PRESENTASI KASUS

ADENOMIOSIS

Oleh :
Aditya Bawono

G99

Fika Kumala Sofia

G99

Hafidz Nur Ichwan

G99132003

Rizal Tahta M.

G99

Pembimbing:
Dr. Sp.OG

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KEBIDANAN DAN KANDUNGAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNS / RSUD Dr. MOEWARDI
SURAKARTA
2014

0

BAB I
PENDAHULUAN
.
Adenomiosis, dikenal pula dengan nama endometriosis interna, merupakan
kelainan jinak uterus yang ditandai oleh adanya komponen epitel dan stroma
jaringan

endometrium

fungsional

di

miometrium.1,2 Istilah

adenomiosis

diperkenalkan pertama kali oleh Frankl (1925) dua tahun sebelum istilah
endometriosis diperkenalkan oleh Sampson (1927).2,3
Gambaran cystosarcoma adenoids uterinum (istilah awal adenomiosis)
pertama kali dilaporkan oleh patolog Carl von Rokitansky (1860).2,3,4 Pada tahun
1896, von Recklinghausen melaporkan fenomena yang sama dengan istilah
adenomyomata dan cystadenomata.2 Pada masa itu, patomekanisme adenomiosis
dan endometriosis masih dianggap berbeda.3 Thomas Stephen Cullen (1908)
menemukan tumor intramiometrial dengan epitel dan stroma endometrial
terdistribusi di dalamnya. Tahun 1921 barulah disadari bahwa ‘adenomiosis’ dan
‘endometriosis’keduanya berasal dari jaringan endometriotik serupa.2,3
Tahun 1972, Bird et al. mengemukakan definisi adenomiosis sebagai
invasi jinak jaringan endometrium ke dalam lapisan miometrium yang
menyebabkan pembesaran uterus difus dengan gambaran mikroskopis kelenjar dan
stroma endometrium ektopik non neoplastik dikelilingi oleh jaringan miometrium
hipertrofik dan hiperplastik.2,3,4 Belakangan diketahui ada adenomiosis yang
bermanifestasi sebagai lesi fokal terisolasi dalam miometrium.1
Pada awal tahun 1988, Honoré et al. mempublikasikan kasus adenomiosis
pada tiga wanita muda infertil yang menjalani pembedahan dengan diagnosis awal
leiomioma uteri.4 Memang, telah lama dicurigai adenomiosis berperan sebagai
salah satu penyebab subfertilitas bahkan infertilitas pada populasi wanita. Hanya
saja diagnosis adenomiosis saat itu masih berdasarkan spesimen histerektomi
sehingga sangat sulit mengevaluasi pengaruhnya terhadap fertilitas.4
Kini, pada wanita muda tanpa gejala sekalipun magnetic resonance
imaging (MRI) memungkinkan identifikasi penebalan junctional zone (JZ), tautan
antara endometrium dengan sisi dalam miometrium. JZ mengalami penebalan
1

5.4 2 .4.signifikan pada adenomiosis.6 Kedua teknik noninvasif tersebut cukup akurat dalam mendiagnosis adenomiosis preoperatif.4Transvaginal sonography(TVS) memungkinkan identifikasi adenomiosis itu sendiri.

adenomiosis parsial atau difus. Pertama. (1972) mengemukakan definisi adenomiosis sebagai invasi jinak jaringan endometrium ke dalam lapisan miometrium yang menyebabkan pembesaran uterus difus dengan gambaran mikroskopis kelenjar dan stroma endometrium ektopik non neoplastik dikelilingi oleh jaringan miometrium hipertrofik dan hiperplastik. Ada dua cara membedakannya. jarak JZ dengan fokus adenomiotik tidak lebih dari 25% total ketebalan miometrium. hiperplasia JZ sederhana.2 Sathyanarayana (1991) membagi adenomiosis kedalam 3 kategori berdasarkan kedalaman lokasi lesi yaitu lesi terbatas pada lapisan basal. ketebalan JZ ≥8 mm tetapi ˂12 mm pada wanita berusia ≤35 tahun. dan melibatkan komponen di luar miometrium <⅓. (2008) mengusulkan sistem klasifikasi adenomiosis sederhana berdasarkan analisis MRI pada JZ uterus. fokus miometrial berintensitas sinyal tinggi.7 Gordts et al.3. <⅔ atau >⅔. Kedua. Dan ketiga. dan adenomiosis harus dibedakan dengan invaginasi miometrium basalis minimal.4 3 . adenomioma. ketebalan JZ ≥12 mm.4 Definisi tersebut masih berlaku hingga sekarang dengan modifikasi.BAB II TINJAUAN PUSTAKA I. Kedua. DEFINISI DAN KLASIFIKASI Bird et al. massa miometrial berbatas tidak jelas dengan intensitas sinyal rendah pada semua sekuens MRI. Adenomiosis adalah keberadaan kelenjar dan stroma endometrium pada sembarang lokasi di kedalaman miometrium. lapisan dalam dan lapisan permukaan. pertama apakah ada hipertrofi miometrial di sekitar fokus adenomiotik bila JZ tidak tampak. Isu kedalaman menjadi penting sebab batas JZ seringkali ireguler.2.

