You are on page 1of 16

Asuhan Keperawatan

Jumat, 10 Mei 2013


ASKEP Hirschsprung

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Hirschsprung atau mega kolon kongenital merupakan penyakit yang menyebabkan
gangguan pada saluran pencernaan, tepatnya pada usus besar. Hirschsprung atau mega kolon
congenital juga dikatakan sebagai suatu kelainan kongenital dimana tidak terdapatnya sel
ganglion parasimpatis dari pleksus auerbach di kolon, keadaan abnormal tersebutlah yang
dapat menimbulkan tidak adanya peristaltik dan evakuasi usus secara spontan, spinkter
rektum tidak dapat berelaksasi, tidak mampu mencegah keluarnya feses secara spontan,
kemudian dapat menyebabkan isi usus terdorong ke bagian segmen yang tidak ada ganglion
dan akhirnya feses dapat terkumpul pada bagian tersebut sehingga dapat menyebabkan
dilatasi usus proksimal. Penyakit hirschprung atau mega kolon congenital dapat terjadi pada
semua usia, namun yang paling sering pada neonatus.
Pasien dengan penyakit Hirschsprung pertama kali dilaporkan oleh Frederick Ruysch
pada tahun 1691, tetapi yang baru mempublikasikan serta mendeskripsikan mega colon
congenital pada tahun 1863 adalah Harald Hirschsprung. Namun, pada saat itu patofisiologi
terjadinya penyakit ini tidak diketahui secara jelas. Hingga tahun 1938, dimana Robertson
dan Kernohan menyatakan bahwa megakolon yang dijumpai pada kelainan ini disebabkan
oleh gangguan peristaltik dibagian distal usus defisiensi ganglion. Penyakit hirschprung
terjadi pada 1/5000 kelahiran hidup. Insidensi hirschsprung di Indonesia tidak diketahui
secara pasti, tetapi berkisar 1 diantara 5000 kelahiran hidup. Dengan jumlah penduduk
Indonesia 200 juta dan tingkat kelahiran 35 permil, maka diprediksikan setiap tahun akan
lahir 1400 bayi dengan penyakit hirschsprung. Insidens keseluruhan dari penyakit
Hirschsprung 1: 5000 kelahiran hidup. laki-laki lebih banyak diserang dibandingkan
perempuan dengan perbandingan 4:1. Biasanya, penyakit Hirschsprung terjadi pada bayi
aterm dengan berat lahir 3kg dan jarang pada bayi prematur. Penyakit ini mungkin disertai
dengan cacat bawaan dan termasuk sindrom down, sindrom waardenburg serta kelainan
kardiovaskuler.
Penyakit ini ditemukan tanda dan gejala yaitu adanya kegagalan mengeluarkan
mekonium dalam waktu 24-48 jam setelah lahir, muntah berwarna hijau dan konstipasi.
faktor penyebab penyakit Hirschsprung diduga dapat terjadi karena faktor genetik dan faktor
lingkungan.
Oleh karena itu, penyakit Hirschsprung sudah dapat dideteksi melalui pemeriksaan
yang dilakukan seperti pemeriksaan radiologi, barium, enema, rectal biopsi, rectum,
manometri anorektal dan melalui penatalaksanaan dan teraupetik yaitu dengan pembedahan
dan colostomi.

B. Tujuan Penulisan
Tujuan Umum
Untuk memperoleh informasi tentang penyakit yang menyerang pada sistem pencernaan
Tujuan Khusus
Untuk memahami tentang hirschprung atau mega colon congenital dan asuhan keperawatan
pada pasien dengan penyakit hirschprung atau mega colon kongenital

C. Manfaat Penulisan
Bagi Mahasiswa
Mahasiswa dapat mengetahui mengenai konsep dasar dan asuhan keperawatan pada pasien
dengan penyakit hirschprung atau mega colon congenital
Bagi Masyarakat
Masyarakat dapat mengetahui tentang gangguan pada system pencernaan khususnya tentang
penyakit hirschprung atau mega kolon congenital secara lengkap.

