You are on page 1of 5

Pendahuluan

Kasus pencemaran lahan di Indonesia akibat limbah minyak mentah dan minyak olahan tidak
sedikit jumlahnya. Zakiyah (2007) menyebutkan, pada tahun 2006 terjadi kebocoran tangki timbun
bawah tanah di SPBU Pondok Aren, Tangerang, yang menyebabkan sumur warga tercemar dan berbau
minyak. Pertambangan minyak rakyat di Cepu, Jawa Tengah juga menyebabkan kerusakan lahan yang
cukup mengkhawatirkan. Sehingga perlu dilakukan tindakan yang lebih efektif dan efisien dalam
mengatasi limbah yang ditimbulkan oleh produk minyak mentah.
Salah satu alternatif penanggulangan lingkungan tercemar minyak adalah dengan teknik
bioremediasi, yaitu suatu teknologi yang ramah lingkungan, efektif dan ekonomis dengan
memanfaatkan aktivitas mikroba seperti bakteri. Melalui teknologi ini diharapkan dapat mereduksi
minyak buangan yang ada dan mendapatkan produk samping yang tidak bersifat toksik lagi (Udiharto et
al.,1995). Metode dan prinsip bioremediasi adalah biodegradasi yang dilakukan secara aerob (Eweis, et
al.,1998).
Mikroorganisme yang digunakan adalah bakteri yang memiliki kemampuan untuk mendegradasi
minyak mentah. Mikroorganisme yang memiliki kemampuan tersebut, dikenal sebagai mikroorganisme
hidrokarbonoklastik, yaitu mikrooganisme yang mampu memanfaatkan minyak mentah sebagai sumber
karbon untuk pertumbuhannya. Bakteri sering digunakan dalam proses bioremediasi karena memilki
kemampuan adaptasi dan reproduksi yang tinggi. Bakteri ini dapat diperoleh dengan cara mengisolasi
bakteri secara langsung dari limbah minyak mentah (Atlas, 1992).
Penelitian-penelitian bioremediasi sebelumnya menghasilkan banyak informasi tentang
mikroorganisme pendegradasi hidrokarbon, namun penelitian tentang pengembangan mikroorganisme
yang berasal dari Indonesia masih minin jumlahnya. Bosser dan Bartha (1984), menemukan beberapa
genus bakteri yang dapat hidup pada lingkungan minyak mentah yaitu genus Alcaligenes, Arthrobacter,
Acinetobacter, Nocardia, Achrornobacter, Bacillus, Flavobucterium, dan Pseudomonas sedangkan Okoh
(2003), mengisolasi bakteri pendegradasi minyak mentah jenis Pseudomonas aeruginosa di stasiun
penyimpanan minyak mentah di Nigeria. Penelitian ini diharapkan bisa memberikan informasi tentang
potensi bakteri pendegradasi minyak mentah yang langsung diisolasi dari pertambangan minyak di
Indonesia (Cepu, Jawa Tengah). Praktikum kali ini untuk menguji kemampuan Pseudomonas aeruginosa
dalam mendegradasi senyawa hidrokarbon.
PEMBAHASAN
Remediasi adalah proses pemulihan dari kondisi terkontaminasi cemaran menjadi kondisi acuan.
Bioremediasi merupakan penggunaan mikroorganisme yang telah dipilih untuk ditumbuhkan pada
polutan tertentu sebagai upaya untuk menurunkan kadar polutan tersebut. Pada saat proses
bioremediasi berlangsung, enzim-enzim yang diproduksi oleh mikroorganisme memodifikasi struktur
polutan beracun menjadi tidak kompleks sehingga menjadi metabolit yang tidak beracun dan
berbahaya.
Saat ini, bioremediasi telah berkembang pada pengolahan air limbah yang mengandung senyawasenyawa kimia yang sulit untuk didegradasi dan biasanya dihubungkan dengan kegiatan industri,
antara lain logam-logam berat, petroleum hidrokarbon, dan senyawa-senyawa organik
terhalogenasi seperti pestisida dan herbisida (Thomson et al, 2005). Bioremediasi Hidrokarbon
didefinisikan sebagai teknologi yang menggunakan mikroba untuk mengolah (cleaning) hidrokarbon
minyak bumi dari kontaminan melalui mekanisme biodegradasi alamiah (intrinsic bioremediation) atau
meningkatkan meknaisme biodegradasi alamiah dengan menambahkan mikroba, nutrient, donor
elektron dan atau akseptor elektron (enhanced bioremediation) (Yulia et al, 2010).

