MARKAS BESAR

KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
SEKOLAH STAF DAN PIMPINAN
OPTIMALISASI PERAN POLRI
GUNA PENYELESAIAN PERKARA PENGRUSAKAN
DALAM RANGKA MEWUJUDKAN STABILITAS KAMTIBMAS
(Tinjauan Studi Kasus)
BAB I

PENDAHULUAN
1.
Latar belakang

Tugas pokok Polri sebagaimana diatur dalam pasal 13

UU No.2 Tahun 2002 adalah memelihara keamanan dan
ketertiban masyarakat, menegakkan supremasi hukum serta
memberikan
kepada

pengayoman,

masyarakat

secara

perlindungan
profesional

dan

pelayanan

sehingga

dapat

menciptakan rasa aman dan nyaman serta terciptanya
ketertiban dalam masyarakat.
Penegakan hukum yang dilakukan oleh Polri pada

dasarnya bertujuan untuk mewujudkan keadilan sosial dan mencegah
kezaliman serta melindungi hak asasi setiap warga Negara. Namun
perkembangan penegakan hukum diera sekarang ini banyak kasuskasus hukum yang ditarik ke arena publik yang kemudian
membawanya dalam diskursus publik untuk menentukan yang adil dan
yang bukan.
Dalam penegakan hukum tersebut Polri tidak hanya dituntut
penegakan hukumnya semata, namun Polri juga dituntut untuk tetap
menjaga stabilitas kamtimbmas dengan memaksimalkan perannya
melalui koordinasi dengan Muspida, Kejaksaan, Pengadilan,
tokoh masyarakat / adat serta LSM yang ada di wilayah
tugasnya baik secara formal maupun non formal.

2.

Pokok permasalahan
Bagaimana mengoptimalkan peran Polri dalam penegakan hukum
supaya stabilitas kamtibmas tetap terjaga?.

3.

Pokok-pokok persoalan
a.
Bagaimana penegakan hukum yang dilakukan oleh Polri saat
b.

ini?
Faktor-faktor apa yang mempengaruhi terjadinya deliberasi
hukum ?

4.

c.

Bagaimana meningkatkan peran Polri dalam penegakan hukum

d.

agar stabilitas kamtibmas tetap terjaga?
Bagaimana penegakan hukum yang seharusnya dilakukan oleh

Polri dalam paradigma Polisi sipil pada masyarakat demokrasi?
Ruang lingkup
Ruang lingkup pembahasan NKP ini adalah peran Polri dalam
penegakan hukum (tinjauan studi kasus pengrusakan pada saat
eksekusi tanah didesa Sumber Kima Grokgak Buleleng) dengan tetap
menjaga stabilitas kamtibmas pada masyarakat demokrasi dalam
kerangka paradigma Polisi Sipil.

BAB II

KAJIAN KEPUSTAKAAN
1.
Deliberasi hukum diruang publik sebagaimana dikatakan oleh
W.Riawan Tjandra terjadi karena banyak kasus-kasus hukum yang
ditarik ke arena publik yang kemudian membawanya dalam diskursus
2.

publik untuk menentukan yang adil dan yang bukan.
Dalam pengambilan keputusan penegakan hukum diperlukan analisa
SWOT sebagaimana dikatakan DR. Setyo Riyanto, SE, MM

3.

serta pengumpulan data dan informasi harus akurat.
Penegakan hukum harus mempertimbangkan aspek
keadilan

dan

stabilitas

kamtibmas

sebagaimana

dikatakan Kombes Pol DR.Chrishnanda D dalam bahan
4.

ajaran pasis Digreg 50, Aplikasi Perubahan Paradigma.
Konsep paradigma polisi sipil sebagaimana dikatakan
Prof.DR Sarlito membentuk personil Polri yang kreatif,
inovatif dan mau belajar.

BAB III

KONDISI SAAT INI
1.

Situasi kamtibmas wilayah hukum Polres Buleleng
Situasi kamtibmas Polres Buleleng pada tahun 2009 secara
umum cukup kondusif, jumlah kejadian adalah 1.491 kasus. Kasus
yang menonjol adalah pencurian dengan pemberatan, namun
dibeberapa kecamatan terjadi peningkatan situasi yang memanas akibat
konflik masalah tanah yang salah satunya adalah sengketa tanah antar
perorangan di desa Sumber Kima kecamatan Grokgak kabupaten
Buleleng.
2

Sengketa tanah tersebut sudah terjadi sejak tahun 2002 dan
hasil putusan kasasi MA diterbitkan pada tahun 2007. Pelaksanaan
eksekusi pertama dilakukan pada tahun 2007 tetapi terjadi perlawanan
sehingga batal, tahun 2008 dilakukan eksekusi lagi tetapi gagal lagi.
Pada tahun 2009 dilaksanakan eksekusi yang ketiga kalinya dan
2.

berhasil.
Kekuatan personil
Dalam pelaksanaan eksekusi pada tahun 2009 melibatkan 150
personil Polres Buleleng yang terdiri dari 75 orang Dalmas, 25 anggota
Polsek, 10 anggota intel, 20 anggota Reskrim, 10 anggota lalulintas, 5
anggota Binamitra dan 5 pejabat Polres (Kapolres, Wakapolres,

3.

Kabagops, Kasat Samapta dan Kabagbinamitra).
Pelaksanaan eksekusi
a.
Tahap persiapan dilaksanakan pada H-1 dengan agenda paparan
Kapolsek Grokgak tentang situasi terakhir dan perkiraan
dampak yang akan timbul serta koordinasi dengan pihak
pengadilan, pihak pemohon eksekusi,
b.

serta kuasa hukum

tereksekusi.
Pada hari ”H” pukul 07.00 dilaksanakan apel gabungan dengan
jumlah personil 150 untuk dilakukan pembagian tugas dan cara
bertindak serta konsesus-konsesus yang harus ditaati oleh

c.

seluruh personil.
Pukul 08.00 personil gabungan Polres Buleleng, pihak
pengadilan serta kuasa hukum pihak pemohon eksekusi tiba
TKP, masa pendukung kedua belah pihak sudah saling
berhadapan, kemudian Dalmas Polres Buleleng membuat sekat

d.

pemisah masa agar tidak terjadi bentrokan.
Karena terjadi perlawanan dari pihak yang dieksekusi akhirnya
atas permintaan Kepala Desa Sumber Kima dilakukan
musyawarah

yang

dihadiri

pihak

pemohon,

termohon,

pengadilan, pejabat Polres serta tokoh masyarakat dan kepala
e.

desa.
Perundingan mengalami kebuntuan akhirnya Dalmas Polres
berusaha membubarkan masa namun tidak berhasil, masa
semakin anarkis dan melakukan lemparan batu serta merusak

3

mobil pemohon eksekusi. 11 orang perusak kendaraan
f.

ditangkap dan dibawa kekantor Polsek untuk diproses hukum.
Kepala desa, keluarga dan kuasa hukum tereksekusi melakukan
negosiasi dengan pejabat Polres agar 11 orang tersebut tidak
diproses hukum. Setelah melalui perundingan dengan pemilik
mobil akhirnya 11 orang tersebut tidak diproses dan disepakati
eksekusi dapat dilaksanakan.

BAB IV

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
1.
Internal
a.
Sumber daya manusia
Jumlah personil yang dilibatkan masih sangat kurang bila
dibandingkan dengan jumlah masa yang melakukan perlawanan
sekitar 700 orang. Data jumlah masa pendukung tereksekusi
maupun yang mendukung pemohon eksekusi dari intelejen
tidak akurat sehingga kekuatan personil Polri dengan masa
b.

tidak berimbang.
Anggaran
Anggaran yang diberikan oleh pengadilan negeri tidak

c.

mencukupi untuk kebutuhan makan personil Polri.
Metode
Pelaksanaan eksekusi sudah memenuhi syarat formal
yaitu permintaan bantuan eksekusi dari pengadilan negeri serta

d.

2.

menggunakan protap Dalmas.
Materill
Materiil yang digunakan kegiatan eksekusi belum

memadai, sehingga menghambat pelaksanaan eksekusi.
Ekstern
a.
Masyarakat Sumber Kima Grokgak banyak campuran dari suku
Bugis, Madura dan Bali yang bertemperamen keras dan
b.

solidaritasnya tinggi.
Hubungan kemitraan Polsek Grokgak dengan masyarakat
Sumber Kima Grokgak kurang harmonis sehingga pengaruh

c.

Kapolsek maupun Babhinkamtibmas kurang.
Koordinasi Polres dan Pemda Buleleng berjalan kurang sejalan

d.

sehingga pelaksanaan eksekusi tertunda beberapa kali.
Kegagalan pelaksanaan eksekusi sebelumnya disebabkan oleh
perlawanan masa yang sangat besar, data intelejen yang kurang

4

akurat serta peran kapolsek dan Babhinkamtibmas masih
rendah.
BAB V

KONDISI YANG DIHARAPKAN
1.

Penegakan hukum yang dilaksanakan oleh Polri harus secara
proporsional dan profesional sehingga personil yang melakukan
penegakan hukum harus memiliki kemampuan, keterampilan dan
pengalaman yang didasarkan perkembangan ilmu pengetahuan
dibidang hukum.
Makna penegakan hukum sebagai suatu proses selain penyelenggaraan
hukum juga sebagai penerapan hukum yang pada hakekatnya
merupakan penerapan diskresi menyangkut keputusan yang tidak
secara ketat diatur oleh kaidah peraturan hukum, melainkan sebagai
tindakan yang sah dengan unsur penilaian yang berada diantara hukum
dan etika. Asas keadilan harus dijadikan pedoman utama agar publik
tidak melakukan diskursus hukum publik untuk mencari keadilan.

2.

Azas keadilan menjadi pertimbangan mendasar dalam penegakan
hukum sehingga dapat semaksimal mungkin menghindari benturan
atau konflik dengan masyarakat. Penegakan hukum yang berdasar
keadilan akan menghindarkan deliberasi hukum oleh publik.

3.

Peningkatan peran Polri dalam penegakan hukum
Dalam penegakan hukum Polri selain memegang aturan hukum
yang berlaku juga harus mengoptimalkan perannya supaya hukum
dapat ditegakkan namun keadilan juga terwujud. Peran tersebut dapat
dilakukan dengan:
a.
Melakukan mediasi antara Polri, tokoh masyarakat, pejabat
pemerintahan maupun dengan masyarakat yang terlibat konflik
sehingga dapat merumuskan kesepakatan yang bertujuan
b.

mewujudkan stabilitas kamtibmas.
Melakukan penyelesaian perkara diluar hukum (ekstra yudicial)
dengan mempertimbangkan aspek keadilan serta kepentingan

c.

umum yang lebih besar.
Meningkatkan hubungan kemitraan masyarakat melalui Polmas
guna mewujudkan kamtibmas yang kondusif.
5

4.

Penegakan hukum harus mengikuti paradigma kepolisian sipil
Sesuai dengan tugas pokok Polri adalah memelihara keamanan
dan ketertiban masyarakat. Dalam melakukan penegakan hukum juga
harus dipertimbangkan situasi dan kondisi masyarakat. Apabila situasi
dan kondisi yang terjadi dimasyarakat tidak memungkinkan maka
perlu dipertimbangkan untuk menunda pelaksanaan penegakan hukum,
namun

bila

situasi

masyarakat

memungkinkan

dilakukannya

penegakan hukum maka harus dilakukan penegakan hukum tanpa
menimbulkan gangguan kamtibmas pasca dilaksanakannya penegakan
hukum.
BAB VI

UPAYA PEMECAHAN MASALAH
1.
Polri harus melakukan penegakan hukum secara profesional
Salah satu hal yang menyebabkan turunnya wibawa penegakan
hukum adalah kecenderungan kuat dari penegak hukum untuk
senantiasa

mengusahakan keseragaman

dalam penegakan hukum

yang kadang-kadang dilakukan tanpa memperhitungkan variasi-variasi
prinsipil yang merupakan kenyataan.
Penegakan hukum diperkotaan sudah pasti lain sifatnya apabila
dibandingkan dengan yang dilakukan dipedesaan. Di wilayah
perkotaan karena sifat masyarakatnya yang heterogen kadang-kadang
diperlukan

variasi-variasi.

Keseragaman

memang

memudahkan

pekerjaan, akan tetapi keseragaman (misalnya dalam wujud kepastian
hukum) belum tentu menghasilkan keadilan. Padahal, keadilan ini
merupakan inti penegakan hukum yang berwibawa (termasuk
kewibawaan para penegaknya).
Kecenderungan lain yang tampak dalam kenyataan adalah
bahwa para penegak hukum lebih mementingkan kedudukan daripada
peranannya. Kenyataan demikian menimbulkan kesulitan-kesulitan
besar untuk menegakkan hukum yang adil secara terpadu. Tekanan
pada kedudukan yang disandang oleh para penegak hukum dan
konsekuensinya adalah pengaruh dan persepsi negatif dari warga
masyarakat terhadap pola perilaku para penegak hukum. Keadaan
tersebut mengakibatkan timbulnya citra yang buruk pada pihak
penegak hukum. Proses penegakan hukum yang hasilnya adil atau
tidak adil tergantung pada faktor-faktor sebagai berikut:
6

a.
b.
c.

Hukumnya sendiri.
Kepribadian atau mentalitas penegak hukum.
Fasilitas pendukung penegak hukum yang mencakup perangkat

d.
e.

lunak dan keras.
tingkat kesadaran hukum dan kepatuhan hukum masyarakat.
Kebudayaan hukum yang dianut oleh masyarakat yang
bersangkutan.

2.

Mempertimbangkan aspek

keadilan masyarakat agar tidak terjadi

deliberasi hukum.
Dalam penegakan hukum yang terjadi di Sumber Kima
Grokgak Buleleng agar kegiatan dapat berjalan lancar maka Kapolres
harus mengumpulkan informasi dan data yang akurat untuk digunakan
dalam

membuat

perencanaan,

pengorganisasian,

pelaksanaan,

pengendalian kegiatan serta analisa SWOT sebagai berikut:
a.
Mempertimbangkan kekuatan personil Polri dengan masa yang
melakukan perlawanan, anggaran yang dimiliki, metode yang
dipakai dalam eksekusi serta materiil utama dan pendukung

3.

b.

yang digunakan dalam pelaksanaan eksekusi.
Menganalisa kelemahan yang dapat menghambat pelaksanaan

c.

eksekusi baik intern maupun ekstern.
Mencari peluang-peluang yang dapat menjadi kekuatan dalam

d.

pelaksanaan eksekusi.
Memperkirakan ancaman apa yang akan dihadapi baik sebelum

e.

eksekusi, pada saat eksekusi dan setelah eksekusi.
Membuat perencanaan kegiatan dan mengendalikan

f.

pelaksanaannya.
Melakukan analisa

dan

evaluasi

kegiatan

yang

telah

dilaksanakan.
Polri selain memegang aturan hukum yang berlaku juga harus
mengoptimalkan perannya supaya hukum dapat ditegakkan namun
keadilan juga terwujud. Peran tersebut dapat dilakukan dengan:
a.
Melakukan mediasi antara Polri, tokoh masyarakat, pejabat
pemerintahan maupun dengan masyarakat yang terlibat konflik
sehingga dapat merumuskan kesepakatan yang bertujuan
b.

mewujudkan stabilitas kamtibmas.
Melakukan penyelesaian perkara diluar hukum (ekstra yudicial)
dengan mempertimbangkan aspek keadilan serta kepentingan
umum yang lebih besar.
7

c.

Menggalang dukungan baik dari instansi pemda, tokoh
masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, tokoh pemuda serta LSM

d.

untuk memperoleh masukan dalam pelaksanaan kegiatan.
Meningkatkan peran aktif Babhinkamtibmas dalam menjalin
kemitraan dengan masyarakat.

4.

Penegakan hukum oleh Polri mengacu dalam paradigma Polisi sipil
Penegakan hukum dalam paradigma polisi sipil harus
mempertimbangkan

aspek

stabilitas

kamtibmas

dan

keadilan,

mengingat tugas Polri adalah sebagai pemelihara kamtibmas. Untuk
mewujudkannya maka Polri (Kapolres) dalam bertindak harus
mempedomani hal-hal sebagai berikut:
a.
Melaksanakan kegiatan dengan menggunakan aturan atau
b.
c.

prosedur yang berlaku.
Mempedomani rencana kegiatan yang telah dibuat
Melakukan pengorganisasian dan pembagian tugas dengan
tepat kepada setiap fungsi atau personil Polri yang terlibat

d.

dalam pelaksanaan kegiatan.
Melakukan pengendalian pelaksanaan kegiatan agar anggota
Polri tidak menyimpang dari konsensus atau perencanaan yang

e.

telah dibuat.
Menganalisa jalannya kegiatan sehingga dapat mengetahui
perkembangan situasi yang terjadi pada saat pelaksanaan

f.

kegiatan.
Membuat keputusan cepat apabila menghadapi situasi yang
tidak menguntungkan dalam pelaksanaan tugas dengan
mempertimbangkan keuntungan dan kerugian baik terhadap

g.

organisasi maupun masyarakat sekelilingnya.
Setelah pelaksanaan kegiatan agar tetap melakukan pendekatan
dan penggalangan kepada masyarakat untuk ikut menjaga
stabilitas kamtibmas.

BAB VII

PENUTUP
1.
Kesimpulan
a.
Dalam penegakan hukum harus menghindari benturan atau
konflik dengan masyarakat sehingga harus dilaksanakan secara
proporsional dan profesional.
8

b.

