SITOKIN DAN FUNGSINYA

Sitokin merupakan protein yang disekresi oleh sel dari imunitas innate dan adaptif
yang menjadi perantara bagi berbagai fungsi dari sel ini. Sitokin yang diproduksi sebagai
respon terhadap mikroba dan antigen lain, dan sitokin yang berbeda merangsang respon
yang berbeda pada sel yang terlibat dalam imunitas dan inflamasi. Pada fase aktivasi dari
respon imun adaptif, sitokin merangsang pertumbuhan dan diferensiasi dari limfosit, dan
pada fase efektor dari imunitas innate dan adaptif, mereka mengaktivasi sel efektor yang
berbeda untuk mengeliminasi mikroba dan antigen lain. Sitokin juga merangsang
perkembangan dari sel hematopoetik. Pada pengobatan klinis, sitokin sangat penting
sebagai agen terapi dan sebagai target bagi antagonis spesifik dalam berbagai penyakit
imun dan inflamasi.
Nomenklatur dari sitokin sering berdasarkan sumber selular mereka. Sitokin yang
dihasilkan oleh fagosit mononuklear disebut monokin, dan yang dihasilkan oleh limfosit
disebut limfokin. Dengan perkembangan dari antibodi antisitokin dan pemeriksaan
molekular, jelaslah bahwa protein yang sama dapat disintesa dengan limfosit, monosit,
dan berbagai sel jaringan, termasuk sel endotelial dan beberapa sel epitelial. Oleh karena
itu, istilah generik sitokin merupakan nama yang dipilih untuk kelas mediator ini. Karena
banyak sitokin yang dibuat oleh leukosit (misalnya makrofag atau sel T) dan bekerja pada
leukosit lain, mereka juga disebut interleukin. Istilah ini tidak sempurna karena banyak
sitokin yang dibentuk hanya oleh leukosit dan hanya bekerja pada leukosit tidak disebut
interleukin, karena alasan historis, sedangkan banyak sitokin yang disebut interleukin
dibuat atau bekerja pada sel selain leukosit. Namun demikian, istilah ini telah berguna
sebab saat sitokin yang baru bersifat seara molekular, mereka diberi penomoran sebagai
interleukin (IL) (misalnya IL-1, IL-2, dan seterusnya) utnuk mempertahankan
nomenklatur standar. Sitokin juga semakin digunakan dalam keadaan klinis dan pada
studi hewan untuk merangsang atau menghambat inflamasi, imunitas, dan hematopoesis.
Pada keadaan ini, sitokin sering dianggap sebagai modifier respon biologis. Melalu buku
ini, kami menggunakan istilah sitokin, yang tidak secara penuh menghambat sumber
selular atau aktivitas biologis.

Pada bab ini, kami membahas mengenai struktur, produksi, dan kerja biologis dari
sitokin. Sebelum menjelaskan molekul individual, kami mulai dengan kesimpulan
mengenai sifat umum dari sitokin.
Sifat umum dari Sitokin
Sitokin merupakan polipeptida yang dihasilkan sebagai respon terhadap mikroba dan
antigen lain yang menjadi perantara dan mengatur reaksi imun dan inflamasi
(Gambar 11-1). Meskipun sitokin secara struktur berbeda, mereka memiliki beberapa
kesamaan sifat.

Sekresi sitokin merupakan peristiwa yang singkat dan self-limited. Sitokin
biasanya tidak disimpan sebagai molekul yang belum terbentuk, dan sintesis
mereka dimulai dengan transkripsi gen baru sebagai hasil dari aktivasi selular.
Aktivasi transkripsional ini bersifat sementara, dan messenger RNA yang
mengkode sebagian besar sitokin bersifat tidak stabil, sehingga sintesis sitokin
juga bersifat sementara. Produksi dari beberapa sitokin dapat secara tambahan
diatur dengan proses RNA dan dengan mekanisme pasca transkripsional, misalnya
pelepasan proteolitik dari produk aktif dari prekursor inaktif. Setelah disintesis,
sitokin dengan segera disekresi, menghasilkan ledakan pelepasan seperti yang
dibutuhkan.

Kerja dari sitokin sering bersifat pleiotropik dan redundant (Gambar 11-2).
Pleiotropisme merujuk pada kemampuan dari suatu sitokin untuk bekerja pada
jenis sel yang berbeda. Sifat ini memampukan sitokin untuk memediasi berbagai
efek biologis, namun secara luas membatasi penggunaan terapeutik dari sitokin
karena pemberian sitokin untuk efek klinis yang diinginkan dapat menghasikan
erbagai efek samping yang tidak diinginkan. Berlebihan (redundant) merujuk
pada sifat dari sitokin multipel yang memiliki efek fungsional yang sama. Karena
redudansi ini, antagonis terhadap sitokin tunggal atau mutasi dari suatu gen
sitokin mungkin tidak memiliki akibat fungsional, seperti yang dapat dialami oleh
sitokin yang lain.

Sitokin sering mempengaruhi sintesis dan kerja dari sitokin yang lain.
Kemampuan dari satu sitokin untuk merangsang produksi dari yang lain yang

menyebabkan jalur kaskade dimana sitokin kedua atau ketiga dapat memediasi
efek biologis dari yang petama. Dua sitokin dapat saling bekerja secara antagonis,
menghasikan efek tambahan, atau, pada beberapa kasus, menghasilkan lebih dari
yang diharapkan, atau efek sinergistik.

Kerja sitokin dapat bersifat lokal maupun sistemik. Sebagian besar sitokin
bekerja di dekat dimana mereka diproduksi, maupun pada sel yang sama yang
mensekresi sitokin (kerja autokrin) maupun pada sel di sekitarnya (kerja
parakrin). Sel T sering mensekresi sitokin pada daerah pertemuan dengan sel
yang mempresentasikan antigen, yang disebut sinaps imun (lihat Bab 8). Ini dapat
merupakan satu alasan bahwa sitokin sering bekerja pada sel dengan hubungan
dengan produser sitokin. Bila dihasilkan dalam jumlah besar, sitokin dapat
memasuki sirkulasi dan bekerja pada jarak yang jauh dari daerah produksi (kerja
endokrin).

Sitokin mengawali kerja mereka dengan mengikat reseptor membran
spesifik pada sel target. Reseptor untuk sitokin sering mengikat ligan mereka
dengan afinitas tinggi dengan konstanta disosiasi (nilai Kd) dengan rentang antara
10-10 hingga 10-12 M. (Sebagai pertimbangan, tinjauan ulang bahwa antibodi secara
umum mengikat antigen dengan Kd sebanyak 10-7 hingga 10-11 M dan bahwa
molekul kompleks histokompatibilitas mayor (MHC) mengikat peptida dengan K d
hanya sekitar 10-6 M). Sebagai akibatnya, hanya sejumlah kecil dari sitokin yang
dibutuhkan untuk menempati reseptor dan meningkatkan efek biologis. Sebagian
besar sel memiliki kadar yang rendah dari reseptor sitokin (kurang lebih 100
hingga 1000 reseptor tiap sel), namun ini cukup untuk menginduksi respon.

Sinyal eksternal mengatur ekspresi dari reseptor sitokin dan kemudian
responsivitas dari sel terhadap sitokin. Misalnya, rangsangan dari limfosit T
atau B oleh antigen menyebabkan ekspresi yang meningkat dari reseptor sitokin.
Untuk alasan ini, selama respon imun, limfosit spesifik antigen merupakan
responder yang istimewa untuk mensekresi sitokin. Ini merupakan salah satu
mekanisme untuk mempertahankan spesifisitas dari respon imun, bahkan sitokin
sendiri tidak spesifik antigen. Ekspresi reseptor juga diatur oleh sitokin itu sendiri,

dan produk virus. sitokin merangsang perubahan dari isotipe antibodi pada sel B. Misalnya.  Respon selular bagi sebagian besar sitokin terdiri dari perubahan dalam ekspresi gen pada sel target. misalnya RNA rantai ganda. memampukan penguatan positif atau umpan balik negatif. Sebagian besar anggota dari kelompok sitokin ini bekerja pada sel endotelial dan leukosit untuk merangsang reaksi inflamasi dini untuk mikroba. dan sitokin yang disebut faktor nekrosis tumor (TNF). Sitokin yang sama dapat juga disekresi oleh makrofag yang diaktivasi oleh se T yang dirangsang oleh antigen (misalnya sebagai bagian dari imunitas adaptif yang diperantarai oleh sel). yang menginduksi apoptosis dngan mengaktivasi enzim selular tanpa transkripsi gen baru atau sintesis protein. yang meningkatkan migrasi sel cepat. Mediator dan regulator dari imunitas innate dihasilkan terutama oleh fagosit mononuklear sebagai respon untuk agen infeksius. Banyak dari perubahan dalam ekspresi gen yang diinduksi oleh sitokin menghasilkan diferensiasi dari limfosit T dan B dan aktivasi dari sel efektor seperti makrofag. Kelompok Fungsional dari Sitokin Untuk pembahasan kita. secara langsung merangsang makrofag untukm ensekresi sitokin ini sebagai bagian dari imunitas innate. dan aktivasi dari mekanisme mikrobisida pada fagosit. Beberapa sitokin sel T berfungsi secara primer untuk mengatur pertumbuhan dan diferensiasi dari berbagai populasi limfosit dan dengan demikian memiliki . Sel NK juga memproduksi sitokin selama reaksi imun innate. menghasilkan ekspresi dari fungsi baru dan kadang dalam proliferasi dari sel target. 2. Mediator dan regulator dari imunitas adaptif dihasilkan utamanya oleh limfosit T sebagai respon untuk pengenalan spesifik dari antigen asing. dan beberapa fungsi untuk mengatur respon ini.termasuk sitokin yang sama yang mengikat reseptor. Produk bakteri. Perkecualian untuk peraturan adalah sitokin yang bekerja melalui pola ekspresi gen yang berubah merupakan kemokin. diferensiasi dari sel T helper menjadi subset TH1 dan TH2. misanya lipopolisakarida (LPS). kami mengelompokkan sitokin menjadi tiga kelompok fungsional utama berdasarkan kerja biologis utama mereka: 1.

