You are on page 1of 24

1 FURUNKEL DAN KARBUNKEL

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG
Furunkel (boil) dan karbunkel merupakan tonjolan yang nyeri dan berisi
nanah yang terbentuk dibawah kulit ketika bakteri menginfeksi dan
menyebabkan inflamasi pada satu atau lebih folikel rambut. Furunkel yang
berdekatan dapat bergabung membentuk karbunkel. Karbunkel merupakan
beberapa furunkel yang membentuk kelompok (cluster). Karbunkel memiliki
lesi inflamasi yang lebih luas, dasarnya dalam, dan ditandai dengan nyeri yang
luar biasa pada tempat lesi yang biasanya ditemui pada tengkuk, punggung
atau paha. Penyebab dari furunkel atau karbunkel ini biasanya bakteri
Stafilokokus aureus.
Furunkel atau karbunkel dapat muncul dimana saja pada kulit, tetapi
terutama muncul pada wajah, leher, ketiak, pantat atau paha – area yang
terdapat rambut dan banyak mengeluarkan keringat atau mengalami gesekan.
Walaupun setiap orang memiliki potensi untuk terkena furunkel atau
karbunkel, beberapa orang dengan diabetes, sistem imun yang lemah, jerawat
atau problem kulit lainnya memiliki resiko lebih tinggi.
Karbunkel merupakan penyakit yang agak jarang. Belum ada data yang
spesifik yang menunjukkan prevalensi penyakit ini. Statistik Departemen
Kesehatan Inggris menunjukkan bahwa pada tahun 2002 dan 2003 terdapat
sekitar 0,19% atau 24.525 penderita berobat ke Rumah Sakit Inggris dengan
diagnosa furunkel abses kutaneus dan karbunkel.
Karbunkel dapat memberikan komplikasi melalui bakteremia yang terjadi
bila bakteri S.aureus masuk kedalam aliran darah. Karbunkel dapat
meyebabkan syok septik yang bila tidak ditangani dengan serius dapat
menyebabkan kematian. Bakteremia S.aureus dapat menimbulkan infeksi pada
organ lain yang disebut dengan infeks metastasis. Infeksi metastasis ini antara
lain endokarditis, osteomielitis, vaskulitis, atau abses otak.


2 FURUNKEL DAN KARBUNKEL

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 ANATOMI FISIOLOGI DAN HISTOLOGI KULIT
A. Epidermis
Epidermis adalah bagian terluar kulit dan tesusun dari 4 sampai 5
lapisan epitelia. Tebalnya kira-kira 0,1 mm yang bervariasi dari 0,07 mm
pada kulit tipis sampai 1,4 mm pada kulit yang tebal di telapak tangan dan
kaki. Epidermis tidak berisi pembuluh darah tetapimenerima difusi zat-zat
dari dermis untuk mengadakan pertukaran sisa-sisa metabolisme dbagi
nutrisi di dalam darah. Dalam epidermis terdapat dua sistem :

1. Sistem malpighi, bagian epidermis yang sel – selnya akan
mengalami keratinisasi.
2. Sistem pigmentasi, yang berasal dari crista neuralis dan akan
memberikan melanosit untuk sintesa melanin.

Disamping sel – sel yang termasuk dua sistem tersebut terdapat sel
lain, yaitu sel Langerhans dan sel Markel yang belum jelas fungsinya.

3 FURUNKEL DAN KARBUNKEL


Lapisan-lapisan epidermis:
 Stratum basale atau Stratum germinativum
Strarum Basale adalah lapisan tunggal sel yang melekat
pada jaringan ikat dari lapisan kulit di bawahnya dermis.
Disebut stratum basal karena sel-selnya terletak dibagian basal.
Lapisan tunggal yang sel-selnya mampu membelah diri.
Lapisan ini terikat pada membran dasar yang memisahkan
epidermis dengan jaringan konektif dari epidermis yang
berdekatan. Bentuknya silindris (tabung) dengan inti yang
lonjong. Di dalamnya terdapat butir-butir yang halus disebut
butir melanin warna.Sel tersebut disusun seperti pagar
(palisade) di bagian bawah sel tersebut terdapat suatu membran
yang disebut membran basalis. Sel-sel basalis dengan membran
basalis merupakan batas terbawah dari epidermis dengan
dermis . Permukaan kulit yang tidak terdapat rambut
mengandung sel epitel khusus yang dikenal sebagai sel Merkel.
Sel ini ditemukan di antara sel-sel yang paling dalam yang
terdapat pada stratum germinativum. Sel-sel ini sensitif
terhadap rangsangan kimia, sel Merkel menerima rangsangan
kimia yang menstimulasi saraf sensorik.

