on site stock), sedangkan untuk barang impor, harus dijelaskan apakah harga tersebut merupakan harga free on board (FOB) atau cost insurance and freight (CIF). Huruf g Spesifikasi teknis dan gambar tidak mengarah kepada merk/produk tertentu kecuali untuk suku cadang/komponen produk tertentu, tidak menutup digunakannya produksi dalam negeri, semaksimal mungkin diupayakan menggunakan standar nasional, metode pelaksanaan

d. Syarat-syarat khusus kontrak

e. Daftar kuantitas dan harga:

f.

Khusus untuk pengadaan barang, harga barang dalam negeri dan barang impor harus dipisahkan.

g. Spesifikasi teknis dan gambar

Draft Perpres - Page 53 of 85

pekerjaan harus logis, jadwal waktu pelaksanaan pekerjaan harus sesuai dengan metode pelaksanaan, macam/jenis, kapasitas, dan jumlah peralatan utama minimal yang diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan, syarat-syarat kualifikasi dan jumlah personil inti yang dipekerjakan, syarat-syarat material (bahan) yang dipergunakan dalam pelaksanaan pekerjaan, gambargambar kerja harus lengkap dan jelas, dan kriteria kinerja produk (output performance) yang diinginkan harus jelas. h. Bentuk surat penawaran Huruf h Bentuk surat penawaran merupakan pernyataan resmi mengikuti pengadaan barang/jasa, pernyataan bahwa penawaran dibuat sesuai dengan peraturan pengadaan barang/jasa, harga total penawaran dalam angka dan huruf, masa berlaku penawaran, lamanya waktu penyelesaian pekerjaan, nilai jaminan penawaran dalam angka dan huruf, kesanggupan memenuhi persyaratan yang ditentukan, dilampiri dengan daftar volume dan harga pekerjaan, dan ditandatangani oleh pimpinan/direktur utama perusahaan atau yang dikuasakan di atas meterai dan bertanggal. Huruf i Bentuk kontrak memuat tanggal mulai berlakunya kontrak, nama dan alamat para pihak, nama paket pekerjaan yang diperjanjikan, harga kontrak dalam angka dan huruf, pernyataan bahwa kata dan ungkapan yang terdapat dalam syarat-syarat umum/khusus kontrak telah ditafsirkan sama bagi para pihak, kesanggupan penyedia barang/jasa yang ditunjuk untuk memperbaiki kerusakan pekerjaan atau akibat pekerjaan, kesanggupan PPK untuk membayar kepada penyedia barang/jasa sesuai dengan jumlah harga kontrak, dan tandatangan para pihak di atas meterai. Huruf j memuat nama dan alamat PPK, penyedia barang/jasa, dan pihak penjamin, nama paket kontrak, nilai jaminan pelaksanaan dalam angka dan huruf, kewajiban pihak penjamin

i.

Bentuk kontrak

j.

Bentuk surat jaminan pelaksanaan

Draft Perpres - Page 54 of 85

untuk mencairkan surat jaminan pelaksanaan dengan segera kepada PPK sesuai dengan ketentuan dalam jaminan pelaksanaan, masa berlaku surat jaminan pelaksanaan, mengacu kepada Kitab Undang-undang Hukum Perdata khususnya Pasal 1831 dan 1832, dan tanda tangan penjamin; k. Bentuk surat jaminan uang muka: Huruf k memuat nama dan alamat PPK, penyedia barang/jasa yang ditunjuk, dan hak penjamin, nama paket kontrak, nilai jaminan uang muka dalam angka dan huruf, kewajiban pihak-pihak penjamin untuk mencairkan surat jaminan uang muka dengan segera kepada PPK sesuai dengan ketentuan dalam jaminan uang muka, masa berlaku jaminan uang muka, mengacu kepada Kitab Undang-undang Hukum Perdata Pasal 1831 dan 1832, dan tanda tangan penjamin.

Bagian Kedelapan Pelelangan/Seleksi Gagal dan Ulang Pasal 56 Pelelangan/Seleksi Gagal 1. Pelelangan Umum dan Terbatas dinyatakan gagal oleh Panitia Pengadaan /ULP, apabila : a. jumlah penyedia barang/pekerjaan pekerjaan konstruksi/jasa lainnya yang mendaftar atau memasukkan penawaran kurang dari 3 (tiga) peserta; atau b. tidak ada penawaran yang memenuhi evaluasi penawaran; atau c. harga penawaran terendah terkoreksi lebih tinggi dari HPS; d. jika seluruh penawaran yang masuk di atas HPS. Seleksi Umum dan Terbatas dinyatakan gagal oleh Panitia Pengadaan/ULP, apabila : a. jumlah penyedia jasa konsultansi yang yang mendaftar atau memasukkan penawaran kurang dari 3 (tiga) peserta; atau b. tidak ada penawaran yang memenuhi evaluasi penawaran; atau Ayat 1 Cukup jelas

2.

Ayat 2 Huruf a Cukup jelas Huruf b Seleksi ulang yang disebabkan karena tidak ada peserta yang memenuhi persyaratan teknis maka dilakukan dengan: a. melakukan perbaikan KAK; b. mengumumkan kembali pengadaan jasa konsultansi;

Draft Perpres - Page 55 of 85

c. melakukan kembali prakualifikasi dan menyusun kembali daftar pendek konsultan. c. negosiasi atas harga penawaran gagal karena tidak ada peserta yang menyetujui/ menyepakati klarifikasi dan negosiasi. Huruf c Seleksi ulang yang disebabkan karena tidak ada peserta yang menyetujui/ menyepakati klarifikasi dan negosiasi, maka dilakukan dengan: a. mengumumkan kembali pengadaan jasa konsultansi; b. melakukan kembali prakualifikasi dan menyusun daftar pendek konsultan dengan tidak mengikutsertakan konsultan yang telah masuk dalam daftar pendek konsultan sebelumnya. Ayat 3 Huruf a Cukup jelas

3.

Pelelangan/Seleksi dinyatakan gagal oleh Panitia atau PA/KPA apabila: a. sanggahan dari penyedia barang/jasa atas kesalahan prosedur yang tercantum dalam dokumen pemilihan penyedia barang/jasa ternyata benar ; atau b. pelaksanaan pelelangan/seleksi tidak sesuai atau menyimpang dari dokumen pengadaan yang telah ditetapkan; atau c. Calon pemenang urutan mengundurkan diri; atau 1, 2, dan 3

Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas Huruf d Cukup jelas Ayat (4) Apabila sanggahan dan sanggahan banding karena sebab pada Pasal 63 ayat (1) huruf b, huruf c atau huruf d ternyata benar, maka dilakukan lelang/seleksi umum/terbatas ulang dengan membentuk panitia/pejabat pengadaan baru.

d. Pengaduan masyarakat atas dugaan KKN dalam pelaksanaan lelang ternyata benar. 4. PA/KPA/PPK dilarang memberikan ganti rugi kepada peserta lelang/seleksi bila penawarannya ditolak atau pelelangan/seleksi dinyatakan gagal.

Pasal 57 Pelelangan/Seleksi Ulang 1. Apabila pelelangan/seleksi dinyatakan gagal, maka Panitia Pengadaan/ULP segera melakukan pelelangan/seleksi ulang. 2. Apabila dalam pelelangan ulang, jumlah penyedia barang/jasa yang lulus prakualifikasi hanya 2 (dua) maka dilakukan seperti proses pemilihan langsung. Ayat 1 Cukup jelas Ayat 2 Cukup jelas

Draft Perpres - Page 56 of 85

3. Apabila dalam pelelangan ulang, jumlah penyedia barang/jasa yang memasukkan penawaran hanya 2 (dua) maka dilakukan seperti proses pemilihan langsung. 4. Apabila dalam pelelangan ulang, jumlah penyedia barang/jasa yang lulus prakualifikasi hanya 1 (satu) maka dilakukan seperti proses penunjukan langsung. 5. Apabila dalam pelelangan ulang, jumlah penyedia barang/jasa yang memasukkan penawaran hanya 1 (satu) maka dilakukan seperti proses penunjukan langsung. 6. Apabila dalam seleksi umum ulang atau seleksi terbatas ulang, jumlah penyedia jasa konsultansi yang lulus prakualifikasi hanya 2 (dua) maka dilakukan seperti proses seleksi langsung. 7. Apabila dalam seleksi umum ulang atau seleksi terbatas ulang, jumlah penyedia jasa konsultansi yang memasukkan penawaran hanya 2 (dua) maka dilakukan seperti proses seleksi langsung. 8. Apabila dalam seleksi umum ulang atau seleksi terbatas ulang, jumlah penyedia jasa konsultansi yang lulus prakualifikasi hanya 1 (satu) maka dilakukan seperti proses penunjukan langsung. 9. Apabila dalam seleksi umum ulang atau seleksi terbatas ulang, jumlah penyedia jasa konsultansi yang memasukkan penawaran hanya 1 (satu) maka dilakukan seperti proses penunjukan langsung .

