Memahami dan Menjelaskan anatomi makroskopik mikroskopik pankreas.

Menjelaskan anatomi makroskopik pankreas.

Lokasi dan Deskripsi
Pankreas merupakan kelenjar eksokrin dan endokrin. Bagian eksokrin kelenjar
menghasilkan sekret yang mengandung enzime-enzime yang dapat menghidrolisis lemak dan
karbohidrat. Bagian endokrine kelenjar yaitu pulau-pulau langerhans menghasilkan hormon
insulin dan glukagon yang mempunyai peranan penting pada metabolisme karbohidrat.
Pankreas merupakan organ yang memanjang dan terletak pada epigastrium dan kuadran
kiri atas. Strukturnya lunak, berlobus, dan terletak pada dinding posterior abdomen di belakang
peritoneum. Pankreas menyilang planum transpyloricum. Pancreas dapat dibagi dalam caput,
collum, corpus, cauda.
Caput pancreatis berbentuk seperti cakram dan terletak di dalam bagian cekung duodenum.
Sebagian caput meluas ke kiri di belakang arteria dan venae mesenterica superior serta
dinamakan processus uncinatus.
Collum pancreatis merupakan bagian pancreas yang mengecil dan menghubungkan caput dan
corpus pancreatis. Collum pancreatis terletak di pangkal venae portae hepatis tempat
diparcabangkannya arteri mesenterica superior dari aorta.

Corpus pancreatis berjalan ke atas dan kiri, menyilang garis tengah, pada potongan melintang
sedikit berbentuk segitiga.
Cauda pancreatis berjalan ke depan menuju ligamentum linorenale dan mengadakan hubungan
dengan hillum lienale.
Hubungan
Ke anterior : dari kanan ke kiri : colon transversum dan perlrkatanmesocolon transversum,
bursa omentalis, dan gaster.
Ke posterior : dari kanan ke kiri: ductus choleducus, vena portae hepatis, dan vena lienalis, vena
cavae inferior, aorta, pangkal arteriae mesenterica superior, musculus psoas major sinistra,
glandula suprarenalis sinistra, ren sinistra, dan hillum lienale.
Ductus pancreaticus
Ductus pancreaticus mulai dari cauda pancrealis dan berjalan di sepanjang kelenjar,
menerima banyak cabang pada perjalanannya. Ductus ini bermuara ke pars decenden duodenum
di sekitar pertengahannya bersama dengan ductus choleducus pada papilla duodeni major.
Kadang-kadang muara ductus pancreaticus di duodenum terpisah dari ductus choleducus.
Ductus pancreaticus accesorius mengalirkan getah pankreas dari bagian atas caput dan
kemudian bermuara ke duodenum sedikit di atas muara ductus pancreaticus pada papilla duodeni
minor. Ductus pancreaticus accesorius sering berhubungan dengan ductus pancreaticus.
Perdarahan
Arteri
Arteri lienalis serta arteri pancreticoduodenalis superior dan inferior.
Vena
Vena yang sesuai dengan arteri mengalirkan darah ke sistem porta.
Aliran lymfe
Kelenjar ini terletak di sepanjang arteri yang mendarahi kelenjar. Pembuluh eferen
akhirnya mengalirkan cairan limfe ke nodi limf coeliaci dan mesenterici superiores.
Persarafan
Berasal dari serabut-serabut saraf simpatis dan parasimpatis.
Memahami dan Menjejelaskan Fisiologi dan Biokimia Insulin.

Menjelaskan anatomi mikroskopik pankreas.

Pankreas merupakan kelenjar endokrin terbesar yang terdapat di dalam tubuh baik hewan
maupun manusia. Bagian depan ( kepala ) kelenjar pankreas terletak pada lekukan yang dibentuk
oleh duodenum dan bagian pilorus dari lambung. Bagian badan yang merupakan bagian utama
dari organ ini merentang ke arah limpa dengan bagian ekornya menyentuh atau terletak pada alat
ini. Dari segi perkembangan embriologis, kelenjar pankreas terbentuk dari epitel yang berasal
dari lapisan epitel yang membentuk usus.
Pankreas terdiri dari dua jaringan utama, yaitu :
(1). Asini sekresi getah pencernaan ke dalam duodenum.
(2). Pulau Langerhans yang tidak tidak mengeluarkan sekretnya keluar, tetapi menyekresi
insulin dan glukagon langsung ke darah.
Pulau – pulau Langerhans yang menjadi sistem endokrinologis dari pamkreas tersebar di
seluruh pankreas dengan berat hanya 1 – 3 % dari berat total pankreas. Pulau langerhans
berbentuk ovoid dengan besar masing-masing pulau berbeda. Besar pulau langerhans yang
terkecil adalah 50 , sedangkan yang terbesar 300 , terbanyak adalah yang besarnya 100 –
225 . Jumlah semua pulau langerhans di pankreas diperkirakan antara 1 – 2 juta.
Pulau langerhans manusia, mengandung tiga jenis sel utama, yaitu :
(1). Sel – sel A ( alpha ), jumlahnya sekitar 20 – 40 % ; memproduksi glikagon yang manjadi
faktor hiperglikemik, suatu hormon yang mempunyai “ anti insulin like activity “.
(2). Sel – sel B ( betha ), jumlahnya sekitar 60 – 80 % , membuat insulin.
(3). Sel – sel D ( delta ), jumlahnya sekitar 5 – 15 %, membuat somatostatin.
Masing – masing sel tersebut, dapat dibedakan berdasarkan struktur dan sifat pewarnaan.
Di bawah mikroskop pulau-pulau langerhans ini nampak berwarna pucat dan banyak
mengandung pembuluh darah kapiler. Pada penderita DM, sel beha sering ada tetapi berbeda

dengan sel beta yang normal dimana sel beta tidak menunjukkan reaksi pewarnaan untuk insulin
sehingga dianggap tidak berfungsi.
Memahami dan Menjelaskan Fisiologi dan Biokimia Insulin.
Menjelaskan Sintesa Insulin

Insulin adalah hormone yang disekresi oleh sel-sel beta pancreas dan merupakan
polipeptida yang terdiri atas dua rantai, yaitu rantai A dan B., yang saling dihubungkan oleh dua
jembatan disulfide antar-rantai yang menghubungkan A7 ke B7 dan A20 ke B19. Jembatan
disulfide intra-rantai yang ketiga menghubungkan residu 6 dan 11 pada rantai A. Lokasi ketiga
jembatan disulfide ini selalu tetap dan rantai A serta B masinbg-masing mempunyai 21 dan 30
asam amino pada sebagian besar spesies.
Insulin disintesis sebagai preprohormon (berat molekul sekitar 11.500) dan merupakan
prototype untuk peptide yang diproses dari molekul precursor yang lebih besar. Rangkaian preyang bersifat hidrofobik dengan 23 asam amino mengarahkan molekul tersebut ke dalam sisterna
reticulum endoplasma dan kemudian dikeluarkan. Proses ini menghasilkan molekul proinsulin
dengan berat molekul 9000 yang menyediakan bentuk yang diperlukan bagi pembentukan
jembatan disulfide yang sempurna. Molekul proinsulin menjalani serangkaian pemecahan
peptide yang tapak-spesifik sehingga terbentuk insulin yang matur dan peptide C dengan jumlah
ekuimolar.

Menjelaskan Peranan Insulin

Efek Insulin pada metabolisme Karbohidrat
Insulin Meningkatkan Metabolisme dan Ambilan Glukosa Otot
Selama hampir sepanjang hari, jaringan otot tak tergantung atas glukosa untuk energinya
tetapi pada asam-asam lemak. Alasan utama hal ini adalah bahwa membrane otot normal yang
dalam keadaan istirahat hampir tak permeable terhadap glukosa kecuali bila serat otot dirangsang
oleh insulin. Dan diantara waktu makan, jumlah insulin yang disekresikan terlalu kecil untuk
meningkatkan masuknya insulin dalam jumlah bermakna kedalam sel-sel otot. Tetapi, pada dua
keadaan (selama kerja fisik sedang dan berat, dan selama beberapa jam setelah makan), otot
menggunakan sejumlah besar glukosa untuk energinya.

Penyimpanan Glikogen di dalam Otot
Bila setelah makan otot tidak bekerja, dan walaupun glukosa yang ditranspor ke dalam
otot jumlahnya banyak, sebagian besar glukosa sampai batas 2 hingga 3 persen kemudian akan
disimpan dalam bentuk glikogen otot daripada digunakan untuk energi. Kemudian glikogen
dapat digunakan untuk energi oleh otot. Glikogen otot berbeda dari glikogen hati karena ia tidak
dapat dikonversi kembali menjadi glukosa dan dilepaskan ke dalam cairan tubuh. Alasan untuk
ini adalah bahwa tidak terdapat glukosa fosfatase di dalam sel-sel otot.
Mekanisme insulin meningkatkan transport glukosa melalui membrane sel otot
Insulin meningkatkan transport glukosa ke dalam sel-sel otot dalam cara yang sungguh
berbeda dari cara meningkatkan transport ke dalam sel-sel hati. Transpor ke dalam hati terutama
akibat mekanisme penangkapan yang disebabkan oleh fosforilasi glukosa atas pengaruh
glukokinase. Tetapi ini hanya merupakan factor kecil dalam efek insulin untuk memindahkan
glukosa ke dalam sel-sel otot. Yang lebih penting, insulin langsung mempengaruhi membrane
sel otot untuk mempermudah transport glukosa. Transpor glukosa melalui membrane sel tidak
terjadi melawan perbedaan konsentrasi. Yaitu sekali konsentrasi glukosa di dalam sel meningkat
setinggi konsentrasi glukosa di luar, tak ada glukosa tambahan yang akan ditranspor ke dalam
sel. Sehingga, proses transpor bukan salah satu difusi yang dipermudah, yang secara sederhana
berarti bahwa pengangkut mempermudah difusi glukosa melalui membrane tetapi tidak dapat
memberikan energi bagi proses transport untuk menyebabkan pemindahan glukosa melawan
perbedaan energi.
Kurangnya Efek insulin atas ambilan dan penggunaan glukosa oleh otak
Otak memang berbeda dari kebanyakan jaringan tubuh lainnya, pada mana insulin
mempunyai sedikit atau tak berefek atas ambilan atau penggunaan glukosa. Namun, sel-sel otak
permeable bagi glukosa tanpa diintermediasi oleh insulin.
Efek insulin dalam meningkatkan ambilan, penyimpanan, dan penggunaan glukosa oleh hati
Salah satu efek insulin yang terpenting adalah menyimpan sebagian besar glukosa yang
telah diabsorpsi sesudah makan di dalam hati dalam bentuk glikogen. Kemudian diantara waktu
makan, bila insulin tak tersedia dan konsentrasi glukosa darah mulai turun, maka glikogen hati
dipecah kembali menjadi glukosa, yang dilepaskan kembali ke darah untuk menjaga konsentrasi
glukosa darah agar tidak turun terlalu rendah.
Mekanisme insulin menyebabkan ambilan dan penyimpanan glukosa di dalam hati
meliputi beberapa langkah yang hampir serentak:
1. Insulin menghambat fosforilase, enzim yang menyebabkan glikogen hati dipecah menjadi
glukosa
2. insulin meningkatkan ambilan glukosa dari darah oleh sel-sel hati. Ini terjadi dengan
meningkatkan aktivitas enzim glukokinase, yaitu enzim yang menyebabkan fosforilasi
awal glukosa setelah glukosa berdifusi ke dalam sel-sel hati. Sekali terfosforilasi, glukosa
tertangkap di dalam sel-sel hati karena glukosa yang telah terfosforilasi tidak dapat
berdifusi kembali melalui membrane sel.

