You are on page 1of 12

1

1. Tanggal mulai praktikum : 19 oktober 2014
Tanggal selesai praktikum : 19 oktober 2014
2. Tempat prktikum : gedung laboratorium Sekolah Tinggi Teknologi
Industri dan Farmasi-bogor
3. Judul praktikum : Tetes mata
4. Tujuan praktikum :
a. Memperoleh gambaran mengenai praformulasi suatu zat obat serta membuat dan
mengevaluasi hasil dari sediaan yang dibuat.
b. Mengetahui mengenai pengertian, pembagian, cara pembuatan, perhitungan dosis,
sterilisasi dan penyerahan suatu sediaan obat tetes mata.
5. Dasar teori
A. Anatomi mata
Mata adalah suatu struktur sferis berisi cairan yang dibungkus oleh tiga lapisan. Dari
luar ke dalam, lapisan–lapisan tersebut adalah : (1) sklera/kornea, (2) koroid/badan
siliaris/iris, dan (3) retina. Sebagian besar mata dilapisi oleh jaringan ikat yang
protektif dan kuat di sebelah luar, sklera, yang membentuk bagian putih mata. Di
anterior (ke arah depan), lapisan luar terdiri atas kornea transparan tempat lewatnya
berkas–berkas cahaya ke interior mata. Lapisan tengah dibawah sklera adalah koroid
yang sangat berpigmen dan mengandung pembuluh-pembuluh darah untuk memberi
makan retina. Lapisan paling dalam dibawah koroid adalah retina, yang terdiri atas
lapisan yang sangat berpigmen di sebelah luar dan sebuah lapisan syaraf di dalam.
Retina mengandung sel batang dan sel kerucut, fotoreseptor yang mengubah energi
cahaya menjadi impuls syaraf.

Struktur mata manusia berfungsi utama untuk memfokuskan cahaya ke retina. Semua
komponen–komponen yang dilewati cahaya sebelum sampai ke retina mayoritas
berwarna gelap untuk meminimalisir pembentukan bayangan gelap dari cahaya.
Kornea dan lensa berguna untuk mengumpulkan cahaya yang akan difokuskan ke
retina, cahaya ini akan menyebabkan perubahan kimiawi pada sel fotosensitif di
retina. Hal ini akan merangsang impuls–impuls syaraf ini dan menjalarkannya ke
otak.

Cahaya masuk ke mata dari media ekstenal seperti, udara, air, melewati kornea dan
masuk ke dalam aqueous humor. Refraksi cahaya kebanyakan terjadi di kornea
2

dimana terdapat pembentukan bayangan yang tepat. Aqueous humor tersebut
merupakan massa yang jernih yang menghubungkan kornea dengan lensa mata,
membantu untuk mempertahankan bentuk konveks dari kornea (penting untuk
konvergensi cahaya di lensa) dan menyediakan nutrisi untuk endothelium kornea. Iris
yang berada antara lensa dan aqueous humor, merupakan cincin berwarna dari serabut
otot. Cahaya pertama kali harus melewati pusat dari iris yaitu pupil. Ukuran pupil itu
secara aktif dikendalikan oleh otot radial dan sirkular untuk mempertahankan level
yang tetap secara relatif dari cahaya yang masuk ke mata. Terlalu banyaknya cahaya
yang masuk dapat merusak retina. Namun bila terlalu sedikit dapat menyebabkan
kesulitan dalam melihat. Lensa yang berada di belakang iris berbentuk lempeng
konveks yang memfokuskan cahaya melewati humour kedua untuk menuju ke retina.
Untuk dapat melihat dengan jelas objek yang jauh, susunan otot siliare yang teratur
secara sirkular akan akan mendorong lensa dan membuatnya lebih pipih. Tanpa otot
tersebut, lensa akan tetap menjadi lebih tebal, dan berbentuk lebih konveks. Manusia
secara perlahan akan kehilangan fleksibilitas karena usia, yang dapat mengakibatkan
kesulitan untuk memfokuskan objek yang dekat yang disebut juga presbiopi. Ada
beberapa gangguan refraksi lainnya yang mempengaruhi bantuk kornea dan lensa atau
bola mata, yaitu miopi, hipermetropi dan astigmatisma.
Selain lensa, terdapat humor kedua yaitu vitreous humor yang semua bagiannya
dikelilingi oleh lensa, badan siliar, ligamentum suspensorium dan retina. Dia
membiarkan cahaya lewat tanpa refraksi dan membantu mempertahankan bentuk
mata.Bola mata terbenam dalam corpus adiposum orbitae, namun terpisah darinya
oleh selubung fascia bola mata.