Ayat 3 Cukup jelas

Ayat 4 Cukup jelas

Ayat 5 Cukup jelas

Ayat 6 Cukup jelas

Ayat 7 Cukup jelas

Ayat 8 Cukup jelas

Ayat 9 Cukup jelas

Bagian Kesembilan Kontrak Pasal 58 1. Para pihak menandatangani kontrak selambatlambatnya 14 (empat belas) hari kerja terhitung sejak diterbitkannya SPPBJ dan setelah penyedia barang/jasa menyerahkan surat jaminan pelaksanaan sebesar 5% (lima persen) dari nilai kontrak kepada PPK. Dalam hal penawaran dibawah 80% (delapan puluh persen) dari HPS, maka nilai jaminan pelaksanaan sekurang-kurangnya 5% (lima persen) dari nilai HPS. 2. Untuk pekerjaan jasa konsultansi diperlukan jaminan pelaksanaan. tidak Ayat 1 Jaminan pelaksanaan harus diberikan oleh penyedia barang/jasa selambatlambatnya sesaat sebelum kontrak ditandatangani

Ayat 2 Cukup jelas Ayat 3 Cukup jelas

3. Untuk pembelian langsung dengan nilai sampai dengan Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) cukup dengan kuitansi pembayaran dengan meterai secukupnya.

Draft Perpres - Page 57 of 85

4. Untuk pengadaan dengan nilai sampai dengan Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah), bentuk kontrak berupa SPK tanpa jaminan pelaksanaan. 5. Untuk pengadaan dengan nilai di atas Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah), bentuk kontrak berupa kontrak pengadaan barang/jasa dengan jaminan pelaksanaan. 6. Dalam melakukan perikatan, para pihak sedapat mungkin menggunakan standar kontrak atau contoh SPK yang dikeluarkan oleh LKPP atau pimpinan instansi yang bersangkutan.

Ayat 4 Cukup jelas

Ayat 5 Cukup jelas

Ayat 6 Bentuk standar kontrak dan SPK dicantumkan pada dokumen pengadaan dan disampaikan kepada para calon penyedia barang/jasa.

7. Kontrak untuk pekerjaan barang/jasa yang bernilai di atas Rp50.000.000.000,00 (lima puluh miliar rupiah) ditandatangani oleh PPK setelah memperoleh pendapat ahli hukum kontrak yang profesional.

Ayat 7 Untuk memperlancar persiapan penandatanganan kontrak dan memperkecil resiko yang mungkin terjadi dalam pelaksanaan kontrak baik secara material maupun finansial, maka untuk pengadaan barang/jasa yang kompleks dan/atau bernilai di atas Rp50.000.000.000,00 (lima puluh miliar rupiah) agar sejak penyusunan dokumen pengadaan khususnya pembuatan konsep kontrak telah menggunakan jasa ahli hukum kontrak yang profesional. Ayat 8 Cukup jelas

8. Kontrak sekurang-kurangnya memuat ketentuan sebagai berikut : a. Para pihak yang menandatangani kontrak yang meliputi nama, jabatan, dan alamat; b. Pokok pekerjaan yang diperjanjikan dengan uraian yang jelas mengenai jenis dan jumlah barang/jasa yang diperjanjikan; c. Hak dan kewajiban para pihak yang terikat di dalam perjanjian; d. Nilai atau harga kontrak pekerjaan, serta syarat-syarat pembayarannya; e. Tempat dan jangka waktu penyelesaian/ penyerahan dengan disertai jadwal waktu penyelesaian/penyerahan serta syaratsyarat penyerahannya; f. Tempat dan jangka waktu penyelesaian/ penyerahan dengan disertai jadwal waktu penyelesaian/penyerahan yang pasti serta syarat-syarat penyerahannya; g. Jaminan teknis/hasil pekerjaan yang dilaksanakan; h. Ketentuan mengenai cidera janji dan sanksi dalam hal para pihak tidak memenuhi kewajibannya; i. Ketentuan mengenai pemutusan kontrak secara sepihak;

Draft Perpres - Page 58 of 85

j. k. l. m. n.

Ketentuan mengenai keadaan memaksa; Ketentuan mengenai kewajiban para pihak dalam hal terjadi kegagalan dalam pelaksanaan pekerjaan; Ketentuan mengenai perlindungan tenaga kerja; Ketentuan mengenai bentuk dan tanggung jawab gangguan lingkungan; Ketentuan mengenai penyelesaian perselisihan. Ayat 9 Cukup jelas

9. Dokumen kontrak untuk pengadaan barang/pekerjaan, pekerjaan konstruksi/jasa lainnya terdiri dari : a. SPK; b. Dokumen-dokumen lain yang terdiri dari : 1) Syarat-syarat Umum Kontrak; 2) Syarat-syarat Khusus Kontrak; 3) Dokumen pendukung lainnya.

Pasal 59 Pelaksanaan Kontrak 1. PPK sudah harus menerbitkan Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK) selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari sejak tanggal penandatanganan kontrak. 2. Program mutu harus disusun oleh penyedia barang/jasa dan disepakati oleh PPK pada saat rapat persiapan pelaksanaan kontrak dan dapat direvisi sesuai dengan kondisi lapangan. Ayat 1 Untuk kontrak sederhana, tanggal SPMK dapat ditetapkan sama dengan tanggal penandatangan kontrak. Ayat 2 Program mutu antara lain terdiri dari: informasi pengadaan barang/jasa; a. organisasi proyek; b. jadwal pelaksanaan; c. prosedur pelaksanaan pekerjaan; d. prosedur instruksi kerja; e. pelaksana kerja. Ayat 3 a. Mobilisasi dilakukan sesuai dengan lingkup pekerjaan; b. Mobilisasi peralatan dan personil penyedia barang/jasa dapat dilakukan secara bertahap sesuai dengan kebutuhan. Ayat 4 a. Untuk pemeriksaan bersama ini, PPK dapat membentuk panitia/pejabat peneliti pelaksanaan kontrak; b. Apabila dalam pemeriksaan bersama mengakibatkan perubahan isi kontrak maka harus dituangkan dalam bentuk adendum kontrak.

3. Mobilisasi harus sudah mulai dilaksanakan dalam waktu 30 (tiga puluh) hari sejak diterbitkan SPMK.

4. Pada tahap awal periode pelaksanaan kontrak dan pada pelaksanaan pekerjaan, PPK bersamasama dengan penyedia barang/jasa melakukan pemeriksaan bersama.

Draft Perpres - Page 59 of 85

5. Pembayaran Uang Muka : a. Penyedia barang/jasa mengajukan permohonan pengambilan uang muka secara tertulis kepada PPK disertai dengan rencana penggunaan uang muka untuk melaksanakan pekerjaan sesuai kontrak; b. PPK sudah harus mengajukan surat permintaan pembayaran untuk permohonan tersebut pada butir a) yang nilainya paling tinggi sesuai dengan yang ditetapkan dalam kontrak, paling lambat 7 (tujuh) hari kerja setelah jaminan uang muka diterima dari penyedia barang/jasa; c. Besarnya jaminan uang muka harus bernilai sekurang-kurangnya sama dengan jumlah uang muka yang diberikan; d. Jaminan uang muka harus diterbitkan oleh bank umum; e. Pengembalian uang muka diperhitungkan berangsur-angsur secara proporsional pada setiap pembayaran prestasi pekerjaan dan paling lambat harus lunas pada saat pekerjaan mencapai prestasi 100% (seratus persen); f. Untuk kontrak tahun jamak (multi years) nilai jaminan uang muka secara bertahap dapat dikurangi sesuai dengan pencapaian prestasi pekerjaan. 6. Pembayaran Prestasi Pekerjaan : a. Pembayaran prestasi hasil pekerjaan yang disepakati dilakukan oleh PPK, apabila penyedia barang/jasa telah mengajukan tagihan disertai laporan kemajuan hasil pekerjaan; b. PPK dalam kurun waktu 7 (tujuh) hari kerja harus sudah mengajukan surat permintaan pembayaran untuk pembayaran prestasi kerja.

Ayat 5 Huruf a Cukup jelas

Huruf b Dalam hal PPK menyetujui rencana penggunaan uang muka sebagaimana dimaksud butir a diatas.

Huruf c Cukup jelas

Huruf d Cukup jelas Huruf e Cukup jelas

Huruf f Cukup jelas

Ayat 6 a. Pembayaran prestasi hasil pekerjaan yang disepakati dapat dilakukan dengan sistem bulanan atau sistem termin yang didasarkan pada prestasi pekerjaan sebagaimana tertuang dalam dokumen kontrak; b. Pembayaran bulanan/termin harus dipotong uang retensi, angsuran uang muka, denda (jika ada), dan pajak; c. Untuk kontrak yang mempunyai subkontrak, permintaan pembayaran kepada PPK harus dilengkapi bukti pembayaran kepada seluruh subkontraktor sesuai dengan perkembangan (progress) pekerjaannya; Ayat 7 a. Perintah perubahan pekerjaan dibuat oleh PPK secara tertulis kepada penyedia barang/jasa, ditindaklanjuti dengan negosiasi

7. Perubahan Kegiatan Pekerjaan : a. Perubahan kegiatan pekerjaan hanya dapat dilakukan untuk kontrak harga satuan (unit price).

