ABSTRAK

Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH) merupakan suatu
gejala pada anak yang cukup sering ditemukan. GPPH ditandai dengan rentang
perhatian yang buruk yang tidak sesuai dengan perkembangan atau ciri hiperaktivitas
dan impulsivitas atau keduanya yang tidak sesuai dengan usiannya. Anak laki-laki
memiliki insiden yang lebih tinggi untuk mengalami gangguan ini dibandingkan
dengan anak perempuan. Penyebab pasti dari GPPH belum diketahui namun
dikatakan adanya keterlibatan dari faktor genetik, struktur anatomi dan neurokimiawi
otak terhadap terjadinya GPPH. GPPH terbagi menjadi tiga tipe yaitu: inatensi,
hiperaktif-impulsif, dan kombinasi.
Anak-anak dengan GPPH ini sering mendapat kesulitan dalam sekolahnya
karena pada umumnya sangat mengganggu, sehingga terpaksa dikeluarkan.
Permasalahan maupun penyelesaian masalah anak dengan GPPH merupakan
tanggung jawab kita semua, terutama dari para praktisi kesehatan jiwa yang bekerja
dalam dunia anak. Untuk itu para praktisi hendaknya saling bekerja sama untuk
membantu anak-anak ini sehingga mereka tetap dapat menjadi anak yang berkualitas
di kemudian hari. Penatalaksanaan anak-anak GPPH saat ini didasarkan pada Multi
Treatment Approach (MTA) yaitu dengan pendekatan psikofarmaka dan psikososial.
Tulisan ini akan membahas mengenai gangguan pemusatan perhatian dan
hiperaktivitas serta penatalaksanaannya.

Kata kunci: GPPH, gangguan hiperkinetik, hiperaktivitas, impulsivitas, inatensi.

1

PENDAHULUAN

Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas merupakan suatu gejala
pada anak yang cukup sering ditemukan. Anak-anak ini sering pula mendapat
kesulitan dalam sekolahnya karena pada umumnya sangat mengganggu, sehingga
terpaksa dikeluarkan.1
Anak dengan GPPH adalah anak yang menunjukkan perilaku hiperaktif,
impulsif, sulit memusatkan perhatian yang ditimbulkan lebih sering, lebih persisten
dengan tingkat yang lebih berat jika dibandingkam dengan anak-anak seusianya. Di
samping gejala di atas, anak-anak dengan GPPH juga menunjukkan beberapa gejala
lain seperti; adanya ambang toleransi frustasi yang rendah, disorganisasi, dan perilaku
agresif. Kondisi ini tentunya menimbulkan penderitaan dan hambatan bagi anak
dalam menjalankan fungsinya sehari-hari, seperti berinteraksi dengan teman
seusianya, keluarga dan yang terpenting adalah mengganggu kesiapan anak untuk
belajar. Semua kondisi ini tentunya mengganggu prestasi belajar anak. Secara
keseluruhan membuat penurunan kualitas pada anak dengan GPPH di kemudian
hari.2
Gejala-gejala GPPH pada umumnya telah timbul sebelum anak berusia 7 tahun.
Namun gejala tersebut pada umumnya akan lebih nyata pada keadaan dimana
dibutuhkan perhatian terus menerus saat anak mulai bersekolah formal.1 Pada saat itu
anak dituntut untuk mampu mengontrol perilaku mereka dan mengikuti peraturan
yang berlaku di sekolah.2 Sehingga banyak anak tidak terdiagnosis hingga usia
mereka lebih dari 7 tahun.3
Keluhan yang tersering disampaikan adalah anak nakal, tidak kenal takut,
berjalan-jalan di dalam kelas, seringkali berbicara dengan kawannya pada saat
pelajaran berlangsung, dan sebagainya. Pada anak yang berusia kurang dari 4 tahun,
kondisi ini seringkali sulit dibedakan apakah anak menderita gangguan GPPH atau
merupakan suatu hal yang wajar sesuai dengan tingkat perkembangannya. Namun
pada anak dengan GPPH, gejala yang muncul tampak lebih sering dan intensitasnya
2

lebih berat jika dibandingkan dengan anak lain dengan taraf perkembangan yang sama.2 3 .