misalnya fagosit mononuklear. Pengelompokan yang paling luas digunakan untuk reseptor sitokin berdasarkan pada homologi struktural di antara domain ikatan sitokin ekstraselular. Namun. mengandung satu atau lebih salinan dari domain dengan dua pasangan yang diawetkan dari residu sistein dan sebuah WSXWS. reseptor sitokin dibagi menjadi 5 famili (Gambar 11-3A).  Reseptor sitokin tipe I. Stimulator dari hematopoesis dihasilkan oleh sel stromal sumsum tulang. disebut juga reseptor hemopoietin. Reseptor ini umumnya berikatan dengan sitokin yang terlipat ke dalam empat rantai α heliks. Seluruh reseptor sitokin terdiri dari satu atau lebih protein transmembran yang bagian ekstraselularnya bertanggug jawab untuk ikatan sitokin dan bagian sitoplasmiknya bertanggung jawab untuk memulai jalur pemberian sinyal intraselular. mengaktivasi. berguna untuk menyimpulkan sifat dari reseptor sitokin dan bagaimana mereka mentransduksi sinyal sebagai akibat dari ikatan pada sitokin. dan sitokin yang berbeda dihasilkan selama reaksi tersebut dapat memiliki kerja yang tumpang tindih. Pada umumnya. Sifat yang . bersama-sama dengan bagian sitopasmik dari dua atau lebih molekul reseptor dalam proses yang serupa dengan pemberian sinyal oleh reseptor sel T dan B untuk antigen (lihat Bab 8 dan 9). neutrofil. untuk mengeliminasi antigen pada fase efektor dari respon iimun adaptif. 3. leukosit. perbedaan ini tidak absolut karena sitokin yang sama dapat dihasilkan selama reaksi imun innate dan adaptif. Jalur pemberian sinyal ini secara umum diaktivasi oleh pengelompokan reseptor yang diinduksi ligan. dan merangsang pertumbuhan dan diferensiasi dari leukosit imatur. Menurut pengelompokan ini. Sitokin lain yang diperoleh dari sel T mengambil. dan mengatur sel efektor yang terspesialisasi. dan eosinofil. Reseptor dan Pemberian Sinyal Sitokin Sebelum kami menjelaskan fungsi dari sitokin individual. dan sel lain.peranan yang penting dalam fase aktivasi dari respon imun yang bergantung pada sel T. dimana X merupakan asam amino. sitokin dari imunitas innate dan adaptif dihasilkan oleh populasi sel yang berbeda dan bekerja pada sel target yang berbeda (Tabel 11-1).

Pada sistem imun. Pengelompokan tersebut akan berhubungan dengan homolog struktural dalam daerah sitoplasmik dari rantai sinya dari reseptor. anggota dari kelas reseptor ini memediasi respon yang cepat dan smentara dari famili sitokin yang disebut dengan kemokin. dan reseptor yang berpasangan dengan protein. anggota dari famii yang ditentukan engan domain ekstraselular . Kelompok reseptor ini mengikat berbagai sitokin yang diberi sinyal oleh mekanisme yang berbeda.  Tujuh reseptor α-helikal transmembran disebut juga reseptor serpentin. karena domain transmembran mereka tampak seperti ular yang bergerak maju mundur sepanjang membran. namun reseptor tipe II tidak mengandung bentuk WSWS. reseptor ini mengaktivasi protein intraselular yang berhubungan yang menginduksi apoptosis atau merangsang ekspresi gen.  Beberapa reseptor sitokin mengandung domain imunoglobulin (Ig) ektraselular dan oleh karena itu dikelompokkan sebagai anggota dari superfamili Ig. Reseptor ini terdiri dari rantai yag terikat ligan secara unik dan satu atau ebih rantai yang mentransduksi sinyal.diawetkan dari reseptor diduga membntuk struktur yang mengikat empat sitokin α helikal. yang sering digunakan secara bersama-sama dengan reseptor untuk sitokin yang berbeda (Gambar 11-3B). atau keduanya. Pada berbagai kasus. Pada ikatan ligan. Reseptor ini mengandung satu rantai polipeptida yang mengikat ligan dan satu rantai yang mentransduksi sinyal. Reseptor sitokin juga dapat dikelompokkan berdasarkan jalur transduksi sinyal yang mereka aktivasi (Tabel 11-2). Genom mamalia mengkode berbagi reseptor yang terlibat dalam merangsang lingkungan.  Reseptor sitokin tipe II serupa dengan reseptor tipe I dengan sifat dari dua domain ektraselular dengan sistein yang diawetkan. namun spesivisitas untuk sitokin individual ditentukan dengan residu asam amino yang bervariasi dari satu reseptor ke reseptor yang lain. karena jalur sinyal mereka meliputi protein pengikat GTP (G).  Reseptor TNF menjadi bagian famili dari reseptor (beberapa dari mereka bukan reseptor sitokin) dengan domain ekstraselular yang kaya akan sistein yang telah diawetkan.

kami melangkah ke pembahasan mengenai sitokin individua. (TNF disebut juga dengan TNF-α untuk alasan historis dan untuk membedakan dengan TNF-β yang berhubungan erat. atau limfotoksin). TNF pada mulanya diidentifikasi (dan juga diberi nama) sebagai substansi yang berada dalam serum dari hewan yang diterapi dengan endotoksin bakterial (lipopolisakarida. memainkan peranan penting baik pada imunitas innate maupun adaptif. Rangsangan yang paling kuat untuk meningkatkan produksi TNF oleh makrofag adalah LPS. dan sejumlah besar dari sitokin ini dapat dihasilkan pada infeksi . ini dibahas lebih lanjut pada bab ini. Seperti yang akan kita bahas lebih lanjut. Struktur. Sitokin yang Memediasi dan Mengatur Imunitas Innate Komponen penting dari respon imun innate awal terhadap virus dan bakteri merupakan sekresi dari sitokin. yang memediasi berbagai fungsi efektor dari imunitas innate (lihat Bab 12). Pada bagian ini. Kami menyimpulkan setiap bagian dengan sebuah ulasan mengenai peranan sitokin pada respon inang yang sesuai.mengikat jalur transduksi sinyal yang serupa. Produksi. Kami menjelaskan sifat prinsip dari jalur sinyal yang berbeda saat kami mempertimbangkan sitokin individual. atau LPS) yang menyebabkan nekrosis dari tumor in vivo. Tumor Necrosis Factor (TNF) TNF merupakan mediator utama dari respon inflamasi akut pada bakteri gram negatif dan mikroba infeksius lain dan bertanggung jawab untuk berbagai komplikasi sistemik dari infeksi yang parah. IFN-γ. dan kemudian kami menyimpulkan bagaimana fungsi sitokin dalam pertahanan inang dan inflamasi. efek ini disebabkan oleh komplikasi patologis dari konsentrasi TNF yang tinggi. dan sel mast dapat juga mensekresi protein ini. Reseptor Sumber selular utama dari TNF adalah fagosit mononuklear yang diaktivasi. Satu sitokin. pertama-tama kami menjelaskan sitokin inividual dari imunitas innate (Tabel 11-3). Dengan pendahuluan terhadap sifat yang sama dari sitokin. meskipun sel T yang dirangsang oleh antigen. sel NK.

TNF yang disekresi dianggap memiliki bentuk piramid bersudut tiga. sebagian besar dari mereka terlibat dalam respon imun dan inflamasi (Kotak 11-1). menunjukkan bahwa TNF-RI lebih penting bagi fungsi dari sitokin. Bentuk membran dari TNF dipecah oleh metaloproteinase yang berhubungan denngan membran. TRAF dengan kut mengaktivasi faktor transkripsi. Pada fagosit mononuklear. Reseptor TNF dalh anggota dari famili protein. atau reseptor p55) dan 75 kD (disebut reseptor tipe II TNF [TNF-RII]. mencatat faktor nuklear кB (NF-кB) dan protein aktivasi-1 (AP-1). menyebabkan rekrutmen dari protein. atau reseptor p75). misalnya TNF-RI. TNF disintesis sebagai protein membran tipe II nonglikosilasi. yang melepaskan LPS. IFN-γ. meskipun sinyal TNF-RI juga mengaktivasi faktor transkripsi. Tiga dari rantai polipeptida ini berpolimerisasi untuk membentuk protein TNF sirkulasi 51-kD. Tikus yang diberi TNF-RI menunjukkan pertahanan inang yang lebih terganggu dibandingkan tikus yang diberi TNF-RII. TNF membran diekspresikan sebagai homotrimer dan dapat terikat dengan satu tipe dari reseptor TNF (TNF-RII). Afinitas dari TNF untuk reseptornya biasanya rendah untuk sitokin. masing-masing sisi dari piramid dibentuk oleh satu sub unit (Gambar 11-4). Kd hanya sebesar ~1 x 10-9 M untuk ikatan pada TNF-RI dan ~5 x 10-10 M untuk ikatan dengan TNF-RII. melepaskan sebuah polipeptida 17-kD. . Sitokin terikat dengan beberapa anggota famili reseptor TNF. Sitokin yang terikat pada anggota famili lain.oleh bakteri gram negatif. dengan terminus amino intraselular dan terminus karboksil ekstraselular besar. menambah sintesis TNF dengan makrofag yang dirangsang oleh LPS. diproduksi oleh sel T dan sel NK. memampukan ikatan yang simultan dari sitokin terhadap tiga molekul reseptor. Terdapat dua reseptor TNF yang berbeda dari ukuran molekul 55 D (disebut reseptor tipe I TNF [TNF-RI]. Kedua reseptor TNF berada pada hampir seluruh tipe sel yang diperiksa. disebut faktor yang berhubungan dengan reseptor TNF (TRAF). Mekanisme yang menentukan apakah aktivasi selular atau apoptosis merupakan efek dominan dari TNF masih belum dapat dijelaskan dengan baik. pada domain sitoplasmik dari reseptor. Daerah ikatan reseptor berada pada dasar dari piramid. menyebabkan rekrutmen dari protein adapter yang mengaktivasi kaspase dan memacu apoptosis. misalnya TNF-RII.

