You are on page 1of 5

LAPORAN FISIOLOGI HEWAN KELOMPOK 8 2014

1
Abstrak— Pencernaan merupakan proses pemecahan senyawa
kompleks menjadi senyawa yang lebih kecil melalui proses kimia.
Proses kimia membutuhkan adanya enzim untuk perubahan kimia
bahan dasarnya. Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui
macam-macam enzim pencernaan makanan yang terdapat pada usus
ikan dan mengetahui fungsi empedu dalam pencernaan makanan.
Praktikum dilakukan pada hari Rabu, 23 April 2014 pukul 07.30-
10.00 WIB. Praktikum dilakukan di Laboratorium Zoologi, Jurusan
Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut
Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. Praktikum terdiri dari 5
macam uji yaitu uji enzim amilase, uji enzim sukrase, uji enzim
tripsin, uji pengaruh empedu terhadap lemak dan uji enzim amilase
saliva. Pada uji amilase tabung A : amilum + ekstrak usus dihasilkan
warna kuning kecoklatan, sedikit endapan dan Tabung B : amilum +
akuades dihasilkan warna biru cerah. Pada uji enzim sukrase tabung
A : sukrosa + ekstrak usus menghasilkan kuning kecoklatan, endapan
dan tabung B : sukrosa + akuades menghasilkan merah bata. Uji
enzim Tripsin tabung A: putih telur + akuades dihaslkan putih keruh
dan tabung B : putih telur + ekstrak usus dihasilkan warna ungu
muda. Uji pengaruh empedu terhadap lemak tabung A: empedu +
minyak goreng dihasilkan larutan berwarna hijau tua pekat dan
tabung B: akuades + minyak goreng dihasilkan 2 fasa yaitu air dan
minyak. Air berwarna putih keruh dan minyak berwarna kuning
keruh. Uji amilase saliva tabung A: amilum + saliva + iodine
dihasilkan putih keruh, tabung B: amilum + iodine + akuades
dihasilkan warna ungu dan tabung C: Amilum + akuades dihasilkan
putih agak bening.

Kata Kunci—empedu, enzim, ikan mas, lemak, pencernaan,
saliva, usus halus.
I. PENDAHULUAN
ENCERNAAN merupakan proses pemecahan senyawa
kompleks menjadi senyawa yang lebih kecil, yaitu
hidrolisa protein menjadi asam amino atau polipeptida
sederhana dan karbohidrat menjadi gula sederhana serta dari
lipid menjadi gliserol dan asam lemak. Kinerja proses
pencernaan dan penyerapan pakan inilah yang
mempengaruhi ketersediaan nutrien dan energi untuk
metabolisme sehingga berpengaruh bagi pertumbuhan [1].
Kelenjar pencernaan pada ikan Mas terdiri dari hati dan
pankreas.Hati merupakan organ penting yang mensekresikan
bahan untuk proses pencernaan. Pada bagian sekitar hati
terdapat organ berbentuk kantung bulat kecil, oval atau
memanjang dan berwarna hijau kebiru-biruan, yang disebut
kantung empedu yang berfungsi untuk menampung cairan
empedu. Pankreas merupakan organ yang mensekresikan
bahan (enzim) dan bikarbonat yang berperan dalam proses
pencernaan. Secara sitologis, pankreas memiliki 2 tipe sel
yaitu sel eksokrin dan endokrin. Hasil utama dari pankreas
eksokrin yaitu berupa enzim penceraan yaitu enzim protease,
amilase, khitinase, lipase. Pankreas endokrin (pulau-pulau
langerhans) merupakan kelompok sel yang ada diantara sel
eksokrin [1]
Saluran pencernaan ikan Mas berupa segmen-segmen,
meliputi mulut, rongga mulut, faring, esofagus, pilorus, usus,
rektum dan anus. Ikan Mas yang tidak ditemukan adanya
lambung tetapi bagian depan usus halus terlihat membesar
yang lebih dikenal dengan istilah “lambung palsu”. Ikan Mas
memilki panjang usus yang melebihi panjang tubuh ikan..
Usus yang panjang tersebut bertujuan untuk mendapatkan
hasil hidrolisis makromolekul makanan secara maksimal [2].
Enzim merupakan katalisator biologis yang dihasilkan
makhluk hidup untuk membantu proses biokima. Enzim
yang banyak berperan dalam hidrolisis karbohidrat yaitu
amilase seperti yang ditunjukkan ikan Mas. Pada ikan
herbivora, aktivitas enzim amilase lebih tinggi daripada
enzim protease dan lipase. Keberadaan enzim dalam
makanan akan meningkatkan daya cerna ikan terhadap bahan
makanan [3].
Berdasarkan uraian singkat diatas maka dilakukan
praktikum sistem pencernaan yang bertujuan untuk
mengetahui macam-macam enzim pencernaan makanan yang
terdapat pada usus ikan dan mengetahui fungsi empedu
dalam pencernaan makanan.
II. METODOLOGI
A. Waktu dan Tempat
Praktikum pencernaan dilakukan pada hari Rabu, 23 April
2014 pukul 07.30-10.00 WIB. Praktikum dilakukan di
Laboratorium Zoologi, Jurusan Biologi, Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi
Sepuluh Nopember Surabaya.
B. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah tabung
reaksi, botol urin, mortar, alu, kertas saring, papan bedah,
dissecting set, Bunsen, rak tabung reaksi, corong kaca,gelas
beaker, penjepit kayu, pipet tetes, gelas ukur, kertas karbon
dan korek api.
C. Cara Kerja
Membuat Ekstrak Usus
Disiapkan Dissecting set dan papan bedah untuk
membedah ikan. Ikan mas (Cyprinus carpio) segar dibedah
bagian ventralnya. Diambil organ usus halus dan pankreas
dengan cara memotong bagian akhir lambung dan bagian
awal usus besar. Dibedah usus secara longitudinal dan
Sistem Pencernaan : Analisis Enzim pada Usus
Ikan Mas (Cyprinus carpio)
Dwi Wahyu Intani (1511 100 063), Muh. Andry Priyo
Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Sepuluh
Nopember (ITS)
Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111 Indonesia
e-mail: intani@mhs.its.ac.id
P
LAPORAN FISIOLOGI HEWAN KELOMPOK 8 2014