Epidemiologi Prevalensi GPPH di seluruh dunia diperkirakan berkisar antara 2 . Orangtua 4 .1-5 Gangguan paling sering ditemukan pada anak laki-laki pertama. Angka kejadian GPPH pada anak remaja dan dewasa dikatakan lebih rendah jika dibandingkan dengan anak usia sekolah dasar. Untuk memenuhi kriteria diagnostik gangguan harus sekurangnya 6 bulan. Sedangkan penelitian di Inggris menunjukkan angka 0.5 Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Tanjung dkk.20% dari jumlah anak-anak usia sekolah dasar.10%.2.4 A. pada sejumlah anak SD di Jakarta Pusat ada tahun 2000-2001 didapatkan 4. pada tahun 2000 dalam penelitiannya pada anak-anak usia sekolah dasar di Kabupaten Sleman-DIY menemukkan angka prevalensi GPPH 9.1% dan di Taiwan angka prevalensi dari kasus GPPH ini adalah 5 . Pada tahun 2003.2% dari sekitar 600 anak sekolah dasar kelas 1-3 mengalami GPPH.GANGGUAN PEMUSATAN PERHATIAN DAN HIPERAKTIVITAS Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH) atau AttentionDeficit/Hyperactivity Disorder (ADHD) ditandai dengan rentang perhatian yang buruk yang tidak sesuai dengan perkembangan atau ciri hiperaktivitas dan impulsivitas atau keduanya yang tidak sesuai dengan usia. sebanyak 51 anak dari sekitar 215 anak sekolah dasar di diagnosis GPPH di Poli Klinik Jiwa Anak dan Remaja Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).4.5% diantaranya anak usia sekolah. Menurut Diagnostik and Statistic Manual of Mental Disorser edisi ke-4 (DSM-IV).5%. Saputro D.2 Prevalensi GPPH dipengaruhi oleh jenis kelamin dan anak.2 Anak laki-laki memiliki insiden yang lebih tinggi untuk mengalami gangguan ini dibandingkan dengan anak perempuan dengan rasio 3-5 : 1. 1. Di Amerika Serikat. prevalensi GPPH antara 2 .9. diagnosis dibuat dengan menegakkan sejumlah gejala dalam bidang inatensi saja atau dengan gejala hiperaktivitas dan impulsivitas tetapi bukan untuk inatensi. menyebabkan gangguan dalam fungsi akademik dan sosial dan terjadi sebelum usia 7 tahun.5 .

Etiologi Penyebab pasti dari GPPH sampai saat ini belum diketahui secara pasti.7 Faktor kelainan struktur anatomi Rappaport dkk. kelainan struktur anatomi.3 Dari hasil penelitian yang dilakukan pada anak kembar monozigot dan dizigot dengan GPPH.2. nukleus kaudatus kanan. neurokimiawi otak dan beberapa faktor lain terhadap terjadinya GPPH. menyatakan adanya pengecilan lobus prefrontalis kanan.4-6 B.6 Faktor genetik GPPH merupakan suatu gangguan yang mempunyai komponen genetik karena gangguan ini seringkali ditemukan bersamaan pada beberapa anggota keluarga. gangguan penggunaan alkohol dan gangguan konversi. Lobus prefrontalis 5 . sehingga dapat disimpulkan anak kembar monozigot akan menderita gangguan yang sama jika salah satu anak tersebut menderita GPPH.2 Sedangkan orangtua yang menderita GPPH mempunyai kemungkinan sekitar 50% untuk menurunkan gangguan ini pada anak mereka.7 kali lebih besar untuk mengalami gangguan serupa jika dibandingkan dengan anak lain yang tidak mempunyai saudara kandung dengan GPPH. Sebagaimana diketahui bahwa salah satu fungsi bagianbagian otak di atas adalah meregulasi fungsi perhatian seseorang.dari anak GPPH menunjukkan adanya peningkatan insiden hiperkinesis. Dari berbagai penelitian yang telah dilakukan dikatakan adanya keterlibatan dari faktor genetik. Dari beberapa penelitian genetik ditemukan bahwa saudara kandung dari anak dengan GPPH mempunyai risiko 5 . didapatkan hasil bahwa angka insiden GPPH pada kembar monozigot lebih tinggi (58-82%) dibanding kembar dizigot (31-38%).2. sosiopati. globus palidus kanan serta vermis (bagian dari serebelum) jika dibandingkan dengan anak tanpa GPPH. dari The National Institute of Mental Health melakukan penelitian pada anak dengan GPPH menggunakan MRI (Magnetic Resonance Imaging).3.4.

Sedangkan nukleus kaudatus dan globus palidus berperan dalam menghambat respons otomatik yang datang pada bagian otak. Hal ini dikaitkan dengan gangguan pada fungsi neurotransmisi dopaminergik di area frontostriatokortikal. Meskipun demikian. dengan gambaran berupa. Gangguan non-verbal working memory. Cook EH dkk (1995) dan Barkley dkk (2000). positron emission tomography) telah menemukan penurunan aliran darah otak dan kecepatan metabolisme di daerah lobus frontalis anak-anak dengan GPPH. dengan bertambahnya usia. berupa kontrol diri yang buruk dan gangguan dalam menginhibisi perilaku. 6 . Secara teroritis.2 Faktor neurofisiologi Penelitian lain juga dilakukan dengan menggunakan tomografi emisi positron (PET. mengurangi distraktibilitas. Fungsi serebelum adalah mengatur keseimbangan.2. apa yang menyebabkan pengecilan lobus atau bagian otak tersebut masih belum diketahui pasti sehingga memerlukan penelitian lebih lanjut.2 Hal ini karena adanya hipersensitivitas transporter dopamin sehingga anak menunjukkan:2 1.3 Faktor neurokimiawi Banyak neurotransmiter telah dihubungkan dengan gejala GPPH. seorang anak seharusnya mampu melakukan kontrol diri dengan baik dan mengendalikan perilakunya dengan lebih terarah sehingga mampu melakukan tuntutan yang datang dari lingkungan sekitarnya. membantu kesadaran diri dan waktu seseorang. menyatakan adanya peningkatan ambilan kembali dopamin ke dalam sel neuron di daerah limbik dan lobus prefrontalik akibat dari perubahan aktivitas hipersensivitas transpoter dopamin. sehingga koordinasi rangsangan tersebut tetap optimal.dikenal sebagai bagian otak yang terlibat dalam proses editing perilaku. Kondisi ini menyebabkan anak dengan GPPH mengalami kesulitan dalam menjalankan fungsi eksekutifnya. Tetapi kondisi ini tidaklah berjalan baik pada anak dengan GPPH.