Senyawa hidrokarbon termasuk metabolit yang tidak umum digunakan untuk pertumbuhan bakteri.
Bakteri yang dapat mendegradasi senyawa hidrokarbon pada umumnya memiliki plasmid degradatif,
yaitu plasmid yang mengkode gen untuk membentuk system enzim yang dapat mendegradasi senyawa
hidrokarbon. Pseudomonas aeruginosa memiliki plasmid degradatif. Menurut Madigan et al, 2012.
Senyawa hidrokarbon akan didegradasi oleh bakteri Pseudomonas aeruginosa menjadi alkohol oleh
enzim monooksigenase yang akan mengubah hidrokarbon menjadi alkohol. Selanjutnya, alcohol akan
diubah menjadi aldehid yang akan diubah menjadi asam. Asam tersebut akan masuk ke dalam jalur oksidasi untuk diubah menjadi senyawa yang lebih sederhana sehingga mudah untuk didegradasi.
Leahly dan Colwell (1990), mengemukakan bahwa sebagian bakteri pendegradasi hidrokarbon diketahui
memiliki kemampuan untuk memproduksi biosurfaktan. Pseudomonas aeruginosa diketahui
memproduksi rhamnolipid pada C n-alkana sebagai biosurfaktan (Robert et al., 1989). Hasilnya
menunjukkan bahwa kelarutan pada media semakin.
12

Hidrokarbon adalah senyawa organik yang hanya terdiri dari karbon dan hydrogen. Hidrokarbon yang
memiliki berat molekul rendah berbentuk gas, sedangkan hidrokarbon yang memiliki berat molekul
lebih tinggi berupa cairan atau padatan pada suhu ruang. Minyak bumi terdiri dari ribuan senyawa
hidrokarbon yang dapat dikelompokkan ke dalam hidrokarbon alifatik, alisiklik, dan aromatik.
Hidrokarbon alifatik terdiri dari alkane rantai lurus, alkane bercabang, dan alkena. Variasi hidrokarbon
alifatik sangat besar dilihat dari panjang rantai, jumlah, dan tingkatan cabang, serta jumlah ikatan
rangkap. Secara umum senyawa alifatik rantai lurus (n-alkana) dengang C10-C18 lebih mudah didegradasi
dibandingkan senyawa alifatik dengan rantai yang lebih pendek atau lebih panjang. Wongsa et al,
melaporkan bahwa serratia marcescens, Pseudomonas, Mycobacterium dan Flavobacteriu sangat baik
mendegradasi alkane dengan jumlah karbon C9- C23. Hidrokarbon aromatik merupakan senyawa yang
terdiri dari minimal satu cincin tidak jenuh dengan struktur umum C6R6 dengan R merupakan satu atau
beberapa gugus fungsi. Mikroorganisme pendegradasinya misalnya Pseudomonas dan Bacillus dan
Nocardia mampu dengan baik mendegradasi naftalena. senyawa alisiklik adalah senyawa organik yang
tidak mempunyai gugus fenil contoh mikroorganisme pendegradasi senyawa tersebut adalah Bacillus sp.
Hal ini didukung pernyataan Lazuardi et al, bahwa Bacillus sp menggunakan minyak bumi sebagai
sumber karbon dan energi.
Dalam biosintesis biosurfaktan selain faktor kemampuan bakteri ada beberapa faktor lain yang
mempengaruhi proses degradasi senyawa hidrokarbon yaitu lingkungan, nutrien, dan sumber karbon.
Pembentukan struktur gugus hidro lik (karbohidrat, asam amino, peptida siklik, alkohol) dan hidrofobik
(asam lemak rantai panjang, asam lemak hidroksi) pada berbagai jenis biosurfaktan tergantung pada
sumber karbon yang ada. Gugus-gugus ini disintesis oleh bakeri melalui dua jalur metabolisme, yaitu
jalur kabohidrat dan jalur lemak (hidrokarbon) (Desai dan Banat, 1997). Sumber karbon yang ada pada
media pertumbuhan bakteri akan digunakan untuk kebutuhan hidup sehingga akan terjadi perubahan
sumber karbon yang ada menjadi energi dan senyawa metabolit sekunder (biosurfaktan) dengan melalui
dua jalur pembentukan tersebut.
Bioremediasi merupakan metode yang menjanjikan untuk menangani pencemar organic dengan kisaran
yang luas, terutama hidrokarbon minyak bumi. Bioremediasi juga semakin diminati karena teknik
tersebut memakai energy dalam jumlah yang lebih sedikit dan tidak banyak melibatkan sumber daya
alam, sehingga lebih murah dan berkelanjutan dibandingkan dengan perlakuan fisika-kimia, seperti land