3. Insulin juga meningkatkan aktivitas enzim yang meningkatkan sintesis glikogen
Efek dari kerja diatas adalah meningkatkan jumlah glikogen di dalam hati. Glikogen
dapat meningkat sekitar 5-6% dari massa hati, yang hampir sama dengan penyimpanan 100g
glikogen.
Pelepasan glikogen dari hati diantara waktu makan
Setelah makan berlalu dan kadar glukosa mulai turun sampai kadar rendah, sekarang
terjadi beberapa kejadian yang menyebabkan hati melepaskan glukosa kembali ke dalam darah
yang bersirkulasi.
1. Penurunan glukosa darah menyebabkan pancreas menurun sekresi insulinnya
2. kemudian kurangnya insulin membalikan semua efek yang telah dijelaskan sebelumnnya
untuk penyimpanan glikogen
3. kurangnya insulin juga mengaktivasi enzim fosforilase, yang menyebabkan pemecahan
glikogen menjadi glukosa fosfat
4. Enzim glukosa fosfatase menyebabkan gugusan fosfat pecah dari glukosa dan ini
memungkinkan glukosa bebas berdifusi kembali ke darah.
Hati mengambil glukosa dari darah bila glukosa berlebihan setelah makan dan
mengembalikannya ke dalam darah bila glukosa diperlukan diantara waktu makan.
Efek insulin lainnya atas metabolisme karbohidrat di dalam hati
Insulin juga meningkatkan konversi glukosa hati menjadi asam lemak dan asam lemak ini
diangkut lagi ke dalam jaringan adipose serta disimpan sebagai lemak. Insulin juga menghambat
glukoneogenesis. Ini terutama terjadi dengan menurunkan jumlah dan aktivitas enzim hati yang
diperlukan untuk glukoneogenesis.
Efek Insulin pada Metabolisme Lemak
Efek Insulin dalam sintesis dan penyimpanan lemak
Beberapa factor yang menyebabkan peningkatan sintesis asam lemak di dalam hati
meliputi:
1. Insulin meningkatkan transport glukosa ke dalam sel-sel hati. Kemudian glukosa dipecah
menjadi piruvat di dalam jalur glikolisis dan kemudian piruvat dikonversi menjadi Asetil
CoA (substrat untuk sintesis asam lemak)
2. Kelebihan ion sitrat dan isositrat terbentuk oleh siklus asam sitrat bila glukosa dalam
jumlah berlebihan digunakan untuk energi. Kemudian ion ini mempunyai efek langsung
dalam mengaktivasi asetil CoA karboksilase, enzim yang diperlukan untuk memulai
stadium pertama sintesis asam lemak.
3. Kemudian asam lemak ditransport dari hepar ke sel-sel adipose, untuk disimpan.

Efek insulin atas penyimpanan lemak di dalam sel-sel adipose
1. Insulin menghambat kerja lipase yang sensitive hormone. Karena lipase merupakan
enzim yang menyebabkan hidrolisis trigliserida di dalam sel-sel lemak, sehingga
pelepasan asam lemak ke dalam darah yang bersirkulasi dihambat.
2. Insulin meningkatkan transport ke dalam sel-sel lemak dalam jalan yang sama seperti
meningkatkan transpor glukosa ke dalam sel-sel otot. Glukosa juga membentuk zat lain
yang penting untuk penyimpanan lemak. Selama proses glikosis glukosa, sejumlah besar
zat α-gliserofosfat terbentuk. Zat ini memberikan gliserol yang terikat dengan asam
lemak untuk membentuk trigliserida, bentuk lemak yang disimpan di dalam sel-sel
adipose.
Peningkatan katabolisme lemak karena defisiensi insulin
1. Lipolisis lemak yang disimpan dan pelepasan asam lemak bebas selama defisiensi insulin
Efek yang terpenting adalah bahwa enzim lipase yang sensitive hormone di dalam
sel-sel lemakmenjadi sangat teraktivasi. Ini menyebabkan hidrolisis trigliserida yang disimpan,
melepaskan sejumlah besar asam lemak dan gliserol ke dalam darah. Akibatnya, konsentrasi
asam lemak bebas plasma meningkat dalam beberapa menit sampai beberapa jam. Kemudian
asam lemak bebas ini menjadi substrat energi utama yang digunakan oleh semua jaringan tubuh
di samping otak.
2. Defisiensi insulin meningkatkan konsentrasi fosfolipid dan kolesterol plasma
Kelebihan asam lemak di plasma akibat defisiensi insulin juga memacu
pengubahan sejumlah asam lemak menjadi fosfolipid dan kolesterol di hati, yang merupakan dua
zat utama yang dihasilkan dari metabolisme lemak. Kedua zat ini bersama dengan beberapa
trigliserida yang terbentuk di dalam hati, kemudian dikeluarkan ke dalam darah di dalam
lipoprotein. Konsentrasi lipid yang tinggi, terutama konsentrasi kolesterol yang tinggi,
menyebabkan cepatnya timbul aterosklerosis pada pasien dengan diabetes yang serius.
3. Pemakaian lemak yang berlebihan selama tidak ada insulin menyebabkan ketosis dan
asidosis
Defisiensi insulin juga menyebabkan kelebihan pembentukan asam asetoasetat di
dalam sel hati. Ini akibat cepatnya pemecahan asam lemak di dalam hati untuk membentuk
asetil CoA dalam jumlah yang sangat banyak. Sebagian asetil CoA ini dapat digunakan untuk
energi tetapi kelebihannya dikondensasi menjadi asam asetoasetat, yang sebaliknya akan
dilepaskan ke dalam darah. Sejumlah asam asetoasetat juga dikonversi menjadi asam βhidroksibutirat dan aseton. Kedua zat ini bersama dengan asma asetoasetat dinamai badan
keton dan adanya dalam jumlah besar pada cairan tubuh dinamai ketosis.
Efek Insulin pada Metabolisme Protein dan Pertumbuhan
Insulin meningkatkan sintesis dan penyimpanan protein
1. Insulin merangsang pengangkutan sejumlah besar asam amino ke dalam sel

Diantara asam amino yang banyak diangkut adalah valin, leusin, isoleusin, tirosin,
dan fenilalanin. Insulin bersama-sama dengan hormone pertumbuhan mempunyai kemampuan
untuk meningkatkan ambilan asam amino ke dalam sel.
2. Insulin meningkatkan translasi RNA messenger
Dengan cara yang belum dpat dijelaskan, insulin dapat menyalakan mesin ribosom.
Tanpa insulin, ribosom benar-benar berhenti bekerja.
3. Insulin meningkatkan kecepatan transkripsi rangkaian genetic DNA yang terpilih
Hal ini menyebabkan peningkatan jumlah RNA dan beberapa sintesis protein,
terutama mengaktifkan sejumlah besar enzim untuk penyimpanan karbohidrat, lemak, dan
protein.
4. Insulin menghambat proses katabolisme protein
Hal ini akan mengurangi kecepatan pelepasan asam amino dari sel, khususnya dari
sel-sel otot
5. Di dalam hati, insulin menekan kecepatan glukoneogenesis
Hal ini dilakukan dengan cara mengurangi aktivitas enzim yang memacu
glukoneogenesis. Karena zat terbanyak yang digunakan untuk sintesis glukosa dengan proses
glukoneogenesis adalah asam amino plasma, maka supresi glukoneogenesis ini menghemat asam
amino dari cadangan protein tubuh.
Tidak adanya insulin menyebabkan berkurangnya protein dan peningkatan asam amino plasma
Bila tidak ada insulin, hampir seluruh proses penyimpanan protein menjadi terhenti sama
sekali. Proses katabolisme protein akan meningkat, sintesis protein berhenti, dan sejumlah besar
asam amino dibuang ke dalam plasma. Konsentrasi asam amino dalam plasma sangat meningkat,
dan sebagian besar kelebihan asam amino akan langsung dipergunakan sebagai sumber enrgi
atau menjadi substrat dalam proses glukoneogenesis. Pemecahan asam amino ini juga
meningkatkan ekskresi ureum dalam urin.
Insulin dan hormone pertumbuhan berinteraksi secara sinergis untuk memacu pertumbuhan
Mekanisme Sekresi Insulin

Sel-sel beta pancreas mempunyai sejumlah besar pengangkut glukosa (GLUT-2) yang
memungkinkan terjadinya ambilan glukosa dengan kecepatan yang sebanding dengan nilai
kisaran fisiologis konsentrasi glukosa dalam darah. Begitu berada di dalam sel, glukosa akan
terfosforilasi menjadi glukosa-6-fosfat oleh glukokinase. Langkah ini menjadi penentu kecepatan
metabolisme glukosa di sel beta dan dianggap sebagai mekanisme utama untuk mendeteksi
glukosa dna menyesuaikan jumlah insulin yang disekresikan dengan kadar glukosa darah.
Glukosa-6fosfatase selanjutnya dioksidasi untuk membentuk adenosine trifosfat (ATP) yang
menghambat kanal kalium yang peka-ATP di sel. Penutupan kanal kalium akan
mendepolarisasikan membrane sel sehingga akan membuka kanal natrium bergerbang voltase,
yang sensitive terhadap perubahan voltase membrane. Keadaan ini akan menimbulkan aliran
masuk kalsium yang merangsang penggabungan vesikel yang berisi insulin dengan membrane
sel dan sekresi insulin ke dalam cairan ekstrasel melalui eksositosis.
Memahami dan menjelaskan Diabetes melitus
Menjelaskan definisi diabetes melitus.
Diabetes mellitus : Syndrome kronik gangguan metabolisme karbohidrat, protein, dan lemak
yang disebabkan resistensi insulin.Dimana kadar glukosa dlm darah tinggi
(Kadar glukosa darah sewaktu (plasma vena) ≥ 200 mg/dl, Kadar glukosa
darah puasa plasma vena ≥126 mg/dl, Kadar glukosa plasma ≥200 mg/dl
pada 2 jam sesudah diberi beban glukosa 75 gram pada TTGO
Menjelaskan etiologi diabetes mellitus II
Karena penyakit sekunder lainnya, cacat, gen, trauma atau pembedahan dan efek obat,
kortikosteroid meningkat, dan efek insulin.
Menjelaskan patofisiologi diabetes melitus II
Diabetes Melitus
Sebagian besar gambaran patologik dari DM dapat dihubungkan dengan salah satu efek
utama akibat kurangnya insulin berikut:
1. Berkurangnya pemakaian glukosa oleh sel – sel tubuh yang mengakibatkan
naiknya konsentrasi glukosa darah setinggi 300 – 1200 mg/dl.
2. Peningkatan mobilisasi lemak dari daerah penyimpanan lemak yang menyebabkan
terjadinya metabolisme lemak yang abnormal disertai dengan endapan kolestrol
pada dinding pembuluh darah.
3. Berkurangnya protein dalam jaringan tubuh.

Pasien – pasien yang mengalami defisiensi insulin tidak dapat mempertahankan kadar
glukosa plasma puasa yang normal atau toleransi sesudah makan. Pada hiperglikemia yng parah
yang melebihi ambang ginjal normal ( konsentrasi glukosa darah sebesar 160 – 180 mg/100 ml ),
akan timbul glikosuria karena tubulus – tubulus renalis tidak dapat menyerap kembali semua
glukosa. Glukosuria ini akan mengakibatkan diuresis osmotik yang menyebabkan poliuri disertai
kehilangan sodium, klorida, potasium, dan pospat. Adanya poliuri menyebabkan dehidrasi dan
timbul polidipsi. Akibat glukosa yang keluar bersama urine maka pasien akan mengalami
keseimbangan protein negatif dan berat badan menurun serta cenderung terjadi polifagi. Akibat
yang lain adalah astenia atau kekurangan energi sehingga pasien menjadi cepat telah dan
mengantuk yang disebabkan oleh berkurangnya atau hilangnya protein tubuh dan juga
berkurangnya penggunaan karbohidrat untuk energi. Hiperglikemia yang lama akan
menyebabkan arterosklerosis, penebalan membran basalis dan perubahan pada saraf perifer. Ini
akan memudahkan terjadinya gangren.