jumlah dari sitokin yang diproduksi sangat besar sehingga dapat . Antibodi netralisir terhadap TNF dan reseptor TNF yang larut digunakan secara klinis untuk mengurangi inflamasi pada pasien dengan rematoid artritis dan penyakit usus inflamasi. yang fungsinya mirip dengan TNF itu sendiri (lihat selanjutnya). Ini merupakan contoh dari kaskade sitokin yang memiliki kesamaan atau aktivitas biologi komplementer.  TNF menyebabkan sel endotelial vaskular untuk menunjukan molekul adesi yang membuat permukaan endotelial melekat untuk leukosit.  TNF merangsang sel endotelial dan makrofag untuk mensekresi kemokin (dibahas selanjutnya) yang meningkatkan afinitas dari integrin leukosit untuk ligan mereka dan menginduksi kemotaksis dan rekrutmen dari leukosit. TNF dihasilkan dalam jumlah besar dan menyebabkan kelanan klinis sistemik dan patologis. Kelanjutan dari kejadian dalam rekrutmen leukosit ke daerah infeksi akan dijelaskan lebih rinci pada Bab 12 dan 13. Signifikansi fisiologis dari respon ini tidak diketahui. akibat dapat gagal untuk mengandung infeksi.  Sebagai tambahan dari peranannya dalam inflamasi. Kerja dari TNF pada endotelium dan leukosit sangat penting untuk respon inflamasi lokal terhadap mikroba. TNF menginduksi apoptosis dari beberapa jenis sel. Molekul adesi yang paling penting adalah selektin dan ligan untuk integrin leukosit (lihat Bab 6. Bila terdapat jumlah yang tidak adekuat dari TNF (misalnya pada hewan yang diterapi dengan antibodi anti TNF netralisir atau pada tikus yang diberi gen TNF). TNF memediasi efek ini dengan beberapa kerja pada sel endotelial pembuluh darah dan leukosit.Aksi Biologis Fungsi fisiologis dasar dari TNF adalah untuk merangsang rekrutmen dari neutrofil dan monosit untuk daerah infeksi dan untuk mengaktivasi sel ini untuk mengeradikasi mikroba (Gambar 11-5). TNF juga berperan dalam reaksi inflamasi lokal yang melukai inang (misalnya dalam penyakit autoimun) (lihat Bab 18). TNF juga berperan pada fagosit mononuklear untuk merangsang sekresi dari IL-1. kotak 6-2 dan 6-3). mulanya untuk neutrofil dan selanjutnya untuk monosit dan limfosit. Pada infeksi yang parah. Bila rangsangan untuk produksi TNF cukup kuat.

misalnya amiloid serum protein A dan fibrinogen.  Bila sejumlah besar dari TNF diproduksi. Kemampuan dari sitokin untuk menyebabkan nekrosis dari tumor. Penghambat sintesis prostaglandin. kontraktiitas miokardial dan tonus otot polos vaskular dihambat menghasilkan penurunan yang nyata dalam tekanan darah. TNF merangsang ekspresi sel endotelial dari faktor jaringan. Pembuangan ini merupakan hasl dari penekanan nafsu makan yang diinduksi oleh TNF dan pengurangan sintesis dari lipoprotein lipase. umumnya sebagai hasil dari kehilangan sifat antikoagulan normal dari endotelium. mengurangi demam dengan menghambat kerja dari TNF dan IL-1. yang menyebabkan sumbatan vaskular oleh sel ini. Kotak 12-2). sebuah penghambat koagulasi.  Produksi yang diperpanjang dari TNF menyebabkan pembuangan dari sel otot dan lemak. Produksi demam sebagai respon terhadap TNF (dan IL-1) dimediasi oleh peningkatan sintesis dari prostaglandin dengan sel hipotalamik yang dirangsang oleh sitokin. merupakan respon fase akut dari rangsangan inflamasi (lihat Bab 12. dengan konsentrasi serum mencapai 10 -7 M atau lebih.  TNF menyebabkan trombosis intravaskular. yang berfungsi sebagai pirogen eksogen yang berasal dari mikroba). yang merupakan dasar dari namanya. misalnya aspirin. . Gabungan dari protein plasma yang diperoleh dari hepatosit yang diinduksi oleh INF dan oleh IL-1 dan IL-6. aktivator kuat dari koagulasi.  TNF bekerja dalam hepatosit untuk meningkatkan sintesis dari protein serum tertentu. dua sitokin lain dari imunitas innate. disebut kakeksia. Kerja sistemik utama dari TNF adalah sebagai berikut.  TNF bekerja pada hipotalamus untuk menginduksi demam dan oleh karena itu disebut sebagai pirogen endogen (misalnya yang berasal dari inang) (untuk membedakannya dari LPS. Perubahan endotelial ini diperluas dengan aktivasi dari neutrofil. utamanya merupakan hasil dari trombois dari tumor pembuluh darah.memasuki aliran darah dan bekerja pada daerah yang jauh sebagai hormon endokrin (lihat Gambar 11-5). dan menghambat ekspresi dari trombomodulin. enzim yang diperlukan untuk melepas asam lemak dari lipoprotein yang bersirkulasi sehingga mereka dapat digunakan oleh jaringan. atau syok.

Antagonis dari TNF dapat mencegah kematian pada model eksperimental. Produksi dari sitokin ini memainkan peranan penting dalam resorpsi tulang pada berbagai keadaan. dan IL-1 (yang terakhir juga diproduksi sebagai respon terhadap TNF sendiri. Dua protein membran yang merupakan anggota dari famii TNF-R adalah CD40 dan Fas. tapi percobaan klinis dengan antibodi anti-TNF atau dengan reseptor NF yang larut tidak menunjukkan manfaat pada pasien dengan sepsis. dan gangguan metabolik. Anggota yang baru ditemukan dari famili TNF-R merupakan protein yang disebut osteoprotegerin (OPG) atau aktivator protein dari NF-кB (RANK). yang ditandai dengan kolaps vaskular. Konsentrasi dari TNF serum dapat merupakan perkiraan dari hasil infeksi gram negatif yang parah. IFN-γ. Sindrom ini disebabkan oleh produksi dari TNF dan sitokin lain yang diinduksi oleh LPS. Ini merupakan salah satu dari beberapa contoh dari kelainan dimana kadar pengukuran dari sitokin yang bersirkulasi informatif. Syok septik dapat direproduksi dalam hewan eksperimental dengan pemberian LPS atau TNF (lihat Bab 12. Kadar sirkulasi yang tinggi dari TNF menyebabkan gangguan metabolik yang parah. dan mereka memiliki fungsi yang penting dalam respon imun innate dan adaptif. koagulasi intravaskular menyeluruh. misalnya artritis. Penyebab dari kegagalan terapeutik ini belum diketahui. Reseptor ditunjukkan pada osteoklas dan beberapa makrofag dan sel dendritik. Kotak 12-2). Sitokin yang meupakan ligan untuk reseptor ini. Hal ini disebabkan oleh penggunaan glukosa secara berlebihan oleh otot dan kegagalan dari hati untuk menggantikan glukosa. termasuk IL-12. fungsi mereka dibahas dalam bab lain. namun dapat disebabkan oleh sitokin lain yang meningkatkan respon yang sama dengan NF. dibuat oleh sel T yang teraktivasi. disebut ligan OPG atau ligan RANK. Komplikasi dari sepsis bakterial gram negatif merupakan sindrom yang disebut syok septik (atau syok endotoksin). sebagai bagian dari kaskade sitokin). sebuah contoh dari redudansi. penurunan dalam konsentrasi gula darah hingga kadar yang tidak sesuai untuk kehidupan. Terdapat banyak sitokin dan protein membran yang termasuk dalam famili reseptor TNF-TNF. Interleukin-1 (IL-1) .

seperti pada TNF. Tidak seperti kebanyakan protein yang disekresi. untuk menghasilkan protein yang disekresi aktif secara biologis. IL-1β secar proteolitik dipecah oleh protease. Tidak seperti TNF. namun IL-1α bersifat aktif baik sebagai prekursor 33kD maupun sebagai produk terpecah yang lebih kecil. disebut IL-1α dan IL-1β. Produksi IL-1 oleh fagosit mononuklear diinduksi dengan produk bakterial seperti LPS dan oleh sitokin lain misalnya TNF. Dua reseptor membran yang berbeda untuk IL-1 telah diketahui. yang kurang dari 30% homolog satu sama lain. Struktur. Produksi. disebut enzim pengubah IL-1β (ICE). dan keduanya adalah anggota dari superfamili Ig. Reseptor tipe I ditunjukkan pada hampir seluruh jenis sel dan merupakan reseptor utama untuk respon yang dimediasi oleh IL-1. Ini tidak menginduksi respon terhadap Il-1. bagian sitoplasmik dari reseptor IL-1 tipe I homolog pada domain dari reseptor seperti . serupa dengan pada TNF. Banyak anggota dari famili ini terlibat dalam kematian apoptosis dalam berbagai sel (lihat Bab 10. Kedua polipeptida IL-1 disintesis sebagai prekursor 33-kD dan disekresi sebagai protein matur 17-kD. baik IL-1α maupun IL-1β tida memiliki lanjutan sinyal hidrofobik untuk menuju polipeptida nasens untuk retikulum endoplasma. Reseptor Sumber selular utama dari IL-1. adalah fagosit mononuklear yang teraktivasi. Bentuk aktif dari IL-1β merupakan produk yang terpecah. sel epitelial (misalnya keratinosit). Terdapat dua bentuk dari IL-1. IL-1 bersama-sama dengan TNF berfungsi dalam imunitas innate dan inflamasi. ICE merupakan anggota dari famili protein protease mamalia yang pertama kali dijelaskan yang disebut kaspase. Sebagian besar dari IL-1 yang ditemukan pada sirkulasi adalah IL-1β. dan kami tidak mengetahui bagaimana molekul ini disekrei. Reseptor tipe II ditunjukkan pada sel B namun dapat diinduksi pada jenis sel yang lain. namun mereka terikat dengan reseptor permukaan sel yang sama dan memediasi aktivitas biologis yang sama.Fungsi utama dari IL-1. IL-1 juga diproduksi oleh banyak jenis sel lain selain makrofag.Kotak 10-2). misalnya neutrofil. dan fungsi utamanya mungkin berperan sebagai umpan yang secara kompetitif menghambat ikatan IL-1 dengan reseptor sinyal tipe I. adalah sebagai mediator bagi respon inflamasi inang pada infeksi dan rangsangan inflamasi lain. dan sel endotelial.