melaporkan insidens 54% hiperplasia JZ pada wanita subfertil dengan keluhan menoragi dan dismenore. Kegagalan implantasi terjadi pada 95.10 4 . riwayat hiperplasia endometrium. usia saat partus pertama kali.4. pada literatur lain dilaporkan 8% hingga 61%. penggunaan kontrasepsi oral dan IUD dilaporkan tidak berkaitan dengan adenomiosis. menopause.5 Jauh sebelumnya.9.2. dan polimenore. ETIOLOGI Berbagai keadaan telah diteliti sebagai faktor resiko adenomiosis antara lain usia antara 40-50 tahun. riwayat abortus provokatus.II. multipara. sebuah studi di Itali oleh Parazzini et al. obesitas.5% pada subjek lain.2% pada 707 wanita yang menjalani histerektomi atas berbagai indikasi. dilaporkan bahwa peningkatan ketebalan JZ uterus berkorelasi signifikan dengan kegagalan implantasi pada IVF. Bukti lain melaporkan kehamilan pada wanita infertil setelah diterapi adenomiosis dengan agen GnRH agonis. bergantung pada seleksi sampel dan kriteria diagnostik yang dipakai. (2012) melaporkan insidens 23. De Souza et al.8 Studi di Nepal oleh Shrestha et al.4% pada 256 spesimen histerektomi.10 Meskipun insidensnya lumayan tinggi. Penelitian terbaru oleh Maubon et al. panjang siklus dan lama haid. tetapi studi epidemiologi seputar adenomiosis masih sangat jarang. riwayat seksio sesarea. (1997) melaporkan insidens serupa sekitar 21.10 Telah disinggung pada bagian pendahuluan bahwa perkembangan teknologi memungkinkan diagnosis adenomiosis preoperatif sehingga eksplorasi hubungannya dengan infertilitas dapat dilakukan. endometriosis. (2010) melibatkan 152 pasien in vitro fertilisation (IVF) untuk menilai pengaruh ketebalan JZ uterus yang diukur dengan MRI terhadap keberhasilan implantasi. EPIDEMIOLOGI Frekuensi adenomiosis bervariasi dari 5% hingga 70%.10 Diagnosis preoperatif sendiri masih kurang dari 10% .2.10 Sedangkan usia menarke. riwayat abortus spontan.8% pasien dengan JZ 7-10 mm versus 37.4 III.8.

Selama periode regenerasi kelenjar pada lapisan basalis mengadakan hubungan langsung dengan sel-sel berbentuk gelondong pada stroma endometrium. berperan sebagai membran protektif lemah dan memungkinkan kelenjar endometrium berkontak langsung dengan miometrium.IV.4 V. intensitas tinggi (2) lapisan intermediet. Di daerah ekstra-uteri misalnya pada plika rektovagina. Karakter itu pula yang memicu timbulnya peristaltik uterus di luar kehamilan. Zona tersebut bersifat hormone-dependent sehingga mengalami perubahan ketebalan secara siklis menyerupai endometrium. 5 . PATOFISIOLOGI Mekanisme yang memicu invasi jaringan endometrium ke dalam miometrium masih belum jelas. Hal ini memungkinkan lapisan fungsional menjadi tempat implantasi blastokista sedangkan lapisan basalis berperan dalam proses regenerasi setelah degenerasi lapisan fungsional selama menstruasi.4 Adenomiosis berkembang dari pertumbuhan ke bawah dan invaginasi dari stratum basalis endometrium ke dalam miometrium sehingga bisa dilihat adanya hubungan langsung antara stratum basalis endometrium dengan adenomiosis di dalam miometrium. adenomiosis dapat berkembang secara embriologis dari sisa duktus Muller. Lapisan fungsional endometrium secara fisiologis berproliferasi secara lebih aktif dibandingkan lapisan basalis. MRI T2-weighted menunjukkan tiga lapisan berbeda pada uterus wanita usia produktif : (1) lapisan dalam. HISTOLOGI Junctional zone (JZ) pada lapisan terdalam miometrium atau disebut juga archimetra memiliki karakter khas yang membedakannya dengan tautan lain. mukosa endometrium. Lapisan miometrium pasca menopause tampak kabur pada MRI akibat supresi aktivitas ovarium atau pemberian analog GnRH. Perubahan proliferasi seperti aktivitas mitosis menyebabkan peningkatan secara signifikan dari sintesis DNA & siliogenesis di lapisan fungsional endometrium daripada di lapisan basalis. Penelitian terkini berhasil mengungkap sifat dan fungsi JZ.4 Mekanisme terjadinya invasi endometrium ke dalam miometrium pada masih harus dipelajari lebih lanjut. JZ (3) dan lapisan serosa.

ditemukan konsentrasi yang tinggi baik reseptor estrogen dan progesteron pada lapisan basalis endometrium maupun adenomiosis.4 Reseptor estrogen merupakan syarat untuk pertumbuhan endometrium yang menggunakan mediator estrogen. Dengan menggunakan tehnik pelacak imunohistokimia. Konsentrasi estrogen 6 yang tinggi diperlukan dalam . Hal ini mungkin meskipun belum terbukti bahwa peningkatan ekspresi reseptor epitel endometrium berkaitan dengan kemampuan untuk menembus miometrium dan membentuk fokal adenomiosis. hiperestrogenemia memiliki peranan dalam proses invaginasi semenjak ditemukan banyaknya hiperplasia endometrium pada wanita dengan adenomiosis. Menjadi menarik dimana peningkatan ekspresi reseptor hCG/LH ditemukan pada karsinoma endometrii dibandingkan kelenjar endometrium yang normal seperti halnya yang ditemukan pada trofoblas invasif dibandingkan yang non-invasif pada koriokarsinoma. Pada saat proses regenerasi. sel-sel epitel dari kelenjar basalis berhubungan langsung dengan sel-sel stroma endometrium mikrofilamentosa/trabekula pseudopodia. Namun dalam studi invitro menunjukkan sel-sel endometrium memiliki potensial invasif dimana potensial invasif ini bisa memfasilitasi perluasan lapisan basalis endometrium ke dalam miometrium.Lapisan fungsional sebagai tempat implantasi blastocyst. sedangkan yang lain menunjukkan ekspresi reseptor progesterone yang lebih tinggi dibandingkan estrogen. sedangkan lapisan basalis sebagai sumber produksi untuk regenerasi endometrium akibat degenerasi dari lapisan fungsional saat menstruasi. kelenjar-kelenjar ini tidak dapat mengekspresikan reseptor hCG/LH. Pada endometrium yang normal. Beberapa menunjukkan tidak ada ekspresi reseptor progesteron pada 40% kasus adenomiosis.4 Studi tentang reseptor steroid menggunakan Cytosol. Meskipun masih belum jelas evidensnya. menunjukkan hasil yang tidak konsisten. Beberapa yang intraselular perubahan membentuk dan morfologi gambaran pada sistem sitoplasma epitel kelenjar endometrium adenomiosis tidak dapat digambarkan.9 Dalam studi yang menggunakan hibridisasi & imunohistokimia insitu menunjukkan kelenjar-kelenjar endometrium pada adenomiosis lebih mengekspresikan reseptor mRNA hCG/LH secara selektif.4.

