You are on page 1of 20

PENGEMBANGAN PETERNAKAN INTEGRATIF

BERBASIS KEWILAYAHAN DI PROVINSI BENGKULU

Oleh: Suharyanto
(Staf pengajar Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu)

PROGRAM STUDI PRODUKSI TERNAK
JURUSAN PETERNAKAN FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2007

KATA PENGANTAR

Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa peranan subsektor peternakan terhadap
peningkatan kualitas sumberdaya manusia adalah begitu besar, yaitu melalui penyediaan
sumber protein hewani.

Besarnya peranan ini mendorong kita untuk semakin

memberdayakan subsektor ini di masa-masa mendatang dengan memperhatikan potensi
daerah baik ditinjau dari sumberdaya alam, sumberdaya manusia, kondisi sosial budaya
dan lain sebagainya.
Sejalan dengan hal tersebut maka Provinsi Bengkulu juga memiliki potensi yang
spesifik untuk melakukan pemberdayaan subsektor peternakan. Salah satunya adalah
dengan meninjau karakteristik usahatani dan kondisi kewilayahannya. Oleh karena itu,
pengembangan peternakan integratif berbasis kewilayahan menjadi topik dalam paper ini.
Pada kesempatan ini, saya menyampaikan terimakasih kepada semua pihak baik
langsung maupun tidak telah berperan membantu kelancaran saya untuk menyelesaikan
paper ini. Diharapkan dengan adanya paper ini dapat memberikan gambaran tentang
peternakan di Provinsi Bengkulu.
Akhirnya, saya menyadari bahwa mungkin saja terdapat kekeliruan dan
kekurangan pada paper ini, untuk itu mohon kiranya kritik dan saran yang konstruktif
demi perbaikan saya di masa-masa mendatang.

Bogor,

Oktober 2007

Penyusun,

Suharyanto

ii

..............1........... ii DAFTAR ISI ........................................... 7 3..............................DAFTAR ISI KATA PENGANTAR .................................................. 3 2................................................................................................... 3 2.............. 7 3............. Pengembangan Peternakan ..... Klimatologi dan Topografi .3.......................................................................................................................................... Sistem Usahatani dan Kawasannya . 4 2............... 12 IV.................................. v II..................... iv DAFTAR GAMBAR ...................................... PROFIL DAN POTENSI PROVINSI BENGKULU...................5......................................... Letak.......................................1............................ KESIMPULAN... Demografi .........................................2.................. 7 3................................. Klasifikasi Sistem Usahatani Ternak ......................... KONDISI PETERNAKAN DAN PENGEMBANGANNYA .......... 10 3... 15 iii .................. Petani Ternak dan Populasi Ternak ... 5 III.........................................................................2...................................................................................................................................3..................................................................................................................... 9 3............................................................................................................................... iii DAFTAR TABEL .....................4....................... Tataguna Lahan dan Perkebunan .......................................... Kebijakan dan Kelembagaan .................................................................. 14 DAFTAR PUSTAKA ...

........ Populasi ternak di Provinsi Bengkulu .................................................... 9 iv ..................................... 8 Tabel 4......... Luas Perkebunan Rakyat di Provinsi Bengkulu (000 ha) .................. Populasi ternak di Provinsi Bengkulu Berdasarkan Kabupaten/Kota9 pada tahaun 2004 (000 ekor)................... 5 Tabel 2......................................DAFTAR TABEL Tabel 1...... Tataguna lahan di Provinsi Bengkulu .......... 6 Tabel 3...........................................

...... 3 9 v ...............................DAFTAR GAMBAR Gambar 1....... Peta Provinsi Bengkulu ...................................

