KEHILANGAN KEPERAWANAN SITTI NURBAYA: SEBUAH ANALISIS KEJATUHAN TOKOH Makalah Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Lulus Mata Kuliah Sejarah Sastra I

Oleh: Christopher Allen Woodrich NIM: 084114001 PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA JURUSAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA
1

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa makalah yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka sebagaimana layaknya karya ilmiah. Yogyakarta, .......................................... Penulis

Christopher Allen Woodrich

KATA PENGANTAR

2

Perawan. Itulah kata yang sangat bermakna dalam bahasa Indonesia. Walaupun denotasinya hanyalah wanita yang belum pernah berhubungan seksual, ada banyak sekali konotasi. Ketika ketahuan seseorang itu perawan, langsung diketahui gadis itu belum pernah menikah dan dibayangkan bahwa gadis tersebut lugu, tidak berdosa, dan manis. Dibayangkan bahwa gadis itu masih muda, belum terbiasa dengan kejahatan-kejahatan yang terjadi di dunia luar. Dimengerti bahwa gadis itu masih tinggal di rumah, dan masih belajar mengurus rumah tangga. Keperawanan seseorang mencerminkan kehidupan mereka dengan sangat tepat. Itulah kasus dengan Sitti Nurbaya, tokoh utama karya Marah Rusli “Sitti Nurbaya.” Pada awal cerita dia digambarkan sebagai model keluguan, tetapi setelah rencana jahat Datuk Meringgih dijalani dia jatuh menjadi orang yang sudah putus asa dengan hidup, sampai akhirnya dia meninggal. Bagaimana bisa sampai kehilangan segala punya dia: keperawanan, keluguan, dan akhirnya nyawanya? Mari kita cari tahu jawabnya.

Yogyakarta, ………………….. 2009

Christopher Allen Woodrich NIM: 084114001

DAFTAR ISI Halaman 3

HALAMAN JUDUL ..........................................................................................

i

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ............................................................ ii KATA PENGANTAR ....................................................................................... iii DAFTAR ISI ...................................................................................................... iv BAB I: PENDAHULUAN ........................................................................... 1 A. Latar Belakang Masalah ............................................................. 1 B. Tujuan Analisis ........................................................................... 1 C. Sistematika Penyajian ................................................................. 1 BAB II: BAB III: BAB IV: RINGKASAN CERITA “SITTI NURBAYA” .............................. 3 KEJATUHAN TOKOH SITTI NURBAYA .................................. 8 PENUTUP ....................................................................................... 16

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 17

BAB I: PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kejatuhan tokoh dari tempat tinggi adalah salah satu unsur utama dari sebuah tragedi. Baik itu Oedipus, Macbeth, ataupun Gatsby, tokoh mulia yang sudah beribu tahun jatuh dalam sastra tragedi. Kejatuhan ini bisa terjadi karena berbagai alasan; jatuh sendiri, seperti Macbeth, atau terbawa keadaan, seperti Gatsby.

4

Begitu pula dalam salah satu tragedi pertama dari Sastra Indonesia modern, karya Marah Rusli Sitti Nurbaya, yang terbit pada tahun 1922. Walaupun dia anak dari seorang saudagar dan anak angkat seorang penghulu, setelah Sitti Nurbaya dipaksa menikah dengan Datuk Meringgih dia jatuh hingga akhirnya mati. Bagaimanakah Sitti Nurbaya bisa jatuh dari bangsa tinggi menjadi orang yang tiada berpengharapan, hingga mati? Itu perlu diketahui. B. Tujuan Analisis Analisis ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana tokoh Sitti Nurbaya jatuh dari seorang perawan kaya menjadi wanita yang terbuang. Ini akan dilakukan dengan cara: • • • menjelaskan peristiwa-peristiwa penting dalam cerita “Sitti Nurbaya” melihat dampak peristiwa-peristiwa ini dalam kepribadian Sitti Nurbaya membandingkan sikap Sitti Nurbaya di awal cerita dan di akhir hidupnya