Menjelaskan epidemiologi diabetes mellitus
Penyakit DM merupakan penyakit menahun yang disebabkan oleh penyakit degeratif
(menurunnya kemampuan sel—DM, stroke)
Sudah lama diketahui bahwa diabetes merupakan penyakit keturunan.Artinya bila orang
tuanya menderita diabetes, anak-anaknya akan menderita diabetes juga. Hal itu memang benar .
Tetapi faktor keturunan saja tidak cukup. Diperlukan faktor lain yang disebut faktor resiko atau
faktor pencetus misalnya :
a. Adanya infeksi virus (pada DM tipe 1)
b. Obesitas
c. Pola makan yg salah  komposisi makanan terlalu byk mengandung protein,
lemak,gula, garam dan sedikit serat
d. Dyslipidemia HDL kolesterol < 40 mg/dL atau TG > 150 mg/dL
e. Stress
f. Kurang olahraga  malas, atau aktifitas/pekerjaan yg menguruas waktu

DM tipe 2 banyak terjadi diperkotaan dan kulit putih besar seiring banyakan restaurant
makanan cepat saji sehingga penduduk dewasa ini jarang memakan makanan sehat, di Indonesia
thn 2005 tercatat, prevalensi DM 2 terbesar ada pada Jakarta 8,3%- 14, 7%.
Utk DM tipe lain. Banyak menyerang iklim tropis, karena malnutrisi, infeksi virus.
Sementara utk DM gestasional tercatat prevalensinya sevesar 2%-2,6%
Menjelaskan Klasifikasi Diabetes Melitus
1. Diabetes Melitus Tipe 1
a)Melalui proses imunologik b) Idiopatik
2.Diabetes Melitus Tipe 2 (bervariasi mulai yang predominan resistensi insulindisertai defisiensi
insulin relatif sampai yang predominan gangguan sekresiinsulin bersama resistensi insulin)
.
3 Diabetes Melitus Tipe Lain
a)Defek genetik funsi sel beta
Kromosom 12, HNF-1 alfa (dahulu MODY 3)
Kromosom 7, glukokinase (dahulu MODY 2)
Kromosom 20, HNF-4 alfa (dahulu MODY 1)
DNA mitokondria
Insulin promoter factor-1 (IPF-1; MODY 4)
HNF-1 (MODY 5)
NeuroD1 (MODY 6)
subunits of ATP-sensitive potassium channel
Proinsulin atau insulin conversion
b)Defek genetik kerja insulin:
Type A insulin resistance
Sindrom Rabson-Mendenhall (kelainan genetik langka resistensi insulin)
Sindrom Lipodystrophy (gangguan metab lipid)
c) Penyakit eksokrin pankreas:
Pankreatitis
Trauma/pankreatektomi
Neoplasma
Kista fibrosis
Hemokromatosis
Pankreatopati fibro kalkulus
d) Endokrinopati:
Akromegali
Sindrom cushing
Feokromositoma
Hipertiroidisme

e)Karena obat/zat kimia:
Vancor, interferon
Pentamidin, tiazin, dilatin
Asam nikotinat, glukokortikoid, hormon tiroid
f)Infeksi : rubella kongenital danCMV
g)Imunologi (jarang) : antibodi anti reseptor insulin
h)Sindroma genetik lain :Sindrom Down, Kliniferter, Turner, Huntington Chorea,Sindrom Prader
Willi (sindrome genetik kelemahan otot, hormon skes menurun dan terus menerus merasa lapar)
4 Diabetes Melitus Gestasional (Kehamilan)
a) Karena sebelum hamil ibu sudah menderita DM
b) Karena ditemukan saat hamil  karena intolereansi glikosa yg terjadi saat hamil akibat
fisiologis resistensi insulin akibat peningkatan hormon-hormon kehamilan (Human Placental
Lactogen/HPL—karena HPL berfungsi utk lipolisis pada ibu hamil, dimana seorang bumil
memerlukan energi tambahan, Progesteron, kortisol, prolaktin) dan beberapa litetur sedikit
menyinggung juga akibat kegagalan sel beta akibat autoimun, kelainan genetik dan resistensi
insulin kronik—pada ibu obes. Kondisi ini merupakan kondisi adaptif terhadap janin, karena
utk menjaga asupan nutrisi ke janin
Menjelaskan manifestasi Klinis diabetes Melitus
Gejala khas dari diabetes melitus berupa hiperglikemia, polifagia, polidipsia, poliuria, dan
penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.
Hiperglikemia, tanda utama dari diabetes melitus terjadi akibat penurunan penyerapan glukosa
ke sel, disertai oleh peningkatan pengeluaran glukosa oleh hati. Hal ini terjadi karena
glikogenolisis dan glukoneogenesis dapat terjadi tanpa ada hambatan dari insulin. Ketika
kapasistas glukosa meningkat sampai ke ambang batas tubulus, maka glukosa akan keluar di
urin menyebabkan glukosuria. Glukosa dapat meningkatkan efek osmotik, yaitu menarik H2O
untuk ikut keluar, menyebabkan poliuria. Cairan yang keluar berlebihan juga dapat
menyebabkan dehidrasi, yang pada akhirnya dapat menyebabkan kegagalan sirkulasi perifer
karna volume darah menurun mencolok. Kegagalan sirkulasi apabila tidak diperbaiki akan
menyebabkan kematian karna gagalnya sirkulasi ke otak, atau menimbulkan gagal ginjal
sekunder karena aliran yang tidak adekuat. Selain itu, sel - sel kehilangan air karena tubuh
mengalami kehilangan air dan perpindahan cairan dari intrasel ke ekstrasel. Sel – sel otak rentan
mengalami penciutan sehingga timbul gangguan fungsi saraf. Gejala lain dari diabetes melitus
adalah polidipsia, yaitu rasa haus yang berlebihan yang merupakan mekanisme untuk menjaga
keseimbangan cairan dalam tubuh.
Selain itu, karena terjadi defisiensi glukosa intrasel, menyebabkan nafsu makan meningkat dan
menimbulkan polifagia. Walaupun nafsu makan meningkat, penurunan berat badan terus

menerus terjadi, disebabkan kareana glukosa tdk dapat masuk ke dalam sel untuk menyimpan
atau menggunakan karbohidrat, lemak, dan protein. Selain itu, juga terjadi peningkatan
glukoneogenesis dan glikogenolisis yang menghasilkan benda keton. Karena aktivitas ini
meningkat, akan terjadi peningkatan keton di dalam darah yang menyebabkan ketosis berupa
nafas dan aroma tubuh yang wangi. Ketosis ini akan menyebabkan asidosis metabolik yang
apabila cukup parah dapat menyebabkan koma diabetes dan kematian. Tindakan kompensasi
dari asidosis metabolik ini adalah terjadi peningkatan ventilasi untuk ekshalasi CO2 dari dalam
tubuh.
Menjelaskan pemeriksaan dan diagnosis diabetes melitus
Diagnosis DM didasarkan atas pemeriksaan kadar glikosa darah dan tidak dapat
ditegakkan hanya atas glukosura saja. Dalam menentukan diagnosis DM harus diperhatikan asal
bahan darah yang diambil dan cara pemeriksaan yang dipakai. Untuk diagnosis DM,
pemeriksaan yang dianjurkan adalah pemeriksaan glukosa dengan enzimatik dengan bahan darah
plasma vena. Untuk memastikan diagnosis DM, pemeriksaan glukosa dilakukan di laboratorium
klinik terpecaya. Walaupun demikian sesuai kondisi stempat dapat juga dipakai bahan darah utuh
(whole blood), vena ataupun kapiler dengan memperhatikan angka-angka kriteria diagnostik
yang berbeda sesuai pembakuan oleh WHO. Untuk pemantauan hasil pengobatan dapat diperiksa
glukosa darah kapiler.
Tahap pertama dalam menegakkan diagnosis diabetes mellitus
o

ANAMNESIS


Identitas penderita
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan,alamat, status perkawinan,
suku bangsa, nomor register, tanggal masukrumah sakit dan diagnosa medis.

Keluhan Utama
Adanya rasa kesemutan pada kaki / tungkai bawah, rasa raba yangmenurun, adanya luka yang
tidak sembuh – sembuh dan berbau, adanya nyeri pada luka.

Riwayat kesehatan sekarang
Berisi tentang kapan terjadinya luka, penyebab terjadinya luka serta upaya yang telah dilakukan
oleh penderita untuk mengatasinya.

Riwayat kesehatan dahulu
Adanya riwayat penyakit DM atau penyakit – penyakit lain yang ada kaitannya dengan defisiensi
insulin misalnya penyakit pankreas. Adanya riwayat penyakit jantung, obesitas, maupun
arterosklerosis, tindakan medis yang pernah di dapat maupun obat-obatan yang biasa digunakan
oleh penderita.

Riwayat kesehatan keluarga
Dari genogram keluarga biasanya terdapat salah satu anggota keluarga yang juga menderita DM
atau penyakit keturunan yang dapatmenyebabkan terjadinya defisiensi insulin misal hipertensi,
jantung.

Riwayat psikososial

Meliputi informasi mengenai prilaku, perasaan dan emosi yang dialami penderita sehubungan
dengan penyakitnya serta tanggapan keluargaterhadap penyakit penderita.
o

PEMERIKSAAN FISIK


Status kesehatan umum
Meliputi keadaan penderita, kesadaran, suara bicara, tinggi badan, berat badan dan tanda – tanda
vital.

Kepala dan leher
Kaji bentuk kepala, keadaan rambut, adakah pembesaran pada leher, telinga kadang-kadang
berdenging, adakah gangguan pendengaran, lidah sering terasa tebal, ludah menjadi lebih kental,
gigi mudah goyah, gusi mudah bengkak dan berdarah, apakah penglihatan kabur / ganda,
diplopia, lensa mata keruh.

Sistem integumen
Turgor kulit menurun, adanya luka atau warna kehitaman bekas luka, kelembaban dan shu kulit
di daerah sekitar ulkus dan gangren, kemerahan pada kulit sekitar luka, tekstur rambut dan kuku.

Sistem pernafasan
Adakah sesak nafas, batuk, sputum, nyeri dada. Pada penderita DM mudah terjadi infeksi.

Sistem kardiovaskuler
Perfusi jaringan menurun, nadi perifer lemah atau berkurang, takikardi/bradikardi,
hipertensi/hipotensi, aritmia, kardiomegalis.

Sistem gastrointestinal
Terdapat polifagi, polidipsi, mual, muntah, diare, konstipasi, dehidrase, perubahan berat badan,
peningkatan lingkar abdomen, obesitas.

Sistem urinary
Poliuri, retensio urine, inkontinensia urine, rasa panas atau sakit saat berkemih.

Sistem muskuloskeletal
Penyebaran lemak, penyebaran masa otot, perubahn tinggi badan, cepat lelah, lemah dan nyeri,
adanya gangren di ekstrimitas.

Sistem neurologis
Terjadi penurunan sensoris, parasthesia, anastesia, letargi, mengantuk, reflek lambat, kacau
mental, disorientasi.
Pemeriksaan Penunjang

Kadar
glukosa
sewaktu
Kadar
glukosa
puasa

darah Plasma vena
Darah kapiler
darah Plasma vena
Darah kapiler

Bukan DM
<110
<90
<110
<90

Belum pasti DM
110-199
90-199
110-125
90-109

DM
≥200
≥200
≥126
≥110

Kriteria diagnostik WHO untuk diabetes mellitus pada sedikitnya 2 kali pemeriksaan :
1. Glukosa plasma sewaktu >200 mg/dl (11,1 mmol/L)

2. Glukosa plasma puasa >140 mg/dl (7,8 mmol/L)
3.. Glukosa plasma dari sampel yang diambil 2 jam kemudian sesudah mengkonsumsi 75 gr
karbohidrat (2 jam post prandial (pp) > 200 mg/dl
TTGO
Tes toleransi glukosa oral/TTGO (oral glucose tolerance test, OGTT) dilakukan pada kasus
hiperglikemia yang tidak jelas; glukosa sewaktu 140-200 mg/dl, atau glukosa puasa antara 110126 mg/dl, atau bila ada glukosuria yang tidak jelas sebabnya. Uji ini dapat diindikasikan pada
penderita yang gemuk dengan riwayat keluarga diabetes mellitus; pada penderita penyakit
vaskular, atau neurologik, atau infeksi yang tidak jelas sebabnya.
TTGO juga dapat diindikasikan untuk diabetes pada kehamilan (diabetes gestasional). Banyak di
antara ibu-ibu yang sebelum hamil tidak menunjukkan gejala, tetapi menderita gangguan
metabolisme glukosa pada waktu hamil. Penting untuk menyelidiki dengan teliti metabolisme
glukosa pada waktu hamil yang menunjukkan glukosuria berulangkali, dan juga pada wanita
hamil dengan riwayat keluarga diabetes, riwayat meninggalnya janin pada kehamilan, atau
riwayat melahirkan bayi dengan berat lahir > 4 kg. Skrining diabetes hamil sebaiknya dilakukan
pada umur kehamilan antara 26-32 minggu. Pada mereka dengan risiko tinggi dianjurkan untuk
dilakukan skrining lebih awal.
Prosedur
Selama 3 hari sebelum tes dilakukan penderita harus mengkonsumsi sekitar 150 gram
karbohidrat setiap hari. Terapi obat yang dapat mempengaruhi hasil laboratorium harus
dihentikan hingga tes dilaksanakan. Beberapa jenis obat yang dapat mempengaruhi hasil
laboratorium adalah insulin, kortikosteroid (kortison), kontrasepsi oral, estrogen, anticonvulsant,
diuretik, tiazid, salisilat, asam askorbat. Selain itu penderita juga tidak boleh minum alkohol.
Kekurangan karbohidrat, tidak ada aktifitas atau tirah baring dapat mengganggu toleransi
glukosa. Karena itu TTGO tidak boleh dilakukan pada penderita yang sedang sakit, sedang
dirawat baring atau yang tidak boleh turun dari tempat tidur, atau orang yang dengan diit yang
tidak mencukupi.
Protokol urutan pengambilan darah berbeda-beda; kebanyakan pengambilan darah setelah puasa,
dan setelah 1 dan 2 jam. Ada beberapa yang mengambil darah jam ke-3, sedangkan yang lainnya
lagi mengambil darah pada ½ jam dan 1½ jam setelah pemberian glukosa. Yang akan diuraikan
di sini adalah pengambilan darah pada waktu ½ jam, 1 jam, 1½ jam, dan 2 jam.
Sebelum dilakukan tes, penderita harus berpuasa selama 12 jam. Pengambilan sampel darah
dilakukan sebagai berikut :
a. Pagi hari setelah puasa, penderita diambil darah vena 3-5 ml untuk uji glukosa darah puasa.
Penderita mengosongkan kandung kemihnya dan mengumpulkan sampel urinenya.

b.Penderita diberikan minum glukosa 75 gram yang dilarutkan dalam segelas air (250ml). Lebih
baik jika dibumbui dengan perasa, misalnya dengan limun.
c.Pada waktu ½ jam, 1 jam, 1½ jam, dan 2 jam, penderita diambil darah untuk pemeriksaan
glukosa. Pada waktu 1 jam dan 2 jam penderita mengosongkan kandung kemihnya dan
mengumpulkan sampel urinenya secara terpisah.
Selama TTGO dilakukan, penderita tidak boleh minum kopi, teh, makan permen, merokok,
berjalan-jalan, atau melakukan aktifitas fisik yang berat. Minum air putih yang tidak
mengandung gula masih diperkenankan.
Nilai Rujukan
Puasa : 70 – 110 mg/dl (3.9 – 6.1 mmol/L)
½ jam : 110 – 170 mg/dl (6.1 – 9.4 mmol/L)
1 jam : 120 – 170 mg/dl (6.7 – 9.4 mmol/L)
1½ jam : 100 – 140 mg/dl (5.6 – 7.8 mmol/L)
2 jam : 70 – 120 mg/dl (3.9 – 6.7 mmol/L)
Interpretasi
o

Toleransi glukosa normal

Setelah pemberian glukosa, kadar glukosa darah meningkat dan mencapai puncaknya pada waktu
1 jam, kemudian turun ke kadar 2 jam yang besarnya di bawah 126 mg/dl (7.0 mmol/L). Tidak
ada glukosuria.
Gambaran yang diberikan di sini adalah untuk darah vena. Jika digunakan darah kapiler, kadar
puasa lebih tinggi 5.4 mg/dl (0.3 mmol/L), kadar puncak lebih tinggi 19.8 – 30.6 mg/dl (1.1 – 1.7
mmol/L), dan kadar 2 jam lebih tinggi 10.8 – 19.8 mg/dl (0.6 – 1.1 mmol/L). Untuk plasma vena
kadar ini lebih tinggi sekitar 18 mg/dl (1 mmol/L).
o

Toleransi glukosa melemah

Pada toleransi glukosa yang melemah, kurva glukosa darah terlihat meningkat dan memanjang.
Pada diabetes mellitus, kadar glukosa darah di atas 126 mg/dl (7.0 mmol/L); jika tak begitu
meningkat, diabetes bisa didiagnosis bila kadar antara dan kadar 2 jam di atas 180 mg/dl (10
mmol/L). Toleransi glukosa melemah ringan (tak sebanyak diabetes) jika kadar glukosa puasa
dibawah 126 mg/dl (7.0 mmol/L), kadar antara di bawah 180 mg/dl (10 mmol/L), dan kadar 2
jam antara 126-180 mg/dl (7.0-10.0 mmol/L). Terdapat glukosuria, walaupun tak selalu ada
dalam sampel puasa.
Pada diabetes gestasional, glukosa puasa normal, glukosa 1 jam 165 mg/dl (9.2 mmol/L), dan
glukosa 2 jam 145 mg/dl (8.0 mmol/L).

Pada banyak kasus diabetes, tidak ada puncak 1 jam karena kadar glukosa darah meningkat pada
keseluruhan waktu tes. Kurva diabetik dari jenis yang sama dijumpai pada penyakit Cushing
yang berat.
Toleransi glukosa yang lemah didapatkan pada obesitas (kegemukan), kehamilan lanjut (atau
karena kontrasepsi hormonal), infeksi yang berat (terutama staphylococci, sindrom Cushing,
sindrom Conn, akromegali, tirotoksikosis, kerusakan hepar yang luas, keracunan menahun,
penyakit ginjal kronik, pada usia lanjut, dan pada diabetes mellitus yang ringan atau baru mulai.
Tes toleransi glukosa yang ditambah dengan steroid dapat membantu mendeteksi diabetes yang
baru mulai. Pada pagi dini sebelum TTGO dilaksanakan, penderita diberikan 100 mg kortison,
maka glukosa darah pada 2 jam bisa meningkat di atas 138.8 mg/dl (7.7 mmol/L) pada orangorang yang memiliki potensi menderita diabetes.
o

Penyimpanan glukosa yang lambat

Kadar glukosa darah puasa normal. Terdapat peningkatan glukosa darah yang curam. Kadar
puncak dijumpai pada waktu ½ jam di atas 180 mg/dl (10 mmol/L). Kemudian kadar menurun
tajam dan tingkatan hipoglikemia dicapai sebelum waktu 2 jam. Terdapat kelambatan dalam
memulai homeostasis normal, terutama penyimpanan glukosa sebagai glikogen. Biasanya
ditemukan glukosuria transien.
Kurva seperti ini dijumpai pada penyakit hepar tertentu yang berat dan kadang-kadang para
tirotoksikosis, tetapi lebih lazim terlihat karena absorbsi yang cepat setelah gastrektomi,
gastroenterostomi, atau vagotomi. Kadang-kadang dapat dijumpai pada orang yang normal.
o

Toleransi glukosa meningkat

Kadar glukosa puasa normal atau rendah, dan pada keseluruhan waktu tes kadarnya tidak
bervariasi lebih dari ± 180 mg/dl (1.0 mmol/L). Kurva ini bisa terlihat pada penderita miksedema
(yang mengurangi absorbsi karbohidrat) atau yang menderita antagonis insulin seperti pada
penyakit Addison dan hipopituarisme. Tidak ada glukosuria. Kurva yang rata juga sering
dijumpai pada penyakit seliak. Pada glukosuria renal, kurva toleransi glukosa bisa rata atau
ormal tergantung pada kecepatan hilangnya glukosa melalui urine.
Faktor yang Dapat Mempengaruhi Hasil laboratorium
a. Penggunaan obat-obatan tertentu
b. Stress (fisik, emosional), demam, infeksi, trauma, tirah baring, obesitas dapat
meningkatkan kadar glukosa darah.
c. Aktifitas berlebihan dan muntah dapat menurunkan kadar glukosa darah. Obat
hipoglikemik dapat menurunkan kadar glukosa darah.
d. Usia. Orang lansia memiliki kadar glukosa darah yang lebih tinggi. Sekresi insulin
menurun karena proses penuaan.
Glukosa tes toleransi dapat menyebabkan salah diagnosis sebagai berikut:

Respon normal: Seseorang dikatakan memiliki respon normal ketika tingkat glukosa 2
jam kurang dari 140 mg / dl, dan semua nilai antara 0 dan 2 jam kurang dari 200 mg / dl.
b. Gangguan toleransi glukosa: Seseorang dikatakan memiliki toleransi glukosa terganggu
ketika glukosa plasma puasa kurang dari 126 mg / dl dan kadar glukosa 2 jam adalah
antara 140 dan 199 mg / dl.
c. Diabetes: Seseorang memiliki diabetes ketika dua tes diagnostik dilakukan pada hari
yang berbeda menunjukkan bahwa tingkat glukosa darah tinggi.
d. Gestational diabetes: Seorang wanita memiliki gestational diabetes ketika dia
mempunyai dua dari berikut: a OGTT 100g, glukosa plasma puasa lebih dari 95 mg / dl,
1 jam glukosa tingkat lebih dari 180 mg / dl, 2 - jam glukosa tingkat lebih dari 155 mg /
dl, atau 3-jam kadar glukosa lebih dari 140 mg / dl.
a.

Untuk Dx DM: pemeriksaan glukosa darah/hiperglikemia (puasa, 2 jam setelah makan/post
prandial/PP) dan setelah pemberian glukosa per-oral (TTGO).
Antibodi untuk petanda (marker) adanya proses autoimun pada sel beta adalah islet cell
cytoplasmic antibodies (ICA), insulin autoantibodies (IAA), dan antibodi terhadap glutamic acid
decarboxylase (anti-GAD). ICA bereaksi dengan antigen yang ada di sitoplasma sel-sel endokrin
pada pulau-pulau pankreas. ICA ini menunjukkan adanya kerusakan sel. Adanya ICA dan IAA
menunjukkan risiko tinggi berkembangnya penyakit ke arah diabetes tipe 1. GAD adalah enzim
yang dibutuhkan untuk memproduksi neurotransmiter g-aminobutyric acid (GABA). Anti GAD
ini bisa teridentifikasi 10 tahun sebelum onset klinis terjadi. Jadi, 3 petanda ini bisa digunakan
sebagai uji saring sebelum gejala DM muncul.
Untuk membedakan tipe 1 dengan tipe 2 digunakan pemeriksaan C-peptide. Konsentrasi Cpeptide merupakan indikator yang baik untuk fungsi sel beta, juga bisa digunakan untuk
memonitor respons individual setelah operasi pankreas. Konsentrasi C-peptida akan meningkat
pada transplantasi pankreas atau transplantasi sel-sel pulau pankreas.
Sampling untuk Pemeriksaan Kadar Gula Darah
Untuk glukosa darah puasa, pasien harus berpuasa 6--12 jam sebelum diambil darahnya. Setelah
diambil darahnya, penderita diminta makan makanan seperti yang biasa dia makan/minum
glukosa per oral (75 gr ) untuk TTGO, dan harus dihabiskan dalam waktu 15--20 menit. Dua jam
kemudian diambil darahnya untuk pemeriksaan glukosa 2 jam PP.
Darah disentrifugasi untuk mendapatkan serumnya, kemudian diperiksa kadar glukosanya. Bila
pemeriksaan tidak langsung dilakukan (ada penundaan waktu), darah dari penderita bisa
ditambah dengan antiglikolitik (gliseraldehida, fluoride, dan iodoasetat) untuk menghindari
terjadinya glukosa darah yang rendah palsu.2,8,9 Ini sangat penting untuk diketahui karena
kesalahan pada fase ini dapat menyebabkan hasil pemeriksaan gula darah tidak sesuai dengan
sebenarnya, dan akan menyebabkan kesalahan dalam penatalaksanaan penderita DM.
Metode Pemeriksaan Kadar Glukosa

Metode pemeriksaan gula darah meliputi metode reduksi, enzimatik, dan lainnya. Yang paling
sering dilakukan adalah metode enzimatik, yaitu metode glukosa oksidase (GOD) dan metode
heksokinase.
Metode GOD banyak digunakan saat ini. Akurasi dan presisi yang baik (karena enzim GOD
spesifik untuk reaksi pertama), tapi reaksi kedua rawan interferen (tak spesifik). Interferen yang
bisa mengganggu antara lain bilirubin, asam urat, dan asam askorbat.
Metode heksokinase juga banyak digunakan. Metode ini memiliki akurasi dan presisi yang
sangat baik dan merupakan metode referens, karena enzim yang digunakan spesifik untuk
glukosa.8 Untuk mendiagosa DM, digunakan kriteria dari konsensus Perkumpulan
Endokrinologi Indonesia tahun 1998 (PERKENI 1998)
Pemeriksaan untuk Pemantauan Pengelolaan DM
Yang digunakan adalah kadar glukosa darah puasa, 2 jam PP, dan pemeriksaan glycated
hemoglobin, khususnya HbA1C, serta pemeriksaan fruktosamin.2,3,4,7,10 Pemeriksaan
fruktosamin saat ini jarang dilakukan karena pemeriksaan ini memerlukan prosedur yang
memakan waktu lama.7 Pemeriksaan lain yang bisa dilakukan ialah urinalisa rutin. Pemeriksaan
ini bisa dilakukan sebagai self-assessment untuk memantau terkontrolnya glukosa melalui
reduksi urin.
Pemeriksaan HbA1C
HbA1C adalah komponen Hb yang terbentuk dari reaksi non-enzimatik antara glukosa dengan N
terminal valin rantai b Hb A dengan ikatan Almidin. Produk yang dihasilkan ini diubah melalui
proses Amadori menjadi ketoamin yang stabil dan ireversibel.7,10,11 Metode pemeriksaan
HbA1C: ion-exchange chromatography, HPLC (high performance liquid chromatography),
Electroforesis, Immunoassay, Affinity chromatography, dan analisis kimiawi dengan kolorimetri.
Metode Ion Exchange Chromatography: harus dikontrol perubahan suhu reagen dan kolom,
kekuatan ion, dan pH dari bufer. Interferens yang mengganggu adalah adanya HbS dan HbC
yang bisa memberikan hasil negatif palsu.
Metode HPLC: prinsip sama dengan ion exchange chromatography, bisa diotomatisasi, serta
memiliki akurasi dan presisi yang baik sekali. Metode ini juga direkomendasikan menjadi
metode referensi.
Metode agar gel elektroforesis: hasilnya berkorelasi baik dengan HPLC, tetapi presisinya kurang
dibanding HPLC. Hb F memberikan hasil positif palsu, tetapi kekuatan ion, pH, suhu, HbS, dan
HbC tidak banyak berpengaruh pada metode ini.
Metode Immunoassay (EIA): hanya mengukur HbA1C, tidak mengukur HbA1C yang labil
maupun HbA1A dan HbA1B, mempunyai presisi yang baik.