2
dibersihkan dengan akuades. Usus dan pankreas dihaluskan
di mortar dengan alu. Ditambahkan gliserin 50% dan
dihaluskan kembali. Kemudian ditambahkan 4-5 tetes toluen
sambil menghaluskannya lagi. Dimasukkan usus halus ke
dalam botol urine, ditutup rapat dan dibungkus dengan
kertas karbon. Ekstrak usus disimpan selama 24 jam. Setelah
itu ekstrak disaring dengan menggunakan kertas saring dan
dipindahkan dalan botol urine baru kemudian disimpan lagi
selama beberapa minggu. Dilakukan tes terhadap larutan
hasil saringan tersebut, yaitu tes pembuktian adanya amilase,
sukrose, dan tripsin.

Tes Pembuktian Adanya Enzim Amilase
Disipakan 2 tabung eaksi dan diberi tanda A dan B.
dituangkan 2.5 ml larutan amilum 0.5% ke dalam kedua
tabung tersebut. Ditambahkan 1 ml ekstrak usu pada tabung
reaksi A dan 1 ml akuades pada tabung reaksi B. kedua
tabung reaksi tersebut digoyang – goyangkan selama 5-10
menit. Ditambahkan 2 ml reagen benedict kedalam kedua
tabung. Dipanaskan selama 5 menit sambil digoyang-
goyangkan. Lalu diamati perubahan warna yang terjadi pada
tabung reaksi A dan B.

Tes Pembuktian Adanya Enzim Sakrase
Disiapkan 2 tabung reaksi dan diberi label A dan B.
dituangkan 2.5 ml larutan sukrosa 1 % ke dalam kedua
tabung tersebut. Ditambahkan 1 ml ekstrak usus pada tabung
A dan 1 ml akuades pada tabung reaksi B. kedua tabung
digoyang - goyangkan selama 5-10 menit. Ditambahkan 2
ml reagen Benedict dalam kedua tabung reaksi. Dipanaskan
selama 5 menit sambil digoyangkan. Lalu diamati perubahan
warna yang terjadi pada tabung reaksi A dan B.