Aspek

keadilan

pertimbangan

dalam

utama

penegakan

dalam

hukum

penegakan

merupakan

hukum

yang

dilaksanakan oleh Polri. Hal ini untuk menghindari publik
c.

melakukan diskursus hukum publik untuk mencari keadilan.
Optimalisasi peran Polri dalam penegakan hukum sangat
penting agar hukum dapat ditegakkan namun keadilan juga

d.

terwujud.
Aplikasi paradigma polisi sipil harus sudah mulai diterapkan
dalam penegakan hukum sehingga menuntut personil Polri baik
pimpinan mauun anggota untuk berfikir kreatif, inovatif dan

2.

belajar dari pengalaman.
Rekomendasi
a.
Perlunya peningkatan kualitas/kemampuan personil Polri
sehingga
b.

penegakan

hukum

dapat

dilaksanakan

secara

proporsional dan profesional.
Dalam penegakan hukum

harus

dilakukan

dengan

mempertimbangkan aspek keadilan agar tidak terjadi deliberasi
hukum. Sebelum melakukan penegakan hukum perlu membuat
perencanaan kegiatan dan analisa SWOT untuk dijadikan bahan
c.

pengambilan keputusan.
Perlunya optimalisasi peran Polri baik pimpinan maupun
anggota dalam penegakan hukum supaya hukum dapat
ditegakkan namun keadilan masyarakat juga terwujud sehingga

d.

kedua-duanya dapat berjalan sinergi.
Dalam paradigma polisi sipil penegakan hukum tidak harus
kaku

sesuai

dengan

ketentuan,

namun

harus

mempertimbangkan aspek stabilitas kamtibmas dan keadilan,
mengingat tugas Polri adalah sebagai pemelihara kamtibmas.

9

LAMPIRAN
1.
Daftar pustaka
2.
Pola pikir

Deliberasi Hukum di Ruang Publik
Kamis, 10 Desember 2009 | 04:57 WIB
W RIAWAN TJANDRA
10

Wajah bopeng
W RIAWAN TJANDRA Dosen pada Fakultas Hukum dan Pascasarjana Universitas Atma
Jaya Yogyakarta; Direktur Lembaga Kajian Pemerintahan Lokal

Demokrasi Deliberatif: Teori, Prinsip, dan Praktik
Tulisan ini hendak membahas sebuah konsep yang sekarang menjadi mode, yaitu demokrasi
deliberatif. Istilah ini tampak baru, namun bila direnungkan isinya, masyarakat kita telah
memilikinya.
Deliberatif yang berasal dari kata deliberation, atau deliberatio dalam Bahasa Latin, adalah
musyawarah, omong-omong, berunding, memberikan nasihat satu sama yang lain,
berbincang-bincang, dan menimbang-nimbang. Sebagai ilustrasi, kalau kita berpikir apakah
mau menikah atau tidak, itu berarti kita sedang melakukan deliberation. Itu adalah forum
internal kita dalam kepala. Tetapi kalau kita mulai omong dengan orang lain, misalnya
dengan pasangan kita, apakah jadi menikah atau tidak, itu adalah forum eksternal. Itu pun
merupakan bentuk deliberasi. Jadi, akar dari deliberasi sebenarnya adalah perbincangan dan
komunikasi.
Oleh karena itu, demokrasi deliberatif tidak asing bagi masyarakat kita yang suka berbicara
dan bermusyawarah. Kalau memang sudah biasa, mengapa demokrasi deliberatif itu harus
dipelajari? Memang itu adalah hal biasa, tetapi ada yang tidak biasa dalam demokrasi
deliberatif, yaitu bentuk komunikasi macam apa yang dituntut secara perfeksionis dari teori
demokrasi deliberatif sehingga para aktivis yang bergerak untuk membangun forum warga
misalnya juga bisa melihat bahwa proses komunikasi ada prosedurnya, pola, tatanan, dan
pencapaian yang harus bisa diikuti prosesnya.
Dengan kata lain, apa yang mau disajikan dalam teori demokrasi deliberatif adalah suatu
pandangan bagaimana mengaktifkan individu dalam masyarakat sebagai warga negara untuk
berkomunikasi, sehingga komunikasi yang terjadi pada level warga itu mempengaruhi
pengambilan keputusan publik pada level sistem politik. Mengingat sistem politik
menggunakan bahasa yang berbeda dari masyarakat sipil, maka level-level komunikasi ini
harus dipahami. Apa yang menurut masyarakat sipil itu merupakan aspirasi kalau tidak
dikemas dengan bahasa sistem, maka ia tidak bisa dimengerti oleh sistem politik.
Teori demokrasi deliberatif sedikit banyak menjelaskan level-level bagaimana proses
pembentukan opini, karier opini—dari mana opini dan menuju ke mana—penyaringan
komunikasi, bentuk-bentuk komunikasi, dan lain sebagainya. Dalam konteks ini, saya hendak
membagi uraian ini pada tiga hal, yaitu teori, prinsip, dan praktik.
Seputar Teori Demokrasi Deliberatif

11

Adalah Jürgen Habermas, seorang pemikir yang pada 60-an dekat dengan gerakan Marxis
Kiri dan banyak menginspirasi gerakan mahasiswa tahun 1968. Pengaruhnya juga cukup
besar di Amerika. Gagasan Habermas baru masuk ke Indonesia sekitar tahun 1980-an, dan ini
juga mewarnai gerakan-gerakan sosial di tanah air.
Habermas, dengan runtuhnya komunisme, mengubah cara berpikirnya. Dia tidak lagi
membuat kritik terhadap kapitalisme, melainkan membuat buku-buku yang isinya
menganalisa proses demokrasi dalam era pasca komunisme. Teori demokrasi deliberatif
adalah salah satunya, dan Jürgen Habermas salah satu tokohnya. Ada tokoh-tokoh lain,
seperti Cohen dan John Rawls yang juga diacu sebagai orang-orang yang menyumbangkan
pemikiran mengenai proses deliberasi. Di tangan Habermas, teori demokrasi delibe¬ratif
menjadi cukup matang. Buku ‘Filsafat dalam Masa Teror’ yang berisi wawancara
dengan Habermas, menunjukkan bahwa di tahun 2000-an, Habermas masih konsisten
berbicara mengenai proses deliberasi.
Habermas termasyhur dengan apa yang disebut dengan teori diskursus. Sederhananya,
diskursus adalah perbincangan, wacana. Kata diskursus berbeda dengan speech atau saying.
Discourse adalah suatu bentuk komunikasi yang tidak sehari-hari. Dalam komunikasi seharihari, di pasar misalnya, kita membeli cabe dan kita membayarnya, itu bukan diskursus.
Tetapi, begitu kita bertanya mengapa harganya sekian dan kemarin sekian, terjadilah apa
yang disebut diskursus. Ketika ada problem dan tematisasi problem, terjadilah diskursus
dalam bentuk yang sederhana. Jadi, diskursus adalah bentuk komunikasi yang reflektif yang
mentematisasi sebuah problem tertentu. Dengan demikian, ada dua bentuk komunikasi, yaitu
komunikasi sehari-hari dan diskursus.
Dalam setiap komunikasi, ada beberapa hal yang berperan. Lebenswelt di antaranya.
Lebenswelt (Jerman), lifeworld (Inggris), atau dunia kehidupan adalah latar belakang
komunikasi yang diandaikan begitu saja dan sifatnya pra-reflektif, bahkan pra-sadar, tapi
nyata-nyata menuntun komunikasi kita membuat tendisensi. Tendensi itu tidak selalu buruk,
tapi memungkinkan kita berkomunikasi. Tanpa lebenswelt, tidak akan ada komunikasi yang
berarti.
Ada sebuah ilustrasi menyangkut lebenswelt. Suatu ketika saya menyampaikan ceramah di
sebuah forum. Oleh moderator, saya diminta berhenti karena ada suara adzan. Saya bertanya,
“Mengapa harus berhenti?” Saya disadarkan bahwa dalam Islam, ketika
dikumandangkan adzan, ada keharusan untuk berhenti sejenak hingga adzan itu usai. Bagi
saya yang tidak paham, tentu saya bertanya-tanya. Ini salah satu contoh bahwa ritual pun
adalah lebenswelt. Begitu saya mempertanyakan kenapa harus berhenti, terjadilah apa yang
disebut diskursus. Diskursus itu membuat problem menjadi semakin jelas dan semakin
12

rasional. Akibat diskursus, lebenswelt itu dibedah pelan-pelan, mulai ditematisasi, sehingga
makin jelas. Sehingga para peserta komunikasi semakin sadar tentang kebudayaannya dan
masyarakatnya secara reflektif.
Ketika kita membuat diskursus, bukan hanya lebenswelt yang berperan, tapi juga apa yang
disebut klaim-klaim kesahihan. Contohnya, ketika kita berbincang-bincang tentang adzan
misalnya, dan saya mempersoalkan, kenapa saya harus berhenti berbicara, bukankah ini
hanya berlaku untuk pemeluk agama tertentu? Ketika bertanya begitu, dalam pernyataan saya
implisit sebuah klaim kebenaran tertentu. Artinya, di balik kata-kata itu, saya sebenarnya
sedang meneguhkan klaim kebenaran bahwa tidaklah bermasalah bila orang yang bukan
pemeluk Islam berbicara terus meskipun adzan sedang berkumandang. Klaim kesahihan ini
diam-diam ada ketika saya menyoal kenapa saya harus berhenti ketika adzan. Klaim
semacam itu banyak dijumpai dalam komunikasi. Jika kita memperhatikan dan semakin sadar
tentang klaim itu, maka akan terjadi diskurus yang membuat komunikasi semakin cerdas.
Diskursus selalu bergerak dalam masyarakat, dan setiap upaya tematisasi akan selalu keluar
dari lebenswelt: komunikasi sehari-hari yang taken for granted.
Dalam komunikasi sehari-hari, ada beragam tipe diskursus: diskursus teoretis, diskursus
praktis, dan diskursus kritis. Diskursus teoretis adalah percakapan argumentatif menyangkut
persoalan-persoalan yang faktual. Misalnya, harga cabe 20 ribu/kg. Si pembeli membatah,
bahwa harga cabe masih 19 ribu/kg berdasarkan laporan media dan informasi lainnya. Jadi,
ada upaya untuk mengecek fakta. Inilah yang disebut diskursus teoretis. Di sini ada klaim
kesahihan menyangkut kesahihan harga cabe. Jadi, diskursus ini mengacu pada fakta yang
kita temukan, entah dari laporan pedagang yang lain atau sumber-sumber berita resmi dari
media, dll.
Berbeda dengan diskursus teoretis, diskursus praktis terjadi kalau yang menjadi problem itu
adalah norma. Misalnya, apakah orang yang berbicara terus selama adzan dikumandangkan
itu melanggar sopan-santun atau tidak. Kalau berbicara terus, kita tidak tahu bagaimana
perasaan publik kita. Singkatnya, dalam diskursus praktis, tema yang menjadi problem adalah
norma.
Terakhir, kritik. Kalau dalam diskursus itu harus ada konsensus, dalam kritik tidak perlu.
Kritikus itu memberikan tilikan. Ada dua macam kritik, yaitu kritik estetis dan kritik
terapoitis. Ketika ada kritikus sastra atau kritikus seni melihat karya seni apakah karya
se¬ni itu indah atau tidak, lalu terjadi diskusi, maka itu bisa disebut sebagai diskursus kritik
estetis. Sementara kritik terapoitis adalah bentuk pembicaraan yang mengkritik. Misalnya,
marxisme mengkritisi pencemaran lingkungan, bahwa pencemaran lingkungan itu dibiarkan
begitu saja karena ada kolaborasi politis antara pemerintah dan pengusaha. Ini disebut kritik
13

terapoitis. Disebut terapoitis—asal katanya terapi—karena berupaya untuk menyembuhkan
masyarakat dari penindasan. Banyak contoh lain yang—misalnya—dilakukan oleh para
analis kritik sosial.
Dari empat macam bentuk komunikasi di atas, terkadang dalam komunikasi orang
memproblematisir semuanya secara komprehensif. Ini juga disebut diskursus, diskursus
tentang komprehensifilitas.
Mari kita mengamati apa yang terjadi pada masyarakat. Kalau kita melihat negara modern,
Indonesia misalnya, dan menganalisanya sebagai keseluruhan, setidaknya ada tiga komponen
di dalamnya: negara/birokrasi (kekuasaan), pasar (uang), dan masyarakat (solidaritas).
Ada dua unsur dalam bagan ini. Unsur atas adalah negara dan pasar. Ini yang disebut sistem;
dan unsur bawah yaitu masyarakat. Ini yang disebut lebenswelt. Pembedaan itu bukan
semata-mata terjadi karena pembedaan analisa, tetapi juga pembedaan bentuk komunikasi.
Misalnya, kalau kita bertemu dengan seseorang dan bertegur sapa, “Apa kabar, main-main
ke rumahku, wah, saya mau hutang uang dan mau dibayar minggu depan”, itu adalah
bentuk komunikasi sehari-hari yang terjadi dalam masyarakat. Tetapi, mungkin Anda jengkel
karena hutangnya tidak dibayar setelah ditagih berkali-kali. Lalu Anda mengundang
pengacara untuk memperkarakannya di pengadilan. Komunikasi ini tidak lagi berada pada
level sehari-hari, melainkan masuk dalam sistem. Singkatnya, orang yang sama bisa mewakili
bentuk komunikasi yang berbeda.
Habermas melihat bahwa perkembangan masyarakat menurut pola gambar di atas. Ketika
masyarakat masih sederhana, masyarakat tradisional misalnya, sistem itu kecil. Sebagai
ilustrasi, di desa, birokrasi sangat lemah, interaksi lebih berbentuk interaksi kultural. Artinya
sistem—birokrasi dan pasar—dalam masyarakat tradisional masih kecil, pengaruhnya
sangat terbatas. Seolah-olah menjadi subsistem dari lebenswelt. Sementara lebenswelt besar.
Masyarakat pun berkembang. Melalui proses modernisasi, terjadi perubahan. Sistem mulai
membesar, sementara lebenswelt terdesak, mengecil. Lalu belalai-belalai kapitalisme mulai
masuk dan mengatur komunikasi. Di satu sisi, komunikasi bisa reflektif, proble-matis, di
mana orang bisa semakin pandai bicara dan semakin bisa memproblematisasikan. Di pihak
yang lain, karena lebenswelt semakin kecil, maka komunikasi tidak lagi taken for granted,
kurang santai, bahkan tegang dan sarat konflik.
Menurut Habermas, dalam kapitalisme, yang terjadi dewasa ini adalah membesarnya sistem
dan lebenswelt mengecil. Birokrasi mempengaruhi berbagai bidang kehidupan, sementara
kebudayaan semakin terdesak. Sebagai ilustrasi, kalau kita hendak meng-adakan seminar
untuk menyukseskan pemilu, mobilisasi dana demikian mudah. Berbeda ketika kita hendak
14

mengadakan seminar kebudayaan, mencari dana demikian sulitnya. Ini artinya, dalam
konteks kapitalisme, menggunakan bahasa sistem lebih mudah dipahami ketimbang bahasa
lebenswelt.
Menyaksikan perkembangan yang sedemikan rupa, apakah ini suatu malapetaka bagi
eksistensi masyarakat? Habermas menyatakan bahwa saat ini, masyarakat modern yang
majemuk itu masih ber¬tahan dan tidak bubar. Kenapa? Padahal sistem besar sekali,
sementara yang membuat integritas sosial adalah lebenswelt. Sistem bisa mencabik-cabik
lebenswelt. Tapi mengapa masyarakat modern yang sistemnya besar dan kuat itu masih
bertahan.
Menurut Habermas, itu terjadi berkat hukum. Dalam konteks ini, apa keistimewaan hukum?
Hukum memiliki wajah ganda. Di satu pihak, wajah hukum bersifat instrumental strategis.
Artinya, bahasa hukum bisa dipakai sebagai alat. Di lain pihak, wajah hukum bersifat
komunikatif. Ini terjadi karena sebenarnya produk hukum itu harus disetujui, legitimed, dan
sahih. Karena harus disetujui, sahih, dan legitimed, maka hukum harus dikomunikasikan
sehingga terjadi konsensus.
Dengan demikian, hukum memiliki wajah ganda. Kalau Anda tidak puas dengan permainan
hukum, Anda bisa menuntut dan mempersoalkan hukum dengan hukum itu sendiri. Artinya,
hukum bukan kata akhir. Hukum adalah produk komunikasi. Kata akhir adalah komunikasi,
tapi komunikasi tidak pernah berakhir. Hukum tidak pernah menjadi kata akhir, karena masih
bisa dipersoalkan dalam komunikasi.
Lalu bagaimana proses menyepakati produk hukum? Ini sebenarnya inti dari deliberasi.
Setiap proses komunikasi, termasuk juga menyepakati produk semisal hukum UU Sisdiknas,
UU tentang Air, dll, apa yang disebut asas atau prinsip-prinsip teori diskursus itu berlaku
dalam proses demokrasi. Ketika kita mau mencapai sebuah produk UU tertentu, ada prinsip
yang berbunyi: keputusan/kesepakatan/produk hukum yang sahih atau mengkalaim kesahihan
itu hanyalah produk hukum yang disepakati secara universal oleh setiap subyek atau orang
yang terkena oleh produk hukum itu. Misalnya, ketika Pemda DKI hendak mengundangkan
daerah bebas becak, maka sebelum UU itu diputuskan, ada prinsip yang tidak bisa ditolak:
mengikutsertakan pihak-pihak yang terkena peraturan itu. Mereka adalah tukang becak,
pemilik becak, masyarakat pengguna becak, pengguna jalan, masyarakat yang peduli becak,
dan semua yang terkena aturan itu harus diandaikan menerima peraturan itu secara universal.
Kalau ada satu dari mereka tidak sepakat, maka hukum itu tidak sahih.
Tentu saja ini ideal, karena prinsip memang harus ideal. Dalam kenyataan, hal ini tidak
pernah dicapai. Tetapi, kalau tidak ada prinsip, maka kita permisif dengan produk undangundang. Jika kita terlalu permisif, maka produk UU hanya menjadi kompromi politik. Tetapi
15