C. Sistematika Penyajian Makalah ini dibagi dalam empat bab. Bab I terdiri dari tiga subbab; itu dimaksud sebagai pengantar supaya pembaca mampu memahami tujuan analisis ini. Yang dibahas dalam bab ini ialah latar belakang masalah, tujuan analisis perkembangan tokoh Sitti Nurbaya, dan sistematika penyajian makalah. Kemudian, Bab II ialah sebuah ringkasan cerita “Sitti Nurbaya.” Ringkasan ini dibekerkan sebagai pengantar agar pembaca mengetahui konteks perkembangan Sitti Nurbaya, terutama pengaruh tokoh lain dan juga peristiwa-peristiwa yang membentukkan tokohnya. Akhirnya pada Bab III akan dianalisis perkembangan tokoh Sitti Nurbaya dari gadis menjadi dewasa dan kejatuhannya pula. Analisis ini terfokus pada tokohnya sendiri, termasuk bagaimana reaksinya pada peristiwa-peristiwa tertentu dan bagaimana dia jatuh dari remaja suci menjadi wanita yang penuh dosa hingga akhirnya meninggal dunia.

5

.Pada Bab IV ada penutup, yang menarik kesimpulan dari Bab II dan Bab III. Hal yang dibahas dalam bab ini termasuk peristiwa-peristiwa yang paling penting dalam perkembangan penokohan Sitti Nurbaya dan sifat-sifatnya yang paling berubah dalam cerita.

BAB II: RINGKASAN CERITA “SITTI NURBAYA” Cerita dimulai dengan dua anak dari keluarga mampu yang menunggu di depan sekolah. Mereka adalah Samsulbahri dan Sitti Nurbaya, dua sahabat akrab sejak dini. Mereka menunggu pembantu keluarga Samsulbahri yang akan menjemput mereka dari sekolah. Kedua anak itu khawatir karena pembantu tersebut terlambat datang, dan lega ketika dia akhirnya datang. Saat perjalanan pulang Samsulbahri mengajak Sitti Nurbaya untuk mengikuti dia dan beberapa temannya ke Gunung Padang. 6

Setelah mereka pulang, Samsulbahri minta izin dari ayahnya, Penghulu Sutan Mahmud, agar dia bisa pergi ke Gunung Pandang. Sutan Mahmud, yang ada dalam kondisi senang karena baru dapat pinjaman sebanyak Rp. 3.000,- dari Datuk Meringgih, setuju. Pada malam itu Sutan Mahmud menemui kakaknya, Putri Rubiah. Mereka mendiskusikan nasib satu-satunya putri Putri Rubiah, Rukiah, yang sudah berusia untuk menikah tetapi belum ada calon. Dalam diskusi itu, Putri Rubiah mengeluh bahwa Sutan Mahmud hanya beristri satu, walaupun penghulu-penghulu lain sudah berkali-kali beristri; apalagi, istri dari Sutan Mahmud hanya orang biasa. Sutan Mahmud merasa terhina, dan mereka berdebat. Akhirnya, mereka mencoba berbaikan tetapi kunjungan mereka terganggu karena bunyi katuk-katuk yang menandai adanya pengamukan di luar. Hari berikutnya Sitti Nurbaya, Samsulbahri, dan dua dari teman Samsulbahri, yaitu Arifin dan Bakhtiar, naik Gedung Padang. Ternyata mereka kesulitan tidur semalam karena ada pengamukan yang disebabkan penangkapan seorang pembunuh oleh ayah Arifin. Setiba di puncak gunung, mereka berhenti untuk istirahat. Arifin dan Bakhtiar pergi bersenang-senang, dan Sitti Nurbaya ditinggal berdua dengan Samsulbahri. Setelah main buaian, Samsulbahri curhat tentang kekhawatirannya akan ke Jakarta. Dia telah mimpi bahwa Datuk Meringgih menarik Sitti Nurbaya dan menjauhkannya dari Samsulbahri. Samsulbahri coba melawan, tetapi karena Datuk Meringgih jauh lebih kuat akhirnya kalah dan dibuang. Ini diikuti Sitti Nurbaya, yang tidak izinkan Datuk Meringgih berdekatan. Mereka lalu pulang berempat setelah makan. Sesaat itu di kota Padang Putri Rubiah mengeluh ke adik Sutan Hamzah tentang saudara mereka. Mereka sepakat bahwa Sutan Mahmud pasti kena ilmu hitam karena perilakunya yang sangat tidak normal; mereka salahkan istrinya, yang berasal dari orang biasa. Agar saudara mereka bisa menikah lagi dengan wanita berbangsa tinggi, mereka memanggil dukun untuk menghancurkan pernikahan Sutan Mahmud dengan ilmu dan ramuan. 7

