LAPORAN PRAKTIKUM

BIOKIMIA DAN ANALISIS PANGAN
ANALISIS KADAR ABU & MINERAL

NAMA
NIM
KELOMPOK
KELAS
ASISTEN

: WAHYU ERWIN FIRMANSYAH
: 125100101111014
: J3
:J
: NAOMI

PROGRAM STUDI ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN
JURUSAN TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2014

Wahyu Erwin Firmansyah
THP-FTP-UB-2014

BAB III
ANALISIS ABU DAN KADAR MINERAL
A. Pre-lab

1. Apa yang dimaksud dengan abu?
Abu merupakan residu anorganik dari hasil pengabuan. Kandungan abu dan

komposisinya tergantung pada macam bahan dan cara pengabuannya. Abu merupakan
salah satu komponen dalam analisis proksima dari material biologis yaitu bagian yang

menjadi penjumlah utama dalam persentase hasil analisis. Kadar abu berhubungan

dengan mineral suatu bahan. Mineral yang terdapat dalam suatu bahan terdiri dari dua

macam garam yaitu garam organik dan anorganik. Garam organik terdiri dari garamgaram mallat, oksalat, asetat, dan pektat. Sedangkan garam anorganik terdiri dari garam

fosfat, karbonat, klorida, sulfat, dan nitrat. Kadar abu dapat ditentukan dengan cara

mengukur residu setelah sampel dioksidasi dengan solven pada suhu tinggi (500-600oC)

dan mengalami volatilisasi. Kadar abu dari bahan menunjukkan kadar mineral,
kemurnian, dan kebersihan suatu bahan yang dihasilkan (Legowo, 2005).
2. Apa yang dimaksud dengan pengabuan basah?

Pengabuan basah merupakan jenis pengabuan yang secara tidak langsung dilakukan

dengan mengoksidasi sampel dengan oksidator kuat atau asam kuat pekat. Pada

pengabuan basah, sampel didigesti dengan asam kuat atau dioksidasi. Suhu yang
digunakan lebih rendah dan biasa untuk menentukan jenis mineral yang menguap pada
suhu tinggi, mineral trace, dan beracun. Filtrat (larutan abu atau alikuot) digunakan untuk

penentuan jenis mineral. Waktu yang dibutuhkan dalam pengabuan basah lebih singkat
dan kerusakan mineral minimal (Maria, 2010).

3. Apa yang dimaksud dengan pengabuan kering?
Pengabuan kering merupakan jenis pengabuan yang secara langsung dilakukan

dengan mengoksidasi sampel dalam tanur pada suhu tinggi. Pengabuan kering dilakukan

dengan mendestruksi komponen organik sampel dengan suhu tinggi (500-600oC) dalam

tanur (furnace) tanpa terjadi nyala api sampai terbentuk abu berwarna putih keabuan dan

berat konstan tercapai. Pada pengabuan kering, oksigen merupakan oksidator
sedangkan residu merupakan total abu. Pengabuan dapat juga dilakukan dalam tanur

dengan suhu dimulai dari suhu 250oC dan secara bertahap ditingkatkan menjadi 450oC

dalam waktu 1 jam dengan tujuan untuk memberikan kesempatan bahan-bahan organik
terdekomposisi. Kadar abu ditentukan dengan menimbang residu yang tertinggal setelah

1

Selain itu digunakan untuk menentukan baik tidaknya proses pengabuan. 2 . untuk mendapatkan hasil dengan waktu yang relatif singkat kerena proses oksidasi berlangsung cepat. Sedangkan prinsip penentuan mineral dengan AAS yaitu metode analisa unsur secara kuantitatif yang diukur berdasarkan penyerapan cahaya dengan panjang gelombang tertentu oleh atom logam dalam keadaan bebas apabila cahaya pada panjang gelombang tertentu dilewatkan pada suatu sel yang mengandung atom-atom bebas yang bersangkutan maka sebagian cahaya akan diserap dan intensitas penyerapan akan berbanding lurus dengan banyaknya atom-atom bebas di dalam sel (Bintang. 2010). 4. 2010). Jelaskan prinsip penetapan kadar kalsium? Prinsip penetapan kadar kalsium merupakan prinsip analisis kalsium dengan metode pengendapan kalsium oksalat dimana terjadi pengendapan kalsium sebagai kalsium oksalat dan dititrasi dengan permanganat setelah direaksikan atau dilarutkan dengan asam sulfat. mineral trace. Selanjutnya dilakukan pemanggangan hingga kalsium oksalat tersebut menjadi kalsium oksida dan kemudian ditimbang sebagai kadar kalsium (Bintang. 2005). mengetahui jenis bahan yang digunakan. 5. Prinsip dari pengabuan kering yaitu menentukan total kadar abu dengan cara pembakaran dan oksidasi zat organik dalam tanur pada suhu tinggi (500-600oC) kemudian residu ditimbang setelah proses pengabuan. Dapat digunakan pada suhu rendah sehingga kerusakan mineral minimal dan volatilisasi mineral lebih rendah (Maria. Apa tujuan pengabuan basah? Tujuan dari pengabuan basah antara lain yaitu untuk digesti sampel. dan logamlogam beracun. Biasanya untuk menentukan jenis mineral yang menguap pada suhu tinggi. Prinsip pengabuan basah yaitu penggunaan asam nitrat (HNO3) pekat untuk mendestruksi senyawa organik dari sampel menggunakan suhu rendah. Asam oksalat dan kalsium membentuk garam yang tidak larut yaitu berupa kalsium oksalat. 2010).Wahyu Erwin Firmansyah THP-FTP-UB-2014 pengabuan (Hayusanti.