peningkatan kesejahteraan masyarakat akan diikuti dengan peningkatan konsumsi produk-produk peternakan. al. Selain itu. yaitu dalam bentuk kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) ataupun pajak untuk negara. Oleh karenanya tidak mengherankan bila produk-produk peternakan disebut sebagai bahan ”pembangun” dalam kehidupan ini.37 dan 1.I. Kedua. Dan yang keempat. pada kenyataannya konsumsi produk peternakan (terutama daging) di Indonesia cenderung meningkat.25. maka Provinsi Bengkulu dapat dijadikan sebagai kawasan peternakan. sub sektor ini diharapkan memperbaiki/meningkatkan konsumsi dan distribusi gizi (baca: protein) hewani.36 juta ekor (Deptan. yang dengan demikian maka turut menggerakan perekonomian pada sub sektor peternakan. Pembangunan peternakan pada dasarnya urgen untuk dilakukan karena sub sektor ini memiliki peranan yang strategis bagi bangsa Indonesia. Konsumsi daging tahun 2000 hingga 2004 masing-masing berturut-turut adalah 1. 1. (1999) dewasa ini secara global sedang terjadi peningkatan konsumsi produk-produk peternakan yang justru terjadi di negara-negara sedang berkembang dimana peningkatan ini tidak diimbangi dengan produksi yang memadai sehingga impor merupakan salah satu cara memenuhi kebutuhan tersebut. Peranan ini dapat dilihat dari fungsi produk peternakan sebagai penyedia protein hewani yang penting bagi pertumbuhan dan perkembangan tubuh manusia. gilirannya dapat Ketiga. secara hipotetis. (1999) bahwa di negara-negara berkembangan terdapat kecenderungan peningkatan konsumsi produk peternakan. 1.2. Latar Belakang Disadari atau tidak. Seiring dengan adanya otonomi daerah maka pembangunan di masing-masing daerah harus didasarkan pada kondisi riil dan spesifik daerahnya masing-masing. Berdasarkan pada Ditjennak (2002) tentang kawasan peternakan. Pertama. Hal ini selaras juga dengan hasil pandangan Delgado et al. Peranan strategis ini setidaknya dapat dilihat pada 4 (empat) hal. yaitu sebagai kawasan yang 1 . 2005). Dan. 1.29. untuk meningkatkan pendapatan petani/peternak yang pada meningkatkan kesejahteraan keluarga petani dan masyarakat. sub sektor peternakan memiliki peranan yang strategis dalam kehidupan perekonomian dan pembangunan sumberdaya manusia Indonesia. bahwa menurut Delgado et.1. PENDAHULUAN 1. sebagai efek pengganda (multiplier effect) dari peningkatan nilai dan volume serta nilai tambah.

hortikultura atau perikanan) dan atau secara terpadu sebagai komponen ekosistem tertentu (seperti hutan lindung dan suaka alam). agar pembangunan dapat lebih optimal keberhasilannya maka perlu adanya suatu pendekatan yang tepat. perkebunan. 2 .secara khusus diperuntukkan bagi kegiatan peternakan atau secara terpadu sebagai komponen usahatani lainnya (misalnya yang berbasis tanaman pangan. Salah satu cara untuk mendapatkan pendekatan yang tepat adalah melalui penggalian potensi dan identifikasi klas (klasifikasi) sistem usahatani peternakan di Bengkulu yang selanjutnya akan melahirkan strategi dalam pengembangannya. Tujuan Makalah ini bertujuan untuk 1) Menganalisis potensi peternakan di Provinsi Bengkulu 2) Melakukan klasifikasi sistem usahatani ternak di Provinsi Bengkulu 3) Menemukenali strategi pengembangan peternakan di Provinsi Bengkulu.2. Namun demikan. 1.

Klimatologi dan Topografi Provinsi Bengkulu merupakan wilayah yang terletak di sisi barat bagian selatan pulau Sumatera yang membujur sejajar dengan Bukit Barisan. Bengkulu terletak antara 101001’ sampai 103041’ BT dan 2016’ sampai 3031’ LS. Hasil pengamatan klimatologi menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2004 di Kota Bengkulu memiliki suhu udara ratarata harian adalah berkisar antara 220C – 320C dengan kelembaban relatif rata-rata 3 . Gambar 1. dengan Provinsi Lampung dan Samudera Hindia di sebelah selatan. provinsi ini berbatasan langsung dengan Provinsi Sumatera Barat di sebelah utara.II.70 km2. Secara geografis dan administratif. Peta Provinsi Bengkulu Data klimatologi yang tersedianya hanya Kota Bengkulu sehingga belum menggambarkan Provinsi Bengkulu seluruhnya. Provinsi ini memiliki garis pantai sepanjang 567 km dengan luas wilayah 19.788.1. PROFIL DAN POTENSI PROVINSI BENGKULU 2. dengan Samudera Hindia di sebelah barat dan dengan Srovinsi Sumatera Selatan dan Jambi di sebelah timurnya. Secara astronomis. Letak.

jasa 11. Rasio jenis kelamin adalah 50.10%). topografi Bengkulu dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga) jalur (BPS.01% perempuan (BPS.31 4 .sebesar 85%.99% laki-laki dan 49. Sebagian daerah ini merupakan daerah vulkanik.2. Kawasan ini memiliki luas 239. 2004). Dengan demikian maka tingkat partisipasi angkatan kerjanya (TPAK) sebesar 73. Pada tahun 2004. konstruksi/bangunan 2.38% dan Kota Bengkulu 16.5%) c) Jalur ketiga adalah daerah dengan ketinggian 1000 – 2000 m dpl terletak di sebelah timur lagi dan merupakan punggung Bukit barisan. Daerah terletak di sebelah timur dari jalur pertama. Penduduk Bengkulu tersebar di beberapa jenis pekerjaan.61%.924 Ha (12.323 ha (31. diantaranya adalah sektor pertanian sebesar 70.045. Berdasarkan pada ketinggian di atas permukaan air laut (dpl). Namun demikian penyebaran penduduk di Provinsi Bengkulu relatif tidak merata dimana di Kabupaten Rejang Lebong persentasenya sebesar 28.6%) dan daerah dengan ketinggian 500 – 1000 m dpl dengan luas 405. Hal ini terlihat dari data dimana sepanjang tahun 2004 terdapat 18 hari hujan setiap bulannya dan curah hujan rata-rata per bulannya 268 mm (BPS.348 jiwa dan jumlah tenaga kerjanya sebanyak 1. 2004).551 jiwa dan tingkat kepadatan penduduk sebesar 78 orang per ha. merupakan lereng Bukit Barisan dan termasuk dalam klasifikasi bukit range. yaitu: a) Jalur pertaman. Kabupaten Bengkulu Selatan 25. Demografi Penduduk Provinsi Bengkulu adalah sebesar 1. Data ini menunjukkan bahwa pada umumnya penduduk Bengkulu bekerja di sektor pertanian dimana ternak menjadi bagian dari sistem usahataninya. 2004).49% dan sektor lainnya sebesar di bawah 2%. yaitu daerah dengan ketinggian 100 – 1000 m dpl.46%.541. perdagangan 10. Provinsi Bengkulu cenderung tidak menunjukkan musim kemarau yang signifikan.80%).20%.688 ha (20.20%. Kawasan ini termasuk klasifikasi low land. jumlah angkatan kerja di Provinsi Bengkulu sebanyak 768. b) Jalur kedua. 2.91%.96%. yaitu daerah dengan ketinggian 0 – 100 m dpl dan terdapat di sepanjang pantai dengan luas 708. Kawasan ini terbagi dalam dua kelompok yaitu daerah dengan ketinggian 100 – 500 m dpl dengan luas 625. sektor industri 2. Kabupaten Bengkulu Utara sebesar 29.46 persen dan ini mengalami penurunan bila dibandingkan dengan tahun 2000 yang mana TPAK-nya sebesar 75.4%.435 Ha (35.872 jiwa.

hutan lindung. huma Lahan yang sementara tidak diusahakan Pekarangan.525 235 % 31.13 0. untuk kawasan low land banyak berupa rawa. Kawasan perbukitan besar (500 – 1000 m dpl) merupakan kawasan yang banyak dijumpai budidaya hortikultura. Oleh karena itu mengetahui tataguna lahan suatu wilayah menjadi penting karena pengembangan suatu sistem usahatani sangat terkait dengan lahan dan penggunaan lahan adalah bermacam-macam yang satu sama lain bisa saling mempengaruhi.635 11. empang. hutan rakyat Tegal.404 203. Sedangkan kawasan pegunungan (1000 – 2000 m dpl) banyak dijumpai perkebunan kopi rakyat dan hutan. 2002 Ha 231. kebun. 2.64 2.02 20.723 1. kau-kayuan. Berdasarkan data BPS (2002) bahwa penggunaan lahan di Provinsi Bengkulu yang didasarkan pada Survei Pertanian tahun 2000 adalah sebagai berikut (Tabel 1). Tabel 1. 5 .23 19.210 209.57 7. Tataguna Lahan dan Perkebunan Lahan merupakan faktor produksi yang sangat penting dalam usahatani. Sehingga masih perlu upaya peningkatan TPAK lebih lanjut.48 1. Tataguna lahan di Provinsi Bengkulu Luas Peruntukan Lahan Perkebunan swasta dan negara Lahan untuk tanaman. Angka ini mengindikasikan bahwa hampir 30 persen angkatan kerja di Bengkulu belum bekerja. swasta maupun pemerintah.persen (BPS.24 0. taman nasional dan kawasan penyangga hutan.3.862 79. karet dan kakao baik milik rakyat. 2004). kopi rakyat dan perkebunan teh serta budidaya perikanan darat. termasuk peternakan. Di kawasan ini juga terdapat hutan konservasi. sawah dan lahan kering.02 Bila dilihat berdasarkan topografi di atas. tebat Tambak Sumber: BPS.67 17. lahan untuk bangunan dan halaman Rawa-rawa Padang rumput Kolam. Terdapat juga tambak dan kolam. Hal ini karena lahan merupakan basis usaha dan bagi usahatani ternak dapat merupakan sumber hijauan makanan ternak. perkebunan kelapa sawit.105 25.628 181. ladang.

Kaur.02 0.73 2. Seluma. yang mana semua kabupaten ini terletak di wilayah dengan topografi kurang dari 500 m dpl.62 0.07 3.24 0.01 Bkl Mko Ut 22.17 23.74 34.62 14.76 0.43 2. Bengkulu Utara dan Mukomuko. Ketiga kabupaten ini terletak di kawasan topografi di atas 500 m dpl. Rejang Lebong dan Lebong. Di Bengkulu juga terdapat 10 perusahaan swasta yang kebanyakan bergerak di bidang perkebunan karet. Lbg = Lebong. Secara rinci.20 1.02 Lbg 7. Sel = Selatan.12 5.76 0.69 24.Berkenaan dengan penggunaan lahan maka mengetahui luas perkebunan menjadi penting.15 20.78 1.01 0.38 1.15 Kota Bkl 0. Selain itu.97 5. Luas Perkebunan Rakyat di Provinsi Bengkulu (000 ha) Jenis tanaman Kopi Karet Kelapa Kelapa Sawit Bkl Sel 4. Kelapa dan Kelapa Sawit.94 0.07 Kabupaten/Kota Kepahiang Rj Lbg 24. = Utara. Tabel 2.86 Sumber: BPS.08 0. Mko = Mukomuko Bila dilihat berdasarkan wilayah.23 Seluma Kaur 25.37 11. 2004 Keterangan: Bkl Ut = Bengkulu. kelapa sawit dan kakao yang semuanya tersebar di kabupaten Bengkulu Utara.32 20. Sedangkan untuk jenis tanaman Karet.95 1.13 0. 6 . Hanya satu perkebunan di Kabupaten Kepahiang. Rj = Rejang. luas perkebunan rakyat untuk beberapa jenis komoditas unggulan pada tahun 2004 adalah sebagai berikut (Tabel 2).25 13. maka untuk jenis tanaman kopi lebih banyak terdapat di Kabupaten Kepahiang. yaitu perkebunan teh. Muko-muko.04 4. Hal ini karena kecenderungan lahan yang ada di Bengkulu dikonversi menjadi perkebunan. terutama perkebunan rakyat. Seluma.01 3.19 0.64 2. bengkulu Selatan dan Kaur. lebih banyak ditanam oleh rakyat di daerah kabupaten Bengkulu Selatan.

sementara untuk tingkat Kabupaten. dan c) pemberdayaan masyarakat peternakan (Disnak & Keswan. lembaga penyelenggaranya adalah Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan. Lembaga yang menyelenggarakan fungsi peternakan dan kesehatan hewan untuk tingkat Provinsi adalah Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan. Kota Bengkulu. Berdasarkan hal di atas program tersebut maka terlihat secara tersirat tentang perlunya pendekatan pada masyarakat (peternak) sebagai subyek pembangunan.1. 3. 2005). Berdasarkan hal tersebut maka kebijakan pembangunannya adalah a) untuk meningkatkan produksi dan produktivitas peternakan. perikanan dan perkebunan.III.2. terdapat 649 KK yang tercatat menjadi anggota kelompok tani ternak (Disnak & Keswan. Mukomuko. Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Bengkulu melaksanakan program berupa a) pengembangan agribisnis peternakan. dan b) untuk pengamanan ternak dan kesehatan masyarakat veteriner. 2003). Kebijakan dan Kelembagaan Pembangunan peternakan di Provinsi Bengkulu mengacu pada UU no 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Nasional. fungsi ini disatukan dengan fungsi-fungsi lain seperti pertanian. Petani Ternak dan Populasi Ternak Petani ternak secara khusus dapat dikatakan sedikit. Seluma. Dari sebanyak itu.91% penduduk Bengkulu yang bekerja pada sektor pertanian dimana didalamnya termasuk peternakan. Khusus tingkat Kota Bengkulu. Dalam keadaan seperti ini maka pendekatan pembangunan yang tepat sangat penting dilakukan dan hal ini perlu melakukan klasifikasi tentang sistem usahatani yang ada di masyarakat. Hingga tahun 2001 terdapat 135 tanaga penyuluh juga terdapat 649 KK anggota kelompok tani ternak (Disnak & Keswan. KONDISI PETERNAKAN DAN PENGEMBANGANNYA 3. Di Provinsi Bengkulu terdapat 6 pos kesehatan hewan yang terdapat di Kabupaten Bengkulu Utara. 2003). Perlu diketahui juga bahwa meskipun menjadi anggota kelompok tani 7 . Bengkulu Selatan dan Rejang Lebong. Namun bila dilihat berdasarkan jumlah petani secara umum maka terdapat 70. Untuk melaksanakan kebijakan tersebut. b) peningkatan ketahanan pangan.