Tiga bulan kemudian, Samsulbahri, Arifin dan Bakhtiar mengadakan pesta perpisahan dengan teman-teman sesekolah. Para anak bergembira ria sampai akhirnya pada pulang tengah malam. Samsulbahri antar Sitti Nurbaya pulang ke rumahnya, dan mereka duduk di depan. Samsulbahri curhat bahwa dia tidak tega tinggalkan Padang, khususnya Sitti Nurbaya; akhirnya dia mengakui bahwa dia sudah lama sekali cinta pada Sitti Nurbaya dan minta dia menikah dengannya. Sitti Nurbaya setuju, dan mereka menyanyikan pantun sampai jam satu pagi. Hari berikutnya, keluarga Samsulbahri dan Sitti Nurbaya pergi ke Teluk Bayur untuk antar Samsulbahri ke kapalnya. Setelah diperingati orang tuanya, Samsulbahri dan Sitti Nurbaya curhat berdua dan tukar hiasan sebagai janjian kesetiaan mereka. Sitti Nurbaya disuruh menulis surat kepada kekasihnya setiap bulan dan memberitahukan apabila ada masalah. Lalu mereka berpisah. Dalam waktu yang sama terjadilah pertemuan di antara Datuk Meringgih dan Pendekar Lima. Ternyata ayah dari Sitti Nurbaya, Baginda Sulaiman, bersaing bisnis dengan Datuk Meringgih. Oleh karena Datuk Meringgih tidak ingin berkompetisi dengan siapapun, dia suruh Pendekar Lima hancurkan bisnis Baginda Sulaiman; uang yang dikeluarkan tidak dipentingkan. Pendekar Lima setuju dan janji akan selesaikan tugasnya. Tiga bulan kemudian, Sitti Nurbaya masih merindu berat kekasihnya. Dia menerima suatu surat dari Samsulbahri, yang menceritakan pengalamannya di Sekolah Dokter Jawa. Dia juga menerima buah-buahan dari Jawa. Ini membuat dia lebih tenang. Setahun kemudian, menjelang bulan Ramadhan, Sitti Nurbaya mengirimkan surat ke Samsulbahri tentang nasibnya yang buruk: Tiga toko milik Baginda Sulaiman dibakar habis, kebun kelapanya diracuni, pegawainya pada keluar atau meninggal, dan orang yang berutang padanya tidak mau membayar kembali. Akibatnya, semua kekayaan Baginda Sulaiman hancur; rencana Datuk Meringgih sudah berhasil. Setelah kejadian-kejadian itu, utang Baginda Sulaiman terus-menerus bertambah, hingga dia harus meminjam uang dari Datuk Meringgih. Namun, karena 8

tidak mampu membayar kembali uang pinjaman itu, dia diberi dua pilihan: jual semua tanah dan hartanya, lalu masuk penjara, atau menjodohkan Sitti Nurbaya dengan Datuk Meringgih. Baginda Sulaiman pilih dipenjarakan, tetapi Sitti Nurbaya tidak tega melihat apa yang terjadi dan mengikut dengan Datuk Meringgih. Saat bulan Ramadhan tiba Samsulbahri pulang ke Padang dan diberitahu bahwa Baginda Sulaiman sakit dan sekarat. Samsulbahri tidak tega mendengar berita itu, dan pergi ke rumah Baginda Sulaiman dengan membawa buah-buahan. Setelah mengakui bahwa dia masih tulus sayang pada Sitti Nurbaya kepada Baginda Sulaiman, Samsulbahri harus menghadapi Sitti Nurbaya yang datang untuk merawat ayahnya. Setelah mereka dinasihati oleh Baginda Sulaiman, mereka meninggalkan agar dia bisa istirahat. Dua hari setelah itu mereka bertemu lagi untuk curhat, dan akhirnya Sitti Nurbaya terbawa nafsu dan peluk dan cium Samsulbahri, yang balas kemesraannya. Namun, kebahagiaan mereka dihentikan oleh Datuk Meringgih, yang mendengarkan perilaku mereka dari mata-matanya.. Datuk Meringgih dan Samsulbahri berkelahi di depan rumah, dan Pendekar Lima hampir menikam Samsulbahri dengan keris. Sitti Nurbaya mencari-cari bantuan, dan Pendekar Lima melarikan diri. Seketika Sutan Mahmud tiba, Datuk Meringgih mengeluh bahwa Samsulbahri memancing Sitti Nurbaya untuk selingkuh, bahkan memukuli dirinya sendiri. Sutan Mahmud malu betul atas perilaku anaknya. Karena mendengar perkelahian di depan rumahnya Baginda Sulaiman turun ke bawah, tetapi karena terlalu lelah dia jatuh mati. Sebagai akibat dari semua kecelakaan itu, Sitti Nurbaya meninggalkan Datuk Meringgih, Samsulbahri melarikan diri ke Jakarta tengah malam, dan ibu Samsulbahri melarikan diri ke rumah keluarganya karena tiada kenangan di rumah itu lagi. Beberapa bulan setelahnya, Samsulbahri sudah di Jakarta lagi dan Sitti Nurbaya tinggal dengan sepupu kandungnya. Mereka curhat tentang pikiran kacaunya Sitti Nurbaya, dan mengambil keputusan agar Sitti Nurbaya pergi ke Jakarta untuk mencari Samsulbahri. Namun, rencana mereka diketahui oleh pihak Datuk Meringgih. 9

