Tutorial 1 Step 1: Mrs.

Partina, a 30 year old P0 A0 visited the Maternal and Neonatal Health Clinic (MNHC) in the Primary Care Health Center where you were the assistant of the doctor in charge. She said that she had missed 3 periods, which normally comes on date 27th of the month. The first day of her last menstrual period was on 27 July 2008 last. She has also been suffering from nausea and vomitting. The latter had become worse that morning that she vomitted almost everything she ate. She complained pf painless frequent-voiding, fatigue, breast discomfort and increased skin pigmentation especially on her face, nipple and abdominal skin. She was worried about losing weight 3 kg since her last period. A. Identify the patient problem. B. Generate a list of hypoyheses for each problem. C. What further information would you like to know from Mrs. Partina? Explain your answers! Tutorial 1 Step 2: The doctor perform physical examination to Mrs. Partina, and the findings were as follows: Physical examination: Height: 160 cm tall Weight: 50 kg

Vital signs: within normal limit Skin turgor: normal Heart and lungs are normal. Obstetric examination External examination Speculum Vaginal examination : Vulva Vagina Portio : fundal height 2 fingers above symphysis : bluish potio, normal size : normal : normal : soft, ostium is closed

Uterine corpus: enlarged, equals to 12 weeks pregnancy Douglas pouch: normal Parametrium : normal

Laboratory results:

Hb Hematocrit Platelet

: 11.5 mg% : 35% : 250.000/ cc : normal

Liver function test

Kidney function test : normal Urinalysis Urine βhCG test : within normal limit : positive

D. Identify the patient problems. E. Generate a list of hypotheses for each problem F. What further information would you like to know from Mrs. Partina? Explain your answers!

Tutorial 1 Step 3 The doctor referred Mrs. Partina for an Ultrasonography (USG) scanning in the Feto Maternal clinic. Result of USG examination was as follow: Uterus is enlarged filled with a singleton fetus, actively moves, HR 160 bpm, regular, CRL 5.5 cm, nuchal translucency 2 mm, amniotic fluid normal, chorion frondosum at the anterior uterine wall. Both adnexa within normal limits, no abnormal mass found. G. Does the information change your hypotheses? Why? H. Identify the patient’s problem. I. Can you explain your management plans for this patient? Please describe the details.

Tutorial 2 Step 1 Mrs. Partina was sent home, given some prenatal vitamins and antiemetics. She was also advised to have regular prenatal visit, scheduled once a month up to 28 weeks of pregnancy and more frequently there after. She went to a midwife for prenatal care as scheduled.

In the 38th – week of pregnancy, Mrs.Partina returned to the hospital, complaining that she had been having regular contractions for 8 hours. She knew the baby was still moving, no water broke. Physical diagnosis: Vital signs: within normal limits Obstetric examination Fundal height: 35 cm On Leopold 1 a soft, soft mass was palpated in the fundus, with largest resistance on the left side of the womb. Small fetal parts were palpable on the right during Leopold 2. On the area above symphisis a globular, round mass was detected by Leopold 3, it was no longer moveable. An acute angle was formed between the two examining palms. Fetal auscultation Contraction : revealed FHR 150 bpm, regular. : once in every 6 minutes, lasting 20 seconds, weak

Admission test (cardiotocography) result was consulted to feto-maternal consultant and the result was as follow: Baseline : 145-150 bpm

Variability : 5-10 bpm, presence of 2 acceleration without deceleration during a 20 minutes period. Contraction Conclusion : once in every 6 minutes, amplitude : 25 : fetal in good condition

Vaginal examination Vulva/ vagina Portio Cervical dilatation : no abnormalities : axial position, soft, effacement: 80% : 4-5 cm

Amniotic membrane : intact Presenting part : occiput on the left anterior position, station +2

Mrs. Partina was informed about her and the baby’s condition, and the doctor’s plan to have labor augmentation. She wanted to know if she could have a spotaneous delivery and also about the risks and benefit of having labor augmentation. The doctor explained everything about this plan and about the risk of having labor augmentation. After a while Mrs. Partina and her husband agreed to the doctor’s plan.

J. What have you learnt so far? What is your current diagnosis? K. What would be your management plan for this patient?

Tutorial 2 Step 2 A few moments later labour augmentation commenced. A few hours had passed, her water broke spontaneously and she started urging to bear down. When you checked her, the perineum is already crowning. Here is the copy of Mrs. Partina’s partogram. L. What is Mrs. Partina’s problem now? M. Explain the findings in the partograph! N. What should you do now?

Tutorial 3 Mrs. Partina gave birth to healthy girl of 3000 grams, 51 cm in length. She was crying out loud. Both parents looked happy with their offspring.

Surah al-Hajj ayat 5

Artinya: Wahai manusia! Jika kamu meragukan (hari) kebangkitan, maka sesungguhnyaKami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami menjelaskan kepada kamu; dan Kami tetapkan dalam rahim menurut kehendak Kami samapi waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampai kepada usia dewasa, dan diantara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) diantara kamu yang dikembalikan sampai usia sangat tua (pikun), sehingga dia tidak mengetahui lagi sesuatu yang telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air (hujan) diatasnya, hiduplah bumi itu dan menjadi subur dan mmenumbuhkan berbagai jenis pasangann tertumbuhan yang indah

Surah al-Baqarah ayat 28-29

Artinya: (28) Bagaimana kamu ingkar kepada Allah, padahal kamu (tadinya) mati, lalu Dia menghidupkan kamu, kemudian Dia mematikan kamu lalu Dia menghidupkan kamu kembali. Kemudian kepada-Nya lah kamu dikembalikan. Artinya: (29) Dia-lah (Allah) yang Menciptakan segala apa yang ada di bumi untukmu kemudian Dia menuju ke langit, lali Dia Menyempurnakannya menjadi tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.

AMENORRHEA

Pada kasus ini, terdapat keterangan bahwa pasien tersebut tidak mengalami menstruasi selama 3 period, yang secara normal muncul pada tanggal ke 27 dari bulannya. Yang mana hari pertama last menstrual period Mrs. Partina yaitu pada 27 Juli 2008, keadaan ini disebut juga dengan amenorrhea, dimana amenorrhea itu adalah : Amenorrhea adalah keadaan dimana tidak terjadinya menstruasi. • Primary amenorrhea

Yaitu kegagalan menarche dan absensi dari menstruasi pada umur 14 tahun tanpa perkembangan secondary sex characteristic atau pada umur 16 tahun belum ada kehadiran secondary sex characteristic. Ada 4 compartment: 1. Compartment IV, berada di hypothalamus 2. Compartment III, berada di anterior pituitary 3. Compartment II, berada di organ (ovary) 4. Compartment I, hormone • Secondary amenorrhea

Yaitu absennya menstruasi untuk 3 atau lebih atau 6 bulan yang telah mengalami menstruasi. Selain dari penyakit, disebabkan oleh berat badan yang berkurang secara drastis. Normal pada saat adolescence, perimenopousal, pregnancy dan lactasia. Dikarenakan karena kelebihan ovarian hormone yang nantinya mengganggu hubungan feedback HPO axis yang mencegah ovulasi. Karena amenorrhea merupakan indikasi tanda-tanda kehamilan maka pada kasus ini dapat di hipotesa bahwa Mrs. Partina ini mengalami “Kehamilan.” Pada Mrs.Partina, dia mengalami nausea, vomiting, painless frequent-voiding, fatigue, breast discomfort, increased skin pigmentation especially on her face, nipple and abdominal skin. Hal-hal tersebut termasuk dalam tanda-tanda kehamilan, dimana tanda-tanda kehamilan tersebut adalah sebagai berikut :

TANDA-TANDA PADA KEHAMILAN
Vomiting

Yaitu dimana gastrointestinal tract bagian atas membuang semua isinya saat hampir semua bagian upper tract teriritasi, kembung atau terangsang berlebihan dan juga karena tingginya level dari chorionic gonadotropin dan estrogen Mekanisme vomiting Sensory signal dari GIT Vagal afferent dan sympathetic afferent nerve fiber Brain stem (vomiting center) Cranial nerve ke VII, IX,X,XII Vagal dan sympathetic nerve Lower GIT Spinal nerve Diafragma dan abdominal muscle Lalu terjadi antiperistaltis, yaitu gerak peristaltic ke atas 2-3 cm/second sehingga duodenum kembung. Lalu terjadi deep breath, esophageal sphincter terbuka, penutupan glottis, soft palate menutup posterior nares, terjadi kontraksi dari diafragma dan abdominal wall muscle sehingga gastrict content naik ke esophagus. Antiemetics Yaitu agen yang mencegah atau menghilangkan rasa mual dan muntah. Antiemetics yang dipakai untuk wanita hamil adalah promethazine, prochlorperazine, chlorpromazine, ormetoclopramide dan dipenhydramne. Fatigue Kondisi ini biasanya secara spontan terjadi pada bulan ke 4 dari kehamilan, karena efek dari progesterone. Perubahan pada payudara Setelah minggu kedua, payudara membesar dan vena halus terlihat dibawah kulit. Puting menjadi lebih besar, lebih berpigmen, dan lebih erectile. Setelah beberapa minggu pertama, cairan kekuningan – colostrum - dapat dihasilkan. Juga terjadi peningkatan kelenjar

Montgomery, yang mana terjadi Hipertrophy kelenjar sebaceous, yang ikut mempengaruhi perkembangan abdomen. Pada wanita yang hamil untuk pertama kalinya dan belum terbiasa mungkin akan terjadi rasa tidak nyaman, sakit pada punggung bagian atas karena pembesaran payudara.

Perubahan pigmen pada kulit Akibat estrogen dan progesteron saat hamil Terjadi hyperthyroid Merangsang Melanocyte Stimulating-Hormone (MSH) (sebuah polipeptida yang sama dengan corticotropin) Meningkatkan chloasma atau melasma gravidarum Mengubah Linea alba menjadi berpigmen yaitu Linea nigra Pigmen menjadi agak kecoklatan pada wajah, leher, areolar, dan kulit genital (terjadi pada wanita hamil)

Sesuai dengan kasus, bahwa Mrs. Partina tersebut menderita mual dan muntah. Yang kemudian menjadi semakin parah pada pagi hari yang ditandai dengan memuntahkan hampir setiap makanan yang ia makan (morning sickness). Dia juga mengeluh frekuensi berkemih yang sering tanpa ada rasa nyeri, lemah, ketidak nyamanan pada payudara dan peningkatan pigmentasi pada kulit khususnya pada wajah, puting dan kulit abdominal. Dari semua gejala-gejala diatas maka dapat dihipotesa bahwa pasien tersebut menderita “hamil”, karena sesuai dengan gejala tanda-tanda kehamilan pasti pada wanita.

EMBRIOLOGI
Cleavage

Pembelahan zigot mencapai 2 sel (30 jam), manjalani serangkaian pembelahan mitosis sehingga sel bertambah cepat. Sel yang menjadi semakin kecil pada setiap pembelahan disebut dengan blastomere.

 Pada hari kedelapanterjadi mitosis.

Morula (16 sel) terjadi pada hari ke 4, hubungan antara blastomere semakin padat, rapat, sehingga membetuk sebuah bola yang disatukan oleh sambungan yang kuat yang disebut “compaction“ / pemadatan.

 Zona pelusida menghilang pada akhir hari ke 4 (langman); hari ke 5 (moore)  Morylla terdir atas 2 bagian:
a. Sel-sel bagian dalam morulla (inner mass cell) b. Sel-sel bagian luar morulla (outer mass cell) 

Inner mass cell akan membentuk jaringan-jaringan embrio yang sebenarnya, sedangkan outer mass cell akan membentuk trofoblas yang kemudian ikut membentuk placenta.

Blastokista (pembentukan)

Morulla memasuki uterus pada hari ke 4 setelah fertilisasi. Cairan mulai menembus zona pelusida memasuki kedalam ruang antar sel yang ada di inner mass cell. Berangsur-angsur sel menyatu, sehingga terbentuk rongga yang disebut dengan BLASTOKEL.