ayam ras pedaging.660.65 1.050 232. sapi perah dan sapi potong.811. Selama lima tahun terakhir.329 2.823 75 0 76.91 35.715.947 256. masing-masing jenis ternak memiliki kecenderungan perkembangan populasi yang berbeda-beda. 8 .589 63.1 1.996.65 103.06 1. rata-rata masih diusahakan sebagai sambilan dan ternak lebih berfungsi sebagai tabungan.08 29.33 1.39 1.904.596 69 157 77.10 1.671 43.285 1.91 2.839 2003 2. Masyarakat yang pekerjaan utamanya sebagai peternak biasanya adalah peternak ayam ras baik pedaging maupun petelur yang skala usahanya lebih dari 2000 ekor. Kepahiang dan Lebong merupakan kabupaten yang terletak di kawasan dengan topografi di atas 500 m dpl.79 105. itik.27 166.65 108.261 225. domba.91 104.910 74 62 76. sesunggunya sebagian dari mereka tidak merupakan peternak secara khusus. kerbau.686 Tahun 2002 3.053 169.910 43.619 48.325.919.356 46.469 75 0 79.95 2.94 35. 2004 2000 2.707 6.9 57.453. Sementara kabupaten-kabupaten lainnya terletak di kawasan dengan topografi kurang dari 500 m dpl.202 6. kambing. Sementara itu untuk jenis ternak yang lain.166.1 38.809.04 1.256 169. babi. ayam ras petelur. Tabel 3. Jenis ternak konvensional yang dibudidayakan di Provinsi Bengkulu adalah ayam buras.ternak.371 Satuan 000 ekor 000 ekor 000 ekor ekor Ekor 000 ekor Ekor Ekor Ekor Ekor ekor Distribusi populasi ternak juga dapat dilihat berdasarkan topografi dimana untuk Kabupaten Rejang Lebong.976 69 214 80. Populasi ternak di Provinsi Bengkulu Ternak Ayam buras Ayam ras pedaging Ayam ras petelur Babi Domba Itik Kambing Kerbau Kuda Sapi Perah Sapi Potong Sumber:BPS. Tabel 2 berikut menunjukkan perkembangan populasi ternak di Provinsi Bengkulu lima tahun terakhir.180 2001 3. Bila dilihat berdasarkan topografi maka ternak ruminansia besar lebih banyak didapati di kawasan dengan topografi kurang dari 500 m dpl.25 2.224 2.953 2004 2.

46 452. Ternak jenis unggas lainnya.48 238.70 0.04 0.36 0.05 263.48 Seluma Kaur 375.6 7. Populasi ternak di Provinsi Bengkulu Berdasarkan Kabupaten/Kota pada tahaun 2004 (000 ekor) Jenis tanaman Ayam buras Ayam ras pedaging Ayam ras petelur Babi Domba Itik Kambing Kerbau Kuda Sapi Kabupaten/Kota Kepahiang Rj Lbg Lbg Bkl Sel 82. Lbg = Lebong. desa.53 69 2.30 0.11 0.27 6.14 50.79 0.71 12.51 10.05 0.85 0.49 33. Jenis peternakan ini terdapat di daerah yang dekat dengan perkotaan seperti di dalam dan di sekitar Kota Bengkulu.3.70 Bkl Ut Mko Kota Bkl 212.94 12. hampir di semua kawasan terdapat 9 .37 0.96 6. yaitu ayam buras dan itik.40 12.87 0.52 0.40 8.21 2. Sistem Usahatani dan Kawasannya Kebanyakan.91 27. Kota Argamakmur (Bengkulu Utara).21 13.53 0.21 17.68 257. Hanya sedikit yang melakukan usaha secara semi intensif dengan skala usaha antara 50 – 150 ekor.1 0. dataran rendah.32 7.54 192.11 415.241.00 16.53 5. merupakan ternak piaraan yang dipelihara secara sambilan dan merupakan usaha back yard dan biasanya dengan skala usaha antara 5 – 20 ekor per KK.95 Sumber: BPS.47 8. Lampung dan Jakarta.Tabel 4.20 5. Rj = Rejang.03 2. Ternak babi diperlihara secara semi intensif dan terbatas untuk konsumen tertentu.293 3.20 1.04 28.69 21. 2004 Keterangan: Bkl Ut = Bengkulu. Dari ketiga kota tersebut hanya Kota Curup yang berada pada ketinggan antara 100 – 1000 m dpl dan beriklim dingin dan hujan. perbukitan dan pegunungan.22 586.08 10.04 13. sistem usahatani ternak yang ada di Provinsi Bengkulu bersifat ekstensif dan semi intensif.64 0.39 6.06 24.67 38.253 17.85 3.50 18.22 26.84 16.94 70.50 0. Sel = Selatan.3 15.17 1.50 0.50 9. = Utara.87 11.64 1. Sumber pakan ternak ayam ras ini didatangkan dari Palembang.29 3.05 4. Hanya pada usaha ternak ayam ras petelur dan pedaging dengan kapasitas di atas 2000 ekor yang dilakukan secara intensif.12 0. Meskipun dalam jumlah yang kecil.66 6. Sistem usaha dengan jenis dan komoditas ini terdapat di hampir semua wilayah di Provinsi Bengkulu baik di kota (kecuali kota Bengkulu).02 0.41 21. Curup (Rejang Lebong) dan Manna (Bengkulu Selatan). Mko = Mukomuko 3.