D. Sistematika Penulisan
Pada bab 1 dalam makalah ini dibahas tentang latar belakang, tujuan, manfaat serta
sistematika penulisan dari makalah ini. Pada bab 2 dibahas definisi, etiologi, anatomi
fisiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, pemeriksaan penunjang, penatalaksanaan,
prognosis dan pathway dari hirschprung atau mega colon congenital. Pada bab 3 dibahas
asuhan keperawatan pada pasien dengan penyakit hirschprung atau mega colon kongenital.
Pada bab 4 berisi kesimpulan dan saran.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi
Penyakit Hirschsprung (mega kolon kongenital) adalah suatu penyumbatan pada usus
besar yang terjadi akibat pergerakan usus yang tidak adekuat karena sebagian dari usus besar
tidak memiliki saraf yang mengendalikan kontraksi ototnya.
Hirschsprung terjadi karena adanya permasalahan pada persarafan usus besar paling
bawah mulai dari anus hingga usus diatasnya. Saraf yang berguna untuk membuat usus
bergerak melebar menyempit biasanya tidak sama sekali atau kalaupun ada sedikit sekali.
Namun yang jelas kelainan ini akan membuat BAB bayi tidak normal, bahkan cenderung
sembelit terus-menerus. Hal ini dikarenakan tidak adanya saraf yang dapat mendorong
kotoran keluar dari anus.
Dalam keadaan normal bahan makanan yang dicerna bisa berjalan disepanjang usus
karena adanya kontraksi ritmis dari otot-otot yang melepasi usus (kontraksi ritmis ini disebut
gerakan peristaltik). Kontraksi otot-otot tersebut dirangsang oelh sekumpulan saraf yang
disebut ganglion yang terletak dibawah lapisan otot. Pada penyakit hirschsprung ganglion ini
tidak ada, biasanya hanya sepanjang beberapa sentimeter.
Segmen usus yang tidak memiliki gerakan peristalltik tidak dapat mendorong bahanbahan yang dicerna dan terjadi penyumbatan. Penyakit hirschsprung 5 kali lebih sering
ditemukan pada bayi laki-laki. Penyakit ini kadang disertai dengan kelainan bawaan lainnya,
seperti sindroma down.

B. Etiologi
Penyakit ini disebabkan aganglionosis Meissner dan Aurbach dalam lapisan dinding
usus, mulai dari spingter ani internus kearah proksimal, 70 % terbatas didaerah rektosigmoid,
10 % sampai seluruh kolon dan sekitarnya 5 % dapat mengenai seluruh usus dan pilorus.
Adapun yang menjadi penyebab hirschsprung atau mega kolon kongenital adalah diduga
karena terjadi faktor genetik dan lingkungan sering terjadi pada anak dengan Down
syndrome, kegagalan sel neural pada masa embrio dalam dinding usus, gagal eksistensi,
kranio kaudal pada myentrik dan submukosa pada dinding plexus.
Dalam keadaan normal bahan makanan yang dicerna bisa berjalan disepanjang usus
karena adanya kontraksi ritmis dari otot-otot yang melapisi usus (kontraksi ritmis ini disebut
gerakan peristaltiik). Kontraksi dirangsang oleh sekumpulan saraf yang disebut ganglion
yang terletak dibawah lapisan otot.

C. Anataomi Fisiologi
1. Rongga Mulut
Gigi
Anatomi fisiologi system pencernaan pertama yang berinteraksi dengan makanan secara
langsung adalah rongga mulut. Rongga mulut termasuk dalam saluran pencernaan. Rongga
ini merupakan tempat pertama yang menerima makanan. Organ pertama dari rongga mulut
yang menerima makanan adalah gigi, dimana fungsinya adalah memotong dan merobek
makanan secara mekanik dari yang berukuran besar hingga berukuran pas untuk ditelan.
Lidah