Gangguan kemampuan merekontruksi berbagai perilaku yng sudah diobservasi dalam usaha untuk membangun suatu bentuk perilaku baru untuk mencapai tujuan dari suatu kegiatan yang sudah ditargetkan.Kesulitan dalam menyensor semua bentuk reaksi emosi.Self guidance dan self questioning yang buruk 3. Keterbatasan untuk menganalisis perilaku-perilaku dan melakukan sintesis ke dalam bentuk yang baru.Ketidakmampuan untuk menyimpan informasi dalam otaknya . Gangguan regulasi. . motivasi dan tingkat ambang kesadaran diri yang buruk. Faktor psikososial Kejadian-kejadian yang menimbulkan stres psikis.Hilangnya regulasi diri dalam bidang motivasi dan dorongan kehendak 4. ambang toleransi terhadap frustasi rendah . berupa. Faktor predisposisi dapat mencakup tempramen anak.Kesulitan mengikuti peraturan yang berlaku . b. .3. faktor genetik keluarga dan tuntutan masyarakat agar anak selalu patuh dan taat dalam tingkah laku dan penampilannya..6 7 .Perencanaan dan pertimbangan yang buruk 2. gangguan pada keseimbangan keluarga dan faktor lain yang dapat menimbulkan kecemasan dapat menjadi pencetus maupun memperpanjang timbulnya GPPH.Persepsi yang tidak sesuai terhadap suatu objek/kejadian .Kehilangan rasa “kesadaran” akan waktu . Kondisi ini memberikan gejala seperti. Gangguan internalisiation of self-directed speech. Ketidakmampuan untuk menyelsaikan persoalan sesuai dengan taraf usianya. berupa: a.Tidak disiplin .

Studi retrospektif pada anak dengan GPPH menunjukkan adanya komplikasi perinatal yang lebih sering jika dibandingkan dengan anak tanpa GPPH. semakin kurang kemampuan anak untuk mengontrol perilakunya. Mereka sering mengalami kesulitan memusatkan perhatian di dalam kelas. sesuka hati.1-4 C. Mereka menjadi liar. impulsivitas dan kesulitan berinteraksi dengan lingkungannya sangat tergantung dengan usia anak. berlari-lari atau memanjatmanjat tanpa kontrol seakan-akan digerakkan oleh mesin.Kerusakan otak Komplikasi perinatal juga dikaitkan dengan timbulnya GPPH pada seorang anak. Milberger dan rekan (1997) dalam penelitiannya menyatakan bahwa ibu perokok dalam masa kehamilan mempunyai resiko yang lebih tinggi untuk melahirkan anak dengan GPPH. dan tampak dalam bentuk keceobohan dalam menulis. atau berpreokupasi. Gejala kesulitan memusatkan perhatian. berisik dan sulit dikendalikan saat berinteraksi dengan teman-teman seusianya. Semakin muda usia anak. Beberapa komplikasi perinatal yang sering ditemukan adalah perdarahan antepartum. Whitaker dkk (1997) menemukan bahwa bayi dengan berat badan lahir rendah yang disertai dengan kerusakan substansia alba mempunyai resiko lebih tinggi untuk menderita GPPH di kemudian harinya. Anak usia pra sekolah dengan GPPH akan bergerak dengan aktif di dalam ruangan dan tersangsang untuk menyentuh dan memanipulasi semua benda. Kesulitan memusatkan perhatian berpengaruh pada prestasi akademik anak di sekolah. overaktif. Anak-anak ini sering melompat-lompat. tampak melamun. overaktivitas. persalinan lama. membuat kesalahan8 . Anak sulit diam di tempat duduknya dan bergerak-gerak dengan gelisah.2-4 Anak-anak usia sekolah mungkin menunjukkan perilaku hiperaktif dan impulsivitas yang lebih ringan dibandingkan anak usia pra sekolah. Gambaran Klinis dan Diagnosis Perilaku anak dengan GPPH seringkali berlebihan dibandingkan dengan anak tanpa GPPH. nilai APGAR yang lemah dalam menit pertama kelahiran dll.

