You are on page 1of 12

PRAKTIKUM

KIMIA ANORGANIK
“Korosi Besi”

Disusun Oleh:
Annita Karunia Savitri
(1113096000026)
JURUSAN KIMIA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2013

KOROSI BESI
I.

TUJUAN
I.1 Mengamati perubahan atau perkaratan besi
I.2 Mengamati proses reduksi maupun oksidasi yang terjadi pada besi

II.

DASAR TEORI
Korosi adalah kerusakan atau degradasi logam akibat reaksi redoks antara
suatu logam dengan berbagai zat di lingkungannya yang menghasilkan senyawasenyawa yang tidak dikehendaki. Dalam bahasa sehari-hari, korosi disebut
perkaratan. Contoh korosi yang paling lazim adalah perkaratan besi.
Pada peristiwa korosi, logam mengalami oksidasi, sedangkan oksigen (udara)
mengalami reduksi. Karat logam umumnya adalah berupa oksida atau karbonat.
Rumus kimia karat besi adalah Fe2O3.nH2O, suatu zat padat yang berwarna coklatmerah.
Selain itu korosi juga dapat diartikan sebagai sistem termodinamika logam
dengan lingkungannya,yang berusaha untuk mencapai kesetimbangan.Sistem ini di
katakan setimbang bila logam telah membentuk oksida atau senyawa kimia lain yang
lebih stabil. Pencegahan korosi merupakan salah satu dari banyak jenis logam yang
penggunaanya sangat luas dalam kehidupan sehari-hari.Namun kekurangan dari besi
adalah sifatnya yang sangat mudah mengalami korosi.Padahal besi yang telah
mengalami korosi akan kehilangan nilai jual ada fungsi komersialnya.Ini tentu saja
akan merugikan sekaligus membahayakan.Berdasarkan dari asumsi tersebut
,percobaan ini di fokuskan dalam upaya pencegahan terjadinya peristiwa korosi ini
khususnya pada besi. Selain itu pada percobaan ini akan di ketahui logam-logam apa
sajakah yang dapat menghambat terjadinya korosi sesuai dengan sifat-sifat kimia
nya.
Besi merupakan logam yang menempati urutan kedua dari logam-logam yang
umum terdapat pada kerak bumi .besi cukup reaktif, besi bila di biarkan di udara
terbuka untuk

beberapa lama mengalami perubahan warna yang lazim di sebut

perkaratan besi.Proses perubahan besi menjadi besi berkarat merupakan reaksi redoks
yag melihat oksigen:
Fe(s) + O2 → Fe2O3

Faktor yang berpengaruh terhadap korosi dapat di bedakan mejadi dua,yaitu yang
berasal dari bahan itu sendiri dan diri lingkungan. Dari Faktor bahan meliputi
kemurnian bahan,struktur bahan ,bentuk kristal ,unsur-unsur kelumit yang ada dalam
bahan,teknik pencampuran bahan dan sebagainya. Bahan-bahan korosif (yang dapat
menyebabkan korosi) terdiri atas asam,basa serta garam,baik dalam bentuk senyawa
an-organik maupun organik. Penguapan dan pelepasan bahan-bahan korosif ke udara
dapat mempercepat proses korosi. Udara dalam ruangan yang terlalu asam atau basa
dapat mempercepat proses korosi peralatan elektronik yang ada dalam ruangan
tersebut.
Flour,hidrogen flourida beserta persenyawaan-persenyawaannya di kenal sebagai
bahan korosif. Dalam industri,bahan ini umumnya di pakai untuk sintesa bahan-bahan
organik. Ammoniak (NH3) merupakan bahan kimia yang cukup banyak di gunakan
dalam kegiatan industri. Pada suhu dan tekanan normal,bahan ini berada dalam
bentuk gas dan sangat mudah terlepas ke udara. Ammoniak dalam kegiatan industri
umumnya di gunakan untuk sintesa bahan organik,sebagai bahan anti beku didalam
alat pendingin,juga sebagai bahan untuk pembuatan pupuk.Bejana-bejana penyimpan
ammoniak harus selalu di periksa untuk mencegah terjadinya kebocoran dan
pelepasan bahan ini ke udara.Embun pagi saat ini umumnya mengandung aneka
partikel aerosol,debu serta gas-gas asam seperti NOx dan SOx.
Dalam batu bara terdapat belerang atau sulfur (S) yag apabila di bakar
berubah menjadi oksida belerang. Masalah utama berkaitan dengan peningkatan
penggunaan batu bara adalah dilepaskannya gas-gas polutan seperti oksida nitrogen
(NOx) dan Oksida belerang (SOx).Walaupun sebagian besar pusat tenaga listrik batu
bara telah menggunakan alat pembersih endapan (presipitor) untuk membersihkan
partikel-partikel kecil dari asap batu bara,namun NOx da SOx yang merupakan
senyawa gas dengan bebasnya naik melewati cerobong dan terlepas ke udara bebas.
Di dalam udara,kedua gas tersebut dapat berubah menjadi asam nitrat (HNO3) dan
asam sulfat (H2SO4).
Oleh sebab itu,udara menjadi terlalu asam dan bersifat korosif dengan terlarutnya
gas-gas asam tersebut di dalam udara.Udara yang asam ini tentu dapat berinteraksi
dengan

apa

saja,termasuk

komponen-komponen

renik

di

dalam

peralatan

elektronik.Jika hal itu terjadi ,maka proses korosi tidak dapat di hindari lagi. Korosi
yang

menyerang

piranti

maupun

komponen-komponen

elektonika

dapat

mengakibatkan kerusakan bahkan kecelakaan.Karena korosi ini maka sifat elektrik
komponen-komponen

elektronika

dalam

komputer,televisi,radio,kalkulator,jam

digital dan sebagaiya menjadi rusak.korosi dapat menyebabkan terbentuknya lapisan
non-konduktor pada komponen elektronik.
Oleh sebab itu,dalam lingkungan dengan tingkat pencemaran tinggi,aneka
barang mulai dari komponen elektronika renik sampai jembatan baja semakin mudah
rusak,bahkan hancur karena korosi.Dalam beberapa kasus,hubungan pendek yang
terjadi pada peralatan elektronik dapat menyebabkan terjadi nya kebakaran yang
menimbulkan kerugian bukan hanya dalam bentuk kehilangan atau kerusakan
materi,tetapi juga korban nyawa.
III.

METODELOGI
III.1 Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan pada praktikum kali ini, antara lain: cawan petri,
gelas piala 250 ml, stopwatch, penangas air, batang pengaduk, paku beton ukuran
sedang, paku kecil, paku payung, peniti, dan jarum
Sedangkan bahan-bahan yang digunakan pada praktikum kali ini, antara
lain: agar-agar, larutan H2SO4 1 M, larutan K4(Fe(CN)6) 0,1 M, , larutan NaOH 0,5
M, dan fenolftalin.
III.2 Prosedur Kerja
1. Disediakan paku beton, paku kecil, paku payung, jarum dan peniti.
2. Dimasukkan paku beton, paku kecil, paku payung, jarum dan peniti yang telah
disediakan tersebut kedalam 5 cawan petri
3. Dimasukkan satu bungkus agar-agar dan aquadest 210 ml kedalam gelas piala
250 ml yang dipanaskan di atas penanggas sambil diaduk.
4. Dituangkan hasil adonan agar-agar panas kedalam 5 buah gelas beaker masingmasing sebanyak 35 ml
5. Pada gelas beaker pertama dijadikan kontrol, gelas beaker kedua ditambahkan
3 mL K3Fe(CN)6 , gelas beaker ketiga ditambahkan 3 mL PP, gelas beaker
keempat ditambahkan NaOH, dan gelas beaker kelima ditambahkan H2SO4

6. Kemudian masing-masing larutan tersebut dimasukkan ke dalam cawan petri
yang telah berisi paku beton, paku kecil, paku payung, jarum dan peniti yang
7.

telah disediakan
Setelah itu, diamati dan dicatat apa yang terjadi selama 30 menit, 60 menit, 90
menit, dan 24 jam.

IV.

1)

HASIL DAN PEMBAHASAN
IV.1 HASIL PENGAMATAN

Didiamkan selama 30 Menit

No
1
2
3
4
5
2)

1
2
3
4
5

Paku Beton
Gumpalan
Putih

Paku Kecil
Tetap
Gumpalan
Putih

Jenis Paku
Paku Payung
Tetap
Gumpalan
Hijau

Jarum
Tetap
Gumpalan
Hijau

Kontrol + H2SO4

-

Gelembung

Gelembung

Gelembung

Kontrol + Fenolftalin

-

Berkarat
Tetap

Menguning
Tetap

Menguning
Tetap

Paku Beton
Gumpalan
Putih

Paku Kecil
Tetap
Gumpalan
Putih

Jenis Paku
Paku Payung
Tetap
Gumpalan
Hijau

Jarum
Tetap
Gumpalan
Hijau

Kontrol + H2SO4

-

Gelembung

Gelembung

Gelembung

Kontrol + Fenolftalin
Kontrol + NaOH

-

Berkarat
Tetap

Menguning
Tetap

Menguning
Tetap

Gelembung
Berkarat
Tetap

Jenis Paku
Paku Payung

Jarum

Peniti

Berkarat

Berkarat

-

Gelembung
Berkarat
Gelembung
Sangat
Berkarat
Sangat
Berkarat

Gelembung
Berkarat
Gelembung
Sedikit
Berkarat
Sedikit
Berkarat

Agar-Agar (Kontrol)
Kontrol + K4[Fe(CN)6]
Kontrol + H2SO4
Kontrol + Fenolftalin
Kontrol + NaOH

Perlakuan
Agar-Agar (Kontrol)
Kontrol + K4[Fe(CN)6]

Kontrol + NaOH

Peniti
Gelembung
Berkarat
Tetap

Didiamkan selama 90 menit
No
1
2
3
4
5

4)

Jarum
Peniti
Tetap
Tetap
Gelembung Gelembung
Tetap
Tetap
Tetap

Paku Beton
Tetap
-

Didiamkan selama 60 menit

No

3)

Paku Kecil
Tetap
Tetap
Gelembung
Tetap
Tetap

Jenis Paku
Paku Payung
Tetap
Tetap
Gelembung
Tetap
Tetap

Perlakuan

Perlakuan
Agar-Agar (Kontrol)
Kontrol + K4[Fe(CN)6]

Peniti
-

Didiamkan selama 24 Jam
No
1
2

Perlakuan
Agar-Agar (Kontrol)
Kontrol + K4[Fe(CN)6]

Paku Beton
Sedikit
Berkarat

3
4

Paku Kecil
Sangat
Berkarat
Gelembung
Berkarat

Kontrol + H2SO4

-

Gelembung
Berkarat

Kontrol + Fenolftalin

-

Sangat
Berkarat

Sangat
Berkarat
-

5

Kontrol + NaOH

-

Tetap

Tetap

Tetap

Tetap

IV.2 PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini, praktikan melakukan percobaan mengenai proses
korosi besi dengan tujuan agar praktikan mampu mengamati perubahan atau
perkaratan besi dan mampu mengamati proses oksidasi dan reduksi yang terjadi pada
besi. Pada percobaan ini digunakan bahan dasar logam besi yakni paku, peniti, dan
jarum sebagai sampel percobaan. Paku digunakan karena penggunaan logam ini
sangat luas dan paku merupakan salah satu bahan yang sangat mudah teroksidasi oleh
oksigen yang ada diudara bebas dimana oksigen akan membentuk lapisan oksida
melapisi permukaan logam, tetapi oksida logam besi ini mempunyai pori-pori
sehingga mudah ditembus oleh oksigen atau uap air. Dengan demikian, keadaan ini
memungkinkan reaksi oksidasi secara berkelanjutan pada bagian awal lapisan oksida
yang telah terbentuk sebelumnya. Demikian seterusnya sampai semua logam besi
teroksidasi, menyebabkan perubahan bentuk yang gembur dan keropos, yang pada
akhirnya akan mengurangi bahkan merusak kekuatan dan penampilan logam tersebut.
Untuk melakukan pengamatan pada praktikum korosi besi ini, diperlukan agaragar sebagai larutan kontrol sekaligus berfungsi sebagai media reduksi dan oksidasi.
Agar-agar terlebih dahulu dilarutkan kedalam 100 ml air mendidih. Setelah itu, agaragar dihomogenkan dengan masing-masing reagen yang akan digunakan dengan
perbandingan 4:1 dengan tujuan agar reagen bercampur merata dengan agar-agar.
Larutan reagen yang digunakan antara lain: larutan fenolftalein (PP), larutan
K4[Fe(CN)6], larutan H2SO4, dan larutan NaOH. Larutan reagen ini digunakan sebagai
salah satu faktor penyebab adanya korosi. Cawan petri pertama hanya berisi agar-agar
yang dijadikan sebagai kontrol. Cawan petri kedua berisi kontrol yang ditambahkan
dengan reagen fenolftalein. Cawan ketiga berisi kontrol yang ditambahkan dengan
reagen K4[Fe(CN)6]. Cawan keempat berisi kontrol yang ditambahkan dengan reagen
H2SO4. Cawan kelima berisi kontrol yang ditambahkan dengan reagen NaOH.
Setelah pengamatan selama 30 menit, agar–agar sebagai indikator atau
kontrol, keadaan paku di dalamnya masih tetap sama seperti semula. Kondisi yang
sama juga ditunjukkan pada cawan petri yang dicampurkan dengan larutan
K4[Fe(CN)6] , fenolftalin (PP), dan NaOH. Namun keadaan jauh berbeda dengan paku

pada cawan petri yang berisi agar-agar dan larutan H 2SO4, yaitu terdapat gelembunggelembung gas pada permukaan paku kecil, paku payung, jarum, dan peniti . Hal ini
menunjukkan bahwa sampel bahan logam besi ( Fe ) tersebut telah teroksidasi dengan
adanya larutan H2SO4.
Setelah pengamatan selama 1 jam, terdapat beberapa perubahan yang cukup
signifikan. Keadaan

paku masih tetap sama dengan keadaan setelah 30 menit

pengamatan, yaitu pada cawan petri kontrol dan pada cawan petri yang dicampurkan
dengan larutan NaOH. Sedangkan pada cawan petri yang berisi agar–agar dan
K4[Fe(CN)6], pada sekitar paku payung dan jarum terdapat gumpalan warna biru yang
mencolok dan pada sekitar paku kecil dan paku beton terdapat gumpalan warna
putih. Sampel bahan besi logam (paku payung, paku kecil, paku beton, dan jarum)
pada larutan ini telah mengalami proses oksidasi. Kemudian cawan petri yang berisi
agar-agar dan fenolftalin, pada sekitar paku payung, paku kecil, dan jarum mulai
berkarat. Begitu pula dengan peniti yang terdapat pada cawan yang berisi agar-agar
dan H2SO4 mulai berkarat.
Setelah pengamatan selama 90 menit, tidak ada perubahan yang cukup
signifikan pada paku – paku yang berada dalam enam cawan petri tersebut. Keadaan
masih tetap sama dengan keadaan setelah 60 menit pengamatan. Barulah pada 24 jam
kemudian, perubahan mulai terjadi lagi. Pengkaratan warna coklat terjadi pada
hampir semua dalam cawan petri, kecuali pada cawan petri yang berisi agar-agar yang
ditambahkan larutan NaOH.
Berdasarkan hasil pengamatan, korosi (pengkaratan) pada besi terjadi lebih
cepat pada cawan petri ketiga yang mengandung H2SO4 (asam). Hal itu dikarenakan
besi akan lebih mudah teroksidasi menjadi Fe 2 O 3 pada keadaan asam. Sedangkan
pada cawan petri yang mengandung NaOH (basa), cenderung tidak terjadi
pengkaratan. Hal itu dikarenakan dibutuhkan waktu pengamatan yang lebih lama
untuk mengamati korosi yang akan terjadi, sebab korosi bisa juga terjadi dalam
suasana basa namun prosesnya lebih lambat dibandingkan korosi pada suasana asam.
Proses korosi pada besi dalam suasana asam:
Anode:
Fe(s) → Fe2+(aq) + 2e
(x4)
Eo=+0,44 volt
2+
3+
Fe (aq) → Fe (aq) + 1e
(x4)
Eo= −0,77 volt
Katode: O2(g) +4H+(aq) + 4e → 2H2O
(x3)
Eo= +1,23 volt
+
3+
o
4Fe(s) + 3O2(g) + 12 H (aq) → 4Fe (aq) + 6H2O(l)E = +0,90 volt

Proses korosi pada besi dalam suasana basa:
Anode: Fe(s) → Fe2+ (aq) + 2e
Fe2+(aq) → Fe3+ (aq) + 1e
(x4)
Katode: O2(g) + 2H2O (l) + 4e → 4OH (aq)
4Fe(s) + 3O2(g) +12 H2O (l) → 4Fe3+ (aq) + 12OH(aq)

(x4) Eo=+0,44 volt
Eo=−0,77 volt
(x3) Eo=+0,44 volt
Eo=+0,07 volt

Berdasarkan kedua reaksi diatas terlihat bahwa potensial korosi dalam suasana
asam lebih besar dari suasana basa sehingga reaksi korosi akan lebih cepat
berlangsung.

V.

KESIMPULAN
Dapat disimpulkan berdasarkan data hasil pengamatan dari praktikum korosi besi
1) Pada praktikum kali ini, sebagian besar bahan logam besi pada paku, peniti
maupun jarum mengalami korosi
2) Salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya korosi adalah tingkat keasaman
3) Reaksi yang paling cepat terjadi korosi terdapat pada cawan petri yang ditambah
dengan H2SO4. Reaksi yang paling lambat terjadi korosi terdapat pada cawan petri
yang ditambah dengan NaOH.

VI.

DAFTAR PUSTAKA
Day RA. Jr dan Al Underwood. 1992. Analisis Kimia Kuantitatif. Edisi Kelima.Jakarta :
Erlangga
Vogel. 1985. Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semi Mikro. Jakarta : PT. Kalman
Media Pusaka
Anonim. 2012. Korosi Besi. http://www.group6bkimanorg.blogspot.com. Diakses pada
tanggal 2 November 2014 pukul 20.00 WIB
Whidyha,Astuti.2013.

Laporan

Praktikum

Korosi.

http://widyaastutisahnur.blogspot.com. Diakses pada tanggal 2 November 2014
pukul 19.50 WIB

VII.

LAMPIRAN

Gambar Hasil Pengamatan Setelah 24 Jam

Gambar Hasil Pengamatan Setelah 30 Menit