Keesokan harinya Sitti Nurbaya dan pembantu dari Sutan Mahmud naik kapal untuk pergi ke Jakarta. Pihak dari Datuk Meringgih juga naik kapal itu tanpa diketahui Sitti Nurbaya. Dalam perjalanan Sitti Nurbaya hampir diperkosa seorang petugas di kapal, lalu diserang oleh bawahan Datuk Meringgih. Akibatnya, dia jatuh sakit dan disuruh ke rumah sakit. Ternyata setelah diketahuinya bahwa Sitti Nurbaya melarikan diri, Datuk Meringgih mendakwanya sebagai pencuri. Akibtanya, dia disuruh pulang oleh polisi setelah dia sudah sembuh. Untuk semalam sebelum Sitti Nurbaya naik kapal pulang ke Padang, dia dan Samsulbahri jalan-jalan di Jakarta untuk hiburkan diri. Setelah Sitti Nurbaya pulang Padang dan terbukti tidak bersalah, dia diizinkan pergi; namun, Datuk Meringgih masih ingin menjatuhkan dia. Oleh karena Samsulbahri merasa Sitti Nurbaya tidak dapat kembali ke Jakarta, dia pergi ke Padang. Sayangnya, harapan ini tidak menjadi kenyataan. Setelah pulang ke Padang, Sitti Nurbaya kembali tinggal bersama dengan keluarga sepupunya. Setelah cerita panjang lebar tentang hak wanita, Sitti Nurbaya merasa kecapekan dan lapar. Kedengaran suara tukang kue, maka mereka membeli. Namun, setelah kue itu dimakan Sitti Nurbaya, meninggallah dia karena kue itu diracuni. Setelah dengar kabar itu, ibu dari Samsulbahri meninggal pula. Kematian ibu dan kekasihnya diberitahukan ke Samsulbahri lewat surat. Tatkala dia membaca surat itu, Samsulbahri menulis surat kepada ayahnya untuk minta maaf atas kesalahannya dan memberi tahu bahwa dia akan bunuh diri; ditulis pula surat untuk guru dan teman-teman sekelas. Dalam surat kabar hari berikutnya, dia dilaporkan telah bunuh diri di kebun. Sepuluh tahun kemudian, ada dua opsir yang mendiskusikan masa lalu mereka, satu orang Belanda dan satu Pribumi. Ternyata si opsir Pribumi (Letnan Mas) sudah berkali-kali berusaha untuk bunuh diri, tetapi setiap kali gagal. Mereka dipanggil kapten mereka, lalu diperintahkan agar segera menyelesaikan revolusi di Padang. Ternyata kerusuhan itu dipimpin oleh Datuk Meringgih, yang menyatukan bangsanya untuk melawan Belanda agar tidak harus bayar pajak belasting. Seketika 10

Letnan Mas melawan Datuk Meringgih, dia mengakui bahwa dialah Samsulbahri, yang gagal bunuh diri sepuluh tahun sebelumnya. Mereka serang-menyerang, dan akibatnya Datuk Meringgih mati dan Samsulbahri terluka parah. Ketika di rumah sakit, Samsulbahri minta ayahnya datang. Akhirnya Sutan Mahmud mengatahui nasib anaknya, dan sangat berduka cita, sehingga meninggal dunia dua bulan kemudian.

BAB III: KEJATUHAN TOKOH SITTI NURBAYA Pada awal cerita si Sitti Nurbaya digambarkan sebagai model keluguan dan kebaikan. Di bab satu, pertama-tama kali dia diperkenalkan, dia tergambar demikian: “… seorang anak perempuan yang umurnya kira-kira 15 tahun. Pakaian gadis ini pun sebagai pakaian anak Belanda juga. Rambutnya yang hitam dan tebal itu, dijalinnya dan diikatnya dengan benang sutra, dan diberinya pula berpita hitam. Gaunnya (baju nona-nona) terbuat dari kain batis, yang berkembang merah jambu. Sepatu dan kausnya, coklat warnanya. Dengan tangan kirinya dipegang sebuah batu tulis dan sebuah kotak yang berisi anak batu, pensil, pena, dan lainlain sebagainya; dan di tangan kanannya adalah sebuah payung sutra kuning muda, yang berbunga dan berpinggir hijau. … Pipinya sebagai pauh dilayang, yang kemerahmerahan warnanya kena baying baju dan payungnya, bertambah rupanya, kena panas matahari. Apabila ia tertawa, cekunglah kedua pipinya, menambahkan manis rupanya; istimewa pula karena ada tahi lalat yang hitam. Pandangan matanya tenang dan lembut, sebagai janda baru bangun tidur. Hidungnya mancung, sebagai bunga melur, bibirnya halus, sebagai delima merekah, dan di antar kedua bibir itu kelihatan 11

giginya, rapat berjejer, sebagai dua baris gading yang putih. Dagunya sebagai lebah bergantung, dan pada kedua belah cuping telinganya kelihatan subang perak, yang bermatakan berlian besar, yang memancarkan cahaya air embun. Di lehernya yang jenjang, tergantung pada rantai emas yang halus, sebuah dokoh hati-hati, yang bermatakan permata delima. Jika ia minum, seakan-akan terbayanglah air yang diminumnya di dalam kerongkongannya. Suaranya lemah lembut, bagai buluh perindu, memberi pilu yang mendengarnya. Dadanya bidang, pinggangnya ramping. Lengannya dilingkari gelang ular-ular, yang bermatakan beberapa berlian yang bernyala-nyala sinarnya. Pada jari manis tangan kirinya yang halus itu, kelihatan sebuah cincin mutiara, yang besar matanya. Kakinya baik tokohnya dan jalannya lemah gemulai” (Rusli, Sitti Nurbaya, 1 – 2). Dalam gambaran di atas ada beberapa hal yang menunjukkan bahwa Sitti Nurbaya adalah orang yang lugu, yang tulus hatinya. Pertama-tama, saat Sitti Nurbaya dan sahabatnya Samsulbahri pulang dari sekolah dan masih berseragam sekolah. Pelajar, baik SD, SMP, maupun SMU, sering dianggap orang yang lugu karena mereka fokus pada pelajaran dan masih dalam periode perkembangan. Ini dicerminkan juga dengan seragamnya, yang konotasinya orang yang teratur. Terkait pula dengan sekolah adalah kotak yang dibawanya. Oleh karena isi kotak sekolah Sitti Nurbaya banyak, bisa dibayangkan bahwa dialah pelajar yang rajin dan sangat ingin bersekolah. Kerajinan ini mencerminkan kebaikannya dan juga keluguannya; apabila dia rajin bersekolah dimengerti bahwa dia tidak berbuat nakal di luar karena terlalu sibuk belajar. Ada pula kaitan kain yang dipakai Sitti Nurbaya dengan kemuliannya. Sutra adalah kain yang mahal, halus, dan lembut. Dengan penggunaan kain sutra untuk payung dan kain, Marah Rusli mencerminkan suasana hati Sitti Nurbaya yang halus dan lembut. Dia juga menggambarkan statusnya sebagai anak orang yang kaya. 12

Fisik si Sitti Nurbaya mencerminkan keluguannya. Wajahnya halus, giginya putih, dan rambutnya hitam. Oleh karena tiada cacat fisik bisa dikatakan bahwa pada saat itu dia belum pernah mengalami kejadian buruk yang membuat dia stress; fokusnya masih pada kebaikan dunia dan bukan kepada kejahatan atau hal buruk yang bisa terjadi. Dalam bab satu, ketika Sitti Nurbaya dan Samsulbahri mendiskusikan apa bisa terjadi pada orang yang menjemput mereka, kelihatan pula jelas sekali sikap baik dan optimis Sitti Nurbaya. Walaupun Samsulbahri percaya bahwa pembantunya sedang malas-malasan, Sitti Nurbaya lebih percaya dan berempati pada dia: “Bagaimanakah rasanya, kalau kita sendiri sudah setua itu, masih dimarahi juga? Pada sangkaku, tentulah ada alangan apa-apa padanya. Jangan-jangan ia mendapat kecelakaan di tengah jalan” (Rusli, Sitti Nurbaya, 3). Kepercayaan pada orang lain mencerminkan bahwa Sitti Nurbaya berhati putih dan tulus; oleh karena dia tidak berbuat buruk, dia percaya bahwa orang lain takkan berbuat buruk. Keluguan dan kenaifan ini mencerminkan kekurangan pengalamannya dengan kesusahan dalam hidup, khususnya dengan orang yang tidak baik. Pada bab tiga keluguan Sitti Nurbaya dalam soal cinta digambarkan secara jelas. Samsulbahri mengatakan dalam pantun: “Padang Panjang dilingkar bukit Bukit dilingkar kayu jati Kasih sayang bukan sedikit Dari mulut sampai ke hati. (Rusli, Sitti Nurbaya, 48). Tatkala Sitti Nurbaya dengar pantun itu, wajahnya menjadi merah dan dia menjadi malu karena teringat kasih sayang yang dia simpan untuk Samsulbahri. Ini membuktikan bahwa Sitti Nurbaya belum mengakui bahwa cinta itu wajar dan merasa malu karena punya rasa sayang pada Samsulbahri. Lugunya juga terbukti dengan bagaimana dia terus-menerus berpikir Samsulbahri anggap dia sebagai adik, betapa perilakunya. Walaupun Samsulbahri 13

ayunkan dia di buaian (Hal. 53), punya mimpi buruk tentang mereka (Hal. 57), dan antar dia pulang dari pesta malam-malam (Hal. 79), Sitti Nurbaya tidak tahu dia sukainya; akhirnya, Samsulbahri harus mengakui terus terang perasaannya. Senangnya Sitti Nurbaya atas pengakuan Samsulbahri dan status mereka sebagai jodoh menandai puncak kehidupannya. Dia belum pernah merasa sebahagia itu, dan dia dan Samsulbahri menyanyikan pantun sampai pukul satu pagi. Namun, hari berikutnya dia merasa sedih dan tidak tahu harus bagaimana. Betapa rindunya pada Samsulbahri hanya digambarkan sedikit; kata tidak mampu menjelaskan rasa sakit hati yang dia alami. “Nurbaya menerima tanda mata Samsu itu lalu diciumnya, sedang air matanya jatuh bercucuran” (Rusli, Sitti Nurbaya, 90). Setelah hubungan mereka diresmikan dan mereka menjadi pasangan, Samsulbahri pergi ke Jakarta, sikap Sitti Nurbaya berubah. Walaupun sebelumnya dia tidak tahu ragu tentang sikap baik orang lain, selama Samsulbahri ada di Jakarta dia menjadi ragu-ragu atas kesetiaannya: “Betul, tetapi hatiku sebenarnya khawatir juga, kalaukalau ia kelak tergoda oleh perempuan lain; karena Jakarta kota negeri besar, segala godaan ada di sana. Nyonya yang bagusbagus, tentu tak kurang dan kabarnya perempuan-perempuan Sunda pun, banyak pula yang cantik-cantik (Rusli, Sitti Nurbaya, 111).” Ini membuktikan bahwa Sitti Nurbaya mulai menjadi lebih dewasa dan waswas dalam hubungannya dengan orang lain. Sikapnya mulai berubah, dari orang yang selalu optimis menjadi orang yang kadang-kadang merasa cemburu dan minder. Fisiknya Sitti Nurbaya, yang sebelumnya mulus dan cantik, mulai tampak tua setelah perusahaan ayahnya dihancurkan dan dia diminta menjadi istri Datuk Meringgih: “… badanku menjadi kurus kering, tinggal kulit, pembalut, tulang. Jika engkau lihat aku sekarang ini, pastilah tak kenal lagi engkau kepadaku. Demikianlah perubahan badanku, 14

karena sedih, susah, takut, dan makan hati” (Rusli, Sitti Nurbaya, 136). “Badannya yang tinggi lampai dan lemah gemulai itu menjadi kurus, mukanya yang putih kuning serta kemerahmerahan, bila kepanasan, menjadi pucat; matanya yang jernih itu menjadi pudar, dikelilingi oleh suatu lingkaran hitm yang dalam; pipinya seakan-akan cekung, rambutnya kusut, sebagai tiada dindahkannya benar-benar” (Rusli, Sitti Nurbaya, 154). Perubahan fisik ini menandai perubahan dalam suasana hati Sitti Nurbaya, dari seorang gadis perawan penuh dengan harapan menjadi dewasa yang mahklum dengan nasibnya. Dia tiada waktu untuk fokus pada dirinya sendiri ataupula kebahagian, hanya untuk memikirkan hidupnya yang menjadi bagai neraka. Semakin badannya berarah tua, semakin gagasannya mulai melihat dunia senyatanya. Perubahan yang paling besar dalam kehidupannya adalah ketika dia menikah dengan Datuk Meringgih; pernikahan ini akhirnya menjadi alasan mengapa Sitti Nurbaya jatuh. Pernikahan yang itu juga menandai bukan tetapi hanya kehilangan dunia keperawanannya sesungguh-sungguhnya, bagaimana

memandanginya pula. Tidak lagi dia dapat dianggap anak kecil; menurut masyarakat luas, dia sudah tumbuh dewasa dan harus bersikap demikian. Sitti Nurbaya juga tambah tidak percaya pada orang lain, termasuk Samsulbahri. Ketika mereka harus bicara pada bulan Ramadhan, Sitti Nurbaya harus diberi tahu berkali-kali bahwa Samsulbahri masih sayang padanya, dan bisa terima perbuatannya. Hatinya yang dulu bisa terima siapa-siapa akhirnya menjadi tertutup dan mencuriga: “Sesungguhnyakah tiada berubah hatimu kepadaku, Sam? Sesungguhnyakah hatimu itu masih suci dan bersih kepadaku, sebab dahulu, sebelum terjadi perkara ini? Dan sesungguhnyakah dapat kauberi ampun dan maaf aku, atas kesalahanku? Ataukah, sebab engkau malu kepada ayahku dan karena hendak

15

membesarkan hatiku saja, engkau berjanji sedemikian?” (Rusli, Sitti Nurbaya, 170) Dia menjadi pula lebih tidak terkendali. Walaupun sebelumnya dia menjadi malu karena pandung yang romantis dan bermuka merah, setelah dia sudah menikah dengan Datuk Meringgih dia mudah emosi, sampai berani cium dan peluk Samsulbahri di depan rumahnya. “Mendengar pantun ini, tiadalah tertahan oleh Nurbaya hatinya lagi, lalu dipeluknya Samsu dan diciumnya pipinya. Dibalas oleh Samsu cium kekasihnya ini dengan pelukan yang hasrat” (Rusli, Sitti Nurbaya, 180). Setelah perkelahian Samsulbahri dan Datuk Meringgih, Sitti Nurbaya ditinggal sendiri tanpa siapa pun: ayahnya sudah meninggal, kekasihnya sudah melarikan diri, dan suaminya. Oleh karena itu, dia melarikan diri dan tinggal sendiri dengan satu-satunya saudara kandung yang masih selamat, sepupunya. Dalam pembicaraan Sitti Nurbaya dengan sepupunya, kelihatan betapa rasa hampa yang ada dalam hatinya, karena hanya ada satu orang saja yang dapat dia percaya: “’Aku banyak meminta terima kasih kepadamu, atas kesudian hatimu, menolong aku yang tengah duka cita ini. Di dalam halku ini, hanya engkau seoranglah yang masih setia kepadaku; suka bersusah payah memimpin aku, supaya jangan sesat kepada jalan yang salah” (Rusli, Sitti Nurbaya, 198). Dia terus menerus jatuh ketika di kapal. Dia hampir diperkosa oleh petugas kapal (Hal. 213) dan ada yang coba membunuhnya (Hal. 214). Kejatuhannya hampir lengkap: kemaluannya sudah tidak ada lagi dan ada yang mengejar dia agar bisa membunuhnya. Oleh karena itu dan juga karena batinnya yang amat depresi, dia jatuh sakit. Setelah bertemu dengan Samsulbahri lagi dia mulai lebih senang dan bisa berdiri sendiri. Namun, sudah jelas dia tidak merasa senang dalam waktu lama. “Semalam itu lupalah Nurbaya akan hal yang telah ditanggungnya, dan dirasainyalah kesenangan seorang perempuan 16

yang bebas, yang berdekatan dengan kekasihnya. Malam itulah malam yang ketiga kali Nurbaya merasa untungnya mujur” (Rusli, Sitti Nurbaya, 227). Walaupun ketika dia kembali ke Padang dia masih merasa sedih, dia optimis bahwa kehidupannya akan menjadi lebih baik. Dia sangat harapkan kembali ke Jakarta untuk bersama Samsulbahri, dan membuat rencana untuk masa depannya. Namun, dia saat itu sudah cukup jatuh. Walaupun pada awal cerita dia sangat optimis, dia saat kembali ke Padang sudah mengerti bahwa tidak dapat keadilan untuk perempuan (Bab XII). Perubahan sikapnya ini disebabkan oleh pengalamannya sebagai istri Datuk Meringgih. Dari tempatnya ini dia jatuh untuk terakhir kali. Setelah dia makan kue yang beracun, Sitti Nurbaya meninggal: “Tatkala dilihat Fatimah, Nurbaya terhantar di tempat tidurnya, tiada bergerak lagi, lalu berteriaklah pula dia ia menangis dengan merentak-rentak dan memukul-mukulkan tangannya, sehingga ramailah bunyi ratap di rumah itu. Orang sebelahmenyebelah pun gempar datang, hendak mengetahui, apa yang terjadi di situ. Tapi seorang pun tak dapat memberi keterangan yang nyata, selainnya daripada Nurbaya telah meninggal” (Rusli, Sitti Nurbaya, 259). Dengan kematian Sitti Nurbaya, jatuhnya lengkap; akhirnya Datuk Meringgih sampai ke tujuannya.

DIAGRAMA: KEJATUHAN SITTI NURBAYA *Catatan: Awal adalah awal cerita. 17

Bukit adalah saat perjalanan Sitti Nurbaya dengan kawan-kawan ke Bukit Padang Pengakuan adalah pengakuan perasaan Samsulbahri terhadap Sitti Nurbaya Perpisahan adalah perpisahan Sitti Nurbaya dengan Samsulbahri Pernikahan adalah pernikahan Sitti Nurbaya dengan Datuk Meringgih Perceraian adalah perceraian Sitti Nurbaya dengan Datuk Meringgih Pelarian adalah pelarian Sitti Nurbaya ke Jakarta Kepulangan adalah kepulangan Sitti Nurbaya ke Padang Kematian adalah kematian Sitti Nurbaya

BAB IV: PENUTUP Kehidupan Sitti Nurbaya dalam cerita ini naik-turun seperti bukit. Di awal cerita, dia hidup dalam pangkat tinggi dan puas dengan hampir segala aspek hidupnya; dia hanya merasa kurang puas dengan cinta. Kekurangan itu dipenuhi setelah Samsulbahri mengakui cinta kepadanya, dan hidupnya sampai ke puncaknya. Walaupun dia menjadi agak sedih setelah harus berpisah, dia masih merasa sangat senang. Namun, setelah rencana Datuk Meringgih dijalani dan Baginda Sulaiman jatuh, hingga Sitti Nurbaya wajib menikahi Datuk Meringgih, kehidupannya menjadi kacau. Dia merasa amat bersalah dan berdosa, hingga anggap Samsulbahri benci kepadanya. Setelah dia perkelahian Samsulbahri dengan Datuk Meringgih dia harus melarikan diri ke rumah sepupunya; semakin lama menjadi semakin depresi. Ketika dia akhirnya ambil keputusan untuk melarikan diri ke Jakarta, hidupnya mulai kelihatan lebih positif. Dia senang bertemu dengan Samsulbahri dan mulai membuat rencana untuk pindah ke Jakarta untuk selamanya. Walaupun dia sedih karena disuruh pulang Padang, dia masih penuh harapan.

18

Akan tetapi, harapan ini tidak terjadi. Dia akhirnya jatuh secara lengkap ketika Datuk Meringgih meracuninya. Setelah dia sudah meninggal, tiada kesempatan atau kemungkinan untuk menyelamatkan diri dari hidup malang yang terjadi.

DAFTAR PUSTAKA Rusli, Marah. 2008. Sitti Nurbaya. Catatan keempat puluh empat. Jakarta: Balai Pustaka.

19

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful