BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Diazepam merupakan obat golongan Benzodizepine. Golongan obat ini
bekerja pada sistem saraf pusat dengan efek utama : sedasi, hypnosis,
pengurangan terhadap rangsangan emosi/ansietas, relaksasi otot dan
antikonvulasi. Diazepam menyebabkan tidur dan penurunan kesadaran yang
disertai nistagmus dan bicara lambat, tetapi tidak berefek analgesic. Juga tidak
menimbulkan potensiasi terhadap efek penghambat neuromuskuler dan efek
analgesic obat narkotik. Diazepam digunakan untuk menimbulkan sedasi basal
pada anastesi regional, endoskopi dan prosedur dental, juga untuk induksi
anastesia terutama pada penyakit kardiovaskuler. Benzodiazepine tidak
mampu menghasilkan tingkat depresi saraf sekuat golongan barbiturate atau
anastesi umum. Peningkatan dosis benzodiazepine menyebabkan depresi SSP
yang meningkat dari sedasi ke hypnosis, dan dari hypnosis ke stupor. Keadaan
ini sering dinyatakan sebagai efek anastesia, tetapi obat golongan ini tidak
benar-benar memperlihatkan efek anastesi umum yang spesifik. Namun pada
dosis pre-anastetik, benzodiazepine menimbulkan amnesia anterograd
terhadap kejadian yang berlangsung setelah pemberian obat. Profil
farmakologi benzodiazepine sangat berbeda pada spesies yang berbeda. Pada
spesies tertentu, hewan coba dapat meningkatkan kewaspadaannya sebelum
timbul depresi SSP. Walaupun terlihat adanya efek analgetik benzodiazepine
pada hewan coba, pada manusia hanya terjadi analgesi selintas setelah
pemberian diazepam. Belum pernah dilaporkan adanya efek analgetik derivate
benzodiazepine lain.
Benzodiazepine

tidak

memperlihatkan

efek

analgesia

dan

efek

hiperalgesia. Salah satu obat golongan benzodiazepine adalah diazepam (obat
penenang), digunakan sebagai anksiolitik agen antipanik, sedative, relaxan
otot rangka, antikonvulsan, dan dalam penatalaksanaan gejala-gejala akibat
penghentian pemakaian alcohol. Benzodiazepine yang digunakan sebagai
anastetik ialah diazepam, iorazepam, danmidazolam. Golongan obat ini

dan kejang otot.2 Rumusan Masalah a. 1. Mengamati perubahan aktivitas perilaku setelah pemberian diazepam secara intraperitoneal. Bagaimana hubungan dosis obat yang diberikan terhadap respon yang dihasilkan? b. Bermanfaat juga untuk pengobatan kecanduan. indeks terapi suatu obat dinyatakan dalam rasio sebagai: Indeks terapi= LD 50/ED50. b. dan antikonvulasi. pengurangan terhadap rangsangan emosi/ansietas. relaksasi otot. ED 50 ( Effective Dose 50 ) adalah dosis yang menimbulkan efek terapi pada 50% individu. ED50 ini biasa digunakan untuk menentukan indeks terapi. dan halusinasi sebagai hasil dari kerja alcohol. 1. Dalam suatu farmakodinamik. . gemetaran.3 Tujuan a. maka kita dapat mengetahui dosis terapi yang efektif dari diazepam untuk menimbulkan efek tidur. Diazepam juga digunakan untuk perawatan peradangan.hypnosis. gangguan pernapasan. Menentukan ED 50 ( dosis yang memberikan efek tidur ) Diazepam.bekerja pada system saraf pusat dengan efek utama: sedasi. Pemberian diazepam secara intraperitoneal digunakan untuk menentukan ED 50 yaitu dosis yang memberikan efek tidur pada 50% individu atau separuh dari jumlah individu yang diamati memberi respon tidur. Jadi dalam praktikum kali ini ditentukan dosis berapa yang memberikan efek tidur pada 50% individu atau separuh dari jumlah individu yang diamati memberi respon tidur. susah tidur. Dengan menentukan ED 50 dari diazepam.

Bingung. gangguan berbicara. satu golongan dengan alprazolam (Xanax). Untuk mengatasi bangkitan status epileptikus. depresi. Diazepam dapat efektif pada bangkitan lena karena menekan 3 gelombang paku dan ombak yang terjadi dalam 1 detik.2 DIAZEPAM Diazepam adalah obat anti cemas dari golongan benzodiazepin. lelah. Diazepam terutama digunakan untuk terapi konvulsi rekuren. kejang otot. dan kantuk. Obat ini juga bermanfaat untuk terapi bangkitan parsial sederhana misalnya bangkitan klonik fokal dan hipsaritmia yang refrakter terhadap terapi lazim. flurazepam. Efek samping diazepam yang paling sering adalah mengantuk. disuntikkan 5-20 mg diazepam IV secara lambat. Diazepam dan benzodiazepin lainnya bekerja dengan meningkatkan efek GABA (gamma aminobutyric acid) di otak. misalnya status epileptikus. henti jantung. akibat relaksasi otot. lorazepam. Efek samping obat ini berat dan berbahaya yang menyertai penggunaan diazepam IV ialah obstruksi saluran nafas oleh lidah. dan ataksia (kehilangan keseimbangan). dan mudah tersinggung. Diazepam dapat mengendalikan 80-90 % pasien bangkitan rekuren. GABA adalah neurotransmitter (suatu senyawa yang digunakan oleh sel saraf untuk saling berkomunikasi) yang menghambat aktifitas di otak. hipotensi . Diyakini bahwa aktifitas otak yang berlebihan dapat menyebabkan kecemasan dan gangguan jiwa lainnya. dan penglihatan ganda juga merupakan efek yang jarang dari diazepam. dll. Walaupun jarang. diazepam dapat menyebabkan reaksi paradoksikal.1 ED50 2. klonazepam. Disamping ini dapat terjadi depresi nafas sampai henti nafas. . Dosis ini dapat diulang seperlunya dengan tenggang waktu 15-20 menit sampai beberapa jam.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. kurang tidur.

atau lelah). dapat timbul kejang. cemas. berkeringat. terutama jika digunakan dalam dosis tinggi dan dalam jangka waktu lama. rasa melayang. muntah.Diazepam dapat menyebabkan ketergantungan. . sakit kepala. mual. Pada orang yang mempunyai ketergantungan terhadap diazepam. Bahkan pada kasus yang lebih berat. penghentian diazepam secara tiba-tiba dapat menimbulkan sakau (sulit tidur.

1 3. POSTUR TUBUH + = jaga ++ = ngantuk = kepala tegak. TEST KASA + = tidak jatuh apabila kasa dibalik dan digoyang ++ = jatuh apabila kasa dibalik +++ = jatuh apabila posisi kasa 90 derajat .2 KETERANGAN 1. ATAKSIA + = inkoordinasi terlihat kadang-kadang ++ = inkoordinasi jelas terlihat +++ = tidak dapat berjalan lurus 4. AKTIVITAS MOTORIK + = gerak spontan ++ = gerak spontan bila dipegang +++ = gerakan menurun saat dipegang ++++ = tidak ada gerakan spontan saat dipegang 3. RIGHTING REFLEX + = diam pada satu posisi miring ++ = diam pada dua posisi miring +++ = diam pada waktu telentang 5.BAB III MEKANISME KERJA PRAKTIKUM 3.punggung mulai datar +++ = tidur = kepala dan punggung tegak =kepala dan punggung datar 2.

PTOSIS + = ptosis kurang dari 1/2 ++ = 1/2 +++ = seluruh palpebra tertutup . ANALGESIA + = respon berkurang pada saat telapak kaki dijepit ++ = tidak ada respon pada saat telapak kaki dijepit 7.++++ = jatuh apabila posisi kasa 45 derajat 6.

.

5 = 0.02 ml TIKUS II BB Tikus I = 96 gr = 0.5 mg/kgBB Dosis pada tikus yang akan digunakan = = = III.08ml . TIKUS I BB Tikus I = 102 gr = 0.096 kg x 2.24 mg Dosis diazepam yang digunakan = 2.05 ml TIKUS III BB Tikus I = 96 gr = 0.1 kg x 1 = 0. = 0.1 mg Dosis diazepam yang digunakan = 1 mg/kgBB Dosis pada tikus yang akan digunakan = = = II.BAB IV LAPORAN PRAKTIKUM 4. = 0.1 Penentuan Pemberian Dosis pada Hewan Coba I.096 kg x 5 = 0.48 mg Dosis diazepam yang digunakan = 5 mg/kgBB Dosis pada tikus yang akan digunakan = = = =0.

4.2 Tabel Pengamatan MENIT 5 10 15 30 60 NOMOR POSTUR AKTIVITAS EXPERIMENT TUBUH MOTOR ATAKSI RIGHTING TEST REFLEX KASA A ANALGESIK PTOSIS 1 + + + + + + + 2 ++ ++ + + ++ + + + 3 + + + + + + + 1 + + + + + + + 2 ++ +++ + +++ + + + 3 + + + + + + + 1 + ++ + + + + + 2 +++ ++++ +++ +++ +++ + + 3 ++ + + + + + + 1 ++ ++ ++ + + + ++ 2 +++ ++++ +++ +++ +++ + ++ 3 ++ ++++ ++ + ++ + ++ 1 ++ +++ ++ + + + ++ 2 +++ ++++ +++ +++ ++++ ++ +++ 3 +++ ++++ +++ ++ +++ ++ +++ .

8 40 20 14.2 0 1mg/kgBB 2.8% 5 mg/kgBB + + + + + + + 100% KURVA DOSIS EFEK INDIKASI YANG BERESPON (%) 120 100 100 80 60 42.RESPON TIDUR (+/-) PADA TIKUS DOSIS % INDIKASI yang 1 2 3 4 5 6 7 BERESPON 1 mg/kgBB - - + - - - - 14.2% 2.5 mg/kgBB + + - - - - + 42.5 mg/kgBB DOSIS Kurva 5 mg/kgBB .

ataksia. ptosis yang masing-masing perlakuan memiliki tujuan: 5. righting refleks. Pada tikus pertama dosis yang diberikan adalah 1mg/kgBB yang dimulai dari menit ke-5 sampai menit ke-60 mulai menunjukkan reaksi mengantuk meskipun tidak sampai tidur. Pada tikus pertama. diantaranya test postur tubuh. dari menit ke-5 sampai menit ke-60 menunjukkan adanya perubahan motorik. Pada tikus kedua. aktivitas motorik. sedangkan pada tikus ketiga. 5.BAB V PEMBAHASAN Pada praktikum ini dilakukan beberapa test untuk mengetahui efek diazepam. itu artinya tikus ketika dipegang tidak lagi memperlihatkan gerak spontan.5mg/kgBB yang dimulai dari menit ke-5 sampai menit ke-60 menunjukkan bahwa adanya perubahan dari terjaga hingga pada posisi tidur dan pada tikus ketiga dengan dosis yang diberikan yaitu sebanyak 5mg/kgBB yang dimulai dari menit ke-5 sampai menit ke-60 menunjukkan bahwa tikus dalam keadaan mengantuk dan berada pada posisi tidur. analgesia. tes kasa.3 Ataksia . dari menit ke-5 sudah menunjukkan adanya perubahan motorik. 5. pada awalnya tetep memberikan pergerakan yang spontan kemudian pada menit ke-30 mulai tidak memberikan respon spontan.1 Test Postur Tubuh Test postur tubuh ini bertujuan untuk melihat tingkat kesadaran dari hewancoba (tikus). itu artinya tikus ketika dipegang masih memperlihatkan gerak spontan sampai mempunyai gerakan yang tidak lagi spontan.2 Test Aktivitas Motorik Test aktivitas motorik ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan hewan coba dalam merespon suatu rangsangan. sedangkan pada tikus kedua dosisyang diberikan adalah 2. dalam arti tikus masih terjaga.