filling atau pembakaran. Namun dibalik semua kelebihannya, bioremediasi memiliki kekurangan seperti
pemantauan yang harus intensif, membutuhkan lokasi tertentu, menghasilkan produk yang tidak dikenal
dan tidak semua bahan kimia dapat didegradasi dan diolah.
Bioremediasi merupakan penggunaan mikroorganisme untuk mendegradasi kontaminan di suatu
lingkungan menjadi bentuk yang tidak mengandung racun. Biodegradasi hidrokarbon minyak bumi
dapat dilakukan dengna penambahan nutrient (biostimulasi) atau dengan penambahan mikroorganisme
pendegradasi hidrokarbon secara langsung (bioaugmentasi). Menurut Hafiludin (2011), teknik
bioaugmentasi disebabkan karena bakteri yang ditambahkan merupakan spesifik pendegradasi minyak
yang diambil dari tempat pertambangan minyak sehingga bakteri lebih cepat mendegradasi minyak.
Sedangkan teknik biostimulasi bakteri tidak terlalu cepat dalam beradaptasi dalam lingkungan yang
mengandung minyak sehingga lebih lambat untuk mendegradasi minyak.

Bioaugmentasi dipilih apabila kontaminan membutuhkan waktu degradasi yang lama, bila lingkungan
yang tercemar sulit dimodifikasi dalam rangka mencapai kondisi optimal bagi pertumbuhan
mikroorganisme, atau bila tingginya konsentrasi kontaminan menghambat pertumbuhan
mikroorganisme indogenus. Bioaugmentasi juga dilakukan untuk menurunkan keragaman jalur
degradasi hidrokarbon terutama untuk mempercepat proses degradasi hidrokarbon poliaromatik.
Keberhasilan aplikasi bioaugmentasi diukur dari peningkatan jumlah mikroorganisme yang berperan
dalam proses degradasi serta daya tahan mikroorganisme eksogen pada lingkungan yang tercemar.
Walter (1997) menyatakan bahwa untuk memperoleh strain mikroorganisme ataupun konsorsium
mikroorganisme yang tepat bagi aplikasi bioaugmentasi ada tiga pilihan metode yang bisa dilakukan,
yaitu : pengkayaan selektif, penggunaan produk mikroorganisme komersial atau rekayasa genetika.

Metode pengkayaan selektif digunakan media cair dengan tambahan nutrisi yang spesifik yang berguna
memberi kesempatan supaya bakteri tertentu dapat tumbuh pada media pengkaya, nutrisi spesifik yang
ditambahkan dapat berfungsi sebagai inhibitor untuk mencegah atau menghambat pertumbuhan
bakteri lain. Selain itu, produk komersial untuk bioremediasi biasa digunakan untuk menjaga kualitas air
danau, alga bloom, penurunan nitrat-fosfat, peningkatan kecerahan. Produk komersial yang telah
digunakan contohnya BioAktiv yang digunakan pada sungai tergenang yang terbukti dapat menurunkan
kadar BOD, COD, TSS, total-N, total-P dalam air (Priadie, 2012). Aplikasi rekayasan genetika digunakan
untuk menggunakan organisme khusus yang berpotensi besar dalam bioremediasi, contohnya
penggunaan Deinococcus radiodurans (organisme yang paling radioresistant), dimodifikasi untuk dapat
mengkonsumsi dan mencerna toluene dan ionic mercury dari limbah dengan kandungan radioactive
nuclear yang tinggi.

Mikroorganisme aerob cepat dan paling efisies mendegradasi karena reaksi aerob memerlukan energi
bebas lebih sedikit untuk inisiasi dan menghasilkan lebih banyak energi. Hidrokarbon akan didegradasi
secara beruntun oleh sejumlah enzim, dimana oksigen akan bertindak sebagai akseptor eksternal.
Adapun tahap degradasi alkane melibatkan pembentukan alkohol, aldehid, dan asam lemak. Asam

lemak dipecah, CO2 dilepaskan dan membentuk asam lemak baru yang merupakan 2 unit karbon yang
lebih pendek dari molekul induk, proses ini dikenal sebagai beta oksidasi. Melalui jalur -oksidasi

asam lemak akan diubah menjadi asetil ko-A dan masuk ke dalam siklus asam sitrat, diubah
menjadi CO2 dan energi. Sedangkan pada mikroorgansime anaerobik, pemanfaatan berbagai
akseptor electron seperti nitrat, besi, mangan, sulfat dan karbon dioksida. Proses ini tergantung
pada kondisi lingkungan dan ketersediaan akseptor elektron selain oksigen (Hamme et al., 2003
dalam Nababan, 2008).
Produksi gas karbon rendah (CH4, CO, dan CO2) menunjukkan proses metabolisme yang dilakukan bakteri
dalam mendegradasi minyak diesel telah termineralisasi sempurna. Nilai kadar karbon dioksida (CO2)
bebas menunjukkan seberapa besar ketersediaan karbon dan nitrogen dalam media. Penurunan kandungan karbon
dalam media menunjukkan tingkat penghilangan yang termineralisasi oleh aktivitas bakteri.

Daftar Pustaka
Zakiyah. 2007. Remediasi Lahan Tercemar Minyak Bumi dengan Teknologi SOIL WASHING (Cuci Lahan),
Skripsi Jurusan Kimia Fakultas Sains dan Teknologi, UIN : Jakarta.
Eweis, J.B., S.J. Ergas., D.P.Y. Chang & E.D. Schroeder. 1998. Bioremediation Principles. Singapore. WCB
McGraw-Hill.
Udiharto, M., S. A. Rahayu, A. Haris dan Zulkifliani. 1995. Peran Bakteri dalam Degradasi Minyak dan
Pemanfaatannya dalam Penanggulangan Minyak Bumi Buangan. Proceedings Diskusi Ilmiah VIII
PPTMGB. Lemigas, Jakarta.
Atlas, R.M. 1992. Petroleum Microbiology, In: Encyclopedia of Microbiology, vol. 3. Academic press, Inc.
Bossert I., & Bartha R. 1984. The Fate Of Petroleum In The Soil Ecosystem. Mac millan, New York pp.
435-475.
Madigan, M. T., J. Martinko & J. Parker. 2012. Brock Book of Microorganism. 13 th ed. Benjamin
Cummings, San Fransisco : xxviii + 1044 hlm.
Walter, M. V. 1997. Bioaugmentation. Ch. 82 in Manual of Environmental Microbiology. Christon J. Hurst
(Ed). ASM Press. Washington DC.
Priadie, Bambang. 2012. Teknik Bioremediasi Sebagai Alternatif Dalam Pengendalian Pencemaran Air.
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 10, Issue I : 38-48.

Nababan, Bungaria. 2008. Isolasi dan Uji Potensi Bakteri Pendegradasi Minyak
Solar dari Laut Belawan. Tesis Magister : Universitas Sumatera Utara.
Leahy J.G. dan R.R. Colwell. 1990. Microbial degradation of hydrocarbons in the environment.
Departement of Microbiology, University of Maryland, College Park, Maryland pp. 305 315.

Kesimpulan
1. Bakteri pendegradasi senyawa hidrokarbon dapat diisolasi dari tempat yang tercemar minyak.
2.