kalau kita menggunakan prinsip itu, kita bisa mempersoalkan, bahkan mempersoalkan
kompromi dan kepentingan menjadi sesuatu yang ideal, apakah benar UU itu mencerminkan
aspirasi publik.
Dengan prinsip tadi, hukum dalam masyarakat majemuk menjadi engsel (medium) antara
sistem dan lebenswelt, yaitu antara birokrasi dan ekonomi kapitalis dengan masyarakat. Jadi,
hukum ini yang menjembatani sehingga kedua-duanya bisa berkomunikasi.
Ada sebuah pertanyaan yang perlu dicamkan; yakinkah kalau Anda mengajak masyarakat
untuk berkomunikasi, Anda sedang menjadi generator kekuasaan tertentu atau meminjam
istilah Hannah Arendt sedang mereproduksi kekuasaan? Menurut Arendt, kekuasaan tidak
terletak pada kemampuan orang untuk memaksa orang lain. Karena itu bukanlah kekuasaan,
melainkan paksaan, dan paksaan adalah kekerasan. Misalnya, Anda meminta menandatangani
dokumen tertentu sambil Anda menginjak kaki atau menyerahkan uang. Ini bukan kekuasaan,
melainkan manipulasi (menyogok) dan represi (menginjak kaki sebagai wujud ancaman).
Berbeda jika kita hendak menyepakati suatu persoalan. Kita membincang dan mendiskusikan,
dan lalu terjadi persetujuan, dan persetujuan itu terjadi atas dasar komunikasi bebas. Dengan
persetujuan itu, orang lain juga menyetujui dan akhirnya ada gerakan. Jadi, kekuasaan itu ada
ketika orang berbicara dan bertindak bersama tanpa paksaan, solider, untuk melaksanakan
aksi bersama. Kekuasaan seperti ini disebut kekuasaan komunikatif. Kekuasaan komunikatif
inilah yang seharusnya ditumbuhkan dalam forum-forum deliberatif.
Habermas melihat bahwa dalam masyarakat modern, tugas kita adalah memperbesar
lebenswelt dengan membangun kekuasaan komunikatif (communicative power), dengan
menciptakan forum inisiatif warga. Yang ingin saya tegaskan adalah bahwa kekuasaan
komunikatif ini ada ketika ada kekuasaan jaringan, jaringan komunikasi yang tumbuh, baik
dalam bidang sosial, budaya, dll.
Prinsip-Prinsip Demokrasi Deliberatif
Saya berpikir bahwa era demagog telah berakhir dan seharusnya berakhir. Adalah bukan
zamannya Anda berperan sebagai penggerak massa. Anda adalah disseminator atau penebar
partisipasi publik. Dalam konteks ini, saya hendak membedakan dua kategori tindakan
kolektif: massa dan gerakan civil society. Sebagai massa, Si A dan Si B itu sama: sama-sama
mendapat duit, sama-sama ditunggangi, dan sama-sama tidak sadar apa yang terjadi di antara
mereka. Tetapi, sebagai civil soceity, Si A dan Si B adalah warga negara, mereka adalah
individu. Dalam proses deliberasi, individualitas sangat ditekankan.
Dalam kondisi budaya bisu (silence culture), deliberasi tidak terjadi. Karena dalam porses
deliberasi harus ada apa yang disebut kompetensi komunikatif. Setiap individu dalam
masyarakat mempunyai kompetensi komunikatif. Tetapi setiap kebudayaan tertentu bisa
16

mematahkan proses komunikasi dengan membuat orang tidak berdaya dalam kompetensi
komunikatif. Orang dibiarkan pasif. Tugas dari forum deliberasi adalah membangun
kompetensi komunikatif. Caranya, membiarkan mereka menghargai pendapat sendiri,
memberikan ruang perbedaan pendapat sehingga mereka menyadari bahwa perbedaan
pendapat itu menguntungkan. Karena, dari perbedaan pendapat itu ada cukup banyak
perspektif yang dibuka. Dan yang lebih penting untuk silence culture, berbeda pendapat itu
tidak menakutkan, tetapi memperkaya.
Sekarang, kita menghadapi proses yang menakutkan, dalam arti bahwa berbeda pendapat
sering kali menakutkan karena disertai dengan ancaman. Itu bukan komunikasi. Untuk
meredam kekerasan dalam komunikasi, maka kematangan sangat penting perannya.
Fasilitator harus terdiri dari orang yang sangat matang, yang mampu membuka wawasan dan
cukup partisipatif, stimulatif, dan tidak memaksakan kehendak. Sehingga subyek yang paling
lemah dalam forum deliberatif itu mampu mengemukakan suaranya, karena suara yang paling
bodoh sekalipun adalah suara yang memiliki hak dalam deliberasi.
Implikasinya, diperlukan proses yang sangat panjang. Ketika Indonesia berubah menjadi
demokrasi, orang Eropa mengatakan kepada saya, “Indonesia adalah negara kepulauan,
dan paling cocok dipimpin secara diktator. Kalau ia mau berubah menjadi demokrasi,
dibutuhkan waktu paling lambat 10 tahun.”
Bagi saya, mereka berhak mengatakan demikian. Tapi sebenarnya mereka tidak melihat ke
dalam Indonesia. Kalau melihat ke dalam, sebetulnya masyarakat kita punya potensi
deliberatif yang tinggi yang dalam masyarakat tradisional ada pada apa yang disebut gotongroyong dan musyawarah. Dengan musyawarah yang bebas, non-diskriminatif, nonmanipulatif, sebenarnya kita telah memiliki ruang-ruang dalam masyarakat kita untuk
deliberasi. Jadi tugas kita menghidupkan dan menvitalisasi potensi itu menjadi suatu gerakan.
Tipologi Diskursus Politik
Diskursus politik adalah derivasi dari diskursus praktis. Dalam konteks ini, Habermas
menspesifikasi kembali diskursus praktis. Menurut Habermas, setidaknya ada tiga diskursus
dalam politik, dalam arti bahwa diskursus itu terjadi dalam forum warga, media massa,
parlemen, eksekutif, dan dalam komunikasi politik pada umumnya. Ketiga diskursus praktis
itu adalah diskursus pragmatis, diskurus etis-politis, dan diskursus moral.
Diskursus pragmatis dapat diilustrasikan dengan, misalnya, kalau pemerintah berbicara
mengenai kenaikan harga BBM dan yang diproblematisir adalah kelangkaan sumber-sumber
minyak yang itu terkait dengan sumber ekonomi, APBN, dll. Diskursus semacam ini
mempersoalkan teknis, untuk itu diperlukan pengetahuan expert. Dalam konteks ini, seorang
pastur atau ulama—walaupun dipuja oleh umatnya—tidak berwenang masuk dalam diskusi
17

itu. Karena dia bukan akuntan, bukan ahli manajemen, dan bukan ahli perminyakan. Alih-alih
menyelesaikan persoalan, yang terjadi malah merunyamkan persoalan. Diskursus pragmatis
ini diskursus para ahli untuk menyelesaikan kasus itu (katakanlah kenaikan harga BBM) dari
segi pengetahuan ekonomis, teknologis, dan semacamnya.
Dalam diskursus ini sudah ada suatu value yang tidak diproblematisir. Yaitu
bahwa—katakanlah—value-nya adalah kepenti¬ngan publik. Publik yang dimaksud
adalah pemakai kendaraan bermotor. Ketika mulai mempersoalkan masalah value, maka
diskursus pragmatis sampai pada kesimpulan bahwa dari segi teknis mustahil untuk
mempertahankan harga BBM, karena akibatnya negara bisa bangkrut. Tetapi berbeda kalau
yang dipersoalkan menyangkut persepsi masyarakat dalam arti bahwa kalau harga BBM
dinaikkan, apakah itu bisa diterima oleh masyarakat, apakah tidak menyu-sahkan masyarakat,
bagaimana implikasinya pada pendidikan, kebudayaan, seni, dan politik pada umumnya. Jadi,
kalau sudah masuk pada value, rel diskursus beralih menjadi diskursus etis-politis. Dalam
diskursus etis-politis, aktornya sudah meluas tidak saja expert, tetapi juga warga negara
secara keseluruhan.
Karena diskursus etis politis bisa terjadi dalam perspektif sektarian tertentu dalam arti bisa
terjadi dari nilai kebudayaan dan etnis tertentu, maka diskursus etis politis paling banter
menghasilkan diskursus yang disepakati oleh kelompok kultural atau kelompok sosial
tertentu. Misalnya, diskursus tentang pelarangan Ahmadiyah melalui fatwa MUI. Pelarangan
ini bagi kalangan muslim merupakan persoalan internal. Tetapi kalau kita lihat klaim-klaim
yang ada di sana, itu menyangkut etis-politis. Yaitu menyangkut apakah klaim-klaim itu bisa
disepakati secara universal, tetapi hasilnya adalah suatu konsensus partikular karena ada
kelompok yang tidak setuju dengan fatwa itu. Jika demikian, kualitas diskursif yang ada
dalam konteks pelarangan Ahmadiyah adalah etis politik. Apa yang bisa disepakati oleh
kelompok yang pro pelarangan tidak bisa disepakati oleh orang yang anti pelarangan
misalnya. Ia menjadi kesepakatan partikular yang terbatas pada horison kelompok tertentu.
Nah, tujuan dalam deliberasi adalah, diskursus etis-politik itu di¬tingkatkan tarafnya ke
diskursus moral.
Diskursus moral itu memproblematisasi konsensus etis. Misal¬nya, bila fatwa MUI tadi
lalu dipertanyakan validitasnya dalam konteks masyarakat majemuk, atau diskursus dalam
media massa tentang mengapa keputusan itu bertentangan dengan norma-norma masyarakat
majemuk, maka problem-problem itu memuat kualitas diskursus moral. Karena, para
partisipan mencapai suatu konsensus di dalam horison kemanusiaan, bukan horison
kelompok. Yang dibela bukanlah nilai-nilai sektarian, melainkan nilai-nilai universal.
18

Apa yang saya gambarkan di atas adalah teori. Tetapi apa yang terjadi jika itu muncul dalam
praktik politik? Dalam konteks ini, saya menyampaikan kritik pada Ha¬bermas. Dalam
praktik, apa yang disebut diskursus moral adalah sangat normatif. Diskursus moral hanyalah
suatu idealisasi yang harus didekati. Sebenarnya yang selalu terjadi adalah diskursus etis
politis.
Lalu apa artinya ada diskursus moral? Habermas memberikan jawaban bahwa para anggota
deliberasi, forum warga, harus mempunyai intensi (tujuan) untuk melakukan diskursus moral.
Forum warga yang kuat harus mempunyai kekuasaan. Dan kekuasaan dimiliki legislatif. Jadi,
DPR harus menjadi teman, karena ia merupakan forum warga. Secara normatif, seharusnya
mereka (DPR) memihak kita. Sebelum masuk dalam pro¬ses deliberasi, mereka (DPR)
harus mempunyai intensi untuk melakukan diskursus moral. Kalau intensinya hanya sampai
pada diskursus etis-politis, lagi-lagi yang dicapai adalah suatu konsensus parsial, yaitu hanya
kepentingan kelompok atau partainya saja.
Prinsip Negara Hukum
Teori demokrasi deliberatif tidak mengakui revolusi, tetapi reformasi. Revolusi—dan itu
selalu dengan kekerasan—tidak membiakkan partisipasi, bahkan mematikan partisipasi.
Forum warga itu berupaya membangun partisipasi, dan ini hanya mungkin melalui reformasi,
bukan revolusi.
Oleh karena itu, negara hukum dan konstitusi harus tetap ada sebagaimana adanya. Tetapi
dalam teori demokrasi deliberatif, kanal-kanal komunikasi dalam negara hukum harus
dibuka, sumbatan-sumbatan dihilangkan, akses dibuka, parlemen diharapkan semakin
mendengar, koran berbicara keras mengontrol penyimpangan. Ini semua merupakan upayaupaya untuk menarik perhatian pada sistem politik supaya kanal-kanal komunikasi dibuka,
tetapi negara hukum tetap ada. Dengan demikian, prinsip-prinsip negara hukum harus tetap
ada. Yaitu harus ada pembedaan antara state dan society. Batas-batas antara negara dan
masyarakat harus dihormati. Betapapun busuknya negara, menurut teori deliberasi, negara
harus ada. Karena tanpa negara, ongkos politiknya akan sangat besar, terjadi tirani massa dan
keuntungan akan diambil oleh para demagog dan provokator.
Teori ini sebenarnya dibangun berdasarkan pengalaman Nazi. Nazi merupakan gambaran di
mana negara hukum macet. Di satu sisi, Nazi adalah kekuatan negara yang sangat besar. Itu
hanya separoh kebenaran. Kebenaran yang lain adalah bahwa Nazi mencerminkan peranan
kelompok masyarakat yang kuat atas ke¬lompok yang lain. Negara hanyalah tunggangan
dari kelompok yang kuat itu. Setiap saat hukum diubah-ubah seenaknya oleh Hitler. Hitler itu
patuh pada hukum, tetapi hukum lebih patuh pada dia. Jadi, dia membuat hukum untuk
menggolkan maksud-maksudnya.
19

Dalam negara hukum, civil society dan negara ada batas-batasnya. Demokrasi yang
diperankan bukan demokrasi langsung, melainkan kontrol diskursif atas pemerintah. Artinya,
produk UU dikontrol seluruhnya oleh suara publik, namun bukan berarti publik mendikte
pemerintah. Kalau batas-batas antara pemerintah dan masyarakat jebol, maka akan terjadi
tirani kelompok, kemudian ada otonomi publik dan otonomi privat warga negara. Artinya,
bahwa dewasa ini, kalau kita amati, media massa dimasuki belalai-belalai pemerintah.
Pemerintah misalnya mengatur agar media massa itu jangan melaporkan hal ini dan itu.
Sebenarnya, hal semacam ini menyalahi prinsip negara hukum. Media memiliki otonomi, dan
oleh karena itu tidak boleh dikendalikan oleh modal dan birokrasi. Kalau mereka masih
dikendalikan, tugas forum warga mendeteksi proses semacam itu dan menentang keras-keras
se-hingga mereka merasa tidak nyaman.
Dalam politik, bahkan politik demokrasi, ada upaya untuk membeli suara publik. Memang,
suara publik bisa dibeli. Tapi menurut Habermas, suara publik yang dibeli kalau ditelanjangi
oleh publik sebagai suara yang dibeli, itu tidak bisa mempunyai kualitas publik lagi. Jadi, kita
jangan terlalu pesimis bahwa forum deliberatif itu sia-sia dan hanya berlelah-lelah, dan kita
hanya ngomong tanpa ada hasilnya. Karena kalau kita berbicara tajam dan bisa menelanjangi
manipulasi-manipulasi dan itu relevan dengan kekuasaan, maka manipulasi itu akan tampak
di permukaan dan akhirnya disadari oleh warga.
Kaitannya dengan ini, relevan menjelaskan tentang volante generale (kedaulatan rakyat).
Ke¬daulatan rakyat sebenarnya adalah konsep yang sangat kabur, konsep plastis yang bisa
dipakai di sana-sini. Dalam demokrasi, ada yang disebut kedaulatan rakyat. Jean Jaques
Rousseau, penggagas konsep ini, mengatakan bahwa rakyat itu berdaulat kalau mereka
berkumpul. Konsep ini cukup berbahaya, karena konsep ini sebenarnya konsep demagog.
Seorang demagog bisa mengumpulkan orang dan mengatakan inilah kedau-latan rakyat.
Dalam teori demokrasi deliberatif terjadi apa yang disebut proseduralisasi kedaulatan rakyat.
Kata prosedur yang dipakai Haber¬mas, bahkan John Rawls, berarti proses. Proseduralisasi
kedaulatan rakyat artinya adalah membuat kedaulatan rakyat sebagai proses komunikasi.
Kapan rakyat berdaulat? Menurut teori deliberasi, kedaulatan terjadi bukan karena orang
berkumpul dengan tubuhnya di suatu tempat sebagaimana diyakini JJ. Rousseau, tetapi juga
harus ada komunikasi publik.
Dalam konteks ini, demokrasi representatif tetap diperlukan dengan sudut pandang yang
berbeda. Yaitu mencoba melihat bahwa peranan komunikasi publik itu harus semakin besar.
Jadi, kedaulatan rakyat terjadi bukan saja ketika rakyat berkumpul, tetapi juga ketika media
massa memihak publik. Semakin suatu koran mempunyai kualitas yang berwibawa dan
20

mampu mendesakkan aspirasi publik, maka ada kedaulatan rakyat. Tidak cukup dengan peran
media, tetapi juga sebuah diskusi di antara warga negara yang peduli, misal¬nya terhadap
pencemaran lingkungan, itu juga kedaulatan rakyat. Begitu juga obrolan yang kritis di
warung-warung yang bersifat politis dan sangat peduli de¬ngan problem sekitarnya juga
disebut kedaulatan rakyat. Jadi, kedaulatan rakyat itu jangan dilihat sebagai substansi
melainkan sebagai proses nasional, bahkan internasional, yang bergerak terus melalui aliran
anonim komunikasi. Ini proseduralisasi dari kedaulatan rakyat menurut Habermas.
Praktik Demokrasi Deliberatif
Semua teori akan selalu ber¬hadapan dengan datum (data) sosiologis. Apa yang terjadi
dalam masyarakat? Yang kita lihat adalah kekuasaan modal, kekuasaan birokrasi,
ketidakberdayaan rakyat. Kenyataan yang terjadi tentu saja tidak seindah dalam teori. Nah,
bagaimana teori demokrasi deliberatif dipraktikkan dalam konteks masyarakat seperti
Indonesia yang majemuk?
Untuk tahap permulaan, kalau negara baru bergerak dari otoritarianisme ke demokrasi, pasti
terjadi kegagapan-kegagapan atau dalam psikologi politik ada sindrom anak kehilangan
bapak. Tahap ini harus dilampaui, dan ini tidak mungkin dilampaui kalau partisipasi warga
lemah. Tugas para penggerak, termasuk juga forum warga, adalah mencoba mendiseminasi
partisipasi publik. Sehingga perlahan tapi pasti, tiran-tiran kecil itu merasa tidak nyaman.
Kalau tahap itu dilampaui karena cukup banyak mata yang mengontrol kekuasaan dan cukup
banyak komunitas yang tidak bisa diintervensi oleh kekuasaan, maka kita masuk ke tahap
berikutnya: tahap yang lebih deliberatif. Tahap ini sedang diusahakan, dan masih belum
terjadi.
Sebenarnya, konsep civil society adalah konsep tua dalam teori politik. Konsep ini sudah
dikenal dalam pemikiran John Lock, Thomas Hobbes, dan matang dalam pemikiran
Immanuel Kant. Buku Immanuel Kant, Menuju Perdamaian Abadi: Sebuah Konsep Filosofis
(Mizan: 2005), menjadi dasar dari teori-teori demokrasi, termasuk teori Habermas itu sendiri.
Sebenarnya Habermas itu Kantian. Dari buku ini dipahami bahwa civil society adalah suatu
masyarakat atau kelompok yang otonom, mandiri, dan lepas dari pengaruh pasar dan negara.
Dia memiliki hak dan ruang yang boleh menentukan nasib nya sendiri.
Menurut penafsiran Kant, civil society itu terjadi kalau ada ke¬bebasan berekspresi di
dalam warga negara. Sebagai ilustrasi, kalau saya dan Anda berbeda kepentingan, dan dengan
kewenangan saya memaksa Anda dan Anda dengan kewenangannya memaksa saya, nanti
kewenangan Anda akan bertemu dengan kewena¬ngan saya. Titik tengah dari pertemuan itu
adalah kekebasan bersama.
21