Tes Pembuktian Adanya Enzim Tripsin
Disiapkan 2 buah tabung reaksi dan diberi tanda A dan B.
dituangkan isi kantung empedu dengan cara menggunting
permukaan ke dalam tabung reaksi A hingga volume 2 ml.
dimasukkan akuades ke dalam tabung reaksi B sebagai
kontrol, ditambahkan minyak goreng 2 ml ke dalam masing-
masing tabung, lalu dikocok kuat-kuat selama 5-10 menit.
Kemudian diamati perubahan yang terjadi pada kedua
tabung reaksi tersebut.
Tes Pembuktian Adanya Enzim Amilase Saliva
Disiapkan 3 tabung reaksi dan diberi tanda A,B dan C.
dipanaskan 300 ml akuades dalam gelas beaker 500 ml
dengan menggunakan Bunsen. Dimasukkan amilum 0.5 % 5
ml ke dalam tabung reaksi A,B dan C. Pada tabung A
ditambahkan 1 ml saliva dan 2-3 tetes iodine. Pada tabung B
ditambahkan 1 ml akuades dan 2-3 tetes iodine sebagai
kontrol positif. Pada tabung C ditambahkan 1 ml akuades
sebagai kontrol negatif. Kemudian semua tabung dogoyang-
goyangkan dan dimasukkan ke dalam air yang telah
dipanaskan selama 5 menit. Diamati perubahan yang terjadi
pada masing-masing tabung.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Sistem Pencernaan
Pencernaan merupakan proses kimia. Proses kimia
membutuhkan adanya enzim untuk perubahan kimia bahan
dasarnya. Enzim berperan dalam meningkatkan kecepatan
reaksi tanpa mempengaruhi hasil reaksi dan tidak ikut
bereaksi. Dalam proses pencernaan, enzim dihasilkan oleh
berbagai organ, seperti usus halus, kelenjar ludah dan
lambung. Enzim bersifat spesifik dalam proses pemecahan
bahan kompleks (karbohidrat, protein, vitamin dan mineral)
[4].

Tabel 1
Hasil Pengamatan Uji Enzim Pencernaan
No Uji Tabung Substrat Penambahan Reagen Hasil
1 Enzim Amilase
A
Amilum 0.5%
2.5 ml
Ekstrak usus 1 ml Benedict 2 ml Warna larutan kuning kecoklatan
B
Amilum 0.5%
2.5 ml
Akuades 1 ml Benedict 2 ml Biru cerah
2

Enzim Sukrase

A
Sukrosa 1 %
2.5ml
Ekstrak usus 1 ml Benedict 2 ml Terbentuk larutan kuning kecoklatan
B
Sukrosa 1 % 2.5
ml
Akuades 1 ml Benedict 2 ml Warna larutan merah bata
3 Enzim Tripsin
A
Putih telor 20%
2.5 ml
Akuades 1 ml Biuret Putih keruh
B
Putih telor 20%
2.5 ml
Ekstrak usus 1 ml Biuret Ungu muda
4
Empedu
terhadap lemak
A
Minyak goreng 2
ml
Empedu 2 ml - Hijau tua, larut
B
Minyak goreng 2
ml
Akuades 2 ml -
Warna kuning keruh dan bening, terentuk
2 fasa yaitu minyak dan air, tidak larut.
5 Amilase Saliva
A
Amilum 0.5 % 5
ml
Saliva 1 ml Iodine Warna larutan putih keruh
B
Amilum 0.5 % 5
ml
Akuades 1 ml Iodine Terbentuk larutan berwarna ungu
C
Amilum 0.5 % 5
ml
Akuades 1 ml - Putih bening
LAPORAN FISIOLOGI HEWAN KELOMPOK 8 2014

