You are on page 1of 119

PENGARUH MOTIVASI, SIKAP DISIPLIN DAN SIKAP ILMIAH

SISWA TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS VIII
SEMESTER I SMP N 4 SALATIGA DENGAN POKOK BAHASAN
BENTUK ALJABAR TAHUN PELAJARAN 2010/2011
SKRIPSI
Diajukan sebagai Salah Satu Syarat
untuk Menyelesaikan Program Sarjana (S1)

Oleh :
Ella Kurniawati
06310053

FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA
DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
IKIP PGRI SEMARANG
2011

HALAMAN PERSETUJUAN

Skripsi dengan judul “ PENGARUH MOTIVASI, SIKAP DISIPLIN DAN SIKAP
ILMIAH

SISWA

TERHADAP

HASIL

BELAJAR

SISWA

KELAS

VIII

SEMESTER II SMP N 4 SALATIGA KOTA SALATIGA DENGAN SUB POKOK
BAHASAN OPERASI PECAHAN BENTUK ALJABAR TAHUN PELAJARAN
2010/2011”
yang disusun oleh :
Nama

: Ella Kurniawati

NPM

: 06310053

Jurusan

: Pendidikan Matematika

Telah disetujui dan disahkan pada :

Hari

:

Tanggal

:

Semarang,….Febuari 2011
Pembimbing I

Pembimbing II

Drs Sutrisno, S.E., M.M.
NIP. 19601121 198703 1 001

Drs Wijonarko,M.Kom
NIP.19580303 199103 1 001
Mengetahui,
Dekan FPMIPA

Ary Susatyo N, S.Si, M.Si

NIP. 19690826 199403 1002
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
Motto:

1. Sesungguhnya sesudah kesulitan pasti ada kemudahan maka apabila
kamu sudah selesai dalam suatu urusan, lakukanlah dengan sungguhsungguh urusan yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya
kamu berharap (Q.S. Al-Insyiroh: 6-8)
2. Jangan kau kira kesuksesan seperti buah kurma yang kau makan,
engkau tidak akan meraih kesuksesan sebelum meneguk pahitnya
kesabaran (Sabda Nabi SAW)
3. Jadikanlah kesabaran dan sholatmu sebagai penolong dan
sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orangorang yang khusuk (Q.S. Al-Baqoroh: 45)

Persembahan:

! "#
$

%

&

'
*

&

()

&
(

'
'

/

'

++,-

.
0 1 12" %

" )2

Wijonarko. 2. .Kom. dapat SIKAP DISIPLIN DAN SIKAP ILMIAH SISWA TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA KELAS VIII SEMESTER II SMP N 4 SALATIGA KOTA SALATIGA DENGAN SUB POKOK BAHASAN OPERASI PECAHAN BENTUK ALJABAR TAHUN PELAJARAN 2010/2011” Penulis menyadari bahwa terselesainya skripsi ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. selaku kepala SMP Negeri 4 Salatiga yang telah memberikan ijin penelitian. Muhdi. M. Drs. serta kemudahan dan kelapangan. 6. Drs.Pd. arahan dan pembimbing kepada penulis. 5. Drs. 3. Rasiman. sehingga penulis menyelasaikan skripsi dengan judul judul “ PENGARUH MOTIVASI.M selaku dosen pembimbing I yang telah memberikan persetujuan. S. Munadzir S.Hum. 4. selaku rektor IKIP PGRI Semarang. M. selaku ketua program studi pendidikan matematika IKIP PGRI Semarang.Si.E. M. arahan dan pembimbing kepada penulis.Pd. Penulis sampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada: 1. M. M.Pd. selaku dosen pembimbing II yang telah memberikan persetujuan.Si.H. selaku dekan FPMIPA IKIP PGRI Semarang. S.M. Ary Susatyo Nugroho. Sutrisno S.KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan nikmat dan karunia-Nya.

jasa dan budi baik serta selalu melimpahkan rahmat. selaku guru bidang studi matematika kelas VIII SMP Negeri 4 Salatiga.7. taufiq serta hidayah-Nya. S. Bu Wiwiek. maupun pengetahuan penulis. Semarang. nasehat serta kasih sayang dan perhatiannya.Pd. tenaga. Untuk itu saran dan kritik yang bersifat membangun sangat penulis harapkan. Desember 2010 Penulis . 8. Semua pihak yang telah membantu terselesainya skripsi ini. 9. Bapak dan Ibu tersayang atas doa dan dukungan. yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi semua pihak. karena berbagai keterbatasan baik waktu. Dengan harapan semoga ALLAH SWT menerima amal. Amin Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari sempurna.

6 BAB II E. BAB I viii PENDAHULUAN ………………………………………. 8 LANDASAN TEORI ………………………………... 4 C.DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ………………………………………………….. A. Latar Belakang Masalah ……………………………. ……………………………… 32 D. ii HALAMAN PENGESAHAN ……..…………… 35 E. v KATA PENGANTAR ………………………………………………….... Sikap Disiplin………... 1 B. vi DAFTAR ISI …………………………………………………………….……………………………. Prestasi Belajar ………………………………… 40 . i HALAMAN PERSETUJUAN …………………………………………. Sistematika Penulisan Skripsi ………………………. 10 10 B. Motivasi………… ……………………………….. Manfaat Penelitian …………………………………. Rumusan Masalah …………………………………. iv MOTTO DAN PERSEMBAHAN ……………………………………….. 20 C.. Pembelajaran ………………………... Sikap Ilmiah………. 7 F. Penegasan Istilah ……………………………………. 1 A.…………………………………….. 5 D... iii ABSTRAK ……………………………………………………………….. Tujuan Penelitian …………………………………….

Pelaksanaan Penelitian …………………………… 73 C.. 124 B. 72 A. Hipotesis ……... Persiapan Penelitian ……………………………… 72 B. Uji Instrumen ……………………………………. Uraian Materi ……………………………………… 44 G. Hasil Uji Coba Instrumen ………………………… 74 D. Populasi dan Sampel ……………………………… 54 C.. Pembahasan Hasil Penelitian…………………….. 50 METODE PENELITIAN ……………………………… 52 A. Metode Pengumpulan Data ……………………… 54 D. 119 PENUTUP …………………………………………… 124 A. 55 E. Variabel Penelitian ………………………………… 52 B. Saran ……………………………………………… 125 DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………… x DAFTAR LAMPIRAN …………………………………………………. Kerangka Berpikir ………………………………… 45 H. xiii .BAB III BAB IV BAB V F. Kesimpulan ………………………………………. Analisis Data ……………………………………… 77 E.. Analisis Data ……………………………………… 58 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN …….…………………………………….

Bandung: PT.UGM Hamalik. Syaiful Djamarah. Arikunto. SR. Jakarta: Rineka Cipta Arikunto. Psikologi Belajar dan Mengajar. Oemar. Suharsimi. Darsono. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis. Jakarta: Depdiknas Haditono. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Yogyakarta: Fakultas Psikologi. 2009. 2004. Petunjuk teknis disiplin dan tata tetib sekolah dasar. E. Elizabeth. Psikologi Belajar. 2003. 1993. Jakarta: Rineka Cipta Mulyasa. Metodologi Penelitian Pendidikan. 2006. 2004. 1999. 2002. Catharina Tri. Achievment Motivation. Implementasi Kurikulum 2004 panduan pembelajaran KBK. Kurikilulum Berbasis Kompetensi. Semarang:UPT MKK UNNES. 1992. 1999. 1998. Bandung : Angkasa Anni. Psikologi perkembangan (suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan. Max. Parent’s Educational Level and Child Learning Practice in from Occupational Groups. 1998. Sugeng. 2002.dkk. Bandung: PT Remaja Rosda Karya . ________________. Prosedur dan Stretegi Penelitian Kependidikan. Rahasia Sukses Belajar. 2000. 2003.DAFTAR PUSTAKA Ali. 1989. Perkembangan Anak. Remaja Mulyasa. Perkembangan Peserta Didik. Semarang: IKIP Semarang Press Hurlock. Bandung: Sinar Baru Algesindo Hariyadi. Suharsimi. Jakarta: Erlangga Margono. Jakarta: Rineka Cipta. Jakarta: PT Gelora Aksara Pratama -----------------------. Jakarta : Bumi Aksara. Bahri. Jakarta : Rineka Cipta. E. Belajar dan Pembelajaran. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Muhammad. S. Semarang: IKIP Semarang Press Depdiknas.

Peran Disiplin pada Perilaku dan Prestasi Belajar. Amin. 2004. Sumadi. Jakarta: Grasindo Winardi. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. 2009. LKS. Jakarta: Rineka Cipta Sudjana. Semarang : UPT MKK UNNES Suryabrata.Poerwadarminto. Pengukuran Skala Sikap Seseorang Terhadap Mata Pelajaran Matematika. 1997. 1994.S. Sardiman. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada Slameto. Jakarta: Rajawali Press Suyitno. Jakarta: PT. Tu’u. Psikologi Pendidikan. Singgih. Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2003. 2003. Surakarta: Surya Badra Santoso. Metoda Statistika.5. Achmad. Teori Pembelajaran. 2003. Semarang: FMIPA IKIP Semarang. Tulus. Bandung : Tarsito. Grafindo Persada .dkk. Motivasi dan Pemotivasian dalam Manajeman. Sugandi.H. 2004. 2005. Mengatasi Berbagai Masalah Statistik dengan SPSS versi 11. Jakarta: Balai Pustaka Riyanto. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. W. 2001. Jakarta.Matematika Kelas VIII Semester I. Gramedia.J. 2002.

Analisis Akhir Lampiran 15. Daftar Nilai Ulangan Lampiran 11. Daftar Nama Siswa Penelitian Lampiran 3. Data Hasil Penelitian Lampiran 7. Analisis Regresi Angket Lampiran 14. Uji Normalitas Lampiran 12. Analisis Regresi Linier Ganda Lampiran 16. Soal Angket Lampiran 5. Analisis Validitas dan Reliabilitas Lampiran 8. Data Uji Coba Instrumen Lampiran 6. Koefisien Korelasi Ganda Lampiran 17. Uji Koefisien Regresi Lampiran 20.DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Analisis Reliabilitas Angket Lampiran 10. Uji Linearitas Lampiran 13. Uji Regresi Linier Lampiran 21. Daftar Nama Siswa Kelas Uji Coba Lampiran 2. Kisi-kisi Angket Lampiran 4. Uji Regresi Linier Lampiran 19. Uji Koefisien Regresi . Prosentasi Koefisien Determinasi Lampiran 18. Analisis Validitas Angket Lampiran 9.

Surat Ijin Penelitian Lampiran 23. Surat Keterangan Melakukan Penelitian .Lampiran 22.

olahraga dan lain-lain. dikarenakan anggapan siswa terhadap pelajaran matematika dengan rumus yang cukup beragam dan rumit. nilai hitung dan sebagainya. Kurangnya rasa ingin tahu dan krekritisan yang terdapat dalam diri siswa. bahwa matematika merupakan pelajaran yang susah dimengerti dan kurang dimotivasi. LATAR BELAKANG Pelajaran matematika merupakan dasar dari pelajaran-pelajaran yang lain. serta sikap siswa .1 BAB I PENDAHULUAN A. Ini mengakibatkan siswa pasif dalam belajar matematika. walaupun disisi lain ada sebagian siswa menganggap bahwa matematika merupakan pelajaran yang mudah dimengerti dan mengasyikkan. Pandangan siswa secara umum mengenai pelajaran matematika. Hal inilah yang mengakibatkan rendahnya hasil belajar siswa. dan kecenderungan siswa belajar hanya dengan menghafal rumus saja tanpa mengetahui darimana rumus tersebut diperoleh. sejarah. serta kurangnya rasa keingintahuan dan kurang kritisnya siswa dalam mempelajari matematika. Hal ini dikarenakan dalam penerapannya. pelajaran-pelajaran tersebut sering menggunakan unsur matematika. Perasaan kurang motivasi dan susah mengerti akan pelajaran matematika yang dialami oleh siswa. sehingga hasil belajar siswa menjadi meningkat. bahasa Indonesia. seperti bilangan. seperti ekonomi.

karena siswa yang melakukan kegiatan belajar perlu . Sikap ilmiah siswa masih menunjukkan kurang ke arah positif seperti siswa terkadang masih menunggu perintah dari guru. Memperoleh prestasi belajar yang baik bukanlah hal yang mudah. kurang disertai rasa keingintahuan. diantaranya bidang pendidikan. Setiap orang pasti mendambakan prestasi belajar yang tinggi. dan kekritisan siswa dalam belajar matematika. orang tua dan siswa. ini kurang bisa mendorong cara berpikir siswa ke arah positif. 2000:1). Siswapun terkadang kurang jujur kepada guru. siswa. sehingga kurang adanya keluwesan dalam kegiatan belajar. Untuk mencapai prestasi belajar yang optimal tidak lepas dari kondisi-kondisi dimana kemungkinan siswa dapat belajar dengan efektif dan dapat mengembangkan daya eksplorasinya. Dari waktu ke waktu perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi semakin pesat. Untuk menghadapi tantangan berat ini dibutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas. Hasil kegiatan belajar yang diharapkan adalah prestasi belajar yang baik. Arus globalisasi juga semakin hebat. dan lebih-lebih bagi guru. Faktor siswa memegang peranan penting dalam pencapaian prestasi belajar. Akibat dari fanomena ini muncul persaingan dalam berbagai bidang kehidupan. faktor-faktor tersebut antara lain guru. Hasil belajar yang diperoleh oleh siswa masih kurang dengan nilai rata-ratanya adalah 60.2 yang terkadang kurang jujur dalam belajar. Salah satu cara yang ditempuh adalah melalui peningkatan mutu pendidikan (Darsono. banyak faktor yang mempengaruhi. baik orang tua.

sehingga seseorang itu mau dan ingin melakukan sesuatu. 2001:249). Dalam kegiatan belajar. Penelitian sebelumnya yang berjudul Pengaruh Motivasi Belajar terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas VII SMP N 13 Semarang oleh Setyowati (2007:55). motivasi berprestasi yang tinggi. dan bila ia tidak suka. Begitu juga dalam proses belajar atau pendidikan. sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai. Salah satu prinsip dalam melaksanakan pendidikan adalah individu secara aktif mengambil bagian dalam kegiatan pendidikan yang dilaksanakan. Dengan kata lain. disiplin belajar yang baik. maka akan berusaha untuk meniadakan atau mengelakkan perasaan tidak suka itu (Sardiman. maka motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar. 2003:75).3 memiliki ketekunan belajar. menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar. individu harus mempunyai motivasi untuk mengikuti kegiatan belajar atau pendidikan yang sedang berlangsung. Motivasi dikatakan serangkaian usaha untuk menyediakan kondisikondisi tertentu. Jadi untuk terwujudnya perbuatan belajar juga harus ada kekuatan atau dorongan dari dalam diri siswa (Darsono. Jadi motivasi itu dapat dirangsang oleh faktor dari luar tetapi motivasi itu adalah tumbuh di dalam diri seseorang. dan berpartisipasi dalam pelaksanaan pembelajaran (Suryabrata. Hasil yang diperoleh dari penelitiannya adalah . 2000:60). untuk dapat melakukan sesuatu harus ada motivasi.

sikap disiplin. Berdasarkan uraian di atas. dan sikap ilmiah belajar siswa terhadap prestasi belajar matematika pada siswa Kelas VIII Semester I SMP N 4 Salatiga Tahun Ajaran 2010/2011? 2. Variabel manakah yang paling berpengaruh motivasi belajar. Bagaimanakah tingkat motivasi belajar. penulis memperoleh dasar pemikiran untuk mengambil judul “ Pengaruh Motivasi. dan Sikap ilmiah Siswa Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas VIII Semester I SMP N 4 Salatiga dengan Sub Bab Operasi Pecahan Bentuk Aljabar Tahun ajaran 2010/2011” B. Dari pertimbangan ini. maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut: 1. sikap disiplin. Apakah ada pengaruh motivasi belajar. dan sikap ilmiah belajar siswa terhadap prestasi belajar matematika pada siswa Kelas VIII Semester I SMP N 4 Salatiga Tahun Ajaran 2010/2011? . dan sikap ilmiah belajar siswa terhadap prestasi belajar matematika pada siswa kelas VIII Semester I SMP N 4 Salatiga Tahun Ajaran 2010/2011? 3. sangat dimungkinkan bahwa motivasi. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukakan dalam penelitian ini. cara berpikir kritis siswa dan sikap disiplin siswa dapat mempengaruhi hasil belajar siswa. sikap disiplin.4 besarnya pengaruh motivasi belajar terhadap hasil belajar siswa kelas VII SMP N 13 Semarang sebesar 29.234 % dipengaruhi faktor – faktor lain.766 % sedangka sisanya sebesar70. Sikap disipin.

1. Patuh dan taat terhadap tata tertib di sekolah b. sikap. dengan indikator: a. Suka tantangan 2. Persiapan belajar siswa . disertai dengan usaha yang keras agar memperoleh hasil yang baik dari kondisi yang ada sekarang dengan cara mengatur lingkungan sosial dan fisiknya. dengan indikator: a. Keinginan untuk berbuat lebih dari orang lain b. PENEGASAN ISTILAH Untuk menghindari adanya salah pengertian dalam memahami judul maka penulis perlu menjelaskan istilah dalaam judul yang dianggap penting. Memiliki daya juang untuk mengatasi rintangan c. Berorientasi jauh ke depan d.5 C. dan tindakan yang sesuai dengan peraturan dan ketentuan yang telah ditetapkan seseorang dalam belajar secara konsisten dan konsekuen. Sikap Disiplin Disiplin belajar didefinisikan sebagai sikap siswa yang terbentuk melalui proses dari serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan dan keteraturan berdasarkan acuan nilai moral individu untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang mencakup perubahan berfikir. Motivasi Motivasi berprestasi didefinisikan sebagai suatu bentuk dorongan yang ada dalam diri siswa untuk meraih prestasi dalam hal-hal tertentu.

6 c. Perhatian terhadap kegiatan pembelajaran d. D. Sikap Ilmiah Siswa yang mempunyai sikap ilmiah yang tinggi akan memiliki kelancaran dalam berfikir sehingga siswa akan termotivasi untuk selalu berprestasi dan memiliki komitmen yang kuat untuk mencapai keberhasilan dan keunggulan. 3. Prestasi Belajar Menurut Tu’u (2004:75) prestasi belajar adalah penguasaan pengetahuan atau ketrampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran. maka penelitian ini mempunyai tujuan sebagai berikut: . Keingintahuan siswa b. Bentuk Aljabar Dalam penelitian ini penulis memilih materi bentuk aljabar dengan sub bab operasi pecahan bentuk aljabar. 5. lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan oleh guru. Dalam penelitian ini prestasi belajar yang dimaksud adalah perolehan nilai ulangan setelah materi bentuk aljabar dengan sub bab operasi pecahan bentuk aljabar diajarkan. TUJUAN PENELITIAN Sesuai dengan permasalahan yang muncul diatas. a. Sikap kekritisan siswa 4. Kejujuran siswa c. Menyelesaikan tugas pada waktunya.