Civil society itu terbentuk kalau, pertama, terjadi benturan kepentingan, dan kedua,
kebebasan atas benturan kepentingan. Jangan sampai benturan kepentingan itu menjadi
sesuatu yang saru (tabu). Jadi wajar jika masing-masing orang memiliki kepentingan yang
berbeda.
Ada satu model untuk praktik yang dikemukakan Habermas, yaitu model bendungan; adanya
aliran komunikasi dari forum-forum warga (civil society) menuju ke sistem politik (state).
Sebenarnya model ini diambil dari teoretikus lain. Kalau kita lihat, civil society berbeda
dengan ruang publik. Civil society adalah aktor dari ruang publik. Ruang publik (public
sphare) adalah ruang komunikasi yang terbentuk ketika dua orang atau lebih menjalankan
proses komunikasi. Apa yang terjadi dalam komunikasi? Dalam proses komunikasi ini yang
terjadi adalah penyingkapan. Dengan demikian, ruang publik adalah ruang penyingkapan.
Apa yang terjadi di ruang publik? Habermas mengatakan bahwa apa saja bisa terjadi. Ruang
publik itu anarki, segala tema bisa dijadikan problem dalam ruang publik. Tidak ada yang
bisa melarang. Bahkan kekerasan dalam rumah tangga bisa menjadi tema ruang publik. Tapi,
menurut Habermas, mesikpun anarkis, tidak berarti ruang publik itu tidak ada aturannya dan
tidak ada prinsipnya. Ruang publik ada aturan dan prinsipnya. Dia mengatakan, ada prinsip
yang terkait dengan rasio dan akal kita sendiri. Habermas percaya akal mempunyai
mekanisme seleksi apakah opini tersebut memiliki kualitas publik atau tidak. Ketika opini
semakin rasional dan semakin menyangkut kepentingan umum, maka kualitas
diskursif¬nya akan masuk diskursus moral. Opini yang terjadi di ruang publik itu akan
masuk pada filter. Filter itu adalah sistem hukum.
Apa yang dimaksud ruang publik itu bisa dibayangkan se¬bagai sistem saraf dalam negara
hukum. Seharusnya, yang membayangkan adalah parlemen ataupun eksekutif. Kalau
syarafnya peka, berarti ruang publik juga peka. Akibatnya, ini akan menolong proses
deliberasi level atas. Tetapi, sebuah republik di mana DPR-nya tuli, maka ia akan membuat
sumbatan-sumbatan pada filter itu, hukum yang menjadi filter tidak adil, ruang publik kacau
balau, maka hancurlah semua. Tetapi andaikata ruang publik sudah begitu kritis, tapi filternya
menghambat dan hukumnya tidak adil; atau DPR-nya mulai peka, tetapi proses demokrasi
tidak berjalan, maka yang terjadi adalah keterasingan antara produk hukum dan
kepenti¬ngan publik. Tapi andaikata sistemnya menghambat dan DPR-nya juga
menghambat, berarti ini sudah kronis. Jika demikian, kata Habermas, rakyat bisa-bisa
me¬lakukan civil disobedience (pembangkangan sipil), mereka mengorganisasi diri untuk
tidak patuh pada undang-undang. Kan tidak ada aturannya? Itu berdasarkan intuisi dan sense
of justice (rasa keadilan masyarakat) dari ma¬syarakat akan membimbing rasio¬nalitas
22

komunikatif untuk sampai pada suatu momen di mana ma¬syarakat tidak tahan lagi dengan
undang-undang ini, dan sekarang mereka akan mogok dengan UU tersebut. Lalu gerakan itu,
bukan gerakan kekerasan, bukan gerakan untuk mengubah konstitusi, melainkan untuk
menafsirkan konstitusi secara baru, jadi masih dalam bingkai negara hukum. Jadi ini mungkin
terjadi dalam model bendungan ini.
F. Budi Hardiman
Dosen Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara
(Diolah dari presentasi yang disampaikan dalam Forum Rapat Kerja ke-3 dan Koordinasi
Pelaksanaan Deliberative Forum ‘Program Pemberdayaan Masyarakat Sipil dalam
Proses Otonomi Daerah’ di Wisma LPP, Yogyakarta, 24 Agustus 2005)

Peran Polri dalam menangani konflik vertikal antara PempropPemkab.
1)
Tindakan preemtif.
a)
Memberikan masukan kepada Pemda dalam
rangka

penyusunan

kegiatan

yang

program

berkaitan

kerja,

dengan

dimana

keamanan

dapat dimasukan, hingga setiap kegiatan yang
dilaksanakan
b)

selalu

termonitor

sehingga

pengamanan dapat direncanakan dengan baik.
Memberikan masukan kepada Pemda dan DPRD
dalam rangka penyusunan Perda sehingga tidak
terjadi tumpang tindih dengan peraturan yang

2)

ada dari pemerintah pusat.
Tindakan preventif.
a)
Bersama-sama dengan Pemda, dan instansi
teknis terkait melaksanakan penyuluhan dan
sosialisasi

tentang

peningkatan

disiplin,

kesadaran masyara-kat terhadap peraturan perb)

UU/Perda.
Kegiatan patroli bersama dengan petugas Polisi
Pamong

Praja

untuk

mencegah

terjadinya

tindakan/pelanggaran atau konflik lainnya yang
c)

berdampak gangguan Kamtibmas.
Membantu Pemda dalam rangka penertiban dan
penegakkan

3)

Perda.
Tindakan represif.
23

hukum

terhadap

pelanggaran

Melaksanakan tindakan represif apabila telah
terjadi konflik yang berkaitan dengan masalah pidana
dengan melakukan tindakan/proses penyidikan sampai
disidang pengadilan, dan apabila tidak terkait masalah
pidana

diberikan

saran

melalui

koordinasi

kemuspidaan.

Salah satu hal yang menyebabkan turunnya wibawa penegakan
hukum apabila ditinjau dari sudut penegaknya adalah kenyataan
bahwa

masyarakat

Indonesia

adalah

merupakan

masyarakat

majemuk atau pluralistis. Ada kecenderungan kuat dari penegak
hukum untuk senantiasa
penegakan

hukum

memperhitungkan
kenyataan.

mengusahakan keseragaman

yang

kadang-kadang

variasi-variasi

Penegakan

hukum

prinsipil

dalam

dilakukan
yang

diperkotaan

sudah

tanpa

merupakan
pasti

lain

sifatnaya apabila dibandingkan dengan yang dilakukan dipedesaan.
Di wilayah perkotaan karena sifat masyarakatnya yang heterogen
kadang-kadang diperlukan variasi-variasi. Keseragaman memang
memudahkan pekerjaan, akan tetapi keseragaman (misalnya dalam
wujud kepastian hukum) belum tentu menghasilkan keadilan.
Padahal, keadilan ini merupakan inti penegakan hukum yang
berwibawa (termasuk kewibawaan para penegaknya).
Kecenderungan lain yang tampak dalam kenyataan adalah
bahwa para penegak hukum lebih mementingkan kedudukan
daripada peranannya. Kenyataan demikian menimbulkan kesulitankesulitan besar untuk menegakkan hukum yang adil secara terpadu.
Tekanan pada kedudukan yang disandang oleh para penegak
hukum dan konsekuensinya adalah pengaruh dan persepsi negatif
dari warga masyarakat terhadap pola perilaku para penegak hukum.
Masalah perangkat keras merupakan persoalan yang dewasa ini
merupakan suatu “lingkaran setan”. Fasilitas fisik yang cukup tidak
mungkin ada apabila tidak ada anggaran yang

cukup memadai.

Kenyataan demikian menumbuhkan suatu jurang pemisah yang
semakin besar antara harapan dan kenyataan yang dihadapi.

24

Keadaan tersebut umumnya menimbulkan citra yang buruk pada
2.

pihak penegak hukum.
Faktor-faktor yang mempengaruhi.
Penegakan hukum merupakan suatu proses penyerasian
antara nilai-nilai, kaidah-kaidah dan pola perilaku atau sikap tindak
yang bertujuan menegakkan keadilan. Dengan demikian dapat
dikatakan bahwa secara konsepsional kewibawaan penegakan
hukum sangat tergantung pada hasilnya, yakni adil atau tidak adil.
Penegakan

hukum

yang

menghasilkan

keadilan

dianggap

berwibawa, dan sebaliknya. Proses penegakan hukum yang hasilnya
adil atau tidak adil, senantiasa tergantung pada faktor-faktor :
a.
Hukumnya sendiri.
b.
Kepribadian atau mentalitas penegak hukum.
c.
Fasilitas pendukung penegak hukum yang mencakup
d.
e.

perangkat lemah dan keras.
tingkat kesadaran hukum dan kepatuhan hukum masyarakat.
Kebudayaan hukum yang dianut oleh masyarakat yang
bersangkutan.
Apabila faktor-faktor tersebut diasumsikan mempengaruhi

proses

penegakan

kewibawaan

hukum,

penegak

maka

hukum

dapat

tergantung

dikatakan
pada

bahwa

faktor-faktor

tersebut, artinya, apabila faktor-faktor tadi mempunyai pengaruh
positif (karena secara substansial positif), maka kewibawaan
penegakan hukum relatif tinggi. Namun, apabila pengaruhnya
negatif (oleh karena secara subtansial mengandung dampak) maka
kewibawaan penegakan hukum akan dinilai rendah atau menurun.
Oleh

karena

itu

pengaruh-pengaruh

positif

senantiasa

harus

diperkuat (dan dikembangkan) sedangkan pengaruh negatif atau
dampaknya dinetralisasi (kalau tidak mungkin dihapus secara
tuntas).
a.
Diperlukan

adaya suatu program pendidikan yang khusus

bagi para penegak hukum, program ini menggabungkan segisegi teori dan praktek.

Program ini tidak harus dilakukan

dalam kerangka pendidikan kesarjanaan, akan tetapi cukup
b.

sebagai pendidikan non gelar atau diploma.
Agar terus dijalin kerjasama antar para penegak hukum (CJS)
dalam rangka membangun

sistem penegakan hukum yang

berwibawa dan diakui oleh masyarakat.
a.

Penegakan hukum.
25

Jaminan kepastian hukum masyarakat untuk berperilaku
sesuai dengan norma-norma hukum yang ada baik yang tertulis
maupun yang tidak tertulis memperoleh ganjaran (reward) sebaliknya
perilaku yang menyimpang akan mendapatkan hukuman
(Punishment) dengan tidak melihat latar belakang pelaku
pelanggaran tersebut untuk menciptakan pemerataan penegakan
hukum serta bentuk jaminan kepastian hukum di segala lapisan
masyarakat.
Oleh karena itu dalam setiap penanganan perkara Polri harus
menyelesaikannya secara hukum dengan tidak bersikap dan
bertindak diskriminatif.

Namun perlu juga melihat nilai keadilan

pada masyarakat (Social Justice) dan adil menurut Hukum (Legal
Justice).
Dengan demikian peranan Polri dalam menangani konflik vertikal
antara Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Kabupa-ten/Kota sebagai
dampak dari otonomi daerah, adalah sebagai berikut :
1.
Peran sebagai fasilisator dan dinamisator

Peran sebagai fasilisator dan dinamisator ini sama halnya
berperan sebagai mediasi : yaitu Polri bertindak sebagai
perantara atau penengah/pihak ketiga untuk menyelesaikan
pertikaian antar lembaga dimaksud. Dalam posisi yang
demikian Polri harus benar-benar bersifat netral, adil

dan

bijaksana.
a.

Falsafah kunci yang harus dijunjung tinggi adalah :
Otonomi daerah dikembangkan semata-mata bertuju-an untuk
memajukan
masyarakat

b.
2.

demokrasi,
dalam

bingkai

keterbukaan,
Negara

kese-jahteraan

Kesatuan

Republik

Indonesia.
Tidak ada masalah yang tidak terselesaikan secara damai, jika

masing-masing pihak berpedoman kepada point a) tersebut.
Peran sebagai pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat serta
sebagai aparat penegak hukum/penyidik utama (UU No. 2/2002,
pasal 13 dan KUHAP, pasal 6)
Polri sebagai pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat
serta sebagai aparat penegak hukum dapat memerankan diri dalam
penanggulangan konflik antar lembaga pemerintah daerah, dengan
melakukan tindakan yang meliputi beberapa tahap cara bertindak
(CB) yaitu :
26

4.

Peranan Polri dalam menangani konflik vertikal antara Peme-rintah
Propinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota sebagai dam-pak dari otonomi
daerah, adalah sebagai berikut :
a.
Peran sebagai fasilisator dan dinamisator
b.
Peran sebagai pelindung, pengayom dan pelayan masya-rakat serta
sebagai aparat penegak hukum/penyidik utama (UU No. 2/2002,
pasal 13 dan KUHAP, pasal 6)

B.
1.

Saran
Konflik

vertikal

antara

Pemerintah

Propinsi

dan

Pemerintah

Kabupaten/Kota sangat mungkin dapat dicegah, jika masing-masing pihak
yang berkepentingan memahami secara cermat makna dan filosofi dari
2.

otonomi daerah itu sendiri.
Polri sebagai pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat serta sebagai
aparat penegak hukum, dalam era otonomi daerah sekarang ini harus
mampu meningkatkan kualitas personil dalam pemahaman terhadap
undang-undang otonomi daerah dan peraturan lainnya yang berkaitan,
dan harus mampu memanfaatkan peluang otonomi daerah tersebut untuk

3.

kemajuan organisasi.
Polri sebagai polisi nasional harus mampu sebagai perekat dan stabilisator
dalam rangka tetap utuhnya Negara Kesatuan Republik Indonesia,
ditengah-tengah kebhinekaan dalam semangat otonomi daerah.

27

MARKAS BESAR
KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
SEKOLAH STAF DAN PIMPINAN
OPTIMALISASI PERAN POLRI
GUNA PENYELESAIAN PERKARA PENGRUSAKAN
DALAM RANGKA MEWUJUDKAN STABILITAS KAMTIBMAS
(Tinjauan Studi Kasus)
BAB I

PENDAHULUAN
1.
Latar belakang
Tugas pokok Polri sebagaimana diatur dalam pasal 13
UU No.2 Tahun 2002 adalah memelihara keamanan dan
ketertiban masyarakat, menegakkan supremasi hukum serta
memberikan
kepada

pengayoman,

masyarakat

secara

perlindungan
profesional

dan

pelayanan

sehingga

dapat

menciptakan rasa aman dan nyaman serta terciptanya
ketertiban dalam masyarakat. Dengan terciptanya suasana
tersebut diatas diharapkan masyarakat dapat melaksanakan
pekerjaan dan aktivitasnya tanpa ada rasa was-was dan
khawatir,

sehingga

pembangunan

yang

dicanangkan

pemerintah dapat terlaksana dengan baik dan lancar.
Penegakan hukum yang dilakukan oleh Polri pada

dasarnya bertujuan untuk mewujudkan keadilan sosial dan mencegah
kezaliman serta melindungi hak asasi setiap warga Negara. Namun
perkembangan

penegakan

mencerminkan

rasa

hukum

keadilan

diera

sekarang

masyarakat

ini

sehingga

belum
banyak

permasalahan-permasalahan hukum yang ditarik ke arena publik yang
28

kemudian membawanya dalam diskursus publik untuk menentukan
yang adil dan yang bukan, yang etis dan non-etis, moral dan amoral.
Dalam kacamata Habermas, diskursus publik untuk mengonstruksi
hukum yang deliberatif atau hukum yang mampu mewujudkan nilai
keadilan melalui konsensus publik telah mendorong proses pertukaran
antara sistem dan solidaritas (lebenswelt). Hukum deliberatif adalah
hukum yang dihasilkan melalui proses diskursus, opini, dan kedaulatan
rakyat. Hukum yang dideliberasikan akan melahirkan hukum yang
dalam bahasa Undang-Undang Kekuasaan Kehakiman mampu
menyesuaikan dengan rasa keadilan masyarakat sebagai prasyarat
untuk mewujudkan keadilan sosial (social justice).
Deliberasi hukum melalui diskursus di ruang publik merupakan
sebuah perlawanan masyarakat agar hukum tidak diinstrumentasikan
sebagai alat kekuasaan untuk mengkriminalisasi seseorang atas sesuatu
hal yang bertentangan dengan nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan.Hal
itu akan menjadikan hukum mampu menjalankan fungsi integrasi
sosial. Bagi masyarakat modern yang cenderung semakin kompleks,
hukum berfungsi sebagai the last safety belt yang mengikat masyarakat
jika tidak ditemukan solusi moral yang efektif untuk menjaga integrasi
social.
Dalam penegakan hukum tersebut Polri tidak hanya dituntut
penegakan hukumnya semata, namun Polri juga dituntut untuk tetap
menjaga

stabilitas

kamtimbmas.