jenis ternak. Skala usahanya antara 1 – 10 ekor per KK dan terintegrasi dengan usahatani lainnya. Jenis ternak ruminansia (kambing. Pakan tidak pernah diberikan oleh petani. Sedangkan pada masyarakat asli Bengkulu memelihara secara dilepas pada pagi hari dan dikandangkan pada sore menjelang malam hari. 3.peternakan babi dan terbanyak terdapat di Kabupaten Bengkulu Utara.4. kerbau dan sapi potong) memiliki kesamaan sistem usahatani dan persebarannya. Akan tetapi semakin ke arah yang lebih tinggi dpl. Skala usaha ini antara 3 – 10 ekor dan diusahakan oleh rumah tangga sebagai usaha sampingan. sistem pemeliharaannya dan sifat khusus dari ternak tersebut. Ternak lebih banyak bersifat sebagai tabungan dan beberapa digunakan sebagai tenaga kerja. b) klas unggas “non komersil”. dan d) klas perah. Kota Curup merupakan kawasan perbukitan dan banyak terdapat budidaya hortikultura. Persebaran ternak ruminansia pedaging ini relatif merata hampir di semua kawasan. Ternak sapi perah dipelihara secara semi intensif dan bukan merupakan pekerjaan utama peternaknya. c) klas ruminansia pedaging dan babi. Adapun karakteristik dari masing-masing klas adalah sebagai berikut: 1. Kuda-kuda ini dipergunakan sebagai penarik bendi. Sementara itu ternak sapi perah hanya terdapat di Kota Curup (Ibukota Kabupaten Rejang Lebong) dan sekitarnya. domba. Ternak kuda hanya terdapat di Kota Bengkulu dengan jumlah yang relatif sangat sedikit. Ternak merumput sendiri di alam bebas. kecenderungannya populasinya mulai jarang terutama kerbau dan sapi serta domba. Jenis pakan yang biasa diberikan adalah rumput dan legum alam dan limbah pertanian dan beberapa petani yang memberikan pakan penguat. Tidak berada di kawasan dengan topografi tertentu dan jenis tanah tertentu 10 . Klasifikasi Sistem Usahatani Ternak Berdasarkan uraian di atas maka secara garis besar sistem usahatani ternak di Provinsi Bengkulu dapat dikelompokkan ke dalam 4 (empat) klas yang didasarkan pada skala usaha. Masyarakat transmigran asal Pulau Jawa dan Bali serta masyarakat yang berdomisili di kawasan perbukitan (untuk ternak kerbau) (500 – 1000 m dpl) memelihara ternak-ternak tersebut secara dikandangkan dan diangon. Sementara itu bila dilihat dari segi cara memelihara maka terdapat 2 macam berdasarkan kultur masyarakat. Pemberian pakannya dengan sistem cut and carry. Pada umumnya sistem usahatani ini merupakan usaha sambilan dan bersifat ekstensif dan semi intensif. Klas Unggas Komersil a. Keempat klas tersebut adalah a) klas ternak unggas komersil.

11 . petani pengusaha. Kerbau dan Babi c. ternak dipelihara di dalam kandang atau digembalakan dengan cara dikendalikan dengan tali yang ditambatkan. Terdapat di hampir semua kawasan topografi dan jenis tanah. kota dan desa b. dan perdesaan b. Sapi. Berdasarkan sistem pemeliharaan terdapat sub klas: a) dilepas. f. Jenis ternak yang dipelihara: Domba. dan pemilik peternakan serta plasma. Lahan yang digunakan adalah bersifat sewa atau hak guna pakai c. Jenis ternaknya adalah ayam ras pedaging dan petelur e.b. Kelompok peternak klas ini adalah. h. yaitu ternak dilepas pada pagi hari dan sore hari dikandangkan. yaitu di sekitar kota sehingga akses terhadap pasar juga bagus. Klas ruminansia pedaging dan babi a. Tidak terdapat kelembagaan petani 3. Sistem pemeliharaannya intensif dengan menerapkan manajemen dan teknologi yang moderen. Kambing. kecuali ternak babi yang sepenuhnya dikandangkan dan pemberian pakan secara cut and carry berupa rumput alam dan sedikit makanan penguat. Sistem pemeliharannya bersifat ekstensif dan sambilan tanpa input manajemen dan teknologi dalam skala rumah tangga dan skala 50 – 150 bersifat semi intensif dengan sedikit input manajemen dan teknologi seperti pemeliharaan tanpa diumbar. itik dan unggas lainnya c. pekerja. Klas Unggas “non komersil” a. ternak diberi keleluasaan mencari pakan secara mandiri dan b) dikandangkan. d. Berada di lokasi dengan sarana dan prasarana transportasi relatif lebih baik. Kelembagaan peternak relatif lebih bagus 2. e. Jenis ternak yang dipelihara ayam buras. Terdapat di hampir semua kawasan topografi dan jenis tanah. terutama yang berskala di atas 2000 ekor. d. Kepemilikan terhadap ternak: milik sendiri f. Peternaknya adalah masyarakat yang relatif sudah berpikiran terbuka (open minded) g. Peternaknya pada umumnya adalah masyarakat kalangan menengah ke bawah baik dari segi sosial ekonomi maupun pendidikan.

4. g. dimana kawasan ini berada pada ketinggian 500 – 1000 m dpl. hasil sampingan perkebunan dijadikan sumber pakan tambahan dan kotoran ternak sebagai pupuk dan sumber energi biogas. seperti kelapa dan kelapa sawit. khususnya ternak dengan sistem dikandangkan. Pola ini sedang mencoba 12 . g. Status kepemilikan: milik sendiri. Status kepemilikan merupakan bantuan bergulir dari pemerintah. Ternak: sapi perah FH c. e. dan bantuan bergulir (pinjaman lunak) dari pemerintah. Berdiri kelembagaan peternak. Klas Perah a. e.d. Karakteristik peternak: kelas menengah ke bawah. b. Sistem pemeliharannya bersifat ekstensif dan sedikit input manajemen dan teknologi.5. Kelembagaan peternak yang telah ada biasanya terdapat pada subklas sistem pemeliharaan dikandangkan. Pengembangan peternakan untuk kawasan yang berada antara 0 – 500 m dpl dapat dilakukan dengan sistem integrasi dengan perkebunan rakyat yang ada. Pakan: rumput alam dan budidaya ditambah konsentrat. 3. Hanya terdapat di Kabupaten Rejang Lebong. d. f. Pada pola integrasi ini. Peternak klas ini merupakan petani kecil f. ternak berfungsi sebagai tenaga kerja. Praktik ini telah diterapkan oleh PT Agricinal baik untuk perkebunan inti maupun plasma. Hal ini dapat dilakukan dengan introduksi ternak ruminansia seperti sapi dan kambing. penggaduh. Sistem pemeliharaan ini terkait dengan kultur masyarakat di mana cara pemeliharaan dilepas didominasi masyarakat asli Bengkulu dan sistem dikandangkan dilakukan oleh warga asal Jawa dan Bali. Pemanfaatan lahan perkebunan untuk peternakan akan meningkatkan produktivitas dan pendapatan usahatani secara keseluruhan. Pengembangan Peternakan Berdasarkan paparan di atas maka pengembangan peternakan di Provinsi Bengkulu dapat didasarkan pada kewilayahan berbasis topografi. khususnya di sekitar Kota Curup. Usahatani ini bersifat integratif dengan sistem usahatani umumnya. Sistem pemeliharaan bersifat semi intensif dalam skala rumah tangga dan dipelihara di atas lahan sendiri. h.

sistem pemeliharaan lebih banyak dengan cara dikandangkan mengingat terbatasnya lahan untuk umbaran. Kawasan dengan topografi di atas 500 m dpl ini juga dapat dikembangkan integrasi ternak dengan tanaman palawija dan hortikultura. kecuali perkebunan kopi. terutama ayam ras (petelur dan pedaging) kecenderungannya terpusat di kawasan yang dekat dengan konsumen (perkotaan).47% untuk Kabupaten Rejang Lebong. Pengembangan ternak kambing juga sesuai dengan kondisi tingkah laku ternak dengan alam. Hasil penelitian Murdianti (2003) bahwa peternakan kerbau memberi kontribusi pada total pendapatan usaha tani sebesar 49. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa untuk kawasan dengan topografi kurang dari 500 m dpl (Kabupaten Bengkulu Utara dan Bengkulu Selatan) jauh memberikan keuntungan. Oleh karena itu pengambangannya tidak didasarkan pada kawasan topografi. Hasil samping dan ikutan dari produksi tanaman ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak. Secara kuantitatif. jumlah ternak kerbau di kawasan dengan topografi ini jauh lebih banyak daripada di kawasan dengan topografi yang lebih dari 500 m dpl.21% untuk Kabupaten Bengkulu Utara. 56. Kawasan ini merupakan kawasan yang banyak memproduksi sayuran dan palawija. untuk kawasan dengan topografi di atas 500 m dpl dapat dikembangkan ternak kambing yang diintegrasikan dengan perkebunan kopi rakyat. Pemanfaatan lahan rawa-rawa. Ternak kambing secara alamiah lebih menyukai daerah yang bertebing dan ini dapat dijumpai di kawasan dengan topografi di atas 500 m dpl.menerapkan konsep organic farming LEISA (Low External Input Sustainability Agriculture). Pengembangan ternak unggas. Sementara itu.32% untuk Kabupaten Bengkulu Selatan dan hanya 21. dapat diintroduksi untuk pengembangan peternakan kerbau. tetapi lebih didasarkan pada pertimbangan konsumen dan aksesibilitas terhadap industri hulu. Sebagaimana diketahui bahwa untuk kawasan ini terdapat perkebunan kopi rakyat lebih banyak daripada kawasan lainnya. Pada daerah ini. sebagaimana banyak terdapat di kawasan dengan topografi 0 – 500 m dpl. 13 .

Pada umumnya sistem pemeliharaannya masih tradisional dan semi intensif. c) klas ruminansia pedaging dan babi. Didasarkan pada skala usaha. dan d) klas perah. KESIMPULAN Berdasarkan kajian di atas maka dapat disimpulkan bahwa: 1. sistem pemeliharaannya dan sifat khusus dari ternak tersebut terdapat empat klas usaha peternakan: a) klas ternak unggas komersil. ketersediaan lahan dan sistem usahatani lainnya.IV. 14 . Untuk kawasan ini dapat juga dikembangkan integrasi dengan tanaman palawija dan hortikultura namun dengan sistem pemeliharaan dikandangkan. b) klas unggas “non komersil”. 3. Provinsi Bengkulu memiliki potensi untuk pengembangan peternakan dengan didasarkan pada topografi. Untuk awasan topografi di atas 500 m dpl. Sebagian petani memelihara ternak ruminansia dengan cara diumbar. 2. dapat diterapkan integrasi kambing dengan perkebunan kopi. jenis ternak. Strategi yang dapat diterapkan pada pengembangan peternakan di Provinsi Bengkulu adalah dengan cara sistem integrasi dengan perkebunan sawit dan kelapa di kawasan dengan topografi kurang dari 500 m dpl dengan jenis ternak kambing dan sapi serta memanfaatkan rawa-rawa untuk ternak kerbau sistem pemeliharaannya adalah diumbar/dilepas.

Jakarta: BPS [BPS] Badan Pusat Statistik. Potensi dan Prospek Pengembangan Ternak Kerbau di Provinsi Bengkulu. Bengkulu: Disnak & Keswan [Ditjennak] Direktorat Jendral Bina Produksi Peternakan Departemen Pertanian. 2002. Rencana Kerja. Statistik Peternakan 2002. [Disnak & Keswan] Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan provinsi Bengkulu. Steinfeld H. Prospek dan Arah pengembanga Agribisnis Sapi. Pengembangan kawasan Berbasis Peternakan. 1999. Livestock to 2020: The next food revolution. Jakarta: Deptan. Bengkulu: BPS [Deptan] Departemen Pertanian. Bengkulu: Disnak & Keswan. 2005. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Washington – Rome – Nairobi: IFPRI – FAO – ILRI Murdianti D. 2002. 2005. Bogor: Tesis. Rosegrant M.DAFTAR PUSTAKA [BPS] Badan Pusat Statistik. [Disnak & Keswan] Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Bengkulu. Satuan Kerja Perangkat Daerah Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Bengkulu Tahun 2006. Jakarta: Ditjennak. 2004. Ehmi S and Courbois C. Delgado C. IPB. Bengkulu Dalam Angka 2004. 2003. Survey Pertanian: Luas Lahan Menurut Penggunaan di Indonesia. 15 .