You are on page 1of 14

LAPORAN PRAKTIKUM ELEKTROIKA ANALOG

PERCOBAAN X
PENGUKURAN DENGAN CRO

NAMA
NIM
PRODI

: HENDRA OKTAVIANTA
: 12302241015
: PENDIDIKAN FISIKA A

LABORATORIUM ELEKTRONIKA DAN INSTRUMENTASI


JURUSAN PENDIDIKAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

2013

PERCOBAAN 10
PENGARUH PANAS TERHADAP HAMBATAN KAWAT

A. TUJUAN
1. Menunjukkan pengaruh panas terhadap hambatan kawat
2. Menunjukkan besar koefisien suhu () suatu hambatan kawat

B. ALAT DAN BAHAN


1. Bak air
2. Hambatan kawat listrik
3. Sumber listrik AC
4. Air
5. Multimeter (ohmeter)
6. Pemanas listrik

C. DASAR TEORI
Hambatan suatu kawat dapat didefinisikan sebagai perbandingan beda potensial di
dalam konduktor dengan arus dalam konduktor tersebut:

Persamaan ini berulang kali digunakan ketika mempelajari rangkaian listrik. Dari
hasil ini, diketahui bahwa hambatan memiliki satuan SI volt per ampere. Satu volt per
ampere didefinisikan sebagai satu ohm ():

Persamaan itu menunjukkan bahwa jika beda potensial di dalam suatu konduktor
sebesar 1 V mengebabkan suatu arus sebesar 1 A, maka hambatan konduktor tersebut
adalah 1. (Raymond A. Serway, 2010: 366).
Hambatan disebut juga resistansi. Resistansi suatu material bergantung pada
panjang, luas penampang lintang, tipe material, dan temperature. Untuk material-material
yang mematuhi hokum Ohm, resistansi tidak bergantung pada arus; yaitu perbandingan
V/I tidka bergantung pada I. material seperti ini, seperti pada kebanyakan logam, disebut

material ohmik. Untuk material ohmik, tegangan jatuh pada suatu segmen sebanding
dengan arus:

; R konstan

Untuk material nonohmik, perbandingan V/I bergantung pada arus, sehingga arus
tidak sebanding dengan beda potensial. (Paul A. Tipler, 1996: 142).
Resistansi kawat penghantar diketahui sebanding dengan panjang kawat (I) dan
berbanding terbalik dengan luas penampang lintang (A):

Dimana konstanta perbandingan disebut resistivitas material penghantar. Satuan


resistivitas adalah ohm meter (.m). (Paul A. Tipler, 1996: 142). Resistivitas merupakan
karakteristik (sifat) dari suatu bahan dan bukan merupakan karakteristik (sifat) dari bahan
contoh khas (particular specimen) dari suatu bahan. Seringkali konduktivitas
(conductivity) () suatu bahan lebih sering dibicarakan daripada resistivitasnya.
Konduktivitas () adalah kebalikan dari resistivitas (), yang dihubungkan oleh:

(Halliday Resnick, 1996: 189)


Dari persamaan sebelumnya, apabila panjang suatu kawat dikalikan dua, maka
hambatannya naik menjadi dua kali lipatnya. Semua bahan ohmik memiliki suatu
karakteristik resistivitas yang bergantung pada sifat dan suhu bahan tersebut. Konduktor
ideal akan memiliki nilai resistivitas nol dan isolator ideal akan memiliki nilai resistivitas
sangat besar. (Raymond A. Serwett, 2010: 367).
Pada suatu selang tertentu, resistivitas suatu konduktor berubah-ubah, hampir
secara linier terhadap suhu berdasarkan persamaan:
[

)]

dimana adalah resistivitas pada suhu T (dalam derajat Celcius),


pada suatu suhu acuan

adalah resistivitas

(biasanya digunakan 200 C), dan adalah koefisien suhu

resistivitas. Dari persamaan di atas, terlihat bahwa koefisien suhu dari resisitivitas dapat
dinyatakan sebagai

dimana

adalah perubahan resistivitas pada selang suhu

Koefisien suhu dari resistivitas untuk berbagai bahan telah diketahui. Satuan
untuk adalah derajat Celcius-1 [(0C)-1]. Oleh karena hambatan sebanding dengan
resistivitas, maka variasi dari hambatan dapat dituliskan sebagai:
[
atau

)]

Penggunaan rumus ini memungkinkan untuk membuat pengukuran suhu yang tepat.
(Raymond A. Serwett, 2010: 366-367).

D. DATA PENGAMATAN
1. Kawat 1, T0 = 29 C, R0 = 53,5 x 200 = 10.700
No

T (0C)

Rt (x200)

34

11100

39

9500

44

11060

49

11080

54

13340

2. Kawat 2, T0 = 29 C, R0 = 72,6 x 200 = 14520


No

T (0C)

Rt (x200)

34

14160

39

14560

44

14640

49

14580

54

14580

E. ANALISIS DATA
T = nst = . 10 C = 0,50 C
R = nst = . 0,1 = 0,05
Ro kawat I = 10700
Ro kawat II = 14520
To kawat I = 290 C
To kawat II = 290 C
1. Perhitungan dengan rumus:

|
|
|

|| (
)

(
(

)|
)

)
(

||

|| (

)|

||

|| (

)|

||

||

a. Kawat I
1) Rt = 11100 , Tt = 340 C

(
0

|
|

C-1

)
(

||

)
0

||

|
|(

|(

|(

C-1

) 0C-1

2) Rt = 9500 , Tt = 390 C

)
0

|
|

-1

)
(

|
)

||

||

|
|(

C-1
) 0C-1

3) Rt = 11060 , Tt = 440 C

)
0

C-1

)
(

||

)
0

||

|
|(

|(

|(

C-1

)0C-1

4) Rt = 11080 , Tt = 490 C

)
0

C-1

)
(

||

)
0

||

|
|(

C-1

)0C-1

5) Rt = 13340 , Tt = 540 C

)
0

C-1

)
(

||

||

)
0

|(

|(

C-1

)0C-1

Perhitungan rata-rata berbobot:


No

0,0075

0,0007

2040816,327

15306,12

-0,0112

0,0006

2777777,778

-31111,11

0,00224

0,00007

204081632,7

448979,59

0,00178

0,00004

625000000

1125000

0,0098

0,0002

25000000

245000

858900226,8

1803174,6

C-1

C-1

)0C-1

b. Kawat II
1) Rt = 14160 , Tt = 340 C

)
0

C-1

)
(

||

)
0

||

|
|(

|(

C-1

) 0C-1

2) Rt = 14560 , Tt = 390 C

)
0

C-1

)
(

||

)
0

||

|
|(

|(

|(

C-1

) 0C-1

3) Rt = 14640 , Tt = 440 C

)
0

|
|

C-1

)
(

||

)
0

||

|
|(

C-1

(
4) Rt = 14580 , Tt = 490 C

)0C-1

(
0

C-1

)
(

||

)
0

||

|
|(

|(

|(

C-1

)0C-1

5) Rt = 14580 , Tt = 540 C

)
0

|
|

C-1
)

||

)
0

||

|
|(

C-1

)0C-1

Perhitungan rata-rata berbobot:


No

-0,005

0,0005

0,0004x1010

-20000

0,0003

0,000007

2,04x1010

6120000

0,0006

0,00008

0,02x1010

120000

0,0002

0,000005

0,0002

0,000003

10

4x10

8000000

11,11x1010

22220000

17,1704x1010

36440000

C-1

C-1

)0C-1

2. Analisis grafik
Grafik hubungan suhu terhadap hambatan kawat
a. Kawat 1
16000
14000

y = 84x + 7644

Hambatan (Ohm)

12000
10000
8000
6000
4000
2000
0
0

10

20

30
Suhu (C)

40

50

60

Berdasarkan grafik, m = 84 dan Ro = 7644 , maka persamaan grafiknya,

Perhitungan :

C-1

b. Kawat 2
14700

y = 9.3714x + 14118

Hambatan (Ohm)

14600
14500
14400
14300
14200
14100
0

10

20

30

40

50

60

Suhu (C)

Berdasarkan grafik, m = 9,371 dan Ro = 14118 , maka persamaan grafiknya,

Perhitungan :