Draft Perpres - Page 60 of 85

b. Untuk kepentingan pemeriksaan pekerjaan, PPK dapat membentuk panitia/pejabat peneliti pelaksanaan kontrak; c. Apabila terdapat perbedaan yang mencolok (significant) antara kondisi lapangan pada saat pelaksanaan dengan gambar dan/atau spesifikasi yang ditentukan dalam dokumen kontrak, maka PPK bersama penyedia barang/jasa dapat melakukan perubahan kontrak yang meliputi antara lain : 1) Menambah atau mengurangi volume pekerjaan yang tercantum dalam kontrak; 2) mengurangi atau menambah jenis pekerjaan; 3) mengubah spesifikasi pekerjaan sesuai dengan kebutuhan lapangan; 4) melaksanakan pekerjaan tambah yang belum tercantum dalam kontrak yang diperlukan untuk menyelesaikan seluruh pekerjaan; 5) merubah jadwal pelaksanaan. d. Pekerjaan tambah tidak boleh melebihi 10% (sepuluh persen) dari harga yang tercantum dalam perjanjian/kontrak awal; 8. Denda dan Ganti Rugi a. Denda adalah sanksi finansial yang dikenakan kepada penyedia barang/jasa sedangkan ganti rugi adalah sanksi finansial yang dikenakan kepada PPK, karena terjadinya cidera janji yang tercantum dalam kontrak; b. Besarnya denda kepada penyedia barang/jasa atas keterlambatan penyelesaian pekerjaan adalah sekurang-kurangnya 1/1000 (satu perseribu) dari harga kontrak atau bagian kontrak untuk setiap hari keterlambatan dan tidak melampaui besarnya jaminan pelaksanaan; c. Besarnya ganti rugi yang dibayar oleh PPK atas keterlambatan pembayaran adalah sebesar bunga terhadap nilai tagihan yang terlambat dibayar, berdasarkan tingkat suku bunga yang berlaku pada saat itu menurut ketetapan Bank Indonesia, atau dapat diberikan kompensasi sesuai ketentuan dalam kontrak. 9. Penyesuaian Harga (Price Adjustment) a. Penyesuaian harga dapat diberlakukan terhadap kontrak tahun jamak (multi years contract) dengan kontrak harga satuan berdasarkan ketentuan dan persyaratan yang telah tercantum dengan tegas di dalam kontrak awal;

teknis dan harga dengan tetap mengacu pada ketentuanketentuan yang tercantum dalam perjanjian/kontrak awal; b. Hasil negosiasi tersebut dituangkan dalam berita acara sebagai dasar penyusunan adendum kontrak.

Ayat 8 Tata cara pembayaran denda dan/atau ganti rugi diatur di dalam kontrak.

Ayat 9 Cukup jelas

Draft Perpres - Page 61 of 85

b. Tata cara perhitungan penyesuaian harga harus dicantumkan dengan jelas di dalam kontrak awal; c. Penyesuaian harga tidak diberlakukan terhadap kontrak tahun tunggal (single year contract) kecuali dalam hal terjadi keadaan kahar (force majeure). Pasal 60 Keadaan Kahar (Force Majeure) 1. Keadaan kahar (force majeure) adalah suatu keadaan yang terjadi diluar kehendak para pihak sehingga kewajiban yang ditentukan dalam kontrak menjadi tidak dapat dipenuhi. 2. Yang digolongkan keadaan kahar adalah: a. Peperangan; b. Kerusuhan; c. Revolusi; d. Bencana alam: banjir,gempa bumi, tsunami, badai, gunung meletus, tanah longsor, wabah penyakit, dan angin topan; e. Pemogokan; f. Kebakaran; g. Gangguan industri lainnya yang dinyatakan melalui Keputusan Presiden. 3. Apabila terjadi keadaan kahar maka penyedia barang/jasa memberitahukan tentang terjadinya keadaan kahar tersebut kepada PPK secara tertulis dalam waktu selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kalender sejak terjadinya keadaah kahar dengan menyertakan pernyataan keadaan kahar dari pihak/instansi yang berwenang sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 4. Keadaan kahar tidak termasuk hal-hal yang merugikan yang disebabkan oleh perbuatan atau kelalaian para pihak. 5. Keterlambatan pelaksanaan pekerjaan yang diakibatkan oleh karena terjadinya keadaan kahar tidak dapat dikenai sanksi. 6. Siapa yang menanggung kerugian akibat terjadinya keadaan kahar, seandainya tidak diatur dalam kontrak, diserahkan kepada kesepakatan para pihak. 7. Tindakan yang diambil untuk mengatasi terjadinya keadaan kahar diserahkan kepada keepakatan para pihak dan dimuat dalam perubahan kontrak. Ayat 1 Cukup jelas

Ayat 2 Cukup jelas

Ayat 3 Cukup jelas

Ayat 4 Cukup jelas Ayat 5 Cukup jelas Ayat 6 Cukup jelas

Ayat 7 Cukup jelas

Draft Perpres - Page 62 of 85

Pasal 61 Pembayaran Uang Muka dan Prestasi Kerja 1. Uang muka dapat diberikan kepada penyedia barang/jasa dengan ketentuan sebagai berikut: a. Untuk usaha kecil setinggi-tingginya 30% (tiga puluh persen) dari nilai kontrak; b. Untuk usaha selain usaha kecil setinggitingginya 20% (dua puluh persen) dari nilai kontrak. 2. Besarnya uang muka untuk kontrak tahun jamak (multi years contract), maksimum 20% (dua puluh persen) dari kontrak tahun pertama atau 15% (lima belas persen) dari total nila kontrak. 3. Pembayaran prestasi pekerjaan dilakukan dengan sistem sertifikat bulanan atau sistem termin, dengan memperhitungkan angsuran uang muka dan kewajiban pajak. Ayat 1 Cukup jelas

Ayat 2 Cukup jelas

Ayat 3 Khusus untuk pekerjaan konstruksi, pembayaran hanya dapat dilakukan senilai pekerjaan yang telah terpasang, tidak termasuk bahanbahan, alat-alat yang ada di lapangan.

Pasal 62 Penghentian dan Pemutusan Kontrak 1. Penghentian kontrak dilakukan bilamana terjadi hal-hal di luar kekuasaan para pihak untuk melaksanakan kewajiban yang ditentukan dalam kontrak atau terjadi keadaan kahar (force majeur) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 57a ayat (2). 2. Pemutusan kontrak dapat dilakukan bilamana para pihak cidera janji dan/atau tidak memenuhi kewajiban dan tanggung jawabnya sebagaimana diatur di dalam kontrak. 3. Pemutusan kontrak yang disebabkan oleh kelalaian penyedia barang/jasa dikenakan sanksi sesuai yang ditetapkan dalam kontrak berupa: a. Jaminan pelaksanaan menjadi milik negara; b. Sisa uang muka harus dilunasi oleh penyedia barang/jasa; c. Membayar denda dan ganti rugi kepada negara; d. Pengenaan daftar hitam untuk jangka waktu tertentu. 4. PPK dapat memutuskan kontrak secara sepihak apabila denda keterlambatan pelaksanaan pekerjaan akibat kesalahan penyedia barang/jasa sudah melampaui besarnya jaminan pelaksanaan. 5. Pemutusan kontrak yang disebabkan oleh kesalahan PPK, dikenakan sanksi berupa kewajiban mengganti kerugian yang menimpa penyedia barang/jasa sesuai yang ditetapkan Ayat 1 Cukup jelas

Ayat 2 Cukup jelas

Ayat 3 Cukup jelas

Ayat 4 Cukup jelas

Ayat 5 Apabila PPK terbukti melakukan kolusi, kecurangan, atau tindakan korupsi baik dalam proses pemilihan

Draft Perpres - Page 63 of 85

dalam kontrak dan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

peraturan

penyedia barang/jasa maupun pelaksanaan pekerjaan, maka PPK dikenakan sanksi berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil atau ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Ayat 6 Cukup jelas

6. Kontrak batal demi hukum apabila isi kontrak melanggar ketentuan perundang-undangan yang berlaku. 7. Kontrak dibatalkan apabila para pihak terbukti melakukan KKN, kecurangan, dan pemalsuan dalam proses pengadaan maupun pelaksanaan kontrak. Pasal 63 Sanksi 1. Bila terjadi keterlambatan penyelesaian pekerjaan akibat dari kelalaian penyedia barang/jasa, sebagaimana diatur dalam kontrak, maka penyedia barang/jasa yang bersangkutan dikenakan denda keterlambatan sekurangkurangnya 1/1000 (satu perseribu) per hari kalender dari nilai kontrak.

Ayat 7 Cukup jelas

Ayat 1 Besarnya denda keterlambatan tidak dibatasi dan PPK dapat memutuskan kontrak apabila denda keterlambatan sudah melampaui nilai jaminan pelaksanaan. Penyedia barang/jasa tidak dapat menuntut kerugian atas pemutusan kontrak tersebut. Ayat 2 Cukup jelas

2. Bila terjadi keterlambatan pekerjaan/pembayaran karena semata-mata kesalahan atau kelalaian PPK, maka PPK membayar kerugian yang ditanggung penyedia barang/jasa akibat keterlambatan dimaksud, yang besarnya ditetapkan dalam kontrak sesuai ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku. 3. Konsultan perencana yang tidak cermat dan mengakibatkan kerugian PPK dikenakan sanksi berupa keharusan menyusun kembali perencanaan dengan beban biaya dari konsultan yang bersangkutan, dan/atau tuntutan ganti rugi.