Metode Affinity Chromatography: non-glycated hemoglobin serta bentuk labil dari HbA1C tidak
mengganggu penentuan glycated hemoglobin, tak dipengaruhi suhu. Presisi baik. HbF, HbS,
ataupun HbC hanya sedikit mempengaruhi metode ini, tetapi metode ini mengukur keseluruhan
glycated hemoglobin, sehingga hasil pengukuran dengan metode ini lebih tinggi dari metode
HPLC.
Metode Kolorimetri: waktu inkubasi lama (2 jam), lebih spesifik karena tidak dipengaruhi nonglycosylated ataupun glycosylated labil. Kerugiannya waktu lama, sampel besar, dan satuan
pengukuran yang kurang dikenal oleh klinisi, yaitu m mol/L.
Interpertasi Hasil Pemeriksaan HbA1C
HbA1C akan meningkat secara signifikan bila glukosa darah meningkat. Karena itu, HbA1C bisa
digunakan untuk melihat kualitas kontrol glukosa darah pada penderita DM (glukosa darah tak
terkontrol, terjadi peningkatan HbA1C-nya ) sejak 3 bulan lalu (umur eritrosit). HbA1C
meningkat: pemberian Tx lebih intensif untuk menghindari komplikasi.
Nilai yang dianjurkan PERKENI untuk HbA1C (terkontrol): 4%-5,9%.4 Jadi, HbA1C penting
untuk melihat apakah penatalaksanaan sudah adekuat atau belum.1,18 Sebaiknya, penentuan
HbA1C ini dilakukan secara rutin tiap 3 bulan sekali.
Pemeriksaan untuk Memantau Komplikasi DM
Komplikasi spesifik DM: aterosklerosis, nefropati, neuropati, dan retinopati. Pemeriksaan
laboratorium bisa dilakukan untuk memprediksi beberapa dari komplikasi spesifik tersebut,
misalnya untuk memprediksi nefropati dan gangguan aterosklerosis.
a. Pemeriksaan Mikroalbuminuria
Pemeriksaan untuk memantau komplikasi nefropati: mikroalbuminuria serta heparan sulfat urine
(pemeriksaan ini jarang dilakukan). Pemeriksaan lainnya yang rutin adalah pemeriksaan serum
ureum dan kreatinin untuk melihat fungsi ginjal.
Mikroalbuminuria: ekskresi albumin di urin sebesar 30-300 mg/24 jam atau sebesar 20-200
mg/menit.2,3,6,14 Mikroalbuminuria ini dapat berkembang menjadi makroalbuminuria. Sekali
makroalbuminuria terjadi maka akan terjadi penurunan yang menetap dari fungsi ginjal. Kontrol
DM yang ketat dapat memperbaiki mikroalbuminuria pada beberapa pasien, sehingga perjalanan
menuju ke nefropati bisa diperlambat.3,4,6 Pengukuran mikroalbuminuria secara semikuantitatif
dengan menggunakan strip atau tes latex agglutination inhibition, tetapi untuk memonitor pasien
tes-tes ini kurang akurat sehingga jarang digunakan. Yang sering adalah cara kuantitatif: metode
Radial Immunodiffusion (RID), Radio Immunoassay (RIA), Enzym-linked Immunosorbent assay
(ELISA), dan Immunoturbidimetry. Metode kuantitatif memiliki presisi, sensitivitas, dan range
yang mirip, serta semuanya menggunakan antibodi terhadap human albumin.2,6,12,14 Sampel
yang digunakan untuk pengukuran ini adalah sampel urine 24 jam.
Interpretasi Hasil Pemeriksaan Mikroalbuminuria

Menurut Schrier et al (1996), ada 3 kategori albuminuria, yaitu albuminuria normal (<20
mg/menit), mikroalbuminuria (20--200 mg/menit), Overt Albuminuria (>200 mg/menit).2,17
Pemeriksaan albuminuria sebaiknya dilakukan minimal 1 X per tahun pada semua penderita DM
usia > 12 tahun.
b. Pemeriksaan untuk Komplikasi Aterosklerosis
Pemeriksaan untuk memantau komplikasi aterosklerosis ini ialah profil lipid, yaitu kolesterol
total, low density lipoprotein cholesterol (LDL-C), high density lipoprotein cholesterol (HDL-C),
dan trigliserida serum, serta mikroalbuminuria. Pada pemeriksaan profil lipid ini, penderita
diminta berpuasa sedikitnya 12 jam (karena jika tidak puasa, trigliserida > 2 jam dan mencapai
puncaknya 6 jam setelah makan).21
c. Pemeriksaan untuk Komplikasi Lainnya
Pemeriksaan lainnya untuk melihat komplikasi darah dan analisa rutin. Pemeriksaan ini bisa
untuk melihat adanya infeksi yang mungkin timbul pada penderita DM.
Untuk pemeriksaan laboratorium infeksi, sering dibutuhkan kultur (pembiakan), misalnya kultur
darah, kultur urine, atau lainnya. Pemeriksaan lain yang juga seringkali dibutuhkan adalah
pemeriksaan kadar insulin puasa dan 2 jam PP untuk melihat apakah ada kelainan insulin darah
atau tidak. Kadang-kadang juga dibutuhkan pemeriksaan lain untuk melihat gejala komplikasi
dari DM, misalnya adanya gangguan keseimbangan elektrolit dan asidosis/alkalosis metabolik
maka perlu dilakukan pemeriksaan elektrolit dan analisa gas darah. Pada keadaan ketoasidosis
juga dibutuhkan adanya pemeriksaan keton bodies, misalnya aceton/keton di urine, kadar asam
laktat darah, kadar beta hidroksi butarat dalam darah, dan lain-lainnya. Selain itu, mungkin untuk
penelitian masih dilakukan pemeriksaan biomolekuler, misalnya HLA (Human Lymphocyte
Antigen) serta pemeriksaan genetik lain.
Reduksi Urine
Pemeriksaan reduksi urine merupakan bagian daripemeriksaan urine rutin yang selalu dilakukan
diklinik. Hasil yang (+) menunjukkan adanyaglukosuria. Beberapa hal yang perlu diingat
darihasil pemeriksaan reduksi urine adalah 5 Digunakan pada pemeriksaan pertama sekali untuk
tes skrining, bukan untuk menegakkan diagnosis






Nilai (+) sampai (++++)
Jika reduksi (+): masih mungkin oleh sebab lain, seperti: renal glukosuria, obat-obatan, dan
lainny
Reduksi (++) � kemungkinan KGD: 200 – 300 mg%
)Reduksi (+++)� kemungkinan KGD: 300 – 400 mg%
)Reduksi (++++)� kemungkinan KGD: � 400 mg%
Dapat digunakan untuk kontrol hasil pengobatan
Bila ada gangguan fungsi ginjal, tidak bisa dijadikan pedoman

Menjelaskan faktor penyulit diabetes melitus
Dalam perjalanan penyakit DM, dapat terjadi penyulit akut dan menahun.
Penyulit akut
o Ketoasidosis diabetik
o Hiperosmolar non ketotik
o Hipoglikemia
Hipoglikemia terjadi terutama pada usia lanjut yang harus dihindari, karena mengingat
konsekuensinya yang harus dihindari, yang dapat fatal atau menyebabkan kemunduran mental
bermakna pada pasien.
Gejala hipoglikemia terdiri dari gejala adrenergik (berdebar, banyak keringat, gemetar, rasa
lapar.)dan gejala neuroglikopenik (pusing, gelisah, kesadaran menurun sampai koma).
Penyulit Menahun
1. Makroangiopati
o Pembuluh darah jantung
o Pembuluh darah tepi
o Pembuluh darah otak
2. Mikroangiopati
o Pembuluh darah kapiler retina mata
o Pembuluh darah kapiler ginjal.
3. Neuropati

Memahami dan menjelaskan penatalaksanaan Diabetes melitus
Menjelaskan asupan gizi pada pasien dibetes melitus

Terapi gizi medis merupakan salah satu terapi non farmakologis yang sangat
direkomendasikan bagi pasien ddiabetes, Terapi gizi medis ini pada pronsipnya adalah
melakukan pengaturan pola makan yang didasarkan pada stasus gizi medis diabetesi dan
melakukan modifikasi diet berdasarkan kebutuhan individual.
Beberapa manfaat yang telah terbukti dari terapi gizi medis ini antara lain: Menurunkan
berat badan, Menurunkan tekanan sistolik dan diastolik, Menurunkan kadar glukosa darah,
Memperbaiki profil lipid, Meningkatkan sensitivitas reseptor insulin, Memperbaiki sistem
koagulsi darah.
Tujuan Terapi Gizi Medis
Tujuan terapi gizi medis ini adlah untuk mencapai dan mempertahankan:
o Kadar glukosa darah mendekati normal
o Glukosa puasa berkisar 90-130 mg/dl.
o Glukosa darah 2 jam setelah makan <180 mg/dl.
o Kadar A1c <7%.
o Tekanan darah <130/80 mmHg.
o Profil Lipid
o Kolesterol LDL<100 mg/dl
o Kolesterol HDL >40 mg/dl.
o Trigliserida < 150 mg/dl.
o Beran badan senormal mungkin.

Jenis Bahan Makanan
KARBOHIDRAT
Sebagai sumber energi, KH yang diberikan diabetisi tidak boleh lebih dar 55-65% dari
total kebutuhan energi sehari, atau tidak boleh lebih dari 70% jika dikombinasikan dengan
pemberian asam lemak tidak jenuh rantai tunggal (MUFA: monounsaturated fatty acids). Pada
setiap gram karbohidrat terdapat kandungan energi sebesar 4kilokalori.
Rekomendasi karbohidrat :
o Kandungan total kalori pada makanan yang mengandung KH, lebih ditentukan oleh
jumlahnya dibandungkan dengan jenis KH itu sendiri.
o Dari total kebutuhan kalori perhari, 60-70% diantaranya berasal dari sumber KH.
o Jika ditambah MUFA sebagai sumber energi, maka jumlah KH maksimal 70% dari total
kebutuhan kalori perhari.
o Julah serat 25-50 gram per hari.
o Jumlah sukrosa sebagai sumber energi tidak perlu dibatasi, namun jangan sampai lebih dari
total kebutuhan kalori perhari.
o Sebagai pemanis dapat digunakan pmanis non kalori seperti sakarin, aspartame, acesulfame,
dan sukralosa.
o Penggunaan alkohol harus dibatasi tidak boleh lebih dar10 gram/hari.
o Fruktosa tidak boleh lebih dari 60 gram/hari.
o Makanan yang mengandung sukrosa tidak perlu dibatasi.
PROTEIN
Jumlah kebutuhan protein yang direkomendasikan sekitar 10-15% dari total kalori
perhari. Pada penderita kelainan ginjal dimana diperlukan pembatasan asupan protein sampai 40
gram perhari, maka perlu ditambahkan suplementasi asam amino esensial. Protein mengandung
energi sebesar 2 kilokalori/gram.
Rekomendasi pemberian protein:
o Kebutuhan protein 15-20% dari total kebutuhan energi perhari.
o Pada keadaan kadar glukosa yang terkontrol, asupan protein tidak akan mempengaruhi
konsentrasi glukosa darah.
o Pada keadaan glukosa tidak terkontrol, pemberian protein sekitar 0,8-1,0 mg/kg BB/hari.
o Pada gangguan fungsi ginjal, asupan protein diturunkan sampai 0,85 gram/KgBB/hari dan
tidak kurang dari 40gram.
o Jika terdapat komplikasi kardiovaskular, maka sumber protein nabati lebih dianjurkan
dibanding protein hewani.