diagnosis adenomiosis hanya dapat ditegakkan secara histologis setelah dilakukan histerektomi. diagnosis prehisterektomi bisa ditegakkan dengan tingkat akurasi yang tinggi. akan menstimulasi pertumbuhan jaringan yang menggunakan mediator estrogen. dimana gejala tersebut juga ditemukan pada fibroid uterus. tidak hanya terdapat reseptor Estrogen.4 Diagnosis adenomiosis secara klinis sulit dan seringkali tidak akurat. Prekursor utama androgen. perdarahan uterus disfungsional (PUD) maupun endometriosis.4 VI.4 Pada penyakit uterus yang estrogen-dependent seperti karsinoma endometri. yang hanya terdapat dalam jaringan adenomiosis. DIAGNOSIS Adanya riwayat menorragia & dismenorea pada wanita multipara dengan pembesaran uterus yang difus seperti hamil dengan usia kehamilan 12 minggu dapat dicurigai sebagai adenomiosis. Hal ini disebabkan gejala adenomiosis yang tidak khas. Protein P450arom terlokalisir secara imunologis dalam sel-sel kelenjar jaringan adenomiosis. adenomiosis & leiomioma. namun juga aromatase. diagnosis klinis adenomiosis seringkali tidak ditegakkan (75%) atau overdiagnosis. Bersama dengan Estrogen dalam sirkulasi. dikonversi oleh aromatase menjadi Estrone. Nantinya Estrone akan dikonversi lagi menjadi 17β-estradiol yang meningkatkan tingkat aktivitas estrogen. Hal ini didukung bahwa penekanan terhadap lingkungan estrogen dengan pemberian Danazol menyebabkan involusi dari endometrium ektopik yang dikaitkan dengan gejala menoragia & dismenorea. Sehingga adanya kecurigaan klinis akan adenomiosis dapat dilanjutkan dengan pemeriksaan pencitraan berupa USG transvaginal dan MRI. Andronostenedione. enzim yang mengkatalisasi konversi androgen menjadi estrogen.4 Pencitraan mempunyai 3 peran utama dalam mengelola pasien yang 7 . Dengan kemajuan dalam tehnik pencitraan. mRNA sitokrom P450 aromatase (P450arom) merupakan komponen utama aromatase yang terdapat pada jaringan adenomiosis. Dalam kenyataannya. Sumber estrogen yang lain yaitu Estrogen-3-Sulfat yang dikonversi oleh enzim Estrogen sulfatase menjadi Estrone. Dulu. endometriosis.perkembangan adenomiosis sebagaimana halnya endometriosis.

Menurut Bazot dkk. USG transabdominal.4 Biasanya USG transabdominal dikombinasikan dengan USG transvaginal yang menghasilkan kemampuan diagnostik yang lebih baik.5% dan tingkat akurasi 86. Bazot dkk melaporkan sensitivitas 65%. beratnya penyakit dapat disesuaikan dengan gejala klinisnya. pencitraan dapat digunakan untuk monitoring penyakit pada pasien dengan pengobatan konservatif. Kriteria diagnostik dengan USG transvaginal untuk adenomiosis yaitu tekstur miometrium yang heterogen/distorsi. sensitivitas 32. daerah kistik di miometrium dan echogenik yang menurun di miometrium.dicurigai adenomiosis secara klinis.4 Beberapa studi telah membandingkan akurasi pemeriksaan MRI dengan 8 . MRI merupakan modalitas pencitraan yang paling akurat untuk evaluasi berbagai keadaan uterus. Hal ini karena kemampuannya dalam diferensiasi jaringan lunak. Bazot dkk pada 2001 melaporkan bahwa USG transabdominal memiliki spesifisitas 95%. echotekstur miometrium yang abnormal dengan batas yang tidak tegas.6% dengan USG transvaginal dalam mendiagnosis adenomiosis dimana kriteria yang paling sensitif & spesifik untuk adenomiosis adalah adanya kista miometrium. Pertama. kriteria MRI yang paling spesifik untuk adenomiosis yaitu adanya daerah miometrium dengan intensitas yang tinggi dan penebalan junctional zone >12 mm. HSG memiliki sensitivitas yang rendah.4 Kriteria diagnostik dengan USG transabdominal yaitu uterus yang membesar berbentuk globuler. MRI dapat melihat anatomi internal uterus yang normal dan monitoring berbagai perubahan fisiologis. uterus normal tanpa adanya fibroid. USG transvaginal dan MRI. Beberapa pencitraan yang digunakan pada pasien yang dicurigai adenomiosis yaitu Histerosalpingografi (HSG).1% untuk mendiagnosis adenomiosis.5% dan akurasi 74. spesifisitas 97. Ketiga.4 Gambaran karakteristik utama pada HSG berupa daerah yang sakit dengan kontras intravasasi. untuk menegakkan diagnosis dan diagnosis diferensial adenomiosis dari keadaan lain yang mirip seperti leiomioma. Kedua. USG transabdominal memiliki kapasitas diagnostik yang terbatas untuk adenomiosis terutama pada wanita yang terdapat fibroid. meluas dari cavum uteri ke dalam miometrium. stria linier miometrium dan kista miometrium.

berhubungan dengan beratnya proses adenomiosis (pada 23-82% wanita dengan penyakit ringan – berat) Perdarahan ireguler relatif jarang. bersama dengan patologi yg lain) 2. Dalam studi-studi terdahulu menunjukkan tingkat akurasi yang lebih tinggi pada MRI dibandingkan USG transvaginal. dismenorea dan pembesaran uterus. Asimtomatis Ditemukan tidak sengaja (pemeriksaan abdomen atau pelvis. Gejala seperti ini juga umum terjadi pada kelainan ginekologis yang lain. Perdarahan uterus abnormal Dikeluhkan perdarahan banyak. Gejala lain yang jarang terjadi yaitu dispareunia & nyeri pelvis yang kronis atau terus-menerus. Dalam sebuah studi dimana telah ditegakkan diagnosis patologis adenomiosis yang dibuat dari spesimen histerektomi. Gejala adenomiosis yang umum yaitu menorragia. Gejala penekanan pada vesica urinaria & usus dari uterus bulky (jarang) 5. hamil (jarang) Perdarahan banyak berhubungan dengan kedalaman penetrasi dari kelenjar adenomiosis ke dalam miometrium dan densitas pada gambaran histologis dari kelenjar adenomiosis di dalam miometirum. Dismenorea pada >50% wanita dengan adenomiosis 4. Namun dalam studi-studi terakhir dikatakan tidak ada perbedaan tingkat akurasinya.USG transvaginal dalam mendiagnosis adenomiosis. Presentasi klinis adenomiosis Gejala Klinis Adenomiosis 1. Kedalaman adenomiosis dan hubungannya dengan perdarahan banyak menentukan 9 . Komplikasi infertilitas. 35% penderitanya tidak memiliki gejala yang khas. keguguran.GAMBARAN KLINIS Tidak ada gejala yang patognomonis untuk adenomiosis sehingga menyebabkan rendahnya tingkat akurasi diagnosisi preoperatif.4 VII. hanya terjadi pada 10% wanita dengan adenomiosis 3. USG transvaginal atau MRI.

Mekanisme kerja GnRHa adalah dengan menekan ekspresi sitokrom P450.2.8. Sedangkan pada kasus adenomiosis yang lebih dalam atau dengan perdarahan banyak yang berlanjut. perlu dilakukan penatalaksanaan bedah konvensional yaitu histerektomi. yang dapat dikombinasikan dengan terapi operatif.12 a. Terapi Operatif Sampai saat ini histerektomi merupakan terapi definitif untuk adenomiosis. Obat-obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID). Indikasi operasi antara lain ukuran adenomioma lebih dari 8 cm. akan tetapi perlu dilakukan intervensi noninvasif terlebih dahulu. kedalaman penetrasi adenomiosis ke dalam miometrium berhubungan dengan jumlah perdarahan banyak yang dilaporkan. suatu enzim yang mengkatalisis konversi androgen menjadi estrogen. Terapi Hormonal Pemberian terapi hormonal pada adeomiosis tidak memberikan hasil yang memuaskan. obat kontrasepsi oral dan progestin telah menunjukkan manfaat yang signifikan.11. Pemberian obat hormonal hanya mengurangi gejala dan efeknya akan hilang setelah pemberian obat dihentikan. Penanganan adenomiosis pada prinsipnya sesuai dengan protokol penanganan endometriosis. Tidak ada bukti klinis yang menunjukkan adanya manfaat terapi hormonal dapat mengatasi infertilitas akibat adenomiosis. 10 . gejala yang progresif seperti perdarahan yang semakin banyak dan infertilitas lebih dari 1 tahun walaupun telah mendapat terapi hormonal konvensional. Suatu teknik operasi baru telah dipublikasikan oleh Osada pada tahun 2011. Sehingga pada adenomiosis superfisial dilakukan reseksi atau ablasi endometrium.4 b. Obat hormonal yang paling klasik adalah gonadotrophin releasing hormone agonist(GnRHa). Pada pasien dengan adenomiosis dan endometriosis enzim ini diekpresikan secara belebihan. Dismenorea sekunder yang diakibatkan oleh adenomiosis dapat diatasi dengan tindakan histerektomi. McCausland menunjukkan bahwa dari biopsi reseksi endometrium.12 VIII.pilihan strategi penatalaksanaannya. PENATALAKSANAAN Tatalaksana adenomiosis bergantung pada usia pasien dan fungsi reproduksi selanjutnya.