Ayat 3 Cukup jelas

Pasal 64 Penyelesaian Perselisihan 1. Bila terjadi perselisihan antara PPK dan penyedia barang/jasa maka kedua belah pihak menyelesaikan perselisihan di Indonesia dengan cara musyawarah, mediasi, konsiliasi, arbitrase, atau melalui pengadilan, sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan dalam kontrak menurut hukum yang berlaku di Indonesia. Ayat (1) Arbitrase atau perwasitan adalah cara penyelesaian suatu sengketa diluar peradilan umum yang didasarkan pada perjanjian arbitrase yang dibuat secara tertulis oleh para pihak yang bersengketa. Perjanjian arbitrase (arbitrarian agreement) adalah suatu kesepakatan berupa klausul arbitrase yang tercantum dalam suatu perjanjian

Draft Perpres - Page 64 of 85

tertulis yang dibuat para pihak sebelum timbul sengketa, atau suatu perjanjian arbitrase tersendiri yang dibuat para pihak setelah timbul sengketa. Klausul Arbitrase adalah suatu klausul dalam perjanjian yang menyatakan bahwa kedua belah pihak sepakat untuk menyelesaikan sengketa diantara mereka yang mungkin timbul di masa depan menyangkut hubungan hukum mereka ke forum arbitrase. Arbiter/wasit adalah seorang atau lebih yang dipilih oleh para pihak yang bersengketa atau yang ditunjuk oleh Pengadilan Negeri atau oleh lembaga arbitrase, untuk memberikan putusan mengenai sengketa tertentu yang diserahkan penyelesaiannya melalui arbitrase. Musyawarah adalah metode penyelesaian sengketa melalui perundingan dan persetujuan yang mengikat kedua belah pihak diluar arbitrase maupun pengadilan. Mediasi adalah metode penyelesaian sengketa yang diselesaikan oleh suatu panitia pendamai yang berfungsi sebagai wasit dibentuk dan diangkat oleh kedua belah pihak yang terdiri dari anggota mewakili pihak pertama dan pihak kedua dan ketua yang disetujui oleh kedua belah pihak. Keputusan panitia pendamai mengikat kedua belah pihak dan biaya penyelesaian perselisihan yang dikeluarkan ditanggung secara bersama. Penyelesaian pengadilan adalah metode penyelesaian sengketa yang timbul dari hubungan hukum mereka yang diputuskan oleh pengadilan. Keputusan pengadilan mengikat kedua belah pihak. 2. Keputusan dari hasil penyelesaian perselisihan dengan memilih salah satu cara tersebut di atas adalah mengikat dan segala biaya yang timbul untuk menyelesaikan perselisihan tersebut dipikul oleh para pihak sebagaimana diatur dalam kontrak. Ayat 2 Biaya yang diakibatkan penyelesaian perselisihan yang merupakan tanggung jawab kepala kantor / satuan kerja / pemimpin K/L/D/I dan dibebankan pada kegiatan yang bersangkutan.

Draft Perpres - Page 65 of 85

Pasal 65 Serah Terima Pekerjaan 1. Setelah pekerjaan selesai 100% (seratus persen) sesuai dengan ketentuan yang tertuang dalam kontrak, penyedia barang/jasa mengajukan permintaan secara tertulis kepada PPK untuk penyerahan pekerjaan. 2. PPK melakukan penilaian terhadap hasil pekerjaan yang telah diselesaikan, baik secara sebagian atau seluruh pekerjaan, dan menugaskan penyedia barang/jasa untuk memperbaiki dan/atau melengkapi kekurangan pekerjaan sebagaimana yang disyaratkan dalam kontrak. 3. PPK menerima penyerahan pekerjaan setelah seluruh hasil pekerjaan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan kontrak. 4. Penyedia barang/jasa wajib melakukan pemeliharaan atas hasil pekerjaan selama masa yang ditetapkan dalam kontrak, sehingga kondisinya tetap seperti pada saat penyerahan pekerjaan dan dapat memperoleh pembayaran uang retensi dengan menyerahkan jaminan pemeliharaan. 5. Masa pemeliharaan minimal untuk pekerjaan permanen 6 (enam) bulan, untuk pekerjaan semi permanen 3 (tiga) bulan, dan masa pemeliharaan dapat melampaui tahun anggaran. Ayat 1 Cukup jelas

Ayat 2 Cukup jelas

Ayat 3 Cukup jelas

Ayat 4 Masa pemeliharaan pekerjaan harus diberikan waktu yang cukup, dengan memperhatikan sifat, jenis dari pekerjaannya.

Ayat 5 Yang dimaksud dengan pekerjaan permanen adalah pekerjaan yang umur rencananya lebih dari 1 (satu) tahun. Yang dimaksud dengan pekerjaan semi permanen adalah pekerjaan yang umur rencananya kurang dari 1 (satu) tahun. Ayat 6 Cukup jelas

6. Setelah masa pemeliharaan berakhir, PPK mengembalikan jaminan pemeliharaan kepada penyedia barang/jasa.

BAB IX SANGGAHAN, DAN PENGADUAN Pasal 66 Sanggahan 1. Peserta pemilihan penyedia barang/jasa yang merasa dirugikan, baik secara sendiri maupun bersama-sama dengan peserta lainnya dapat mengajukan sanggah apabila menemukan: a. penyimpangan terhadap ketentuan dan prosedur sebagaimana yang diatur dalam Peraturan Presiden ini dan yang telah ditetapkan dalam dokumen pengadaan barang/jasa; Ayat 1 Huruf a Yang dimaksud dengan penyimpangan terhadap ketentuan dan prosedur adalah: 1. tidak memenuhi persyaratan; 2. tidak mengikuti prosedur tata urut proses.

Draft Perpres - Page 66 of 85

b. adanya rekayasa tertentu sehingga mengakibatkan terjadinya persaingan yang tidak sehat;

Huruf b Yang dimaksud rekayasa tertentu adalah upaya yang dilakukan yang dapat mengakibatkan persaingan yang tidak sehat, misalkan; 1. penyusunan spesifikasi yang mengarah kepada produk tertentu; 2. Kriteria penilaian evaluasi yang tidak rinci (detail) sehingga dapat mengakibatkan penilaian yang tidak adil dan transparan. 3. Penambahan persyaratan lainnya yang diluar ketentuan yang diatur dalam Perpres. Huruf c Yang dimaksud dengan adanya penyalahgunaan wewenang adalah tindakan yang sengaja dilakukan diluar kewenangan terkait proses pengadaan. Yang dimaksud dengan pejabat berwenang lainnya adalah PPK, PA/KPA, Kepala Daerah, dan pihak lainnya. Angka 2 Cukup jelas

c. adanya penyalahgunaan wewenang oleh panitia/pejabat pengadaan/ULP dan/atau pejabat yang berwenang lainnya;

2. Surat sanggahan disampaikan kepada pejabat pengadaan/ULP dan ditembuskan kepada PPK, PA/KPA dan Inspektorat selambat-lambatnya 5 (lima) hari kerja setelah pengumuman calon pemenang . 3. Panitia pengadaan/ULP wajib memberikan keputusan atas sanggahan selambat-lambatnya 5 (lima) hari kerja setelah surat sanggahan diterima

Angka 3 Cukup jelas

Pasal 67 Sanggahan Banding 1. Penyedia barang/jasa yang tidak sependapat dengan jawaban sanggahan dari Panitia pengadaan/ULP dapat mengajukan sanggahan banding kepada Inspektorat dengan tembusan kepada PPK, Panitia Pengadaan/ULP, PA/KPA dan LKPP. Ayat 1. a) Yang dimaksud Inspektorat untuk Kementerian/Lembaga adalah Inspektorat Jenderal b) Yang dimaksud Inspektorat untuk SKPD adalah Inspektorat Provinsi/Kabupaten/Kota c) Yang dimaksud Inspektorat untuk Lembaga Lainnya adalah Inspektorat Utama atau Unit kerja yang ditugaskan untuk menjalankan fungsi inspektorat. d) Yang dimaksud Inspektorat untuk BUMN/BUMD/Badan Hukum lainnya adalah SPI

Draft Perpres - Page 67 of 85

2. Jaminan banding oleh penyanggah ditetapkan 0 sebesar 2 /00 (dua per seribu) dari nilai HPS atau setinggi-tingginya sebesar Rp50.000.000 (lima puluh juta rupiah), dengan masa berlaku 15 (lima belas) hari kerja

Ayat 2. Jaminan banding berupa jaminan bank diserahkan kepada PPK dan dapat diambil kembali apabila sanggah banding dinyatakan benar atau setelah 15 (lima belas) hari kerja tidak mendapat jawaban dari Inspektorat. Persyaratan jaminan banding sebagaimana ketentuan jaminan pelaksanaan. Ayat 3 Cukup jelas Ayat 4 Apabila dalam waktu 15 (lima belas) hari kerja tidak ada jawaban sanggahan banding, maka sanggahan banding dinyatakan benar dan jaminan dikembalikan Ayat 5. Cukup jelas

3. Sanggahan pengadaan.

banding

menghentikan

proses

4. Inspektorat memberikan tanggapan atas sanggahan banding selambat-lambatnya 15 (lima belas) hari kerja setelah surat sanggahan banding diterima dengan tembusan kepada pihak yang menyampaikan keberatan. Dalam memberikan tanggapan, Inspektorat dapat meminta rekomendasi dari LKPP. 5. Apabila sanggah banding dinyatakan benar, Inspektorat melaporkan kepada PA/KPA dan merekomendasikan agar panitia pengadaan/ULP melakukan evaluasi ulang atau pemilihan ulang. 6. Apabila sanggah banding dinyatakan salah, Inspektorat melaporkan kepada PA/KPA dan merekomendasikan agar panitia pengadaan/ULP melanjutkan proses pelelangan. 7. Apabila sanggah banding dinyatakan benar, jaminan banding dikembalikan kepada penyanggah dan apabila dinyatakan salah, maka jaminan banding disita dan disetorkan ke kas Negara/daerah Pasal 68 Pengaduan 1. Barang siapa yang memiliki informasi mengenai penyimpangan prosedur atau indikasi Korupsi, Kolusi, Nepotisme (KKN) terkait dengan pengadaan barang/jasa pemerintah wajib melaporkan kepada Inspektorat atau LKPP.