LEMAK
Lemak memiliki kandungan energi sebesar 9 kilokalori/gram. Bahan makanan ini sangat
penting untuk membawa vitamin yang larut dalam lemak seperti vitami A, D, E, K. Berdasarkan
rantai karbonnya , lemak dibedakan menjadi lemak jenuh dan tidak jenuh. Pembatasan asupan
lemak jenuh dan kolestrol sangat disarankan pada diabetisi karena terbukti dapat memperbaiki
profil lipid tidak normal bagi pasien diabetes. Asam lemak tidak jenuh rantai tunggal
(monounsaturated fatty acid : MUFA), merupakan salah satu asam lemak yang dapat
memperbaiki glukosa darah dan profil lipid. Pemberian MUFA pada diet diabetisi, dapat
menurunkan kadar trigliserida, kolestrol total, kolestrol VLDL, dan meningkatkan kadar
kolestrol HDL. Sedangkan asam lemak tidak jenuh rantai panjang (polyunsaturated fatty acid=
PUFA) dapat melindungi jantung, menurunkan kadar trigliserida, memperbaiki agregasi
trombosit. PUFA mengandung asam lemak omega 3 yang dapat menurunkan sintesis VLDL di
dalam hati dan eningkatkan aktivitas enzyme lipoprotein lipase yang dapat menurunkan kadar
VLDL di jarngan perifer. Sehingga dapat menurunkan kadar kolestrol LDL.
Rekomendasi Pemberian Lemak:
o Batasi konsumsi makanan yang mengandung lemak jenuh, jumlah maksimal 10% dari total
kebutuhan kalori per hari.
o Jika kadar kolestrol LDL ≥ 100 mg/dl, asupan asam lemak jenuh diturunkan sampai
maksimal 7% dari total kalori perhari.
o Konsumsi kolestrol maksimal 300mg/hari, jika ada kolestrol LDL ≥ 100 mg/dl, maka
maksimal kolestrol yang dapat dikonsumsi 200 mg per hari.
o Batasi asam lemak bentuk trans.
o Konsumsi ikan seminggu 2-3 kali untuk mencukupi kebutuhan asam lemak tidak jenuh rantai
panjang.
o Asupan asam lemak tidak jenuh rantai panjang maksimal 10% dari asupan kalori perhari.
Penghitungan Jumlah Kalori
Perhitungan julah kalori ditentukan oleh stasus gizi, umur, ada tidaknya stress akut, dan kegiatan
jasmani. Penetuan stasu s gizi dapat dipakai indeks massa tubuh (IMT) atau rumus Brocca.
Penentuan stasus gizi berdasarkan IMT
IMT dihitung berdasarkan pembagian berat badan (dalam kilogram) dibagi dengat tinggi
badan (dalam meter) kuadrat.
o Berat badan kurang <18,5
o Berat badan normal 18,5-22,9
o Berat badan lebih ≥ 23,0
o Dengan resiko 23-24.9
o Obes I 25-29,9

o Obes II ≥ 30
Penentuan stasus gizi berdasarkan rumus Brocca
Pertama-tama dilakukan perhitungan berat badan idaman berdasarkan rumus:
berat badan idaman (BBI kg) = (TB cm - 100) -10%.
Penetuan stasus gizi dihitung dari : (BB aktual : BB idaman) x 100%
o Berat badan kurang BB <90% BBI
o Berat badan normal BB 90-110% BBI
o Berat badan lebih BB 110-120% BBI
o Gemuk
BB>120% BBI
Untuk kepentingan praktis dalam praktek digunakan rumus Brocca.
Penentuan kebutuhan kalori perhari:
1. Kebutuhan basal:
o Laki-laki : BB idaman (Kg) x 30 kalor
o Wanita : BB idaman (Kg) x 25 kalori
2. Koreksi atau penyesuaian:
o Umur diatas 40 tahun
o Aktivitas ringan
o Aktifitas sedang
o Aktifitas berat
o Berat badan gemuk
o Berat badan lebih
o Berat badan kurus

: -5%
: +10%
: +20%
: +30%
: -20%
: -10%
: +10%

3. Stress metabolik

: +10-30%

4. Kehamilan trimester I dan II

: +300 kalori

5. Kehamilan trimester II dan menyusui : +500 kalori
Makanan tersebut dibagi dalam 3 porsi besar untuk makan pagi (20%), makan siang
(25%), serta 2-3 porsi ringan (10-15%) di antara makan besar. Pengaturan makan ini tidak
berbeda dengan orang normal, kecuali dengan pengaturan jadwal makan dan jumlah kalori.
Usahakan untuk merubah pola makan ini secara bertahap sesuai kondisi dan kebiasaan penderita.
Menjelaskan farmakoterapi diabetes melitus

GOLONGAN SULFONILUREA
MEKANISME KERJA.
Golongan obat ini sering disebut sebagai insulin secretstogues, kerjanya merangsang
sekresi insulin dari granul sel-sel β Langerhans pancreas. Rangsangannya melalui interaksinya
dengan ATP-sensitive K channel pada membrane sel-sel β yang menimbulkan depolarisasi
membrane dan keadaan ini akan membuka kanal Ca. dengan terbukanya kanal Ca maka ion Ca ++
akan masuk sel-sel β, merangsang granula yang berisi insulin dan akan terjadi sekresi insulin
dengan jumlah yang ekuivalen dengan peptida C. kecuali itu sulfonylurea dapat mengurangi
klirens insulin di hepar.
Pada penggunaan jangka panjang atau dosis yang besar dapat menyebabkan
hipoglikemia.
FARMAKOKINETIK.
Berbagai sulfonylurea mempunyai sifat kinetic berbeda, tetapi absorpsi melalui saluran
cerna cukup efektif. Makanan dan keadaan hiperglikemia dapat mengurangi absorpsi. Untuk
mencapai kadar optimal di plasma, sulfonylurea dengan masa paruh pendek akan lebih efektif
bila diminum 30 menit sebelum makan. Dalam plasma sekitar 90%-99% terikat protein plasma
terutama albumin; ikatan ini paling kecil untuk klorpropamid dan paling besar untuk gliburid.
Masa paruh dan metabolisme sulfonylurea generasi I sangat bervariasi. Masa paruh
asetoheksamin pendek tetapi metabolit aktifnya, 1-hidroksiheksamid masa paruhnya lebih
panjang, sekitar 4-5 jam, sama dengan tolbutamid dan tolazamid. Sebaiknya sediaaan ini
diberikan dengan dosis terbagi. Sekitar 10% dari metabolitnya diekskresi melalui empedu dan
keluar bersama tinja.
Klorpropamid dalam darah terikat albumin, masa paruhnya panjang, 24-48 jam, efeknya
masih terlihat beberapa hari setelah obet dihentikan. Metabolismenya di hepar tidak lengkap,
20% diekskresi utuh di urin.
Mula kerja tolbutamid cepat, masa paruhnya sekitar 4-7 jam. Dalam darah sekitar 9196% tolbutamid terikat protein plasma, dan di hepar di ubah menjadi karboksitolbutamid.
Ekskresinya melalui ginjal.
Tolazamid, absorpsinya lebih lambat dari yang lain; efeknya pada glukosa darah belum
nyata untuk beberapa jam setelah obat diberikan. Masa paruh sekitar 7 jam, di hepar di ubah
menjadi p-karboksitolazamid, 4-hidroksimetitolazamid dan senyawa lain, yang diantaranya
memiliki sifat hipoglikemik cukup kuat.
Sulfonilurea generasi II, umumnya potensi hipoglikemiknya hampir 100 kali lebih besar
dari generasi I. Meski masa paruhnya pendek, hanya sekitar 3-5 jam, efek hipoglikemiknya
berlangsung 12-24 jam, sering cukup diberikan 1 kali sehari. Alasan mengapa masa paruh yang
pendek ini, memberikan efek hipoglikemik panjang, belum diketahui.
Glibizid, absorpsinya lengkap, masa paruhnya 3-4 jam. Dalam darah 98% terikat protein
plasma, potensinya 100 kali lebih kuat dari tolbutamid, tetapi efek hipoglikemik maksimalnya
mirip dengan sulfonilurea lain, metabolismenya di hepar, menjadi metabolit yang tidak aktif,
sekitar 10% diekskresi melalui ginjal dalam keadaan utuh.
Gliburid (glibenklamid) potensinya 200 x lebih kuat dari tolbutamid, masa paruhnya
sekitar 4 jam. Metabolismrnya di ahepar, pada pemberian dosis tunggal hanya 25% metabolitnya
diekskresi melalui urun, sisanya melalui empedu. Pada penggunaan dapat terjadi kegagalan
primer dan sekunder, dengan seluruh kegagalan kira-kira 21% selama 1,5 tahun.

Karena semua sulfonilurea di metabolisme di hepar dan diekskresi melalui ginjal, sediaan
ini tidak boleh diberikan pada pasien gangguan fungsi hepar atau ginjal yang berat.

EFEK SAMPING.
Insidens efek samping generasi I sekitar 4%, insidensnya lebih rendah lagi untuk generasi
II. Hipoglikemia, bahkan sampai koma tentu dapat timbul.reaksi ini lebih sering terjadi pada
pasien usia lanjut dengan gangguan fungsi hepar atau ginjal, terutama yang menggunakan
sediaan dengan masa kerja panjang.
Efek samping lain,, reaksi alergi jarang sekali terjadi, mual, muntah, diare, gejala
hematologi, susunan saraf pusat, mata dan sebagainya.
Gangguan saluran cerna ini dapat berkurang dengan mengurangi dosis, menelan obat
bersama makanan atau membagi obat dalam beberapa dosis. Gejala sususnan saraf pusat berupa
vertigo, bingung, atraksia dan sebagainya. Gejala hematologik al. Leukopenia dan
agranulositosis. Efek samping lain gejala hipotiroidisme, ikterus obstruktuf, yang bersifat
sementara dan lebih sering timbul akibat klorpropamid (0,4%). Berkuarngnya toleransi terhadap
alkohol juga telah dilaporkan pada pemakaian tolbutamid dan klorpropamid.
Hipoglikemia dapat terjadi pada pasien yang tidak mendapat dosis tepat, tidak makan
cukup atau dengan gangguan fungsi hepar dan/atau ginjal. Kecenderungan hipoglikemia pada
orang tua disebabkan oleh mekanisme kompensasi berkurang dan asupan makanan yang
cenderung kurang. Selain itu, hipoglikemia tidak mudah dikenali pada orang tua karena timbul
perlahan tanpa tanda akut (akibat tidak ada refleks simpatis) dan dapat menimbulkan disfungsi
otak sampai koma. Penurunan kecepatan ekskresi klo, propamid dapat meningkatkan
hipoglikemia.
INDIKASI.
Memilih sulfonilurea yang tepat untuk pasien tertentu sangat penting untuk suksesnya
terapi. Yang menentukan bukanlah umur pasien waktu terapi dimulai, tetapi usia pasien waktu
penyakit DM mulai timbul. Pada umumnya hasil yang baik diperoleh pada pasien yang
diabetesnya mulai timbul pada usia diatas 40 tahun. Sebelum menentukan keharusan penggunaan
sulfonilurea, selalu harus dipertimbangkan kemungkinan mengatasi hiperglikemia dengan hanya
mengatur diet serta mengurangi berat badan pasien.
Kegagalan pasien dengan salah satu derivat sulfonilurea, mungkin juga disebabkan oleh
perubahan farmakokinetik obat, misal penghancuran yang terlalu cepat. Obat hasil terapi yang
baik tidak dapat dipertahankan dengan dosis 0.5 g klorpropamid, 0.75 g tolazamid, sebaiknya
dosis jangan ditambah lagi.
Selama terapi, pemeriksaan fisik dan laboratorium harus tetap dilakukan secara teratur.
Pada keadaan yang gawat seperti stres, komplikasi, infeksi dan pembedahan, insulin tetap
merupakan terapi standar.
MEGLITINID
Repaglinid dan nateglinid
Merupakan golongan meglitinid, mekanisme kerjanya sama dengan sulfonilurea tetapi
struktur kimianya sangat berbeda. Golongan ADO ini merangsang insulin dengan menutup kanal
K yang ATP-independent di sel β pankreas.

Pada pemberian oral absorpsinya cepat dan kadar puncaknya dicapai dalam waktu 1 jam.
Masa paruhnya 1 jam, karena harus diberikan beberapa kali sehari, sebelum makan. Metabolisme
utamanya di hepar dan metabolitnya tidak aktif. Sekitar 10% dimetabolisme di ginjal. Pada
pasien dengan gangguan fungsi hepar atau ginjal harus diberikan secara berhati-hati. Efek
samping utamanya hipoglikemia dan gangguan saluran cerna. Reaksi alergi juga pernah
dilaporkan.
BIGUANID
Sebenarnya dikenal 3 golongan ADO dari golongan biguanid : fenformin, buformin, dan
metformin, tetapi yang pertama telah ditarik dari peredaran karena sering menyebabkan asidosis
laktat. Sekarang yang banyak digunakan adalah metformin.
MEKANISME KERJA.
Biguanid tidak menyebabkan rangsangan sekresi insulin dan umumnya tidak
menyebabkan hipoglikemia. Metformin menurunkan produksi glukosa dihepar dan
menungkatkan sensitivitas jaringan otot dan adiposa terhadap insulin. Efek ini terjadi karena
adanya aktivasi kinase di sel (AMP-activated protein kinase). Meski masih kontroversial, adanya
penurunan produksi glukosa hepar, banyak data yang menunjukkan bahwa efeknya terjadi akibat
penurunan glukoneogenesis. Preparat ini tidak mempunyai efek yang berarti pada sekresi
glukagon, kortisol, hormon pertumbuhan, dan somatostatin.
Biguanid tidak merangsang ataupun menghambat perubahan glukosa menjadi lemak.
Pada pasien diabetes yang gemuk, biguanid dapat menurunkan berat badan dengan mekanisme
yang belum jelas pula; pada orang nondiabetik yang gemuk tidak timbul penurunan berat badan
dan kadar glukosa darah.
Metformin oral akan mengalami absorpsi di intestin, dalam darah tidak terikat protein
plasma, ekskresinya melalui urin dalam keadaan utuh. Masa paruhnya sekitar 2 jam.
Dosis awal 2 x 500 mg, umumnya dosis pemeliharaan (maintenance dose) 3 x 500 mg,
dosis maksimal 2,5 g. Obat diminum pada waktu makan. Pasien DM yang tidak memberikan
respon dengan sulfonilurea dapat diatasi dengan metformin, atau dapat pula diberikan sebagai
terapi kombinasi dengan insulin atau sulfonylurea.
EFEK SAMPING.
Hampir 20% pasien dengan metformin mengalami : mual; muntah, diare serta kecap
logam (metalic taste); tetapi dengan menurunkan dosis keluhan-keluhan tersebut segera hilang.
Pada beberapa pasien yang mutlak bergantung insulin eksogen, kadang-kadang biguanid
menimbulkan ketosis yang tidak disertai dengan hiperglikemia (starvation ketosis). Hal ini harus
dibedakan dengan ketosis karena defisiensi insulin.
Pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal atau sistem kardiovaskular, pemberian
biguanid dapat menimbulkan peningkatan kadar asam laktat dalam darah, sehingga hal ini dapat
mengganggu keseimbangan elektrolit dalam cairan tubuh.
INDIKASI.
Sediaan biguanid tidak dapat menggantikan fungsi insulin endogen, dan digunakan pada
terapi diabetes dewasa.
Dari berbagai derivat biguanid, data fenformin yang paling banyak terkumpul tetapi
sediaan ini kini dilarang dipasarkan di Indonesia karena bahaya asidosis laktat yang mungkin

ditimbulkannya. Di Eropa fenformin digantikan dengan metformin yang kerjanya serupa
fenformin tetapi diduga lebih sedikit menyebabkan asidosis laktat. Dosis metformin ialah 1-3
gram sehari dibagi dalam 2 atau 3 kali pemberian.
KONTRA INDIKASI.
Biguanid tidak boleh diberikan pada kehamilan, pasien penyakit hepar berat, penyakit
ginjal dengan uremia dan penyakit jantung kongestif dan penyakit paru dengan hipoksia kronik.
Pada pasien yang akan diberi zat kontras intravena atau yang akan di operasi, pemberian obat ini
sebaiknya dihentikan dahulu. Setelah lebih dari 48 jam, biguanid baru boleh diberikan dengan
catatan fungsi ginjal harus tetap normal. Hal ini untuk mencegah terbentuknya laktat yang
berlebihan dan dapat berakhir fatal akibat asidosis laktat. Insidens asidosis akibat metformin
kurang dari 0.1 kasus per 1000 patient-years, dan mortalitasnyalebih rendah lagi.
GOLONGAN TIAZOLIDINEDION
MEKANISME KERJA.
Tiazolidinedion merupakan agonist potent dan selektif PPARγ, mengaktifkan PPARγ
membentuk kompleks PPARγ-RXR dan terbentuklah GLUT baru. Di jaringan adiposa PPARγ
mengurangi keluarnya asam lemak menuju ke otot, dan karenanya dapat mengurangi resistensi
insulin. Pendapat lain, aktivasi hormon adiposit dan adipokin, yang nampaknya adalah
adiponektin. Senyawa ini dapat meningkatkan sensitivitas insulin melalui peningkatan AMP
kinase yang merangsang transport glukosa ke sel dan meningkatkan oksidasi asam lemak. Jadi
agar obat dapat bekerja harus tersedia insulin.
Selain itu glitazon juga menurunkan produksi glukosa hepar, menurunkan asam lemak
bebas di plasma dan remodeling jaringan adipose.
Pioglitazon dan rosiglitazon dapat menurunkan HBA1c (1,0-1,5%) dan
berkecenderungan meningkatkan HDL, sedang efeknya pada trigliserid dan LDL bervariasi.
Pada pemberian oral absorpsi tidak dipengaruhi makanan, berlangsung ± 2
jam.metabolismenya di hepar, oleh sitokrom P-450 rosiglitazon dimetabolisme oleh isozim 2C8,
sedangkan pioglitazon oleh 2C8 & 3A4. meski demikian, penggunaan rosiglitazon 4 mg 2 x
sehari bersama nifedipin atau kontrasepsi oral (etinil estradiol + noretindron) yang juga
dimetabolisme isozim 3A4 tidak menujukkan efek klinik negatif yang berarti.
Ekskresinya melalui ginjal, keduanyadapat diberikan pada insufisiensi renal, tetapi
dikontraindikasikan pada gangguan fungsi hepar (ALT>2,5 x nilai normal). Meski laporan
hepatotoksik baru ada pada troglitazon, FDA menganjurkan agar pada awal dan setiap 2 bulan
sekali selama 12 bulan pertama penggunaan kedua preparat diatas dianjurkan pemeriksaan tes
fungsi hepar. Penelitian population pharmacokinetic, menunjukkan bahwa usia tidak
mempengaruhi kinetiknya.
Glitazon digunakan untuk DM tipe 2 yang tidak memberi respons dengan diet & latihan
fisik, sebagai monoterapi atau ditambahkan pada mereka yang tidak memberi respons pada obat
hipoglikemik lain (sulfonilurea, metformin) atau insulin.
Dosis awal rosiglitazon 4 mg, bila dalam 3-4 minggu kontrol glisemia belum adekuat,
dosis ditingkatkan 8mg/hari, sedangkan pioglitazon dosis awal 15-30mg bila kontrol glisemia
belum adekuat, dosis dapat ditingkatkan sampai 45 mg. Efek klinis maksimalnya tercapai setelah
penggunaan 6-12 minggu.

EFEK SAMPING.
Efek samping antara lain, peningkatan berat badan, edema, menambah volume plasma
dan memperburuk gagal jantung kongestif. Edema sering terjadi pada penggunaannya bersama
insulin. Kecuali penyakit hepar, tidak dianjurkan pada gagal jantung kelas 3 dan 4 menurut
klasifikasi New York Heart Association. Hipoglikemia pada penggunaan monoterapi jarang
terjadi.
PENGHAMBAT ENZIM α-GLIKOSIDASE
MEKANISME KERJA.
Obat golongan ini dapat memperlambat absorpsi polisakarida (starch), dekstrin, dan
disakarida di intestin. Dengan menghambat kerja enzim α-glikosidase di brush border intestin,
dapat mencegah peningkatan glukosa plasma pada orang normal dan pasien DM.
Karena kerjanya tidak mempengaruhi sekresi insulin, maka tidak akan menyebabkan efek
samping hipoglikemia. Akarbose dapat digunakan sebagai monoterapi pada DM usia lanjut atau
DM yang glukosa postprandialnya sangat tinggi. Di klinik sering digunakan bersama antidiabetik
oral lain dan/atau insulin.
Obat ini diberikan pada waktu mulai makan; dan absorpsi buruk.
Akarbose merupakan oligosakarida yang berasal dari mikroba, dan miglitol suatu derivat deseksi
nojirimisin, secara kompetitif juga menghambat glukoamilase dan sukrase, tetapi efeknya pada
α-amilase pankreas lemah. Kedua preparat dapat menurunkan glukosa plasma postprandial pada
DM tipe 1 & 2, dan pada DM tipe 2 dengan hiperglisemia yang hebat dapat menurunkan HbA1c
secara bermakna. Pada pasien DM dengan hiperglisemia ringan sampai sedang, hanya dapat
mengatasi hiperglisemia sekitar 30%-50% dibandingkan antidiabetik oral lainnya (dinilai dengan
pemeriksaan HbA1c).
EFEK SAMPING.
Efek samping yang bersifat dose-dependent antara lain: malabsorpsi, flatulen, diare, dan
abdominal bloating. Untuk mengurangi efek samping ini sebaiknya dosis dititrasi, mulai dosis
awal 25 mg pada saat mulai makan untuk selama 4-8 minggu sampai dosis maksimal 75mg
setiap tepat sebelum makan. Dosis yang lebih kecil dapat diberikan dengan makanan kecil
(snack).
Akarbose paling efektif bila diberikan bersama makanan yang berserat, mengandung
polisakarida, dengan sedikit kandungan glukosa dan sukrosa. Bila akarbose diberikan bersama
insulin, atau dengan golongan sulfonilurea, dan menimbulkan hipoglikemia, pemberian glukosa
akan lebih baik daripada pemberian sukrose, polisakarida atau maltosa.
OBAT HIPERGLIKEMIK
GLUKAGON
MEKANISME KERJA.
Glukagon menyebabkan glikogenolisis di hepar dengan jalan merangsang enzim
adenilsiklase dalam pembentukan siklik AMP, kemudian siklik AMP ini mengaktifkan
fosforilase, suatu enzim penting untuk glikogenolisis. Efek glukagon ini hanya terbatas pada
hepar saja dan tidak dapat dihambat dengan pemberian adrenoreseptor β.

Glukagon juga meningkatkan glukoneogenesis. Efek ini mungkin sekali disebabkan oleh
menyusutnya simpanan glikogen dalam hepar, karena dengan berkurangnya glikogen dalam
hepar proses deaminasi dan transaminasi menjadi lebih aktif. Dengan meningkatnya proses
tersebut maka pembentukan kalori juga makin besar. Ternyata efek kalorigenik glukagon hanya
dapat timbul bila ada tiroksin dan adrenokortikosteroid.
Sekresi glukagon pankreas meninggi dalam keadaan hipoglikemia dan menurun dalam
keadaan hiperglikemia. Sebagian besar glukagon endigen mengalami metabolisme di hati.
INDIKASI.
Glukagon terutama digunakan pada pengobatan hipoglikemia yang ditimbulkan oleh
insulin. Hormon tersebut dapat diberikan secara IV, IM atau SK dengan dosis 1 mg. Bila dalam
20 menit setelah pemberian glukagon SK pasien koma hipoglikemik tetapi tidak sadar, maka
glukosa IV harus segera diberikan karena mungkin sekali glikogen dalam hepar telah habis atau
telah terjadi kerusakan otak yang menetap.
Glukagon HCl tersedia dalam ampul berisi bubuk 1 dan 10mg.
DIAZOKSID
Obat ini memperlihatkan efek hiperglikemia bila diberikan oral dan efek antihipertensi
bila diberikan IV. Sediaan ini meningkatkan kadar glukosa sesuai besarnya dosis dengan
menghambat langsung sekresi insulin; mungkin juga dengan menghambat penggunaan glukosa
dan perifer dan merangsang langsung sekresi insulin; mungkin juga dengan menghambat
penggunaan glukosa di perifer dan merangsang pembentukan glukosa dalam hepar. Diazoksid
digunakan pada hiperinsulinisme misalnya pada insulinoma atau hipoglikemia yang sensitif
terhadap leusin. Diazoksid 90% terikat plasma protein dalam darah. Masa paruh bentuk oral 2436 jam, tetapi mungkin memanjang pada takar lajak atau pada apsien dengan kerusakan dengan
kerusakan fungsi ginjal. Karena masa paruh yang panjang, diperlukan pengamatan jangka
panjang. Takar lajak dapat menyebabkan hiperglikemia berat, kadang-kadang disertai
ketoasidosis atau koma hiperosmolar tanpa ketosis.
Meskipun diazoksid termasuk golongan tiazid, obat ini meretensi air dan natrium.
Diuretik tiazid meninggikan efek hiperglikemi dan hiperurisemi obat ini. Diazoksid oral
menimbulkan potensiasi efek obat antihipertensi lain, meskipun bila obat ini digunakan sendiri
efeknya tidak kuat. Efek hiperglikemi diazoksid dilawan oleh obat penghambat adrenoreseptor β.
Diazoksid dapat menimbulkan iritasi saluran cerna, trombositopeni dan netropeni. Diazoksid
bersifat teratogenik pada hewan (kelainan kardiovaskular dan tulang), juga menyebabkan
degenerasi sel β pankreas fetus sehingga obat ini tidak boleh diberikan pada wanita hamil.
Dosis pada orang dewasa adalah 3-8 mg/kgBB/hari, sedangkan pada anak kecil 8-15
mg/kgBB/hari. Obat ini diberikan dalam dosis terbagi 2-3 x sehari.

