You are on page 1of 10

BAB I

LANDASAN TEORITIS
1. Defenisi
Laringitis merupakan inflamasi laring yang terjadi sebagai akibat terlalu
banyak menggunakan suara,pemajanan terhadap debu, bahan kimia, asap dan polutan
lainnya atau sebagai bagian dari infeksi saluran napas atas.
( Suddarth & Brunner, KMB ol.!, edisi ", #$$1 %
#. Pembagian Laringitis
Laringitis terbagi tiga bagian yaitu &
a. Laringitis 'kut
b. Laringitis Kronik
(. Laringitis )uberkulosis
#. a. Laringitis 'kut adalah merupakan lanjutan dari rinofaringitis akut atau
manifestasi dari radang saluran napas atas. *an pada anak dapat menimbulkan
sumbatan jalan napas dengan (epat karena rima glotisnya relatif lebih sempit.
#.b. Laringitis Kronik adalah merupakan inflamsi yang menahun dan yang
disebabkan oleh non spesifik dan spesifik.
#. (. Laringitis )uberkulosis adalah merupakan inflamasi laring yang di sebabkan
oleh tuber(ulosis paru yang setelah di obati tuber(ulosis paru sembuh namun
laringitis tuberkulosisnya menetap.
3. Anatomi fisiologi
Laring ( tenggorok % terletak didepan bagian terendah faring yang memisahkan
di Kolumna +ertebra. Berjalan dari faring sampai ketinggian +ertebrae ser+ikalis dan
masuk kedalam trakea diba,ahnya. Laring terdiri dari kepingan tulang ra,an yang di
ikat oleh ligamen dan membran. -ang terbesar diantarannya ialah tulang ra,an tiroid
dan disebelah depannya terdapat benjolan subkutan yang dikenal sebagai jakun.
)erkait dipun(ak tulang ra,an tiroid terdapat epiglotis yang berupa katup tulang
ra,an dan membantu menutup laring se,aktu menelan.Laring dilapisi oleh jenis
selaput lendir yang sama dengan di dalam trakea ke(uali pita suara,yang terdapat
disebelah dalam laring dan dapat ditegangkan atau di kendorkan . dengan demikian
sela.sela antara pita.pita atau rimaglotis berubah.ubah se,aktu bernapas dan
berbi(ara.
Karena getaran pita suara yang disebabkan udara yang melalui glotis maka
suara dihasilkan. ( /+elin 0.1ear(e,'natomi fisiologi,1) 2ramedia, 3akarta,1444 %.
4. Etiologi
 Bakteri & bakteri Haemophilus influenzae,stafilokok,streptokok dan
pneumokok dan +irus. ( laringitis akut %
 5on spesifik & rangsangan fisik oleh penyalah gunaan suara,rangsangan
kimia, asap rokok. ( faktor eksogen %, bentuk tubuh , kelainan metaboli(
(faktor endogen% dan Spesifik 6 tuber(ulosis dan sifilis. ( Laringitis kronik %.
 )uberkulosis paru yang menetap.
5. Patofisiologi
7ampir semua penyebab inflamasi adalah +irus dan laringitis biasanya disertai
rhinitis atau nasofaring.',itan infeksi mungkin berkaitan dengan pemajanan terhadap
perubahan suhu mendadak, defesiensi diet,malnutrisi,dan tidak ada
imunitas.Laringitis umumnya terjadi pada musim dingin dan mudah di tularkan. !ni
terjadi seiring dengan menurunnya daya tahan tubuh dari host serta pre+alensi +irus
yang meningkat.Laringitis ini biasanya didahului oleh faringitis dan infeksi saluran
napas bagian atas.7al ini akan mengkibatkan iritasi mukosa saluran napas atas dan
merangsang kelenjar mu(us untuk memproduksi mu(us se(ara berlebihan sehingga
menyumbat saluran napas.Kondisi tersebut akan merangsang terjadinya batuk hebat
yang bisa mengakibatkan iritasi pada laring.Sehingga mema(u terjadinya inflamasi
pada laring tersebut.!nflamasi ini akan menyebabkan nyeri akibat pengeluaran
mediator kimia darah yang jika berlebihan akan merangsang peningkatan suhu tubuh.
8. Manifestasi linis
 Laringitis akut dan Laringitis kronik
*emam malaise,gejala rinofaringitis,suara parau sampai afoni.nyeri ketika
menelan atau berbi(ara,rasa kering ditenggorokan,batuk kering yang kelamaan
disertai dahak kental,gejala sumbatan laring sampai sianosis.dan pada
pemeriksaan tampak mukosa laring hiperemis,membengkak,terutama diatas dan
diba,ah pita suara. Biasanya tidak terbatas dilaring juga ada tanda radang akut
dihidung sinus paranasal atau paru.
 Laringitis tuber(ulosis.
*emam,keringat malam, penurunan berat badan, rasa kering, batuk
produktif,hemoptisis,nyeri menelan yang lebih hebat bila dibandingkan dengan
nyeri karena radang lainnya,keadaan umum buruk dan dapat timbul sumbatan
jalan napas karena edema,tuberkuloma atau paralysis pita suara.
'da 9 stadium yang terlihat pada laringoskop &
1. Stadium infiltrasi6 dimana mukosa laring membengkak,hiperemis bagian
posterior,dan pu(at serta terbentuk tuberkel didaerah submukosa dan tampak
bintik kebiruan.
#. Stadium ulserasi6 dimana ulkus membesar,dangkal,dasarnya ditutupi perkijuan
dan terasa nyeri.
:. Stadium perikondritis6 dimana ulkus makin dalam mengenai kartilago
laring,kartilago aritenoid,dan epiglotis.dan terbentuk nanah yang berbau sampai
sekuester.