Teknik ini diklaim dapat mencegah ruptur uterus apabila pasien hamil. Akan tetapi teknik ini belum diterima secara luas karena masih membutuhkan penelitian lebih lanjut. 16 di antaranya berhasil dan 14 dapat mempertahankan kehamilannya hingga aterm dengan bayi sehat tanpa penyulit selama kehamilan. jaringan adenomiotik dieksisi secara radikal dan dinding uterus direkonstruksi dengan teknik triple flap. Dalam penelitian tersebut. dari 26 pasien yang mengharapkan kehamilan.4 11 .Dengan teknik adenomiomektomi yang baru ini.

HL Umur : 48 tahun Jenis Kelamin : Perempuan Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga Agama : Islam Alamat : Gondang Wetan RT 04/RW 01 Manahan. Riwayat trauma disangkal. BAB dan BAK dalam batas normal. Riwayat Penyakit Sekarang Seorang P4A2 48 tahun datang dengan keluhan perdarahan dari jalan lahir. Surakarta Tanggal Masuk : 12 April 2014 No. IdentitasPenderita Nama : Ny. benjolan di perut disangkal. 4. Riwayat menstruasi seblumnya 1 kali per bulan selama 6 hari dan ganti pembalut sebanyak 23 kali sehari. Keluhan Utama Perdarahan Jalan Lahir 3. Riwayat keputihan lama disangkal.CM : 01249972 2. ANAMNESIS Tanggal 12 April 2014 1.BAB III STATUS PENDERITA A. Contact Bleeding disangkal. Riwayat Penyakit Dahulu Riwayat Penyakit serupa : Disangkal Riwayat Hipertensi : Disangkal Riwayat Penyakit Jantung : Disangkal Riwayat DM : Disangkal Riwayat Asma : Disangkal 12 . Tidak ada nyeri perut. Pasien mengeluh menstruasi bulan ini memanjang 15 hari dan sering ganti pembalut sebanyak 5 kali sehari.

partus spontan VI. Riwayat Perkawinan Menikah 1 kali selama 31 tahun 13 .Riwayat Alergi Obat/makanan : Disangkal Riwayat Mondok : Disangkal Riwayat Transfusi : Disangkal 5. Abortus. Abortus. Riwayat Penyakit Keluarga Riwayat Keluhan Serupa : Disangkal Riwayat Hipertensi : Disangkal Riwayat Penyakit Jantung : Disangkal Riwayat DM : Disangkal Riwayat Asma : Disangkal Riwayat Alergi Obat/makanan : Disangkal 6. tidak dilakukan kuretase II. Riwayat Fertilitas Baik 7. 14 tahun.Siklus menstruasi : 28 hari 9.Lama menstruasi : 5 hari . partus spontan Kesimpulan: Riwayat obstetri abortus 2 kali tidak dilakukan kuretase 8. 29 tahun. 3 bulan. partus spontan V. partus spontan III.Menarche : 10 tahun . Riwayat Obstetri I. 3 bulan. 26 tahun. tidak dilakukan kuretase IV. Perempuan. Laki-laki. Riwayat Haid . Perempuan. 24 tahun. Perempuan.

Mammae dalam batas normal. TFU tidak teraba.Riwayat Keluarga Berencana Pasien tidak melaksanakan program KB B. shifting dullness (-) Auskultasi : Peristaltik (+) normal 14 .50C Kepala : Mesocephal Mata : Conjuctiva pucat(+/+). Sklera Ikterik(-/-) Leher : Pembesaran kelenjar tiroid(-) Thorax : Gld. bising (-) Pulmo: Inspeksi : Pengembangan dada kanan = kiri Palpasi : Fremitus raba dada kanan = kiri Perkusi : Sonor/Sonor Auskultasi : Suara dasar vesikuler (+/+). nyeri tekan (-). Suara Tambahan(-/-) Abdomen: Inspeksi : Tidak tampak adanya kelainan Palpasi : Supel. reguler. areola mammae Hiperpigmentasi (-) Cor : Inspeksi : IC tidak tampak Palpasi : IC tidak kuat angkat Perkusi : Batas jantung kesan tidak melebar Auskultasi : Bunyi jantung I-II intensitas normal. Status Interna Keadaan Umum Tanda Vital : Baik. CM.10. PEMERIKSAAN FISIK 1. tidak teraba masa Perkusi : Undulasi (-). Gizi cukup : Tensi : 100/70mmHg Nadi : 80x/menit Respiratory Rate : 20x/menit Suhu : 36.

adnexa kanan–kiri dalam batas normal. uterus sebesar telur bebek. portio licin. dinding vagina dalam batas normal. OUE tertutup.31x106/uL Leukosit : 15. darah (+). dinding vagina dalam batas normal.5 cm.Ekstremitas : Oedema - - - - 2. Status Ginekologis Pemeriksaan Dalam Inspekulo : Vulva/uretra tenang. darah (+). sondasi 8. portio utuh.2 gr/dl Hct : 27 % Eritrosit : 3. OUE tertutup.3x103/uL Trombosit : 47 x103/uL Gol. C. VT : Vulva/uretra tenang.9x103/uL Trombosit : 164 x103/uL Laboratorium Darah tanggal 16 April 2014 15 . PEMERIKSAAN PENUNJANG Laboratorium Darah tanggal 12 April 2014 Hb : 4. darah :B GDS : 157 mg/dL HbsAg : Reaktif Tes Kehamilan : Negatif Laboratorium Darah tanggal 15 April 2014 Hb : 8.87x106/uL Leukosit : 24. discharge (-).1 gr/dl Hct : 14 % Eritrosit : 2. discharge (-).

PENATALAKSANAAN 1. E.82x106/uL Leukosit : 18.6. adnexa dalam batas normal Kesan: Menyokong gambaran leiomyoma uteri D. tampak uterus membesar ukuran 10 x 6. Pasang O2 3 lpm 2. sklera ikterik(-/-) Thorax : Cor : dalam batas normal 16 . gizi cukup Tanda vital : T : 120/80 mmHg N : 80 x/menit Rr : 18x/menit t : 36. composmentis. Usul Kuretase Diagnostik Evaluasi Tanggal 13 April 2014 P4A2 48 tahun Keadaan Umum : Sedang. Perbaikan Kondisi Umum 3.Hb : 8.5 x 7.6x103/uL Trombosit : 233 x103/uL USG VU terisi cukup. DIAGNOSA AUB (L) disertai bisitopenia dan leukositosis dengan hiperglikemia F. tampak gambaran whorl like appearance.8 gr/dl Hct : 29 % Eritrosit : 3. PROGNOSA Dubia G.50C Mata : Conjunctiva anemis(+/+). KESIMPULAN Seorang P4A2 48 tahun dengan perdarahan di luar siklus menstruasi disertai penurunan Hb dengan USG menyokong gambaran leiomyoma uteri.

discharge (-). portio licin.Pulmo : dalam batas normal Abdomen : Supel.50C Mata : Conjunctiva anemis(+/+). uterus sebesar telur bebek. OUE tertutup. composmentis. NT(-). TFU tidak teraba Genital : Vulva/uretra tenang. OUE tertutup. darah (+). adnexa kanan–kiri dalam batas normal. adnexa kanan–kiri dalam batas normal. discharge (-). Menfenamat 3 x 500 mg Usul Kuretase Diagnostik Evaluasi Tanggal 14 April 2014 P4A2 48 tahun Keadaan Umum : Sedang. portio licin. TFU tidak teraba Genital : Vulva/uretra tenang. Dx : AUB (L) disertai bisitopenia dan leukositosis dengan hiperglikemia Tx : Pasang O2 3 lpm Transfusi hingga Hb ≥10g/dl Injeksi As. darah (+). dinding vagina dalam batas normal. uterus sebesar telur bebek. dinding vagina dalam batas normal. Dx : AUB (L) disertai bisitopenia dan leukositosis dengan hiperglikemia Tx : Pasang O2 3 lpm Transfusi hingga Hb ≥10g/dl Injeksi As. gizi cukup Tanda vital : T : 110/80 mmHg N : 80 x/menit Rr : 20x/menit t : 36. Tranexanat 500 mg/8 jam As. sklera ikterik(-/-) Thorax : Cor : dalam batas normal Pulmo : dalam batas normal Abdomen : Supel. Tranexanat 500 mg/8 jam 17 . NT(-).