Ayat 6. Cukup jelas

Ayat 7. Cukup jelas

Ayat 1 Berdasarkan UU No. 31 Tahun 1999 jo. UU No. 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Korupsi yang dirumuskan dalam 30 bentuk/jenis tindak pidana korupsi dan pada dasarnya dapat dikelompokan sebagai berikut : 1. Merugikan keuangan negara, 2. Suap-menyuap 3. Penggelapan dalam jabatan 4. Pemerasan 5. Perbuatan curang 6. Benturan kepentingan dalam pengadaan 7. Gratifikasi

Draft Perpres - Page 68 of 85

2. Pihak pengadu dalam menyampaikan pengaduan harus menyebutkan penyimpangan yang terjadi disertai bukti yang kuat terkait dengan penyimpangan proses pengadaan barang/jasa.

Ayat 2 Cukup jelas

Pasal 69 Tindak Lanjut Pengaduan 1. Setiap pengaduan sebagaimana dimaksud pada Pasal 67 harus ditindaklanjuti. 2. Dalam memberikan tanggapan atas pengaduan kepada pelaku pengaduan perlu melakukan penelitian terkait dengan kasus yang diadukan. Tanggapan tersebut ditembuskan kepada PA/KPA. 3. Apabila pengaduan atas indikasi KKN terbukti, Inspektorat atau LKPP wajib melaporkan kepada aparat hukum berwenang. Ayat 1 Cukup jelas Ayat 2 Cukup jelas

Ayat 3 Cukup jelas

BAB X KETENTUAN KHUSUS Bagian Pertama Penggunaan Barang/Jasa Produksi Dalam Negeri Paragraf Pertama Pengadaan Barang/Jasa yang Dibiayai dengan APBN/APBD Murni Pasal 70 1. K/L/D/I wajib: a. memaksimalkan penggunaan barang/jasa hasil produksi dalam negeri, termasuk rancang bangun dan perekayasaan nasional dalam pengadaan barang/jasa; b. memaksimalkan penggunaan penyedia barang/jasa nasional; c. memaksimalkan penyediaan paket-paket pekerjaan untuk usaha kecil termasuk koperasi kecil serta kelompok masyarakat. 2. Kewajiban K/L/D/I sebagaimana disebutkan dalam ayat (1) dilakukan pada setiap tahapan pengadaan barang/jasa mulai dari persiapan sampai dengan penyelesaian perjanjian/kontrak. 3. Dalam perjanjian/kontrak wajib mencantumkan persyaratan penggunaan: a. Standar Nasional Indonesia (SNI) atau standar lain yang berlaku dan/atau standar internasional yang setara yang ditetapkan oleh instansi terkait yang berwenang; Ayat 1 Cukup jelas

Ayat 2 Cukup jelas

Ayat 3 Huruf a Yang dimaksud dengan instansi terkait yang berwenang antara lain: 1) Departemen Pertahanan/TNI untuk standar peralatan/perlengkapan militer;

Draft Perpres - Page 69 of 85

2) Departemen/Lembaga lainnya sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya. b. c. produksi dalam negeri sesuai dengan kemampuan industri nasional; tenaga ahli dan/atau penyedia barang/jasa dalam negeri. Ayat 4 Cukup jelas

4. Upaya pendayagunaan produksi dalam negeri pada proses pengadaan barang/jasa dilakukan sebagai berikut : a. Ketentuan dan syarat penggunaan hasil produksi dalam negeri dimuat dalam Dokumen Pengadaan dan dijelaskan kepada semua peserta. b. Dalam proses pengadaan barang/jasa harus diteliti sebaik-baiknya agar benar-benar merupakan hasil produksi dalam negeri dan bukan barang/jasa impor yang dijual di dalam negeri. c. Apabila sebagian bahan untuk menghasilkan barang/jasa produksi dalam negeri berasal dari impor, dipilih barang/jasa yang memiliki komponen dalam negeri paling besar. Dalam mempersiapkan pengadaan barang/jasa, sedapat mungkin digunakan standar nasional dan memperhatikan kemampuan atau potensi nasional. 5. Dalam pelaksanaan pengadaan barang/jasa diupayakan agar penyedia barang/jasa dalam negeri bertindak sebagai penyedia barang/jasa utama, sedangkan penyedia barang/jasa asing dapat berperan sebagai sub-penyedia barang/jasa sesuai dengan kebutuhan. 6. Apabila sifat dan lingkup kegiatan pengadaan barang/jasa terlalu besar, atau jenis keahlian yang diperlukan untuk menyelesaikan kegiatan tidak dapat dilakukan oleh satu penyedia barang/jasa, maka dalam pelaksanaan pengadaan barang /jasa: a. Diberikan kesempatan yang memungkinkan para penyedia barang/jasa saling bergabung dalam suatu konsorsium atau bentuk kerja sama lain. b. Diberikan kesempatan yang memungkinkan penyedia barang/jasa, atau konsorsium penyedia barang/jasa untuk menggunakan tenaga ahli asing sepanjang hal itu diperlukan untuk mencukupi kebutuhan jenis keahlian yang benar-benar belum dimiliki, dan benarbenar untuk meningkatkan kemampuan teknis guna menangani kegiatan atau pekerjaan. 7. Penggunaan tenaga ahli asing yang keahliannya belum dapat diperoleh di Indonesia, harus disusun berdasarkan keperluan yang nyata dan

Ayat 5 Cukup jelas

Ayat 6 Cukup jelas

Ayat 7 Cukup jelas

Draft Perpres - Page 70 of 85

diusahakan secara terencana untuk semaksimal mungkin terjadinya alih pengalaman/keahlian ke tenaga Indonesia. 8. Apabila pengadaan tersebut menyangkut barang/jasa yang terdiri atas bagian atau komponen dalam negeri dan bagian atau komponen yang masih harus diimpor, maka harus dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut: a. Pemilahan atau pembagian komponen harus benar-benar mencerminkan bagian atau komponen yang telah dapat diproduksi di dalam negeri dan bagian atau komponen yang masih harus diimpor. b. Pekerjaan pemasangan, pabrikasi, pengujian, dan lainnya sejauh mungkin dilakukan di dalam negeri. c. Dalam rangka pengadaan barang yang terdiri atas bagian/komponen produksi dalam negeri dan impor, peserta pengadaan diwajibkan membuat daftar barang yang diimpor, dan melampirkan pada penawarannya. Daftar barang tersebut dilengkapi dengan spesifikasi teknis, jumlah, dan harganya. 9. Pengadaan barang impor dapat dimungkinkan bilamana: a. Barang tersebut belum diproduksi di dalam negeri; dan/atau b. Spesifikasi teknis barang yang diproduksi di dalam negeri belum memenuhi persyaratan. 10. Untuk pertimbangan efisiensi, kualitas, dan kemudahan pelayanan purna jual, Prinsipal luar negeri harus mempunyai agen resmi pemegang merek yang ditunjuk dan berkantor di Indonesia. 11. Penyedia barang/jasa yang melaksanakan pengadaan barang/jasa yang diimpor langsung diwajibkan untuk semaksimal mungkin menggunakan jasa pelayanan yang ada di dalam negeri, seperti jasa asuransi, angkutan, ekspedisi, perbankan, dan pemeliharaan. Ayat 8 Cukup jelas

Ayat 9 Pengadaan barang impor harus dilengkapi dengan : a. Sertifikat keaslian (Cerficate of origin) b. Surat Dukungan pabrikan/prinsipal (Supporting letter) Ayat 10 Cukup jelas

Ayat 11 Cukup jelas

Paragraf Kedua Peran Serta dan Pemaketan Pekerjaan untuk Usaha Mikro, Usaha Kecil termasuk Koperasi Pasal 71 1. Dalam proses perencanaan dan penganggaran proyek/kegiatan, instansi pemerintah mengarahkan dan menetapkan besaran pengadaan barang/jasa untuk usaha mikro, usaha kecil, termasuk koperasi. 2. Nilai paket pekerjaan pengadaan barang / Pekerjaan Pekerjaan konstruksi / jasa lainnya sampai dengan Rp 1.000.000.000,00 (satu milyar Ayat 1 Cukup jelas