seperti ligan untuk integrin. IL-1 bekerja pada sel endotelial untuk meningkatkan ekspresi dari molekul permukaan yang memediasi perlekatan leukosit. Penjelasan yang mungkin untuk efek biologis serupa adalah bahwa reseptor untuk kedua sinyal sitokin oleh protein homolog dan mengaktivasi faktor transkripsi yang sama (lihat Kotak 11-1).  Bila disekresi pada konsentrasi rendah. . Oleh karena itu disebut antagonis reseptor IL-1 (IL-1ra).Toll. Misalnya. IL-1 memasuki aliran darah dan meningkatkan efek endokrin. IL-1ra dapat menjadi regulator endogen dari kerja IL-1. mungkin sebagai hasil dari redudansi dari kerja IL-1 dengan TNF. Kotak 12-1). Aksi Biologis Efek biologis dari IL-1 serupa dengan TNF dan bergantung pada jumah sitokin yang dihasilkan. IL-1 tidak menginduksi kematian apoptotik dari sel. Ikatan dari IL-1 pada reseptor IL-1 tipe I menyebabkan aktivasi dari kinase yang disebut kinase yang berhubungan dengan reseptor IL-1 tipe I (IRAK) dan pastinya untuk aktivasi dari NF-кB dan faktor transkripsi (lihat Kotak 11-1). dengan sendirinya tidak menyebabkan perubahan patofisiologi dari syok septik. sehingga berfungsi sebagai inhibitor kompetitif dari IL-1.  Bila disekresi pada jumlah yang lebih besar. terdapat beberapa perbedan antara IL-1 dan TNF. dan bahkan pada konsentrasi sistemik yang lebih tinggi. Kesamaan antara kerja IL-1 dan TNF tampaknya mengejutkan pada nilai yang berhadapan karena sitokin dan reseptornya berbeda secara struktural. yang terlibat dalam pertahanan terhada infeksi (ihat Bab 12. Namun. Usaha untuk menghambat kerja IL-1 dengan IL-1ra atau reseptor yang larut belum memiliki manfaat dalam percobaan klinis dari syok septik atau artritis. IL-1 berfungsi sebagai mediator dari inflamasi lokal. Fagosit mononuklear menghasilkan penghambat natural dari IL-1 yang secara struktural homolog dengan sitokin dan terikat dengan reseptor yang sama tapi inaktif secara biologis. IL-1 sistemik berbagi dengan TNF kemampuan untuk menyebabkan demam. untuk menginduksi sintesis dari protein plasma fase akut oleh hati. dan untuk memulai pembuangan metabolik (kakeksia).

Struktur. Sekiar 50 kemokin yang berbeda telah diidentifikasi. sel epitelial. Kemokin terlibat dalam reaksi inflamasi yang dihasilkan oleh leukosit sebagai respon untuk rangsangan eksternal. misalnya sel endotelial. dan fibroblas. limfosit. Beberapa kemokin dapat dihasilkan oleh berbagai sel sebagai respon atas rangsangan inflamasi dan merekrut leukosit dari daerah inflamasi. Beberapa kemokin CC juga dihasilkan oleh sel T yang . dimana residu ini dipisahkan oleh satu asam amino.Kemokin Kemokin merupakan keluarga yang besar dari sitokin yang homolog secara struktural yang merangsang pergerakan leukosit dan mengatur migrasi dari leukosit dari darah ke jaringan. dan eosinofil. dimana residu sistein yang berdekatan. Dua famili utama dalah kemokin CC. dan kemokin CC bekerja utamanya di monoit. Sejumlah kecil dari kemokin memiliki sistein tunggal (famili C) atau dua sistein dipisahkan oleh tiga asam amino (CX 3C). Usaha telah dilakukan dewasa ini untuk mengembangkan nomenklatur standar berdasarkan di bagian mana reseptor dari kemokin terikat (lihat selanjutnya). kemokin lain dihasilkan secara normal pada jaringan yang bermacam-macam dan merekrut leukosit (terutama limfosit) pada jaringan ini pada keadaan tidak adanya inflamasi. dan famili CXC. Pada berbagai sel ini. Kemokin dari subfamili CC dan CXC dihasilkan oleh leukosit dan beberapa jenis dari sel jaringan. dan mungkin terdapat lebih banyak lagi. dan kemokin yang mengatur lalu lintas sel melalui jaringan yang dihasilkan secara berturutan oleh berbagai sel dalam jaringan ini. Perbedaan ini berhubungan dengan organisasi dari subfamii ke dalam kelompok gen yang terpisah.hingga 12-kD yang mengandung dua lingkaran disulfida internal. Reseptor Seluruh kemokin adalah polipeptida 8. Kemokin pada mulanya diberi nama berdasarkan bagaimana mereka diidentifikasi dan respon apa yang mereka pacu. Nama ”kemokin” merupakan singkatan dari ”sitokin kemotaktik”. khususnya TNF dan IL-1. kemokin CXC bekerja secara utama pada neutrofil. sekresi dari kemokin diinduksi oleh mikroba dan oleh sitokin inflamasi. Kemokin dikelompokkan menjadi famili berdasarkan jumlah an lokasi dari residu sistein terminal N. Pada inflamasi. Produksi.

misalnya CCR5 dan CXCR4. Pada faktanya. Reseptor meningkatkan spesifisitas yang tumpang tindih untuk kemokin dalam masing-masing subfamili. termasuk beberapa yang merangsang pergerakan selular. Aksi Biologis . Sebelas reseptor yang berbeda untuk kemokin C (yang disebut CCR1 hingga CCR11) dan enam untuk kemokin CXC (disebut CXCR1 hingga CXCR6) telah diidentifikasi. dengan jumah perbedaan terbesar reseptor kemokin tampak pada sel T. Kemokin dari kedua subfamili terikat pada proteoglikan sulfat heparan pada sel endotelial dan tampak pada jalur ini untuk leukosit yang sirkulasi. berperan sebagai koreseptor untuk virus imunodefisiensi manusia (HIV) (lihat Bab 20). yang fungsinya untuk merangsang pergerakan dari leukosit yang melekat pada endotelium melalui molekul adhesi (lihat Bab 13). dan daftar ini hampir pasti tidak lengkap (Gambar 11-6). Beberapa limfosit T yang diaktivasi mensekresi kemokin yang terikat pada CCR5 dan menghambat infeksi dengan HIV melalui persaingan dengan virus. bentuk yang berhubungan dengan sel dapat menjadi bentuk fungsional utama dari kemokin. mengkatalis penggantian dari guoanosin difosfat (GDP) yang terikat oleh GTP. Bentuk yang berhubungan dengan GTP dari protein G ini dapat mengaktivasi berbagai enzim selular. dan ini terlibat dalam lalu lintas fisiologis dari limfosit sepanjang organ. dan reseptor tersebut termasuk dalam famili dari reseptor yang berpasangan dengan protein G (GPCR).dirangsang oleh antigen. dan pola dari ekspresi selular dari respstor menentukan sel tipe mana yang berespon terhadap kemokin yang mana. Beberapa reseptor kemokin tertentu. Beberapa kemokin dihasilkan secara konstitutif (misalnya tanpa adanya rangsangan inflamasi) dalam organ limfoid. Seluruh reseptor kemokin memiliki struktur yang khas dengan tujuh domain α-helikal transmembran. dan ini merupakan mekanisme untuk mengakhiri respon. Penampilan selular tampaknya memberikan konsentrasi lokal yang tinggi dari kemokin. memberikan hubungan antara imunitas adaptif dan rekrutmen dari leukosit inflamasi. Reseptor kemokin dapat dengan segera diturunkan dengan paparan pada kemokin. Bila diikat dengan ligan. Reseptor kemokin ditunjukkan pada leukosit. Sifat ini tampak pada reseptor lain yang berpasangan dengan protein pengikat trimetrik guanosin trifosfat (GTP) (Protein G). reseptor ini berperan sebagai protein penukar GTP.

Kemokin menginduksi pergerakan dari leukosit dan migrasi mereka menuju gradien kimiawi dari sitokin dengan merangsang polimerisasi perubahan dan depolimerisasi dari filamen aktin. kami menyebutkan peran dari kemokin yang berbeda dalam meningkatkan migrasi dari sel T. Misalnya. Pada Bab 2. Langkah dari aktivasi integrin ini penting untuk perlekatan kuat dari leukosit pada endotelium. Kemokin yang ditunjukkan pada sel endotelial yang terikat pada aktivitas heparan pada leukosit berperan pada endotelium dan meningkatkan afinitas dari integrin leukosit untuk ligan mereka (lihat Bab 6.  Kemokin merekrut sel dari pertahanan inang menuju daerah infeksi.Kemokin ditemukan berdasarkan aktivitas mereka sebagai kemoatraktan leukosit. Gambar 6-11). namun saat ini kita mengetahui bahwa merreka memerankan berbagai fungsi penting di dalam sistem imun dan sistem yang lain.  Kemokin mengatur lalu lintas dari limfosit dan leukosit lain melalui jaringan limfoid perifer. Selektivitas dari tipe sel yang berbeda untuk jaringan yang berbeda bergantung pada perluasan yang luas dan reseptor kemokin yang mana yang ditunjukkan pada tipe sel. kemokin CXC IL-8 lebih utama merekrut neutrofil. Bab 2). dan kemokin CC eotaksin merekrut eosinofil. dan sel dendritik pada daerah yang berbeda dari organ limfoid perifer (lihat Gambar 2-11. Tikus yang kekurangan reseptor CXCR4 memiliki defek fatal . Kemokin yang berbeda berperan dalam sel yang berbeda dan kemudian mengatur sifat dari infiltrat inflamasi. sel B. Beberapa dari penemuan yang paling mengejutkan mengenai kemokin adalah peranan mereka dalam migrasi normal dari sel imun ke dlam organ limfoid.  kemokin juga terlibat dalam perkembangan dari organ nonlimfoid yang bermacam-macam. Rekrutmen leukosit merupakan hasil dari beberapa aksi berkelanjutan dari kemokin pada sel ini. Berbagai kemokin juga meningkatkan migrasi dari sel efektor dan sel T memory yang telah diaktivasi sebelumnya pada jaringan non limfoid. seperti pada permulaan dari migrasi berkelanjutan menuju jaringan ekstravaskular. Perlu diingat bahwa ekspresi rangsangan dari TNF dan IL-1 dari ligan integrin dari endotelium dan kemudian dua sitokin dan kemokin ini berperan secara bersamaan dalam proses dari migrasi leukosit. termasuk organ mukosa dan kulit.