B. Sediaan tetes mata
Definisi Sediaan Tetes Mata
Yang dimaksud dengan obat tetes mata (guttae ophthalmicae) adalah suatu sediaan
steril berupa larutan atau suspensi yang digunakan untuk terapi atau pengobatan mata
dengan cara meneteskan obat pada selaput lendir mata di sekitar kelopak dan bola
mata. Sediaan yang dimasukkan ke dalam mata harus diformulasi dan disiapkan
dengan pertimbangan yang diberikan untuk tonisitas, pH, stabilitas, viskositas dan
sterilisasi. Sterilisasi ini diinginkan karena kornea dan jaringan bening ruang anterior
adalah media yang bagus untuk mikroorganisme dan masuknya sediaan tetes mata
3

yang terkontaminasi ke dalam mata yang trauma karena kecelakaan atau pembedahan
dapat menyebabkan kehilangan penglihatan.

Faktor – Faktor yang penting dalam Tetes Mata
Faktor-faktor dibawah ini sangat penting dalam sediaan larutan mata :
 Ketelitian dan kebersihan dalam penyiapan larutan
 Sterilitas sediaan dan adanya bahan pengawet untuk mencegah kontaminasi
mikroorganisme pada saat digunakan (Untuk dosis ganda)
 Larutan dibuat isotonisitas, jika tidak memungkinkan larutan dibuat hipertonis dan
pH dicapai melalui tekhnik euhidri
 pH optimum lebih diutamakan untuk menjamin kestabilan sediaan
 Adanya air mata dapat mempersingkat waktu kontak dengan zat aktif dengan mata
maka ditambahkan bahan pengental.

Syarat – Syarat Sediaan Tetes Mata
Tetes mata adalah larutan berair atau larutan berminyak yang idealnya harus memiliki
sifat-sifat sebagai berikut :
 Sediaan harus steril
 Sediaan bebas dari efek iritan
 Sediaan sebaiknya mengandung pengawet yang cocok untuk mencegah
pertumbuhan dari mikroorganisme yang dapat berbahaya yang dihasilkan selama
penggunaan.
 Jika dimungkinkan larutan berair harus isotonis dengan sekresi lakrimal
konsentrasi ion hidrogen sebaliknya cocok untuk obat khusus, dan idelanya tidak
terlalu jauh dari netral
 Sediaan harus stabil secara kimia.

Keuntungan Dan Kerugian
a. Keuntungan
 Larutan mata memiliki kelebihan dalam hal kehomogenan, bioavaibilitas, dan
kemudahan dalam penanganan
 Suspensi mata mempunyai keuntungan dimana adany partikel zat aktif dapat
memperpanjang waktu tinggal pada mata sehingga meningkatkan waktu
4

terdisolusinya dengan air mata, sehingga terjadi peningkatan bioavaibiltas dan
efek terapinya.
b. Kekurangan
 Volume larutan yang dapat ditampung oleh mata sangat terbatas, maka larutan
yang berlebihan dapat masuk ke dalam nasal cavity lalu masuk ke saluran GI
menghasilkan absorpsi sistemik yang tidak diinginkan
 Kornea dan rongga mata sangat kurang tervaskuralisasi, selain itu kapiler pada
retina dan iris relatif non permeabel sehingga umumnya sediaan untuk mata
hanya berefek lokal saja.

C. Kloramfenikol
Kloramfenikol diisolasi pertama kali pada tahun 1947 dari Streptomyces
venezuelae. Karena ternyata Kloramfenikol mempunyai daya antimikroba yang
kuat maka penggunaan Kloramfenikol meluas dengan cepat sampai pada tahun
1950 diketahui bahwa Kloramfenikol dapat menimbulkan anemia aplastik yang
fatal. Kloramfenikol merupakan kristal putih yang sukar larut dalam air (1:400)
dan rasanya sangat pahit. Rumus molekul kloramfenikol ialah kloramfenikol R= -
NO2.

Farmakodinamik
Kloramfenikol bekerja dengan menghambat sintesis protein kuman. Obat ini terikat
pada ribosom sub unit 50s dan menghambat enzim peptidil transferase sehingga
ikatan peptida tidak terbentuk pada proses sintesis protein kuman.
Kloramfenikol bersifat bakteriostatik. Pada konsentrasi tinggi kloramfenikol kadang-
kadang bersifat bakterisid terhadap kuman-kuman tertentu. Spektrum anti bakteri
meliputi D.pneumoniae, S. Pyogenes, S.viridans, Neisseria, Haemophillus, Bacillus
spp, Listeria, Bartonella, Brucella, P. Multocida, C.diphteria, Chlamidya,
Mycoplasma, Rickettsia, Treponema, dan kebanyakan kuman anaerob.