Untuk

mewujudkan

stabiltas

kamtibmas tersebut maka Polri harus memaksimalkan perannya
dengan

melakukan

koordinasi

melalui

kegiatan

Muspida,

Kejaksaan, Pengadilan, Lapas/Bapas serta instansi , tokoh
masyarakat, tokoh adat serta LSM-LSM yang ada di wilayah
tugasnya baik secara formal maupun non formal.

2.

Pokok permasalahan
Bagaimana mengoptimalkan peran Polri dalam penegakan hukum
supaya stabilitas kamtibmas tetap stabil.

3.

Pokok-pokok persoalan
a.
Bagaimana penegakan hukum yang dilakukan oleh Polri saat
ini?
29

4.

b.

Faktor-faktor apa yang mempengaruhi terjadinya deliberasi

c.

hukum ?
Bagaimana meningkatkan peran Polri dalam penegakan hukum

d.

agar stabilitas kamtibmas tetap terjaga?
Bagaimana penegakan hukum yang seharusnya dilakukan oleh

Polri dalam paradigma Polisi sipil pada masyarakat demokrasi?
Ruang lingkup
Ruang lingkup pembahasan NKP ini adalah mengoptimalkan
peran Polri dalam penegakan hukum (tinjauan studi kasus pengrusakan
pada saat eksekusi tanah oleh Pengadilan Negeri dan Polres Buleleng
didesa Sumber Kima Grokgak) dengan tetap menjaga stabilitas
kamtibmas pada masyarakat demokrasi dalam kerangka paradigma
Polisi Sipil.

BAB II

KAJIAN KEPUSTAKAAN
1.
W. Riawan Tjandra , Deliberasi hukum diruang publik.
2.
F. Budi Hardiman, Demokrasi Deliberatif: Teori, Prinsip,
3.

dan Praktik
Prof.DR.Sarlito W. Sarwono, psi, Manajemen Perubahan

4.

(kerangka teori), bahan ajaran Pasis Dikreg 50.
Kombes Pol DR.Chrishnanda D, Aplikasi Perubahan

5.

Paradigma, bahan ajaran Pasis Dikreg 50.
Jendral Pol (purn) Drs Chaeruddin Ismail, SH, MH, Polisi

6.
7.

Sipil dan Paradigma Baru Polri.
Hermawan Sulistyo, Polisi Janchuk
Irjen Pol Drs. Andi Chaerudin, Reformasi Birokrasi Polri,

8.

bahan ajaran Pasis Dikreg 50.
DR. Setyo Riyanto, SE, MM, Analisa SWOT / Analisa
Strategi, bahan ajaran Pasis Dikreg 50.

BAB III

KONDISI SAAT INI
1.
Situasi kamtibmas wilayah hukum Polres Buleleng
2.
Kekuatan personil
3.
Pelaksanaan eksekusi
4.
Dampak yang timbul saat eksekusi

30

31

BAB IV

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
1.
Internal
a.
Sumberdaya manusia
b.
Anggaran
c.
Metode
d.
Materill
2.
Ekstern
a.
Kultur masyarakat Sumber Kima Grokgak
b.
Hubungan kemitraan Polsek Grokgak dengan masyarakat
c.
d.

Sumber Kima Grokgak
Koordinasi Polres dan Pemda Buleleng
Kegagalan pelaksanaan eksekusi sebelumnya

32

BAB V

KONDISI YANG DIHARAPKAN
a.
Penegakan hukum dapat dilaksanakan
b.
Peningkatan peran Polri dalam penegakan hukum
c.
Tidak terjadi konflik antara Polri dengan masyarakat
d.
Situasi kamtibmas tetap stabil

33

BAB VI

UPAYA PEMECAHAN MASALAH
1.
Melakukan penegakan hukum
2.
3.
4.

yang

memenuhi

masyarakat
Mengoptimalkan peran Polri dalam penegakan hukum
Menghindarkan benturan Polri dengan masyarakat
Menjaga situasi kamtibmas agar tetap stabil

34

keadilan

35

36

BAB VII

PENUTUP
1.
Kesimpulan
a.
Penegakan hukum tetap dilakukan
b.
Perlunya mengoptimalkan peran Polri dalam penegakan
c.
d.
2.

hukum.
Menegakkan hukum dengan mempertimbangkan situasi.
Perlunayy a menjaga stabilitas kamtibmas

Rekomendasi
a.
Perlunya peningkatan peran Polri dalam penegakan hukum.
b.
Perlunya transparansi penyidikan sehingga tidak menimbulkan
c.

opini publik.
Penegakan hukum pada era paradigma Polisi Sipil harus
memenuhi prinsip keadilan.
37

LAMPIRAN
1.
Daftar pustaka
2.
Pola pikir

38

Deliberasi Hukum di Ruang Publik
Kamis, 10 Desember 2009 | 04:57 WIB
W RIAWAN TJANDRA
Wajah bopeng
W RIAWAN TJANDRA Dosen pada Fakultas Hukum dan Pascasarjana Universitas Atma
Jaya Yogyakarta; Direktur Lembaga Kajian Pemerintahan Lokal

Demokrasi Deliberatif: Teori, Prinsip, dan Praktik
Tulisan ini hendak membahas sebuah konsep yang sekarang menjadi mode, yaitu demokrasi
deliberatif. Istilah ini tampak baru, namun bila direnungkan isinya, masyarakat kita telah
memilikinya.
Deliberatif yang berasal dari kata deliberation, atau deliberatio dalam Bahasa Latin, adalah
musyawarah, omong-omong, berunding, memberikan nasihat satu sama yang lain,
berbincang-bincang, dan menimbang-nimbang. Sebagai ilustrasi, kalau kita berpikir apakah
mau menikah atau tidak, itu berarti kita sedang melakukan deliberation. Itu adalah forum
internal kita dalam kepala. Tetapi kalau kita mulai omong dengan orang lain, misalnya
dengan pasangan kita, apakah jadi menikah atau tidak, itu adalah forum eksternal. Itu pun
merupakan bentuk deliberasi. Jadi, akar dari deliberasi sebenarnya adalah perbincangan dan
komunikasi.
39

Oleh karena itu, demokrasi deliberatif tidak asing bagi masyarakat kita yang suka berbicara
dan bermusyawarah. Kalau memang sudah biasa, mengapa demokrasi deliberatif itu harus
dipelajari? Memang itu adalah hal biasa, tetapi ada yang tidak biasa dalam demokrasi
deliberatif, yaitu bentuk komunikasi macam apa yang dituntut secara perfeksionis dari teori
demokrasi deliberatif sehingga para aktivis yang bergerak untuk membangun forum warga
misalnya juga bisa melihat bahwa proses komunikasi ada prosedurnya, pola, tatanan, dan
pencapaian yang harus bisa diikuti prosesnya.
Dengan kata lain, apa yang mau disajikan dalam teori demokrasi deliberatif adalah suatu
pandangan bagaimana mengaktifkan individu dalam masyarakat sebagai warga negara untuk
berkomunikasi, sehingga komunikasi yang terjadi pada level warga itu mempengaruhi
pengambilan keputusan publik pada level sistem politik. Mengingat sistem politik
menggunakan bahasa yang berbeda dari masyarakat sipil, maka level-level komunikasi ini
harus dipahami. Apa yang menurut masyarakat sipil itu merupakan aspirasi kalau tidak
dikemas dengan bahasa sistem, maka ia tidak bisa dimengerti oleh sistem politik.
Teori demokrasi deliberatif sedikit banyak menjelaskan level-level bagaimana proses
pembentukan opini, karier opini—dari mana opini dan menuju ke mana—penyaringan
komunikasi, bentuk-bentuk komunikasi, dan lain sebagainya. Dalam konteks ini, saya hendak
membagi uraian ini pada tiga hal, yaitu teori, prinsip, dan praktik.
Seputar Teori Demokrasi Deliberatif
Adalah Jürgen Habermas, seorang pemikir yang pada 60-an dekat dengan gerakan Marxis
Kiri dan banyak menginspirasi gerakan mahasiswa tahun 1968. Pengaruhnya juga cukup
besar di Amerika. Gagasan Habermas baru masuk ke Indonesia sekitar tahun 1980-an, dan ini
juga mewarnai gerakan-gerakan sosial di tanah air.
Habermas, dengan runtuhnya komunisme, mengubah cara berpikirnya. Dia tidak lagi
membuat kritik terhadap kapitalisme, melainkan membuat buku-buku yang isinya
menganalisa proses demokrasi dalam era pasca komunisme. Teori demokrasi deliberatif
adalah salah satunya, dan Jürgen Habermas salah satu tokohnya. Ada tokoh-tokoh lain,
seperti Cohen dan John Rawls yang juga diacu sebagai orang-orang yang menyumbangkan
pemikiran mengenai proses deliberasi. Di tangan Habermas, teori demokrasi delibe¬ratif
menjadi cukup matang. Buku ‘Filsafat dalam Masa Teror’ yang berisi wawancara
dengan Habermas, menunjukkan bahwa di tahun 2000-an, Habermas masih konsisten
berbicara mengenai proses deliberasi.
Habermas termasyhur dengan apa yang disebut dengan teori diskursus. Sederhananya,
diskursus adalah perbincangan, wacana. Kata diskursus berbeda dengan speech atau saying.
Discourse adalah suatu bentuk komunikasi yang tidak sehari-hari. Dalam komunikasi sehari40

hari, di pasar misalnya, kita membeli cabe dan kita membayarnya, itu bukan diskursus.
Tetapi, begitu kita bertanya mengapa harganya sekian dan kemarin sekian, terjadilah apa
yang disebut diskursus. Ketika ada problem dan tematisasi problem, terjadilah diskursus
dalam bentuk yang sederhana. Jadi, diskursus adalah bentuk komunikasi yang reflektif yang
mentematisasi sebuah problem tertentu. Dengan demikian, ada dua bentuk komunikasi, yaitu
komunikasi sehari-hari dan diskursus.
Dalam setiap komunikasi, ada beberapa hal yang berperan. Lebenswelt di antaranya.
Lebenswelt (Jerman), lifeworld (Inggris), atau dunia kehidupan adalah latar belakang
komunikasi yang diandaikan begitu saja dan sifatnya pra-reflektif, bahkan pra-sadar, tapi
nyata-nyata menuntun komunikasi kita membuat tendisensi. Tendensi itu tidak selalu buruk,
tapi memungkinkan kita berkomunikasi. Tanpa lebenswelt, tidak akan ada komunikasi yang
berarti.
Ada sebuah ilustrasi menyangkut lebenswelt. Suatu ketika saya menyampaikan ceramah di
sebuah forum. Oleh moderator, saya diminta berhenti karena ada suara adzan. Saya bertanya,
“Mengapa harus berhenti?” Saya disadarkan bahwa dalam Islam, ketika
dikumandangkan adzan, ada keharusan untuk berhenti sejenak hingga adzan itu usai. Bagi
saya yang tidak paham, tentu saya bertanya-tanya. Ini salah satu contoh bahwa ritual pun
adalah lebenswelt. Begitu saya mempertanyakan kenapa harus berhenti, terjadilah apa yang
disebut diskursus. Diskursus itu membuat problem menjadi semakin jelas dan semakin
rasional. Akibat diskursus, lebenswelt itu dibedah pelan-pelan, mulai ditematisasi, sehingga
makin jelas. Sehingga para peserta komunikasi semakin sadar tentang kebudayaannya dan
masyarakatnya secara reflektif.
Ketika kita membuat diskursus, bukan hanya lebenswelt yang berperan, tapi juga apa yang
disebut klaim-klaim kesahihan. Contohnya, ketika kita berbincang-bincang tentang adzan
misalnya, dan saya mempersoalkan, kenapa saya harus berhenti berbicara, bukankah ini
hanya berlaku untuk pemeluk agama tertentu? Ketika bertanya begitu, dalam pernyataan saya
implisit sebuah klaim kebenaran tertentu. Artinya, di balik kata-kata itu, saya sebenarnya
sedang meneguhkan klaim kebenaran bahwa tidaklah bermasalah bila orang yang bukan
pemeluk Islam berbicara terus meskipun adzan sedang berkumandang. Klaim kesahihan ini
diam-diam ada ketika saya menyoal kenapa saya harus berhenti ketika adzan. Klaim
semacam itu banyak dijumpai dalam komunikasi. Jika kita memperhatikan dan semakin sadar
tentang klaim itu, maka akan terjadi diskurus yang membuat komunikasi semakin cerdas.
Diskursus selalu bergerak dalam masyarakat, dan setiap upaya tematisasi akan selalu keluar
dari lebenswelt: komunikasi sehari-hari yang taken for granted.
41

Dalam komunikasi sehari-hari, ada beragam tipe diskursus: diskursus teoretis, diskursus
praktis, dan diskursus kritis. Diskursus teoretis adalah percakapan argumentatif menyangkut
persoalan-persoalan yang faktual. Misalnya, harga cabe 20 ribu/kg. Si pembeli membatah,
bahwa harga cabe masih 19 ribu/kg berdasarkan laporan media dan informasi lainnya. Jadi,
ada upaya untuk mengecek fakta. Inilah yang disebut diskursus teoretis. Di sini ada klaim
kesahihan menyangkut kesahihan harga cabe. Jadi, diskursus ini mengacu pada fakta yang
kita temukan, entah dari laporan pedagang yang lain atau sumber-sumber berita resmi dari
media, dll.
Berbeda dengan diskursus teoretis, diskursus praktis terjadi kalau yang menjadi problem itu
adalah norma. Misalnya, apakah orang yang berbicara terus selama adzan dikumandangkan
itu melanggar sopan-santun atau tidak. Kalau berbicara terus, kita tidak tahu bagaimana
perasaan publik kita. Singkatnya, dalam diskursus praktis, tema yang menjadi problem adalah
norma.
Terakhir, kritik. Kalau dalam diskursus itu harus ada konsensus, dalam kritik tidak perlu.
Kritikus itu memberikan tilikan. Ada dua macam kritik, yaitu kritik estetis dan kritik
terapoitis. Ketika ada kritikus sastra atau kritikus seni melihat karya seni apakah karya
se¬ni itu indah atau tidak, lalu terjadi diskusi, maka itu bisa disebut sebagai diskursus kritik
estetis. Sementara kritik terapoitis adalah bentuk pembicaraan yang mengkritik. Misalnya,
marxisme mengkritisi pencemaran lingkungan, bahwa pencemaran lingkungan itu dibiarkan
begitu saja karena ada kolaborasi politis antara pemerintah dan pengusaha. Ini disebut kritik
terapoitis. Disebut terapoitis—asal katanya terapi—karena berupaya untuk menyembuhkan
masyarakat dari penindasan. Banyak contoh lain yang—misalnya—dilakukan oleh para
analis kritik sosial.
Dari empat macam bentuk komunikasi di atas, terkadang dalam komunikasi orang
memproblematisir semuanya secara komprehensif. Ini juga disebut diskursus, diskursus
tentang komprehensifilitas.
Mari kita mengamati apa yang terjadi pada masyarakat. Kalau kita melihat negara modern,
Indonesia misalnya, dan menganalisanya sebagai keseluruhan, setidaknya ada tiga komponen
di dalamnya: negara/birokrasi (kekuasaan), pasar (uang), dan masyarakat (solidaritas).
Ada dua unsur dalam bagan ini. Unsur atas adalah negara dan pasar. Ini yang disebut sistem;
dan unsur bawah yaitu masyarakat. Ini yang disebut lebenswelt. Pembedaan itu bukan
semata-mata terjadi karena pembedaan analisa, tetapi juga pembedaan bentuk komunikasi.
Misalnya, kalau kita bertemu dengan seseorang dan bertegur sapa, “Apa kabar, main-main
ke rumahku, wah, saya mau hutang uang dan mau dibayar minggu depan”, itu adalah
bentuk komunikasi sehari-hari yang terjadi dalam masyarakat. Tetapi, mungkin Anda jengkel
42

karena hutangnya tidak dibayar setelah ditagih berkali-kali. Lalu Anda mengundang
pengacara untuk memperkarakannya di pengadilan. Komunikasi ini tidak lagi berada pada
level sehari-hari, melainkan masuk dalam sistem. Singkatnya, orang yang sama bisa mewakili
bentuk komunikasi yang berbeda.
Habermas melihat bahwa perkembangan masyarakat menurut pola gambar di atas. Ketika
masyarakat masih sederhana, masyarakat tradisional misalnya, sistem itu kecil. Sebagai
ilustrasi, di desa, birokrasi sangat lemah, interaksi lebih berbentuk interaksi kultural. Artinya
sistem—birokrasi dan pasar—dalam masyarakat tradisional masih kecil, pengaruhnya
sangat terbatas. Seolah-olah menjadi subsistem dari lebenswelt. Sementara lebenswelt besar.
Masyarakat pun berkembang. Melalui proses modernisasi, terjadi perubahan. Sistem mulai
membesar, sementara lebenswelt terdesak, mengecil. Lalu belalai-belalai kapitalisme mulai
masuk dan mengatur komunikasi. Di satu sisi, komunikasi bisa reflektif, proble-matis, di
mana orang bisa semakin pandai bicara dan semakin bisa memproblematisasikan. Di pihak
yang lain, karena lebenswelt semakin kecil, maka komunikasi tidak lagi taken for granted,
kurang santai, bahkan tegang dan sarat konflik.
Menurut Habermas, dalam kapitalisme, yang terjadi dewasa ini adalah membesarnya sistem
dan lebenswelt mengecil. Birokrasi mempengaruhi berbagai bidang kehidupan, sementara
kebudayaan semakin terdesak. Sebagai ilustrasi, kalau kita hendak meng-adakan seminar
untuk menyukseskan pemilu, mobilisasi dana demikian mudah. Berbeda ketika kita hendak
mengadakan seminar kebudayaan, mencari dana demikian sulitnya. Ini artinya, dalam
konteks kapitalisme, menggunakan bahasa sistem lebih mudah dipahami ketimbang bahasa
lebenswelt.
Menyaksikan perkembangan yang sedemikan rupa, apakah ini suatu malapetaka bagi
eksistensi masyarakat? Habermas menyatakan bahwa saat ini, masyarakat modern yang
majemuk itu masih ber¬tahan dan tidak bubar. Kenapa? Padahal sistem besar sekali,
sementara yang membuat integritas sosial adalah lebenswelt. Sistem bisa mencabik-cabik
lebenswelt. Tapi mengapa masyarakat modern yang sistemnya besar dan kuat itu masih
bertahan.
Menurut Habermas, itu terjadi berkat hukum. Dalam konteks ini, apa keistimewaan hukum?
Hukum memiliki wajah ganda. Di satu pihak, wajah hukum bersifat instrumental strategis.
Artinya, bahasa hukum bisa dipakai sebagai alat. Di lain pihak, wajah hukum bersifat
komunikatif. Ini terjadi karena sebenarnya produk hukum itu harus disetujui, legitimed, dan
sahih. Karena harus disetujui, sahih, dan legitimed, maka hukum harus dikomunikasikan
sehingga terjadi konsensus.
43