Ayat 2 Cukup jelas

Draft Perpres - Page 71 of 85

rupiah) diperuntukkan bagi usaha mikro, usaha kecil, termasuk koperasi, kecuali untuk paket pekerjaan yang menuntut kompetensi teknis yang tidak dapat dipenuhi oleh usaha kecil termasuk koperasi. 3. Kementerian yang membidangi koperasi, pengusaha kecil, dan menengah mengkoordinasikan pemberdayaan usaha kecil termasuk koperasi kecil dalam pengadaan barang/jasa pemerintah. Pasal 72 1. Perluasan Peluang Usaha Mikro, Usaha Kecil Termasuk Koperasi Untuk meningkatkan pemberdayaan usaha kecil termasuk koperasi dalam rangka pengadaan barang/jasa instansi pemerintah, ditetapkan sebagai berikut: a. Setiap awal tahun anggaran, PA/KPA atau pejabat berwenang lainnya wajib membuat rencana pengadaan barang/jasa sesuai dengan keperluannya berdasarkan dana yang tersedia dan agar sebanyak mungkin menyediakan paket-paket pekerjaan bagi usaha mikro, usaha kecil termasuk koperasi, selanjutnya segera melaporkan kepada pimpinan instansinya, dan ditembuskan kepada instansi yang membidangi usaha kecil termasuk koperasi di setiap kabupaten/kota; b. Instansi yang membidangi usaha kecil di setiap kabupaten/kota wajib menghimpun laporan rencana pengadaan barang/jasa instansi pemerintah di wilayahnya dan menyusun direktori peluang bagi usaha kecil termasuk koperasi kecil, serta memantau pelaksanaannya berdasarkan pedoman teknis dari Menteri yang membidangi Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah; c. Apabila PPK mengikat kontrak dengan penyedia barang/jasa bukan usaha kecil, maka di dalam kontrak agar dicantumkan klausul tentang: “Kepada penyedia barang/jasa bukan usaha kecil yang terbukti menyalahgunakan fasilitas dan kesempatan yang diperuntukkan bagi usaha kecil termasuk koperasi kecil sebagaimana diatur dalam UU ini sudah diubah menjadi No. 20 Tahun 2008 maka yang bersangkutan dikenakan sanksi sebagaimana termaktub dalam undangundang tersebut. 2. Pembinaan a. PA/KPA agar membebaskan segala bentuk pungutan biaya yang berkaitan dengan perizinan usaha, registrasi usaha kecil termasuk koperasi kecil, serta pungutan lain dalam pengadaan barang/jasa instansi Cukup jelas Ayat 3 Cukup jelas

Draft Perpres - Page 72 of 85

pemerintah kepada usaha kecil termasuk koperasi kecil di wilayahnya. b. PA/KPA bertanggung jawab atas pengendalian pelaksanaan pengadaan barang/jasa termasuk upaya peningkatan pelaksanaan kemitraan antara usaha besar, menengah, dan usaha kecil termasuk koperasi kecil di lingkungan instansinya. 3. Usaha kecil termasuk koperasi kecil yang ditetapkan sebagai penyedia barang/jasa (pemenang pengadaan barang/jasa) dilarang mengalihkan pelaksanaan pekerjaan kepada pihak lain dengan alasan apapun. Paragraf Ketiga Komponen Dalam Negeri Barang/Jasa Pasal 73 1. Jenis Komponen Dalam Negeri Barang/Jasa a. Komponen dalam negeri untuk barang adalah penggunaan bahan baku, rancang bangun, dan rekayasa dalam negeri yang mengandung unsur manufaktur, pabrikasi, perakitan, dan penyelesaian pekerjaan. b. Komponen dalam negeri untuk jasa adalah jasa yang dilakukan di dalam negeri dengan menggunakan tenaga ahli dan perangkat lunak dari dalam negeri. c. Komponen dalam negeri untuk gabungan barang dan jasa adalah penggabungan antara butir 1) dan butir 2). 2. Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) Barang/Jasa a. Tingkat komponen dalam negeri untuk barang adalah perbandingan antara harga barang jadi dikurangi harga komponen luar negeri terhadap harga barang jadi. b. Tingkat komponen dalam negeri untuk jasa adalah perbandingan antara harga jasa yang diperlukan dikurangi harga komponen jasa luar negeri terhadap harga seluruh jasa yang diperlukan. c. Tingkat komponen dalam negeri untuk gabungan barang dan jasa adalah penggabungan antara butir a dan b dalam satu paket kontrak. 3. Pernyataan Penggunaan Komponen Dalam Negeri a. Para penyedia barang/jasa yang mengikuti pengadaan barang/jasa menyatakan sendiri besarnya komponen dalam negeri barang/jasa yang ditawarkan (self assesment). b. Para penyedia barang/jasa harus dapat membuktikan kebenaran pernyataan besarnya komponen dalam negeri barang/jasa dan melampirkan rincian dan nilai bahan baku/bahan penolong, baik dari dalam negeri Cukup jelas

Draft Perpres - Page 73 of 85

maupun impor, nilai barang jadi keseluruhan serta daftar nama pemasok. c. Besarnya komponen dalam negeri barang/jasa yang ditawarkan oleh penyedia barang/jasa dapat diklarifikasikan oleh panitia pada saat evaluasi. Jika dilakukan klarifikasi, hasil klarifikasi tersebut dijadikan dasar untuk menghitung preferensi. d. Formulir yang berkaitan dengan cara perhitungan tingkat komponen dalam negeri barang/jasa, sesuai ketentuan dari instansi yang berwenang dicantumkan dalam dokumen pengadaan. e. Dalam setiap kontrak dilampirkan rincian barang/jasa dilengkapi dengan spesifikasi teknis dan besarnya komponen dalam negeri. Bagian Kedua Pengadaan Barang/Jasa yang Dibiayai dengan Dana Pinjaman/Hibah Luar Negeri Pasal 74 1. Pengadaan barang/jasa yang dilaksanakan melalui pelelangan internasional agar mengikutsertakan penyedia barang/jasa nasional seluas-luasnya. 2. Dokumen pengadaan barang/jasa melalui pelelangan internasional ditulis dalam dua bahasa, yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, dimana apabila terjadi penafsiran arti yang berbeda maka dokumen yang berbahasa Indonesia dijadikan acuan. 3. Pengadaan barang/jasa yang dibiayai dengan pinjaman kredit ekspor atau kredit lainnya harus dilakukan dengan persaingan sehat dengan persyaratan yang paling menguntungkan negara, dari segi harga dan teknis, dengan memaksimalkan penggunaan komponen dalam negeri dan penyedia barang/jasa nasional. 4. Pemilihan penyedia barang/jasa yang dibiayai dengan pinjaman kredit ekspor atau kredit lainnya harus dilakukan di dalam negeri. 5. Apabila pinjaman kredit ekspor atau hibah luar negeri disertai dengan syarat bahwa pelaksanaan pengadaan barang/jasa hanya dapat dilakukan di negara pemberi pinjaman kredit ekspor/hibah, agar tetap diupayakan semaksimal mungkin penggunaan barang/jasa hasil produksi dalam negeri dan mengikutsertakan penyedia barang/jasa nasional. Pasal 75 1. Dalam kegiatan perencanaan dan perumusan perjanjian/kerjasama/pinjaman, KAK/dokumen pelelangan dan dokumen kontrak perlu memperhatikan penggunaan spesifikasi, Cukup jelas Cukup jelas

Draft Perpres - Page 74 of 85

kualifikasi, dan standar nasional, serta kemampuan/potensi nasional yang diatur sebagai berikut: a. Dalam tahap perumusan dan negosiasi Naskah Pinjaman Luar Negeri (NPLN) sedapat mungkin memasukkan persyaratan pengadaan dan evaluasi yang berkaitan dengan penggunaan produksi dalam negeri; b. Dalam tahap studi dan rancang bangun proyek (design and engineering) telah diperhitungkan adanya produksi dalam negeri dengan memperhatikan kemampuan/potensi nasional dan standar nasional; c. Dalam pembuatan harga perhitungan sendiri harus diperhitungkan penggunaan produksi dalam negeri. 2. Dalam dokumen pengadaan/KAK mencantumkan syarat semaksimal mungkin menggunakan barang/jasa produksi dalam negeri. 3. Dalam menetapkan kriteria dan tata cara evaluasi agar secara jelas mencantumkan rumusan peran serta penyedia barang/jasa nasional, preferensi harga yang ditetapkan, dan menjelaskan kepada semua peserta pengadaan. 4. Dalam tahap penyusunan kontrak perlu diteliti dan dicantumkan kewajiban penggunaan produksi dalam negeri sesuai dengan penawaran peserta yang bersangkutan serta sanksi bila yang bersangkutan tidak memenuhinya. 5. Apabila suatu pekerjaan harus dilaksanakan oleh penyedia barang/jasa asing, dalam dokumen pengadaan agar disyaratkan : a. Adanya kerjasama antara penyedia barang/jasa asing dengan penyedia barang/jasa dalam negeri. b. Adanya ketentuan yang jelas dan tegas dalam perjanjian kerjasama tersebut mengenai cara pelaksanaan pengalihan kemampuan, pengetahuan, keahlian, dan keterampilan. c. Seluruh proses pengadaan sedapat mungkin dilaksanakan di wilayah Indonesia. Pasal 76 1. PPK yang melaksanakan pekerjaan yang dibiayai sebagian atau seluruhnya dengan pinjaman, wajib memahami isi semua dokumen penyiapan, penilaian dan pelaksanaan proyek, serta Naskah Perjanjian Luar Negeri (NPLN) atau dokumen kesepahaman (Memorandum of Understanding) dan ketentuan-ketentuan pelaksanaan proyek Pengadaan barang/jasa dilakukan setelah NPLN disepakati pemerintah RI dan pemberi pinjaman/hibah. Cukup jelas

Draft Perpres - Page 75 of 85

Kredit Ekspor dan Kerjasama Perdagangan : a. Pengadaan barang/jasa yang akan dibiayai dengan kredit ekspor harus dilakukan melalui cara pelelangan internasional. b. Pengadaan barang/jasa yang dibiayai sebagian atau seluruhnya dari kredit ekspor harus merupakan proyek prioritas yang tercantum dalam Daftar Rencana Pinjaman/Hibah Luar Negeri (DRPHLN) yang diterbitkan Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan baru dapat dilaksanakan setelah alokasi pembiayaan kredit ekspor disetujui Menteri Koordinator Bidang Perekonomian. c. Pembiayaan yang diperlukan untuk pembelanjaan lokal (local expenditure) yang tidak dibiayai kredit ekspor harus dijamin ketersediaan dana pendampingnya oleh instansi pelaksana proyek. d. Peserta pelelangan internasional memasukan penawaran administratif, teknis, harga dan penawaran sumber pendanaannya yang persyaratannya sesuai dengan ketentuan Overseas Economic Cooperation for Development (OECD) menyangkut antara lain : jenis proyek yang memenuhi syarat untuk memperoleh pendanaan dari kredit ekspor maupun trade-related aid; jangka waktu pengembalian maksimum yang dapat diberikan; besarnya insurance premium; interest rate; dan sebagainya. 2. Dalam rangka memperlancar komunikasi dengan pemberi pinjaman/hibah (lender/donor), terutama proyek-proyek pinjaman yang pelaksanaannya tersebar di beberapa propinsi, instansi penanggung jawab (executing agency) di tingkat pusat dapat membentuk unit manajemen dan monitoring pelaksanaan proyek yang membantu PPK dengan tanpa mengurangi tanggung jawab dan wewenangnya sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden ini. Bagian Ketiga Keikutsertaan Perusahaan Asing Pasal 77 1. Perusahaan asing dapat ikut serta di dalam pengadaan barang/jasa dengan nilai tertentu sebagai berikut: a. Untuk Pekerjaan Pekerjaan konstruksi di atas Rp50.000.000.000,00 (lima puluh miliar rupiah); b. Untuk barang/jasa lainnya di atas Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah); Cukup jelas

Draft Perpres - Page 76 of 85

c.

Untuk jasa konsultansi di atas Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).

2. Perusahaan asing yang melaksanakan pekerjaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus melakukan kerjasama usaha dengan perusahaan nasional dalam bentuk kemitraan, subkontrak, dan lain-lain, apabila ada perusahaan nasional yang memiliki kemampuan di bidang yang bersangkutan. 3. Ketentuan ayat (1) dan ayat (2) pada pasal ini dapat dikecualikan untuk pengadaan material dan peralatan pertahanan di lingkungan Departemen Pertahanan/TNI yang ditetapkan oleh Menteri Pertahanan / Panglima TNI / Kepala Staf Angkatan. 4. Ketentuan ayat (1) dan ayat (2) pada pasal ini dapat dikecualikan untuk pengadaan material dan peralatan keamanan di lingkungan Kepolisian yang ditetapkan oleh Kepala Kepolisian RI. Bagian Keempat Preferensi Harga Pasal 78 1. Dalam dokumen pengadaan diwajibkan memberikan preferensi harga untuk barang produksi dalam negeri, dan penyedia Pekerjaan Pekerjaan konstruksi nasional. Ayat 1 Pemberian preferensi harga tidak mengubah harga penawaran dan hanya dipergunakan Panitia pengadaan untuk keperluan evaluasi penawaran. Ayat 2 Cukup jelas

2. Untuk pengadaan barang/jasa internasional yang dibiayai dengan pinjaman luar negeri, besarnya preferensi harga untuk barang produksi dalam negeri setinggi-tingginya 10% (sepuluh persen) di atas harga penawaran barang impor, tidak termasuk bea masuk. 3. Besarnya preferensi harga untuk pekerjaan pekerjaan konstruksi yang dikerjakan oleh kontraktor nasional adalah 5% (lima persen) di atas harga penawaran terendah dari kontraktor asing. Preferensi Harga a. Besarnya preferensi terhadap komponen dalam negeri barang/jasa adalah tingkat komponen dalam negeri dikalikan preferensi harga. b. Preferensi harga diperhitungkan dalam evaluasi harga penawaran yang telah memenuhi persyaratan administrasi dan teknis, termasuk koreksi aritmatik.

Ayat 3 Cukup jelas

Draft Perpres - Page 77 of 85

c. Perhitungan Harga Evaluasi Akhir (HEA):

 100  HEA =   × HP  100 + KP 
Keterangan : HEA = Harga Evaluasi Akhir KP = Koefisien Preferensi (Tingkat komponen dalam negeri (TKDN) dikali Preferensi) HP = Harga Penawaran (Harga penawaran yang memenuhi persyaratan lelang dan telah dievaluasi) Catatan: apabila ada dua atau lebih penawaran dengan HEA yang sama maka penawar dengan tingkat komponen dalam negeri terbesar adalah sebagai pemenang. Bagian Kelima Pengawasan Penggunaan Produksi Dalam Negeri Pasal 79 1. Aparat pengawasan fungsional pemerintah melakukan pemeriksaan terhadap pemenuhan penggunaan produksi dalam negeri dalam pengadaan barang/jasa untuk keperluan instansinya masing-masing, dan segera melakukan langkah serta tindakan yang bersifat kuratif/perbaikan bilamana terjadi ketidaksesuaian dalam penggunaan produksi dalam negeri, termasuk audit teknis (technical audit) berdasarkan dokumen pengadaan dan kontrak pengadaan barang/jasa yang bersangkutan. Sanksi Bila hasil pemeriksaan sebagaimana tersebut di atas menyatakan adanya ketidaksesuaian dalam penggunaan barang/jasa produksi dalam negeri, maka dikenakan sanksi finansial dan atau administrasi berdasarkan ketentuan dalam kontrak. a. Sanksi bagi penyedia barang/jasa 1) Sanksi administrasi Sanksi administrasi diberikan kepada penyedia barang/jasa yang bersangkutan dalam bentuk peringatan tertulis dan bilamana terbukti dengan sengaja memalsukan data komponen dalam negeri, maka penyedia barang/jasa yang bersangkutan dikenakan sanksi antara lain dimasukkan dalam daftar hitam (black list); 2) Sanksi finansial Sanksi perubahan tingkat komponen dalam negeri tidak mengubah peringkat pemenang. Besarnya sanksi adalah selisih perhitungan normalisasi harga yang dimenangkan dengan normalisasi harga atas tingkat komponen dalam negeri yang sebenarnya. Ayat 1 Cukup jelas

2.

Ayat 2 Cukup jelas

Draft Perpres - Page 78 of 85

b. Sanksi perubahan tingkat komponen dalam negeri yang mengubah peringkat pemenang. Besarnya sanksi adalah selisih nilai penawaran yang dimenangkan dengan penawaran terbaik yang dikalahkan ditambah selisih perhitungan normalisasi harga yang dimenangkan dengan normalisasi harga atas tingkat komponen dalam negeri yang sebenarnya. c. Sanksi bagi PPK PPK yang menyimpang dari ketentuan ini dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Bagian Keenam Konsep Ramah Lingkungan Pasal 80 1. Konsep ramah lingkungan dalam proses pengadaan barang/jasa adalah upaya pemanfaatan sumber daya alam dan pelestarian fungsi lingkungan hidup secara arif untuk menjamin keberlanjutan pembangunan nasional; 2. Konsep ramah lingkungan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) di atas dapat diterjemahkan secara luas melalui rencana pengadaan barang/ perencanaan pekerjaan konstruksi/ perencanaan jasa konsultansi dan jasa lainnya secara cermat, maupun dengan tata cara pengadaan yang efisien. Ayat 1 Cukup jelas

Ayat 2 Konsep ramah lingkungan dalam pengadaan barang berupa meubel/furniture kantor yang terbuat dari kayu, misalnya, dapat diterjemahkan melalui dokumen pelelangan yang mensyaratkan penggunaan kayu hasil tanaman industri (bukan kayu alam); Konsep ramah lingkungan dalam tata cara pengadaan,misalnya, dilakukan melalui E-Procurement karena lebih cepat dan hemat energi/biaya.

Bagian Ketujuh Pengadaan Secara Elektronik Pasal 81 1. Sebelum tahun anggaran 2011, setiap K/L/D/I dapat menggunakan sarana elektronik dalam melaksanakan proses pengadaan barang/jasa. 2. K/L/D/I wajib memulai pengadaan secara elektronik untuk sebagian paket-paket pekerjaan pada tahun anggaran 2011. 3. Tata cara pengadaan secara meliputi e-lelang dan e-katalog. elektronik Cukup jelas

4. Tata cara pengadaan secara elektronik diatur lebih lanjut dalam peraturan Kepala LKPP.

Draft Perpres - Page 79 of 85

5. Panitia pengadaan/ULP berwenang menetapkan paket pengadaan yang diproses menggunakan sarana elektronik. BAB XI PENGADAAN KHUSUS DAN PENGECUALIAN Pasal 82 Pengadaan TNI dan Polri 1. Alat utama sistem senjata (alutsista ) TNI yang digunakan untuk kepentingan pertahanan negara ditetapkan oleh Menteri Pertahanan. 2. Alat material khusus (almatsus) Kepolisian Republik Indonesia yang digunakan untuk kepentingan penyelenggaraan keamanan dan keselamatan masyarakat ditetapkan oleh Kepala Kepolisian Republik Indonesia. 3. Pengadaan alutsista dan almatsus dilakukan oleh industri strategis, industri alutsista dan industri almatsus dalam negeri. 4. Dalam hal alutsista dan almatsus belum dapat dibuat di dalam negeri sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) pasal ini maka pengadaannya langsung dari pabrikan yang terpercaya. 5. Tata cara pengadaan alutsista dapat diatur lebih lanjut oleh Menteri Pertahanan dengan tetap berpedoman pada tata nilai pengadaan yang tercantum dalam Bab II Peraturan Presiden ini. 6. Tata cara pengadaan almatsus dapat diatur lebih lanjut oleh Kepala Kepolisian Republik Indonesia dengan tetap berpedoman pada tata nilai pengadaan yang tercantum dalam Bab II Peraturan Presiden ini. Pedoman pedoman pengadaan alutsista dikonsultasikan dengan LKPP Cukup jelas

Pedoman tata cara pengadaan almatsus dikonsultasikan dengan LKPP

Pasal 83 Pengadaan Barang/Jasa di Luar Negeri Tata cara pengadaan barang/jasa untuk kebutuhan perwakilan Republik Indonesia di luar negeri dapat diatur lebih lanjut oleh Menteri Luar Negeri dengan tujuan agar mampu menyesuaikan diri dengan praktek pengadaan yang sehat di setiap negara terkait, dengan ketentuan tetap berpedoman pada tata nilai pengadaan yang tercantum dalam Bab II Peraturan Presiden ini. Pedoman tata cara pengadaan barang/jasa di luar negeri dikonsultasikan dengan LKPP

Draft Perpres - Page 80 of 85

Pasal 84 Pengadaan oleh Penerima Hibah dari Pemerintah Pengadaan barang/jasa oleh penerima hibah dari pemerintah dilaksanakan dengan berpedoman kepada prinsip-prinsip pengadaan yang ditetapkan dalam Peraturan Presiden ini. Cukup jelas

BAB XII PENGAWASAN DAN SANKSI Bagian Pertama Pengendalian Pasal 85 1. K/L/D/I wajib menyebarluaskan informasi dan memberikan bimbingan teknis mengenai substansi Peraturan Presiden ini secara intensif kepada semua unsur perencana, unsur pelaksana, dan unsur pengawas pengadaan di lingkungan K/L/D/I masing-masing, agar Peraturan Presiden ini dapat dipahami dan dilaksanakan dengan baik dan benar. 2. K/L/D/I bertanggung jawab atas pengendalian pelaksanaan pengadaan barang/jasa termasuk kewajiban mendayagunakan produksi dalam negeri dan memperluas kesempatan usaha bagi usaha mikro, usaha kecil termasuk koperasi. 3. K/L/D/I harus membebaskan segala bentuk pungutan yang berkaitan dengan perijinan dalam rangka pengadaan barang/jasa pemerintah kepada usaha mikro, usaha kecil termasuk koperasi. 4. K/L/D/I wajib mengumumkan secara terbuka rencana pengadaan barang/jasa setiap awal pelaksanaan tahun anggaran. 5. K/L/D/I dilarang melakukan pungutan dalam bentuk apapun dalam pengadaan barang/jasa pemerintah kecuali pungutan perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 6. Pimpinan K/L/D/I wajib melaporkan secara berkala realisasi pengadaan barang/jasa kepada LKPP. Cukup jelas

Draft Perpres - Page 81 of 85

Bagian Kedua Pengawasan Pasal 86 1. Pengawasan dan pemeriksaan atas pengadaan barang/jasa dimaksudkan untuk mendukung usaha pemerintah guna: a. Meningkatkan kinerja aparatur pemerintah, mewujudkan aparatur yang profesional, bersih dan bertanggung-jawab; b. Memberantas penyalahgunaan wewenang dan praktek KKN; c. Menegakkan peraturan yang berlaku dan mengamankan keuangan negara. K/L/D/I wajib melakukan pengawasan terhadap PPK dan Pejabat / Panitia Pengadaan / ULP di lingkungan K/L/D/I masing masing, dan menugaskan kepada aparat pengawasan fungsional untuk melakukan pemeriksaan sesuai ketentuan yang berlaku. Inspektorat K/L/D/I melakukan pengawasan kegiatan, menampung dan menindaklanjuti pengaduan masyarakat yang berkaitan dengan masalah atau penyimpangan dalam pelaksanaan pengadaan barang/jasa, kemudian melaporkan hasil pemeriksaannya kepada pimpinan K/L/D/I yang bersangkutan dengan tembusan kepada Kepala BPKP dan Kepala LKPP. Dalam hal berdasarkan tembusan laporan hasil pemeriksaan yang disampaikan oleh Inspektorat sebagaimana dimaksud pada ayat (2), BPKP menilai terdapat penyimpangan dalam pengadaan barang/jasa, maka BPKP dapat menindaklanjutinya. Tindak lanjut pengaduan masyarakat agar dimanfaatkan untuk: a. Menegakkan hukum dan keadilan secara tertib dan proporsional bagi semua pihak yang melanggar ketentuan yang berlaku dalam pengadaan barang/jasa; b. Membangun citra aparat pemerintah yang bersih, profesional dan bertanggung jawab; c. Menumbuhkembangkan partisipasi masyarakat dalam kontrol sosial terhadap pelaksanaan pengadaan barang/jasa; d. Membangun sensitifitas fungsi-fungsi manajerial para pejabat pemerintah dalam pengadaan barang/jasa; e. Memperbaiki kelemahan-kelemahan dalam pengorganisasian, metode kerja, dan ketatalaksanaan dalam pengadaan barang/jasa dan pelayanan masyarakat; f. Menggiatkan dan mendinamisasi pelaksanaan aparat pengawasan fungsional. Cukup jelas

2.

3.

4.

5.

Draft Perpres - Page 82 of 85

6.

Pengawasan Masyarakat (Wasmas) dapat berfungsi: a. Sebagai barometer untuk mengukur dan mengetahui kepercayaan publik terhadap kinerja aparatur pemerintah, khususnya dalam pengadaan barang/jasa; b. Memberikan koreksi terhadap penyimpangan dalam pelaksanaan pengadaan barang/jasa; c. Memberikan masukan dalam perumusan kebijakan perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, dan pengawasan dalam pengadaan barang/jasa. Bagian Ketiga Tindak Lanjut Pengawasan Pasal 87

1.

Perbuatan atau tindakan penyedia barang/jasa yang dapat dikenakan sanksi adalah: a. Berusaha mempengaruhi panitia pengadaan/pejabat yang berwenang dalam bentuk dan cara apapun, baik langsung maupun tidak langsung guna memenuhi keinginannya yang bertentangan dengan ketentuan dan prosedur yang telah ditetapkan dalam dokumen pengadaan/kontrak, dan atau ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku; b. Melakukan persekongkolan dengan penyedia barang/jasa lain untuk mengatur harga penawaran di luar prosedur pelaksanaan pengadaan barang/jasa sehingga mengurangi/menghambat/memperkecil dan/atau meniadakan persaingan yang sehat dan/atau merugikan pihak lain; c. Membuat dan/atau menyampaikan dokumen dan/atau keterangan lain yang tidak benar untuk memenuhi persyaratan pengadaan barang/jasa yang ditentukan dalam dokumen pengadaan; d. Mengundurkan diri dengan berbagai alasan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan dan/atau tidak dapat diterima oleh panitia pengadaan; e. Tidak dapat menyelesaikan pekerjaannya sesuai dengan kontrak secara bertanggung jawab. Atas perbuatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dikenakan tindakan berupa : a. Sanksi administrasi; b. Sanksi pencantuman ke daftar hitam; c. Dituntut secara perdata; d. Dilaporkan kepada pihak berwenang untuk diproses secara pidana. Pemberian sanksi sebagaimana dimaksud dalam angka 2 huruf a dilakukan oleh PPK.

Cukup jelas

2.

3.

Draft Perpres - Page 83 of 85

4.

Pemberian sanksi sebagaimana dimaksud dalam angka 2 huruf b di atas dilakukan oleh PA setelah mendapat masukan dari PPK. Ketentuan lebih lanjut mengenai daftar hitam sebagaimana dimaksud dalam angka 2 huruf b diatas, diatur oleh Kepala LKPP. Pemberian sanksi sebagaimana dimaksud dalam angka 2 huruf c dan d di atas, mengikuti ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Bab XIII PENGEMBANGAN KEBIJAKAN Pasal 88

5.

6.

Pengembangan kebijakan pengadaan barang/jasa pemerintah, diantaranya dalam peningkatan kapasitas dan kompetensi serta pembinaan profesionalisme dan karir sumber daya manusia bidang pengadaan barang/jasa pemerintah dan kebijakan lainnya serta tata cara yang terkait dengan hal-hal teknis administratif pengadaan barang/jasa secara lebih rinci dilakukan oleh LKPP

Cukup jelas

Bab XIV KETENTUAN LAIN-LAIN Pasal 89 Ketentuan pengadaan barang/jasa yang dilakukan melalui pola kerjasama pemerintah dan badan usaha swasta dalam rangka penyediaan barang/jasa publik, diatur dengan Peraturan Presiden tersendiri Cukup jelas

Bab XV KETENTUAN PERALIHAN Pasal 90 1. Panitia Pengadaan/Anggota ULP/Pejabat Pengadaan diwajibkan memenuhi persyaratan sertifikasi keahlian pengadaan barang/jasa pemerintah sebagaimana diatur dalam Pasal 21, Pasal 22 selambat-lambatnya pada waktu yang ditetapkan oleh Kepala LKPP. 2. ULP sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Presiden ini harus dibentuk selambat-lambatnya untuk pengadaan pada tahun anggaran 2013. Cukup jelas

Draft Perpres - Page 84 of 85

Bab XVI KETENTUAN PENUTUP Pasal 91 Dengan berlakunya Peraturan Presiden ini, maka Keputusan Presiden Nomor 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah yang telah diubah sebanyak tujuh kali terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 95 Tahun 2007, beserta petunjuk teknis dan seluruh perubahannya dinyatakan tidak berlaku. Pasal 92 Peraturan Presiden ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Presiden ini dengan menempatkannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Cukup jelas Cukup jelas

Draft Perpres - Page 85 of 85

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful