You are on page 1of 62

1

SKENARIO 2 KEHAMILAN
Seorang pasien 27 tahun, G1P0A0H0 datang ke RSUD pada 12 September 2014 dengan
keluhan keluar air-air yang banyak dari kemaluan sejak 8 jam yang lalu tanpa disertai mules.
Pasien mengaku HPHT nya 15 Desember 2013. Pasien belum pernah memeriksakan
kehamilannya. Dari pemeriksaan fisik didapatkan status generalis dalam batas normal, hanya
konjungtiva yang ditemukan anemis. Pada palpasi abdomen didapatkan tinggi fundus uteri
32cm, his masih hilang timbul. Dilakukan pemeriksaan dalam didapatkan porsio lunak,
medial, pembukaan 1-2cm, selaput ketuban (-),sisa jernih, kepala H1-2. Pada pemeriksaan
laboratorium darah rutin didapatkan Hb 9,2 gr%. Direncanakan dilakukan induksi persalinan.

















2
KATA SULIT
1. HIS : Serangkaian kontraksi rahim yang teratur karena otot polos rahim
yang bekerja dengan baik dan sempurna
2. HPHT : Hari pertama haid terakhir
3. Anemis : Pucat
4. Induksi persalinan : Mempercepat kehamilan secara normal
5. Selaput ketuban : Selaput yang melindungu janin
6. H1-2 : Dibentuk pada lingkaran PAP dengan bagian atas sympisis pubis &
promontorium
7. G1P0A0H0 : Kehamilan 1, persalinan 0, abortus 0, hidup 0
8. Porsio : Bagian serviks yang menonjol kedalam puncak vagina
















3
PERTANYAAN
1. Apa yang menyebabkan keluar air-air banyak dari kemaluan?
2. Apa yang menyebabkan anemis pada ibu ini?
3. Mengapa porsio nya lunak?
4. Mengapa dilaksanakan induksi persalinan?
5. Kenapa hb nya bisa 9,2 gr/dl?
6. Bagaimana cara menghitung partus?
7. Mengapa HIS nya hilang timbul?
8. Apa saja dampak yang didapat bayi jika ibu anemia?
9. Apa saja jenis induksi persalinan?
10. Adakah cara selain induksi persalinan?

JAWABAN
1. Karena ketubannya pecah
2. Karena terjadi penurunan asam folat pada masa kehamilan : kurang nutrisi,karena
hemodilusi, peningkatan tekanan darah, kurangnya suplai dari luar
3. Karena pada saat hamil adanya peningkatan hormon estrogen dan progesteron
4. Karena HIS hilang timbul
5. Karena si ibu kekurangan asupan gizi yang penting untuk kehamilan
6. Di hitung mulai dari HPHT nya 15 desember 2013. Tanggal ditambah 7, bulan
dikurang 3, tahun ditambah 1. Seandanya pada bulan januari februari maret tanggal
tetap ditambah 7, bulan ditambah 9, dan tahun tidak ditambah maupun dikurang
7. Karena belum waktunya melakukan persalinan, karena kontraksi ibu belum kuat,
oksitosin masih rendah, peregangan dinding uterus belum kuat
8. Abortus, BBLR
9. Mekanik, kimia
10. Caesar, bed rest





4
HIPOTESIS
Seorang ibu berusia 27 tahun mengalami penurunan asam folat pada masa kehamilan karena
kurangnya nutrisi,hemodilusi, dan peningkatan tekanan darah mengalami kurangnya suplai dari luar
dan menyebabkan anemis , air keluar dari kemaluan karena ketubannya pecah dan kontraksi ibu
belum kuat, oksitosin masih rendah, peregangan dinding uterus belum kuat menyebabkan
disarankannya melakukan induksi persalinan karena akan berpengaruh pada kehamilannya.

























5
SASARAN BELAJAR
LI 1. Memahami dan Menjelaskan Fisiologi Kehamilan
LO.1.1. Fertilisasi
LO.1.2. Nidasi
LO.1.3. Pembentukan plasenta
LI 2. Memahami dan Menjelaskan Perkembangan Ibu dan Janin
LI 3. Memahami dan Menjelaskan Anemia Pada Kehamilan
LO.3.1. Definisi
LO.3.2. Etiologi
LO.3.3. Epidemiologi
LO.3.4. Klasifikasi
LO.3.5. Patofisiologi
LO.3.6. Manifestasi
LO.3.7. Diagnosis
LO.3.8. Penatalaksaan
LO.3.9. Komplikasi
LO.3.10. Prognosis
LO.3.11. Pencegahan
LI 4. Memahami dan Menjelaskan Gizi Pada Kehamilan
LI 5. Memahami dan Menjelaskan Kehamilan
LO.5.1. Mekanisme
LO.5.2. Pimpinan Persalinan
LI 6. Memahami dan Menjelaskan Kehamilan pada Puasa

6
LI 1. Memahami dan menjelaskan fisiologi kehamilan
LO.1.1. Fertilisasi
Pembuahan (Konsepsi) adalah merupakan awal dari kehamilan, dimana satu sel telur dibuahi
oleh satu sperma.
Ovulasi (pelepasan sel telur) adalah merupakan bagian dari siklus menstruasi normal, yang
terjadi sekitar 14 hari sebelum menstruasi. Sel telur yang dilepaskan bergerak ke ujung tuba
falopii (saluran telur) yang berbentuk corong, yang merupakan tempat terjadinya pembuahan.
Jika tidak terjadi pembuahan, sel telur akan mengalami kemunduran (degenerasi) dan
dibuang melalui vagina bersamaan dengan darah menstruasi. Jika terjadi pembuahan, maka
sel telur yang telah dibuahi oleh sperma ini akan mengalami serangkaian pembelahan dan
tumbuh menjadi embrio (bakal janin).
Jika pada ovulasi dilepaskan lebih dari 1 sel telur dan kemudian diikuti dengan pembuahan,
maka akan terjadi kehamilan ganda, biasanya kembar 2. Kasus seperti ini merupakan kembar
fraternal. Kembar identik terjadi jika pada awal pembelahan, sel telur yang telah dibuahi
membelah menjadi 2 sel yang terpisah atau dengan kata lain, kembar identik berasal dari 1 sel
telur.
Pada saat ovulasi, lapisan lendir di dalam serviks (leher rahim) menjadi lebih cair, sehingga
sperma mudah menembus ke dalam rahim. Sperma bergerak dari vagina sampai ke ujung
tuba falopii yang berbentuk corong dalam waktu 5 menit. Sel yang melapisi tuba falopii
mempermudah terjadinya pembuahan dan pembentukan zigot (sel telur yang telah dibuahi).
Ekor sperma digunakan untuk bermanuver untuk penetrasi akhir ovum. Untuk membuahi
sebuah ovum, sebuah sperma mula-mula harus melewati korona radiata dan zona pelusida
yang mengelilingi ovum tersebut. Enzim-enzim akrosom, yang terpajan saat membran
akrosom rusak saat sperma berkontak dengan korona radiata, memungkinkan sperma
membuat terowongan menembus sawar-sawar protektif tersebut. Sperma hanya mampu
menembus zona pelusida setelah berikatan dengan reseptor spesifik di permukaan lapisan ini.
Sperma pertama yang mencapai ovum, memicu suatu perubahan kimiawi di membran yang
mengelilingi ovum sehingga lapisan ini tidak lagi dapat ditembus oleh sperma lain.
Fenomena ini dikenal sebagai block to polispermy.

7
Kepala spertma yang berfusi secara bertahap tertarik ke dalam sitoplasma ovum oleh suatu
kerucut tumbuh yang menelannya. Dalam proses ini ekor sperma sering lenyap, tetapi kepala
sperma yang membawa informasi genetik yang krusial. Penetrasi sperma ke dalam sitoplasma
memicu pembelahan meiosis akhir oosit sekunder. Dalam satu jam, nukleus sperma dan
ovum menyatu. Selain menyumbang separuh dari kromosom ke ovum yang dibuahi, yang
sekarang disebut zigot, sperma pemenang ini juga mengaktifkan enzim-enzim ovum yang
esensial untuk program pengembangan embrionik dini.



LO.1.2. Nidasi
Selanjutnya hari keempat hasil konsepsi mencapai stadium blastula disebut
blastokista(blastocyst),suatu bentuk di bagia luarnya adalah trofoblas dan dibagian dalamnya
disebut massa inner cell.Massa inner cell ini berkembang menjadi janin dan trofoblas akan
berkembang menjadi plasenta.Dengan demikian,blastokista diselubungi suatu simpai yang
disebut trofoblas.Sejak trofoblas terbentuk produksi Hormon Chorionic
Gonadotrophin(HCG)dimulai,suatu hormone yang memastikan bahwa endometrium akan
menerima (reseptif) dalam proses implantasi embrio.

8
Nidasi diatur oleh suatu proses yang kompleks antara trofoblas dan
endometrium.Disatu sisi trofoblas mempunyai kemampuan invasive yang kuat,di sisi lain
endometrium mengontrol invasi trofobals dengan menyekresikan factor-faktor yang aktif
setempat(local)yaitu inhibitor cytokines dan protease.Keberhasilan nidasi dan plasentasi yang
normal adalah hasil keseimbangan proses antara trofoblas dan endometrium.
Dalam perkembangan differensiasi trofoblas,sitotrofoblas yang belum berdifferensiasi
dapat berkembang dan berdifferensiasi menjadi 3 jenis ,yaitu :
1. Sinsitiotrofoblasyang aktif menghasilkan hormone,
2. Trofoblas jangkar ekstravili yang akan menempel pada endometrium,
3. Trofoblas yang invasive.
Invasi trofoblas diatur oleh pengaturan kadar HCG.Sinsitiotrofoblas menghasilkan
HCG yang akan mengubah sitotrofoblas menyekresikan hormonyang noninvasive.Trofoblas
semakin dekat dengan endometrium menghasilkan kadar HCG yang semakin rendah dan
membuat trofoblas berdifferensiasi dalam sel-sel jangkar yang menghasilkan protein perekat
plasenta yaitu trophouteronectin.
Dalam tingkat nidasi,trofoblas antara lain menghasilkan hormone HCG.Produksi
HCG meningkat sampai kurang lebih hari ke 60 kehamilan untuk kemudian turun lagi.Yang
mana fungsinya adalah mempengaruhi korpus luteum untuk tumbuh terus dan menghasilkan
terus progesterone sampai plasenta dapat membuat cukup progesterone sendiri.
Umumnya nidasi terjadi di dinding depan dan belakang uterus,dekat pada fundus
uteri.Jika nidasi ini terjadi barulah dapat disebut adanya kehamilan.Setelah nidasi
berhasil,selanjutnya hasil konsepsi akan bertumbuh dan berkembang dala endometrium.

LO.1.3. Pembentukan plasenta
Implantasi adalah penempelan blastosis ke dinding rahim, yaitu pada tempatnya tertanam.
Blastosis biasanya tertanam di dekat puncak rahim, pada bagian depan maupun dinding
belakang. Dinding blastosis memiliki ketebalan 1 lapis sel, kecuali pada daerah tertentu
terdiri dari 3-4 sel. Sel-sel di bagian dalam pada dinding blastosis yang tebal akan

9
berkembang menjadi embrio, sedangkan sel-sel di bagian luar tertanam pada dinding rahim
dan membentuk plasenta (ari-ari).
Plasenta menghasilkan hormon untuk membantu memelihara kehamilan dan memungkin
perputaran oksigen, zat gizi serta limbah antara ibu dan janin. Implantasi mulai terjadi pada
hari ke 5-8 setelah pembuahan dan selesai pada hari ke 9-10.
Dinding blastosis merupakan lapisan luar dari selaput yang membungkus embrio (korion).
Lapisan dalam (amnion) mulai dibuat pada hari ke 10-12 dan membentuk kantung amnion.
Kantung amnion berisi cairan jernih (cairan amnion) dan akan mengembang untuk
membungkus embrio yang sedang tumbuh, yang mengapung di dalamnya.
Tonjolan kecil (vili) dari plasenta yang sedang tumbuh, memanjang ke dalam dinding rahim
dan membentuk percabangan seperti susunan pohon. Susunan ini menyebabkan penambahan
luas daerah kontak antara ibu dan plasenta, sehingga zat gizi dari ibu lebih banyak yang
sampai ke janin dan limbah lebih banyak dibuang dari janin ke ibu. Pembentukan plasenta
yang sempurna biasanya selesai pada minggu ke 18-20, tetapi plasenta akan terus tumbuh
selama kehamilan dan pada saat persalinan beratnya mencapai 500 gram.

LI 2. Memahami dan menjelaskan perkembangan ibu dan janin
Pada Ibu :

A. Uterus/Rahim
Tumbuh membesar primer, maupun sekunder akibat pertumbuhan isi hasil
pembuahan dalam rahim (intrauterin).Estrogen menyebabkan hiperplasi jaringan,
progesteron berperan untuk elastisitas / kelenturan uterus.
Taksiran kasar perbesaran uterus pada perabaan perut (tinggi fundus):
1. Tidak hamil / normal : sebesar telur ayam (+ 30 g)
2. Kehamilan 8 minggu : telur bebek
3. Kehamilan 12 minggu : telur angsa
4. Kehamilan 16 minggu : pertengahan simfisis(tulang kemaluan)-pusat

10
5. Kehamilan 20 minggu : pinggir bawah pusat
6. Kehamilan 24 minggu : pinggir atas pusat
7. Kehamilan 28 minggu : sepertiga pusat-xyphid (tulang rongga dada paling bawah)
8. Kehamilan 32 minggu : pertengahan pusat-xyphoid
9. Kehamilan 36-42 minggu : 3 sampai 1 jari bawah xyphoid








Serviks uteri (leher rahim) mengalami hipervaskularisasi akibat stimulasi estrogen dan
perlunakan akibat progesteron, warna menjadi livide / kebiruan.
Sekresi lendir serviks meningkat pada kehamilan memberikan gejala keputihan.
B. Vagina / vulva
Terjadi hipervaskularisasi akibat pengaruh estrogen dan progesteron, warna merah
kebiruan (tanda Chadwick).
C. Ovarium (Kantong Telur)
Sejak kehamilan 16 minggu, fungsi ovarium diambil alih oleh plasenta, terutama
fungsi produksi progesteron dan estrogen.Selama kehamilan ovarium
tenang/beristirahat.Tidak terjadi pembentukan dan pematangan folikel baru, tidak terjadi
ovulasi, tidak terjadi siklus hormonal menstruasi.

11
D. Payudara
Akibat pengaruh estrogen terjadi hiperplasia sistem duktus dan jaringan interstisial
payudara.Hormon laktogenik plasenta (diantaranya somatomammotropin) menyebabkan
hipertrofi dan pertambahan sel-sel asinus payudara, serta meningkatkan produksi zat-zat
kasein, laktoalbumin, laktoglobulin, sel-sel lemak, dan kolostrum.Mammae membesar dan
tegang, terjadi hiperpigmentasi kulit serta hipertrofi kelenjar Montgomery, terutama daerah
areola dan papilla akibat pengaruh melanofor. Puting susu membesar dan menonjol.
E. Sistem respirasi/Pernapasan
Kebutuhan oksigen meningkat sampai 20%, selain itu diafragma (otot pernapasan)
juga terdorong ke atas menyebabkan napas cepat dan dangkal (20-24x/menit).Inilah yang
menyebabkan wanita hamil merasa napasnya sesak.
F. Sistem gastrointestinal
Estrogen dan hCG meningkat dengan efek samping mual dan muntah-muntah, selain
itu terjadi juga perubahan peristaltik dengan gejala sering kembung, konstipasi (susah BAB),
lebih sering lapar / perasaan ingin makan terus (mengidam), juga terjadi peningkatan asam
lambung. Pada keadaan patologik tertentu dapat terjadi muntah-muntah banyak sampai lebih
dari 10 kali per hari (hiperemesis gravidarum).
G. Sistem sirkulasi / kardiovaskular
Perubahan fisiologi pada kehamilan normal, yang terutama adalah perubahan
HEMODINAMIK calon ibu, meliputi :
1. retensi cairan, bertambahnya beban volume dan curah jantung
2. anemia relatif
3. tekanan darah arterial menurun
4. curah jantung bertambah 30-50%, maksimal akhir trimester I, menetap sampai akhir
kehamilan
5. volume darah maternal keseluruhan bertambah sampai 50%

12
6. volume plasma bertambah lebih cepat pada awal kehamilan, kemudian bertambah
secara perlahan sampai akhir kehamilan.
Leukosit meningkat sampai 15.000/mm3, akibat reaksi antigen-antibodi fisiologik
yang terjadi pada kehamilan.Infeksi dicurigai bila leukosit melebihi 15.000/mm3.Trombosit
meningkat sampai 300.000-600.000/mm3, tromboplastin penting untuk hemostasis yang baik
pada kehamilan dan persalinan.Fibrinogen juga meningkat 350-750 mg/dl (normal 250-350
mg/dl).Laju endap darah meningkat.Protein total meningkat, namun rasio albumin-globulin
menururn karena terjadi penurunan albumin alfa-1, alfa-2 dan beta diikuti peningkatan
globulin alfa-1, alfa-2 dan beta.Faktor-faktor pembekuan meningkat.
H. Metabolisme
Basal metabolic rate meningkat sampai 15%, terjadi juga hipertrofi tiroid.Kebutuhan
karbohidrat meningkat sampai 2300 kal/hari (hamil) dan 2800 kal/hari (menyusui).Kebutuhan
protein 1 g/kgbb/hari untuk menunjang pertumbuhan janin.Kadar kolesterol plasma
meningkat sampai 300 g/100ml. Kebutuhan kalsium, fosfor, magnesium, cuprum meningkat.
Ferrum dibutuhkan sampai kadar 800 mg, untuk pembentukan hemoglobin tambahan.
Khusus untuk metabolisme karbohidrat, pada kehamilan normal, terjadi kadar glukosa
plasma ibu yang lebih rendah secara bermakna karena :
1. ambilan glukosa sirkulasi plasenta meningkat
2. produksi glukosa dari hati menurun
3. produksi alanin (salah satu prekursor glukoneogenesis) menurun
4. aktifitas ekskresi ginjal meningkat
5. efek hormon-hormon gestasional (human placental lactogen, hormon2 plasenta
lainnya, hormon2 ovarium, hipofisis, pankreas, adrenal, growth factors, dsb).
I. Traktus urinarius/saluran kemih
Ureter membesar, tonus otot-otot saluran kemih menururn akibat pengaruh estrogen
dan progesteron. Kencing lebih sering (poliuria), kadar kreatinin, urea dan asam urat dalam
darah mungkin menurun namun hal ini dianggap normal.
J. Kulit

13
Peningkatan aktifitas melanophore stimulating hormon menyebabkan perubahan
berupa hiperpigmentasi pada wajah (kloasma gravidarum), payudara, striae lividae pada
perut, dsb.Terdapat linea nigra dibagian perut.

K. Peningkatan Berat Badan Selama Hamil
Normal berat badan meningkat sekitar 6-16 kg, terutama dari pertumbuhan isi
konsepsi dan volume berbagai organ / cairan intrauterin.
Berat janin + 2.5-3.5 kg, berat plasenta + 0.5 kg, cairan amnion + 1.0 kg, berat uterus
+ 1.0 kg, penambahan volume sirkulasi maternal + 1.5 kg, pertumbuhan mammae + 1 kg,
penumpukan cairan interstisial di pelvis dan ekstremitas + 1.0-1.5 kg.
Pada Janin :
1. Minggu pertama 8 hari :
selepas proses persenyawaan berlaku, blastocyst (kini mengandungi 200 sel)
merembeskan mukus untuk memberitahu kehadirannya di dalam rahim.

2. Minggu ke-2 :
Blastocyst menggelembung dan sel-sel mula berkembang dan terbahagi kira-kira 2
kali sehari sehinggalah pada hari yang ke-12 jumlahnya telah bertambah dan membantu
blastocyst terpaut atau disauh dengan kukuh pada endometrium.

14

3. Minggu ke-3 :
Saiz embrio terbentuk dan saiznya hanyalah sepanjang 0.08 inci/2 mm. Gen janin
mula hendak membentuk dalam 3 lapisan benih (sel) daripada organ badan yang akan
bergabung.

4. Minggu ke-4 :
Janin sudah mulai membentuk struktur asas manusia dimana sel-sel mula bergabung
dan pada masa itu embrio sudah mulai memanjang kira-kira 1/4 inci (6 mm = sebesar biji
tembikai). Pada masa ini sudah kelihatan pembentukan otak dan tulang belakang serta
anggota lain seperti jantung yang mengepam darah ke paru-paru dan aorta (urat besar yang
membawa darah daripada jantung).

5. Minggu ke-5 :
Embrioakan terus membesar. Terdapat 3 lapisan iaitu ectoderm, mesoderm dan dan
endoderm. Ectoderm adalah lapisan yang paling atas. Ianya akan membentuk sistem saraf
pada janin tersebut yang seterusnya membentuk otak, tulang belakang, kulit serta rambut.
Manakala lapisan mesoderm pula yang berada pada lapisan tengah akan membentuk organ
penting yang asas iaitu jantung, buah pinggang, tulang dan organ reproduktif. Sistem
peredaran darah adalah yang pertama terbentuk dan berfungsi. Akhir sekali ialah lapisan
endoderm iaitu lapisan paling dalam yang akan membentuk organ dalaman seperti usus, hati,
pankreas dan pundi kencing.

6. Minggu ke-6 :
Sekiranya pemeriksaan secara ultrasound dilakukan, kita akan dapat melihat janin
sudah membentuk kepada dan badan. Biasanya getaran jantungnya juga sudah dapat dikesan.


7. Minggu ke-7 :
Pembentukan bayi semakin jelas terbentuk. Kepala bayi seolah-olah tertunduk dan
berada dalam cecair (air ketuban atau amnotic sac) yang akan memberikan keperluan
tumbesaran bayi semasa dalam kandungan.

8. Janin usia 8 Minggu

15
Seluruh organ tubuh utama bayi telah terbentuk meskipun belum berkembang
sempurna. Mata dan telinga mulai terbentuk. Jantung berdetak kuat. Dengan ultrasound kita
dapat melihat jantung janin berdenyut.







9. Minggu ke-9 :
Telinga bagian luar mulai terbentuk, kaki dan tangan terus berkembang berikut jari
kaki dan tangan mulai tampak. Ia mulai bergerak walaupun Anda tak merasakannya. Dengan
Doppler, Anda bisa mendengar detak jantungnya. Minggu ini, panjangnya sekitar 22-30 mm
dan beratnya sekitar 4 gram.

10. Minggu ke-10 :
Semua organ penting yang telah terbentuk mulai bekerjasama. Pertumbuhan otak
meningkat dengan cepat, hampir 250.000 sel saraf baru diproduksi setiap menit. Ia mulai
tampak seperti manusia kecil dengan panjang 32-43 mm dan berat 7 gram.

16

11. Minggu ke-11 :
Panjang tubuhnya mencapai sekitar 6,5 cm. Baik rambut, kuku jari tangan dan
kakinya mulai tumbuh. Sesekali di usia ini janin sudah menguap.
Gerakan demi gerakan kaki dan tangan, termasuk gerakan menggeliat, meluruskan
tubuh dan menundukkan kepala, sudah bisa dirasakan ibu. Bahkan, janin kini sudah bisa
mengubah posisinya dengan berputar, memanjang, bergelung, atau malah jumpalitan yang
kerap terasa menyakitkan sekaligus memberi sensasi kebahagiaan tersendiri.



12. Janin usia 12 Minggu :

Panjang janin sekarang sekitar 6,5 cm dan bobotnya sekitar 18 gram. Kepala bayi
menjadi lebih bulat dan wajah telah terbentuk sepenuhnya. Jari-jari tangan dan kaki terbentuk

17
dan kuku mulai tumbuh. Bayi mulai menggerak-gerakkan tungkai dan lengannya, tetapi ibu
belum dapat merasakan gerakan-gerakan ini.

13. Minggu ke-13 :
Pada akhir trimester pertama, plasenta berkembang untuk menyediakan oksigen ,
nutrisi dan pembuangan sampah bayi. Kelopak mata bayi merapat untuk melindungi mata
yang sedang berkembang. Janin mencapai panjang 76 mm dan beratnya 19 gram.
Kepala bayi membesar dengan lebih cepat daripada yang lain. Badannya juga semakin
membesar untuk mengejar pembesaran kepala.


14. Minggu ke-14 :
Tiga bulan setelah pembuahan, panjangnya 80-110 mm dan beratnya 25 gram.
Lehernya semakin panjang dan kuat. Lanugo, rambut halus yang tumbuh di seluruh tubuh
dan melindungi kulit mulai tumbuh pada minggu ini. Kelenjar prostat bayi laki-laki
berkembang dan ovarium turun dari rongga perut menuju panggul.Detak jantung bayi mulai
menguat tetapi kulit bayi belum tebal karena belum ada lapisan lemak

18

15. Minggu ke-15 :
Tulang dan sumsum tulang di dalam sistem kerangka terus berkembang. Jika bayi
Anda perempuan, ovarium mulai menghasilkan jutaan sel telur pada minggu ini. Kulit bayi
masih sangat tipis sehingga pembuluh darahnya kelihatan. Akhir minggu ini, beratnya 49
gram dan panjang 113 mm
Bayi sudah mampu menggenggam tangannya dan mengisap ibu jari. Kelopak
matanya matanya tertutup.

16. Janin usia 16 Minggu :
Panjang janin sekarang sekitar 16 cm dan bobotnya sekitar 35 gram. Dengan
bantuan scan, kita dapat melihat kepala dan tubuh bayi, kita juga dapat melihatnya bergerak-
gerak. Ia menggerak-gerakkan seluruh tungkai dan lengannya, menendang dan menyepak.
Inilah tahap paling awal di mana ibu dapat merasakan gerakan bayi. Rasanya seperti ada
seekor kupu-kupu dalam perutmu. Tetapi, ibu tidak perlu khawatir jika belum dapat
merasakan gerakan ini. Jika si bayi adalah anak pertama, biasanya ibu agak lebih lambat
dalam merasakan gerakannya.








17. Minggu ke-17 :
Dengan panjang 12 cm dan berat 100 gram, bayi masih sangat kecil. Lapisan lemak
cokelat mulai berkembang, untuk menjada suhu tubuh bayi setelah lahir. Tahukah Anda ?
Saat dilahirkan, berat lemak mencapai tiga perempat dari total berat badannya.

19
Rambut, kening, bulu mata bayi mulai tumbuh dan garis kulit pada ujung jari mulai
terbentuk. Sidik jari sudah mulai terbentuk.
18. Minggu ke-18 :
Mulailah bersenandung sebab janin sudah bisa mendengar pada minggu ini. Ia pun
bisa terkejut bila mendengar suara keras. Mata bayi pun berkembang. Ia akan mengetahui
adanya cahaya jika Anda menempelkan senter yang menyala di perut. Panjangnya sudah 14
cm dan beratnya 140 gram.
Bayi sudah bisa melihat cahaya yang masuk melalui dinding rahim ibu. Hormon
Estrogen dan Progesteron semakin meningkat.

19. Minggu ke-19 :
Tubuh bayi diselimuti vernix caseosa, semacam lapisan lilin yang melindungi kulit
dari luka. Otak bayitelah mencapai jutaan saraf motorik karenanya ia mampu membuat
gerakan sadar seperti menghisap jempol. Beratnya 226 gram dengan panjang hampir 16 cm.








20
20. Janin usia 20 Minggu

Bayi masih berenang-renang dalam lautan air ketuban. Ia tumbuh dengan pesat, baik
dalam bobot maupun panjangnya yang sekarang telah mencapai 25 cm, yaitu separuh dari
panjangnya ketika ia dilahirkan nanti dan bobotnya sudah sekitar 340 gram. Bayi membuat
gerakan-gerakan aktif yang dapat dirasakan ibu. Mungkin ibu memperhatikan ada saat-saat di
mana bayi tampaknya tidur, dan saat-saat lain di mana ia melakukan banyak gerak.



21. Minggu ke-21 :
Usus bayi telah cukup berkembang sehingga ia sudah mampu menyerap atau menelan
gula dari cairan lalu dilanjutkan melalui sistem pencernaan manuju usus besar. Gerakan bayi
semakin pelan karena beratnya sudah 340 gram dan panjangnya 20 cm













21
22. Minggu ke-22 :
Indera yang akan digunakan bayi untuk belajar berkembang setiap hari. Setiap
minggu, wajahnya semakin mirip seperti saat dilahirkan. Perbandingan kepala dan tubuh
semakin proporsional


23. Minggu ke-23 :
Meski lemak semakin bertumpuk di dalam tubuh bayi, kulitnya masih kendur
sehingga tampak keriput. Ini karena produksi sel kulit lebih banyak dibandingkan lemak. Ia
memiliki kebiasaaan berolahraga, menggerakkan otot jari-jari tangan dan kaki, lengan dan
kaki secara teratur. Beratnya hampir 450 gram. Tangan dan kaki bayi telah terbentuk dengan
sempurna, jari juga terbentuk sempurna.
24. Janin usia 24 Minggu
Sekarang panjang bayi sekitar 32 cm dan bobotnya 500 gram. Ibu dapat merasakan
bagian-bagian tubuh bayi yang berbeda yang menyentuh dinding perutnya. Otot rahim ibu
meregang dan terkadang ibu merasakan sakit di bagian perutnya.




22
25. Minggu ke-25 :
Bayi cegukan, apakah Anda merasakannya? Ini tandanya ia sedang latihan bernafas.
Ia menghirup dan mengeluarkan air ketuban. Jika air ketuban yang tertelan terlalu banyak, ia
akan cegukan.
Tulang bayi semakin mengeras dan bayi menjadi bayi yang semakin kuat. Saluran
darah di paru-paru bayi sudah semakin berkembang. Garis disekitar mulut bayi sudah mulai
membentuk dan fungsi menelan sudah semakin membaik. Indera penciuman bayi sudah
semakin membaik karena di minggu ini bagian hidung bayi (nostrils) sudah mulai berfungsi.
Berat bayi sudah mencapai 650-670 gram dengan tinggi badan 34-37 cm.

26. Minggu ke-26 :
Bayi sudah bisa mengedipkan matanya selain itu retina matanya telah mulai
terbentuk. Aktifitas otaknya yang berkaitan dengan pendengarannya dan pengelihatannya
sudah berfungsi. Berat badan bayi sudah mencapai 750-780gram, sedangkan tingginya 35-38
cm.

27. Minggu ke-27 :
Minggu pertama trimester ketiga, paru-paru, hati dan sistem kekebalan tubuh masih
harus dimatangkan. Namun jika ia dilahirkan, memiliki peluang 85% untuk bertahan.
Indra perasa mulai terbentuk. Bayi juga sudah pandai mengisap ibu jari dan menelan air
ketuban yang mengelilinginya. Berat umum bayi seusia si kecil 870-890 gram dengan tinggi
badan 36-38 cm.

28. Minggu ke-28 :
Minggu ini beratnya 1100 gram dan panjangnya 25 cm. Otak bayi semakin berkembang
dan meluas. Lapisan lemak pun semakin berkembang dan rambutnya terus tumbuh.

23
Lemak dalam badan mulai bertambah. Walaupun gerakan bayi sudah mulai terbatas karena
beratnya yang semakin bertambah, namun matanya sudah mulai bisa berkedip bila melihat
cahaya melalui dinding perut ibunya. Kepalanya sudah mengarah ke bawah. Paru-parunya
belum sempurna, namun jika saat ini ia terlahir ke dunia, si kecil kemungkinan besar telah
dapat bertahan hidup.

29. Minggu ke-29 :
Kelenjar adrenalin bayi mulai menghasilkan hormon seperti androgen dan estrogen.
Hormon ini akan menyetimulasi hormon prolaktin di dalam tubuh ibu sehingga membuat
kolostrum (air susu yang pertama kali keluar saat menyusui).
Sensitifitas dari bayi semakin jelas, bayi sudah bisa mengidentifikasi perubahan suara,
cahaya, rasa dan bau. Selain itu otak bayi sudah bisa mengendalikan nafas dan mengatur suhu
badan dari bayi. Postur dari bayi sudah semakin sempurna sebagai seorang manusia, berat
badannya 1100-1200 gram, dengan tinggi badan 37-39 cm.

30. Janin usia 30 Minggu
Sekarang panjang bayi sekitar 32 cm dan bobotnya 500 gram. Ibu dapat merasakan
bagian-bagian tubuh bayi yang berbeda yang menyentuh dinding perutnya. Otot rahim ibu
meregang dan terkadang ibu merasakan sakit di bagian perutnya.
Kepala bayi sekarang sudah proporsional dengan tubuhnya. Ibu mungkin mengalami
tekanan di bagian diafrakma dan perut. Sekarang bobot bayi sekitar 1700 gram dan
panjangnya sekitar 40 cm.




24
31. Minggu ke-31 :
Plasenta masih memberikan nutrisi yang dibutuhkan bayi. Aliran darah di plasenta
memungkinkan bayi menghasilkan air seni. Ia berkemih hampir sebanyak 500 ml sehari di
dalam air ketuban
Perkembangan fisik bayi sudah mulai melambat pada fase ini, hanya berat badan bayilah
yang akan bertambah. Selain itu lapisan lemak akan semakin bertambah dibawah jaringan
kulitnya. Tulang pada tubuh bayi sudah mulai mengeras, berkembang dan mulai memadat
dengan zat-zat penting seperti kalsium, zat besi, fosfor. Berkebalikan denganperkembangan
fisiknya, pada fase ini perkembangan otaknyalah yang berkembang dengan sangat pesat
dengan menghasilkan bermilyar sel. Apabila diperdengarkan musik, bayi akan bergerak.
Berat badan bayi 1550-1560 gram dengan tinggi 41-43 cm.











32. Minggu ke-32 :
Jari tangan dan kaki telah tumbuh sempurna, begitu pula dengan bulu mata, alis dan
rambut di kepala bayi yang semakin jelas. Lanugo yang menutupi tubuh bayi mulai rontok
tetapi sebagian masih ada di bahu dan punggung saat dilahirkan. Dengan berat 1800 gram
dan panjang 29 cm, kemampuan untuk bertahan hidup di luar rahim sudah lebih baik apabila
di dilahirkan pada minggu ini.
Kulit bayi semakin merah, kelopak matanya juga telah terbuka dan system
pendengaran telah terbentuk dengan sempurna. Kuku dari jari mungil tangan dan kaki si kecil
sudah lengkap dan sempurna. Rambutnya pun semakin banyak dan semakin panjang. Bayi
sudah mulai bisa bermimpi .


25

33. Minggu ke-33 :
Bayi telah memiliki bentuk wajah yang menyerupai ayah dan ibunya. Otak bayi
semakin pesat berkembang. Pada saat ini juga otak bayi sudah mulai bisa berkoordinasi
antara lain, bayi sudah menghisap jempolnya dan sudah bisa menelan. Walaupun tulang-
tulang bayi sudah semakin mengeras tetapi otot-otot bayi belum benar-benar bersatu. Bayi
sudah bisa mengambil nafas dalam-dalam walaupun nafasnya masih di dalam air. Apabila
bayinya laki-laki maka testis bayi sudah mulai turun dari perut menuju skrotum. Berat badan
bayi 1800-1900 gram, dengan tinggi badan sekitar 43-45 cm.

34. Minggu ke-34 :
Bayi berada di pintu rahim. Bayi sudah dapat membuka dan menutup mata apabila
mengantuk dan tidur, bayi juga sudah mulai mengedipkan matanya. Tubuh bunda sedang
mengirimkan antibodi melalui darah bunda ke dalam darah bayi yang berfungsi sebagai
sistem kekebalan tubuhnya dan proses ini akan tetap terus berlangsung bahkan lebih rinci
pada saat bunda mulai menyusui. Berat Badan bayi 2000-2010 gram, dengan tinggi badan
sekitar 45-46 cm.

35. Minggu ke-35 :
Pendengaran bayi sudah berfungsi secara sempurna. Lemak dari tubuh bayi sudah
mulai memadat pada bagian kaki dan tangannya, lapisan lemak ini berfungsi untuk
memberikan kehangatan pada tubuhnya. Bayi sudah semakin membesar dan sudah mulai
memenuhi rahim bunda. Apabila bayi bunda laki-laki maka di bulan ini testisnya telah
sempurna. Berat badan bayi 2300-2350 gram, dengan tinggi badan sekitar 45-47 cm.

36. Janin usia 36 Minggu :
Bayi sudah hampir sepenuhnya berkembang. Sewaktu-waktu ia dapat turun ke
rongga pinggul ibu. Kulit bayi sudah halus sekarang dan tubuhnya montok. Apabila ia

26
bangun, matanya terbuka dan ia dapat membedakan antara terang dan gelap. Sekarang
panjang bayi sekitar 50 cm dan bobotnya berkisar antara 2500 hingga 4500 gram.

37. Janin usia 37 hingga 42 Minggu :
Kepala bayi turun ke ruang pelvik. Bentuk bayi semakin membulat dan kulitnya
menjadi merah jambu. Rambutnya tumbuh dengan lebat dan bertambah 5cm. Kuku terbentuk
dengan sempurna. Bayi sudah bisa melihat adanya cahaya diluar rahim. Bayi pada saat ini
sedang belajar untuk mengenal aktifitas harian, selain itu bayi juga sedang belajar untuk
melakukan pernafasan walaupun pernafasannya masih dilakukan di dalam air. Berat badan
bayi di minggu ini 2700-2800 gram, dengan tinggi 48-49 cm
Bayi siap lahir. Ibu tidak perlu khawatir jika bayinya tidak lahir tepat pada waktu
yang telah diperkirakan. Persentasenya hanya 5% bayi lahir tepat pada tanggal yang
diperkirakan.
Proses Terbentuknya Janin Laki-Laki dan Perempuan :
Proses terbentuknya janin laki-laki dan perempuan dimulai dari deferensiasai gonad.
Awalnya sel sperma yang berkromosom Y akan berdeferensiasi awal menjadi organ jantan
dan yang X menjadi organ betina. Deferensiasi lanjut kromosom Y membentuk testis
sedangkan kromosom X membentuk ovarium. Proses deferensiasi menjadi testis dimulai dari
degenerasi cortex dari gonad dan medulla gonad membentuk tubulus semineferus. Di celah
tubulus sel mesenkim membentuk jaringan intertistial bersama sel leydig.Sel leydig bersama
dengan sel sertoli membentuk testosteron dan duktus muller tp duktus muller berdegenerasi
akibat adanya faktor anti duktus muller, testosteron berdeferensiasi menjadi epididimis, vas
deferent, vesikula seminlis dan duktus mesonefros.Karena ada enzim 5 alfareduktase
testosteron berdeferensiasi menjadi dihidrotestosteron yang kemudian pada epitel uretra
terbentuk prostat dan bulbouretra.Selanjunya mengalami pembengkakan dan terbentuk
skrotum.Kemudian testis turun ke pelvis terus menuju ke skrotum.Mula-mula testis berada di
cekukan bakal skrotum saat skrotum mkin lmamakin besar testis terpisah dari rongga pelvis.
Sedangkan kromosom X yang telah mengalami deferensiasi lanjut kemudian pit
primer berdegenerasi membentuk medula yang terisi mesenkim dan pembuluh darah, epitel
germinal menebal membentuk sel folikel yang berkembang menjadi folikel telur.
Deferensiasi gonad jadi ovarium terjadi setelah beberapa hari defrensiasi testis.Di sini cortex
tumbuh membina ovarium sedangkan medula menciut.PGH dari placenta mendorong

27
pertumbuhan sel induk menjadi oogonia, lalu berplorifrasi menjadi oosit primer.Pada
perempuan duktus mesonefros degenerasi.Saat gonad yang berdeferensiasi menjadi ovarium
turun smpai rongga pelvis kemudian berpusing sekitar 450 letaknya menjadi melintang.
Penis dan klitoris awalnya pertumbuhannya sama yaitu berupa invagina ectoderm.
Klitoris sebenarnya merupakan sebuh penis yang tidak berkembang secara sempurna.Pada
laki-laki evagina ectoderm berkembang bersama terbawanya sinus urogenitalis dari cloaca.

LI 3. Memahami dan menjelaskan anemia pada kehamilan
LO.3.1. Definisi
Anemia adalah kondisi ibu dengan kadar haemoglobin (Hb) dalam darahnya kurang
dari 12 gr%, sedangkan anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu dengan kadar
haemoglobin dibawah 11 gr% pada trimester I dan III atau kadar <10,5 gr% pada trimester II.
Anemia dalam kehamilan yang disebabkan karena kekurangan zat besi, jenis pengobatannya
relatif mudah, bahkan murah.
Darah akan bertambah banyak dalam kehamilan yang lazim disebut Hidremia atau
Hipervolemia. Akan tetapi, bertambahnya sel darah kurang dibandingkan dengan
bertambahnya plasma sehingga terjadi pengenceran darah. Perbandingan tersebut adalah
sebagai berikut: plasma 30%, sel darah 18% dan haemoglobin 19%. Bertambahnya darah
dalam kehamilan sudah dimulai sejak kehamilan 10 minggu dan mencapai puncaknya dalam
kehamilan antara 32 dan 36 minggu.Secara fisiologis, pengenceran darah ini untuk membantu
meringankan kerja jantung yang semakin berat dengan adanya kehamilan.Hidremia
mengakibatkan peningkatan cardiac output, resistensi perifer berkurang sehingga tekanan
darah tidak naik.Selain itu pada perdarahan waktu persalinan banyak unsur besi yang hilang
lebih sedikit dibandingkan jika darah tersebut kental.
Kebanyakan anemia dalam kehamilan disebabkan oleh defisiensi besi dan perdarahan
akut bahkan tidak jarang keduannya saling berinteraksi (Safuddin, 2002). Menurut Mochtar
(1998) penyebab anemia pada umumnya adalah sebagai berikut :
1. Kurang gizi (malnutrisi) 2. Kurang zat besi dalam makanan

28
3.Malabsorpsi
4.Kehilangan darah banyak seperti persalinan yang lalu, haid dan lain-lain
5. Penyakit-penyakit kronik seperti TBC paru, cacing usus, malaria dan lain-lain

LO.3.2. Etiologi
Anemia defisiensi besi merupakan tahap defisiensi besi yang paling parah, yang ditandai oleh
penurunan cadangan besi, konsentrasi besi serum, dan saturasi transferin yang rendah dan
konsentrasi hemoglobin atau nilai hematokrit yang menurun. Pada kehamilan, kehilangan zat
besi terjadi akibat pengalihan besi maternal ke janin untuk eritropoiesis, kehilangan darah
pada saat persalinan, dan laktasi yang jumlah keseluruhannya dapat mencapai angka 900mg
atau setara dengan 2 liter darah. Oleh karena sebagian besar perempuan mengawali
kehamilan dengan cadangan besi rendah, maka kebutuhan tambahan ini berakibat pada
anemia defisiensi besi.
ETIOLOGINYA KARENA INI
Hipervolemia, menyebabkan terjadinya pengenceran darah
Pertambahan darah tidak sebanding dengan pertambahan plasma
Kurangnya zat besi dalam makanan(diit)
Kebutuhan zat besi meningkat
Gangguan pencernaan dan absorbsi(malabsorbsi)
Status sosial ekonomi keluarga yang minim menyebabkan asupan gizi kurang
Ibu hamil yang malnutrisi atau kekurangan gizi
Kehamilan dan persalinan dengan jarak yang berdekatan
Kehamilan dibawah usia 18 tahun atau kehamilan diatas usia 35 tahun
Malabsorpsi
Kehilangan darah banyak seperti persalinan yang lalu, haid dan lain-lain
Penyakit-penyakit kronik seperti TBC paru, cacing usus, malaria dan lain-lain

LO.3.3. Epidemiologi
Berdasarkan data SKRT tahun 1995 dan 2001, anemia pada ibu hamil sempat mengalami
penurunan dari 50,9% menjadi 40,1% (Amiruddin, 2007). Angka kejadian anemia di
Indonesia semakin tinggi dikarenakan penanganan anemia dilakukan ketika ibu hamil bukan
dimulai sebelum kehamilan. Berdasarkan profil kesehatan tahun 2010 didapatkan data bahwa
cakupan pelayanan K4 meningkat dari 80,26% (tahun 2007) menjadi 86,04% (tahun 2008),
namun cakupan pemberian tablet Fe kepada ibu hamil menurun dari 66,03% (tahun 2007)
menjadi 48,14% (Depkes, 2008).

29
Frekuensi timbulnya anemia dalam kehamilan tergantung pada suplementasi besi. Taylor
dkk melaporkan rata-rata kadar hemoglobin sebesar 12,7 g/dl pada wanita yang
mengkonsumsi suplemen besi sementara rata-rata hemoglobin sebesar 11,2 g/dl pada wanita
yang tidak mengkonsumsi suplemen.
Karakter Trias Epidemiologi
1. Host
Faktor host (penjamu) dalam kasus anemia pada ibu hamil adalah ibu hamil yang terdiri dari:
2. Umur
Semakin muda umur ibu hamil, semakin berisiko untuk terjadinya anemia. Hal ini didukung
oleh penelitian Adebisi dan Strayhorn (2005) di USA bahwa ibu remaja memiliki prevalensi
anemia kehamilan lebih tinggi dibanding ibu berusia 20 sampai 35 tahun. Hal ini dapat
dikarenakan pada remaja, Fe dibutuhkan lebih banyak karena pada masa tersebut remaja
membutuhkannya untuk pertumbuhan, ditambah lagi jika hamil maka kebutuhan akan Fe
lebih besar seperti yang sudah dijelaskan pada riwayat alamiah. Selain itu, faktor usia yang
lebih muda dihubungkan dengan pekerjaan, status sosial ekonomi dan pendidikan yang
kurang.
3. Kelompok etnik
Berdasarkan penelitian Adebisi dan Strayhorn (2005) di USA bahwa ras kulit hitam memiliki
risiko anemia pada kehamilan 2 kali lipat dibanding dengan kulit putih. Hal ini juga
dihubungkan dengan status sosial ekonomi
4. Keadaan Fisiologis
Keadaan fisiologis ibu hamil, peningkatan Hb tidak sebanding dengan penambahan volume
plasma yang lebih besar, selain itu didukung dengan kebutuhan intake Fe yang lebih banyak
untuk eritropoesis.
5. Keadaan imunologis
Keadaan imunologis dari ibu hamil yang dapat menyebabkan anemia dihubungkan dengan
proses hemolitik sel darah merah yang nantinya disebut anemia hemolitik. Hal ini juga

30
berhubungan dengan ada maupun tidak adanya penyakit yang mendasari seperti
SLE(Systemic Lupus Erythematosus) yang dapat menyebabkan hancurnya sel darah merah.
6. Kebiasaan
Kebiasaan ini meliputi kebiasaan makan pada ibu hamil, apakah intake nutrisinya adekuat
atau tidak atau mengandung Fe, asam folat, vitamin B12 ataukah tidak. Selain itu, kebiasaan
ibu hamil dalam memeriksakan kehamilannya di tempat pelayanan kesehatan juga
mempengaruhi besar kecilnya kejadian anemia pada ibu hamil. Menurut penelitian Adebisi
dan Strayhorn (2005) di USA, bahwa ibu hamil yang merokok dan minum alkohol juga
mempengaruhi terjadinya anemia.

7. Sosial ekonomis
Faktor sosial ekonomi diantaranya adalah kondisi ekonomi, pekerjaan dan pendidikan. Ibu
hamil dengan keluarga yang memiliki pendapatan yang rendah akan mempengaruhi
kemampuan untuk menyediakan makanan yang adekuat dan pelayanan kesehatan untuk
mencegah dan mengatasi kejadian anemia. Ibu hamil yang memiliki pendidikan yang kurang
juga akan mempengaruhi kemampuan ibu dalam mendapatkan informasi mengenai anemia
pada kehamilan.
8. Faktor kandungan dan kondisi/ riwayat kesehatan
Faktor kandungan diantaranya paritas, riwayat prematur sebelumnya, dan usia kandungan.
Ibu dengan riwayat prematur sebelumnya lebih berisiko dibanding dengan ibu yang tidak
memiliki riwayat tersebut. Ibu dengan primipara berisiko lebih rendah untuk terjadi anemia
daripada ibu dengan multipara (Omoniyi, Stayhorn, 2005). Kondisi atau riwayat kesehatan
diantaranya adalah apakah ibu hamil menderita penyakit diabetes, ginjal, hipertensi, dan
penyakit kronis lainnya. Ibu hamil mempunyai riwayat penyakit kronis tersebut, semakin
berisiko terjadinya anemia pada ibu hamil (Omoniyi, Stayhorn, 2005).
9.Agen
Agens atau sumber penyakit pada anemia ibu hamil diantaranya yaitu:
1. Unsur gizi

31
Terjadinya anemia pada ibu hamil juga dapat disebabkan karena defisiensi Fe, asam folat dan
vitamin B dalam makanan. Defisiensi ini dapat terjadi karena kebutuhan Fe yang meningkat,
kurangnya cadangan dan berkurangnya Fe dalam tubuh ibu hamil.
10. Kimia dari dalam dan luar
Anemia pada ibu hamil juga dapat terjadi karena berhubungan dengan kimia dan obat.
Anemia tersebut dinamakan anemia aplastik. Kehamilan mengakibatkan peningkatan sintesa
laktogen plasenta, eritropoetin dan estrogen. Laktogen plasenta dan eritropoetin menstimulasi
hematopoesis dimana estrogen menekan sumsum tulang. Ketidakseimbangan tersebut
menyebabkan hipoplasia (Choudry et al, 2002 dalam Yilmaz et al, 2007).

11. Faktor faal/ fisiologis
Faktor fisiologis ini meliputi peningkatan eritrosit dan Hb tidak sebanyak dengan
peningkatan volume plasma pada kehamilan sehingga terjadi hipervolemi. Hal tersebut
berisiko terjadinya anemia pada kehamilan.
12. Lingkungan
Dari ketiga faktor lingkungan (fisik, biologis dan sosial ekonomi) yang dapat mempengaruhi
kejadian anemia pada ibu hamil yaitu faktor sosial ekonomi. Kondisi sosial berupa dukungan
dari keluarga dan komunitas akan mempengaruhi kejadian anemia pada ibu hamil. Jika
keluarga mendukung terhadap intake nutrisi yang adekuat pada ibu hamil dan memotivasi
dalam memeriksakan kehamilannya secara rutin, maka kemungkinan kecil terjadi anemia.
Jika lingkungan komunitas menyediakan sarana pelayanan kesehatan, tenaga kesehatan dan
kader maka pelayanan kesehatan akan meningkat sehingga kejadian anemia kemungkinan
kecil terjadi. Selain itu, pendidikan ibu hamil yang semakin tinggi akan mempengaruhi
kemampuan dalam mendapatkan informasi. Kondisi ekonomi akan mempengaruhi
kemampuan ibu hamil dan keluarga dalam menyediakan nutrisi yang adekuat dan
memberikan pelayanan kesehatan yang sesuai.
LO.3.4. Klasifikasi
1. Anemia Defisiensi Besi (62,3%)

32
Anemia ini adalah anemia yang terjadi akibat kekurangan zat besi dalam
darah.Pengobatannya yaitu, keperluan zat besi untuk wanita hamil, tidak hamil dan dalam
laktasi yang dianjurkan adalah pemberian tablet besi.
a. Terapi Oral adalah dengan memberikan preparat besi yaitu fero sulfat, fero
glukonat atau Na-fero bisirat. Pemberian preparat 60 mg/ hari dapat menaikan
kadar Hb sebanyak 1 gr%/ bulan. Saat ini program nasional menganjurkan
kombinasi 60 mg besi dan 50 nanogram asam folat untuk profilaksis anemia
(Saifuddin, 2002)
b. Terapi Parenteral baru diperlukan apabila penderita tidak tahan akan zat besi per
oral, dan adanya gangguan penyerapan, penyakit saluran pencernaan atau masa
kehamilannya tua (Wiknjosastro, 2002). Pemberian preparat parenteral dengan
ferum dextran sebanyak 1000 mg (20 mg) intravena atau 2 x 10 ml/ IM pada
gluteus, dapat meningkatkan Hb lebih cepat yaitu 2 gr% (Manuaba, 2001).
Untuk menegakan diagnosa Anemia defisiensi besi dapat dilakukan dengan
anamnesa. Hasil anamnesa didapatkan keluhan cepat lelah, sering pusing, mata
berkunang-kunang dan keluhan mual muntah pada hamil muda. Pada pemeriksaan
dan pengawasan Hb dapat dilakukan dengan menggunakan alat sachli, dilakukan
minimal 2 kali selama kehamilan yaitu trimester I dan III. Hasil pemeriksaan Hb
dengan sachli dapat digolongkan sebagai berikut:
Hb 11 gr% : Tidak anemia
Hb 9-10 gr% : Anemia ringan
Hb 7 8 gr%: Anemia sedang
Hb < 7 gr% : Anemia berat

Kebutuhan zat besi pada wanita hamil yaitu rata-rata mendekatai 800 mg.
Kebutuhan ini terdiri dari, sekitar 300 mg diperlukan untuk janin dan plasenta
serta 500 mg lagi digunakan untuk meningkatkan massa haemoglobin maternal.
Kurang lebih 200 mg lebih akan dieksresikan lewat usus, urin dan kulit. Makanan
ibu hamil setiap 100 kalori akan menghasilkan sekitar 810 mg zat besi.
Perhitungan makan 3 kali dengan 2500 kalori akan menghasilkan sekitar 2025
mg zat besi perhari. Selama kehamilan dengan perhitungan 288 hari, ibu hamil
akan menghasilkan zat besi sebanyak 100 mg sehingga kebutuhan zat besi masih
kekurangan untuk wanita hamil (Manuaba, 2001).

33

2. Anemia Megaloblastik (29%)
Anemia yang disebabkan oleh karena kekurangan asam folik, jarang sekali karena
kekurangan vitamin B12.

Pengobatannya:
a. Asam folik 15 30 mg per hari
b. Vitamin B12 3 X 1 tablet per hari
c. Sulfas ferosus 3 X 1 tablet per hari
d. Pada kasus berat dan pengobatan per oral hasilnya lamban sehingga dapat diberikan
transfusi darah.

3. Anemia Hipoplastik (8%)
Anemia yang disebabkan oleh hipofungsi sumsum tulang, membentuk sel darah
merah baru.Untuk diagnostik diperlukan pemeriksaan-pemeriksaan diantaranya
adalah darah tepi lengkap, pemeriksaan pungsi ekternal dan pemeriksaan retikulosit.

4. Anemia Hemolitik (0,7%)
Anemia yang disebabkan penghancuran atau pemecahan sel darah merah yang lebih
cepat dari pembuatannya.Gejala utama adalah anemia dengan kelainan-kelainan
gambaran darah, kelelahan, kelemahan, serta gejala komplikasi bila terjadi kelainan
pada organ-organ vital.Pengobatannya tergantung pada jenis anemia hemolitik serta
penyebabnya.Bila disebabkan oleh infeksi maka infeksinya diberantas dan diberikan
obat-obat penambah darah.Namun pada beberapa jenis obat-obatan, hal ini tidak
memberi hasil.Sehingga transfusi darah berulang dapat membantu penderita ini.
LO.3.5. Patofisiologi
Riwayat alamiah penyakit merupakan gambaran tentang perjalanan perkembangan
penyakit pada individu dimulai sejak terjadinya paparan dengan agen penyebab sampai
terjadinya kesembuhan atau kematian tanpa terinterupsi oleh suatu intervensi preventif
maupun terapeutik (CDC, 2010 dikutip Murti, 2010). Hal ini diawali dengan terjadinya
interaksi antara host, agent, dan lingkungan. Perjalanan penyakit dimulai dengan terpaparnya
host yang rentan (fase suseptibel) oleh agen penyebab. Sumber penyakit (agens) pada anemia

34
ibu hamil diantaranya dapat berupa unsur gizi dan faktor fisiologis. Pada saat hamil, ibu
sebagai penjamu (host).
Dari faktor faal atau fisiologis, kehamilan menyebabkan terjadinya peningkatan
volume plasma sekitar 30%, eritrosit meningkat sebesar 18% dan hemoglobin bertambah
19%. Peningkatan tersebut terjadi mulai minggu ke-10 kehamilan. Berdasarkan hal tersebut
dapat dilihat bahwa bertambahnya volume plasma lebih besar daripada sel darah
(hipervolemia) sehingga terjadi pengenceran darah. Hemoglobin menurun pada pertengahan
kehamilan dan meningkat kembali pada akhir kehamilan.
Namun, pada trimester 3 zat besi dibutuhkan janin untuk pertumbuhan dan
perkembangan janin serta persediaan setelah lahir. Hal inilah yang menyebabkan ibu hamil
lebih mudah terpapar oleh agen sehingga berisiko terjadinya anemia. Sedangkan, dari unsur
gizi ibu hamil dihubungkan dengan kebutuhan akan zat besi (Fe), asam folat, dan vitamin
B
12
. Keluhan mual muntah pada ibu hamil trimester 1 dapat mengurangi ketersediaan zat besi
pada tubuh ibu hamil. Dan kebutuhan zat besi pada ibu hamil trimester 3 untuk pertumbuhan
dan perkembangan janin juga membuat kebutuhan zat besi pada ibu hamil semakin besar.
Padahal, zat besi dibutuhkan untuk meningkatkan sintesis hemoglobin.
Jika fase suseptibel di atas tidak tertangani, maka akan terjadi proses induksi menuju
fase subklinis (masa laten) dan kemudian fase klinis dimana mulai muncul tanda dan gejala
anemia seperti cepat lelah, sering pusing, malaise, anoreksia, nausea dan vomiting yang lebih
hebat, kelemahan, palpitasi, pucat pada kulit dan mukosa, takikardi dan bahkan hipotensi.
Selama tahap klinis, manifestasi klinis akan menjadi hasil akhir apakah mengalami
kesembuhan, kecacatan, atau kematian (Rohtman, 2002 dalam Murti,2010). Misalnya jika
terjadi pada trimester I akan mengakibatkan abortus dan kelainan kongenital, pada trimester
II dapat mengakibatkan persalinan prematur, perdarahan antepartum, gangguan pertumbuhan
janin, asfiksia, BBLR, mudah terkena infeksi dan bahkan kematian. Sedangkan pada
trimester III akan menimbulkan gangguan his, janin lahir dengan anemia, persalinan tidak
spontan .
Periode Prepathogenesis dan Pathogenesis
Tahap prepathogenesis adalah tahap sebelum terjadinya penyakit. Sehingga, tahap ini terdiri
dari fase suseptibel dan subklinis (asimtomatis). Pada tahap ini, secara patofisiologis anemia

35
terjadi pada kehamilan karena terjadi perubahan hematologi atau sirkulasi yang meningkat
terhadap plasenta. Hal ini berhubungan dengan meningkatnya volume plasma tetapi tidak
sebanding dengan penambahan sel darah dan hemoglobin. Selain itu, dapat disebabkan
kebutuhan zat besi yang meningkat serta kurangnya cadangan zat besi dan intake zat besi
dalam makanan. Zat besi diperlukan untuk eritropoesis (Atmarita, 2004 dalam Amiruddin et
al, 2007).
Jika total zat besi dalam tubuh menurun akibat cadangan dan intake zat besi yang menurun,
maka akan terjadi penurunan zat besi pada hepatosit dan makrofag hati, limpa dan sumsum
tulang belakang. Setelah cadangan habis, akan terjadi penurunan kadar Fe dalam plasma
padahal suplai Fe pada sumsum tulang untuk pembentukan hemoglobin menurun. Hal ini
mengakibatkan terjadinya peningkatan eritrosit tetapi mikrositik sehingga terjadi penurunan
kadar hemoglobin (Choudry et al, 2002 dalam Yilmaz et al, 2007). Anemia pada kehamilan
tersebut dinamakan anemia defisiensi besi. Klasifikasi anemia dalam kehamilan lainnya
diantaranya adalah anemia megaloblastik, anemia hipoplastik dan anemia hemolitik.
Anemia megaloblastik termasuk dalam anemia makrositik dimana anemia terjadi karena
kekurangan asam folat dan atau vitamin B12. Anemia hemolitik adalah anemia yang
disebabkan karena penghancuran eritrosit yang lebih cepat dari pembuatannya akibat
kehilangan darah akut/ kronis (Basu, 2010).
Jika sebab-sebab di atas terjadi pada ibu hamil secara beriringan maka akan menimbulkan
manifestasi klinis anemia. Pada saat tanda dan gejala tersebut muncul, tahap inilah yang
disebut dengan tahap awal pathogenesis. Tahap ini berakhir sampai fase kesembuhan,
kecacatan atau kematian.
Kemudian tahap patogenesis berakhir pada kesembuhan, kecacatan dan bahkan kematian.
Jika timbul kesakitan atau kecacatan dapat berdampak pada kehamilannya, janinnya,
persalinannya dan bayi nantinya.
Perubahan hematologi sehubungan dengan kehamilan adalah oleh karena perubahan sirkulasi
yang makin meningkat terhadap plasenta dari pertumbuhan payudara. Volume plasma
meningkat 45-65% dimulai pada trimester ke II kehamilan,dan maksimum terjadi pada bulan
ke 9 dan meningkatnya sekitar 1000 ml, menurunsedikit menjelang aterem serta kembali

36
normal 3 bulan setelah partus. Stimulasi yang meningkatkan volume plasma seperti laktogen
plasenta, yang menyebabkan peningkatan sekresi aldesteron.
LO.3.6. Manifestasi
Gejala anemia pada kehamilan yaitu ibu mengeluh cepat lelah, sering pusing, mata
berkunang-kunang, malaise, lidah luka, nafsu makan turun (anoreksia), konsentrasi hilang,
nafas pendek (pada anemia parah) dan keluhan mual muntah lebih hebat pada hamil muda.

Pengaruh Anemia pada Ibu Hamil
Anemia dapat terjadi pada setiap ibu hamil, karena itulah kejadian ini harus selalu
diwaspadai. Anemia yang terjadi saat ibu hamil Trimester I akan dapat mengakibatkan:
Abortus, Missed Abortus dan kelainan kongenital. Anemia pada kehamilan trimester II dapat
menyebabkan: Persalinan prematur, perdarahan antepartum, gangguan pertumbuhan janin
dalam rahim, asfiksia aintrauterin sampai kematian, BBLR, gestosis dan mudah terkena
infeksi, IQ rendah dan bahkan bisa mengakibatkan kematian. Saat inpartu, anemia dapat
menimbulkan gangguan his baik primer maupun sekunder, janin akan lahir dengan anemia,
dan persalinan dengan tindakan yang disebabkan karena ibu cepat lelah. Saat post partum
anemia dapat menyebabkan: tonia uteri, rtensio placenta, pelukaan sukar sembuh, mudah
terjadi febris puerpuralis dan gangguan involusio uteri.
Kejadian anemia pada ibu hamil harus selalu diwaspadai mengingat anemia dapat
meningkatkan risiko kematian ibu, angka prematuritas, BBLR dan angka kematian bayi.
Untuk mengenali kejadian anemia pada kehamilan, seorang ibu harus mengetahui gejala
anemia pada ibu hamil, yaitu cepat lelah, sering pusing, mata berkunang-kunang, malaise,
lidah luka, nafsu makan turun (anoreksia), konsentrasi hilang, napas pendek (pada anemia
parah) dan keluhan mual muntah lebih hebat pada kehamilan muda.
LO.3.7. Diagnosis
ANAMNESIS
Keluhan : lekas lelah, kurang konsentrasi, sulit bernafas, mengantuk
Anamnesis makanan : anemia nutrisional.
Pekerjaan pasien : kontak dengan zat-zat kimia, pekerja tani, penyemprot
hama, daerah malaria, alat-alat keselamatan kerja, lingkungan kerja dsb.

37
Riwayat ikterus ringan sampai kencing berwarna teh pekat, untuk mengetahui
apakah pasien mengalami anemia hemolitik.
Riwayat memakai obat-obatan tertentu, makan jamu, zat-zat pembersih rumah
tangga.
Riwayat penyakit seperti apakah menderita penyakit kronik seperti penyakit
ginjal, hati, tuberkulosis, diabetes.
Apakah ada penyakit-penyakit tertentu didalam keluarga seperti talasemia dan
penyakit-penyakit genetik lain.
Suku bangsa dan tradisi-tradisi tertentu.

PEMERIKSAAN FISIK
Tanda-tanda pucat, memar, bintik-bintik merah/biru dibeberapa bagian tubuh.
Kuku dapat dijumpai Koilonychia ( sudah jarang )
Perdarahan gusi, perdarahan gastrointestinal, respiratoar, urogenital. Wajah
tampak pucat, konjungtiva pucat.
Pemeriksaan limpa, hati dan ginjal.
Pemeriksaan gastrointestinal, apakah ada teraba massa.
Pemeriksaan thorax.
Apakah ada ulkus-ulkus kronik pada tungkai, tanda adanya penyakit
talasemia, anemia sel sabit dan adanya pembengkakan tanda trombosis vena dalam.
Keluhan-keluhan seperti kebas-kebas atau tanda-tanda neurologis yang jelas
seperti kelainan refleks yang dapat merupakan tanda kurangnya vitamin B12.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Terdapat 3 tahap diagnosis ADB:
Menentukan adanya anemia dengan mgnukur kadar hemoglobin atau
hematokrit
Memastikan adanya defisiensi besi
Menentukan penyebab dari defisiensi besi yang terjadi

Anemia hipokromik makrositer pada hapusan darah tepi, atau MCV <80 fl dan
MCHC ,31% dengan salah satu dari a,b,c,d:
Dua dari tiga parameter dibawah ini:

38
o Besi serum <50mg/dl
o TIBC >350mg/dl
o Saturasi transferin <15%
o Feritin serum <20mg/l
o Pengecatan sumsum tulang dengan biru prusia (Perls stain) menunjukan
cadangan besi (butir-butir hemosiderin) negatif
o Pemberian sulfas ferosus 3x200mg/hari selama 4 minggu disertai kenaikan
kadar hemoglobin lebih dari 2gr/dl.
o
LO.3.8. Penatalaksanaan
Saat hamil zat besi dibutuhkan lebih banyak daripada saat tidak hamil.Pada kehamilan
memerlukan tambahan zat besi untuk meningkatkan jumlah sel darah merah dan membentuk
sel darah merah janin dan plasenta, kebutuhan zat besi pada setiap trimester
berbeda.Terutama pada trimester kedua dan ketiga wanita hamil memerlukan zat besi dalam
jumlah banyak, oleh karena itu pada trimester kedua dan ketiga harus mendapatkan tambahan
zat besi.Oleh karena itu pencegahan anemia terutama di daerah-daerah dengan frekuensi
kehamilan yang tinggi sebaiknya wanita hamil diberi sulfas ferrossus atau glukonas ferrosus,
cukup 1 tablet sehari, selain itu wanita dinasihatkan pula untuk makan lebih banyak protein
dan sayur-sayuran yang banyak mengandung mineral serta vitamin. Terapinya adalah oral
(pemberian ferro sulfat 60 mg / hari menaikkan kadar Hb 1,00 gr% dan kombinasi 60 mg besi
+ 500 mcg asam folat) dan parenteral (pemberian ferrum dextran sebanyak 1000 mg (20 ml)
intravena atau 2 x 50 ml gr diberikan secara intramuskular pada gluteus maksimus dapat
meningkatkan Hb relatif lebih cepat yaitu 2,00 gr% (dalam waktu 24 jam). Pemberian
parentral zat besi mempunyai indikasi kepada ibu hamil yang terkena anemia berat). Sebelum
pemberian rencana parenteral harus dilakukan test alergi sebanyak 0,50 cc / IC.
Kebutuhan tablet besi pada kehamilan menurut Jordan (2003), dijelaskan bahwa :
Pada kehamilan dengan janin tunggal kebutuhan zat besi terdiri dari : 200-600 mg untuk
memenuhi peningkatan massa sel darah merah, 200-370 mg untuk janin yang bergantung
pada berat lahirnya, 150-200 mg untuk kehilangan eksternal, 30-170 mg untuk tali pusat dan
plasenta, 90-310 mg untuk menggantikan darah yang hilang saat melahirkan.
Dengan demikian kebutuhan total zat besi pada kehamilan berkisar antara 440-1050
mg dan 580-1340 mg dimana kebutuhan tersebut akan hilang 200 mg (Walsh V, 2007)
melalui ekskresi kulit, usus, urinarius. Untuk mengatasi kehilangan ini, ibu hamil

39
memerlukan rata-rata 30,00-40,00 mg zat besi per hari. Kebutuhan ini akan meningkat secara
signifikan pada trimester terakhir, yaitu rata-rata 50,00 mg / hari pada akhir kehamilan
menjadi 60,00 mg / hari. Zat besi yang tersedia dalam makanan berkisar 6,00 sampai 9,00 mg
/ hari, ketersediaan ini bergantung pada cakupan diet. Karena itu, pemenuhan kebutuhan pada
kehamilan memerlukan mobilisasi simpanan zat besi dan peningkatan absorbsi.
LO.3.9. Komplikasi
Komplikasi anemia dalam kehamilan memberikan pengaruh langsung terhadap janin,
sedangkan pengaruh komplikasi pada kehamilan dapat diuraikan, sebagai berikut :
Bahaya Pada Trimester I
Pada trimester I, anemia dapat menyebabkan terjadinya missed abortion, kelainan
congenital, abortus / keguguran.
Bahaya Pada Trimester II
Pada trimester II, anemia dapat menyebabkan terjadinya partus premature, perdarahan
ante partum, gangguan pertumbuhan janin dalam rahim, asfiksia intrapartum sampai
kematian, gestosis dan mudah terkena infeksi, dan dekompensasi kordis hingga
kematian ibu.
Bahaya Saat Persalinan
Pada saat persalinan anemia dapat menyebabkan gangguan his primer, sekunder, janin
lahir dengan anemia, persalinan dengan tindakan-tindakan tinggi karena ibu cepat
lelah dan gangguan perjalanan persalinan perlu tindakan operatif (Mansjoer dkk,
2008).
LO.3.10. Prognosis
Prognosis anemia defisiensi besi dalam kehamilan umumnya baik bagi ibu dan anak.
Persalinan dapat berlangsung seperti biasa tanpa perdarahan banyak atau komplikasi lain.
Anemia berat yang tidak diobati dalam kehamilan muda dapat menyebabkan abortus, dan
dalam kehamilan tua dapat menyebabkan partus lama, perdarahan postpartum, dan infeksi.
Walaupun bayi yang dilahirkan dari ibu yang menderita anemia defisiensi besi tidak
menunjukan Hb yang rendah, namun cadangan besinya kurang, yang baru beberapa bulan
kemudian tampak sebagai anemia infantum.
LO.3.11. Pencegahan
Kondisi anemia adalah suatu kondisi yang mudah dikendalikan dan diperbaiki bila
penyebabnya adalah kekurangan nutrisi atau bahan baku pembentukan hemoglobin. Bila

40
kondisi anemia yang terjadi pada ibu adalah akibat perdarahan, penyakit darah atau kelainan
tubuh lainnya, maka kondisi anemia membutuhkan perhatian lebih lanjut dan advis dokter.
o Perbaikan diet/pola makan
Penyebab anemia terbanyak pada ibu hamil adalah diet yang buruk. Perbaikan pola
makan dan kebiasaan makan yang sehat dan baik selama kehamilan akan membantu
ibu untuk mendapatkan asupan nutrisi yang cukup sehingga dapat mencegah dan
mengurani kondisi anemia.
o Konsumsilah bahan kaya protein, zat besi dan Asam folat
Bahan kaya protein dapat diperoleh dari hewan maupun tanaman.Daging, hati, dan
telur adalah sumber protein yang baik bagi tubuh.Hati juga banyak mengandung zat
besi, vitamin A dan berbagai mineral lainnya.Kacang-kacangan, gandum/beras yang
masih ada kulit arinya, beras merah, dan sereal merupakan bahan tanaman yang kaya
protein nabati dan kandungan asam folat atau vitamin B lainnya. Sayuran hijau,
bayam, kangkung, jeruk dan berbagai buah-buahan kaya akan mineral baik zat besi
maupun zat lain yang dibutuhkan tubuh untuk membentuk sel darah merah dan
hemoglobin.
o Batasi penggunaan antasida
Antasida atau obat maag yang berfungsi menetralkan asam lambung ini umumnya
mengandung mineral, atau logam lain yang dapat menganggu penyerapan zat besi
dalam tubuh. Oleh karena itu batasi penggunaannya dan gunakan sesuai aturan
pemakaian.
Pencegahan anemia defisiensi besi dapat dilakukan dengan suplementasi besi dan
asam folat.WHO menganjurkan untuk memberikan 60mg besi selama 6 bulan untuk
memenuhi kebutuhan fisiologik selama kehamilan.Namun banyak literatur
menganjurkan dosis 100mg besi setiap hari selama 16 minggu atau lebih pada
kehamilan. Di wilayah-wilayah dengan prevalensi anemia yang tinggi, dianjurkan
untuk memberikan suplementasi sampai tiga bulan post partum.

LI 4. Memahami dan menjelaskan gizi pada kehamilan
Kehamilan menyebabkan meningkatnya metabolisme energi, karena itu kebutuhan
energi dan zat gizi lainnya meningkat selama kehamilan. Peningkatan energi dan zat gizi
tersebut diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan janin, pertambahan besarnya

41
organ kandungan, perubahan komposisi dan metabolisme tubuh ibu. Sehingga kekurangan
zat gizi tertentu yang diperlukan saat hamil dapat menyebabkan janin tumbuh tidak
sempurna.
Bagi ibu hamil, pada dasarnya semua zat gizi memerlukan tambahan, namun yang
seringkali menjadi kekurangan adalah energi protein dan beberapa mineral seperti Zat Besi
dan Kalsium.Kebutuhan energi untuk kehamilan yang normal perlu tambahan kira-kira
80.000 kalori selama masa kurang lebih 280 hari. Hal ini berarti perlu tambahan ekstra
sebanyak kurang lebih 300 kalori setiap hari selama hamil (Nasution, 1988).
Energi yang tersembunyi dalam protein ditaksir sebanyak 5180 kkal, dan lemak
36.337 Kkal. Agar energi ini bisa ditabung masih dibutuhkan tambahan energi sebanyak
26.244 Kkal, yang digunakan untuk mengubah energi yang terikat dalam makanan menjadi
energi yang bisa dimetabolisir. Dengan demikian jumlah total energi yang harus tersedia
selama kehamilan adalah 74.537 Kkal, dibulatkan menjadi 80.000 Kkal. Untuk memperoleh
besaran energi per hari, hasil penjumlahan ini kemudian dibagi dengan angka 250 (perkiraaan
lamanya kehamilan dalam hari) sehingga diperoleh angka 300 Kkal.
Kebutuhan energi pada trimester I meningkat secara minimal. Kemudian sepanjang
trimester II dan III kebutuhan energi terus meningkat sampai akhir kehamilan. Energi
tambahan selama trimester II diperlukan untuk pemekaran jaringan ibu seperti penambahan
volume darah, pertumbuhan uterus, dan payudara, serta penumpukan lemak. Selama
trimester III energi tambahan digunakan untuk pertumbuhan janin dan plasenta.
Karena banyaknya perbedaan kebutuhan energi selama hamil, maka WHO
menganjurkan jumlah tambahan sebesar 150 Kkal sehari pada trimester I, 350 Kkal sehari
pada trimester II dan III. Di Kanada, penambahan untuk trimester I sebesar 100 Kkal dan
300 Kkal untuk trimester II dan III. Sementara di Indonesia berdasarkan Widya Karya
Nasional Pangan dan Gizi VI tahun 1998 ditentukan angka 285 Kkal perhari selama
kehamilan. Angka ini tentunya tidak termasuk penambahan akibat perubahan temperatur
ruangan, kegiatan fisik, dan pertumbuhan. Patokan ini berlaku bagi mereka yang tidak
merubah kegiatan fisik selama hamil.
Sama halnya dengan energi, kebutuhan wanita hamil akan protein juga meningkat,
bahkan mencapai 68 % dari sebelum hamil. Jumlah protein yang harus tersedia sampai akhir
kehamilan diperkirakan sebanyak 925 g yang tertimbun dalam jaringan ibu, plasenta, serta

42
janin. Di Indonesia melalui Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi VI tahun 1998
menganjurkan penambahan protein 12 g/hari selama kehamilan. Dengan demikian dalam
satu hari asupan protein dapat mencapai 75-100 g (sekitar 12 % dari jumlah total kalori); atau
sekitar 1,3 g/kgBB/hari (gravida mature), 1,5 g/kg BB/hari (usia 15-18 tahun), dan 1,7 g/kg
BB/hari (di bawah 15 tahun).
Bahan pangan yang dijadikan sumber protein sebaiknya (2/3 bagian) pangan yang
bernilai biologi tinggi, seperti daging tak berlemak, ikan, telur, susu dan hasil olahannya.
Protein yang berasal dari tumbuhan (nilai biologinya rendah) cukup 1/3 bagian.
Kenaikan volume darah selama kehamilan akan meningkatkan kebutuhan Fe atau
Zat Besi. Jumlah Fe pada bayi baru lahir kira-kira 300 mg dan jumlah yang diperlukan ibu
untuk mencegah anemia akibat meningkatnya volume darah adalah 500 mg. Selama
kehamilan seorang ibu hamil menyimpan zat besi kurang lebih 1.000 mg termasuk untuk
keperluan janin, plasenta dan hemoglobin ibu sendiri. Berdasarkan Widya Karya Nasional
Pangan dan Gizi Tahun 1998, seorang ibu hamil perlu tambahan zat gizi rata-rata 20 mg
perhari. Sedangkan kebutuhan sebelum hamil atau pada kondisi normal rata-rata 26 mg per
hari (umur 20 45 tahun).
Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengetahui status gizi ibu hamil
antara lain memantau pertambahan berat badan selama hamil, mengukur Lingkar Lengan
Atas (LILA), dan mengukur kadar Hb. Pertambahan berat badan selama hamil sekitar 10
12 kg, dimana pada trimester I pertambahan kurang dari 1 kg, trimester II sekitar 3 kg, dan
trimester III sekitar 6 kg. Pertambahan berat badan ini juga sekaligus bertujuan memantau
pertumbuhan janin. Pengukuran LILA dimaksudkan untuk mengetahui apakah seseorang
menderita Kurang Energi Kronis (KEK), sedangkan pengukuran kadar Hb untuk mengetahui
kondisi ibu apakah menderita anemai gizi.

Penambahan Berat Badan Status Gizi Ibu Sebelum Hamil :
Kategori Berat (BMI) Total Kenaikan BB (Kg) Penambahan BB
TM I (Kg) TM II (Kg)
Normal ( BMI 19,8-26) 12,5 13 2,3 0,49

43
Kurus ( BMI < 19,8 ) 11,5 16 1,6 0,44
Lebih 7 11, 6 0,9 0,3
Obesitas ( BMI > 29 ) 6

Tanda Kecukupan Gizi pada Ibu Hamil Menurut Nadesul (2004)
Status Tanda
Keadaan umum Responsive, gesit
Berat badan Normal sesuai tinggi dan bentuk tubuh
Postur Tegak, tungkai dan lengan lurus
Otot Kuat, kenyal sedikit lemak di bawah kulit
Saraf Perhatian baik, tidak mudah tersinggung,
refleks normal, mental stabil
Pencernaan Nafsu makan baik
Jantung Detak dan irama normal, tekanan darah
normal sesuai usia
Vitalitas umum Ketahanan baik, energik, cukup tidur, penuh
semangat
Rambut Mengkilat, keras tak mudah rontok, kulit
kepala normal
Kulit Licin, cukup lembab, warna segar
Muka dan leher Warna sama, licin, tampak sehat, segar
Bibir Licin, warna tidak pucat, lembab, tidak
bengkak

44
Mulut Tidak ada luka dan selaput merah
Gusi Merah normal, tidak ada perdarahan
Lidah Merah normal, licin, tidak ada luka
Gigi geligi Tidak berlubang, tidak nyeri, mengkilat,
lurus dagu normal, bersih dan tidak ada
perdarahan
Mata Bersinar, bersih, selaput besar merah, tidak
ada perdarahan
Kelenjar Bersinar, bersih, selaput besar merah, tidak
ada perdarahan
Kuku Keras dan kemerahan
Tungkai Kaki tidak bengkak, normal




Penilaian nutrisi :
IMT Prahamil Anjuran peningkatan BB total
Underweight (IMT < 19,8) 12,5 18 kg
Normal (IMT 19,8 26 ) 11,5 16 kg
Overweight (IMT 26 - 29) 7 -11,5 kg
Obesitas (IMT > 29) 6 kg

Kebutuhan nutrisi pada perempuan tidak hamil, hamil dan menyusui

45


LI 5. Memahami dan menjelaskan kehamilan
LO.5.1. Mekanisme
Ada 3 macam tanda- tanda kehamilan:
1. Tanpa pasti hamil
a. Mendengar denyut jantung janin
Denyut jantung janin adalah diagnosis pasti kehamilan, yang dapat didengarkan
dengan fetoskop pada usia kehamilan 17-19 minggu, dan pada Doppler pada usia
kehamilan 10-12 minggu.
b. Meraba dan melihat gerakan janin
Gerakan janin mulai dapat dirasakan pada ibu, diraba oleh pemeriksa pada usia
kehamilan 20 minggu ke atas
c. Pemeriksaan Ultrasonografi
Pada pemeriksaan ultrasonografi , dapat dilihat kantung kehamilan pada usia gestasi 5
minggu, denyut jantung janin pada usia 7 minggu
d. Pemeriksaan electrocardiografi
e. Pemeriksaan Radiologi

46
Pada wanita hamil minggu ke 14, akan terlihat gambaran fokki ossifikasi

2. Tanda mungkin hamil
a. Hegar Sign
Pada wanita hamil minggu ke 6, isthmus uteri akan sangat lembek karena peningkatan
kadar estrogen dan progesterone. Sehingga pada pemeriksaan bimanual, corpus uteri
seolah-olah menyatu dengan serviks

b. Goedel Sign
Pada wanita hamil 6-8 minggu, serviks uteri menjadi sangat lembek, yang juga
disebabkan peningkatan kadar estrogen dan progesterone.
c. Piskacek Sign
Adalah suatu tanda dimana uterus membesar tidak rata, karena perkembangan organ
janin
d.Braxton Hicks
Adalah tanda dimana uterus berkontraksi tidak teratur, dan tidak disertai rasa nyeri
e. Pembesaran Perut
Perut akan membesar pada kehamilan dan makin membesar seiring bertambahnya usia
kehamilan
f. Ballotement

47
Suatu tanda dimana volume air ketuban lebih banyak daripada volume bayi , sehingga
jika dilakukan pemeriksaan ballottement, akan terasa lentingan, dan jika bayi melenting
seluruhnya disebut ballottement in toto.
g. Pemeriksaan Hcg
Pada wanita hamil , kadar Hcg akan meningkat, dan urine akan mengandung Hcg.
3. Tanda Dugaan Hamil
Terdapat keluhan dan gejala pada tanda dugaan wanita hamil, yaitu:
Keluhan Hamil
a. Morning Sickness
Biasa terjadi pada minggu ke-6 usia kehamilan, sang ibu akan mengeluh mintah-
muntah pada pagi hari, yang disebabkan peningkatan kadar Hcg yang meningkat.
b. Gangguan Berkemih
Seiring dengan membesarnya dan naiknya uterus ke rongga abdomen, Ibu akan
mengeluh jarang berkemih, dan akan mengeluh sering berkemih bila kepala bayi telah
turun ke segmen bawah rahim
c. Mudah lelah
d. Ibu merasakan gerakan fetus
Ibu seolah-olah merasakan gerakan fetus yang mungkin bisa terjadi pada wanita yang
sangat menginginkan kehamilan

Gejala Dugaan Hamil
a. Amenorrhea
b. Keluarnya kolostrum
c. timbul striae
d. Chadwick Sign adalah suatu gejala dimana mukosa vagina berwarna keunguan karena
terjadi pelebaran pembuluh darah



48
SEBAB TERJADINYA PROSES PERSALINAN
1. Penurunan fungsi plasenta : kadar progesteron dan estrogen menurun mendadak,
nutrisi janin dari plasenta berkurang.
2. Tekanan pada ganglion servikale dari pleksus Frankenhauser, menjadi stimulasi
(pacemaker) bagi kontraksi otot polos uterus.
3. Iskemia otot-otot uterus karena pengaruh hormonal dan beban, semakin merangsang
terjadinya kontraksi.
4. Peningkatan beban / stress pada maternal maupun fetal dan peningkatan estrogen
mengakibatkan peningkatan aktifitas kortison, prostaglandin, oksitosin, menjadi
pencetus rangsangan untuk proses persalinan.

KEBERHASILAN SUATU PERSALINAN PERSALINAN DITENTUKAN OLEH 3
FAKTOR P UTAMA
1. Power
His (kontraksi ritmis otot polos uterus), kekuatan mengejan ibu, keadaan
kardiovaskular respirasi metabolik ibu.
2. Passage
Keadaan jalan lahir
3. Passanger
Keadaan janin (letak, presentasi, ukuran/berat janin, ada/tidak kelainan anatomik
mayor)
(ditambah dengan faktor-faktor P lainya : Psikologi, Penolong dan Posisi). Dengan adanya
keseimbangan / kesesuaian antara faktor-faktor P tersebut, persalinan normal diharapkan
dapat berlangsung.
HIS / KONTRAKSI UTERUS
His adalah gelombang kontraksi ritmis otot polos dinding uterus yang dimulai dari daerah
fundus uteri pada daerah di mana tuba falopii memasuki dinding uterus, awal gelombang
tersebut didapat dari pacemaker yang terdapat di dinding uterus daerah tersebut. Resultante

49
efek gaya kontraksi tersebut dalam keadaan normal mengarah ke daerah lokus minoris yaitu
daerah kanalis servikalis (jalan laihir) yang membuka, untuk mendorong isi uterus ke luar.
His dapat terjadi sebagai akibat dari :
1. Kerja hormon oksitosin
2. Regangan dinding uterus oleh isi konsepsi
3. Rangsangan terhadap pleksus saraf Frankenhauser yang tertekan massa konsepsi.
His dikatakan baik dan ideal apabila :
1. Kontraksi simultan simetris di seluruh uterus
2. Kekuatan terbesar (dominasi) di daerah fundus
3. Terdapat periode relaksasi di antara dua periode kontraksi
4. Terdapat retraksi otot-otot korpus uteri setiap sesudah his
5. Serviks uteri yang banyak mengandung kolagen dan kurang mengandung serabut
otot,akan tertarik ke atas oleh retraksi otot-otot korpus, kemudian terbuka secara pasif
dan mendatar (cervical effacement). Ostium uteri eksternum dan internum pun akan
terbuka.
Faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya nyeri saat his berlangsung adalah :
1. Iskemia dinding korpus uteri yang menjadi stimulasi serabut saraf di pleksus
hipogastrikus diteruskan ke sistem saraf pusat menjadi sensasi nyeri
2. Peregangan vagina, jaringan lunak dalam rongga panggul dan peritoneum, menjadi
rangsang nyeri.
3. Keadaan mental pasien (pasien bersalin sering ketakutan, cemas/ anxietas, atau
eksitasi).
4. Prostaglandin meningkat sebagai respons terhadap stress
Hal yang penting dinilai mengenai His adalah :
1. Amplitudo : intensitas kontraksi otot polos : bagian pertama peningkatan agak cepat,
bagian kedua penurunan agak lambat.

50
2. Frekuensi : jumlah his dalam waktu tertentu (biasanya per 10 menit)
3. Satuan his : unit Montevide (intensitas tekanan / mmHg terhadap frekuensi).-
PEMBAGIAN FASE / KALA PERSALINAN
Kala 1 : disebut juga dengan kala pembukaan, terjadi pematangan dan pembukaan serviks
sampai lengkap
Kala 2 : disebut juga kala pengeluaran, terjadi pengeluaran bayi
Kala 3 : disebut juga kala uri, terjadi pengeluaran plasenta
Kala 4 : merupakan masa 1 jam setelah persalinan/ partus, terutama untuk observasi
1. KALA 1 PERSALINAN :
Dimulai pada waktu serviks membuka karena his : kontraksi uterus yang teratur,
makin lama, makin kuat, makin sering, makin terasa nyeri, disertai pengeluaran
darah-lendir yang tidak lebih banyak daripada darah haid.
Berakhir pada waktu pembukaan serviks telah lengkap (pada periksa dalam, bibir
porsio serviks tidak dapat diraba lagi). Selaput ketuban biasanya pecah spontan pada
saat akhir kala I.
Terdapat 2 fase pada Kala 1 ini, yaitu :
1. Fase laten : pembukaan sampai mencapai 3 cm, berlangsung sekitar 8 jam.
2. Fase aktif : pembukaan dari 3 cm sampai lengkap (+ 10 cm), berlangsung sekitar 6
jam. Fase aktif terbagi atas :
Fase akselerasi (sekitar 2 jam), pembukaan 3 cm sampai 4 cm.
Fase dilatasi maksimal (sekitar 2 jam), pembukaan 4 cm sampai 9 cm.
Fase deselerasi (sekitar 2 jam), pembukaan 9 cm sampai lengkap (+ 10 cm).

Perbedaan proses pematangan dan pembukaan serviks (cervical effacement)
pada primigravida dan multipara :

51
Pada primigravida terjadi penipisan serviks lebih terlebih dahulu sebelum terjadi
pembukaan, sedangkan pada multipara serviks telah lunak akibat persalinan
sebelumnya, sehingga langsung terjadi proses penipisan dan pembukaan.
Pada primigravida, ostium internum membuka terlebih dahulu daripada ostium
eksternum (inspekulo ostium tampak berbentuk seperti lingkaran kecil di tengah),
sedangkan pada multipara, ostium internum dan eksternum membuka bersamaan
(inspekulo ostium tampak berbentuk seperti garis lebar)
Periode Kala 1 pada primigravida lebih lama (+ 20 jam) dibandingkan multipara (+14
jam) karena pematangan dan pelunakan serviks pada fase laten pasien primigravida
memerlukan waktu lebih lama.
Sifat His pada Kala 1 :
Timbul tiap 10 menit dengan amplitudo 40 mmHg, lama 20-30 detik. Serviks terbuka
sampai 3 cm. Frekuensi dan amplitudo terus meningkat.
Kala 1 lanjut (fase aktif) sampai kala 1 akhir
Terjadi peningkatan rasa nyeri, amplitudo makin kuat sampai 60 mmHg, frekuensi 2-
4 kali / 10 menit, lama 60-90 detik. Serviks terbuka sampai lengkap (+10cm).
Peristiwa penting Kala 1 :
1. Keluar lendir / darah (bloody show) akibat terlepasnya sumbat mukus (mucous plug)
yang selama kehamilan menumpuk di kanalis servikalis, akibat terbukanya vaskular
kapiler serviks, dan akibat pergeseran antara selaput ketuban dengan dinding dalam
uterus.
2. Ostium uteri internum dan eksternum terbuka sehingga serviks menipis dan mendatar.
3. Selaput ketuban pecah spontan (beberapa kepustakaan menyebutkan ketuban pecah
dini jika terjadi pengeluaran cairan ketuban sebelum pembukaan 5 cm).
2. KALA 2 PERSALINAN :
Dimulai pada saat pembukaan serviks telah lengkap dan berakhir pada saat bayi telah
lahir lengkap.

52
Pada Kala 2 ini His menjadi lebih kuat, lebih sering, dan lebih lama. Selaput ketuban
mungkin juga sudah pecah/ baru pecah spontan pada awal Kala 2 ini. Rata-rata waktu
untuk keseluruhan proses Kala 2 pada primigravida 1,5 jam, dan multipara 0,5
jam.
Sifat His :
Amplitudo 60 mmHg, frekuensi 3-4 kali / 10 menit. Refleks mengejan terjadi juga akibat
stimulasi dari tekanan bagian terbawah janin (pada persalinan normal yaitu kepala) yang
menekan anus dan rektum. Tambahan tenaga meneran dari ibu, dengan kontraksi otot-otot
dinding abdomen dan diafragma, berusaha untuk mengeluarkan bayi.
Peristiwa penting pada Kala 2 :
1. Bagian terbawah janin (pada persalinan normal : kepala) turun sampai dasar panggul.
2. Ibu timbul perasaan/ refleks ingin mengedan yang semakin kuat.
3. Perineum meregang dan anus membuka (hemoroid fisiologis)
4. Kepala dilahirkan lebih dulu, dengan suboksiput di bawah simfisis (simfisis pubis
sebagai sumbu putar/ hipomoklion), selanjutnya dilahirkan badan dan anggota badan.
5. Kemungkinan diperlukan pemotongan jaringan perineum untuk memperbesar jalan
lahir (episiotomi).
Proses pengeluaran janin pada kala 2 (persalinan letak belakang kepala) :
1. Kepala masuk pintu atas panggul : sumbu kepala janin dapat tegak lurus dengan pintu
atas panggul (sinklitismus) atau miring / membentuk sudut dengan pintu atas panggul
(asinklitismus anterior / posterior).
2. Kepala turun ke dalam rongga panggul, akibat : 1) tekanan langsung dari his dari
daerah fundus ke arah daerah bokong, 2) tekanan dari cairan amnion, 3) kontraksi otot
dinding perut dan diafragma (mengejan), dan 4) badan janin terjadi ekstensi dan
menegang.
3. Fleksi : kepala janin fleksi, dagu menempel ke toraks, posisi kepala berubah dari
diameter oksipito-frontalis (puncak kepala) menjadi diameter suboksipito-
bregmatikus (belakang kepala).

53
4. Rotasi interna (putaran paksi dalam) : selalu disertai turunnya kepala, putaran ubun-
ubun kecil ke arah depan (ke bawah simfisis pubis), membawa kepala melewati
distansia interspinarum dengan diameter biparietalis.
5. Ekstensi : setelah kepala mencapai vulva, terjadi ekstensi setelah oksiput melewati
bawah simfisis pubis bagian posterior. Lahir berturut-turut : oksiput, bregma, dahi,
hidung, mulut, dagu.
6. Rotasi eksterna (putaran paksi luar) : kepala berputar kembali sesuai dengan sumbu
rotasi tubuh, bahu masuk pintu atas panggul dengan posisi anteroposterior sampai di
bawah simfisis, kemudian dilahirkan bahu depan dan bahu belakang.
7. Ekspulsi : setelah bahu lahir, bagian tubuh lainnya akan dikeluarkan dengan mudah.
Selanjutnya lahir badan (toraks,abdomen) dan lengan, pinggul / trokanter depan dan
belakang, tungkai dan kaki.
3. KALA 3 PERSALINAN :
Dimulai pada saat bayi telah lahir lengkap, dan berakhir dengan lahirnya plasenta.
Kelahiran plasenta : lepasnya plasenta dari insersi pada dinding uterus, serta
pengeluaran plasenta dari kavum uteri.
Lepasnya plasenta dari insersinya : mungkin dari sentral (Schultze) ditandai dengan
perdarahan baru, atau dari tepi / marginal (Matthews-Duncan) jika tidak disertai
perdarahan, atau mungkin juga serempak sentral dan marginal.
Pelepasan plasenta terjadi karena perlekatan plasenta di dinding uterus adalah bersifat
adhesi, sehingga pada saat kontraksi mudah lepas dan berdarah.
Pada keadaan normal, kontraksi uterus bertambah keras, fundus setinggi sekitar / di atas
pusat.
Sifat His :
Amplitudo 60-80 mmHg, frekuensi kontraksi berkurang, aktifitas uterus menurun. Plasenta
dapat lepas spontan dari aktifitas uterus ini, namun dapat juga tetap menempel (retensio) dan
memerlukan tindakan aktif (manual aid).
4. KALA 4 PERSALINAN :

54
Dimulai pada saat plaenta telah lahir lengkap, sampai dengan 1 jam setelahnya.
Hal penting yang harus diperhatikan pada Kala 4 persalinan :
1. Kontraksi uterus harus baik
2. Tidak ada perdarahan pervaginam atau dari alat genital lain
3. Plasenta dan selaput ketuban harus sudah lahir lengkap
4. Kandung kencing harus kosong
5. Luka-luka di perineum harus dirawat dan tidak ada hematoma
6. Resume keadaan umum ibu dan bayi.
LO.5.2. Pimpinan persalinan
1.Mengamati tanda dan gejala kala dua
Ibu mempunyai keinginan untuk meneran
Ibu merasa tekanan yang semakin meningkat pada rectum dan atau vagina
Perineum menonjol
Vulva vagina dan sfingter anal membuka
Menyiapkan pertolongan persalinan
2.Memastikan perlengkapan,bahan,dan obat-obatan eseneial siap
digunakan.Mematahkanampul oksitosin 10 unit dan menempatkan tabung suntik steril sekali
pakai di dalam partus set
3.Mengenakan baju penutup atau celemek plastic yang bersih
4.Melepaskan semua perhiasan yang dipakai dibawah siku,mencuci kedua tangan dengan
sabun dan air bersih yang mengalir dan mengeringakn tangan denga handuk satu kali
pakai/pribadi yang bersih
5.Memakai satu sarung dengan DTT atau steril untuk pemeriksaan dalam.
6.Mengisap oksitosin 10 unit ke dalam tabung suntik(
dengan memakai sarung tangan disinfeksi tingjat tinggi atau steril)dan meletakkan kembali di
partus set/wadah disinfeksi tingkat tinggi atau sterli tanpa mengontaminasi tabung suntik).

55
Memastikan pembukaan lengkap dengan janin baik
7.Membersihkan vulva dan perineum,menyekanya dengan hati-hati dari depan ke belakang
dengan menggunakan kapas atau kasa yang sudah dibasahi disinfeksi tingkat tinggi.Jika
mulut vagina,perineum,anus terkontaminasi oleh kotoran ibu,membersihkannya dengan
seksama dengan cara menyeka dari depan ke belakang.Membuang kapas atau kasa yang
terkontaminasi dalam wadah yang benar.Mengganti sarung tangan jika terkontaminasi
(meletakkan kedua sarung tangan tersebut dengan benar di dalam larutan terkontainasi)
8.Dengan menggunakan teknik aseptic,memlakuakn oemeriksaan dalam untuk memastikan
bahwa pembukaan serviks sudah lengkap.Bila selaput ketuban belum pecah,sedangkan
pembukaan sudah lengkpa lamkukan amniotomi.
9.Mendekontaminasi sarung tangan dengan cara mencelupkan tangan yang masih memakai
sarung tangan kotor dalam larutan klorin 0,5% dan kemudian melepaskannya dalam keadaan
terbalik serta merendamnya di dalam larutan klorin 0,5% selam 10 menit.Mencuci kedua
tangan seperti diatas
10.Memeriksa denyut jantung janin(DJJ)setelah kontraksi berakhir untuk memastikan bahwa
DJJ dalam batas normal (100-180 kali/menit)
Mengambil tindakan yang sesuai jika DJJ tidak normal
Mendokumentasikan hasil-hasil pemeriksaan dalam,DJJ dan semua hasil hasil
penilaian serta asuhan lainnya pada partograf
Menyiapkan ibu dan keluarga untuk membantu proses pimpinan meneran
11.Memberi tahu ibu pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin baik.Membantu ibu
berada dalam posisi yang nyaman sesuai dengan keinginannya.
Menunggu hingga ibu mempunyai keinginan untuk meneran.Melanjutkan pemantauan
kesehatan dan kenyamanan ibu serta janin sesuai dengan pedoman persalinan aktif
dan mendokumentasikan temuan-temuan.
Menjelaskan kepada anggota keluarga bagaimana mereka dapat mendukung dan
memberi semangat kepada ibu saat ibu mulai meneran.
12.Meminta bantuan keluarga untuk menyiapkan posisi ibu untuk meneran.(Pada saat ad
his,bantu ibu dalam posisi setengah duduk dan pastikan ia merasa nyaman)

56
13.Melakukan pimpinan meneran saat ibu mempunyai dorongan yang kuat untuk meneran:
Membimbing ibu untuk meneran saat ibu mempunyai keinginan untuk meneran
Mendukung dan memberi semangat atas usaha ibu untuk meneran
Membantu ibu mengambil posisi yang nyaman sesuai dengan pilihannya (tidak
meminta ibu berbaring terlentang)
Menganjurkan ibu untuk beristirahat di antara kontraksi
Menganjurkan keluarga untuk mendukung dan memberi semangat pada ibu
Menganjurkan asupan cairan per oral
Menilai DJJ setiap lima menit
Jika bayi belum lahir atau kelahiran bayi belum akan terjadi segera dalam waktu 120
menit (2 jam)meneran untuk ibu primipara atau 60 menit(1 jam)untuk ibu
multipara,merujuk segera.Jika ibu tidak mempunyai keinginan untuk meneran
Menganjurkan ibu untuk berjalan,berjongkok,atau mengambil posisi yang aman.Jika
ibu belum menran dalam 60 menit anjurkan ibu untuk mulai meneran pada puncak
kontraksi-kontraksi tersebut dan beristirahat diantara kontaraksi.
Jika bayi belum lahir atau kelahiran bayi belum akan terjadi segera setelah 60 menit
meneran,merujuk ibu dengan segera.
Persiapan pertolongan kelahiran bayi
14.Jika kepala bayi telah membuka vulva dengan diameter 5-6 cm,letakkan handuk bersih
diatas perut ibu untuk mengeringkan bayi.
15.meletakkan kain yang bersih dilipat 1/3 bagian,dibawah bokong ibu
16.membuka partus set
17.memakai sarung tangan DTT atau steril pada kedua tangan
Menolong kelahiran bayi
Lahirnya kepala
18.Saat kepala bayi membuka vulva dengan diameter 5-6 cm,lindungi perineum dengan satu
tangan yang dilapisi kain tadi,letakkan tangan yang lain di kepala bayi,dan lakukan tekanan
yang lembut dan tidak menghambat pada kepala bayi,membiarkan kepala keluar perlahan-
lahan atau bernapas cepat saat kepala lahir.

57
19.Dengan lembut menyeka muka,mulut dan hidung bayi dengan kain atau kasa yang bersih
20.Memeriksa lilitan tali pusat dan mengambil tindakan sesuai jika hal itu terjadi,dan
kemudian meneruskan segera proses kelahiran bayi:
Jika tali pusat melilit leher janin denga longgar,lepaskan lewat bagian atas kepala bayi
Jika tali pusat melilit leher bayi dengan erat,mengklemnya dikedua tempat dan
memotongnya
21.Menunggu hingga kepala bayi melakukan putaran paksi luar secara spontan
Lahir bahu
22.Setelah kepala melakukan putaran paksi luar,tempatkan kedua tangan di masing-masing
kedua muka bayi.Menganjurkan ibu untuk meneran saat kontraksi berikutnya.Dengan lembut
,menariknya kearah bawah dan ke arah luar hingga bahu anterior munculdibawah arkus pubis
dan kemudian dengan lembut menarik kearah atas dan ke arah luar untuk melahirkan bahu
posterior.
23.Setelah kedua bahu dilahirkan,menelusurkan tangan mulai kepala bayi yang berada di
bagian bawah kearah perineum,membiarkan bahu dan lengan posterior lahir tangan
tersebut.Mengendalikan kelahiran siku dan tangan bayi saat melewati perineum,gunakan
lengan bawah untuk menyangga tubuh bayi saat dilahirkan.
Menggunakan tanagn anterior (bagian atas)untuk mengendalikan siku dan tangan anterior
bayi saat keduanya lahir.
24.Setelah tubuh dari lengan lahir,meneluruskan tangan yang ada di atas(anterior)dari
punggung kea rah bayi untuk menyangganya saat punggung kaki lahir.Memegang kedua
mata kaki bayi dengan hati-hati membantu kelahiran kaki.
Penanganan bayi baru lahir
25.Menilai bayi dengan cepat(dalam 30 detik)kemudian meletakkan bayi di atas perut ibu
dengan posisi kepala bayi sedikit lebih rendah dari tubuhnya (bila tali pusat terlalu pendek
dari tubuhnya(bial tali pusat telalu pendek ,meletakkan bayi di tempat yang
memungkinakan).Bila bayi mengalami asfiksia,lakuakn resusitasi

58
26.Segera membungkus kepala dan badan bayi denagn handuk dan biarkan kontak kulit ibu-
bayi.Lakukan penyuntika oksitosis
27.Menjepit tali pusat dengan menggunakan klem kira-kira 3 cm dari pusat bayi.Melakukan
urutan pada tali pusat mulai dari klem kea rah ibu danmemasang klem kedua 2 cm dari klem
pertama (kea rah ibu)
28.Memegang tali pusat dengan satu tangan,melindungi bayi dari gunting dan memotong tali
pusat diantara dua klem tersebut.
29.Mengeringkan bayi ,mengganti handuk yang basah dan menyelimuti bayi dengan kain
atau selimut yang bersih dan kering,menutupi bagian kepala ,membiarkan tali pusat
terbuka.Jika bayi mengalami kesulitan bernapas,ambil tindakan yang sesuai.
30.Memberikan bayi kepada ibunya dan menganjurkan ibu untuk memeluk bayinya dan
memulai pemberian ASI jika ibu menghendakinya.
LI 6. Memahami dan menjelaskan kehamilan pada puasa
Kondisi fisik seorang wanita dalam menghadapi kehamilan dan saat-saat menyusui memang
berbeda-beda. Namun, pada dasarnya, kalori yang dibutuhkan untuk memberi asupan bagi
sang buah hati adalah sama, yaitu sekitar 2200-2300 kalori perhari untuk ibu hamil dan 2200-
2600 kalori perhari untuk ibu menyusui. Kondisi inilah yang menimbulkan konsekuensi yang
berbeda bagi para ibu dalam menghadapi saat-saat puasa di bulan Ramadhan. Ada yang
merasa tidak bermasalah dengan keadaan fisik dirinya dan sang bayi sehingga dapat
menjalani puasa dengan tenang. Ada pula para ibu yang memiliki kondisi fisik yang lemah
yang mengkhawatirkan keadaan dirinya jika harus terus berpuasa di bulan Ramadhan begitu
pula para ibu yang memiliki buah hati yang lemah kondisi fisiknya dan masih sangat
tergantung asupan makanannya dari sang ibu melalui air susu sang ibu.
Kedua kondisi terakhir, memiliki konsekuuensi hukum yang berbeda bentuk pembayarannya.
1. Untuk Ibu Hamil dan Menyusui yang Mengkhawatirkan Keadaan Dirinya Saja Bila
Berpuasa
Bagi ibu, untuk keadaan ini maka wajib untuk mengqadha (tanpa fidyah) di hari yang lain
ketika telah sanggup berpuasa.

59
Keadaan ini disamakan dengan orang yang sedang sakit dan mengkhawatirkan keadaan
dirinya. Sebagaimana dalam salah satu ayat di Al-Quran :
Maka jika di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka
wajib baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.(QS.
Al Baqarah [2] : 184)
Berkaitan dengan masalah ini, Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan, Kami tidak
mengetahui ada perselisihan di antara ahli ilmu dalam masalah ini, karena keduanya seperti
orang sakit yang takut akan kesehatan dirinya. (al-Mughni: 4/394)
2. Untuk Ibu Hamil dan Menyusui yang Mengkhawatirkan Keadaan Dirinya dan Buah
Hati Bila Berpuasa
Sebagaimana keadaan pertama, sang ibu dalam keadaan ini wajib mengqadha (saja) sebanyak
hari-hari puasa yang ditinggalkan ketika sang ibu telah sanggup melaksanakannya.
Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, Para sahabat kami (ulama Syafiiyah)
mengatakan, Orang yang hamil dan menyusui, apabila keduanya khawatir dengan puasanya
dapat membahayakan dirinya, maka dia berbuka dan mengqadha.Tidak ada fidyah karena dia
seperti orang yang sakit dan semua ini tidak ada perselisihan (di antara Syafiiyyah).Apabila
orang yang hamil dan menyusui khawatir dengan puasanya akan membahayakan dirinya dan
anaknya, maka sedemikian pula (hendaklah) dia berbuka dan mengqadha, tanpa ada
perselisihan (di antara Syafiiyyah). (al-Majmu: 6/177, dinukil dari majalah Al Furqon)
3 .Untuk Ibu Hamil dan Menyusui yang Mengkhawatirkan Keadaan si Buah Hati saja
Dalam keadaan ini, sebenarnya sang ibu mampu untuk berpuasa. Oleh karena itulah,
kekhawatiran bahwa jika sang ibu berpuasa akan membahayakan si buah hati bukan
berdasarkan perkiraan yang lemah, namun telah ada dugaan kuat akan membahayakan atau
telah terbukti berdasarkan percobaan bahwa puasa sang ibu akan membahayakan. Patokan
lainnya bisa berdasarkan diagnosa dokter terpercaya bahwa puasa bisa membahayakan
anaknya seperti kurang akal atau sakit -. (Al Furqon, edisi 1 tahun 8)
Untuk kondisi ketiga ini, ulama berbeda pendapat tentang proses pembayaran puasa sang ibu.
Berikut sedikit paparan tentang perbedaan pendapat tersebut.
Dalil ulama yang mewajibkan sang ibu untuk membayar qadha saja.

60
Dalil yang digunakan adalah sama sebagaimana kondisi pertama dan kedua, yakni sang
wanita hamil atau menyusui ini disamakan statusnya sebagaimana orang sakit. Pendapat ini
dipilih oleh Syaikh Bin Baz dan Syaikh As-Sadi rahimahumallah
Dalil ulama yang mewajibkan sang Ibu untuk membayar fidyah saja.
Dalill yang digunakan adalah sama sebagaimana dalil para ulama yang mewajibkan qadha
dan fidyah, yaitu perkataan Ibnu Abbas radhiallahuanhu, Wanita hamil dan menyusui, jika
takut terhadap anak-anaknya, maka mereka berbuka dan memberi makan seorang miskin. (
HR. Abu Dawud)
dan perkataan Ibnu Umar radhiallahuanhu ketika ditanya tentang seorang wanita hamil
yang mengkhawatirkan anaknya, maka beliau berkata, Berbuka dan gantinya memberi
makan satu mud gandum setiap harinya kepada seorang miskin. (al-Baihaqi
dalam Sunan dari jalan Imam Syafii, sanadnya shahih)
Dan ayat Al-Quran yang dijadikan dalil bahwa wanita hamil dan menyusui hanyaf
membayar fidyah adalah, Dan wajib bagi orang yang berat menjalankannya (jika mereka
tidak berpuasa) membayar diyah (yaitu) membayar makan satu orang miskin. (Qs. Al-
Baqarah [2]: 184)
Hal ini disebabkan wanita hamil dan menyusui yang mengkhawatirkan anaknya dianggap
sebagai orang yang tercakup dalam ayat ini.
Pendapat ini adalah termasuk pendapat yang dipilih Syaikh Salim dan Syaikh Ali
Hasan hafidzahullah.
Dalil ulama yang mewajibkan sang Ibu untuk mengqadha dengan disertai membayar
fidyah
Dalil sang ibu wajib mengqadha adalah sebagaimana dalil pada kondisi pertama dan kedua,
yaitu wajibnya bagi orang yang tidak berpuasa untuk mengqadha di hari lain ketika telah
memiliki kemampuan. Para ulama berpendapat tetap wajibnya mengqadha puasa ini karena
tidak ada dalam syariat yang menggugurkan qadha bagi orang yang mampu
mengerjakannya.
Sedangkan dalil pembayaran fidyah adalah para ibu pada kondisi ketiga ini termasuk dalam
keumuman ayat berikut,

61
Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa)
membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin (Qs. Al-Baqarah [2]:184)
Hal ini juga dikuatkan oleh perkataan Ibnu Abbas radhiallahuanhu, Wanita hamil dan
menyusui, jika takut terhadap anak-anaknya, maka mereka berbuka dan memberi makan
seorang miskin.(HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Syaikh Al Bani dalam Irwaul
Ghalil).Begitu pula jawaban Ibnu Umar radhiallahuanhu ketika ditanya tentang wanita
hamil yang khawatir terhadap anaknya, beliau menjawab, Hendaklah berbuka dan memberi
makan seorang miskin setiap hari yang ditinggalkan.
Adapun perkataan Ibnu Abbas dan Ibnu Umar radhiallahuanhuma yang hanya menyatakan
untuk berbuka tanpa menyebutkan wajib mengqadha karena hal tersebut (mengqadha) sudah
lazim dilakukan ketika seseorang berbuka saat Ramadhan.

















62
DAFTAR PUSTAKA
Luis, Juncqueira, Jose Carneiro, 1991. Histologi Dasar, ed.3. EGC, Jakarta.

Guyton dan Hall.2007.Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 11.Jakarta: EGC.

Manuaba, I.B.G.1998. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana.
Jakarta: EGC

Manuaba, I.B.G. 2001. Kapita Selekta Penatalaksanaan Rutin Obstetri Ginekologi dan
Keluarga Berencana. Jakarta: EGC

Mochtar, R. 1998 . Sinopsis Obstetri. Edisi 2. Jakarta: EGC

Notobroto. 2003. Insiden Anemia. http://adln.lib.unair.ac.id. diperoleh 24 Februari,
2006.

Sherwood. L.2004. Fisiologi Manusia: Dari sel ke Sistem

Prawirohardjo S.Ilmu kebidanan edisi 4.PT Bina Pustaka Prawiro Rahardjo.

Prof Rustam. Synopsis obstetric Jilid 1. Jakarta : EGC.

Depkes. RI 1995. Sekitar kelahiran bayi yang perlu anda ketahui

www.reproduksi.com

www.litbang.depkes.go.id

www.danieher.multiply.com

irvanhabibali.files.wordpress.com