3. sikap disiplin. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan tentang motivasi belajar. Untuk mengetahui ada tidaknya motivasi belajar. dan sikap ilmiah belajar siswa serta prestasi belajar matematika pada siswa Kelas VIII Semester I SMP N 4 Salatiga Tahun Ajaran 2010/2011. 2. Manfaat Teoritik Hasil penelitian ini diharapkan akan menambah khasanah teoritik dibidang ilmu pendidikan dan diharapkan dapat memberi kontribusi positif bagi pengembangan ilmu pendidikan khususnya dalam rangka meningkatkan prestasi belajar matematika siswa. dan disiplin belajar adalah sangat penting dalam meningkatkan prestasi belajar matemaika siswa. dan disiplin belajar . dan sikap ilmiah belajar siswa serta prestasi belajar matematika pada siswa Kelas VIII Semester I SMP N 4 Salatiga Tahun Ajaran 2010/2011 E.7 1. sikap ilmiah. sikap disiplin. sikap disiplin. sikap ilmiah. MANFAAT PENELITIAN 1. dan sikap ilmiah belajar siswa serta prestasi belajar matematika pada siswa Kelas VIII Semester I SMP N 4 Salatiga Tahun Ajaran 2010/2011. Untuk mengetahui motivasi belajar. Manfaat Praktis Memberikan masukan kepada guru dan siswa bahwa motivasi belajar. Untuk mengetahui variabel yang paling berpengaruh pengaruh antara motivasi belajar. 2.

halaman pengesahan. tujuan penelitian. kata pengantar. populasi dan sampel penelitian. berisi tentang landasan teori. SISTEMATIKA PENULISAN Untuk mempermudah dalam penulisan skripsi ini. BAB IV Hasil penelitian dan pembahasan. Bagian awal skripsi Bagian awal skripsi berisi halaman judul. halaman pengesahan. F.8 terhadap prestasi belajar. rumusan masalah. kerangka berfikir dan hipotesis penelitian. sehingga dapat dijadikan bekal bagi peneliti dalam menerapkan ilmu kependidikan yang diperoleh dikemudian hari. hasil uji coba instrumen. pelaksanaan penelitian. halaman motto dan persembahan. maka digunakan sistematika skripsi yang dibagi menjadi tiga bagian yaitu : 1. BAB III Metode penelitian. 2. daftar tabel. berisi tentang variabel penelitian. berisi tentang latar belakang masalah. BAB II Landasan teori dan hipotesis. analisis data dan pembahasan hasil penelitian. dan daftar lampiran. abstraksi dan daftar isi. Bagian isi skripsi Bagian isi skripsi terdiri dari lima bab yaitu : BAB I Pendahuluan. . penegasan istilah. manfaat penelitian dan sistematika penulisan skripsi. berisi tentang persiapan penelitian. metode pengumpulan data dan analisis data.

.9 BAB V Penutup . 3. . berisi tentang simpulan dan saran. Bagian akhir skripsi Bagian akhir terdiri dari daftar pustaka dan lampiran – lampiran.

Sedangkan motif sudah ada dalam diri seseorang. Winkel mengatakan bahwa “motif” adalah daya penggerak di dalam diri orang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan tertentu (dalam Darsono. A. 2003:73) motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya “feeling” dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. motivasi diartikan sebagai motif yang sudah menjadi aktif pada saat-saat melakukan suatu perbuatan.10 BAB II LANDASAN TEORITIS DAN HIPOTESIS Untuk dapat memecahkan suatu permasalahan dengan baik maka permasalahan harus ditelaah dari berbagai kajian teori yang relevan. Menurut Mc. sikap ilmiah. Pengertian Motivasi W. sehingga dalam penelitian ini perlu mengungkapkan beberapa pendapat para ahli yang dapat membantu memecahkan permasalahan. Donald (dalam Sardiman. jauh sebelum orang itu melakukan suatu perbuatan. S. Dalam bagian ini dikemukakan pembahasan hal-hal yang berhubungan dengan permasalahan yang diteliti yaitu motivasi. Semua ini dipergunakan sebagai dasar perumusan hipotesis. sikap disiplin dalam pembelajaran dan prestasi belajar. yaitu: . Dari pengertian yang dikemukakan Mc. Berawal dari kata “motif” itu. Donald mengandung tiga elemen penting. MOTIVASI 1. 2000:61).

sesuai dengan semboyan “ motivation is an essential condition of learning”. Motivasi merupakan proses internal yang mengaktifkan. Motivasi akan dirangsang karena adanya tujuan. sehingga akan bergayut dengan perasaan dan emosi untuk bertindak atau melakukan sesuatu. penampakannya akan menyangkut kegiatan fisik manusia. Motivasi akan menyebabkan terjadinya suatu perubahan energi yang ada pada diri individu. b. Dalam hal ini motivasi relevan dengan persoalan-persoalan kejiwaan. afeksi dan emosi yang dapat menentukan tingkah laku manusia. c. memberikan arah atau tujuan perilaku. afeksi seseorang. memberikan peluang terhadap perilaku yang sama. Para pakar Psikologi menggunakan kata motivasi dengan mengaitkan belajar untuk menggambarkan proses yang dapat memunculkan dan mendorong perilaku. dan mengarahkan pada pilihan perilaku tertentu. Motivasi ditandai dengan munculnya. Dalam pengertian ini intensitas dan arah motivasi dapat bervariasi. Hasil belajar . maka dapat dikatakan bahwa motivasi itu sebagai sesuatu yang kompleks. Untuk belajar sangat diperlukan adanya motivasi. dan memelihara perilaku seseorang secara terus-menerus (Anni. yaitu tujuan. Bahwa motivasi itu mengawali terjadinya perubahan pada diri setiap individu manusia. rasa “feeling”. Semua ini didorong karena adanya tujuan dan kebutuhan. Dengan ketiga elemen di atas. Jadi motivasi dalam hal ini sebenarnya merupakan respon dari suatu aksi. memandu. 2005:111).11 a.

Motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya. Mendorong manusia untuk berbuat. Pengertian Motivasi Belajar Motivasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah motivasi berprestasi. 2003:84). Secara umum telah diketahui bahwa perilaku manusia . Di samping itu. yakni kearah tujuan yang hendak dicapai. akan makin berhasil pula pelajaran itu (Sardiman. Seseorang melakukan suatu usaha karena adanya motivasi. maka seseorang yang belajar itu akan dapat melahirkan prestasi yang baik.12 akan menjadi optimal. c. motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan. Adanya motivasi yang baik dalam belajar akan menunjukkan hasil yang baik. kalau ada motivasi. Sehubungan dengan hal tersebut ada tiga fungsi motivasi yang dikemukakan oleh Sardiman (2003:85). 2. b. yaitu: a. motivasi juga berfungsi sebagai pendorong usaha dalam pencapaian prestasi. Menyelesaikan perbuatan. Menentukan arah perbuatan. Jadi motivasi akan senantiasa menentukan intensitas usaha belajar bagi para siswa. Dengan adanya usaha yang tekun dan terutama didasari adanya motivasi. yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan. dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut. Makin tepat motivasi yang diberikan. Intensitas motivasi seseorang siswa akan sangat menentukan tingkat pencapaian prestasi belajarnya.

Hal ini berarti keberhasilan yang dicapai bukan karena bantuan orang lain atau karena faktor keberuntungan. Konsep ini bertolak dari suatu asumsi bahwa “N Ach” merupakan semacam kekuatan psikologis yang mendorong setiap individu sehingga membuat aktif dan dinamis untuk mengejar kemajuan. salah satunya yang berperan besar adalah motivasi berprestasi.13 senantiasa dilatar belakangi oleh motif-motif tertentu. Menurut Lingren (Hariyadi. Individu yang mempunyai motivasi belajar biasanya lebih menyukai tugas yang menuntut tanggung jawab. melainkan karena hasil kerja keras dirinya sendiri. memanipulasi.rintangan dan memelihara kualitas belajar yang tinggi. 1998:87).usaha untuk melebihi perbuatan . Selain itu individu juga mempunyai dorongan yang . Dengan dipahaminya motif atau motivasi pada diri seseorang.perbuatan yang lampau dan mengungguli perbuatan orang lain. bila ikaitkan dengan prestasi akan mempunyai pengertian tersendiri dan lebih khusus menggambarkan kespesifikan tentang dorongan atau kebutuhan akan gambaran berprestasi yang bervariasi pada diri seseorang. 1989:8). bersaing melalui usaha . mengatur lingkungan maupun fisik untuk mengatasi rintangan . menyatakan bahwa motivasi belajar adalah dorongan yang berhubungan dengan prestasi. Diantara sekian motif yang mewarnai kehidupan manusia. Konsep motivasi belajar pertama kali menggunakan istilah “N Ach” atau Need for Achiement dan dipopulerkan oleh Mc Clelland (dalam Haditono. yaitu menguasai.

Motivasi belajar adalah motif yang mendorong individu untuk berhasil dalam kompetisi dengan beberapa ukuran keunggulan (Standart of Exellend) (Haditono. 1998:89) melalui . Pada dasarnya setiap orang ingin dipandang sebagai orang yang berhasil dalam hidupnya lebih-lebih remaja.14 kuat untuk segera mengetahui hasil nyata dari tindakannya. Ukuran yang dimaksud dapat prestasinya sendirisebelumnya atau prestasi orang lain. Selanjutnya dari hasil evaluasi tersebut individu dapat memperbaiki kesalahannya dan mendorong untuk berprestasi lebih baik dengan menggunakan cara-cara baru. dan sebaliknya tidak ada orang yang senang jika menghadapi kegagalan dalam hidupnya. Motivasi belajar juga dapat diartikan sebagai perjuangan untuk menambah prestasi setinggi mungkin. 1989:16). yaitu: a. karena hal itu dapat digunakan sebagai umpan balik. Keberhasilan dalam menyelesaikan tugas. Kemampuan yang dimiliki seseorang dalam berbagai aktivitas merupakan standar keunggulan. Ada tiga standar keunggulan atau keberhasilan menurut Heckhausen (dalam Haditono 1989:17). Keberhasilan yang dicapai dibandingkan dengan keberhasilan yang diraih orang lain. Ini adalah cerminan bahwa pada diri seseorang itu terdapat motif untuk berprestasi. c. b. Keberhasilan yang dibandingkan dengan keberhasilan sebelumnya. Tentang hal ini MC Clelland (dalam Hariyadi. dimana suatu kegiatan tersebut dapat gagal atau berhasil.

Senang bertanggung jawab akan pemecahan soal. adalah: a. Cita-cita dan aspirasi Cita-cita atau disebut aspirasi adalah suatu target yang ingin dicapai.15 penelitiannya telah menemukan bahwa orangorang yang mempunyai motivasi belajar tinggi. Lebih menyenangi umpan balik yang cepat tampak dan efesien. Lebih senang menetapkan sendiri hasil karyannya b. Target ini diartikan sebagai tujuan yang ditetapkan dalam suatu kegiatan yang mengandung makna bagi seseorang. 2000:65) adalah sebagai berikut: a. Motivasi belajar merupakan suatu dorongan dari dalam diri seseorang untuk mengatasi tantangan dan hambatan dalam mencapai tujuan individu yang mempunyai keinginan untuk memperoleh kesuksesan dalam setiap usahanya. . Faktor-faktor yang Mempengaruhi Motivasi Belajar Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi motivasi belajar (Darsono. Aspirasi ini dapat bersifat positif dan dapat pula bersifat negatif. Dari berbagai pendapat para ahli. dapat ditarik kesimpulan bahwa yang dikatakan motivasi berprestasi adalah satu bentuk dorongan yang ada dalam diri siswa untuk meraih prestasi dalam hal-hal tertentu. disertai dengan usaha yang keras agar memperoleh hasil yang baik dari kondisi yang ada sekarang dengan cara mengatur lingkungan sosial dan fisiknya. Lebih senang menghindari tujuan hasil karya yang mudah c. 3. d.

Jadi siswa yang mempunyai kemampuan belajar tinggi. Kondisi Lingkungan Kondisi lingkungan merupakan suatu unsur-unsur yang datang dari luar diri siswa. ingatan. misalnya pengamatan. Sehingga guru harus lebih cermat melihat kondisi fisik dan psikologis siswa. dan mengevaluasi hasil . sekolah maupun lingkungan masyarakat baik yang menghambat atau yang mendorong. Upaya guru membelajarkan siswa Adalah membelajarkan bagaimana siswa guru mulai dari mempersiapkan penguasaan diri materi. perhatian.16 b. Kondisi siswa Kondisi fisik dan psikologis siswa sangat mempengaruhi faktor motivasi. Unsur-unsur disini dapat berasal dari lingkungan keluarga. daya pikir. kadang-kadang lemah bahkan hilang sama sekali. e. biasanya lebih bermotivasi dalam belajar. c. d. Unsur-unsur dinamis dalam belajar Adalah unsur-unsur yang keberadaannya dalam proses belajar tidak stabil. dan fantasi. karena kondisi-kondisi ini jika mengalami gangguan dapat mengurangi atau bahkan menghilangkan motivasi siswa. Dalam kemampuan belajar ini. taraf perkembangan berpikir siswa menjadi ukuran. Kemampuan belajar Kemampuan ini meliputi beberapa aspek psikis yang terdapat dalam diri siswa. menarik perhatian siswa. f. dalam cara menyampaikannya.

seperti kemujuran. Adanya beberapa temuan dari Hekchausen (dalam Haditono. Suka situasi-situasi dimana kinerja mereka timbul karena upaya-upaya mereka sendiri. 4.17 belajar. Mereka menginginkan lebih banyak umpan balik tentang keberhasilan dan kegagalan mereka. 1989:26) yang menunjukkan bahwa karakteristik siswa yang mempunyai motivasi berprestasi yang tinggi yaitu: . dan 11) kemampuan yang terkandung dalam diri individu atau potensi dasar yang dimiliki (dalam Haditono. 9) adanya rasa takut untuk sukses dan adanya kecenderungan untuk menghindari sukses. 10) pengalaman yang dimiliki. dan bukan karena faktor-faktor lain. Heckhausen berpendapat bahwa tinggi rendahnya motivasi berprestasi dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain: 1) faktor situasional. b. 3) tujuan yang ditetapkan. 8) harga diri yang tinggi. 5) resiko yang ditimbulkan sebagai akibat dari prestasi yang diperoleh. Karakteristik Siswa yang Mempunyai Motivasi Belajar Menurut Winardi (2002:85) orang-orang yang mempunyai motivasi belajar tinggi memiliki tiga macam ciri umum sebagai berikut: a. c. 6) cita-cita yang mendasari. Sebuah preferensi untuk mengerjakan tugas-tugas dengan derajat kesulitan yang moderat. 2) norma kelompok. 1989:23). 4) harapan yang diinginkan. 7) sikap terhadap kehidupan dan lingkungan.

Siswa suka akan perbedaan dan kekhasan tersendiri sesuai dengan kompetensi profesional yang dimiliki.18 a. . e. Jika individu dihadapkan pada situasi beprestasi ia merasa optimis bahwa sukses akan diraihnya dan dalam mengerjakan tugas ia lebih terdorong oleh harapan untuk sukses daripada menghindar tapi gagal. Siswa dalam melakukan tugas atau kegiatan berambisi untuk segera mengerjakannya. Berorientasi jauh ke depan Siswa cenderung membuat tujuan-tujuan yang hendak dicapainya diwaktu yang akan datang dan ia sangat menghargai waktu serta ia lebih dapat menangguhkan pemuasan untuk mendapatkan penghargaan dimasa mendatang. d. Tidak suka pemborosan waktu. Tangguh Siswa dalam melakukan tugas-tugasnya menunjukkan keuletan. Siswa suka situasi prestasi yang mengundang resiko yang cukup untuk gagal. b. agar dapat mengerjakan tugas yang lain. Siswa selalu memanfaatkan waktu seefesien dan seefektif mungkin. maka secara tidak langsung akan mempengaruhi kualitas motivasi dan pencapaian prestasi belajar pada siswa. Lebih suka kesulitan yang moderat. c. Berorientasi sukses dan percaya diri. dia tidak mudah putus asa dan berusaha terus sesuai dengan kemampuannya.

Berorientasi jauh ke depan Siswa yang mempunyai motivasi berprestasi. Siswa yang mempunyai motivasi berprestasi tinggi akan berusaha menyelesaikan belajarnya walaupun banyak hambatan dan sulit dilaksanakkan. b.19 f. Dari berbagai pendapat para ahli di atas tentang pengertian dan karakteristik siswa yang mempunyai motivasi berprestasi. d. Motivasi belajar lebih tinggi daripada motivasi berafiliasi. Memiliki daya juang untuk mengatasi rintangan Dalam merealisasikan keinginannya. Keinginan untuk berbuat lebih dari orang lain Siswa dalam mengerjakan suatu tugas selalu berkeyakinan bahwa ia mampu meraih sukses dengan prestasi belajar yang tinggi. individu harus memiliki daya juang untuk menghadapi segala rintangan yang terjadi sewaktu melaksanakan belajarnya. maka yang menjadi indikator dari motivasi belajar dalam penelitian ini adalah: a. Siswa lebih suka kemahiran yang cukup daripada siswa harus bekerja sama dengan orang lain untuk melaksanakan tugas yang diperoleh. . Suka tantangan. percaya bahwa ia dapat menyelesaikan belajarnya dengan baik dan tepat waktu. c.

Dengan kesadaran yang tinggi dalam disiplin belajar. 2004: 30). Disiplin adalah suatu tata tertib yang dapat mengatur tatanan kehidupan pribadi dan kelompok (Bahri. bawahan dilatih untuk patuh dan taat pada peraturan-peraturan yang dibuat oleh pemimpin (Tu’u.20 B. Disiplin merupakan titik pusat dalam pendidikan. Dalam belajar disiplin sangat diperlukan. Istilah tersebut sangat dekat dengan istilah dalam bahasa inggris “Disciple” yang berarti mengikuti orang untuk belajar di bawah pengawasan seorang pemimpin. Menurut Mulyasa (2003:108) disiplin adalah suatu keadaan tertib dimana orang-orang yang tergabung dalam suatu sistem tunduk pada peraturan yang ada dengan senang hati. seorang siswa dapat ditumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap pentingnya belajar. Pengertian Disiplin Disiplin belajar merupakan suatu kondisi yang sangat penting dan menentukan keberhasilan seorang siswa dalam proses belajarnya. Disiplin timbul dari dalam jiwa karena adanya dorongan untuk menaati tata tertib tersebut. Poerwodarminto (1994:254) disiplin adalah latihan batin dan watak dengan maksud supaya segala perbuatannya selalu menaati tata tertib. 2002:12). SIKAP DISIPLIN 1. . Istilah disiplin berasal dari bahasa latin “Disciplina” yang menunjuk pada kegiatan belajar mengajar. Dalam kegiatan belajar tersebut. Menurut WJS. tanpa disiplin tidak akan ada kesepakatan antara guru dan murid yang mengakibatkan prestasi yang dicapai kurang optimal terutama dalam belajar.

21 Disiplin dapat melahirkan semangat menghargai waktu. bukan menyianyiakan waktu berlalu dalam kehampaan (Bahri. Sedangkan menurut Depdiknas (1992:3) disiplin adalah tingkat konsistensi dan konskuen seseorang terhadap suatu komitmen atau kesepakatan bersama yang berhubungan dengan tujuan yang akan dicapai waktu dan proses pelaksanaan suatu kegiatan. Berdasarkan pendapat-pendapat di atas penulis dapat menarik kesimpulan bahwa disiplin adalah kepatuhan menaati peraturan dan ketentuan yang telah ditetapkan oleh seseorang dengan konsisten dan konsekuen. Dengan demikian siswa yang berdisiplin akan lebih mampu mengarahkan dan mengendalikan perilakunya. Ini dapat dilihat dari pengertian disiplin menurut Maman Rachman dalam Tu’u (2004:32) yaitu sebagai upaya mengendalikan diri dan sikap mental individu atau masyarakat dalam mengembangkan kepatuhan dan ketaatan terhadap peraturan dan . Siswa yang memiliki disiplin akan menunjukkan ketaatan dan keteraturan terhadap perannya sebagai seorang pelajar yaitu belajar secara terarah dan teratur. Pengertian Disiplin Belajar Disiplin merupakan suatu cara yang digunakan oleh guru untuk mendidik dan membentuk perilaku siswa menjadi orang yang berguna dan berprestasi tinggi dalam bidang pelajaran. Disiplin memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia terutama siswa dalam hal belajar. 2. Disiplin akan memudahkan siswa dalam belajar secara terarah dan teratur. 2002:13).

Unsur-unsur Disiplin Belajar Bila disiplin diharapkan mampu mendidik siswa untuk berperilaku sesuai dengan standar yang ditetapkan kelompok sosial mereka.22 tata tertib berdasarkan dorongan dan kesadaran yang muncul dari dalam hatinya. Hurlock (1999:84) menyebutkan empat unsur pokok tersebut adalah sebagai berikut: a. Secara psikologis. dan tindakan yang sesuai dengan peraturan danketentuan yang telah ditetapkan seseorang dalam belajar secara konsisten dan konsekuen. ia harus mempunyai empat unsur pokok. orang tua dan teman bermain. Tujuan . dapat disimpulkan bahwa displin belajar dalam penelitian ini adalah sikap siswa yang terbentuk melalui proses dari serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan dan keteraturan berdasarkan acuan nilai moral individu untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang mencakup perubahan berfikir. Pola tersebut mungkin ditetapkan oleh guru. tempat individu itu diidentifikasikan. 2003:2). sikap. sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya (Slameto. belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan. Peraturan Adalah pola yang ditetapkan untuk tingkah laku. 3. Tujuan seluruh disiplin adalah membentuk perilaku sedemikian rupa hingga ia akan sesuai dengan peran-peran yang ditetapkan kelompok budaya. Dari pengertian di atas.

Hurlock (1999:89) menyatakan bahwa hukuman berarti menjatuhkan hukuman pada seseorang karena suatu kesalahan. b. c. Tetapi hukuman untuk perilaku yang salah hanya dapat dibenarkan bila ia mempunyai nilai pendidikan dan ketika perkembangan bicara dan bahasa anak telah baik.23 peraturan adalah untuk mewujudkan anak lebih bermoral dengan membekali pedoman perilaku yang disetujui dalam situasi tertentu. penjelasan verbal harus menggantikan hukuman. Penghargaan Hurlock (1999:90) mengistilahkan “penghargaan” berarti tiap bentuk penghargaan untuk suatu hasil yang baik. perlawanan atau pelanggaran sebagai ganjaran atau pembalasan. Hukuman Hukuman berasal dari kata kerja lain “punire”. Peraturan yang jelas dan dapat diterapkan secara efektif akan membantu anak merasa aman dan terhindar dari tingkah laku yang menyimpang dan bagi orang tua. Oleh karena itu guru harus . Banyak orang yang merasa bahwa penghargaan itu tidak perlu dilakukan karena bisa melemahkan motivasi anak untuk melakukan apa yang harus dilakukannya. senyuman. Sikap guru yang memandang enteng terhadap hal ini menyebabkan anak merasa kurang termotivasi untuk belajar. Penghargan tidak perlu berbentuk materi tetapi dapat berupa kata-kata pujian. atau tepukan di punggung dan belaian. berguna untuk memanfaatkan hubungan yang serasi antara anak dan orang tua.

Disiplin mempunyai nilai mendidik yang besar yaitu peraturan yang konsisten bisa memicu proses belajar anak. Konsistensi Konsistensi berarti tingkat keseragaman atau stabilitas. 4. Dengan adanya konsistensi anak akan terlatih dan terbiasa dengan segala hal yang bersifat tetap. d. serta akan menghasilkan prestasi yang baik pula. atau suatu kecenderungan menuju kesamaan (Hurlock. sehingga mereka akan termotivasi untuk melakukan hal yang benar dan menghindari hal yang salah. Suryabrata (2001:249) mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi disiplin belajar adalah sebagai berikut: . Faktorfaktor belajar turut berpengaruh terhadap tingkat disiplin individu. Dengan demikian konsistensi merupakan suatu kecenderungan menuju kesamaan. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Disiplin Belajar Disiplin turut berpengaruh terhadap prestasi belajar.24 sadar tentang betapa pentingnya memberikan penghargaan atau ganjaran kepada anak khususnya jika mereka berhasil. keajegan. 1999:91). Disiplin tidak mungkin terlaksana tanpa konsistensi. Disiplin yang konstan akan mengakibatkan tiadanya perubahan untuk menghadapi kebutuhan perkembangan yang berubah. Hal ini dapat terlihat pada siswa yang memiliki disiplin yang tinggi akan belajar dengan baik dan teratur.

melakukan hal-hal . Siswa yang menyadari belajar merupakan suatu kebutuhan dan kewajiban dengan sendirinya akan belajar tanpa ada yang memaksa dan siswa tersebut memiliki kecenderungan disiplin yang tinggi dalam belajarnya. lingkungan sekolah.25 a. konsisten dan konsekuen akan berdampak positif bagi kehidupan dan perilaku siswa. motivasi. 2). Faktor fisiologis. seperti keadaan udara. Faktor instrinsik 1). suhu udara. Faktor psikologi. 2). dan kemampuan kognitif. kurang tidur dan sakit yang diderita. penglihatan. b. keletihan. Disiplin apabila dikembangkan dan diterapkan dengan baik. yang termasuk dalam faktor fisiologis antara lain pendengaran. tempat dan alat-alat yang dipakai untuk belajar. kesegaran jasmani. 5. konsentrasi. seperti motivasi. Hal ini berarti berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak tergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami siswa sebagai anak didik. Perlunya Disiplin Belajar Belajar merupakan kegiatan yang paling pokok dalamkeselu-ruhan pendidikan. kekurangan gizi. terdiri atas lingkungan keluarga. bakat. Faktor eksterinsik 1). Faktor non-sosial. waktu. lingkungan masyarakat dan lingkungan kelompok. Faktor sosial. Disiplin dapat mendorong siswa belajar secara konkret dalam praktik hidup di sekolah tentang hal-hal positif.

Untuk mengatur keseimbangan keinginan individu satu dengan individu lainnya. h. dan bermanfaat baginya dan lingkungannya. c. b. Menurut Maman Rachman yang dikutip oleh Tu’u (2004:35) menjelaskan pentingnya disiplin bagi para siswa sebagai berikut: a. d. 6. Dengan pemberlakuan disiplin. siswa belajar beradaptasi dengan lingkungan yang baik itu. Upaya Menegakkan Disiplin Disiplin perlu ditegakkan agar tidak terjadi pelanggaran. positif. e.26 yang lurus dan benar. Membantu siswa memahami dan menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungan. Bila pelanggaran terjadi akan berakibat terganggunya usaha pencapaian tujuan . Jadi disiplin menata perilaku seseorang dalam hubungannya di tengah lingkungannya. Memberi dukungan bagi terciptanya perilaku yang tidak menyimpang. g. Mendorong siswa melakukan hal-hal yang baik dan benar. Cara menyelesaikan tuntutan yang ingin ditujukan peserta didik terhadap lingkungannya. sehingga muncul keseimbangan diri dalam hubungan dengan orang lain. Peserta didik belajar hidup dengan kebiasaan yang baik. Menjauhi siswa melakukan hal-hal yang dilarang sekolah. Kebiasaan baik itu menyebabkan ketenangan jiwanya dan lingkungannya. menjauhi hal-hal negatif. f.

27

pengajaran. Usaha yang bisa dilakukan sekolah untuk menciptakan disiplin
bagi siswa, dengan menetapkan berbagai peraturan yang disebut tata tertib.
Berbagai macam aturan yang harus dijalankan oleh siswa termuat
didalamnya termasuk berbagai sanksi yang akan dijatuhkan apabila siswa
melanggar peraturan tata tertib sekolah.
Meskipun sudah ada tata tertib yang disertai berbagai sanksi dan
hukuman, belum tentu siswa mau menaati tata tertib tersebut. Tu’u
(2004:52) mengemukakan sebab-sebab pelanggaran disiplin biasanya
bersumber dari reaksi negatif karena kurang terpenuhinya kebutuhankebutuhan. Misalnya, kurang perhatian dan kurang kasih sayang, kurang
penghargaan, hubungan sosial kurang, kebutuhan fisik yang belum
terpenuhi. Selain itu, menurut Tu’u (2004:53) ada

juga penyebab

pelanggaran disiplin yang lain antara lain:
a. Disiplin sekolah yang kurang direncanakan dengan baik dan mantap.
b. Perencanaan yang baik, tetapi implementasinya kurang baik dan kurang
dimonitor oleh kepala sekolah.
c. Penerapan disiplin yang tidak konsisten dan tidak konsekuen.
d. Kebijakan kepala sekolah yang belum memprioritaskan peningkatan
dan pemantapan disiplin sekolah.
e. Kurang kerjasama dan dukungan guru-guru dalam perencanaan dan
implementasi disiplin sekolah.
f. Kurangnya dukungan dan partisipasi orang tua dalam menangani
disiplin sekolah, secara khusus siswa yang bermasalah.

28

g. Siswa di sekolah tersebut banyak yang berasal dari siswa bermasalah
dalam disiplin diri. Mereka ini cenderung melanggar dan mengabaikan
tata tertib sekolah.
Bentuk-bentuk pelanggaran disiplin siswa yang kerap kali terjadi
antara lain: bolos, tidak mengerjakan tugas dari guru, mengganggu kelas
yang sedang belajar, menyontek, tidak memperhatikan pelajaran yang
sedang dijelaskan oleh guru, berbicara dengan teman sebelahnya saat
pelajaran berlangsung, terlambat hadir di sekolah, membawa rokok dan
merokok di lingkungan sekolah, terlibat dalam penggunaan obat terlarang
dan perkelahian atau tawuran (Tu’u, 2004:55).
Usaha untuk membina dan menumbuhkan kedisiplinan pada diri
siswa menjadi bagian integral dari suatu proses atau kegiatan belajar. Ada
beberapa teknik atau cara untuk menumbuhkan dan membina disiplin
belajar siswa sebagaimana yang diungkapkan oleh Tu’u (2004:44) sebagai
berikut: “a.Teknik Disiplin Otoritarian, b. Teknik Disiplin Permisif, c.
Teknik Disiplin Demokratis”. Mengenai penjelasan dari berbagai teknik
tersebut adalah sebagai berikut:
a. Teknik Disiplin Otoritarian
Dalam disiplin otoritarian, peraturan dibuat sangat ketat dan
rinci. Disiplin otoritarian selalu berarti pengendalian tingkah laku
berdasarkan tekanan, dorongan, pemaksaan dari luar diri seseorang.
Hukuman dan ancaman kerapkali dipakai untuk memaksa, menekan,
mendorong seseorang mematuhi dan menaati peraturan. Disini, tidak

29

diberi kesempatan bertanya mengapa disiplin itu harus dilakukan dan
apa tujuan disiplin itu. Orang hanya berfikir kalau harus dan wajib
mematuhi dan menaati peraturan yang berlaku. Teknik ini biasanya
tidak akan berhasil dengan baik dalam menumbuhkan dan membina
kedisiplinan belajar, kalau berhasil hanya bersifat sementara atau siswa
cenderung melanggar.
b. Teknik Disiplin Permisif
Dalam disiplin ini siswa dibiarkan bertindak menurut keinginannya. Kemudian dibebaskan untuk mengambil keputusan sendiri dan
bertindak sesuai dengan keputusan yang diambilnya itu. Siswa yang
berbuat sesuatu, dan ternyata membawa akibat melanggar norma atau
aturan yang berlaku tidak diberi sanksi atau hukuman. Akibat dari
teknik ini akan mengalami kebingungan dalam mengambil tindakan
apabila mengalami suatu kesulitan belajar.
c. Teknik Disiplin Demokratis.
Pendekatan disiplin demokratis dilakukan dengan memberi
penjelasan, diskusi dan penalaran untuk membantu anak memahami
mengapa diharapkan mematuhi dan menaati peraturan yang ada. Teknik
ini menekankan aspek edukatif bukan aspek hukuman. Sanksi atau
hukuman dapat diberikan kepada yang menolak atau melanggar tata
tertib. Akan tetapi, hukuman dimaksud sebagai upaya menyadarkan,
mengoreksi dan mendidik. Teknik ini biasanya akan membuahkan hasil

Pada disiplin ini didasari falsafah bahwa disiplin bertujuan mengembangkan kendali atas perilaku sendiri sehingga dapat melakukan apa yang benar. pengertian yang dilakukan melalui pemberian layanan pembelajaran. serta mampu mengungkapkan pendapatnya.30 yang lebih baik karena siswa diberi kesempatan untuk mengambil keputusan. Penerapan disiplin yang paling efektif bagi remaja adalah disiplin demokratis karena remaja telah mampu berpikir analitis. Dengan teknik demokratis siswa mampu melakukan hal yang benar tanpa ada yang mengawasi. Melalui pelayanan ini siswa akan lebih mampu mengarahkan diri. untuk meningkatkan disiplin siswa. meskipun tidak ada penjaga yang mengancam dengan hukuman bila melakukan sesuatu yang tidak dibenarkan. Berdasarkan uraian di atas cara disiplin yang paling tepat digunakan oleh orang tua dan guru adalah disiplin demokratis. mengendalikan diri. serta memiliki kesadaraan diri dalam hal belajar. Oleh karena itu. Teknik ini dilakukan dengan memberikan penjelasanpenjelasan. . khususnya disiplin belajar yaitu dengan teknik demokratis. mereka tahu perbuatan yang baik dan yang buruk. Pengendalian internal atas perilaku ini adalah hasil usaha anak untuk berperilaku menurut cara yang benar dengan memberi penghargaan.

Dengan demikian disiplin dapat merupakan bantuan kepada peserta didik agar mampu berdiri sendiri (help for self help) (Mulyasa. b. Disiplin Belajar di Sekolah Disiplin dapat diartikan sebagai suatu keadaan tertib dimana orangorang yang tergabung dalam suatu sistem tunduk pada peraturan-peraturan yang ada dengan senang hati. ada beberapa macam disiplin belajar yang hendaknya dilakukan oleh para siswa dalam kegiatan belajarnya di sekolah yaitu: a. Disiplin siswa dalam mengerjakan tugas Mengerjakan tugas merupakan salah satu rangkaian kegiatan dalam belajar. yang dilakukan di dalam maupun di luar jam pelajaran sekolah. sehingga mereka mentaati segala peraturan yang telah ditetapkan. seorang siswa dikatakan disiplin masuk sekolah jika ia selalu aktif masuk sekolah pada waktunya. dan mengatasi serta mencegah timbulnya problem-problem disiplin dan berusaha menciptakan situasi yang menyenangkan bagi kegiatan pembelajaran.31 7. 2003:108). kepatuhan dan ketaatan dalam masuk sekolah. Menurut Slameto (2003). Disiplin siswa dalam masuk sekolah Disiplin siswa dalam masuk sekolah ialah keaktifan. Tujuan dari pemberian tugas biasanya untuk menunjang . tidak pernah terlambat serta tidak pernah membolos setiap harinya. Artinya. Disiplin di sekolah bertujuan untuk membantu peserta didik menemukan dirinya.

Perhatian terhadap kegiatan pembelajaran. . SIKAP ILMIAH Menurut Gagne dan Briggs. d. ketekunan dan ketertiban dalam mengikuti pelajaran. c. kemahiran motorik (motor sklills). c. keteraturan. yang dikutip Annie. disiplin belajar di sekolah adalah suatu caramasyarakat untuk mengajar anak perilaku moral yang disetujui kelompok. informasi verbal ( verbal information ). d. Disiplin siswa dalam mentaati tata tertib di sekolah Disiplin siswa dalam mentaati tata tertib di sekolah adalah kesesuaian tindakan siswa dengan tata tertib atau peraturan sekolah yang ditunjukkan dalam setiap perilakunya yang selalu taat dan mau melaksanakan tata tertib sekolah dengan penuh kesadaran. agar siswa berhasil dalam belajarnya. yang terarah pada suatu tujuan belajar.32 pemahaman dan penguasaan mata pelajaran yang disampaikan di sekolah. strategi kognitif ( cognitif strategies ). C. Catharina Tri (2004 : 25) mengklasifikasikan tujuan pembelajaran ke dalam lima kategori adalah kemahiran intelektual ( intelectual skill ). Patuh dan taat terhadap tata tertib di sekolah. Adapun indikator disiplin belajar di sekolah menurut Hurlock (1999:83) yang dijadikan indikator dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: a. b. Menyelesaikan tugas pada waktunya. Persiapan belajar siswa. Disiplin siswa dalam mengikuti pelajaran di sekolah Disiplin siswa dalam mengikuti pelajaran di sekolah menuntut adanya keaktifan. Menurut Hurlock (1999:82).

kelompok. Dimana tindakan yang akan dipilih. Sikap juga merupakan salah satu dari enam faktor yang memotivasi belajar. karena sikap itu membantu siswa dalam merasakan dunianya dan memberikan pedoman kepada prilaku yang dapat membantu dalam menjelaskan dunianya. Sikap akan membuat kehidupan lebih sederhana dan membebaskan seseorang dalam mengatasi unsur – unsur kepada kehidupannya sehari-hari yang bersifat unik. gagasan. dan emosi yang dihasilkan di dalam predisposisi untuk merespon orang. baik atau buruk.33 dan sikap ( attitudes). Sikap merupakan produk dari kegiatan belajar. Sikap menurut Gagne ini adalah suatu kondisi yang internal. Sikap merupakan kecenderungan pembelajaran untuk memilih sesuatu. informasi. Sikap juga membantu seseorang merasa aman di suatu lingkungannya yang pada mulanya tampak asing. Sikap mempunyai pengaruh yang kuat terhadap perilaku dan belajar siswa. Sikap akan memberikan pedoman dan peluang kepada seseorang untuk mereaksikan secara lebih otomatis. Kecenderungan untuk memilih obyek terdapat pada diri pembelajar . Efek sikap ini dapat diamati dalam reaksi pembelajar ( positif atau negatif). peristiwa. dari suatu tindakan yang dilakukannya. atau obyek tertentu secara menyenangkan atau tidak menyenangkan. bukan kinerja yang spesifik. memuaskan atau tidak. Sikap dalam hal ini adalah suatu kombinasi. Sikap . tergantung pada sikapnya terhadap penilaian akan untung atau rugi. Sikap mempengaruhi pilihan untuk bertindak. Sikap juga merupakan kemampuan internal yang berperan dalam mengambil tindakan.

Dimana Sikap berkaitan dengan obyek yang disertai dengan perasaan posititif ( favourable) atau perasaan negatif ( unfavorable). identifikasi. Anton yang dikutip oleh Suyitno. atau dapat juga merusak personal karena adanya intensitas perasaan gagal. Sikap merupakan proses yang dinamik. sehingga media. lemah. Amin (1997:2). Sikap berada disetiap orang sepanjang waktu dan secara konstan sikap memepengaruhi prilaku dan belajar. Sikap dapat membantu personal karena berkaitan dengan harga diri yang positif. situasi pembelajaran. Jadi sikap ilmiah adalah “ Scientific attitude” ( Sikap keilmuan). Biasanya pengalaman belajar baru merupakan kegiatan yang banyak mengandung resiko karena kadang-kadang tidak menentu. Sikap Ilmiah menurut Mulyono. Amin adalah “An attitude as degree of positive or negatif affect associated with some pychological objects”. sikap juga dapat dimodivikasi dan diubah. dan harapan personalnya untuk sukses. Sedangkan Menurut Allen Ledward yang dikutip Suyitno. membuat sikap berubah. Dan dari sikap tersebut siswa dapat membuat penilaian mengenai guru. sikap yang disiapkan bertindak untuk perbuatan yang berdasarkan pada pendirian/ pendapat/keyakinan. . Pengalaman baru secara konstan mempengaruhi sikap. pembelajaran. mata pelajaran. Karena sikap itu dipelajari. ataupun sebaliknya. dan kehidupan seseorang akan mempengaruhinya. perilaku peran ( guru-murid.34 diperoleh melalui proses seperti pengalaman. orang tua-anak). intensif.

. 2003:2). persepsi. kesenangan atau motivasi. Sehubungan dengan itu. PEMBELAJARAN 1. tetapi juga penyusunan. bermacam-macam keterampilan lain dan cita-cita (Hamalik. Tujuan dipakai sebagai arah kegiatan sekaligus sebagai tolok ukur keberhasilan belajar. Belajar merupakan pengalaman sendiri. belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya (Slameto. tidak dapat diwakilkan pada orang lain. Belajar dilakukan dengan sadar dan mempunyai tujuan. Perubahan itu bersifat secara relatif konstan dan berbekas. sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya (Slameto. Belajar tidak hanya mata pelajaran. Dalam kaitan ini maka antara proses belajar dengan perubahan sebagai bukti hasil yang diproses. Dengan demikian. penyesuaian sosial. Jadi belajar bersifat individual. 2002:45). Pengertian Belajar Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan. ada beberapa ciri-ciri belajar seperti dikutip oleh Darsono (2000:30) yang dijelaskan sebagai berikut: a. 2003:2). b. kebiasaan. Menurut pengertian secara psikologis. seseorang dikatakan belajar apabila terjadi perubahan pada diri orang yang belajar akibat adanya latihan dan pengalaman melalui interaksi dengan lingkungan.35 D.

2) perhatian. Berarti individu harus aktif bila dihadapkan pada suatu lingkungan tertentu. Keaktifan ini dapat terwujud karena individu memiliki berbagai potensi untuk belajar. 2000.24). dan 9) perbedaan individual. 4) keaktifan siswa. 3) motivasi. Belajar merupakan proses interaksi antara individu dan lingkungan. 5) mengalami sendiri. tetapi suatu kegiatan yang memungkinkan subyek belajar merekonstruksi sendiri pengetahuannya. 6) pengulangan. 8) balikan dan penguatan. Perubahan tersebut bersifat integral. afektif. bukanlah kegiatan memindahkan pengetahuan dari guru ke subyek belajar atau siswa.36 c. maka proses mengajar. Menggunakan pengetahuan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari 2. artinya perubahan dalam aspek kognitif. Unsur utama dari pembelajaran adalah pengalaman anak . pendidikan dalam arti sempit diartikan sebagai bantuan kepada siswa terutama pada aspek moral atau budi pekerti. d. Pengertian Pembelajaran Menurut paham konvensional (Darsono. Belajar mengakibatkan terjadinya perubahan pada diri orang yang belajar. dan psikomotor yang terpisahkan satu dengan yang lainnya. Adapun prinsip-prinsip belajar dalam pembelajaran adalah sebagai berikut 1) kesiapan belajar. Berdasarkan ciri dan prinsip-prinsip tersebut. 7) materi pelajaran yang menantang. sedangkan pengajaran diartikan sebagai bantuan kepada anak didik dibatasi pada aspek intelektual dan ketrampilan.

Aliran behavioristik mengemukakan bahwa pembelajaran adalah usaha guru membentuk tingkah laku yang diinginkan dengan menyediakan lingkungan atau stimulus. kalau dicari perbedaannya pendidikan memiliki cakupan yang lebih luas yaitu mencakup baik pengajaran maupun pembelajaran. sehingga tingkah laku siswa berubah kearah yang lebih baik (Darsono. pembelajaran dan pengajaran mempunyai hubungan yang koseptual yang tidak berbeda. 2004:9) . dan pengajaran merupakan bagian dari pembelajaran. yaitu bahwa belajar merupakan suatu kegiatan yang melibatkan terjadi perubahan tingkah laku. Sesuai dengan pengertian belajar secara umum. maka pengertian pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa. Sedangkan dari aliran kognitif mendefinisikan pembelajaran adalah cara guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk berfikir agar dapat mengenal dan memahami apa yang sedang dipelajari (Darsono. Humanistik mendiskripsikan pembelajaran adalah memberikan kebebasan kepada si belajar untuk memilih bahan pelajaran dan cara mempelajarinya sesuai dengan motivasi dan kemampuannya (Sugandi. 2000:24). 2000:24). Dengan demikian pendidikan.37 sebagai seperangkat event sehingga terjadi proses belajar.

Pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara sadar dan sengaja. . Pembelajaran dapat menumbuhkan perhatian dan motivasi siswa dalam belajar. g. ketrampilan dan nilai atau norma yang berfungsi sebagai pengendali sikap dan perilaku siswa. f. Pembelajaran dapat menciptakan suasana belajar yang aman dan menyenangkan bagi siswa. Tujuan pembelajaran adalah membantu para siswa agar memperoleh berbagai pengalaman dan dengan pengalaman itu tingkah laku siswa bertambah. c. Pembelajaran dilakukan secara sadar dan direncanakan secara sistematis. d. Pembelajaran menekankan keaktifan siswa. berdasarkan pendapat Darsono (2000:25) maka ciri-ciri pembelajaran dapat dikemukakan sebagai berikut: a. Ciri-ciri Pembelajaran Sesuai dengan ciri-ciri belajar. baik kuantitas maupun kualitasnya. Tingkah laku yang dimaksud meliputi pengetahuan. baik secara fisik maupun psikologis. e. Pembelajaran dapat membuat siswa siap menerima pelajaran.38 3. Pembelajaran dapat menyediakan bahan belajar yang menarik perhatian dan menantang siswa. Oleh karena itu pembelajaran pasti mempunyai tujuan. Pembelajaran dapat menggunakan alat bantu belajar yang tepat dan menarik. b.

Materi pelajaran Materi pelajaran merupakan komponen utama dalam proses pembelajaran. Subyek belajar Subyek belajar dalam sistem pembelajaran merupakan komponen utama karena berperan sebagai subjek sekaligus objek. b. d. maka dalam prosesnya akan melibatkan berbagai komponen. tahunan. Tujuan Secara eksplisit diupayakan pencapaiannya melalui kegiatan pembelajaran adalah “instructional effect” biasanya itu berupa pengetahuan dan ketrampilan atau sikap yang dirumuskan secara eksplisit dalam tujuan pembelajaran makin spesifik dan operasional. Strategi pembelajaran Merupakan pola umum mewujudkan proses pembelajaran yang diyakini efektivitasnya untuk mencapai tujuan pembelajaran. Bila pembelajaran tersebut ditinjau dari pendekatan sistem. dan semesteran. c. e. Komponenkomponen tersebut menurut Sugandi (2004:28) adalah: a. Komponen-komponen Pembelajaran Pembelajaran pada taraf organisasi mikro mencakup pembelajaran bidang studi tertentu dalam suatu pendidikan. Media pembelajaran Adalah alat atau wahana yang digunakan guru dalam proses . karena materi pelajaran akan memberi warna dan bentuk dari kegiatan pembelajaran.39 4.

Berfungsi meningkatkan peranan strategi pembelajaran. . Prestasi tidak dapat dilepaskan dengan proses belajar. Prestasi belajar dapat dikatakan sebagai hasil kecakapan yang baru dari proses belajar seseorang yang mempunyai prestasi yang baik dalam belajarnya.40 pembelajaran untuk membantu penyampaian pesan pembelajaran. 2001:232). Hasil dari kegiatan belajar itulah yang dinamakan prestasi belajar. dan semacamnya. PRESTASI BELAJAR 1. Prestasi merupakan kecakapan nyata yang dapat diukur dan belajar merupakan proses perubahan tingkah laku yang baru sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. f. Pengertian Prestasi Belajar Setiap siswa yang melakukan kegiatan belajar pada akhirnya ingin mengetahui hasilnya. alat pelajaran. E. Berfungsi memperlancar dan mempermudah terjadinnya proses pembelajaran. Dari uraian di atas pembelajaran merupakan proses belajar mengajar yang tujuannya untuk melakukan perubahan tingkah laku siswa untuk menjadi yang lebih baik. bahan pelajaran. berarti ia mendapatkan hasil kecakapan yang baru dari apa yang dipelajarinya (Suryabrata. Penunjang Komponen penunjang yang dimaksud dalam sistem pembelajaran adalah sikap disiplin belajar. sumber belajar.

dan psikomotorik. belajar menurut Bloom dalam Darsono 2000:32) dirumuskan sebagai perubahan tingkah laku yang meliputi tiga ranah. Prestasi belajar dapat diketahui melalui raport dalam bentuk nilai atau angka raport. dikerjakan. yaitu kognitif. Prestasi belajar merupakan kemampuan nyata yang dapat diukur dan dinilai meliputi kemampuan kognitif. afektif. Senada dengan itu. dilakukan. Dalam dunia pendidikan. 2001:296). Penilaian dapat berupa angka atau huruf. Menurut Tu’u (2004:75) prestasi belajar adalah penguasaan pengetahuan atau ketrampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran. lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan oleh guru. c. . dapat disimpulkan tentang prestasi belajar sebagai berikut : a.41 Prestasi merupakan hasil yang dicapai ketika mengerjakan tugas atau kegiatan tertentu. dan psikomotorik. Siswa yang nilai raportnya tinggi dikatakan mempunyai prestasi belajar tinggi. Berdasarkan uraian di atas. afektif. Prestasi belajar merupakan hasil proses belajar. Dari pengertian diatas dapat dipahami bahwa prestasi belajar adalah hasil kemampuan sesorang pada bidang tertentu dalam mencapai tingkat kedewasaan yang langsung dapat diukur dengan tes. Nilai merupakan perumusan terakhir yang dapat diberikan oleh guru mengenai kemajuan atau prestasi belajar siswa selama masa tertentu (Suryabrata. Untuk mengetahui prestasi belajar siswa bisa dilihat pada nilai-nilai yang tertera dalam raport. yang dimaksud dengan prestasi belajar adalah hasil yang dicapai. b. sebaliknya siswa yang nilai raportnya rendah dikatakan mempunyai prestasi belajar rendah.

kebiasaan. Faktor intern adalah faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar. sikap. Menurut Slameto (2003:54) faktorfaktor yang mempengaruhi prestasi belajar dapat digolongkan menjadi dua. Faktor psikologis Faktor psikologis yang dapat mempengaruhi prestasi belajar antara lain adalah inteligensi. disiplin dan partisipasi. Faktor Intern Dalam faktor intern ada 3 hal. Cacat tubuh. motivasi.42 2. Faktor kelelahan Kelelahan bisa berupa kelelahan jasmani maupun kelelahan rohani. 2). bakat. Berdasarkan uraian tersebut dapat diketahui bahwa prestasi belajar dipengaruhi oleh faktorfaktor sebagai berikut: a. kecakapan. Kesehatan. sehat berarti dalam keadaan baik segenap badan beserta bagian-bagiannya / bebas dari penyakit. b). Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Belajar sebagai proses atau aktivitas disyaratkan oleh banyak sekali hal-hal atau faktor-faktor. Faktor jasmaniah dibagi menjadi dua. kematangan. perhatian. motivasi. yaitu: a). yaitu faktor intern dan faktor ekstern. agar siswa dapat belajar dengan baik sehingga hasil atau . sedangkan faktor ekstern adalah faktor yang ada diluar individu. yaitu: 1). 3). sesuatu yang menyebabkan kurang baik/kurang sempurna mengenai tubuh/badan.

masyarakat. relasi guru dengan siswa. 3). Berdasarkan uraian diatas. yang semuanya mempengaruhi belajar . pelajaran dan waktu sekolah. Faktor masyarakat Pengaruh ini terjadi karena keberadaan siswa dalam masyarakat. standar pelajaran. 2). keadaan gedung. prestasi belajar merupakan sesuatu yang kompleks sehingga faktor-faktor yang mempengaruhinya juga sangat kompleks. Kegiatan siswa dalam masyarakat. metode belajar dan tugas rumah. yaitu: 1).43 prestasinya memuaskan. kurikulum. mass media. teman bergaul dan bentuk kehidupan masyarakat. harus dihindari jangan sampai terjadi kelelahan dalam belajarnya. disiplin sekolah. sekolah. suasana rumah tangga dan keadaan ekonomi keluarga. Faktor keluarga Siswa yang belajar akan menerima pengaruh dari keluarga berupa: cara orang tua mendidik. Kesemuanya saling mempengaruhi prestasi belajar seorang . relasi antar anggota keluarga. b. relasi siswa dengan siswa. mulai dari diri sendiri sampai pada keluarga. Faktor Ekstern Faktor ekstern juga dibagi menjadi tiga faktor. Faktor sekolah Faktor sekolah yang mempengaruhi belajar ini mencakup metode mengajar.

44 siswa. kerjasama dan pengertian antara siswa. 5a + 10b 5(a + 2b ) a + 2b = = 20 20 4 2). 2x 4x 2x + 4x 6x + = = 4 4 4 4 2). 2 2 1 = = 2ab + 4a 2a (b + 2 ) a(b + 2 ) 3). Karena itu. 3 5 3(3b ) − 5(2a ) 9b − 10a − = = 2a 3b 6ab 6ab 3). Pecahan bentuk aljabar dapat disederhanakan dengan cara memfaktorkan pembilang dan atau penyebutnya. URAIAN MATERI 1. Contoh : 1). 2 x − 2 2(x − 1) 2 = = x 2 − x x( x − 1) x b. Penjumlahan dan Pengurangan Pecahan Bentuk Aljabar. Operasi Pecahan Dalam Bentuk Aljabar a. F. x + 5 3x − 2 x + 5 − (3 x − 2 ) x − 3 x + 5 + 2 − 2 x + 7 − = = = 2y − 3 2y − 3 2y − 3 2y − 3 2y − 3 . Contoh : 1). sekolah. orang tua maupun masyarakat sangat mendukung prestasi belajar anak secara keseluruhan. Penyederhanaan Pecahan Bentuk Aljabar.

Perkalian bentuk aljabar diperoleh dengan mengalikan pembilang dengan pembilang. Contoh : 1). Contoh : 1). Perkalian dan Pembagian Pecahan Bentuk Aljabar. pertama-tama harus ada dorongan untuk melaksanakan. 4ab 8a 4ab b 4ab 2 b ÷ = × = = b b b 8a 8ab 2 2). Begitu juga dalam proses belajar atau pendidikan. individu harus mempunyai motivasi untuk mengikuti kegiatan belajar atau pendidikan . dan penyebut dengan penyebut.2( x + 3) 4 y G. (x + y ) × 4y y y(x + y ) 1 = = 2 4 y ( x + y )(x − y ) 4( x − y ) x −y ( 2 ) Pembagian bentuk aljabar diperoleh dengan mengalikan kebalikan pecahan tersebut. Untuk dapat melaksanakan suatu kegiatan. Dengan kata lain. x + 3 2x + 6 x + 3 3y 3 y (x + 3) 1 ÷ = × = = 6y 3y 6 y 2 x + 6 6 y. 3x 2 3 y 2 9 x 2 y 2 × = = 9 xy y x xy 2).45 c. untuk dapat melakukan sesuatu harus ada motivasi. KERANGKA BERPIKIR Salah satu prinsip dalam melaksanakan pendidikan adalah individu secara aktif mengambil bagian dalam kegiatan pendidikan yang dilaksanakan.

Motivasi belajar merupakan keinginan untuk memperoleh keberhasilan dan berpartisipasi aktif dalam suatu kegiatan (Anni. Siswa yang bermotivasi berprestasi matematika memiliki keinginan dan harapan untuk berhasil. berorientasi untuk masa depan. tangguh. siswa yang memiliki motivasi belajar matematika yang tinggi cenderung mengalami kesuksesan dalam mengerjakan tugas-tugas matematika di sekolah. menyukai tantangan. Berkaitan dengan motivasi belajar dalam mata pelajaran matematika. tekun penuh perhatian dan konsentrasi dalam menerima mata pelajaran matematika. Motivasi belajar matematika memiliki peranan yang sangat penting dalam menentukan prestasi belajar siswa.46 yang sedang berlangsung. sehingga tercapai tujuan yang diharapkan oleh siswa antara lain hasil belajarnya yang ditunjukkan dengan prestasi belajar akan meningkat. Keberhasilan yang dicapai dipandang sebagai buah dari usaha kemampuan personal yang dicurahkan dalam mengerjakan tugas. Jadi dalam hal ini motivasi berprestasi matematika berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa. sebab siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi akan berorientasi jauh ke depan. siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi akan belajar matematika lebih lama dibandingkan dengan siswa yang bermotivasi belajar rendah. . 2005:134). dan apabila mengalami kegagalan. Oleh karena itu. mereka akan berusaha keras dalam mencapai keberhasilan.

Disiplin timbul dari dalam jiwa karena adanya dorongan dalam menaati tata tertib. Banyaknya bahan pelajaran yang harus dikuasai siswa. Indikator disiplin di sekolah terdiri dari patuh dan taat terhadap . Siswa yang berdisiplin tinggi akan memiliki keteraturan dalam belajar. 2002:13). Belajar dengan teratur merupakan pedoman mutlak yang tidak bisa diabaikan oleh siswa yang menuntut ilmu. menuntut pembagian waktu yang sesuai dengan kedalaman dan keluasan pelajaran. kedisiplinan sangat diperlukan agar siswa memiliki keteraturan dalam belajar matematikai. yang akan melahirkan semangat menghargai waktu bukan menyia-nyiakan waktu berlalu dalam kehampaan (Bahri. Terlebih-lebih pelajaran matematika yang sangat memerlukan latihan banyak. Kesadaran yang tinggi dalam disiplin akan menumbuhkan rasa tanggung jawab siswa terhadap arti pentingnya belajar. Menurut Hurlock (1999:82) disiplin belajar di sekolah adalah suatu cara masyarakat untuk mengajar anak perilaku moral yang disetujui kelompok. Penguasaan atas bidang studi matematika dituntut secara dini tidak harus menunggu sampai menjelang ulangan atau ujian. perilaku dan tata kehidupan berdisiplin yang akan mengantarkan seorang siswa sukses dalam kegiatan belajar mengajar.47 Disiplin belajar merupakan suatu kondisi yang sangat penting dan menentukan keberhasilan siswa dalam kegiatan belajar mengajar. Disiplin belajar yang baik akan membantu siswa dalam membentuk sikap.

perhatian terhadap kegiatan pembelajaran dan menyelesaikan tugas pada waktunya. Untuk lebih memperjelas hubungan ketiga variabel tersebut. ataupun kekritisan dalam bentuk sikap ilmiah. baik berupa positif maupun berupa negatif. persiapan belajar siswa. mata pelajaran maupun kondisi belajar. Prestasi belajar dalam kehidupan manusia pada tingkat dan jenis tertentu dapat memberikan kepuasan tertentu pada manusia. maka di bawah ini digambarkan bagan sebagai berikut: . Sikap ilmiah dalam belajar ini dapat mempengaruhi siswa ataupun sebaliknya.48 tata tetib di sekolah. sikap yang terjadi pada mata pelajaran ini dapat mengevaluasi untuk menuangkan ide. Jadi sikap ilmiah yang dimiliki oleh siswa akan berpengaruh terhadap hasil belajar siswa dalam belajar matematika. Sikap yang terjadi pada siswa adalah merupakan penilaian terhadap pada guru. khususnya manusia yang berada pada bangku sekolah mengingat prestasi belajar sebagai indikator kualitas dan kuantitas pengetahuan yang telah dikuasai siswa.

Bagan Kerangka Berpikir Prestasi belajar matematika (Y) Berdasarkan nilai akhir semester I . Gambar 1.49 Motivasi (X1): 1) Keinginan untuk berbuat lebih dari orang lain 2) Memiliki daya juang untuk mengatasi rintangan 3) Berorientasi jauh ke depan 4) Suka tantangan. Sikap Ilmiah (X3): 1) Keingintahuan siswa 2) Kejujuran siswa 3) Sikap kekritisan siswa Sikap Disiplin (X2): 1) Patuh pada tata tertib sekolah 2) Persiapan belajar siswa 3) Perhatian terhadap kegiatan pembelajaran 4) Menyelesaikan tugas pada waktunya.

HIPOTESIS Terdapat beberapa hipotesis tindakan yang diajukan dalam penelitian ini.50 H. yaitu : H11 : Ada pengaruh antara motivasi belajar dengan prestasi belajar matematika pada siswa Kelas VIII Semester I SMP N 4 Salatiga tahun ajaran 2010/2011 H12 : Ada pengaruh antara sikap disiplin belajar dengan prestasi belajar matematika pada siswa Kelas VIII Semester I SMP N 4 Salatiga tahun ajaran 2010/2011 H13 : Ada pengaruh antara sikap ilmiahdengan prestasi belajar matematika pada siswa Kelas VIII Semester I SMP N 4 Salatiga tahun ajaran 2010/2011 H14 : Ada pengaruh antara motivasi belajar. sikap disiplin belajar dan sikap ilmiahdengan prestasi belajar matematika pada siswa Kelas VIII Semester I SMP N 4 Salatiga tahun ajaran 2010/2011 H01 : Tidak ada pengaruh antara motivasi belajar dengan prestasi belajar matematika pada siswa Kelas VIII Semester I SMP N 4 Salatiga tahun ajaran 2010/2011 H02 : Tidak ada pengaruh antara sikap disiplin belajar dengan prestasi belajar matematika pada siswa Kelas VIII Semester I SMP N 4 Salatiga tahun ajaran 2010/2011 .

sikap disiplin belajar dan sikap ilmiahdengan prestasi belajar matematika pada siswa Kelas VIII Semester I SMP N 4 Salatiga tahun ajaran 2010/2011.51 H03 : Tidak ada pengaruh antara sikap ilmiahdengan prestasi belajar matematika pada siswa Kelas VIII Semester I SMP N 4 Salatiga tahun ajaran 2010/2011 H04 : Tidak ada pengaruh antara motivasi belajar. .

disertai dengan usaha yang keras agar memperoleh hasil yang baik dari kondisi yang ada sekarang dengan cara mengatur lingkungan sosial dan fisiknya. yaitu : 1. Memiliki daya juang untuk mengatasi rintangan 3). VARIABEL PENELITIAN Variabel pada penelitian ini dapat dikepompokkan menjadi 2 macam. 1998:101). Keinginan untuk berbuat lebih dari orang lain 2). Berorientasi jauh ke depan . A. Variabel Bebas (Independent Variable) adalah variabel yang mempengaruhi terhadap suatu gejala yang disebut dengan variabel X (Arikunto. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel bebas (X) adalah : a. sikap disiplin siswa dalam pembelajaran dan prestasi belajar matematika. dan bersifat kuantitatif yaitu suatu pengukuran gejala-gejala atau indikasi-indikasi sosial yang diterjemahkan dalam skor-skor atau angka-angka untuk diananlisis secara statistik.52 BAB III METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini adalah penelitian eksploratif yaitu memaparkan dan menjabarkan data motivasi. dengan indikator: 1). Motivasi (X1) dalam penelitian ini adalah motivasi berprestasi didefinisikan sebagai suatu bentuk dorongan yang ada dalam diri siswa untuk meraih prestasi dalam hal-hal tertentu. sikap ilmiah.

Kejujuran siswa 3). Patuh dan taat terhadap tata tertib di sekolah 2). 1). Persiapan belajar siswa 3). Sikap kekritisan siswa 2. Suka tantangan b. sikap. c. Keingintahuan siswa 2). Sikap Disiplin (X2) dalam penelitian ini adalah disiplin belajar didefinisikan sebagai sikap siswa yang terbentuk melalui proses dari serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan dan keteraturan berdasarkan acuan nilai moral individu untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang mencakup perubahan berfikir. Perhatian terhadap kegiatan pembelajaran 4). siswa yang mempunyai sikap ilmiah yang tinggi akan memiliki kelancaran dalam berfikir sehingga siswa akan termotivasi untuk selalu berprestasi dan memiliki komitmen yang kuat untuk mencapai keberhasilan dan keunggulan. dengan indikator: 1). Sikap ilmiah (X3). dan tindakan yang sesuai dengan peraturan dan ketentuan yang telah ditetapkan seseorang dalam belajar secara konsisten dan konsekuen. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel terikat (Y) adalah prestasi belajar . 1998:101).53 4). Menyelesaikan tugas pada waktunya. Variabel Terikat (Dependent Variable) adalah variabel yang dipengaruhi oleh variabel bebas yang disebut dengan variabel Y (Arikunto.

kuantitatif maupun kualitatif mengenai karakteristik tertentu dari semua anggota kumpulan yang lengkap dan jelas yang ingin dipelajari sifat . 2005 : 6). Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 1. (Sudjana.54 matematika yang datanya diambil dari nilai tes materi sub pokok operasi pecahan dalam bentuk aljabar tahun ajaran 2010/2011. 1998:225). 2005 : 6). hasil menghitung ataupun pengukuran. Sampel Sampel adalah sebagian yang diambil dari populasi. POPULASI dan SAMPEL 1. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan cluster random sampling. Populasi Populasi adalah totalitas semua nilai yang mungkin. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 4 Salatiga. B. METODE PENGUMPULAN DATA Pengumpulan data adalah suatu proses pengadaan data untuk keperluan penelitian (Arikunto. artinya populasi dibagi menjadi beberapa kelompok kemudian diambil secara acak C. 2003:170). (Sudjana. 2. Kusioner dalam penelitian ini dilakukan untuk mengetahui respon dari siswa terhadap .sifatnya. Angket atau Kuesioner Kuesioner merupakan metode pengumpulan informasi dengan cara menyampaikan sejumlah pertanyaan tertulis untuk menjawab secara tertulis pula oleh responden (Margono.

dan lain-lain yang berhubungan dengan masalah penelitian (Margono. Sedangkan untuk . Untuk mengukur variabel motivasi. Pilihan jawaban d memiliki skor 1 2. Pilihan jawaban c memiliki skor 2 d. UJI INSTRUMEN Instrumen dalam penelitian ini berupa soal tes angket berbentuk pilihan ganda dengan empat pilihan jawaban yang digunakan mengukur minat belajar. dan berpikir kritis siswa terhadap prestasi belajar matematika. teori.55 pertanyaan yang diajukan dan untuk mengungkap data mengenai motivasi. Dokumentasi Dokumentasi adalah cara mengumpulkan data melalui peninggalan tertulis. seperti arsip-arsip dan termasuk juga buku-buku tentang pendapat. dalil atau hukum-hukum. sehingga responden tinggal memilih jawabannya saja. disiplin. fasilitas belajar dan keterlibatan orang tua. Dalam penelitian ini metode dokumentasi dilakukan peneliti untuk mendapatkan data tentang siswa. situasi dan kondisi guru pada saat proses pembelajaran matematika. Adapun alat yang digunakan dalam penelitian ini berupa kuesioner tertutup atau kuesioner yang telah berisi jawabannya. Pilihan jawaban b memiliki skor 3 c. hasil belajar yang diperoleh siswa. disiplin. D. Pilihan jawaban a memiliki skor 4 b. 2003:181). dan partisipasi ditentukan dengan memberi skor dari jawaban angket yang diisi responden dengan ketentuan sebagai berikut : a.

Penganalisaan hasil tes dilakukan dengan cara mengukur validitas. suatu instrumen evaluasi dikatakan valid apabila instrumen yang digunakan dapat mengukur apa yang hendak diukur.56 mengukur prestasi belajar matematika digunakan tes ulangan matematika yang diperoleh dari guru matematika kelas yang digunakan untuk sampel. Sedangkan validitas adalah suatu ukuran yang menunjukan tingkat . reabilitas. Validitas Menurut Sukardi (2008 : 31). Suatu instrumen yang valid mempunyai validitas yang tinggi. Sehingga analisa tes dari penelitian ini dapat dijabarkan sebagai berikut : 1. Untuk mencari validitas pada soal bentuk pilihan ganda adalah dengan rumus korelasi product moment. tingkat kesukaran dan daya pembedanya. yaitu rxy = N {N X2 − ( XY − ( }{ X) N 2 X) Y Y2 − ( Y) Keterangan: rxy = koefisien korelasi tiap item N = banyaknya subyek uji coba X = jumlah skor item Y = jumlah skor total X 2 = jumlah kuadrat skor item Y 2 = jumlah kuadrat skor total 2 } . sebaliknya instrumen yang kurang valid berarti memiliki validitas yang rendah.tingkat kevalidan suatu instrumen.

karena instrumen tersebut sudah baik.57 XY = jumlah perkalian skor item (X) dan skor total (Y) (Suharsimi Arikunto. 2009:178). Jika rhitung < rtabel maka alat ukur dinyatakan valid. Instrumen yang sudah dapat dipercaya. yang reliabel akan menghasilkan data yang dapat dipercaya juga. 2. Adapun rumus yang digunakan untuk mencari reabilitas tes bentuk pilihan ganda adalah : n r11 = 1− n −1 2 i 2 t Keterangan : r11 = reliabilitas yang dicari 2 i 2 t n = jumlah varians skor tiap-tiap item = varians total = banyak item (Suharsimi Arikunto. maka berapa kalipun diambil hasilnya akan tetap sama.benar sesuai dengan kenyataannya. 2009 : 72) Kemudian hasil rxy dibandingkan dengan rtabel harga kritis r product moment dengan = 5 %. Reliabilitas Reliabilitas adalah ukuran yang dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data. Apabila memang datanya benar . 2009 : 109) . (Arikunto.

dengan demikian uji normalitas dan uji linieritas perlu dilakukan.58 Kriteria pengujian reliabilitas tes dikonsultasikan dengan harga r product moment pada tabel. zn dengan menggunakan rumus z i = masing rata . z2. yang diuji adalah : Ho : Sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal H1 : Sampel berasal dari populasi yang berdistribusi tidak normal Adapun langkah .koefisiennya maupun bentuk liniernya. Uji Normalitas Uji normalitas digunakan untuk mengetahui normal tidaknya data yang dianalisis. dan sikap ilmiah sehingga pada penelitian ini hipotesis diuji dengan menggunakan uji regresi linier ganda. . z3. maka perlu dilakukan pengujian baik mengenai koefisien . . . 1. . .rata dan simpangan) x−x ( x dan S masing S . a. Analisis Awal Karena dalam penalitian ini menggunakan uji regresi linier ganda. E. terdapat tiga variabel bebas yaitu motivasi belajar. Pengamatan x1. x3. . . ANALISA DATA Pada penelitian ini. Untuk menguji normalitas data rumus yang digunakan adalah Uji Liliefors. Jika rhitung > rtabel harga kritik r product moment maka item tes reliabel. sikap disiplin.langkah dalam uji normalitas meliputi: 1). x2. xn dijadikan bilangan baku z1. .

59

2). Untuk setiap bilangan baku dapat menggunakan daftar distribusi
normal baku, kemudian dihitung peluang F (zi) = P (Z ≤ zi).
3). Selanjutnya dihitung proporsi z1, z2, z3, . . . , zn ≤ zi. Jika proporsi
ini dinyatakan oleh S (zi) maka :
S (zi) =

banyaknya z1 , z 2 , z 3 ..., z n yang ≤ z i
n

4). Hitung selisih F (zi) - S (zi) kemudian tentukan harga mutlaknya.
5). Ambil harga yang paling besar antara harga - harga mutlak selisih
tersebut. Sebutlah hatga terbesar tersebut L0.
Untuk menerima atau menolak H0, bandingkan L0 dengan nilai
kritis L untuk taraf nyata

yang dipilih. Kriterianya adalah tolak H0

bahwa populasi berdistribusi nomal jika L0 yang diperoleh dari data
pengamatan melebihi L dari daftar. (Sudjana, 2005 : 466)
b. Uji Linieritas
Uji linieritas digunakan untuk menguji kelinieran regresi, yang
diuji adalah :
H0 : Hubungan variabel bebas dan variabel terikat tidak linier.
H1 : Hubungan variabel bebas dan variabel terikat linier.
Berikut merupakan daftar analisis varian yang digunakan untuk
menguji kelinieran regresi :

60

Variasi

Dk

Total

N

Regresi (a)

1

(JK)

KT

Yi2

(

Yi2

Yi )

(

2

n
1

Regresi

n–2

(b a)

-

Yi )

2

n

JKreg = JK (b a)

s 2reg

JK res =

Yi − Yi

k–2

JK (TC)

n–k

JK (E)

2

Yi − Yi
s 2res =

2
s TC
=

n−2
JK (TC )
k−2

cocok
Kekeliruan

s 2res

S 2reg = JK(b a)

Residu

Tuna

F

s 2E =

2
s TC
s 2E

JK (E )
n−k

Dari daftar diatas diperoleh 2 hasil, yaitu :
1). F =

2). F =

s 2reg
s 2res

untuk uji independen.

2
s TC
yang akan dipakai untuk menguji tuna cocok regresi linier
s 2E

(Sudjana, 2005 : 332)
Dalam hal ini H0 ditolak jika F < F(1-

) (k-2,n-k).

Ini memiliki arti

bahwa hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat adalah linier.
2. Analisis Akhir
Hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini ada 4, yaitu hipotesis 1,
hipotesis 2, hipotesis 3 diuji dengan menggunakan teknik korelasi dan

hipotesis 4 diuji dengan menggunakan teknik regresi ganda.

61

a. Regresi Linier
Regresi linier digunakan karena terjadi sebuah fenomena yang
terdiri dari sebuah variabel bebas (X) dan sebuah variabel terikat (Y).
Untuk regresi linier yang terdiri dari dari sebuah variabel tak bebas (Y),
persamaan yang digunakan sebagai berikut :
ˆ = a + bX
Y

dimana :
a=

(

(

Yi )

n(

)

X i )(

X i2 − (

Xi )

2

n

b=

Xi − (

X i Yi ) − (
n

X i2 − (

X i Yi )

2

Yi )(

Xi )

Xi )

2

Dengan n = ukuran sampel
(Sudjana, 2005 : 315)
Persamaan regresi diatas akan digunakan untuk mengetahui
hubungan antara variabel bebas X1, X2 dan X3 dengan variabel terikat
Y, yakni :
1). Untuk mengetahui hubungan antara motivasi belajar (X1) dan
prestasi belajar matematika (Y), persamaannya adalah :
ˆ = a + bX1
Y

2). Untuk mengetahui hubungan antara sikap disiplin (X2) dan prestasi
belajar matematika (Y), persamaannya adalah :
ˆ = a + bX2
Y

Adapun persamaan regresi linier ganda yang digunakan adalah : ˆ = a0 + a1X1+ a2X2+ a3X3 Y Kemudian a0. Regresi Linier Ganda Regresi linier ganda digunakan karena terjadi sebuah fenomena yang terdiri dari beberapa variabel bebas (X) dan sebuah variabel terikat (Y). a2. dan a3 dapat diperoleh dengan menyelesaikan persamaan sebagai berikut : 2 y i x 1i = a 1 x 1i +a 2 y i x 2i = a 1 x 1i x 2i + a 2 x 2i +a 3 y i x 3i = a 1 x 1i x 3i + a 2 x 2i x 3i + a 3 Y1 = a 0 n + a 1 x 1i x 2i + a 3 2 X1i + a 2 Keterangan : ˆ = Prestasi belajar matematika Y X1 = Motivasi belajar siswa X2 = Sikap Disiplin siswa X3 = Sikap Ilmiah a0 = Konstanta a1 = koefisien X1 a2 = koefisien X2 X 2i + a 3 x 1i x 3i x 2i x 3i x 3i X 3i 2 .62 3). a1. persamaannya adalah : ˆ = a + bX3 Y b. Untuk mengetahui hubungan antara sikap ilmiah (X3) dan prestasi belajar matematika (Y).

2005 : 348) c. (Sudjana.X 1 x2i = X2i .63 a3 = koefisien X3 x1i = X1i . sehingga : JK reg y i2 (Sudjana. 2005 : 383) Untuk mengetahui koefisien korelasi antara sebagian dari sejumlah variabel apabila berhubungan dengan variabel lainnya. Koefisien Korelasi Ganda Kefisien korelasi ganda dari penelitian ini digunakan untuk menentukan derajat hubungan antara variabel X dengan variabel Y.X 2 x3i = X3i . R2 merupakan koefisien determinasi ganda. 2005 : 383) R merupakan koefisien korelasi ganda antara Y dengan variabel X1. ˆ = a0 + a1X1 + a2X2 + a3X3 maka Berdasarkan regresi linier ganda Y koefsien korelasi ganda (R) antara Y dan variabel X1.Y (Sudjana. X3. dan X3 ditentukan dengan rumus : R2 = R= JK reg y i2 .X 3 yi = Yi . X2. X2. dimana hal ini yang diuji adalah : H0 = Tidak ada hubungan antara variabel X dengan variabel Y .

Sehingga dapat diperoleh besarnya masing masing koefisien korelasi. Menentukan koefisien korelasi antara motivasi belajar (X1) dengan prestasi belajar matematika (Y). apabila rhitung < rtabel. ry1 = n {n( X1 Y − ( X12 ) − ( X1 )( }{ X1 ) n ( 2 Y) Y2 )− ( Y) 2 } Keterangan : ry1 = Koefisien korelasi antara motivasi belajar (X1) dengan prestasi belajar matematika (Y) 2). yaitu : 1). ry2 = n {n( X2Y − ( X 22 ) − ( X 2 )( }{ X 2 ) n( 2 Y) Y2 )− ( Y) 2 } Keterangan : ry2 = Koefisien korelasi antara sikap disiplin (X2) dengan prestasi belajar matematika (Y) . Menentukan koefisien korelasi antara sikap disiplin (X2) dengan prestasi belajar matematika (Y).64 H1 = Ada hubungan antara variabel X dengan variabel Y Menurut Sudjana (2005 : 369) besarnya koefisien korelasi dapat ditentukan dengan persamaan : r= n {n( XiY − ( X i2 ) − ( X i )( }{ X i ) n( 2 Y) Y2 )− ( Kriteria H0 diterima pada taraf signifikan Y) 2 } = 5 % dan dk = n – 1.

Sehingga dapat ditentukan : 1). berhubungan erat dengan koefisien korelasi linier ganda adalah koefisien korelasi parsil.3 . menentukan koefisien korelasi antara Y dengan X1 dengan menganggap X2 tetap dan dinyatakan dengan ry1.2 = ry1. Ini dimaksudkan koefisien kprelasi antara sebagian dari sejumlah variabel apabila hubungan dengan variabel lainnya dianggap tetap.3 = ry1 − ry2 r1.2 ry1 − ry3 r1. Untuk variabel Y. Dan menentukan koefisien korelasi antara Y dengan X2 dengan menganggap X1 tetap dan dinyatakan dengan ry2. dan X2 misalnya. Menentukan koefisien korelasi parsil antara prestasi belajar matematika (Y) dengan motivasi belajar (X1). X1.1. ry1.65 3).3 (1 − r )(1 − r ) 2 y3 2 1. ry3 = n {n( X3Y − ( X 32 ) − ( X 3 )( }{ X 3 ) n( 2 Y) Y2 )− ( Y) 2 } Keterangan : ry3 = Koefisien korelasi antara sikap ilmiah (X3) dengan prestasi belajar matematika (Y) Menurut Sudjana (2005 : 385).2.2 (1 − r )(1 − r ) 2 y2 2 1. Menentukan koefisien korelasi antara sikap ilmiah (X3) dengan prestasi belajar matematika (Y).

3 Keterangan : ry2. ry2.2 (1 − r )(1 − r ) 2 y1 2 1. 2). ry1. Menentukan koefisien korelasi parsil antara prestasi belajar matematika (Y) dengan sikap ilmiah (X3). 3).2 ry2 − ry3 r2.3 = Koefisien korelasi parsil antara prestasi belajar matematika (Y) dengan sikap disiplin (X2) dengan sikap ilmah (X3) dianggap tetap.3 (1 − r )(1 − r ) 2 y3 2 2.3 = ry2 − ry1 r1.2 = Koefisien korelasi parsil antara belajar matematika (Y) dengan motivasi belajar (X1) dengan sikap disiplin (X2) dianggap tetap. Menentukan koefisien korelasi parsil antara prestasi belajar matematika (Y) dengan sikap disiplin (X2).66 Keterangan : ry1. .1 = ry2. ry2.1 = Koefisien korelasi parsil antara prestasi belajar matematika (Y) dengan sikap disiplin (X2) dengan motivasi belajar (X1) dianggap tetap.3 = Koefisien korelasi parsil antara prestasi belajar matematika (Y) dengan motivasi belajar (X1) dengan sikap ilmiah (X3) dianggap tetap.

23 = ry1. Menurut Sudjana (2005 : 386) jika variabel-variabelnya Y.67 ry3. X2.3 Keterangan : ry3.2 (1 − r )(1 − r ) 2 y3.1 = ry3.3 ry3 − ry2 r2.1 = Koefisien korelasi parsil antara prestasi belajar matematika (Y) dengan sikap ilmiah (X3) dengan motivasi belajar (X1) dianggap tetap.2 2 13.12. dan X3. ry3. ry1.3 (1 − r )(1 − r ) 2 y1 2 1. Misalnya ry1. menyatakan koefisien korelasi parsil antara Y dan X1 jika X2 dan X3 dianggap tetap.2 = ry3 − ry1 r1.23.13. ry3. .23 = Koefisien korelasi parsil antara prestasi belajar matematika (Y) dengan motivasi belajar (X1).23. jika sikap disiplin (X2) dan sikap ilmiah (X3) tetap. maka akan didapat koefisien-koefisien korelasi parsil ry1. X1.3 (1 − r )(1 − r ) 2 y2 2 2.2 − ry3. Sehingga dapat diperoleh : 1).2 = Koefisien korelasi parsil antara prestasi belajar matematika (Y) dengan sikap ilmiah (X3) dengan sikap disiplin (X2) dianggap tetap.2 Keterangan : ry1.2 r13. Menentukan koefisien korelasi parsil antara prestasi belajar matematika (Y) dengan motivasi belajar (X1). ry2.

motivasi belajar (X1).68 2). jika motivasi belajar (X1) dan sikap disiplin (X2) tetap. Sudjana (2005 : 386 – 387) mengemukakan bahwa antara koefisien korelasi.123 2 y1 2 y2. ry2.1 2 32.1 Keterangan : ry1. dan koefisien korelasi parsil terdapat hubungan tertentu.23 = Koefisien korelasi parsil antara prestasi belajar matematika (Y) dengan sikap ilmiah (X3). koefisien korelasi ganda. Menentukan koefisien korelasi parsil antara prestasi belajar matematika (Y) dengan sikap disiplin (X2).1 2 23.1r32. jika motivasi belajar (X1) dan sikap ilmiah (X3) tetap.1 Keterangan : ry1.1 2 y3.12 = ry3.13 = ry2. Sehingga untuk variabel prestasi belajar matematika (Y).12 .1 − ry3. dan sikap ilmiah (X3) diperoleh hubungan : (1 − R ) = (1 − r )(1 − r )(1 − r ) 2 y.23 = Koefisien korelasi parsil antara prestasi belajar matematika (Y) dengan sikap disiplin (X2). sikap disiplin (X2) .1 r23.1 − ry2.1 (1 − r )(1 − r ) 2 y3. 3). ry3. Menentukan koefisien korelasi parsil antara prestasi belajar matematika (Y) dengan sikap ilmiah (X3).1 (1 − r )(1 − r ) 2 y2.

Antara dan X3 Prosentase koefisien determinasi = r2y3 x 100 % 4). Antara dan X2 Prosentase koefisien determinasi = r2y2 x 100 % 3). X2 (sikap disiplin) dan X3 (sikap ilmiah) digunakan rumus prosentase koefisien determinasi yaitu : R2 x 100 %.69 d. X2 (sikap disiplin) dan X3 (sikap ilmiah) yaitu sebagai berikut : 1). Sehingga besar prosentase antara variabel (prestasi belajar) dengan variabel X1 (motivasi belajar).123 x 100 % e. Uji Regresi Linier dan Uji Koefisien Regresi Pengujian regresi linier dilakukan untuk mengetahui hubungan antara variabel terikat (Y) dengan satu atau lebih variabel bebas. X2 dan X3 Prosentase koefisien determinasi = r2y. Dalam hal ini hipotesis yang akan diuji untuk regresi linier adalah : H0 : Model regresi tidak signifikan H1 : Model regresi signifikan . Prosentase Koefisien Determinasi Untuk mengetahui besarnya prosentase hubungan variabel (prestasi belajar) dengan variabel X1 (motivasi belajar). sedangkan pengujian koefisien regresi digunakan untuk mengetahui keberartian hubungan koefisien .koefisien regresi. Antara dan X1 Prosentase koefisien determinasi = r2y1 x 100 % 2). Antara dan X1.

2.k i = i n − k −1 (Sudjana. 2005 : 355) Dengan derajat kebebasan (dk) = (n .. dan banyaknya dan banyaknya variabel bebas k. 2005 : 350) Sehingga dapat dihitung pula JKreg dari : JK reg = a 1 x 1i y i +a 2 x 2i y i + a 3 x 3i y i (Sudjana. maka akan ditentukan pula kekeliruan baku taksiran Sy1. 2005 : 355) . 2005 : 354) Adapun JKres dihitung dari : JKres = (Y − Yˆ ) 2 i i (Sudjana.k .…. Statistika F yang diperoleh adalah : JK reg F= k JK res n − k −1 (Sudjana..2.1) untuk sampel berukuran n.70 Sedangkan untuk koefisien regresi adalah : H0 : Koefisien regresi tidak signifikan H1 : Koefisien regresi signifikan Untuk pengujian regresi linier sejalan dengan data Y sekitar garis regresi Y atas X.k dengan rumus : (Y − Yˆ ) 2 S 2 y1...

dk = (n – k – 1). Untuk pengujian koefisien regresi menggunakan perhitungan statistik : s 2y1. k s ai = ti = ( )( x ij2 1 − R i2 ) ai s ai (Sudjana.. Jika H0 ditolak artinya koefisien regresi signifikan..71 Dalam hal ini H0 ditolak jika Fhitung > Ftabel maka model regresi signifikan berarti terjadi hubungan yang nyata antara variabel bebas dan variabel terikat. 2005 : 388) Kriteria H0 ditolak jika ti ttabel berdistribusi t.. .2.

Hasil koordinasi tersebut. Penelitian diawali dengan beberapa persiapan. Sedangkan hasil variabel terikat diperoleh dengan metode tes berupa tes soal sub pokok bahasan operasi pecahan bentuk aljabar. Adapun persiapan yang dilakukan antara lain : 1. PERSIAPAN PENELITIAN Variabel bebas yang diteliti adalah motivasi berprestasi. 2. Melakukan Studi pendahuluan Studi pendahuluan ini dilakukan untuk mengetahui apakah sekolah tersebut dapat digunakan untuk penelitian atau tidak. Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMPN4 . pihak sekolah memberikan izin kepada peneliti untuk mengadakan penelitian di sekolah tersebut dengan membawa surat rekomendasi penelitian dari IKIP PGRI Semarang. Penentuan subyek penelitian a.72 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. sikap disiplin siswa dan sikap ilmiah siswa. Hasil penelitian variabel bebas diperoleh dari studi lapangan untuk memperoleh data dengan metode kuesioner atau angket. Sedangkan Variabel terikatnya adalah prestasi belajar matematika pada siswa kelas VIII SMP N 4 Salatiga sub pokok bahasan operasi pecahan bentuk aljabar semester I tahun ajaran 2010/2011. Dalam studi pendahuluan ini peneliti melakukan koordinasi dengan kepala Sekolah SMP Negeri 4 Salatiga.

B. variabel sikap disiplin dan variabel sikap ilmiah. yaitu pada awal semester ganjil. Serta data hasil uji coba instrumen pada siswa kelas IX SMP N 4 Salatiga dapat dilihat pada lampiran 5. . tapi pada waktu penelitian ada 2 siswa yang tidak masuk. sikap disiplin siswa dan sikap ilmiah dapat dilihat pada lampiran 3. Hal ini dilakukan karena materi sub pokok operasi pecahan dalam bentuk aljabar diajarkan pada awal semester ganjil . Untuk kelas VIIIF sebenarnya berjumlah 36 siswa. Sedangkan daftar nama siswa kelas VIIIF dapat dilihat pada lampiran 2. Pada tanggal 2 Agustus 2010 digunakan untuk membagikan angket pada siswa kelas VIIIF SMP N 4 Salatiga. Sedangkan angket motivasi berprestasi siswa.73 b. Sedangkan untuk kelas penelitian adalah kelas VIIIF sebanyak 34 siswa. Untuk data hasil penelitian pada siswa kelas VIIIF SMP N 4 Salatiga dapat dilihat pada lampiran 6. Sampel Sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas IXC sebanyak 34 siswa sebagai kelas uji coba. sikap disiplin siswa dan sikap ilmiah siswa dapat dilihat pada lampiran 4. sehingga dapat diketahui prestasi belajar matematika materi sub pokok operasi pecahan dalam bentuk aljabar dipengaruhi oleh variabel motivasi berprestasi siswa. PELAKSANAAN PENELITIAN Penelitian dilakukan pada tanggal 25 Juli 2010 sampai 7 Agustus 2010 di SMP Negeri 4 Salatiga. Kisi – kisi angket motivasi berprestasi siswa. Daftar nama siswa kelas IXC dapat dilihat pada lampiran 1.

Untuk analisis validitas soal uji coba instrumen dapat dilihat pada Lampiran 7. maka butir soal no.15 angket minat dan 15 butir soal angket sikap disiplin dan 15 butir soal sikap ilmiah uji coba instrumen semuanya memenuhi kriteria rhitung > rtabel sehingga semua butir soal dikatakan valid.5747 Dengan N = 34 dan taraf signifikan ( ) = 5%. 2 sampai no. Sedangkan contoh perhitungannya dapat dilihat pada lampiran 8. Validitas Angket motivasi belajar. .339. Instrumen yang memerlukan uji coba penelitian adalah yang berkaitan dengan motivasi belajar. sikap disiplin dan sikap ilmiah masingmasing sebanyak 15 butir pertanyaan diujicobakan kepada 34 siswa uji coba. Untuk butir soal no. 1 valid. selanjutnya peneliti melakukan uji coba instrumen di kelas IXC.74 C. Untuk analisis hasil uji coba instrumen penelitian meliputi : 1. diperoleh rtabel = 0. 1 angket motivasi belajar : X 1 Y = 4107 X 12 = 322 X 1 = 101 rX1Y = = N {N Y 2 = 54896 Y = 1348 X1 Y − ( X 12 − ( X 1 )( }{ X1 ) N 2 Y) Y2 − ( Y) 2 } (34x4107) − (101x1348) {(34x322) − 1012 }{(34x54896) − 13482 } rX1Y = 0. sikap disiplin dan sikap ilmiah yang berupa angket. HASIL UJI COBA INSTRUMEN Setelah subyek penelitian ditetapkan. Berikut perhitungan validitas untuk butir soal no. Karena rhitung > rtabel.

699 = 0.97 = 0. sikap disiplin dan sikap ilmiah masingmasing sebanyak 15 butir pertanyaan diujicobakan kepada 34 siswa uji coba seperti validitas.7403 2 (15 ) terdapat pada . 1 angket motivasi belajar : 2 X − Rumus varians : 2 1 X − ( 2 = ( X) 2 N N X1 ) 2 (101)2 = Dengan cara yang sama diperoleh (1) = = = N 34 10201 34 = 322 − 300. 181 Y2 − Variansi total : 2 t = ( Y )2 N N = 42.646 34 2 sampai lampiran 9.03 34 34 322 − 34 2 (1)* N 322 − 21. Jumlah variansi semua item 2 i ( 2 i ) adalah : = 13.699 n Jadi. Reliabilitas Angket motivasi belajar. Berikut perhitungan reliabilitas untuk butir soal no. reliabilitasnya adalah : r11 = 1− n −1 = 2 i 2 t 15 13.75 2.181 1− 15 − 1 42.

D.05 diperoleh Ltabel = 0.1519 Karena L0 < Ltabel maka Ho diterima. Dengan N = 34 dan taraf nyata = 0. soal yang digunakan sebagai instrumen penelitian sebanyak 15 soal dari masing-masing variabel bebas tersebut reliabel.76 Jadi realibilitas angket motivasi belajar adalah sebesar 0. ANALISIS DATA 1. Menurut kriteria. sehingga diperoleh kesimpulan bahwa data berdistribusi normal.0728. Sedangkan reliabilitas angket sikap disiplin dan sikap ilmiah sama dengan perhitungan reliabilitas motivasi belajar. Untuk analisis reliabilitas soal uji coba instrumen dapat dilihat pada Lampiran 7. Uji Normalitas Perhitungan uji normalitas dalam penelitian ini menggunakan uji Liliofors dengan hipotesis sebagai berilkut : Ho : Sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal H1 : Sampel tidak berasal dari populasi yang berdistribusi normal Untuk analisis uji normalitas angket motivasi belajar siswa kelas VIIIF dapat ditunjukkan pada lampiran 11.828. Pada angket sikap disiplin reliabilitas yang diperoleh sebesar 0.649 dan pada angket sikap ilmiah reliabilitas yang diperoleh sebesar 0. Analisis awal a.74. maka reliabilitas kedua angket tergolong tinggi. Sedangkan contoh perhitungannya dapat dilihat pada lampiran 9. Menurut kriteria. maka reliabilitas tersebut tergolong tinggi. Dengan demikian. Dari tabel Uji Normalitas Angket Motivasi belajar Kelas VIIIF tersebut diperoleh L0 = 0. .

Karena L0 yang diperoleh kurang dari Ltabel maka data dari angket kelas VIIIF berdistribusi normal.68 = 2345 XY = 100162.5 Xi² = 61442 ( X)² = 2056365 X = 42.5 (Yi. Untuk analisis uji normalitas kelas VIIIF dapat dilihat pada lampiran 11.726 b = 1.31 . b. Sedangkan sikap ilmiah kelas VIIIF diperoleh L0 = 0.81 Y2 = 163562.0753.176 ( Y)² = 5499025 Y = 68.77 Sedangkan analisis uji normalitas angket sikap disiplin kelas VIIIF diperoleh L0 = 0.)² = 177.97 a = 13.1033. Dari tabel Uji Linieritas Angket Motivasi belajar Kelas VIIIF tersebut dapat diperoleh : X = 1434 Y = 2435 (Xi-X)(Yi-Y) = 1258. Uji Linieritas Uji linieritas dalam penelitian ini menggunakan hipotesis sebagai berikut : Ho : Hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat adalah tidak linier H1 : Hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat adalah linier Untuk analisis uji linieritas angket motivasi belajar siswa kelas VIIIF dapat ditunjukkan pada lampiran 12.

229 Tuna cocok 18 119. dk penyebut = 14 dan F Ftabel 315. Sedangkan uji linieritas sikap ilmiah kelas VIIIF diperoleh . sehingga dapat disimpulkan bahwa hubungan antara variabel sikap disiplin (X2) dan variabel prestasi belajar matematika (Y) adalah linier. dk penyebut = 14 dan = 0. = 0. Untuk uji linieritas sikap disiplin kelas VIIIF diperoleh Fhitung = 2.5 Regresi (a) 1 161736. Karena Fhitung < Ftabel maka H0 ditolak.78 Selanjutnya analisis varians angket motivasi belajar kelas VIIIF dapat ditunjukkan pada tabel berikut : Sumber varians dk JK KT Total 34 163562.31 X 1 adalah linier. Karena Fhitung < Ftabel maka H0 ditolak.029 161736.25 1.355.062.726 + 1.809 5.67 Kekeliruan 14 57.66 Residu 32 177.355.661 1648.813 4.997 6.05 dari daftar distribusi F diperoleh Ftabel = 2.129 Dari tabel analisis varians tersebut diperoleh dengan dk penyebut = 18.614 2.355 Fhitung = 1. dengan dk penyebut = 18.5 163562.03 Regresi (b|a) 1 1648.614. sehingga dapat disimpulkan bahwa hubungan antara variabel motivasi belajar (X1) dan variabel prestasi belajar matematika (Y) yang di tunjukan oleh persamaan = 13.05 dari daftar distribusi F diperoleh Ftabel = 2.

0 hasilnya adalah : . Apabila perhitungan dilakukan dengan menggunakan Statistical Product and Service Solutions (SPSS) 13. persamaan yang digunakan sebagai berikut : ˆ = a + bX Y dimana : a= ( ( Yi ) n( ) X i )( X i2 − ( Xi ) 2 n b= Xi − ( X i Yi ) − ( n X i2 − ( X i Yi ) 2 Yi )( Xi ) Xi ) 2 Untuk analisis regresi linier antara variabel motivasi belajar ˆ = (X1) dengan variabel prestasi belajar matematika (Y) diperoleh Y 13.05 dari daftar distribusi F diperoleh Ftabel = 2. Analisis uji linieritas variabel sikap disiplin dan variabel sikap ilmiah kelas VIIIF dapat dilihat pada lampiran 12. dengan dk penyebut = 20.31X1. dk penyebut = 12 dan = 0.72 + 1. Karena Fhitung < Ftabel maka H0 ditolak. Analisis akhir a.79 Fhitung = 2. sehingga dapat disimpulkan bahwa hubungan antara variabel sikap ilmiah (X3) dan variabel prestasi belajar matematika (Y) adalah linier. Untuk regresi linier yang terdiri dari dari sebuah variabel tak bebas (Y). Regresi linier Regresi linier digunakan karena terjadi sebuah fenomena yang terdiri dari sebuah variabel bebas (X) dan sebuah variabel terikat (Y).54. 2.258.

52 + 1.950 17.31 sehingga = 13.726 3.31 X 1 .726 + 1. Untuk Y penghitungan analisis regresi linier variabel sikap disiplin (X2) dan variabel sikap ilmiah (X3) dengan variabel prestasi belajar matematika (Y) kelas VIIIF dapat dilihat pada lampiran 13. Regresi Linier Ganda Persamaan regresi linier ganda yang digunakan adalah sabagai berikut: ˆ = a0 + a1X1+ a2X2+ a3X3 Y dimana a0 = 17.563 Untuk analisis perhitungan regresi linier ganda kelas VIIIF dapat ditunjukkan pada lampiran 15.726 dan b = 1. b.000 . .61 + 0. Error 1 (Constant) 13.000 . Zero-order Partial Part .297 a2 =0.989X3.076 .80 a Coefficients Unstandardized Standardized Coefficients Coefficients B Beta t Model Std.225 Correlations Sig.889 a1 = 0. Dan hubungan antara variabel sikap ilmiah (X3) Y dengan variabel prestasi belajar matematika (Y) persamaannya adalah ˆ = 20.950 .271 a3 = 0.14X2. Untuk hubungan antara variabel sikap disiplin belajar (X2) dengan variabel prestasi belajar matematika (Y) persamaannya adalah ˆ = 23.246 motivasi belajar 1.233 4.Dependent Variable: prestasi belajar Dari tabel Coefficient diperoleh a = 13.950 .950 a.310 .

145 . Zero-orderPartial Part . a2 = 0.181 . a2 = 0.270 .889 + 0.91 .274 .315 Correlations Sig.29 x3iyi = 1736. dan X3 kelas VIIIF dapat ditentukan dengan rumus : R= JK reg y i2 Terlebih dahulu dihitung jumlah kuadrat regresi (JKreg) : a1 = 0.297 . X2.054 .0 hasilnya adalah a Coefficients Unstandardized Standardized Coefficients Coefficients B Std.000 . Error Beta t Model 1 (Constant)17. hubungan antara variabel motivasi belajar (X1).558 sikap disiplin.271 dan a3 = 0.563 .889 + 0.552 5.000 .950 .960 .563X3 Y Apabila perhitungan dilakukan dengan menggunakan Statistical Product and Service Solutions (SPSS) 13.216 1.271X2+ 0.297.271X2+ 0.81 Jadi.130 .191 .889.563X3 Y c. Jadi.970 .052 .297.Dependent Variable: prestasi belajar Dari tabel Coefficients diperoleh nilai a0 = 17.393 7.186 a.297X1+ 0.106 .495 sikap ilmiah .563 x1iyi = 1258.233 1.297X1+ 0.68 x2iyi = 1510. a1 = 0. Koefisien Korelasi Ganda ˆ = a0 + a1X1 + a2X2 + a3X3 Berdasarkan regresi linier ganda Y maka koefsien korelasi ganda (R) antara Y dan variabel X1. sikap disiplin siswa (X2) dan sikap ilmiah (X3) dengan prestasi belajar matematika (Y) kelas VIIIF dapat ditunjukkan dengan persamaan : ˆ = 17.696 .263 . persamaan regresi linier ganda adalah : ˆ = 17.475 motivasi belajar .889 2. a3 = 0.270.563.

Koefisien korelasi antara motivasi belajar (X1) dengan prestasi belajar matematika (Y) : ry1 = ry1 = ry1 = X1 Y − ( n {n( ) X12 − ( X1 )( }{ ( X1 ) n 2 Y) ) Y2 − ( Y) 2 } (34x100162.344. sikap disiplin dan sikap ilmiah) dengan prestasi belajar matematika dapat ditunjukkan pada lampiran 16 sehingga dapat diperoleh: 1).9501 > 0. X2.9501 Dengan taraf signifikan = 0.5) − (2345)2 } 42795 45043.963327 Koefisien korelasi antara masing – masing variabel bebas (motivasi belajar.49 dan koefisien korelasi ganda (R) antara Y dan variabel X1.981492)2 R2 = 0.659 ry1 = 0. Karena rhitung > rtabel yaitu 0. dan X3= 0. sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa ada hubungan . maka H0 ditolak.471 dapat diperoleh Dengan JK reg = 1759.05 dan dk = 33 diperoleh rtabel = 0.344.49 yi2 = 1826.82 Jumlah Kuadrat Regresi (JKreg) = 175.5) − (1434x2345) {(34x61442) − (1434)2 }{(34x163562.981492 Koefisien determinasi ganda (R2) : R2 = (0.

969 Dengan taraf signifikan = 0. sikap disiplin dan sikap ilmiah) dengan prestasi belajar matematika jika satu variabel bebas lain dianggap tetap terlebih dahulu perlu dihitung koefisien korelasi antara motivasi belajar (X1) dengan sikap disiplin (X2) yaitu r1. Untuk menghitung koefisien korelasi parsil antara masing – masing variabel bebas (motivasi belajar. Karena rhitung > rtabel yaitu 0.05 dan dk = 33 diperoleh rtabel = 0.2.344. maka H0 ditolak. 3). sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa ada hubungan antara variabel sikap ilmiah (X3) dengan variabel prestasi belajar matematika (Y). sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa ada hubungan antara variabel sikap disiplin (X2) dengan variabel prestasi belajar matematika (Y).3 dan koefisien korelasi antara sikap disiplin (X2) dengan sikap ilmiah (X3) yaitu r2.344. Adapun perhitungannya sebagai berikut : .83 antara variabel motivasi belajar (X1) dengan variabel prestasi belajar matematika (Y).959 > 0. Koefisien korelasi antara sikap disiplin (X2) dengan prestasi belajar matematika (Y) diperoleh ry2 = 0.3. 2). Koefisien korelasi antara sikap ilmiah (X3) dengan prestasi belajar matematika (Y) diperoleh ry3 = 0.969 > 0. koefisien korelasi antara motivasi belajar (X1) dengan sikap ilmiah (X3) yaitu r1.344.344. maka H0 ditolak. Karena rhitung > rtabel yaitu 0.959 Dengan taraf signifikan = 0.05 dan dk = 33 diperoleh rtabel = 0.

05 dan dk = 33 diperoleh rtabel = 0. Koefisien korelasi antara sikap disiplin (X2) dengan sikap ilmiah (X3) diperoleh r2.3 = 0.923 > 0. Karena rhitung > rtabel yaitu 0. 2).05 dan dk = 33 diperoleh rtabel = 0. 3). sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa ada hubungan antara variabel motivasi belajar (X1) dengan variabel sikap ilmiah (X3).344.2 = 0.344.2 = r1.939 Dengan taraf signifikan = 0.923 Dengan taraf signifikan = 0.344. Koefisien korelasi antara motivasi belajar (X1) dengan sikap disiplin (X2) r1.3 = 0. maka H0 .2 = n {n( X1X 2 − ( X12 ) − ( X1 )( }{ ( X1 ) n 2 X2 ) ) X2 − ( 2 X2 ) 2 } (34x59602) − (1434x1387) {(34x61442) − (1434)2 }{(34x57937) − (1387)2 } 37510 38804. sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa ada hubungan antara variabel motivasi belajar (X1) dengan variabel sikap disiplin siswa (X2). maka H0 ditolak. Koefisien korelasi antara motivasi belajar (X1) dengan sikap ilmiah (X3) diperoleh r1.967 Dengan taraf signifikan = 0.967 > 0.2 = r1.344. Karena rhitung > rtabel yaitu 0.939 > 0. maka H0 ditolak.894 r1.84 1).344.344.05 dan dk = 33 diperoleh rtabel = 0. Karena rhitung > rtabel yaitu 0.

Koefisien korelasi parsil antara prestasi belajar matematika (Y) dengan motivasi belajar (X1) jika sikap disiplin (X2) dianggap tetap. sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa ada hubungan antara variabel sikap disiplin (X1) dengan variabel sikap ilmiah (X3).344. .304 < 0.96) }{1 − (0. Koefisien korelasi parsil antara prestasi belajar matematika (Y) dengan motivasi belajar (X1).967 ) {1 − (0.95 − (0. sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa tidak ada hubungan antara prestasi belajar matematika (Y) dengan motivasi belajar (X1) jika sikap disiplin (X2) dianggap tetap.2 = ry1. a).967) } 2 2 0.2 0.05 dan dk = 33 diperoleh rtabel = 0.344. ry1.2 = ry1.85 ditolak. Koefisien korelasi parsil antara masing – masing variabel bebas (motivasi belajar.2 = 0.02168 0.96x0.2 (1 − r )(1 − r ) 2 y2 2 1. maka H0 diterima.304 Dengan taraf signifikan = 0.07134 ry1. Karena rhitung < rtabel yaitu 0.2 = ry1 − ry2 r1. sikap disiplin dan sikap ilmiah) dengan prestasi belajar matematika jika satu variabel bebas lain dianggap tetap adalah sebagai berikut : 1).

2 (1 − r )(1 − r ) 2 y1 2 1.96 − (0. Koefisien korelasi parsil antara prestasi belajar matematika (Y) dengan motivasi belajar (X1) jika sikap ilmiah (X3) dianggap tetap diperoleh ry1. Karena rhitung > rtabel yaitu 0.3 = 0.585 > 0. 2). sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa ada hubungan antara prestasi belajar matematika (Y) .1 = ry2 − ry1 r1.1 = 0.344. sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa ada hubungan antara prestasi belajar matematika (Y) dengan motivasi belajar (X1) jika sikap ilmiah (X3) dianggap tetap.967 ) {1 − (0. ry2.2 0.585 Dengan taraf signifikan = 0.967) } 2 2 0.86 b). maka H0 ditolak.344.95) }{1 − (0. a).07955 ry2. Koefisien korelasi parsil antara prestasi belajar matematika (Y) dengan sikap disiplin (X2) jika motivasi belajar (X1) dianggap tetap.95x0.344.1 = ry2. Karena rhitung > rtabel yaitu 0.52 Dengan taraf signifikan = 0.05 dan dk = 33 diperoleh rtabel = 0.344. Menentukan koefisien korelasi parsil antara prestasi belajar matematika (Y) dengan sikap disiplin (X2).52 > 0.04135 0.05 dan dk = 33 diperoleh rtabel = 0. maka H0 ditolak.1 = ry2.

maka H0 ditolak.923) } 2 2 0.1 = ry3 − ry1 r1.581 > 0.97 − (0.09315 0.3 (1 − r )(1 − r ) 2 y1 2 1.3 = 0.775 > 0. Menentukan koefisien korelasi parsil antara prestasi belajar matematika (Y) dengan sikap ilmiah (X3). 3). maka H0 ditolak.87 dengan sikap disiplin (X2) jika motivasi belajar (X1) dianggap tetap.12015 ry3.05 dan dk = 33 diperoleh rtabel = 0. Karena rhitung > rtabel yaitu 0.344.581 Dengan taraf signifikan = 0.344.05 dan dk = 33 diperoleh rtabel = 0.775 Dengan taraf signifikan = 0.3 0.1 = ry3.1 = ry3. a). sehingga dapat ditarik kesimpulan . ry3.923) {1 − (0. Koefisien korelasi parsil antara prestasi belajar matematika (Y) dengan sikap ilmiah (X3) jika motivasi belajar (X1) dianggap tetap.95) }{1 − (0.344. sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa ada hubungan antara prestasi belajar matematika (Y) dengan sikap disiplin (X2) jika sikap ilmiah (X3) dianggap tetap. b).95x0. Karena rhitung > rtabel yaitu 0. Koefisien korelasi parsil antara prestasi belajar matematika (Y) dengan sikap disiplin (X2) jika sikap ilmiah (X3) dianggap tetap diperoleh ry2.344.1 = 0.

Adapun perhitungannya sebagai berikut : 1).708 > 0. b). koefisien korelasi antara sikap disiplin (X2) dengan sikap ilmiah (X3) jika motivasi belajar (X1) dianggap tetap yaitu r23. Untuk menghitung kefisien korelasi parsil antara masing – masing variabel bebas (motivasi belajar. sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa ada hubungan antara prestasi belajar matematika (Y) dengan sikap ilmiah (X3) jika sikap disiplin (X2) dianggap tetap. Dengan taraf signifikan = 0. maka H0 ditolak. Karena rhitung > rtabel yaitu 0.1 dan koefisien korelasi antara sikap ilmiah (X3) dengan sikap disiplin (X2) jika motivasi belajar (X1) dianggap tetap yaitu r32.2.344. sikap disiplin dan sikap ilmiah) dengan prestasi belajar matematika jika dua variabel bebas lain dianggap tetap terlebih dahulu perlu dihitung koefisien korelasi parsil antara motivasi belajar (X1) dengan sikap ilmiah (X3) jika sikap disiplin (X2) dianggap tetap yaitu r13.2 = 0.1.708 .05 dan dk = 33 diperoleh rtabel = 0.88 bahwa ada hubungan antara prestasi belajar matematika (Y) dengan sikap ilmiah (X3) jika motivasi belajar (X1) dianggap tetap. Koefisien korelasi parsil antara prestasi belajar matematika (Y) dengan sikap ilmiah (X3) jika sikap disiplin (X2) dianggap tetap diperoleh ry3.2 . Koefisien korelasi parsil antara motivasi belajar (X1) dengan sikap ilmiah (X3) jika sikap disiplin (X2) dianggap tetap yaitu r13.344.

3 (1 − r )(1 − r ) 2 1.967) }{1 − (0.3 0.2 = r1. sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa ada hubungan antara sikap disiplin (X2) dengan sikap ilmiah (X3) jika motivasi belajar (X1) dianggap tetap.05 dan dk = 33 diperoleh rtabel = 0. Karena rhitung > rtabel yaitu 0.2 2 2.08692 r13.161 < 0.923 − (0. 2).484 Dengan taraf signifikan = 0.484 Dengan taraf signifikan = 0.967x0. maka H0 .2 r2.344.1 dapat diperoleh r23..94 ) {1 − (0.1 dapat diperoleh r32. Koefisien korelasi antara sikap disiplin (X2) dengan sikap ilmiah (X3) jika motivasi belajar (X1) dianggap tetap yaitu r23. Karena rhitung < rtabel yaitu 0.484 > 0.484 > 0. Koefisien korelasi antara sikap ilmiah (X3) dengan sikap disiplin (X2) jika motivasi belajar (X1) dianggap tetap yaitu r32.161 Dengan taraf signifikan = 0.05 dan dk = 33 diperoleh rtabel = 0. Karena rhitung > rtabel yaitu 0.05 dan dk = 33 diperoleh rtabel = 0. 3).344.1 = 0.344. maka H0 diterima.344.344.01402 0.344.89 r13.2 = r13.94) } 2 2 0.2 = 0.2 = r13. maka H0 diterima.3 − r1. sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa tidak ada hubungan antara motivasi belajar (X1) dengan sikap ilmiah (X3) jika sikap disiplin (X2) dianggap tetap.1 = 0.

23 = 0.273 Dengan taraf signifikan = 0.23 = ry1. sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa ada hubungan antara sikap ilmiah (X3) dengan sikap disiplin (X1) jika motivasi belajar (X1) dianggap tetap.90 diterima. Karena rhitung < rtabel yaitu 0. maka H0 diterima. jika sikap disiplin (X2) dan sikap ilmiah (X3) tetap.2 2 13.161) {1 − (0. sikap disiplin dan sikap ilmiah) dengan prestasi belajar matematika jika dua variabel bebas lain dianggap tetap adalah sebagai berikut : 1). ry1.304 − (0.2 0.23 = ry1.273 < 0.2 − ry3. Koefisien korelasi parsil antara masing – masing variabel bebas (motivasi belajar.708) }{1 − (0. Koefisien korelasi parsil antara prestasi belajar matematika (Y) dengan motivasi belajar (X1).344.344. sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa tidak ada hubungan antara prestasi belajar matematika (Y) dengan motivasi belajar (X1) jika sikap disiplin (X1) dan sikap ilmiah (X3) dianggap tetap.23 = ry1.05 dan dk = 33 diperoleh rtabel = 0.2 r13.161) } 2 2 0.708x0.697 ry1.190012 0. .2 (1 − r )(1 − r ) 2 y3.

maka H0 diterima. Untuk perhitungan koefisien korelasi kelas VIIIF dengan Statistical Product and Service Solutions (SPSS) 13.344. maka H0 ditolak. sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa ada hubungan antara prestasi belajar matematika (Y) dengan sikap ilmiah (X3) jika motivasi belajar (X1) dan sikap disiplin (X1) dan dianggap tetap.7 > 0.262 . Karena rhitung > rtabel yaitu 0.344.13 = 0.344. jika motivasi belajar (X1) dan sikap disiplin (X2) tetap dapat diperoleh ry3. Dengan taraf signifikan = 0.344.91 2). Dengan taraf signifikan = 0.05 dan dk = 33 diperoleh rtabel = 0.12 = 0.262 < 0. sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa tidak ada hubungan antara prestasi belajar matematika (Y) dengan sikap disiplin (X1) jika motivasi belajar (X1) dan sikap ilmiah (X3) dianggap tetap. Koefisien korelasi parsil antara prestasi belajar matematika (Y) dengan sikap ilmiah (X3). Karena rhitung < rtabel yaitu 0. 3). jika motivasi belajar (X1) dan sikap ilmiah (X3) tetap dapat diperoleh ry2.7 .05 dan dk = 33 diperoleh rtabel = 0.0 diperoleh : . Koefisien korelasi parsil antara prestasi belajar matematika (Y) dengan sikap disiplin (X2).

000 . Karena nilai signifikasi < 0.000 . 2).05. maka ada dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara variabel sikap disiplin (X2) dengan variabel prestasi belajar matematika (Y). .960 dengan nilai signifikasi 0.967 1.000 34 34 34 34 sikap ilmiah .000 . maka ada dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara variabel motivasi belajar (X1) dengan variabel prestasi belajar matematika (Y).00.92 Correlations Pearson Correlation prestasi belajar motivasi belajar sikap disiplin sikap ilmiah Sig.970 . Koefisien korelasi antara sikap disiplin (X2) dengan prestasi belajar matematika (Y) adalah 0.000 .000 . Karena nilai signifikasi < 0.000 . Koefisien korelasi antara motivasi belajar (X1) dengan prestasi belajar matematika (Y) adalah 0.000 34 34 34 34 sikap disiplin . Karena nilai signifikasi < 0.00.923 .000 . .000 . 34 34 34 34 Dari tabel Correlations tersebut dapat diperoleh : 1).950 . Koefisien korelasi antara sikap ilmiah (X3) dengan prestasi belajar matematika (Y) adalah 0.970 dengan nilai signifikasi 0.960 .950 1. .000 .000 . (1-tailed) prestasi belajar motivasi belajar sikap disiplin sikap ilmiah N prestasi belajar motivasi belajar sikap disiplin sikap ilmiah prestasi belajar 1.960 .00.05.950 dengan nilai signifikasi 0.05.967 .000 34 34 34 34 motivasi belajar .000 .000 .923 . 3).970 .000 .940 1. maka ada dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara variabel sikap ilmiah (X3) dengan variabel prestasi belajar matematika (Y) .940 .

00. 6).1 2 y3.344. dan koefisien korelasi parsil terdapat hubungan tertentu. Koefisien korelasi antara sikap disiplin (X2) dengan sikap ilmiah (X3) adalah 0. Karena nilai signifikasi < 0. sikap disiplin siswa (X2) . Koefisien korelasi antara motivasi belajar (X1) dengan sikap disiplin (X2) adalah 0.93 4). motivasi belajar (X1).344.05 dan dk = 35 diperoleh rtabel = 0.12 (1 − R ) = {1 − (0. maka ada dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara variabel motivasi belajar (X1) dengan variabel sikap disiplin (X2).95) }{1 − (0. maka ada dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara variabel motivasi belajar (X1) dengan variabel sikap ilmiah (X3).967 dengan nilai signifikasi 0.05. maka H0 ditolak.7) } 2 y. . dan sikap ilmiah (X3) diperoleh hubungan : (1 − R 2 y.923 dengan nilai signifikasi 0. maka ada dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara variabel sikap disiplin (X2) dengan variabel sikap ilmiah (X3). Sehingga untuk variabel prestasi belajar matematika (Y). koefisien korelasi ganda.982 > 0. Karena rhitung > rtabel yaitu 0.123 = 0. Karena nilai signifikasi < 0.123 ) = (1 − r )(1 − r )(1 − r ) 2 y1 2 y2. Antara koefisien korelasi.123 2 2 2 R y. 5). Koefisien korelasi antara motivasi belajar (X1) dengan sikap ilmiah (X3) adalah 0.05.00.00.940 dengan nilai signifikasi 0.05.52) }{1 − (0. Karena nilai signifikasi < 0.982 Dengan taraf signifikan = 0.

Predictors: (Constant).94 sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa ada hubungan antara prestasi belajar matematika (Y) dengan motivasi belajar (X1). 3). sikap disiplin (X2) dan sikap ilmiah (X3).848 > 2.05 diperoleh Ftabel = 2. Berdasarkan perbandingan Ftabel dengan Fhitung Diperoleh Fhitung = 262. F Change Watson Model R R SquareR Square the EstimateChangeF Change df1 1 . 2). sikap ilmiah.000 1.92 sehingga H0 ditolak. Berdasarkan nilai signifikasi Diperoleh nilai signifikasi 0. sikap disiplin (X2) dan sikap ilmiah (X3) secara bersama – sama dengan prestasi belajar matematika (Y) kelas VIIIF dengan Statistical Product and Service Solutions (SPSS) 13.963 . dk penyebut = 30 dan = 0.000. sikap disiplin (X2) dan sikap ilmiah (X3).05 . Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa ada terjadi hubungan antara prestasi belajar matematika (Y) dengan motivasi belajar (X1).960 1.Dependent Variable: prestasi belajar Dari tabel Model Summaryb tersebut dapat diperoleh : 1). sikap disiplin (X2) dan sikap ilmiah (X3) secara bersama – sama dengan prestasi belajar matematika (Y). yaitu 262. yaitu koefisien korelasi antara motivasi belajar (X1).982a .736 a. Dari daftar distribusi F dengan dk pembilang 3.92. R = 0. Untuk perhitungan koefisien korelasi antara motivasi belajar (X1). motivasi belajar. Karena Fhitung > Ftabel.848 3 30 . Error of R Square df2 Sig.0 diperoleh : b Model Summary Change Statistics DurbinAdjustedStd. Karena nilai signifikasi< 0. sikap disiplin b.982.49378 .963 262.848.

Prosentase Koefisien Determinasi Untuk mengetahui besarnya prosentase hubungan variabel prestasi belajar matematika (Y) dengan variabel motivasi belajar (X1). Sehingga besar prosentase antara variabel prestasi belajar matematika (Y) dengan variabel motivasi belajar (X1). Uji Regresi Linier dan Uji Koefisien Regresi Pengujian regresi linier dilakukan untuk mengetahui hubungan antara variabel terikat (Y) dengan satu atau lebih variabel bebas.09 % 4). Antara prestasi belajar matematika (Y) dengan sikap ilmiah (X3) diperoleh 94. sedangkan pengujian koefisien regresi digunakan untuk mengetahui . sikap disiplin (X2) dan sikap ilmiah (X3) diperoleh 96. Antara prestasi belajar matematika (Y) dengan sikap disiplin (X2) diperoleh 92. sikap disiplin (X2) dan sikap ilmiah (X3). Antara prestasi belajar matematika (Y) dengan motivasi belajar (X1) diperoleh 90. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa ada terjadi hubungan antara prestasi belajar matematika (Y) dengan motivasi belajar (X1).25 % 2). Antara prestasi belajar matematika (Y) dengan motivasi belajar (X1). sikap disiplin (X2) dan sikap ilmiah (X3) yaitu sebagai berikut : 1).95 yaitu 0. d.16 % 3).43 % e.00 < 0. sikap disiplin (X2) dan sikap ilmiah (X3) kelas VIIIF digunakan rumus prosentase koefisien determinasi yaitu : R2 x 100 % (lampiran 17).05 sehingga H0 ditolak.

a2 = 0.k = i n − k −1 66.488 Jumlah Kuadrat Residu (JKres) =66...k ) : (Y − Yˆ ) 2 S 2 y1.563 x1iyi = 1258.27 dan a3 = 0..k = 2. Dalam hal ini hipotesis yang akan diuji untuk regresi linier adalah : H0 : Model regresi tidak signifikan H1 : Model regresi signifikan Sedangkan untuk koefisien regresi adalah : H0 : Koefisien regresi tidak signifikan H1 : Koefisien regresi signifikan Untuk pengujian regresi linier sejalan dengan data Y sekitar garis regresi Y atas X kelas VIIIF...297.941 34 − 3 − 1 S 2 y1.2.k i = n − k −1 (Y − Yˆ ) 2 i i i = 66.294 Jumlah Kuadrat Regresi (JKreg) = 1759.231 a1 = 0.96 keberartian hubungan koefisien .912 .....941 n = 34 k=3 Kekeliruan Baku Taksiran (Sy1.…. maka akan ditentukan pula kekeliruan baku taksiran Sy1..941 x3iyi = 1736.k dengan rumus : (Y − Yˆ ) 2 S 2 y1.2.676 x2iyi = 1510.2.2..2.koefisien regresi.…. k i = S 2 y1..2.....

471 df 3 30 33 Mean Square 586.231 F 262.84 Dari daftar distribusi F dengan dk pembilang 3. berarti terjadi hubungan yang nyata antara prestasi belajar matematika (Y) dengan motivasi belajar (X1). Berdasarkan perbandingan Fhitung dengan Ftabel Diperoleh Fhitung = 262. sikap ilmiah. Dari daftar distribusi F dengan dk pembilang 3.941 Total 1826.97 Statistika F = 262.90.848 > 2. sikap disiplin (X2) dan sikap ilmiah (X3). Dengan demikian model regresi linier ganda signifikan.05 diperoleh Ftabel = 2. Predictors: (Constant). dk penyebut = 30 dan = 0. Melihat Fhitung = 262.92. berarti terjadi hubungan yang nyata antara prestasi belajar matematika (Y) dengan motivasi belajar (X1). Untuk perhitungan Statistika F kelas VIIIF dengan Statistical Product and Service Solutions (SPSS) 13.90 sehingga H0 ditolak. sikap disiplin (X2) dan sikap ilmiah (X3).510 2.84. Dengan demikian model regresi linier ganda signifikan.848.848 Sig. Dependent Variable: prestasi belajar Dari tabel ANOVA diperoleh Statistika F kelas kelas VIIIF sebagai berikut : 1).0 diperoleh : ANOVAb Sum of Model Squares 1 Regression 1759. maka Fhitung > Ftabel sehingga H0 ditolak.000a a. yaitu 262. Untuk penghitungan lengkap dapat dilihat pada lampiran 18. sikap disiplin b. . . motivasi belajar.530 Residual 66.05 diperoleh Ftabel = 2. dk penyebut = 32 dan = 0. Karena Fhitung > Ftabel.

941 x22j = 1355.563X3 Y S 2 y1..889 + 0.083 .049 t1 = )( x ij2 1 − R 12 a1 s a1 t 1 = 6. sikap disiplin (X2) dan sikap ilmiah (X3).234 Untuk pengujian koefisien regresi menggunakan perhitungan statistik dapat dilihat pada lampiran 19 : 1).98 2).k ( ) 2..k = 2.559 x23j = 1756.026x R2 = r23.2.484 R 22 = 0.05 yaitu 0.026) s a1 = 0.05 sehingga H0 ditolak.941)(1 − 0.27X2+ 0.1 = 0.231 x21j = 960.231 (960.. berarti terjadi hubungan yang nyata antara prestasi belajar matematika (Y) dengan motivasi belajar (X1).00 < 0.2 = 0.1 = 0..234 R3 = r32. Karena nilai signifikasi < 0.297X1+ 0.00...735 R1 = r13.161 R 12 = 0. Untuk pengujian koefisien regresi kelas VIIIF ditunjukkan sebagai berikut : ˆ = 17.. Berdasarkan nilai signifikasi Nilai signifikasi 0. Dengan demikian model regresi linier ganda signifikan.2. Koefisien regresi motivasi belajar (X1) s a1 = s a1 = s 2y1.484 R 32 = 0.

7 maka H0 ditolak.270 .393 motivasi belajar.315 a.083 = 0.950 . Zero-order Partial .558 1.145 .263 .7.186 .052 .191 .05 1.216 sikap disiplin .7 maka H0 ditolak. Karena t3 ttabel yaitu 13.827 = 0.130 .233 sikap ilmiah .7 maka H0 ditolak.0 diperoleh : a Coefficients Unstandardized Standardized Coefficients Coefficients B Std.475 1.05 1. Karena t2 ttabel yaitu 5.827. yang artinya koefisien regresi motivasi belajar (X1) signifikan.181 .7.297 . yang artinya koefisien regresi sikap ilmiah (X3) signifikan.7. Dari daftar distribusi t dengan dk = 30 dan diperoleh ttabel = 1.000 . Dari daftar distribusi t dengan dk = 30 dan diperoleh ttabel = 1.495 5.960 .106 . 2).563 .99 Dari daftar distribusi t dengan dk = 30 dan diperoleh ttabel = 1.000 .825.274 .046 dan t2 = 5. 3).825 = 0. Karena t1 ttabel yaitu 6.054 .889 2. Koefisien regresi sikap ilmiah (X3) diperoleh s a3 = 0.552 t 7. Error Beta Model 1 (Constant) 17.05 1. Koefisien regresi sikap disiplin (X2) diperoleh s a2 = 0.970 .696 Part .Dependent Variable: prestasi belajar Dari tabel Coefficients tersebut dapat diperoleh : Correlations Sig.04 dan t3= 13. Untuk pengujian koefisien regresi kelas VIIIF dengan Statistical Product and Service Solutions (SPSS) 13. yang artinya koefisien regresi sikap disiplin (X2) signifikan.

Karena nilai signifikasi > 0. Dari daftar distribusi t dengan dk = 30 dan = 0.05 diperoleh ttabel = 1.315. Berdasarkan nilai signifikasi Diperoleh nilai signifikasi = 0. Dari daftar distribusi t dengan dk = 30 dan = 0. Karena thitung ttabel . 2).145 > 0.05 yaitu 0. Berdasarkan perbandingan ttabel dengan thitung Diperoleh thitung = 1. Dari daftar distribusi t dengan dk = 30 dan = 0.05 diperoleh ttabel = 1. Berdasarkan nilai signifikasi Diperoleh nilai signifikasi = 0. yang artinya koefisien regresi sikap disiplin (X2) tidak signifikan.05 maka H0 diterima. b). b).558 < 1. Karena thitung < ttabel yaitu 1.13. Karena thitung < ttabel yaitu 1. Karena nilai signifikasi > 0.100 1). yang artinya koefisien regresi sikap disiplin (X2) tidak signifikan.05 diperoleh ttabel = 1.7 maka H0 diterima. Koefisien regresi sikap ilmiah (X3) a). Koefisien regresi sikap disiplin (X2) a).13 > 0. Koefisien regresi motivasi belajar (X1) a).05 maka H0 diterima. Berdasarkan perbandingan ttabel dengan thitung Diperoleh thitung = 5. yang artinya koefisien regresi motivasi belajar (X1) tidak signifikan.495.05 yaitu 0.7.7.495 < 1.7.145. Berdasarkan perbandingan ttabel dengan thitung Diperoleh ttabel = 1.7 maka H0 diterima. yang artinya koefisien regresi motivasi belajar (X1) tidak signifikan. 3).558.

Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa ada hubungan antara . H11 : Ada pengaruh antara motivasi belajar dengan prestasi belajar matematika pada siswa Kelas VIIIF SMP Negeri 4 Salatiga Semester 1 Tahun Ajaran 2010/2011.00 < 0. b). PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN Dari serangkaian analisis perhitungan yang telah dilakukan.101 yaitu 2. yang artinya koefisien regresi sikap ilmiah (X3) signifikan.101 1. Hipotesis pertama.696 maka H0 ditolak.00. Dengan taraf signifikan = 0.05 dan dk = 35 diperoleh rtabel = 0. Sedangkan analisis dengan Statistical Product and Service Solutions (SPSS) 13.95. dapat dilakukan pengambilan keputusan dari beberapa hipotesis yang telah diajukan. Karena rhitung > rtabel maka H01 ditolak. Berdasarkan nilai signifikasi Diperoleh nilai signifikasi = 0. yaitu : H01 : Tidak ada pengaruh antara motivasi belajar dengan prestasi belajar matematika pada siswa Kelas VIIIF SMP Negeri 4 Salatiga Semester Tahun Ajaran 2010/2011.95. Karena nilai signifikasi < 0.05 yaitu 0.05 maka H0 diterima.0 diperoleh rhitung = 0. yang artinya koefisien regresi sikap ilmiah (X3) signifikan. Dari analisis koefisien korelasi antara motivasi belajar (X1) dengan prestasi belajar matematika (Y) diperoleh rhitung = 0.344. E. Adapun pengambilan keputusan untuk kelas penelitian VIIIF meliputi : 1.

31X1.05 dan dk = 35 diperoleh rtabel = 0.083. Karena rhitung > rtabel maka H02 ditolak.558. Dari hasil analisis regresi linier diperoleh hubungan antara motivasi belajar (X1) dengan prestasi belajar matematika (Y) memenuhi ˆ = Y ˆ = 13.96.0 diperoleh rhitung = 0. Hipotesis kedua.05 diperoleh ttabel = 1.68 + 1. 2. Dari analisis koefisien korelasi antara sikap disiplin (X2) dengan prestasi belajar matematika (Y) diperoleh rhitung = 0. Sedangkan analisis dengan Statistical Product and Service Solutions (SPSS) 13.96. Dari analisis pengujian regresi linier persamaan Y diperoleh thitung = 6. Dengan taraf signifikan = 0. Dengan demikian dapat diperoleh kesimpulan bahwa motivasi belajar memberikan pengaruh pada perubahan prestasi belajar matematika siswa secara signiifikan. Sedangkan analisis dengan Statistical Product and Service Solutions (SPSS) 13.344. Dari daftar distribusi t dengan dk = 32 dan thitung = 0.102 motivasi belajar dengan prestasi belajar matematika pada siswa Kelas VIIIF SMP Negeri 4 Salatiga Semester 1 Tahun Ajaran 2010/2011. yaitu : H02 : Tidak ada pengaruh antara sikap disiplin dengan prestasi belajar matematika pada siswa Kelas VIIIF SMP Negeri 4 Salatiga Semester 1 Tahun Ajaran 2010/2011.0 diperoleh thitung = 1. Karena ttabel maka H0 ditolak. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa ada hubungan antara sikap .7. H12 : Ada pengaruh antara sikap disiplin dengan prestasi belajar matematika pada siswa Kelas VIIIF SMP Negeri 4 Salatiga Semester 1 Tahun Ajaran 2010/2011. yang artinya koefisien regresi motivasi belajar (X1) signifikan.

Sedangkan analisis dengan Statistical Product and Service Solutions (SPSS) 13.825. Dari analisis koefisien korelasi antara sikap ilmiah (X3) dengan prestasi belajar matematika (Y) diperoleh rhitung = 0.52 + 1.103 disiplin dengan prestasi belajar matematika pada siswa Kelas VIIIF SMP Negeri 4 Salatiga Semester 1 Tahun Ajaran 2010/2011. 3.0 diperoleh thitung = 1. yang artinya koefisien regresi sikap disiplin (X2) signifikan. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa ada hubungan antara sikap . yaitu : H0 : Tidak ada pengaruh antara sikap ilmiah dengan prestasi belajar matematika pada siswa Kelas VIIIF SMP Negeri4 Salatiga Semester 1 Tahun Ajaran 2010/2011.05 diperoleh ttabel = 1. Dari hasil analisis regresi linier diperoleh hubungan antara sikap disiplin (X2) dengan prestasi belajar matematika (Y) memenuhi ˆ = 23.344. H13 : Ada pengaruh antara sikap ilmiah dengan prestasi belajar matematika pada siswa Kelas VIIIF SMP Negeri 4 Salatiga Semester 1 Tahun Ajaran 2010/2011. Karena ttabel maka H0 ditolak.05 dan dk = 35 diperoleh rtabel = 0. Hipotesis ketiga.495.14X2. Sedangkan analisis dengan Statistical Product and Service Solutions (SPSS) 13. Karena rhitung > rtabel maka H02 ditolak.97. Dari daftar distribusi t dengan dk = 32 dan thitung = 0.0 diperoleh rhitung = 0. Dengan taraf signifikan = 0. Dari analisis pengujian regresi linier persamaan Y diperoleh thitung = 5. Dengan demikian dapat diperoleh kesimpulan bahwa sikap disiplin memberikan pengaruh pada perubahan prestasi belajar matematika siswa secara signifikan.7.97.

61 + 0.0 diperoleh rhitung = .989X3.05 diperoleh ttabel = 1. Karena ttabel maka H0 ditolak. Dari analisis koefisien korelasi antara motivasi belajar (X1).7.827. yang artinya koefisien regresi sikap ilmiah (X3) signifikan. sikap disiplin dan sikap ilmiah dengan prestasi belajar matematika pada siswa Kelas VIIIF SMP Negeri 4 Salatiga Semester 1 Tahun Ajaran 2010/2011.315. Hipotesis keempat. 4.0 diperoleh thitung = 5.982. Sedangkan analisis dengan Statistical Product and Service Solutions (SPSS) 13. Sedangkan analisis dengan Statistical Product and Service Solutions (SPSS) 13.104 ilmiah dengan prestasi belajar matematika pada siswa Kelas VIIIF SMP Negeri 4 Salatiga Semester 1 Tahun Ajaran 2010/2011. yaitu : H04 : Tidak ada pengaruh antara motivasi belajar. sikap disiplin (X2) dan sikap ilmiah (X3) dengan prestasi belajar matematika (Y) diperoleh rhitung = 0. Dengan demikian dapat diperoleh kesimpulan bahwa sikap ilmiah memberikan pengaruh pada perubahan prestasi belajar matematika siswa secara signifikan. H14 : Ada pengaruh antara motivasi belajar. sikap disiplin dan sikap ilmiah dengan prestasi belajar matematika pada siswa Kelas VIIIF SMP Negeri 4 Salatiga Semester 1 Tahun Ajaran 2010/2011. Dari analisis pengujian regresi linier persamaan Y diperoleh thitung = 13. Dari daftar distribusi t dengan dk = 32 dan thitung = 0. Dari hasil analisis regresi linier diperoleh hubungan antara sikap ilmiah (X3) dengan prestasi belajar matematika (Y) memenuhi ˆ = 20.

941 1759.496 F= 66. sikap disiplin (X2) dan sikap ilmiah (X3). Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa ada hubungan antara motivasi belajar.92 Fhitung > Ftabel Sehingga H0 ditolak.881 JK reg = 1759.827 + 407.488 3 F= 66. Uji Regresi Linier Ganda n k n = 34 (jumlah siswa) k = 3 (derajat kebebasan) JK reg = (0.676 ) + (0. Dari hasil analisis regresi linier ganda diperoleh hubungan (pengaruh) antara motivasi belajar. berarti terjadi hubungan (pengaruh) yang nyata antara prestasi belajar matematika (Y) dengan motivasi belajar (X1).912 ) JK reg = 373.563x1736.344.941 34 − 3 − 1 586. sikap disiplin dan sikap ilmiah (X3) ˆ = dengan prestasi belajar matematika (Y) memenuhi persamaan Y 17. sikap disiplin dan sikap ilmiah secara bersama .294 ) + (0. Dari analisis pengujian model .496 F= 2.941 30 586. Karena rhitung > rtabel maka H04 ditolak.84 Ftabel = 2.27X2+ 0.297X1+ 0.231 F = 262. Dengan demikian model regresi linier ganda signifikan. Dengan taraf signifikan = 0.982.05 dan dk = 35 diperoleh rtabel = 0.297x1258.563X3.27x1510.488 (Y − Yˆ ) 2 JKres = i i JKres = 66.sama dengan prestasi belajar matematika pada siswa Kelas VIIIF SMP Negeri 4 Salatiga Semester 1 Tahun Ajaran 2010/2011.105 0.779 + 977.889 + 0. Tabel.

KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis data pada kelas VIIIF maka dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut : 1. Karena Fhitung > Ftabel maka H04 ditolak. berarti terjadi hubungan yang nyata antara motivasi belajar (X1).106 regresi diperoleh Fhitung = 262. Dari daftar distribusi F dengan dk pembilang 3.92.84.sama dengan prestasi belajar matematika (Y) pada siswa Kelas VIIIF SMP Negeri 4 Salatiga Semester 1 Tahun Ajaran 2010/2011. Karena thitung ttabel maka H0 ditolak.297X1+ Dengan demikian model regresi linier ganda Y 0. yang artinya koefisien regresi motivasi belajar (X1) signifikan.889 + 0.0 diperoleh Fhitung = 262.563X3 signifikan. Dengan demikian dapat diperoleh kesimpulan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara motivasi belajar siswa dengan Prestasi belajar matematika pada siswa kelas VIIIF SMP .05 diperoleh Ftabel = 2.27X2+ 0. dk penyebut = 32 dan = 0. ˆ = 17. sikap disiplin (X2) dan sikap ilmiah (X3) secara bersama . Sedangkan analisis dengan Statistical Product and Service Solutions (SPSS) 13. BAB V PENUTUP A.848.

. SARAN Berdasarkan penelitian dan analisis yang telah dilakukan maka guna meningkatkan prestasi belajar matematika siswa ada beberapa hal yang sebaiknya dilakukan. 4. Variabel sikap ilmiah merupakan variabel yang paling berpengaruh terhadap prestasi belajar. Karena thitung ttabel maka H0 ditolak. Dengan demikian dapat diperoleh kesimpulan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara sikap ilmiah dengan prestasi belajar matematika pada siswa kelas VIIIF SMP Negeri 4 Salatiga Semester 1 Bab Bentuk Aljabar Tahun Ajaran 2010/2011.107 Negeri 4 Salatiga Semester 1 Bab Bentuk Aljabar Tahun Ajaran 2010/2011. Dengan demikian dapat diperoleh kesimpulan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara sikap disiplin siswa dengan prestasi belajar matematika pada siswa kelas VIIIF SMP Negeri 4 Salatiga Semester 1 Bab Bentuk Aljabar Tahun Ajaran 2010/2011. Ada pengaruh yang signifikan antara motivasi belajar siswa. sikap disiplin siswa dan sikap ilmiah secara bersama – sama dengan prestasi belajar matematika pada siswa kelas VIIIF SMP Negeri 4 Salatiga Semester 1 Bab Bentuk Aljabar Tahun Ajaran 2010/2011. Meningkatkan motivasi belajar siswa terhadap mata pelajaran matematika sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar matematika siswa. 2. yang artinya koefisien regresi sikap disiplin (X2) signifikan. yaitu : 1. Karena thitung ttabel maka H0 ditolak. 3. 5. B. yang artinya koefisien regresi sikap ilmiah (X3) signifikan.

3. Dalam belajar matematika siswa harus berusaha lebih mengembangkan sikap ilmiah yang dimilikinya sehingga hasil belajar yang diperoleh siswa lebih baik. .108 2. Melengkapi sikap disiplin siswa baik di rumah maupun di sekolah sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar matematika siswa.