You are on page 1of 19

II.

DASAR TEORI
2.1 Struktur Geologi
Struktur geologi batuan yang mempengaruhi kemantapan lereng dapat
berupa bidang perlapisan (Bedding Plane), sesar (Fault), perlipatan (Fold) dan
kekar (Joints). Struktur ini sangat memengaruhi kekuatan batuan karena bidang
perlapisan dapat menjadi bidang luncur suatu longsoran. Struktur geologi batuan
tersebut merupakan bidang-bidang lemah yang sangat potensial sebagai tempat
merembesnya air yang akan mempercepat proses pelapukan dan pengisian celah
rekahan sehingga memicu untuk terjadinya suatu longsoran. Orientasi bidang
perlapisan dan kekar juga sangat menentukan tipe dari longsoran yang mungkin
terjadi. Penentuan arah jurus dan kemiringan bidang lemah merupakan bagian
yang penting dalam melengkapi data untuk analisis. Jika bidang lemah tersebut
searah dengan kemiringan lereng akan sangat berpengaruh karena pada bidang
tersebut mempunyai kekuatan geser yang paling kecil sehingga memungkinkan
terjadinya longsoran. Dalam ilmu geologi struktur dikenal berbagai bentuk
perlipatan batuan, seperti sinklin dan antiklin. Jenis perlipatan dapat berupa
lipatan simetri, asimetri, serta lipatan rebah (recumbent/overtune), sedangkan
jenis-jenis patahan adalah patahan normal (normal fault), patahan mendatar (strike
slip fault), dan patahan naik (trustfault). Proses yang menyebabkan batuan-batuan
mengalami deformasi adalah gaya yang bekerja pada batuan-batuan tersebut.
Pertanyaannya adalah dari mana gaya tersebut berasal? Sebagai mana kita ketahui
bahwa dalam teori “tektonik lempeng” dinyatakan bahwa kulit bumi tersusun dari
lempeng-lempeng yang saling bergerak satu dengan lainnya. Pergerakan lempeng-
lempeng tersebut dapat berupa pergerakan yang saling mendekat (konvergen),
saling menjauh (divergen), atau saling berpapasan (transform). Pergerakan
lempeng-lempeng inilah yang merupakan sumber asal dari gaya yang bekerja
pada batuan kerak bumi.
Dalam geologi dikenal 3 jenis struktur yang dijumpai pada batuan sebagai
produk dari gaya-gaya yang bekerja pada batuan, yaitu:
1. Kekar (fractures) dan rekahan (cracks);
2. Pelipatan (folding); dan
3. Patahan/sesar (faulting).

Gambar 2.1 Model urutan pola struktur menurut Moody dan Hill (1956)

Ketiga jenis struktur tersebut dapat dikelompokan menjadi beberapa jenis
unsur struktur, yaitu:
2.1.1 Kekar (fracture)
Kekar adalah gejala yang umum terdapat pada batuan. Kekar dapat
terbentuk karena tektonik (deformasi) dan dapat terbentuk juga secara non
tektonik (pada saat diagenesa, proses pendinginan dsb). Dalam hal ini kita
membatasi pada jenis kekar yang terbentuk secara tektonik. Kekar merupakan
salah satu struktur yang sulit untuk diamati, sebab kekar dapat terbentuk pada
setiap waktu kejadian geologi, misalnya sebelum terjadinya suatu lipatan, atau
terbentuknya semua struktur tersebut. Hal ini yang juga merupakan kesulitan
adalah tidak adanya atau relatif kecil pergeseran dari kekar, sehingga tidak dapat
ditentukan kelompok mana yang terbentuk sebelum atau sesudahnya.
Pada pejelasan definisi kekar telah disebutkan kekar merupakan struktur yang
sulit untuk diamati, dalam hal ini kekar juga menjadi umumnya menjadi penyerta
pada pembentukan struktur geologi lain seperti sesar maupun lipatan. Secara
kejadiannya (genetik), kekar dapat dibedakan menjadi 2 jenis yaitu :
a. Kekar gerus (shear joint) : adalah rekahan yang bidang-bidangnya terbentuk
karena adanya kecenderungan untuk saling bergeser (shearing). Beberapa
referensi menyebut tipe kekar gerus dengan sudut antar bidang lebih kurang
60
O
sebagai shear joint, dan kekar gerus dengan sudut antar bidang lebih
kurang 30
o
hybrid joint. Namun dalam McClay (1987) menyatakan bahwa
hybrid joint secara genetik adalah perpaduan antara extension dan shear
joint yang menampakan pergerakan dari kedua kekar tersebut, yaitu
merenggang dan bergeser.
b. Kekar tarik (extention joint) : adalah rekahan yang bidang-bidangnya
terbentuk karena adanya kecenderungan untuk saling menarik (meregang).
Extension joint sendiri dapat dibedakan sebagai tension joint yang bidang
rekahnya searah dengan arah tegasan utama, dan release joint yang
terbentuk akibat hilangnya atau pengurangan tekanan dan tegak lurus
terhadap gaya utama. Pembedaan kedua jenis kekar ini terutama didasarkan
pada sifatnya.