Lidah merupakan organ yang berperan mengatur makanan dan gigi dan tidak hanya itu, lidah
juga berperan sebagi organ pengecap makanan sehingga manusia berselera makan. Bagian
lidah yang berperan dalam pengecap rasa makanan adalah papilla.
Di dalam rongga mulut, terdapat pula air ludah, yang dihasilkan oleh kelenjar ludah.
Fungsinya untuk membasahi makanan, sehingga makanan mudah ditelan dan dikunyah. Air
ludah juga mengandung enzim ptyalin yang mengubah karbohidrat menjadi disakarida.
2. Kerongkongan
Kerongkongan merupakan bagian saluran pencernaan tempat mmelakukan makanan dari
rongga mulut ke lambung.. di dalam kerongkongan makanan akan mengalir dengan bantuan
gerak peristalltik dari otot kerongkongan.
3. Lambung
Lambung adalah organ pencernaan yang terletak di rongga perut atas sebelah kiri. Didalam
labung, makanan akan dicerna secara kimiawi menggunakan enzim pencernaan. Enzim
pencernaan yang ada didalam lambung diantaranya enzim pepsin dan lipase. Tidak hanya
enzim di lambung terdapat asam lambung yang mempunyai pH rendah. Fungsi asam
lambung yaitu sebagai pembunuh kuman.
4. Usus Halus
Makanan yang sudah dicerna lambung akan masuk ke dalam usus halus. Usus halus adalah
organ pencernaan yang mencerna makanan secara kimiawi menggunakan enzim. Enzimenzim yang terdapat pada usus halus yaitu enzim amilase, tripsin dan lipase.
Usus halus terbagi menjadi 3 bagian yaitu duodenum, jejenum dan ileum. Sari-sari makanan
yang terserap akan masuk ke dalam pembuluh darah. Adapun sisa penyerapan akan dialirkan
ke dalam usus besar. Gerakan yang berperan dalam pengaliran makanan ini adalah gerakan
peristaltik.
5. Usus Besar
Sisa hasil penyerapan usus halus akan masuk ke dalam usus besar. Di usus besar ini, sisa
pencernaan akan diserap kembali kadar air dan garam-garam yang masih terkandung
sehingga sisa pencernaan ini akan padat.
Didalam usus besar sisa pencernaan akan mengalami pembusukan karena didalam usus besar
terdapat banyak bakteri pembusuk yaitu E.Colli.

D. Patofisiologi
Istilah congenital agang lionic Mega Colon menggambarkan adanya kerusakan primer
dengan tidak adanya sel ganglion pada dinding sub mukosa kolon distal. Segmen aganglionik
hampir selalu ada dalam rektum dan bagian proksimal pada usus besar. Ketidakadaan ini
menimbulkan keabnormalan atau tidak adanya gerakan tenaga pendorong (peristaltik) dan
tidak adanya evakuasi usus spontan serta spinkter rektum tidak dapat berelaksasi sehingga
mencegah keluarnya feses secara normal yang menyebabkan adanya akumulasi pada usus
dan distensi pada saluran cerna. Bagian proksimal sampai pada bagian yang rusak pada Mega
Colon.
Semua ganglion pada intramural plexus dalam usus berguna untuk kontrol kontraksi dan
relaksasi peristaltik secara normal. Isi usus mendorong ke segmen aganglionik dan feses
terkumpul didaerah tersebut, menyebabkan terdilatasinya bagian usus yang proksimal
terhadap daerah itu karena terjadi obstruksi dan menyebabkan dibagian Colon tersebut
melebar.

F. Manifestasi Klinis

Gejala dan tanda dapat bermacam-macam berdasarkan keparahan dari kondisi kadangkadang mereka muncul segera setelah bayi lahir. Pada saat yang lain mereka mungkin saja
tidak tampak sampai bayi tumbuh menjadi remaja ataupun dewasa.
Pada kelahiran baru tanda dapat mencakup :
1. Kegagalan dalam dalam mengeluarkan feses dalam hari pertama atau kedua kelahiran
2. Muntah : mencakup muntahan cairan hijau disebut bile-cairan pencernaan yang diproduksi di
hati
3. Konstipasi atau gas
4. Diare
Pada anak-anak yang lebih tua, tanda dapat mencakup :
1. Perut yang buncit
2. Peningkatan berat badan yang sedikit
3. Masalah dalam penyerapan nutrisi, yang mengarah penurunan berat badan, diare atau
keduanyadan penundaan atau pertumbuhan yang lambat
4. Infeksi kolon, khususnya anak yang baru lahir atau yang masih muda, yang dapat mencakup
enterocolitis, infeksi serius dengan diare, demam dan muntah dan kadang-kadang dilatasi
kolon yang berbahaya. Pada anak-anak yang lebih tua atau dewasa, gejala dapat mencakup
konstipasi dan nilai rendah dari sel darah merah (anemia) karena darah hilang dalam feses.

G. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Laboratorium
a. Kimia darah : Pada kebanyakan pasien temuan elektrolit dan panel renal biasanya dalam
batas normal. Anak dengan diare memiliki hasil yang sesuai dengan dehidrasi. Pemeriksaan
ini dapat membantu mengarahkan pada penatalaksanaan cairan dan elektrolit.
b. Darah rutin : Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui hematokrit dan platelet
preoperatiof.
c. Profil koagulasi : Pemeriksaan ini dilakukan untuk memastikan tidak ada gangguan
pembekuan darah yang perlu dikoreksi sebelum operasi dilakukan.
2. Pemeriksaan Radiologi
a. Foto polos abdomen dapat menunjukan adanya loop usus yang distensi dengan adanya udara
dalam rectum.
b. Barium enema
Jangan membersihkan kolon bagian distal dengan enema sebelum memasukkan kontras
enema karena hal ini akan mengaburkan gambar pada daerah zona transisi.
Kateter diletakkan didalam anus, tanpa mengembangkan balon, untuk menghindari kaburnya
zona transisi dan beresiko terjadinya peforasi. foto segera diambil setelah injeksi kontras, dan
diambil lagi 24 jam kemudian.
Colon bagian distal yang menyempit dengan bagian proksimal yang mengalami dilatasi
merupakan gambaran klasik penyakit Hirschsprung. Akan tetapi temuan radiologis pada
neonatus lebih sulit diinterpetasi dan sering kali gagal memperlihatkan zona transisi.
Gambaran radiologis lainnya yang mengarah pada penyakit Hirschsprung adalah adanya
retensi kontras lebih dari 24 jam setelah barium enema dilakukan.
3. Biopsi
Biopsi rektum untuk melihat ganglion pleksus submukosa meisner, apakah terdapat ganglion
atau tidak. Pada penyakit hirschprung ganglion ini tidak ditemukan.

H. Penatalaksanaan
1. Pembedahan
Pembedahan pada penyakit hirscprung dilakukan dalam dua tahap. Mula-mula dilakukan
kolostomi loop atau doublebarrel sehingga tonus dan ukuran usus yang dilatasi dan
hipertrofi dapat kembali normal (memerlukan waktu kira-kira 3 sampai 4 bulan). Bila umur
bayi itu antara 6-12 bulan (atau bila beratnya antara 9 dan 10 Kg), satu dari tiga prosedur
berikut dilakukan dengan cara memotong usus aganglionik dan menganastomosiskan usus
yang berganglion ke rectum dengan jarak 1 cm dari anus. Prosedur Duhamel umumnya
dilakukan terhadap bayi yang berusia kurang dari 1 tahun. Prosedur ini terdiri atas penarikan
kolon nromal ke arah bawah dan menganastomosiskannya di belakang anus aganglionik,
menciptakan dinding ganda yang terdiri dari selubung aganglionik dan bagian posterior kolon
normal yang ditarik tersebut. Pada prosedur Swenson, bagian kolon yang aganglionik itu
dibuang. Kemudian dilakukan anastomosis end-to-end pada kolon bergangliondengan saluran
anal yang dilatasi. Sfinterotomi dilakukan pada bagian posterior. Prosedur Soave dilakukan
pada anak-anak yang lebih besar dan merupakan prosedur yang paling banyak
dilakukanuntuk mengobati penyakit hirsrcprung. Dinding otot dari segmen rektum dibiarkan
tetap utuh. Kolon yang bersaraf normal ditarik sampai ke anus, tempat dilakukannya
anastomosis antara kolon normal dan jaringan otot rektosigmoid yang tersisa.
2. Konservatif
Pada neonatus dengan obstruksi usus dilakukan terapi konservatif melalui pemasangan sonde
lambung serta pipa rectal untuk mengeluarkan mekonium dan udara.
3. Tindakan bedah sementara
Kolostomi dikerjakan pada pasien neonatus, pasien anak dan dewasa yang terlambat
didiagnosis dan pasien dengan enterokolitis berat dan keadaan umum memburuk. Kolostomi
dibuat di kolon berganglion normal yang paling distal.
4. Perawatan
Perhatikan perawatan tergantung pada umur anak dan tipe pelaksanaanya bila
ketidakmampuan terdiagnosa selama periode neonatal, perhatikan utama antara lain :
a. Membantu orang tua untuk mengetahui adanya kelainan kongenital pada anak secara dini.
b. Membantu perkembangan ikatan antara orang tua dan anak.
c. Mempersiapkan orang tua akan adanya intervensi medis (pembedahan).
d. Mendampingi orang tua pada perawatan colostomy setelah rencana pulang.
Pada perawatan preoperasi harus diperhatikan juga kondisi klinis anak anak dengan mal
nutrisi tidak dapat bertahan dalam pembedahan sampai status fisiknya meningkat. Hal ini
sering kali melibatkan pengobatan simptomatik seperti enema. Diperlukan juga adanya diet
rendah serat, tinggi kalori dan tinggi protein serta situasi dapat digunakan nutrisi parenteral
total.