Farmakokinetik
Setelah pemberian oral, kloramfenikol diserap dengan cepat. Kadar puncak dalam
darah tercapai hingga 2 jam dalam darah. Untuk anak biasanya diberikan dalam
bentuk ester kloramfenikol palmitat atau stearat yang rasanya tidak pahit. Bentuk ester
5

ini akan mengalami hidrolisis dalam usus dan membebaskan kloramfenikol.
Untuk pemberian secara parenteral diberikan kloramfenikol suksinat yang akan
dihidrolisis dalam jaringan dan membebaskan kloramfenikol.

Masa paruh eliminasinya pada orang dewasa kurang lebih 3 jam, pada bayi berumur
kurang dari 2 minggu sekitar 24 jam. Kira-kira 50% kloramfenikol dalam darah
terikat dengan albumin. Obat ini didistribusikan secara baik ke berbagai jaringan
tubuh, termasuk jaringan otak, cairan serebrospinal dan mata.

Di dalam hati kloramfenikol mengalami konjugasi, sehingga waktu paruh memanjang
pada pasien dengan gangguan faal hati. Sebagian di reduksi menjadisenyawa arilamin
yang tidak aktif lagi. Dalam waktu 24 jam, 80-90% kloramfenikol yang diberikan oral
diekskresikan melalui ginjal. Dari seluruh kloramfenikol yang diekskresi hanya 5-
10% yang berbentuk aktif. Sisanya terdapat dalam bentuk glukoronat atau hidrolisat
lain yang tidak aktif. Bentuk aktif kloramfenikol diekskresi terutama melalui filtrat
glomerulus sedangkan metaboltnya dengan sekresi tubulus.

Pada gagal ginjal, masa paruh kloramfenikol bentuk aktif tidak banyak berubah
sehingga tidak perlu pengurangan dosis. Dosis perlu dikurangi bila terdapat gangguan
fungsi hepar.

Penggunaan klinik
Banyak perbedaan pendapat mengenai indikasi penggunaan kloramfenikol, tetapi
sebaiknya obat ini digunakan untuk mengobati demam tifoid dan meningitis oleh
H.Infuenzae juga pada pneumonia; abses otak; mastoiditis; riketsia; relapsing fever;
gangrene; granuloma inguinale; listeriosis; plak (plague); psitikosis; tularemia;
whipple disease; septicemia; meningitis.
Infeksi lain sebaiknya tidak diobati dengan kloramfenikol bila masih ada antimikroba
lain yang masih aman dan efektif. Kloramfenikol dikontraindikasikan pada pasien
neonatus, pasien dengan gangguan faal hati, dan pasien yang hipersensitif
terhadapnya. Bila terpaksa diberikan pada neonatus, dosis jangan melebihi 25
mg/kgBB sehari.


6

Efek samping
 Reaksi saluran cerna
Bermanifestasi dalam bentuk mual, muntah, glositis, diare, dan enterokolitis
 Reaksi alergi
Kloramfenikol dapat menimbulkan kemerahan kulit, angioudem, urtikaria dan
anafilaksis. Kelainan yang menyerupai reaksi Herxheimer dapat terjadi pada
pengobatan demam Tifoid walaupun yang terakhir ini jarang dijumpai.
 Reaksi neurologik
Dapat terlihat dalam bentuk depresi, bingung, delirium dan sakit kepala.

Sediaan
Kloramfenikol
Terbagi dalam bentuk sediaan :
 Kapsul 250 mg, Dengan cara pakai untuk dewasa 50 mg/kg BB atau 1-2 kapsul 4
kalisehari.Untuk infeksi berat dosis dapat ditingkatkan 2 x pada awal terapi
sampai didapatkan perbaikan klinis.
 Salep mata 1 %
 Obat tetes mata 0,5 %
 Salep kulit 2 %
 Obat tetes telinga 1-5 %
 Keempat sediaan di atas dipakai beberapa kali sehari.