Gambar 2.2 Anatomi kekar (Fosen, 2010)


Gambar 2.3 Jenis kekar dalam McClay (1987)
Banyak kriteria untuk menentukan jenis-jenis kekar ini, misalnya sifat
permukaan, orientasi pada pola regional (daerah yang lebih luas), dan hubungan
dengan struktur lain, tetapi seringkali tidak mungkin membedakannya di
lapangan. Dihubungkan dengan prinsip tegasan utama, pola kekar-kekar ini akan
mengikuti prinsip tegasan ( σ1, σ2, σ3). Didalam analisa, kekar dapat dipakai
untuk membantu menentukan pola tegasan, dengan anggapan bahwa kekar-kekar
tersebut pada keseluruhan daerah terbentuk sebelum atau pada saat pembentukan
sesar. Cara ini sangat lemah dan umumnya dipakai pada daerah yang lebih luas
(regional) dan data yang dipakai tidak hanya kekar, tetapi juga sesar yang dapat
diamati dari peta topografi, foto udara dan citra landsat. Ken McClay (1987)
menjelaskan beberapa unsur pengambilan data kekar di lapangan untuk analisis
kekar dalam tabel berikut :


Tabel 2.1 Tabel pengamtan dan pengukuran unsur-unsur lipatan di lapangan




2.1.2 Lipatan (Fold)
Lipatan adalah hasil perubahan bentuk atau volume dari suatu bahan yang
ditunjukkan sebagai lengkungan atau kumpulan dari lengkungan pada unsur garis
atau bidang didalam bahan tersebut. Pada umumnya unsur yang terlibat di dalam
lipatan adalah struktur bidang, misalnya bidang perlapisan atau foliasi. Lipatan
merupakan gejala yang penting, yang mencerminkan sifat dari deformasi ;
terutama, gambaran geometrinya berhubungan dengan aspek perubahan bentuk
(distorsi) dan perputaran (rotasi). Lipatan terbentuk bilamana unsur yang telah ada
sebelumnya terubah menjadi bentuk bidang lengkung atau garis lengkung.
Perlipatan adalah deformasi yang tak seragam (inhomogeneous) yang terjadi pada
suatu bahan yang mengandung unsur garis atau bidang. Walaupun demikian,
suatu deformasi yang menghasilkan lipatan pada suatu keadaan, tidak selalu
demikian pada kondisi yang lain. Suatu masa batuan yang tidak mempunyai unsur
struktur garis atau bidang, tidak menunjukkan tanda perlipatan. Perlu juga
dipertimbangkan bahwa, suatu unsur yang sebelumnya berbentuk lengkungan
dapat berubah menjadi bidang atau garis lurus, atau suatu unsur dapat tetap
sebagai struktur bidang atau garis lurus setelah terjadi deformasi.
A. Anatomi lipatan
Secara sederhana unsur-unsur dalam anatomi struktur dapat dijelaskan
secara sederhana, sebagai berikut:
1. Hinge point : titik maksimum pelengkungan pada lapisan yang terlipat.
2. Crest : titik tertinggi pada lengkungan.
3. Trough : titik terendah pada pelengkungan.
4. Inflection point : titik batas dari dua pelengkungan yang berlawanan.
5. Fold axis : (sumbu lipatan/hinge line) Garis maksimum pelengkungan pada
suatu permukaan bidang yang terlipat.
6. Axial plane : (bidang sumbu) Bidang yang dibentuk melalui garis-garis
sumbu pada satu lipatan. Bidang ini tidak selalu berupa bidang lurus
(planar), tetapi dapat melengkung lebih umum dapat disebutkan sebagai
Axial surface.
7. Fold limb : (sayap lipatan) Secara umum merupakan sisi-sisi dari bidang
yang terlipat, yang berada diantara daerah pelengkungan (hinge-zone) dan
batas pelengkungan (inflection line).