 Cairan makin banyak didalam rongga/blastokel sehingga membagi blastomere menjadi 2 agian:
a. Lapisan tipis, outer cell layer disebut dengan trofoblast, yang menjadi bakal

tubuh placenta
b. Inner mass cell → tempat berkembangnya embrio, disebut juga embrioblast

 Pada tahap blastokista zona pellusida sudah menghilang, sehingga implantasi dapat dimulai. Hari ke 8

Daerah-daerah outer yaitu trofoblast berdiferensiasi menjadi 2 lapisan : a. sinsitiotrophoblas→lapisan berinti banyak b. Sitotrophoblast → lapisan sel berinti tunggal

 Mitosis ditemukan pada sitotrophoblast  Inner mass cell (embrioblast) berdiferensiasi menjadi 2 bagian : a. Lap. Hipoblas → Lapisan kuboid yang berdampingan dengan rongga blastokista

b. Lap. Epiblas → Lapisan silindris, yang berdampingan dengan rongga amnion  Sel-sel dari masing-masing Lapisan embrio akan membentuk sebuah cakram, yang disebut dengan cakram mudigah bilaminer.  Pada saat yang sama, rongga kecil muncul dalam epiblas, rongga ini akan membesar menjadi rongga amnion. Sel-sel dengan epiblas yang dekat dengan sitotrophoblast disebut amnioblas. Hari ke 9  Blastokista semakin terbenam di dalam endomatrium, luka pada bekas penembusan pada permukaan kulit di tutup oleh benang fibrin.  Trofoblas semakin berkembang pesat, terutama pada kutub embrionalnya, dimana terlihat vakuola-vakuola pada sinsitium. Vakuola-vakuola ini akan menyatu sahingga membentuk lakuna-lakuna yang besar yang disenut tahap lakunaris.  Sel-sel pada hipolas (sel gepeng) akan membentuk selaput tipis yang dikenal dengan selaput eksoselom (selaput Heuser) yang melapisi sitotrophoblast.  Selaput eksoselom ini akan membentuk lapisan untuk rongga eksoselom (kantung kuning telur primitif) Hari ke 11-12  Sel-sel sinsitotrophoblast menembus lebih kedalam ke dalam endonektrium dan merusak lapisan endotel pmbuluh kapiler ibu. Pembuluh ini dikenal dengan nama Sinusoid.  Karena trofoblast merusak Sinusoid, darah ibu mulai mengalir memasuki sistem trophoblast sehingga terjadi sirkulasi utero-plasenta.  Pada hari ke 11-12 terbentuk juga rongga korion. Hari ke 13  Trofoblast ditandai dengan munculnya struktur-struktur vili.  Sel-sel stotrophoblast berproliferansi menembus ke dalam sinsitrophoblast, membenuk silinder-silinder sel yang dibungkus sinsitium, disebut dengan vili primer.  Sel-sel hipoblast menghasilkan sel lain, sel ini berpoliferansi membentuk rongga baru didalam rongga eksoselom, yang disebut kantong kuning telur sekunder atau kantung kuning telur definitif.  Kemudian selom ekstra embrional akan membentuk rongga besar yang disebut rongga khorion.

 Mesoderm ekstra embrional yang melapisi permukaan dalam sitotrophoblast kemudian disebut dengan lempeng korion.  Terdapat tangkai penghubung yang merupakan tempat melintasnya mesoderm ekstra embrional di rongga korion. Dengan berkembangnya pembuluh darah, tangkai penghubung akan menjadi tali pusat.

Embriogenesis Plasenta Menjelang permulaan minggu ketiga, trofoblas ditandai dengan adanya villi primer yang tediri atas inti sitotrofoblas yang dibungkus oleh selapis sinsitium. Menjelang akhir minggu ketiga, sel sel mesoderm dalam inti vili mulai berdiferensiasi menjadi sel darah dan pembuluh darah kecil., dengan demikian membentuk susunan kapiler villi. Villi ini disebut vili tersier atau vili plasenta definitif. Pembuluh kapiler di dalam vili tersier berhubungan dengan kapiler yang berkembang di dalam mesoderm lempeng korion dan di tangkai pernghubung. Selanjutnya pembuluh-pembuluh darah ini membentuk hubungan dengan sistem peredaran darah di dalam embrio, sehingga menghubungkan plasenta dengan embrio. Oleh karena itu, ketika jantung mulai berdenyutpada minggu keempat perkembangan, sistem villi ini telah siap memasok zat makanan dan oksigen yang penting. Sel-sel sitotrofoblas di dalam vili terus menembus ke dalam sinsitium di sekitar nya hingga mencapai endometrium ibu. Di sini mereka mengadakan hubungan dengan tonjoltonjol yang sama dari vili sebelahnya, sehingga terbentuklah suatu kulit sitotrofoblas luar yang tipis. Kulit ini lambat laun mengelilingi seluruh trofoblas dan melekatkan kantung korion kuat-kuat ke jaringan endometrium ibu. Vili yang menjulur dari lempeng korion ke desisua basalis (lempeng desidua) disebut vili batang atau vili penambat. Villi yang keluar dari sisi-sisi vili batang merupakan vili bebas (terminal). Rongga korion, sementara itu terus bertambah, dan pada hari ke-19 dan ke-20 embrio menempel ke kulit trofoblasnya hanya dengan suatu tangkai penghubung kecil. Tangkai penghubung ini kemudian berkembang menjadi tali pusat, dan menjadi penghubung antara plasenta dengan embrio. Semakin tua kehamilan, vili pada kutub embrional teus bertambah dan meluas, sehingga membentuk korion frondosum (korion bervili lebat). Vili pada kutub abembrional mengalami degenerasi, dan pada bulan ketiga, sisi korion ini menjadi halus dan disebut korion leave.

Desidua di atas korion frondosum disebut desidua basalis, terdiri atas sebuah lapisan sel-sel besar, sel desidua, yang mengandung banyak sekali lipid dan glikogen. Lapisan ini, lempeng desidua, melekat erat dengan korion. Lapisan desidua di kutub abembrional disebut desidua kapsularis. Dengan bertambah besarnya ukuran korion, lapisan ini menjadi teregang dan mengalami degenerasi. Selanjutnya, korion leave bersentuhan dengan dinding rahim (desidua parietalis) pada rahim sisi yang lain dan keduanya menyatu lalu menutup rongga rahim. Oleh karena satu-satunya bagian korion yang ikut serta dalam proses pertukaran adalah korion fronsodum, yang bersama dengan desidua basalis membentuk plasenta. Demikian pula penyatuan amnion dan korion hingga membentuk membran amniokorion akan menutup rongga korion. Membran inilah yang pecah pada saat persalinan berlangsung. FUNGSI PLASENTA – Pertukaran gas. Seperti oksigen, karbon dioksida, dan karbon monoksida yang berlangsung melalui difusi primitif. Pada saat cukup bulan janin menyaring 20-30 mL oksigen dalam semenit peredaran darah ibu. – Pertukaran nutrisi dan elektrolit. Seperti asam amino, asam lemak bebas, karbohidrat, dan vitamin berjalan cepat dan menignkat bersamaan dengan berlanjutnya usia kehamilan. – Pemindahan antibodi ibu. Antibodi ibu diambil oleh sinsitiotrofoblas dengan cara pinositosis dan selanjutnya diangkut ke pembuluh kapiler janin. Dengan cara ini janin memperoleh antibodi ibu yaitu imunogloblin G (IgG) kelas (7S), terhadap berbagai penyakit infeksi yang memperoleh kekebalan pasif terhadap diphteri, cacar, campak, dan lain-lain.

Produksi hormon. Menjelang akhir bulan keempat, plasenta menghasilkan progesteron dalam jumlah yang cukup untuk mempertahankan kehamilan sampai korpus luteum diangkat atau tidak berfungsi lagi. Selain progesteron plasenta juga menghasilkan hormon estrogenik (terutama estriol) sampai tepat sebelum akhir kehamilan, ketika telah sampai puncak kadar estrogen. Kadar estrogen yang tinggi ini merangsang pertumbuhan uterus dan perkembangan kelnjar mammae. Sinsitiotrofoblas juga menghasilkan gonadotropin (gonadotropin korionik manusia atau

hCG), yang mempunyai fungsi serupa dengan hormon lutein dari hipofisis lobus anterior.Hormon lain yang dihasilkan plasenta adalah somatomammotropin. Hormon ini adalah hormon pertumbuhan yang memberikan prioritas kepada janin untuk mendapatkan glukosa dari darah ibu dan membuat keadaan ibu menjadi diabetogenik.

PERUBAHAN YANG TERJADI PADA IBU HAMIL
Perubahan Metabolik • • •

Penambahan berat badan Meningkatnya metabolisme terhadap retensi air Produk konsepsi, uterus, dan maternal blood relatif kaya protein dibandingkan lemak atau karbohidrat Mild fasting hypoglycemia, postprandial hyperglycemia & hyperinsulinemia Meningkatnya lipid, lipoprotein, dan apolipoprotein dalam plasma meningkat Selama kehamilan, hampir 1000 mEq Na & 300 mEq K diretensi

• •

Perubahan Hematologis • • • • Volume darah maternal naik selama kehamilan (hypervolemia) Konsentrasi Hb & Ht turun sedikit selama kehamilan Terjadi peningkatan penggunaan besi untuk pembentukan eritrosit Terjadi peningkatan dan penurunan beberapa fungsi imunologis & leukocyte

Perubahan Hormonal Trofoblas memproduksi steroid dan protein hormon. Plasenta juga mensintesis protein dan peptide hormone: hcG, adenocorticotropin (ACTH), placental lactogen, calcitonin, relaxin, inhibin, activin, atrial natriuretic peptide (ANP). Berdasarkan kasus ini, diperoleh hasil bahwa Hb nya turun, Ht (Hematocrite) turun sehingga diambil hipotesa bahwa Mrs. Partina ini benar-benar dalam kondisi “hamil.”

PRENATAL CARE/ANTEPARTUM CARE
Adalah program perawatan sebelum anak lahir (antepartum) komprehensif yang melibatkan pendekatan terkoordinasi terhadap perawatan medis & dukungan psikososial yang secara optimal dimulai sejak sebelum konsepsi & berkelanjutan selama periode antepartum, ditujukan untuk ibu dan anak. Tujuan a Tujuan terhadap ibu 1. Untuk mengurangi kesulitan-kesulitan pada masa antepartum 2. Untuk mempertahankan kesehatan jasmani dan rohani ibu 3. Agar persalinan dapat berlangsung dengan aman

4. Agar ibu sehat pada masa post partumnya 5. Agar ibu dapat memenuhi kebutuhan janin a Tujuan terhadap janin 1. Mengurangi prematuritas, kelahiran mati, dan kematian neonatal 2. Kesehatan yang optimal dari bayi. Komponen Prenatal Care a. Preconceptional Care Perawatan ini ditujukan untuk wanita yang ingin hamil atau memiliki anak b. Initial Prenatal Evaluation Tujuan initial prenatal evaluation 1. Untuk melihat status kesehatan ibu dan janin 2. Untuk mengetahui kesehatan janin 3. Untuk merencanakan obstetrical care berikutnya Hal-hal yang dilakukan pada 1. Risk assessment (genital, medical, obstetrical, psychosocial factor) 2. Estimate due date 3. General physical examination 4. Laboratorium test (Hct, Hb, urinalysis, urine culture, blood grouping, Rh, antibody screen, rubella status, syphilis screen, pap smear) 5. Patient education c. Subsequent Prenatal Visit 1. Return visit - Secara tradisional, waktu kunjungan selanjutnya ditentukan sebagai berikut: - Setiap interval 4 minggu sekali, sampai 28 minggu (jadi sampai minggu ke 28, frekuensi kunjungan adalah 1 bulan sekali) - Setiap interval 2 minggu sekali, mulai 29-36 minggu (antara minggu 29-36, frekuensi kunjungan adalah 1 bulan 2 kali) - Setiap minggu, mulai minggu ke 37 (antara minggu 37 dan seterusnya, frekuensi kunjungan adalah 1 bulan 4 kali/setiap minggu)

- Untuk wanita dengan kehamilan yang sulit, seringkali membutuhkan kunjungan dengan interval yang lebih sering, yaitu 1-2 minggu sekali. 2. Fetal heart sound 3. Fundal height 4. Universal USG screening 5. Prenatal surveilance (pengawasan), terdiri atas dua komponen: a. fetus: heart size, size, amnionic fluid, presenting part, activity b. maternal: BP, weight, symptoms (headache, altered vision, abdominal pain, nausea and vomitting, bleeding & fluid from vagina, diuresis) 6. subsequent lab test (AFP, Hb, Hct) 7. Specific prenatal needs

d. Ancillary Prenatal Test Disini dilakukan pemeriksaan terhadap penyakit-penyakit dan infeksi-infeksi tertentu, seperti: chlamydia trachomatis, bacteril vaginosis, fetal fibronectin, group β-Streptococcus, penyakitpenyakit genetik) e. Nutrisi 1. rekomendasi kenaikan berat badan BMI kehamilan Low (BMI< 19,8) Normal (BMI 19,8-26) High (BMI >26-29) Obese (BMI> 29) Kenaikan berat badan yang diinginkan Pounds Kilogram 28-40 12,5-18 25-35 11,5-16 15-25 7-11,5 < 15 <7

2. rekomendasi nutrisi Zat-zat yang diperlukan oleh seorang ibu hamil diantaranya:

• •

Kalori Protein Vitamin (A, D, E, K, C, B6, B12, folate, niacin, riboflavin, thiamine) Mineral (Ca, P, I, Fe, Mg, Zn)

Hal-hal yang menjadi keluhan: 1. Mual dan muntah Biasanya muncul pada awal kehamilan dan hilang sekitar bulan ke 3 Pengobatan yang bisa dilakukan: – – – Makan dulu sedikit sebelum bangun dari tempat tidur Makan harus dalam porsi kecil tapi sering Dapat juga diberikan vit.B, vit.C, dan sedative.

2. Sakit pinggang Nyeri semacam ini bisa diringankan dengan pemberian analgetica, dengan istirahat, atau pemakaian korset. 3. Varices Wanita yang varices tidak boleh memakai pakaian yan sempit dan tak boleh lama bekerja sambil berdiri. Waktu istirahat sebaiknya kaki ditinggikan, dan sebaiknya memakai kaos kaki panjang dan elastik. 4. Haemorrhoid Dapat dikurangi dengan defekasi yang teratur dan kalau perlu diberikan suppositoria haemorrhoidales. Kalau perdarahannya begitu banyak harus dilakukan tindakan operasi. 5. Sakit kepala Biasanya timbul pada kehamilan muda dan sukar ditemukan penyebabnya. Pada pertengahan kehamilan akan hilang atau berkurang dengan sendirinya. Sakit kepala pada trimester ketiga dapat merupakan gejala preeklamsia yang berat. 6. Edema

Paling sering timbul pada ekstrimitas bawah. Harus selalu diperiksa karena khawatir penyebabnya adalah toxaemia gravidarum. Kalau hanya disebabkan oleh tekanan rahim yang membesar pada vena-vena panggul maka bisa hilang dengan banyak istirahat dan sebaiknya kaki ditinggikan ketika tidur. 7. Sesak nafas Disebabkan karena kehamilan yang besar menekan diafragma ke atas. Sebaiknya kalau tidur dengan bantal yang tinggi sehingga sesak bisa berkurang. 8. Fluor abus (keputihan) Pada umumnya cairan dalam vagina akan bertambah tanpa sebab yang patologis dan tidak menimbulkan keluhan. Kalau timbul keluhan gatal disekitar kemaluan akibat fluor yang banyak maka harus dicari penyebabnya apakah karena Gonococcus, T. Vaginalis, atau C. Albicans. Terapi yang diberikan ditujukan kepada penyebabnya.

EFEK-EFEK YANG MEMPENGARUHI NORMAL TIDAKNYA PERSALINAN
1. Power His (kontraksi ritmis otot polos uterus), kekuatan mengejan ibu, keadaan kardiovaskular respirasi metabolik ibu. 2. Passage Keadaan jalan lahir. 3. Passanger Keadaan janin (letak, presentasi, ukuran/berat janin, ada/tidak kelainan anatomik mayor)

STATION
Station merupakan indentifikasi derajat penurunan bagian terbawah janin (fetal presenting part) ke jalan lahir (birth canal). Ketinggian dari presenting part janin pada birth canal digambarkan dalam hubungannya dengan ischial spine yang terletak ditengah-tengah pelvic inlet dan pelvic outlet. Jika presenting part janin teletak setinggi ischial spine, keadaan ini disebut dengan station nol atau zero station.

Dahulu, sumbu panjang jalan lahir (long axis of birth canal) di atas ischial spine di bagi menjadi 3. Namun pada tahun 1988 ACOG (American College of Obstertricians Gynaecologist) mulia menggunakan suatu klasifikasi station yang membagi pelvic bagian atas dan di bawah spine menjadi 5 bagian. Pembagian ini menggambarkan ukuran (cm) di atas dan di bawah spine. Jadi, saat presenting part janin turun dari pelvic inlet menuju inschial spine, disebut dengan station -5, -4, -3, -2, -1, 0. Kemudian dibawah ischial spine, presenting part janin melewati station +1, +2, +3, +4, +5 untuk lahir. Station +5 setara dengan kepala janin yang sudah terlihat dalam introitus.

KONSTRAKSI ATAU HIS
His adalah gelombang kontraksi ritmis otot polos dinding uterus yang dimlai dari daerah fundus uterus dimana tubafallopi memasuki dinding uterus, awal gelombang didapat dari “pacemaker” yang terdapat di dinding uterus daerah tersebut. Kontraksi terjadi akibat : a. Kerja hormon Oxytocin b. Peregangan dinding uterus oleh sisi konsepsi c. Rangsangan terhadap pleksus saraf Frankenhauser yang tertekan massa konsepsi. His yang sempurna mempunyai sifat: a. Kontraksi yang simetris
b. Kontraksi yang paling kuat/adanya dominasi di fundus uteri

c. Relaksasi Satuan yang digunakan untuk mengukur kontraksi adalah mmHg. Contoh untuk mengukur keaktifan uterus contoh : Mengukur aktifitas uterus = amplitudo x frekuensi his (10 menit) = 50 mmHg x 3 = 150 unit montevideo Pada setiap kontraksi, tekanan pada rongga amnion meningkat, disebut dengan amplitudo/intensitas his yang terdiri atas 2 bagian :

a. b.

Peningkatan tekanan yang agak cepat Penurunan tekanan yang agak lamban

His terbagi menjadi : a. His pendahuluan/his palsu/Braxton Hicks

Terjadi sebelum persalinan Bersifat tidak teratur dan menyebabkan nyeri di bagian perut san lipat paha, tetapi tidak menyebabkan nyeri yang memancar dari pinggang ke perut bagian bawah, seperti pada his persalinan.

Lama kontraksi pendek dan tidak bertambah kuat apabila dibawa jalan. His pendahuluan tidak mempunyai pengaruh terhadap serviks.

 Kontraksi Regular

Hingga bulan akhir kehamilan, kontraksi Braxton Hicks tidak sering terjadi tetapi meningkat selama 2 minggu terakhir. Pada saat ini, kontraksi terjadi setiap 10 – 20 menit juga diasumsikan secara ritmik. Kontraksi ini disebut False labor.