kegiatan sehari-hari atau pekerjaan di tempat kerja (tidak disebabkan oleh karena Gangguan Perilaku Menentang atau kesulitan untuk mengikuti instruksi). Sering gagal untuk memberikan perhatian yang baik terhadap hal-hal yang rinci atau sering melakukan kesalahan yang tidak seharusnya/ceroboh terhadap pekerjaan sekolah.kesalahan yang seharusnya tidak dilakukan. 9 . pekerjaan lain atau aktivitas-aktivitas lainnya. tidak suka atau menolak kegiatan yang memerlukan konsentrasi lama seperti mengerjakan tugas-tugas sekolah. Sering mengalami kesulitan untuk mempertahankan perhatian dalam melakukan tugas tanggungjawabnya atau dalam kegiatan bermain. b. f. Sering tampak tidak mendengarkan (acuh) pada waktu diajak berbicara. Sering mengalami kesulitan dalam mengorganisasikan tugas tanggung jawab atau aktivitas-aktivitasnya. dan tidak mampu menyelesaikan pekerjaan rumah sampai tuntas.2 Diagnosis GPPH biasanya ditegakkan dengan menggunakan kriteria diagnosis yang terdapat di dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders IV – Text revision (DSM-IV TR) dari American Psychiatric Association berdasarkan Pedoman Penggolongan Dignostik Gangguan Jiwa III (PPDGJ III) yang sesuai dengan International Classification of Diseases X (ICD X).2 Berdasarkan DSM-IV maka kriteria diagnostik GPPH adalah sebagai berikut:2-4 A. Seringkali menghindar. a. orangtua menggambarkan anaknya sebagai anak yang tidak mau patuh bahkan untuk perintah yang paling sederhanapun. Sering tidak mampu mengikuti aturan atau instruksi dan gagal dalam menyelesaikan tugas-tugas sekolah. dan tidak mampu untuk rapi. d. Di dalam rumah. Salah satu dari (1) atau (2): 1) Terdapat minimal 6 (atau lebih) gejala-gejala inatensi berikut yang menetap dan telah berlangsung sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan sampai ke tingkat yang maladaptif dan tidak sesuai dengan tingkat perkembangan anak. c. e.

buku-buku. c. Sering mengalami kesulitan menunggu giliran. Sering „bergerak‟ atau sepertinya „digerakkan oleh mesin‟. Beberapa gejala hiperaktif-impulsif atau inatensi yang menyebabkan gangguan ini sudah timbul sebelum anak berusia 7 tahun.g. Sering tidak mampu duduk diam di kursi di dalam kelas atau pada situasi dimana anak diharapkan duduk diam. Sering tidak bisa duduk diam atau kaki tangannya bergerak terus dengan gelisah. atau peralatan-peralatan lainnya). Sering mengalami kesulitan dalam bermain atau dalam kegiatan menyenangkan bersama yang memerlukan ketenangan. f. Sering berbicara berlebihan. Sering berlari atau memanjat secara berlebihan pada situasi yang tidak sesuai atau pada situasi-situasi yang tidak seharusnya (misalya pada remaja atau orang dewasa. mungkin terbatas pada perasaan kegelisahan yang subjektif) d. pensil. Sering kehilangan barang-barang yang diperlukan untuk kegiatan atau aktivitasnya (seperti mainan. c. 2) Terdapat minimal 6 (atau lebih) gejala-gejala hiperaktivitas-impulsivitas berikut yang menetap dan telah berlangsung sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan sampai ke tingkat yang maladaptif dan tidak sesuai dengan tingkat perkembangan anak. Sering menginterupsi atau menginteruksi orang lain (misalnya dalam bermain atau berbicara dengan orang di sekitarnya). Hiperaktivitas a. Impulsivitas a. b. 10 . Sering memberi jawaban sebelum pertanyaan selesai diajukan. i. b. e. Mudah lupa akan kegiatan yang dilakukan sehari-hari. h. Mudah teralih perhatiannya oleh stimulus dari luar. B.

8 Pedoman diagnostik gangguan hiperkinetik ini berdasarkan PPDGJ III adalah:8 a. gangguan hiperkinetik dimasukkan dalam satu kelompok besar yang disebut sebagai Gangguan Perilaku dan Emosional dengan Onset Biasanya pada Masa Kanak dan Remaja. gangguan disosiatif. predominan gejala hiperaktivitas-impulsivitas. predominan gejala inatensi. maka harus dituliskan. - GPPH. - GPPH. gangguan cemas. Ciri-ciri utama ialah berkurangnya perhatian dan aktivitas berlebihan. jika memenuhi baik kriteria A2. dengan remisi parsial. Catatan: untuk individu (terutama remaja atau orang dewasa) yang saat ini mempunyai gejala-gejala GPPH tetapi tidak memenuhi kriteria GPPH lagi yang lengkap. Gejala tidak timbul secara ekslusif selama perjalanan penyakit gangguan perkembangan pervasif. Gejala tersebut terjadi minimal pada 2 (dua) situasi atau tempat yang berbeda (misalnya di sekolah atau tempat kerja dan di rumah). Ada bukti yang jelas bahwa gejala ini menimbulkan gangguan fungsi anak yang bermakna di bidang sosial. tetapi tidak memenuhi kriteria A2 dalam 6 bulan terakhir. akademik dan fungsi pekerjaan lainnya. skizofrenia. di klinik) 11 .6 - GPPH tipe kombinasi. Kedua ciri ini menjadi syarat mutlak untuk diagnosis dan harus nyata ada pada lebih dari satu situasi (misalnya di rumah. jika memenuhi baik kriteria A1. E. tetapi tidak memenuhi kriteria A1 dalam 6 bulan terakhir.2 Berdasarkan PPDGJ III. atau gangguan psikotik lainnya dan tidak dapat dijelaskan oleh gangguan mental lainnya (seperti gangguan mood. D.C. jika memenuhi baik kriteria A1 dan A2 dalam 6 bulan terakhir. atau gangguan kepribadian). di kelas. Penulisan kode didasarkan pada tipe gangguan. seperti:2.

atau kegugupan/kegelisahan dan terputar-putar (berbelitbelit). e. terlampau cepat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang belum lengkap diucapkan orang. Hal ini. tergantung dari situasinya. Tolok ukur untuk penilaiannya adalah bahwa suatu aktivitas disebut berlebihan dalam konteks apa yang diharapkan pada suatu situasi dan dibandingkan dengan anak-anak lain yang sama umur dan IQnya. rupanya kehilangan minatnya terhadap tugas yang satu. terlalu banyak bicara dan ribut. d. Berkurangnya perhatian tampak jelas dari terlalu dini dihentikannya tugas dan ditinggalkannya suatu kegiatan sebelum tuntas selesai. mencakup anak itu berlari-lari atau melompat-lompat sekeliling ruangan. khususnya dalam situasi yang menuntut keadaan relatif tenang. kesembronoan dalam situasi yang berbahaya dan sikap yang secara impulsif melanggar tata tertib sosial (yang diperlihatkan dengan mencampur urusan atau mengganggu kegiatan orang lain. Gambaran penyerta tidak cukup bahkan tidak diperlukan bagi suatu diagnosis. namun demikian dapat didukung.b. atau tidak sabar menunggu gilirannya). namun demikian tidak boleh dijadikan bagian dari diagnosis aktual mengenai gangguan hiperkinetik yang sesungguhnya. 12 . Ciri khas perilaku ini paling nyata di dalam situasi yang terstruktur dan diatur yang menuntut suatu tingkat sikap pengendalian diri yang tinggi. c. ataupun bangun dari duduk dalam situasi yang menghendaki anak tetap duduk. Anak-anak ini seringkali beralih dari satu kegiatan ke kegiatan lain. Kecerobohan dalam hubungan-hubungan sosial. Gangguan belajar serta kekakuan motorik sangat sering terjadi dan haruslah dicatat secara terpisah (di bawah F80-F89: Gangguan perkembangan psikologis) bila ada. semua ini merupakan ciri gambaran penyerta. Berkurangnya dalam ketekunan dan perhatian ini seharusnya hanya didiagnosis bila sifatnya berlebihan bagi anak dengan usia atau IQ yang sama. karena perhatiannya tertarik kepada kegiatan lainnya (sekalipun kajian laboratorium pada umumnya tidak menunjukkan adanya derajat gangguan sensorik atau perseptual yang tidak biasa). Hiperaktivitas dinyatakan dalam kegelisahan yang berlebihan.

2 Gangguan-gangguan yang dapat menyerupai GPPH adalah: 1. kadang bersifat intermiten tetapi kadang sering timbul beberapa kali sehari. hubungan interpersonal yang menyenangkan dan sedikit gejala sisa. mengalami remisi saat remaja. Diagnosis Banding dan Komorbiditas Beberapa gangguan dapat menyerupai atau menyertai GPPH.3. Kriteria umum mengenai gangguan hiperkinetik (F 90) telah terpenuhi. F 90.4 E. Gejala-gejala dari gangguan tingkah laku bukan merupakan kriteria inklusi untuk diagnosis utamanya. atau hiperaktivitasnya menghilang namun gangguan pada pemusatan perhatian dan impulsivitasnya tetap ada sampai dewasa mungkin menetap (15-20%). F 90. Sering berhubungan dengan obsesif. D. Perjalanan Penyakit Perjalanan GPPH sangat bervariasi.4 Overaktivitas biasanya merupakan gejala pertama yang menghilang dan mudah teralih perhatian merupakan gejala yang terakhir hilang. Gejala dapat menetap hingga remaja atau dewasa. 13 . tetapi kriteria untuk gangguan tingkah laku (F 91) tidak terpenuhi. Gangguan Tingkah Laku Hiperkinetik. Gangguan Aktivitas dan Perhatian. tetap ada tidaknya gejala-gejala itu dijadikan dasar untuk subdivsi utama dari gangguan tersebut (lihat di bawah).0. Remisi dapat disertai dengan masa remaja dan kehidupan dewasa yang produktif. Sidrom Tourette Sindrom yang meliputi kedutan-kedutan motorik multipel dan satu atau lebih vokal . Jika terjadi remisi biasanya pada usia 12-20 tahun.f. terjadi selama periode sekurang-kurangnya 1 tahun.1. Termasuk: gangguan pemusatan perhatian dan hiperkinetik.3. Memenuhi kriteria menyeluruh menegenai gangguan hiperkinetik (F 90) dan juga kriteria menyeluruh mengenai gangguan tingkah laku (F 91).

6 2. karena anak-anak mungkin tidak mampu membaca atau mengerjakan tugas karena gangguan belajar. Ansietas pada GPPH dapat merupakan gambaran sekunder. Gangguan afektif bipolar Mania dan GPPH memiliki kesamaaan gambaran utama.2. Gangguan konduksi Sering kali. iritabilitas tampak lebih lazim dibandingkan euforia. namun ansietas sendiri dapat bermanifestasi sebagai overaktivitas dan mudah teralih perhatiannya. hiperaktivitas motorik dan mudah teralih perhatiannya. anakanak dengan mania.4 6.kompulsif. terutama karena bertumpangtindihnya ciri-ciri sistem saraf pusat yang imatur secara normal dan timbulnya tanda gangguan visualmotorik-perseptual yang sering ditemukan pada GPPH.4 5. hiperaktif dan ketidakmampuan memusatkan perhatian dan impulsivitas.3 Gangguan medis yang seringkali menyertai atau berkormorbiditas dengan GPPH adalah gangguan depresi yang timbul sekunder akibat kegagalan reaksi penyesuaian anak dengan GPPH dengan tuntutan dari lingkungan sekitarnya. Gangguan ansietas Ansietas pada anak perlu dievaluasi lebih lanjut. gangguan konduksi dari berbagai jenisnya harus dibedakan dari GPPH. sulit dibedakan dengan gejala utama GPPH sebelum usia 3 tahun. Mereka seringkali merasa gagal dalam proses belajar. Onset pada masa kanak-kanak dan kedutan sering berkurang keparahan dan frekuensinya dan bahkan membaik selama masa remaja dan dewasa. serta timbulnya perasaan rendah diri 14 . seperti verbalisasi yang berlebihan.5 4. Kumpulan temperamental (temperamental constellation) Suatu kumpulan temperamental yang terdiri dari tingkat aktivitas yang tinggi dan kemampuan untuk memusatkan perhatian yang pendek.2 3. bukan inatensi. Retardasi mental Anak-anak retardasi mental dengan IQ rendah biasanya memperlihatkan keadaan tidak dapat memusatkan perhatian bila ditempatkan pada situasi atau lingkungan akademik yang tidak sesuai dengan kemampuan intelektualnya.3. Namun.3.

Dampak GPPH terhadap tumbuh kembang anak. Penatalaksanaan GPPH adalah gangguan yang bersifat heterogen dengan manifestasi klinis yang beragam. sampai saat ini belum ada satu jenis terapi yang dapat diakui untuk menyembuhkan anak dengan GPPH secara total. serta gangguan obsesif kompulsif. gangguan tingkah laku.2 Kesulitan akademik Sosialisasi buruk Terdapat masalah citra diri Berurusan dengan hukum Merokok Risiko untuk mendapat trauma atau cedera Gangguan perilaku Usia pra sekolah Usia sekolah Remaja Kegagalan dalam pekerjaan Masalah dalam membina hubungan interpersonal Risiko mendapatkan cedera atau kecelakaan Perguruan tinggi Gangguan Dewasa perilaku Kegagalan akademik Kesulitan dalam pekerjaan Terdapat masalah citra diri Penggunaan zat/obat-obatan Risiko untuk mendapat trauma atau cedera Gangguan perilaku Kegagalan akademik Terganggunya hubungan dengan teman Masalah citra diri Gambar.2 F. Dengan pendekatan ini maka anak selain 15 . Gangguan lain yang juga seringkali menyertai GPPH adalah gangguan belajar. gangguan perilaku menentang. Berdasarkan evidence based. Berbagai penelitian menunjukkan 35% kasus GPPH juga disertai dengan gangguan perilaku menentang dan sekitar 25%75% kasus GPPH disertai dengan gangguan suasana perasaan. Disamping itu.akibat berkurangnya kemampuan yang seharusnya sudah mereka miliki jika dbandingkan dengan teman-teman sebayanya. tatalaksana GPPH yang terbaik adalah dengan pendekatan komperhensif berdasarkan prinsip Multi Treatment Approach (MTA).

maka juga diberikan terapi psikososial seperti terapi perilaku (modifikasi perilaku). sambil mengevalusi hasil yang diperoleh dan efek samping yang muncul. Pedekatan psikofarmakologi pada penanganan anak dengan GPPH.Edukasi kepada keluarga agar tidak berharap semua masalah pada anak akan hilang karena obat.2 Tujuan utama dari tatalaksana anak dengan GPPH adalah memperbaiki pola perilaku dan sikap anak dalam menjalankan fungsinya sehari-hari dengan memperbaiki fungsi kontrol diri sehingga anak mampu untuk memenuhi tugas tanggungjawabnya secara optimal sebagaimana anak seusianya. Prinsip-prinsip umum penggunaan psikofarmaka pada GPPH:5 .8% anak dengan GPPH. . namun ada kerjasama dengan semua pihak. sebaiknya dimulai dengan menurunkan dosis secara perlahan. . pengasuh maupun guru yang sehari-harinya berhadapan dengan anak dengan GPPH. .mendapatkan terapi dengan obat.Golongan Deksamfetamin 16 . terapi kognitif-perilaku dan juga latihan keterampilan sosial. Tujuan lainnya adalah memperbaiki pola adaptasi dan penyesuaian sosial anak sehingga terbentuk suatu kemampuan adaptasi yang lebih baik dan matur sesuai dengan tingkat perkembangan anak.Mulai dengan dosis rendah dan perlahan-lahan dinaikkan. Dikenal ada 3 macam obat psikostimulan yaitu:2. diperkirakan digunakan 2. Disamping itu juga memberikan psikoedukasi kepada orangtua.9 .Golongan Metilfenidat (satu-satunya yang dapat ditemukan di Indonesia).2 1. Obat yang merupakan pilihan pertama adalah obat golongan psikostimulan.Setelah terapi berhasil dalam waktu setahun dan dapat diperkirakan akan dilakukan penghentian obat. Psikostimulan Pemberian obat untuk anak dengan GPPH sudah dimulai sejak kurang lebik 50 tahun yang lalu.

sulit tidur. pemberian obat jenis psikostimulan ini dikatakan cukup efektif dalam mengurangi gejala-gejala GPPH.4 Efek samping yang sering ditemukan dalam pemakaian obat golongan ini adalah penarikan diri dari lingkungan sosial.Golongan Pamolin Barkley.2 Pada anak-anak dengan riwayat tik motorik.4. anak tidak minum obat).2. agitasi. iritabel. Beberapa anak mengalami rebound effect. Dengan demikaian adanya gejala-gejala di atas dapat menandakan dosis yang diberikan terlampau tinggi. letargi. namun anak akan mengejar ketertinggalan pertumbuhan pada saat mereka mendapat drugs holiday (waktu libur.5 17 .2 Metilfenidat adalah obat dengan daya kerja pendek..4 Selama periode pemakaian. Dengan demikian. mudah menangis. sakit kepala. penurunan nafsu makan. sehingga anak dengan GPPH dapat mengikuti pelajaran di sekolah dengan baik. karena pada beberapa kasus metilfenidat dapat menyebabkan eksaserbasi gangguan tik. Biasanya gejala efek samping akan hilang dalam beberapa jam setelah obat dihentikan atau diturunkan dosisnya. dkk mengatakan bahwa efektifitas pemakaian obat golongan metilfenidat adalah sebesar 60-70% dalam mengurangi gejala hiperaktivitasimpulsivitas dan inatensi. Biasanya efek samping ini timbul pada waktu pemakaian pertama kali atau jika terjadi peningkatan dosis obat yang diberikan. harus digunakan dengan hati-hati. over focus. dimana anak menjadi lebih mudah marah dan tampak agak hiperaktif selama waktu yang singkat saat pengobatan dihentikan. yang biasanya digunakan secara efektif selama jamjam sekolah. metilfenidat diduga dapat menyebabkan supresi pertumbuhan. cemas.

nafsu makan dan berat badan menurun. sakit kepala. Efektif untuk 70% kasus. sakit kepala. mg dan 20 mg) Biasanya dimulai dengan 5 mg/hari pada pagi hari.3 – 0. sakit kepala. Metilfenidat-OROS Dosis dimulai dengan (18 mg. Untuk jenis slow release (SR). Awal kerja obat ini cepat (30-60 menit). iritabel Insomnia. 54 18 mg. iritabel Metilfenidat (slow Dosis dimulai dengan release). Kadang-kadang perlu ditambahkan 5-10 mg metlfenidat pada pagi hari agar untuk mendapatkan efek awal yang lebih cepat. nafsu makan dan berat badan menurun. keamanan cukup terjamin. nafsu makan dan berat badan menurun. sekitar 7 jam.7 mg/KgBB/hari. 36 mg.3 – 0. Insomnia. atau depresi dan pada anak dengan gangguan tik. Terutama berguna untuk remaja dengan GPPH sehingga dapat menghindari pemberian obat di siang hari Untuk jenis asmotic release oral system (OROS).Jenis Obat Dosis Efek Samping Metilfenidat 0. Pada 18 . Dosis ditingkatkan dengan dosis 0. satu hari sekali ng) di pagi hari.7 (sediaan tablet 10 mg/KgBB/hari. 20 mg 20 mg pada pagi hari dan dapat ditingkatkan dengan dosis 0.3 – 0. Dosis maksimal adalah 60 mg/hari.7 mg/KgBB/hari Insomnia. iritabel Lama Kerja Untuk jenis intermediate release (IR) maka lama kerja obat adalah 3-4 jam. sekitar 12 jam dengan kadar plasma obat yang relatif stabil Antidepresan trisiklik Antridepresan trisiklik seperti imipramin ini digunakan untuk GPPH dengan komorbiditas gangguan cemas. Dosis maksimal 60 mg/hari.

Antidepresan merupakan pilihan untuk kondisi seperti ini. Pemberian flouxetine 0. Diperkirakan 80% anak dengan GPPH mendapat hasil akademik di bawah rata-rata dan sekitar 1 dari 3 mengalami gangguan belajar spsesifik.5 Antidepresan Selective Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRI) Obat antidepresan lain yang juga sering digunakan saat ini adalah golongan SSRI.2. neurologik dan anti kolinergik yang ditimbulkan membuat pemakaian obat ini pada anak menjadi terbatas.5 Obat-obat lain Obat golongan antipsikotik atipikal seperti risperidon juga dapat digunakan unuk menurunkan perilaku hiperaktivitas dan agresivitas.2. Obat lainnya yang dapat digunakan adalah obat antikonvulsan seperti golongan karbamazepin dan obat antihipertensi seperti klonidin juga dikatakan bermanfaat dalam mengurangi gejala GPPH pada anak.5 Obat ini bekerja sebagai inhibitor metabolisme dopamin dan norepinefrin. tetapi mempunyai efikasi yang lebih rendah daripada obat golongan psikostimulan. seperti moclobemide dengan dosis 3-5 mg/KgBB/hari yang dibagi dalam 2 dosis pemberian.6 mg/Kgbb dikatakan memberikan respon sebesar 58% pada anak yang berusia 7-15 tahun. Efek samping kardiovaskuler. walaupun demikian belum banyak penelitian yang mengungkapkan hasilnya. Pendekatan psikososial pada penanganan anak dengan GPPH Anak dengan GPPH.2.kondisi ini dihindari pemakaian stimulan.4. Dengan pengobatan saja tidak secara 19 . biasanya hadir dengan berbagai macam karakter dan masalah termasuk prestasi akademik yang buruk dan gangguan belajar. Obat antidepresan seperti imipramin dapat memberikan hasil yang cukup memuaskan untuk mengurangi gejala GPPH.4.5 2. misalnya flouxetine.4 Mono-Amine Oxydase Inhibitor (MAOI) Obat lain yang juga digunakan dalam tatalaksana anak dengan GPPH adalah obat antidepresan golongan penghambat monoamin oksidase.

f. prestasi akademik dan hubungan interpersonalnya. perilaku dan juga kondisi yang terjadi sebelum anak menampilkan perilaku tertentu. Memberi pengetahuan pada orangtua dan anggota keluarga lain yang mempunyai peran penting dalam kehidupan anak tentang GPPH. e. dapat membantu meningkatkan prestasi akademik anak. sosial dan lainnya:1. Dalam modifikasi perilaku maka orangtua dan diharapkan untuk merubah antecedents dan juga consequencenya sehingga diharapkan anak juga dapat merubah perilaku yang tadinya kurang adaptif menjadi lebih adaptif dengan lingkungan sekitarnya. b. Modifkasi perilaku merupakan suatu teknik terapi perilaku dengan menggunakan prinsip ABC (Antecedents Behaviour and Consequences). Memberikan pengetahuan tentang GPPH dan bekerja sama dengan sekolah d. Pemberian pendidikan tambahan (remedial education) pada anak yang hiperaktif yang mengalami kesulitan belajar spesifik. Behavior adalah perilaku yang ditampilkan oleh anak dan consequence adalah reaksi orangtua dan guru yang terjadi setelah anak menunjukkan perilaku tertentu.9 Adapun hal-hal yang yang dapat dilakukan untuk membantu memperbaiki kualitas kehidupan anak dalam akademik. Kebutuhan akan kelompok dukungan keluarga (family support group) atau kelompok antar orangtua yang sama-sama mempunyai anak GPPH. 20 .9 a.2.langsung dapat membantu anak dalam kehidupan sosial. c.5. misalnya cara orangtua atau guru memberikan instruksi pada anak. Antecedents adalah semua bentuk sikap. Konsultasikan dengan orangtua dan pihak sekolah tentang kelas ataupun sekolah yang sesuai dengan anak.

Untuk itu para praktisi hendaknya saling bekerja sama untuk membantu anak-anak ini sehingga mereka tetap dapat menjadi anak yang berkualitas di kemudian hari.PENUTUP Permasalahan maupun penyelesaian masalah anak dengan GPPH merupakan tanggung jawab kita semua. Anak-anak dengan GPPH merupakan anak yang dengan kebutuhan khusus oleh karena itu perencanaan dan tatalaksana yang akan diberikan harusnya dirancang sedemikian rupa sehingga mencakup seluruh aspek kehidupan anak dan juga keluarganya. terutama dari para praktisi kesehatan jiwa yang bekerja dalam dunia anak. Angka kejadian GPPH yang cukup tinggi di masyarakat (4-10% dari populasi anak usia sekolah dasar) merupakan sinyal bagi kita semua untuk mulai memikirkan apa yang sebaiknya dan seharusnya dapat kita lakukan saat ini dan di masa mendatang. 21 .

Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FKUI. The etiology of ADHD: behavioral and molecular genetic approaches. Sadock VA. Pananggulangan dan Dampaknya terhadap Masa Depan. Aspek Klinis dan Penatalaksanaan Gangguan Pemusatan Perhatian/Hiperaktivitas. 3. Tangerang: Binarupa Aksara Publisher. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FKUI. Factors affecting academic achievement in children with ADHD. Dalam: Simposium Masalah Perilaku pada Anak. 1996.744-53. Attention deficit hyperactivy disorder. Journal of applied research on learning 2010.1-19 4.p. Wilcutt E. 2010. Kaplan & Sadock Buku Ajar Psikiatri Klinis. Maslim R. Diagnosis gangguan jiwa.DAFTAR PUSTAKA 1. Sinopsis Psikiatri Jilid 2. 7.3(9):1-14 22 . Edisi 2. Dalam: Elvira SD. editor.136-7 9. Sadock BJ.p. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Dalam: Simposium Masalah Perilaku pada Anak. 2010. Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas. McGonnell M.p. Aspek Neurologik Gangguan Pemusatan Perhatian/Hiperaktivitas.441-54. 2010.2007. Widyawati I. New York: Departement of health and human service. 1996. National Institute of Mental Health (us). 6. 8. Schachar R. Buku Ajar Psikiatri.2003.597-601 5. Wiguna T.1-14 2. Corkum P. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atmajaya. Pananggulangan dan Dampaknya terhadap Masa Depan. Colorado: Oxford university press. Hadisukanto. Grebb JA. Kaplan HI. Sadock BJ.p. Jakarta: FKUI. Lazuardi S. rujukan ringkas PPDGJ-III.p.p.