Diagram Alir 1. Persiapan Sampel Sampel Padat Dihaluskan dengan mortar Ditimbang 5 gr Dimasukkan ke dalam cawan porselen Ditimbang Hasil 3 . Analisis Kadar Abu dengan Pengabuan Kering a.Wahyu Erwin Firmansyah THP-FTP-UB-2014 B. Persiapan Cawan Porselen Cawan Porselen Dimasukkan ke dalam oven 1050C ± 24 jam Didingikan selama 15 menit dengan desikator Ditimbang (W1) Hasil b.

Proses Pengabuan Kering Sampel Dimasukkan ke dalam cawan porselen Dibakar diatas nyala pembakar sampai tidak berasap Dimasukkan dalam tanur 6400C selama 5 jam Dimasukkan ke desikator 15 menit Ditimbang (W2) Dihitung kadar abu Hasil 4 .Wahyu Erwin Firmansyah THP-FTP-UB-2014 c.

Pengabuan Basah & Penentuan Mineral dengan AAS a.Wahyu Erwin Firmansyah THP-FTP-UB-2014 2. Sampel Susu UHT (Pengabuan Basah) Susu UHT Diambil 50 ml dan ditimbang Dimasukkan ke dalam Erlenmeyer 250 ml Dimasukkan ke lemari asam 10 ml H2SO4 10 ml HNO3 1 batu didih Dipanaskan hingga larutan berwarna gelap 2 ml HNO3 Dipanaskan hingga larutan tidak gelap lagi Didinginkan 10 ml aquades Dipanaskan hingga berasap Didinginkan 5 ml aquades Dididihkan hingga berasap Didinginkan Disaring dengan kertas saring Diambil Filtrat Dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan ditutup Aluminium foil Dianalisis dengan AAS Hasil 5 .

Susu Bubuk & Crackers yang sudah diabukan (Pengabuan Kering) Abu kering Susu Bubuk & Crakers Dimasukkan ke dalam Erlenmeyer 250 ml 1 ml HNO3 10 ml Aquades Didiamkan beberapa saat Disaring dengan kertas saring Diambil filtratnya Dimasukkan ke dalam tabung reaksi Dibungkus dengan Aluminium foil Dianalisis dengan AAS Hasil 6 .Wahyu Erwin Firmansyah THP-FTP-UB-2014 b.

Sementara itu. 2. 2010). Larutan Standar Ca Kalsium atau Ca merupakan logam makromineral yang esensial.5 oC pada 1 atm. Fungsi Asam nitrat di Laboratorium yaitu digunakan sebagai pelarut bijih mineral atau sebagai pengoksidasi pada pengabuan basah. densitas 1. dan tak berbau. sintesis kimia. 7 . Dalam analisis abu dan mineral.08 g/mol. HNO3 Asam Nitrat atau HNO3 merupakan cairan bening yang tidak berwarna. 2010).51 g/cm 3. pemrosesan air limbah dan penghilangan minyak.Wahyu Erwin Firmansyah THP-FTP-UB-2014 C. densitas 1. Asam Nitrat bersifat oksidan dan korosif yang dapat menyebabkan luka bakar jika terkena kulit. Asam sulfat mempunyai banyak kegunaan dan merupakan salah satu produk utama industri kimia. Tinjauan Pustaka 1. 2009). H2SO4 Asam sulfat atau H2SO4 merupakan asam mineral anorganik yang kuat. Dalam analisis abu dan kadar mineral. Asam nitrat bercampur dengan air dalam berbagai proporsi dan disilasi menghasilkan azeotrop dengan konsentrasi 68% asam nitrat dengan titik didih 120. larutan standar Ca digunakan dalam pembuatan kurva kalibrasi dalam analisis mineral dengan AAS dan untuk mengetahui konsentrasi sampel (Purnomo. Kalsium merupakan logam putih perak yang agak lunak. Asam sulfat larut dalam air pada semua perbandingan. Asam sulfat memiliki penampakan yaitu dalam bentuk cair.012 g/mol. Kegunaan utamanya termasuk pemrosesan bijih mineral.84 g/cm3. asam sulfat digunakan sebagai oksidator pada pengabuan basah serta dapat melarutkan kalsium karena dapat larut dalam asam (Suyatmi. tak berwarna. Asam nitrat membantu dekomposisi senyawa organik yang masih tersisa agar menjadi abu (Cristianto. serta sebagai oksidator dalam pembuatan asam sulfat. asam nitrat pekat digunakan untuk membuat bahan peledak. Asam sulfat mempunyai berat molekul 98. Asam Nitrat mempunyai berat molekul 63. dalam industri asam nitrat encer digunakan untuk membuat pupuk buatan. 3. Kalsium dapat membentuk Ca2+ dan dapat membentuk larutan yang tidak berwarna kecuali bila anionnya berwarna. Asam Nitrat dapat mendidih pada suhu kamar yang akan mengalami dekomposisi atau penguraian sebagian dengan pembentukan nitrogen dioksida (NO 2). dapat melebur pada suhu 845 oC yang terserang atmosfer dan udara lembab sehingga dapat terbentuk kalsium oksida dan atau kasium hidroksida. Kalsium dapat menguraikan air dengan membentuk kasium hidroksida dan hidrogen.