6. Alat dan Bahan
a. Alat
 Kaca arloji
 Pinset
 Spatula
 Beaker glass
 Gelas ukur
 Erlenmeyer
 Kertas saring
 Corongwadah tetes mata

b. Bahan
 Kloramfenikol
 Asam borat
 Natrium tetra borat
 Nipagin
 Aquadest
7


7. Formulasi
a. Formula standar diperoleh dari Formularium Nasional edisi kedua tahun 1978 hal.
65
CHLORAMFENICOLI GUTTAE OPHTHALMICAE
Tetes mata kloramfenikol
Komposisi : Tiap 10 ml mengandung
Chloramphenicolum 50 mg
Acidum Boricum 150 mg
Natrii Tetraboras 30 mg
Phenylhydrargyri Nitras 200 mg
Aqua destilata hingga 10 ml
Penympanan : Dalam wadah tertutup rapat dan di tempat sejuk
Catatan : 1) Disterilkan dengan cara sterilisasi B dan C. 2)Dalam etiket harus juga
tertera : Daluarsa

b. Formula yang digunakan :
Chloramphenicolum 50 mg
Acidum Boricum 150 mg
Natrii Tetraboras 30 mg
Nipagin 100 µg
Aqua destilata hingga 10 ml

8. Monografi
a. Kloramfenikol
Rumus Molekul : C11H12Cl2N2O5
Berat Molekul : 323,13
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, terlindung cahaya
Khasiat : Antibiotik
Pemerian : Bentuk Hablur, halus, bau Khas lemah, Warna putih
Kelarutan : agak larut dalam air (dalam 400 bagian air), dalam Kloroform sukar
larut, dalam etanol mudah larut, dalam benzene larut
Stabilitas : mudah terurai oleh cahaya matahari.

8

b. Acidum Boricum
Nama lain : Asam borat
Rumus molekul : H3BO3
Berat molekul : 61,83
Kelarutan : Larut dalam 20 bagian air, dalam 3 bagian air mendidih, dalam 16
Bagian etanol (95%).
Fungsi : pendapar .
c. Natrii tetraboras
Nama lain : Boraks
Rumus molekul : Na2B4O7.10H2O
Berat molekul : 381,37
Kelarutan : mudah larut dalam air mendidih dan dalam gliserin, tidak larut dalam
etanol.
Fungsi : Pendapar
d. Nipagin
Nama lain: metal paraben
Rumus molekul : C8H8O3
Pemerian : serbuk hablur; halus; putih; hamper tidak berbau; tidak mempunyai
rasa, kemudian agak membakar diikuti rasa tebal
Kelarutan : Larut dalam 500 bagian air, dalam 20 bagian air mendidih, dalam 3,5
Bagian etanol (95%) P, dan dalam 3 bagia aseton P, mudah larut
dalam eter P dan dalam larutan alkali hidroksida, larut dalam 60
bagian gliserol P panas dan dalam 40 bagian minyak lemak nabati
panas, jika didinginkan larutan tetap jernih.
e. Aquadest
Nama lain : air suling
Rumus molekul : H2O
Pembuatan : dengan menyuling air yang dapat diminum
Pemerian : cairan jernih; tidak berwarna; tidak brbau; tidak mempunyai rasa.





9

9. Cara kerja
a. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
b. Mensterilkan wadah
c. Membuat Api bebas CO2 dan O2 ( didihkan air dan diteruskan lagi selama 40
menit)
d. Menimbang zat aktif dan zat tambahan
e. Mengkaliberasi beker glass dan botol plastic
f. Dilarutkan masing-masing bahan dalam API
g. Larutan asam borak, natrii borat dan Phenylhydrargyri Nitras dicampur kemudian
digunakan untuk melarutkan kloramfenikol sedikit demi sedikit dimasukan ke
larutan basis tersebut. Kemudian dimasukan sisa API.
h. Melapisi corong dengan kertas saring dan basahi kertas saring dengan API bebas
CO2 sampai menempel dengan dinding corong
i. Pindahkan corong ke beaker glass yang sudah dikaliberasi
j. Disaring larutan pada gelas ukur melalui corong ke dalam erlenmeyer yang baru
k. Sisa 2/5 bagian API digunakan untuk membilas gelas ukur kemudian disaring lagi
ke dalam beakker glass yang berisi filtrat
l. Ditambahkan sampai batas kaliberasi
m. Mengisikan larutan ke dalam wadah
n. Menutup wadah
o. Mensterilkan sediaan yang telah ditutup di dalam autoklaf pada suhu 115 – 116oC
selama kurang lebih 30 menit.