Interleukin 12 (IL-12) Interleukin 12 meupakan mediator utama untuk respon imun innate awal pada mikroba intraselular dan ini merupakan induser kunci dari imunitas yang dimediasi oleh sel. dan pasti menyebabkan aktivasi dari faktor transkripsi (STAT). Berbagai sel tampak mensintesis sub unit p35. Berbagai sitokin menggunakan jalur ini untuk menginduksi respon pada sel . dimana sitokin terikat pada reseptor mengaktivasi kinase tirosin yang berhubungan dengan reseptor yang disebut kinase Jannus (JAK). dan infeksi virus. selama fase induksi dan efektor dari respon imun yang dimediasi oleh sel (lihat Bab 13). Selain itu. Selama reaksi imun innate pada mikroba. IL-12 dihasilkan oleh APC bila mereka memiiki antigen pada sel T. dan rantai β2 terlibat dalam pemberian sinyal. IL-12 pada awalnya diidentifikasi sebagai aktivator dari fungsi sel NK sitolitik. kemudian. IL-12 terdapat sbagai heterodimer yang berhubungan dengnan disulfida dari sub unit 35-kD (p35) dan 40-kD (p40). sel T helper yang distimulasi antigen menginduki produksi dari IL-12 dari makrofag dan sel dendritik. respon imun adaptif untuk mikroba ini.dalam perkembangan dari jantung dan otak kecil. Sub unit p40 homolog tidak untuk sitokin lain tapi untuk reseptor bagi IL-6. IFN-γ yang dihasilkan oleh sel NK atau sel T juga merangsang produksi IL-12. Peran dari kemokin ini tidak diperkirakan dan meningkatkan kemungkinan dari yang lain seperti yang belum fungsi ditemukan dalam morfogenesis. Reseptor untuk IL-12 merupakan heterodimer yang tersusun atas sub unit β1 dan β2. Sub unit p35 memiliki empat struktur domain globular α-helikal. Kedua rantai dibutuhkan untuk ikatan afinitas yang tinggi ari sitokin. mengandung baik domain seperti Ig dan sifat motif dari reseptor sitokin tipe I. utamanya oleh ligan CD40 pada sel T yang mengikat CD40 pada makrofag dan sel dendritik. namun kerja yang paling penting adalah untuk merangsang produksi IFN-γ oleh sel T sebagaimana oleh sel NK. tapi hanya APC ini yang menghasilkan komponen p40 dan oleh karena itu sitokin yang aktif secara biologis. infeksi oleh bakteri intraseluar (misalnya Listeria dan mikobakteria). Sinyal reseptor melalui jalur JAK/STAT. Sumber utama dari IL-12 adalah fagosit mononuklear yang teraaktivasi dan sel dendritik. IL-12 diproduksi sebagai respon terhadap berbagai rangsangan mikrobial (termasuk LPS).

IL-12 merupakan sitokin yang utama yang diketahui dapat mengaktivasi STAT4. Dengan demikian. sel NK. Tikus yang kekurangan komponen p40 dari IL-12. Subset Th1 dari sel T helper mengaktivasi fagosit dalam imunitas yang dimediasi oleh sel. Aksi Biologis IL-12 ini penting untuk memulai tahapan dari respon yang meliputi makrofag.  IL-12 merangsang produksi dari IFN-γ oleh sel NK dan limfosit T. Namun. sintesis IFN-γ tidak secara lengkap terjadi pada tiku ini. Antagonis IL-12 mencegah kematian pada model eksperimental dari syok septik yang diinduksi oleh LPS. dan kemudian sitokin fungsional. terutama IFN-γ (yang produksinya dirangsang oleh IL-12). dan ini merupakan contoh dari penguatan positif dari respon imun. Tikus yang diberi IL-12 juga memiliki defek dalam fungsi sel NK.  IL-12 merangsang diferensiasi dari limfosit T helper CD4 + menjadi sel Th1 yang memproduksi IFN-γ. IL-12 yang disekresi merangsang sel NK dan sel T untuk menghasilkan IFN-γ. Kami akan kembali untuk IFN-γ saat kita membahas mengenai sitokin dari imunitas adaptif. Ekspresi dari rantai yang memberi sinyal dar reseptor IL-12 adalah ditingkatkn oleh sitokin. .yang kemudian mengaktivasi makrofag untuk membunuh mikroba yang difagosit. dan limfosit T yang menghasilkan eradikasi dari mikroba intraselular.target. kemungkinan arena peranan dari sitokin kompensator lain (misalnya IL-18 yang dijelaskan kemudian). menghasilkan produksi dari IFN-γ. Jumlah besar dari IL-12 dihasilkan dalam sepsis gram negatif yang parah. defektif adalam produksi IFN-γ dan perkembangan sel Th1 dan oleh karena itu imunitas yang dimediasi oleh sel ke mikroba intraselular. imunitas innate terhadap berbagai mikroba dimediasi oleh sitokin berperan dalam tahapan berikut ini: mikroba → respon makrofag → IL-12→ IFN-γ → aktivasi makrofag →pembunuhan mikroba. dan sitokin yang berbeda mengaktivasi kombinasi yng berbeda dari JAK dan STAT (Kotak 11-2). Efek dari IL-12 ini akan dibahas lebih lanjut dalam bab 13. yang sinergis LPS bakterial untuk merangsang produksi makrofag dari TNF mediator utama dari syok septik. Makrofag menghasilkan IL-12 sebagai respon untuk berbagai mikroba.

Produksi. yang diproduksi pada awal reaksi imunitas bawaan terhadap mikroba intraseluler dan menstimulasi respons imun adaptif yang melindungi pejamu terhadap mikrobamikroba ini. produksi IFN tipe I pada umumnya dikeluaran oleh RNA beruntai dua sintetik. masing-masing dikode oleh gen yang berbeda. Rekombinan IL-12 sekarang berada dalam tahap uji klinis untuk meningkatkan respons imun protektif yang diperantarai sel pada pasien dengan defek imunitas yang diperantarai sel dan kanker.IL-12 merupakan penghubung yang penting antar imunitas bawaan dan imunitas adaptif. seperti fibroblast. IFN-α merupakan suatu keluarga dari 20 polipeptida yang berhubungan. IFN-β merupakan protein tunggal yang diproduksi oleh banyak sel. dan sering disebut interferon fibroblast. satu berikatan dengan sitokin dan yang lainnya mentransduksikan sinyal melalui jalur JAK/STAT. Stimulus yang paling poten dari sintesis IFN tipe I adalah infeksi viral khususnya RNA dua untaian yang diproduksi oleh virus selama replikasinya dalam sel infeksi. Struktur. Selsel T antigen juga menstimulasi fagosit mononuclear untuk mensintesis IFNs tipe I. mereka berikatan pada reseptor permukaan sel yang sama dan menginduksi respons biologis yang serupa. Fagosit mononuclear merupakan sumber utama dari IFNα. Dalam penelitian. . Interferon Tipe I (IFNs) Tipe I: IFN memediasi respons imun alami awal terhadap infeksi. Reseptro IFN tipe I merupakan heterodimer dari dua struktur polipeptida yang berhubungan. Istilah interferon berasal dari abilitas terhadap sitokin untuk berinteraksi dengan infeksi viral. Reseptor IFNs tipe I terdiri dari dua kelompok protein yang dikenal dengan IFN-α dan IFN-β. Kedua rantai merupakan anggota dari keluarga reseptor sitokin tipe II. yang menyerupai signal yang dihasilkan selama infeksi viral. Walaupun IFN-α dan IFN-β berbeda secara struktur. dan IFN-α terkadang disebut interferon leukosit. keduanya sebagai terapi sistemik dan sebagai komponen dari vaksin.

tetapi juga dapat melibatkan enzim-enzim lainnya yang merubah metabolisme dari asam amino seperti triptofan. IFN yang disekresikan oleh sel yang terinfeksi dapat juga bekerja sebagai suatu autokrin untuk menghambat replikasi virus dalam sel. - IFN tipe I menghambat replikasi virus. Kepentingan fisiologis dari aksi antiproliferatif ini tidak diketahui. IFN-α secara klinis digunakan sebagai agen antivirus pada beberapa bentuk dari virus hepatitis. Aksi antiviral dari IFN tipe I umumnya merupakn suatu aksi parakrin. tetapi mekanisme dari efek menguntungkan pada penyakit ini tidak diketahui. IFN menyebabkan sel untuk mensintesis sejumlah enzim seperti 2’. aktivitas utema dari IFN tipe I berperan pada suatu kerjasama untuk melenyapkan infeksi virus. Efek ini umumnya adaah akibat dari kemampuan IFN tipe I untuk merangsang sel T untuk mengkespresi reseptor fungsional untuk sitokin IL-12 yang menginduksi TH1 mayor. Jadi. didalamnya sel yang terinfeksi mensekresikan IFN untuk melindungi sel-sel tetangga yang tidak terinfeksi.5’ oligoadenylate sitetase. IFN-β digunakan sebagai terapi untuk multiple sclerosis.Aksi biologis Aksi dari IFNs tipe I memberikan perlindungan terhadap infeksi virus dan merangsang imunitas diperantarai sel terhadap mikroba intraseluler. IFN tipe I memperbesar pengenalan dari antigen virus kelas I pada sel terinfeksi dan kemudian terhadap efisiensi dari pemusnahan sel-sel ini oleh CTL - Tipe I IFN menstimulasi pembentukan dari sel T H1 pada manusia. INTERLEUKIN-10 (IL-10) . - IFN tipe I menghambat prolife dari banyak tipe sel termasuk limfosit in vitro Hal ini cenderung adalah akibat dari ensim yang sama yang menghambat replikasi virus. yang menghambat transkripsi dari RNA atau DNA virus dan replikasi virus. Sebuah sel yang berespons terhadap IFN dan resisten terhadap infeksi virus disebut berada dalam keadaan “antiviral”. - IFN tipe I meningkatkan ekspresi dari molekul MHC kelas I. Karena CD8+ CTLs mengenal antigen asing yang terikat pada molekul MHC kelas I.

kami telah menggambarkan sitokin yang menstimulasi imunitas bawaan. Limfosit T juga mensekresi IL-10. Tidak jelas apakah stimulus yang berbeda dapat menyebabkan makrofag untuk menginduksi produksi dari sitokin regulatoris seperti IL-10 dan efektor sitokin seperti TNF dan IL-12. fungsi IL-10 untuk mendownregulated semua reaksi seperti ini. IL-10 ditemukan sebagai inhibitor dari produksi IFN-γ. khususnya respons yang melibatkan makrofage. . mereka merupakan contoh yang baik dari regulator umpan balik negative. atau apakah stimulus yang sama menyebabkan prduksi dari semua sitokin ini tetapi dengan kinetik yang berbeda. IL-1 diproduksi umumnya oleh makrofag yang teraktivasi dank arena mereka menghambat fungsi dari makrofage. Struktur. - IL-10 menghambat produksi dari IL-12 oleh makrofag yang teraktivasi dan selsel dendritik. dalam hal lain. Aksi Biologis Efek biologis dari IL-10 berasal dari kemampuannya untuk menghambat banyak fungsi dari makrofag yang teraktivasi. Seperti yang telah didiskusikan sebelumnya. Reseptor IL-10 memiliki struktur 4 α heliks globular domain yang berikatan pada reseptro sitokin tipe II. makrofag berespons terhadap mikroba dengan mensekresikan sitokin dan oleh ekspresi dari kostimulator yang menyebabkan aktivasi sel T dan imunitas yang diperantarai sel. Produksi.IL-10 merupakan suatu penghamabat dari makrofag yang teraktivasi dan sel-sel dendrite sehingga terlibat dalam pengendalian dari reaksi imun bawaan dan imunitas yang diperantarai sel Sejauh ini. Karena IL-12 merupakan stimulus kritikal dari sekresi IFN-γ dan merupakan penginduksi dari reaksi imun bawaan dan yang diperantarai sel terhadap mirkoba intraseluler. IL-10 bekerja pada makrofag yang teraktivasi untuk memberhentikan respons ini dan mengembalikan system ke dalam keadaan istirahat sebagaimana infeksi microbial dieradikasi. IL10. merupakan suatu penghambat terhadap respons imun pejamu. dan diproduksi oleh beberapa tipe sel nonlimfoid (seperti keratinosit).