TERAPI INSULIN
KLASIFIKASI INSULIN
Jenis sediaan
Bufer
Kerja cepat
Regular solube
(kristal)
Lispro

Fosfat

Mula kerja

Puncak
(jam)

Masa kerja Kombinasi
(jam)
dengan (jam)

0,1-0,7
0,25

1,5-4
0,5-1,5

5-8
2-5

Semua jenis
lente

Kerja sedang
NPH (isophan)
Lente
Kerja panjang
Protamin zinc
Ultralente
Glargin

Fosfat
Asetat

1-2
1-2

Fosfat asetat 4-6
4-6
2-5

6-12
6-12

18-24
18-24

Regular
Senilente

14-20
16-18
5-24

24-36
20-36
18-24

Regular

INDIKASI dan TUJUAN.
Insulin subkutan terutama diberikan pada DM tipe 1, DM tipe 2 yang tidak dapat diatasi
hanya dengan diet dan atau antidiabetik oral, pasien DM pascapankreaktomi atau DM dengan
kehamilan, DM dengan ketoasidosis, koma nonketosis, atau komplikasi lain, sebelum tindakan
operasi (DM tipe 1 dan 2). Tujuan pemberian insulin pada semua keadaan tersebut bukan saja
untuk menormalkan glukosa darah tetapi juga memperbaiki semua aspek metabolisme, dan yang
terakhir inilah umumnya yang suka dicapai.
Keadaan mendekati normoglisemia dicapai pada DM dengan multipel dosis harian
insulin atau dengan infusion pump therapy, yang tujuannya mencapai glukosa darah puasa antara
90-120 mg/dL (5-6,7 mM), glukosa 2 jam postprandial kurang dari 150 mg/dL (8,3 mM). Pada
pasien yang kurang disiplin atau kurang patuh terhadap terapi, mungkin perlu dicapai nilai
glukosa darah puasa yang lebih tinggi (140 mg/dL atau 7,8 mM) dan postprandial 200 sampai
250 mg/dL atau11,1-13,9 mM.
EFEK SAMPING.
Hipoglikemia, merupakan efek samping paling sering terjadi dan trjadi akibat dosis
insulin yang terlalu besar, tidak tepatnya waktu makan dengan waktu tercapainya kadar puncak
insulin, atau karena adanya faktor yang dapat meningkatkan sensitivitas terhadap insulin, misal
insufisiensi adrenal atau pituitary, ataupun akibat kerja fisik yang berlebihan.
Reaksi alergi dan resistensi, kadang-kadang reaksi ini terjadi akibat adanya bekuan atau
terjadinya denaturasi preparat insulin, atau kontaminan, atau akibat pasien sensitif terhadap
senyawa yang ditambahkan pada proses formulasi preparat insulin (misal: Zn 2+, protamin,
fenol,dll). Reaksi alergi lokal sering terjadi akibat IgE atau resistensi akibat timbulnya antibodi
IgG.
Lipoartrofi dan lipohipertrofi. Lipoartrofi jaringan lemak subkutan ditempat suntikan
dapat timbul akibat variant respon imun terhadap insulin; sedangkan lipohipertrofi dimana terjadi
penumpukan lemak subkutan terjadi akibat efek lipogenik insulin yang kadarnya tinggi pada
daerah tempat suntikan. Hal ini diduga akibat adanya kontaminan dalam preparat insulin, dan
reaksi lebih jarang terjadi pada penggunaan insulin, dan reaksi lebih jarang terjadi pada
penggunaan insulin yang lebih murni. Pada kenyataannya lipohipertrofi lebih sering terjadi
dengan human insulin apabila pasien yang menyuntikan sendiri pada tempat yang sama. Hal ini
dapat disebabkan karena terjadinya absorpsi insulin yang kurang baik atau tidak teratur.
Menjelaskan Kompilikasi Diabetes Melitus
Komplikasi DM:
o Gangguan Integritas Kulit
o Retinopati

o
o
o
o
o
o

Gagal ginjal
Aterosklerosis
Infark miokard
Stroke
Koma
Kematian

Prognosis
Prognosis Diabetes Melitus usia lanjut tergantung pada beberapa hal dan tidak
selamanya buruk, pasien usia lanjut dengan Diabetes Melitus tri II (Diabetes Melitus III)
yang terawat baik prognosisnya baik pada pasien Diabetes Melitus usia lanjut yang jatuh
dalam keadaan koma hipoklikemik atau hiperosmolas, prognosisnya kurang baik.
Hipoklikemik pada pasien usia lanjut biasanya berlangsung lama dan serius dengan
akibat kerusakan otak yang permanen. Karena hiporesmolas adalah komplikasi yang
sering ditemukan pada usia lanjut dan angka kematiannya tinggi.
Pencegahan
Pencegahan Primer
Cara ini adalah cara yang paling sulit karena sasarannya orang sehat. Hal ini dilakukan dengan

tujuan untuk mencegah agar DM tidak terjadi pada orang atau populasi yang rentan (risiko
tinggi), yang dilakukan sebelum timbul tanda-tanda klinis dengan cara :
• Makan seimbang artinya yang dimakan dan yang dikeluarkan seimbang disesuiakan dengan
aktifitas fisik dan kondisi tubuh, dengan menghindari makanan yang mengandung tinggi
lemak karena bisa menyebabkan penyusutan konsumsi energi. Mengkonsusmsi makanan
dengan kandungan karbohidrat yang berserat tinggi dan bukan olahan.
• Meningkatkan kegiatan olah raga yang berpengaruh pada sensitifitas insulin dan menjaga berat
badan agar tetap ideal.
• Kerjasama dan tanggung jawab antara instansi kesehatan, masyarakat, swasta dan pemerintah,
untuk melakukan penyuluhan kepada masyarakat
Pencegahan Sekunder
• Ditujukan pada pendeteksian dini DM serta penanganan segera dan efektif, sehingga
komplikasi dapat dicegah.
• Hal ini dapat dilakukan dengan skrining, untuk menemukan penderita sedini mungkin
terutama individu/populasi.
• Kalaupun ada komplikasi masih reversible / kembali seperti semula.
• Penyuluhan kesehatan secara profesional dengan memberikan materi penyuluhan seperti :
apakah itu DM, bagaimana penatalaksanaan DM, obat-obatan untuk mengontrol glukosa
darah, perencanaan makan, dan olah raga.
Pencegahan Tersier
• Upaya dilakukan untuk semua penderita DM untuk mencegah komplikasi.
• Mencegah progresi dari komplikasi supaya tidak terjadi kegagalan organ.
• Mencegah kecacatan akibat komplikasi yang ditimbulkan.
Strategi yang bisa dilakukan untuk pencegahan DM adalah :
a. Population/Community Approach (Pendekatan Komunitas) :
Mendidik masyarakat menjalankan gaya hidup sehat dengan cara:
• Mengendalikan berat badan, glukosa darah, lipid, tekanan darah, asam urat.
• Menghindari gaya hidup berisiko.
• Kerjasama dengan semua lapisan masyarakat.
b. Individual High Risk Approach (Pendekatan Individu) :






Umur > 40th
Obesitas
Hipertensi
Riwayat keluarga / keturunan
Dislipidemia / timbunan lemak dalam darah yang berlebihan
Riwayat melahirkan > 4 kg
Riwayat DM pada saat kehamilan

5. Memahami dan menjelaskan pola makan dan olahraga yang baik dalam Islam
A. Prinsip
1. Diniatkan bahwa tujuan makan dan minum adalah untuk menambah ketaqwaan
kepada Allah SWT.
2. Makanan dan minuman yang dikonsumsi adalah yang halal dan baik (halalan
thoyyiban) serta bersih.
B. Larangan.
1. Apabila makanan dan minuman dalam keadaan panas, tunggulah sampai dingin dan
jangan ditiup
2. Tidak menggunakan peralatan makanan/ minuman berupa bejana dari emas atau
perak.
3. Jangan makan sambil berdiri.
C. Tata cara makan Rasulullah SAW .
1. Cara/ adab makan:
a. Mencuci (wudhu) tangan terlebih dahulu.
b. Duduk, tidak bersandar pada punggung atau bersila. Cara duduk nabi saw adalah
duduk berlutut, duduk diatas kaki yang kiri dan menegakkan kaki kanannya.
c. Meletakkan makanan di sebelah kanan.
d. Makan bersama keluarga dan mengajak orang banyak, dengan duduk mengitari
makanan.
e. Mengambil makanan yang terdekat.
f. Tidak mencela makanan.
g. Menggunakan tangan kanan.
h. Hanya menggunakan 3 jari: ibu jari, jari telunjuk, dan jari tengah.
i. Membaca bismillah ( ‫ ) بسم ال‬setiap kali memasukkan makanan atau minuman ke
dalam mulut, ; apabila lupa sewaktu teringat bacalah “bismillahi awwallohu wa
aakhirohu”.
j. Menjilati jari-jari tangan atas makanan yang menempel dijari tersebut.
k. Makan ketika terasa lapar dan berhenti sebelum kenyang, prinsipnya ruang
lambung dibagi 3 bagian: yaitu 1/3 air, 1/3 makanan, dan 1/3 udara.
l. Bersyukur dan berdo’a sesudah makan, mengucapkan:“alhamdulillahi ladzii
ath’amana wa saqoona wa ja’alana muslimin”.
m. Mencuci tangan sesudah makan.
n. Berkumur-kumur dan bersiwak (menyikat gigi) sesudah makan.
o. Mencuci bejana bekas makanan dan minuman.
p. Menutup kembali wadah tempat makanan dan minuman.
2. Sifat makanan.
a. Berimbang, maksudnya: setiap jenis makanan yang dimakan disesuaikan dengan
kebutuhan porsi/ gizinya masing-masing, dan tidak berlebihan.
b. Makanan dapat berupa apa saja, asalkan terhindar dari hal yang diharamkan,
3. Jenis makanan yang pernah dimakan Rasulullah SAW:
a.
Roti dan kue (makanan yang terbuat dari tepung dan

rempah-rempah)
b.
Bubur
c.
Mentimun
d.
Semangka
e.
Kurma, ruthab, tamar (kurma kering)
f.
Labu (dicampur roti atau tidak)
g.
Keju
h.
Gula-gula dan madu
i.
Mentega
j.
Daging kelinci
k.
Daging kambing (bagian lengan atau punggung)
l.
Daging burung hubara (burung yang panjang lehernya)
m. Dendeng
n.
Belalang
o.
Ikan laut
Olahraga yang baik menurut Islam
"Sesungguhnya pada tubuhmu ada hak yang harus engkau penuhi."
(HR Bukhari, Ahmad, Nasai)
"Dan perhatikanlah hal-hal yang bermanfaat bagimu."
(HR Muslim, Ibnu Majah, dan Ahmad)
"Mukmin yang kuat lebih baik dari mukmin yang lemah."
(HR Muslim, Ibnu Majah, dan Ahmad)
"Dan pergunakanlah masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu."
(HR Bukhari)
Berolahraga teratur dibarengi dengan gizi yang seimbang dapat membantu menjaga kebugaran,
kesehatan biologis, dan aktivitas tubuh. aktivitas tubuh yang teratur memiliki beberapa manfaat,
antara lain :
• menormalkan fungsi hati
• sirkulasi darah dan pernafasan
• menambah daya pompa otot-otot hati
• membantu menjaga kekuatan otot tubuh
• mencegah kerapuhan tulang (terutama karena bertambahnya usia)
• membakar kalori
• menjaga berat badan ideal
• membantu individu melaksanakan tugasnya dengan kemampuan yang lebih besar
Penyakit pencernaan disebabkan oleh bertambahnya berat badan atau kegemukan antara lain :
• sulitnya pencernaan
• radang (infeksi) kantung empedu dan ginjal
• penyakit sistem pernafasan, jika badan bertambah berat, ketika mengeluarkan nafas gerakan
selaput dinding pemisah dan gerakan rongga dada makin lambat mengakibatkan oksigen
makin berkurang.

• penyakit sistem sirkulasi adalah darah tinggi dan gejala penebalan pada pembuluh nadi hati
yang dapat menyebabkan serangan jantung dan pembekuan darah.
• penyakit kelenjar buntu adalah kencing manis serta penebalan pada pembuluh otak yang dapat
mengakibatkan stroke dan lumpuh setengah badan (hemiplegia)
orang kegemukan terancam penyakit radang persendian, reumatik, dll.