Kehamilan >36 minggu: His lebih sering, lebih kuat. a. His persalinan/His sebenarnya    Kontraksi Fisiologis dari otot-otot rahim yang bersifat nyeri Kontraksi uterus bersifat berkala dan harus diperhatikan Kala 1:

Fase laten : Timbul setiap 10 menit dengan amplitudo (kontraksi tekanan uterus) 40 mmhg, lamanya 20-30 detik serviks terbuka sampai 3 cm. Frekuensi (jumlah kontraksi dalam waktu tertentu) dan amplitudo terus meningkat.

Fase aktif : Terjadi peningkatan rasa nyeri, amplitudo makin kuat sampai 60 mmhg, frekuensi 2-4 kali/10 menit, lamaya 6090 detik. Serviks terbuka sampai lengkap (±10 cm)

Kala 2 :

Amplitudo 60 mmhg, frekuensi 3-4 menit refleks mengedan terjadi juga akibat stimulasi dari tekanan bagian bawah janin (pada persalinan normal yaitu kepala) yang menekan anus & diagframa, berusaha untuk mengeluarkan bayi. Kekuatan-kekuatan yang ada pada ibu akan efisien jika ibu ada dalam keadaan fleksi, dagu ibu di dadanya, badan dalam

keadaan fleksi, kedua tangan menarik pahanya dekat pada lutut. Dengan demikian kepala janin di dorong membuka diafragma pelvis dan vulva.  Kala 3 :

Amplitudo 60-80 mmhg, frekuensi kontraksi berkurang, aktifitas uterus menurun, plasenta dapat lepas spontan dari aktivitas uterus ini, namun juga tetap menempel (retensia) dan memerlukan tindakan aktif. Pada waktu ibu menyusui bayinya, ibu merasakan kontraksi yang kadang-kadang mengganggu, hal ini di sebabkan oleh refleks oksitosin. Oksitosin membuat uterus berkontraksi, lalu kontraksi pada otot polos disekitar alveola mammae, sehingga asi keluar.

Pada setiap kontraksi, tekanan pada rongga amnion meningkat, disebut dengan amplitudo/intensitas his yang terdiri atas 2 bagian : a. b. Peningkatan tekanan yang agak cepat Penurunan tekanan yang agak lamban

PELVIC BONE

Pelvic Pelvic adalah suatu ruang yang dikelilingi oleh pelvic girdle/pelvic bone. Pelvic dibagi kedalam 2 bagian, antara lain :

 

Greater Pelciv (false/major) Lesser Pelvic (true/minor)

Greater pelvic dan lesser pelvic dipisahkan oleh pelvic inlet. Pelvic Girdle dibentuk oleh 3 tulang : a. Hipbone kiri dan kanan (coxal bone, pelvic bone) yang terdiri atas penggabungan 3 tulang, yaitu illium, ischium, pubis. b. Sacrum terbentuk dari penggabungan 5 tulang vertebra, yaitu sacrum 1 – sacrum 5. Pada balita dan anak-anak, hipbone terdiri atas triradiate cartilage yang terdapat pada asetabulum. – Asetabulum : Suatu lengkungan pada permukaan lateral hipbone, yang nantinya akan

Berartikulasi dengan head of femur. Setelah pubertas, ilium, ischium, dan pubis akan menyatu membentuk hipbone.  Ilium ( superior): Ilium merupakan bagian yang terlebar pada hipbone (bentuknya – Menyerupai sayap). Ilium terdiri atas : a. Ala/wing of ilium (berbentuk menyerupai sayap) b. Body of ilium (handle dari sayap)   Iliac Crest Iliac Fossa : Mempunyai bentuk yang tajam, terletak antara ASIS (anterior superior Iliac spine)dan PSIS (posterior superior iliac spine) : Anteromedial dari ala, membentuk iliac fosa. Ischium memiliki body dan ramus, badan dari ischium membantu acetabulum dan ramus ischium untuk membentuk abturator foramen.

Pelvic Cavity Rongga abdominopelvic memanjang ke arah superior menuju rangka thorax, da juga memanjang inferior ke arah pelvic. Juga terdapat rongga berbentuk corong yaitu rongga pelvic; merupakan rongga yang dibatasi oleh tulang, ligament, otot-otot pada dinding dan lantai pelvic; yang merupakan bagian inferoposterior pada rongga abdominopelvic, dan berlanjut ke rongga abdomen pada pelvic inlet. Walaupun berlanjut, rongga abdomen dan rongga pelvic terpisah untuk masing-masing tujuan. Pada rongga pelvic terdapat bagian akhirdari ureter dan vesica urinary, rectum, organ pelvic genital, pembuluh darah, saluran limfatik, dan saraf. Rongga pelvic dibatasi oleh dinding-dinding dan lantai sehingga menjadi beberapa bagian dinding, seperti : 1. Dinding pelvic anteroinferior Memiliki fungsi menjaga berat tubuh, terbentuk dari bodies dan ramus dari tulang pubic dan pubic symphisis. Juga berpartisipasi menjaga berat dari vesica urinary. 2. Dinding pelvic lateral Dinding bagian lateral dibentuk dari kiri dan kanan hip bones, yang pada masing-masing tulang tersebut terdapat obturator foramen dan dilapisi membrane obturator. Terdapat struktur yang menempel yaitu otot obturator internus melapisi hampir seluruh bagian dinding pelvic lateral. Setiap otot obturator internus ini berkumpul pada bagian posterior dan menjalur ke arah samping, melewati lesser pelvic dan melewati lesser sciatic foramen dan menempel pada greater trochanter of femur. Pada permukaan bagian tengah, terdapat otot yang dilapisi oleh obturator fascia, yang menebal pada bagian tengah menjadi tendineous arch dan menjadi tempat menempelnya pelvic diaphragm.

