You are on page 1of 10

1

1. Tanggal mulai praktikum : 28 September 2014
Tanggal selesai praktikum : 28 September 2014
2. Tempat prktikum : gedung laboratorium Sekolah Tinggi Teknologi
Industri dan Farmasi-bogor
3. Judul praktikum : Infus karbohidrat
4. Tujuan praktikum : Mengetahui cara pembuatan larutan infus yang baik
dan benar
5. Dasar teori
Infus merupakan sediaan parenteral volume besar berupa sediaan cairan steril yang
mengandung obat yang dikemas dalam wadah 100 ml atau lebih dan ditujukan untuk
menusia dan umumnya diberikan secara intravena dengan kecepatan pemberian
dosisnya konstan. Sediaan parenteral volume besar umumnya diberikan lewat infus
intravena untuk menambah cairan tubuh, elektrolit, atau untuk memberi nutrisi. Infus
intravena adalah sediaan parenteral dengan volume besar yang ditujukan untuk
intravena. Pada umumnya cairan infus intravena digunakan untuk pengganti cairan
tubuh dan memberikan nutrisi tambahan, untuk mempertahankan fungsi normal tubuh
pasien rawat inap yang membutuhkan asupan kalori yang cukup selama masa
penyembuhan atau setelah operasi. Selain itu ada pula kegunaan lainnya yakni sebagai
pembawa obat-obat lain.

Cairan infus intravena dikemas dalam bentuk dosis tunggal, dalam wadah plastik atau
gelas, steril, bebas pirogen serta bebas partikel-partikel lain. Oleh karena volumenya
yang besar, pengawet tidak pernah digunakan dalam infus intravena untuk
menghindari toksisitas yang mungkin disebabkan oleh pengawet itu sendiri. Cairan
infus intravena biasanya mengandung zat-zat seperti asam amino, dekstrosa, elektrolit
dan vitamin.
Walaupun cairan infus intravena yang diinginkan adalah larutan yang isotonis untuk
meminimalisasi trauma pada pembuluh darah, namun cairan hipotonis maupun
hipertonis dapat digunakan. Untuk meminimalisasi iritasi pembuluh darah, larutan
hipertonis diberikan dalam kecepatan yang lambat.

Keuntungan pemberian infus intravena adalah menghasilkan kerja obat yang cepat
dibandingkan cara-cara pemberian lain dan tidak menyebabkan masalah terhadap
2

absorbsi obat. Sedangkan kerugiannya yaitu obat yang diberikan sekali lewat
intravena maka obat tidak dapat dikeluarkan dari sirkulasi seperti dapat dilakukan
untuk obat bila diberikan per oral, misalnya dengan cara dimuntahkan.

Tujuan penggunaan infus
a. Apabila tubuh kekurangan air, elektrolit, dan karbohidrat. Maka kebutuhan
tersebut harus cepat diganti
b. Pemberian infus memberikan ke untungan karena tidak harus menyuntik pasien
berulang kali
c. Mudah mengatur keasaman dan kebasaan obat dalam darah
d. Sebagai penambah nutrisi bagi pasien yang tidak dapat makan secara oral
e. Larutan penambah zat parenteral volume besar berfungsi sebagai dialisa pada
pasien gagal ginjal.

Persyaratan Infus
a. Sediaan parenteral volume besar harus steril dan bebas pirogen, karena :
a. Sediaan yang diinjeksikan langsung ke dalam aliran darah (iv)
b. Sediaan yang ditumpahkan pada tubuh dan daerah gigi (larutan penguras)
c. Sediaan langsung berhubungan dengan darah (hemofiltrasi)
d. Sediaan langsung ke dalam tubuh (dialisa peritoneal).
b. Sesuai kandungan bahan obat yang dinyatakan didalam etiket dan yang ada dalam
sediaan; terjadi pengurangan efek selama penyimpanan akibat perusakan obat
secara kimia.
c. Penggunaan wadah yang cocok, yang tidak hanya memungkinkan sediaan tetap
steril tetapi juga mencegah terjadinya interaksi bahan obat dengan material
dinding wadah.
d. Tersatukan tanpa terjadi reaksi. untuk itu, beberapa faktor yang paling banyak
menentukan adalah bebas kuman, bebas pirogen, bebas pelarut yang secara
fisiologis tidak netral, isotonis, isohidris serta bebas bahan melayang.