C-1

F. PEMBAHASAN
Pada percobaan kali ini, praktikan melakukan pengukuran hambatan kawat yang
dililitkan pada kaca kemudian dimasukkan ke dalam air yang suhunya memanas. Setelah
diketahui nilai hambatan kawat, kemudian praktikan melakukan perhitungan koefisien
suhu hambatan kawat, lalu dibandingkan antara hasil perhitungan secara teori dengan
perhitungan secara grafik. Pada percobaan ini menggunakan dua hambatan yang berbeda
kemudian dilakukan pengukuran sebanyak lima kali dengan selisih suhu lima derajat.
Untuk hambatan pertama didapatkan nilai hambatan yang berbeda jauh satu dengan yang
lainnya, karena saat diukur perubahan nilainya jauh-jauh, hal ini disebabkan karena kaca
yang digunakan untuk melilitkan kawat pecah, sehingga ada kawat yang tidak masuk
kedalam air, jadi penyerapan panas oleh kawat terdapat kendala dan tidak efektif,
sehingga pembacaan nilai hambatannya juga sulit dilakukan. Pada hambatan pertama
diperoleh nilai koefisien suhu hambatan kawat secara teori sebesar (
)0C-1 dan menurut hasil analisis grafik sebesar

C-1. Untuk hambatan yang

kedua didapatkan nilai hambatan yang berbeda namun tidak terpaut jauh antara satu
dengan yang lainnya. Pada hambatan yang kedua ini diperoleh nilai koefisian hambatan
kawat secara teori sebesar (
sebesar

)0C-1 dan menurut hasil analisis grafik

C-1. Adanya ketidakstabilan nilai setiap hambatan dan perbedaan nilai

koefisien hambatan kawat secara teori dan secara analisis grafik dapat disebabkan karena
faktor-faktor sebagai berikut:
1. Pecahnya kaca untuk melilitkan kawat pada hambatan 1. Kaca termasuk isolator, dan
kawat termasuk konduktor. Jadi fungsi kawat dililitkan pada kaca secara teratur

adalah agar panas yang terdapat pada air dapat diserap oleh kawat sehingga bisa
dihitung koefisien hambatannya. Namun kaca pada hambatan 1 pecah, sehingga
susunan kawat menjadi tidak teratur dan juga ada kawat yang tidak tercelup ke dalam
air, hal ini dapat mempengaruhi pengambilan data hambatan yang digunakan untuk
menghitung nilai koefisien hambatan kawat
2. Kalibrasi alat yang digunakan. Pada ohmeter yang digunakan, saat dikalibrasi tidak
menunjukkan angka 0,0 namun 0,7. Sehingga dapat mempengaruhi hasil pengukuran
data
3. Pembacaan hasil yang tidak tepat pada keadaan suhu tertentu. Dimungkinkan hasil
yang terbaca dilakukan sebelum mencapai atau bahkan melampaui besar suhu yang
diinginkan, sehingga dapat mempengaruhi hasil pengukuran
4. Adanya sumber ralat yang berasal dari alat ukur karena semua alat ukur mempunyai
keterbatasan skala terkecil, dalam hal ini thermometer Celcius dan multimeter.
5. Metode pembulatan yang digunakan. Hal ini tentu sedikit berpengaruh juga pada
hasil akhir perhitungan.

G. JAWABAN PERTANYAAN
(Lihat pada analisis data)

H. KESIMPULAN
1. Kawat merupakan suatu konduktor, sehingga apabila diberi panas terus menerus
maka suhu pada kawat juga meningkat. Adanya pemberian panas pada kawat
menyebabkan besar hambatan kawat meningkat. Sehingga dapat dikatakan bahwa
kenaikan suhu sebanding dengan kenaikan besar hambatan kawat.
Koefisien suhu () untuk kawat I :
hasil perhitungan

hasil grafik sebesar :

)0C-1

C-1

Koefisien suhu () untuk kawat II:


hasil perhitungan

hasil grafik sebesar :

(
0

)0C-1
C-1

I. DAFTAR PUSTAKA
Halliday, David. 1996. Fisika Edisi Ketiga Jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Serway, Raymond A. 2010. Fisika untuk Sains dan Teknik. Jakarta: Salemba Teknika.

Tim Fisika dasar. 2013. Petunjuk Praktikum Pengantar Listrik Magnet dan Optika.
Yogyakarta: FMIPA UNY.
Tipler, Paul A. 1996. Fisika untuk Sains dan Teknik. Jakarta: Erlangga.