BAB I

PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang
Tingginya tingkat kriminalitas saat ini menyebabkan tingginya permintaan visum.
Hal ini menjadi perhatian kita sebagai dokter umum karena walaupun permintaan visum
biasanya diajukan kepada rumah sakit besar baik umum maupun swasta, tidak menutup
kemungkinan permintaan visum diajukan kepada kita sebagai dokter umum pada saat kita
melakukan tugas PTT di suatu daerah. Untuk itu sebagai dokter umum kita wajib dapat
melakukan visum dan membuat laporannya melalui V et R.
Dalam setiap melakukan visum, perlu dilakukan pemeriksaan penunjang untuk
memperjelas dan membuktikan kebenaran suatu kasus. Karena sebenarnya, pada setiap
kejadian kejahatan hampir selalu ada barang bukti yang tertinggal, seperti yang
dipergunakan oleh seorang ahli hukum kenamaan Italia yang bernama E. Ferri, 18591927, bahwa ada yang dinamakan ‖saksi diam‖ yang terdiri antara lain atas :
1. Benda atau tubuh manusia yang telah mengalami kekerasan.
2. Senjata atau alat yang dipakai untuk melakukan kejahatan.
3. Jejak atau bekas yang ditinggalkan oleh si penjahat pada tempat kejadian.
4. Benda-benda yang terbawa oleh si penjahat baik yang berasal dari benda atau tubuh
manusia yang mengalami kekerasan maupun yang berasal dari tempat kejadian.
5. Benda-benda yang tertinggal pada benda atau tubuh manusia yang mengalami
kekerasan atau ditempat kejadian yang berasal dari alat atau senjata yang dipakai
ataupun berasal dari si penjahat sendiri. (10)
Bila ‖saksi diam‖ tersebut diteliti dengan memanfaatkan berbagai macam ilmu
forensik (forensic sciences) maka tidak mustahil kejahatan tersebut akan dapat terungkap
dan bahkan korban yang sudah membusuk atau hangus serta pelakunya akan dapat
dikenali. Sebagai contoh, pada kasus infantisida, untuk kepentingan pengadilan perlu
diketahui apakah bayi tersebut lahir hidup kemudian meninggal karena pembunuhan atau
memang lahir mati, dengan mudah dapat kita ketahui dengan melakukan pemeriksaan
hidrostatik, dimana bila jaringan paru yang dicelupkan ke dalam air tawar tersebut
mengapung maka bayi tersebut dilahirkan dalam keadaan hidup.
Oleh sebab itu, pemeriksaan penunjang khususnya pemeriksaan laboratorium
sederhana menjadi sangat dibutuhkan keberadaannya. Dalam membantu kita sebagai si
pembuat visum untuk memperjelas suatu kasus kejadian kejahatan, karena dengan
mengetahui secara pasti pemeriksaan penunjang laboratorium sederhana apa saja yang
dapat dilakukan dalam kasus-kasus tertentu, apa yang kita lakukan menjadi tepat guna.
Sehingga dapat membantu terungkapnya kebenaran yang sesungguhnya akan suatu kasus
kejadian kejahatan seperti moto yang berlaku dalam forensik bahwa ‖melalui visum,
barang/ benda yang tidak bernyawa dan tidak bergerak dapat dibuat berbicara oleh para
dokter yang melakukan visum melalui V et R.‖

A.

Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka didapatkan adanya perumusan masalah
yaitu :

A.
1.
2.
3.
A.

Apa saja pemeriksaan laboratorium sederhana?
Bagaimana cara melakukannya dan interpretasi hasilnya?
Bagaimana implementasinya pada kasus-kasus tertentu?

Tujuan
Penyusunan refarat ini bertujuan agar tenaga medis khususnya para dokter umum
yang diwajibkan untuk dapat melakukan visum dan membuat V et R, dapat mengetahui
dan memahami macam-macam pemeriksaan laboratorium sederhana yang ada pada ilmu
forensik dan dapat menentukan pemeriksaan laboratorium sederhana yang dapat
dilakukan pada kasus tertentu untuk membantu mengetahui penyebab kematian.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.

Definisi Pemeriksaan Laboratorium Sederhana
Tidak ada literatur yang secara jelas membatasi kata ‖sederhana‖ pada
pemeriksaan laboratorium sederhana forensik ini, untuk itu kami membatasinya sendiri,
yaitu pemeriksaan laboratorium yang dalam pengerjaannya mudah, dengan alat dan
reagen yang murah dan mudah didapat namun memberi nilai manfaat yang besar.

A.

Macam-macam Pemeriksaan Laboratorium Sederhana dan Pelaksanaannya

1. Pemeriksaan Laboratorium Forensik Darah
Pemeriksaan bercak darah merupakan salah satu pemeriksaan yang paling sering
dilakukan pada laboratorium forensik. Karena darah mudah sekali tercecer pada hampir
semua bentuk tindakan kekerasan, penyelidikan terhadap bercak darah ini sangat berguna
untuk mengungkapkan suatu tindakan kriminil. (1)
Pemeriksaan darah pada forensik sebenarnya bertujuan untuk membantu
identifikasi pemilik darah tersebut.
Sebelum dilakukan pemeriksaan darah yang lebih lengkap, terlebih dahulu kita
harus dapat memastikan apakah bercak berwarna merah itu darah. Oleh sebab itu
perlu dilakukan pemeriksaan guna menentukan :
a. Bercak tersebut benar darah
b. Darah dari manusia atau hewan
c. Golongan darahnya, bila darah tersebut benar dari manusia
Untuk menjawab pertanyaan – pertanyaan diatas, harus dilakukan pemeriksaan
laboratorium sebagai berikut :
a. Persiapan
Bercak yang menempel pada suatu objek dapat dikerok kemudian
direndam dalam larutan fisiologis, atau langsung direndam dengan larutan
garam fisiologis bila menempel pada pakaian.
b. Pemeriksaan Penyaringan (presumptive test)

Ada banyak tes penyaring yang dapat dilakukan untuk membedakan apakah
bercak tersebut berasal dari darah atau bukan, karena hanya yang hasilnya positif
saja yang dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Prinsip pemeriksaan penyaringan:
H2O2 ——> H2O + On
Reagen —-> perubahan warna (teroksidasi)
Pemeriksaan penyaringan yang biasa dilakukan adalah dengan reaksi benzidine
dan reaksi fenoftalin. Reagen dalam reaksi benzidine adalah larutan jenuh Kristal
Benzidin dalam asetat glacial, sedangkan pada reaksi fenoftalin digunakan reagen
yang dibuat dari Fenolftalein 2g + 100 ml NaOH 20% dan dipanaskan dengan biji
– biji zinc sehingga terbentuk fenolftalein yang tidak berwarna. (1)
Hasil positif menyatakan bahwa bercak tersebut mungkin darah sehingga perlu
dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Sedangkan hasil negative pada kedua reaksi
tersebut memastikan bahwa bercak tersebut bukan darah. (2)
1. Reaksi Benzidine (Test Adler) (1), (2)
Dulu Benzidine test pada forensic banyak dilakukan oleh Adlers (1904). Tes
Benzidine atau Test Adlerlebih sering digunakan dibandingkan dengan tes tunggal
pada identifikasi darah lainnya. Karena merupakan pemeriksaan yang paling baik
yang telah lama dilakukan. Pemeriksaan ini sederhana, sangat sensitif dan cukup
bermakna. Jika ternyata hasilnya negatif maka dianggap tidak perlu untuk
melakukan pemeriksaan lainnya.
Cara pemeriksaan reaksi Benzidin:
Sepotong kertas saring digosokkan pada bercak yang dicurigai kemudian
diteteskan 1 tetes H202 20% dan 1 tetes reagen Benzidin.
Hasil:
Hasil positif pada reaksi Benzidin adalah bila timbul warna biru gelap pada kertas
saring.
2. Reaksi Phenolphtalein (Kastle – Meyer Test)(1)
Prosedur test identifikasi yang sekarang ini, mulai banyak menggunakan
Phenolphtalein. Pada penelitian yang dilakukan oleh Kastle (1901,1906), zat ini
menghasilkan warna merah jambu terang saat digunakan pada test identifikasi
darah.
Cara Pemeriksaan reaksi Fenolftalein:
Sepotong kertas saring digosokkan pada bercak yang dicurigai langsung
diteteskan reagen fenolftalein.
Hasil:
Hasil positif pada reaksi Fenoftalin adalah bila timbul warna merah muda pada
kertas saring.
c. Pemeriksaan Meyakinkan/Test Konfirmasi PadaDarah (1), (2)
Setelah didapatkan hasil bahwa suatu bercak merah tersebut adalah darah
maka dapat dilakukan pemeriksaan selanjutnya yaitu pemeriksaan meyakinkan
darah berdasarkan terdapatnya pigmen atau kristal hematin (hemin) dan
hemokhromogen.
Terdapat empat jenis pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk memastikan bercak darah tersebut
benar berasal dari manusia, yaitu :
1. Cara kimiawi

(1) Kesulitan : Mengontrol panas dari sampel karena pemanasan yang terlalu panas atau terlalu dingin dapat menyebabkan kerusakan pada sampel. Kristal yang terbentuk kemudian diamati di bawah mikroskop.Terdapat dua macam tes yang dapat dilakukan untuk memastikan bahwa yang diperiksa itu bercak darah. Tes tersebut antara lain tes Teichmann dan tes Takayama. lihat di bawah mikroskop. b. Setelah fase dipanaskan. a. atas dasar pembentukan kristal-kristal hemoglobin yang dapat dilihat dengan mata telanjang atau dengan mikroskopik. tutup dengan kaca penutup dan dipanaskan. (2) Cara kerja: Tempatkan sejumlah kecil sampel yang berasal dari bercak pada gelas objek dan biarkan reagen takayama mengalir dan bercampur dengan sampel. (1) Selain dua tes tersebut terdapat juga tes yang digunakan untuk memastikan bercak tersebut berasal dari darah. (1) Cara pemeriksaan: Seujung jarum bercak kering diletakkan pada kaca obyek tambahkan 1 butir kristal NaCL dan 1 tetes asam asetat glacial. letakkan juga sebutir pasir. Hasil : Hasil positif dinyatakan dengan tampaknya kristal halus berwarna merah jambu yang terlihat dengan mikroskopik. Kristal pyridine ferroprotoporphyrin atau hemokromogen akan terbentuk. Test diawali dengan memanaskan darah yang kering dengan asam asetat glacial dan chloride untuk membentuk derivate hematin. Test Takayama (Tes kristal B Hemokromogen) Apabila heme sudah dipanaskan dengan seksama dengan menggunakan pyridine dibawah kondisi basa dengan tambahan sedikit gula seperti glukosa. Kelebihan: Test dapat dilakukan dan efektif dilakukan pada sampel atau bercak yang sudah lama dan juga dapat memunculkan noda darah yang menempel pada baju. biasanya Kristal muncul dalam bentuk belah-belah ketupat dan berwarna coklat. Pemeriksaan Wagenaar Cara pemeriksaan: Seujung jarum bercak kering diletakkan pada kaca obyek. yaitu : c. Selain itu test ini juga memunculkan hasil positif pada sampel yang mempunyai hasil negative pada test Teichmann. Test Teichman (Tes kristal haemin) Pertama kali dilakukan oleh Teicmann (1853). lalu tutup dengan kaca penutup sehingga antara kaca obyek dan kaca penutup terdapat celah untuk penguapan . Hasil: Hasil positif dinyatakan dengan tampaknya Kristal hemin HCL yang berbentuk batang berwarna coklat yang terlihat dengan mikroskopik.

juga dapat dijumpai pada pemeriksaan terhadap bercak darah yang struktur kimiawinya telah rusak. (1). Kesemuanya dimasukkan ke dalam labu Erlenmeyer. Dua cairan tersebut adalah antiserum dan ekstrak dari bercak darah yang diminta untuk diperiksa. terbakar dan sebagainya. Reaksi presipitasi dalam agar. (2) Cara pemeriksaan : Gelas obyek dibersihkan dengan spiritus sampai bebas lemak. misalnya bercak darah yang sudah lama sekali. Masukkan serum anti-globulin manusia ke lubang di tengah dan ekstrak darah dengan berbagai derajat pengenceran di lubang-lubang sekitarnya. Pemisahan antara antigen dan antibody akan mulai berdifusi ke lapisan lain pada perbatasan kedua cairan.6. 100 mg. 2. Hasil negative selain menyatakan bahwa bercak tersebut bukan bercak darah. Untuk itu dibutuhkan antisera terhadap protein manusia (anti human globulin) serta terhadap protein hewan dan juga antisera terhadap golongan darah tertentu. a.5 jam. Prinsip pemeriksaan adalah suatu reaksi antara antigen (bercak darah) dengan antibody (antiserum) yang dapat merupakan reaksi presipitasi atau reaksi aglutinasi. Sodium Azide. b. Letakkan gelas obyek ini dalam ruang lembab (moist chamber) pada temperature ruang selama satu malam. 50 ml larutan buffer Veronal pH 8. Hasil: Hasil positif bila terlihat Kristal aseton hemin berbentuk batang berwarna coklat. kemudian dipanaskan. Hasil : Hasil positif memberikan presipitum jernih pada perbatasan lubang tengah dan lubang tepi. Test Presipitin Cincin (2) Test Presipitin Cincin menggunakan metode pemusingan sederhana antara dua cairan didalam tube. yang dikelilingi oleh lubang-lubang sejenis. Kemudian pada satu sisi diteteskan aseton dan pada sisi lain di tetes kan HCL encer. dilapisi dengan selapis tipis agar buffer. Cara serologik Pemeriksaan serologik berguna untuk menentukan spesies dan golongan darah. tempatkan dalam penangas air mendidih sampai . Pada kasus bercak darah yang bukan dari manusia maka tidak akan muncul reaksi apapun. dibuat lubang pada agar dengan diameter kurang lebih 2 mm. (1) Hasil: Akan terdapat lapisan tipis endapan atau precipitate pada bagian antara dua larutan. Setelah agak mengeras.zat. Pembuatan agar buffer : 1 gram agar. 50 ml aqua dest. Biarkan pada temperatur ruang kurang lebih 1. Cara pemeriksaan : Antiserum ditempatkan pada tabung kecil dan sebagian kecil ekstrak bercak darah ditempatkan secara hati-hati pada bagian tepi antiserum.

yaitu : 3. golongan darah secara genetic dikontrol dan merupakan karakteristik yang seumur hidup dapat diperiksa karena berbeda pada tiap individual. contoh bila terjadi aglutinasi pada antiserum A maka golongan darah bercak darah tersebut adalah A. Dapat terlihat adanya drum stick pada pemeriksaan darah seorang wanita. Hasil : Pemeriksaan mikroskopik kedua sediaan tersebut hanya dapat menentukan kelas dan bukan spesies darah tersebut. yang bila akan digunakan dapat dicairkan kembali dengan menempatkan labu di dalam air mendidih. Pemeriksaan Mikroskopik (4) Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat morfologi sel darah merah. Bercak dengan sel darah merah masih utuh. Sel darah merah sudah rusak dengan jenis antigen yang masih dapat dideteksi namun sudah terjadi kerusakan aglutinin. sedangkan kelas lainnya berbentuk oval atau elips dan tidak berinti Bila terlihat adanya drum stick dalam jumlah lebih dari 0. Cara pemeriksaan : Darah yang masih basah atau baru mengering ditaruh pada kaca obyek kemudian ditambahkan 1 tetes larutan garam faal. Aglutinasi yang terjadi pada suatu antiserum merupakan golongan darah bercak yang diperiksa. Kelebihan: Dapat terlihatnya sel –sel leukosit berinti banyak. meliputi : Penentuan Golongan Darah (1). lihat dibawah mikroskop. Darah yang telah mengering dapat berada dalam pelbagai tahap kesegaran. Larutan ini disimpan dalam lemari es. (4) American Association of Blood Banks mendefinisikan golongan darah sebagai kumpulan antigen yang diproduksi oleh alel gen. dan ditutup dengan kaca penutup. yaitu dengan meneteskan 1 tetes antiserum ke atas 1 tetes darah dan dilihat terjadinya aglutinasi.05%. Bila didapatkan sel darah merah dalam keadaan utuh Penentuan golongan darah dapat dilakukan secara langsung seperti pada penentuan golongan darah orang hidup. Cara lain. Untuk melapisi gelas obyek. . Kelas mamalia mempunyai sel darah merah berbentuk cakram dan tidak berinti. Bagaimanapun. Selain dua tes tersebut terdapat juga tes yang digunakan untuk mengkonfirmasi bercak darahtersebut. dapat dipastikan bahwa darah tersebut berasal dari seorang wanita. Pemeriksaan lanjutan yang dapat dilakukan setelah suatu bercak merah benar bercak darah dan benar bercak darah manusia. dengan membuat sediaan apus dengan pewarnaan Wright atau Giemsa. diperlukan kurang lebih 3 ml agar cair yang dituangkan ke atasnya dengan menggunakan pipet. Sel darah merah sudah rusak dengan antigen dan agglutinin yang juga sudah tidak dapat dideteksi.terbentuk agar cair. Bercak dengan sel darah merah sudah rusak tetapi dengan aglutinin dan antigen yang masih dapat di deteksi.

pusing dengan kecepatan 1000 RPM selama 1 menit.Figure1. Lakukan pencucian dengan menggunakan larutan garam faal dingin (4 derajat Celcius) sebanyak 5-6 kali lalu tambahkan 2 tetes suspense 2% sel indicator (sel daram merah golongan A pada tabung pertama dan golongan B pada tabung kedua). lalu pusing selama 1 menit pada kecepatan 1000 RPM. Bila tidak terjadi aglutinasi. biarkan selama 5 menit. Penentuan jenis antigen dapat dilakukan dengan cara absorpsi inhibisi. Ke dalam tabung pertama diteteskan serum anti-A dan kedalam tabung kedua serum anti-B hingga serabut benang tersebut teredam seluruhnya. Kemudian tabung-tabung tersebut disimpan dalam lemari pendingin dengan suhu 4 derajat Celcius selama satu malam. Cara yang biasa dilakukan adalah cara absorpsi elusidengan prosedur sebagai berikut: (2) Cara pemeriksaan : 2-3 helai benang yang mengandung bercak kering difiksasi dengan metil alcohol selama 15 menit. Di antara system-sistem golongan darah. cuci sekali lagi dan kemudian tambahkan 1-2 tetes larutan garam faal dingin. Antigen mempunyai sifat yang jauh lebih stabil dibandingkan dengan aglutinin. Penentuan golongan darah ABO cara makroskopik Bila sel darah merah sudah rusak Penentuan golongan darah dapat dilakukan dengan cara menentukan jenis aglutinin dan antigen. Serat benang dimasukkan ke dalam 2 tabung reaksi. Tambahkan 1 tetes suspense sel indicator ke dalam masing-masing tabung. Panaskan pada suhu 56 derajat Celcius selama 10 menit dan pindahkan eluat ke dalam tabung lain. yang paling lama bertahan adalah antigen dari system golongan darah ABO. Benang diangkat dan dibiarkan mengering. . Selanjutnya dilakukan penguraian benang tersebut menjadi serat-serat halus dengan menggunakan 2 buah jarum. absorpsi elusi atau aglutinasi campuran. Lakukan juga terhadap benang yang tidak mengandung bercak darah sebagai control negative.

Anak Golongan Darah O MNS Rhesus + . Curiga bukan anak yang sejati. Kasus bayi tertukar. Orang tua yang homozigotik pasti meneruskan gen untuk antigen tersebut kepada anaknya. Contoh-contoh kasus. Golongan darah Bayi B MNS Rhesus + Ibu A MNS Rhesus + Pria I AB MNS Rhesus + Pria II O MS Rhesus + Pria III A MNS Rhesus + Pria I tidak dapat disingkirkan kemungkinan menjadi ayah si anak. Kasus bayi tertukar. Table. Table. Penentuan bercasarkan golongan darah ABO. Bila terjadi aglutinasi berarti darah mengandung antigen yang sesuai dengan antigen sel indicator. tidak mungkin sebagai anak pasangan II. Table. Pemeriksaan golongan darah juga dapat membantu mengatasi kasus paternitas. Hal ini berdasarkan Hukum Mendel yang mengatakan bahwa antigen tidak mungkin muncul pada anak. (Anak dengan golongan darah O tidak mungkin mempunyai orang tua yang bergolongan darah AB). Perlu diingat bahwa Hukum Mendel tetap berdasarkan kemungkinan (probabilitas). Bayi I Bayi II A O Pria O AB Wanita O O Jelas bayi II adalah anak dari pasangan I. Bayi I Bayi II AB A Pria A AB Wanita B O Jelas bayi I adalah anak pasangan I. sedangkan bayi II adalah anak dari pasangan II. sehingga penentuan ke-ayah-an dari seorang anak tidak dapat dipastikan. Ragu ayah (disputed paternity). Penentuan berdasarkan golongan darah ABO. Dilakukan pemeriksaan sistim golongan darah dari bayi serta kedua orang tuanya.Hasil : Pembacaan hasil dilakukan secara makroskopik. walaupun pasangan I mungkin saja mempunyai anak bergolongan darah A. Ayah yang curiga si anak bukanlah anaknya yang sejati. Bayi tertukar. Penentuan berdasarkan golongan darah ABO. sedangkan bayi I anak anak pasangan II. sedangkan Pria II dan III pasti bukan ayah anak tersebut. Table. Kasus ragu ayah. jika antigen tersebut tidak terdapat pada salah satu atau kedua orang tuanya. Dalam kasus ini siapa saja ayah yang sebenarnya dari seorang anak masih diragukan. namun sebaliknya kita dapat memastikan seseorang adalah bukan ayah seorang anak (―singkir ayah‖/‖paternity exclusion‖). Kasus ragu ayah.

Pemeriksaan CO (karbon monoksida)(2) a. Jangan gunakan darah foetus karena dikatakan bahwa darah foetus juga bersifat resisten terhadap alkali. Perlu diperhatikan bahwa darah yang dapat digunakan sebagai kontrol dalam uji dilusi alkali ini haruslah darah dengan Hb yang normal. dan setelah 1 menit baru berubah warna menjadi coklat kehijauan. .Ibu A MS Rhesus + ―Ayah‖ B MS Rhesus + Anak tersebut pasti bukan anak dari ―Ayah‖ tersebut. Semakin tinggi kadar COHb. semakin merah warna koagulatnya. atau organ lain atau cairan tubuh lain seperti cairan serebrospinalis. ii. Sedangkan pada darah normal akan terbentuk koagulat yang berwarna coklat. iii. Kadar alkohol dari udara ekspirasi dan urin dapat dipakai sebagai pilihan kedua. Masukkan ke dalam tabung pertama 1-2 tetes darah korban dan tabung kedua 1-2 tetes darah normal sebagai kontrol. Darah yang akan diperiksa ditambahkan larutan formalin 40% sama banyaknya. Bila darah mengandung COHb 25% saturasi maka akan terbentuk koagulat berwarna merah yang mengendap pada dasar tabung reaksi. i. Dengan membandingkan intensitas warna hitam tersebut dengan warna hitam yang diperoleh dari pemeriksaan terhadap darah dengan kadar COHb yang diketahui. Darah normal segera berubah warna menjadi merah hijau kecoklatan karena segera terbentuk hematin alkali. b. Untuk korban meninggal sebagai pilihan kedua dapat diperiksa kadar alkohol dalam otak. lalu dikocok. c. Cara Gettler-Freimuth (semi-kuantitatif) Prinsipnya sebagai berikut : Darah + Kalium ferisianida  CO dibebaskan dari COHb CO + PdCl2 + H2O  Pd + CO2 + HCl Paladium (Pd) ion akan diendapkan pada kertas saring berupa endapan berwarna hitam. Diagnosis pasti hanya dapat ditegakkan dengan pemeriksaan kuantitatif kadar alkohol darah. 2. Tambahkan pada masing-masing tabung 5 tetes larutan NaOH 10-20%. Ambil 2 tabung reaksi. Bila dicurigai penyebab kematian adalah keracunan maka dapat dilakukan pemeriksaan darah sebagai berikut : 1. maka dapat ditentukan konsentrasi COHb secara semi kuantitatif. Dapat pula dilakukan uji formalin (Eachloz-Liebmann). Encerkan masing-masing darah dengan menambahkan 10 ml air sehingga warna merah pada kedua tabung kurang lebih sama. Pemeriksaan Alkohol(2) Bau alkohol bukan merupakan diagnosis pasti keracunan. tergantung pada konsentrasi COHb. Untuk penentuan COHb secara kualitatif dapat dikerjakan uji difusi alkali. sedangkan darah yang mengandung COHb tidak berubah warnanya untuk beberapa waktu. COHb dengan kadar saturasi 20% memberi warna merah muda (pink) yang bertahan selama beberapa detik. karena COHb lebih bersifat resisten terhadap pengaruh alkali. Demikian pula kasus-kasus lainnya dapat dibantu penyelesaiannya dengan cara yang sama seperti diatas. hati.

Tutup sel mikrodifusi. Bandingkan warna yang timbul dengan warna standar pada comparator disc(cakram pembanding). Pemeriksaan Insektisida(2) Untuk pemeriksaan toksikologik insektisida perlu diambil darah. diamkan beberapa saat maka akan terjadi perubahan warna. Warna kuning kenari menunjukkan hasil negatif. Meskipun kecepatan eliminasi kira-kira 14-15 mg%. Kadar alkohol darah yang diperoleh dari pemeriksaan belum menunjukkan kadar alkohol darah pada saat kejadian. sehingga yang dilakukan adalah perhitungan kadar alkohol darah saat kejadian. akan memberikan angka 80 mg% pada saat kejadian. limpa. % aktifitas AchE darah Interpretasi . Biarkan terjadi difusi selama 1 jam pada temperatur ruang.70 gr kalium dikromat ke dalam 150 ml air. Hasil ini akibat dari pengambilan darah dilakukan beberapa saat setelah kejadian. Encerkan dengan 500 ml akuades. 3.Penentuan kadar alkohol dalam lambung saja tanpa menentukan kadar alkohol dalam darah hanya menunjukkan bahwa orang tersebut telah minum alkohol. Salah satu cara penentuan semikuantitatif kadar alkohol dalam darah yang cukup sederhana adalah teknik modifikasi mikrodifusi (Conway). paru-paru dan lemak badan. diambil darah dari pembuluh darah vena perifer (kubiti atau femoralis). Gruner (1975) menganjurkan angka 10 mg% per jam digunakan dalam perhitungan. Perubahan warna kuning kehijauan menunjukkan kadar etanol sekitar 80mg %. Penentuan kadar AchE dalam darah dan plasma dapat dilakukan dengan cara tintimeter (Edson) dan cara paper-strip (Acholest). jaringan hati. Sebarkan 1 ml darah yang akan diperiksa dalam ruang sebelah luar dan masukkan 1 ml kalium karbonat jenuh dalam ruang sebelah luar pada sisi berlawanan. Kemudian tambahkan 280 ml asam sulfat dan terus diaduk. Cara Edson : berdasarkan perubahan pH darah AChE Ach —— > kolin + asam asetat Ambil darah korban dan tambahkan indikator brom-timol-biru. Pada mayat. goyangkan dengan hati-hati supaya darah bercampur dengan larutan kalium karbonat. Sebagai contoh. maka dapat ditentukan AchE dalam darah. sebagai berikut : Letakkan 2 ml reagen Antie ke dalam ruang tengah. sedangkan warna hijau kekuningan sekitar 300mg %. Reagen Antie dibuat dengan melarutkan 3. Table. Kemudian angkat tutup dan amati perubahan warna pada reagen Antie. Interpretasi Hasil pada Tes Edson. alkohol dapat didifusi dari lambung ke jaringan sekitarnya termasuk ke dalam jantung. sehingga untuk pemeriksaan toksikologik. namun pada perhitungan harus juga dipertimbangkan kemungkinan kesalahan pengukuran dan kesalah perkiraan kecepatan eliminasi. bila ditemukan kadar alkohol darah 50mg% yang diperiksa 3 jam setelah kejadian.

Uji positif bila terbentuk warna ungu. diamkan sampai agak mengering. maka jenisnya dapat ditentukan. Pada kertas Acholest sudah terdapat Ach dan indikator. Filtrat yang akan diperiksa (hasil ekstraksi dari darah atau jaringan korban) diteteskan dengan mikropipet pada kaca. Pemeriksaan Sianida(2) Uji kertas saring. Setelah itu kertas saring dipotong-potong seperti . Disertai dengan tetesan lain yang telah diketahui golongan dan jenis serta konsentrasinya sebagai pembanding. kemudian dengan Difenilamin 0. Kertas saring dicelupkan ke dalam larutan HNO3 1%. kemudian ke dalam larutan kanji 1% dan keringkan. Kertas saring dicelupkan ke dalam larutan asam pikrat jenuh. lalu dipanaskan dalam oven 110 derajat celcius selama 1 jam. biarkan hingga menjadi lembab. Dengan daya kapilaritas maka pelarut akan ditarik ke atas sambil melarutkan filtrat-filtrat tadi. Untuk menentukan jenis dalam golongannya dapat dilakukan dengan menentukan Rf masing-masing bercak. Dengan membandingkan besar bercak dan intensitas warnanya dengan pembanding.5% dalam HCl pekat. Interpretasi : Kurang dari 18 menit  tidak ada keracunan 20-35 menit  keracunan ringan 35-150 menit  keracunan berat Kromatografi lapisan tipis (TLC) Kaca berukuran 20 x 20 cm. Setelah itu kaca TLC dikeringkan lalu disemprot dengan reagensia Paladium klorida 0. Warna hijau dengan dasar dadu berarti golongan organofosfat. Teteskan satu tetes isi lambung atau darah korban. Perubahan warna harus sama dengan perubahan warna pembanding (serum normal) yaitu warna kuning telur. Celupan tidak boleh mengenai tetesan tersebut di atas. Hasilnya : Warna hitam (gelap) berarti golongan hidrokarbon terklorinasi.75% – 100% dari normal Tidak ada keracunan 50% – 75% dari normal Keracunan ringan 25% – 50% dari normal Keracunan 0% – 25% dari normal Keracunan berat Cara Acholest : Ambil serum darah korban dan teteskan pada kertas Acholest bersamaan dengan kontrol serum darah normal. dapat diketahui konsentrasi secara semikuantitatif.5% dalam alkohol. Rf = jarak yang ditempuh bercak Jarak yang ditempuh pelarut Angka yang didapat dicocokan dengan standar. dilapisi dengan absorben gel silikat atau dengan aluminium oksida. Waktu perubahan warna pada kertas tersebut dicatat. 4. Ujung kaca TLC dicelupkan ke dalam pelarut. kemudian teteskan Na2CO3 10 % 1 tetes. biasanya n-Hexan.

Teknik Pengambilan bahan untuk pemeriksaan laboratorium untuk pemeriksaan cairan mani dan sel mani dalam lendir vagina. Perhatikan pergerakkan spermatozoa Hasil : Umumnya disepakati dalam 2 – 3 jam setelah persetubuhan masih dapat ditemukan spermatozoa yang bergerak dalam vagina. pengambilan bahan sebaiknya dibatasi dari vestibulum saja. Pemeriksaan Laboratorium Forensik Cairan Mani & Spermatozoa (2).kertas lakmus. Cairan mani pada saat ejakulasi kental kemudian akibat enzim proteolitik menjadi cair dalam waktu yang singkat (10 – 20 menit). Sperma itu sendiri didalam liang vagina masih dapat bergerak dalam waktu 4 – 5 jam post-coitus. biasanya antara 60 sampai 120 juta per ml. Periksa dibawah mikroskop dengan pembesaran 500 kali.6. Haid akan memperpanjang . Cairan mani mengandung spermatozoa. Spermatozoa mempunyai bentuk yang khas untuk spesies tertentu dengan jumlah yang bervariasi. kertas tissue. Kertas ini dipakai untuk pemeriksaan masal pada pekerja yang diduga kontak dengan CN. 2.Metode pemeriksaan : Tanpa pewarnaan Untuk melihat motilitas spermatozoa. Bahan diambil dari forniks posterior. Kertas saring dicelup ke dalam larutan KCL. Pada anak-anak atau bila selaput darah masih utuh. bila mungkin dengan spekulum. Uji positif bila warna berubah menjadi biru. Kertas tersebut dicelupkan ke dalam darah korban. bila positif maka warna akan berubah menjadi merah terang karena terbentuk sianmethemoglobin. sel-sel epitel dan sel-sel lain yang tersuspensi dalam cairan yang disebut plasma seminal yang mengandung spermion dan beberapa enzim sepertri fosfatase asam. volume cairan mani 3 – 5 ml pada 1 kali ejakulasi dengan pH 7. atau swab. Dalam keadaan normal. keruh dan berbau khas. Pemeriksaan ini paling bermakna untuk memperkirakan saat terjadinya persetubuhan Cara pemeriksaan : Letakkan satu tetes cairan vagina pada kaca objek kemudian ditutup. Penentuan spermatozoa (mikroskopis) Tujuan : Menentukan adanya sperma . Pemeriksaan yang dapat dilakukan meliputi : 1.Bahan pemeriksaan : cairan vagina . Adanya ejakulasi pada persetubuhan atau perbuatan cabul melalui penentuan adanya cairan mani pada pakaian. (5) Cairan mani merupakan cairan agak putih kekuningan. dan dipotong kecil-kecil. sperma masih dapat ditemukan tidak bergerak sampai sekitar 24-36 jam post coital dan bila wanitanya mati masih akan dapat ditemukan 7-8 hari Pemeriksaan cairan mani dapat digunakan untuk membuktikan : 1. Hasil uji berwarna biru muda meragukan sedangkan bila warna tidak berubah (merah muda) berarti tidak dapat keracunan. Caranya dengan membasahkan kertas dengan ludah di bawah lidah. Adanya persetubuhan melalui penentuan adanya cairan mani dalam labia minor atau vagina yang diambil dari forniks posterior 2. seprai. yaitu dengan mengambil lendir vagina menggunakan pipet pasteur atau diambil dengan ose batang gelas.a.2 – 7. dsb.

tunggu 10-15 menit. cuci lagi dengan air. spermatozoa masih dapat ditemukan hingga 2 minggu pasca persetubuhan. yaitu dengan pemeriksaan laboratorium : a. dapat disimpulkan bahwa spermatozoa masih dapat ditemukan 3 hari. Kepala spermatozoa tampak merah dan lehernya merah muda. Bahan pemeriksaan yang digunakan adalah cairan vaginal. 2. Pulas dengan HE. keringkan diudara. menentukan apakah bercak tersebut adalah bercak mani atau bukan.waktu ini sampai 3 – 4 jam. kontrasepsi. Enzim fosfatase asam menghidrolisis natrium alfa naftil fosfat. maka perlu dilakukan penentuan cairan mani dalam cairan vagina. biru metilen atau hijau malakit Cara pewarnaan yang mudah dan baik untuk kepentingan forensik adalah pulasan dengan hijau malakit dengan prosedur sebagian berikut : Buat sediaan apus dari cairan vaginal pada gelas objek. Reagen : Larutan A Brentamin Fast Blue B 1 g (1) Natrium asetat trihidrat 20 g (2) Asam asetat glasial 10 ml (3) Askuades 100 ml (4) . sel epitel berwarna merah muda merata dan leukosit tidak terwarnai. Reaksi Fosfatase Asam Merupakan tes penyaring adanya cairan mani. bahkan mungkin lebih lama lagi. cuci dengan air. Alfa naftol yang telah dibebaskan akan bereaksi dengan brentamin menghasilkan zat warna azo yang berwarna biru ungu. warnai dengan larutan Eosin Yellowish 1 %dalam air. kadang – kadang sampai 6 hari pasca persetubuhan. Penentuan Cairan Mani (kimiawi) Untuk membuktikan terjadinya ejakulasi pada persetubuhan dari ditemukan cairan mani dalam sekret vagina. Pada orang mati. dan fiksasi dengan melewatkan gelas sediaan apus tersebut pada nyala api. perlu dideteksi adanya zat-zat yang banyak terdapat dalam cairan mani. hasil positif semu dapat terjadi pada feses. air teh. Reaksi fosfatase asam dilakukan bila pada pemeriksaan tidak ditemukan sel spermatozoa. tunggu selama 1 menit. keringkan dan periksa dibawah mikroskop. Hasil : Keuntungan dengan pulasan ini adalah inti sel epitel dan leukosit tidak terdiferensiasi. Dasar reaksi (prinsip) : Adanya enzim fosfatase asam dalam kadar tinggi yang dihasilkan oleh kelenjar prostat. sehingga harus selalu dilakukan pada setiap sampel yang diduga cairan mani sebelum dilakukan pemeriksaan lain. Bila hal ini terjadi. Dengan Pewarnaan Cara pemeriksaan : Buat sediaan apus dan fiksasi dengan melewatkan gelas sediaan apus tersebut pada nyala api. belum tentu dalam vagina tidak ada ejakulat karena kemungkinan azoosperma atau pascavasektomi. sari buah dan tumbuh-tumbuhan. warnai dengan Malachite-green 1% dalam air. Berdasarkan beberapa penelitian. ekornya berwarna hijau Bila persetubuhan tidak ditemukan. Tes ini tidak spesifik.

Hasil : Bercak yang tidak mengandung enzim fosfatase memberikan warna serentak dengan intensitas tetap. c. sedangkan bercak yang mengandung enzim tersebut memberikan intensitas warna secara berangsur-angsur. Reagen (larutan lugol) dapat dibuat dari : Kalium yodida 1. 89 ml Larutan A ditambah 1 ml larutan B. Kemudian kertas saring diangkat dan disemprotkan / diteteskan dengan reagen. adanya bakteri-bakteri dan jamur.5 g Yodium 2. Cara pemeriksaan : Bahan yang dicurigai ditempelkan pada kertas saring yang terlebih dahulu dibasahi dengan aquades selama beberapa menit. kemudian (1) dilarutkan dalam larutan peyangga tersebut. Waktu reaksi > 65 detik. masih perlu dikuatkan dengan pemeriksaan elektroforesis. Dasar reaksi : . Kehamilan. Reaksi Berberio Reaksi ini dilakukan dan mempunyai arti bila mikroskopik tidak ditemukan spermatozoa. tampak kristal kolin periodida coklat berbentuk jarum dengan ujung sering terbelah. Waktu reaksi 30 detik merupakan indikasi kuat adanya cairan mani. Larutan B Natrium alfa naftil fosfat 800 mg + aquades 10 ml. Reaksi Florence Reaksi ini dilakukan bila terdapat azoospermia/tidak ditemukan spermatozoa atau cara lain untuk menentukan semen tidak dapat dilakukan. Jika disimpan dilemari es. Dasar : Menentukan adanya kolin. Ditentukan waktu reaksi dari saat penyemprotan sampai timbul warna ungu. Bila 30 – 65 detik. karena intensitas warna maksimal tercapai secara berangsur-angsur. reagen ini dapat bertahan berminggu-minggu dan adanya endapan tidak akan mengganggu reaksi. Enzim fosfatase asam yang terdapat di dalam vagina memberikan waktu reaksi rata-rata 90 – 100 detik. b. Test ini tidak khas untuk cairan mani karena bahan yang berasal dari tumbuhan atau binatang akan memperlihatkan kristal yang serupa tetapi hasil postif pada test ini dapat menentukan kemungkinan terdapat cairan mani dan hasil negative menentukan kemungkinan lain selain cairan mani. dapat mempercepat waktu reaksi.(2) dan (3) dilarutkan dalam (4) untuk menghasilkan larutan penyangga dengan pH 5. belum dapat menyatakan sepenuhnya tidak terdapat cairan mani karena pernah ditemukan waktu reaksi > 65 detik tetapi spermatozoa positif. lalu saring cepat ke dalam botol yang berwarna gelap.5 g Akuades 30 ml Cara pemeriksaan : Cairan vaginal ditetesi larutan reagen. Hasil : Bila terdapat mani. kemudian lihat dibawah mikroskop.

Hanya golongan sekretor saja yang golongan darahnya dapat ditentukan dalam semen yaitu dilakukan dengan cara absorpsi inhibisi. Bercak yang sudah agak tua berwarna kekuningan. 3. Table. Reagen : Larutan asam pikrat jenuh. Substansi golongan darah dalam cairan mani jauh lebih banyak dari pada air liur (2 – 100 kali). didapatkan kristal spermin pikrat kekuningan berbentuk jarum dengan ujung tumpul.Menentukan adanya spermin dalam semen. Kristal mungkin pula berbentuk ovoid. dan lain-lain. batas sering tidak jelas. Pada tekstil yang tidak menyerap. Ekstrak diletakkan pada kaca objek. biarkan mengering. Golongan Darah Wanita O A Substansi ‖sendiri‖ dalam sekret vagina Substansi ―asing‖ berasal dari semen B AB H A A+H B B+H A+B A B A+B B H* A H* H* A+H Hasil : Adanya substansi ‗asing‘ menunjukkan di dalam vagina wanita tersebut terdapat cairan mani. 4. bercak segar menunjukkan permukaan mengkilat dan translusen kemudian mengering. sekret vagina. Kadang-kadang terdapat garis refraksi yang terletak longitudinal. . Pemeriksaan Bercak Mani Pada Pakaian a. tetapi selalu lebih gelap daripada sekitarnya. Penentuan Golongan Darah ABO Pada Cairan Mani Pada individu yang termasuk golongan sekretor (85% dari populasi). substansi golongan darah dapat dideteksi dalam cairan tubuhnya seperti air liur. cairan mani. Pada tekstil yang menyerap. Secara visual Bercak mani berbatas tegas dan warnanya lebih gelap daripada sekitarnya. Gambaran substansi golongan darah dalam bahan pemeriksaan yang berasal dari forniks posterior vagina. Reagen dialirkan dengan pipet dibawah kaca penutup. Cara pemeriksaan (sama seperti pada reaksi Florence) : Bercak diekstraksi dengan sedikit akuades. Pada bahan sutera / nilon. Dalam waktu kira-kira 1 bulan akan berwarna kuning sampai coklat. bercak segar tidak berwarna atau bertepi kelabu yang berangsur-angsurmenguning sampai coklat dalam waktu 1 bulan. Hasil : Hasil positif bila. tutup dengan kaca penutup.

masih dapat dikenali dari permukaan bercak yang teraba kasar. Secara taktil (perabaan) Bercak mani teraba kaku seperti kanji. urin. Ambillah 1 – 2 helai benang dengan jarum. Keringkan lalu semprotkan / teteskan dengan reagen. Hasil akan menunjukkan sel-sel epitel vagina dengan sitoplasma berwarna coklat karena mengandung banyak glikogen.Letakkan pada gelas objek dan uraikan sampai serabut-serabut saling terpisah. d. Tutup dengan kaca penutup dan balsem Kanada. kemudian letakkan dengan spesimen menghadap kebawah diatas tempat yang berisi larutan ligol dengan tujuan agar uap yodium akan mewarnai sediaan tersebut. perhatikan inti sel epitel yang ditemukan dan cari barr bodies. Periksa dengan mikroskop pembesaran 400 x. Bila terlihat bercak ungu. Pemeriksaan Pria Tersangka (2) Untuk membuktikan bahwa seorang pria baru saja melakukan persetubuhan dengan seseorang wanita. bila tidak teraba kaku. perlu ditentukan adanya kromatin seks (barr bodies) pada inti. bercak semen menunjukkan flouresensi putih. Lalu dijernihkan dalam xylol (2x)dan keringkan di antara kertas saring. Pada tekstil yang tidak menyerap. Hasil : Serabut pakaian tidak berwarna. Bahan makanan. . korona serta frenulum. dan serbuk deterjen yang tersisa pada pakaian sering berflouresensi juga. Skrining awal (dengan Reagen fosfatase asam) Cara pemeriksaan : Sehelai kertas saring yang telah dibasahi akuades ditempelkan pada bercak yang dicurigai selama 5 – 10 menit. dicuci dalam HCL 1 % dan dilakukan dehidrasi berturut-turut dalam alkohol 70 %. Uji pewarnaan Baecchi Reagen dapat dibuat dari : Asam fukhsin 1 % 1 ml Biru metilen 1 % 1 ml Asam klorida 1 % 40 ml Cara Pemeriksaan : Gunting bercak yang dicurigai sebesar 5 mm x 5 mm pada bagian pusat bercak. Bercak pada sutera buatan atau nilon mungkin tidak berflouresensi. c. 80 % dan 95 – 100 % (absolut). terutama pada bagian kolum. Cara lugol Kaca objek ditempelkan dan ditekan pada glans penis. b. Untuk memastikan bahwa sel epitel berasal dari seorang wanita. Dengan pembesaran besar. Ciri-cirinya adalah menempel erat pada permukaan membran inti dengan diameter kira-kira 1 µ yang berbatas jelas dengan tepi tajam dan terletak pada satu dataran fokus dengan inti.Dibawah sinar ultraviolet. kertas saring diletakkan kembali pada pakaian sesuai dengan letaknya semula untuk mengetahui letak bercak pada kain. sekret vagina. Flouresensi terlihat jelas pada bercak mani pada bahan yang terbuat dari serabut katun. spermatozoa dengan kepala berwarna merah dan ekor berwarna merah muda terlihat banyak menempel pada serabut benang. Bahan dipulas dengan reagen Baecchi selama 2 – 5 menit.

Kemudian campuran tadi dikocok dengan mesin pengocok selam 1 jam dan dipusing selama 5 menit dengan kecepatan 3000 RPM. Cara absorpsi inhibisi : Basahkan bercak liur dengan 0. SDM yang digunakan adalah suspensi 4 % yang berumur kurang dari 24 jam. Pusing dan ambil supernatant. bila mau dimpan maka simpan pada suhu 20 C. (9) Air liur merupakan cairan yang dihasilkan oleh kelenjar liur. Reagen yang digunakan yaitu anti A dan anti B dapat diperoleh dari laboratorium transfusi darah PMI. Hasil positif bila titer berkurang lebih dari 2 kali. Pemeriksaan untuk Timbal (2) Normal kadar Pb dalam darah kurang dari 60 mikro gr/ 100 ml. protein. Setelah 30 menit berlalu. klorida dan lain – lain. lipid. anti B dan anti H yang digunakan. Pada dasarnya pemeriksaan laboratorium forensik pada korban wanita dewasa dan anak-anak adalah sama. Bila lebih dari 70 mikro gr/100 ml berarti ada pemaparan abnormal. lalu panaskan dalam air mendidih selama 10 menit. Pemeriksaan laboratorium untuk menentukan Pb dalam urin dapat dengan cara sebagai berikut : . kemudian peras dan tempatkan air liur atau ekstrak air liur dalam salin tadi ke dalam tabung reaksi.b. maka pemeriksaan ini tidak akan berguna lagi. pemeriksaan air liur penting untuk kasuskasus dengan jejas gigitan untuk menentukan golongan darah pengigitnya. anti B dan anti H dengan cara yang sama. Campuran tersebut didiamkan selama 30 menit pada suhu ruang untuk proses absopsi. Anti H dapat dibuat dari biji-biji Ulex europaeus yang digerus dalam mortir. ion-ion anorganik seperti tiosianat. Tiap 1 g biji-bijian ditambahkan 10 ml salin. Dalam tabung reaksi 1 vol air liur ditambahkan 1 vol antiserum. yang membedakan adalah pendekatan terhadap korban Pengumpulan barang bukti harus dilakukan jika hubungan seksual terjadi dalam 72 jam sebelum pemeriksaan fisik. enzim alfa amilase (ptialin). Golongan darah penggigit yang termasuk dalam golongan sekretor dapat ditentukan dengan cara absorpsi inhibisi. Cairan supernatan disaring dan dapat segera dipergunakan. Urine a. Bila lebih dari 100 mikro gr/100 ml berarti telah terjadi keracunan. tentukan titer anti A. Untuk pemeriksaan perlu dilakukan kontrol dengan air liur yang telah diketahui golongan sekretor atau non sekretor. Pemeriksaan Laboratorium Forensik Cairan Lainnya Air Liur (2). Air liur (saliva) terdiri dari air. pada campuran tersebut ditentukan titer anti A.Kelemahan pemeriksaan ini adalah bila persetubuhan tersebut telah berlangsung lama atau telah dilakukan pencucian pada alat kelamin pria.5 ml salin. Dalam bidang kedokteran forensik. 2. Selama menunggu. Bandingkan titer antisera yang digunakan dengan titer campuran antiserum + air liur. demikian pula dengan anti H.

Bila berwarna merah berarti terdapat koproporfirin. lalu disaring. lalu dikocok. Salah satu cara penentuan semikuantitatif kadar alkohol dalam urin yang cukup sederhana adalah teknik modifikasi mikrodifusi (Conway). dilakukan uji sebagai berikut : 5 cc urin diasamkan dengan asam asetat glasial sehingga pH kurang dari 4. Endapan ini tak larut dalam HNO3 tapi larut dalam HCl atau NH4-asetat. Biarkan terjadi difusi selama 1 jam pada temperatur ruang. Perubahan warna kuning kehijauan menunjukkan kadar etanol sekitar 80mg %. . sedangkan warna hijau kekuningan sekitar 300mg %.5 mikro gr/ 100 ml. (6). kocok. Untuk korban meninggal sebagai pilihan kedua dapat diperiksa kadar alkohol dalam otak. b. Kemudian angkat tutup dan amati perubahan warna pada reagen Antie. jika biru atau biru muda berarti negatif. Kemudian tambahkan 280 ml asam sulfat dan terus diaduk. Pemeriksaan untuk Alkohol Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. kemudian ditambahkan 5 tetes H2O2 3% dan 5 cc eter. (7). hati. sebagai berikut : Letakkan 2 ml reagen Antie ke dalam ruang tengah. Warna kuning kenari menunjukkan hasil negatif. Untuk pemeriksaan Pb dalam urin sebaiknya digunakan urin 24 jam. gambaran korteks dan medula rambut. atau organ lain atau cairan tubuh lain seperti cairan serebrospinalis. ditambahkan ke dalam 1 cc HCl 1. Pada keracunan didapatkan pula kadar koproporfirin 80 mikro gr/ 100 ml kreatin. Uji Koproporfirin Untuk mengetahui adanya koproporfirin dalam urin. Tutup sel mikrodifusi. Pemaparan abnormal bila sama atau lebih besar dari 8 mikro gr/ 100 ml. Fluoresensi dan uji koproporfirin III dalam urin paling baik dilakukan untuk skrining masal. Diagnosis pasti hanya dapat ditegakkan dengan pemeriksaan kuantitatif kadar alkohol darah.Ke dalam urin ditambahkan H2SO4 encer sehingga terbentuk endapan PbSO4 berwarna putih. lihat dengan sinar UV. bau alkohol bukan merupakan diagnosis pasti keracunan.5 N. Kadar alkohol dari udara ekspirasi dan urin dapat dipakai sebagai pilihan kedua.70 gr kalium dikromat ke dalam 150 ml air. Lapisan air dibuang dan lapisan eter diambil. dan d-ALA 2 mg/ 100 mg kreatin. (8) Rambut manusia berbeda dengan rambut hewan pada sifat-sifat lapisan sisik (kutikula). Dalam urin kadar Pb normal 0. Reagen Antie dibuat dengan melarutkan 3. sedangkan keracunan bila sama atau lebih besar dari 20 mikro gr/ 100 ml. Encerkan dengan 500 ml akuades. Sebarkan 1 ml urin yang akan diperiksa dalam ruang sebelah luar dan masukkan 1 ml kalium karbonat jenuh dalam ruang sebelah luar pada sisi berlawanan. lapisan asam diambil. 3. Pemeriksaan Laboratorium Forensik Rambut (2). goyangkan dengan hati-hati supaya urin bercampur dengan larutan kalium karbonat.

kadang-kadang kaku dan pendek. Umumnya dapat dikatakan. kumis dan jenggot. sedangkan indeks medula rambut hewan adalah 1:2 atau lebih besar. harus dilakukan pemeriksaan terhadap sel-sel sarung akar rambut dengan larutan orcein. Pada rambut yang tercabut. bulu mata dan bulu hidung. Berdasarkan asal tumbuhnya. Pigmen pada rambut manusia sedikit dan terpisah-pisah sedangkan pada hewan padat dan tidak terpisah. sedangkan pada wanita sering terjadi rontoknya rambut ketiak dan pertumbuhan rambut pada wajah pada saat menopouse. Perkiraan umur berdasarkan pemeriksaan keadaan pigmen pada rambut sukar sekali dilakukan. rambut ketiak dan rambut kemaluan. baik rambut kepala ataupun kelamin. Umumnya tidak terdapat perbedaan yang jelas antara jenis-jenis rambut tersebut di atas.Kutikula merupakan lapisan paling luar dari rambut. Rambut yang terpotong benda tajam. identitas korban e. terdapat medula yang mengandung pigmen dalam jumlah terbanyak. rambut akan terlihat utuh disertai dengan jaringan kulit. oval atau elips (pada rambut ikal/ keriting). rambut badan. Rontoknya rambut pada pria umumnya terjadi pada dekade kedua atau ketiga. Sebaliknya rambut yang lepas sendiri mempunyai akar yang mengerut tanpa jaringan kulit. Pemeriksaan mikroskopik rambut utuh akan memperlihatkan akar. rambut manusia dibedakan atas rambut kepala. identitas pelaku f. Alis. Pada rambut wanita dapat ditemukan adanya kromatin seks pada inti sel-sel tersebut. Tetapi untuk menentukan jenis kelamin yang pasti. Rambut kepala umumnya kasar. antara lain tentang : a. Perbandingan diameter rambut hewan dengan diameter rambut manusia. sedangkan rambut hewan memiliki diameter kurang dari 25 mikron atau lebih dari 300 mikron dengan kutikula yang kasar atau menonjol. alis. Rambut ketiak dan rambut kemaluan akan tumbuh pada usia pubertas. Rambut kemaluan dan rambut ketiak lebih kasar sedangkan rambut badan halus dan pendek. bagian tengah dan ujung yang lengkap. lurus/ ikal/ keriting dan panjang dengan penampang melintang yang berbentuk bulat (pada rambut yang lurus). jenis kejahatan d. sebab kematian c. benda/ senjata yang digunakan . Pemeriksaan indeks medula merupakan pemeriksaan terpenting untuk membedakan rambut manusia dari rambut hewan. Rambut. Rambut manusia memiliki diameter sekitar 50-150 mikron dengan bentuk kutikula yang pipih. di bawahnya terletak korteks yang terdiri dari gabungan serabut-serabut dengan pigmen. bahwa bila usia bertambah maka rambut akan rontok. saat korban meninggal dunia b. indeks medula rambut manusia adalah 1:3. Di tempat yang paling dalam/ tengah. lemas. merupakan bagian tubuh manusia yang dapat memberikan banyak informasi bagi kepentingan peradilan. bulu mata dan bulu hidung umumnya relatif kasar. Panjang rambut kepala kadang-kadang dapat memberi petunjuk jenis kelamin. sedangkan akibat benda tumpul akan terlihat terputus tidak rata. dengan mikroskop terlihat terpotong rata.

sering ditemukan rambut pelaku tertinggal atau berhasil dijambak oleh korban sehingga dapat dimanfaatkan untuk kepentingan identifikasi. Jika kematian sudah berlangsung 48 – 72 jam maka rambut kepala akan mudah lepas.sifat dari rambut dapat dipakai untuk menentukan saat kematian korban antara lain : Tingkat pertumbuhannya. Sebab kematian Informasi tentang sebab kematian juga dapat diperoleh melalui rambut mengingat beberapa racun tertentu. terpilin atau menjadi keriting dan menimbulkan bau yang khas. rapuh. Identitas pelaku Rambut juga dapat dipakai sebagai sarana identifikasi guna mengetahui identitas pelakunya. . Adanya rambut pubes pada tubuh korban memberikan dugaan adanya tindak pidana perkosaan atau tndak pidana seksual lainnya dan adanya rambut binatang pada tubuh manusia atau sebaliknya juga dapat memberikan perkiraan adanya bestialiti. Jenis kejahatan Mengenai jenis kejahatan yang terjadi dapat diperkirakan dengan melihat macam rambut yang ditemukan.informasi tersebut di atas diperoleh dengan meneliti sifat-sifat gambaran mikroskopik serta perubahan-perubahan yang terjadi akibat trauma atau racun tertentu. Pukulan di kepala dapat meninggalkan kerusakan kortikal pada rambut. Rambut yang terbakar tersebut akan terlihat. disimpan di bagian tubuh tersebut. jenis kelamin. c. yaitu sekitar 0. b. sedangkan tembakan senjata api dapat menyebabkan kebakaran pada rambut. hitam. dan sebagainya. Sebagaimana diketahui bahwa pada tindak pidana perkosaan dan pembunuhan. Lepasnya rambut akibat pembusukan. terutama racun metalik. tetapi sebetulnya bertambah panjangnya rambut tersebut disebabkan oleh menuyusutnya kulit. a. d. Benda/ senjata yang digunakan Kerusakan pada rambut kadang-kadang menunjukkan ciri-ciri tertentu. sedang pada penguburan yang dalam sesudah 6 – 12 bulan. Identitas korban Rambut mempunyai sifat tahan terhadap pembusukan dan bahan-bahan kimia sehingga dapat dijadikan sarana identifikasi bagi mayat-mayat tidak dikenal yang sudah membusuk. Memang ada pendapat yang menyatakan bahwa rambut orang yang baru saja meninggal dunia masih dapat tumbuh menjadi lebih panjang. Saat meninggal dunia Sifat. ras. Perubahan warna Perubahan warna rambut juga dapat dipakai untuk memperkirakan saat kematian.4 mm per hari Pertumbuhan tersebut akan berhenti jika orang meninggal dunia. e. f. Pada penguburan yang dangkal perubahan warna terjadi sesudah 1 – 3 bulan. Meskipun tak dapat memberikan identitas personal tetapi dari rambut paling tidak dapat ditemukan umur. Atas sifat tersebut maka saat kematian dapat diperhitungkan asalkan diketahui kapan korban terakhir kali mencukur rambutnya.

batang dan ujung. tak bermedula dengan pola sisik yang lebih seragam. Pada pangkal rambut yang lepas secara alami akan terlihat atrofi. medula sempit atau kadang-kadang tak ada. 3. Meskipun tak dapat memberikan identitas personal seperti halnya sidik jari. Tumbuhnya rambut di berbagai bagian tubuh berbeda-beda waktunya. korteks dan medula. Pada orang-orang tua warna rambut akan berubah menjadi putih.Keadaan pangkal rambut juga dapat dipakai sebagai petunjuk bagaimana rambut itu lepas. Sedangkan. Rambut lanugo pada bayi baru lahir mempunyai sifat halus. Ciri rambut manusia yaitu halus dan tipis. gambaran mikroskopiknya terlihat homogen. Umur Umur dari pemilik rambut dapat ditentukan dengan memeriksa rambut tersebut berdasarkan tempat tumbuh dan warnanya. tidak berpigmen.3 dan pigmennya lebih ke arah perifer. Jika ditemukan rambut yang diduga ada kaitannya dengan kejahatan maka hendaknya rambut tersebut diperiksa dengan teliti untuk mengetahui : 1. Keaslian rambut Pemeriksaan keaslian rambut perlu dilakukan mengingat adanya berbagai serat yang bentuk dan warnanya mirip rambut. Perlu diketahui bahwa rambut mempunyai sifat tahan terhadap pembusukan dan bahan-bahan kimia sehingga dapat dijadikan salah satu sarana identifikasi bagi mayat-mayat yang sudah membusuk. kutikula mempunyai sisik kecil dan bergerigi.5 dan pigmennya di perifer maupun di sentral. index medulla kurang dari 0. 2. Penentuan rambut manusia atau bukan Jika hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa serat itu rambut maka langkah selanjutnya adalah menentukan apakah rambut tersebut berasal dari manusia atau hewan. antara lain : a. tetapi dapat memberikan identitas umum. Jenis kelamin . kortek tipis. Rambut pubis dan rambut ketiak misalnya. Selain itu warna rambut juga dapat dipakai sebagai petunjuk umur dari pemiliknya. Ditemukannya rambut pada senjata juga dapat memberi petunjuk tentang adanya kaitan antara senjata itu dengan kasus pembunuhan dan ditemukannya rambut pada kendaraan bermotor juga dapat meberi petunjuk tentang keterlibatan kendaraan tersebut dalam peristiwa tabrakan. tumbuh pada masa adolesen. Rambut yang utuh biasanya terdiri atas akar. Dengan tes presipitasi akan dapat dibedakan dengan tepat antara rambut manusia dan rambut binatang. Serat yang bukan berasal dari rambut tidak mempunyai susunan seperti itu. kortek tebal. medula lebar. kutikula mempunyai sisik lebar dan polihidral. index medulla lebih dari 0. ciri rambut binatang ialah kasar dan tebal. b. Identifikasi Jika sudah dapat dipastikan rambut manusia maka pemeriksaan lanjutan perlu dilakukan untuk menentukan siapa pemiliknya. Akar ranbut terdiri atas jaringan ikat longgar sedangkan batang rambut terdiri atas kutikula. sedang pada rambut yang dicabut secara paksa akan mengalami robekan pada sarung rambut dan pada bulbus akan terlihat tak teratur. Serat sintetis misalnya.

teruskan sampai endapan larut kembali dan terbentuk biru berlin.Melalui berbagai pemeriksaan yang teliti akan dapat ditentukan jenis kelamin dari pemilik rambut. lebar 1-2 cm) dicelupkan ke dalam larutan guajacol 10% dalam alkohol. sehingga reaksi ini hanya untuk skrining. Kertas saring dicelupkan ke dalam larutan FeSO4 10% rp selama 5 menit. Reaksi Prussian Blue (Biru Berlin). 50 yang digunting sebesar flange. d. keringkan. Sedang rambut wanita umumnya halus. tambahkan asam tartrat untuk mengasamkan. Letakkan dan jepitkan kertas saring di antara kedua flange. Panaskan bahan dan salurkan uap yang terbentuk hingga melewati kertas saring ber-reagensia antara kedua flange. panjang.1% CuSO4 dalam air dan kertas saring digantungkan di atas jaringan dalam botol. lalu dinginkan dan tambahkan HCl pekat tetes demi tetes sampai terbentuk endapan Fe(OH)3. Pemeriksaan Laboratorium Forensik Lain 1. Botol tersebut dihangatkan. kecoklatan atau kemerahan. Ras Untuk menentukan jenis rasnya dapat dilihat dari warna. Masukkan 50 mg isi lambung/ jaringan ke dalam botol Erlenmeyer. c. Rambut jenggot. menjadi biru. panjang dan meruncing ke arah ujung. dipanaskan dalam pemanas air . Panaskan sampai hampir mendidih. c. Isi Lambung Pemeriksaan sianida (2) a. Rambut laki-laki pada umumnya lebih kaku. Cara Gettler Goldbaum. b. hasil positif semu didapatkan bila isi lambung mengandung klorin. isi lambung di masukkan ke dalam gelas beker. keringkan lalu celupkan ke dalam larutan NaOH 20% selama beberapa detik. Hasil positif bila terjadi perubahan warna pada kertas saring. Reaksi Schonbein-Pagenstecher (Reaksi Guajacol). Bila isi lambung alkalis. Rambut orang Eropa misalnya. berwarna pirang. muntahan. Dari distribusinya juga dapat ditentukan jenis kelaminnya. Penyebaran rambut pubis antara laki-laki dan wanita juga menunjukkan gambaran yang berbeda. dan diantara kedua flange dijepitkan kertas saring Whatman No. agar KCL mudah terurai. rambut dada dan kumis adalah khas rambut laki-laki. Kertas saring (panjang 3-4 cm. lebih kasar dan lebih gelap. Lalu celupkan ke dalam larutan 0. akan terbentuk warna biruhijau pada kertas saring. Dengan menggunakan 2 buah flange(‗piringan‘). 5 ml destilat + 1 ml NaOH 50 % + 3 tetes FeSO4 10% rp + 3 tetes FeCl3 5%. Bila hasil reaksi positif. Isi lambung/ jaringan didestilasi dengan destilator. bentuk dan susunan rambut. Reaksi ini tidak spesifik. 1. nitrogen oksida atau ozon. Kristalografi Bahan yang dicurigai berupa sisa makanan/ minuman.

Caranya : Ukur diameter pupil dengan pupilometer dan lakukan pemeriksaan ini di dalam ruang khusus yang tidak dipengaruhi cahaya. kocok selama beberapa menit. Periksa dengan kertas lakmus. Pemeriksaan kualitatif dapat menggunakan penentuan titik cair. Tambahkan 10 tetes kloroform untuk melarutkan sisa barbiturat yang mengering. baik pada bayi yang lahir hidup maupun lahir mati. Paru-paru berwarna kelabu ungu merata seperti hati. jika bersifat alkali tambahkan HCl sampai bersifat asam. tidak teraba derik udara dan pleura yang longgar (slack pleura). Masing-masing barbiturat mempunyai kristal yang khas bila dilihat dengan mikroskop. Tetapi bila midriasis tidak terjadi. barbiturat terdapat dalam lapisan eter. ternyata paru-paru sudah mengisi rongga dada. Ambil beberapa tetes larutan dan letakkan pada white pocelain spot plate. 2. Tambahkan 1 tetes kobalt asetat (1 % dalam metil alkohol absolut) dan 2 tetes isopropilamin (5% dalam metil-alkohol absolut). Metoda Kopanyi (reaksi warna kobalt) dengan modifikasinya. paru-paru tidak disentuh untuk menghindari untuk timbulnya artefak pada sediaan . Uji apung paru. Pemeriksaan kuantitatif dan kuantitatif dapat dilakukan dengan kromatografi lapis tipis (TLC). Osborn (1953) menemukan pada 75% kasus. Organ(2) 1) Mata Uji Nalorfin Untuk mendeteksi seseorang apakah ia pecandu atau bukan. Saring eter ke dalam beaker glass dan uapkan sampai kering di atas penangas air. Diamkan sebentar. misal veronal murni mencair pada suhu 191° C. Pemeriksaan dilakukan lagi 30 menit setelah diberikan 3 mg Nalorfin subkutan. Metoda Kopanyi Dilakukan dengan memasukkan 50 ml urin atau isi lambung dalam sebuah corong. tampak air terpisah dari eter. Uji kristal dilakukan terhadap sisa obat yang ditemukan dalam isi lambung. diteteskan dalam gelas arloji dan dipanaskan sampai kering. lapisan air dibuang. e. Uji ini harus dilakukan dengan teknik tanpa sentuh (no touch technique). maka belum tentu ia bukan pecandu. kemudian dilihat di bawah mikroskop. Filtrat yang didapat. kromatografi gas cair (GLC). Pemberian Nalorfin pada pecandu morfin akan memperlihatkan midriasis dan gejala putus obat lainnya. dapat diketahui melalui Uji Nalorfin. Tambahkan 100 ml eter. 2) Paru – paru a) Pemeriksaan makroskopik paru. Berat paru kirakira 1/70x berat badan. konsistensi padat. Bila terbentuk kristal-kristal seperti sapu. Barbiturat akan memberi warna merah muda sampai ungu. Paru-paru mungkin masih tersembunyi di belakang kandung jantung atau telah mengisi rongga dada.sampai kering. spektrofotometri ultra-violet dan spektrofotofluorimetri. ini adalah golongan hidrokarbon terklorinasi. kemudian dilarutkan dalam aceton dan disaring dengan kertas saring.

jangan bergeser) untuk mengeluarkan gas pembusukan yang terdapat pada jaringan interstisial paru. Penyebab kematian tersering pada pembunuhan anak sendiri adalah mati lemas (asfiksia). Biasanya dibuat pewarnaan HE dan bila paru telah membusuk digunakan pewarnaan Gomori atau Ladewig. Kadang-kadang dengan penekanan. warnaya merah ungu dengan gambaran mozaik. bila dimasukkan ke dalam air akan mengapung. Bila masih mengapung berarti paru tersebut berisi udara residu yang tidak akan keluar. dilakukan fiksasi dengan larutan formalin 10%. lalu masukkan kembali ke dalam air dan di amati apakah masih mengapung atau tenggelam.histopotologi jaringan paru akibat manipulasi berlebihan. Hingga tahap ini. tepintnya tumpul. Penyebab kematian. pencekikan dan penenggelaman. lalu dimasukkan kedalam air dan dilihat apakah mengapung atau tenggelam. paru bayi yang baru lahir mati masih dapat mengapung oleh karena kemungkinan adanya gas pembusukan. pemeriksaan histopatologi harus dilakukan untuk memastikan bayi lahir mati atau hidup. bila diiris dan dipijat akan banyak mengeluarkan darah dan busa. Kadang-kadang bayi dimasukkan ke dalam lemari. Setelah difiksasi selama 48 jam. (7) b) Mikroskopik paru-paru. Setelah organ leaher dan dada dikeluarkan dari tubuh. mengingat kemungkinan adanya pernafasan sebagian yang dapat bersifat buatan (pernafasan buatan) ataupun alamiah. Kemudian paru kiri dan kanan dilepaskan dan dimasukkan kedalam air lagi. yaitu bayi yang sudah bernafas walaupun kepala masih dalam vagina. letakkan di antara dua karton dan ditekan (dengan arah tekanan tegak lurus. Hasil negatif belum berarti pasti lahir mati. penyumbatan jalan nafas. (2) Lahir hidup dapat diketahui dari perangi paru-paru secara makroskopis maupun mikroskopis. dan dilihat apakah mengapung atau tenggelam. Setelah paru-paru dikeluarkan dengan teknik tanpa sentuh. dibuat irisan-irisan melintang untuk memungkinkan cairan fiksatif meresap dengan baik ke dalam paru. pada yang lahir mati atau belum bernafas berat paru-paru sekitar1/70 berat badan). dan diperhatikan apakah mengapung ataukah tenggelam. sehingga udara dalam alveoli diresopsi. Cara tersering dilakukan adalah dengan cara pembekapan. kemudian dibuat sediaan histopatologi. Uji apung paru harus dilakukan menyeluruh sampai potongan kecil-kecil. Hasil uji apung paru positif berarti pasti lahir hidup. kopor dan sebagainya. Bila potongan kecil itu mengapung. Setelah itu setiap lobus dipisahkan dan di masukkan ke dalam air dan dilihat apakah mengapung atau tenggelam. Secara makroskopis paru-paru anak ayang dilahirkan hidup akan tampak mengembang dan menutupi kandung jantung. dinding alveoli pada bayi yang telah membusuk akan pecah dan udara residu keluar dan memperlihatkan hasil uji apung paru negatif. lebih berat (1/35 berat badan. karena adanya kemungkinan bayi dilahirkan hidup tapi kemudian berhenti bernafas meskipun jantung masih berdenyut. pada perabaan teraba derik udara atau krepitasi. . penjeratan. 5 potong kecil dari bagian perifer tiap lobus dimasukkan ke dalam air. Sedangkan secara mikroskopik akan tamak jelas adanya pengembangan dari kantung-kantung hawa (alveoli). Sesudah 12 jam. Pada hasil negatif ini.

Tanda khas untuk paru bayi yang belum bernafas yang sudah membusuk. b. diamkan kurang lebih setengah hari agar jaringan hancur. Pemeriksaan diatom positif bila pada jaringan paru ditemukan diatom cukup banyak. Bila mayat telah membusuk. pusing kembali dan hasilnya dilihat dengan mikroskop. yang berbentuk seperti bantal (cushion-like) yang kemudian akan bertambah tinggi dengan dasar menipis sehingga tampak seperti gada (club-like). yang setelah pemisahan bernafas atau menunjukkan tanda kehidupan lain. Pemeriksaan Kimia Darah . sudah atau belum tali pusat dipotong dan uri dilahirkan. masukkan ke dalam labu Kjeldahl dan tambahkan asam sulfat pekat sampai jaringan paru terendam. Lahir hidup adalah keluar atau dikeluarkannya hasil konsepsi yang lengkap. tampak serabut-serabut retikuler pada permukaan dinding alveoli berkelok-kelok seperti rambut keriting. air laut. taruh pada kaca objek. tutup dengan kaca penutup dan lihat dengan mikroskop. air sumur dan udara. Pada paru bayi baru lahir mati mungkin juga ditemukan tanda inhalasi cairan amnion yang luas karena asfiksi intrauterin. tanpa mempersoalkan usia gestasi. Pemeriksaan diatom dilakukan pada jaringan paru segar. c. pemeriksaan diatom dilakukan dari jaringan ginjal. sedangkan pada projection berjalan dibawah kapiler sejajar dengan permukaan projection dan membentuk gelung-gelung terbuka (open loops). Pemeriksaan diatom pada hati dan limpa kurang bermakna sebab berasal dari penyerapan abnormal dari saluran pencernaan terhadap air minum atau makanan. Pada permukaan ujung bebas projection tampak kapiler yang berisi banyak darah. Pemeriksaan diatom : Alga (ganggang) bersel satu dengan dinding terdiri dari silikat (SiO2) yang tahan panas dan asam kuat. Selain diatom dapat pula terlihat ganggang atau tumbuhan jenis lainnya d. ambil sedikit cairan perasan dari jaringan perifer paru. atau pada sumsum tulang cukup ditemukan hanya satu. terutama pada bayi yang telah lama hidup. otot skelet atau sumsum tulang paha. Kemudian dipanaskan dalam lemari asam sambil diteteskan asam nitrat pekat samapi terbentuk dan cairan dipusing dalam centrifuge. 4-5/LPB atau 10-20 per satu sediaan. Sediment yang terjadi ditambah dengan akuades. iris bagian perifer. Pemeriksaan Getah Paru Permukaan paru disiram dengan air bersih. Bila seseorang mati karena tenggelam. Pada pemeriksaan ditemukan dada sudah mengembang dan diafragma sudah turun sampai selaiga 4-5.Tanda khas untuk paru bayi belum pernah bernafas adalah adanya tonjolan (projection). dengan pewarnaan Gomori atau Ladewig. kemudian diatom akan masuk ke dalam aliran darah melalui kerusakan dinding kapiler pada waktu korban masih hidup dan tersebar ke seluruh jaringan. Diatom ini dapat dijumpai dalam air tawar. maka cairan bersama diatom akan masuk ke dalam saluran pernapasan atau pencernaan. pemeriksaan paru lainnya adalah : (2) a. Pemeriksaan Destruksi (Digesti Asam) Pada Paru Ambil jaringan paru sebanyak 100 gram. sungai.

Nilai batas normal kadar As adalah sebagai berikut : Rambut kepala normal : 0. 2) Pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi adanya narkotika Bahan terpenting yang harus diambil adalah urin (tidak dapat diambil ginjal). kadar NaCl jantung kanan lebih tinggi dari jantung kiri dan adanya buih serta benda-benda air pada paru-paru. Uji Reinsch Berdasarkan Hukum Deret Volta (sebagian deret Volta adalah : K Na Ca Mg Al Zn Fe Pb H Cu As Ag Hg Au).75 mg/ kg BB Keracunan akut : 30 mg/ kg BB Kuku normal : sampai 1 mg/ kg BB Curiga keracunan : 1 mg/ kg BB Keracunan akut : 80 mikrog/ kg BB Dalam urin. Pada pemakain cara oral. Darah yang diambil adalah darah dari jantung jenazah. Lain-Lain (2) 1) Pada kasus keracunan As. Arsen dapat ditemukan dalam waktu 5 jam setelah diminum. dapat dilakukan berbagai pengujian. unsur yang letaknya di sebelah kanan akan mengendap bila ada unsur yang letaknya lebih kiri dalam larutan tersebut.5 mg/ kg BB Curiga keracunan : 0. Sedangkan pada peristiwa tenggelam di air asin terjadi gangguan elektrolit dan ditemukan adanya tandatanda asfiksia. cairan empedu dan jaringan sekitar suntikan. urin. Untuk membedakan dari Ba. Pada peristiwa tenggelam di air tawar ditemukan tanda-tanda asfiksia. Letak As dalam deret adalah lebih kanan daripada Cu. Tenggelam jenis ini disebut tenggelam tipe II B (6) 3. Celupkan batang tembaga ke dalam larutan. dan dapat terus ditemukan hingga 10-12 hari. Cara pemeriksaan : 10 cc darah + 10 cc HCl pekat dipanaskan hingga terbentuk AsCl3. morfin akan cepat dikonjugasi oleh asam glukoronat dalam sel mukosa usus halus dan hati sehingga bahan sebaiknya dihidrolisis terlebih dahulu. Arsen tidak diekskresikan terus menerus (intermitten) tergantung pada intake. demikian pula hapusan mukosa hidung pada cara sniffling. menunjukkan beban sum-sum tulang yang meningkat. Uji Kopro-porfirin urin akan memberikan hasil positif. heroin atau narkotika lainnya. kadar NaCl pada jantung kiri lebih tinggi dari pada jantung kanan dan ditemukan buih serta benda-benda air pada paru-paru.Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui kadar NaCl dalam darah sehingga dapat diketahui apakah korban meninggal di air tawar atau air asin. Isi lambung diambil jika ia menggunakan narkotika per-oral. kadar dalam darah. rambut dan kuku meningkat. Pada keracunan kronik. Semprit bekas pakai dan sisa obat yang ditemukan harus pula dikirim ke laboratorium. Pengujian tersebut . Terhadap barang-barang bukti seperti bubuk yang diduga mengandung morfin. Kematian dapat terjadi sebagai akibat malnutrisi dan infeksi. Tenggelam jenis ini disebut tenggelam tipe II A. Titik-titik basofil pada eritrosit dan lekosit muda mungkin ditemukan pada darah tepi. digunakan sifat sublimasi As. akan terbentuk endapan kelabu sampai hitam dari As pada permukaan batang tembaga tersebut.

1 mikrogram Heroin + merkuri klorida  kristal berbentuk dendrit.025 mikro gram. Perhatikan lapisan warna di dasar tabung yang timbul setelah 10 menit: Hijau muda = negatif. dapat dilakukan pengujian yang lebih khas : 10 tetes campuran asam nitrit pekat dan 85% asam fosfor yang memiliki perbandingan 12:38 diletakkan dalam tabung centrifuge ukuran 5 ml. urin.25 mikrogram Pethidin + asam pikrat pekat  kristal berbentuk roset berbulu. Kepekaan uji : 0. dilihat kristal apa yang terbentuk. sebagian otak dan lemak pada kasus keracunan barbiturat golongan kerja sangat singkat. Kepekaan uji : 0. darah. Reagen dapat dibuat dari 3 ml asam sulfat pekat ditambah 2 tetes formaldehid 40 %. darah hati atau perifer. cairan empedu dan lain-lain.1 mikrogram Heroin + platinum klorida  kristal berbentuk roset. heroin dan codei + Marquis ungu. Contoh : Morfin + reagen kalium kadmium yodida (1 gr kadmium yodida + 2 gr kalium yodida)  kristal berbentuk jarum. Pethidine + Marquis  jingga). Caranya : 1 tetes larutan narkotika ditambahkan reagen dan dengan mikroskop. dan yang memberikan hasil terbaik ialah ekstraksi langsung dengan kloroform. (Morfin. Bila kadar dalam darah sangat rendah maka metode yang diapakai adalah metode asam tungstat. hati. Merah coklat gelap = 10 mg. ginjal. Kepekaan uji : 0. Uji mikrokristal : Uji ini lebih sensitif dan lebih khas jika dibandingkan dengan reaksi warna Amrquis. Kepekaan uji : 0.1 mikrogram 3) Untuk menentukan barbiturat dalam organ tubuh (2) Untuk pemeriksaan toksikologik. Ada 5 macam metode ekstraksi (Moghrabi & Curry).hanya dapat dilakukan terhadap benda bukti yang masih berupa preparat murni atau pada tempat suntikan bila ternyata di tempat tersebut masih terkumpul narkotika yang belum diserap dan tidak dapat dilakukan terhadap bahan biologis seperti urin. Uji Marquis : Kepekaan uji ini adalah sebesar 1 – 0. . Untuk heroin. Kuning muda = 10 mikro gram. a.01 mikrogram Morfin + kalium triodida  kristal berbentuk pirirng. b. bahan yang harus dikirim ialah isi lambung. Pada umumnya semua narkotika akan memberikan reaksi warna ungu. Kuning coklat = 1 mg. Hanging microdrop technique merupakan modifikasi untuk narkotika dengan pembentukan kristal agak lama.25 ml kloroform dan diputar selama 30 detik. Kepekaan uji : 0. kemudian ditambahkan 3.

Konsentrasi barbiturat dalam otak. c. atau obat-obatan. barbiturat masih tetap dapat ditentukan (lebih kurang 25 % dari konsentrasi semula) sehingga dalam melakukan penarikan kesimpulan. Tentu harus diperhitungkan apakah pekerjaannya berkaitan dengan logam-logam tersebut. kacang-kacangan.5-8 mg/100 gr jaringan. yang menggunakan parafin). Bedanya dengan tes parafin adalah bahwa tes yang terakhir ini untuk mendeteksi adanya unsur logam mercury. Uji difenhidramin (2) Uji difenhidramin. yang menggunakan parafin cair untuk mengambil residu dari tangan dan kemudian menambahkannya dengan diphenylamine. Dalam keadaan mayat yang membusuk lanjut. Konsentrasi barbiturat yang terbesar terdapat dalam otak dan hati yang bervariasi antara 2. hal ini perlu diperhitungkan. barium atau timah hitam. BAB III IMPLEMENTASI PEMERIKSAAN LABORATORIUM FORENSIK SEDERHANA PADA KASUS TERTENTU Kasus Infantisida . sebab hanya mendeteksi adanya nitrate dan nitrite saja sehingga tes ini juga dapat memberikan hasil positif jika tangan tercemar tembakau. pupuk. hati dan ginjal menunjukkan jumlah yang besar sedangkan dalam otot dan tulang-tulang sedikit. Uji Parafin (6) Uji tradisional yang amata terkenal adalah tes Paraffin (tes Gonzalez. Tes Harrison & Gilroy (6) Menggunakan kasa yang telah dibasahi dengan asam chlorida. terutama pada senjata jenis revover merupakan salah satu cara pembuktian terhadap pelaku penembakan. b. terhadap adanya nitrat dan pemeriksaan spektrofotometri terhadap Sb pada tangan tersangka pelepas tembakan. 4) Pemeriksaan pada senjata api a. Tes parafin tersebut sebetulnya tes yang tidak spesifik. antimony.

Kasus Tenggelam .

Keracunan CO .

Keracunan Insektisida .

Luka Tembak .

Kasus Perkosaan .

dengan alat dan reagen yang murah dan mudah didapat namun memberikan nilai manfaat yang besar. Macam-macam pemeriksaan laboratorium forensik sederhana : . Pemeriksaan laboratorium forensic sederhana yaitu pemeriksaan laboratorium yang dalam pengerjaannya mudah.BAB IV KESIMPULAN Pemeriksaan laboratorium forensic sederhana merupakan pemeriksaan yang tanpa disadari dibutuhkan keberadaannya untuk membantu memperjelas suatu kejadian dalam melakukan visum.

a. sangat sensitif dan cukup bermakna. absorpsi elusi atau aglutinasi campuran. Pemeriksaan CO (karbon monoksida) Untuk penentuan COHb secara kualitatif dapat dikerjakan uji difusi alkali.1. Pemeriksan laboratorium forensik darah Tahapan pemeriksaan bila ditemukan bercak merah : 1. Pemeriksaan Alkohol Salah satu cara penentuan semikuantitatif kadar alkohol dalam darah atau urin yang cukup sederhana adalah teknik modifikasi mikrodifusi (Conway) 3. Persiapan Tes penyaring (apakah bercak tersebut benar darah?) Test yang paling sering dilakukan pada pemeriksaan ini adalah Test Benzidine. Pemeriksaan Insektisida Penentuan kadar AchE dalam darah dan plasma dapat dilakukan dengan cara tintimeter (Edson) dan cara paper-strip (Acholest). Keracunan 1. ii. b. Tes meyakinkan / konfirmasi Gold Standarnya adalah test Teichman (Tes kristal haemin) Hasil positif dinyatakan dengan tampaknya Kristal hemin HCL yang berbentuk batang berwarna coklat yang terlihat dengan mikroskopik. . Golongan darah & paternitas Penentuan jenis antigen dapat dilakukan dengan cara absorpsi inhibisi. 1. 4. Karena merupakan pemeriksaan yang paling baik yang telah lama dilakukan. Kesulitan yang ditemui yaitu Mengontrol panas dari sampel karena pemanasan yang terlalu panas atau terlalu dingin dapat menyebabkan kerusakan pada sampel. 1. a. Pemeriksaan ini sederhana. 2. Jika ternyata hasilnya negatif maka dianggap tidak perlu untuk melakukan pemeriksaan lainnya. a. Pemeriksaan Sianida Uji kertas saring. Pemeriksaan selanjutnya i. Cara yang biasa dilakukan adalah cara absorpsi elusi.

Langkah selanjutnya dilakukan identifikasi. dan ras. dengan catatan pelaku belum mencuci alat kelaminnya. Pemeriksaan laboratorium forensik rambut Pada pemeriksaan rambut yang pertama diperiksa adalah keasliannya. dari air liur yang menempel dapat dilakukan pemeriksaan golongan darah cara absorpsi inhibisi dengan catatan golongan darah penggigit termasuk sekretor. b. Namun perlu diingat bahwa pemeriksaan ini tidak spesifik. Air liur Pemeriksaan golongan darah pada air liur Dilakukan bila didapatkan jejas gigitan. 1. pertama kali dilakukan pemeriksaan dibawah sinar UV. Bila hasil negatif (tidak ditemukan spermatozoa) bisa dilakukan tes ulang dengan reaksi flourence. jenis kelamin. dimana bercak semen menunjukkan flouresensi putih. Pemeriksaan pria tersangka pelaku pemerkosa dapat dilakukan pemeriksaan cara lugol. Selanjutnya dilihat identitas pemilik rambut serta informasi-informasi lain yang ada kaitannya dengan kejahatan. mencakup umur. dianjurkan menggunakan pewarnaan malachite green karena mudah dan baik untuk kepentingan forensik. kemudian diperiksa apakah rambut itu rambut manusia atau binatang. Pemeriksaan laboratorium forensik cairan mani a. Pada golongan sekretor dari cairan semen dapat ditentukan golongan darahnya denga cara absorpsi inhibisi. Urin Pemeriksaan untuk timbal. 2. Penentuan cairan mani (kimiawi) Pertama-tama dilakukan tes penyaring akan adanya bercak mani dengan reaksi fosfaatase asam. Pemeriksaan bercak mani pada pakaian. 1. Sedangkan bila dilakukan dengan pewarnaan. B. Pada pemeriksaan ini didapatkansel-sel epitel vagina dengan sitoplasma berwarna coklat karena mengandung banyak glikogen dari glans penis pelaku. Pemeriksaan motilitas spermatozoa tanpa pewarnaan paling bermakna untuk memperkirakan saat terjadinya persetubuhan. untuk skrining massal dalam menentukan timbal dapat dilakukan cara fluoresensi dan uji koproporfirin III. Pemeriksaan laboratorium forensik cairan tubuh lainnya a. bila positif maka warna akan berubah menjadi merah terang karena terbentuk sianmethemoglobin.Kertas saring dicelupkan ke dalam larutan asam pikrat jenuh. namun perlu diingat bahwa pemeriksaan ini tidak spesifik b. Pemeriksaan laboratorium forensik lain-lain . Selain itu dapat juga dilakukan pemeriksaan alkohol dengan teknik modifikasi mikrodifusi (conway). Pemeriksaan spermatozoa (mikroskopis) Dapat dilakukan baik dengan pewarnaan maupun tanpa pewarnaan.

Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. rambut dan kuku yang meningkat. 4. 9. 1997. urin. Spalding. Ilmu Kedokteran Forensik. Boca Raton: CRC Press LLC. A. 2nd ed. 6. dan organ paruparu terdiri dari pemeriksaan makroskopik paru (Uji apung paru) dan mikroskopik paruparu. 2008. Nordby JJ. Cara Gettler Goldbaum. M. p. 1954. Kristalografi.. Nordby JJ. Mun’im A Sidhi. p. Identification of Biological Fluids and Stains. 2003. A. New York: Oxford University Press. 172-76 Idries. Kematian dapat terjadi sebagai akibat malnutrisi dan infeksi. 47: 68-69: 92-100: 105-06: 111: 113: 125-26: 136-37: 144-46: 167—96 Sheperd R. Ilmu Kedokteran Forensik Pedoman Bagi Dokter dan Penegak Hukum. 2. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Reaksi Prussian Blue (Biru Berlin). 2003. et al. Forensic Science An Introduction to Scientific and Investigative Techniques. Forensic Science An Introduction to Scientific and Investigative Techniques. 1st ed. p. Widiatmo W. Boca Raton: CRC Press LLC.233-36 Dahlan S. 58 Gonzales TA. Robert P. Editors. DAFTAR PUSTAKA 1. 2000. pemeriksaan organ mata mencakup pemeriksaan Uji Nalorfin. Uji Gutzeit yang memperlihatkan noda coklat sampai hitam pada kertas saring.. 12th ed. sedangkan untuk pemeriksaan pada senjata api dapat dilakukan. Terdapat juga pemeriksaan untuk menentukan barbiturat dalam organ tubuh. Boca Raton: CRC Press LLC. 2000. Pemeriksaan paru lainnya adalah pemeriksaan diatom. Vance M. Identification and Characterization Blood and Bloodstain. Helpern M. Microanalysis and Examination of Trace Evidence. p. Simpson’s Forensic Medicine. p. 174 Kubic TA. Editors. New York: AppletonCentury-Croft. Jakarta : Media Aesculapius. 2008. 2000. In: James SH. Andrew and Monica M Sloan. Pemeriksaan Destruksi (Digesti Asam) dan Pemeriksaan Getah Paru . Nordby JJ. p. kadar dalam darah. Penerapan Ilmu Kedokteran Forensik dalam Proses penyelidikan. p. Inc. Metoda Kopanyi. 181-98 Budiyanto A. Jakarta: Sagung seto. 3 rd ed. p. Hertian S. Serta dilakukan pemeriksaan toksikologik yaitu Uji Reinsch. 203-20 http://hukumonline. 7. L. Editors. Tjiptomartono. Sudiono S. Pemeriksaan lainnya dicontohkan pada kasus keracunan As. Forensic Science An Introduction to Scientific and Investigative Techniques.Pada pemeriksaan laboratorium forensik juga mencakup pemeriksaan isi lambung (pemeriksaan sianida) terdiri dari Reaksi Schonbein-Pagenstecher (Reaksi Guajacol). Arif M.com/detail. Petraco N. 5. 10. Pada pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi adanya narkotika dilakukan uji Marquis dan uji mikrokristal. Winardi T. 3. uji dipenhidramin dan Tes Harrison & Gilroy sedangkan untuk uji parafin sudah jarang yang duganakan. Umberger CJ. Inc. Kapita Selekta. Uji Kopro-porfirin urin akan memberikan hasil positif. In: James SH. 8.asp?. In: James SH.id=18467&c1=berita . p624-36: 389 Mansjoer. 264-66 Greenfield.