Mineral-Mineral Pertanian (Agromineral

)
1. Salpeter (KNO3)

 Pengertian
Salpeter atau KNO3 adalah kimia merupakan sumber alami mineral nitrogen.
Senyawa ini tergolong senyawa nitrat, maka dari itu juga sering disebut kalium nitrat.
Pembentukannya berasal dari sumber utama Kalium nitrat ialah deposit yang
mengkristalisasikan dari dinding gua atau mengalirkan bahan organik yang membusuk.
Tumpukan kotoran juga sumber umum yang utama: amonia dari dekomposisi urea dan
zat nitrogen lainnya akan melalui oksidasi bakteri untuk memproduksi nitrat. Sifat-sifat
dari kalium nitrat atau KNO3 adalah memiliki penampilan warna putih padat, dengan
masa molar 101,103 g/mol, densitasnya atau memiliki masa jenis 2,109 g/cm3 (16 °C),
memiliki titik leleh 3340 C dan titik didih 4000 C dekomposisi dan lelarutan dalam air
13,3 g/100 ml (0 °C), 36 g/100 ml (25 °C) dan 247 g/100 ml (100 °C), Memiliki rasa
asin, Dapat larut sedikit dalam alkohol Memilki kadar racun rendah. Oleh karena sifat
ini, penggunaan saltpeter atau asam sendawa harus hati – hati dan sesuai kadarnya agar
tidak membahayakan. Distribusi nitrogen di alam dapat dibagi menjadi tiga, yaitu
nitrogen dari mantel, sedimen dan atmosfer. Kontribusi nitrogen dari mantel berkisar
dari 9 . 30% (Sano, dkk., 2001). Ini terdiri atas, nitrogen yang berasal dari busur
kepulauan sebesar 6,4 _ 108 mol/tahun; cekungan
 Pembentukan
Pembentukan saltpeter ini berasal dari sumber utama Kalium nitrat ialah
deposit yang mengkristal dari dinding gua atau mengalirkan bahan organic yang
1 |G a b b y D e p r i S ( H 1 F 0 1 2 0 8 0 )

membusuk. Tumpukan kotoran juga sumber umum yang utama. Ammonia dari
dekomposisi urea dan zat nitrogen lainnya akan melalui oksidasi bakteri untuk
memproduksi nitrat. Kalium nitrat juga dapat dibuat dari kalium klorida yang terdapat
dalam nineral sulvit dengan garam natrium nitrat. Jika larutan jenuh dari masingmasing reaksi dicampur, NaCl yang kurang larut akan mengendap. Persamaan
reaksinya adalah :
KCl(aq) + NaNO3

NaCl(s) + KNO3(aq)

Jika larutan didinginkan. Maka larutan akan megendap. Endapan ini dapat dipisahkan
kemudian dimurnikan dengan cara rekristalisasi. Kalium nitrat mengkristal dalam
bentuk prisma rombik, tetapi jika latutannya diuapkan perlahan-lahan pada kaca arloji
maka akan mengkristal dalam bentuk rombohedral isomorf.
 Sifat – sifat ( fisik, kimia, mineralogi )
Sifat-sifat yang dimiliki oleh saltpeter antara lain :
Berwarna putih padat
Massa molar 101,103 g/mol
Densitasnya 2,109 g/cm3 (16oC)
Rasanya asin
Kadar racun rendah
Memiliki titik leleh 334oC dan titik didih 400oC
Dekomposisi dan kelarutan dalam air 13,3 g/100 mL (0oC), 36 g/100 mL
(25oC) dan 247 g/100mL (1000C)
Dapat larut sedikit dengan alkohol
 Klasifikasi & sebaran ( jenis, luas, tempat )
Klasifikasi dan sebarannya di chili masih memiliki cadangan terbesar caliche,
dengan pertambangan aktif di tempat-tempat seperti Pedro de Valdivia, Maria Elena dan
Pampa Blanca.
 Penambangan
Penambangan (eksplorasi dan eksploitasi) dari salpeter ditemukan mengkristal pada
dinding-dinding gua, penambangannya dilakukan dengan cara yang sederhana dan alatnya
pun juga sederhana. Salpeter biasanya banyak di tambang di eropa, seperti inggris, dan
digunakan sebagai bahan peledak, atau bubuk mesiu pada tahun 1588.
 Pengolahan

2 |G a b b y D e p r i S ( H 1 F 0 1 2 0 8 0 )

Salah satu penerapan yang paling berguna dari kalium nitrat ialah dalam
produksi asam nitrat, dengan menambahkan asam sulfat yang terkonsentrasi pada larutan
encer kalium nitrat, menghasilkan asam nitrat dan kalium silfat yang terpisah melalui
distilasi fraksional.
Pengolahan dari pemurnian barud (mineral saltpeter mentah) direbus dengan air
minimal dan hanya menggunakan larutan panas, maka penggunaan kalium karbonat
(dalam bentuk abu kayu ) untuk menghilangkan kalsium dan magnesium oleh penguapan
karbonat dari larutan ini, meninggalkan kalium nitrat murni. Natrium nitrat juga diolah
secara sintetis dengan mereaksikan asam nitrat dengan abu soda.
 Pemanfaatan di bidang pertanian
Kegunaan salpeter dalam bidang pertanian ada beberapa yaitu dapat digunakan
untuk pertumuhan bunga dan pemacu pertumuhan bunga baru. Salah satu penerapan yang
paling berguna dari kalium nitrat ialah dalam produksi asam nitrat, dengan menambahkan
asam sulfat yang terkonsentrasi pada larutan encer kalium nitrat, menghasilkan asam nitrat
dan kalium sulfat yang terpisah melalui distilasi fraksional. Kalium nitrat juga digunakan
sebagai pupuk, sebagai model bahan pembakar rocket, Kesalahan konsepsi terkenal ialah
bahwa kalium nitrat itu antafrodisiak dan ditambahkan dalam makanan dalam adat yang
biasa dikerjakan lelaki.
Kegunaan salpeter dalam bidang pertanian ada beberapa yaitu dapat digunakan untuk
pertumbuhan bunga dan pemacu pertumbuhan bunga baru dan Pupuk ini adalah pupuk
daun dan dapat mempengaruhi pertumbuhan anggrek vanda dengan untuk pertumbuhan
bunga dan pemacu pertumbuhan bunga baru dan Pupuk ini adalah pupuk daun.
(Widiastoety, D. 2008).
 Daftar pustaka
 Warmada.staff.ugm.ac.id/Buku/agromineral.pdf
 Arsyad, 2001, kamus kimia, PT Gramedia Pustaka utama, JakartaBasri, 1996,
kamus kimia, Rineka cipta, Jakarta
 Cahyono, Bambang, 1991, Segi praktisi dan Metode pemisahan senyawa
organic, KimiaMIPA UNDIP, Semarang
 Daintith, 1994, Chemistry dictionary complete, Oxford, New york
 Petrucci, 1992, Elementary chemistry, Prentice-Hall Inc, New York
 Handoyo, 1995,Vogel, 1990, Organic analysis qualitative macro and micro,
Oxford, New york
3 |G a b b y D e p r i S ( H 1 F 0 1 2 0 8 0 )

2. Batu Fosfat Alam

 Pengertian
Batuan fosfat merupakan sumber inorganik dari fosfor (P), salah satu nutrisi
agronomi yang bersama dengan nitrogen (N) dan potassium (kalium/K) sangat penting
bagi pertumbuhan secara umum, termasuk pembentukan protein, akar, mempercepat
kematangan bijih, meningkatkan produk bijih-bijihan dan umbi-umbian, serta memperkuat
tubuh tanaman. Sebagian besar fosfat komersial yang berasal dari mineral apatit
(Ca5(PO4)3(F,Cl,OH)) adalah kalsium _uo-fosfat dan kloro-fosfat dan sebagian kecil
wavelit (fosfat aluminium hidros). Sumber lainnya berasal dari jenis slag, guano, krandalit
(caal3(PO4)2(OH)5 _H2O), dan milisit (Na,K)caal6(PO4)4(OH)9 _ 3H2O). Kandungan
fosfor pada Fosfat sangat mudah terganggu oleh kultivasi tanah yang intensif. Fosfor
masuk ke laut melalui sungai (Gambar 5.3). Pelapukan kontinen dari materi kerak bumi,
yang mengandung rata-rata 0,1% P2O4 merupakan sumber utama dari fosfor sungai.
Batuan fosfat alam adalah batuan yang berasal dari proses geokimia yang
terjadi secara alami yang biasa disebut deposit batuan fosfat. Batuan fosfat dapat di
temukan di alam sebagai batuan endapan atau sedimen, batuan beku, batuan metamorf
dan guano. Batu fosfat alam adalah batuan apatit yang mengandung fosfat cukup tinggi
sehingga dapat digunakan sebagai pupuk dengan rumus molekul Ca10(PO4,CO2)6F2.
Batu fosfat alam yang mengalami pelapukan, ion Ca bisa disubstitusi oleh ion Na dan
Mg,

dengan

rumus

molekul

berubah

menjadi

Ca10-a-bNaaMgb

(PO4)6-

x(CO3)xF0,4xF2 (McClellan, 1978).
 Pembentukan
Proses-proses pembentukan fosfat alam dapat dibedakan menjadi 3 yaitu :
Terbentuk dari pembekuan magma alkali yang mengandung mineral fosfat apatit,
terutama fluor apatit.
4 |G a b b y D e p r i S ( H 1 F 0 1 2 0 8 0 )

Endapan fosfat sedimen yang terendapkan di laut dalam, pada lingkungan alkali
dan lingkungan yang tenang. Fosfat alam terbentuk di laut dalam bentuk calcium
phosphate yang disebut phosphorit
Hasil akumalasi sekresi pemakan ikan dan kelelawar yang terlarut dan bereaksi
dengan batugamping akibat air hujan dan air tanah.
 Sifat – sifat ( fisik, kimia, mineralogi )
Sifat-sifat yang dimiliki oleh batu fosfat alam antara lain :
Tidak larut dalam air, tetapi larut dalam kondisi asam
Ukuran butiran bervariasi, dari halus sampai kasar.
Mempunyai tingkat kelarutan tinggi pada kondisi masam
Tidak sesuai digunakan pada tanah yang bereaksi netral hingga alkalis
Mengandung berbagai unsur seperti Ca, Mg, Al, Fe, Si, Na, Mn, Cu,Zn, Mo, B,
Cd, Hg, Cr, Pb, As, U, V, F, Cl. Unsur utama di dalam fosfat alam antara lain P,
Al, Fe, dan Ca.
Batuan fosfat alam dapat dikatagorikan menjadi fosfat alam dengan dominasi
Ca-P atau Al-P dan Fe-P
Sebagian fosfat alam ditemukan dalam bentuk apatit. Pada umumnya deposit fosfat alam
berasal dari batuan sedimen dalam bentuk karbonat fluorapatit yang disebut francolite (Ca10-xyNaxMgy(PO4)6-z(CO3)zF0,4zF2),

sedangkan deposit berasal dari batuan beku dan metamorfik

biasanya dalam bentuk fluorapatit (Ca10(PO4)6F2) dan hidroksi apatit (Ca10(PO4)6(OH)2). Adapun
deposit yang berasal dari ekskresi burung dan kelelawar (guano ) umumnya ditemukan dalam bentuk
karbonat hidroksi apatit (Ca10(PO4,CO3)6(OH)2). Mineral lain seperti kuarsa, kalsit, dan dolomit
umumnya juga ditemukan dalam mineral apatit sebagai secondary mineral.
 Klasifikasi & sebaran ( jenis, luas, tempat )
Klasifikasi fosfat alam (berdasarkan proses pembentukan) yaitu :
a. Fosfat primer (fosfat batuan beku-apatit) : terbentuk dari pembekuan magma alkali
yang mengandung mineral fosfat apatit, terutama fluor apatit [Ca5(PO4)3F]. endapan
ini berasosiasi dengan batuan beku alkali kompleks (sienit), sedangkan mineral
fosfat primernya adalah apatit. Fosfat jenis ini tidak terdapat di Indonesia.
Produksinya sekitar 15 – 20 %.
b. Fosfat sedimenter : endapan fosfat sedimen yang terendapkan di laut dalam, pada
lingkungan alkali dan lingkungan yang tenang. Endapat sedimennya terdapat pada
batuan fosfat, gampingan fosfatan dan pasir fosfatan. Batuan fosfat sedimen di

5 |G a b b y D e p r i S ( H 1 F 0 1 2 0 8 0 )

lapangan dapat ditest dengan larutan Ammonium Molybdat selanjutnya batuannya
akan mejadi kuning. Produksi endapan ini sekitar 75 - 80%.
c. Fosfat guano : hasil akumulasi sekresi burung pemakan ikan dan kelelawar yang
terlarut dan bereaksi dengan batugamping akibat pengaruh air hujan dan air tanah.
Batuan fosfat ini dapat terjadi dari timbunan tulang, kerang laut, kotoran kelelawar
dan burung-burung dalam gua (koprolit). Endapat jenis kaprolit mengandung
sejumlah kecil fosfat, apabila suatu produksi dimurnikan, cadangannya dapat
menjadi lebih kecil (susut). Batuan fosfat guano ini sebarannya sangat terbatas,
tidak memiliki perlapisan dan berwarna gelap. Fosfat yang terbentuk mempunyai
ikatan trikalsium fosfat yang merupakan hasil reaksi antara kotoran, urine dan
bangkai dari burung, kelelawar yang tinggal dalam gua dengan batuan dasar dan
diniding gua yang terdiri dari batugamping. Produksinya hanya sekitar 2 %.
Deposit fosfat merupakan sumber daya alam yang sangat penting dalam industri pupuk
fosfat untuk pertanian. Hanya beberapa negara yang beruntung di wilayahnya ditemukan deposit
fosfat yang ekonomis baik untuk industri pupuk maupun untukdigunakan langsung sebagai pupuk.
Deposit fosfat alam ditemukan

dalam berbagai formasi geologi seperti sebagai batuan

sedimen,batuan beku, batuan metamorfik, dan guano. Sekitar 80-90% batuan fosfat yang ditambang
berasal dari batuan sediment, 10-20% berasal dari batuan beku (FAO, 2004), dan hanya 1-2% berasal
dari guano terutama akumulasi hasil ekskresi burung dan kelelawar (van Straaten, 2002). Hampir
semua deposit batuan sedimen berupa carbonate-flourapatite yang disebut francolite , mengandung
banyak karbonat untuk substitusi fosfat yang sangat reaktif dan cocok digunakan langsung untuk
pupuk atau amelioran
Deposit fosfat sisa pelapukan ditemukan di Amerika Utara (Tennesse, USA
bagian tengah dan barat), Senegal, Kolombia,dan Amerika Selatan. Jumlah deposit
dari ratusan sampai jutaanton dan merupakan deposit yang penting karena kualitasnya
yang tinggi.
Deposit batuan terfosfatisasi berasal dari guano yangterkenal ditemukan di
pulau-pulau karang di lautan Pasifik sepertidi Pulai Nauru (50 juta t), di Kepulauan
Oceania sekitar 2-10 juta ttiap lokasi dan di lautan Hindia di Pulau Christmas (100
juta t).
Deposit guano yang besar terdapat di Chili dan Peru sebesar ratusan ribu ton yang berasal
dari guanodari ekskresi burung. Tebal lapisan deposit di Peru sampai 45 m. Dalam jumlah kecil
ditemukan di Venezuela, Equador, Brazil, Madagaskar, dan Pulau Seychelles. Sedangkan deposit
guano dari ekskresi kelelawar antara lain di Taiwan, Thailand, Philipina,Malaysia, Indonesia,
6 |G a b b y D e p r i S ( H 1 F 0 1 2 0 8 0 )

Jamaika, dan Anguila. Kandungan guano umumnya 15% N, 10-12% P2O5 sebagai bentuk yang
mudah larut dan 2% K2O. Diperkirakan fosfat alam di Pulau Jawa terjadi dengan proses semacam ini,
tetapi gua asli sebagai tempat kelelawar menimbun ekskresinya telah hilang akibat erosi dan
pelapukan sehingga tinggal deposit fosfat yang diperkaya saja. Pada umumnya kadar P2O5
dalam fosfat alam di dunia bervariasi dari 16-37% bahkan yang berasal dari batuan
beku bisa mencapai 42% P2O5. Kadar P2O5 sekitar 20-32% dalam deposit sedimen
umumnya lebih homogen.
 Penambangan
Teknik penambangan yangbiasa dilakukan dari batu fosfat alam ini dapat
dibagi menjadi 2 yaitu tambang terbuka dan tambang tanah dengan system gophering.
Penambangan batu fosfat alam pada umunya dilakukan dengan cara yang sederhana.
Hal ini terpaksa dilakukan karena cadangan batu fosfat alam sangat sedikit.
 Pengolahan
Batuan fosfat alam biasanya diolah dengan cukup sederhana. Dari hasil
penambangan tersebut batu fosfat alam yang tercampur tanah tercuci, kemudian
dipecah sampai berdiameter 3 cm, dikeringkan dengan sinar matahari, selanjutnya
digiling dan diayak sampai berupa tepung berukuran 80 mesh.
 Pemanfaatan di bidang pertanian
Batu fosfat alam umumnya dapat digunakan sebagai pupuk baik pupuk
buatan (TSP dan DSP) maupun pupuk alam untuk tanah yang masam. Batuan fosfat
sangat penting bagi pertumbuhan secara umum, termasuk pembentukan protein, akar,
mempercepat kematangan bijih, meningkatkan produk bijih-bijihan dan umbi-umbian
serta memperkuat tubuh tanaman.
Apabila tanaman kekurangan fosfor, maka tanaman itu menjadi kerdil, akar
sangat sedikit, daun menguning sebelum waktunya dan secara keseluruhan
pertumbuhan akan terhambat. Selain itu pada tanah tropis, kekurangan P merupakan
hal yang biasa, juga kekuranga kalsium (Ca), keasaman tanah tinggi, keracunan Al,
dan tipis sehingga tidak cepat diatasi, tanah akan mejadi tandus.
 Daftar pustaka
 Sukandarumidi. 1998. Bahan Galian Industri. Universitas Gadjah Mada press,
Yogyakarta.
 Setia Graha, Doddy,1987. Batuan dan mineral. Bandung: Nova

7 |G a b b y D e p r i S ( H 1 F 0 1 2 0 8 0 )

3. Guano

Kata Guano berasal dari bahasa Spanyol 'wanu' yang artinya kotoran (feces dan
urine) dari jenis burung laut (contohnya Larus argentatus), kelelawar (contohnya
Phyllonycteris aphylla) dan anjing laut. Sekarang, produk guano lebih didominasi dari
kotoran burung laut dan kelelawar saja. Terbentuk dari tumpukan sekresi (kotoran) burung
atau kelelawar yang larut oleh air (hujan) atau air tanah dan meresap ke dalam tubuh
batugamping, bereaksi dengan kalsit untuk membentuk hidroksil fluorapatit atau
Ca5(PO4)3(OH,F) dalam rekahan atau menyusup diantara perlapisan batugamping,
maupun terendapkan di dasar batugamping.
Guano atau kotoran burung laut atau kelelawar yang sudah menjadi kering dan
menumpuk di pulau-pulau kecil atau pantai dapat dijadikan sebagai pupuk organic.
Kotoran kelelawar dan burung laut yang sudah mengendap lama dalam dasar gua akan
bercampur dengan tanah dan bakteri pengurai. Karena mempunyai kandungan fosfor,
nitrogen dan potassium yang cukup tinggi,

maka sangat bagus untuk mendukung

pertumbuhan, merangsang akar dan pembuangan serta kekuatan batang tanaman.
 Pembentukan
Guano terbentuk dari tumpukan kotoran burung atau kelelawar yang larut
oleh air atau air tanah dan meresap kedalam tubuh batugamping, bereaksi dengan
kalsit untuk membentuk hidroksil fluorapatit atau Ca5(PO4)3(OH,F) dalam rekahan
atau menyusup diantara perlapisan batugamping, maupun terendapkan di dasar
batugamping. Untuk proses pembentukannya, secara alami pupuk guano ini terjadi
dengan siklus sebagai berikut:
- Kelelawar/burung pantai memakan serangga atau biji-bijian;

8 |G a b b y D e p r i S ( H 1 F 0 1 2 0 8 0 )

- Proses pengeluaran kotoran atau feces dan urine dari hewan tersebut di sekitar
sarangnya
- Kotoran tersebut dimakan kembali atau diuraikan oleh kumbang atau mikroba
lainnya hingga terbentuk pupuk guano organik.
 Sifat – sifat ( fisik, kimia, mineralogi )
Sifat-sifat yang dimiliki oleh guano antara lain :
- Berwarna hitam
- Bersifat racun
- Berbau seperti ozon
- Berbahaya dalam udara
- Larut dalam CS2
Sedangkan komposisi kimia guano terdiri dari nitrogen, goano fosfat dan
batuan fosfat yang berasal dari guano menurut Kotabe (1997) adalah :
Guano Nitrogen

Guano Fosfat

Batuan fosfat yang berasal dari

(%)

(%)

guano (%)

Nitrogen

7-17

0,5-2,0

0

Bahan organic

40-60

5-15

0-1

CaO

8-15

15-30

45-55

P2O5

8-15

10-30

35-42

<40

0-10

<1

<98

55-85

<30

K2O

1,5-2,5

2,5-3,5

<0,2

MgO

<1

<2

<0,5

SO4

<5

<6

<0,1

Komposisi

W- P2O5/TP2O5
C- P2O5/TP2O5

Keterangan :
W- P2O5 = P2O5 larut air
T- P2O5 = P2O5 total
C- P2O5 = P2O5 larut asam sitrat
Dari tabel tersebut, nampak bahwa penyusun utama guano adalah unsur
nitrogen (N), fosfor (P) dan kalsium (Ca). selain itu guano juga mengandung kalsium
(K), magnesium (Mg) dan belerang (S). kadar unsure-unsur tersebut tergantung pada
9 |G a b b y D e p r i S ( H 1 F 0 1 2 0 8 0 )

tingkat hancuran iklim dan pencucuiannya. Kadar N menurun dengan semakin tuanya
tingkat hancuran iklimnya (dengan urutan guano nitrogen – guano fosfat – batuan
fosfat yang berasal dari guano), sebaliknya kadar P dan Ca semakin meningkat dengan
semakin tuanya tingkat hancuran iklim.
Dari komposisi kimia tersebut bahwa guano nitrogen maupun guano fosfat
merupakan bahan pupuk organic yang mengandung N dan P cukup tinggi. Kandungan
nitrogen dalam guano nitrogen jauh lebih tinggi daripada yang terdapat dalam pupuk
kandang, limbah pertanian maupun sampah kota. Demikian juga halnya dengan
kandungan fosfat dalam guano fosfat merupakan bahan organic yang telah mengalami
hancuran iklim, senyawa nitrogen dan fosfat
Mineralogi guano bersifat kompleks dan tergantung pada tingkat hancuran
iklim dan pencuciannya. Deposit dalam tingkat hancuran iklim awal mengandung
ammonium larut air dan alkali oksalat, sulfat dan nitrat serta magnesium fosfat dan
ammonium-magnesium fosfat. Sebaliknya guano dalam tingkat hancuran iklim lanjut
kandungan mineral utamanya adalah kalsium fosfat. Mineral fosfat utama dalam
guano adalah karbonat-hidroxyapatit, hidroxyapatit, witlokit, brusit dan monetit.
Menurut kotabe (1997), mineral fosfat yang terdapat dalam guano nitrogen
adalah brusit (CaHPO4.2H2O) dan ammonium fosfat (NH4H2PO4 dan (NH4)2HPO4).
Mineral fosfat dalam guano fosfat adalah brusit, monetit (CaHPO4), martinit
(Cay(PO4CO3)2 dan dahlit (Ca5(PO4, CO3)3OH), sedangkan mineral fosfat dalam
batuan fosfat adalah witlokit (-Ca3(PO4)2, frankolit (Ca5(PO4, CO3)3F dan dahlit.
 Klasifikasi & sebaran ( jenis, luas, tempat )
Jenis guano yang berdasarkan asalnya dibedakan menjadi 2 yaitu :
a. Guano burung laut (sea-bird guano) adalah guano yang berasal dari kotoran burung
laut.
b. Guano kelelawar (bat guano) adalah guano yang berasal dari kotoran kelelawar.
Sedangkan berdasarkan komposisinya dibedakan menjadi 2, yaitu :
a. Guano nitrogen
b. Guano fosfat
Sedangkan guano yang berasal dari depositnya diklasifikasikan menjadi 2 yaitu :
a. Deposit gua (cave deposits), terbentuk oleh timbunan kotoran kelelawar dan kadangkadang terbentuk oleh timbunan kotoran burung atau sisa-sisa vertebrata kecil.
Terbentuknya deposit gua memiliki beberapa syarat seperti : (1) adanya batuan dasar
yang sesuai untuk terbentuknya gua, yaitu dolomite dan batugamping, (2) kondisi
10 |G a b b y D e p r i S ( H 1 F 0 1 2 0 8 0 )

iklim yang hangat dan basah untuk mendukung perkembangan populasi kelelawar
dalam jumlah banyak.
b. Deposit pulau (insular deposits), terbentuk secara langsung maupun tidak langsung
oleh timbunan kotoran burung laut dan umumnya terdapat di daerah hangat-kering
atau semiarid yang memiliki populasi burung yang banyak. Deposit ini umumnya
terbentuk di daerah lautan yang ada upwelling air dalam, dingin dan kaya P,
misalnya upwelling sepanjang zona ekuator.
Menurut Harjanto (1986), deposit guano fosfat di Indonesia umumnya adalah
deposit gua. Dalam eksplorasi sejak tahu 1919-1958 telah diumumkan deposit guano
sebanyak 22 di Sumatra, 256 di jawa dan masing-masing 2 di Nusa Tenggara dan Irian
Jaya. Deposit tersebut umumnya deposit kecil-kecil, hanya beberapa ribu ton, sehingga
hanya memungkinkan untuk eksploitasi skala kecil.
Pada tahun 1982 tim survey Direktorat Sumberdaya Mineral menemukan suatu
deposit guano yang besar di Brati, jawa Tengah dengan kadar P2O5 5%-37% (Harjanto,
1986). Namun deposit ini belum jelas klasifikasinya apakah termasuk deposit gua atau
deposit pulau.
Menurut Cook et al. (1990), deposit guano di wilayah Indonesia terdiri dari
deposit gua dan deposit pulau. Deposit tersebut tersebar di Sumatra, Jawa, Sulawesi,
Nusa Tenggara dan Irian Jaya. Selanjutnya menurut PT Central Jawa Organic Guano
(1998), deposit guano fosfat yang ada di dekat Semarang dan Pulau Madura merupakan
deposit pulau. Deposit guano pulau yang di temukan di dekat Semarang merupakan
deposit besar dengan total deposit mencapai 10 juta ton.
 Penambangan
Guano dapat ditemukan di sekitar pantai atau gua – gua yang dihuni oleh hewan
kelelawar. hewan – hewan tersebut mengeluarkan kotoran yang mengandung fosfat yang
cukup tinggi. Fosfat inilah yang akan dieksploitasi oleh para penambang. Proses
penambangan fosfat ini menggunakan alat yang berupa Excavator. Kelelawar dapat
menghasilkan tumpukan guano setiap 2 bulan dengan menghasilkan kurang lebih 2 ton
guano yang dapat dijadikan bahan pupuk.
Sedangkan tahap penambangannya dibagi menjadi 2 yaitu tambang terbuka dan
tambang bawah tanah dengan system gophering.
 Pengolahan
Tahap pengolahan dari guano ini dibagi menjadi 8 tahap yaitu :
a. Penghancuran
11 |G a b b y D e p r i S ( H 1 F 0 1 2 0 8 0 )

b. Penghalusan
c. Pencucuian
d. Pengayakan
e. Klasifikasi
f. Flotasi
g. Pengeringan
h. Pengepakan
 Pemanfaatan di bidang pertanian
Kandungan mineral dari guano adalah unsur utama seperti nitrogen, fosfor,
kalium, kalsium, magnesium, dan sulfur dengan jumlah yang bervariasi, sehingga dapat
dijadikan untuk pembuatan pupuk organic. Kandungan NPK guano dapat berubah
tergantung sumber kotoran hewan yang digunakan, jenis makanan sehari-hari si hewan,
dan penambahan unsur saat proses pembuatan di pabrik. Manfaat dari pupuk organic
dari guano ini adalah :
Memperbaiki dan memperkaya struktur tanah karena 40% pupuk ini mengandung
material organik.
Terkandung bakteria dan mikrobiotik flora yang bermanfaat bagi pertumbuhan
tanaman dan sebagai fungisida alami.
Kandungan N - P - K yang telah cocok digolongkan sebagai pupuk. Jumlah
kandungan NPK ini dapat diatur dengan cara pengaturan makanan hewan yang
digunakan.
Sangat baik jika digunakan pada pertumbuhan rumput dengan dosis dan prosedur
pemupukan yang tepat.
Mengontrol nematoda merugikan yang ada di dalam tanah.
Baik sebagai aktifator dalam pembuatan kompos.
Mempunyai daya kapasitas tukar kation (KTK) yang baik sehingga tanaman mudah
menyerap unsur yang bermanfaat dalam pupuk.
Menguatkan batang dan mengoptimalkan pertumbuhan daun baru dan proses
fotosintesis pada tanaman
Kaya akan unsur makro fosfor (P) dan nitrogen (N). Oleh karena itu jenis pupuk ini
lebih dikenal sebagai pupuk organik fosfor.
Rendah kandungan mercury dan zat berbahaya lain.
Dapat digunakan pada semua jenis tanaman baik yang berada di dalam atau di luar
ruangan.
12 |G a b b y D e p r i S ( H 1 F 0 1 2 0 8 0 )

Produk pupuk yang ramah lingkungan.

 Daftar pustaka
 Purnomo, J. 2002. Pengaruh Fosfat Alam dan Bahan Organik terhadap Kelarutan
Pupuk, Ciri Kimia Tanah, dan Efisiensi Pemupukan P pada Typic Hapludox
Situng, Sumatera, Barat. Tesis. Program Pasca Sarjana, IPB
 Harjanto, S. 1986. Phosphate deposits in Indonesia, Workshop on Occurance,
Eksploration and Development of Fertilizer Mineral, UNDP – ESCAP, Bangkok,
August 25 – September 2, 1986.
 http://www.ideaonline.co.id/iDEA/Blog/Taman/Guano-Kotoran-Burung-yangMenyuburkan

4. Potash

 Pengertian
Potash adalah nama umum untuk garam yang ditambang dan diproduksi yang
mengandung potassium dalam air yang larut. Potassium merupakan salah satu dari tiga
serangkai pupuk buatan yang esensial, yang lainnya adalah fosfor dan nitrogen dan
merupakan satu dari 17 unsur kimia yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan reproduksi
tanaman, serta sering dianggap sebagai regulator karena bergabung dengan 60 sistem
yang bekerja pada tanaman.
 Pembentukan
Mineral potash ini terbentuk dari hasil pendinginan magma yang bersifat asam.
Dimana proses terbentuknya mineral ini merupakan hasil dari diferensiansi magma yaitu
proses penurunan suhu magma disertai dengan terbentuknya mineral dari olivine,
piroksen, ampibol, biotit, plagioklas dan K-feldspar. Endapan potash juga dapat

13 |G a b b y D e p r i S ( H 1 F 0 1 2 0 8 0 )

terbenyuk oleh eluviasi. Namun endapan potash dapat dibentuk dengan jejak bahan
organic seperti sisa-sisa tanaman.
 Sifat – sifat ( fisik, kimia, mineralogi )
Sifat-sifat yang dimiliki oleh potash adalah :
Bentuk prismatic
Umunya berwarna merah hati
Kekerasannya 6 skala mohs
Komposisinya asam
Mineral silikat yang mengandung Kalium
Ditemukan sebagai senyawa denga unsure lain dalam air laut atau mineral
lainnya
Sangat cepat teroksidasi dengan udara
Sangat reaktif dengan air
Secara kimiawai mirip dengan natrium
 Klasifikasi & sebaran ( jenis, luas, tempat )
Potassium cukup melimpah di tanah, biasanya berkisar antara 0,5 – 4,0%. Dari
jumlah ini, hanya sebagian kecil yang hadir dala larutan dan siap untuk dipergunakan
oleh tanaman, umumnya kurang dari 1% dari total potassium di tanah. Potassium
merupakan salah satu unsure yang paling melimpah di kerak bumi. Kadarnya mencapai
1,9% berat.
Di Indonesia sumber daya mineral pembawa-K yang ada hanya batuan trakhitik
dan reolitik yang baru tercatat di satu lokasi yaitu G. kunyit, Lampung. Sedangkan tuff
riolitik tercatat di suatu lokasi yaitu Desa Paga, Sikka NTT. Selain itu formasi Tuff Toba
yang berkomposisi riolitik di sekitar Danau Toba juga tersebar cukup luas.
 Penambangan
Cara penambangannya tergantung dimana bahan galian potash itu berada. Bisa
dengan cara penambangan terbuka (open pit mining) atau quarying operation dan dapat
juga dengan penambangan dalam (underground mining). Penambangan bahan galian
feldspar lebih banyak dilakukan dengan cara tambang terbuka. Penambangan didahului
dengan pengupasan lapisan feldspar akan dilakukan penambangan secara selektif.
Penambangan selanjutnya dengan system teras (bench system), dengan ketinggian teras
3x5m. Sistem penambangan ini dapat menghasilkan ini dapat menghasilkan suatu front
penambangan yang aman dan memudahkan pekerjaan selanjutnya.
 Pengolahan
14 |G a b b y D e p r i S ( H 1 F 0 1 2 0 8 0 )

Pengelolaan dapat dilakukan dengan cara sederhana dengan penggilingan ,
pencucian, dan pangayakan. Penggilingan dapat dilakukan dengan Pan mill atay Pebble
mill. Cara lain dalam pengelolaannya dengan model floatasi bijih , yaitu proses
pemilahan partikel halus dengan partikel kasar dengan memanfaatkan sifat fisik dan sifat
kimia antara batas fase padat dan fase cair dan gas sehingga diperoleh mineral berharga
berupa konsentrat. Proses pengolahan ini dilakukan secara bertahap yaitu dengan
mengapungkan mineral pipih terlebih dahulu dan kotoran besi nya dihilangkan dengan
mrnggunakan pemisah magnetis atau dengan pelarut H2SO4.
 Pemanfaatan di bidang pertanian
Dalam beberapa tanaman, kebutuhan akan potassium melampaui akan nitrogen,
seperti pisang dan kapas. Potassium diserap dalam bentuk ion potassium (K+). Potassium
membantu tanaman untuk tahan terhadap pengaruh suhu dan meningkatkan daya tahan
tanaman terhadap penyakit. Semua tanaman membutuhkan potassium, khususnya
tanaman yang kaya karbohidrat seperti kentang. Hasil penyelidikan menunjukkan,
konsumsi potassium dalam jumlah yang tepat dapat pertumbuhan serat. Potassium bukan
merupakan suatu komponen dari ikatan organic pada tanaman. Unsure ini penting pada
proses siologis, termasuk di dalamnya fotosintesis dan pengangkutan gula, efisiensi
penggunaan air, metabolisme karbonat dan protein aktivasi enzim dan menjaga kualitas
tanaman.
 Daftar pustaka
 http://saidadif.blogspot.com/2012/04/potash-mineral.html
 http://indonesiacrusher.com/minerals/potash-crusher.php
 http://blog.unsri.ac.id/userfiles/Bab-3-1+Mineral+dan+Batuan.pdf
http://selvifoni.blogspot.com/2012/07/mineral-feldspar.html

15 |G a b b y D e p r i S ( H 1 F 0 1 2 0 8 0 )

5. K-Silikat

 Pengertian
Silikat merupakan mineral yang jumlahnya meliputi 25% dari keseluruhan
mineral yang dikenala atau 40% dari mineral yang umum dijumpai. Kelompok mineral
ini mengandung ikatan antara Si dan O. contohnya kuarsa (SiO2), zeolit-Na
(Na6[(AlO2)6(SiO2)30]24H2O)
Silikat, merupakan mineral yang jumlah meliputi 25% dari keseluruhan mineral yang
dikenal atau 40% dari mineral yang umum dijumpai. Kelompok mineral ini mengandung
ikatan antara Si dan O. Contohnya: kuarsa (sio2), zeolit-Na (Na6[(alo2)6(sio2)30] _
24H2O). Umumnya berasal dari endapan potas sedimenter yang terdiri dari silvit (kcl) atau
senyawa kompleks (K,Mg)-klorit dan -sulfat. Pupuk-K ini larut air sehingga cocok untuk
bertindak sebagai pupuk-K dan K-Mg. Tanaman sendiri menyerap K secara alamiah dari
pelapukan mineral K, kompos dan sisa tumbuhan. Akan tetapi mineral pembawa-K yang
paling umum adalah K-felspar, leusit, biotit, phlogopit, dan glukonit, serta mineral
lempung (illit), sedangkan batuan silikat kaya-K yang cepat lapuk adalah batuan volkanik
pembawa leusit. Mineral silikat kaya Ca dan Mg. Selanjutnya, pelapukan anortit (feldspar
Ca) dipercepat oleh kehadiran karbon dioksida, yang laju pelarutannya tergantung kepada
ph dan PCO2 (Berg & Banwart, 2000; Gaillardet, dkk., 1999).
 Pembentukan
Umumnya berasal dari endapan potash sedimenter yang terdiri dari silvit (Kcl)
atau senyawa kompleks (K, Mg)-klorit dan sulfat. Pupuk K ini larut dengan air sehingga
cocok untuk bertindak sebagai pupuk K dan K-Mg. Tanaman sendiri menyerap K secara
alamiah dari pelapukan mineral K, kompos dan sisa tumbuhan.

16 |G a b b y D e p r i S ( H 1 F 0 1 2 0 8 0 )

Mineral-mineral yang kaya kan unsur K terbentuk pada batuan asam dengan
asal magma yang felsic. Namun dapat juga terbetuk akibat altrasi batuan oleh kegiatan
larutan hidrotermal terutama pada tipe altrasi Potasic.
 Sifat – sifat ( fisik, kimia, mineralogi )
K-silikat merupakan salah satu mineral sedangkan mineral pembawa-K yang
paling umum di K-silikat ini adalah K-felspar, leusit, biotit, phlogopit, dan glukonit,
serta mineral lempung (illit), sedangkan batuan silikat kaya-K yang cepat lapuk
adalah batuan volkanik pembawa leusit. mineral silikat kaya Ca dan Mg.
Selanjutnya, pelapukan anortit (feldspar Ca) dipercepat oleh kehadiran karbon dioksida,
yang laju pelarutannya tergantung kepada pH dan PCO2 (Berg & Banwart, 2000;
Gaillardet, dkk., 1999).
 Klasifikasi & sebaran ( jenis, luas, tempat )
K-silikat banyak terdapat di

batuan yang kaya leusit di sekitar G. Muria,

Jepara, Jawa Tengah, yaitu batuan piroklastik, tephrit, lava basanit, leusitit dan
syenit, akan tetapi potensinya belum dikaji. Namun beberapa perusahaan pernah
dilaporkan mengusahakan batuan-batuan tersebut untuk industri keramik. Beberapa
lokasi lain, seperti G. Ringgit-Beser dan beberapa jenis batuan beku alkali di
Kalimantan bagian tengah belum sempat diselidiki, sehingga belum dapat dievaluasi
potensinya.
seperti

Secara geologi kalsium dapat diperoleh dari beberapa jenis mineral,
Ca-feldspar

(pelapukan

silikat),

(CaMg(CO3)2), gipsum (CaSO4.2H2O)

dan

kalsit/aragonit
anhidrit

(CaCO3),

(CaSO4).

dolomit

Mineral-mineral

karbonat dapat diperoleh 23 dari batuan yang tersusun oleh mineral ini, seperti
batugamping, chalk, batudolomit, dan batunapal.
 Penambangan
Penambangan dapat dilakukan dengan tambang terbuka dalm bentuk kuari
dengan sistem teras ( bench system ) atau tambang dalam.
 Pengolahan
Pengelolaan dapat dilakukan dengan cara sederhana dengan penggilingan,
pencucian, dan pangayakan. Penggilingan dapat dilakukan dengan Pan mill atau Pebble
mill. Cara lain dalam pengelolaannya dengan model floatasi bijih , yaitu proses
pemilahan partikel halus dengan partikel kasar dengan memanfaatkan sifat fisik dan sifat
kimia antara batas fase padat dan fase cair dan gas sehingga diperoleh mineral berharga
berupa konsentrat. Proses pengolahan ini dilakukan secara bertahap yaitu dengan

17 |G a b b y D e p r i S ( H 1 F 0 1 2 0 8 0 )

mengapungkan mineral pipih terlebih dahulu dan kotoran besi nya dihilangkan dengan
menggunakan pemisah magnetis atau dengan pelarut H2SO4.
K Silika biasanya dimanfaatkan untuk berbagai keperluan dengan berbagai
ukuran tergantung aplikasi yang dibutuhkan seperti dalam industri ban, karet, gelas,
semen, beton, keramik, tekstil, kertas, kosmetik, elektronik, cat, film, pasta gigi, dan lainlain. Untuk proses penghalusan atau memperkecil ukuran dari pasir silika umumnya
digunakan metode milling dengan ball mill untuk menghancurkan ukuran pasir silika
yang besar-besar menjadi ukuran yang lebih kecil dan halus, silika dengan ukuran yang
halus inilah yang biasanya bayak digunakan dalam industri.
 Pemanfaatan di bidang pertanian
Pupuk-K ini larut air sehingga cocok untuk bertindak sebagai pupuk-K
dan K-Mg. Tanaman sendiri menyerap K secara alamiah dari pelapukan mineral K,
kompos dan sisa tumbuhan. Akan tetapi mineral pembawa-K yang paling umum
adalah K-felspar, leusit, biotit, phlogopit, dan glukonit, serta mineral lempung (illit),
sedangkan batuan silikat kaya-K yang cepat lapuk adalah batuan volkanik pembawa
leusit. Banyak sumber K yang mudah larut diperdagangkan sebagai pupuk-K,
misalnya (KCl), akan tetapi garam tersebut dapat menimbulkan masalah pada
tanaman yang peka terhadap garam. Sedangkan penggunaan mineral pembawa-K yang
berstruktur silikat lebih dianjurkan, karena pupuk alam akan melepaskan nutrisi
secara lambat untuk jangka panjang, termasuk batuan fosfat, biotit, flogopit, dan
leusit yang secara berangsur melepaskan K dan Mg. Jika perlu, kecepatan
pelapasan nutrisi dapat dipercepat, tetapi untuk beberapa tanaman yang memerlukan
potasium dalam jumlah besar, seperti pisang, kelapa, dan karet, pelepasan K yang
lambat tersebut bahkan menguntungkan.
 Daftar pustaka
 https://theotherofmyself.wordpress.com/tag/mineral-silikat/
 http://id.wordpress.com/tag/mineral-silikat/

18 |G a b b y D e p r i S ( H 1 F 0 1 2 0 8 0 )

6. Fes2 dan Gipsum

 Pengertian
Gipsum merupakan agromineral yang paling umum digunakan untuk reklamasi tanah
yang terinfeksi sodium (Shainberg et al. 1989), yaitu tanah alkalin hitam („black alkaline
soilsâ‟) yang menyerap sodium dalam jumlah berlebih dalam mineral lempungnya. Pirit
(fes2) dari kelompok sulfida, merupakan mineral yang kaya akan belerang. Mineral ini
mengandung 53,3 % belerang. Secara fisik mineral ini mempunyai sistem kristal kubik,
berwarna kuning, kilap logam. Keduanya merupakan mineral golongan belerang, gipsum
kelompol sulfat bersama mineral anhidrit dan barit, sedangkan pirit adalah kelompok
sulfida bersama mineral pirotit dan kalkopirit.
Gipsum adalah salah satu contoh mineral dengan kadar kalsium yangmendominasi
pada

mineralnya.

Gipsum

yang

paling

umum

ditemukan

adalah jenis hidrat kalsium sulfat dengan rumus kimia CaSO4.2H2O. Gipsum

ada-lah

salah satu dari beberapa mineral yang teruapkan. Contoh lain dari mineral-mineral
tersebut adalah karbonat, borat, nitrat, dan sulfat. Mineral-mineral ini diendapkan di laut,
danau, gua dan di lapian garam karena konsentrasi ion-ion oleh penguapan. Ketika air
panas atau air memiliki kadar garam yang tinggi, gypsum berubah menjadi basanit
(CaSO4.H2O) atau juga menjadi anhidrit (CaSO4).Dalam keadaan seimbang, gipsum yang
berada di atas suhu 108 °F atau 42 °C dalam air murni akan berubah menjadi anhidrit
FeS2 (pirit) berasal dari bahas yunani “pyros” yang berarti api. Mineral pirit
(FeS2) juga disebut besi belerang, sering pula disebut dengan tiruan emas karena
warnanya yang kuning kecoklatan cemerlang ketika terkena sinar matahari. Pirit
termasuk mineral sulfide. Oksida besi seperti hematit dan magnetit, adalah bijih besi
primer Pirit ini tidak ekonomis karena bijih-bijih mungkin karena kecenderungan
19 |G a b b y D e p r i S ( H 1 F 0 1 2 0 8 0 )

mereka untuk membentuk konsentrasi yang lebih besar dari materi lebih mudah
ditambang.
 Pembentukan
Gipsum terbentuk dalam kondisi berbagai kemurnian dan ketebalan yang
bervariasi. Gipsum merupakan garam yang pertama kali mengendap akibat proses
evaporasi air laut diikuti oleh anhidrit dan halit, ketika salinitas makin bertambah.
Sebagai mineral evaporit, endapan gypsum berbentuk lapisan diantar batuan-batuan
sedimen batugamping, serpih merah, batupasir, lempung dan garam batu serta sering
pula berbentuk endapan lensa-lensa dalam satuan-satuan batuan sedimen. Menurut para
ahli, endapan gypsum terjadi pada zaman Permian. Endapan gypsum biasanya terdapat di
danau, laut, mata air panas dan jalur endapan belerang yang berasal dari gunung api.
Di lapangan gipsum didapatkan dalam bentuk pipih, kristalin, serabut di daerah
batugamping dan fumaroles. Konsep utama terbentuknya gypsum adalah terdapatnya
Ca2+ dan SO42+ yang disebut terakhir dapat berasal dari belerang (S) atau pirit (FeS2).
Adanya kondisi reduksi dari daerah sedimentasi yang bersifat karbonatan ( misalnya
pada batulempung ) akan menghasilkan gypsum yang berlembar pipih. Adanya fumarol
dari daerah sedimentasi yang bersifat karbonatan akan menghasilkan gips kristal.
Demikian pula adanya pirit. Disamping itu gypsum terbentuk akibat hidrotermal yang
berdekatan dengan batuan karbonat akan menghasilkan gips kristal seperti didapatkan di
daerah Ponorogo.
 Sifat – sifat ( fisik, kimia, mineralogi )
- Sifat fisik
1. Gypsum :
a. Mempunyai warna kuning, abu-abu, merah jingga dan hitam.
b. Berat jenis 2,31 – 2,35
c. Kelarutan dalam air 1,8 gr/l pada 00C yang meningkat menjadi 2,1 gr/l pada
40oC
d. Sifatnya lunak dan pejal
e. Konduktivitas rendah
2. Pirit ( FeS2)
a. Mempunyai warna kuning pucat, sering kali dengan bintik – bintik coklat
kekuningan, sedangkan varietas yang berbutir halus berwarna hitam.
b. Berat jenis 4,9 – 5,2
- Sifat kimia
20 |G a b b y D e p r i S ( H 1 F 0 1 2 0 8 0 )

1. Gypsum :
Pada umumnya mengandung SO3 = 46,5% ; CaO = 32,4% ; H2O = 20,9%
Kelarutan dalam air adalah 2,1 gram tiap liter pada suhu 400oC; 1.8gram tiap
liter pada 0oC ; 1,9gram tiap liter pada suhu 70 – 900C
Kelarutan bertambah dengan penambahan HCl atau HNO3
Adapun komposisi kimia bahan gipsum adalah:
Calcium (Ca) : 23,28 %
Hidrogen (H) : 2,34 %
Calcium Oksida (CaO) : 32,57 %
Air (H2O) : 20,93 %
Sulfur (S) : 18,62 %
Pirit :
Termasuk mineral sulfide
Bereaksi dengan besi dan air menghasilkan asam belerang
Bereaksi sangat lambat dengan oksigen dan air dari udara untuk membentuk
garam sulfur pada permukaaannya.
- Mineralogi :
1. Gypsum :
Warna

: putih, kuning, abu-abu, hitam bila tak murni

Berat jenis

: 2,31 - 2,35

Kilap

: mutiara terutama permukaan

Bentuk mineral

: Kristalin, serabut dan masif

Kilap

: sutera

Sistem Kristal

: monoklinik

Pecahan

: choncoidal

Gores

: putih

Kekerasan

: 1,5 – 2 skala mohs

2. Pirit :
Warna

: Kuning keemasan

Cerat

: Hitam kehijauan hingga hitam kecoklatan

Kekerasan

: 6 – 6,5 skala Mohs

Kilap

: Logam

Berat Jenis

: 4,9 – 5,10

Belahan

: Tidak Jelas (indistinct)

21 |G a b b y D e p r i S ( H 1 F 0 1 2 0 8 0 )

Pecahan

: Uneven

Sistem Kristal

: isometric

 Klasifikasi & sebaran ( jenis, luas, tempat )
Gypsum secara umum mempunyai kelompok yang terdiri dari gypsum batuan,
gipit alabaster, satin spar dan selenit. Gypsum juga dapat diklasifikasikan berdasarkan
tempat terjadinya yaitu endapan danau garam, berasosiasi dengan belerang, terbentuk
sekitar fumarol.
Selain itu gypsum atau batu gips dapat dikelompokkan menjadi 3 jenis yaitu
gips dalam bentuk asli ( dari alam ) atau CaSO42H2O, gips anhidrit dengan sifat cepat
mengeras ( gips tanpa air ) atau CaSO4 dan gips hemihidrat ( setengah air hablurnya )
Persebaran gypsum meliputi daerah-daerah di Indonesia, meliputi :
 Daerah Istimewa Aceh : Pante Raya, Kecamatan Trenggading, Kabupaten Aceh
Utaradidapatkan berwarna bening, berupa bongkah dengan ukuran sampai 30 cm.
 Jawa Barat : Jati, Cibareng, Teluk Jambe Kabupaten Kerawang, Cidadap
Tasikmalaya, Subang dan Sumedang
 Jawa Tengah : Jatingaleh, Semarang dan Gaplok Kabupaten Blora; Mojosari,
Sedang,Tanjung Sulang, Ngadang Kabupaten Rembang.
 Kalimantan

Timur

:

Sedadap,

Pulau

Nunukan,

Pulau

Sebatik

Kabupaten Bulungan;Sungai Belayan, Kabupaten Kutai.
 Nusa Tenggara Barat : Desa Kuta, Pujut Lombok Tengah.
 Nusa Tenggara Timur : Teun, Boutena, Lamaknen; Managa, Lamakera,
Kukuwerang Kecamatan Solor Timur (dijumpai berupa lensa-lensa pada batuan
dasit terubah),
 Sulawesi Tengah : Pulipohon Kabupaten Donggala,
 Sulawesi Selatan : Cangkareng, Kabupaten Soppeng (diperkirakan
terbentuk akibat proses penguapan air laut pada zaman Miosen-Pliosen);
Laballe, Kecamatan Ajangale Kabupaten Bone (berbentuk urat-urat pada
batulempung)
 Penambangan
Kebanyakan FeS2 ditambang dengan teknik penambangan terbuka. Tambang
terbuka ini biasanya dilakukan dengan cara overburdennya dikupas lalu dilakukan
pembongkaran dengan alat draglinedan terakhir di scraper. Selain tambang terbuka,

22 |G a b b y D e p r i S ( H 1 F 0 1 2 0 8 0 )

penambangan FeS2 dapan dilakukan dengan tambang bawah tanah. Penambangan ini
produksinya jauh lebih besar dari teknik tambang terbuka.
Sedangkan gypsum dapat ditambang dengan teknik penambangan dilakukan
dengan sistem kuari dengan peralatan sederhana ataupun dengan sistem geophering
apabila bentuk deposit sebagai retas-tretas atau mengisi bongkahan. Gips yang
diperoleh dari tempat penambangan dibersikan dari kotoran kemudian dicuci dengan
air lau dikeringkan. Apabila diinginkan dapat dibuat tepung gips, harus diubah dahulu
gibs menjadi anhidrit, dengan cara dimasukkan dalam tungku pemanas. Kelurkan gips
yang masih dalam bentuk kristal.dari oven. Gips yang telah berubah menjadi anhidrit
sipa untuk dibuat serbuk.
 Pengolahan
Pengolahan gypsum dimaksudkan untuk menghilangkan mineral pengotor yang
terkandung didalmnya serta untuk mendapatkan spesifikasi yang diperlukan industry
pemakai. Pada dasarnya garis besar pengolahan gypsum terdiri dari 3 yaitu preparasi
(pengecilan ukuran, pengayakan dll), kalsinasi dan formulasi. Tambahan proses
tersebut tidak perlu dilakukan seluruhnya, tergantung pada kualitas dan jenis gypsum
yang dibutuhkan.
BAGAN ALIR PENGOLAHAN GIPSUM
Gipsum dari tambang (mineral/batuan)

Peremukan / penghancuran 1

Pemisahan

Penghancuran II & pengayakan

Kemungkinan pengayakan

Pengeringan

Buangan

Kaslinasi

23 |G a b b y D e p r i S ( H 1 F 0 1 2 0 8 0 )

Produk gipsum
untuk semen

Penghalusan

Penghalusan

Kalsinasi

Gipsum untuk filter dan
pertanian

Stucco

Wallboard, mesin

Penghalusan

dan tungku

Campuran plaste dan
pengendapan

Produk

Produk

 Pemanfaatan di bidang pertanian
 Daftar pustaka
 Sukandarumidi. 1998. Bahan Galian Industri. Universitas Gadjah Mada press,
Yogyakarta.
 Suyoto,Ir. 2000. Aneka Bahan Galian. Bandung: ITB
 Rochman,Ir. 1988. Geologi Fisik. Makassar : Unhas
 Setia Graha, Doddy,1987. Batuan dan mineral. Bandung: Nova

7. Pumice

 Pengertian
Pumice atau batu apung adalah batuan piroklastik hasil dari letusan gunung api,
batu pumice memiliki masa jenis lebih rendah daripada air sehingga disebit batu apung.
Batuan ini terbentuk sebagai hasil dari ekspansi yang hebat dari gas-gas yang terlarut
dalam suatu lava kaya silika kental seperti riolit atau riodasit. Batuapung (pumice) adalah
24 |G a b b y D e p r i S ( H 1 F 0 1 2 0 8 0 )

batuan piroklastik yang terjadi secara alamiah berwarna muda, secara kimia dan secara
fisika tidak mengganggu, mirip dengan perlit. Batuapung mempunyai pori-pori sehingga
menjadi sangat ringan sehingga dapat mengambang diatas air.
Pumice terjadi bila magma asam muncul ke permukaan dan bersentuhan dengan
udara luar secara tiba – tiba. Buih gelas alam dengan gas yang terkandung didalamnya
mempunyai kesempatan untuk keluar dan magma membeku dengan tiba – tiba. Pumice
umumnya terdapat sebagai fragmen yang terlemparkan pada saat letusan gunung berapi
dengan ukuran dari kerikil sampai bongkah. Pumice umumnya terdapat sebagai lelehan
atau aliran permukaan, bahan lepas atau fragmen dalam breksi gunung api.
 Pembentukan
Pumice terbentuk karena magma asam muncul ke permukaan dan bersentuhan
dengan udara luar secara tiba – tiba yang umumnya terdapat sebagai lelehan atau aliran
permukaan, bahan lepas atau fragmen dalam breksi gunung api. Selain itu pumice juga
dapat dibuat dengan cara memanaskan obsidian, sehingga gasnya keluar. Pemanasan
yang dilakukan pada obsidian Krakatau, suhu yang diperlukan untuk mengubah obsidian
menjadi pumice rata-rata 8800C. Berat jenis obsidian yang semula 2,36 turun menjadi
0,416 sesudah perlakuan tersebut oleh sebab itu mengapung didalam air. Tekstur
vesikuler yang ada tersebut itu bervariasi yang berhubungan satu sama lain atau tidak
struktur skorious dengan lubang yang terorientasi. Kadang-kadang lubang tersebut terisi
oleh zeolit atau kalsit. Batuan ini tahan terhadap pembekuan embun ( frost ),tidak begitu
higroskopis (mengisap air). Mempunyai sifat pengantar panas yang rendah. Kekuatan
tekan antara 30-20 kg/cm2. Komposisi utama mineral silikat amorf.
Jenis batuan lainnya yang memiliki struktur fisika dan asal terbentuknya sama
dengan batu apung adalah pumicit, volkanik cinter, dan scoria. Sedangkan mineralmineral yang terdapat dalam batu apung adalah feldspar, kuarsa, obsidian, kristobalit, dan
tridimit .Didasarkan pada cara pembentukan (desposisi), distribusi ukuran partikel
(fragmen)

dan

material

asalnya,

endapan

batu

apung dapat

diklasifikasikan

sebagai berikut:
 Sub areal
 Sub aqueous
 New ardante; yaitu endapan yang dibentuk oleh pergerakan ke luar secara
horizontal dari gas dalam lava, yang menghasilkan campuran fragmen dengan berbagai
ukuran dalam suatu bentuk matriks.

25 |G a b b y D e p r i S ( H 1 F 0 1 2 0 8 0 )

Dari metamorfosisnya, hanya daerah-daerah yang relative ada gunung api, akan
mempunyai endapan batu apung yang ekonomis. Umur geologi dari endapan-endapan ini
antara tersier sampai sekarang. Gunung api yang aktif selama umur geologi tersebut
antara lain pada jalur pinggiran laut Pasifik dan jalur yang mengarah dari laut Mediteran
ke pegunungan Himalaya kemudian ke India Timur
 Sifat – sifat ( fisik, kimia, mineralogi )
Sifat-sifat yang dimiliki oleh pumice antara lain :
Berwarna putih, abu-abu, kekuningan sampai merah
Mempunyai sifat hydraulic
Tekstur vesikuler
Ukuran lubang bervariasi yang berhubungan satu sama lain
Mempunyai sifat penghantar panas yang rendah
Tahan terhadap pembekuan embun
Tidak begitu higroskopis (mengisap air)
Hantaran udaranya rendah
Rasio kuat tekan terhadap bebannya tinggi
Gravitasi spesifik : 0,8 gr/cm3
Ketahanan terhadap api sampai dengan 6 jam
Hilang pijar (LOl atau loss of ignition) : 6%
pH : 5
Mengandung buih yang terbuat dari gelembung berdinding gelas
Komposisi kimianya yang dimiliki pumice adalah :

Rumus Kimia

Persentasi (%)

SiO2

60 – 75

Al2O3

12 – 15

Fe2O3

0,9 – 4

Na2O

2–5

K2O

2–4

MgO

1–2

CaO

1–2

TiO2

6

SO3

6

Cl

6

26 |G a b b y D e p r i S ( H 1 F 0 1 2 0 8 0 )

Komposisi utama dari pumice ini adalah mineral silikat amorf. Selain itu ada pula
mineral feldspar, kuarsa, obsidian, kristobalit dan tridmit.
 Klasifikasi & sebaran ( jenis, luas, tempat )
Keberadaan dari batu apung atau pumice ini sangat luas di Indonesia, daerah
sebarannya meliputi :
a. Jambi : Kec. Bangko, kab Sarko (merupakan piroklastik halus yang berasal dari
satuan batuan gunung api atau tufa dengan komponen batu apung diameter 0,5 – 1,5
cm terdapat dalam formasi kasai )
b. Lampung : sekitar kepulauan Krakatau ( sebagai hasil letusan gunung Krakatau yang
memuntahkan batu apung )
c. Jawa barat : Kawah Danu, banten, sepanjang pantai laut sebelah barat ; nagreg, kab.
Bandung (berupa fragmen dalam batuan tufa); mancak, Pabuaran, Kab. Serang
d. DIY : kulon Progo pada formasi andesit tua
e. NTB : Lendangnangka, Jurit, Rempung (tebal singkapan 2-5 m sebaran 1000 ha);
Masbagik Utara kab. Lombok Timur (tebal singkapan 2-5 m sebaran 1000ha);
Kopang, Mantang Kab. Lombok Barat ; Narimaga Kab. Lombok Barat (tebal
singkapan 2-4 m)
f. Maluku : Rum, Gato, Tidore ( kandungan SiO2 = 35,92 – 67,89%; Al2O3 = 6,4 –
16,98 % )
g. NTT : Tanah Beak, Kec. Baturliang Kab Lombok
 Penambangan
Batu apung sebagai bahan galian tersingkap dekat permukaan, dan relative tidak
keras. Oleh sebab itu penambangan dilakukan dengan tambang terbuka / tambang
permukaan dengan peralatan sederhana. Pemisahan terhadapa pengotor dilakukan dengan
cara manual. Apabila dikehendaki ukuran butir tertentu proses pemecahan (grinding) dan
pengayakan dapat dilakukan.
1.

Eksplorasi

Penelusuran keterdapatan endapan batu apung dilakukan dengan mempelajari
struktur geologi batuan di daerah sekitar jalur gunung api, antara lain dengan mencari
singkapan-singkapan dengan geolistrik atau melakukan pengeboran dan pembuatan
beberapa sumur uji. Selanjutnya, dibuat peta topografi daerah yang diperkirakan
mengandung endapan batu apung dengan skala yang besar guna melakukan eksplorasi
detail. Eksplorasi detail bertujuan untuk mengetahui kualitas dan kuantitas cadangan
dengan lebih pasti. Metode eksplorasi yang digunakan diantaranya adalah dengan
27 |G a b b y D e p r i S ( H 1 F 0 1 2 0 8 0 )

pengeboran (bor tangan dan bor mesin) atau dengan pembuatan sumur uji. Dalam
menentukan metode mana yang akan dipakai, harus dilihat kondisi dari lokasi yang akan
dieksplorasi, yaitu didasarkan pada peta topografi yang dibuat padatahap penelusuran
(prospeksi). Metode eksplorasi dengan pembuatan sumur uji, diawali dengan membuat
pola empat persegi panjang (dapat juga dengan bentuk bujur sangkar) dengan jarak dari
satu titik atau dari sumur uji yang satu ke sumur uji berikutnya antara 25-50 m. peralatan
yang dipakai dalam pembuatan sumur uji diantaranya adalah cangkul, linggis, belincong,
ember dan tali. Pada eksplorasi dengan pengeboran dapat dilakukan dengan
menggunakan alat bor yang dilengkapi dengan bailer (penangkap contoh), baik bor
tangan ataupun bor mesin. Dalam eksplorasi ini, dilakukan juga pengukuran dan
pemetaan yang lebih detail untuk digunakan dalam perhitungan cadangan dan pembuatan
perencanaan tambang.
2.

Penambangan

Pada umumnya, endapan batu apung terletak dekat ke permukaan bumi, sehingga
penambangannya dilakukan dengan cara tambang terbuka dan selektif. Pengupasan
tanah penutup dapat dilakukan dengan alat -alat sederhana (secara manual)
ataupun dengan alat-alat yang mekanis, seperti bulldozer, scraper , dan lain-lain.
Lapisan

endapan

batu

apungnya

sendiri

dapat

digali

dengan

menggunakan

excavator antara lain backhoe atau power shovel, lalu dimuat langsung ke dalam
truk untuk diangkut ke pabrik pengolahan.
 Pengolahan
Untuk menghasilkan batu apung dengan kualitas yang sesuai dengan persyaratan
ekspor atau kebutuhan di sector konstruksi dan industri, batu apung dari tambang diolah
terlebih dahulu, antara lain dengan menghilangkan pengotor dan mereduksi ukurannya
Batu apung yang telah dipilah sesuai ukuran secara garis besar, proses pengolahan batu
apung terdiri atas:

Pemilahan (sorting)

Untuk memisahkan batu apung yang bersih dari batu apung yang masih banyak
pengotornya (impurities) dan dilakukan secara manual atau dengan scalping screens.

Peremukan (crushing)

Dengan tujuan untuk mereduksi ukuran, dengan menggunakan crusher, hammer
mills dan roll mills

Sizing

28 |G a b b y D e p r i S ( H 1 F 0 1 2 0 8 0 )

Untuk memilah material berdasarkan ukuran yang sesuai dengan permintaan pasar,
yang dilakukan dengan menggunakan saringan (screen).

Pengeringan (drying)

Dilakukan jika material dari tambang banyak mengandung air, yang salah satunya
dapat dilakukan dengan menggunakan rotary dryer.
Skema penambangan dan pengolahan batu apung
Digali

Dipecah sesuai ukuran

Digiling/dihaluskan

Penjemuran

Dipasarkan

Dikemas

Bahan Bangunan

Penyortiran

Limbah Batu Apung

 Pemanfaatan di bidang pertanian
Pemanfaatan di bidang pertanian yaitu dari sifat-sifat batu apung, mungkin yang bisa
dimanfaatkan adalah sifat fisik batuannya yang ringan, berpori, mampu meluluskan air,
dan material penyusunnya tidak mudah larut/lapuk. Sifat fisik ini cukup ideal bila
dimanfaatkan sebagai media tanam ala hidroponik, atau sebagai campuran media
pengganti pasir malang.
Disisi lain kandungan kimia batu apung terlihat menjanjikan, namun tidak dapat
dimanfaatkan oleh tanaman. Hal ini sehubungan dengan sifat mineral penyusun batu
apung yang resistent terhadap pelapukan atau sulit terionisasi. Padahal tanaman menyerap
unsur hara dalam bentuk ion-ion (kation maupun anion).

Daftar pustaka

Sukandarumidi. 1998. Bahan Galian Industri. Universitas Gadjah Mada press,
Yogyakarta.

29 |G a b b y D e p r i S ( H 1 F 0 1 2 0 8 0 )

8. Batu Silikat

 Pengertian
Batuan silikat merupakan bahan alami yang mengandung banyak unsur hara
esensial bagi tanaman. Pada saat ini, batuan silikat telah dimasukan sebagai salah satu
sumber hara tanaman (pupuk) dalam konsep pertanian organik (organic farming)
(Bockman et al., 1990) disamping bahan organik/kompos dan pupuk hayati
(biofertilizers). Batu silikat adalah hasil erupsi gunung berapi dan merupakan bahan
induk utama sebagian besar tanah mineral. Melalui proses biofisik dan ki-mia yang
kompleks, unsur hara pada batuan tersebut dapat terlarutkan oleh agen pelapuk batuan.
 Pembentukan
Batu silika ini terbentuk dari hasil pendinginan magma dengan suhu yang
relative dingin yaitu sekitar 800 ºC. Batu silikat ini termasuk batuan yang resisten
terhadap pelapukan dan perubahan suhu.
 Sifat – sifat ( fisik, kimia, mineralogi )
Berwarna putih
Resisten terhadap pelapukan dan perubahan suhu
Tidak mempunyai belahan
Pecahannya choncoidal
Memiliki skala kekerasan 7 skala mohs
Mempunyai kilap kaca
 Klasifikasi & sebaran ( jenis, luas, tempat )
Batuan silikat dapat dikelompokan menjadi dua kelompok berdasarkan
dominasi mineral penyusunnya, yaitu
 Kelompok batuan mafic, secara mudah dikenali dari warnanya yang kelam,
didominasi oleh mineral ferro-magnesian silikat yang mengandung banyak kation

30 |G a b b y D e p r i S ( H 1 F 0 1 2 0 8 0 )

basa seperti Mg, Ca, serta unsur hara mikro Mn, Fe, Cu, dan Zn dengan sedikit
K (<1% K2O).
 Kelompok batuan felsic (umumnya berwarna cerah) didominasi oleh mineral
kaya silika (kwarsa dan atau feldspar) mengandung sedikit

hingga

cukup

banyak unsur K (4- 20% K2O, Priyono, 2004), tetapi miskin unsur hara
mikro (Fe, Zn, Cu)
Batuan silikat sangat melimpah di Indonesia, kecuali di pulau-pulau yang tidak
terdapat atau tidak pernah/sedikit menerima kiriman hasil erupsi gunung berapi
(misalnya P. Kalimantan, beberapa bagian dari P. Sumatera, Sulawesi, Irian Jaya, dan
NTT).
 Penambangan
 Pengolahan
 Pemanfaatan di bidang pertanian
Sejak dua dekade terakhir, kemungkinan penggunaan batuan silikat sebagai
pupuk pelepas hara lambat (slow release fertilizer) telah mendapat perhatian signifikan dari para pakar ilmu tanah dan agronomi. Penggunaan pupuk batuan silikat (PBS) dalam bidang pertanian juga dikaitkan dengan pemanfaatan quarry byproducts di Australia Barat (Coroneous et al., 1996; Hinsinger et al., 1996; Bolland
dan Baker, 2000), Queensland (Coventry et al., 2001), dan Brazil (Leonardo et
al., 1987).
Batuan silikat di Indonesia sangat melimpah, tetapi penelitian ataupun
perhatian mengenai kemungkinan penggunaan PBS sebagai sumber hara tanaman
maupun amelioran tanah belum ada/sangat terbatas. Namun aplikasi PBS dalam
bidang pertanian sangat terbatas, karena pada umumnya para praktisi/petani
masih ragu akan efek-tivitas PBS. Berbagai hasil penelitian yang pernah
dilakukan,

permasalahan aplikasi PBS, serta beberapa pemikiran tentang

kemungkinan penggunaan PBS

untuk

mengatasi

masalah-masalah

praktis

usahatani dan degradasi sumberdaya lahan di Indonesia, dipaparkan dalam
tulisan

ini.

PBS Sebagai

Sumber

Hara

Tanaman-Tanaman

tingkat

tinggi

membutuhkan sekitar 17 unsur hara esensial (Welch, 1995), yaitu C, H, O, N, P, K,
Ca, Mg, S, Fe, Mn, Zn, Cu, B, Ni, Mo, Cl. Beberapa unsur tambahan (Co, Si, Na)
dibutuhkan oleh tanaman tertentu atau dalam kondisi lingkungan tertentu.
 Daftar pustaka
 http://ceritaduniawanita.blogspot.com/2011/06/batuan-silikat.html
31 |G a b b y D e p r i S ( H 1 F 0 1 2 0 8 0 )

 http://mheea-nck.blogspot.com/2011/06/agromineral-dalam-pertanian.html

9. Zeolit

 Pengertian
Zeolit merupakan senyawa alummino silikat hidrat terhidrasi dari logam alkali dan
alkali tanah (terutama Ca dan Na), dengan rumus umur Lm Alx Sig O2nH2O, dimana L
adalah logam.Sifat umum dari zeolit adalah kristal yangagak lunak dengan warna putih
coklat ataukebiru-biruan. Senyawaan kristalnya berwujud dalam sruktur tiga dimensi
yang tak terbatas dan memiliki rongga-rongga yang saling berhubungan membentuk
saluran ke segala arah dengan ukuran saluran tergantung dari garis tengah logam alkali
ataupun alkali tanah yang terdapat pada srukturnya. Dimana rongga-rongga tersebut akan
terisi oleh air yang disebut air kristal.
Jadi, zeolit merupakan senyawa alumino silikat terhidrasi yang terdiri daritetrahedral
(Si, Al) dan dikelilingi oleh atom-atom O dalam ikatan tiga dimensi.Mineral zeolit yang
paling umum dijumpai adalah (Na,K)2O, Al2O3.10SiO2.8H2O. Perbandingan antara
atom Si dan Al yang bervariasi akan menghasilkan banyak jenis atau spesies zeolit
yang terdapat di alam. Penggunaan zeolit pada umumnya didasarkan pada sifat -sifat
kimiadan fisika zeolit, seperti penyerap, penukar kation dan katalis.
 Pembentukan
Secara geologi, zeolit ditemukan dalam batuan tufa dari reaksi antara batuan tufa asam
berbutir halus dan bersifat riolitik dengan air poriatau air meteoric (air hujan). Zeolit
terbentuk dari hasil sedimentasi debu vulkanik yang telah mengalami proses alterasi. Ada
empat proses sebagai gambaran awal terbentuknya zeolit, yaitu proses sedimentasi debu

32 |G a b b y D e p r i S ( H 1 F 0 1 2 0 8 0 )

vulkanik pada lingkungan danau yang bersifat alkali, proses alterasi, proses diagenesis
dan proses hidrotermal.
1. Endapan Sedimen Vulkanik
Endapan jenis ini dicirikan oleh zona mineralogy secara lateral akibat perubahan
komposisi air danau, yaitu mulai dari indikasi debu vulkanik yang tidak teralterasi dan
tersingkap pada batas cekungan danau, diikuti oleh zona zeolit non analsimik, dan
akhirnya terbentuk zona natrium feldspar ditengah cekungan. Strukturnya sangat
sederhana, dengan ketebalan hingga beberapa meter. Daerah penyebaran cukup luas dan
mempunyai konsenterasi tinggi untuk mineral zeolit tertentu. Secara umum, dijumpai di
daerah yang bersifat asam dan kering, yang terdapat mineral klinoptilolit, eionit, khabazit
dan fillipsit.
2. Endapan zeolit yang berasal dari hasil alterasi air tanah
Endapan jenis ini dicirikan oleh lapisan tufa zeolitik yang tebal. Zona zeolitik yang
terbentuk lebih bersifat vertical disebabkan oleh perubahan komposisi kimia sebagai
akibat dari reaksi tanah. Ketebalan endapat ini dapat mencapai ratusan meter. Mineral
yang pada umumnya dijumpai adalah klinoptilolit dan mordenit.
3. Endapan zeolit jenis diagenetik
Endapan zeolit jenis ini dicirikan oleh perlapisan sampai ratusan meter dengan pola
sebaran sangat luas, namun kandungan mineral zeolit sangat rendah. Ciri lain jenis
endapan ini adalah struktur geologi yang komplek, sebgai akibat proses tektonik. Endapat
zeolit ini mengandung mineral heulandit dan laumontit.
4. Endapan zeolit hidrotermal
Endapan zeolit ini dicirikan oleh zona mineralisasi klinoptiloid dan morderit pada
derah intrusi yang terdangkal dan terdingin. Meskipun endapan zeolit jenis ini
mempunyai kadar yang tinggi, keterdapatannya di alam sangat terbatas, sehingga kurang
begitu ekonis untuk ditambang.
 Sifat – sifat ( fisik, kimia, mineralogi )
Sifat-sifat yang dimiliki oleh zeolit antara lain :
Kristalnya agak lunak dan sedikit halus
Berat jenis 2-2,4
Warna putih, coklat atau kebiru-biruan
Kristal berwujud 3 dimensi yang tak terbatas
Mineral zeolit yang terdapat di batu-batuan dapat berupa kristal tunggal (single
crystal) dengan ukuran beberapa mm.
33 |G a b b y D e p r i S ( H 1 F 0 1 2 0 8 0 )

Dense pollycrystalline aggregate; tahan dengan segala perubahan cuaca
Zeolit yang terpisah dikenal sebagai serpihan
Mineral zeolit ditemukan pada batuan sedimen
Sulit diindetifikasi dari sifat-sifat optisnya dan baru dapat diamati setelah
ditemukan XRD untuk powder
Zeolit sintesis umumnya berbentuk polikristalin
Sedangkan sifat kimia yang terkandung dalam zeolit antara lain :
 Air dalam zeolit
Zeolit mempunyai beberapa sifat antara lain mudah melepas air akibat pemanasan,
tetapi juga mudah mengikat kembali molekul air dalam udara lembab.Pada umumnya
struktur

kerangka

zeolit

akan

menyusut.

Tetap

i kerangka

dasarnya

tidak mengalami perubahan secara nyata. Disini molekul H2O seolah-olah mempunyai
posisi yang spesifik dan dapat dikeluarkan secara reversibel.
Bila merupakan bagian dari pembentuk kerangka berikatan hydrogen dengan O atau
Si-OH.
-

Bila dipanaskan secara mendadak dapat meyebabkan kerangka rusak.

- Proses hidrasi atau dehidrasi kadang irreversible.
Bila bukan merupakan bagian dari pembentuk kerangka.
- Ikatan dengan kerangka lemah membentuk ikatan Van der Waals
- Bila dipanaskan dapat terusir seluruhnya
- Proses reversible : Σ air keluar = Σ air masuk
 Pengaruh pertukaran kation
Keberadaan atom aluminium ini secara keseluruhan akan menyebababkan zeolit
memiliki muatan negatif. Muatan negatif inilah yang menyebabkan zeolit mampu
mengikat kation.Sifat zeolit sebagai penukar ion karena adanya kation logam alkali dan
alkali tanah. Kation tersebut dapat bergerak bebas didalam rongga dan dapat
dipertukarkan dengan kation logam lain dengan jumlah yang sama. Akibat struktur zeolit
berongga, anion atau molekul berukuran lebih kecil atau sama dengan rongga dapat
masuk dan terjebak. Pertukaran kation biasanya diikuti dengan perubahan yang
dramatis pada kestabilan termal, sifat adsorpsi, selektivitasdan aktivitas katalisis. Contoh
pertukaran kation :
Pertukaran kation untuk memperoleh H-zeolit
Na, K –Zeolite + NH 4+ → NH4 – Z e o l i t e + N a + + K+

34 |G a b b y D e p r i S ( H 1 F 0 1 2 0 8 0 )

NH4 – Z e o l i t e

→ H-Zeolite (dilakukan pada T tinggi, terjadi

thermolysis/ penguraian NH3)
NH4- Z e o l i t e → H - Z e o l i t e + N H 3(g)
 Faktor-faktor yang mempengaruhi sifat pertukaran kation pada zeolit adalah :
Kation: jenis, ukuran (terhidrat / anhidrat)
Suhu mempengaruhi kinetika reaksi
Konsentrasi kation dalam larutan
Anion yang berpasangan dengan kation tersebutdalam larutan
Pelarut (sebagian besar pertukaran ion dilakukan dalam pelarut
air,aqueous)
 Kemampuan sebagai katalis
Kemampuan zeolit sebagai katalis berkaitan dengan tersedianya pusat- pusat aktif
dalam saluran antar zeolit. Pusat-pusat aktif tersebut terbentuk karena adanya gugus
fungsi asam tipe Bronsted maupun Lewis. Perbandingan kedua jenis asam ini tergantung
pada proses aktivasi zeolit dan kondisi reaksi.Pusat-pusat aktif yang bersifat asam ini
selanjutnya dapat mengikat molekul-molekul basa secara kimiawi.Sifat katalitis
zeolit disebabkan kation pada atom Al zeolit yang dapat dipertukarkan dengan ion
H dan aktif sebagai katalisis reaksi.

Dari segi mineralogi, zeolit umumnya didefinisikan sebagai kristal alumina
silika yang berstruktur tiga dimensi, yang terbentuk dari tetrahedral alumina dan silika
dengan rongga-rongga di dalam yang berisi ion-ion logam, biasanya alkali atau alkali
tanah dan molekul air yang dapat bergerak bebas. Secara empiris, rumus molekul zeolit
adalah Mx/n.(AlO2)x.(SiO2)y.xH2O. Struktur zeolit sejauh ini diketahui bermacam-macam,
tetapi secara garis besar strukturnya terbentuk dari unit bangun primer, berupa tetrahedral
yang kemudian menjadi unit bangun sekunder polihedral dan membentuk polihendra dan
akhirnya unit struktur zeolit. Berikut adalah beberapa contoh jenis mineral zeolit beserta
rumus kimianya :
Nama Mineral

Rumus Kimia Unit Sel

Analsim

Na16(Al16Si32O96). 16H2O

Kabasit

(Na2,Ca)6 (Al12Si24O72). 40H2O

Klipnoptolotit

(Na4K4)(Al8Si40O96). 24H2O

Erionit

(Na,Ca5K) (Al9Si27O72). 27H2O

35 |G a b b y D e p r i S ( H 1 F 0 1 2 0 8 0 )

Ferrierit

(Na2Mg2)(Al6Si30O72). 18H2O

Heulandit

Ca4(Al8Si28O72). 24H2O

Laumonit

Ca(Al8Si16O48). 16H2O

Mordenit

Na8(Al8Si40O96). 24H2O

Filipsit

(Na,K)10(Al10Si22O64). 20H2O

Natrolit

Na4(Al4Si6O20). 4H2O

Wairakit

Ca(Al2Si4O12). 12H2O

 Klasifikasi & sebaran ( jenis, luas, tempat )
Klasifikasi zeolit dibagi menjadi 3 yaitu :
1. Berdasarkan cara dan lingkungan terbentuknya
a. Zeolit yang terbentuk pada suhu yang tinggi, dimana masing-masing suhu tertentu
akan terbentuk jenis zeolit tertentu pula. Yang termasuk dari grup ini adalah akibat dari
proses magmatic primer, proses metamorfisme kontak, hidrotermal, proses penurunan
dan pengangkatan lingkungan pembentukannya dengan disertai metamorfisme regional.
b. Zeolit yang terbentuk didekat permukaan lingkungan sedimentasinya dengan
perubahan proses kimia merupakan factor utama. Yang termasuk dalam grup ini adalah
sebagai akibat pengaruh pergerakan air tanah, pelapukan ataupun karena sifat alkalin
pada saline lake deposits.
c. Zeolit yang terbentuk pada suhu rendah pada lingkungan pengendapan laut.
d. Zeolit yang terbentuk sebagai akibat dari terbentuknya craters di lingkungan dasar
laut yang menghasilkan fast hidrotermal zeolitization dan gelas vulkanik.
2. Berdasarkan rasio Si/Al
a. Zeolit silika rendah dengan perbandingan Si/Al adalah 1:5, memiliki konsentrasi
kation paling tinggi, dan mempunyai sifat adsorpsi yang optimum, contoh zeolit silika
rendah adalah zeolit A dan X
b. Zeolit silika sedang, yang mempunyai perbandingan Si/Al adalah 2:5, contoh
zeolit jenis ini adalah Mordernit, Erionit, Klinoptilolit, zeolit Yc.Zeolit silika tinggi,
dengan perbandingan kadar Si/Al antara 10:100, bahkan lebih, contohnya adalah ZSM-5.
3. Berdasarkan bahan baku pemanfaatannya

36 |G a b b y D e p r i S ( H 1 F 0 1 2 0 8 0 )

a. Zeolit alam merupakan jenis zeolit yang tersedia di alam. Pada saat ini
dikenal sekitar 40 jenis zeolit alam, meskipun yang mempunyai nilai komersial
ada sekitar 12 jenis, diantaranya klinoptilolit, mordernit, filipsit, kabasit dan erionit
b. Zeolit sintetik adalah suatu senyawa kimia yang mempunyai sifat
fisik dan kimia yang sama dengan zeolit yang ada di alam, dibuat dari bahan lain
dengan proses sintetis, dimodifikasi sedemikian rupa sehingga menyerupai zeolit yang
ada di alam.(Kusumaningtyas, 2003)
Sedangkan mempertimbangkan kegunaan zeolit yang cukup bervariasi, pencarian
endapat zeolit terus dilaksanakan. Tempat – tempat yang sudah diketahui keberadaannya
adalah :
a. Jawa Barat: Desa Naggung, Bogor ; Bayah kab. Lebak; Geger Bitung,
Limusnunggal, Cisaru, Cisolok, Cikembar, kab. Sukabumi ; Cikalong Kab. Tasikmalaya;
Leuwidamar Kab. Lebak;
b. Jawa Tengah : Wadaslintang Kab. Wonosobo
c. DIY : Nanggulan, Kab. Kulon Progo
d. Jawa Timur : Slahung, Ngendut, Kab. Ponorogo; Kalitengah, Kab. Blitar;
Tambarejo; Kab. Malang; Wonosidi Kab. Pacitan.
e. NTT : Kec. Nangapada, Kab. Ende

 Penambangan
Untuk mendapatkan zeolit alam diperlukan adanya penambangan. Dalam proses
penambangan ada tiga hal utama yang dilakukan yaitu eksplorasi, eksploitasi dan
pemrosesan.
1. Eksplorasi merupakan proses pencarian mineral berharga
Eksplorasi dapat dilakukan dengan melakukan pencarian lokasi, pengambilan sample
dan identifikasi sample batuan tambang yang diduga mengandung mineral zeolit.
Identifikasi ini dapat dilakukan dengan mengguakan alat difraktometer sinar-x pada
sample zeolit alam yang telah diaktifkan. Zeolit diktifasi dengan cara pemanasan batuan
sampel pada suhu ±200oC selama 3 jam. Kemudian melakukan uji daya serap terhadap
mentilen. Uji ini melibatkan zeolit 600 mg yang disuspensikan kedalam 100ml aquades
yang telah ditambahkan mentilen (zat warna biru) pada konsenterasi 6 ppm, dikocok
dengan sheker padasuhu 370oC. Setelah satu jam zeolit alam dipisahkan dengan
centrifugsi. Selanjutnya filtrate diukur serapannya menggunakan spektro uv-vi pada

37 |G a b b y D e p r i S ( H 1 F 0 1 2 0 8 0 )

panjang gelombang 664,5 nm. Daya serap zeolit alam terhadap mentilen dapat diketahui
dengan menghitung kadar awal dikurangi kadar yang tidak terserap zeolit alam dibagi
kadar awal x 100%. Selain menggunakan mentilen zeolit alam juga dapat diuji dengan
kuinin HCL.
2. Eksploitasi merupakan proses penambangan mineral tersebut
Umumnya bahan galian industri terdapat di dekat permukaan tetapi juga ada yang
terdapat dan terkumpul dibawah pemukaan tanah yang relative agak dalam, selain itu
bahan galian tersebut ada yang keras, lunak dan kompak. Biasanya bahan galian industri
ditambang dengan cara digali, disemprot dengan pompa tekanan tinggi, dan disedot
dengan pompa hisap. Berdasarkan tempatnya, eksploitasi dapat pula dilakukan dengan
cara
- tambang terbuka yaitu semua aktifitas penambangan dilakukan dipermukaan bumi
- tambang bawah tanah,
- peledakan
Untuk bahan galian zeolit, Kebanyakan zeolit yang mempunyai nilai ekonomi, terletak
didekat permukaan. Oleh karenanya penambangan dilakukan dengan system kauri baik
dengan mengunakan alat mekanik semi mekanik ataupun peralatan sederhana.
Penambangan dengan system kauri dapat dilakukan beberapa tahap yaitu:
- pengupasan tanah penutup (landclearing)
- bagian tanah penutup yang subur setelah dikupas, dapat dipindahkan ke
tempat penimbunan.
Kebanyakan zeolit yang mempunyai nilai ekonomis, terletak didekat permukaan. Oleh
karenanya, penambangan dilakukan dengan system kuari baik dengan mempergunakan
alat mekanik, semi mekanik ataupun peralatan sederhana.
 Pengolahan
Pengolahan zeolit bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah. Pada prinsipnya
pengolahan dilakukan dengan 2 tahap yaitu :

 Tahap preparasi
Dengan mempertimbangkan zeolit mempunyai tingkat kekerasan yang rendah maka
preparasi dengan memggunakan mesin giling (mill) yang mampu memproduksi sampai
ukuran lebih kecil dari 100 mesh dan mengkombinasikan dengan system siklun untuk
dapat mengelompokan hasilnya menjadi fraksi-fraksi. Umpan untuk mesin giling ini
dapat berupa hasil pemecahan secara manual yang berukuran 3 cm ataupun dapat
dilakukan dengan mesin pemecah. Ketidakmampuan siklun dalam memisahkan menjadi
38 |G a b b y D e p r i S ( H 1 F 0 1 2 0 8 0 )

fraksi, menyebabkan masih diperlukan proses pengayakan. Apabila tahap ini sudah
selesai untuk keperluan khusus masih memerlukan pengolahan aktipasi.

 Proses Aktipasi
Proses ini dilakukan dengan pemanasan dan atau dengan pereaksi zat yang
dipergunakan pereaksi adalah NaOH dan H2SO4.
 Pemanfaatan di bidang pertanian
Zeolit makin banyak digunakan dalam industri budaya air (Aquaculture), pertanian,
hortikultura, industri kimia, konstruksi, pengaturan bahan buangan dan untuk penggunaan
domestik

(Clifton

1987;

Mumpton

1984;

Parham

1989).

Dalam

bidang

agrikultural/hortikultural zeolit digunakan sebagai:
Bahan imbuh makanan hewan,
Sebagai bahan imbuh tanah dan kompos,
Sebagai pembawa pestisida dan herbisida,
Sebagai media tanam.
Zeolit alam, seperti klinoptilolit (Na6[(alo2)6(sio2)30] _ 24H2O)
Dan mordenit (Na8[(alo2)8(sio2)40] _ 24H2O) sering ditambahkan pada pakan ternak
untuk meningkatkan e_siensi pakan, dan mengurangi masalah kesehatan
Pemanfaatan tepung zeolit (sebelum aktipasi) dari jenis klinoptiloit pada tanah
pertanian dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman. Hal ini sebagai akibat
kemampuan zeolit terhadap kapasitas penyimpana (adsorpsi) dan penyimpanan (retensi)
ammonium dan kalium. Dengan adanya penambahan zeolit pada tanah maka proses
nitrifikasi dapat lebih ditingkatkan. Percobaan pemberian zeolit dan kapur serta dengan
pemupukan N, P dan K telah dicoba pada tanah podsolik merah kuning. Hasilnya dapat
meningkatkan hasil tanaman kedelai dan jagung
Pemberian kapur dan zeolit berpengaruh terhadap sifat kimia tanah seperti
peningkatan kalsium, kalium pH tanah dan penurunan alumunium, sehingga berpengaruh
nyata terhadap peningkatan hasil tanaman kedelai dan jagung, tetapi tidak berpengaruh
pada kapasitas tukar kation (KTK), nitrogen dan factor yang tersedia. Terjadi interaksi
yang nyata antara pemberian kapur dan zeolit terhadap berat biji kedelai dan jagung.
Berdasarkan kepada Kapasitas Pertukaran Kation dan retensivitas terhadap air yang
tinggi, zeolit sekarang ini telah banyak digunakan untuk memperbaiki sifattanah atau
untuk efisiensi unsur hara pada pupuk ataupun pada tanah itu sendiri,misalnya saja pada
tanah latosol. Berdasarkan kriteria penilaian sifat kimia tanah,tanah latosol mempunyai
pH sangat masam (4.44), KTK tanah termasuk rendah,kejenuhan basa sangat rendah, C
39 |G a b b y D e p r i S ( H 1 F 0 1 2 0 8 0 )

organik sedang, N total sangat rendah dankejenuhan alumunium tinggi. Secara
keseluruhan tanah ini mempunyai tingkatkesuburan rendah.
Padahal kita ketahui bahwa tanaman darat dapat tumbuh baik pada tanah yang gembur
dan subur, maka agar tanaman dapat tumbuh baik pada tanah latosol, perlu dilakukan
usaha untuk meningkatkan kesuburan tanah. Salah satu usaha yang dilakukan antara lain
dengan penambahan bahan amelioran seperti zeolit. Penambahan zeolit dapat
meningkatkan jumlah unsur K, Ca, Mg dan Na serta meningkatkan KTK tanah. Hal
ini bisa terjadi karena zeolit memiliki kemampuan mempertukarkan kation –kation.
Prinsipnya adalah, kation–kation yang dimiliki berupa alkali dan alkali tanah pada
struktur zeolit dapat bergerak bebas, sehingga dengan adanya dorongan keluar oleh ion
H+, kation seperti K, Ca, Mg dan Na dapat berpindah dari zeolit ke medium tanah yang
dapat menyebabkan suplai basa –basa.
Selain itu zeolit mengandung unsur-unsur hara makro dan mikro yang dapat
disumbangkan ke dalam tanah. Penambahan zeolit dapat memperbaiki agregasi tanah
sehingga meningkatkan pori-pori udara tanah yang berakibat merangsang pertumbuhan
akar tanaman. Luas permukaan akar tanaman menjadi bertambah yang berakibat
meningkatnya jumlah unsur hara yang dapat diserap oleh tanaman
Untuk memperoleh manfaat tersebut zeolit dapat digunakan dengan bebagai cara, di
antaranya adalah dengan cara ditebarkan langsung ke tanah sebagai bahan pembenah
tanah, dicampur dengan pupuk untuk meningkatkan efisiensinya, ataudapat juga
dicampurkan langsung pada media tumbuh tanaman.
 Daftar pustaka
 Sukandarumidi. 1998. Bahan Galian Industri. Universitas Gadjah Mada press,
Yogyakarta.
 Bell, R.G., 2001, “Promoting The Science of Nanoporous Materials”, British
Zeolite

Association

Publications,

LondonChristine

Elizabeth

Kaharmen.

2008

Flanigen, E.M., 1991, “Zeolite and Molecular Sieves AnHistorical Perspective”,Elsevier
Science Publishers B.V., New York Geofact, 2010.
 Kusumaningtyas, Ayu Endarti. 2003. “Pemanfaatan Zeolit Sebagai AdsorbenUntuk
Mengolah Limbah Industri dan Radioaktif”. Malang : Universitas Negeri Malang.
 Saputra,

R.

2006. Pemanfaatan

Zeolit

Sintesis

Sebagai

Alternatif

Pengolahan Limbah Industri.)
 Sutarti, M dan Rachmawati,M. 1994. Zeolit Tinjauan Literatur,Pusat
Dokumentasi dan Informasi Ilmiah. LIPI: Jakarta.
40 |G a b b y D e p r i S ( H 1 F 0 1 2 0 8 0 )

 http://www.chemistry.org/artikel_kimia/kimia_material/zeolit_sebagai_mineral_ser
ba_guna/

10. Abu Gunung Api

 Pengertian
Abu gunung api atau sering disebut juga pasir vulkanik atau jatuhan
piroklastik adalah bahan material vulkanik jatuhan yang disemburkan ke udara saat
terjadi suatu letusan, terdiri dari batuan berukuran besar sampai berukuran halus. Batuan
yang berukuran besar (bongkah - kerikil) biasanya jatuh disekitar kawah sampai radius 5
– 7 km dari kawah, dan yang berukuran halus dapat jatuh pada jarak mencapai ratusan
km bahkan ribuan km dari kawah karena dapat terpengaruh oleh adanya hembusan
angin. Sebagai contoh letusan G. Krakatau tahun 1883 dapat mengitaribumi berharihari, juga letusan G. Galunggung tahun 1982 dapat mencapai Australia. Abu vulkanik
merupakan anugrah ilahi dapat digunakan sebagai bahan pozolan karena mengandung
unsur silika dan alumunia sehingga dapat mengurangi penggunaan semen sebagai bahan
bangunan.
Komposisi mineralogy dari abu gunung api ini tidak jauh berbeda dengan
komposisi batuan atau magma asal. Apabila letusan dari gunung api tidak terlalu kuat
sehingga tidak mampu menghamburkan material yang terbawa dari dalam perut bumi,
maka pembentukan kepundan akan terjadi dan penumpukan pasir akan terjadi disekitar
kepundan.
 Pembentukan
Terdapat tiga mekanisme pembentukan abu vulkanik:
41 |G a b b y D e p r i S ( H 1 F 0 1 2 0 8 0 )

1. Pelepasan gas sesuai dekompresi menyebabkan letusan magmatik;
2. Kontraksi termal dari pendinginan pada kontak dengan air yang menyebabkan
letusan freatomagmatik,
3. Pengusiran partikel entrained selama letusan uap menyebabkan letusan freatik.
Sifat kekerasan dari letusan gunung berapi berkaitan dengan hasil uap dalam
magma dan batuan padat sekitar lubang yang robek menjadi partikel tanah liat
hingga berukuran pasir. Abu vulkanik dapat mengakibatkan gangguan pernafasan
dan kerusakan pada mesin dan awan yang mengandung abu dapat mengancam
pesawat serta mengubah pola cuaca.
Abu tersimpan di tanah setelah letusan yang dikenal sebagai deposit hujan abu.
Akumulasi signifikan dari hujan abu dapat menyebabkan kerusakan langsung sebagian
besar ekosistem setempat serta runtuhnya atap pada struktur buatan manusia. Seiring
waktu, hujan abu dapat menyebabkan pembentukan tanah subur. Hujan abu juga bisa
menjadi saling merekat membentuk batu yang disebut dengan Tuff. Seiring waktu
geologis, pengeluaran abu dalam jumlah besar dapat menghasilkan sebuah kerucut abu.
Ketika abu mulai turun pada siang hari, langit menjadi kabur dan berwarna
kuning pucat. Hujan abu tersebut dapat menjadi sangat padat/pekat sehingga siang hari
langit menjadi abu-abu gelap gulita, dengan abu yang sangat membatasi pandangan dan
mematikan suara. Langit abu gelap menurunkan suhu di siang hari. Petir yang keras,
kilatan petir serta bau belerang yang kuat mengiringi hujan abu. Jika hujan menyertai
sebuah hujan abu., partikel-partikel kecil berubah menjadi bubur lumpur yang licin.
Hujan dan petir yang bercampur dengan abu dapat menyebabkan listrik padam,
kerusakan komunikasi, dan disorientasi.
 Sifat – sifat ( fisik, kimia, mineralogi )
Sifat-sifat yang dimiliki oleh abu gunung api ini antara lain :
Ukuran besar butir nya sangat kecil sebesar 2 mm atau 0,001 mm (1/25000
inci).
Sebagian besar berwarna putih keabu-abuan.
Secara mikroskopis, berbentuk runcing.
Mengandung unsur sulfur dan silica
Terdapat unsure Cu dan Fe yang berfungsi sebagai mikro element
Bersifat asam
Dapat meningkatkan pH tanah
Kandungan mineral berupa mineral allophan ( alumina silikat amorf )
42 |G a b b y D e p r i S ( H 1 F 0 1 2 0 8 0 )

 Klasifikasi & sebaran ( jenis, luas, tempat )
Abu gunung api merupakan produk vulkanisme, dengan demikian pasir gunung
api didapatkan disekitar disekitar gunung api baik aktivitasnya terjadi pada zaman
Tersier maupun Kuarter. Beberapa tempat yang telah diusahakan oleh masyarakat
antara lain :
1. Jawa Barat : S. Cikunir, G. galunggung, Kab. Tasikmalay; Cicurug Leles Kab.
Garut; desa Cipeundeug, Kab. Subang; Komplek Legok, Kec. Ciawigebeng, Kab.
Kuningan; Desa Lebak Mekar, Kab. Cirebon.
2.Jawa Tengah: G. Merapi; G. Muria, Kudus
3. Jawa Timur: G. Bromo
 Penambangan
Cara penambangan abu vulkanik yang dengan cara open pit minning
dimana abu vulkanik ini ditambang secara terbuka di atas permukaan tanah. Lalu
selanjutnya abu vulkanik ini di proses sebagai bahan baku seman geopolimer. Abu
vulkanik yang tidak ditambang bisa digunakan sebagai pupuk.
 Pengolahan
Abu vulkanik dapat dimanfaatkan sebagai beikut :
1. Bahan baku untuk pembuatan semen geopolimer. Geopolimer merupakan semen
yang diaktivasi dengan larutan alkali. Bahan baku yang terdiri dari aluminium dan
silikon akan larut dalam larutan alkali yang tinggi. Selanjutnya unsur yang larut
kemudian mengalami polimerisasi/polikondensasi untuk menghasilkan material
dengan sifat mekanik yang diinginkan.
2. Sebagai pupuk.
Abu vulkanik yang tidak tambang ata dibiarkan saja maka lama kelamaan akan
berkembang menjadi tanah andisol, tanah ini merupakan tanah sangat sumur karena
banyak mengandung humus, sehingga tanah ini bisa digunakan sebagai pupuk.
 Pemanfaatan di bidang pertanian
Manfaat abu vulkanik bagi bidang pertanian adalah :
1. Dapat menjadi sumber unsure hara bagi tanaman, karena di dalam abu terdapat atau
terkandung unsure sulfur dan silica sehingga mempermudah penyerapan unsure hara
tanaman.
2. Akan meningkatkan pH tanah yang cenderung asam
3. Lapisan tanah yang dilapisi abu vulkanik kemudian menjadi sangat kaya mineral dan
bias menumbuhkan aneka tanaman dengan baik tanpa memerlukan tambahan pupuk
43 |G a b b y D e p r i S ( H 1 F 0 1 2 0 8 0 )

4. Penjernih air, pola silica yang berujung runcing membuat kemampuan menyerap
partikel.
 Daftar pustaka

Sukandarumidi. 1998. Bahan Galian Industri. Universitas Gadjah Mada press,
Yogyakarta.

http://id.shvoong.com/exact-sciences/physics/2072011-abu-vulkanik/

44 |G a b b y D e p r i S ( H 1 F 0 1 2 0 8 0 )