 Stratum spinosum / Stratum akantosum
Stratum spinosum adalah lapisan sel spina atau tanduk
karena sel tersebut disatukan oleh tonjolan yang menyerupai
spina (penghubung intraseluler). Lapisan ini merupakan lapisan
epidermis yang paling tebal dan dapat mencapai 0,2 mm dan
terdiri dari 8 sampai 10 sel yang tidak beraturan bentuknya.
Sel-selnya disebut spinosum karena jika kita lihat dibawah
mikroskop sel-selnya terdiri dari sel-sel yang bentuknya
poligonal (banyak sudut) dan mempunyai tanduk (spina).
4 FURUNKEL DAN KARBUNKEL

Disebut akantosum karena sel-selnya berdiri. Dibentuk dari
sel-sel yang sangat erat dihubungkan oleh desmosoma. Kecil
fibril-fibrilnya menghubungkan sel yang satu dengan yang
lainya yang disebut intercelular bridges atau jembatan
interselular.

 Stratum granulosum
Stratum granulosum adalah lapisan epidermis ketiga yang
terdiri dari 3 sampai 5 baris sel-sel pipih yang berisi granul
berwarna gelap yang disebut keratohialin yang merupakan
precursor pembentukan keratin. Keratin adalah suatu protein
kedap air yang didapati pada lapisan epidermis. Inti sel-sel
pada stratum granulosum ada dalam berbagai tahap
degenenerasi. Karena inti ini pecah, sel-sel ini tiadak mampu
lagi melaksanakan metabolisme dan kemudian mati.

 Stratum lucidium
Stratum lusidum adalah lapisan jernih seperti suatu pita
yang bening yang batas-batas sel nya sudah tidak terlihat lagi
dan tembus cahaya. Selnya pipih, bedanya dengan stratum
granulosum adalah sel-sel sudah banyak yang kehilangan inti
dan butir-butir sel telah menjadi jernih sekali dan tembus sinar.
Lapisan ini hanya terdapat pada telapak tangan dan telapak
kaki.

 Stratum corneum
Stratum corneum adalah lapisan epidermis teratas yang
dapat ditemukan pada permukaan kulit yang tebal maupun
yang tipis. Stratum corneum terdiri dari 25 – 35 lapisan datar
yang multiple dan sel yang interlocking. Epithelium
mengandung sejumlah besar keratin yang disebut keratinized
atau cornified. Normalnya, stratum corneum ini merupakan
5 FURUNKEL DAN KARBUNKEL

lapisan yang relative kering, yang membuat permukaan tidak
sesuai untuk pertumbuhan mikroorganisme. Proses
cornification mencul di mana saja khuusnya pada permukaan
kulit kecuali permukaan anterior seperti pada mata. Meskipun
stratum corneum resisten terhadap air, stratum corneum tidak
tahan air dan air dari cairan interstitial mempenetrasi
permukaan, diuapkan melalui sekeliling udara. Proses ini
disebut juga insensible perspiration.

B. Dermis
Lapisan dermis atau korium merupakan lapisan kedua kulit.
Lapisan ini terdiri daripada tisu penghubung yang berkembang daripada
mesoderma yaitu bahagian tengah daripada 3 lapisan primer embrio.
Dermis bertindak untuk menyokong lapisan epidermis dan mengikatnya
pada lapisan dalam, yaitu lapisan hipodermis. Dermis mempunyai
ketebalan kira-kira 0.25 ke 2.55 mm dan lapisan yang paling tebal terletak
di bahagian tapak tangan dan tapak kaki. Lapisan dermis yang paling tipis
pula terletak di bahagian kelopak mata, penis dan skrotum. Bagian utama
kedua dari kulit adalah dermis, yang tersusun dari jaringan ikat yang berisi
serabut kolagen dan elastik. Dermis sangat tebal di telapak tangan dan
telapak kaki, sangat tipis dikelopak mata, penis, dan skrotum.
Dermis terdiri dari dua lapisan : bagian atas, pars papilaris (stratum
papilar) dan bagian bawah, retikularis (stratum retikularis). Baik pars
papilaris maupun pars retikularis terdiri dari jaringan ikat longgar yang
tersusun dari serabut-serabut : serabut kolagen, serabut elastis, dan serabut
retikulus. Serabut ini saling beranyaman dan masing-masing mempunyai
tugas yang berbeda. Serabut kolagen, untuk memberikan kekuatan pada
kulit, serabut elastis, memberikan kelenturan pada kulit, dan retikulus,
terdapat terutama di sekitar kelenjar dan folikel rambut dan memberikan
kekuatan pada alat tersebut.
6 FURUNKEL DAN KARBUNKEL


 Lapisan Papilar
Merupakan lapisan dermal paling atas, sangat tidak rata,
bagian bawah papilla nampak bergelombang. Lapisan ini
mempunyai sel tisu penghubung seperti fibroblast, sel mast dan
mikrofag. Jaringan kapiler yang banyak pada lapisan papilar
menyediakan nutrient untuk lapisan epidermal dan
memungkinkan panas merambat ke permukaan kulit. Reseptor
sentuhan juga terdapat dalam lapisan papilar.

 Lapisan reticular
Merupakan lapisan kulit paling dalam, mengandung banyak
arteri, vena, kelenjar keringat dan kelenjar sebaseus, serta
reseptor tekanan. Baik lapisan papilar maupun lapisan reticular
mengandung banyak serabut kolagen dan serabur elastic.
Adanya serabut elastic tersebut memberikan kekuatan,
keutuhan, kebolehan untuk merenggangkan, memberikan
kekenyalan pada kulit dan menyebabkan kulit orang muda
lebih elastis, sedangkan kulit orang tua menjadi keriput karena
serabut elastis dan lapisan lemak subkutan menjadi sangat
berkurang.
7 FURUNKEL DAN KARBUNKEL

Dermis juga memiliki banyak pembuluh darah, yang berperan
untuk melakukan regulasi suhu tubuh.Bila suhu tubuh meningkat, arteriol
dilatasi, dan kapiler-kapiler dermis menjadi terisi dengan darah yang
panas.Dengan demikian, memungkinkan panas dipancarkan dari
permukaan kulit ke udara. Bila suhu lingkungan dingin, maka panas tubuh
harus disimpan, untuk itu arteriol dermal berkonstriksi sehingga darah
tidak banyak menuju permukaan kulit, panas tubuh yang dipancarkan juga
lebih sedikit.
C. Subkutis atau Hipodermis
Subkutis terdiri dari kumpulan-kumpulan sel-sel lemak dan di
antara gerombolan ini berjalan serabut-serabut jaringan ikat dermis. Sel-sel
lemak ini bentuknya bulat dengan intinya terdesak ke pinggir, sehingga
membentuk seperti cincin. Lapisan lemak ini disebut penikulus adiposus
yang tebalnya tidak sama pada tiap-tiap tempat dan juga pembagian antara
laki-laki dan perempuan tidak sama (berlainan). Guna penikulus adiposus
adalah sebagai shock breaker atau pegas bila tubuh mengalami benturan,
isolator panas atau untuk mempertahankan suhu dan penimbunan kalori.
Di bawah subkutis terdapat selaput otot kemudian baru terdapat otot.

8 FURUNKEL DAN KARBUNKEL

 Kelenjar Kulit
Ada tiga macam kelenjar yang berhubungan dengan kulit,
yaitu kelenjar sebasea, kelenjar sudorifera, dan kelenjar
seruminosa :

1) Kelenjar sebasea atau kelenjar minyak
Kelenjar sebasea merupakan kelenjar yang melekat
pada folikel rambut dan melepaskan lipid yang dikenal
sebagai sebum. Sebum merupakan suatu campuran lemak,
kolesterol, protein, dan garam-garam anorganik. Sebum
menjaga rambut dari kekeringan dan kerapuhan,
membentuk lapisan pelindung. Kelenjar sebasea banyak
terdapat di kulit kepala, wajah, dada depan dan belakang
dan mereka tidak hadir pada telapak tangan dan telapak
kaki.

2) Kelenjar seruminosa
Kelenjar seruminosa adalah kelenjar yang berbentuk
pipa dan mensekret minyak lilin disebut seruminus yang
dibawa oleh minyak ke dalam saluran, bersama-sama
dengan kelenjar sebaseus. Di dalam telinga bagian luar lilin
dapat menjadi keras dan menyebabkan tekanan mendesak
membran timpani yang memisahkan bagian luar dan telinga
bagian dalam. Kelenjar seruminosa ini ditemukan juga di
bagian periferi kelopak mata dimana sekresinya
meminyaki konjungvita dan kornea mata.






9 FURUNKEL DAN KARBUNKEL

3) Kelenjar keringat
Kelenjar keringat adalah sekresi aktif dari kelenjar
keringat di bawah pengendalian syaraf simpatis. Kelenjar
kulit mempunyai lobulus yang bergulung-gulung dengan
saluran keluar lurus merupakan jalan untuk mengeluarkan
berbagai zat dari badan (kelenjar keringat). Keringat
terutama berisi larutan garam dengan konsentrasi kira-kira
1/3 dari yang ada dalam plasma.
Keringat dibentuk oleh 2-5 juta kelenjar keringat
yang berupa saluran melingkar pada pori-pori permukaan
kulit. Kelenjar keringat disusun oleh sel epitelium yang
sangat aktif menghasilkan keringat. Di antaranya adalah
kelenjar ekrin yang disyarafi oleh syaraf simpatis,
melepaskan keringat sebagai reaksi peningkatan suhu
lingkungan dan suhu tubuh.
Pengeluaran keringat pada tangan, kaki, dahi,
sebagai reaksi tubuh terhadap stressdannyeri. Selain itu
juga terdapat kelenjar keringat apokrin disyarafi oleh
syaraf-syaraf adrenergik yang terdapat di ketiak, vulva,
puting susu dan anus.












10 FURUNKEL DAN KARBUNKEL


2.2 DEFINISI
Furunkel adalah peradangan pada folikel rambut dan jaringan subkutan
sekitarnya. Furunkel dapat terbentuk pada lebih dari satu tempat. Jika lebih
dari satu tempat disebut furunkulosis. Furunkulosis dapat disebabkan oleh
berbagai faktor antara lain akibat iritasi, kebersihan yang kurang, dan daya
tahan tubuh yang kurang. Infeksi dimulai dengan adanya peradangan pada
folikel rambut di kulit (folikulitis), kemudian menyebar kejaringan
sekitarnya.

Karbunkel adalah satu kelompok beberapa folikel rambut yang
terinfeksi oleh Staphylococcus aureus, yang disertai oleh keradangan daerah
sekitarnya dan juga jaringan dibawahnya termasuk lemak bawah kulit.

Gambar 1. Furunkel.


Gambar 2. Furunkulosis.

11 FURUNKEL DAN KARBUNKEL




Gambar 3. Karbunkel



2.3 EPIDEMIOLOGI
Penyakit ini memiliki insidensi yang rendah. Belum terdapat data spesifik
yang menunjukkan prevalensi furunkel. Furunkel umumnya terjadi pada
anak-anak, remaja sampai dewasa muda frekuensi terjadinya antara pria dan
wanita.


2.4 ETIOLOGI
Permukaan kulit normal atau sehat dapat dirusak oleh karena iritasi,
tekanan, gesekan, hiperhidrosis, dermatitis, dermatofitosis, dan beberapa
faktor yang lain, sehingga kerusakan dari kulit tersebut dipakai sebagai jalan
masuknya Staphylococcus aureus maupun bakteri penyebab lainnya.
Penularannya dapat melalui kontak atau auto inokulasi dari lesi penderita.
Furunkulosis dapat menjadi kelainan sistemik karena faktor predisposisi
antara lain, alcohol, malnutrisi, diskrasia darah, iatrogenic atau keadaan
imunosupresi termasuk AIDS dan diabetes mellitus.


12 FURUNKEL DAN KARBUNKEL

2.5 PATOGENESIS
Kulit memiliki flora normal, salah satunya S.aureus yang merupakan flora
residen pada permukaan kulit dan kadang-kadang pada tenggorokan dan
saluran hidung. Predileksi terbesar penyakit ini pada wajah, leher, ketiak,
pantat atau paha. Bakteri tersebut masuk melalui luka, goresan, robekan dan
iritasi pada kulit. Selanjutnya, bakteri tersebut berkolonisasi di jaringan kulit.
Respon primer host terhadap infeksi S.aureus adalah pengerahan sel PMN ke
tempat masuk kuman tersebut untuk melawan infeksi yang terjadi. Sel PMN
ini ditarik ke tempat infeksi oleh komponen bakteri seperti formylated
peptides atau peptidoglikan dan sitokin TNF (tumor necrosis factor) dan
interleukin (IL) 1 dan 6 yang dikeluarkan oleh sel endotel dan makrofag yang
teraktivasi. Hal tersebut menimbulkan inflamasi dan pada akhirnya
membentuk pus yang terdiri dari sel darah putih, bakteri dan sel kulit yang
mati.

Didapatkan keluhan utama dan keluhan tambahan pada perjalanan dari
penyakit furunkel. Lesi mula-mula berupa infiltrat kecil, dalam waktu singkat
membesar kemudian membentuk nodula eritematosa berbentuk kerucut.
Kemudian pada tempat rambut keluar tampak bintik-bintik putih sebagai mata
bisul. Nodus tadi akan melunak (supurasi) menjadi abses yang akan memecah
melalui lokus minoris resistensi yaitu di muara folikel, sehingga rambut
menjadi rontok atau terlepas. Jaringan nekrotik keluar sebagai pus dan
terbentuk fistel. Karena adanya mikrolesi baik karena garukan atau gesekan
baju, maka kuman masuk ke dalam kulit.
Beberapa faktor eksogen yang mempengaruhi timbulnya furunkel yaitu,
musim panas (karena produksi keringat berlebih), kebersihan dan hygiene
yang kurang, lingkungan yang kurang bersih. Sedangkan faktor endogen yang
mempengaruhi timbulnya furunkel yaitu, diabetes, obesitas, hiperhidrosis,
anemia, dan stres emosional.
13 FURUNKEL DAN KARBUNKEL


Gambar 4. Klasifikasi dari infeksi bakterial pada folikel rambut


2.6 MENIFESTASI KLINIS
Mula-mula nodul kecil yang mengalami keradangan pada folikel rambut,
kemudian menjadi pustule dan mengalami nekrosis dan menyembuh setelah
pus keluar dengan meninggalkan sikatriks. Awal juga dapat berupa macula
eritematosa lentikular setempat, kemudian menjadi nodula lentikular
setempat, kemudian menjadi nodula lentikuler-numular berbentuk kerucut.

Nyeri terjadi terutama pada furunkel yang akut, besar, dan lokasinya di
hidung dan lubang telinga luar. Bisa timbul gejala kostitusional yang sedang,
seperti panas badan, malaise, mual. Furunkel dapat timbul di banyak tempat
dan dapat sering kambuh. Predileksi dari furunkel yaitu pada muka, leher,
lengan, pergelangan tangan, jari-jari tangan, pantat, dan daerah anogenital.








14 FURUNKEL DAN KARBUNKEL

2.7 DIAGNOSA
Diagnosa dapat ditegakkan dengan anamnesis, pemeriksaan klinis,
pemeriksaan bakteriologi dari sekret.
a) Anamnesa
Penderita datang dengan keluhan terdapat nodul yang nyeri.
Ukuran nodul tersebut meningkat dalam beberapa hari. Beberapa pasien
mengeluh demam dan malaise.

b) Pemeriksaan Fisik
Terdapat nodul berwarna merah, hangat dan berisi pus. Supurasi
terjadi setelah kira-kira 5-7 hari dan pus dikeluarkan melalui saluran
keluar tunggal (single follicular orifices). Furunkel yang pecah dan kering
kemudian membentuk lubang yang kuning keabuan ireguler pada bagian
tengah dan sembuh perlahan dengan granulasi.

c) Pemeriksaan Penunjang
Furunkel biasanya menunjukkan leukositosis. Pemeriksaan
histologis dari furunkel menunjukkan proses inflamasi dengan PMN yang
banyak di dermis dan lemak subkutan. Diagnosis dapat ditegakkan
berdasarkan gambaran klinis yang dikonfirmasi dengan pewarnaan gram
dan kultur bakteri. Pewarnaan gram S.aureus akan menunjukkan
sekelompok kokus berwarna ungu (gram positif) bergerombol seperti
anggur, dan tidak bergerak. Kultur pada medium agar MSA (Manitot Salt
Agar) selektif untuk S.aureus. Bakteri ini dapat memfermentasikan
manitol sehingga terjadi perubahan medium agar dari warna merah
menjadi kuning. Kultur S. aureus pada agar darah menghasilkan koloni
bakteri yang lebar (6-8 mm), permukaan halus, sedikit cembung, dan
warna kuning keemasan. Uji sensitivitas antibiotik diperlukan untuk
penggunaan antibiotik secara tepat.
15 FURUNKEL DAN KARBUNKEL


Gambar 5. Gambaran Mikroskopik S.aureus dengan Pengecatan Gram.

Gambar 6. Hasil Kultur S. aureus dalam Medium MSA.

16 FURUNKEL DAN KARBUNKEL


Gambar 7. Hasil Kultur S.aureus dalam Medium Agar Darah

2.8 DIAGNOSA BANDING
a) Kista Epidermal
Diagnosa banding yang paling utama dari furunkel adalah kista
epidermal yang mengalami inflamasi. Kista epidermal yang mengalami
inflamasi dapat dengan tiba-tiba menjadi merah, nyeri tekan dan
ukurannya bertambah dalam satu atau beberapa hari sehingga dapat
menjadi diagnosa banding furunkel. Diagnosa banding ini dapat
disingkirkan berdasarkan terdapatnya riwayat kista sebelumnya pada
tempat yang sama, terdapatnya orificium kista yang terlihat jelas dan
penekanan lesi tersebut akan mengeluarkan masa seperti keju yang berbau
tidak sedap sedangkan pada furunkel mengeluarkan material purulen.

b) Hidradenitis Suppurativa
Hidradenitis suppurativa (apokrinitis) sering membuat salah
diagnosis furunkel. Berbeda dengan furunkel, penyakit ini ditandai oleh
abses steril dan sering berulang. Selain itu, daerah predileksinya berbeda
dengan furunkel yaitu pada aksila, lipat paha, pantat atau dibawah
payudara. Adanya jaringan parut yang lama, adanya saluran sinus serta
17 FURUNKEL DAN KARBUNKEL

kultur bakteri yang negatif memastikan diagnosis penyakit ini dan juga
membedakannya dengan furunkel.


c) Sporotrikosis
Merupakan kelainan jamur sistemik, timbul benjolan-benjolan
yang berjejer sesuai dengan aliran limfe, pada perabaan terasa kenyal dan
terdapat nyeri tekan.

d) Blastomikosis
Didapatkan benjolan multipel dengan beberapa pustula, daerah
sekitarnya melunak.


e) Skrofuloderma
Biasanya berbentuk lonjong, livid, dan ditemukan jembatan-
jembatan kulit (skin bridges).


2.9 PENATALAKSANAAN
Pada furunkel di bibir atas pipi dan karbunkel pada orang tua sebaiknya
dirawat inapkan. Pengobatan topikal, bila lesi masih basah atau kotor
dikompres dengan solusio sodium chloride 0,9%. Bila lesi telah bersih, diberi
salep natrium fusidat atau framycetine sulfat kassa steril.
Antibiotik sistemik mempercepat resolusi penyembuhan dan wajib
diberikan pada seseorang yang beresiko mengalami bakteremia. Antibiotik
diberikan selama tujuh sampai sepuluh hari. Lebih baiknya, antibiotik
diberikan sesuai dengan hasil kultur bakteri terhadap sensitivitas antibiotik.

Tabel 1. Antibiotik Sistemik

Antimicrobial Agent Dosing (PO Unless Indicated), Usually
For 7 to 14 Days
Natural penicillins
Penicillin V 250–500 mg tid/qid for 10 days
18 FURUNKEL DAN KARBUNKEL

Penicillin G 600,000–1.2 million U IM qd for 7 days
Benzathine penicillin G 600,000 U IM in children 6 years, 1.2
million units if 7 years, if compliance is a
problem
Penicillinase-resistant penicillins
Cloxacillin 250–500 mg (adults) qid for 10 days
Dicloxacillin (drug of choice) 250–500 mg (adults) qid for 10 days
Nafcillin 1.0–2.0 g IV q4h
Oxacillin 1.0–2.0 g IV q4h
Aminopenicillins
Amoxicillin 500 mg tid or 875 mg q12h
Amoxicillin plus clavulanic acid
(Betha-lactamase inhibitor)
875/125 mg bid; 20 mg/kg per day tid for
10 days
Ampicillin 250–500 mg qid for 7–10 days
Cephalosporins
Cephalexin (drug of choice) 250-500 mg (adults) qid for 10 days; 40–50
mg/kg per day (children) for 10 days
Cephradine 250–500 mg (adults) qid for 10 days; 40–50
mg/kg per day (children) for 10 days
Cefaclor 250–500 mg q8h
Cefprozil 250–500 mg q12h
Cefuroxime axetil 125–500 mg q12h
Cefixime 200–400 mg q12–24h
Erythromycin group
Erythromycin ethylsuccinate 250–500 mg (adults) qid for 10 days; 40
mg/kg per day (children) qid for 10 days
Clarithromycin 500 mg bid for 10 days
19 FURUNKEL DAN KARBUNKEL

Azithromycin Azithromycin: 500 mg on day 1, then 250
mg qd days 2–5
Clindamycin 150-300 mg (adults) qid for 10 days; 15
mg/kg per day (children) qid for 10 days
Tetracylines
Minocycline 100 mg bid for 10 days
Doxycycline 100 mg bid
Tetracycline 250–500 mg qid
Miscellaneous agents
Trimethoprim-sulfamethoxazole 160 mg TMP + 800 mg SMX bid
Metronidazole 500 mg qid
Ciprofloxacin 500 mg bid for 7 days



Bila infeksi berasal dari methicillin resistent Streptococcus aureus (MRSA)
dapat diberikan vankomisin sebesar 1 gram tiap 12 jam. Pilihan lain adalah
tetrasiklin, namun obat ini berbahaya untuk anak-anak. Terapi pilihan untuk
golongan penicilinase-resistant penicillin adalah dicloxacilin Pada penderita
yang alergi terhadap penisilin dapat dipilih golongan eritromisin. Pada orang
yang alergi terhadap β-lactam antibiotic dapat diberikan vancomisin.

Tindakan insisi dapat dilakukan apabila telah terjadi supurasi. Higiene
kulit harus ditingkatkan. Jika masih berupa infiltrat, pengobatan topikal dapat
diberikan kompres salep iktiol 5% atau salep antibotik. Adanya penyakit yang
mendasari seperti diabetes mellitus, harus dilakukan pengobatan yang tepat dan
adekuat untuk mencegah terjadinya rekurensi.

Terapi antimikrobial harus dilanjutkan sampai semua bukti inflamasi
berkurang. Lesi yang didrainase harus ditutupi untuk mencegah autoinokulasi.
Pasien dengan furunkel yang berulang memerlukan evaluasi dan penanganan
lebih komplek.

20 FURUNKEL DAN KARBUNKEL

Tabel 2. Manajemen furunkulosis atau karbunkel rekuren

● Evaluasi penyebab yang mendasari dengan teliti
- Proses sistemik
- Faktor-faktor predisposisi yang terlokalisasi spesifik: paparan zat industri (zat
kimia, minyak).
- Higiene yang buruk.
- Sumber kontak Staphylococcus: infeksi piogenik dalam keluarga, olahraga
kontak seperti gulat, autoinokulasi.



- Stahphylococcus aureus dari hidung : disini tempat dimana penyebaran
organisme ke tempat tubuh yang lain.terjadi. Frekuensi dari bawaan nasal
bervariasi : 10%-15% pada balita 1 tahun, 38% pada mahasiswa, 50% pada
dokter RS dan siswa militer.

● Perawatan kulit secara umum: tujuannya adalah mengurangi jumlah
S.aureus pada kulit. Perawatan kulit pada kedua tangan dan tubuh dengan air
dan sabun adalah penting. Sabun antimikrobial yang mengandung providone
iodine atau benzoyl peroxide atau klorheksidin 4% dapat digunakan untuk
mengurangi kolonisasi stafilokokus pada kulit.. Handuk yang terpisah harus
digunakan dan secara hati-hari dicuci dengan air panas sebelum digunakan.

● Jenis Pakaian : pakaian yang menyerap keringat, ringan dan longgar harus
digunakan sesering mungkin. Sejumlah besar stafilokokus sering berada pada
seprai dan pakaian dalam pasien dengan furunkulosis atau karbunkel dan dapat
menyebabkan reinfeksi pada pasien dan infeksi pada anggota keluarganya.
Pakaian secara terpisah dicuci dalam air hangat dan diganti tiap hari.

● Pertimbangan umum: beberapa pasien tetap memiliki siklus lesi rekuren.
Kadang-kadang, masalah dapat diperbaiki atau dihilangkan dengan menyuruh
pasien agar tidak melakukan pekerjaan rutin regular. Terutama pada individu
21 FURUNKEL DAN KARBUNKEL

dengan stres emosional dan kelelahan fisik. Liburan selama beberapa minggu,
idealnya pada iklim sejuk atau kering akan membantu dengan cara menyediakan
istirahat dan juga menyisihkan waktu yang dibutuhkan untuk melaksanakan
program perawatan kulit.