3. Dinding pelvic posterior (dinding dan atap posterior) Pada posisi anatomi, dinding posterior pelvic terdiri dari tulang dan atap pada bagian tengah (yang dibentuk oleh sacrum dan coccyx), juga berupa musculoligamentous, yang terbentuk dari beberapa ligament yang berhubungan dengan sendi sacroiliac dan otot piriformis. Sedangkan ligament-nya meliputi anterior sacroiliac, sacrospinous, dan sacrotuberous. Otot piriform berawal dari superior sacrum, lateral terhadap foramen pelvic. Ototnya menjalur ke arah samping, meninggalkan lesser pelvic melewati greater sciatic foramen dan menempel ke bagian superior border pada greater trochanter of femur. 4. Dasar pelvic Dasar pelvic terdiri dari pelvic diaphragm, yang terdiri dari coccygeus dan otot levator ani dan juga fascia yang melapisi bagian superior dan inferior otot-otot tersebut. Pelvic diaphragm memisahkan rongga pelvic dari perineum dengan lesser pelvic. Otot coccygeus berasal dari inferior sacrum dan coccyx pada bagian lateral. Levator ani merupakan otot yang lebih lebar dan lebih besar dan mempunyai peranan penting pada dasar pelvic. Otot ini menempel anterior ke bodies pada tulang pubic, menempel posterior pada spina ischial, dan menempel pada obturator fascia di antara dua tulang pada masing-masing sisi. Levator ani terdiri dari tiga bagian: – Puborectalis : bagian tebal, sempit, dan bagian medial pada levator ani, terdiri dari otot yang berada di antara bagian posterior kanan dan kiri pubic bodies. Membentuk otot berbentuk U, berfungsi menjaga fecal continence. – Pubococcygeus : bagian lebar tetapi lebih tipis yang merupakan bagian intermediate pada levator ani, yang berawal dari bagian posterior pada body of pubis dan anterior tendineous arch menuju puborectalis. Fiber bagian lateral menempel pad coccyx dan fiber bagian medial diratakan dengan otot yan letaknya kontralateral untuk membentuk batas atau tendineous plate, yang merupakan bagian anococcygeal body atau ligament di antara anus dan coccyx. – Olliococcygeus : merupakan bagian posterolateral pada levator ani, yang berawal dari posterior tendineous arch dan spina ischial. Berbentuk tipis dan juga kadang-kadang bergabung dengan posterior anococcygeal body.

KALA I (FASE PEMBUKAAN)
Kala I dimulai dari his persalinan pertama sampai pembukaan cervix menjadi lengkap. Pada kala I ini awalnya his belum begitu kuat, datangnya setiap 10-15 menit dan tidak seberapa mengganggu ibu hingga ibu masih dapat berjalan. Lambat laun his bertambah kuat. Intervalnya menjadi lebih pendek, kontraksi lebih kuat dan lebih lama. Pada kala I ini juga pengeluaran lendir berdarah bertambah banyak. Selain itu mulai terjadi pembukaan cervix. Pembukaan cervix terdiri atas dua tahap. 1. Pendataran cervix Pendataran cervix adalah pemendekan saluran cervical canalis dari panjang sekitar 2 cm menjadi hanya berupa muara melingkar dengan tepi hampir setipis kertas. 2. Dilatasi cervix
1) Fase latent → pembukaan sangat lambat dari 0-3 cm dalam waktu + 8 jam

2) Fase aktif
a. Fase accelerasi (fase cepat)  pembukaan 3-4 cm dalam 2 jam b. Fase kemajuan → pembukaan maksimal 4-9 cm dalam 2 jam c. Fase decelerasi (kurangnya kecepatan)  pembukaan 9-10 cm dalam 2 jam

Lamanya kala I pada primigravida adalah 12.5 jam, sedangkan pada multigravida adalah 7 jam 20 menit.

KALA III

Setelah lahir, his berhenti sebentar, tapi beberapa menit kemudian timbul. Placenta jatuh, mengangkat uterus yang sedang berkontraksi. Lama kala ini selama 8’5 menit. Tanda-tanda placenta melepas yaitu uterus menjadi bundar, lalu terjadi pendarahan kurang lebih 250 cc, jika lebih dari 500 cc sudah patologis. Lalu memanjangnya tali pusat dan naiknya fundus uteri. Ada 2 pelepasan placenta: 1.Schultze, pelepasan bagian tengah placenta. Tidak ada pendarahan sebelum placenta lahir. Baru setelah placenta lahir, keluarlah pendarahan. 2.Duncan, pelepasan mulai pada pinggir placenta. Darah mengalir keluar antara selaput janin dan dinding rahim. Pendarahan sudah ada sejak sebagian dari placenta terlepas dan terus berlangsung sampai seluruh placenta terlepas.

KALA IV
1 jam setelah placenta lahir. Yang harus diawasi pada saat kala IV adalah mengawasi perdarahan post partum, menjahit robekan perineum, keadaan ibu, keadaan anak, keadaan uterus, tertinggal atau tidak. apa ada placeta yang

LABOR AUGMENTATION (AUGMENTASI KELAHIRAN)

Yaitu upaya meningkatkan kontraksi spontan uterus dalam kondisi kontraksi uterus yang kurang akibat gangguan dilatasi cervix & turunnya fetus. Indikasi • • Ruptur membran yang tidak segera diikuti kelahiran spontan His yang tidak kuat

Kontraindikasi • • • Disrupsi uterus akibat insisi / operasi Placenta previa Faktor fetus: – – • – – – Macrosomia atau hydrocephalus Malpresentasi Panggul sempit Infeksi herpes genital aktif Kanker cervix

Faktor ibu:

Prosedur penggunaannya: 1. Farmakologis: pemberian oxytocin secara intravenous • Dosis: 10000 – 20000 mU dicampur dengan 1000 ml larutan lactated ringer sehingga menghasilkan konsentrasi oxytocin 10 – 20 mU/ml – – • 36 mU/ml pada multipara 72 mU/ml pada nullipara

(+) Dapat meningkatkan kontraksi uterus hingga mencapai 200 Montevideo Unit dan sebagai antidiuretik. (-) Jika infus oxytocin disertai sejumlah besar air dapat terjadi water intoxication yang menimbulkan rasa pusing, koma, kematian.

2. Mekanis: Amniotomy / pemecahan ketuban • • Teknik: punktur dengan 26-gauge needle dengan bantuan ring forceps & speculum. Akselerasi kelahiran: – – • 60 menit dengan amniotomy 5,1 cm 81 menit dengan amniotomy 5,5 cm

Komplikasi: chorioamnionitis & kompresi cord.

(+) mengurangi risiko prolaps cord, dilakukan tekanan suprapubic atau fundal dan mencegah terhalaunya kepala fetal. (-) Fetal heart rate harus selalu diukur sebelum dan sesudah amniotomy. Sesuai dengan data pada kasus yaitu munculnya keabnormalan pada saat sebelum

persalinan yaitu terjadi dilatasi pada cervix perubahan pada portio dan presenting part yang telah mencapai station +2 tanpa diikuti dengan pemecahan ketuban, sehingga dilakukan augmentasi kelahiran untuk membantu dalam proses persalinan pada Mrs. Partina.