Konsep Formulasi Sediaan Parenteral Volume Besar
a. Parameter Fisiologi
Beberapa komponen penunjang fisiologi tubuh dapat diberikan dalam bentuk
sediaan parenteral volume besar seperti kebutuhan tubuh akan air, elektrolit,
3

karbohidrat, asam amino, vitamin dan mineral. Apabila komponen penunjang
fisiologi tubuh cepat diganti maka kesehatan tubuh akan segera tercapai.
b. Faktor Fisikokimia
 Kelarutan
Pada umumnya obat-obatan yang digunakan untuk membuat sediaan
parenteral volume besar mudah larut, jadi kelarutan jarang menjadi hambatan.
Kelarutan penting diperhatikan apabila sediaan yang dipakai sebagai pembawa
obat lain atau terjadinya kristal dari beberapa zat.
 pH
pH perlu diperhatikan mengingat pH yang tidak tepat dapat berpengaruh pada
darah, kestabilan obat dan berpengaruh pada wadah terutama wadah gelas,
plastik dan tutup karet. pH darah normal sebesar 7.35-7.45.
 pembawa
Pada sediaan parenteral volume besar umumnya digunakan pembawa air,
tetapi dapat juga dipakai emulsi lemak intravena yang diberikan sendiri atau
kombinasi dengan asam amino atau dekstrose asalkan partikel tidak boleh
lebih besar dari 0.5 μm.
 Cahaya dan suhu
Cahaya dan suhu dapat mempengaruhi kestabilan obat. Contohnya yaitu
vitamin yang harus disimpan dalam wadah terlindung cahaya.
 Faktor kemasan
Bahan wadah sangat berpengaruh terhadap kestabilan obat parenteral volume
besar seperti gelas, plastik dan tutup karet.

Sterilisasi Sediaan Parenteral
a. Sterilisasi Panas dengan Tekanan atau Sterilisasi Uap (Autoklaf)
Uap jenuh pada tekanan tertentu selama waktu dan suhu tertentu pada suatu objek,
sehingga terjadi pelepasan energy laten uap yang mengakibatkan pembunuhan
mikroorganisme secara ireversibel akibat denaturasi atau koagulasi protein sel.
Sterilisasi uap merupakan metode paling efektif dan ideal, karena:
 Uap merupakan pembawa (carrier) energy termal paling efektif dan semua
lapisan pelindung luar mikroorganisme dapat dilunakkan, sehingga
memungkinkan terjadinya koagulasi
4

 Bersifat nontosik, mudah diperoleh, dan relative mudah di kontrol.
b. Sterilisasi Panas Kering
Proses sterilisasi panas kering terjadi melalui mekanisme konduksi panas. Panas
akan di absorbsi oleh permukaan luar alat yang disterilkan, lalu merambat ke
bagian dalam permukaan sampai akhirnya suhu untuk sterilisasi tercapai.
Temperatur yang digunakan yaitu 150-170 oC. Pada sterilisasi panas kering,
pembunuhan mikroorganisme terjadi melalui mekanisme oksidasi sampai
terjadinya koagulasi protein sel.
c. Sterilisasi Gas atau Etilen Oksida
Sterilisasi gas merupakan pilihan lain yang digunakan untuk sterilisasi alat yang
sensitive terhadap panas. Etilen oksida merupakan senyawa organic kelompok
epoksida dari golongan eter.
d. Sterilisasi Radiasi
 Ultraviolet (Efek Optimal pada 254 nm), digunakan untuk sterilisasi ruangan
pada penggunaan aseptik.
 Ion
Mekanismenya mengikuti teori tumbukan, yaitu sinar langsung menghatam
pusat kehidupan mikroba (kromosom).
e. Gamma
Digunakan untuk sterilisasi alat kedokteran serta alat yang terbuat dari logam.
Dosis efektifnya adalah 2,5 M Rad
f. Sterilisasi Filtrasi
Sterilisasi dengan penyaringan tergantung pada penghilangan mikroba secara fisik
dengan adasorbsi pada media penyaringan atau dengan mekanisme penyaringan,
yang digunakan untuk sterilisasi larutan yang tidak tahan panas.

6. Alat dan bahan
a. Alat yang digunakan
 Aluminium foil
 Autoclave
 Batang pengaduk
 Botol infuse 100 ml
 Corong kaca
5

 Gelas ukur
 Pipet tetes
 Spuit 1cc
 Timbangan digital
b. Bahan yang digunakan
 Glukosa
 NaCl
 Aqua pro injeksi

7. Formulasi
a. Formula standar yang tercantum di fornas :
Komposisi tiap 500 ml mengandung :
Glucosum 25 g
Aqua pro injeksi ad 500 ml

Penyimpanan : dalam wadah dosis tunggal
Catatan :
 pH 3,5 – 6,5
 tidak boleh mengandung bakterisida
 disterilkan dengan cara sterilisasi A segaera setelah dibuat

b. formula yang akan dibuat :
glukosa 5%
aqua pro injeksi ad 200 ml

8. monografi
a. glukosa
 Rumus molekul : C6H12O6.H2O
 Bobot Molekul : 198.2
 Bentuk : Serbuk hablur atau butiran putih
 Warna : Tidak berwarna
 Bau : Tidak berbau
 Rasa : Rasa manis
6

 Kelarutan : Mudah larut dalam air, sangat mudah larut dalam air mendidih;
agak sukar larut dalam etanol (95%) P mendidih, sukar larut dalam
etanol (95%) P
 Indikasi : infuse vena perifer sebagai sumber kalori dimana pengganti cairan
dan kalori dibutuuhkan
 Kontraindikasi : penderita sindrom malabsorbsi glukosa-galaktosa, penderita
koma Diabetikum
b. NaCl (sodium clorida/natrium clorida)
 BM : 58,44
 Organoleptis : serbuk Kristal utih, tidak berwarna, mempunyai rasa asin.
 pH : 6,7 – 7,3
 indikasi : bahan pengatur tonisistas, sumber ion Na
c. Aqua Pro Injeksi
 Kelarutan : dapat bercampur dengan pelarut polar dan elektrolit
 Fungsi : sebagai bahan pembawa sediaan intravena
 Pembuatan : aquadestilata dipanaskan sampai mendidih kemudian dipanaskan
20 menit

9. Perhitungan
a. Perhitungan metode kesetaraan NaCl
W1 = 5/100 x 200 ml = 10 g (glukosa)
Sediaan yang ingin dibuat = 200 ml + 10% = 220 ml
Penimbangan bahan (W2) = 220/200 x 10 g = 11 g (glukosa)
Equivalen glukosa = 0,16
V = W2 x E
= 11 x 0,16 = 1,76 g
NaCl fisiologis = 0,9 g/100 ml x 220 ml = 1,98 g
Jadi, NaCl yang ditambahkan 1,98 – 1,76 = 0,22 g
b. Perhitungan metode White Vincent
W1 = 5/100 x 200 ml = 10 g (glikosa)
Sediaan yang ngin dibuat = 200 ml + 10% = 220 ml
Equivalen glikosa = 0,16
PB (W2) = 220/200 x 10 g = 11 g
7

V = W2 x E x 111,1
= 11 x 0,16 x 111,1
= 195,536 (hipotonis karena kurang dari 220 ml, maka harus ditambahkan
NaCl)
Equivalen NaCl = 1
Jadi NaCl yang ditambahkan = 220 ml – 195,536 ml = 0,220 g

10. Cara kerja
 Semua alat disterilkan
 Membuat WFI = aquabidest didihkan didalam Erlenmeyer tertutup selama 30
menit
 Glukosa dan NaCl masing-masing ditimbang
 Dimasukan kedalam beaker glass yang telah dikalibrasi 220 ml
 WFI dituangkan untuk melarutkan zat membilas kaca arloji sampai tanda batas
kalibrasi
 Karbon aktif ditimbang 0,1% (220 mg) kemudian dimasukan kedalam larutan
beaker glass ditutup kaca rloji dan disisipi batang pengaduk
 Hangatkan larutan pada suhu 50-70
o
C sambil diaduk kemudian pH di cek
 Kertas saring ganda dibasahi terlebih dahulu dengan air bebas pirogen
 Pindahkan corong dan kertas saring kedalam kertas saring ke Erlenmeyer steril
bebas pirogen
 Larutan kemudian disaring hangat-hangat kedalam Erlenmeyer
 Larutan dipindahkan ke gelas ukur ad 200 ml
 Botol infuse dibilas terlebih dahulu dengan sedikit sisa larutan kuang lebih
sebanyak 2 ml kemudian diisikan langsung kedalam botol infuse 200 ml
 Pasang tutup karet botol infuse steril lalu ikat dengan simpul champagne
 Sterilkan botol infuse yang berisi larutan dalam autoclave dengan suhu 115-116
o

C selama 30 menit





8

11. Hasil

Larutan infus glukosa

12. Pembahasan
Pada praktikum steril kali ini, kami membuat sediaan parenteral volume besar berupa
infus dengan zat aktif Glukosa. Infus merupakan sediaan parenteral volume besar
berupa sediaan cairan steril yang mengandung obat yang dikemas dalam wadah 100
ml atau lebih dan ditujukan untuk menusia dan umumnya diberikan secara intravena
dengan kecepatan pemberian dosisnya konstan.

Sebelum kami membuat sediaan injeksi, maka langkah awal yang kami lakukan
adalah membuat rancangan praformulasi terlebih dahulu, tujuan dari rancangan
praformulasi untuk memilih metoda serta bahan tambahan yang sesuai untuk
digunakan pada sediaan infus glukosa sesuai dengan sifat fisika kimia maupun
stabilitas dari masing-masing zat tersebut. Dari data yang diperoleh dapat diketahui
bahwa glukosa memiliki kelarutan mudah larut dalam air dan memiliki pH 3.5 – 6.5.
Karena kelarutan dari glukosa yang mudah larut dalam air, sehingga kami
menggunakan pelarut air berupa API (Aqua Pro Injeksi) yang harus steril dan bebas
pirogen sesuai dengan persyaratan sediaan parenteral volume besar. Jika dilihat dari
9

sifatnya, glukosa bersifat hipotonis sehingga kami harus menambahkan NaCl sebagai
larutan pengisotonis dalam sediaan infus yang dibuat.

Pelarut yang digunakan dalam sediaan infus yang dibuat berupa API (Aqua Pro
Injeksi) yang harus steril dan bebas pirogen. Pembuatan API (Aqua Pro Injeksi) bebas
pirogen dilakukan dengan cara menambahkan karbon aktif sebesar 0.1 % dari jumlah
total volume yang dibuat, kemudian dipanaskan larutan pada suhu 40-70oC dan
didiamkan selama 15 menit yang selanjutnya disaring dengan menggunakan kertas
saring rangkap dua. API (Aqua Pro Injeksi) yang digunakan harus bebas pirogen
karena sediaan yang dibuat ditujukan untuk injeksi iv yang langsung dialirkan ke
dalam darah.

Berdasarkan literatur, pembuatan infus glukosa ini dilakukan secara sterilisasi akhir
segera setelah dibuat. Sterilisasi menggunakan autoklaf pada suhu 115
o
C selama 30
menit karena zat aktif yang digunakan tahan terhadap pemanasan.
Dari data praformulasi yang telah kami buat maka kami dapat menetapkan formula
infuse glukosa terdiri dari glukosa dan API (Aqua Pro Injeksi) bebas pirogen. Glukosa
memiliki konsentrasi 5 mg/ml dengan dosis tunggal sehingga tidak perlu ditambahkan
pengawet dan zat tambahan lainnya. Pada sediaan injeksi pelarut air yang digunakan
harus bebas pirogen, hal ini bertujuan untuk meminimalisasi terjadinya kontaminasi
mikroorganisme.

Sediaan infuse glukosa yang telah kami buat menghasilkan larutan jernih dalam
wadah botol kaca bening. Dan setelah dilakukan uji kejernihan dengan memakai
senter dan dilihat kembali terdapat sedikit partikel yang melayang. Ini disebabkan
kertas saring yang kami pakai tidak sesuai untuk sediaan steril.

13. Kesimpulan
 Infus merupakan sediaan parenteral volume besar berupa sediaan cairan steril
yang mengandung obat yang dikemas dalam wadah 100 ml atau lebih dan
ditujukan untuk menusia dan umumnya diberikan secara intravena dengan
kecepatan pemberian dosisnya konstan.
10

 Dalam pembuatan larutan infuse tidak diperbolehkan menggunakan zat pengawet
karena dikhawatirkan terjadinya toksik
 Didapatkan hasil larutan infus jernih dalam wadah botol bervolume 100 ml
dengan melalui uji kejernihan secara visual terdapat sedikit partikel melayang.



DAFTAR PUSTAKA

Anief, Moh. Ilmu Meracik Obat. 2004. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press
Anonim. 1995. Farmakope Indonesia Ed IV. Jakarta : Departemen Kesehatan
Republik Indonesia
Anonim. 1979. Farmakope Indonesia Ed III. Jakarta : departemen Kesehatan
Republik Indonesia
Abdullah, pramono, Drs, Apt. 2014. Penuntun praktikum teknologi sediaan steril.
Bogor : STTIF
Anonim. 1978. Formularium Nasional. Departemen Kesehatan Republik Indonesia