3

Pada praktikum ini dilakukan 5 macam uji enzim
pencernaan yaitu pembuktian adanya enzim amilase,
sukrase, tripsin, empedu dalam lemak dan uji enzim amilase
saliva. Uji amilase, sukrase dan tripsin meggunakan organ
pencernaan dari ikan mas (Cyprinus carpio).
B. Pembuatan Ekstrak Usus
Dibedah ikan mas pada bagian ventral untuk mengambil
organ pencernaan dan tidak merusak organ. Dipisahkan usus
dan pankreas dari organ lainnya yang akan digunakan
sebagai ekstrak uji. Beberapa peneliti mendapatkan enzim
amilase, maltase dan sakrase pada ekstrak hati, pankreas,
esofagus, dan usus ikan Mas [3]. Dibuka usus dan disayat
longitudinal serta dibersihkan dengan akuades untuk
menghilangkan sisa makanan dalam organ tersebut. Usus
dihaluskan untuk mendapatkan enzim pencernaan. Jika sel
rusak dan terbuka membrannya, maka zat yang berada di
dalam sel akan keluar. Dengan menghaluskan usus, enzim
pencernaan yang berada di dalam usus akan terekstrak
keluar dari sel mukosa usus. Kemudian ditambah dengan
Gliserin 50% sebagai pelarut lemak pada membran sel [5]
dan juga untuk mmbantu proses peluruhan enzim pencernaan
yang ada di usus halus. Ditambahkan Toluena 4-5 tetes
sebagai pelarut materi organik sekaligus sebagai pengawet
tanpa merubah struktur/konformasi senyawa organik yang
diawetkannya. Toluen ini bersifat nonpolar, sehingga tidak
bisa bercampur dengan pelarut polar seperti air [6]. Setelah
itu ekstrak dipindahkan ke dalam botol dan dibungkus
dengan karbon untuk memberi suasana gelap sehingga dapat
menjaga suhu enzim di dalam botol tetap dan tidak
menyerap panas sehingga enzim tidak terdenaturasi [7].
Setelah itu, ekstrak disimpan selama 24 jam agar enzim yang
dikeluarkan sel-sel usus adalah optimal. setelah 24 jam
penyimpanan ekstrak disaring dengan kertas saring untuk
memisahkan usus-usus yang tidak halus dan mendapatkan
ekstrak usus yang berisi enzim Dimana reaksi akan lebih
mudah dilakukan jika enzim berupa larutan bukan padatan.
Selanjutnya dilakukan uji analisis enzim-enzim pencernaan
amilase, sukrase, dan tripsin.
C. Pembuktian adanya Amilase
Pada uji ini digunakan 2 tabung reaksi A dan B. tabung A
berisi ekstrak usus dan amilum dan tabung B berisi akuades
dan amilum. Masing-masing tabung ditambahkan benedict.
Pada uji karbohidrat ini digunakan amilum sebagai substrat
dan Benedict sebagai reagen. Amilum digunakan sebagai
sumber zat pati yang dapat dicerna oleh enzim amilase [8].
Benedict berfungsi untuk mengetahui adanya karbohidrat.
Jika uji benedict positif akan terbentuk larutan hijau, merah,
orange atau merah bata serta adanya endapan [9].
Pemanasan berfungsi untuk mempercepat reaksi dan
meningkatkan kerja enzim dengan meningkatkan tumbukan
enzim dengan substrat [10].
Hasil praktikum pada tabung A dihasilkan larutan kuning
kecoklatan sedangkan pada tabung B dihasilkan larutan
berwarna biru cerah. Pada praktikum ini pada tabung A
dihasilkan endapan kuning kecoklatan yang menunjukkan
hasil uji positif. Dimana dalam literatur dijelaskan bahwa
larutan yang mengandung glukosa apabila ditambah dengan
reagen benedict akan memberikan hasil positif dengan
terbentuknya endapan warna merah bata.Terbentuknya
endapan merah bata ini disebabkan reduksi Cu2+ menjadi
Cu+ oleh gugus aldehid atau keton bebas dalam suasana
alkalis pada Uji Benedict. Monosakarida dan disakarida
yang merupakan gula pereduksi memiliki sifat dapat
mereduksi ion Cu2+ menjadi ion Cu+ yang ada pada larutan
Benedict karena terdapat gugus aldehid atau keton sehingga
menjadi Cu2O membentuk endapan, keton memiliki sifat
mudah terwarnai dan bereaksi [9]. Sedangkan pada tabung B
dihasilkan larutan berwarna biru cerah yang menunjukkan
warna asli dari benedict.
D. Pembuktian Adanya Sukrase
Pada praktikum ini digunakan substrat sukrosa dan reagen
benedict. Sukrase adalah enzim di usus yang menghidrolisis
sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa [11]. Disiapakn 2
tabung reaksi A dan B. Tabung A diisi dengan sukrase +
ekstrak usus dan tabung B diisi dengan sukrase dan akuades
sebagai kontrol. Kemudian masing-masing tabung
ditambahkan dengan benedict dan dipanaskan sambil
digoyang-goyangkan. Fungsi pemanasan dan penggoyangan
yaitu untuk mempercepat terjadinya reaksi.
Hasil yang diperoleh adalah pada tabung A dihasilkan
larutan berwarna kuning kecoklatan dan terbentuk sedikit
endapan sedangkan tabung B dihasilkan warna larutan
merah bata. Pada tabung A sukrase berikatan dengan
benedict yang mengandung atom tembaga. Atom ini mudah
bereaksi dengan oksigen dari disakarida atau gula sederhana
lain pada gugus aldehid atau keton membentuk Cu2O.
Dalam hal ini, atom tembaga yang berada dalam bentuk ion
Cu 2+ akan membentuk ikatan ionik dengan oksigen
Pereaksi benedict mengandung kupri sulfat, natrium
karbonat dan natrium sitrat. Glukosa dapat mereduksi ion
Cu2+ dari kupri sulfat menjadi ion Cu+ yang bereaksi
dengan gula (pereduksi) akan menjadi Cu2O yang ditandai
dengan endapan merah bata. Warna yang terbentuk
merupakan pelepasan ion Cu2+ oleh katalis [12]-13]. Pada
tabung B dihasilkan warna merah bata meskipun tidak ada
penambahan benedist.
LAPORAN FISIOLOGI HEWAN KELOMPOK 8 2014

4
E. Pembuktian Enzim Tripsin
Pada uji enzim tripsin disiapkan 2 tabung reaksi A dan B.
substrat yang digunakan adalah putih telur dan reagen yang
digunakan adalah biuret. Putih telur (Albumin) mengandung
protein, glukosa, lemak, garam dan air. Biuret merupakan
reagen yang bersifat basa, sehingga gugus amin dari asam
amino bertindak sebagai asam Dengan membentuk NH4+.
Reaksi menghasilkan senyawa basa NH
4
OH yang
menyebabkan larutan berwarna ungu [9]. Tabung B berisi
ekstrak usus dan putih telur. Tabung A berisi akuades dan
putih telur. Kuning telur terlebhih dahulu diencerkan dengan
akuades supaya tidak terlalu kental seperti lendir dan
memudahkan pengambilan larutan. Pada praktikum ini
dilakukan pemanasan hingga mendidih yang bertujuan untuk
mendenaturasi protein yang menjadi bahan penyusun utama
albumin. Kemudian dilakukan pendinginan untuk
menurunkan suhu albumin, karena jika suhu masih panas
akan merusak protein pada ekstrak susus yang akan
ditambahkan.
Hasil praktikum menunjukan pada tabung A berwarna
putih keruh. Hal ini menunjukkan bahwa tidak terdeteksi
protein pada campuran putih telur dan akuades. Dimana
tidak terjadi reaksi penguraian protein putih telor air
sehingga hasil reaksi tidak dapat bereaksi dengan Biuret.
Sedangkan pada Tabung B berwarna ungu muda yang
menunjukkan terjadi ikatan antara reagen Biuret bereaksi
dengan gugus amin yang terdapat pada asam amino. Biuret
merupakan reagen yang bersifat basa, sehingga gugus amin
dari asam amino bertindak sebagai asam Dengan membentuk
NH4+. Reaksi menghasilkan senyawa basa NH4OH yang
menyebabkan larutan berwarna ungu. Hal ini sesuai denga
literatur yang menyatakan bahwa uji biuret menghasilkan
warna biru keunguan pada asam amino yang mengandung
kompleks Cu
2+
, NH, dan gugus CO dari rantai peptidanya.
Senyawa biuret dihasilkan dari urea yang dipanaskan
didalam air panas. Albumin memiliki gugus bangun yang
kompleks dan mengikat dua atau lebih asam amino esensial,
sehingga terbentuk ikatan peptida. Semakin banyak ikatan
peptida yang dimiliki warna ungu yang terbentuk akan
semakin nyata [14]
F. Pembuktian Kelarutan Empedu dalam Lemak
Pada praktikum ini digunakan empedu, minyak goreng
sebagai substrat dan tidak ada reagen yang digunakan.
Minyak goreng termasuk dalam lemak netral. Lemak netral
adalah persenyawaan asam lemak dengan gliserol. Tiga
molekul asam lemak (rantai panjang atom karbon dan
hidrogen dengan satu gugugs karboksil di salah satu
ujungnya) berikatan kovaln dengan satu molekul gliserol
(satu molekul terdiri dari tiga karbon dengan tiga sisi gugus
hidroksil) melalui proses sintesis dehidrasi. Minyak
cenderung cair pada suhu kamar. Empedu adalah larutan
berwarna kunig kehijauan terdiri dari 97% air, pigmen
empedu, dan garam-garam empedu. Pigmen empedu terdiri
dari biliverdin (hijau) dan bilirubin (kuning). Garam-garam
empedu terbentuk dari asam empedu yang berikatan dengan
kolesterol dan asam amino [15]. Awalnya disiapkan 2
tabung reaksi A dan B. tabung reaksi A diisi dengan empedu
2 ml dan ditambahkan minyak goreng 2 ml. Sedangkan pada
tabung B diisi akuades 2 ml dan ditambahkan minyak goreng
2 ml. masing-masing tabung dikocok dengan kuat selama 5