10. Hasil

Tetes mata kloramfenkol
10

11. Pembahasan
Pada praktikum ini telah dibuat sediaan tetes mata dengan zat aktif kloramfenikol.
Kloramfenikol berfungsi sebagai antibiotik yang dapat membunuh berbagai bakteri
yang kebanyakan berasal dari jenis anaerob.Tetes mata pada umumnya mengandung
zat aktif yang dapat larut dalam air, tetapi kloramfenikol mempunyai sifat kelarutan
yang sangat sukar larut dalam air (1 : 400 bagian air). Kelarutan kloramfenikol ini
merupakan masalah penting dalam proses pembuatan tetes mata kloramfenikol. Oleh
karena itu basis atau pelarut yang digunakan harus dapat membantu kelarutan
kloramfenikol dalam air. Kloramfenikol dapat larut dengan baik pada suasana asam,
maka basis yang digunakan berupa asam. Asam yang digunakan sebagai basis adalah
acidum boricum (asam borat) yang dibantu keefektifannya oleh natrii tetraborat.
Selain itu natrii tetraborat berperan sebagai buffering agent (zat penyangga) yang
dapat menjaga pH sediaan. Karena pH dalam sediaan tetes mata adalah salah satu
yang penting untuk selalu diperhatikan karena pH yang terlalu asam dapat mengiritasi
mata. Menurut Trolle dan Lassen pH sediaan tetes mata dalam rentang 7,3 – 9,7.
Maka penambahan buffering agent ini sangatlah penting.

Selain itu pada sediaan ini menggunakan pengawet nipagin. Penggunaan pengawet
juga sama pentingnya dengan penggunaan buffering agent karena pemakaiannya
secara berulang. Syarat – syarat yang harus diperhatikan dalam pemilihan buffering
agent adalah bahwa buffering agent yang digunakan bersifat bateriostatik, khususnya
terhadap bakteri pseudomonas dan aeruginosa yang banyak terdapat pada lingkungan.
Selain itu buffering agent yang dipilih tidak mengiritasi jaringan okuler artinya tidak
mengiritasi kornea atau konjugtiva pada pemakaian berulang dan tidak meyebabkan
rusaknya epitel dan yang paling penting adalah tersatukan dengan zat aktif yang
digunakan.

Prosedur kerja yang dilakukan hampir sama dengan pembuatan sediaan – sediaan
steril lainnya, yaitu menimbang bahan – bahan yang akan digunakan. Setelah
menimbang, bahan – bahan segera dilarutkan. Setelah itu campurkan asam borat
dengan natrium borat yang akan digunakan sebagai basis. Secara perlahan – lahan
ditambahkan kloramfenikol ke dalam basis dan diaduk. Ternyata kelarutan
kloramfenikol tidaklah semopurna karena masih terdapat partikel – partikel melayang
pada larutan basis. Tetapi partikel ini jauh lebih sedikit dibandingkan jika
11

kloramfenikol hanya dilarutkan dengan air. Setelah itu masukkan perlahan – lahan
nipagin yang telah dilarutkan ke dalam air.

Evaluasi yang dilakukan yaitu dengan melihat kejernihan sediaan ditempat berlatar
hitam dan memakai bantuan lampu yang sangat terang, terlihat bahwa sediaan yang
kami buat jernih dengan sedikit artikel melayang. Ini karena proses penyaringan yang
tidak sempurna yang hanya memakai kertas saring biasa. Adapun pH sediaan ini yaitu
7,4 dan telah sesuai dengan persyaratan tetes mata karena berada dalam rentang pH
5,4 sampai 9.

12. Kesimpulan
a. Kloramfenikol mempunyai kelarutan yang sangat sukar larut dalam air, maka
ditambahkan asam borat yang dibantu dengan natrii tetraborat sebagai pembentuk
suasana asam. Karena kelarutan kloramfenikol dalam suasana asam dapat
bertambah.
b. Natrium tetreborat selain membantu asam borat juga mempunyai manfaat sebagai
buffering agent yang dapat mempertahankan pH. Sehingga pH yang didapat tidak
terlalu asam yaitu 5,5 yang merupakan pH yang baik untuk mata.
c. nipagin merupakan pengawet, penambahan pengawet pada sediaan ini untuk
mencegah berkembangnya mikroba yang masuk karena pemakaian berulang.
d. Untuk menghasilkan sediaan yang tidak keruh maka dibuat terlebih dahulu basis
untuk membantu melarutkan kloramfenikol, yaitu campuran antara larutan
natrium tetraborat dengan asam boarat.

DAPTAR PUSTAKA
Anonim. 1995. Farmakope Indonesia Ed IV. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik
Indonesia
Anonim. 1979. Farmakope Indonesia Ed III. Jakarta : departemen Kesehatan Republik
Indonesia
Abdullah, pramono, Drs, Apt. 2014. Penuntun praktikum teknologi sediaan steril. Bogor :
STTIF
Anonim. 1978. Formularium Nasional. Departemen Kesehatan Republik Indonesia
Anief, Moh. 2004. Ilmu Meracik Obat. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press

12