● Pertimbangkan hal yang bertujuan eliminasi S.aureus (yang `peka
methicillin maupun yang resisten methicillin) dari hidung (dan kulit) :
- Penggunaan salep lokal pada vestibulum nasalis mengurangi S.aureus pada
hidung dan secara sekunder mengurangi sekelompok organisme pada kulit,
sebuah proses yang menyebabkan furunkulosis rekuren. Pemakaian secara
intranasal dari salep mupirocin calcium 2% dalam base paraffin yang putih dan
lembut selama 5 hari dapat mengeliminasi S.aureus pada hidung sekitar 70%
pada individu yang sehat selama 3 bulan. Resistensi stafilokokus terhadap
mupirocin hanya didapatkan pada 1 dari 17 pasien. Profilaksis dengan salep
asam fusidat yang dioleskan pada hidung dua kali sehari setiap minggu keempat
pada pasien dan anggota keluarganya yang merupakan karier strain infeksius
S.aureus pada hidung (bersamaan dengan pemberian antibiotik anti-stafilokokus
peroral selama 10-14 hari pada pasien) telah terbukti dengan beberapa
keberhasilan.
- Antibiotik oral (misalnya rifampin 600 mg PO tiap hari selama 10 hari) efektif
dalam mengeradikasi S.aureus untuk kebanyakan nasal carrier selama periode
lebih dari 12 minggu. Penggunaan rifampin dalam jangka waktu tertentu untuk
mengeradikasi S.aureus pada hidung dan menghentikan siklus berkelanjutan
dari furunkulosis rekuren adalah beralasan pada pasien yang dengan pengobatan
lain gagal. Namun, strain yang resisten rifampin dapat muncul dengan cepat
pada terapi seperti itu. Penambahan obat kedua (dikloxacillin bagi S.aureus
yang peka methicillin; trimethoprim-sulfametaxole, siprofloksasin, atau
minoksiklin bagi S.aureus yang resisten methicillin) telah digunakan untuk
mengurangi resistensi rifampin dan untuk mengobati furunkulosis rekuren.



22 FURUNKEL DAN KARBUNKEL

Manajemen furunkel atau karbunkel dapat dengan ringkas terlihat pada bagan
dibawah ini.




2.10 PROGNOSIS
Prognosis baik sepanjang faktor penyebab dapat dihilangkan, dan
prognosis menjadi kurang baik apabila terjadi rekurensi. Umumnya pasien
mengalami resolusi, setelah mendapatkan terapi yang tepat dan adekuat.
Beberapa pasien mengalami komplikasi bakteremia dan bermetastasis ke
organ lain. Beberapa pasien mengalami rekurensi, terutama pada penderita
dengan penurunan kekebalan tubuh.






BAB III
23 FURUNKEL DAN KARBUNKEL

PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Furunkel (boil) dan karbunkel merupakan tonjolan yang nyeri dan berisi
nanah yang terbentuk dibawah kulit ketika bakteri menginfeksi dan
menyebabkan inflamasi pada satu atau lebih folikel rambut. Furunkel yang
berdekatan dapat bergabung membentuk karbunkel. Karbunkel merupakan
beberapa furunkel yang membentuk kelompok (cluster). Karbunkel memiliki
lesi inflamasi yang lebih luas, dasarnya dalam, dan ditandai dengan nyeri yang
luar biasa pada tempat lesi yang biasanya ditemui pada tengkuk, punggung
atau paha. Penyebab dari furunkel atau karbunkel ini biasanya bakteri
Stafilokokus aureus.
Karbunkel dapat memberikan komplikasi melalui bakteremia yang terjadi
bila bakteri S.aureus masuk kedalam aliran darah. Karbunkel dapat
meyebabkan syok septik yang bila tidak ditangani dengan serius dapat
menyebabkan kematian. Umumnya pasien mengalami resolusi, setelah
mendapatkan terapi yang tepat dan adekuat















DAFTAR PUSTAKA
24 FURUNKEL DAN KARBUNKEL


Djuanda A. Pioderma. In: Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi kelima. Jakarta:
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2010. hal 60.

Abdullah, Benny. Furunkulosis. In: Dermatologi Pengetahuan Dasar dan Kasus di
Rumah Sakit. SMF Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin RSU Haji.Surabaya. 2009.
hal 113-115.

Timothy G. Bacterial Infection. In: Fitzpatrick’s Dermatology in General
Medicine. 7
th
Edition. United States of America: The McGraw-Hill Companies.
2008. pp 1689-1702.

Suyoso Sunarso, dkk. Furunkel. In: Pedoman Diagnosis dan Terapi Ilmu Penyakit
Kulit dan Kelamin. Edisi ke-3. Surabaya: Fakultas Kedokteran Unair. 2005. Hal
29-32.

Murtiastutik Dwi (editor), dkk. Atlas Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi ke-2
Cetakan kedua. Surabaya: Dep/SMF Kulit dan Kelamin FK UNAIR/RSUD
dr.Soetomo. 2010. Hal 30-32.