menit untuk menghomogenkan larutan dan untuk mengetahui
larut tidaknya larutan campuran tersebut.
Hasil yang diperoleh adalah pada tabung A dihasilkan
larutan berwarna hijau tua dan larut dengan minyak goreng.
Empedu dapat larut dalam air karena dalam empedu terdapat
garam-garam empedu dan lesitin Garam-garam empedu
dapat membantu proses emulsifikasi lemak. Lemak yang
tidak larut dalam air terdispersi menjadi butiran-butiran
lemak berukuran kecil sehingga mudah diserang oleh enzim
lipase yang larut dalam air [16] dan garam empedu berikatan
dengan kolesterol dan lesitin untuk membentuk agregasi
kecil disebut micelle yang akan dibuang melalui feses [15].
Akibatnya, butiran - butiran lemak mengalami hidrolisis
menjadi digliserida, monogliserida, gliserol dan asam lemak.
Produk hidrolisis kemudian masuk ke dalam sel-sel mukosa
intestinum melalui membrane mukosa intestinum.
Sedangkan pada tabung B dihasilkan larutan berwarna
kuning keruh hasil pencampuran air dan minyak dan
terbentuk 2 fasa yaitu fasa air dan fasa minyak hal ini
disebabkan karena minyak bersifat nonpolar sedangkan air
adalah polar sehingga kedua larutan tidak dapat bersatu .
sesuai dalam teori minyak goreng yang tersusun atas rantai
hidrokarbon gliserida bersifat non polar tidak bisa berikatan
dengan air yang tersusun atas molekul H
2
O yang bersifat
polar [17].
G. Pembuktian Enzim Amilase Saliva
Pada praktikum uji enzim Amilase saliva ini digunakan 3
tabung reaksi yaitu A,B, dan C. Ketiga tabung tersebut diisi
amilum 1 ml tiap tabung. Substrat yang digunakan adalah
saliva dan amilum dan reagen yang digunakan adalah iodine.
Iodine mempunyai banyak karakteristik khusus salah satunya
yaitu dalam berikatan dengan amilum. Interaksinya dengan
amilum menghasilkan warna biru dan ini merupakan
indikator untuk membedakan dengan ionnya iodida [12].
Kemudian, tabung A ditambahkan dengan saliva 1 ml iodine
2-3 tetes. Tabung B ditambahkan akuades 1 ml dan iodine 2-
3 tetes dan tabung C ditambahkan akuades 1 ml sebagai
kontrol negativ. Uji ini menggunakan saliva. Saliva terutama
terdiri dari sekresi serosa, yaitu 98% air dan mengandung
enzim amilase serta berbagai jenis ion (natrium, klorida,
bikarbonat, dan kalium), juga sekresi mukus yang lebih
kental dan lebih sedikit yang mengandung glikoprotein
(musin), ion, dan air [15]. Disiapkan air panas untuk
memanaskan larutan uji yang bertujuan mempercepat
terjadinya reaksi.
Hasil yang diperoleh adalah pada tabung A dihasilkan
warna putih keruh, tabung B berwarna ungu dan tabung C
berwarna putih bening. Pada tabung A (iodin dan saliva)
menghasilkan warna putih keruh. Pemanasan dan
penambahan enzim amilase pada tabung A menyebabkan
ikatan α-glikosidik menjadi putus dan iodin tidak dapat
melakukan penukaran ion dengan atom O, dikarenakan atom
O terdapat diantara ikatan α-glikosidik, oleh sebab itu warna
dari tabung A tidak menjadi ungu yang merupakan warna
iodin, melainkan menjadi butiran-butiran halus berwarna
putih selain itu suhu yang tinggi konsentrasi α amilase akan
mempercepat proses kerja dari viskositas dan perubahan
warna iodine [18]. Sedangkan pada tabung B
LAPORAN FISIOLOGI HEWAN KELOMPOK 8 2014

5
(akuades+iodin) terbentuk larutan warna ungu yang
mengindikasikan iodin larut dalam air. Dalam air, amilosa
bereaksi dengan iodine akan memberikan warna biru yang
khas [19]. Pada tabung C (akuades dan amilum) tidak
dihasilkan warna ungu karena amilum tidak berikatan
dengan iodin.
IV. KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum yang sudah dilakukan diketahui
macam-macam enzim dalam pencernaan antara lain amilase,
sukrase, dan tripsin. Pada usus halus terjadi pencernaan
karbohidrat, lemak, dan protein. Pencernan karbohidrat
diindikasikan dengan adanya enzim amilase. Pencernaan
protein diindikasikan dengan adanya enzim tripsin
(memecah protein menjadi peptida berantai pendek).
Sedangkan pencernaan lemak membutuhkan sekret dari
empedu yang memecah trigliserida menjadi monogliserida;
kemudian monogliserida menjadi asam lemak dan gliserol.
Empedu berfungsi untuk membantu penyerapan lemak oleh
usus halus (emulsifikasi).

DAFTAR PUSTAKA
[1] Isnaeni, wiwi. Fisiologi Hewan. Yogyakarta: Canisius (2006).
[2] Santoso, B. Petunjuk Praktis Budidaya Ikan Mas. Yogyakarta:
Kanisius (1995)
[3] Winarno, F.G. Enzim Pangan. Jakarta : PT. Gramedia pustaka
Utama. (1995)
[4] Guyton. Hall, Artur. John, E. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran edisi 9.
ECG. Jakarta (1997).
[5] Syahrijuita, S.P. Raharjo, N.I. Djufri, dan R. Djamin. Perbandingan
Efektivitas Beberapa Pelarut Terhadap Kelarutan Cerumen
Obturans_Secara In Vitro. Artikel Penelitian Majalah Kesehatan
PharmaMedia, Vol. 3, No,1. Makasar : universitas Hasanudin
(2011).
[6] H. Hart, Craine L.E , Hart, D.J. Kimia Organik. Erlangga: Jakarta
(2003)
[7] Campbell,A.Neil. Biologi edisi kelima jilid 3. Erlangga: Jakarta.
(2004).
[8] Van De Graf, Kent, M. Atlas of Fisiology. Penerbit McGraw Hill :
USA. (1994).
[9] Poedjiadi, Anna dan Supriyanti, Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta:
Penerbit Universitas Indonesia (2009).
[10] Lehninger.A.L. Dasar-Dasar Biokimia. Erlangga: Jakarta. (1995).
[11] Dawn B. Marks, Allan D. Marks., dan Collen M. Smith. Biokimia
Kedokteran Dasar. Jakarta: Buku Kedokteran EGC (2000).
[12] Vogel. Analisis Anorganik Kualitatif. Jakarta: Kalman Media
Pustaka (1985)
[13] Halver. J.E., R.W. Hardy. Fish Nutrition of Pond Fishes. Cambrige
Univercity Press. New York. (2002).
[14] S. D. Page, Prinsip-prinsip Biokimia. Jakarta: Erlangga (1997).
[15] Sloane, Ethel. Anatomi dan Fisiologi Untuk Pemula. Jakarta: Buku
Kedokteran EGC (2004)
[16] Damin Sumardjo. Pengantar Biokimia: Buku Panduan Kuliah
Mahasiswa Kedokteran dan Program Strata I Fakultas Bioeksata.
Jakarta: Buku Kedokteran EGC (2009)
[17] Nelson D. L. dan M. C. Michael, Lehninger Principles of
Biochemistry Fourth Edition. Madison: University of Wisconsin
(2004).
[18] Martoharsono,S. Biokimia Jilid 1. Gadjah Mada University Press:
Yogyakarta. (1994).
[19] P.F. Fox. Food Enzymology Vol 2. London: Elsevier Applied Science
(1991)