9. Stadium pembentuk tumor6 dimana terbentuk fibrotuberkulosis pada dinding
posterior,pita suara dan subglotik.
;. Pemeri!saan "en#n$ang
1emeriksaan apusan dari laring untuk kultur dan uji resistensi pada kasus yang
lama atau sering residif.
1emeriksaan laboratorium basil tahan asam dari sputum atau bilasan lambung, foto
toraks menunjukkan tanda proses spesifik paru ,laringoskopi langsung atau tak
langsung.
". Penatala!sanaan
!strahat bi(ara dan bersuara,menghirup uap lembab,dan menghindari iritasi pada
laring dan faring.untuk terapi medika mentosa diberikan antibioti( dan diberikan
kortiko steroid untuk mengatasi edema.
1emberian obat anti tuber(ulosis primer dan sekunder dan traekeostomi bila
timbul sumbatan jalan napas.
BAB II
AS%&AN EPERA'ATAN
1. PEN(A)IAN
 <i,ayat kesehatan pasien yang lengkap yang menunjukkan kemungkinan tanda
dan gejala sakit kepala, sakit tenggorok, kesulitan menelan, batuk, suara serak,
demam, hidung tersumbat, rasa tidak nyaman dan kelebihan.
 1emeriksaan =isik
!nspeksi menunjukkan pembengkakan, lesi atau asimetris, hidung juga perdarahan
atau rebas, dan palpasi terhadap nyeri tekan yang menunjukkan inflamasi.
#. DIA(NOSA EPERA'ATAN
1. !n efektif bersihan jalan napas b>d sekresi berlebihan sekunder akibat proses
inflamasi.
#. 5yeri b>d iritasi jalan napas atau sekunder akibat infeksi.
:. Kerusakan komunikasi +erbal b>d iritasi jalan napas atas sekunder akibat infeksi
atau pembengkakan.
:. 1/</50'5''5
*?. 1 & !n efektif bersihan jalan napas b>d sekresi berlebihan sekunder akibat
proses inflamasi.
)ujuan & 1emeliharaan potensi jalan napas dan pembersihan jalan napas.
!nter+ensi <asionalisasi
 Meningkatkan masukan (airan ,
melembabkan lingkungan atau
menghirup uap.
 1asien diinstruksikan tentang
 *engan meningkatkan masukan
(airan , melembabkan udara
lingkungan atau menghirup uap
dapat menge(erkan sekresi dan
mengurangi inflamasi membrane
mukosa.
 *engan posisi yang terbaik bagi
posisi yang nyaman dan terbaik
 Kolaborasi dalam pemberian obat
sesuai indikasi6 mukolitik,
ekspektoran , bronkodilator dan
analgesi(.
pasien sinus yang akan tergantung
pada letak dapat meningkatkan
drainase dari infeksi.
 'lat untuk menurunkan spasme
bronkus dengan mobilisasi se(ret,
analgesi(k diberikan untuk
memperbiki batuk dengan
menurunkan ketidaknyamanan
tetapi harus digunakan se(ara hati.
hati karena dapat menurunkan
upaya batuk atau menekan
pernafasan.
*?.# & 5yeri b>d iritasi jalan napas atau sekunder akibat infeksi
)ujuan & agar rasa nyeri dapat berkurang
!nter+ensi <asionalisasi
 )entukan karskteristik nyeri >
intensitas nyeri mis & tajam,
konstan, ditusuk.tusuk.
 1emberian anastesi topi(al serta
kumur air hangat.
 Menyarankan pasien untuk
istrahat
 5yeri biasanya ada dalam beberapa
skala.
 *engan pemberian anastesi topi(al
dapat menghilangkan sakit
ditenggorokkan.
 1asien istrahat akan membantu
menghilangkan rasa tidak nyaman
umum atau demam yang menyertai
banyak gangguan jalan napas atas.
 1asien di instruksikan tentang
hygiene umum pada mulut dan
hidung
 *engan teknik hygiene umum pada
mulut membantu menghilangkan
rasa tidak nyaman setempat untuk
pen(egahan penyebaran infeksi.
*?.: & Kerusakan komunikasi +erbal yang berhubungan dengan iritasi jalan
5apas atas sekunder akibat infeksi atau pembengkakan.
)ujuan & 'gar (ara berkomunikasi lebih efektif dan terpelihara.
!nter+ensi <asionalisasi
 1asien di instruksikan untuk tidak
men(oba berbi(ara, serta
menghindari pembi(araan sedapat
mungkin dan berkomunikasi
dengan (ara menuliskan bila
memungkinkan .
 Berikan pilihan (ara komunikasi
yang lain seperti papan dan pen(il.
 Berikan komunikasi non +erbal,
(ontoh sentuhan dan gerak
fisik,antisipasi kebutuhan
 <egangan pita suara lebih lanjut
dapat menghambat pulihnya suara
dengan sempurna.
 0ara komunikasi yang lain dapat
mengistirahatkan laring untuk
berkomunikasi se(ara +erbal
sehingga dapat meminimalkan
penggunaan pita suara.
 Sentuhan di yakini untuk
memberikan peristi,a kompleks
biokimia dengan kemungkinan
pengeluaran endokirin yang
menurunkan ansietas.
DA*TAR P%STAA
Brunner & Suddarth, edisi " +ol. 1. Keperawatan Medikal Bedah, /20, 3akata,
#$$1.
'rif Mansjoer, edisi : , jilid 1, Kapita selekta Kedokteran, Media 'es(ulapius,
=K@!, #$$1.
1ear(e 0. /+elin, Anatomi fisiologi untuk paraamedis, 3akarta, 1) 2ramedia
1ustaka @tama 1444.
http>>,,,.google.As!e" laringitis.(om.id