. IL-6 menstimulasi produksi dari netrofil dari progenitor sumsum tulang. yang berasal dari mieloma. Sebagian juga dibentuk oleh sel-sel T yang teraktivasi. menstimulasi sintesis dari protein pada fase akut dari hepatosit sehingga memberikan kontribusi terhadap efek sistemik dan inflamasi. dengan setiap subunit membentuk suatu empat-α-heliks globular domain. IL-10 berperan untuk menghambat aktivasi sel T dan memberherntikan reaksi imun yang diperantarai sel. Lebih dari itu. IL-6 menstimulasi pertumbuhan dari limfosit B yang berdiferensiasi menjadi penghasil-penghasil antibody. Pada imunitas bawaan. fibroblast dan sel lainnya dalam resposn terhadap mikroba dan sitokin lainnya. dan banyak sel-sel mieloma yang berkembang secara otonom dan mensekresikan IL-6 sebagai factor pertumbuhan autokrin. seperti IL-1 dan TNF. IL-6 dapat menyebabkan pertumbuhan antibody monoclonal yang memproduksi hibridoma. sel endotel vaskuler. Reseptor dari IL-6 terdiri dari sitokin yang terikat protein dan suatu subunit yang mentransduksi sinyal. IL-6 berperan sebagai factor pertumbuhan dari sel plasma neoplastik (mieloma). ini disebut dengan respons fase akut. Hal ini meningkatkan kesempatan akuisitas dari gen IL-10 selama evolusi dari sel yang menyebabkan virus memiliki kemampuan untuk menghambat imunitas pejamu. keduanya berasal dari keluarga reseptor sitokin tipe I. Virus Epstein-Barr mengandung suatu gen yang homolog dengan IL-10 manusia dan IL-10 virus memiliki aktivitas yang sama seperti sitokin alami. SITOKIN-SITOKIN LAINNYA DARI IMUNITAS BAWAAN IL-6 merupakan sitokin yang berfungsa pada imunitas bawaan dan adaptif. Subunit yang mentransduksi sinyal 130kD dikenal dengan gpl30. IL-6 memiliki beberapa aksi yang berlawanan. yang mengaktivasi jalur yang memberikan sinyal JAK/STAT dan juga memberikan sinyal komponin terhadap reseptor sitokin lainnya. biasanya berperan dalam konser dengan factor yang menstimulasi koloni.- IL-10 menghambat ekspresi dari kostimulator dan molekul MHC kelas II pada makrofag dan sel dendritik. Pada imunitas yang didapat. Bentuk fungsional dari IL-6 merupakan homodimer. IL-6 disintesis oleh fagosis mononuclear. Karena aksi ini.

yang homolog dengan rantai α dari reseptor IL-2. IL-18 menstimulasi produksi dari IFN-γ oleh sel-sel NK dan selsel T dan bersinergis dengan IL-12 pada respons ini. Karena IL-15 disintesis pada awal dari respons terhadap infeksi virus. dan sinyal lain yang memicu imunits bawaan IL-15 secara structural homolog dengan IL-2. LCS. Peran dari Sitokin Pada Imunitas Bawaan dan Inflamasi Setelah kita membahas masing-masing sitokin dari imunitas bawaan. IL-15 dianggap ekuivalen dengan IL-2 pada respons imun adaptif awal (mis. khususnya sel T CD8+ memori. tetapi meiliki fungsi yang berbeda dengan IL-1. IL-19. Sehingga. Berperan sebagai fungsi dari imunitas bawaan dan yang oleh IL-2 pada imunitas adaptif). IL-22 dan IL-24 adalah homolog dengan IL-10. Dari Proyek Genom Manusia). IL-20. dia menstimulasi perluasand dari sel-sel NK dalam beberapa hari bertama setelah infeksi. IL-18 diproduksi oleh makrofag dalam respons terhadap LPS dan hasil microbial lainnya.IL-15 merupakan suatu sitokin yang diproduksi oleh fagosit mononuclear dan mungkin juga tipe sel-sel lainnya sebagai respons terhadap infeksi virus. Reseptor dari IL-15 memiliki rantai unik α yang berikatan dengan sitokin. tetapi biologi dari sitokin ini tetap masih perlu diekspolrasi. IL-18 secara sturuktur homolog dengan IL-1 dan menjadi penanda oleh kinase yang berhubungan dengan reseptor yang juga serupa (IRAK). Setelah respons imun adaptif terbentuk. tidak ada fungsi dari IL-19 yang dapat dijelaskan. Pada penelitian sampai saat ini menunjukkkan bahwa banyak dari ini mungkin terlibatdalam reaksi inflamasi kulit. IL-21 adalah homolog dengan IL-15 dan menstimulasi proliferasi dari sel-sel NK. IL-23 mungkin merupakan stimulus dari respons yang diperantarai sel. Seperti IL-12. sangatlah berguna untuk menggabungkan informasi ini dan mempertimbangkan bagaimana sitokin . IL-23 adalah mirip dengan IL-12 dan terdiri dari subunit 19-kD yang berhubungan dengan rantai IL-12 p40. Fungsi IL-5 adalah untuk menstimulasi proliferasi dari sel-sel NK. dan rantai β dan γ yang mentransduksi sinyal yang saa dengan yang ada pada reseptor IL-2. Beberapa sitokin lainnya telah teridentifikasi oleh informasi sekuens DNA (mis. Sehingga IL-18 merupakan penginduksi dari imunitas yang diperantarai sel. fungsi ini diambil alih oleh sel T yang berasal dari IL-2. khusunya kombinasi dengan IL-12. IL-15 juga berperan sebagai sel T pertumbuhan dan factor survival.

dan respons terhadap virus yang menyebabkan sel NK sebagai tambahan dari sel-sel inflamasi. dan IL-12 menyebabkan aktivitas sitolitik dari sel-sel NK. dimana merupakan mediator dari imunitas seluler dan merupakan respons yang paling efektif untuk menghancurkan bakteri intraseluler. Pada infeksi virus. juga bertanggungjawab untuk manifestasi sistemik dari infeksi. respons terhadap bakteri intraseluler didominasi oleh makrofag yang teraktivasi. IL-12 juga menstimulasi respons imun adaptif subsekuen dan mengarahkannya terhadap sel TH1. dengan mensekresi IL-12. IL-15 menstimulasi perluasan dari sel-sel NK. Sebagai contoh. yang menginduksi produksi local dari IFN-γ dari sel-sel NK dan limfosit T. Pada infeksi piogenik (yang menghasilkan nanah) bakteri ekstraseluler makrofag berespons terhadap endotoksin baterial dan mungkin juga terhadap hasil-hasil dari bakteri dengan memproduksi TNF. TNF dan IL-1 berperan pada endotel vaskuler dari daerah infeksi untuk menginduksi ekspresi dari molekul adhesi yang menyebabkan perlekatan yang stabil dari netrofil darah dan monosit pada endotel di tempat ini. dimana reaksi imunitas bawaan dipasang untuk mengeliminasi mikroba infeksius. Sitokin yang dominan menghasilkan respons terhadap mikroba yang berbeda untuk reaksi imun bawaan terhadap miroba ini.ini memberikan kontribusi terahadap reaksi imun bawaan melawan mikroba. Makrofag-makrofag yang berasal dari sitokin ini. Makrofag juga berespons terhadap banyak mikroba. Pembunuhan sel-sel virus yang terinfeksi yang dimediasi oleh sel NK mengeliminasi tempat dari infeksi. IFN-γ kemudian mengaktivasi makrofag untuk menghancurkan mikroba fagositosit. termasuk bakteri intraselular dan bakteri yang menghasilkan LPS. khususnya TNF. Rekrutmen sitokin yang diperantarai leukosit dan aktivasinya bertanggungjawab terhadap kerusakan dari jaringan normal yang sering menyertai reaksi imun bawaan teradap infeksi. Kemokin yang diproduksi oleh makrofag dan sel-sel endotel menstimulasi ekstravasasi dari leukosit terhadap infeksi. Sitokinsitokin yang berbeda memainkan peranan kunci dalam imunitas bawaan terhadap kelaskelas yang berbeda dari mikroba. IFNs tipe I disekresikan oleh sel-sel yang terinfeksi dan makrofag dan berfungsi untuk menghambat replikasi virus dan infeksi. Aksi dari IL-12 ini merupakan hasil komplementasi dari IL-18. IL-2 dan kemokin. Mungkin terdapat . IL-1 dan IL-12.

kami pertama menjelaskan tentang sitokin mayor pada imunitas adaptif dan berakhir dengan menjelaskan bagaimana sitokin memberikan kontribusi untuk menyebabkan respons selsel efektor khusus terhadap mikroba yang berbeda. Reseptor IL-2 diproduksi oleh limfosit T CD4+ dan dalam jumlah yang kurang oleh sel T CD8+. dengan sekresi puncak terjadi sekitar 8 sampi 12 jam setelah aktivasi.tumpang tindih. Interleukin-2 (IL-2) IL-2 merupakan factor pertumbuhan untuk limfosit T yang distimulasi antigen dan bertanggungjawab terhadap perluasan sel T klonal setelah pengenalan antigen. IL-2 berperan umumnya pada sel yang sama yang menghasilkannya (mis. IL-2 biasanya disebut dengan factor pertumbuhan sel T. Berfungsi sebagai factor pertumbuhan autokrin). Untuk alasan ini. Produksi IL-2 adalah transient. namun. Struktur. Produksi sitokin merupakan salah satu respons utama dari limfosit terhadap pengenalan antigen. reaksi seluler yang bervariasi ini mungkin terlihat dalam berbagai derajat infeksi. seperti subset TH1 dan TH2. . yang menghasilkan set-set sitokin yang berbeda dengan fungsi yang berbeda. Pada pembahasan berikut ini. Produksi. IL-2 yang disekresi merupakan glikoprotein 14. Tipe mikroba yang berbedan dan paparan terhadap antigen dapat menginduksi CD4+ sel T helper untuk mendiferensiasi populasi efektor. Aktivasi dari sel-sel T oleh antigen dan kostimulator menstimulasi transkripsi gen IL-2 dan sintesis dan sekresi dari protein. SITOKIN YANG MEMEDIASI DAN MEREGULASI IMUNITAS ADAPTIF Sitokin memediasi proliferasi dn diferensiasi dari limfosit setelah pengenalan antigen dan aktivasi dari fase respons imun adaptif dan memediasi aktivasi dari sel efektor khusus pada fase efektor dari imunitas adaptif. Hal ini merupakan prototype dari sitokin empat-α-heliks yang berinteraksi dengan reseptor sitokin tipe I.sampai 17 kD yang berlipat menjadi protein globular yang memiliki empat-α-heliks.

Sehingga. yang diaktivasi oleh banyak reseptor. β dan γ. IL-2Rα diekspresikan dengan cepat. Stimulasi dari sel T yang kronik menyebabkan pengguguran dari IL-2Rα. Aksi Biologis . dengan stimulasi pertumbuhan setengah maksimal yang terjadi pada konsentrasi sitokin yang sama yang menghasilkan pengikatan setengah maksimal (~10-9 M). sehingga sel T yang mengenal antigen adalah sel-sel yang berproliferasi sebagai resposn dari IL-2 yang diproduksi selama respons imun adaptif. sel T yang distimulasi antigen adalah lebih responsive terhadap IL-2 daripada sel T yang polos.Ekspresi dari reseptor IL-2 fungsional diaktifkan oleh stimulasi antigen. Reseptor IL-2 (IL-2R) terdiri dari 3 protein nonkovalesensi yang dikenal dengan α. IL-2 berikatan dengan rantai α dengan afinitas yang rendah. IL2 menginduksi pertumbuhan dari sel yang mengekspresikan kompleks IL-2Rβγ. suatu peningkatan jumlah dari IL-2Rα yang gugur pada serum merupakan tanda dari stimulasi antigenic yang kuat (mis. Rantai dari α dan β terlibat pada pengikatan sitokin dan rantai β dan γ terlibat dalam transduksi sinyal. termasuk IL-4. dan stimulasi pertumbuhan untuk sel-sel tersebut terjadi pada konsentrasi IL-2 yang rendah. sehingga mengurangi konsentrasi dari Il-2 yang dibutuhkan untuk stimulasi pertumbuhan. dan hal ini tidak membawa kepada respons biologis yang terdeteksi. IL-2R α merupakan polipeptida 55-kD yang terlihat pada kativasi dari sel T dan dikenal sebagai antigen Tac (untuk T activation). Protein IL2Rβ diekspresikan pada kadar yang rendah pada sel T yang beristirahat (dan pada sel-sel NK) berhubungan dengan polipeptida disebut rantai γ common (γc) karena juga merupakan komponen resepter untuk sitokin lainnya. Pengikatan IL-2 dengan reseptornya menyebabkan aktivasi dari jalur sinyal transduksi yang multiple termasuk jalur JAK STAT (umumnya JAK1 dan JAK3 yang mengaktivasi STAT5). Sel-sel yang mengekspresikan IL-2Rα dan membentuk kompleks IL-2Rαβγ yang mengikat IL-2 lebih erat. dengan Kd dari ~10-11M. Pada aktivasi dari reseptor antigen yang dimediasi sel T. dan jalur sinyal fosfatidilinositol-3 kinase dan Ras-MAP kinase. penolakan akut dari organ transplantasi). dan kedua yang terakhir merupakan anggota dari keluarga reseptor sitokin tipe I. Secara klinis. IL-7 dan IL-15. yang meruakan hal yang unik dari sitokin.

- IL-2 mempotensiasi kematian apoptotic dari sel-sel T yang diaktivasi antigen. IL-2 berperan pada sel B sebagai factor pertumbuhan dan sebagai stimulus dari sintesis antibodi. oleh sel T. berfungsi sebagai factor pertumbuhan parakrin. IL-2 menginduksi jatuhnya kadari dari protein yang dikenal dengan p27 yang menghambat aksi dari kompleks siklinkinase. Sebagai tambahan dari menstimulasi pertumbuhan sel T. tetapi dapat menstimulasi proliferasi dari sel-sel T lainnya. IL-2 menyebabkan suatu kemajuan dari siklus sel melalui sintesis siklin dan menyebabkan penghambatan dari perjalanan siklus sel melalui degradasi p27. Sehingga. mengekspresikan IL-2Rβγc (tetapi bukan IL-2Rα). seperti resting sel T. bertanggungjawab untuk proliferasi dari sel antigen spesifik. seperti Rb. Karena sel-sel NK. Fosforilate kinase dan aktivasi dari protein seluler. tetapi juga memainkan beberapa peranan penting lainnya pada respons imun adaptif. menghasilakn sel pembunuh yang diaktifasi oleh limfokin. Aktivasi yang berulang dari sel T CD4+ pada kehadiran dari IL-2 membuat sel-sel ini sensitive terhadap apoptosis oleh jalur Fas. IL-2 menstimulasi pertumbuhan dari sel NK dan merangsang fungsi sitolitik. Yang menarik disini adalah sitokin yang sama dapat menstimulasi ketahanan dan proliferasi dari sel T pada satu sisi dan menyebabkan kematian sel di sisi yang lain. Aksi utama dari IL-2 adalah autokrin. IL- .IL-2 ditemukan sebagai factor pertumbuhan sel T. menyebabkan terminasi dari respons. sel T menunjukkan suatu peningkatan yang cepat dari konsentrasi siklin yan gberhubungan dengan dan mengaktivasi cyclin-dependent kinases yang berbeda. IL-2 juga menyebabkan ketahanan dari sel melalui induksi dari antiapoptotik protein Bcl 2. Pada paparan dari IL-2. aksi proapoptotik menjadi dominant. - IL-2 yang dihasilkan sel T pada pengenalan antigen. mereka bisa distimulasi hanya oleh kadar IL-2 yang tinggi. Terlihat seperti suatu respons imun itu adalah persisten dan sel T yang terpapar meningkatkan kuantitas dari IL2. - IL-2 menyebabkan proliferasi dan diferensiasi dari sel imun lainnya. IL-2 juga meningkatkan produksi dari sitokin lainnya seperti IFN-γ dan IL-4. Sebagai tambahan. yang menstimulasi trasisi dari G 1 ke fase S dari siklus sel.

yang menginduksi transkripsi dari gen yang berhubungan dengan banyak aksi dari IL-4. IgE juga merupakan mediator . Reseptor IL-4 adalah anggota dari empat-α-heliks keluarga sitokin. menyebabkan suatu mekanisme lain untuk mematikan respons imun. Reseptor IL-4 dari sel limfoid terdiri dari rantai α yang terikat sitokin yang merupakan anggota dari keluarga reseptor sitokin tipe I. Pada sel nonlimfoid. Struktur. Reseptor IL-4 ini memberikan sinyak melalui jalur JAK/STAT (JAK3 atau 4/STAT6) dan oleh jalur yang melibatkan respons substrat insulin (IRS) yang disebut IRS-2. seperti diferensiasi TH2 dan sel B yang bergantian dengan IgE. Aktivasi dari jalur IRS-2 bertanggungjawab untuk induksi dari proliferasi seluler. IL-4 merupakan sitokin utama untuk subset TH2 dan berfungsi sebagai penginduksi dan efektor sitokin dari se-sel ini. Interleukin-4 (IL-4) IL-4 merupakan stimulus utama dari produksi antibody IgE dan perkembangan dari sel TH2 dari sel T helper CD4+ yang polos. ini menjadi fungsi utama dari sel TH2 pada pertahanan ejamu. berhubungan dengan rantai γc yang berhubungan dengan reseptor sitokin lain. IL-4 merupakan sitokin satusatunya yang mengaktivasi protein STAT6. Aksi Biologis Aksi biologis dari IL-4 termasuk stimulasi dari IgE dan reaksi sel mast/reaksi yang dimediasi eosinofil dan supresi dari reaksi yang bergantung makrofag. Sumber seluler utama dari IL-4 adalah sel T limfosit CD4+ dari subset TH2 begitu juga dengan sel mast yang teraktivasi dan basofil. Antibodi IgE memainkan peran dalam pertahanan yang diperantarai eosinofil terhadap infeksi helmintik atau arthropod. Produksi. - IL-4 adalah sitokin utama yang menstimulasi sel B Ig kelas rantai berat yang bertukar dengan isotipe IgE. rantai α reseptor IL-4 berhubungan dengan rantai γc ttapi dengan rantai yang memberikan sinyal yang juga merupakan komponen dari reseptor untuk IL-13.2 dapat juga menstimulasi perkembangan dari sel T regulatoris.

IL-4 yang bertanggung jawab untuk induksi dan ekspansi dari subset ini. IL-4 dan IL-5 berfungsi dalam: IL-4 menstimulasi produksi IgE yang mengopsonisasi helmits dan menghambat eosinofil dan IL-5 mengaktivasi eosinofil untuk menghancurkan parasit. .sel T dan melalui aktifasi sel mast. - Antagonis IL-4 aktivasi makrofag memberi efek dari IFN-γ dan kemudian menghambat reaksi imun sel mediasi. Hal ini berhubungan dengan 150-kD subunit transdusing signal yang dibagi dengan reseptor – reseptor untuk IL-3 dan GM-CSF dan kadang – kadang sering dinamakan rantai β. Reseptor IL – 5 merupakan homodimer dimana setiap subunit terdiri dari 4 α helix domain. Struktur. - IL-4 menstimulasi pembentukan dari sel TH2 dari sel T CD4+ polos dan berfungsi sebagai factor pertumbuhan autokrin untuk diferensiasi dari sel T H2.utama dalam reaksi hipersensitivitas tipe segera. Ini diproduksi oleh subset TH2 dari CD4. Signal IL-5 dimediasi melalui jalur JAK / STAT. dua hal penting sitokin TH2. Reseptor IL– 5 adalah tipe I reseptor sitokin. Eosinofil yang diaktivasi mampu untuk membunuh helmits. Eosinofil mengekspresi reseptor Fc spesifik untuk antibodi IgE dan oleh karena itu mempunyai kemampuan untuk menghambat mikroba yang dilindungi IgE seperti helmits. Produksi. INTERLEUKIN – 5 (IL. IL-4 juga menyebabkan pergantian antara IgG4 dan menghambat pergantian ke isotipe IgG2a dan IgG3 pada tikus.5) IL – 5 merupakan aktivator dari eosinofil dan merupaka penghubung anatara aktivasi sel T dan inflamasi eosinofil. dan produksi dari IL-4 adalah penting dalam perkembangan alergi. Oleh karena itu. kedua distimulasi oleh IFN-γ. Aksi Biologi Aksi mayor dari IL – 5 mengaktivasi eosinofil matur dan menstimulasi pertumbuhan dan diferensiasi dari eosinofil.

Bagian dari TH1 menginduksi efek dari INFγ yang tidak langsung dimediasi oleh aktivasi fagosit mononuklear untuk memproduksi IL – 12. seperti IgE dan IgG1 pada tikus. Sebagai tambahan. dimana merupakan TH1 utama yang menginduksi sitokin. Produksi. seperti yang ditunjukkan melalui ekspansi sel B normal dalam IL -5. dan kedua mekanisme ini medukung fagositosis dari mikroba yang terobsonisasi. - IFN-γ menyebabkan diferensiasi dari sel CD4+ T menjadi subset TH1 dan penghambat proliferasi dari sel TH2.IL-5 menstimulasi proliferasi dari sel B dan produksi dari antibodi IgA. IgG2a yang muncul pada tikus dan untuk menghambat penggantian isotipe IL-4 dependen. IL-5 pertama kali diidentifikasi sebagai sitokin yang distimulasi proliferasi sel B tikus. INTERFERON-γ (IFN-γ) IFN-γ merupakan sitokin utama aktivasi makrofag dan memberikan fungsi kritis dalam imunitas bawaan dan sel mediasi imun yang didapat. - IFN-γ mengaktifasi neutrofil dan menstimulasi aktivitas sitolitik dari sel NK . Reseptor IFN-γ adalah hemodimerik protein diproduksi oleh sel NK. tapi aksi ini dibagi oleh sitokin lain . tapi ini bukanlah antivirus interferon yang poten dan mempunyai fungsi utama sebagai efektor sitokin dari respons imun. sebagai suatu keatuan dengan efek aktifasi makrofag yang langsung dari sitokin ini. Sehingga IFN-γ menginduksi respons antibodi yang juga berpartisipasi dalam eliminasi mediasi fagosit pada mikroba.IFN-γ juga disebut imun atau tipe II IFN. Mempunyai beberapa aktivitas antivirus. Sub kelas IgG diinduksi oleh IFN-γ berikatan dengan reseptor Fcγ pada fagosit dan komplemen aktif. IFN-γ menstimulasi produksi dari faktor transkripsi yang secara langsung mendukung diferansiasi TH1. Struktur. IFN-γ juga menyebabkan ekspresi dari rantai penanda reseptor IL – 12 - IFN-γberperan pada sel B untuk mendukung pergantian dari sub kelas IgG. Pada tikus. CD4+ sel TH1 dan CD8+ sel T.

Ini sesungguhnya keluarga dari molekul yang berhubungan erat dengan pengkodean molekul melalui pengenalan gen. TGF β jika bereaksi dengan sel lain sebagoian selendotelium secara umum untuk menghalangi efek terapi sitokin. Sedring juga TGF β dapat juga menghambat atau menstimulasi pertumbuhan tipe sel yang sama secara invitro. Dan reseptor seluler untuk protein . AKSI BIOLOGI TGF β inhibisi proloiniferation dan differentiation sel sel T dan aktifasi makrofag. seperti metaloproteinase. Pada aksi ini fungsi TGF β menginhibisi kekebalan dan respon inflamasi. TGF – β ditemukan sebagai produk tumor yang mendukung keberadaan sel dalam media kultur semisolid. Beberapa regulator sel T memproduksi TGF-β dan sel yang sama dapat juga memproduksi IL – 10 yang seperti TGF-β mempunyai aktivitas imunosupresif. matrik modifikasi. ini mungkin menghambat proliferasi beberapa tipe sel dan menstimulasi sel yang lain. Antibodi IgA dengan menginduksi sel β untuk bertukar dengan isotipe ini. TGF β menyebabkan sintesis protein extraseluler seperti kolagen. Reseptor TGF-β1 adalah protein hemodimerik yang disintesis sebagai prekursor dan diaktivasi oleh belahan proteolitik. tergantung kondisi kultur. TRANSFORMING GROWTH FACTOR β (TGF-β) Prinsip aksi dari TGF-β dalam sistem imun adalah untuk emnghambat proliferasi dan aktifasi dari limfosit dan leukosit lain. Struktur. IgA adalah isotipe antibodi yang diperlukan untuk kekebalan mukosa.dependen. TGF-β2 dan TGF-β3. Dia disimpan oleh stimulasi antigen sel T. Reseptor TGF-β termasuk dua reseptor polipeptide afinitas tinggi yang menandai melalui serine / threonine kinase yang merupakan faktor transkripsi fosforilat yang disebut SMADs. TGF β mempunyai macam-macam aksi diluar sistem imun. Produksi. kebanyakan didesain TGF-β1. LPS diaktifasi fagosit mononuklear dan bweberapa tipe sel lain.Jumlah efek dari aktivitas IFN-γyang mendukung reaksi inflamasi makrofag pada saat reaksi eosinofil menghambat IgE. Sel pada sistem imun sering mensintesis TGF-β1.

Bentuk sekresi dari LT adalah homotrimer. tetapi fungsi fisiologinya tidak jelas. IL-13 menstimulasi produksi mukus oleh sel epitel paru – paru dan mungkin memainkan peranan pada asma. seperti makrofag. LT mengaktifasi sel endotelial dan neutrofil dan juga mediator dari respon inflamasi akut. Bentuk membran LT β berikatan pada reseptor yang berbeda juga yang berasal dari famili reseptor TNF. konsistensi dengan ikatan pada reseptor yang sama. tetapi muncul kurang daripada efek pada limfosit T atau B daripada IL-4. termasuk Il – 4. IL – 17 mengandung famili sitokin yang diproduksi oleh aktivasi dan memori sel T dan menginduksi produksi dari sitokin proinflamasi lain. Efek biologi LT ini sama seperti mereka dari TNF. IL – 16 adalah sitokin sel T terbagi y ang beraksi sebagai kemoatraktan spesifik dari eosinofil.seperti integrin. Aksi ini mungkin mempromosi perbaikan jaringan sesudah kekebalan lokal dan reaksi inflamasi yang terkontrol. Aksi mayor IL-13 pada makrofag adalah menghambat aktivasi mereka dan berlawanan dengan IFN-γ. Bagaimanapun karena kuantitas dari LT tersensitisasi oleh antigen. Reseptor IL-13 ditemukan terutama pada sel non limfoid. seperti makrofag dan dapat diaktivasi juga oleh IL -13 atau IL-4. LT tidak siap dalam menstimulasi darah. IL – 1 dan kemokin IL25 disekresikan oleh sel TH2 dan stimulasi produksi dari sitokin lain. menghasilkan hubungan antara aktifasi sel T dan inflamasi. sama dengan TNF dan berikatan dengan reseptor TNF. Il-3 mempunyai efek dari IL-4 pada sel nonlimfoid. LT juga diekspresikan sebagai protein membran yang mana rantai satu yang sekresikan berhubungan dengan 2 subunit dari struktur yang berhubungan dengan struktur membran dinamakan protein membran LT β. IL-13 adalah struktur sitokin yang sama dengan IL-4 yang diproduksi oleh TH2 CD4+ sel T dan oleh beberapa sel epitelial. Sitokin lain dari kekebalan adaptif Limfotoksin (LT) adalah sitokin yang diproduksi oleh limfosit T dan sel lain. seperti TNF. Ini mendekati 30% homolog dengan TNF makrofag terbagi dan melayani banyak fungsi yang sama. terstimulasi sel T adalah sangat kurang daripada sejumlah TNF yang dimuat oleh LPS terstimulasi fagosit mononuklear. Beberapa sitokin T sel terbagi lain sudah dideskripsikan. IL – .

Faktor stem sel Stem sel pluripofen mengekspresikan membran reserpin tirosin kinase yang merupakan produk protein dari protoonkogen C kit seluler. In vitro IL 7 merupakan growth factor untuk pematangan sel T yang menyerupai aksi ini adalah IL 2. “Migration Inhibitor Factor (MIF)” adalah aktivasi sel T terbagi yang mengimobilisasi fagosit mononuklear. Sebagai protein trans membran atau protein yang di sekresikan keduanya di produksi dari gen yang sama alternatif suplai dari RNA ini di percaya merupakan faktor stem sel dibutuhkan untuk membuat stem sel sumsum tulang mungkin juga ini memainkan peranan viabiliti dan proliferasi dari sel sel imatur pada timis dan sel mast pada jaringan mukosa. IL – 17 dan IL – 25 dipercaya memainkan peranan pada amplifier berbeda sel T yang tergantung pada reaksi inflamasi. INTERLEUKIN 7 (IL – 7) IL – 7 adalah suato sitokin 4 a helical yang di sekresi oleh sel stroma sumsum tulang yang menstimulasi kehidupan dan memperluas percursor yang imatur yang berhubungan dengan turunan B dan T limfosit. Bentuk seluler pada faktor stem sel tidak ada streig mutan tikus yang dimanakan steel. Pada manusia dengan mutasi pada gen ini hasil berasal dari defeksignal IL 7. INTERLEUKIN 3 IL 3 di ketahui merupakan turunan banyak dari multi CSF yang di produksi oleh CD4 Sel T yang bereaksi pada progineti sumsum imatur yang memproduksikan perluasan dari sel yang berdeferensiasi ke semua tipe sel imatur IL 3 adal bagian dari famili 4 α heliks dari . efeknya mungkin menyebabkan sel tertahan pada bagian inflamasi. JAK3 kinase adalah limfophenik dengan penurunan nomor dari sel T dean B.Reseptor IL 7 berisi unit IL 7 berikatan dengan α yang berhubungan dengan ¥ yang di identifikasikan sebegai komponen reseptor IL 2. Sitokin yang berinteraksi dengan reseptorin dinamakan ekit ligand atau fuktur stem sel karena bereaksi pada stem sel imatur.5 dan IL – 13. C kit dinamakan juga faktor reseptor stem sel di sintesis oleh sel stroma sumsum tulang. tetapi fungsi esensial in vivo tidak diketahui.

.sitokin . pada reseptor IL 3 berisi sitokin yang berikatan dgn komponen yang merupakan bagian dari famili reseptor sitokin tipe 1.