dinding vagina dalam batas normal. portio licin. OUE tertutup. Menfenamat 3 x 500 mg Usul Kuretase Diagnostik jika Hb≥ 9 g/dl Evaluasi Tanggal 15 April 2014 P4A2 48 tahun Keadaan Umum : Sedang. gizi cukup Tanda vital : T : 110/80 mmHg N : 80 x/menit Rr : 20x/menit t : 36. composmentis. Dx : AUB (L) disertai bisitopenia dan leukositosis dengan hiperglikemia Tx : Pasang O2 3 lpm Transfusi hingga Hb ≥10g/dl Injeksi As. adnexa kanan–kiri dalam batas normal. Tranexanat 500 mg/8 jam As.50C6 Mata : Conjunctiva anemis(+/+). NT(-). Menfenamat 3 x 500 mg Usul Kuretase Diagnostik jika Hb≥ 9 g/dl Evaluasi Tanggal 16 April 2014 P4A2 48 tahun Keadaan Umum : Sedang.50C : Conjunctiva anemis(+/+). gizi cukup Tandavital : T : 120/80 mmHg N : 80 x/menit Rr : 20x/menit t Mata : 36. discharge (-). sklera ikterik(-/-) 18 . composmentis. sklera ikterik(-/-) Thorax : Cor : dalam batas normal Pulmo : dalam batas normal Abdomen : Supel. uterus sebesar telur bebek. darah (+).As. TFU tidak teraba Genital : Vulva/uretra tenang.

NT(-). adnexa kanan–kiri dalam batas normal.Thorax : Cor : dalam batas normal Pulmo : dalam batas normal Abdomen : Supel. Menfenamat 3 x 500 mg Usul Kuretase Diagnostik jika Hb≥ 9 g/dl 19 . discharge (-). portio licin. OUE tertutup. TFU tidak teraba Genital : Vulva/uretra tenang. Tranexanat 500 mg/8 jam As. uterus sebesar telur bebek. dinding vagina dalam batas normal. darah (+). Dx : AUB (L) disertai anemia dan leukositosis Tx : Transfusi hingga Hb ≥10g/dl Injeksi As.

Analisa Kasus Dan Penatalaksanaan 20 .BAB IV ANALISIS KASUS A. diagnosis ditegakkan dari: Anamnesis: Status ginekologi : Pemeriksaanabdomen: Inspeksi : Palpasi : Pemeriksaan Genitalia Inspekulo : VT : USG: B. AnalisisPenegakkanDiagnosa Pada kasus ini.

1997. New York : The McGraw-Hill Companies.medscape. Benagiano G. 2. Adenomyosis:Common and Uncommon Manifestations on Sonography and Magnetic Resonance Imaging. Ors F. K. Campo S.com. Ltd. London : Blackwell Science. Adenomyosis Imaging. Benson and Pernol’s Handbook of Obstetrics and Gynecology 10th Ed. Best Pract Res Clin Obstet Gynaecol. Bergin D. Ltd. Current Obstetric & Gynaecologic Diagnosis & Treatment 9th Ed. 7.6 pp. Benagiano G and Brosens I. Berek. 2007. Pennsylvania : Lippincott Williams & Wilkins. Online (cited on December 21st 2012).Shrestha R. 2003.20(4):449-63. London : Blackwell Science. 5. 9. 6. Epub 2006 Mar 2. Handbook of Gynecology Management.1275–1279. Inc. Roservear SK. Risk factors for adenomyosis. J Ultrasound Med 2006.Kathmandu Univ Med J 2012. 2007.37(1):53-6. Pathophysiology of adenomyosis. Ferenczy A. 8. Review Article Adenomyosis and Infertility. Campo V. Clinical Adenomyosis at Hysterectomy: Profile and Histopatholgical Findings. Dewhurst’s Handbook of Obstetrics and Gynaecology 7th Ed. 2002. Berek & Novak's Gynecology 14th Ed. DeCherney AH and Nathan L. 2006 Aug.12 no.Sedhai LB. Lev-Toaff AS. New York : The McGraw-Hill Companies. Parazzini F et al. Article ID 786132. JS. Patient Characteristics. 21 . Human Reproduction Update 1998. History of adenomyosis (Abstract). Shrestha A. 2001. Pernol ML. Prevalence. Obstetrics and Gynecology International Volume 2012. Inc. 4: 312-322. 12. 3. www. 11. 10. Chopra S. Human Reproduction vol.Pandit U. 4. Edmonds DK.DAFTAR PUSTAKA 1. Reuter. 25:617–627.