I. Prognosis
Secara umum prognosisnya baik, 90% pasien dengan penyakit hirschprung yang
mendapat tindakan pembedahan mengalami penyembuhan dan hanya sekitar 10% pasien
yang masih mempunyai masalah dengan saluran cernanya sehingga harus dilakukan
kolostomi permanen. Angka kematian akibat komplikasi dari tindakan pembedahan pada bayi
sekitar 20%.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN


DENGAN HIRSCHSPRUNG
A. Pengkajian
Identitas
Penyakit ini sebagian besar ditemukan pada bayi cukup bulan dan merupakan kelainan tunggal. Jarang pada bayi prematur
atau bersamaan dengan kelainan bawaan lain. Pada segmen aganglionosis dari anus sampai sigmoid lebih sering ditemukan
pada anak laki-laki dibandingkan anak perempuan. Sedangkan kelainan yang melebihi sigmoid bahkan seluruh kolon atau
usus halus ditemukan sama banyak pada anak laki-laki dan perempuan (Ngastiyah, 1997).
B. Riwayat Kesehatan
1. Keluhan utama

2.

3.
4.

C.

Obstipasi merupakan tanda utama dan pada bayi baru lahir. Trias yang sering ditemukan
adalah mekonium yang lambat keluar (lebih dari 24 jam setelah lahir), perut kembung dan
muntah berwarna hijau. Gejala lain adalah muntah dan diare.
Riwayat penyakit sekarang
Merupakan kelainan bawaan yaitu obstruksi usus fungsional. Obstruksi total saat lahir
dengan muntah, distensi abdomen dan ketiadaan evakuasi mekonium. Bayi sering mengalami
konstipasi, muntah dan dehidrasi. Gejala ringan berupa konstipasi selama beberapa minggu
atau bulan yang diikuti dengan obstruksi usus akut. Namun ada juga yang konstipasi ringan,
enterokolitis dengan diare, distensi abdomen, dan demam. Diare berbau busuk dapat terjadi.
Riwayat penyakit dahulu
Tidak ada penyakit terdahulu yang mempengaruhi terjadinya penyakit Hirschsprung.
Riwayat kesehatan keluarga
Tidak ada keluarga yang menderita penyakit ini diturunkan kepada anaknya.
Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan yang didapatkan sesuai dengan manifestasi klinis. Pada survey umum terlihat lemah atau gelisah. TTV biasa
didapatkan hipertermi dan takikardi dimana menandakan terjadinya iskemia usus dan gejala terjadinya perforasi. Tanda
dehidrasi dan demam bisa didapatkan pada kondisi syok atau sepsis.
Pada pemeriksaan fisik fokus pada area abdomen, lipatan paha, dan rectum akan didapatkan
Inspeksi : Tanda khas didapatkan adanya distensi abnormal. Pemeriksaan rectum dan fese akan didapatkan adanya perubahan feses seperti
pita dan berbau busuk.
Auskultasi : Pada fase awal didapatkan penurunan bising usus, dan berlanjut dengan hilangnya bisng usus.
Perkusi
: Timpani akibat abdominal mengalami kembung.
Palpasi
: Teraba dilatasi kolon abdominal.
1. Sistem kardiovaskuler : Takikardia.
2. Sistem pernapasan
: Sesak napas, distres pernapasan.
3. Sistem pencernaan
: Umumnya obstipasi. Perut kembung/perut tegang, muntah berwarna hijau. Pada anak yang lebih
besar terdapat diare kronik. Pada colok anus jari akan merasakan jepitan dan pada waktu ditarik akan diikuti dengan
keluarnya udara dan mekonium atau tinja yang menyemprot.
4. Sistem saraf
: Tidak ada kelainan.
5. Sistem lokomotor/musculoskeletal : Gangguan rasa nyaman : nyeri

6.
7.
8.

Sistem endokrin
Sistem integument
Sistem pendengaran

: Tidak ada kelainan.


: Akral hangat, hipertermi
: Tidak ada kelainan.

D. Pemeriksaan Diagnostik dan Hasil


1. Foto polos abdomen tegak akan terlihat usus-usus melebar atau terdapat gambaran obstruksi usus rendah.
2. Pemeriksaan dengan barium enema ditemukan daerah transisi, gambaran kontraksi usus yang tidak teratur di bagian
menyempit, enterokolitis pada segmen yang melebar dan terdapat retensi barium setelah 24-48 jam.
3. Biopsi isap, mencari sel ganglion pada daerah sub mukosa.
4. Biopsi otot rektum, yaitu pengambilan lapisan otot rektum.
5. Pemeriksaan aktivitas enzim asetilkolin esterase dimana terdapat peningkatan aktivitas enzim asetilkolin eseterase.
E. Diagnosa Keperawatan Yang Mungkin Muncul
1. Risiko konstipasi berhubungan dengan penyempitan kolon, sekunder, obstruksi mekanik
2. Risiko ketidakseimbangan volume cairan/elektrolit tubuh berhubungan dengan keluar cairan tubuh dari muntah,
ketidakmampuan absorbs air oleh intestinal.
3. Risiko injuri berhubungan dengan pasca prosedur bedah, iskemia, nekrosis dinding intestinal sekunder dari kondisi obtruksi
usus
4. Nyeri berhubungan dengan distensi abdomen, iritasi intestinal, respon pembedahan
5. Risiko tinggi syok hipovolemik berhubungan dengan penurunan volume darah, sekunder dari absorpsi saluran intestinal,
muntah-muntah.
6. Risiko tinggi perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake makanan yang kurang adekuat.
7. Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan pasca prosedur pembedahan
8. Pemenuhan informasi berhubungan dengan adanya kolostomi, evaluasi diagnostic, rencana pembedahan, dan rencana
perawatan rumah.
9. Risiko gangguan tumbuh kembang berhubungan dengan perubahan kondisi psikososial anak selama dirawat sekunder dari
kondisi sakit.
10. Ansietas berhubungan dengan prognosis penyakit, miniterpretasi informasi, rencana pembedahan.
F.

Analisa Data

Data
DS : anak terus rewel
DO: konstipasi, tidak ada
mekonium > 24-48 jam
pertama, kembung, distensi
abdomen, peristaltic
menurun

DS: tidak
rewel

mau

minum,

DO: mukosa mulut kering,


ubun-ubun dan mata
cekung, turgor kulit kurang
elastic

Etiologi
Segment pendek/ segment
panjang

Masalah keperawatan
Risiko konstipasi

Peristaltic dalam segment

Obstruksi kolon
Mual, muntah, kembung

anorexia
Intake nutrisi tidak adekuat

Kehilangan cairan dan


elektrolit

Risiko ketidakseimbangan
volume cairan tubuh

DS: rewel dan merasa


kurang nyaman akibat
kolostomi

Intervensi pembedahan

DO: BAB
melalui
kolostomi
DS : pasien merasa demam
DO : hipertermi
38oC)

Risiko injuri

Kerusakan jaringan pasca


pembedahan
Obstruksi kolon proksimal

Risiko infeksi

(suhu
Intervensi pembedahan

Kerusakan jaringan pasca


pembedahan
G. Diagnosa keperawatan prioritas
Pre Operasi
1. Risiko konstipasi berhubungan dengan penyempitan kolon, sekunder, obstruksi mekanik
2. Risiko ketidakseimbangan volume cairan tubuh berhubungan dengan keluar cairan tubuh dari muntah, ketidakmampuan
absorbs air oleh intestinal.
1.
2.

Post Operasi
Risiko injuri berhubungan dengan pasca prosedur bedah, iskemia, nekrosis dinding intestinal sekunder dari kondisi obtruksi
usus
Resiko infeksi berhubungan dengan pasca prosedur pembedahan.

H. Intervensi Keperawatan

Dx Keperawatan
1. Resiko kostipasi b/d
penyempitan kolon,
sekunder, obstruksi
mekanik

Tujuan dan Kriteria


Intervensi
Hasil
Tujuan : Pola BAB 1. Observasi bising usus dan1.
normal
periksa adanya distensi
abdomen pasien. Pantau
Kriteria hasil :
dan catat frekuensi dan
pasien tidak
karakteristik feses
mengalami
2. Catat asupan haluaran
2.
konstipasi, pasien
secara akurat
mempertahankan
defekasi setiap hari 3. Dorong pasien untuk
3.
mengkonsumsi cairan 2.5
L setiap hari, bila tidak
ada kontraindikasi
4. Lakukan program
4.
defekasi. Letakkan pasien
di atas pispot atau
commode pada saat

Rasional
Untuk menyusun rencana
penanganan yang efektif
dalam mencegah
konstipasi dan impaksi
fekal
Untuk meyakinkan terapi
penggantian cairan dan
hidrasi
Untuk meningkatkan
terapi penggantian cairan
dan hidrasi
Untuk membantu adaptasi
terhadap fungsi fisiologi
normal

tertentu setiap hari,


sedekat mungkin kewaktu
biasa defekasi (bila
diketahui)
5.
5. Berikan laksatif, enema,
atau supositoria sesuai
instruksi
2. Risiko
ketidakseimbangan
volume cairan tubuh
b/d keluarnya cairan
tubuh dari muntah,
ketidak mampuan
absorps air oleh
instentinal

Tujuan : kebutuhan 1. Timbang berat badan


1.
cairan terpenuhi
pasien setiap hari sebelum
sarapan
Kriteria hasil :
2. Ukur asupan cairan dan 2.
turgor kulit elastik
haluaran urin untuk
dan normal, CRT < mendapatkan status cairan
3 detik
3. Pantau berat jenis urin 3.

4.
4. Periksa membran mukosa
mulut setiap hari
5.

3. Risiko injury
berhubungan dengan
pasca prosedur bedah,
iskeimia, necrosis
dinding intestinal
sekunder dari kondisi
obstruksi usus

5. Tentukan cairan apa yang


disukai pasien dan simpan
cairan tersebut di samping
tempat tidur pasien, sesuai6.
instruksi
6. Pantau kadar elektrolit
serum
1. Observasi faktor-faktor 1.
yang meningkatkan resiko
injuri

Untuk meningkatkan
eliminasi feses padat atau
gas dari saluran
pencernaan, pantau
keefektifannya
Untuk membantu
mendeteksi perubahan
keseimbangan cairan
Penurunan asupan atau
peningkatan haluaran
meningkatkan defisit
cairan
Peningkatan berat jenis
urin mengindikasikan
dehidrasi. Berat jenis urin
rendah, mengindikasikan
kelebihan volume cairan
Membran mukosa kering
merupakan suatu indikasi
dehidrasi
Untuk meningkatkan
asupan

Perubahan nilai elektrolit


dapat menandakan
awitan ketidakseimbangan
cairan
Tujuan : dalam
Pasca bedah terdapat
waktu 2x24 jam
resiko rekuren dari hernia
pasca intervensi
umbilikalis akibat
reseksi kolon tidak
peningkatan tekanan intra
mengalami injuri
abdomen
2. Monitor tanda dan gejala 2. Perawat yang
Kriteria Hasil : TTV perforasi atau peritonitis
mengantisipasi resiko
normal (RR : 16-24
terjadinya perforasi atau
x/mnt, Suhu : 360 Cperitonitis. Tanda dan
370C, N:60gejala yang penting adalah
100x/mnt, TD :
anak rewel tiba-tiba dan
120/70 mmHg),
tidak bisa dibujuk atau
kardiorespirasi
diam oleh orang tua atau
optimal, tidak
perawat, muntah-muntah,
terjadi infeksi pada
peningkatan suhu tubuh
insisi
dan hilangnya bising usus.
Adanya pengeluaran pada
anus yang berupa cairan

3.

3. Lakukan pemasangan
selang nasogatrik

4.

4. Monitor adanya
komplikasi pasca bedah
5.

6.
5. Pertahankan status
hemodinamik yang
optimal

6. Bantu ambulasi dini

7.

7. Hadirkan orang terdekat

8.

feses yang bercampur


darah merupakan tanda
klinik penting bahwa telah
terjadi peforasi. Semua
perubahan yang terjadi
didokumentasikan oleh
perawat dan laporkan pada
dokter
Tujuan memasang selang
nasogatrik adalah
intervensi dekompresi
akibat respon dilatasi dan
kolon obstruksi dari kolon
aganglionik. Apabila
tindakan ini dekompresi
ini optimal, maka akan
menurunkan distensi
abdominal yang menjadi
penyebab utama nyeri
abdominal pada pasien
hirschprung
Perawat memonitor
adanya komplikasi pasca
bedah seperti mencret
ikontinensia fekal,
kebocoran anastomosis,
formasi striktur, obstruksi
usus, dan enterokolitis
Pasien akan mendapatkan
cairan intravena sebagai
pemeliharaan status
hemodinamik
Pasien dibantu turun dari
tempat tidur pada hari
pertama pasca operasi dan
disorong untung mulai
berpartisipasi dalam
ambulasi dini
Pada anak, menghadirkan
orang terdekat dapat
mempengaruhi penurunan
respon nyeri. Sedangkan
pada dewasa merupakan
tambahan dukungan
psikologis dalam
menghadapi masalah
kondis nyeri baik
akibat kolik abdomen atau
nyeri pasca bedah
Antibiotik menurunkan

resiko infeksi yang


menimbulkan reaksi
inflamasi lokal dan dapat
memperlama proses
penyembuhan pasca
funduplikasi lambung

4. Resiko infeksi b/d


pasca prosedur
pembedahan

8. Kolaborasi pemberian
antibiotik pasca bedah
Tujuan : tidak
1. Minimalkan risiko infeksi1.
menunjukkan
dengan : mencuci tangan
adanya tanda-tanda sebelum dan setelah
infeksi
memberikan perawatan,
menggunakan sarung
Kriteria hasil : suhu tangan untuk
dalam rentang
mempertahankan asepsis
normal, tidak ada
pada saat memberikan
patogen yang
perawatan langsung
2.
terlihat dalam
2. Observasi suhu minimal
kultur, luka dan
setiap 4 jam dan catat
insisi terlihat bersih, pada kertas grafik.
merah muda, dan
Laporkan evaluasi kerja
bebas dari drainase
purulen

Mencuci tangan adalah


satu-satunya cara terbaik
untuk mencegah patogen,
sarung tangan dapat
melindungi tangan pada
saat memegang luka yang
dibalut atau melakukan
berbagai tindakan
Suhu yang terus
meningkat setelah
pembedahan dapat
merupakan tanda awitan
komplikasi pulmonal,
infeksi luka atau dehisens.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Penyakit Hirschsprung (mega kolon kongenital) adalah suatu penyumbatan pada
usus besar yang terjadi akibat pergerakan usus yang tidak adekuat karena sebagian dari usus
besar tidak memiliki saraf yang mengendalikan kontraksi ototnya. Hirschsprung terjadi
karena adanya permasalahan pada persarafan usus besar paling bawah mulai dari anus hingga
usus diatasnya. Penyakit hisprung merupakan suatu kelainan bawaan yang menyebabkan

gangguan pergerakan usus yang dimulai dari spingter ani internal ke arah proksimal dengan
panjang yang bervariasi dan termasuk anus sampai rektum.Penyakit ini disebabkan oleh tidak
adanya sel ganglion para simpatis dari pleksus Auerbach di kolon.

B. Saran
Sebagai calon perawat harus mengerti dan memahami penyakit
hirschsprung (mega kolon kongenital). Dengan memahami dan mengerti
penyakit hirschprung, sebagai calon perawat maka bisa memberikan
asuhan keperawatan pada klien dengan baik dan benar.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2003. Mengenal Penyakit Hirschsprung (Aganglionic Megacolon). Disitasi dari
http://www.indosiar.co.id/v2003/pk. pada tanggal 26 Oktober 2010.
Behrman, dkk.1996. Ilmu Kesehatan Anak Edisi 15 Volume 2. Jakarta: EGC.
Budi. 2010. Asuhan Keperawatan pada Penyakit Hisprung. Disitasi dari
http://www.mediakeperawatan.com/?id=budixtbn. pada tanggal 26 Oktober 2010.
Yuda. 2010. Penyakit Megacolon. Disitasi dari http://dokteryudabedah.com/wpcontent/uploads2010/01/mega-colon pada tanggal 26 Oktober 2010.
Mansjoer, dkk. 2000, Kapita Selekta Kedokteran, ed.3, Media Aesculapius, Jakarta.
Ngastiyah, 1997, Perawatan Anak Sakit, EGC, Jakarta.
Diposkan oleh GweN di 09.42
Diposkan oleh Eva Maria Keljombar di 01.47
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Tidak ada komentar:


Poskan Komentar
Posting Lebih BaruPosting LamaBeranda
Langganan: Poskan Komentar (Atom)

Visitors

69136
Mengenai Saya

Eva Maria Keljombar


Lihat profil lengkapku

De La Salle Universitty Manado

Beranda

Arsip Blog
2013 (8)
o Mei (6)
ASKEP Keperawatan Jiwa 1-Perilaku Anak dan Remaja

ASKEP Apendisitis
ASKEP Diare
ASKEP Hirschsprung
ASKEP CA Kolon (Kanker Kolon)

ASKEP Konstipasi (Sistem Pencernaan)


o Maret (2)
Menjadi seorang perawat itu kebanggan! Bisa menolong dan menyembuhkan orang-orang disekitar kita. NURSE
are angels on earth.

Template Awesome Inc.. Diberdayakan oleh Blogger.