tikus menunjukkan respon pertama pada menit ke-30 saat kasa diposisikan 450 . artinya bahwa tikus pertama masih dalam keadaan normal. gerak inkoordinasi terlihat pada menit awal sampai akhir akan tetapi pada menit ke-60 tikus tiga sudah tidak mampu berjalan lurus. sedangkan pada tikus ketiga. 5. Analgesia Test ini bertujuan untuk melihat efek analgesik yang ditimbulkan dari pemberian diazepam ini. tikus kedua menunjukan posisi diam saat terlentang saat menit ke-10. Pada tikus pertama menunjukkan diam pada satu posisi miring dari awal sampai akhir. dari awal pemberian obat hingga menit ke-60 tikus tidak jatuh saat kasa dibalik. dan ketiga masih memperlihatkan respon yang aktif dari menit kepertama hingga menit ke30 dan pada menit ke-60 tikus satu tetap memperlihatkan respon aktif sedangkan pada tikus dua dan tiga sudah tidak menunjukkan adanya respon. Pada tikus pertama. tikus memperlihatkan reaksi jatuh saat menit ke-15 saat kasa diposisikan 900 dan pada menit ke-60 memperlihatkan jatuh pada posisi kasa 450. tikus kedua. hal ini menunjukkan bahwa obat yang diberikan pada tikus sudah bereaksi. 5. terlihat gerak inkoordinasi tikus dari awal pemberian hingga menit ke-60. Pada tikus pertama. sedangkan pada tikus ketiga. . Pada tikus pertama dan tikus kedua.6. Pada tikus kedua.4 Righting Refleks Righting refleks ini bertujuan untuk melihat gerak refleks tubuh dari hewan coba apabila dimiringkan baik secara telentang maupun miring. Sedangkan pada tikus ke tiga memberikan efek diam pada satu posisi miring dari awal tetapi saat menit ke-60 menunjukan diam pada posisi miring.5. 5. Test Kasa Test ini bertujuan untuk melihat efek kantuk dari tikus akibat pemberian obat yang menyebabkan tubuh tikus itu sendiri tidak seimbang bila kasa dibalikkan.Test ketiga ini bertujuan untuk melihat gerakan berjalan yang inkoordinasi.

2%. kedua. berbeda dengan hanya pemberian dosis sedikit yang memperlihatkan tidak tercapainya efek tidur. 5.8. Hal ini dapat disimpulkan bahwa dimana dosis diazepam diberikan pada dosis banyak akan mempercepat timbulnya efek tidur. pada tikus yang diberikan dosis 2. Dari hasil pengamatan ke-7 respon mekanisme perubahan perilaku. hal ini dapat dimungkinkan keadaan pada tikus pertama yang memang hiperaktif dan juga dosis yang diberikan hanya 1 mg/kgBB. . dapat disimpulkan bahwa tikus yang mengalami efek tidur adalah tikus dua dan tikus tiga.7.5. Pada tikus pertama tidak didapatkan respon tidur namun hanya didapatkaan respon sedasi. dan tiga palpebra memperlihatkan palpreba kurang dari setengah. Pada menit pertama tikus pertama. Grafik ED50 Berdasarkan hasil grafik ED50 yang didapatkan dari presentasi populasi. Ptosis Test ini bertujuan untuk melihat palpebra tikus yang mulai bereaksi.5 mg/kbBB mempunyai presentase efek tidur 42. sedangkan pada menit 30 semua tikus menunjukkan palpebra setengah menutup dan pada menit ke-60 semua dalam keadaan menutup mata kecuali pada tikus satu yang masih menunjukkan palpebra kurang dari setengah.8% dan pada tikus yang diberikan dosis 5 mg/kbBB mempunyai presentase efek tidur 100%. pada tikus yang diberikan dosis 1 mg/kbBB mempunyai presentase efek tidur 14.

BAB VI PENUTUP 6. akan tetapi dosis tersebut harus sesuai dengan berat badan pada hewan coba.1 Kesimpulan Dari percobaan yang dilakukan diketahui dosis diazepam memperlihatkan efek yang cepat saat pemberian dosis yang lebih tinggi. .