PARTOGRAM
Partogram adalah suatu alat/instrument yang berguna untuk mencatat informasi pada saat persalinan dan termasuk physical examination dari fetus dan sang ibu. Partogram ini terbagi menjadi 4 bagian yaitu : I. Identitas, informasi admisi dan waktu admisi; II.Progress of labour : cervical dilatation, decent of fetal head dan HIS atau uterine contraction; III.Fetal condition : FHR, colour & amount of liquor dan molding of fetal skull; IV.Maternal condition : Pulse, blood pressure, temperature, urine test & volume urine dan fluid & drug intake.

Sekarang akan dijelaskan satu persatu tentang bagian-bagian dari partogram. I. Identitas, Informasi dan Waktu Admisi Pada bagian ini harus dicatat identitas dari pasien, tanggal admisi, waktu dari admisi yang terletak diatas partogram. II. Progress of Labour Cervical Dilatation Dilatasi servikal terdiri dari dua phase yaitu latent phase dan active phase. Dimana latent phase itu mulai dari 0 – 3 cm dilatasi serviks dan tidak boleh lebih dari 8 jam. Active phase ini merupakan lanjutan setelah latent phase yaitu 3 – 10 cm dilatasi serviks. Pada partogram juga terdapat tiga grafik yaitu latent phase, alert line dan action line. Dimana latent phase ini daerah pada grafik dilatasi servikal yaitu dari 0 – 3 cm dilatasi serviks dan memanjang

sampai jam ke 8. Alert line ini ada pada jam ke 8 sampai ke 15 memanjang dari dilatasi serviks 3 – 10 cm sedangkan action line hanya berjarak 4 jam dari alert line ( jam ke 12 – 19 ). Decent of Fetal Head Penurunan kepala fetus ini dilihat dari posisi kepala fetus pada pelvic brim atau pelvic inlet. Penurunan kepala ini dilihat selama 1x 4 jam pada latent phase dan 1 x 1 jam pada active phase. Ada 5 posisi pada penurunan kepala fetal ini dan dapat dilihat pada gambar dibawah ini :

HIS (Uterine Contraction) HIS atau uterine contraction ini merupakan kondisi dari kontraksi uterus selama persalinan berlangsung. HIS ini dihitung setiap jam pada latent phase dan tiap setengah jam pada active phase. Ada tiga macam kriteria kontraksi uterus yang digambarkan berbeda dalam partogram dan dapat dilihat dibawah ini sebagai berikut :

III. Fetal Condition Fetal Heart Rate Fetal heart rate ini dihitung setiap setengah jam dan range normal dari FHR ini adalah 110 150 mmHg (William) dan 120 - 160 mmHg. Colour & Amount of Liquor Dimana color dan liquor ini dilihat dari bagaimana keadaan dari membrane corionicnya. Hal ini di ukur tiap 4 jam saat vaginal exam tapi setiap saat apabila ada perubahan dari liquor. Ada beberapa kriteria untuk color dan liquor ini yaitu : C B M A I = Clear liquor = Bloody liquor = Meconium stained liquor = Absent liquor = Intact membrane

Molding of Fetal Skull

Molding adakah suatu tes untuk melihat seberapa baik kepala bayi (fetus) masuk atau melewati dari pelvic ibu. Jumlah dari tulang yang overlapping dapat melihat bagaimana baiknya kepala fetus untuk melewati pelvic ibu. Pada molding ini terdapat 4 macam symbol yang dapat menggambarkan molding dari fetus, yaitu : O + ++ +++ = tulang terpisah dan sutura dari kepala fetus dapat dirasakan dengan baik. = tulang kepala bayi saling bersentuhan. = tulang saling overlapping tapi masih bisa dipisahkan. = tulang saling overlapping tapi tidak dapat dipisahkan.

IV. Maternal Condition Pulse Dihitung tiap 4 jam sekali dan memiliki range normal yaitu 60 – 90/menit. Blood Pressure Dihitung setiap 4 jam sekali dan memiliki nilai normal yaitu 90/90 sampai 140/90 mmHg. Temperature Dihitung setiap 4 jam sekali dan memiliki nilai normal yaitu 37.2oC. Urine Test dan Volume Urine Test urine untuk melihat apakah kehamilan mengakibatkan hipertensi sedangkan volume urine terus dilihat selama 2 sampai 4 jam sekali. Fluid & Drug Intake Oral fluid diberikan pada pasien setiap jam sedangkan IV fluid dan obat diberikan pada pasien sesuai dengan indikasi.

Pada kasus ini Mrs. Partina tidak mengalami 3 siklus menstruasi, yang mana biasanya muncul pada tanggal ke 27. Dan hari last menstrual period nya pada 27 Juli 2008. Sehingga

bisa diketahui bahwa pasien ini menderita amenorhhea, yang mana merupakan indikasi dari kehamilan. Selain itu pada kasus Mrs. Partina ini didapat bahwa ia menderita mual, muntah, muntah di pagi hari, frekuensi berkemih yang sering tanpa disertai rasa nyeri, lemah, ketidak nyamanan pada payudara dan peningkatan pigmentasi kulit khususnya pada wajah, puting dan kulit abdominal. Juga hilangnya 3 kg berat badan akibat metabolisme pada saat hamil. Sehingga Mrs. Partina ini diduga hamil. Pada saat dilakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan obstetrik didapat hasil yang menguatkan bahwa pasien tersebut hamil pada pemeriksaan eksternal yaitu tinggi fundus 2 jari diatas simfisis dan corpus uterinnya membesar, sekitar 12 minggu kehamilan. Pada kasus ini juga terdapat problem pada potionya sehingga dilakukan pemeriksaan bimanual. Disamping itu pada pemeriksaan laboratorium, diperoleh Hb dan Hematocrit yang menurun dan terdapat βhCG pada urin, yang merupakan tanda-tanda pada wanita hamil. Pada di USG diperoleh hasil bahwa terdapat singleton fetus, aktif bergerak, HR 160 bpm, regular, CRL 5.5 cm, nuchal translucency 2 mm, dan amniotic fluid normal diperoleh hipotesa yang jelas mengenai kehamilan pada Mrs. Partina. Pada data dilakukan juga pemeriksaan bimanual untuk memeriksa adnexa dan melihat apakah adanya mass. Sesuai pada kasus, dokter menyarankan pada Mrs. Partina untuk melakukan labor augmentation karena adanya masalah-masalah pada kondisi maternal dan fetal dengan tujuan untuk mempermudah proses persalinan. Dan pada akhirnya Mrs. Partina berhasil melahirkan bayi perempuan yang sehat.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful