You are on page 1of 11

Diffusion in Porous Solids

Kasus Aplikasi Perpindahan


Diffusional

Diffusional Heat Transfer


1.

Pada peristiwa erupsi sebuah gunung berapi, suatu


kawasan pemukiman tertimbun material vulkanik (debu,
pasir, dan batu) dengan ketebalan rata-rata sekitar 2 m.
Material panas tersebut mula-mula bersuhu 400 oC. Pada
saat rescue workers (team SAR) masuk kawasan tersebut
setelah 1 jam kemudian ternyata suhu permukaan material
tersebut adalah masih sekitar 90 oC. Perkirakanlah
konduktivitas panas rata-rata tumpukan material vulkanik
tersebut bila sifat-sifat fisis lain diperkirakan: = 1550
kg/m3, dan kapasitas panasnya (Cp) = 900 J/(kg.oC).
Gambarkanlah profile suhu sebagai fungsi jarak dari
permukaan, satu jam setelah erupsi tersebut. Suhu ratarata udara saat itu diperkirakan 30 oC (agak lebih tinggi dari
biasanya karena efek letusan tersebut). Tulislah asumsi
dan metodologi perhitungan saudara dengan jelas.

Possible Mechanisms/Combination of Mechanisms:


1. Molecular diffusion through pores, which present tortuous
paths and hinder movement of molecules when their diameter
is more than 10% of the pore
2. Knudsen diffusion, which involves collisions of diffusing
gaseous molecules with the pore walls when pore diameter
and pressure are such that molecular mean free path is large
compared to pore diameter
3. Surface diffusion involving the jumping of molecules,
adsorbed on the pore walls, from one adsorption site to another
based on a surface concentration-driving force
4. Bulk flow through or into the pores

Effective Diffusivity
When diffusion occurs only in the fluid in the pores (mechanism 1),
it is common to use an effective diffusivity, Deff, based on:
the total cross-sectional area of the porous solid rather than the
cross-sectional area of the pore
a straight path, rather than the tortuous pore path.
Ficks law is used with the effective diffusivity replacing the
ordinary diffusion coefficient, DAB.

where is the fractional solid porosity (typically 0.5) and is


the pore-path tortuosity (typically 2 to 3), which is the ratio of
the pore length to the length if the pore were straight.

Representasi Matematika: Difusi Arsen dari Slab

Fundamental Perpindahan Diffusional

Mula-mula konsentrasi A
dalam semi infinite slab
adalah CA0.

Atau bila konsentrasi A di air laut dianggap 0 maka:


Di x =0 CA = 0

atau

Pentration depth:

Kondisi batas akan tergantung


situasi (skenario) yang sedang
ditinjau.
Misalkan bila dimensi ke arah x
melebihi penetration depth
maka sistem bisa dimodelkan
sebagai semi infinite slab

CAS = 0

Total A release:

Contoh Aplikasi 1: Perkiraan Resiko Pelepasan


Logam Berat dari submarine tailing disposal
Cara pembuangan tailing yang banyak digunakan saat ini adalah dengan meletakkan
tailing tersebut di dasar laut yang biasa disebut submarine tailing disposal (STD)
Beberapa peneliti seperti Evan dkk, menunjukkan data-data yang mengindikasikan
adanya akumulasi bahan-bahan berbahaya yang berasal dari tailing pada berbagai
spesimen sisa biota laut di sekitar kawasan STD.
Proses pelepasan bahan-bahan berbahaya dari tumpukan tailing berlangsung secara
perlahan dalam jangka waktu bertahun-tahun sampai pada akhirnya memberikan
dampak yang terdeteksi.
Sebagai bagian dari penakaran resiko pembuangan tailing di dasar laut akan
dilakukan perhitungan kecepatan pelepasan logam berat sebagai fungsi waktu sejak
peletakan tailing di dasar laut.
Sebagai contoh kasus di sini akan ditinjau untuk arsenik (As). Konsentrasi awal As
dalam tailing tersebut sekitar 300 ppm dan ketebalan endapan tailing diperkirakan
sekitar 4 m. Bulk density dari material endapan tailing adalah sekitar 2000 kg/m3.

Limitation of The Model


Penetration depth:

Transport Model:

The model is applicable as long as the domain is greater than


the penetration depth (distance where concentration change is
less than 1 %

Case 2: Immobilisasi Limbah dengan Logam Berat


dalam Beton
Suatu pengelola sebuah kawasan industri menghadapi persoalan
limbah sisa pengelasan yang bercampur dengan sisa treatment
logam yang mengandung beberapa ion logam berbahaya.
Diusulkan agar logam berat tersebut tidak terbawa air ke
lingkungan, limbah karbit (yang sebagian besar Ca(OH)2
dicampur dengan campuran beton. Beton dicetak dalam bentuk
balok dengan dimenasi 12 cm x 20 cm x 30 cm. Setiap balok akan
mengandung logam berat sebesar 2000 ppm. Setelah beton
tersebut mengeras, akan ditumpuk di suatu tempat. Saudara
diminta melakukan assesment untuk skenario terburuk bila beton
tersebut terendam air. Berapa waktu yang diperlukan sebelum 5
% logam berat leached out dari balok beton tersebut.

Diffusion in Crystalline solids


Diffusion through nonporous crystalline solids depends
markedly on the crystal lattice structure (Note: merupakan
spesialisasi khusus)
The mechanisms of diffusion in crystalline solids include:
1. Direct exchange of lattice position, probably by a ring
rotation involving three or more atoms or ions
2. Migration by small solutes through interlattice spaces called
interstitial sites
3. Migration to a vacant site in the lattice
4. Migration along lattice imperfections (dislocations), or gain
boundaries (crystal interfaces)

Isotropic & Un-isotropic


For a cubic lattice (simple, body-centered, and facecentered), the diffusivity is equal in all directions
(isotropic).
Many metals, including Ag, Al, Au, Cu, Ni, Pb, and Pt,
crystallize into the face-centered cubic lattice structure
In other lattice structures (including hexagonal and
tetragonal), the diffusivity can be anisotropic
Be, Mg, Ti, and Zn, form anisotropic, hexagonal structures.

FCC (Face Centered Cubic)

Body-Centered Cubic (BCC)

Hexagonal Close-Packed

Interstitial solid solution of


C in -Fe. The C atom is
small enough to fit, after
introducing some strain
into the BCC lattice.

Diffusion in Metals
To diffuse through a metal, a gas must first dissolve in the
metal.
Hydrogen dissolves in Cu, Al, Ti, Ta, Cr, W, Fe, Ni, Pt, and
Pd, but not in Au, Zn, Sb, and Rh.
Nitrogen dissolves in Zr but not in Cu, Ag, or Au.
The noble gases do not dissolve in common metals.
When H2, N2, and O2 dissolve in metals, they dissociate
and may react to form hydrides, nitrides, and oxides.
Molecules such as ammonia, carbon dioxide, carbon
monoxide, and sulfur dioxide also dissociate.

Risk of Hydrogen Metal Weakening in


Hydrogen Storage
Contoh Problem Statement: Hidrogen merupakan bahan bakar ramah
lingkungan yang mulai digunakan pada berbagai aplikasi komersial terutama
untuk kendaraan. Permasalahan utama yang menghambat aplikasi bahan
bakar hidrogen secara lebih luas adalah penyimpanannya. Untuk bisa
membawa jumlah hidrogen yang cukup, maka penyimpanan
harus
menggunakan tekanan sangat tinggi pada kisaran hingga 700 bar. Meskipun
hidrogen memiliki kelarutan dan difusivitas yang cukup rendah pada baja pada
kondisi kamar, pada tekanan yang tinggi dan pemakain yang lama bisa
memunculkan resiko munculnya kegagalan struktur baja akibat hydrogen
embrittlement akibat mendifusinya atom hidrogen dalam baja.
Resiko ini
akan semakin tinggi pada penyimpanan yang melibatkan siklus tekanan tinggi
dan rendah seperti pada sistem penyimpanan bahan bakar kendaraan
bermotor. Contoh kasus yang disajikan ini merupakan bagian dari perkiraan
terjadinya hydrogen embrittlement pada dinding tangki penyimpan hidrogen
bertekanan 400 bar seperti diilustrasikan pada Gambar 4. Diperlukan
perkiraan jumlah hidrogen yang mendifusi ke dalam dinding baja sebagai
fungsi waktu dalam kisaran waktu 10 tahun.

Diffusion in Silica and glass


Konsentrasi atom hidrogen
di x = 0 bisa dianggap
konstant

Unlike metals, where hydrogen usually diffuses as the atom,


hydrogen diffuses as a molecule in glass

Fluks hidrogen pada permukaan


dinding:

Grabke dan Riecke (2000)

Diffusion in Polymers
Diffusion through nonporous polymers is dependent on the
type of polymer, whether it be crystalline or amorphous and, if
the latter, glassy or rubbery.
And if amorphous, it is glassy or rubbery.
Commercial crystalline polymers are about 20% amorphous,
and it is through these regions that diffusion occurs.
As with the transport of gases through metals, transport
through polymer membranes is characterized by the solutiondiffusion mechanism

Where pi is the
partial pressure
at a polymer
surface.

Polymers that are 100% crystalline permit little or no diffusion of


gases and liquids.
The diffusivity of methane at 250C in polyoxyethylene
oxyisophthaloyl decreases from 0.30x10-9 to 0.13x10-9 cm2/s when
the degree of crystallinity increases from 0 to 40%.
A measure of crystallinity is the polymer density.
The diffusivity of methane at 250 C in polyethylene decreases from
0.193 x10-6 to 0.057x10-6 cm2/s when specific gravity increases from
0.914 to 0.964.
Plasticizers cause diffusivity to increase
When PVC is plasticized with 40% tricresyl triphosphate, the
diffusivity of CO at 270C increases from 0.23x10-8 to 2.9 x10-8 cm2/s

where Ki , the equilibrium partition coefficient, is the ratio of the


concentration in the polymer to the concentration, Ci ,in the liquid at
the polymer surface.

Gas Diffusion Through Porous Membranes


If pressure and temperature on either side of the membrane are
equal and the ideal-gas law holds

where DK is cm2 /s, dp is cm, and T is K.


If Knudsen diffusion is controlling:

Gas separation using microspores membrane with equal pressure


on both site is not efficient unless wide molecular weight exists

Transport Through Nonporous Membranes

Membrane Separations
In membrane separations:
(1) the two products are
usually miscible
(2) the separating agent is a
semipermeable barrier,
(3) a sharp separation is
often difficult to achieve.
a.
b.
c.
d.

No separation

Bulk flow through


pores
Diffusion through
pores
Restricted diffusion
through pores
Solution diffusion
through dense
membrane

Transport through nonporous (dense) solid


membranes is the predominant mechanism of
membrane separators for reverse osmosis, gas
permeation, and pervaporation (liquid and vapour).
gas or liquid species absorb at the upstream face of
the membrane, diffuse through the membrane, and
desorb at the downstream face

Size exclusion

Comparison Di in Gas, Liquid and Solid


Membrane

Influence of Mw: Gas


Diffusion in LDPE

If the mass-transfer resistances in the two fluid boundary layers


or films are negligible:

Porous vs Non-Porous Membrane

Involve
equilibrium
(solution)

Case Study

Case # 1: constant boundary concentration semi


infinite slab

Diffusion & Advection Mass Transfer

C : concentration
D : dispersion coeffcient
U : superficial velocity

Dispersion coeffcient merupakan konstanta empiris yang mirip dengan


diffusivitas efektive pada aliran laminer

10

Case : Kedalaman kontaminasi limbah berbahaya


Air limbah pemrosesan emas dari penambang liar dibuang begitu saja ke
sebuah selokan kecil padahal masih mengandung bahan-bahan
berbahaya seperti Hg.
Bayangkan
akibat
pembuangan
limbah
pemrosesan emas, air
limbah mengandung ratarata 50 ppm Hg. Bila
operasi pemrosesan emas
berlangsung
selama
5
tahun dan tanah di bawah
air limbah sudah jenuh
dengan air, perkirakanlah
kedalaman air tanah yang
sudah terkontaminasi Hg.
Anggap
untuk
situasi
terburuk
tanah
tidak
menjerap Hg.
Note: batas maksimum Hg dalam air adalah 0.0001 ppm

Instantaneus Point-source solution


Intant release of chemical at x =0 as much as M

11