Gambar 2.4 Anatomi lipatan (Mc Clay, 1987)
Dalam analisis lipatan dibutuhkan pengambilan data unsur-unsur lipatan seperti di
atas. Ken McClay (1987) menjelaskan secara sederhana pengukuran dan
pengamatan terhadap unsur- unsur lipatan, sebagai berikut:







1

1
Tabel 2.2 Tabel pengamatan dan pengukuran unsur-unsur lipatan
di lapangan


B. Klasifikasi Lipatan
 Berdasarkan Sudut Antar Sayap (interlimb angle)
Sudut antar sayap adalah sudut yang terkecil yang dibentuk oleh sayap-
sayap lipatan, dan diukur pada bidang profil suatu lipatan (gambar 9.3). Sudut ini
mencerminkan sifat keketatan (tightness) dari lipatan. Fleuty (1964) membuat
klasifikasi seperti pada tabel 9.1. Nilai dari antar sudut pada lipatan menghasilkan
klasifikasi sebagai berikut, 180
0
- 120
0
Gentle (landai) 120
0
- 70
0
Open (terbuka)
70
0
- 30
0
Close (tertutup) 30
0
-0
0
Tight (ketat) 0
0
Isoclinal (isoklin). Ken McClay
(1987) menyajikan model dari klasifikasi antar sayap (Williams dan Chapman,
1979) seperti pada gambar.

Gambar 2.5 Model Klasifikasi lipatan berdasarkan sudut antar sayap. (a)
diagram pemodelan ketajaman bentuk lipatan, (b) deskripsi terminologi.
(Williams dan Chapman, 1979 dalam Ken McClay 1987)

 Berdasarkan Kedudukan Lipatan
Berdasarkan bentuknya, lipatan yang kemiringan bidang sayapnya menuju
ke arah yang berlawanan, disebut sebagai Antiklin, dan synform, kemiringan
bidang sayapnya menuju ke satu arah, disebut sebagai Sinklin. Kedudukan lipatan
ditanyakan dari kedudukan sumbu lipatan (fold axis) dan bidang sumbu lipatan
(axial plane/axial surface).
Fleuty (1964) membuat klasifikasi yang didasarkan pada kedua sifat kedudukan
tersebut, dan secara lebih tepat menyatakan besaran kecondongannya kemiringan
dan penunjamannya. Deskripsi yang diberikan merupakan gabungan dari kedua
kriteria yang ada, yaitu kemiringan dari bidang sumbu dan penunjaman dari garis
sumbu.
Tabel 2.3 Penamaan Lipatan Berdasarkan Kedudukan Lipatan
(Fluety, 1964)

Perlu dicatat bahwa beberapa gabungan untuk penamaan lipatan tidak dapat
diberikan, karena garis sumbu posisinya berada pada bidang sumbu, misalnya,
jenis lipatan gently - inclined, steeply - plungging fold tidak mungkin diberikan
atau tidak ada. Klasifikasi ini agak sulit dipakai mengingat kerangka yang
digunakan adalah kedudukan dari sumbu lipatan, yang penunjamannya terukur
pada bidang vertikal yang tidak ada hubungannya dengan geometri lipatan. Untuk
mengatasi ini dapat dipakai kriteria pitch garis sumbu dan kemiringan bidang
sumbu. Kesulitannya adalah mengukur besaran pitch dilapangan.
Klasifikasi yang lebih sederhana dengan menggabungkan besaran penunjaman
Sudut Istilah Kemiringan bidang
sumbu
Penunjaman garis
sumbu
0 Horizontal Recumbent fold Horizontal fold
1 - 10 Subhorizontal Recumbent fold Horizontal fold
10 - 30 Gentle Gently inclined fold Gently plunging fold
30 - 60 Moderate Moderately inclined
fold
Moderately plunging
fold
60 - 80 Steep Steeply inclined fold Steeply inclined fold
80 - 89 Subvertical Upright fold Vertical fold
90 Vertical Upright fold Vertical fold
dan pitch, seperti bagan bentuk lipatan. Rickard (1971), membuat diagram
segitiga yang memperhitungkan tiga variabel, yaitu ; kedudukan bidang sumbu
lipatan (kemiringan) dan sumbu lipatan (penunjaman dan pitch terhadap bidang
sumbu lipatan).
Pasangan kemiringan dan pitch dari suatu lipatan ditunjukkan sebagai titik pada
perpotongan garis lurus, yang angkanya dibaca sepanjang tepi dasar dan kiri
diagram. Untuk penunjaman digunakan kurva dan angka pada tepi kanan diagram.
Jenis-jenis kedudukan lipatan dapat ditentukan pada diagram. Untuk dapat
memberikan kedudukan yang lebih pasti pada lipatan yang miring (inclined fold),
Rickard mengusulkan untuk memberikan indeks besaran angka dari kemiringan
(D) dan penunjaman dari (P), misalnya ;
 Upright fold (D85P25), menurut klasifikasi Fleuty (Tabel 2.3) adalah
Upright, gently, plunging fold
 Inclined fold (D70P45), Steeply inclined, moderately-plunging fold.
Reclined fold (D56P55), Moderately-inclined fold.
 Diagram ini juga dapat digunakan untuk berbagai lipatan secara lebih terinci
pada suatu wilayah, misalnya bila terdapat suatu perubahan kedudukan pada
arah atau geometri lipatan-lipatan tersebut.


Gambar 2.6 (a) diagram data plunge, dip, pitch dari suatu lipatan, (b)
penamaan lipatan berdasarkan plunge, dip, dan pitch, (c) kemungkinan
geometri lipatan. (Rickard, 1971)
2.1.3 Patahan/sesar (Fault)
Sesar adalah struktur rekahan yang telah mengalami perkembangan pergeseran
maupun pergerakan blok batuan yang tersesarkan. Sederhananya, sesar
merupakan patahan pada blok batuan yang memiliki sifat pergeseran blok batuan
yang terpatahkan, sifat pergeserannya dapat bermacam-macam, mendatar,
miring (oblique), naik dan turun. Di dalam mempelajari struktur sesar,
disamping geometrinya yaitu, bentuk, ukuran, arah dan polanya, yang penting
juga untuk diketahui adalah mekanisme pergerakannya.
a. Anatomi Sesar
Ada beberapa unsur yang perlu diperhatikan dalam pengamatan sesar di lapangan.
Data yang baik akan diperoleh dengan memahami betul bagaimana data ini akan
diolah. Beberapa anatomi atau unsur-unsur yang dapat diamati pada sesar adalah
sebagai berikut:


Gambar 2.7 Anatomi Sesar
1. Bidang sesar (fault plane) adalah suatu bidang sepanjang rekahan dalam
batuan yang tergeserkan.
2. Jurus sesar (strike) adalah arah dari suatu garis horizontal yang merupakan
perpotongan antara bidang sesar dengan bidang horizontal.
3. Kemiringan sesar (dip) adalah sudut antara bidang sesar dengan bidang
horizontal dan diukur tegak lurus jurus sesar.
4. Atap sesar (hanging wall) adalah blok yang terletak diatas bidang sesar
apabila bidang sesamya tidak vertikal.
5. Foot wall adalah blok yang terletak dibawah bidang sesar.
6. Hade adalah sudut antara garis vertikal dengan bidang sesar dan merupakan
penyiku dari dip sesar.
7. Heave adalah komponen horizontal dari slip / separation, diukur pada
bidang vertikal yang tegak lurus jurus sesar.
8. Throw adalah komponen vertikal dari slip/separation,diukur pada bidang
vertikal yang tegak turus jurus sesar.
9. Slickensides yaitu kenampakan pada permukaan sesar yang memperlihatkan
pertumbuhan mineral-mineral fibrous yang sejajar terhadap arah
pergerakan.
Ken McClay menjelaskan beberapa unsur-unsur sesar yang diukur
dilapangan dalam tabel berikut :







Tabel 2.4 Tabel pengamtan dan pengukuran unsur-unsur lipatan di lapangan

b. Klasifikasi Sesar
 Klasifikasi Sesar Dinamis Anderson (1951)
Anderson mengklasifikasikan sesar berdasarkan fakta bahwa tidak ada
tegasan shear (Shearing Stress) yang dapat terbentuk pada permukaan bumi, salah
satu dari tegasan utama (1, 2, atau 3) harus tegak lurus dengan permukaan
bumi, sementara dua yang lain tegak lurus.

Gambar 2.7 Klasifikasi sesar menurut Anderson (1951)
Secara sederhana Anderson menjelaskan pembagian klasifikasinya sebagai
berikut: (i) Sesar normal, 1 berarah vertikal, sementara 2 dan 3 berarah
horisontal, dengan arah jurus kemiringan bidang sesar (dip) mendekati 60
o
. (ii)
Sesar geser, memiliki 2 sangat vertikal, sementara 1 dan 2 horisontal, dalam
hal ini Anderson menggambarkan bidang sesar vertikal dengan arah pergerakan
sesar horisontal.(iii) Sesar Berbalik/Naik, memiliki 3 vertikal sementara 1 dan
2 horisontal, bidang sesar diperkirakan memiliki arah jurus kemiringan sebesar
30
o
mendekati horisontal.
 Klasifikasi Sesar Geometri
Klasifikasi sesar geometri berdasarkan pergeseran dan arah pergerakan slip yang
memotong atau searah dengan bidang sesar. Pembagiannya antara lain: (i)
Etensional fault contohnya sesar normal, (ii) Contraction fault contohnya sesar
berbalik dan sesar naik, (iii) Strike-slip contohnya sesar geser dan sesar transform.
 Klasifikiasi Sesar Kinematik Rickard (1972)
Dalam studi struktur geologi ditemui istilah Obliqe fault, klasifikasi menurut
Rickard (1972) secera sederhana menjelaskan sesar berdasarkan faktor besaran
pergeseran dan pergrakan dari bidang sesar, besaran nilai ini dinotasikan sebagai
Net slip, yang dapat diperoleh dilapangan dari perpotongan struktur garis gores
garis atau cermin sesar dengan bidang sesar.

Gambar 2.3.3 diagram klasifikasi sesar menurut Rickard (1972)
Klasifikasi sesar menurut Rickard (1972) mengacu pada nilai pitch/rake dari Net-
slip dan nilai dip dari bidang sesar, yang dituangkan dalam suatu diagram untuk
menentukan jenis sesar dengan nilai pitch dan dip tertentu. Contoh pembacaan
diagram klasifikasi sesar menurut Rickard (1972), sebagai berikut: suatu sesar
dengan nilai dip 60
o
dan nilai pitch 50
o
dengan separasi bidang bergeser
menganan dari slickend side pada bidang sesar, nilai pitch dan dip dilpotkan ke
dalam diagram kemudian dilakukan pembacaan sehingga hasil dari nilai dip dan
pitch dari contoh tersebut di dapatkan jenis sesar Normal right slip fault.