2008). Dalam analisis abu dan kadar mineral. aquades digunakan sebagai pelarut serta dapat menyumbangkan muatan positif dari H+ (Sukarsono. 8 . Aquades Aquades merupakan air hasil destilasi atau penyulingan dan merupakan air murni yang hampir tidak mengandung mineral. Biasanya aquades digunakan sebagai pelarut atau pengencer.Wahyu Erwin Firmansyah THP-FTP-UB-2014 4. Aquades merupakan bahan kimia yang tidak berbahaya karena mempunyai pH netral sehingga tidak mempunyai efek tertentu bagi manusia. Aquades juga memiliki rumus molekul air pada umumnya yaitu H 2O yang berarti dalam satu molekul terdapat 2 atom hidrogen kovalen dan atom oksigen tunggal.selain itu berat molekul juga sama dengan air yaitu 18 g/mol dengan titik didih 100oC.

1473 30.1053 gr 2.6% Rumus Kadar Abu: Berat Abu = (Berat cawan+abu) ( Kadar Abu = ( ) ) berat cawan awal 100% Perhitungan 1. Kadar Abu Bubur Bayi I Berat Abu = (Berat cawan+abu) berat cawan awal = 30.0676 gr 0.4659% 4.0159 = 0.7495 gr 23.0140 gr 23.6456 gr 0.0735 gr 1.9875 gr 21. . ) 100% 100% = 2. Bubur Bayi II 5.0062 gr 20.0801 gr 1. .0987% 3.1314 gr 2.1314 gram ( Kadar Abu = = ( ) . Analisis Kadar Abu dengan Pengabuan Kering No Sampel Berat Sampel Berat Awal (cawan) Berat Akhir (cawan+abu) Berat Abu % Abu 1.0159 gr 30. Bubur Bayi I 5.6214% 2.8230 gr 0.0987% 9 . ( ) ) 100% 100% = 2.Wahyu Erwin Firmansyah THP-FTP-UB-2014 C. Oat meal II 5.0174 gr 22.6456 22.5403 = 0.6214% 2. Kadar Abu Bubur Bayi II Berat Abu = (Berat cawan+abu) berat cawan awal = 22.0126 gr 30.1053 gram ( Kadar Abu = = . Oat meal I 5.5403 gr 22. Hasil dan Pembahasan 1.1473 gr 0.

4659% 4. . tanur (furnace).0676 = 0. lemari asam. alat yang digunakan antara lain: cawan porselen. Masing10 . Kemudian dinolkan lalu ditambah sampel sebanyak 5 gram sehingga didapatkan berat sampel. Pada persiapan alat yaitu dengan mengoven empat cawan porselen dalam oven listrik dengan suhu 105 oC selama 24 jam dengan tujuan untuk mendapatkan berat konstan dari cawan serta untuk menghilangkan air dalam cawan. Setelah itu masing-masing cawan porseken ditimbang dengan timbangan analitik untuk menegtahui berat cawan awal. oven listrik.7495 = 0. Selanjutnya dilakukan proses pembakaran sampel dalam cawan. Kadar Abu Oatmeal I Berat Abu = (Berat cawan+abu) berat cawan awal = 22. spatula. Sebelumnya disiapkan kompor listrik lalu dimasukkan ke dalam lemari asam. dan desikator. Sampel yang digunakan duplo untuk membandingkan hasil yang didapatkan serta untuk mengetahui faktor apa yang berpengaruh selama pengabuan kering.6% Analisis Prosedur Pengabuan Kering Pada percobaan analisis kadar abu dengan pengabuan kering. Kadar Abu Oatmeal II Berat Abu = (Berat cawan+abu) berat cawan awal = 20. . kompor listrik. Pada percobaan analisis kadar abu dengan pengabuan kering dilakukan dengan persiapan sampel dan alat terlebih dahulu.0801 gram ( Kadar Abu = = . timbangan analitik. Pembakaran dilakukan di dalam lemari asam agar asap yang dihasilkan dari pembakaran langsung disedot oleh blower dalam lemari asam sehingga tidak tidak mengganggu pernafasan. ) 100% 100% = 1. Cawan yang sudah dioven dikeluarkan lalu dimasukkan ke dalam desikator selama 15 menit untuk menyerap uap air yang masih ada dalam cawan. Sedangkan bahan yang digunakan antara lain: bubur bayi dan oatmeal.9875 21.Wahyu Erwin Firmansyah THP-FTP-UB-2014 3.0735 gram ( Kadar Abu = = ( ) . ( ) ) 100% 100% = 1.6456 23.

0987%. Jika cawan yang dipakai kurang bersih atau masih ada air maka akan terjadi perbedaan pada hasil akhir. Dari sampel yang sama didapatkan kadar abu yang berbeda dimana kadar abu pada bubur bayi I lebih besar dari pada bubur bayi yang kedua. Pembakaran dilakukan untuk menghilangkan senyawa organik dalam sampel dan meninggalkan komponen anorganik. sehingga dari berat tersebut dapat diketahui kadar abu bubur bayi II sebanyak 2.0126 gram. Sampel yang digunakan ada dua yaitu bubur bayi dan oatmeal. Namun hasil yang diperoleh cukup berbeda.1053 gram. Analisis Hasil Pengabuan Kering Dari hasil percobaan yang dilakukan didapatkan kadar abu dari masing-masing sampel dimana kadar abu yang terukur merupakan jumlah mineral dalam sampel. berat cawan+abu 22. berat cawan 30. berat awal sampel. setelah konstan ditunggu selama 5 jam sampai menjadi abu.6214%.0159. 11 . Selanjutnya dilakukan perhitungan untuk mengetahui kadar abu masingmasing sampel. Ditunggu suhu tanur sampai konstan 600 oC. Seharusnya dari pengabuan kering yang dilakukan akan menghasilkan kadar abu yang sama atau hanya sedikit berbeda saja karena berat sampel yang digunakan juga hampir sama dengan perlakuan yang sama pula. Masing-masing sampel dilakukan duplo untuk membandingkan hasil yang didapatkan serta untuk mengetahui faktor apa yang berpengaruh selama pengabuan kering.0174 gram. Setelah ditanur ditunggu beberapa menit lalu dikeluarkan. berat awal cawan. Perbedaan tersebut disebabkan karena beberapa faktor yaitu ketelitian dalam perhitungan. Setelah itu masing-masing cawan berisi sampel hasil pembakaran dimasukkan ke dalam tanur atau furnace. berat sampel bubur bayi yang pertama yaitu sebanyak 5. Sedangkan berat sampel bubur bayi yang kedua yaitu sebanyak 5. dan berat abu 0. Kemudian didinginkan dengan memasukkan kembali ke dalam desikator.Wahyu Erwin Firmansyah THP-FTP-UB-2014 masing cawan berisi sampel diletakkan di atas kompor listrik lalu dilakukan pembakaran sampai asap dalam sampel hilang. berat cawan+abu 30.6456 gram. Pembakaran selesai ditandai dengan warna hitam dan tidak ada asap yang keluar lagi. berat cawan 22. Lalu dilakukan penimbangan masing-masing cawan yang berisi abu dari sampel. dan berat abu 0.1473 gram. Prinsip analisis kadar abu dengan pengabuan kering yaitu menentukan total kadar abu dengan cara pembakaran dan oksidasi zat organik dalam tanur pada suhu tinggi (500600oC) kemudian residu ditimbang setelah proses pengabuan. Pada percobaan analisis kadar abu dengan pengabuan kering. Proses pengabuan kering selesai ditandai dengan terbentuknya abu dengan warna putih keabuan.5403.1314 gram. sehingga dari berat tersebut dapat diketahui kadar abu bubur bayi I sebanyak 2.

dan berat abu 0. sementara itu oatmeal yang digunakan sebagai bahan analisa kadar abu merupakan oats putih. Menurut Masih et. suhu.6%.7495. kadar abu pada oatmeal sebesar 1.9875. berat sampel oatmeal yang pertama yaitu sebanyak 5. sehingga dari berat tersebut dapat diketahui kadar abu oatmeal II sebanyak 1.0062 gram. sehingga dari berat tersebut dapat diketahui kadar abu oatmeal I sebanyak 1.0735 gram.55%. dan waktu pengabuan. Perbedaan yang tidak terlalu besar tersebut disebabkan karena beberapa faktor yaitu ketelitian dalam perhitungan. dan berat abu 0. kadar abu dari bubur bayi instan sebesar 1.0140 gram. Hasil tersebut tentunya berbeda dengan kadar abu yang diperoleh dari hasil percobaan yang dilakukan. Sedangkan berat sampel oatmeal yang kedua yaitu sebanyak 5. berat awal sampel. berat cawan 23.Wahyu Erwin Firmansyah THP-FTP-UB-2014 Menurut Arifianti dkk (2012). berat cawan+abu 23. (2013). berat cawan+abu 21. hanya selisih sedikit saja.0676 gram. oleh karena itu diperoleh kadar abu yang berbeda atau kadarnya lebih rendah. 12 . Bubur bayi yang digunakan dalam percobaan berbahan dasar tepung beras sementara bubur bayi dari literatur berbahan dasar tepung millet dan tepung beras hitam. Pada percobaan analisis kadar abu dengan pengabuan kering. Selain itu proses pengabuan yang kurang lama menyebabkan warna abu yang kurang sempurna atau masih ada warna hitam pada abu. berat cawan 20. Kadar abu hasil percobaan lebih besar dari data literatur. berat awal cawan.al. Oleh karena itu hasil yang didapatkan kurang optimal. dan waktu pengabuan. Oatmeal yang digunakan dalam percobaan merupakan oats yang berwarna kecoklatan. Perbedaan tersebut disebabkan karena beberapa faktor diantaranya jenis bahan. Hal tersebut akan menyebabkan perbedaan kadar abu dan tentunya saja jenis dan jumlah mineral yang terkandung juga akan berbeda.008%.0801 gram. Jika cawan yang dipakai kurang bersih atau masih ada air maka akan terjadi perbedaan pada hasil akhir.8230 gram. Kadar abu hasil percobaan lebih besar dari data literatur. Dari sampel yang sama didapatkan kadar abu yang berbeda dimana kadar abu pada Oatmeal I lebih kecil dari pada Oatmeal yang kedua. Dari berat sampel yang hampir sama didapatkan kadar abu yang tidak berbeda terlalu besar.4659%. Hasil tersebut tentunya berbeda dengan kadar abu yang diperoleh dari hasil percobaan yang dilakukan. Perbedaan tersebut disebabkan karena beberapa faktor diantaranya jenis bahan. suhu.

Wahyu Erwin Firmansyah THP-FTP-UB-2014 2.0.4104 3.3 y = 0.05 0 0 1 2 3 4 5 Konsentrasi Persamaan Regresi Linear: y = 0.0614x .061 3.0034 2.2452 Kurva Standar Kalsium 0.15 Series1 0.2922 = 0. 4 ppm 0.25 0. .1108 4.4771 gram - - Kurva Standar Kalsium No. Kadar Kalsium Crackers y = 0.0034 x= .8143 2.0034 Perhitungan: 1.0.0.0614x . Kadar Kalsium Susu Bubuk y = 0.0034 R² = 0. Penentuan Mineral dengan Spektroskopi Serapan Atom No.0614x . = 4. Susu UHT 50. = 45.0614x . 2 ppm 0.0614x .996 Absorbansi 0. 1 ppm 0.2 0.3 gram 0.0.4 gram 2.0614x . Konsentrasi Larutan (x) Absorbansi (y) 1.7848 = 0.7848 45. Susu Bubuk 10.1 Linear (Series1) 0. Nama Sampel Berat Sampel Absorbansi (y) Kadar Ca (ppm) 1. . Crackers 10.0.0.5 ppm 0.4104 ppm 13 . .0034 x= .8143 ppm 2.2922 4.0295 2. 0.0034 0. .

corong kaca. Perlakuan selanjutnya sama dengan susu UHT. lemari asam. rak tabung reaksi. Selanjutnya ditambah lagi dengan 2 ml HNO3 agar mendekomposisi senyawa organik yang masih ada dalam sampel agar menjadi abu. dilakukan dengan persiapan sampel terlebih dahulu. Setelah itu didinginkan lalu ditambah 10 ml aquades untuk mengikat senyawa organik yang larut air. kertas saring. dan aquades. dan AAS. hot plate. Ditambahkan 10 ml HNO 3 untuk mempercepat proses oksidasi senyawa organik yang ada dalam sampel serta untuk mendekomposisi senyawa organik yang masih ada pada sampel agar menjadi abu. Pada persiapan sampel disiapkan 3 sampel yang akan dianalisis yaitu susu UHT. erlenmeyer 250 ml. batu didih. Untuk susu bubuk dan crackers merupakan sampel yang sudah diabukan sehari sebelumnya dengan metode pengabuan kering. Kemudian dipanaskan hingga berasap. susu bubuk. tabung reaksi. H 2SO4. namun saat pemanasan tidak sampai berwarna gelap karena aquades tidak memiliki . alat yang digunakan antara lain: pipet ukur. uap yang keluar langsung diserap oleh blower dalam lemari asam sehingga tidak terhirup dan mengganggu pernafasan. aluminium foil. Setelah itu dipanaskan diatas hot plate dengan suhu rendah hingga larutan berwarna gelap atau kecoklatan. Setelah itu didinginkan lagi dan ditambah lagi 5 ml aquades agar lebih melarutkan senyawa organik. Lalu dididihkan sampai berasap.Analisis Prosedur Pengabuan Basah dan AAS Pada percobaan analisis kadar mineral dengan pengabuan basah dan penetapan mineral dengan AAS. dan crackers. susu UHT. susu bubuk. Sedangkan bahan yang digunakan antara lain: crackers. Selanjutnya dimasukkan ke dalam lemari asam agar saat pemanasan. Selain itu dibuat blanko dari aquades. Selanjutnya filtrat diambil dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Lalu dianalisa dengan AAS untuk mengetahui absorbansi dalam sampel. Selain itu juga ditambahkan 1 buah batu didih untuk meratakan panas sehingga panas homogen dan supaya tidak terjadi peletupan yang berlebih. spatula. Kemudian ditambahkan 10 ml H 2SO4 untuk mempercepat oksidasi serta dapat melarutkan kalsium. beaker glass. Kemudian ditutup dengan alumunium foil agar tidak menguap. Setelah itu didinginkan lagi lalu disaring dengan kertas saring untuk memisahkan residu dengan filtrat. HNO3. timbangan analitik. Untuk sampel susu UHT diambil 50 ml dengan pipet ukur lalu dimasukkan ke erlenmeyer 250 ml dan ditimbang dengan timbangan analitik. Setelah itu dipanaskan lagi sampai tidak berwarna gelap lagi. Sementara itu untuk pembuatan blanko dari aquades diambil sebanyak 10 ml dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer 250 ml. Pada percobaan analisis kadar mineral dengan pengabuan basah dan penetapan mineral dengan AAS.

Kemudian ditutup dengan alumunium foil agar tidak menguap. Panjang gelombang yang digunakan dalam penentuan mineral dengan AAS yaitu sebesar 422. Namun untuk susu UHT tidak dilakukan analisa kalsium dengan AAS karena sampel yang akan diuji tidak berwarna bening sehingga tidak dapat diketahui kadar kalsium dalam susu UHT.Wahyu Erwin Firmansyah THP-FTP-UB-2014 senyawa organiknya. dan crackers. Selanjutnya dibuat kurva standar dari larutan standar kalsium sehingga dapat diketahui persamaan regresi linear.0034. Setelah itu diambil filtrat dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Pada saat analisa kadar mineral dengan AAS didapatkan nilai absorbansi (y) sebesar 0. Sedangkan prinsip penentuan mineral dengan AAS yaitu metode analisa unsur secara kuantitatif yang diukur berdasarkan penyerapan cahaya dengan panjang gelombang tertentu oleh atom logam dalam keadaan bebas apabila cahaya pada panjang gelombang tertentu dilewatkan pada suatu sel yang mengandung atom-atom bebas yang bersangkutan maka sebagian cahaya akan diserap dan intensitas penyerapan akan berbanding lurus dengan banyaknya atomatom bebas di dalam sel. Panjang gelombang tersebut merupakan panjang gelombang kalsium. Untuk sampel crackers dan susu bubuk. didapatkan berat sampel sebanyak 10. Lalu didiamkan beberapa saat dan disaring untuk memisahkan filtrat dan residu. susu bubuk. Dari persamaan tersebut nantinya dapat diketahui kadar kalsium dalam masing-masing sampel. Sampel yang digunakan ada tiga yaitu susu UHT.7 nm.3 gram. Analisis Hasil Penentuan Mineral dengan AAS Dari hasil percobaan yang dilakukan didapatkan kadar mineral dari masing-masing sampel dimana kadar mineral yang terukur yaitu jenis mineral kalsium (Ca). Kemudian ditambah dengan 1 ml HNO 3 untuk menguapkan senyawa organik dan ditambah 10 ml aquades untuk melarutkan senyawa organik yang larut air.0614x 0. Prinsip pengabuan basah yaitu penggunaan asam nitrat (HNO3) pekat untuk mendestruksi senyawa organik dari sampel menggunakan suhu rendah. Dari kurva standar kalsium didapatkan persamaan regresi linear y=0. Dari 15 . sehari sebelumnya sudah dilakukan pengabuan kering sehingga langsung diambil dan ditimbang 10 gram lalu dimasukkan ke erlenmeyer 250 ml.2922. Lalu dianalisa dengan AAS untuk mengetahui absorbansi dalam sampel. Untuk sampel crackers. Setelah diketahui persamaan regresi linear maka nilai absorbansi (y) dari sampel dimasukkan ke dalam persamaan sehingga nantinya akan didapatkan nilai kadar kalsium dari sampel (x).

Kalau ingin mencari kadar kalsium jenis lain maka panjang gelombang yang digunakan juga berbeda.37 mg/100g atau setara dengan 9.39-226. total kalsium (basis kering) pada produk susu bubuk yaitu sekitar 1396.668-247. Menurut Puspita (2003).60%. Panjang gelombang: panjang gelombang yang digunakan disesuaikan dengan jenis mineral yang akan dicari. didapatkan berat sampel sebanyak 10. Proses pengabuan dilakukan dengan dua cara yaitu pengabuan basah 16 . Namun setelah disubstitusi dengan ubi jalar ungu dan ikan teri nasi maka kandungan kalsium dalam crackers akan meningkat menjadi 46.96 ppm.4104 ppm.239-22.4 gram.7848. Misalnya kalau yang dicari Kadar kalsium maka panjang gelombang yang digunakan yaitu 422.68-2472. Dari hasil tersebut dapat dijelaskan bahwa tidak hanya pada proses pengabuan saja yang dapat mempengaruhi kadar kalsium dalam bahan namun juga kandungan nutrisi dalam bahan pangan.227 ppm. Dari hasil tersebut dapat dijelaskan bahwa tidak hanya pada proses pengabuan saja yang dapat mempengaruhi kadar kalsium dalam bahan namun juga kandungan nutrisi dalam bahan pangan.27 mg/100g atau setara dengan 139.07 ppm.54-9. Pada saat analisa kadar mineral dengan AAS didapatkan nilai absorbansi (y) sebesar 2. Dari nilai absorbansi tersebut selanjutnya dimasukkan ke dalam persamaan regresi linear sehingga didapatkan kadar kalsium susu bubuk sebesar 45. Sedangkan untuk susu bubuk tanpa perlakuan fortifikasi serat pangan maka kadar kalsium dalam susu bubuk sebesar 92. Proses pengabuan: proses pengabuan akan menentukan hasil akhir yang diperoleh. Kandungan nutrisi yang berbeda pada setiap Susu Bubuk menyebabkan perbedaan kadar kalsium karena dengan adanya fotifikasi kalsium dari baha lain atau dengan perlakuan lain akan menyebabkan peningkatan kadar kalsium.07 mg/kg atau sebesar 46. Kandungan nutrisi yang berbeda pada setiap Crackers menyebabkan perbedaan kadar kalsium karena bahan yang digunakan untuk pembuatan setiap crackers berbeda-beda pula.96 mg/kg atau sama dengan 2. Menurut Aisiyah (2012). Secara umum. kadar kalsium dalam sampel Crackers tanpa adanya substitusi yaitu sebesar 2.7 nm. Nutrisi dalam bahan pangan: setiap bahan mempunyai kandungan nutrisi atau kandungan mineral dengan jenis dan jumlah yang berbeda sehingga akan menyebabkan perbedaan kadar mineral setiap sampel. Untuk sampel susu bubuk.37.6. 3.Wahyu Erwin Firmansyah THP-FTP-UB-2014 nilai absorbansi tersebut selanjutnya dimasukkan ke dalam persamaan regresi linear sehingga didapatkan kadar kalsium crackers sebesar 4. Selain itu bioavalaibilitas kalsium pada produk susu bubuk yaitu antara 6. faktor yang mempengaruhi Penentuan Mineral dengan AAS yaitu: 1. 2.8143 ppm.

5. c.Wahyu Erwin Firmansyah THP-FTP-UB-2014 dan kering. Banyaknya zat pengatur (reagen): banyaknya reagen yang digunakan harus proporsional agar hasil akhir dapat optimal. untuk mengetahui jenis bahan yang digunakan. Sedangka HNO3 berfungsi untuk mendekomposisi senyawa organik yang masih ada dalam sampel agar menjadi abu (Andarwulan. Pertanyaan : a. Nantinya dari larutan standar dapat dibuat kurva standar kalsium yang akan dipakai untuk menentukan persamaan regresi linear dan kadar kalsium dalam sampel. Bagaimana prinsip analisis mineral dengan AAS? Prinsip penentuan mineral dengan AAS yaitu metode analisa unsur secara kuantitatif yang diukur berdasarkan penyerapan cahaya dengan panjang gelombang tertentu oleh atom logam dalam keadaan bebas apabila cahaya pada panjang gelombang tertentu dilewatkan pada suatu sel yang mengandung atom-atom bebas yang bersangkutan maka sebagian cahaya akan diserap dan intensitas penyerapan akan berbanding lurus dengan banyaknya atom-atom bebas di dalam sel. d. Apa peranan analisa kadar abu dalam bidang industri pangan? Peranan analisa kadar abu dalam bidang industri pangan yaitu untuk mengetahui kadar abu dari produk karena kadar abu suatu produk dapat menunjukkan total mineral dalam suatu bahan pangan. serta sebagai penentu parameter nilai gizi suatau bahan pangan. 17 . 2010).7 nm dan dapat diketahui nilai absorbansi sampel. 4. b. Selain itu dapat digunakan untuk menentukan baik atau tidaknya suatu pengolahan. Mengapa digunakan larutan standar Ca untuk penentuan mineral dengan AAS? Larutan standar Ca digunakan untuk penentuan mineral dengan AAS karena jenis mineral yang akan dicari dalam sampel adalah Kalsium (Ca). Air yang digunakan dalam pencucian harus bebas dari logam agar tidak mengganggu proses analisis dengan AAS. Namun secara spesifik H2SO4 berfungsi untuk melarutkan kalsium karena kalsium akan larut dalam asam. Apa fungsi penambahan H2SO4 dan HNO3 pada proses pengabuan basah? Fungsi penambahan H2SO4 dan HNO3 pada proses pengabuan basah yaitu sama-sama untuk memperceoat reaksi oksidari senyawa organik yang ada dalam sampel. Sehingga dalam penentuan mineral dengan AAS dapat ditentukan panjang gelombang larutan kalsium (Ca) sebesar 422. Penggunaan setiap metode harus disesuaikan dengan sifat dan karakteristik bahan.

Karena telur juga tinggi protein maka dilakukan pengabuan lama. 18 . -Untuk sampel alpukat memiliki kadar air yang cukup tinggi sehingga perlakuan pendahuluan yang dilakukan yaitu dengan menghilangkan air dalam bahan. alpukat. Selain itu alpukat tinggi lemak sehingga pada saat pengabuan perlu diabukan pada suhu rendah terlebih dahulu kemudian suhu dinaikkan ke suhu pengabuan agar lemak tidak rusak karena teroksidasi. -Untuk sampel susu cair karena dalam bentuk cair dengan tinggi kadar air maka perlakuan pendahuluan yang dilakukan yaitu harus dikeringkan terlebih dahulu dengan cara dioven terlebih dahulu sebelum pengabuan agar proses pengabuan tidak terlalu lama. Jika kamu memiliki sampel telur. perlakuan pendahuluan yang dilakukan yaitu perlu dikeringkan dalam oven terlebih dahulu dan ditambahkan zat antibuih seperti minyak zaitun atau parafin lalu bisa mulai diabukan. perlakuan pendahuluan apa yang dilakukan untuk analisa kadar abu? -Untuk sampel telur yang dapat membuih. dan susu cair.Wahyu Erwin Firmansyah THP-FTP-UB-2014 e.

kadar abu pada Oatmeal I sebanyak 1.9143 ppm dan kadar kalsium pada Susu Bubuk sebesar 45.6214%. kadar abu pada Bubur Bayi II sebanyak 2. Dari hasil analisis abu dengan pengabuan kering didapatkan kadar abu pada Bubur Bayi I sebanyak 2.Wahyu Erwin Firmansyah THP-FTP-UB-2014 KESIMPULAN Dari hasil analisis abu dan kadar mineral yang dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa prinsip dari pengabuan kering yaitu menentukan total kadar abu dengan cara pembakaran dan oksidasi zat organik dalam tanur pada suhu tinggi (500-600oC) kemudian residu ditimbang setelah proses pengabuan.4104 ppm. dan kadar abu pada Oatmeal II sebanyak 1. Sedangkan prinsip penentuan mineral dengan AAS yaitu metode analisa unsur secara kuantitatif yang diukur berdasarkan penyerapan cahaya dengan panjang gelombang tertentu oleh atom logam dalam keadaan bebas apabila cahaya pada panjang gelombang tertentu dilewatkan pada suatu sel yang mengandung atom-atom bebas yang bersangkutan maka sebagian cahaya akan diserap dan intensitas penyerapan akan berbanding lurus dengan banyaknya atom-atom bebas di dalam sel.4659%. 19 . Prinsip pengabuan basah yaitu penggunaan asam nitrat (HNO3) pekat untuk mendestruksi senyawa organik dari sampel menggunakan suhu rendah.0987%.6%. Sedangkan pada penetapan kalsium dengan menggunakan AAS didapatkan kadar kalsium pada Crackers sebesar 4.

dkk. dkk. Medan Masih. 2005. Karakterisasi Bubur Bayi Instan Berbahan Dasar Tepung Millet (panicum sp.usu. Diakses Tanggal 1 Mei 2014 Hayusanti. Kandungan Betakaroten. 2010.id.id. 2010. et al. 2010. Departemen Kimia FMIPA Universitas Sumatera Utara.) untuk Anak KEP dan KVA. A. Diakses Tanggal 1 Mei 2014 Legowo. A. I.. http://ejournal.ac. 2009. Jakarta: Penerbit Erlangga Christianto. Air PAM. Mineral Kalsium. Diakses Tanggal 1 Mei 2014 Puspita... Pengaruh Lama Perendaman dan Konsentrasi Asam Sulfat (H2SO4) terhadap Perkecambahan Benih Jati (Tectona grandis Linn. Optimasi Suhu Pengabuan dan Penentuan Pengaruh Senyawa Pelindung Na2CO3 pada Destruksi Kering Analisis Zn dalam Kedelai. dan Uji Kesukaan Crackers dengan Substitusi Tepung Ubi Kuning (Ipomea batatas L.f). Preparation of Laminated Baked Product Using Oats. Journal Food Process Technology 4:213 Purnomo. 2005. 2008. http://eprints.) dan Ikan Teri Nasi (Stolephorus sp..staff. http://eprints.) dan Tepung Beras Hitam (Oryza sativa L. M. http://repository. K. Diakses Tanggal 1 Mei 2014 Suyatmi. N.. Biokimia Teknik Penelitian.undip. http://skripsitip. Protein.ac. 2010.id. A. Pemanfaatan Asam Nitrat (HNO3) dalam Proses Pemisahan Soapstock Inti Sawit (Studi Kasus di PT.. Analisis Pangan.Wahyu Erwin Firmansyah THP-FTP-UB-2014 DAFTAR PUSTAKA Aisiyah. 2013.ub. dkk.ac. dan Air Sumur. Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk Surabaya).ac.ipb. Diakses Tanggal 3 Mei 2014 Sukarsono. Analisis Pangan.ac.undip. R.id. 2012. S. A. Japonica) dengan Flavor Alami Pisang Ambon (Musa paradisica var. dkk.A.undip. 2010. dkk. Studi efek Kerr untuk Pengujian Tingkat Kemurnian Aquades.id. N. L. ISSN: 2302-0733 Bintang. Diakses Tanggal 24 April 2014 20 . Kalsium. Jakarta: Penerbit Dian Rakyat Arifianti. E. 2012. Jurnal Teknologi Pangan Vol 1 No 1. Skripsi. Bioavailabilitas Kalsium Secara in vitro pada Susu Bubuk yang Diberi Klaim High Calsium dengan Penambahan Serat dan Tanpa Penambahan Serat yang Beredar di Pasaran.id. Skripsi. dkk. http//repository. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro Maria. PS Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang Andarwulan. sapientum). 2003. Penentuan Kadar Logam Besi (Fe) dalam Tepung Gandung dengan Cara Destruksi Basah dan Kering dengan Spektrofotometri Serapan Atom sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI) 01-3751-2006. D.ac.