Dengan demikian, hukum memiliki wajah ganda. Kalau Anda tidak puas dengan permainan
hukum, Anda bisa menuntut dan mempersoalkan hukum dengan hukum itu sendiri. Artinya,
hukum bukan kata akhir. Hukum adalah produk komunikasi. Kata akhir adalah komunikasi,
tapi komunikasi tidak pernah berakhir. Hukum tidak pernah menjadi kata akhir, karena masih
bisa dipersoalkan dalam komunikasi.
Lalu bagaimana proses menyepakati produk hukum? Ini sebenarnya inti dari deliberasi.
Setiap proses komunikasi, termasuk juga menyepakati produk semisal hukum UU Sisdiknas,
UU tentang Air, dll, apa yang disebut asas atau prinsip-prinsip teori diskursus itu berlaku
dalam proses demokrasi. Ketika kita mau mencapai sebuah produk UU tertentu, ada prinsip
yang berbunyi: keputusan/kesepakatan/produk hukum yang sahih atau mengkalaim kesahihan
itu hanyalah produk hukum yang disepakati secara universal oleh setiap subyek atau orang
yang terkena oleh produk hukum itu. Misalnya, ketika Pemda DKI hendak mengundangkan
daerah bebas becak, maka sebelum UU itu diputuskan, ada prinsip yang tidak bisa ditolak:
mengikutsertakan pihak-pihak yang terkena peraturan itu. Mereka adalah tukang becak,
pemilik becak, masyarakat pengguna becak, pengguna jalan, masyarakat yang peduli becak,
dan semua yang terkena aturan itu harus diandaikan menerima peraturan itu secara universal.
Kalau ada satu dari mereka tidak sepakat, maka hukum itu tidak sahih.
Tentu saja ini ideal, karena prinsip memang harus ideal. Dalam kenyataan, hal ini tidak
pernah dicapai. Tetapi, kalau tidak ada prinsip, maka kita permisif dengan produk undangundang. Jika kita terlalu permisif, maka produk UU hanya menjadi kompromi politik. Tetapi
kalau kita menggunakan prinsip itu, kita bisa mempersoalkan, bahkan mempersoalkan
kompromi dan kepentingan menjadi sesuatu yang ideal, apakah benar UU itu mencerminkan
aspirasi publik.
Dengan prinsip tadi, hukum dalam masyarakat majemuk menjadi engsel (medium) antara
sistem dan lebenswelt, yaitu antara birokrasi dan ekonomi kapitalis dengan masyarakat. Jadi,
hukum ini yang menjembatani sehingga kedua-duanya bisa berkomunikasi.
Ada sebuah pertanyaan yang perlu dicamkan; yakinkah kalau Anda mengajak masyarakat
untuk berkomunikasi, Anda sedang menjadi generator kekuasaan tertentu atau meminjam
istilah Hannah Arendt sedang mereproduksi kekuasaan? Menurut Arendt, kekuasaan tidak
terletak pada kemampuan orang untuk memaksa orang lain. Karena itu bukanlah kekuasaan,
melainkan paksaan, dan paksaan adalah kekerasan. Misalnya, Anda meminta menandatangani
dokumen tertentu sambil Anda menginjak kaki atau menyerahkan uang. Ini bukan kekuasaan,
melainkan manipulasi (menyogok) dan represi (menginjak kaki sebagai wujud ancaman).
Berbeda jika kita hendak menyepakati suatu persoalan. Kita membincang dan mendiskusikan,
dan lalu terjadi persetujuan, dan persetujuan itu terjadi atas dasar komunikasi bebas. Dengan
44

persetujuan itu, orang lain juga menyetujui dan akhirnya ada gerakan. Jadi, kekuasaan itu ada
ketika orang berbicara dan bertindak bersama tanpa paksaan, solider, untuk melaksanakan
aksi bersama. Kekuasaan seperti ini disebut kekuasaan komunikatif. Kekuasaan komunikatif
inilah yang seharusnya ditumbuhkan dalam forum-forum deliberatif.
Habermas melihat bahwa dalam masyarakat modern, tugas kita adalah memperbesar
lebenswelt dengan membangun kekuasaan komunikatif (communicative power), dengan
menciptakan forum inisiatif warga. Yang ingin saya tegaskan adalah bahwa kekuasaan
komunikatif ini ada ketika ada kekuasaan jaringan, jaringan komunikasi yang tumbuh, baik
dalam bidang sosial, budaya, dll.
Prinsip-Prinsip Demokrasi Deliberatif
Saya berpikir bahwa era demagog telah berakhir dan seharusnya berakhir. Adalah bukan
zamannya Anda berperan sebagai penggerak massa. Anda adalah disseminator atau penebar
partisipasi publik. Dalam konteks ini, saya hendak membedakan dua kategori tindakan
kolektif: massa dan gerakan civil society. Sebagai massa, Si A dan Si B itu sama: sama-sama
mendapat duit, sama-sama ditunggangi, dan sama-sama tidak sadar apa yang terjadi di antara
mereka. Tetapi, sebagai civil soceity, Si A dan Si B adalah warga negara, mereka adalah
individu. Dalam proses deliberasi, individualitas sangat ditekankan.
Dalam kondisi budaya bisu (silence culture), deliberasi tidak terjadi. Karena dalam porses
deliberasi harus ada apa yang disebut kompetensi komunikatif. Setiap individu dalam
masyarakat mempunyai kompetensi komunikatif. Tetapi setiap kebudayaan tertentu bisa
mematahkan proses komunikasi dengan membuat orang tidak berdaya dalam kompetensi
komunikatif. Orang dibiarkan pasif. Tugas dari forum deliberasi adalah membangun
kompetensi komunikatif. Caranya, membiarkan mereka menghargai pendapat sendiri,
memberikan ruang perbedaan pendapat sehingga mereka menyadari bahwa perbedaan
pendapat itu menguntungkan. Karena, dari perbedaan pendapat itu ada cukup banyak
perspektif yang dibuka. Dan yang lebih penting untuk silence culture, berbeda pendapat itu
tidak menakutkan, tetapi memperkaya.
Sekarang, kita menghadapi proses yang menakutkan, dalam arti bahwa berbeda pendapat
sering kali menakutkan karena disertai dengan ancaman. Itu bukan komunikasi. Untuk
meredam kekerasan dalam komunikasi, maka kematangan sangat penting perannya.
Fasilitator harus terdiri dari orang yang sangat matang, yang mampu membuka wawasan dan
cukup partisipatif, stimulatif, dan tidak memaksakan kehendak. Sehingga subyek yang paling
lemah dalam forum deliberatif itu mampu mengemukakan suaranya, karena suara yang paling
bodoh sekalipun adalah suara yang memiliki hak dalam deliberasi.
Implikasinya, diperlukan proses yang sangat panjang. Ketika Indonesia berubah menjadi
45

demokrasi, orang Eropa mengatakan kepada saya, “Indonesia adalah negara kepulauan,
dan paling cocok dipimpin secara diktator. Kalau ia mau berubah menjadi demokrasi,
dibutuhkan waktu paling lambat 10 tahun.”
Bagi saya, mereka berhak mengatakan demikian. Tapi sebenarnya mereka tidak melihat ke
dalam Indonesia. Kalau melihat ke dalam, sebetulnya masyarakat kita punya potensi
deliberatif yang tinggi yang dalam masyarakat tradisional ada pada apa yang disebut gotongroyong dan musyawarah. Dengan musyawarah yang bebas, non-diskriminatif, nonmanipulatif, sebenarnya kita telah memiliki ruang-ruang dalam masyarakat kita untuk
deliberasi. Jadi tugas kita menghidupkan dan menvitalisasi potensi itu menjadi suatu gerakan.
Tipologi Diskursus Politik
Diskursus politik adalah derivasi dari diskursus praktis. Dalam konteks ini, Habermas
menspesifikasi kembali diskursus praktis. Menurut Habermas, setidaknya ada tiga diskursus
dalam politik, dalam arti bahwa diskursus itu terjadi dalam forum warga, media massa,
parlemen, eksekutif, dan dalam komunikasi politik pada umumnya. Ketiga diskursus praktis
itu adalah diskursus pragmatis, diskurus etis-politis, dan diskursus moral.
Diskursus pragmatis dapat diilustrasikan dengan, misalnya, kalau pemerintah berbicara
mengenai kenaikan harga BBM dan yang diproblematisir adalah kelangkaan sumber-sumber
minyak yang itu terkait dengan sumber ekonomi, APBN, dll. Diskursus semacam ini
mempersoalkan teknis, untuk itu diperlukan pengetahuan expert. Dalam konteks ini, seorang
pastur atau ulama—walaupun dipuja oleh umatnya—tidak berwenang masuk dalam diskusi
itu. Karena dia bukan akuntan, bukan ahli manajemen, dan bukan ahli perminyakan. Alih-alih
menyelesaikan persoalan, yang terjadi malah merunyamkan persoalan. Diskursus pragmatis
ini diskursus para ahli untuk menyelesaikan kasus itu (katakanlah kenaikan harga BBM) dari
segi pengetahuan ekonomis, teknologis, dan semacamnya.
Dalam diskursus ini sudah ada suatu value yang tidak diproblematisir. Yaitu
bahwa—katakanlah—value-nya adalah kepenti¬ngan publik. Publik yang dimaksud
adalah pemakai kendaraan bermotor. Ketika mulai mempersoalkan masalah value, maka
diskursus pragmatis sampai pada kesimpulan bahwa dari segi teknis mustahil untuk
mempertahankan harga BBM, karena akibatnya negara bisa bangkrut. Tetapi berbeda kalau
yang dipersoalkan menyangkut persepsi masyarakat dalam arti bahwa kalau harga BBM
dinaikkan, apakah itu bisa diterima oleh masyarakat, apakah tidak menyu-sahkan masyarakat,
bagaimana implikasinya pada pendidikan, kebudayaan, seni, dan politik pada umumnya. Jadi,
kalau sudah masuk pada value, rel diskursus beralih menjadi diskursus etis-politis. Dalam
diskursus etis-politis, aktornya sudah meluas tidak saja expert, tetapi juga warga negara
secara keseluruhan.
46

Karena diskursus etis politis bisa terjadi dalam perspektif sektarian tertentu dalam arti bisa
terjadi dari nilai kebudayaan dan etnis tertentu, maka diskursus etis politis paling banter
menghasilkan diskursus yang disepakati oleh kelompok kultural atau kelompok sosial
tertentu. Misalnya, diskursus tentang pelarangan Ahmadiyah melalui fatwa MUI. Pelarangan
ini bagi kalangan muslim merupakan persoalan internal. Tetapi kalau kita lihat klaim-klaim
yang ada di sana, itu menyangkut etis-politis. Yaitu menyangkut apakah klaim-klaim itu bisa
disepakati secara universal, tetapi hasilnya adalah suatu konsensus partikular karena ada
kelompok yang tidak setuju dengan fatwa itu. Jika demikian, kualitas diskursif yang ada
dalam konteks pelarangan Ahmadiyah adalah etis politik. Apa yang bisa disepakati oleh
kelompok yang pro pelarangan tidak bisa disepakati oleh orang yang anti pelarangan
misalnya. Ia menjadi kesepakatan partikular yang terbatas pada horison kelompok tertentu.
Nah, tujuan dalam deliberasi adalah, diskursus etis-politik itu di¬tingkatkan tarafnya ke
diskursus moral.
Diskursus moral itu memproblematisasi konsensus etis. Misal¬nya, bila fatwa MUI tadi
lalu dipertanyakan validitasnya dalam konteks masyarakat majemuk, atau diskursus dalam
media massa tentang mengapa keputusan itu bertentangan dengan norma-norma masyarakat
majemuk, maka problem-problem itu memuat kualitas diskursus moral. Karena, para
partisipan mencapai suatu konsensus di dalam horison kemanusiaan, bukan horison
kelompok. Yang dibela bukanlah nilai-nilai sektarian, melainkan nilai-nilai universal.
Apa yang saya gambarkan di atas adalah teori. Tetapi apa yang terjadi jika itu muncul dalam
praktik politik? Dalam konteks ini, saya menyampaikan kritik pada Ha¬bermas. Dalam
praktik, apa yang disebut diskursus moral adalah sangat normatif. Diskursus moral hanyalah
suatu idealisasi yang harus didekati. Sebenarnya yang selalu terjadi adalah diskursus etis
politis.
Lalu apa artinya ada diskursus moral? Habermas memberikan jawaban bahwa para anggota
deliberasi, forum warga, harus mempunyai intensi (tujuan) untuk melakukan diskursus moral.
Forum warga yang kuat harus mempunyai kekuasaan. Dan kekuasaan dimiliki legislatif. Jadi,
DPR harus menjadi teman, karena ia merupakan forum warga. Secara normatif, seharusnya
mereka (DPR) memihak kita. Sebelum masuk dalam pro¬ses deliberasi, mereka (DPR)
harus mempunyai intensi untuk melakukan diskursus moral. Kalau intensinya hanya sampai
pada diskursus etis-politis, lagi-lagi yang dicapai adalah suatu konsensus parsial, yaitu hanya
kepentingan kelompok atau partainya saja.
Prinsip Negara Hukum
Teori demokrasi deliberatif tidak mengakui revolusi, tetapi reformasi. Revolusi—dan itu
selalu dengan kekerasan—tidak membiakkan partisipasi, bahkan mematikan partisipasi.
47

Forum warga itu berupaya membangun partisipasi, dan ini hanya mungkin melalui reformasi,
bukan revolusi.
Oleh karena itu, negara hukum dan konstitusi harus tetap ada sebagaimana adanya. Tetapi
dalam teori demokrasi deliberatif, kanal-kanal komunikasi dalam negara hukum harus
dibuka, sumbatan-sumbatan dihilangkan, akses dibuka, parlemen diharapkan semakin
mendengar, koran berbicara keras mengontrol penyimpangan. Ini semua merupakan upayaupaya untuk menarik perhatian pada sistem politik supaya kanal-kanal komunikasi dibuka,
tetapi negara hukum tetap ada. Dengan demikian, prinsip-prinsip negara hukum harus tetap
ada. Yaitu harus ada pembedaan antara state dan society. Batas-batas antara negara dan
masyarakat harus dihormati. Betapapun busuknya negara, menurut teori deliberasi, negara
harus ada. Karena tanpa negara, ongkos politiknya akan sangat besar, terjadi tirani massa dan
keuntungan akan diambil oleh para demagog dan provokator.
Teori ini sebenarnya dibangun berdasarkan pengalaman Nazi. Nazi merupakan gambaran di
mana negara hukum macet. Di satu sisi, Nazi adalah kekuatan negara yang sangat besar. Itu
hanya separoh kebenaran. Kebenaran yang lain adalah bahwa Nazi mencerminkan peranan
kelompok masyarakat yang kuat atas ke¬lompok yang lain. Negara hanyalah tunggangan
dari kelompok yang kuat itu. Setiap saat hukum diubah-ubah seenaknya oleh Hitler. Hitler itu
patuh pada hukum, tetapi hukum lebih patuh pada dia. Jadi, dia membuat hukum untuk
menggolkan maksud-maksudnya.
Dalam negara hukum, civil society dan negara ada batas-batasnya. Demokrasi yang
diperankan bukan demokrasi langsung, melainkan kontrol diskursif atas pemerintah. Artinya,
produk UU dikontrol seluruhnya oleh suara publik, namun bukan berarti publik mendikte
pemerintah. Kalau batas-batas antara pemerintah dan masyarakat jebol, maka akan terjadi
tirani kelompok, kemudian ada otonomi publik dan otonomi privat warga negara. Artinya,
bahwa dewasa ini, kalau kita amati, media massa dimasuki belalai-belalai pemerintah.
Pemerintah misalnya mengatur agar media massa itu jangan melaporkan hal ini dan itu.
Sebenarnya, hal semacam ini menyalahi prinsip negara hukum. Media memiliki otonomi, dan
oleh karena itu tidak boleh dikendalikan oleh modal dan birokrasi. Kalau mereka masih
dikendalikan, tugas forum warga mendeteksi proses semacam itu dan menentang keras-keras
se-hingga mereka merasa tidak nyaman.
Dalam politik, bahkan politik demokrasi, ada upaya untuk membeli suara publik. Memang,
suara publik bisa dibeli. Tapi menurut Habermas, suara publik yang dibeli kalau ditelanjangi
oleh publik sebagai suara yang dibeli, itu tidak bisa mempunyai kualitas publik lagi. Jadi, kita
jangan terlalu pesimis bahwa forum deliberatif itu sia-sia dan hanya berlelah-lelah, dan kita
hanya ngomong tanpa ada hasilnya. Karena kalau kita berbicara tajam dan bisa menelanjangi
48

manipulasi-manipulasi dan itu relevan dengan kekuasaan, maka manipulasi itu akan tampak
di permukaan dan akhirnya disadari oleh warga.
Kaitannya dengan ini, relevan menjelaskan tentang volante generale (kedaulatan rakyat).
Ke¬daulatan rakyat sebenarnya adalah konsep yang sangat kabur, konsep plastis yang bisa
dipakai di sana-sini. Dalam demokrasi, ada yang disebut kedaulatan rakyat. Jean Jaques
Rousseau, penggagas konsep ini, mengatakan bahwa rakyat itu berdaulat kalau mereka
berkumpul. Konsep ini cukup berbahaya, karena konsep ini sebenarnya konsep demagog.
Seorang demagog bisa mengumpulkan orang dan mengatakan inilah kedau-latan rakyat.
Dalam teori demokrasi deliberatif terjadi apa yang disebut proseduralisasi kedaulatan rakyat.
Kata prosedur yang dipakai Haber¬mas, bahkan John Rawls, berarti proses. Proseduralisasi
kedaulatan rakyat artinya adalah membuat kedaulatan rakyat sebagai proses komunikasi.
Kapan rakyat berdaulat? Menurut teori deliberasi, kedaulatan terjadi bukan karena orang
berkumpul dengan tubuhnya di suatu tempat sebagaimana diyakini JJ. Rousseau, tetapi juga
harus ada komunikasi publik.
Dalam konteks ini, demokrasi representatif tetap diperlukan dengan sudut pandang yang
berbeda. Yaitu mencoba melihat bahwa peranan komunikasi publik itu harus semakin besar.
Jadi, kedaulatan rakyat terjadi bukan saja ketika rakyat berkumpul, tetapi juga ketika media
massa memihak publik. Semakin suatu koran mempunyai kualitas yang berwibawa dan
mampu mendesakkan aspirasi publik, maka ada kedaulatan rakyat. Tidak cukup dengan peran
media, tetapi juga sebuah diskusi di antara warga negara yang peduli, misal¬nya terhadap
pencemaran lingkungan, itu juga kedaulatan rakyat. Begitu juga obrolan yang kritis di
warung-warung yang bersifat politis dan sangat peduli de¬ngan problem sekitarnya juga
disebut kedaulatan rakyat. Jadi, kedaulatan rakyat itu jangan dilihat sebagai substansi
melainkan sebagai proses nasional, bahkan internasional, yang bergerak terus melalui aliran
anonim komunikasi. Ini proseduralisasi dari kedaulatan rakyat menurut Habermas.
Praktik Demokrasi Deliberatif
Semua teori akan selalu ber¬hadapan dengan datum (data) sosiologis. Apa yang terjadi
dalam masyarakat? Yang kita lihat adalah kekuasaan modal, kekuasaan birokrasi,
ketidakberdayaan rakyat. Kenyataan yang terjadi tentu saja tidak seindah dalam teori. Nah,
bagaimana teori demokrasi deliberatif dipraktikkan dalam konteks masyarakat seperti
Indonesia yang majemuk?
Untuk tahap permulaan, kalau negara baru bergerak dari otoritarianisme ke demokrasi, pasti
terjadi kegagapan-kegagapan atau dalam psikologi politik ada sindrom anak kehilangan
bapak. Tahap ini harus dilampaui, dan ini tidak mungkin dilampaui kalau partisipasi warga
lemah. Tugas para penggerak, termasuk juga forum warga, adalah mencoba mendiseminasi
49

partisipasi publik. Sehingga perlahan tapi pasti, tiran-tiran kecil itu merasa tidak nyaman.
Kalau tahap itu dilampaui karena cukup banyak mata yang mengontrol kekuasaan dan cukup
banyak komunitas yang tidak bisa diintervensi oleh kekuasaan, maka kita masuk ke tahap
berikutnya: tahap yang lebih deliberatif. Tahap ini sedang diusahakan, dan masih belum
terjadi.
Sebenarnya, konsep civil society adalah konsep tua dalam teori politik. Konsep ini sudah
dikenal dalam pemikiran John Lock, Thomas Hobbes, dan matang dalam pemikiran
Immanuel Kant. Buku Immanuel Kant, Menuju Perdamaian Abadi: Sebuah Konsep Filosofis
(Mizan: 2005), menjadi dasar dari teori-teori demokrasi, termasuk teori Habermas itu sendiri.
Sebenarnya Habermas itu Kantian. Dari buku ini dipahami bahwa civil society adalah suatu
masyarakat atau kelompok yang otonom, mandiri, dan lepas dari pengaruh pasar dan negara.
Dia memiliki hak dan ruang yang boleh menentukan nasib nya sendiri.
Menurut penafsiran Kant, civil society itu terjadi kalau ada ke¬bebasan berekspresi di
dalam warga negara. Sebagai ilustrasi, kalau saya dan Anda berbeda kepentingan, dan dengan
kewenangan saya memaksa Anda dan Anda dengan kewenangannya memaksa saya, nanti
kewenangan Anda akan bertemu dengan kewena¬ngan saya. Titik tengah dari pertemuan itu
adalah kekebasan bersama.
Civil society itu terbentuk kalau, pertama, terjadi benturan kepentingan, dan kedua,
kebebasan atas benturan kepentingan. Jangan sampai benturan kepentingan itu menjadi
sesuatu yang saru (tabu). Jadi wajar jika masing-masing orang memiliki kepentingan yang
berbeda.
Ada satu model untuk praktik yang dikemukakan Habermas, yaitu model bendungan; adanya
aliran komunikasi dari forum-forum warga (civil society) menuju ke sistem politik (state).
Sebenarnya model ini diambil dari teoretikus lain. Kalau kita lihat, civil society berbeda
dengan ruang publik. Civil society adalah aktor dari ruang publik. Ruang publik (public
sphare) adalah ruang komunikasi yang terbentuk ketika dua orang atau lebih menjalankan
proses komunikasi. Apa yang terjadi dalam komunikasi? Dalam proses komunikasi ini yang
terjadi adalah penyingkapan. Dengan demikian, ruang publik adalah ruang penyingkapan.
Apa yang terjadi di ruang publik? Habermas mengatakan bahwa apa saja bisa terjadi. Ruang
publik itu anarki, segala tema bisa dijadikan problem dalam ruang publik. Tidak ada yang
bisa melarang. Bahkan kekerasan dalam rumah tangga bisa menjadi tema ruang publik. Tapi,
menurut Habermas, mesikpun anarkis, tidak berarti ruang publik itu tidak ada aturannya dan
tidak ada prinsipnya. Ruang publik ada aturan dan prinsipnya. Dia mengatakan, ada prinsip
yang terkait dengan rasio dan akal kita sendiri. Habermas percaya akal mempunyai
mekanisme seleksi apakah opini tersebut memiliki kualitas publik atau tidak. Ketika opini
50

semakin rasional dan semakin menyangkut kepentingan umum, maka kualitas
diskursif¬nya akan masuk diskursus moral. Opini yang terjadi di ruang publik itu akan
masuk pada filter. Filter itu adalah sistem hukum.
Apa yang dimaksud ruang publik itu bisa dibayangkan se¬bagai sistem saraf dalam negara
hukum. Seharusnya, yang membayangkan adalah parlemen ataupun eksekutif. Kalau
syarafnya peka, berarti ruang publik juga peka. Akibatnya, ini akan menolong proses
deliberasi level atas. Tetapi, sebuah republik di mana DPR-nya tuli, maka ia akan membuat
sumbatan-sumbatan pada filter itu, hukum yang menjadi filter tidak adil, ruang publik kacau
balau, maka hancurlah semua. Tetapi andaikata ruang publik sudah begitu kritis, tapi filternya
menghambat dan hukumnya tidak adil; atau DPR-nya mulai peka, tetapi proses demokrasi
tidak berjalan, maka yang terjadi adalah keterasingan antara produk hukum dan
kepenti¬ngan publik. Tapi andaikata sistemnya menghambat dan DPR-nya juga
menghambat, berarti ini sudah kronis. Jika demikian, kata Habermas, rakyat bisa-bisa
me¬lakukan civil disobedience (pembangkangan sipil), mereka mengorganisasi diri untuk
tidak patuh pada undang-undang. Kan tidak ada aturannya? Itu berdasarkan intuisi dan sense
of justice (rasa keadilan masyarakat) dari ma¬syarakat akan membimbing rasio¬nalitas
komunikatif untuk sampai pada suatu momen di mana ma¬syarakat tidak tahan lagi dengan
undang-undang ini, dan sekarang mereka akan mogok dengan UU tersebut. Lalu gerakan itu,
bukan gerakan kekerasan, bukan gerakan untuk mengubah konstitusi, melainkan untuk
menafsirkan konstitusi secara baru, jadi masih dalam bingkai negara hukum. Jadi ini mungkin
terjadi dalam model bendungan ini.
F. Budi Hardiman
Dosen Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara
(Diolah dari presentasi yang disampaikan dalam Forum Rapat Kerja ke-3 dan Koordinasi
Pelaksanaan Deliberative Forum ‘Program Pemberdayaan Masyarakat Sipil dalam
Proses Otonomi Daerah’ di Wisma LPP, Yogyakarta, 24 Agustus 2005)

Peran Polri dalam menangani konflik vertikal antara PempropPemkab.
1)
Tindakan preemtif.
a)
Memberikan masukan kepada Pemda dalam
rangka

penyusunan

kegiatan

yang

program

berkaitan

kerja,

dengan

dimana

keamanan

dapat dimasukan, hingga setiap kegiatan yang
51

dilaksanakan
b)

selalu

termonitor

sehingga

pengamanan dapat direncanakan dengan baik.
Memberikan masukan kepada Pemda dan DPRD
dalam rangka penyusunan Perda sehingga tidak
terjadi tumpang tindih dengan peraturan yang

2)

ada dari pemerintah pusat.
Tindakan preventif.
a)
Bersama-sama dengan Pemda, dan instansi
teknis terkait melaksanakan penyuluhan dan
sosialisasi

tentang

peningkatan

disiplin,

kesadaran masyara-kat terhadap peraturan perb)

UU/Perda.
Kegiatan patroli bersama dengan petugas Polisi
Pamong

Praja

untuk

mencegah

terjadinya

tindakan/pelanggaran atau konflik lainnya yang
c)

berdampak gangguan Kamtibmas.
Membantu Pemda dalam rangka penertiban dan
penegakkan

3)

hukum

terhadap

pelanggaran

Perda.
Tindakan represif.
Melaksanakan tindakan represif apabila telah
terjadi konflik yang berkaitan dengan masalah pidana
dengan melakukan tindakan/proses penyidikan sampai
disidang pengadilan, dan apabila tidak terkait masalah
pidana

diberikan

saran

melalui

koordinasi

kemuspidaan.

I.

PENDAHULUAN.
1.
Latar Belakang.
Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagaimana diamanatkan
dalam pasal 13 Undang-Undang No.2 Tahun 2002 memiliki tugas pokok
sebagai berikut:
a.
Memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat
b.
Menegakkan hukum, dan
c.
Memberikan perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada
masyarakat. 1

1

REPUBLIK INDONESIA, Lembaran Negara Nomor 2 Tahun 2002, Undang-Undang Kepolisian Negara

Republik Indonesia.

52

Kondisi kamtibmas yang kondusif akan membawa pengaruh besar
terhadap perkembangan otonomi daerah. Dengan kamtibmas yang kondusif
akan menggerakkan sensi-sendi kehidupan dimasyarakat baik perekonomian
maupun pariwisata.
Otonomi daerah sebagaimana diatur dalam UU Nomor 32 tahun 2004
adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan
mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat
sesuai dengan peraturan perundang-undangan2.
Dengan adanya otonomi daerah tersebut maka akan memberikan
peluang bagi daerah untuk mengembangkan potensi yang ada sehingga dapat
meningkatkan pendapatan asli daerah baik perdagangan, industri, pertanian
maupun pariwisata. Salah satu contoh penerapan UU Nomor 32 tahun 2004
dibidang pariwisata adalah obyek wisata Maribaya di Lembang.
Dalam pasal 3 UU Nomor 23 tahun 1997 tentang pengelolaan lingkungan
hidup telah diatur bahwa pengelolaan lingkungan hidup yang diselenggarakan
dengan asas tanggung jawab negara, asas berkelanjutan, dan asas manfaat
bertujuan untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan
lingkungan hidup dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya
dan pembangunan masyarakat Indonesia seluruhnya yang beriman dan
bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa3.
Perkembangan dunia pariwisata sangat tergantung kepada kondisi kamtibmas
daerah setempat, semakin aman kondisinya maka kunjungan wisatawan akan
semakin meningkat. Hal tersebut merupakan tantangan bagi anggota Polri
untuk mewujudkan kamtibmas yang kondusif.
Melalui kegiatan orientasi lingkungan yang dilaksanakan di daerah
wisata Maribaya Lembang pada tanggal 11 Maret 2010, Pasis Sespim Dikreg
50 sebagai bagian anggota Polri saat ini tengah belajar untuk menganalisa
pengaruh

perkembangan

pariwisata

terhadap

harkamtibmas

didaerah

Lembang.

2

REPUBLIK INDONESIA, UU Nomor 32 tahun 2004, Undang-undang tentang pemerintahan daerah.

3

REPUBLIK INDONESIA, UU Nomor 23 tahun 1997, Undang-undang tentang Pengelolaan Lingkungan

Hidup.

53

2.

Permasalahan.
Dari gambaran latar belakang tersebut maka penulis membuat rumusan
permasalahan sebagai berikut : “Bagaimana pengaruh perkembangan
pariwisata di daerah lembang terhadap harkamtibmas?”.

3.

Persoalan- Persoalan.
Dari permasalahan tersebut maka penulis menguraikan menjadi
persoalan- persoalan sebagai berikut :
a.
Bagaimana kondisi kamtibmas di daerah Lembang saat ini?
b.
Bagaimana pengaruh perkembangan pariwisata di daerah Lembang
c.

terhadap harkamtibmas ?
Bagaimana upaya menciptakan harkamtibmas yang kondusif guna
menunjang perkembangan pariwisata di daerah Lembang?

II.

PEMBAHASAN.
1.
Kondisi kamtibmas di daerah Lembang saat ini
Dari perkiraan intel dasar Polsek Lembang tahun 2010 dapat
disimpulkan sebagai berikut:
a.

Geografi
Luas Kecamatan Lembang adalah 10.620 Km persegi yang
terdiri dari 16 desa serta merupakan daerah persawahan, ladang,
perkebunan, hutan, danau, pegunungan serta kawasan pemukiman dan

b.

perkantoran.
Demografi
Jumlah penduduk kecamatan Lembang adalah 133.137 orang
yang berpendidikan mayoritas SD dengan mata pencaharian sebagai

c.

petani, peternak dan pegawai pemerintah.
Sumber daya alam
Potensi kekayaan alam yang dimiliki yaitu sayur mayur, buah-buahan,

d.

hasil pertanian, peternakan, kayu serta daerah wisata.
Ideologi, Politik, sosial dan budaya secara umum sesuai dengan

e.

masyarakat Indonesia pada umumnya.
Crime total tahun 2009 adalah 135 sedangkan jumlah kejadian pada
awal tahun 2010 mencapai 40 kasus. Kejadian menonjol yaitu

f.

curanmor dan curat.
Daerah wisata
Lembang adalah suatu kecamatan yang berjarak 15 Km dari
kota Bandung. Selain kotanya yang memiliki panorama indah dan suhu
yang sejuk juga memiliki beberapa daerah wisata yaitu Maribaya,
Gunung Tangkuban Perahu dan lain-lain. Maribaya merupakan suatu
54

kawasan obyek wisata yang berjarak sekitar 5 Km dari arah kota
Lembang. Perkembangan pariwisata didaerah Maribaya Lembang saat
ini cukup pesat dengan menawarkan pemandangan alam yang indah
serta medan yang menarik. Untuk datang keobyek wisata ini bisa
dijangkau dengan kendaraan mobil, sepeda motor maupun bus. Obyek
wisata Maribaya memiliki kolam-kolam pemandian air panas yang
mengandung mineral tinggi serta dapat dimanfaatkan untuk terapi
kesehatan. Selain itu juga terdapat beberapa air terjun yang ada
disekelilingnya yaitu Curug Cigulung, Curug Cikoleang, Curug
Cikawiri dan Curug Omas.
Adanya obyek wisata Maribaya tentunya akan menarik para
wisatawan baik domestik maupun asing untuk menikmati keindahan
alamnya serta memberikan sumbangan pendapatan daerah serta
menggerakkan perekonomian masyarakat setempat. Selain itu dengan
adanya pariwisata di Maribaya maka akan muncul damp ak yang lain
yaitu pengaruh budaya lokal serta kondisi keamanan dan
ketertiban masyarakat.

g.

Dari hasil pengamatan penulis yang dilaksanakan pada hari Kamis
tanggal 11 Maret 2010 terhadap obyek wisata di Maribaya diperoleh
hasil sebagai berikut :
1)
Untuk menuju daerah wisata Maribaya dapat menggunakan
sarana transportasi berupa sepeda motor, mobil dan bus
maupun truk. Jalan yang dilalui dinilai kurang nyaman karena
jalannya sempit, banyak tikungan, tanjakan dan turunan serta
melewati
2)

perkampungan

sehingga

bisa

memungkinkan

terjadinya kecelakaan.
Sarana parkir
Sarana parkir yang ada cukup luas namun belum tertata
secara rapi sehingga pengunjung masih parkir sembarangan.
Hal tersebut dapat menimbulkan kerawanan terhadap pencurian

3)

kendaraan bermotor.
Pusat informasi.
Kantor pelayanan

terhadap

pengunjung

belum

memadai, masih sangat minim sehingga obyek yang ditawarkan
kepada pengunjung kurang tersosialisasikan. Hal ini tentunya

55

sangat berpengaruh terhadap ketertarikan serta kenyamanan
4)

pengunjung.
Pos pemantau
Kondisi daerah wisata Maribaya secara umum berada
dilembah dan terdapat aliran sungai yang cukup deras. Wilayah
ini belum ada papan petunjuk tentang hal yang boleh dilakukan
oleh

pengunjung

maupun

yang

tidak

boleh

sehingga

dikhawatirkan dapat menimbulkan terjadinya musibah seperti
5)

jatuh kejurang atau terseret arus sungai.
Petugas pengamanan
Petugas yang ada di lokasi wisata hanya terkonsentrasi
diloket penarikan restribusi pintu masuk sedangkan untuk
pengamanan terhadap pengunjung belum nampak. Hal ini akan
menimbulkan kemungkinan adanya gangguan kriminalitas
terhadap pengunjung.

2.

Pengaruh perkembangan pariwisata didaerah Lembang terhadap
harkamtibmas.
Dengan adanya perkembangan pariwisata
khususnya

dilokasi

Maribaya

maka

akan

didaerah Lembang,

menimbulkan

terhadap

harkamtibmas sebagai berikut:
a.
Gangguan kriminalitas
Banyaknya pengunjung yang mengunjungi obyek wisata
didaerah Lembang maka akan berpotensi menimbulkan gangguan
kriminalitas yang dilakukan oleh orang-orang yang memanfaatkan
kelengahan pengunjung misalnya pencurian, pemerasan, pencopetan
b.

serta penculikan anak.
Penyakit masyarakat
Pengunjung yang datang kedaerah wisata di Lembang biasanya
membawa uang yang cukup banyak untuk menikmati liburan.
Keberadaan pengunjung ini akan dimanfaatkan oleh orang-orang lokal
untuk mengambil keuntungan dengan cara-cara yang melanggar norma

c.

seperti pelacuran, perjudian maupun minuman keras.
Kemacetan lalu-lintas
Banyaknya kendaraan yang menuju daerah Lembang maka
lambat laun akan menimbukan kemacetan lalulintas. Kondisi jalan
yang menuju kearah Lembang cukup sempit sehingga sering terjadi
kemacetan.
56

d.

Kecelakaan lalulintas
Kondisi jalan yang berlubang, tanjakan, turunan dan berkelakkelok akan menimbulkan ganggguan kecelakaan lalu lintas baik
terhadap pengunjung maupun masyarakat lokal.

3.

Upaya memelihara keamanan dan ketertiban yang kondusif guna menunjang
perkembangan pariwisata di Lembang.
Untuk menunjang perkembangan pariwisata didaerah Lembang, maka
diperlukan beberapa upaya guna mewujudkan keamanan dan ketertiban yang
kondusif sehingga wisatawan akan merasa nyaman menikmati daerah wisata
di Lembang yaitu:
a.

Melakukan pengamanan tertutup didaerah wisata guna memantau

b.
c.

Melakukan patroli terbukaketempat-tempat obyek wisata.
Menempatkan petugas Polisi didaerah wisata sehingga dapat mencegah

d.

terjadinya aksi kriminalitas.
Melakukan penyuluhan terhadap pengunjung maupun pengelola wisata

e.
f.

untuk ikut memperhatikan aspek keamanan masyarakat.
Melakukan dikmas lantas kepada pengendara kendaraan bermotor.
Melakukan rekayasa lalulintas apabila terjadi gangguan kamtibcar

g.

Berkoordinasi dengan pemda maupun pengelola obyek wisata untuk

situasi.

lantas.
bersama-sama mewujudkan situasi kamtibmas yang kondusif.
III.

PENUTUP.
1.
Kesimpulan.
Guna menunjang perkembangan pariwisata didaerah Lembang maka
perlu adanya pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat yang kondusif
sehingga pelaku pariwisata maupun wisatawan akan merasa aman dan nyaman

2.

untuk mengunjungi Lembang yaitu dengan beberapa hal:
a.
Meningkatkan pengamanan terhadap pengunjung obyek wisata.
b.
Meningkatkan keamanan, ketertiban dan kelancaran lalulintas
c.
Koordinasi dengan pemerintah daerah maupun pengelola obyek wisata.
Rekomendasi.
a.
Perlu meningkatkan kehadiran Polisi ditempat obyek wisata dan
penertiban terhadap penghuni hoel atau losmen sehingga sehingga
kemungkinan

terjadinya

seminimal mungkin.
57

gangguan

kriminalitas

dapat

ditekan

b.

Meningkatkan pengamanan jalur lalulintas, rekayasa lalulintas maupun
dikmas lantas sehingga kemungkinan terjadinya kecelakaan lalulintas

c.

dapat dihindari.
Melakukan koordinasi dengan pemda maupun pengelola obyek wisata
sehingga masing-masing pihak dapat berpartisipasi aktif dan
membantu tugas-tugas Polisi dalam rangka memelihara keamanan dan
ketertiban masyarakat.

KESIMPULAN
1. Peran Polri dalam rangka Otonomi Daerah disamping melaksanakan tugas
pokok Polri yaitu :
Memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum dan
memberikan perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat,
juga dapat memberikan saran masukan kepada Pemda maupun DPRD dalam
rangka penyusunan program kerja dan penyusunan Perda sehingga tidak terjadi
tumpang tindih antara aturan dari pusat dengan Perda.

Sehingga dalam

penegakkan hukum ada kepastian dan proses hukum sesuai dengan aturan.
Dalam rangka meningkatkan wibawa penegakan hukum oleh
profesi hukum terkait dengan respon profesi yang menjalankan
tugas menurut ukuran kemampuan, keterampilan dan pengalaman
yang didasarkan perkembangan ilmu pengetahuan dibidang hukum.
Tanggung jawab penegak hukum tersebut merupakan kunci pokok
tugas pelayanan

dan penerapan

hukum yang

efektif

dalam

mencapai tujuan hukum ditengah-tengah masyarakat.
Penegakan hukum itu sendiri dapat diartikan luas yaitu
penerapan hukum yang dilaksanakan oleh suatu sistem penegakan
hukum yang bisa disebut Criminal Justice System (CJS) yaitu terdiri
dari Polisi, Jaksa dan Hakim. Makna penegakan hukum sebagai
suatu

proses

selain

penyelenggaraan

hukum

juga

sebagai

penerapan hukum yang pada hakekatnya merupakan penerapan
diskresi menyangkut keputusan yang tidak secara ketat diatur oleh
kaidah peraturan hukum, melainkan sebagai tindakan yang sah
dengan unsur penilaian yang berada diantara hukum dan etika.
Penegakan hukum bukan semata-mata pelaksanaan perundangundangan, penegak hukum, masyarakat, sarana fasilitas dan
kebudayaan. Artinya bahwa profesi hukum dapat memasuki jalur

58

peran serta sebagai penegak hukum dan sebagai masyarakat
kelompok profesi untuk kepentingan penegak hukum.
Salah satu hal yang menyebabkan turunnya wibawa penegakan
hukum apabila ditinjau dari sudut penegaknya adalah kenyataan
bahwa

masyarakat

Indonesia

adalah

merupakan

masyarakat

majemuk atau pluralistis. Ada kecenderungan kuat dari penegak
hukum untuk senantiasa
penegakan

hukum

memperhitungkan
kenyataan.

mengusahakan keseragaman

yang

kadang-kadang

variasi-variasi

Penegakan

hukum

prinsipil

dalam

dilakukan
yang

diperkotaan

sudah

tanpa

merupakan
pasti

lain

sifatnaya apabila dibandingkan dengan yang dilakukan dipedesaan.
Di wilayah perkotaan karena sifat masyarakatnya yang heterogen
kadang-kadang diperlukan variasi-variasi. Keseragaman memang
memudahkan pekerjaan, akan tetapi keseragaman (misalnya dalam
wujud kepastian hukum) belum tentu menghasilkan keadilan.
Padahal, keadilan ini merupakan inti penegakan hukum yang
berwibawa (termasuk kewibawaan para penegaknya).
Kecenderungan lain yang tampak dalam kenyataan adalah
bahwa para penegak hukum lebih mementingkan kedudukan
daripada peranannya. Kenyataan demikian menimbulkan kesulitankesulitan besar untuk menegakkan hukum yang adil secara terpadu.
Tekanan pada kedudukan yang disandang oleh para penegak
hukum dan konsekuensinya adalah pengaruh dan persepsi negatif
dari warga masyarakat terhadap pola perilaku para penegak hukum.
Masalah perangkat keras merupakan persoalan yang dewasa ini
merupakan suatu “lingkaran setan”. Fasilitas fisik yang cukup tidak
mungkin ada apabila tidak ada anggaran yang

cukup memadai.

Kenyataan demikian menumbuhkan suatu jurang pemisah yang
semakin besar antara harapan dan kenyataan yang dihadapi.
Keadaan tersebut umumnya menimbulkan citra yang buruk pada
2.

pihak penegak hukum.
Faktor-faktor yang mempengaruhi.
Penegakan hukum merupakan suatu proses penyerasian
antara nilai-nilai, kaidah-kaidah dan pola perilaku atau sikap tindak
yang bertujuan menegakkan keadilan. Dengan demikian dapat
dikatakan bahwa secara konsepsional kewibawaan penegakan
hukum sangat tergantung pada hasilnya, yakni adil atau tidak adil.
Penegakan

hukum

yang
59

menghasilkan

keadilan

dianggap

berwibawa, dan sebaliknya. Proses penegakan hukum yang hasilnya
adil atau tidak adil, senantiasa tergantung pada faktor-faktor :
a.
Hukumnya sendiri.
b.
Kepribadian atau mentalitas penegak hukum.
c.
Fasilitas pendukung penegak hukum yang mencakup
d.
e.

perangkat lemah dan keras.
tingkat kesadaran hukum dan kepatuhan hukum masyarakat.
Kebudayaan hukum yang dianut oleh masyarakat yang
bersangkutan.
Apabila faktor-faktor tersebut diasumsikan mempengaruhi

proses

penegakan

kewibawaan

hukum,

penegak

maka

hukum

dapat

tergantung

dikatakan
pada

bahwa

faktor-faktor

tersebut, artinya, apabila faktor-faktor tadi mempunyai pengaruh
positif (karena secara substansial positif), maka kewibawaan
penegakan hukum relatif tinggi. Namun, apabila pengaruhnya
negatif (oleh karena secara subtansial mengandung dampak) maka
kewibawaan penegakan hukum akan dinilai rendah atau menurun.
Oleh

karena

itu

pengaruh-pengaruh

positif

senantiasa

harus

diperkuat (dan dikembangkan) sedangkan pengaruh negatif atau
dampaknya dinetralisasi (kalau tidak mungkin dihapus secara
tuntas).
a.
Diperlukan

adaya suatu program pendidikan yang khusus

bagi para penegak hukum, program ini menggabungkan segisegi teori dan praktek.

Program ini tidak harus dilakukan

dalam kerangka pendidikan kesarjanaan, akan tetapi cukup
b.

sebagai pendidikan non gelar atau diploma.
Agar terus dijalin kerjasama antar para penegak hukum (CJS)
dalam rangka membangun

sistem penegakan hukum yang

berwibawa dan diakui oleh masyarakat.
b.

Penegakan hukum.
Jaminan kepastian hukum masyarakat untuk berperilaku
sesuai dengan norma-norma hukum yang ada baik yang tertulis
maupun yang tidak tertulis memperoleh ganjaran (reward) sebaliknya
perilaku yang menyimpang akan mendapatkan hukuman
(Punishment) dengan tidak melihat latar belakang pelaku
pelanggaran tersebut untuk menciptakan pemerataan penegakan
hukum serta bentuk jaminan kepastian hukum di segala lapisan
masyarakat.
Oleh karena itu dalam setiap penanganan perkara Polri harus
menyelesaikannya secara hukum dengan tidak bersikap dan
60

bertindak diskriminatif.

Namun perlu juga melihat nilai keadilan

pada masyarakat (Social Justice) dan adil menurut Hukum (Legal
Justice).
Dengan demikian peranan Polri dalam menangani konflik vertikal
antara Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Kabupa-ten/Kota sebagai
dampak dari otonomi daerah, adalah sebagai berikut :
1.
Peran sebagai fasilisator dan dinamisator

Peran sebagai fasilisator dan dinamisator ini sama halnya
berperan sebagai mediasi : yaitu Polri bertindak sebagai
perantara atau penengah/pihak ketiga untuk menyelesaikan
pertikaian antar lembaga dimaksud. Dalam posisi yang
demikian Polri harus benar-benar bersifat netral, adil

dan

bijaksana.
a.

Falsafah kunci yang harus dijunjung tinggi adalah :
Otonomi daerah dikembangkan semata-mata bertuju-an untuk
memajukan
masyarakat

b.
2.

demokrasi,
dalam

keterbukaan,

bingkai

Negara

kese-jahteraan

Kesatuan

Republik

Indonesia.
Tidak ada masalah yang tidak terselesaikan secara damai, jika

masing-masing pihak berpedoman kepada point a) tersebut.
Peran sebagai pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat serta
sebagai aparat penegak hukum/penyidik utama (UU No. 2/2002,
pasal 13 dan KUHAP, pasal 6)
Polri sebagai pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat
serta sebagai aparat penegak hukum dapat memerankan diri dalam
penanggulangan konflik antar lembaga pemerintah daerah, dengan
melakukan tindakan yang meliputi beberapa tahap cara bertindak
(CB) yaitu :
a.
Deteksi dini
Melakukan

deteksi/penyelidikan

untuk

mengeta-hui

kemungkinan adanya potensi konflik dan apabila sudah terjadi
untuk mengetahui

akar permasalahan yang menyebabkan

terjadinya

serta

konflik

untuk

mengetahui

aktor

yang

menimbulkan terjadinya kon-flik, kemudian dilaporkan kepada
b.

pimpinan.
Pre-emtif
Yaitu bertujuan untuk mengeliminir potensi konflik sejak
dini dan harus menyentuh akar-akar penyebab konflik. Hal ini
dapat

dilakukan
61

dengan

penggalangan

antara

tokoh

pemerintahan daerah setempat melalui pertemuan-pertemuan
c.

agar dapat menahan diri.
Preventif
Yaitu bertujuan untuk
penyebab

terjadinya

konflik

mencari
serta

dan

mene-mukan

melakukan

upaya

pencegahan. Hal ini dapat dilakukan melalui pemberian
informasi yang berimbang pada setiap pihak guna dicari
d.

penyelesaiannya.
Represif
Yaitu melakukan tindakan untuk mencegah konflik agar
tidak berkembang pada tataran yang lebih luas. Hal ini dapat
dilakukan dengan penangan-an setiap tindak kriminalitas atau
konflik yang terjadi secara cepat, tepat dan tuntas serta tidak
ada keberpihakan pada salah satu pihak yang bertikai.
Dalam melakukan tindakan represif ini, jika ber-kaitan
terhadap Perda, maka koordinasi dan kerjasa-ma dengan
Polisi Pamong Praja (sebagai PPNS, UU No. 32/2004, pasal

4.

149) merupakan cara yang paling efektif.
Peranan Polri dalam menangani konflik vertikal antara Peme-rintah
Propinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota sebagai dam-pak dari otonomi
daerah, adalah sebagai berikut :
a.
Peran sebagai fasilisator dan dinamisator
b.
Peran sebagai pelindung, pengayom dan pelayan masya-rakat serta
sebagai aparat penegak hukum/penyidik utama (UU No. 2/2002,
pasal 13 dan KUHAP, pasal 6)

B.
1.

Saran
Konflik

vertikal

antara

Pemerintah

Propinsi

dan

Pemerintah

Kabupaten/Kota sangat mungkin dapat dicegah, jika masing-masing pihak
yang berkepentingan memahami secara cermat makna dan filosofi dari
2.

otonomi daerah itu sendiri.
Polri sebagai pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat serta sebagai
aparat penegak hukum, dalam era otonomi daerah sekarang ini harus
mampu meningkatkan kualitas personil dalam pemahaman terhadap
undang-undang otonomi daerah dan peraturan lainnya yang berkaitan,
dan harus mampu memanfaatkan peluang otonomi daerah tersebut untuk

3.

kemajuan organisasi.
Polri sebagai polisi nasional harus mampu sebagai perekat dan stabilisator
dalam rangka tetap utuhnya Negara Kesatuan Republik Indonesia,
ditengah-tengah kebhinekaan dalam semangat otonomi daerah.
62